Anda di halaman 1dari 11

Praktikum Asam Basa II

Alfian Seru
331 10 055 / I C

I.

Tujuan Dapat menjelaskan prinsip titrasi campuran karbonat-Bicarbonat. Dapat menghitung konsentrasi masing-masing didalam campuran.

II.

Perincian Kerja Menitrasi sejumlah campuran dengan menggunakan indikator yang berbeda-beda.

III. Alat-alat yang Digunakan Erlenmeyer 250 ml 4 buah Buret 50 ml Pengaduk Spatula 1 buah Pipet ukur 1 ml Pipet ukur 25 ml Pipet seukuran 10 ml IV. Bahan kimia Larutan dari campuran Carbonat-Bicarbonat larutan baku HCl 0,1 N Indicator Phenol Pethalin Indicator Metil Oranye 1 buah 1 buah 1 buah 2 buah 1 buah Pipet seukuran 25 ml Bola isap labu semprot Selang 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah

Klem buret Gelas ukur 100 ml

Teknik Kimia Politeknik Negeri Makassar 2011

Praktikum Asam Basa II

Alfian Seru
331 10 055 / I C

V.

Dasar Teori Titrasi adalah salah satu metoda untuk menentukan kadar secara kuantitatif dari zatzat yang telah dikenal rumus kimianya. Titrasi dikatakan juga sebagai analisa massa, karena jumlah larutan yang digunakan untuk menentukan kadar suatu zat, diukur secara tepat. Untuk dapat mengerti apa yang terjadi pada suatu titrasi, maka perlu dipahami terlebih dahulu: Persamaan reaksinya Mol Derajat keasaman dan kebasaan Ekivalen Pada analisa massa, larutan yang akan ditentukan direaksikan dengan sejumlah tertentu larutan yang telah diketahui kadarnya (larutan baku), sampai titik akhir dari reaksi tercapai. Dengan mengukur berapa jumlah larutan yang diketahui kadarnya yang dibutuhkan untuk bereaksi dengan sejumlah tertentu larutan yang ditentukan, maka dapat dihitung kadar dari larutan yang ditentukan tersebut. Persyaratan yang harus dipenuhi untuk suatu analisa massa adalah: Reaksi kimia harus berlangsung dengan cepat, kuantitatif dan sesuai dengan perbandingan stokiometrinya. Reaksi harus memiliki keboleh ulang (reproducibility) dengan perbedaan hasil tidak lebih dari 0,5 % Titik akhir reaksi harus dapat diketahui dengan jelas Kadar dari larutan baku harus diketahui dengan tepat

Teknik Kimia Politeknik Negeri Makassar 2011

Praktikum Asam Basa II

Alfian Seru
331 10 055 / I C Penentuan kadar dari asam lemah ini dapat dilakukan dengan menggunakan larutan baku asam. Titrasi dilakukan secara bertahap seperti halnya berikut : Sejumlah volume campuran garam karbonat-bikarbonat dititrasi dengan HCl dengan indikator yang perubahan warnanya sekitar pH pembentukan H 2CO3 dari CO3= (PP) Reaksinya : H+ + CO3= didalam larutan. Sejumlah volume yang sama dari garam tersebut dititrasi dengan HCl dengan indikator yang pH perubahan warnanya meliputi pH pembentukan H2CO3 dari semua CO3= dan HCO3 yang ada didalam larutan, yaitu MO, Indigo carmen atau BPB. Jumlah asam yang digunakan ekivalen dengan jumlah HCO 3 dan CO3= yang ada didalam larutan. Asam dari basa lemah dapat dititrasi dengan larutan baku basa, proses ini dinamakan alkalimetri. Basa dan garam dari asam lemah dapat dititrasi dengan larutan baku asam, proses ini dinamakan asidimetri. Reaksi penetralan : H3O+ + OHH3O+ + AB+ + OHBOH 2H2O HA + H2O HCO3

Jumlah asam yang digunakan ekivalen dengan separuh jumlah karbonat yang ada

Suatu larutan basa atau larutan asam dapat ditentukan kadarnya melalui penambahan larutan baku asam atau larutan baku basa yang tepat ekivalen dengan jumlah basa atau asam yang ada. Titik dimana saat tersebut tercapai dinamakan titik ekivalen atau titik akhir teoritis. Jumlah basa atau asam adalah ekivalen dengan jumlah asam atau basa. Untuk menentukan titik ekuvalen ini dipergunakan indikator asam basa, yaitu suatu zat yang dapat berubah warnanya tergantung pada pH larutan. Macam indikator yang

Teknik Kimia Politeknik Negeri Makassar 2011

Praktikum Asam Basa II

Alfian Seru
331 10 055 / I C dipilih harus sedemikian pula sehingga pH titik ekivalen titrasi terdapat dalam daerah perubahan warna indikator. Jika pada suatu titrasi dengan indikator tertentu timbul perubahan warna, maka titik akhir titrasi telah tercapai dan titik tersebut dinamakan titik akhir titrasi. Titik akhir titrasi tidak selalu berimpit dengan titik ekivalen dan selisihnya dinamakan kesalahan titrasi. Pemilihan indikator yang tepat dapat memperkecil kesalahan titrasi ini. Sebagai ukuran umum dapat dikatakan bahwa suatu reaksi kimia dapat dipakai untuk suatu titrasi bila terjadi perunahan pH sebesar dua satuan pada/atau dekat titik stokiometri, setelah ditambahkan sedikit (satu atau dua tetes) titran. Indikator yang dipilih harus mempunyai daerah pH pada titik ekivalen atau dekat ekivalen. Untuk menentukan konsentrasi suatu larutan asam atau basa diperlukan suatu larutan baku. Larutan baku yang dibuat melalui pelarutan zat dengan berat yang diketahui sampai volume tertentu dan secara langsung konsentrasinya diketahui dinamakn larutan baku primer. Larutan baku yang konsentrasinya ditentukan melalui titrasi dengan larutan baku primer dinamakan larutan sekunder. Contohnya adalah larutan NaOH. Titrasi pendahuluan Titrasi pendahuluan biasanya dilakukan untuk memperkirakan secara kasar konsentrasi suatu zat. Tujuannya adalah untuk mempermudah mempersiapkan larutan untuk titrasi yang lebih teliti, serta untuk menghemat waktu dan bahan kimia. Titrasi pendahuluan biasanya dilakukan dalan jumlah zat yang kecil yaitu 1 gram atau 1 ml zat yang ditentukan. Walaupin demikian lebih baik bila dihitung dahulu berat teoritis zat yang harus ditimbang. Setelah konsentrasi zat diketahui secara kasar, maka dilakukan titrasi lebih lanjut dengan lebih teliti. Terdapat kemungkinan bahwa zat yang akan ditentukan perlu diencerkan lebih dahulu atau penitrasi perlu diencerkan atau jumlah zat yang harus

Teknik Kimia Politeknik Negeri Makassar 2011

Praktikum Asam Basa II

Alfian Seru
331 10 055 / I C ditimbang lebih banyak atau kurang dari 1 gram, agar kesalahan titrasi dapat dihitung dari ketelitian alat yang digunakan (pipet seukuran, buret, labu ukur, timbangan).

VI. Perincian Kerja Standarisasi larutan baku sekunder HCl dengan menggunakan boraks. Untuk memperkirakan jumlah boraks yang diperlukan, maka lebih dahulu dilakukan titrasi pendahuluan Menimbang 0,2299 gram boraks Dimasukkan kedalam Erlenmeyer 250 ml Melarutkan boraks dengan air demineral Menambahkan 3 tetes indicator metil merah Menitrasi dengan HCl Menghitung konsentrasi larutan baku sekunder HCl Percobaan dilakukan duplo, berat boraks yang ditimbang sebanyak 0,3001 gr Titrasi bertahap Dilakukan titrasi pendahuluan untuk mengetahui sekitar berapa penggunaan larutan penitar HCl dalam titrasi, Dimasukkan 1 ml sampel dan ditambahkan sedikit air untuk mempermudah pengamatan tititrasi, tak berwarna sampel.) Penetapan larutan Karbonat. Sampel ditambahkan 3 tetes indikator PP, lalu dititrasi dengan larutan baku HCl sampai terjadi perubahan dari merah muda sampai hampir (dipergunakan sekitar 0,6 ml HCl untuk menitar 1 Ml alrutan

Teknik Kimia Politeknik Negeri Makassar 2011

Praktikum Asam Basa II

Alfian Seru
331 10 055 / I C Membilas buret sampai bersih dengan menggunakan larutan baku HCl sebanyak 3 kali. Dipipet 25 ml Larutan Na2CO3-NaHCO3 kedalam erlenmeyer 250 ml. Ditambahkan 3 tetes indikator PP lalu dititrasi dengan larutan baku HCl sampai terjadi perubahan dari merah muda menjadi hampir tak berwarna. Kemudian volume dicatat sebagai volume penitrasi (M = 6,1 dan 6,2 ml). Percobaan dilakukan duplo. Dimasukkan kedalam Erlenmeyer 250 ml Penetapan larutan Bicarbonat. ditambahkan 3 tetes indikator Metil oranye, Kemudian dititrasi dengan larutan baku HCl, sampai terjadi perubahan warna dari kuning ke jingga lemah. Percobaan dilakukan duplo. Volume larutan baku penitar dicatat sebagai m = 17,2 ml. VII. Data Pengamatan 1. Standarisasi larutan baku sekunder HCl dengan menggunakan Boraks Percobaan Simplo Duplo Berat asam benzoat 0,2299 gr 0,3001 gr Berat rata -rata 0,2650 gr Volume HCl 18,1 ml 18,1 ml

Dipipet sejumlah 25 ml larutan sampel kedalam erlenmeyer 250 ml, lalu

2. Standarisasi larutan sampel dengan HCl menggunakan Indikator PP Percobaan Simplo Duplo Volume campuran 10 ml 10 ml Volume HCl 6,1 ml 6,2 ml Vol rata-rata 6,15 ml

3. Standarisasi larutan sampel dengan HCl menggunakan indikator Metil orange. Percobaan Volume Campuran V. NaOH Vol rata-rata

Teknik Kimia Politeknik Negeri Makassar 2011

Praktikum Asam Basa II

Alfian Seru
331 10 055 / I C Simplo Duplo 10 ml 10 ml 17,2 ml 17,2 ml

17,2 ml

VIII. Perhitungan Untuk standarisasi Boraks HCl mol Boraks mol HCl Massa NHCl . V HCl BM NHCl = Massa Boraks VHCl x Bst Boraks Massa Boraks NHCl = ml . 103 L BM x g / eq 1 ml 2

N HCl =

0,2650 gr 10 3 L 381,5 18,1 ml x x g / eg 1 ml 2

= V HCl

0,076 Eq/L

= 0,076 N

Untuk Sampel Natrium Karbonat ( NaHCO3) Mr = 84 = 2M = 2 x 6,15 ml = 12,3 ml V1 x N1 = V2 x N2

10 ml x N1 = 12,3 ml x 0,076 N N1 = 0,09348 eq/L

Teknik Kimia Politeknik Negeri Makassar 2011

Praktikum Asam Basa II

Alfian Seru
331 10 055 / I C
BM V

Gr = N x Bst atau N x

= 0,09348 eq/L x 84 gr/eq = 7,854232 Gr

Natrium bicarbonat (Na2CO3) Mr = 106 Vol = m 2M = 17,2 (2 x 6,15) ml = 4,9 ml V1 x N1 = V2 x N2 10 ml x N1 = 4,9 ml x 0,076 N N1 = 0,03724 N Gr = N x Bst atau N x = 0,03724 eq/L x = 1,9737 Gr IX. Pembahasan Standarisasi larutan HCl kami lakukan untuk mengetahui konsentrasi pasti dari larutan baku ini apakah betul-betul 0,1 N, akan tetapi yang kami dapatkan setelah titrasi ternyata konsentrasi HCl tersebut hanya 0,076 N Pada percobaan yang telah kami lakukan, terdapat perbedaan hasil dari percobaan pertama (simplo) dengan hasil percobaan kedua (duplo). Hal ini disebabkan oleh kurangnya ketelitian dalam melakukan percobaan/penitrasian, juga dapat disebabkan oleh letak buret yang tidak tegak lurus atau klem yang salah, kesalahan dalam membaca titk akhir atau titik nol titrasi.
BM V

106 gr / mol 2

Teknik Kimia Politeknik Negeri Makassar 2011

Praktikum Asam Basa II

Alfian Seru
331 10 055 / I C Pada titrasi dengan memakai PP kami mengambil keputusan untuk melakukan titrasi sampai hampir tak berwarna adalah untuk mengurangi kesalahan titrasi karena apabila terjadi kelebihan penitrasi maka hal ini tidak dapat kami ketahui karena pada saat terdapat kelebihan tidak berwarna. Penambahan air pada larutan sampel untuk titrasi pendahuluan tidak akan mempengaruhi keadaan sampel karena yang bereaksi dalam perhitungan titrasi adalah jumlah molnya, dan tidak dipengaruhi oleh zat pengencer. Reaksi yang terjadi antara larutan campuran dengan HCl jika dipisahkan seperti berikut : HCl baku dengan Boraks Na2B4O7 + 2 HCl + HCl + NaHCO3 2 HCl + Na2CO3 X. Kesimpulan Berdasarkan atas hasil percobaan, boraks dapat digunakan untuk standarisasi larutan baku HCl. Konsentrasi larutan baku dapat diketahui melalui titrasi. Pada jumlah volume penitrasi lebih banyak digunakan untuk bicarbonat (NaHCO 3) karena memiliki valensi 2 sedangkan untuk karbonat hanya bervalensi satu. XI. Daftar Pustaka Petunjuk Praktikum Titrasi Asam Basa I PEDC, Bandung 5 H2O 2 NaCl + 4 H3BO4 Titrasi HCl dengan Natrium Carbonat H2CO3 + NaCl H2CO3 + 2 NaCl Titrasi HCl dengan Natrium Carbonat

Teknik Kimia Politeknik Negeri Makassar 2011

Praktikum Asam Basa II

Alfian Seru
331 10 055 / I C Makassar, 22 april 2004 Praktikan

Yan Mailapa Lotong 03 33 049

Natrium bicarbonat (Na2CO3) Mr = 106 Vol = m 2M = 17,2 (2 x 6,15) ml = 4,9 ml V1 x N1 = V2 x N2 10 ml x N1 = 4,9 ml x 0,09348 N N1 = 0,046 N Gr = N x Bst atau N x = 0,046 eq/L x = 2,438 Gr XI. Pembahasan Standarisasi larutan HCl kami lakukan untuk mengetahui konsentrasi pasti dari larutan baku ini apakah betul-betul 0,1 N, akan tetapi yang kami dapatkan setelah titrasi ternyata konsentrasi HCl tersebut hanya 0,076 N Pada percobaan yang telah kami lakukan, terdapat perbedaan hasil dari percobaan pertama (simplo) dengan hasil percobaan kedua (duplo). Hal ini disebabkan oleh kurangnya ketelitian dalam melakukan percobaan/penitrasian, juga dapat
BM V

106 gr / mol 2

Teknik Kimia Politeknik Negeri Makassar 2011

Praktikum Asam Basa II

Alfian Seru
331 10 055 / I C disebabkan oleh letak buret yang tidak tegak lurus atau klem yang salah, kesalahan dalam membaca titk akhir atau titik nol titrasi. Pada titrasi dengan memakai PP kami mengambil keputusan untuk melakukan titrasi sampai hampir tak berwarna adalah untuk mengurangi kesalahan titrasi karena apabila terjadi kelebihan penitrasi maka hal ini tidak dapat kami ketahui karena pada saat terdapat kelebihan tidak berwarna. Penambahan air pada larutan sampel untuk titrasi pendahuluan tidak akan mempengaruhi keadaan sampel karena yang bereaksi dalam perhitungan titrasi adalah jumlah molnya, dan tidak dipengaruhi oleh zat pengencer.

Teknik Kimia Politeknik Negeri Makassar 2011