Anda di halaman 1dari 34

Laporan Praktikum Manajemen Peternakan

LAPORAN PRAKTIKUM MANAJEMEN TERNAK PERAH

Disusun oleh: Kelompok IXD Muhamad Nur Rokhim Aries Rahardian Septo Setyanang Dewi Sri Hartatik Novita Dewi Patriasari Liana Eka L.

FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERTANIAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2012 BAB I PENDAHULUAN

Manajemen suatu perusahaan peternakan sapi perah penting untuk diketahui oleh orangorang yang berkecimpung dalam dunia peternakan khususnya peternakan sapi perah. Manajemen sebagai pedoman agar tidak terjadi kerugian baik secara materi maupun kerugian secara genetik dan agar terciptanya sebuah usaha peternakan yang efektif dan efisien. Susu sebagai hasil utama dari ternak perah khususnya sapi perah dihasilkan melalui suatu peternakan sapi perah. Kualitas dan kuantitas serta kontinuitas produksi susu dari suatu perusahaan peternakan sapi perah sangat penting untuk menjamin kelangsungan produksi dari peternakan sapi perah. Tujuan dilakukannya praktikum manajemen ternak perah adalah untuk mengetahui tata laksana pemeliharaan sapi perah dari pakan, pemerahan, perkandangan, perkawinan, produksi susu dan keadaan fisiologis lingkungan. Manfaat yang dapat diperoleh anatara lain adalah mengetahui manajemen pemeliharaan sapi perah dan faktor-faktor yang mempengaruhi produksi susu.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sapi Perah Sapi perah adalah suatu jenis sapi yang dipelihara dengan tujuan untuk menghasilkan susu. Terdapat beberapa bangsa sapi perah yaitu Ayrshire, Guernsey, Jersey dan Friesian Holstein (FH) (Blakely dan Bade, 1995). Sapi-sapi perah di Indonesia dewasa ini pada umumnya adalah sapi perah bangsa FH import dan turunannya. Kemampuan berproduksi susu dari sapi FH bisa mencapai 5984 kg tiap laktasi dengan kadar lemak susu rata-rata 3,7%, standar bobot badan pada

sapi betina dewasa 650 kg, sedangkan pada sapi jantan dewasa 700-900 kg (Syarief dan Sumoprastowo, 1985). Sapi Friesian Holstein (FH) yang mempunyai ciri-ciri anatara lain warnanya hitam berbelang putih, kepala berbentuk panjang, lebar dan lurus, tanduk relatif pendek dan melengkung ke depan, temperamen tenang dan jinak (Siregar, 1993). Untuk mencapai produksi yang normal, pemeliharaan sebaiknya dilakukan pada ketinggian + 1000 m diatas permukaan laut dengan suhu berkisar antara 15-21 kelembaban udara diatas 55% (Andriyani et al. 1980).
0

C dan

2.

Manajemen Pemeliharaan

Tata laksana pemeliharaan dalam suatu peternakan memegang peranan penting karena keberhasilan suatu usaha peternakan tersebut sangat dipengaruhi oleh baik tidaknya tata laksana pemeliharaan (Muljana, 1985). Syarief dan Sumoprastowo (1985) menambahkan bahwa hal yang harus mendapat perhatian dalam pemeliharaan adalah kebersihan kandang dan peralatan, pengaturan pemberian ransum dan air minum serta penjagaan kebersihan sapi. Manejemen
pemeliharaan sapi perah terdiri atas pemeliharaan pedet, dara, bunting, laktasi dan kering kandang (Putra, 2004).

1. Manajemen pedet

Pedet yang baru lahir tersebut dikeringkan atau membiarkan induk menjilatinya sehingga pedet tidak kedinginan apabila cuaca dalam keadaan dingin (Blakely dan Bade, 1998). Menurut Williamson dan Payne (1993), pedet yang baru lahir perlu disiapkan kandang dengan memberikan alas berupa jerami kering atau serbuk gergaji.

Blakely dan Bade (1998) menyatakan bahwa Pedet sapi perah disapih pada umur 3-4 bulan, tergantung dari kondisi pedet. Cara penyapihan pedet sedikit demi sedikit susu yang diberikan dikurangi. Sebaliknya, pemberian konsentrat dan hijauan ditingkatkan sampai pada saatnya pedet itu disapih sehingga terbiasa dan tidak mengalami stress (Putra, 2004).

Kolostrum merupakan susu pertama yang diproduksi oleh induk sekitar hari 5-7 setelah melahirkan dan sangat penting bagi pedet karena kandungan nutrisi yang terkandung dalam kolostrum sangat tinggi dan terdapat antibodi yang dapat mencegah timbulnya penyakit (Muljana, 1985). Kandang pedet harus tersedia tempat pakan dan air minum dan berukuran 1,5 x 2 m. Alas kandang diberi jerami dan sering diganti. Sebelumnya biarkan kandang itu kosong 2-7 hari sebelum pedet dimasukkan (Santosa, 1995). Saat sapi lahir hanya abomasum yang telah berfungsi, kapasitas abomasum sekitar 60 % dan menjadi 8 % bila nantinya telah dewasa. Sebaliknya untuk rumen semula 25 % berubah menjadi 80 % saat dewasa ( Imron, 2009 ).

2.

Manajemen sapi dara

Sapi dara adalah sapi pada masa antara lepas sapih sampai laktasi pertama kali yaitu berkisar antara umur 12 minggu sampai dengan 2 tahun (Ensminger, 1971). Setelah berumur 3 bulan sapi dara sebaiknya ditempatkan di dalam kandang kelompok yang berjumlah anrtara 3-4 ekor, dengan jenis kelamin, umur dan berat badan yang seragam (Soetarno, 2003). Kekurangan pemeliharaan atau perawatan dimasa pertumbuhan akan meyebabkan sapi sulit bunting bila dikawinkan, kesulitan dalam melahirkan (distokia) yang pertama kalinya, pedet yang dilahirkan kecil dan lemah dan produksi susunya rendah. Tujuan pemeliharaan sapi dara yaitu untuk mengganti induk replacement untuk sapi perah yang mempunyai kemampuan produksi rendah serta untuk pengembangan usaha (Siregar, 1993).

Pemeliharaan sapi dara yang baik serta pemberian ransum yang berkualitas baik pula sapi dara akan terus tumbuh sampai umur 4-5 tahun, bila sapi tidak cukup diberi ransum ditinjau dari kualitas dan kuantitasnya akan terjadi sebagai berikut: 1). Pada waktu sapi dara beranak pertama kali besar badannya tidak akan mencapai ukuran normal, 2). Kelahiran pertama kali pada umur 3 tahun adalah termasuk terlambat, 3). Produksi cenderung rendah tidak sesuai dengan yang diharapkan (Sudono, 1984). Sapi perah dara dapat dikawinkan pertama kali pada umur 15 bulan (Williamsom dan Payne, 1993). Sapi dara mampu mencerna serat kasar tinggi, sedangkan penambahan pakan penguat hanya sebagai pelengkap zat-zat gizi yang terkandung dalam hijauan. Pakan sebaiknya diberikan 2-3 kali sehari. Sapi perah dara dikawinkan tergantung dari umur dan besar tubuhnya (Siregar, 1993). Sapi-sapi harus selalu bersih setiap kali akan diperah, terutama bagian daerah lipatan paha sampai bagian belakang tubuh sapi perah dan sebaiknya dimandikan sekurangnya satu kali sehari (Syarief dan Sumoprastowo, 1985). Hal ini diperkuat dengan pendapat Muljana (1985) yang menyatakan bahwa sapi sebaiknya dimandikan setiap hari dan pembersihan kotoran yang menempel dikulit. Sanitasi dilakukan setiap 2 kali sehari setiap pagi dan sore dengan tujuan menjaga kebersihan kandang karena berhubungan dengan kesehatan ternak.

3.

Manajemen sapi laktasi

Manajemen perawatan sapi laktasi bertujuan untuk memperoleh produksi susu yang bagus dan optimal (Prihadi, 1996). Sapi laktasi perlu mendapatkan perawatan badan secara rutin, sebab setiap saat tubuhnya menjadi kotor, berupa daki atau kotoran sapi itu sendiri. Sapi laktasi perlu diperhatikan sanitasinya, ransum/pakan yang diberikan dan produksi yang dihasilkan. Pembersihan kandang dan ternak harus dilakukan secara rutin.

Pakan sapi perah laktasi terbagi menjadi dua golongan yaitu pakan kasar dan pakan penguat atau konsentrat (Syarief dan Sumoprastowo, 1985). Pemberian konsentrat lebih dari 60% banyak mendatangkan kerugian dibanding dengan keuntungan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa bahan pakan konsentrat mengandung serat kasar rendah dan sifatnya mudah dicerna. Kadar serat kasar yang terlalu tinggi menyebabkan ransum sulit untuk dicerna, sebaliknya jika kadar serar kasar rendah mengakibatkan kadar lemak susu menjadi lebih rendah dan menyebabkan gangguan pencernaan (Prihadi, 1996). Umur dewasa kelamin sapi yaitu 12- 17 bulan (Blakely dan Bade , 1998) . Umur dewasa kelamin pada sapi perah bervariasi karena dipengaruhi fakror ras, keadaan lingkungan dan terutama pemberian pakan (Putra, 2004). Sapi perah laktasi yang terinfeksi mastitis

bakterial mula-mula ditandai dengan perubahan susu. Susu berubah menjadi encer dan pecah menggunakan uji alkohol, susu bergumpal dan kadang-kadang bercampur darah atau nanah. Penyebab mastitis bakterial diantaranya adalah ambing yang tidak terpelihara kebersihannya, perlakuan pemerahan atau tangan pemerah yang terkontaminasi (Siregar, 1993),.

3. Manajemen Pakan

Pakan sapi perah terdiri dari hijauan leguminosa dan rumput yang berkualitas baik serta dengan konsentrat tinggi kualitas serta palatabel (Blakely dan Bade, 1998). Ransum ternak besar (sapi) terdiri dari 60% hijauan dan 40% limbah pengolahan pangan (bekatul dan bungkil), sedangkan pemberian pakan konsentrat hendaknya sebelum hijauan, bertujuan untuk merangsang pertumbuhan mikrobia rumen (Reksohadiprojo, 1984). Hijauan diberikan sepanjang hari secara ad libitum, hijauan juga diselingi dengan jerami padi sebanyak 1 kg yang diberikan dua kali sehari (Prihadi, 1996).

Pemberian konsentrat diberikan sebelum sapi diperah dengan jumlah 1-2 kg/ekor/hari atau sebanyak 1-2% bobot badan sapi tersebut dan pakan hijauan yang diberikan setelah pemerahan susu sebanyak 30-50 kg/ekor/hari atau 10% dari bobot badan sapi. Pakan hijauan diberikan setelah pemerahan agar mikrobia dalam rumen dapat dimanfaatkan dan karbohidrat dapat dicerna (Hidayat, 2001).

Kebutuhan bahan kering (BK) untuk sapi laktasi adalah 2-4% bobot badan. BK pakan berfungsi sebagai pengisi lambung dan merangsang dinding saluran untuk menggiatkan pembentukan enzim di dalam tubuh ternak. Kebutuhan BK ternak akan meningkat sesuai dengan bertambahnya produksi susu (Williamsom dan Payne, 1993). Pakan konsentrat merupakan komposisi pakan yang dilengkapi kebutuhan nutrisi utama, mengandung protein lebih dari 20% dan serat kasar kurang dari 18%, energi tinggi berperan sebagai penutup kekurangan zat makanan didalam pakan keseluruhannya (Ensminger,1971). Konsentrat mengandung serat kasar rendah dan bersifat mudah dicerna, tersusun dari bijibijian dan hasil dari pengolahan suatu industri pertanian. Konsentrat berfungsi sebagai suplai energi tambahan dan protein, lebih lanjut dijelaskan bahwa protein ransun bervariasi langsung dengan kandungan protein hijauannya, dimana campuran konsentrat dari bahan pakan protein dan energi kandungannya berfariasi antara 12% dan 18% PK. Pemberian konsentrat dilakukan dua kali sehari sebelum pemerahan (Prihadi, 1996). Menurut Syarief dan Sumoprastowo (1985) jumlah air minum yang diberikan pada sapi perah laktasi sebaiknya adalah adlibitum karena tidak akan menimbulkan efek negatif bahkan dapat meningkatkan produksi air susu.

4. Manajemen Pemerahan

Pemerahan adalah tindakan mengeluarkan susu dari ambing. Pemerahan bertujuan untuk mendapatkan produksi susu yang maksimal. Terdapat tiga tahap pemerahan yaitu pra pemerahan,

pelaksanaan pemerahan dan pasca pemerahan (Syarief dan Sumoprastowo, 1985). Tujuan dari pemerahan adalah untuk mendapatkan jumlah susu maksimal dari ambingnya, apabila pemerahan tidak sempurna sapi induk cenderung untuk menjadi kering terlalu cepat dan produksi total cenderung menjadi kering terlalu cepat dan produksi total menjadi menurun (Williamson dan Payne, 1993).

1. Fase persiapan

Tahap-tahap persiapan pemerahan meliputi menenangkan sapi, membersihkan kandang, membersihkan bagian tubuh sapi, mengikat ekor, mencuci ambing dan puting (Sudono, 2003). Menurut Muljana (1985) sebelum pemerahan dimulai, pemerah mencuci tangan bersih-bersih dan mengeringkannya, kuku tangan pemerah dipotong pendek agar tidak melukai puting sapi, sapi yang akan diperah dibersihkan dari segala kotoran , tempat dan peralatan telah disediakan dan dalam keadaan yang bersih, selanjutnya menenangkan sapi, mengikat ekornya dan mencuci ambing dengan air hangat, melakukan massage untuk merangsang keluarnya air susu. Sebelum melakukan pemerahan dilakukan persiapan diantaranya persiapan alat, pembersihan kandang dan sanitasi ternak (Chamberlin, 1993).

2.

Pemerahan

Pemerahan sapi dapat dilakukan dengan menggunakan tangan ataupun dengan mesin pemerah (Prihadi, 1996). Metode pemerahan dengan tangan antara lain yaitu whole hand milking, kneevelen dan streppen, diantara ketiga metode tersebut yang terbaik adalah dengan menggunakan metode whole hand milking dan apabila tidak karena sesuatu hal maka hendaknya

menggunakan metode tersebut. Pemerahan dengan tangan harus dilakukan dengan memegang pangkal puting susu antar ibu jari dan jari tengah, kedua jari kita tekan pelan, menariknya kebawah hingga air susu keluar dan cara yang mempergunakan lima jari yaitu ibu jari diatas dan keempat jari lainnya memegang puting, menariknya dengan pelan hingga air susu dapat keluar dengan baik (Muljana, 1985). Mesin Pemerah Susu berfungsi sebagai sarana untuk memerah susu secara pneumatis, pemerahan dilakukan dengan membuat tekanan vakum pada penampung dan susu diperah kedalam penampung melalui unit perah . Pemerahan dengan mesin perah akan mengurangi kontak susu dengan tukang perah dan lingkungan kandang, sehingga susu hasil perahan lebih bersih dan higienis. Pada dasarnya semua mesin pemerah susu terdiri atas pompa vakum, pulsator, milk claw, sedotan puting (teat cup), wadah susu (bucket). Dikenal 3 (tiga) macam model mesin perah susu, yaitu : Portable Milking Machine Milking, type ini semua peralatan mesin perah (Pompa vakum s/d Bucket) ditaruh diatas Troley dan didorong ke sapi yang akan di perah. Jumlah dan Volume bucket bervariasi, ada yang single bucket (25 lt, 30 lt) ada yang double bucket. Demikian pula jumlah teat cup (cluster) ada yang single ada pula yang double, Bucket Milking Machine Pompa Vakum terpisah dan dihubungka di titik- titik tertentu dengan bucket melalui pipa vakum sepanjang lorong kandang. Bucket, Pulsator serta teat cup mendatangi tiap sapi yang akan diperah dan menyambung pulsator dengan pipa vakum, Flat Barn dan Herringbone Milking Machine Milking machine type ini sekelompok sapi digiring ketempat pemerahan (milking parlour) dengan alunan musik tertentu. Posisi sapi pada waktu diperah secara berbaris miring (herringbone) atau tegak lurus (flat barn). Biasanya susu hasil pemerahan serentak ini langsung dipompakan ke tangki cooling unit (bina ukm, 2010).

Pemerahan yang baik dilakukan dengan cara yang benar dan alat yang bersih. Tahapantahapan pemerahan harus dilakukan dengan benar agar sapi tetap sehat dan terhindar dari penyakit yang dapat menurunkan produksinya (Sudono et al., 2003).

3.

Pasca pemerahan

Setelah selesai pemerahan hendaknya dilakukan diping atau penuntasan pemerahan agar tidak menimbulkan penyakit mastitis. Setalah didapatkan air susu dilakukan pengukuran antara lain berat jenis dan kadar lemak susu. Sesudah melakukan pemerahan sebaiknya bagian puting dicelupkan dalam larutan disinfektan untuk menghindari terjadinya mastitis {Sumoprastowo, 1985). Menurut Sindoredjo (1970) berat jenis susu minimal 1,027 pada temperatur 27,5 0C dan kadar lemak 2,8%. Kenaikan produksi susu selalu diikuti dengan kenaikan berat jenis air susu. Berat jenis air susu yang baik minimum 1.0280 dan pengukuran berat jenis air susu hanya dapat dilakukan setelah 3 jam dari pemerahan bila suhu air susu sudah terletak antara 200 sampai 30 C, karena pada keadaan ini suhu ar susu telah stabil ( Sudono, 1984 ).
Susu yang tinggi kadar lemaknya juga kaya akan zat- zat kering lainnya, sehingga berat jenisnya juga tinggi, dan susu yang rendah kadar lemaknya berat jenisnya pun rendah (Sindoredjo, 1970 ). Menurut Syarief dan Sumoprastowo (1990) setelah susu diperah kemudian dibawa ke kamar susu penanganan susu yang dilakukan adalah penyaringan, pendinginan dan pemanasan.
0

Penyaringan susu bertujuan untuk mendapatkan susu yang terbebas dari kotoran. Selain penyaringan dan pendinginan, pengujian kualitas susu juga dilakukan karena merupakan hal yang penting untuk mengetahui kualitas susu yang dihasilkan (Siregar, 1993).

Faktor yang mempengaruhi produksi air susu adalah : kebakaan artinya faktor genetik sapi, pemberian ransum, manajemen pemerahan, lama kering kandang, pencegahan penyakit,

service periode dan calving interval serta frekuensi pemerahan. Siregar (1993) susu pada tiaptiap puting harus diperah habis. Selesai pemerahan, ambing dan puting susu dicuci kembali dengan air hangat-hangat kuku lalu dicelup dan disemprot dengan air yang telah diberi sedikit biocid.

5.

Manajemen Perkandangan

Perkandangan merupakan suatu lokasi atau lahan khusus yang diperuntukkan sebagai sentra kegiatan peternakan yang di dalamnya terdiri atas bangunan utama (kandang), bangunan penunjang (kantor, gudang pakan, kandang isolasi) dan perlengkapan lainnya (Sugeng, 1998).Menurut Siregar (1993) dalam pembuatan kandang sapi perah diperlukan beberapa persyaratan yaitu : terdapat ventilasi, memberikan kenyamanan sapi perah, mudah dibersihkan, dan memberi kemudahan bagi pekerja kandang dalam melakukan pekerjaannya. Sistem perkandangan ada dua tipe yaitu stanchion barn dan loose house. Stanchion barn yaitu sistem perkandangan dimana hewan diikat sehingga gerakannya terbatas sedangkan loose house yaitu sistem perkandangan dimana hewan dibiarkan bergerak dengan batas batas tertentu (Davis, 1962)

1. Lokasi kandang

Lokasi kandang harus dekat dengan sumber air, mudah terjangkau, tidak membahayakan ternak, tidak berdekatan dengan pemukiman penduduk. Lokasi usaha peternakan diusahakan bukan areal yang masuk dalam daerah perluasan kota dan juga merupakan daerah yang nyaman dan layak untuk peternakan sapi perah (Syarief dan Sumoprastowo, 1985). Ditambahkan, hal-hal lain yang perlu diperhatikan pada kandang sapi perah adalah lantai, selokan, dinding, atap, ventilasi serta tempat pakan dan minum. Lokasi kandang sebaiknya berada pada tanah yang

datar, tidak becek dan lembab, cukup sinar matahari, ventilasi lancar, agak jauh dari pemukiman penduduk dan ukurannya sesuai dengan umur ternak (Setiadi, 1982). Menurut Siregar (1993), sebaiknya kandang 20-30 cm lebih tinggi dari tanah sekitarnya, jauh dari keramaian lalu lintas, manusia dan kendaraan. Kandang harus dibangun dekat sumber air, sebab sapi perah memerlukan air untuk minum, pembersihan lantai dan memandikan sapi. Kandang sebaiknya diarahkan ke timur atau membujur ke utara selatan agar bagian dalam kandang memperoleh sinar matahari pagi yang memadai. Sinar matahari bermanfaat untuk mengeringkan lantai kandang sehingga mengurangi resiko terjangkitnya penyakit (Siregar, 1993).

2.

Kontruksi kandang

Bahan yang digunakan untuk pembuatan atap antara lain asbes, rumbai, genting dan seng. Keuntungan rumbai dan genting adalah kandang tidak terlalu panas pada siang hari dan tidak terlalu dingin pada malam hari. Atap genting dan rumbai memiliki kelemahan yaitu mudah rusak akibat serangan angin yang besar, oleh karena itu perlu adanya pengikatan yang kuat pada pembuatan atap. Tetapi bila menggunakan seng sebaiknya dicat putih pada bagian luarnya dan hitam pada bagian luarnya agar siang hari tidak terlalu panas (Williamson dan Payne, 1983). Siregar (1993) menyatakan bahwa kemiringan atap dari genting 30450, asbes 15200, welit (daun tebu dan sebagainya) 25300. Tinggi atap dari genting 4,5 m untuk dataran rendah dan menengah, dan 4 m untuk dataran tinggi. Tinggi plafon emperan berkisar antara 1,752,20 m dengan lebar emperan sekitar 1 m.

Lantai kandang dapat dibuat agak miring, dari bahan beton dengan perbandingan 1 bagian semen 2 bagian pasir dan 3 bagian kerikil, atau tanah biasa (Williamson dan Payne, 1993). Menurut Sudarmono (1993), lantai kandang sebaiknya dibuat dari bahan yang cukup keras dan tidak licin untuk dapat menjaga kebersihan dan kesehatan kandang. Kebersihan kandang sangat diperlukan karena akan mempengaruhi kesehatan sapi. Lantai kandang terlalu keras dapat ditutup dengan jerami agar menjadi tidak begitu keras. Lebih tegas Siregar (1993) menyebutkan bahwa supaya air mudah mengalir atau kering, lantai kandang harus diupayakan miring dengan kemiringan kurang lebih 20 Bagian kandang yang penting adalah tempat pakan dan minum. Hendaknya tempat tersebut dibuat sekuat mungkin dan mudah dibersihkan (Ensminger,1991). Tempat pakan dapat dibuat memanjang sepanjang kandang dan diusahakan sapi dapat mengambil pakan yang disediakan. Tempat pakan dapat dibuat dengan kedalaman sekitar 50 cm, dengan luas tempat pakan sekitar 1 m2. Tempat minum dapat diletakkan pada ember plastik atau dari bahan lain,

diletakkan dengan cara digantung dengan ketinggian kurang lebih 80 cm dari lantai dengan tujuan untuk menghindari kontaminasi dari makanan dan desakan sapi (Sudarmono, 1993). Selokan atau drainase lebarnya minimal 3040 cm. Kedalaman selokan atau drainase 20 25 cm (Siregar, 1993). Muljana (1985) menyatakan agar air pembersih kandang dan air untuk memandikan sapi mudah mengalir menuju bak penampungan, maka lantai bagian belakang dan disekeliling kandang harus dilengkapi selokan. Selokan dibuat dengan lebar 20 cm dan kedalaman 15 cm yang dimaksudkan untuk memudahkan pembuangan kotoran yang cair, air minum maupun air untuk memandikan sapi. Blakely dan Bade (1998) mengatakan bahwa selokan harus cukup lebar agar kotoran yang berasal dari kandang dapat keluar dengan cepat.

2.

Tipe kandang

Bentuk kandang sapi perah ada dua macam, yaitu kandang konvensional dan kandang bebas. Kandang konvensional berarti sapi ditempatkan pada jajaran yang dibatasi dengan penyekat, sedangkan kandang bebas yaitu kandang yang ruangannya bebas tanpa penyekat (Williamson dan Payne, 1993). Kandang yang biasa digunakan yaitu jenis tail to tail atau saling membelakangi dan head to head atau saling berhadapan (Blakely dan Bade, 1998).

3.

Sanitasi dan penanganan limbah

Kandang dibersihkan setiap hari minimal 2 kali, bersama dengan memandikan sapi laktasi (Syarif dan Sumoprastowo, 1985). Usaha pemeliharaan kesehatan ternak sapi perah selain melalui pembersihan kandang, juga dengan kebersihan ternak, peralatan dan petugas kandang. Kandang sapi perah harus bersih supaya saat pemerahan susu tidak terkontaminasi dengan udara luar guna menjaga kesehatan ternak sapi (Williamson dan Payne, 1993). Sapi harus dimandikan 2 kali sehari untuk membersihkan kotoran yang menempel pada tubuhnya, karena dengan adanya kotoran yang menempel pada tubuh akan menyebabkan poripori tertutup. Hal tersebut mengakibatkan kelenjar keringat tidak akan mengeluarkan sekresinya secara senpurna dan selanjutnya akan mempegaruhi kesehatan ternak. Air pembersih kandang dan air untuk memandikan sapi mudah mengalir menuju bak penampungan, maka lantai bagian belakang dan disekeliling kandang harus dilengkapi selokan. Selokan dibuat dengan lebar 20 cm

dan kedalaman 15 cm yang dimaksudkan untuk memudahkan pembuangan kotoran yang cair, air minum maupun air untuk memandikan sapi (Muljana, 1985). Selokan harus cukup lebar agar kotoran yang berasal dari kandang dapat keluar dengan cepat (Blakely dan Bade, 1998). Selokan atau drainase lebarnya minimal 3040 cm. Kedalaman selokan atau drainase 2025 cm (Siregar, 1993).

6.

Manajemen Perkawinan

Masa birahi pada sapi relatif singkat, oleh karena itu perlu pengamatan secara teliti terhadap timbulnya tanda-tanda birahi seekor sapi agar program dapat berjalan sesuai rencana. Sistem perkawinan sapi perah dapat dilakukan dengan dua cara yaitu perkawinan alam dan buatan. Perkawinan alam seekor sapi pejantan memancarkan sperma langsung kedalam alat reproduksi betina oleh pejantan sendiri. Perkawinan sebaliknya dilakukan pada suatu tempat atau kandang khusus yang dibuat untuk mengawinkan hewan (Soedono, 1984). Menurut Ensminger (1991) perkawinan buatan (Inseminasi Buatan = IB) juga dikenal dengan istilah AI (Artifisial Insemination) ialah suatu cara perkawinan dimana sperma dikumpulkan dari pejantan untuk dirawat atau disimpan dalam kondisi tertentu diluar tubuh hewan, kemudian dengan pertolongan suatu alat semen itu dimasukkan kedalam alat kelamin betina. Jadi proses perkawinan ini meliputi pengumpulan semen, perawatan semen dan memasukkan semen kedalam alat reproduksi betina. Keuntungan AI (IB) adalah; 1). Penularan penyakit kelamin dapat dihindarkan, 2). Dengan kawin alam seekor pejantan hanya mampu melayani 100-150 ekorbetina pertahun, sedangkan dengan cara IB seekor pejantan mampu melayani 10.000 30.000 perekor betina pertahun, 3). Persilangan antar ras dapat dipermudah, 4). Penyebaran bibit unggul dapat berlangsung lebih cepat, 5). Bagi pejantan yang baik karena

suatu sebab tidak dapat mengawini masih dapat diambil spermanya, 6). Sapi-sapi dara dapat dikawinkan dengan mudah. Disamping ada keuntungan IB juga ada kerugiannya antara lain 1). Bila pemilihan pejantan tidak tepat maka akan terjadi penyebaran bibit yang jelek dengan cepat, 2). Bila pelaksanaan kurang hati-hati maka penyebaran penyakit lebih mudah meluas, 3). Terlalu banyak sapi yang mempunyai keturunan yang sama.

7.

Recording

Recording merupakan pencatatan ternak yang bertujuan untuk mengetahui asal-usul ternak yang dipelihara, sehingga nantinya diharapkan tidak akan didapatkan ternak sapi perah yang yang mengalami inbreeding. Recording dapat memudahkan tata laksana selanjutnya pada ternak, memudahkan pengontrolan dan memudahkan peningkatan mutu genetik (Santosa, 1997).

BAB III METODOLOGI Praktikum Manajemen Ternak Perah dilaksanakan pada tanggal 6 Juni 2012 sampai dengan 7 Juni 2012 di Peternakan Sapi Perah Koperasi Nusantara, Desa Tlogo, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang.

3.1. Materi Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah ember stainstell untuk wadah susu sementara, mesin pemerah susu, pengukuran literan susu untuk mengukur jumlah susu yang di dapat, milk can tempat untuk menyimpan susu setelah pemerahan meteran untuk mengukur luas kandang, timbangan untuk menimbang pakan dan sisa paka, dot susu untuk meminumkan susu kepada pedet, mesin chopper untuk memotong rumput, dan sekop untuk membersihkan kotoran. Bahan yang digunakan adalah sapi pedet ekor, sapi laktasi ..ekor, dan sapi dara ekor.

3.2. Metode Metode yang digunakan dalam praktikum ini meliputi pengamatan langsung di lapangan dan wawancara mengenai pengelolaan sapi perah yang meliputi manajemen perawatan sapi perah, manajemen pakan, manajemen perkandangan, manajemen pemerahan serta recording. Manajemen perawatan sapi perah meliputi pemeliharaan badan dan kulit sapi perah, pengawasan keadaan sapi perah di dalam kandang dan sanitasi. Manajemen pakan sapi perah meliputi perkiraan bobot badan (estimasi bobot badan) yaitu dengan mengukur lingkar dada sapi betina,

mengamati, menimbang dan mencatat ransum yang diberikan. Manajemen perkandangan meliputi pengamatan, pengukuran dan pencatatan kandang sapi perah dan area sekitar kandang. Manajemen pemerahan meliputi rata-rata produksi susu per hari. Recording yaitu dengan wawancara untuk mendapatkan keterangan dari pihak perusahaan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Keadaan Umum

Perusahaan Peternakan Sapi Perah Koperasi Nusantara merupakan perusahaan yang bergerak dibidang peternakan sapi perah dengan menghasilkan produk utama berupa susu. Peternakan ini terletak di desa Tlogo, kecamatan Tuntang, kabupaten Sematang. Luas area

perusahaan 4 ha. Jumlah ternak yang dipelihara adalah 51 ekor dengan perincian dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 1. Populasi ternak milik Koperasi Nusantara Populasi jumlah ternak Sapi laktasi 15 ekor Sapi dara 20 ekor Sapi pedet ekor Total ekor Sapi yang dipelihara adalah sapi perah jenis Peranakan Friesian Holstein (PFH) dan Jersey. Sapi yang dipelihara memiliki ciri-ciri warna bulu hitam belang putih untuk PFH, dan bersifat tenang dan jinak. Hal ini sesuai dengan pendapat Siregar (1993) yang menyatakan bahwa sapi Friesian Holstein (FH) yang mempunyai ciri-ciri anatara lain warnanya hitam berbelang putih, kepala berbentuk panjang, lebar dan lurus, tanduk relatif pendek dan melengkung ke depan, temperamen tenang dan jinak..

4.2. Manajemen Pemeliharaan

Berdasarkan hasil praktikum manajemen pemeliharaan yang dilakukan adalah hanya pada pedet, sapi laktasi, dan sapi dara. Hal ini sesuai dengan pendapat Putra (2009) bahwa manejemen pemeliharaan sapi perah terdiri atas pemeliharaan pedet, dara, bunting, laktasi dan kering kandang. 4.2.1 Pemeliharaan pedet Pedet yang dipelihara di Koperasi Nusantara berjumlah pedet ekor yang terdiri dari jantan dan betina. Pedet jantan dan betina tidak di pisahkan, namun pada pedet yang berumur 5 bulan keatas di kelompokan secara terpisah. Setelah lahir pedet ditempatkan pada kandang yang berbeda dengan induknya. Pedet lepas sapih kurang lebih pada umur 2 bulan. Hal ini sesuai dengan pendapat Blakely dan Bade (1998) yang menyatakan bahwa Pedet sapi perah disapih pada umur 3-4 bulan, tergantung dari kondisi pedet. Bagi pedet yang kecil dan lemah, saat penyapihan dapat ditunda sampai umur 4

bulan lebih.Penyapihan pedet perlu mempertimbangkan kondisi dan umur pedet tersebut, sebab saluran alat pencernaannya berbeda dengan sapi dewasa. Putra (2009) menyatakan cara penyapihan pedet sedikit demi sedikit susu yang diberikan dikurangi. Sebaliknya, pemberian konsentrat dan hijauan ditingkatkan sampai pada saatnya pedet itu disapih sehingga terbiasa dan tidak mengalami stres.

Pada waktu tersebut pedet hanya diberi pakan berupa air susu dari induknya hal ini dikarenakan lambung pada pedet belum berkembang dengan sempurna. Pemberian susu untuk pedet dilakukan dua kali sehari pagi dan sore, pagi 4 liter/ekor dan sore 2 liter/ekor. Selanjutnya setelah selesai disapih pedet mulai diberi pakan berupa konsentrat untuk melatih kerja dari alat pencernaannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Imron (2009) bahwa pada awalnya saat sapi lahir hanya abomasum yang telah berfungsi, kapasitas abomasum sekitar 60 % dan menjadi 8 % bila nantinya telah dewasa. Sebaliknya untuk rumen semula 25 % berubah menjadi 80 % saat dewasa.

4.2.2 Manajemen dara

Pemeliharaan sapi dara yang berjumlah . ekor. Perawatan sapi dara yaitu dilakukan sanitasi 2 kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari, pemberian pakan seperti biasa hanya jumlah konsentratnya lebih sedikit. Setiap pagi dilakukan pembersihan ternak (pemandian ternak). Hal ini sesuai dengan pendapat Syarief dan Sumoprastowo (1985) yang menyatakan bahwa sapi-sapi harus selalu bersih setiap kali akan diperah, terutama bagian daerah lipatan paha sampai bagian belakang tubuh sapi perah dan sebaiknya dimandikan sekurangnya satu kali sehari. Hal ini diperkuat dengan pendapat Muljana (1985) yang menyatakan bahwa sapi sebaiknya dimandikan setiap hari dan pembersihan kotoran yang menempel dikulit. Sanitasi dilakukan setiap 2 kali

sehari setiap pagi dan sore dengan tujuan menjaga kebersihan kandang karena berhubungan dengan kesehatan ternak.

4.2.3 Manajemen laktasi

Jumlah sapi laktasi yang dipelihara sebanyak ekor. Pemeliharaan sapi laktasi dilakukan secara teratur, meliputi pemberian pakan, pemerahan, sanitasi dan pemandian secara teratur setiap hari. Pemerahan dilakukan 2 kali sehari pagi pukul 07.00 dan sore pukul 15.00. Pemberian pakan berupa konsentrat dan hijauan. Hijauan yang diberikan adalah rumput gajah. Hal ini sesuai dengan pendapat Syarief dan Sumoprastowo (1985) bahwa pemberian bahwa pakan sapi perah laktasi ada dua golongan yaitu pakan serat kasar (hijauan) dan penguat (konsentrat).
Ternak sapi dewasa kelamin pada umur 12-15 bulan. Perbedaan umur dewasa kelamin ini dipengaruhi oleh genetik, keadaan lingkungan dan pemberian pakan. Semakin baik kualitas pakan yang diberikan maka umur dewasa kelamin akan semakin cepat pula. Hal ini sesuai dengan pendapat Blakely dan Bade (1998) bahwa umur dewasa kelamin sapi yaitu 12- 17 bulan. Serta diperkuat oleh pendapat Putra (2009) yang menyatakan bahwa umur dewasa kelamin pada sapi perah bervariasi karena dipengaruhi faktor ras, keadaan lingkungan dan terutama pemberian pakan.

4.3

Manajemen Pakan

Pakan yang diberikan oleh peternak berupa hijauan dan konsentrat. Hijauan yang diberikan kepada ternak perah yaitu rumput gajah yang diperoleh dari lahan sendiri, yang berada di sekitar

kandang perah. Sedangkan konsetrat yang diberikan Hijauan diberikan dua kali sehari setelah pemerahan dilakukan sebanyak . kg per ekor per hari, hal ini tidak sesuai dengan pendapat Prihadi (1996) bahwa hijauan diberikan sepanjang hari secara ad libitum, hijauan juga diselingi dengan jerami padi sebanyak 1 kg yang diberikan dua kali sehari. Konsentrat diberikan dua kali sehari setelah pemerahan sebanyak kg per ekor per hari. Hal ini sesuai dengan pendapat Prihadi (1996) bahwa pemberian konsentrat dilakukan dua kali sehari sebelum pemerahan. Fungsi utama dari pemberian konsentrat adalah mensuplai energi tambahan yang diperlukan untuk produksi susu secara maksimum dan mengatur atau menyesuaikan tingkat protein suatu ransum tertentu. Pemberian air minum diberikan secara ad libitum. Hal ini sesuai dengan pendapat Syarief dan Sumoprastowo (1985) jumlah air minum yang diberikan pada sapi perah laktasi sebaiknya adalah adlibitum karena tidak akan menimbulkan efek negatif bahkan dapat meningkatkan produksi air susu.

4.4 Manajemen pemerahan

Manajemen permerahan meliputi persiapan pemerahan, proses pemerahan, dan pasca pemerahan. Setelah semua proses dilaksanakan, kemudian dilakukan evaluasi.

4.4.1. Persiapan Pemerahan Persiapan pemerahan di Peternakan Sapi Perah Koperasi Nusantara kandang sapi yang akan digunakan dalam proses pemerahan harus dilakukan sanitasi terlebih dahulu agar kandang terjaga kebersihannya pada saat proses pemerahan. Kemudian sapi-sapi dimasukkan kedalam kandang khusus untuk diperah, selain itu sapi yang akan diperah dicuci bagian ambing dan kaki belakangnya, baru menyiapkan peralatan yang sudah dibersihkan seperti ember stainstell mesin

pemerah susu, pengukuran literan susu, milk can setelah itu dilakukan pemerahan. Hal ini sesuai dengan pendapat Muljana (1985) yang menyatakan bahwa sebelum pemerahan dimulai sapi yang akan diperah dibersihkan dari segala kotoran, tempat dan peralatan telah disediakan dan dalam keadaan yang bersih. Chamberlin (1993) menambahkan bahwa sebelum melakukan pemerahan dilakukan persiapan diantaranya persiapan alat, pembersihan kandang dan sanitasi ternak.

4.4.2. Proses pemerahan Proses pemerahan di Peternakan Sapi Perah Koperasi Nusantara dengan menggunakan mesin perah. Susu yang keluar pertama kali tidak dibuang, dan hanya kaki belakang serta ambing saja yang dicuci jadi ketika pemerahan sapi badan sapi masih terlihat kotor. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Sudono et al., (2003) bahwa pemerahan yang baik dilakukan dengan cara yang benar dan alat yang bersih. Tahapan-tahapan pemerahan harus dilakukan dengan benar agar sapi tetap sehat dan terhindar dari penyakit yang dapat menurunkan produksinya. Sapi diperah sebanyak 2 kali, pagi dan sore. Produksi susu yang dihasilkan lebih banyak pada saat pagi hari. Terdapat beberapa sapi yang tidak diperah karena diduga mastitis. Sapi diduga mengalami mastitis karena banyak faktor diantaranya pemerahan yang tidak tuntas, atau terjadi penularan bakteri dari sapi satu ke sapi yang lainnya. Hal ini juga sesuai oleh pendapat dari Siregar (1993), sapi perah laktasi yang terinfeksi mastitis bakterial mula-mula ditandai dengan perubahan susu. Susu berubah menjadi encer dan pecah menggunakan uji alkohol, susu bergumpal dan kadang-kadang bercampur darah atau nanah. Penyebab mastitis bakterial diantaranya adalah ambing yang tidak terpelihara kebersihannya, perlakuan pemerahan atau tangan pemerah yang terkontaminasi.

4.4.3. Pasca Pemerahan

Penanganan pasca pemerahan adalah alat-alat dibersihkan dan kandang pemerahan dibersihkan. Setelah selesai pemerahan tidak dilakukan pembersihan sisa-sisa susu pada puting sapi, sehingga dapat menimbulkan penumpukan sisa susu pada ambing sapi tersebut. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Syarief dan Sumoprastowo (1985) yang menyatakan bahwa sesudah melakukan pemerahan sebaiknya bagian puting dicelupkan dalam larutan disinfektan untuk menghindari terjadinya mastitis. Dan diperkuat oleh Siregar (1993) bahwa susu pada tiaptiap puting harus diperah habis. Selesai pemerahan, ambing dan puting susu dicuci kembali dengan air hangat-hangat kuku lalu dicelup dan disemprot dengan air yang telah diberi sedikit biocid.

5.

Manajemen Perkandangan

Perkandangan adalah aspek yang penting dalam peternakan sapi perah.Perkandangan merupakan kompleks yang meliputi kandang sapi perah, gudang pakan, tempat penampungan kotoran dan kantor. Perkandangan diharapkan dapat menunjang dalam proses produksi sapi perah. Persiapan perkandangan perlu diperhatikan karena berkaitan erat dengan kesuksesan peternakan sapi perah. Hal ini sesuai dengan pendapat Sunarto (2006), yang menyatakan bahwa persiapan merupakan hal yang penting dalam pemeliharaan sapi perah. Persiapan yang mantap diharapkan segala kegiatan yang berhubungan dengan proses produksi akan berjalan lancar. Menurut Imron (2009), kandang dan peralatan kandang merupakan sarana dan prasarana yang penting bagi usaha sapi perah. Kandang yang dbangun akan mencerminkan tingkat efisiensi dalam pemeliharaan sapi perah dan produksi susunya. 4.5.1. Tipe kandang

Berdasarkan hasil praktikum diperoleh hasil bahwa tipe kandang yang digunakan untuk kandang sapi perah (jantan, betina, laktasi dan dara) adalah tipe kandang konvensional. Hal ini sesuai dengan pendapat Sunarto (2006), kandang konvensional adalah kandang dimana satu bangunan kandang dihuni oleh banyak ternak. Ditambahkan oleh Williamson dan Payne (1993), kandang konvensional berarti sapi ditempatkan pada jajaran yang dibatasi dengan penyekat, sedangkan kandang bebas yaitu kandang yang ruangannya bebas tanpa penyekat. 4.5.2. Atap

Atap kandang terbuat dari asbes. Bahan atap dari asbes kurang baik karena dapat membuat suhu ruangan menjadi panas karena dapat menyerap radiasi sinar matahari dan dapat mempengaruhi suhu nyaman ternak sehingga dapat menurunkan produktivitas ternak. Atap kandang hendaknya dibuat dari bahan-bahan yang sesuai dengan kondisi lingkungan ternak sehingga ternak tidak stress dan produktivitasnya dapat dimaksimalkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sunarto (2006), yang menyatakan bahwa atap kandang yang biasa dipilih dapat berupa asbes, genting, seng, ijuk atau alang-alang. Imron (2009), menambahkan bahwa pembuatan atap kandang harus memenuhi fungsinya untuk menjaga suhu dalam kandang. Bahan untuk membuat atap banyak macamnya, misalnya seng, asbes, genting, atau rumbia. 4.5.3. Lantai dan dinding kandang

Lantai pada kandang sapi dara dan sapi laktasi terbuat dari semen yang dipadatkan dan dibuat agak kasar dan tidak rata, sedangkan lantai kandang pedet terbuat dari bilah bambu dengan ketinggian sekitar 0,5 m dari tanah. Tujuan lantai kandang dibuat dari semen agar lantai tidak lembab dan licin serta mudah dibersihkan dan menghindari tumbuhnya bibit penyakit dalam kandang. Beberapa lantai kandang sapi perah diberi alas karpet karet. Hal ini sesuai dengan

pendapat Sunarto (2006), bahwa lantai kandang sebaiknya terbuat dari bahan yang tahan lama seperti semen cor, dan biasanya dilapisi karet. Menurut Imron (2009), lantai kandang sebaiknya dibuat dari semen atau bebatuan. Hal ini dimaksudkan agar alas kandang tetap kering sehingga tidak menyebabkan sapi menjadi sakit jika berbaring dilantai. Dinding kandang terbuat dari batu bata, berfungsi sebagai pelindung bagi ternak. Hal ini sesuai dengan pendapat Imron (2009), yang menyatakan bahwa dinding kandang yang lazim dipakai di Indonesia terbuat dari tembok. Peternakan sapi perah yang berada di desa biasanya dinding kandang terbuat dari bambu dan kayu. Hal ini diperkuat oleh pendapat Sunarto (2006), dinding kandang yang di gunakan di Indonesia adalah tembok, namun jika di kampung-kampung menggunakan bambu atau kayu. 4.5.4. Tempat pakan dan tempat minum

Berdasarkan hasil praktikum, diperoleh hasil bahwa tempat pakan mempunyai ukuran panjang 180 cm, lebar 60 cm, dalam 55 cm dan sekat pembatas antar sapi berupa tempat minum yang mempunyai ukuran panjang 50 cm, lebar 50 cm, dalam 55 cm. Hal tersebut sangat tidak efisien karena air minum yang diberikan dapat mencampuri pakan sehingga pakan menjadi lembek. Menurut Imron (2009), yang menyatakan bahwa tempat pakan dan minum merupakan perlengkapan kandang yang harus ada. Tempat pakan dan minum dapat terbuat papan berbentuk kotak ataupun ember plastik. Sunarto (2006), menambahkan bahwa kandang konvensional cukup praktis karena hanya harus menyediakan tempat minum minimal 50% dari jumlah sapi. 4.5.5. Selokan

Selokan kandang mempunyai panjang 8 m, lebar 25 cm dan kedalaman 5 cm. Selokan tersebut kurang memenuhi standarnya, sehingga perannya kurang maksimal. Fungsi selokan

sendiri sebagai saluran pembuangan urin, feses, maupun ari. Menurut Imron (2009), parit yang ada di belakang dan di sekeliling kandang harus memiliki ukuran lebar 20 cm dan kedalaman 15 cm. Parit berfungsi untuk tempat pembuangan air untuk memandikan sapi, air kencing, dan sekaligus kotoran sapi. Ditambahkan oleh Williamson dan Payne (1993), bahwa selokan berfungsi sebagai tempat pembuangan kotoran. Selokan biasanya dibuat dengan lebar 20--30 cm dan kedalaman 10--20 cm. Selokan ini dibuat di dalam kandang di bagian ekor sapi, baik itu di kandang tunggal maupun kandang ganda. 4.5.6. Letak bangunan kandang

Hasil dari praktikum diperoleh hasil bahwa kandang membujur dari utara ke selatan menghadap ke timur.Bangunan lain yang menunjang kegiatan perkandangan adalah sebuah aula, mess, dan kamar mandi serta ada tempat penampungan feses. Hal ini sesuai dengan pendapat Williamson dan Payne (1993), pertumbuhan bobot badan sapi dengan kandang (bagian kepala sapi) yang menghadap ke timur lebih baik dibandingkan dengan sapi yang kandangnya menghadap arah lain. Pembangunan kandang tunggal, sebaiknya dibuat menghadap ke timur agar ternak dapat sinar vitamin D yang cukup dari sinar matahari pagi. Menurut Siregar (1995), areal perkandangan dianjurkan dekat dengan areal pertanaman rumput dengan tujuan untuk memudahkan penyediaan pakan. 4.5.7. Tempat pembuangan feses

Feses yang dibersihkan dari kandang dialirkan ke dalam saluran selokan yang akan bermuara ke tempat penampungan feses. Penanganan limbah berupa feses pada peternakan sapi perah KTT Budi Makmur tergolong baik.Feses yang ditampung diolah untuk dijadikan biogas. Hal ini sesuai dengan pendapat Siregar (1995), yang menyatakan limbah yang tidak ditangani

dengan benar akan menimbulkan pencemaran baik itu terhadap produksi, tanah atau lingkungan, penduduk sekitar maupun kesehatan ternak dan peternaknya sendiri. Menurut Soedono (1984), teknologi biogas merupakan salah satu teknik tepat guna untuk mengolah limbah, baik limbah peternakan, pertanian, limbah industri dan rumah tangga untuk menghasilkan energi. Teknologi ini memanfaatkan mikroorganisme yang tersedia di alam untuk merombak dan mengolah berbagai limbah organik pada kondisi anaerob atau kedap udara. Selanjutnya hasil pengolahan limbah tersebut dengan konsep hasil akhir menjadi produk berdaya guna sebagai bahan bakar gas (biogas) dan pupuk organik padat atau cair yang berkualitas (limbah keluaran dari digester). 4.5.8. Fisiologi lingkungan

Pengukuran suhu mikroklimat dan makroklimat kandang yang diamati meliputi suhu dan kelembaban udara baik didalam maupun diluar kandang Berdasarkan pengukuran suhu pada pagi hari 240C sedangkan pada sore hari 280C dan kelembaban pada pagi hari sebesar 82 % Sedangkan pada sore hari 80,5%. Hasil praktikum tersebut kurang sesuai karena Menurut Wiliamson dan Payne (1993), kelembaban yang nyaman bagi ternak adalah 50 % - 60 %. Perbedaan ini diakibatkan karena pengaruh intensitas sinar matahari yang relatif tinggi. Kelembaban yang tinggi akan menurunkan konsumsi air minum dan penguapan panas dalam tubuh serta produktifitas ternak menurun. Dan diperkuat oleh pendapat Siregar (1995), yang menyatakan bahwa suhu lingkungan yang nyaman bagi ternak adalah 21-250C.

4.5.9.

Kamar susu

Berdasarkan hasil praktikum tidak terdapat kamar susu utnuk menampung susu yang dihasilkan. Setelah pemerahan, susu disaring dan dimasukkan ke dalam milk can untuk kemudian didistribusikan ke koperasi. Hal tersebut menyebabkan mudahnya kontaminasi mikroba ke dalam

susu sehingga kualitas susu menurun. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Williamson dan Payne (1993), yang menyatakan kandang sapi perah harus dilengkapi dengan tempat pemerahan susu, tempat penyimpanan dan pengolahan susu, tempat uji kualitas susu dan tempat pembuatan serta penyimpanan hay maupun silase. Menurut Blakely dan Bade (1994), kamar susu atau tempat penyimpanan susu digunakan untuk menyimpan atau menampung sementara susu yang diproduksi oleh sapi perah yang terdapat dalam kandang. Penataan letak bangunan kamar susu terpisah dengan bangunan lain sekurang-kurangnya 15m. 4.6 Manajemen Perkawinan Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa perkawinan yang dilakukan di peternakan ini menggunakan metode inseminasi buatan yaitu dengan menggunakan semen beku yang ditampung dari pejantan yang mempunyai kualitas yang unggul, kemudian disuntikan kedalam alat kelamin betina dengan menggunakan alat khusus. Inseminasi buatan ini dilakukan oleh inseminator yang ada di daerah itu. Hal ini sesuai dengan pendapat Ensminger (1992) yang menyatakan bahwa perkawinan buatan (Inseminasi Buatan = IB) juga dikenal dengan istilah AI (Artifisial Insemination) ialah suatu cara perkawinan dimana sperma dikumpulkan dari pejantan untuk dirawat atau disimpan dalam kondisi tertentu diluar tubuh hewan, kemudian dengan pertolongan suatu alat semen itu dimasukkan kedalam alat kelamin betina. Jadi proses perkawinan ini meliputi pengumpulan semen, perawatan semen dan memasukkan semen kedalam alat reproduksi betina. Keuntungan yang didapat dari inseminasi buatan ini dibandingkan dengan kawin alam adalah dengan metode inseminasi buatan dapat menghemat biaya pakan yang dikeluarkan untuk pakan pejantan, dapat meminimalisir penularan penyakit kelamin, dan dapat mendapatkan bibit unggul yng lebih mudah.Hal ini sesuai dengan pendapat Ensminger (1992), yang menyatakan

bahwa keuntungan AI (IB) adalah; 1). Penularan penyakit kelamin dapat dihindarkan, 2). Dengan kawin alam seekor pejantan hanya mampu melayani 100-150 ekorbetina pertahun, sedangkan dengan cara IB seekor pejantan mampu melayani 10.000 30.000 perekor betina pertahun, 3). Persilangan antar ras dapat dipermudah, 4). Penyebaran bibit unggul dapat berlangsung lebih cepat, 5). Bagi pejantan yang baik karena suatu sebab tidak dapat mengawini masih dapat diambil spermanya, 6). Sapi-sapi dara dapat dikawinkan dengan mudah.tetapi metode inseminsi buatan juga mempunyai kekurangan diantaranya membutuhkan ketelitian dalam mendeteksi tanda-tanda birahi, agar inseminasi yang dilakukan bisa lebih efektif, serta membutuhkan seorang yang ahli. Hal ini sesuai dengan pendapat Soedono, (1984) yang menyatakan bahwa Masa birahi pada sapi relatif singkat, oleh karena itu perlu pengamatan secara teliti terhadap timbulnya tanda-tanda birahi seekor sapi agar program dapat berjalan sesuai rencana.

4.7.

Recording

Pencatatan status ternak tidak dilakukan oleh manajer peternakan. Biasanya pencatatan dilakukan dengan menggunakan pemberian tanda pada telinga (ear tag) dan pencatatan lainnya yaitu : catatatan produksi susu, catatan kesehatan ternak, catatan reproduksi dan perkawinan ternak, dan catatan ransum, perubahan ransum, dan catatan data fisiologis ternak yang selanjutnya disimpan dalam kartu ternak. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Ensminger (1992), yang menyatakan, recording melalui pengafkiran dan program seleksi agar dapat menghilangkan faktor genetik yang buruk dan mengacu pada genetik yang lebih baik, pencatatan susu dan lemak juga merupakan salah satu kunci kepada pemberian pakan sapi perah. Ditambahkan oleh Syarief dan Sumoprastowo (1985), pencatatan tidak lepas dari salah satu

pelaksanaan pemberian tanda pengenal ternak berupa: nomor telinga, tanduk, tato, cap bakar, kalung bernomor dan sebagainya. Rekording yang dilakukan di Peternakan Koperasi Nusantara terdiri dari rekording reproduksi, rekording kesehatan, rekording umur, dan rekording susu yang dilakukan pada kartu berisikan produksi susu yang dihasilkan, hanya saja pada pemberian pakan tidak ada rekording yang baik sehingga pemberian pakan tiap sapi tidak terkontrol dengan baik. Rekording lebih mudah dilakukan karena pada tiap individu sapi telah dipasang eartag pada telinga bagian kanan. Sedangkan pada rekording perkawinan, umur, dan produksi susu sekiranya sudah cukup baik karena pengisian dilakukan setiap hari secara tepat. Pada rekording perkawinan juga sudah cukup baik karena terdapat catatan prediksi kelahiran dan pencatatan anak dari masing-masing induk yang melahirkan. Hal ini sesuai dengan pendapat (Santosa, 1997) recording dapat memudahkan tata laksana selanjutnya pada ternak, memudahkan pengontrolan dan memudahkan peningkatan mutu genetik.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum Manajemen Ternak Perah pakan yang digunakan terdiri dari hijauan dan konsentrat. Pemberian pakan dilakukan dua kali dalam sehari dan pakan yang diberikan adalah hijauan dan konsentrat. Sistem perkandangan head to head sehingga mudah dalam pemberian pakan. Sanitasi kandang dilakukan dua kali sehari sebelum pemerahan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan sapi serta kehigienisan susu. Pemerahan dilakukan pagi dan sore hari.

2.

Saran

Sebaiknya dilakukan pemerikasaan kesehatan ternak secara berkala agar ternak yang terkena mastitis atau penyakit-penyakit lainnya dapat segera ditangani.

DAFTAR PUSTAKA

Adriyani, Y. H. Suhartini, Aunorohman, Prayitno dan A. Priyono. 1980. Pengantar Ilmu Peternakan. Fakultas Peternakan Universitas Jendran Soedirman, Purwokerto (Tidak diterbitkan). Blakely, J. dan Bade, D.H. 1995. Ilmu Peternakan. Edisi keempat. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Bina UKM. 2011.
http://binaukm.com/2011/03/peralatan-dalam-penanganan-susu-sapi-seri-penanganan-dan-

pengolahan-susu-sapi/.

Diakses pada tanggal 13 Juni 2012 pukul 21.37.

Chamberlain. 1993. Milk Production in The Tropics. Intermediate Tropical Agriculture Series. Longman Scientific and Technical, England.
Davis, R.F. 1962. Modern Dairy Cattle Management. Prentice Hall, Inc. Amerika Serikat

Ensminger, M. E. 1971. Dairy Cattle Science. First Edition. The Inter State Printers Publisher, Inc. Dancilles, Illionois. Hidayat, Arif. 2001. Buku Petunjuk Peternakan Sapi Perah, Jakarta: DairyTechnology ImproveElement Project Indonesia. Imron, Muhammad. 2009. Manajemen Pemeliharaan Pedet.http://betcipelang.info. Muljana, W. 1985. Pemeliharaan dan Ternak Kegunaan Sapi Perah. Aneka Ilmu. Semarang. Putra, A. R. 2004. Kondisi teknis peternakan sapi perah rakyat di Kelurahan Pondok Rangon, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Skripsi. Program Studi Teknologi Produksi Ternak. Fakultan Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Prihadi. 1996. Tata Laksana dan Produksi Sapi Perah. Fakultas Peternakan Universitas Wangsa Manggala. Yogyakarta. Reksohadiprodjo, S. 1984. Pengantar Ilmu Peternakan Tropik. Fakultas Peternakan Universitas Gajah Mada. Puspaswara. Jakarta. Santosa, U. 1995. Tata Laksana Pemeliharaan Sapi. Penebar Swadaya. Jakarta. Santosa, U. 1997. Prospek Agribisnis Penggemukan Pedet. Penebar Swadaya. Jakarta. Sindoeredjo, S. 1970. Pedoman Perusahaan Pemerahan Susu. Proyek Pengembangan Produksi Ternak. Dirjen Peternakan. Jakarta. Siregar, S.B. 1993. Sapi Perah, Jenis, Teknik Pemeliharaan dan Analisis Usaha. Penebar Swadaya. Jakarta.

Soepardjo, Timan Soetarno, Soenardi, Soetimboel, Wartomo. 1979. :Produksi Air Susu Sapi Perah Peranakan Friesian Holstein di Yogyakarta. Presentasi pada Seminar Fakultas Peternakan UGM tanggal 13 oktober 1979. Soedono, A. 1984. Pedoman Beternak Sapi Perah. Direktorat Jenderal Peternakan. Departemen Pertanian. Jakarta Sudono, A., R. F. Rosdiana dan B. Setiawan. 2003. Petnjuk Praktis Beternak Sapi Perah Secara Intensif. Agromedia Pustaka, Jakarta. Sugeng, Y. B. 1992. Sapi Potong. Penebar Swadaya. Jakarta. Sugeng, Y. B. 1992. Sapi Potong. Penebar Swadaya. Jakarta. Sudarmono. 1993. Tata Usaha Sapi Kereman. Penerbit Kanisius, Yogyakarta Syarief, M. Z. dan C. D. A. Sumoprastowo.1985. Ternak Perah. CV. Yasaguna. Jakarta. Williamson, G. dan W. J. A. Payne. 1993. Pengantar Peternakan Di Daerah Tropis. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh B. Srigandono)