Anda di halaman 1dari 20

BAB VI ANALISA DENGAN SPEKTROFOTOMETER SINAR TAMPAK

6.1. Tujuan Percobaan - Mengetahui metoda analisa spektrofotometri. - Penentuan kadar sulfat dalam sampel. 6.2. Tinjauan Pustaka Spektrofotometri merupakan suatu metoda analisa yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombang spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor fototube. [1] Spektrofotometer jika dilihat dari namanya terdiri dari spektrometer dan fotometer. Spektrometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau yang diabsorbsi. Jadi, Spektrofotometer merupakan instrumen untuk mengukur energi secara relatif jika energi tersebut ditransmisikan, direfleksikan sebagai fungsi dari panjang gelombang. [5] Berikut komponen-komponen yang penting sekali dari suatu spektrofotometer. Bagian Optis Wadah Sumber Monokromator sampel Detektor Bagian Listrik

Penguat

Piranti Baca
Gambar 6.2.1. Skema komponen-komponen dalam spektrofotometri

Keterangan: 1. Sumber energi cahaya Suatu piranti yang memberikan radiasi pada sebuah spektrofotometer. Pada daerah tampak dari spektrum maupun daerah ultraviolet dan inframerah dekat, sumber energi cahaya yang digunakan adalah sebuah lampu pijar dengan kawat rambut yang terbuat dari wolfram. 2. Motokromator Suatu piranti untuk mengecilkan suatu berkas radiasi yang datang dari sumber cahaya yang mempunyai kemurnian spektral yang tinggi sesuai dengan panjang gelombang yang diinginkan. 3. Wadah sampel Pada spektrofotometri melibatkan larutan yang mana larutan tersebut ditempatkan pada suatu wadah yang harus bisa meneruskan energi cahaya dalam daerah spektral. 4. Detektor Merupakan suatu piranti yang berfungsi untuk mengubah energi cahaya menjadi energi listrik, yang memberikan suatu isyarat listrik dan berhubungan dengan daya radiasi yang diserap oleh permukaan yang peka. [2] 5. Penguat Suatu piranti yang berfungsi untuk memperbesar arus yang dihasilkan oleh detektor agar dapat dibaca oleh piranti baca. [1] 6. Piranti baca Suatu sistem baca (piranti pembaca) yang memperagakan besarnya isyarat listrik, menyatakan dalam bentuk % Transmitan (% T) maupun Adsorbansi (A). [3] Pada metoda spektrofotometri, prinsipnya yaitu sampel menyerap radiasi (pemancaran) elektromagnetis, yang pada panjang gelombang tertentu dapat terlihat. Larutan tembaga misalnya berwarna biru karena larutan tersebut menyerap warna komplementer, yaitu kuning. Semakin banyak molekul tembaga per satuan volum, semakin banyak cahaya kuning yang diserap, dan semakin tua warna biru larutanya. [4]

Berikut jenis-jenis spektrofotometri berdasarkan sumber cahaya yang digunakan, yaitu: 1. Spektrofotometri Visible (Spektro Vis)

Gambar 6.2.2. Spektrofotometer Visibel

Pada spektrofotometri ini yang digunakan sebagai sumber sinar/energi adalah cahaya tampak (visible). Cahaya visible termasuk spektrum elektromagnetik yang dapat ditangkap oleh mata manusia. Panjang gelombang sinar tampak adalah 380 sampai 750 nm. Sehingga semua sinar yang dapat dilihat oleh kita, maka sinar tersebut termasuk ke dalam sinar tampak (visible). 2. Spektrofotometri UV (ultraviolet)

Gambar 6.2.3. Spektrofotometer UV

Berbeda

dengan

spektrofotometri

visible,

pada

spektrofotometri

UV

berdasarkan interaksi sample dengan sinar UV. Sinar UV memiliki panjang gelombang 190-380 nm. Sebagai sumber sinar dapat digunakan lampu deuterium. Karena sinar UV tidak dapat dideteksi oleh mata kita, maka senyawa yang dapat menyerap sinar ini terkadang merupakan senyawa yang tidak memiliki warna. Bening dan transparan.

3. Spektrofotometri UV-Vis

Gambar 6.2.4. Spektrofotometer UV-Vis

Spektrofotometri ini merupakan gabungan antara spektrofotometri UV dan Visible. Menggunakan dua buah sumber cahaya berbeda, sumber cahaya UV dan sumber cahaya visible. 4. Spektrofotometri IR (Infra Red)

Gambar 6.2.5. Spektrofotometer Infra Merah

Dari namanya sudah bisa dimengerti bahwa spektrofotometri ini berdasar pada penyerapan panjang gelombang infra merah. Cahaya infra merah terbagi menjadi infra merah dekat, pertengahan, dan jauh. Infra merah pada spektrofotometri adalah infra merah jauh dan pertengahan yang mempunyai panjang gelombang 2.5-1000 m. 5. Spektrofotometri Raman

Gambar 6.2.6. Spektrofotometer Raman

Interaksi Radiasi Elektro Magnetik (REM) dengan atom atau molekul yang berada dalam media yang transparan, maka sebagian dari radiasi tersebut akan dipercikkan oleh atom atau molekul tersebut. 6. Spektrofotometri Fluorescensi dan Fosforescensi Suatu zat yang berinteraksi dengan radiasi, setelah mengabsorpsi radiasi tersebut, bisa mengemisikan radiasi dengan panjang gelombang yang umumnya lebih besar daripada panjang gelombang radiasi yang diserap. Fenomena tersebut disebut fotoluminensi yang mencakup dua jenis yaitu fluoresensi dan fosforesensi. 7. Spektrofotometri Resonansi Magnetik Inti Resonansi Magnet Inti (RMI). Spektrofotometri RMI sangat penting artinya dalam analisis kualitatif, khususnya dalam penentuan struktur molekul zat organik. [3] Selain itu ada jenis-jenis spektrofotometer berdasarkan instrumennya, diantaranya: 1. Spektrofotometer Berkas Tunggal Spektrofotometer jenis ini merupakan suatu instrumen dengan satu jalan optis. Sampel dan pelarut murni (blanko reagensia) diperiksa secara terpisah untuk menegakkan P dan P0 untuk pengukuran absorban. Biasanya dioperasikan secara manual. 2. Spektrofotometer Berkas Rangkap Suatu instrumen di mana berkas monokromatik radiasi, dari sumber lampu wolfram dibagi menjadi dua berkas identik, satu melewati sel pembanding dan yang lain melewati sampel. [6] 3. Spektrofotometer Diferensial Suatu teknik di mana sampel dibandingkan dengan larutan penyerap lain, bukan dengan pelarut murni atau blanko reagensia. Analisis menggunakan spektrofotometer diferensial lebih tepat dibandingkan dengan spektrofotometer biasa.

4. Spektrofotometer Serapan Atom (AAS) Suatu bentuk spektrofotometri yang menggunakan spesies penyerapnya adalah atom-atom. [2] Besar penyerapan cahaya (absorbansi) dari suatu kumpulan atom atau molekul dinyatakan oleh Hukum Beer-Lambert. 1. Hukum Lambert menyatakan bahwa proporsi berkas cahaya datang yang diserap oleh suatu bahan atau medium tidak bergantung pada intensitas berkas cahaya yang datang. Hukum Lambert ini tentunya hanya berlaku jika di dalam bahan atau medium tersebut tidak ada reaksi kimia ataupun proses fisis yang dapat dipicu atau diimbas oleh berkas cahaya datang tersebut. Dalam hal demikian, intensitas cahaya yang keluar setelah melewati bahan/medium tersebut dapat dituliskan dalam bentuk sederhana sebagai berikut: I = T I0 Di mana I adalah intensitas berkas cahaya keluar, I0 adalah intensitas berkas cahaya masuk atau datang, dan T adalah transmitansi. Jika transmisi dinyatakan dalam prosentase, maka %T =
0

100

(dalam satuan %) 2. Hukum Beer menyatakan bahwa absorbansi cahaya berbanding lurus dengan dengan konsentrasi dan ketebalan bahan atau medium, yaitu: A=cl Di mana adalah molar absorbsitivitas untuk panjang gelombang tertentu, atau disebut juga sebagai koefisien ekstinsif (dalam l mol-1 cm-1), c adalah konsentrasi molar (mol l-1), l adalah panjang/ketebalan dari bahan/medium yang dilintasi oleh cahaya (cm). Kombinasi dari kedua hukum tersebut (Hukum Beer-Lambert) dapat dituliskan sebagai berikut: %T =
0

100 = exp ( c l)

atau

A = log

= c l [7]

Gambar 6.2.7. Hukum Laambert-Beer

Absorbsi sinar oleh larutan mengikuti hukum Lambert-Beer, yaitu : A = log Keterangan : I0 = Intensitas sinar datang I1 = Intensitas sinar yang diteruskan a = Absorptivitas b = Panjang sel/kuvet c = konsentrasi (g/l) A = Absorban Istilah spektrofotometri berhubungan dengan pengukuran energi radiasi yang diserap oleh suatu sistem sebagai fungsi panjang gelombang dari radiasi maupun pengukuran panjang absorbsi terisolasi pada suatu panjang gelombang tertentu. Ketika cahaya melewati suatu larutan biomolekul, terjadi dua kemungkinan. Kemungkinan yang pertama adalah cahaya ditangkap dan kemungkinan kedua adalah cahaya dibelokkan. Bila energi dari cahaya (foton) harus sesuai dengan perbedaan energi dasar dan energi eksitasi dari molekul tersebut. Proses inilah yang menjadi dasar pengukuran dari absorbansi dalam spektrofotometer. Panjang gelombang yang digunakan untuk melakukan analisis adalah panjang gelombang dimana suatu zat memberikan penyerapan paling tinggi yang disebut maks. Hal ini disebabkan jika pengukuran dilakukan pada panjang
0 1

=abc

gelombang yang sama maka data yang diperoleh makin akurat atau kesalahan yang muncul makin kecil. Berdasarkan hukum Beer absorbansi akan berbanding lurus dengan konsentrasi, karena b atau l harganya 1 cm dapat diabaikan dan merupakan suatu tetapan. Artinya konsentrasi makin tinggi maka absorbansi yang dihasilkan makin tinggi, begitupun sebaliknya konsentrasi makin rendah absorbansi yang dihasilkan makin rendah. Spektrofotometer memiliki beberapa keuntungan untuk keperluan kuantitatif diantaranya:
-

Dapat digunakan secara luas Memiliki kepekaan yang tinggi Keselektifannya cukup baik Zat yang dapat dianalisis menggunakan spektrofotometri sinar tampak

adalah zat dalam bentuk larutan dan zat tersebut harus tampak berwarna. Jika tidak berwarna maka larutan tersebut harus dijadikan berwarna dengan cara memberi reagen tertentu yang spesifik. Reagen ini disebut reagen pembentuk warna. Berikut adalah sifat-sifat yang harus dimiliki oleh reagen pembentuk warna: 1. Kestabilan dalam larutan. Pereaksi-pereaksi yang berubah sifatnya dalam waktu beberapa jam, dapat menyebabkan timbulnya semacam cendawan bila disimpan. Oleh sebab itu harus dibuat baru dan kurva kalibarasi yang baru harus dibuat saat setiap kali analisis. 2. Pembentukan warna yang dianalisis harus cepat. 3. Reaksi dengan komponen yang dianalisa harus berlangsung secara

stoikiometrik. 4. Pereaksi tidak boleh menyerap cahaya dalam spektrum dimana dilakukan pengukuran. 5. Pereaksi harus selektif dan spesifik (khas) untuk komponen yang dianalisa, sehingga warna yang terjadi benar-benar merupakan ukuran bagi komponen tersebut saja.

6. Tidak boleh ada gangguan-gangguan dari komponen-komponen lain dalam larutan yang dapat mengubah zat pereaksi atau komponen komponen yang dianalisa menjadi suatu bentuk atau kompleks yang tidak berwarna, sehingga pembentukan warna yang dikehandaki tidak sempurna. 7. Pereaksi yang dipakai harus dapat menimbulkan hasil reaksi berwarna yang dikehendaki dengan komponen yang dianalisa, dalam pelarut yang dipakai. Setelah larutan ditambahkan reagen atau zat pembentuk warna maka larutan tersebut harus memiliki lima sifat di bawah ini: 1. Kestabilan warna yang cukup lama guna memungkinkan pengukuran absorbansi dengan teliti. Ketidakstabilan, yang mengakibatkan menyusutnya warna larutan (fading), disebabkan oleh oksidasi oleh udara, penguraian secara fotokimia, pengaruh keasaman, suhu dan jenis pelarut. Namun kadang-kadang dengan mengubah kondisi larutan dapat diperoleh kestabilan yang lebih baik. 2. Warna larutan yang akan diukur harus mempunyai intensitas yang cukup tinggi (warna harus cukup tua) yang berarti bahwa absortivitas molarnya () besar. Hal ini dapat dikontrol dengan mengubah pelarutnya. Dalam hal ini dengan memilih pereaksi yang memiliki kepekaan yang cukup tinggi. 3. Warna larutan yang diukur sebaiknya bebas daripada pengaruh variasi-variasi kecil kecil dalam nilai pH, suhu maupun kondisis-kondisi yang lain. 4. Hasil reaksi yang berwarna ini harus larut dalam pelarut yang dipakai. 5. Sitem yang berwarna ini harus memenuhi Hukum Lambert-Beer. Analisis sulfat di dalam batuan dilakukan untuk keperluan industri, sedangkan analisis sulfat di dalam air minum perlu dilakukan, karena seperti yang dipersyaratkan oleh WHO kandungan sulfat maksimum yang diperbolehkan sebesar 200 ppm. Menyebabkan laxative apabila kadarnya berupa magnesium dan sodium. Senyawa sulfat bersifat iritasi pada saluran pencernaan (saluran gastro intestinal), apabila dalam bentuk campuran magnesium atau natrium pada dosis yang tidak sesuai aturan. Sebagai contoh bentuk magnesium sulfat yang biasa ditambahkan ke dalam air minurn untuk membantu pengendapan (penjernihan air) setelah penambahan klorin. Bentuk natriurn sulfat biasa digunakan untuk pengobatan

diuretik atau satincathartic. Bila kurang mengkonsumsi air, kedua senyawa tersebut akan membentuk kristal yang dapat merusak saluran pencernaan. Air yang mengandung konsentrasi tinggi dari sulfat disebabkan oleh leaching alam dari deposito magnesium sulfat (garam Epsum) atau sodium sulfat. Tiga efek yang terjadi apabila dalam air minum terdapat sulfat yang memiliki konsentrasi tinggi, antara lain:
-

Berisi air yang diketahui jumlah sulfat (S04) cenderung untuk membentuk kerak dalam skala boiler dan heat exchangers Sufat menimbulkan efek rasa Sulfat dapat menimbulkan efek pencahar dengan asupan yang berlebihan. [3]

6.3. Tinjauan Bahan A. Aquadest Aquadest atau biasa disebut air suling merupakan air hasil penyulingan (diuapkan).Air suling juga memiliki rumus kimia pada air umumnya yaitu H2O yang berarti dalam 1 molekul terdapat 2 atom hidrogen kovalen dan atom oksigen tunggal. Sifat fisik dan kimia H2O:
-

rumus molekul berat molekul bentuk fisik titik beku titik didih pH

: H2O : 18 gram/mol : cairan tak berwarna dan tidak berbau : 0 oC : 100 oC :7

B. Asam klorida (HCl) Asam klorida adalah larutan akuatik dari gas hidrogen klorida (HCl). HCl merupakan asam kuat, dan merupakan komponen utama dalam asam lambung. Senyawa ini juga digunakan secara luas dalam industri. Asam klorida harus ditangani dengan memperhatikan keselamatan yang tepat karena merupakan cairan yang sangat korosif. Sifat fisik dan kimia HCl:

nama bahan

: asam klorida

rumus molekul : HCl massa molar bentuk fisik titik lebur titik didih densitas : 36,46 g/mol : cairan tak berwarna : -27,32 oC : 110 oC : 1,18 g/cm3

keasaman (pH) : 3 pada 25 oC

C. Barium Klorida (BaCl2.2H2O) Barium klorida adalah senyawa anorganik dengan rumus molekul BaCl 2. Barium klorida merupakan senyawa beracun dan berwarna kuning hijau pada nyala api serta bersifat higroskopis. Sifat fisik dan kimia BaCl2:
-

nama bahan rumus molekul massa molar bentuk fisik densitas titik didih

: barium klorida : BaCl2.2H2O : 208,23 g/mol : serbuk putih : 3,856 g/cm3 : 1560 oC

kelarutan dalam air : 43 g/100 ml (30 oC)

D. Kalium Sulfat (K2SO4) Kalium sulfat (K2SO4) juga dikenal sebagai garam abu sulfur merupakan garam yang terdiri dari kristal putih yang dapat larut dalam air dan tidak mudah terbakar. Sifat fisik dan kimia K2SO4:
-

nama bahan rumus molekul bentuk fisik titik lebur titik didih

: kalium sulfat : K2SO4 : kristal putih : 1069 oC : 1689oC

kelarutan dalam air : 11,1 g/100 ml (20 oC). [8]

6.4. Alat dan Bahan A. Alat-alat yang digunakan: - batang pengaduk - beakerglass - botol aquadest - corong kaca - cuvet - Erlemeyer - gelas arloji - karet penghisap - neraca analitik - labu ukur - pipet tetes - pipet volume - spektrofotometer sinar tampak 6.5. Prosedur Percobaan A. Preparasi Larutan - membuat larutan kalium sulfat 100 ppm sebanyak 250 mL - membuat larutan asam klorida 2 M sebanyak 50 mL. B. Menentukan panjang gelombang maksimum. - memipet larutan kalium sulfat 100 ppm sebanyak 50 mL lalu menambahkan 0,2 gram padatan barium klorida - mengocok selama kurang lebih 1 menit sampai terbentuk endapan barium sulfat, mendiamkan selama 5 menit - mengukur nilai % T dan A dari larutan 100 ppm dengan spektrofotometer sinar tampak pada panjang gelombang 400 nm sampai 520 nm - menggunakan larutan blangko untuk mengenolkan harga % T sebelum pengukuran serapan larutan standart pada setiap penggantian panjang gelombang B. Bahan-bahan yang digunakan:
- aquadest (H2O) - asam klorida (HCl) - barium klorida (BaCl2.2H2O) - kalium sulfat (K2SO4) - sampel (air PDAM)

- membuat kurva hubungan antara panjang gelombang dengan absorbansi (% T) dan menentukan panjang gelombang maksimum. C. Membuat kurva kalibrasi - mengatur pH larutan kalium sulfat menjadi 1 - mengencerkan larutan kalium sulfat 100 ppm menjadi 5, 20, 35, 50, 65, dan 80 ppm sebanyak 50 mL - pada masing-masing larutan menambahkan 0,2 gram padatan barium klorida sebelum menambahkan aquadest sampai tanda batas - mengocok selama kurang lebih 1 menit sampai terbentuk endapan barium sulfat, mendiamkan selama 5 menit - mengukur besarnya transmitan pada panjang gelombang maksimum - membuat kurva kalibrasi antara panjang gelombang dan konsentrasi. D. Mengukur sampel larutan - memipet 10 mL sampel ke dalam labu ukur 50 mL, menambahkan asam klorida 2 M untuk mengukur pH hingga 1 - menambahkan 0,2 gram padatan barium klorida sebelum menambahkan aquadest sampai tanda batas - mengocok selama kurang lebih 1 menit sampai terbentuk endapan barium sulfat, mendiamkan selama 5 menit - mengukur besarnya transmitan pada panjang gelombang maksimal - membuat kurva kalibrasi antara panjang gelombang dan konsentrasi.

6.6. Data Pengamatan a. Menentukan panjang gelombang () maksimum Tabel 6.6.1. Data penentuan panjang gelombang () maksimum dengan menggunakan spektrofotometer 21 dan 22 %T (nm) 21 400 410 420 430 440 450 460 470 480 490 500 510 520 65 64 63 63,5 64 64 64 64,5 65 65 66 67 67 22 37,3 36,6 36,3 36,4 36,5 36,6 36,7 36,9 39,2 38,9 39,0 39,5 39,7

b. Menentukan kurva kalibrasi Tabel 6.6.2. Data pengamatan kurva kalibrasi dengan menggunakan spektrofotometer 21 dan 22 pada = 420nm ppm (x) 21 5 ppm 20 ppm 35 ppm 50 ppm 65 ppm 80 ppm Sampel 95 88 81 79 74 59 95 %T 22 95,9 83,8 69,4 66,7 64,1 39,8 97,8

6.7. Data Hasil Perhitungan Tabel 6.7.1. Data perhitungan panjang gelombang () maksimum dengan menggunakan spektrofotometer 21 dan 22

Spektrofotometer 21 (nm) %T 400 410 420 430 440 450 65 64 63 63,5 64 64 A 0,1870 0,1938 0,2006 0,1972 0,1938 0,1938

Spektrofotometer 22 %T 37,3 36,6 36,3 36,4 36,5 36,6 A 0,428 0,436 0,440 0,438 0,437 0,436

460 470 480 490 500 510 520

64 64,5 65 65 66 67 67

0,1938 0,1904 0,1871 0,1871 0,1805 0,1739 0,1739

36,7 36,9 39,2 38,9 39,0 39,5 39,7

0,435 0,432 0,406 0,410 0,408 0,403 0,401

Tabel 6.7.2. Data perhitungan kurva kalibrasi dengan menggunakan spektrofotometer 21 dan 22 pada = 420nm ppm (x) %T 5 ppm 20 ppm 35 ppm 50 ppm 65 ppm 80 ppm Sampel 95 88 81 79 74 59 95 21 A 0,0222 0,0555 0,0915 0,1023 0,1307 0,2291 0,0222 %T 95,9 83,8 69,4 66,7 64,1 39,8 97,8 22 A 0,0181 0,0767 0,1586 0,1758 0,1931 0,4001 0,0096

Tabel 6.7.3. Data perhitungan kurva kalibrasi dengan menggunakan spektrofotometer 21 ppm (X) 5 20 35 50 65 80 X = 255 Sampel A (Y) 0,0222 0,0555 0,0915 0,1023 0,1307 0,2291 Y = 0,6313 = 420 X2 25 400 1225 2500 4225 6400 X2 = 14775 A = 0,0222 X.Y 0,111 1,11 3,2025 5,115 8,4955 18,328

XY=36,362

Tabel 6.7.4. Data perhitungan kurva kalibrasi dengan menggunakan spektrofotometer 22 ppm (X) 5 20 35 50 65 80 X = 255 Sampel A (Y) 0,0181 0,0767 0,1586 0,1758 0,1931 0,4001 Y = 1,0224 = 420 X2 25 400 1225 2500 4225 6400 X2 = 14775 A = 0,0096 X.Y 0,0905 1,534 5,551 8,79 12,5515 32,008

XY= 60,525

6.8. Grafik A. Penentuan panjang gelombang maksimum


0.205 0.2 0.195

Absorban

0.19 0.185 0.18 0.175 0.17

400 410 420 430 440 450 460 470 480 490 500 510 520

Panjang gelombang () Grafik 6.8.1. Hubungan antara absorban dan panjang gelombang pada spektrofotometer 21

Spektrofotometer 22
0.445 0.44 0.435 0.43 0.425 0.42 0.415 0.41 0.405 0.4 0.395 400 410 420 430 440 450 460 470 480 490 500 510 520

Absorban

Panjang gelombang ()

Grafik 6.8.2. Hubungan antara absorban dan panjang gelombang pada spektrofotometer 22

B. Penentuan kurva kalibrasi 0.25 0.2 Absorban 0.15 0.1 0.05 0 0 20 40 Konsentrasi (ppm) antara absorban 60 80
y = 0.0024x + 0.0023 R = 0.9029

Grafik

6.8.3.

Hubungan

dan

konsentrasi

pada

spektrofotometer 21 0.45 0.4 0.35 0.3 0.25 0.2 0.15 0.1 0.05 0 0 20

y = 0.0043x - 0.0139 R = 0.8666

Absorban

40 Konsentrasi (ppm) antara absorban

60

80

Grafik

6.8.4.

Hubungan

dan

konsentrasi

pada

spektrofotometer 22 6.9. Persamaan Reaksi K2SO4 (s)


(kalium sulfat)

BaCl2 (s)

2 KCl (l) +

BaSO4

(barium klorida)

(kalium klorida) (barium sulfat) (endapan putih)

6.10. Pembahasan Dengan menggunakan spektrofotometer 22, diperoleh panjang gelombang maksimum () = 420 nm dengan (T) = 36,3 dan (A) = 0,440 yang ditunjukan pada tabel 6.7.1. Menggunakan panjang gelombang () maksimum karena kepekaannya maksimum pada perubahan konsentrasi larutan yang akan memberikan A yang paling besar dan pada panjang gelombang () maksimum didapatkan bentuk kurva kalibrasi yang linier sesuai dengan hukum Lambert-Beer.
-

Pada grafik 6.8.1 dan 6.8.2. diperoleh perbandingan bahwa kosentrasi berbanding lurus dengan absorban. Semakin besar kosentrasi maka semakin besar absorbannya ataupun sebaliknya. Hal ini sesuai dengan teorinya yang berdasarkan Hukum Beer bahwa absorbansi akan berbanding lurus dengan konsentrasi. Jika konsentrasi makin tinggi maka absorbansi yang dihasilkan makin tinggi, begitupun sebaliknya konsentrasi makin rendah absorbansi yang dihasilkan makin rendah.

Penambahan barium klorida berfungsi untuk membentuk endapan barium sulfat dan menimbulkan keruh. Hal ini sesuai dengan syarat sampel spektrofotometri yang harus berwarna.

Kadar SO4 dalam sampel (air PDAM) yang diperoleh pada analisa spektrofotometer 21 yaitu 8,2513 ppm dan pada spektrofotometer 22 adalah sebesar 5,4151 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa air sampel dapat dikonsumsi yang mana kandungan SO4 yang diperbolehkan dalam air maksimum sebesar 200 ppm.

6.11. Kesimpulan
-

Dapat mengetahui metode analisa menggunakan spektrofotometri sinar tampak dengan benar.

Kadar SO4 pada sampel (air PDAM) menggunakan spektrofotometri 21 sebesar 8,2513 ppm dan pada spektrofotometer 22 sebesar 5,4151 ppm.