Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI PERAIRAN DRIFTING BEHAVIOUR

Oleh: Nama NIM Kelompok Asisten : Arga Sparingga : H1K012003 :1 : Hary Farhat

JURUSAN PERIKANAN DAN KELUTAN FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO 2013

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Sungai di Indonesia umumnya mempunyai sifat multiguna, mulai dari keperluan rumah tangga, keperluan hewan (mandi, minum), transportasi pengairan, dan sebagainya. Kebanyakan sungai di Indonesia telah mengalami penurunan fungsi akibat berbagai aktivitas manusia ini masih merupakan sumberdaya perairan yang kaya akan organisme air (Widaningroem, 2010). Kehidupan di air dijumpai tidak hanya pada badan air tapi juga pada dasar air yang padat. Di dasar air, jumlah kehidupan sangat terbatas karena ketersediaan nutrient yang terbatas. Oleh karena itu, hewan yang hidup di air dalam hanyalah hewan-hewan yang mampu hidup dengan jumlah dan jenis nutrient terbatas, sekaligus bersifat bartoleran (Isnaeni, 2002). Sebagaimana kehidupan biota lainnya, penyebaran jenis dan populasi komunitas bentos ditentukan oleh sifat fisika, kimia dan biologi perairan. Sifat fisik perairan seperti kedalaman, kecepatan arus, warna, kecerahan dan suhu air. Sifat kimia perairan antara lain, kandungan gas terlarut, bahan organik, pH, kandungan hara dan faktor biologi yang berpengaruh adalah komposisi jenis hewan dalam perairan diantaranya adalah produsen yang merupakan sumber makanan bagi hewan bentos dan hewan predator yang akan mempengaruhi kelimpahan bentos (Setyobudiandi, 1997).
Makrobentos memiliki peranan ekologis dan struktur spesifik dihubungkan dengan makrofita air yang merupakan materi autochthon. Karakteristik dari masing-masing bagian makrofita akuatik ini bervariasi, sehingga membentuk substratum dinamis yang komplek yang membantu pembentukan interaksi-interaksi makroinvertebrata terhadap kepadatan dan keragamannya sebagai sumber energi rantai makanan pada perairan akuatik. Menurut Welch

(1980), kecepatan arus akan mempengaruhi tipe substratum, yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap kepadatan dan keanekaragaman makrobentos.

Sungai Logawa merupakan sungai yang terdapat di perbatasan kota Purwokerto bagian barat. Sungai Logawa sama besarnya dengan Sungai Mengaji. Sungai Logawa bermata air di lereng gunung Selamet.Dengan hulu di Desa Baseh, Kecamatan Kedung Banteng, Kabupaten Banyumas. Sungai ini mengalir melalui lima kecamatan sebelum masuk bergabung dengan Sungai Serayu. Lima kecamatan yang di lintasi oleh Sungai Logawa antara lain Kecamatan Kedung Banteng, Kecamatan Karanglewas, Kecamatan Purwokerto Barat, Kecamatan Purwokerto Selatan dan Kecamatan Patikraja (Aditia, 2010). Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya.Dalam studi ekologi digunakan metoda pendekatan secara rnenyeluruh pada komponen-kornponen yang berkaitan dalam suatu sistem.Ruang lingkup ekologi berkisar pada tingkat populasi, komunitas, dan ekosistem.Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktora abiotik antara lain suhu, air, kelembapan, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan ( Purbowo, 2009 ). Dalam pemantauan secara biologis, terutama terhadap cemaran organik, makroinvertebrata air merupakan kelompok organisme yang dianggap paling memenuhi persyaratan dan paling banyak digunakan sebagai bioindikator kualitas suatu perairan.

Kelimpahan dan spesies makroinvertebrata bentik telah terbukti lebih sensitif terhadap perubahan lingkungan dibanding biota akuatik lainnya (Wibowo dan Setijanto, 2011). Makrozoobenthos merupakan hewan yang sebagian atau seluruh siklus hidupnya berada di dasar perairan, baik yang sesil, merayap maupun menggali lubang. Hewan ini memegang beberapa peran penting dalam perairan seperti dalam proses dekomposisi dan mineralisasi material organik yang memasuki perairan serta menduduki beberapa tingkatan trofik dalam rantai makanan. Makrozoobenthos dapat bersifat toleran maupun bersifat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Organisme yang memiliki kisaran toleransi yang luas akan memiliki penyebaran yang luas juga. Sebaliknya organisme yang kisaran toleransinya sempit (sensitif) maka penyebarannya juga sempit (Odum, 1993). 1.2. Tujuan 1 Untuk mengetahui berbagai jenis bentik yang yang melakukan drifting di sungai Logawa. 2. Untuk menganalisis bentik yang didapat merupakan indikator perairan di sungai Logawa. 3. Untuk mengetahui perilaku merapung invertebrata bentik yang meliputi kapan waktu invertebrata yang paling banyak merapung dan taksa apa yang paling aktif merapung.

II. MATERI DAN METODE

2.1. Materi 2.1.1. Alat Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah jala surber ukuran mata jala 500 m dan bukaan mulut jala seluas 25 x 40 cm, plastik es, plastik hitam, label, botol film, saringan,nampan, buku identifikasi, alat tulis, pipet tetes dan kaca pembesar (Lup). 2.1.2. Bahan Bahan yang dibutuhkan dalam praktikum ini terdiri dari sampel makroinvertebrata (bentik) dan sample air pada stasiun pengamatan. Selain itu, digunakan pula bahan-bahan untuk pengawet sampel hasil penganbilan yaitu formalin 4%. 2.2. Cara Kerja 2.2.1. Pengambilan Bentik dengan metoda Drifting 1. Memasang jala surber di sungai (sembarang tempat) dengan bukaan surber diganjal dengan batu sehingga tetap terbuka selama 1 jam dan pemasangannya melawan arus. 2. Membersihkan makrobentos dari bahan-bahan lain kemudian dimasukkan ke dalam botol film setelah 1 jam surber dipasang. 3. Memberi formalin 4% pada botol-botol film tersebut dan tiap botol di beri label. 4. Menggolongkan makroinvertebrata drifting yang diperoleh ke dalam masing-masing taksa dan menghitung jumlahnya di laboratorium.

Gambar 2. Jala Surber

2.3. Waktu dan Tempat Pelakanaan Praktikum ini dilakukan di sungai Logawa, pada hari Jumat tanggal 13 September 2013 sampai dengan hari Sabtu tanggal 14 September 2013. Sedangkan identifikasi dilakukan di Laboratorium Jurusan Perikanan dan Kelautan Unsoed tanggal 15 September 2012. Pada praktikum ekologi perairan yang di laksanakan di Sunga Logawa yakni mengamati ekologi sungai beserta dratan di sungai tersebut. Pada pembahasan kali ini yang di jadikan sebagai objek pengamatan adalah Sungai Logawa yang berlokasi di perbatasan kota Purwokerto bagian barat tepatnya di Kecamatan Karang Luwas, Desa Jipang. Kondisi ekologi yang di amati meliputi aspek ekosistem, komunitas, populasi, faktor lingkungan, dan distribusi organisme.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil Tabel 3.1.1. Jumlah Bentik Tiap Jam Pengamatan


Waktu 17.30 20.00 18.30 21.00 10 1 26 18 4 5 8 4 54 4 5 1 5 6 3 5

No 1 2 3 4 5 6 7

Ordo Coleoptera Diptera Ephemeroptera Lepidoptera Odonata Plecoptera Trichoptera Jumlah

11.30 12.30

15.00 16.00

23.30 24.30

05.30 06.30 1 1

Jumlah 12 1 27 2 18 5 17 82

1 2

Tabel 3.1.2. Jumlah Bentik Dengan Kick Surber


No 1 2 Ordo Lepidoptera Trichoptera Total Jumlah 9 4 13

Tabel 3.1.3 Rasio Drifting Behaviour Dengan Bentik


No 1 2 3 4 5 6 7 Ordo Coleoptera Diptera Ephemeroptera Lepidoptera Odonata Plecoptera Trichoptera Drifting Behaviour (%) 14.63% 1.22% 32.93% 2.44% 21.95% 6.10% 20.73% Kick Surber (&) Rasio DB:B

69,23%

2.44 : 69,23

30,77%

20.73 : 30,77

3.2. Pembahasan

Berdasarkan hasil praktikum dapat diketahui bahwa pada pukul 17.30 WIB hingga malam hari bentik di temukan paling banyak, karena makrozoobenthos melakukan aktivitas pada malam hari yaitu pada saat suhu di air menurun. Menurut Welch (1980) dalam Retnowati (2003) menyebutkan bahwa suhu yang berbahaya bagi

makrozoobenthos berkisar antara 35-40C. Ordo yang terdapat drifting antara lain : Coleoptera, Diptera, Ephemeroptera, Trichoptera, Odonata, Plecoptera, Trichoptera. Perilaku merapung pada bentik dari ordo Ephemeroptera dan Trichoptera lebih aktif pada keadaan arus yang tinggi dimana pada pukul 17.30-18.30. Sedangkan pada ordo Coleoptera, Diptera dan Odonata perilaku mengapungnya lebih aktif pada perairan dengan kecepatan arus yang rendah dengan kelarutan oksigen yang cukup. Hal ini dikarenakan adanya aliran arus yang menyebabkan ordo dalam bentik yang terletak di dasar perairan pindah atau naik ke permukaan air. Dan biasanya ciri-ciri ordo yang ada di dasar yaitu memiliki tubuh yang flat sehingga dapat melekatkan dirinya pada ruang sempit pada butiran sedimen dasar perairan sedangkan ordo dalam drifting memiliki kemampuan berenang dan daya apung yang tinggi sehingga dapat hidup di permukaan perairan (Webber and Thurman,1999). Drifting Behaviour Bentik Berdasarkan Waktu Terapung
60

54

Banyak

50 40 30 20 10 0 11.30 12.30 15.00 16.00 17.30 18.30 20.00 21.00 23.30 24.30 05.30 06.30

Bentik 8 4 5 6 5

Waktu Drifting

Wilhm (1975) mengelompokkan benthos yang termasuk avertebrata ini berdasarkan kepekaan terhadap derajat pencemaran yang disebabkan oleh bahan organik, contohnya kelompok makrointerverbrata intoleran adalah benthos yang dapat bertahan hidup pada perairan dalam kisaran kondisi lingkungan yang sempit dan jarang dijumpai pada perairan kaya bahan organik. Organisme intoleran merupakan kelompok organisme yang hanya tumbuh dan berkembang pada kisaran kondisi lingkungan yang sempit dan jarang di temui di perairan kaya akan bahan organik. Organisme ini tidak dapat berkembang dengan maksimal apabila terjadi penurunan kualitas air secara drastis, contohnya dari ordo Ephemeroptera, Tricoptera, dan Plecoptera

Rasio Drifting Behaviour Dengan Kick Surber


80 70 60 50 40 30 20 14.63% 10 0

69.23%

Prosentase

32.93% 21.95% 1.22%


a er op te ra

30.77% 20.73% 6.1%

Prosentase Drifting Behaviour Prosentase Kick Surber

2.44%
Le pi do pt er a O do na ta

ol eo pt er a

a Pl ec op te r

Ep he m

Tr ic

ho pt er a

ip te r

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil praktikum yang dilakukan dengan metode drifting di Sungai Logawa, Kecamatan Kedung Banteng, Karanglewas, Kabupaten Banyumas Purwokerto, bentik yang didapat seperti dari Ordo Plecoptera (family Perlodidae), Ordo Coleoptera (family Elmidae), dan Ordo Ephemeroptera (family

Hepyageniidae). Perairan Logawa termasuk perairan yang bersih. Dibuktikan berdasarkan jenis makrobentos yang didapat yang, semuanya dapat digolongkan sebagai indicator perairan bersih, karena dari sifatnya yang sensitif terhadap berbagai jenis polutan dan pencemaran. Ditemukan dalam jumlah besar diperairan yang bersih. Perilaku merapung pada bentik dari ordo Coleoptera, Ephemeroptera, Odonata lebih aktif pada keadaan arus yang tenang dimana pada pukul 17.30 - 18.30 Sedangkan pada ordo Coleoptera perilaku mengapungnya lebih aktif pada perairan dengan kecepatan arus yang tinggi dengan kelarutan oksigen yang cukup.

4.2. Saran Sungai Logawa bagian hulu dalam keadaan belum tercemar dengan keadaan fisikokimia dan biologi yang optimal untuk menjadi habitat berbagai macam biota endemic. Perlu adanya perlindungan secara komprehensif untuk menjaga kelestarian

ekologi. Untuk para pengambil keputusan agar selalu memperhatikan masalah ekologi dan keseimbangan ekosistem dalam mengambil suatu kebijakan.

DFTAR PUSTAKA
Isnaeni, W. 2002. Fisiologi Hewan. Semarang: Universitas Negeri Semarang. Setyobudiandi, I. 1997. Makrozoobentos. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Welch, S. 1980. Limnology. New York: Mc Graw Hill Book Company.

Odum EP. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Edisi ketiga. Gajah Mada University press : Yogyakarta. Andhika Rakhmanda, Estimasi Populasi Gastropoda di Sungai Tambak Bayan Yogyakarta Jurnal Ekologi Perairan Laboratorium Ekologi Perairan Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian UGM No. 1 : 1-7Welch, S. 1980. Limnology. New York: Mc Graw Hill Book Company. Suroso, KAJIAN KAPASITAS SUNGAI LOGAWA DALAM MENAMPUNG DEBIT BANJIRMENGGUNAKAN PROGRAM HEC RAS, JURNAL TEKNIK SIPIL, Volume III, No. 2. Juli 2006: 88 - 92 Suroso dan Hery Awan Susanto. Analisis Hidrologi Untuk Prakiraan Banjir Sungai Logawa Hilir, Jurnal Ilmiah Unsoed ( No.2, Edisi Juli 2006), Lembaga Penelitian, Unsoed, Purwokerto.2006