Anda di halaman 1dari 9

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Karies gigi adalah penyakit yang ditandai dengan kerusakan jaringan keras gigi, dimulai dari permukaa enamel dan meluas ke arah pulpa. Tersebar luas, dapat menyebabkan infeksi, sakit atau bahkan sampai kehilangan gigi. Karies dapat mengenai gigi sulung dan gigi tetap, tetapi gigi sulung lebih rentan terhadap karies karena struktur dan morfologi gigi sulung yang berbeda dari gigi tetap. Gigi sulung mengandung lebih banyak bahan organik dan air, sedangkan jumlah mineral lebih sedikit dibanding dengan gigi tetap dan ketebalan enamel gigi sulung hanya setengah dari gigi tetap. Pada anak balita karies yang sering dijumpai adalah karies botol, yaitu karies yang disebabkan cara pemberian makanan dan minuman yang salah. Penelitian terbaru menyatakan bahwa peyebab lainnya adalah penambahan pemanis pada minuman bukan hanya cara pemberian makanan dan minman yang salah melalui botol. Early Childhood Caries (ECC) adalah bentuk karies rampan pada gigi sulung dengan suatu pola lesi karies yang unik terjadi pada bayi, balita dan anak disebabkan penggunaan susu botol dalam jangka waktu yang panjang sejak lahir sampai usia 71 ECC yang tidak dirawat dapat memicu terjadinya kesulitan mengunyah karena sakit gigi, atau kehilangan dini pada gigi sulung sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan gigi. Tindakan pencegahan yang dilakukan pada ECC adalah instruksi kebersihan mulut, penyuluhan tentang diet yang tepat dan penggunaan flour, sedangkan tindakan perawatan adalah melakukan restorasi, perawatan saluran pulpa dan pencabutan.

B. Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai hasil dari Belajar Berdasarkan Masalah (BBM) dan kuliah pakar. C. Rumusan Masalah 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Apa definisi karies botol ? Apa etiologi karies botol ? Bagaimana pencegahan karies botol ? Bagaimana cara penanganan karies botol ? Apa komplikasi dari karies botol ? Apa definisi dan etiologi ulkus decubitus ? Apa definisi dan etiologi ulkus traumatikus ? Bagaimana gambaran klinis ulkus decubitus ? Bagaimana pengobatan ulkus decubitus ?

10. Bagaimana hubungan antara karies botol dengan perforasi radix dan ulkus decubitus ?

BAB II PEMBAHASAN

A. Definisi Karies Botol Karies dengan pola yang khas seringkali terlihat pada anak dibawah 6 tahun dengan kebiasaan minum Air Susu Ibu (ASI), susu botol atau cairan manis sampai tertidur atau disap terus menerus sepanjang hari (Djamil. 2011). Karies botol juga suatu sindrom yang mempunyai karakteristik karies yang parah pada bagian gigi anterior rahang atas karena pemakaian dot atau botol susu pada bayi dan balita (Arathi Rad. 2008).

B. Etiologi Karies Botol Penyebab utama adalah anak yang ditidurkan dengan dot yang berisi susu atau minuman manis lain. Anak itupun tertidur dan susu atau minuman manis tersebut menjadi menggenang di bagian gigi anterior rahang atas. Genangan yang terbentuk tersebut memungkinkan untuk menjadi tempat kultur bagi mikroorganisme acidogenic. Aliran saliva berkurang selama tidur sehingga pembersihan sisa cairan di mulut anak itu pun menjadi lambat (Arathi Rad. 2008). Penambahan pemanis pada minuman melalui botol (Asfria. 2008). Karies botol terjadi jika terdapat kombinasi/interaksi beberapa factor, yaitu (Andlaw dan Rock, 1992) : 1. Host Gigi sulung lebih mudah terserang karies daripada gigi permanen. Karena enamel gigi sulung mengandung lebih banyak bahan organik dan air sedangkan jumlah mineralnya lebih sedikit daripada gigi permanen.

2. Bakteri Streptococcus mutans tidak melekat secara kuat pada gigi, sehingga membutuhkan plak yang telah terbentuk sebagai awal pembentukan kolonisasi bakteri. 3. Substrat Substrat bagi S. mutans dapat berasal dari susu yang dapat menyebabkan terjadinya fermentasi karbohidrat. Meminum susu dengan menggunakan botol ketika tidur sangat tidak baik, cairannya akan menggenangi rongga mulut (gigi) untuk beberapa waktu (jam). Bakteri di dalam rongga mulut memetabolisme gula, kemudian menghasilkan asam yang akan merusak gigi. 4. Waktu Bakteri dan substrat membutuhkan waktu yang lama untuk demineralisasi dan progresi karies. Lamanya waktu yang dibutuhkan karies untuk berkembang menjadi suatu kavitas cukup bervariasi, diperkirakan 6-48 bulan (bila kebiasaan tidur dengan menghisap susu botol atau mengedot dalam waktu yang lama terus dilakukan)

C. Pencegahan Karies Botol Memberi ASI daripada menggunakan susu botol karena ASI mengandung laktosa yang kurang daya kariogeniknya dibandingkan dengan sukrosa (Kidd, Edwina A.M. 1991) Melakukan water flouridation agar kebutuhan harian fluor tercukupi, sehingga akan mencegah terjadinya proses karies (Chu, Sally. 2006) Memberikan flouride varnish 1 bulan sekali pada anak (Zafar, Sobia et al. ) Beberapa cara lain untuk mencegah terjadinya karies gigi antara lain adalah menyikat gigi dengan pasta gigi yang mengandung flour, menjaga kebersihan gigi dengan menyikat gigi dengan benar, fissure sealant atau menutup celah gigi, dan mengkonsumsi makanan dan minuman yang dapat memperlambat terjadinya karies seperti ikan, teh, dan apel (Djamil, 2011)

Kemudian jangan biarkan bayi tertidur dengan botol mengandungi susu di dalam mulut, hentikan penggunaan botol pada kanak-kanak secara beperingkat, bersihkan gigi bayi selepas makan dengan tuala atau kain lembut dan bersih dan bawa berkunjung ke dokter gigi apabila berusia 2-3 tahun (Andlaw dan Rock,1992)

D. Penanganan Karies Botol Penanganan kasus karies botol dapat direstorasi dengan menggunakan tumpatan berbahan GIC, composit resin strip crown dan mahkota stainless steel. Anak-anak dengan keadaan seperti ini adalah mungkin untuk dilakukan preparasi kavitas klas III dan IV (Cameron, 2003). Pada bagian yang sudah mengenai saluran akar dilakukan perawatan endodontik terlebih dahulu sebelum direstorasi. Apabila belum mengenai pulpa dapat langsung dilakukan restorasi (Riyanti, Unpad) Penanganan cara lain yaitu dengan melakukan pencabutan gigi dan pulp capping atau pemberian kalsium hidroksida untuk membentuk dentin sekunder (Djamil. 2011)

E. Komplikasi Karies Botol Apabila karies ini dibiarkan tanpa dilakukan perawatan, maka akan terjadi hal-hal seperti ini (Djamil, 2011) : Timbulnya peradangan dan nanah pada gusi Abses pada jaringan gusi dan otot Peradangan pada tulang rahang bahkan kematian pada tulang rahang Terjadinya ulcus decubitus Pembengkakan dan peradangan di kerongkongan sehingga menyebabkan kesulitan menelan dan tidak bisa membuka mulut

F. Definisi Ulkus Decubitus Kerusakan atau kematian kulit sampai kerusakan jaringan akibat adanya trauma pada suatu area secara terus-menerus. Biasanya terjadi di rongga mulut (Rajendran dan Sivapathasundharam, 2009). Ulkus decubitus ini dapat disebabkan karena trauma mekanik, kimiawi atau suhu (Greenberg. 2008)

G. Definisi dan Etiologi Ulkus Traumatikus Trauma merupakan penyebab umum terjadinya suatu ulserasi kambuhan pada membrane mukosa ronggga mulut. Peristiwa seperti tergigit ketika berbicara, tidur, atau karena pengunyahan merupakan contoh trauma yang dapat menimbulkan ulser. Bentuk lain dari trauma ini seperti luka akibat reaksi kimia, panas, elektrik, gigi yang fraktur, karies, malposisi atau malformasi sama seperti halnya erupsi awal gigi dapat menghasilkan pembentukan ulserasi. Perawatan yang buruk dan pemakaian protesa gigi yang tidak sesuai mungkin juga menyebabkan trauma. Ulser ini disebut dengan ulkus traumatikus atau traumatic ulcer. Ulkus ini biasanya terdapat pada mukosa bukal, mukosa labial, palatum dan tepi lidah (Langlais dan Miller, 2002) Ulser merupakan suatu defek dalam epitelium berupa lesi dangkal berbatas tegas serta lapisan epidermis diatasnya menghilang (Greenberg, et al, 2003). Sedangkan menurut Dorland (1998), ulcer merupakan suatu kerusakan lokal ekskavasasi permukaan organ atau jaringan yang ditimbulkan oleh jaringan nekrotik radang. Traumatic ulcer merupakan lesi rongga mulut yang umum, dan dapat disebabkan oleh trauma fisik seperti pipi atau lidah yang tergigit, iritasi landasan akrilik, karena objek asing misalnya sikat gigi yang terlalu kuat, iritasi karena gigi yang patah, kesalahan penggunaan alat kedokteran gigi. Selain itu juga dapat diakibatkan oleh trauma kimia seperti kontak mukosa dengan obat seperti aspirin, fenol atau silver-nitrat. Trauma suhu seperti memakan makanan panas pun dapat menimbulkan traumatic ulcer (Cunningham, 2002).

H. Gambaran Klinis Ulkus Decubitus Gambaan klinis dari ulkus decubitus, yaitu (Laskaris, 2006) : Dasar berwarna kekuning-kuningan dan tepi berwarna merah Lunak ketika di palpasi Dapat sembuh tanpa jaringan parut (6-10 hari) Rasa nyeri

I.

Pengobatan Ulkus Decubitus Pengobatan dari ulkus decubitus yaitu dengan cara memberikan Chlorhexidin

2% (mouth rinse), dan bisa juga dengan memberikan triamcinolone acetonide (covering agent) (Longman and Field, 2004).

J.

Hubungan Karies Botol dengan Perforasi Radix dan Ulkus Decubitus Gigi sulung yang telah habis mahkotanya akibat karies botol, menyisakan

akar gigi di dalam gusi dan tulang penyangga. Tekanan kunyah pada sisa akar gigi tersebut sering membuat kemiringan akar gigi atau inklinasinya berubah. Ujung akar bisa berubah miring ke arah langit-langit (palatum) atau ke arah bibir dan menyembul ke arah gusi. Tajamnya ujung akar seringkali membuat luka pada panggkal bibir bagian dalam yang terkena. Luka inilah yang disebut sebagi ulcus decubitus (Andlaw dan Rock,1992)

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran Diharapkan mahasiswa dapat menerima dan mempelajari hasil dari tutorial ini,bukan hanya dipelajari tetapi juga sebagai penuntun dalam mempermudah belajar,dan mahasiswa mampu menjelaskan sendiri pengetahuan yang sudah di pelajari dan di diskusikan dalam tutorial ini.

DAFTAR PUSTAKA

1. 2. 3. 4. 5.

6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17.

Andlaw, R.J, Rock, W.P. 1992. Perawatan Gigi Anak Edisi 2. Widya Medika: Jakarta Asfria, Ivo. Early Childhood Caries. USU Repository. Medan. 2008:9-33 Cameron, A.C dan R.P. Widmer. 2003. Handbook of Pediatric Dentistry. The C.V. mosby Company. St. Louis. Chu, Sally. Review early childhood caries: risk and prevention in under served populations. University of California. 2006: vol 14 Cunningham, S., Francis B. Quinn, Matthew W. Ryan. 2002. Ulcerative Lesions of The Oral Cavity. Dept. of Otolaryngology: Grand Rounds Presentation. Djamil, Melanie Sadono. 2011. A-Z Kesehatan Gigi Panduan Lengkap Kesehatan Keluarga. Metagraf: Solo. Field, A., Longman, L. 2003. Tyldesleys Oral Medicine. Oxford University Press. Liverpool. Greenberg, M.S and Michael Glick. 2003. Burkets Oral Medicine : Diagnosis and Treatment. BC Decker Inc : Spanyol. Greenberg, M.S., Glick, M., Ship, J.A. 2008. Burkets Oral Medicine. 11th Edition. BCDecker Inc : Hamilton. Kidd, Edwina A.M. 1991. Buku dasar-dasar karies. EGC. Jakarta Langlais, R. P; Miller, C. S. 2000. Atlas Berwarna Kelainan Rongga Mulut yang Lazim. Hipokrates. Jakarta. Laskaris, George. 2006. Color Atlas of Oral Disease: second edition. Thieme: New York. Longman and Field. 2004. Tyldesleys Oral Medicine. Fifth edition. Oxford : New York. Rad, Arathi. 2008. Principles and practice of pedodontics 2nd edition. Jaypee brothers medical publisher. New Delhi, India. Rajendran and Sivapathasundharam. 2009. Shafers Textbook of Oral Pathology. 6th edition. Elsevier : India. Riyanti, Eriska. Penatalaksanaan Perawatan NMC. Unpad Zafar, Sobia et al. int dentistry Clinical. Early Childhood Caries etiology, Clinical cosiderations, consequences and management. Vol 11.