Anda di halaman 1dari 4

Diagnose dan remediasi kesulitan belajar fisika 15: didaktogenic

Leo Sutrisno

Salah seorang pembaca merespon tulisan berseri ‘diagnose dan remediasi’ ini
sembari menyarankan agar dibahas penyebab miskonsepsi. Tulisan ini
menyajikan telaah tentang penyebab miskonsepsi yang bersumber pada guru
dan buku teks.

Dalam bidang kedokteran ada istilah ‘iatrogenic disease’ yang merujuk


‘ailments’ yang disebabkan oleh dokter. Dalam pendidikan, penomena
semacam juga dapat terjadi. Guru dan buku teks dapat menyebabkan
miskonsepsi. Istilah ‘didaktogenic’ digunakan untuk mewadahi penjelasan-
penjelasan guru atau sajian dalam buku teks yang dapat menimbulkan
miskonsepsi. Sejumlah mahasiswa S1 Program Studi pendidikan fisika FKIP
Untan telah meneliti topic ini dalam skripsi mereka.

Miskonsepsi dapat terjadi pada siapa saja, siswa, guru, pengarang buku ajar,
dan bahkan pakar pun juga sesekali mengalaminya. Miskonsepsi para siswa
datang dari berbagai arah. Dari kemampuan berpikir siswa sendiri, dari
pengalaman sebelumnya, dari proses pembelajaran, dari penjelasan guru, atau
dari sajian dalam buku teks. Miskonsepsi guru bisa diperoleh dari pendidikan
dan latihan, interpretasi yang dibuat sendiri pada saat membaca buku teks
atau bahkan dari buku teks itu sendiri yang diterima tanpa kritik.
Miskonsepsi dalam buku teks dapat berasal dari penulisnya dan juga mungkin
dari editornya. Miskonsepsi pakar dapat terjadi karena berbagai hal. Di
antaranya, sudut pandang atau asumsi yang digunakan.

Miskonsepsi merupakan sesuatu yang menantang dalam pendidikan karena


proses pendidikan tidak ‘reversable’, tidak dapat “dibaléni” –diproses-ulang.
Miskonsepsi yang terjadi pada saat guru menjelaskan tidak dapat diulangi di
lain tahun. Apa lagi kalau siswa sudah lulus dari sekolah yang bersangkutan
Proses ini sangat berbeda dari proses produksi dalam suatu pabrik. Produk-
produk yang yang tidak standar pada sebuah pabrik paku misalnya dapat
dipisahkan dan kemudian diproses ulang. Dalam pendididkan tidak mungkin
dilakukan proses ulang.
Selain itu, khusus di Indonesia, hingga kini soal-soal ujian yang dibuat oleh
para ahli di tingkat nasional dan soal ulangan yang dibuat oleh para guru di
lapangan tidak pernah menggali miskonsepsi. Sementara itu, sering terjadi,
karena sifat soalnya, walaupun memiliki miskonsepsi siswa masih
dimungkinkan dapat menjawab betul soal-soal ujian atau ulangan itu. Karena
itu, siswa cenderung mempertahankan miskonsepsinya. Bahkan, tidak
merasakan ada sesuatu yang ‘mis’, yang keliru.

Penjelasan para guru yang kurang lengkap juga cenderung menimbulkan


miskonsepsi. Penelitian tentang catatan, para siswa tetap saja menggunakan
penjelasan gurunya yang keliru keliru itu untuk menjawab soal-soal yang
dihadapinya. Karena, mereka tidak berani berbeda pendapat dengan para
gurunya. Mereka takut akan memperoleh nilai yang kurang jika berbuat
demikian.
Catatan siswa, terutama kelas rendah merupakan bukti autentik dari
kekeliruan yang dilakukan para guru karena pada umumnya semua para guru
di Indonesia menekankan bahwa catatan siswa harus ‘ dengan yang ditulis di
papan tulis atau yang didektekannya.

Penggunaan analogi oleh para guru untuk menjelaskan suatu penomena, kalau
kurang tepat juga dapat menimbulkan miskonsepsi. Analagi merupakan salah
satu cara berpikir untuk memahami sesuatu dengan membandingkannya
dengan sesuatu yang lain. Misalnya, dalam percakapan sehari-hari masalah
yang sangat sukar diselesaikan karena banyak hal yang terkait di dalamnya
dianalogikan dengan benang kusut. Benang kusut itu sukar untuk diurai, mana
yang simpul mana yang ujung tidak mudah ditemukan. Demikian juga masalah
yang rumit dapat diibaratkan sebagai benang kusut.

Para guru sering menggunaan analogi dalam menjelaskan penomena fisika yang
sukar divisualisasikan. Misalnya, dalam menjelaskan penomena pembiasan
cahaya para guru sering menggunakan analogi seperti Gambar 1.
Pipa sedotan dimasukkan ke dalam gelas yang berisi air jernih. Tampak
sedotan itu patah. Mengapa itu terjadi? Karena ada peritiwa pembiasan
cahaya yang merambat dari sedotan ke mata melalui air (bagian awah) dan
tanpa melalui air (bagian atas). Kemudian dikatakan, karena cahaya merambat
melalui medium yang berbeda maka dibiaskan.
Peristiwa pembiasan yang baru saja disampaikan itu, tidak sama dengan yang
terjadi di dalam ilustrasi Gambar 1. Perhatikan!. Besar pipanya berbeda
antara bagian yang di tercelup air dan bagian tidak tercelup air. Peristiwa itu
terjadi lebih disebabkan oleh pembiasan pada permukaan gelas yang
berbentuk silinder ketimbang oleh karena permukaan air dalam gelas itu.
Karena itu analogi seperti ini juga berpotensi menimbulkan miskonsepsi.

Gambar 1

Sejumlah miskonsepsi juga dapat terjadi karena penjelasan yang disampaikan


guru kurang rinci. Misalnya, penomena cahaya, : pemantulan, pembiasan,
difraksi, dan interferensi hampir sepenuhnya dapat dijelaskan dengan
ilustrasi gelombang permukaan air (ripple tank). Namun, perlu diingatkan
bahwa ada beberapa pengecualian. Polarisasi cahaya dapat berlasung pada
semua arah. Sebaliknya, polarisasi gelombang permukaan air hanya satu arah.
Kedua, gelombang permukaan air memerlukan medium, sebaliknya cahaya
tidak memerlukan medium. Energi gelombang medium berbanding terbalik
dengan jarak karena hanya dua dimensi. Sementara itu, energi cahaya
berbanding terbalik dengan kuadrat jarakkarena berdimensi ruang.
Pengecualian-pengecualian seperti ini sebaiknya disampaikan kepada para
siswa.

Belakangan ini muncul didaktogenic baru yaitu kecenderungan sebagian guru


yang mendorong siswanya memilih jawaban yang betul dengan menggunakan
soal-soal berbentuk objektif tanpa mendorong mencari penjelasannya. Bahkan
banyak siswa yang berpendapat bahwa yang penting betul jawabannya dan
bukan ‘mengapa’-nya. Hal ini dipicu oleh pelaksanaan UAN yang memang
menggunakan bentuk soal objektik pilihan ganda. Para guru disarankan agar
dalam kesempatan-kesempatan yang lain mendorong siswa berpikir yang
lebih luas ketimbang hanya tahu jawaban yang benar saja.

Kata-kata ‘aksi sama dengan reaksi’, ‘setiap kejadian pasti ada penyebabnya’
juga dapat menyebabkan miskonsepsi kalau tidak dipergunakan dengan
seksama.

Inilah beberapa contoh didaktogenic yang mungkin dapat dialami tanpa


disadari oleh para guru. Diharapkan, para guru mempelajari materi lebih luas
dan mendalam sebelum menjelaskan materi-materi fisika kepada siswa di
kelas agar didaktogenic dapat diperkecil. Tentu saja ini juga berlaku untuk
para dosen. Semoga!