Anda di halaman 1dari 15

BAGIAN II DUA ASPEK BAHASA DAN DUA TIPE GANGGUAN AFASIA oleh Roman Jakobson I.

AFASIA SEBAGAI MASALAH LINGUISTIK

Afasia adalah gangguan bahasa. Istilah itu sendiri menunjukkan bahwa setiap deskripsi dan klasifikasi sindrom afasia harus dimulai dengan pertanyaan tentang aspek apa dalam bahasa yang terganggu berkaitan dengan berbagai spesies gangguan tersebut. Masalah ini, yang telah lama diteliti oleh Hughlings Jackson, tidak bisa diselesaikan tanpa partisipasi ahli bahasa profesional yang akrab dengan pola dan fungsi bahasa. Untuk mempelajari secara memadai setiap gangguan dalam komunikasi kita harus terlebih dahulu memahami sifat dan struktur modus komunikasi tertentu yang telah berhenti berfungsi. Linguistik berkaitan dengan bahasa dalam segala aspeknya - operasi bahasa, penyimpangan bahasa, bahasa di negara yang baru lahir, dan bahasa dalam proses kepunahan. Saat ini ada beberapa ahli psikopathologi memberikan perhatian yang serius terhadap masalah-masalah linguistik khususnya yang berkaitan dengan studi gangguan berbahasa, beberapa pertanyaan ini telah disinggung dalam risalah terbaik dan terbaru tentang afasia. Namun, dalam banyak kasus, desakan akan kontribusi para ahli bahasa untuk penyelidikan afasia masih diabaikan. Misalnya, sebuah buku baru yang sebagian besar berhubungan dengan masalah yang kompleks dan rumit afasia kekanakan, perlu koordinasi dengan berbagai disiplin ilmu dan perlu kerjasama dengan para otolaryngologist {ahli THT}, dokter anak, audiolog [ahli pendengaran, telinga], psikiater, dan pendidik, tetapi ilmu bahasa dilangkahi begitu saja, seolah-olah gangguan dalam persepsi ujaran tidak ada hubungannya dengan bahasa. Kelalaian ini lebih tercela lagi karena penulisnya adalah Direktur Klinik Pendengaran Anak dan Afasia di Northwestern University, yang terhitung di antara para ahli bahasa Werner F. Leopold sejauh ini adalah ahli terbaik Amerika dalam bidang bahasa anak. Para ahli bahasa juga bertanggung jawab atas keterlambatan dalam melakukan penyelidikan bersama tentang afasia. Tidak sebanding waktu pengamatan linguistik dari berbagai negara pada bayi yang telah dilakukan sehubungan dengan afasia. Juga belum pernah ada upaya untuk menafsirkan ulang, dan secara sistematis dari sudut pandang linguistik, aneka data klinis berkaitan dengan beragam jenis afasia. Hal ini sungguh mengejutkan mengingat fakta bahwa, di satu sisi, kemajuan menakjubkan linguistik struktural yang telah dikaruniai penyidik dengan alat dan metode yang efisien untuk studi regresi [kemunduran] verbal dan, di sisi lain, disintegrasi aphasik dari pola verbal dapat memberikan para linguis suatu wawasan baru ke dalam hukum-hukum umum bahasa. Penerapan kriteria murni linguistik dengan interpretasi dan klasifikasi fakta afasia secara substansial dapat berkontribusi pada ilmu bahasa dan gangguan bahasa, asalkan para linguis tetap hati-hati dan cermat ketika berhadapan dengan data psikologis dan neurologis sebagimana telah mereka kerjakan di bidang tradisional mereka. Pertamatama, mereka harus akrab dengan istilah-istilah teknis dan perangkat dari disiplin ilmu kedokteran yang berhubungan dengan afasia, kemudian mereka harus menyerahkan laporan klinis untuk kasus analisis linguistik secara menyeluruh, dan, lebih lanjut, mereka

sendiri harus bekerja dengan pasien afasia untuk mendekati kasus tersebut secara langsung dan tidak hanya lewat re-interpretasi terhadap catatan yang telah disiapkan, yang bisa saja telah dipahami dan diuraikan secara cukup berbeda. Ada satu level fenomena afasia dimana ada kesepakatan menakjubkan yang telah diterima selama dua puluh tahun terakhir antara psikiater dan ahli bahasa yang telah mengatasi masalah ini, yaitu disintegrasi pola suara. Kesepakatan (yang keliru?) ini terjadi dalam jangka waktu yang lama. Regresi afasia ini telah terbukti menjadi cermin kemahiran anak dalam berbicara, hal itu menunjukkan perkembangan anak secara terbalik. Selanjutnya, perbandingan bahasa anak dan afasia memungkinkan kita untuk membangun beberapa hukum implikasi. Penelitian ini berkaitan dengan pola kemahiran, dan kehilangan kemampuan, dan hukum-hukum umum implikasi, tidak terbatas pada pola fonem tapi harus diperluas juga untuk sistem gramatikal. Hanya sedikit percobaan tentatif telah dibuat ke arah ini, dan upaya ini layak untuk dilanjutkan. II KARAKTER GANDA BAHASA Ujaran menyiratkan pilihan entitas bahasa tertentu dan kombinasinya menjadi unitunit linguistik yang tingkat kompleksitasnya lebih tinggi. Pada tingkat leksikal ini tampak jelas: pembicara memilih kata dan menggabungkannya ke dalam kalimat menurut sistem sintaksis bahasa yang sedang dia gunakan, kalimat-kalimat yang pada gilirannya digabungkan menjadi ujaran. Pembicara tidak benar-benar menjadi agen bebas dalam pilihan kata-katanya; seleksinya (kecuali untuk kasus langka berkaitan dengan kata yang sebenarnya baru) harus diperoleh dari kamus yang sama antara dia dan pendengarnya. Insinyur komunikasi akan lebih tepat mendekati esensi ujaran ketika ia menganggap bahwa dalam pertukaran informasi yang optimal antara pembicara dan pendengar memiliki "filing kabinet prefabrikasi representasi yang kurang lebih sama: pembicara (pesan lisan) memilih salah satu dari "kemungkinan prasangka" dan penerima yang seharusnya membuat pilihan yang sama dari "kemungkinan yang sudah diramalkan dan disediakan". Dengan demikian efisiensi ujaran menuntut penggunaan kode umum oleh peserta. "Apakah kamu mengatakan pig (babi) atau fig (buah ara) kata Cat. "Aku bilang pig (babi)" jawab Alice." Dalam percakapan tersebut pendengar berupaya menangkap kembali pilihan linguistik yang dibuat oleh pembicara. Dalam kode umum dari Cat dan Alice, yaitu dalam bahasa Inggris lisan, ada perbedaan antara stop and continuant, hal yang lain dianggap sama, dapat mengubah makna pesan. Alice telah menggunakan ciri khas "stop and continuant", menolak kedua dan memilih yang pertama dari dua oposisi tersebut, dan dalam ujaran yang sama, dari cara bicaranya, dia meng kombinasikannya dengan fitur lainnya secara serentak, menggunakan penekanan pada / p / yang bertentangan dengan ketajaman dari / t / dan ke kelonggaran dari / b /. Jadi, semua atribut ini telah digabungkan menjadi ciri khas, yang disebut fonem. Fonem / p / kemudian diikuti oleh fonem / i / dan / g /, secara bersamaan menghasilkan kumpulan yang khas. Oleh karena itu, pertemuan entitas secara simultan dan gabungan dari entitas berturutturut adalah dua cara di mana kita, pembicara, menggabungkan unsur-unsur pokok linguistik. Baik bundle/kumpulan seperti /p/ dan /f/ atau urutan bundel seperti /pig (babi)/ atau /fig (ara)/ dibuat oleh pembicara yang menggunakannya. Baik ciri khas "stop and continuant" maupun fonem /p/ terjadi di luar konteks. Fitur berhenti muncul dalam

kombinasi berbarengan dengan fitur lainnya, dan perbendaharaan kombinasi fitur tersebut ke dalam fonem seperti / p /, / b /, / t /, / d /, /k/, / g /, dll dibatasi oleh kode bahasa tertentu. Kode menetapkan pembatasan kemungkinan kombinasi dari fonem / p / selanjutnya dan / atau fonem sebelumnya, dan hanya sebagian dari rangkaian fonem yang diperbolehkan benar-benar dapat dimanfaatkan dari dalam stok leksikal bahasa tertentu. Bahkan ketika kombinasi fonem lainnya secara teoritis mungkin, pembicara, menurut aturannya, hanyalah pengguna kata, bukan coiner/pencipta kata. Ketika berhadapan dengan kata-kata individual, kita mengharapkannya menjadi suatu unit kode. Dalam rangka untuk memahami nilon kata, seseorang harus tahu arti yang dimaksudkan untuk ini yang dapat dilafalkan dalam kode leksikal bahasa Inggris modern. Dalam bahasa apapun, ada juga diberi kode kelompok kata yang disebut frase-kata. Arti dari idiom, bagaimanapun Anda melakukannya, tidak dapat diturunkan dengan menambahkan bersama-sama makna unsur-unsur pokok leksikalnya, keseluruhan tidak sama dengan jumlah bagian-bagiannya. Kelompok kata-kata ini, yang dalam hal ini seperti satu kata tunggal, biasa ditemukan tapi tetap saja kasusnya sangat minim. Dalam rangka memahami kebanyakan kelompok kata, kita harus terbiasa dengan kata-kata dan kombinasi unsur-unsur pokok dalam aturan sintaksisnya. Dalam batasan-batasan ini kita bebas untuk mengatur kata-kata dalam konteks yang baru. Tentu saja, kebebasan ini relatif dan tekanan klise yang terjadi pada saat kita memilih kombinasinya cukup besar. Tapi kebebasan untuk mengubah konteks yang sama sekali baru tak dapat dipungkiri, meskipun secara statistik probabilitas terjadinya relatif rendah. Jadi, dalam mengkombinasikan unit linguistik ada skala tertentu untuk kebebasan melakukannya. Dalam kombinasi suatu fitur khas ke dalam fonem, tidak ada kebebasan individual pembicara, kode telah membentuk semua kemungkinan yang dapat digunakan dalam bahasa tertentu. Kebebasan untuk menggabungkan fonem ke kata-kata telah ditetapkan, hanya terbatas pada situasi penciptaan kata baru tertentu. Dalam pembentukan kalimat dari kata-kata, pembicara kurang dibatasi. Dan akhirnya, dalam kombinasi kalimat ke dalam ujaran, tindakan menurut aturan sintaksis wajib berhenti dan ada kebebasan individual setiap pembicara untuk menciptakan konteks baru meningkat secara substansial, meskipun mesti diingat bahwa berbagai ujaran stereotip tidak boleh diabaikan. Tanda-tanda linguistik melibatkan dua mode pengaturan. 1. Kombinasi. Tanda-tanda terdiri dari tanda-tanda konstituen dan / atau terjadi hanya dalam kombinasi dengan tanda-tanda lain. Hal ini berarti bahwa setiap satuan linguistik pada saat yang sama berfungsi sebagai konteks untuk unit sederhana dan / atau menemukan konteksnya di unit linguistik yang lebih kompleks. Oleh karena itu, setiap pengelompokan unit linguistik sebenarnya mengikat mereka ke dalam sebuah unit yang unggul: kombinasi dan komposisi adalah dua wajah dari operasi yang sama. 2. Seleksi. Sebuah pilihan di antara berbagai alternatif menyiratkan kemungkinan saling menggantikan satu sama lain, setara dengan yang pertama dalam satu hal dan berbeda dalam hal lainnya. Sebenarnya, seleksi dan substitusi adalah dua wajah dari operasi yang sama. Peran fundamental kedua operasi ini dalam bahasa jelas disadari oleh Ferdinand de Saussure. Namun, dari dua varietas kombinasi keselarasan dan penghubungan? (concurrence and concatenation) - hanya yang terakhir, menurut urutan waktu, yang diakui oleh ahli bahasa Jenewa. Meskipun dalam pengrtian tentang fonem sendiri sebagai

seperangkat fitur khas (unsur differentiels des fonem), cendekiawan mengalah dengan kepercayaan tradisional tentang karakter linear bahasa "qui exclut la Possibilite de deux prononcer elemen a lafois". Dalam rangka untuk membatasi dua model pengaturan yang telah kita gambarkan sebagai kombinasi dan seleksi, F. de Saussure menyatakan bahwa yang pertama "ada dalam presentia: didasarkan pada dua atau beberapa istilah yang bersama-sama hadir dalam seri sebenarnya, "sedangkan yang terakhir "menghubungkan istilah in absentia sebagai bagian dari serangkaian mnemonik virtual (ingatan tentang yang maya/samarsamar)". Artinya, seleksi (dan, sejalan dengan, substitusi) berhubungan dengan entitas turut serta dalam kode tetapi tidak dalam pesan yang diberikan , sedangkan, dalam kasus kombinasi, entitas disatukan dalam keduanya atau hanya dalam pesan sebenarnya. Penerima merasakan bahwa ujaran yang diberikan (pesan) adalah kombinasi dari bagianbagian penyusunnya (kalimat, kata-kata, fonem, dll) dipilih dari repository [tempat penyimpanan] kode dari semua bagian konstituen yang mungkin. Unsur pokok dari suatu konteks berada dalam status contiguity [kedekatan], sedangkan pada rangkaian substitusi tanda-tanda dihubungkan oleh berbagai tingkat kesamaan yang berfluktuasi antara ekuivalensi sinonim dan bagian dari antonym yang umum. Kedua operasi memberikan setiap tanda linguistik dengan dua rangkaian interpretants, untuk memanfaatkan konsep efektif yang diperkenalkan oleh Charles Sanders Peirce: ada dua referensi yang berfungsi untuk menafsirkan tanda satu: kode, dan kedua: konteks, baik terkode atau bebas, dan di setiap cara ini tanda berhubungan dengan satu set tanda-tanda linguistik, melalui pergantian dalam kasus pertama dan akhirnya melalui kesejajaran. Sebuah unit penunjuk yang diberikan dapat diganti dengan yang lain, tanda-tanda lebih eksplisit dari kode yang sama, dimana makna umumnya terungkap, sedangkan makna kontekstual yang ditentukan oleh hubungannya dengan tanda-tanda lain dalam urutan yang sama. Konstituen setiap pesan selalu dikaitkan dengan kode oleh hubungan internal maupun dengan pesan melalui relasi eksternal. Bahasa dalam berbagai aspek berkaitan dengan kedua model hubungan ini. Apakah pesan yang dipertukarkan atau komunikasi berlangsung secara sepihak dari pembicara ke pendengar, harus ada semacam kedekatan antara peserta setiap acara pidato untuk menjamin pengiriman pesan. Pemisahan dalam ruang, dan sering dalam waktu, antara dua individu, pembicara dan pendengar ini, dijembatani oleh hubungan internal: harus ada kesetaraan tertentu antara simbol yang digunakan oleh pembicara dan dapat dikenal dan ditafsirkan oleh pendengar. Tanpa kesetaraan seperti ini, pesan menjadi sia-sia - bahkan ketika pesan sampai kepada pendengar, itu tidak mempengaruhi dirinya. III GANGGUAN PERSAMAAN (SIMILARITY DISORDER) Jelas bahwa gangguan ujaran dapat mempengaruhi berbagai tingkatan kemampuan individu dengan kombinasi dan seleksi unit linguistik, dan memang masalah tentang yang mana dari kedua operasi ini terbukti lemah ternyata jauh signifikansinya dalam menjelaskan, menganalisis dan mengklasifikasikan beragam bentuk afasia. Dikotomi ini mungkin lebih sugestif daripada perbedaan klasik (tidak dibahas dalam makalah ini) antara afasia emisif dan afasia reseptif, yang menunjukkan dua fungsi dalam pertukaran

ujarannya, pengkodean atau pen-dekodean pesan verbal, sangat terpengaruh. Akhir dari usaha untuk mengklasifikasikan kasus afasia ke dalam kelompok tertentu, dan untuk masing-masing varietas ini ia menyebutkan "sebuah nama yang dipilih untuk menandakan cacat paling menonjol dalam pengelolaan dan pemahaman kata-kata dan frasa" (hal. 412). Oleh karena itu, kita membedakan dua tipe dasar afasia - tergantung pada apakah kekurangan utama terletak pada seleksi dan substitusi, dengan relatif stabilnya Kombinasi dan komposisi, atau sebaliknya, kekurangan dalam kombinasi dan komposisi dengan relatif stabil dan normalnya seleksi dan substitusi. Dalam menguraikan dua pola afasia yang berlawanan ini, saya akan menggunakan data-data utama Goldstein. Untuk afasia jenis pertama (defisiensi seleksi), konteksnya merupakan faktor yang sangat diperlukan dan menentukan. Ketika disajikan potongan-potongan kata atau kalimat, beberapa pasien tersebut dapat melengkapinya. Ujarannya hanyalah reaktif: ia dengan mudah masuk dalam percakapan, tetapi memiliki kesulitan untuk memulai dialog, ia mampu membalas pembicara nyata atau imajiner ketika dia, atau membayangkan diri untuk menjadi pendengar/penerima pesan. Hal ini sangat sulit bagi dia untuk melakukan, atau bahkan untuk memahami, suatu wacana tertutup seperti monolog. Semakin banyak ujaran-ujarannya tergantung pada konteks, akan lebih baik ketika ia berupaya menyelesaikan tugas lisannya. Dia merasa tidak mampu mengucapkan kalimat untuk merespon baik dengan isyarat dari lawan bicaranya juga dengan situasi aktual. Kalimat "Hujan!" tidak dapat diproduksi kecuali dia melihat bahwa itu benar-benar sementara hujan. Semakin suatu ujaran terkait dalam konteks verbal atau non - verbal, semakin tinggi kemungkinan kinerja sukses pasien dalam kelas ini. Demikian juga, semakin banyak kata tergantung pada kata-kata lain dari kalimat yang sama dan lebih mengacu pada konteks sintaksis, kurang dipengaruhi oleh gangguan bicara. Oleh karena itu, kata-kata sintaksis tergantung pada ketentuan gramatikal atau tatabahasa, sedangkan agen utama kalimat, yaitu subjek, cenderung dihilangkan. Untuk memulai ujaran adalah kendala utama bagi pasien, jelas bahwa ia akan gagal tepatnya di titik awal landasan sususan kalimat. Dalam jenis gangguan bahasa ini, kalimat dipahami sebagai sambungan panjang yang harus dipasok dari kalimat sebelumnya, jika tidak dibayangkan, oleh pasien afasia sendiri, atau diterima oleh dia dari mitra lain dalam percakapan tersebut, sebenarnya hanya khayalan saja. Kata kuncinya mungkin hilang atau digantikan oleh pengganti anaforis abstrak. Sebuah benda tertentu, menurut Freud, digantikan oleh sesuatu yang sangat umum, misalnya kata Machine (mesin), terpilih dalam ujaran afasia di Perancis. Sebagai contoh dalam dialek Jerman dari "amnesia afasia" yang diamati oleh Goldstein (hal. 246ff ), Ding thing (sesuatu)' atau Stiickle 'piece (potongan)' yang diganti untuk semua kata benda mati, dan uberfahren 'tampil' untuk kata kerja yang diidentifikasi dari konteks atau situasi dan karena itu muncul berlebihan kepada pasien. Kata-kata dengan referensi yang melekat pada konteksnya, seperti kata ganti dan kata keterangan pronominal, dan kata-kata yang diperlukan hanya untuk membangun konteks, seperti kata sambung dan kata bantu, sangat rentan untuk bertahan. Sebuah ujaran khas pasien Jerman, dicatat oleh Quensel, dan dikutip oleh Goldstein (hal. 302) akan berfungsi sebagai ilustrasi: "Ich bin doch hier unten, na wenn ich gewesen bin ich wees nicht, we das, nu wenn ich, ob das nun doch, noch, ja. Was Sie her, wenn ich, och ich weess nicht, we das hier war ja. ." ("Aku di sini, baik jika aku tidak aku Wees, bahwa kita, nu ketika saya memberitahu jika

sekarang, tetapi, tetap saja, ya. Apa kau di sini, jika aku, tapi aku tidak wee bahwa kami berada di sini, ya. .) Jadi hanya kerangka, link penghubung komunikasi, terhindar oleh jenis afasia pada tahap kritis. Dalam teori bahasa sejak awal Abad Pertengahan, ia telah berulang kali menegaskan bahwa kata yang keluar dari konteks tidak memiliki arti. Validitas dari pernyataan ini bagaimanapun, terbatas pada kasus afasia, atau lebih tepatnya satu jenis afasia. Pada kasus-kasus patologis dalam pembahasan suatu kata yang terisolasi berarti sebenarnya hanyalah "mengoceh". Ketika sejumlah tes telah diungkapkan dari pasien tersebut, dua penggunaan kata yang sama dalam dua konteks yang berbeda hanya homonim. Ketika kata-kata khas membawa sejumlah informasi yang lebih dari homonim, beberapa pasien afasia jenis ini cenderung untuk menggantikan varian kontekstual satu kata dengan istilah berbeda, masing-masing khusus untuk lingkungan tertentu. Jadi pasien Goldstein pernah mengucapkan kata pisau saja, tetapi menurut penggunaan dan lainnya, bergantian disebut pisau rautan pensil, pengupas apel, pisau roti, pisau - dan garfu (hlm. 62), sehingga kata pisau diubah dari bentuk bebas, yang mampu berdiri sendiri, menjadi bentuk terikat. "Saya memiliki sebuah apartemen yang baik, aula, kamar tidur, dapur", kata pasien Goldstein. "Ada juga apartemen-apartemen besar, hanya tinggal para bujangan di belakangnya. "Sebuah bentuk lebih eksplisit, kelompok kata orang yang belum menikah, bisa saja diganti dengan bujangan tetapi istilah unverbal (bukan kata kerja) ini dipilih oleh pembicara. Ketika berulang kali ditanya apa itu bujangan, pasien tidak menjawab dan "tampaknya bingung" (hal. 270). Sebuah jawaban seperti "bujangan adalah seorang pria belum menikah" atau "seorang pria yang belum menikah adalah bujangan" akan menyajikan predikasi equational (setara) dan dengan demikian proyeksi substitusi terbentuk oleh kode leksikal dari bahasa Inggris ke dalam konteks dari pesan yang diberikan. Istilah yang setara menjadi dua bagian kalimat yang berkorelasi dan akibatnya terikat oleh kedekatannya. Pasien dapat memilih istilah yang tepat bujangan ketika didukung oleh konteks percakapan tentang adanya "Apartemen bujang", tetapi tidak mampu memanfaatkan rangkaian substitusi bujangan = pria yang belum menikah sebagai topik kalimat, karena kemampuan untuk seleksi otonom dan substitusi telah dipengaruhi. Sia-sia jika dituntut adanya kalimat yang setara dari pasien yang memperolehnya informasi sendiri: "bujangan berarti seorang pria belum menikah" atau "seorang pria yang belum menikah disebut bujangan". Kesulitan yang sama muncul ketika pasien diminta untuk menyebut nama obyek yang ditunjuk atau dipegang oleh penguji. Afasia dengan cacat dalam substitusi tidak akan dapat melengkapi nama objek yang ditunjuk, dengan cara/sikap penguji yang menunjuk atau memegangi suatu obyek. Alih-alih mengatakan "ini pensil," ia hanya akan menambahkan catatan tentang penggunaannya: "Untuk menulis." Jika salah satu tanda searti hadir (seperti misalnya kata bujangan atau menunjuk ke pensil) maka tanda lain (seperti frase pria yang belum menikah atau kata pensil) menjadi berlebihan dan akibatnya berlebihan. Untuk pasien afasia, kedua tanda dalam distribusi komplementer: jika ada yang dilakukan oleh penguji, pasien akan menghindari sinonimnya: "Saya mengerti segala sesuatu" atau "Ich weiss es schon" akan menjadi reaksi khasnya. Demikian pula, gambaran/foto obyek akan menyebabkan penekanan namanya: tanda verbal digantikan oleh tanda bergambar. Ketika gambar kompas telah ditunjukkan kepada pasien Lotmar, ia menjawab: "Ya, itu ... Aku tahu pemiliknya, tapi aku tidak bisa mengingat istilah teknisnya ... Ya ... arah ... untuk menunjukkan arah ... magnet menunjuk ke utara." Pasien tersebut gagal bergeser, seperti dikatakan Peirce, dari indeks atau ikon

ke sebuah simbol verbal yang sesuai. Bahkan pengulangan sederhana dari sebuah kata yang diucapkan oleh penguji tampaknya bagi pasien tidak perlu berlebihan, dan meski ia tidak dapat mengulangi instruksi yang diterimanya. Ketika diminta untuk mengulang kata "tidak," pasien Head menjawab "Tidak, saya tidak tahu bagaimana melakukannya." Sementara secara spontan ia menggunakan kata tersebut dalam konteks jawabannya ("Tidak, aku tidak ..."), ia tidak bisa menghasilkan bentuk paling murni dari predikasi equational [setara], tautologi a = a : tidak adalah tidak . Salah satu kontribusi penting logika simbolik kepada ilmu bahasa adalah penekanan pada perbedaan antara obyek bahasa dan metalanguage1. Sebagaimana Carnap mengatakan, "dalam rangka untuk berbicara tentang obyek bahasa, kita membutuhkan sebuah metabahasa." Pada dua tingkat bahasa linguistic yang berbeda ini, stok/persediaan yang sama bisa digunakan, sehingga kita dapat berbicara dalam Bahasa Inggris (sebagai metabahasa) tentang Bahasa Inggris (sebagai objek bahasa), dan menafsirkan kata bahasa Inggris dan kalimat dengan menggunakan sinonim bahasa Inggris, perkataan panjang lebar, dan parafrase. Jelas, operasi seperti ini, berlabel metalinguistik oleh ahli logika, bukanlah penemuan mereka: jauh dari batas bidang ilmu pengetahuan, mereka terbukti menjadi bagian integral dari kebiasaan kegiatan linguistik. Para peserta dalam dialog sering memeriksa apakah keduanya menggunakan kode yang sama. "Apakah Anda mengikuti? Apakah Anda mengerti apa yang saya maksudkan?", Pembicara bertanya, atau pendengar sendiri berhenti sejenak dan bertanya "Apa maksudmu?" Lalu, dengan mengganti tanda yang dipertanyakan dengan tanda lain dari kode linguistik yang sama, dengan keseluruhan kelompok tanda-tanda code, pengirim pesan berusaha membuatnya lebih mudah diakses ke decoder [orang yang mempelajari arti sandi]. Penafsiran satu tanda linguistik melalui tanda yang lain, dalam beberapa tanda homogen sehubungan dengan bahasa yang sama, merupakan operasi metalinguistik yang juga memainkan peran penting dalam belajar bahasa anak. Observasi terbaru telah mengungkapkan tempat yang patut dipertimbangan dalam ujaran tentang bahasa berkaitan dengan perilaku verbal anak prasekolah. Bantuan metalanguage diperlukan baik untuk akuisisi bahasa dan untuk fungsi normalnya. Afasia merupakan cacat dalam "kapasitas penamaan" tepatnya adalah kehilangan metalanguage. Sebagai fakta, contoh predikasi equational (pernyataan yang setara) akan sia-sia dicari dari pasien sebagaimana telah dikutip di atas, adalah soal proposisi metalinguistik dalam bahasa Inggris. Secara eksplisit dapat dikatakan bahwa: "Dalam kode yang kita gunakan, nama objek yang ditunjukkan adalah pensil", atau setara dengan pensil". Dalam kode yang kita gunakan, kata bujangan dan dengan penjelasan yang berbelit-belit adalah pria yang belum menikah. Jadi pasien afasia tidak dapat beralih dari sebuah kata kepada sinonimnya dan penjelasannya yang panjang lebar, atau beralih ke heteronim-nya, yaitu ekspresi yang setara/searti dengan kata lainnya. Kehilangan kemampuan polyglot (mengetahui, menggunakan dan menulis dalam banyak bahasa) dan keterbatasan pada satu dari berbagai dialek dalam satu bahasa merupakan manifestasi gejala dari gangguan ini. Ada prasangka yang sudah lama dan berulang-ulang, bahwa cara tunggal individu berbicara pada waktu tertentu, idiolek yang sudah melekat, telah dilihat sebagai satusatunya realitas linguistik. Dalam pembahasan konsep ini, keberatan berikut muncul:
Bahasa yang digunakan untuk menerangkan bidang studi tertentu, misalnya istilah kimia, rekasyasa, dan hukum. Bahasa yang digunakan untuk menjelaskan bahasa tertentu sebagai obyek.
1

Setiap orang, ketika berbicara dengan orang baru, berusaha dengan sengaja atau tanpa sengaja, untuk mendapat suatu kosa kata umum: baik untuk menyenangkan atau hanya untuk dipahami atau akhirnya membawa dia keluar, dia menggunakan istilah yang dimengerti pendengar/penerimanya. Tidak ada sesuatupun yang menjadi milik pribadi dalam bahasa: semuanya disosialisasikan. Pertukaran verbal, seperti apapun bentuk hubungan interaksinya, memerlukan setidaknya dua komunikator, dan idiolek ternyata cukup bertentangan dengan fiksi. Namun pernyataan ini membutuhkan satu reservasi [tempat khusus]: untuk pasien afasia yang telah kehilangan kapasitas peralihan kode, "idiolek"-nya menjadi kenyataan linguistik yang tunggal. Selama dia tidak menganggap ujaran lain sebagai pesan yang ditujukan kepadanya dalam pola lisan sendiri, ia merasa, sebagaimana pasien Hemphil dan Stengel mengungkapkannya, bahwa: "Aku bisa mendengar anda dengan jelas tapi aku tidak bisa mengerti apa yang Anda katakan .. . aku mendengar suara Anda, tetapi bukan kata-kata anda ... itu tidak terucap dengan sendirinya." Dia menganggap ujaran lain menjadi sepert omong kosong atau setidaknya dalam bahasa yang tidak dikenal. Seperti disebutkan di atas, hubungan eksternal kedekatan (contiguity) yang menyatukan unsur-unsur konteksnya, dan hubungan internal kesamaan (similarity) yang mendasari sejumlah substitusi. Oleh karena itu untuk pasien aphasia dengan gangguan substitusi dan relatif normal dalam sturktur operasinya melibatkan gangguan kesamaan (similarity) pendekatan, operasi pada mereka berdasarkan kedekatan (contiguity). Dapat diprediksi bahwa dalam kondisi ini setiap pengelompokan semantik akan dilakukan berdasarkan kedekatan ruang atau waktu, bukan oleh kesamaan. "Sebenarnya tes Goldstein membenarkan harapan seperti: seorang pasien wanita tipe ini, ketika diminta untuk membuat daftar beberapa nama binatang menurut urutan yang sama ketika ia melihatnya di kebun binatang, akan sama pula, walaupun akan ada instruksi untuk mengatur benda-benda tertentu menurut warna, ukuran dan bentuk, ia mengklasifikasikannya atas dasar kedekatan spasial seperti perabot rumah, peralatan kantor, dll dan pengelompokan ini dibenarkan oleh referensi di mana "bukan soal seperti apa benda itu adanya," yaitu mereka tidak harus sama (hlm. 61F., 263ff.). Pasien yang sama bersedia untuk memberi nama warna primer - merah, biru, hijau, dan kuning namun menolak untuk memperpanjang nama-nama untuk varietas transisi (hal. 268f.), karena, baginya, kata-kata tidak memiliki kapasitas untuk mengasumsikan penambahan, pergeseran makna terkait oleh kesamaan dengan makna utamanya. Seseorang harus setuju dengan pengamatan Goldstiein bahwa pasien jenis ini "memahami kata dalam arti harfiahnya, tapi mereka tidak bisa diarahkan untuk memahami karakter metaforis dari kata yang sama" (hlm. 270). Hal ini, bagaimanapun, akan menjadi generalisasi yang beralasan untuk mengasumsikan bahwa ujaran penuh kiasan sama sekali tidak dimengerti oleh mereka. Dari dua bentuk ujaran, metafora dan metonimi, yang terakhir (metonimi), berdasarkan kedekatan (contiguity), secara luas digunakan oleh pasien afasia yang kapasitas selektif-nya telah terganggu. Garfu digantikan pisau, meja untuk lampu, asap untuk pipa, makan untuk pemanggang roti. Sebuah kasus yang khas dilaporkan oleh Head: Ketika ia gagal untuk mengingat nama untuk "hitam", ia menggambarkannya sebagai "Apa yang Anda lakukan untuk orang mati"; ini disingkatnya menjadi "mati " (I, hal 198.). Sebagian metonimi tersebut dapat dicirikan sebagai proyeksi dari garis konteks kebiasaan ke garis substitusi dan seleksi: tanda (misalnya garpu) yang biasanya terjadi

bersamaan dengan tanda lain (misalnya pisau) dapat digunakan sebagai pengganti tanda ini. Kata-kata seperti "pisau dan garpu", "lampu meja", " merokok sebuah cerutu", diinduksi dalam metonimi sebagai garfu, meja, asap, hubungan antara penggunaan obyek (roti panggang) dan sarana mendasari produksi metonymi makan untuk pemanggang roti." Kapan seseorang memakai warna hitam?" - "Ketika berkabung untuk orang mati": di tempat penamaan warna, penyebab pemanfaatan tradisional yang ditunjuk. Menghindar dari kesamaan ke kedekatan utama yang mencolok dalam kasus seperti pasien Goldstein yang akan menjawab dengan metonimi ketika diminta untuk mengulangi kata yang diberikan dan, misalnya, akan mengatakan kaca untuk jendela dan surga bagi Tuhan (hal. 280). Ketika kapasitas selektif sangat terganggu dan kemampuan untuk kombinasi setidaknya sebagiannya masih ada, maka faktor kedekatan menentukan keseluruhan kemampuan verbal pasien, dan kita dapat menunjukkan bahwa tipe aphasia ini sama dengan gangguan kesamaan. IV GANGGUAN KEDEKATAN (CONTIGUITY DISORDER) Sejak tahun 1864 dan berulang kali ditunjukkan dalam kontribusi Hughlings Jackson kepada studi bahasa modern dan gangguan bahasa: (Tidak cukup untuk mengatakan bahwa ujaran terdiri dari kata-kata. Ujaran terdiri dari kata-kata yang saling merujuk satu sama lain dengan cara tertentu. Dan, tanpa keterkaitan yang tepat dari bagian-bagiannya, ujaran lisan akan menjadi rangkaian nama yang tidak membentuk sebuah proposisi (p. 66). [Kegagalan dalam ujaran adalah hilangnya kekuatan untuk membuat proposisi . . . Speechlessness/tidak berbicara apa-apa, tidak berarti sepenuhnya sama dengan wordlessness/kekurangan kata-kata (hal. 114). Kehilangann kemampuan untuk membuat proposisi, atau secara umum, untuk menggabungkan entitas linguistik sederhana menjadi unit-unit yang lebih kompleks, sebenarnya merupakan satu jenis afasia, kebalikan dari jenis afasia yang dibahas dalam bab sebelumnya. Tidak ada wordlessness/kekurangan kata-kata, karena entitas diungkapkan dalam sebagian besar kasus tersebut adalah kata, dapat didefinisikan sebagai yang tertinggi diantara unit linguistik yang wajib dikodekan, yaitu, kita menulis kalimat kita sendiri dan ujaran-ujaran dari perbendaharaan kata yang disediakan oleh kode. Afasia dengan kekurangan komposisi ini, yang dapat disebut gangguan kedekatan (contiguity disorder), mengurangi tingkatan dan jenis kalimat. Aturan sintaksis untuk mengorganisir kata menjadi sebuah unit yang lebih tinggi hilang, kehilangan kemampuan ini, yang disebut sebuah grammatisme, menyebabkan degenerasi kalimat menjadi sekadar "tumpukan kata-kata" menurut gambaran Jackson. Susunan kata-kata menjadi kacau. Kesatuan koordinasi dan subordinasi gramatikal, yakni persesuaian atau tata bahasanya, menjadi bercampur baur. Sudah bisa diduga, kata yang diwariskan dengan fungsi gramatikal murni, seperti konjungsi, preposisi, kata ganti, dan artikel hilang, sehingga menimbulkan apa yang disebut "gaya telegraf", sedangkan dalam kasus gangguan kesamaan (similarity disorder), hal-hal tersebut paling resisten. Semakin sedikit kata tergantung secara gramatikal pada konteksnya, akan semakin kuat ada pada kegigihannnya dalam ujaran pasien afasia dengan gangguan kedekatan (contiguity

disorder) dan lebih cepat dimasukkan oleh pasien dengan gangguan persamaan (similarity disorder). Dengan demikian "inti kata subyek" adalah yang pertama rontok dari kalimat dalam kasus gangguan persamaan (similarity disorder) dan, sebaliknya, hal itulah yang paling sedikit yang dapat dirusakkan dalam jenis afasia yang lainnya (contiguity disorder). Pasien afasia cenderung merusak komposisi ujaran-ujaran dengan satu kalimat dan kalimat-kalimat dengan satu kata pada anak-anak. Ada stereotip bahwa hanya kalimatkalimat yang "siap pakai" tetap bertahan/berlaku. Dalam kasus-kasus lanjutan tentang penyakit ini, setiap ujaran direduksi menjadi kalimat dengan satu kata. Sementara komposisi kalimatnya tidak beraturan, operasi selektif berlangsung. Menurut Jackson "Untuk mengatakan apa itu sesuatu, berarti mengatakan sesuatu itu seperti apa," (hlm. 125). Pasien dengan keterbatasan pada rangkaian substitusi (kadang kekurangan pada komposisi) memahami dengan persamaan-persamaan, dan perkiraan identifikasinya pada dasarnya bersifat metaforis, bertentangan dengan yang metonimis yang familiar dengan afasia jenis lainnya. Teropong untuk mikroskop, atau kebakaran untuk lampu gas adalah contoh khas dari ekspresi quasimetaphoric tersebut, seperti dikatakan Jackson, karena, hal itu bertentangan dengan retorika atau metafora puitis, mereka hadir tanpa makna yang jelas. Dalam pola bahasa yang normal, kata pada saat yang sama menjadi bagian konstituen/unsur kalimat, dan kata itu sendiri terdiri dari konstituen/unsur yang lebih kecil, morfem (unit minimum yang mengandung arti) dan fonem. Kita telah membahas efek gangguan kedekatan (contiguity disorder) pada kombinasi kata menjadi satuan yang lebih tinggi. Hubungan antara kata dan konstituennya mencerminkan penurunan yang sama, namun dengan cara yang agak berbeda. Salah satu ciri khas grammatism adalah penghapusan infleksi (perubahan nada/suara=tekanan): muncul kategori yang tidak ditandai sebagai infinitive (tidak terbatas) di tempat bentuk verbal terbatas, dan dalam bahasa dengan penafsiran, bahwa nominative sebagai ganti dalam semua kasus tersebut. Cacat ini sebagiannya berkaitan dengan eliminasi tata bahasa dan persesuaian (government and concord), antara lain dengan hilangnya kemampuan untuk menjabarkan kata-kata ke dalam akar katanya dan desinence-nya. Akhirnya, sebuah paradigma (khususnya sebagai satu rangkaian kasus gramatikal seperti dia - miliknya dia (sebagai obyek), maupun dalam tenses seperti dia memilih - ia telah memilih) menyajikan konten semantik yang sama dari sudut pandang yang berbeda namun terkait satu sama lain berdasarkan kedekatannya, sehingga ada lebih dari satu dorongan bagi pasien afasia dengan gangguan kedekatan untuk mengabaikan rangkaian tersebut. Juga, biasanya, kata-kata yang berasal dari akar yang sama, seperti grant/hibah grantor/pemberi hibah grantee/penerima hibah, berhubungan secara semantis berdasarkan kedekatan. Para pasien yang didiskusikan di bawah ini, condong untuk tidak mengenal kata-kata turunan, atau kombinasi dari akar dengan akhiran derivatif bahkan gabungan dari dua kata menjadi tidak terpecahkan bagi mereka. Pasien yang memahami dan menyebut frase, seperti Thanksgiving atau Battersea, tetapi tidak dapat memahami atau untuk mengatakan thanks/terima kasih dan giving/pemberian atau batter/adonan dan sea/laut, sering dikutip. Selama pengertian derivasi masih ada, sehingga proses ini masih digunakan untuk menciptakan inovasi dalam kode, dapat diamati kecenderungan penyederhanaan dan otomatisme: jika kata derivatif merupakan unit semantik yang tidak dapat sepenuhnya disimpulkan dari makna komponennya, kata Gestalt salah dimengerti. Dengan demikian kata Rusia mokr - ica berarti 'kutu-kayu', tapi seorang pasien afasia Rusia menafsirkannya sebagai 'sesuatu yang lembab', terutama 'cuaca

lembab', karena akar kata - mokr berarti 'lembab' dan akhiran - ica menunjuk pembawa/anggkutan properti yang diberikan, seperti dalam 'sesuatu yang tidak masuk akal/absurd', svetlica 'ruang cahaya' nelepica, temnica 'penjara' (harfiah 'ruang gelap'). Sebelum perang dunia II, fonemik merupakan bagian yang paling kontroversial dalam ilmu bahasa, keraguan itu diungkapkan oleh beberapa ahli bahasa mengenai apakah fonem benar-benar memainkan peranan otonom dalam perilaku verbal kita. Disarankan agar unit kode linguistic yang bermakna (penunjuk), seperti morfem maupun kata-kata siap pakai, adalah entitas minim yang kita sepakati dalam ujaran, hanya unit khas, seperti fonem, merupakan bangunan artifisial untuk membantu penjelasan ilmiah dan analisis bahasa. Pandangan ini, yang diberi stigma oleh Sapir sebagai "pembalikan realitas", bagaimanapun, tetap seutuhnya diperlukan sehubungan dengan jenis patologis tertentu: dalam salah satu varietas afasia yang kadang-kadang diberi label ''ataktik', kata merupakan kesatuan bahasa utuh. Pasien hanya memiliki gambaran yang utuh dan tak terpisahkan dari setiap kata yang familiar dan semua rangkaian bunyi - baik yang asing dan aneh bagi mereka atau dia menggabungkannya ke dalam kata-kata yang familiar dengan mengabaikan penyimpangan fonetiknya. Salah satu pasien Goldstein "telah mengenal beberapa kata, tapi ... vokal dan konsonan yang membentuknya tidak dapat dikenal" (hal. 218). Seorang pasien afasia Perancis mengenali, memahami, mengulang, dan secara spontan menyebut kata kafe 'kopi' atau aspal 'jalan beraspal, namun tidak mampu memahami, membedakan, atau mengulang urutan logis kata-kata seperti FECA, fake, Kefa, pafe. Tak satu pun dari kesulitan ini yang ada pada pendengar berbahasa Perancis yang normal selama rangkaian-bunyi/suara dan komponennya sesuai dengan pola fonem Perancis. Pendengar yang sama dapat menangkap urutan ini sebagai kata-kata asing baginya tapi secara masuk akal sebagai bagian kosakata Perancis dan berasumsi mungkin berbeda dalam arti, karena mereka berbeda satu sama lain baik dalam urutan fonemnya atau di dalam fonem-fonem itu sendiri. Jika pasien afasia mampu memecahkan kata kedalam konstituen fonemiknya, kontrolnya atas konstruksi melemah, serta kerusakan dalam kemampuan menangkap fonem dan dengan mudah mengikuti kombinasinya. Regresi pola suara secara bertahap pada pasien afasia secara teratur membalikkan kemahiran urutan fonemis pada anakanak. Regresi ini anak melibatkan inflasi homonim serta pengurangan kosakata. Jika dua kelumpuhan ini terus berlanjut (fonemis dan leksikal), sisa terakhir dari ujaran dengan satu fonem - satu kata - ujaran-ujaran satu kalimat: pasien kembali ke tahap awal perkembangan linguistik bayi atau bahkan tahap pra- lingual: dia menghadapi afasia universalis, kehilangan total kemampuan untuk menggunakan atau menangkap ujaran. Keterpisahan dari dua fungsi distingtif/membedakan dan signifikatif/menyamakan/membandingkan - adalah fitur khas bahasa dibandingkan dengan sistem semiotik lainnya. Timbul konflik antara kedua tingkatan bahasa, ketika pasien afasia lemah dalam komposisi menunjukkan kecenderungan untuk menghapuskan hirarki unit linguistik dan mengurangi skalanya ke bentuk singular. Tingkat terakhir yang tersisa bisa berupa satu tingkatan signifikatif nilai, yakni kata, seperti telah disinggung dalam kasus di atas, atau tingkat distingtif nilai, yaitu fonem. Dalam kasus terakhir pasien masih mampu mengidentifikasi, membedakan dan mereproduksi fonem, tetapi kehilangan kapasitas untuk melakukan hal yang sama dengan kata. Dalam kasus skala menengah, kata dapat diidentifikasi, dibedakan dan direproduksi, menurut rumusan

Goldstein, mereka "mungkin mengenal tetapi tidak mengerti/memahami" (hlm. 90). Di sini, kata kehilangan fungsi normal sebagai penunjuk (signifikatif), dan mengasumsikan fungsi distingtif/pembedaan khas yang biasanya berkaitan dengan fonem.

V POLA-POLA METAFORA DAN METONIMI Ada banyak dan beragam varietas afasia, tetapi semuanya berkisar antara dua jenis pola yang telah dijelaskan. Setiap bentuk gangguan afasia terdiri dalam beberapa gangguan, lebih atau kurang parah, baik tingkat fakultas untuk seleksi dan substitusi atau kombinasi dan komposisi. Penderitaan pada yang pertama melibatkan kelemahan operasi metalinguistik, sedangkan yang kedua kerusakan kemampuan untuk menjaga hirarki unit linguistik. Hubungan persamaan (similarity) tertekan/hilang pada tipe yang pertama, sedangkan relasi kedekatan (contiguity) pada tipe terakhir dari afasia. Metafora asing bagi pasien dengan gangguan persamaan (similarity disorder), serta metonimi asing bagi pasien gangguan kedekatan (contiguity disorder). Perkembangan wacana mungkin terjadi di sepanjang dua baris semantik yang berbeda: satu topik dapat menghubungkan ke yang lainnya baik melalui persamaannya (similarity) atau melalui kedekatannya (contiguity). Cara metaforis merupakan istilah yang paling tepat untuk kasus pertama (similarity disorder) dan cara metonimis lebih tepat untuk yang kedua (contiguity disorder), karena pasien kedua tipe afasia ini menemukan ekspresi yang paling kental dalam metafora, dan metonimi. Dalam afasia salah satu dari dua proses dibatasi atau benar-benar diblokir - efek yang membuat studi afasia sangat mencerahkan bagi ahli linguistik. Dalam perilaku verbal yang normal, kedua proses terus-menerus beroperasi, namun observasi yang cermat akan mengungkapkan bahwa di bawah pengaruh pola budaya, kepribadian, dan gaya verbal, preferensi diberikan ke salah satu dari dua proses itu di atas yang lainnya. Dalam tes psikologi terkenal, anak-anak dihadapkan dengan beberapa kata benda, dan disuruh mengucapkan respon verbal pertama yang masuk ke kepala mereka. Dalam penelitian, dua kegemaran/kecenderungan linguistik yang berlawanan ini selalu ditonjolkan: respon dimaksudkan baik sebagai pengganti/subsitusi, atau sebagai pelengkap dari stimulus. Dalam kasus terakhir stimulus dan respon bersama-sama membentuk konstruksi sintaksis yang tepat, sebagian besar biasanya kalimat. Kedua jenis reaksi ini telah diberi label substitusi dan predikatif . Terhadap stimulus pondok, respon seseorang adalah bakar, yang lainnya, adalah sebuah rumah kecil yang miskin. Kedua reaksi tersebut bersifat predikatif, tetapi yang pertama menciptakan konteks narasi murni, sementara pada yang kedua ada hubungan ganda dengan subjek pondok: di satu sisi, sebuah posisi (yaitu, sintaksis) kedekatan, dan di sisi lain kesamaan semantik. Stimulus yang sama menghasilkan reaksi substitutive berikut: menurut tautologi, pondok ber-sinonim dengan kabin, dan gubuk, ber-antonim dengan istana, serta metaforanya adalah sarang dan liang. Kapasitas dari dua kata untuk menggantikan satu dengan yang lain adalah turunan dari kesamaan posisi, dan, di samping itu, semua tanggapan ini terkait dengan stimulus oleh kesamaan semantik (atau kontras). Tanggapan

Metonimis terhadap stimulus yang sama, seperti jerami, sampah, maupun kemiskinan, menggabungkan dan mengkontraskan kesamaan posisi dengan kedekatan semantik. Dalam memanipulasi kedua jenis koneksi (persamaan dan kedekatan) di kedua aspeknya (posisi dan semantik) - memilih, menggabungkan, serta membuat peringkatnya - seorang individu menunjukkan gaya pribadinya, kegemaran verbal, dan preferensinya. Dalam seni verbal interaksi dari dua elemen terutama diucapkan. Bahan yang kaya untuk studi hubungan ini dapat ditemukan dalam pola ayat yang membutuhkan paralelisme wajib antara garis yang berdekatan, misalnya dalam puisi Alkitab atau dalam Finnic Barat dan, sampai batas tertentu, tradisi lisan Rusia. Ini memberikan kriteria obyektif tentang apa yang dalam komunitas percakaapan/pidato yang bertindak sebagai korespondensi. Pada setiap tingkat verbal - morfemis, leksikal, sintaksis, serta yang berhubung dengan penyusunan kata (phraseological) - salah satu dari dua relasi (persamaan dan kedekatan (similarity and contiguity)) dapat muncul tersendiri, dan dalam salah satu dari dua aspek, berbagai kesan konfiguratif mungkin dapat dibuat. Salah satu dari dua pola tarik-menarik ini mungkin berlaku. Dalam lirik lagu Rusia, misalnya, konstruksi metaforis mendominasi, sementara dalam epos heroik cara metonimis lebih besar. Dalam puisi ada berbagai motif yang menentukan pilihan antara varian linguistik ini. Keunggulan proses metaforis di sekolah sastra romantisme dan simbolisme telah berulang kali diakui, tetapi masih kurang disadari bahwa dominasi metonimi yang mendasari serta benar-benar lebih menentukan sesuatu yang disebut tren "realistis", yang termasuk sebuah tahap perantara antara kemunduran romantisme dan kebangkitan simbolisme dan bertentangan dengan keduanya. Mengikuti jalan hubungan kedekatan, penulis realistis secara metonimis menyimpangan dari plot ke atmosfer dan dari karakterkharakter ke seting ruang dan waktu. Dia menyukai detail-detail synecdochic. Dalam skenario bunuh diri Anna Karenina, perhatian artistik Tolstoj difokuskan pada tas tangan pahlawan itu, dan dalam sinekdot Perang dan Perdamaian "rambut di bibir atas" atau "bahu telanjang" digunakan oleh penulis yang sama untuk membentuk karakter perempuan pemiliknya. Keunggulan alternative yang satu atau yang lainnya dari dua proses ini tidak berarti terbatas pada seni verbal. Osilasi yang sama terjadi pada sistem-sistem tanda lain selain bahasa. Sebuah contoh yang menonjol dari sejarah lukisan adalah orientasi metonimis nyata dari kubisme, di mana objek tersebut berubah menjadi satu rangkaian sinekdot, pelukis surealis menanggapi dengan sikap metaforis secara terang-terangan. Sejak ada produksi seni bioskop dari DW Griffith, dengan kapasitas yang sangat dikembangkan untuk mengubah sudut, perspektif dan fokus "shot"-(ingan), telah memutuskan hubungan dengan tradisi yang berkisar pada teater dan berbagai hal yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam synecdochic "close-ups" dan "set-ups" metonimis pada umumnya. Dalam gambar seperti Charlie Chaplin, perangkat ini pada gilirannya digantikan oleh sebuah novel, metaforik "montase" dengan "bagian yang tak terpecahkan"-nya perumpamaan filmis. Struktur bahasa yang Bipolar (atau sistem semiotik lainnya), dan, dalam afasia, patokan pada salah satu pola ini dengan mengesampingkan yang lain memerlukan studi banding sistematis. Retensi salah satu dari alternative-alternatif dalam dua jenis afasia tersebut harus dilawan dengan keunggulan pola yang sama dalam gaya tertentu, kebiasaan pribadi, mode saat ini, dll. Analisis dan perbandingan yang cermat terhadap fenomena ini dengan seluruh sindrom yang berhubungan dengan jenis afasia merupakan tugas penting bagi penelitian bersama oleh para ahli psikopatologi, psikologi, linguistik,

puisi, dan semiotik, pengetahuan umum tentang tanda-tanda. Dikotomi yang dibicarakan di sini tampaknya sebagai signifikansi dan konsekuensi terpenting bagi semua perilaku verbal dan perilaku manusia pada umumnya. Untuk menunjukkan kemungkinan proyek penelitian komparatif, kita memilih sebuah contoh dari cerita rakyat Rusia yang menggunakan paralelisme sebagai perangkat komik: "Thomas bujangan, Yeremia belum menikah" (Fomd xolost, Erjoma nezendt). Disini predikat dalam dua klausa sejajar berhubungan oleh kesamaan (similarity): mereka sebenarnya identik/sinonims. Subyek dari kedua klausa tersebut adalah maskulin dan karenanya secara morfologi serupa, sementara di sisi lain mereka menunjukkan dua pahlawan yang setara/berdekatan dalam kisah yang sama, diciptakan untuk melakukan tindakan yang sama dan dengan demikian membenarkan penggunaan pasangan sinonim dari predikat. Sebuah versi yang agak dimodifikasi dengan konstruksi yang sama terdapat dalam sebuah lagu pernikahan yang cukup familiar dimana setiap tamu pernikahan ini dialamatkan dengan memutarbalikan nama pertamanya dengan patronimiknya (nama yang hampir sama dengan nama ayahnya): "Gleb seorang bujangan, Ivanovid belum menikah." Sementara kedua predikat di sini sinonim, hubungan antara dua subyek berubah: sebenarnya keduanya nama tersebut menunjukkan orang yang sama dan biasanya digunakan bersamaan dengan modus/alasan sopan santun dalam penulisan alamat. Bertolak dari cerita rakyat tersebut, kedua klausa sejajar mengacu pada dua fakta yang terpisah, status perkawinan Tomas dan status serupa pada Yeremia. Dalam versi lagu pernikahan tersebut, bagaimanapun, kedua klausa tersebut adalah sama/sinonim: keduanya secara berlebihan mengulangi tentang status selibat (tidak kawin) dari pahlawan yang sama, memisahkannya menjadi dua hipotesa verbal. Novelis Rusia Gleb Ivanovic Uspenskij (1840-1902) di tahun-tahun terakhir hidupnya menderita penyakit mental, termasuk gangguan bicara. Nama pertama dan patronimiknya, Gleb Ivanovic, secara tradisional dikombinasikan dalam hubungan dengan interaksi yang sopan/santun, baginya dengan membagi menjadi dua nama yang berbeda menunjuk dua makhluk/ada yang terpisah: Gleb dianugerahi dengan semua kebajikan, sementara Ivanovic, nama yang berkaitan anak dari seorang ayah, menjadi inkarnasi semua keburukan Uspenskij itu. Aspek linguistik dari perpecahan kepribadian ini adalah ketidakmampuan pasien menggunakan dua simbol untuk hal yang sama, dan dengan demikian sebenarnya gangguan persamaan (similarity disorder). Karena gangguan kesamaan (similarity disorder) berkaitan dengan kecenderungan metonimik, maka pemeriksaan terhadap cara sastra Uspenskij telah menempatkannya sebagai penulis muda dengan minat khusus. Dan studi Anatolij Kamegulov, yang menganalisis gaya Uspenskij itu, memunculkan ekspektasi teoritis kami. Dia menunjukkan bahwa Uspenskij memiliki kecenderungan tertentu untuk metonimi, dan terutama untuk synecdoche, dan ia membuatnya secara berlebihan bahwa "pembaca dikacaukan oleh banyaknya detail yang diturunkan pada dirinya dalam ruang lisan yang terbatas, dan secara fisik tidak dapat memahami secara utuh, sehingga potret sebenarnya sering hilang." Yang pasti, gaya metonimik Uspenskij jelas didorong oleh kanon sastra yang berlaku pada zamannya, "realisme" abad kesembilan belas, tetapi predikat personal Gleb Ivanovic membuat penanya sangat cocok untuk tren artistik dalam manifestasi ekstrim ini dan akhirnya meninggalkan jejak pada aspek verbal penyakit mentalnya. Pertentangan antara kedua hal ini, metonimi dan metafora, terwujud dalam setiap proses simbolik, baik intrapersonal juga sosial. Jadi dalam penyelidikan tentang struktur mimpi, pertanyaan yang menentukan adalah apakah lambang dan rangkaian waktu yang

digunakan berdasarkan pada kedekatan ("perpindahan" metonimis dan "kondensasi" synecdochic punya Freud) atau pada kesamaan ("identifikasi dan simbolisme" Freud). Prinsip-prinsip yang mendasari ritual magic telah dipecahkan oleh Frazer menjadi dua jenis: keluwesan berdasarkan pada hukum kesamaan (similarity) dan yang diasosiasi berdasarkan kedekatan (contiguity). Yang pertama dari dua cabang besar sihir simpatik ini telah disebut "homeopati" atau "imitasi/tiruan", serta yang kedua disebut "sihir menular/contagious magic". Bipartisi ini jelas. Namun, pada bagian terbesar, pertanyaan dari dua pola ini masih terabaikan, meskipun ruang lingkup yang luas dan penting untuk studi perilaku simbolis, terutama verbal dan gangguan-gangguannya. Apa alasan utama untuk pengabaian ini ? Kesamaan makna menghubungkan simbol dari metalanguage dengan simbol yang dimaksudkan bahasa tertentu. Kesamaan menghubungkan istilah metafora dengan istilah untuk yang digantikannya. Akibatnya, ketika membangun metalanguage untuk menafsirkan gaya bahasa, peneliti memiliki sarana lebih homogen untuk menangani metafora, sedangkan metonimi, berdasarkan prinsip yang berbeda, dengan mudah menentang interpretasi. Karena itu tidak ada yang sebanding dengan kekayaan literatur dengan metafora yang dapat dikutip bagi teori metonimi. Karena alasan yang sama, umumnya sadar bahwa romantisisme terkait erat dengan metafora, sedangkan hubungan erat yang sama antara realisme dengan metonimi biasanya tetap diperhatikan. Tidak hanya sarananya pengamat tapi juga obyek pengamatan bertanggungjawab atas dominasi metafora atas metonimi dalam lembaga pendidikan. Karena puisi difokuskan pada tanda, dan prosa pragmatis terutama fokus pada yang ditandai/rujukan (referent), gaya bahasa (tropes) dan tokoh (figure) dipelajari terutama sebagai bagian perangkat puitis. Prinsip kesamaan mendasari puisi, paralelisme simetris atau kesetaraan bunyi kata berima mendorong pertanyaan akan kesamaan dan pertentangan semantik, ada, misalnya, tata bahasa dan anti - gramatikal tetapi tidak pernah menjadi sajak ber-tata bahasa (grammatical rhymes). Prosa, sebaliknya, ditampilkan secara esensial oleh kedekatan. Dengan demikian metafora untuk puisi, serta metonimi untuk prosa, sebenarnya berlawanan dan, akibatnya, studi tentang gaya bahasa puisi diarahkan terutama terhadap metafora. Sebenarnya bipolaritas secara artifisial telah diganti dalam penelitian ini dengan sesuatu yang telah diamputasi, skema unipolar yang cukup mencolok, serupa dengan satu dari dua pola afasia, yaitu dengan gangguan kedekatan (contiguity disorder).