Anda di halaman 1dari 10

THALASEMIA DAN EKSTRAKSI GIGI II. 1 THALASEMIA II.1.

1 DEFINISI DAN KLASIFIKASI Definisi Thalasemia berasal dari Bahasa Yunani Thalassa yang berarti laut, karena penyaki t ini pertama kali dilihat pada orang orang yang berasal dari mediterania dan ha ema yang berarti darah. Penyakit ini merupakan kelompok heterogen anemia hemolit ik herediter yang secara umum terdapat penurunan kecepatan sintesis pada satu at au lebih rantai polipeptida hemoglobin dan diklasifikasikan menurut rantai yang terkena (a,,d), dimana yang paling sering ditemukan adalah kelompok a dan thalase mia.1 Sindroma thalasemia adalah suatu kelompok gangguan hemoglobin bawaan di mana sin tesis satu atau lebih polipeptida hemoglobin normal tidak ada atau menurun yang menyebabkan penurunan hemoglobinisasi eritrosit, mikrositemia, dan hipokromia. T etapi ketidakseimbangan sintesis yang berkelanjutan pada rantai globin menyebabk an presipitasi intraselular, perubahan karakteristik aliran sel darah merah, dan destruksi prematur. Yang terakhir menyebabkan komponen hemolitik yang bermakna pada kelompok kelainan eritrosit ini.2 Klasifikasi 3,4 Klasifikasi thalasemia secara klinis Klinis Keterangan Hidrops Fetalis Thalasemia alpha dengan delesi 4 gen Thalasemia mayor Bentuk thalasemia homozigot Thalasemia atau kombinasi dengan thalasemia lain Thalasemia Intermedia Thalasemia homozigot Thalasemia heterozigot Thalasemia d dan hemoglobin fetus persisten herediter Penyakit hemoglobin H Thalasemia minor Sifat thalasemia Sifat thalasemia + Sifat thalasemia d Sifat thalasemia a Sifat thalasemia a+ Tabel 1. Klasifikasi thalasemia secara klinis (Sumber: Hoffbrand, A.V, Petit, J.E, Moss, P.A.H., 2005, Kapita Selekta Hematolo gi, Jakarta : EGC) Thalasemia dikelompokkan menurut jenis rantai globin yang tidak ada atau yang ad masing thalasemia terjadi dalam bentuk h a namun jumlahnya lebih sedikit. Masing eterozigot atau homozigot. Seseorang yang kekurangan produksi rantai protein globin alpha dikatakan sebagai penderita thalasemia alpha. Rantai globin alpha terdiri dari 4 gen yang dapat d itemukan pada kromosom 16. Individu yang memiliki satu gen alpha yang abnormal disebut sebagai thalasemia a lpha atau silent carier . Kondisi ini terjadi karena satu dari keempat gen alpha hi lang atau mengalami defek. Secara umum tidak terdapat gangguan kesehatan karena kehilangan alpha globin protein yang kecil sehingga tidak terjadi anemia. Pender ita ini disebut silent carier karena kesulitan untuk mendeteksi kelainannya. Biasa nya penderita ini terdiagnosa setelah sepasang individu normal memiliki seorang anak dengan penyakit Hb H atau thalasemia alpha minor. Diagnosa juga dapat diteg akkan dengan melakukan tes DNA khusus. Seorang individu dengan dua gen alpha yang abnormal disebut sebagai penderita th alasemia alpha trait. Kedua gen abnormal bisa terdapat pada satu kromosom atau p ada masing masing kromosom yang berpasangan terdapat satu gen yang abnormal. Pad a keadaan ini dapat terjadi anemia ringan. Bila seorang individu kehilangan 3 gen alpha atau terdapat 3 gen yang abnormal d apat menyebabkan terjadinya anemia mikrositik hipokrom yang cukup berat. Pada in

dividu yang kehilangan keempat gen alpha akan menekan sintesi rantai alpha selur uhnya, dimana rantai alpha merupakan sesuatu yang esensial dalam hemoglobin fetu s dan dewasa, akibatnya terjadi kematian dalam kandungan yang disebut sebagai hi drops fetalis. Seseorang dikatakan sebagai penderita thalasemia apabila tidak ada rantai atau s edikit rantai yang disintesis. Rasio sintesis a berbanding yang normal adalah 1 : 1, rasio ini menurun pada thalasemia a dan meningkat pada thalasemia . Pada tha lasemia mayor rantai alpha yang berlebih berpresipitasi dalam eritroblas dan eri trosit matur, menyebabkan eritropoiesis inefektif dan hemolisis berat yang khas untuk penyakit ini. Makin banyak kelebihan rantai alpha, maka makin berat anemia yang terjadi. Produksi rantai ? membantu membersihkan rantai alpha yang berlebih dan memperbaiki keadaan tersebut. Berbeda dengan thalasemia-a, mayoritas lesi genetik pada thalasemia beta adalah mutasi titik dan bukan delesi gen. Mutasi ini dapat terjadi dalam kompleks gen i tu sendiri atau pada regio promotor atau penyakit. Mutasi tertentu terutama seri ng terdapat pada beberapa komunitas dan ini dapat mempermudah penegakan diagnosi s antenatal yang bertujuan untuk mendeteksi adanya mutasi pada DNA janin. Thalas emia mayor sering kali merupakan akibat diturunkannya dua mutasi yang berbeda, m asing-masing mengenai sintesis globin- (heterozigot campuran). Pada beberapa kasu s terjadi delesi gen atau bahkan gen d, , dan ?. Pada kasus lain, crossing over y ang tidak seimbang menghasilkan gen fusi (disebut sindrom Lepore yang dinamakan menurut keluarga pertama yang terdiagnosis menderita penyakit ini). Pada thalasemia- (minor), biasanya tanpa gejala seperti pada thalasemia-a yang di tandai oleh gambaran darah mikrositik hipokrom (MCV dan MCH yanag sangat rendah) tetapi jumlah eritrosit tinggi (>5.5x1012/1) dan anemia ringan (hemoglobin 10-1 5 g/dl). Kelainan ini biasanya lebih berat dari kelainan pada thalasemia a. Peme riksaan kadar Hb a2 yang tinggi (>3.5%) dapat membantu memastikan diagnosis. Sal ah satu indikasi terpenting untuk menegakkan diagnosis adalah karena diagnosis m emungkinkan dilakukannya konseling pranatal pada pasien dengan seorang pasangan yang juga mempunyai kelainan hemoglobin yang nyata. Jika keduanya membawa sifat thalasemia sebanyak 25% anaknya beresiko untuk menderita thalasemia mayor.3 II.1.2 EPIDEMIOLOGI Penderita thalasemia ditemukan tersebar di seluruh dunia dan paling sering ditem ukan di wilayah Mediterania, Asia Tengah, Asia Tenggara, India, Pakistan, dan Af rika. Thalasemia dapat ditemukan secara sporadis di semua kelompok rasial, terma suk orang kulit putih di Eropa Utara.3 II.1.3 PATOFISIOLOGI Penyakit thalassemia disebabkan oleh adanya kelainan atau perubahan (mutasi) pad a gen globin alpha atau gen globin beta sehingga produksi rantai globin tersebut berkurang dan sel darah merah mudah sekali rusak atau umurnya lebih pendek dari sel darah normal (120 hari). Bila kelainan pada gen globin alpha maka penyakitn ya disebut thalassemia alpha, sedangkan kelainan pada gen globin beta akan menye babkan penyakit thalassemia beta. Di Indonesia thalassemia beta lebih sering didapat. Thalasemia beta diturunkan m elalui gen yang disebut sebagai gen globin beta yang terletak pada kromosom 11. Pada manusia kromosom selalu ditemukan berpasangan. Gen globin beta ini yang men gatur pembentukan salah satu komponen pembentuk hemoglobin. Bila hanya sebelah g en globin beta yang mengalami kelainan disebut pembawa sifat thalassemia beta. S eorang pembawa sifat thalassemia tampak normal / sehat, sebab masih mempunyai 1 belah gen dalam keadaan normal (dapat berfungsi dengan baik). Seorang pembawa si fat thalassemia jarang memerlukan pengobatan. Bila kelainan gen globin terjadi p ada kedua kromosom, dinamakan penderita thalassemia (homosigot / Mayor). Kedua b elah gen yang sakit tersebut berasal dari kedua orang tua yang masing-masing mem bawa sifat thalassemia.6 Pada proses pembuahan, anak hanya mendapat sebelah gen globin beta dari ibunya d an sebelah lagi dari ayahnya. Bila kedua orang tuanya masing-masing pembawa sifa t thalassemia maka pada setiap pembuahan akan terdapat beberapa kemungkinan. Kem

ungkinan pertama si anak mendapat gen globin yang berubah (gen thalassemia) dari bapak dan ibunya, maka anak akan menderita thalassemia. Sedangkan bila anak han ya mendapat sebelah gen thalassemia dari ibu atau ayah, maka anak hanya membawa penyakit ini. Kemungkinan lain adalah anak mendapatkan gen globin normal dari ke dua orang tuanya.6 Pembawa sifat thalassemia :7 Sebaiknya semua orang Indonesia dalam masa usia subur diperiksa kemungkinan memb awa sifat thalassemia beta. Karena frekuensi pembawa sifat thalassemia di Indone sia berkisar antara 6 10%, artinya setiap 100 orang ada 6 sampai 10 orang pembaw a sifat thalassemia beta. Tetapi bila ada riwayat seperti di bawah ini, pemeriks aan pembawa sifat thalassemia sangat dianjurkan: 1. Ada saudara sedarah menderita thalassemia. 2. Kadar hemoglobin relatif rendah antara 10-12 g/dl, walaupun sudah minum obat penambah darah seperti zat besi. 3. Ukuran sel darah merah lebih kecil dari normal walaupun keadaan Hb normal. II.1.4 MANIFESTASI KLINIS II.1.4.1 Manifestasi Klinis Ekstraoral Manifestasi klinis dari semua thalasemia adalah berhubungan dengan sifat hemopoi etik ekstramedularis reaktif dari penyakit dan lebih menonjol dibandingkan pada anemia hemolitik sel sabit. Tidak seperti anemia sel sabit, krisis yang menyakit kan tidak terjadi, tetapi nyeri tulang telah dilaporkan pada konsentrasi hemoglo bin yang rendah karena hyperplasia sumsum tulang.2 Pasien tersebut biasanya kecil jika dibandingkan dengan usianya dan memiliki ben tuk wajah yang khas (fasies Cooley), yaitu mata yang terpisah lebar, punggung hi dung yang terdepresi, pipi yang menonjol, tulang frontal dan parietal yang menon jol, dan mata yang sembab. Derajat deformitas sefalofasial berhubungan dengan ke parahan penyakit dan saat terapi diberikan.2,3 Pada thalasemia beta mayor, anemia berat menyadi nyata pada usia 3-6 bulan. Pemb esaran hati dan limpa terjadi akibat destruksi eritrosit yang berlebihan, hemopo iesis ekstramedula, dan lebih lanjut akibat penimbunan besi. Limpa yang membesar meningkatkan kebutuhan darah dengan meningkatkan volume plasma, destruksi eritr osit, dan cadangan eritrosit. II.1.4.2 Manifestasi Klinis Perioral dan Intraoral Manifestasi oral terlihat dari hipertrofi dan remodeling maksila yang sering men yebabkan maloklusi. Overbite parah dengan gigi maksila anterior yang protrusi da n renggang atau prominen namun berjejal dapat terjadi. Segmen posterior dapat me ngalami pergeseran ke bukal dengan disertai ekspansi prosesus alveolar. 2 Banyak pasien mengalami maloklusi, inflamasi ginggiva dan karies gigi anterior a kibat ketidakmampuan untuk mengatupkan mulutnya dan akibat bernapas melalui mulu t.8 Gigi kadang kadang menunjukkan perubahan morfologis seperti menurunnya diameter bukolingual, gigi molar kedua dan premolar yang kecil dan bertambahnya jumlah le kuk, pit, dan fisura. Enamel dan dentin mengandung zat besi dengan konsentrasi y ang lebih tinggi, yang berhubungan dengan jumlah transfusi darah tiap tahun. Ove rload zat besi karena regimen transfusi darah yang intensif dapat menyebabkan si ndrom sika, serta nyeri dan pembengkakan kelenjar parotis akibat deposit zat bes i di kelenjar serosa. Glosodinia dan hilangnya papilla lidah, mirip dengan yang terjadi pada anemia de fisiensi besi dan defisiensi asam folat, adalah penyulit yang sering dari thalas emia minor. II.1.4.3 Gambaran Radiologik II.1.4.3.1 Radiologik Sefalofasial Reaksi periosteal dan nekrosis iskemik fokal tidak terjadi pada thalasemia. tula ng tengkorak mungkin menunjukkan penebalan kortikal yang jelas dan gambaran sunb

urst atau hair-on-end yang tidak lazim pada trabekula korteks. Obliterasi sinus paranasal dapat terjadi akibat hiperplasia sumsum tulang, dan hanya sinus etmoid yang terhindar. II.1.4.3.2 Radiologik Dental Temuan radiologik dental mirip dengan penyakit sel sabit. Osteoporosis, pelebara n ruang trabekula, atau ruang rarefaction menyeluruh dengan gambaran trabekula sa rang lebah (honeycomb) dapat ditemukan. Kadang kadang radiolusensi sirkular pada apeks akar dikelirukan dengan lesi patologis. Trabekula yang tersisa tampak meno njol dan disebut striasi lamellar kompensatorik. Juga lamina dura tampak tipis. Perubahan radiologik tersebut disebabkan oleh pertumbuhan yang berlebihan persis ten sumsum tulang yang membentuk eritrosit, yang menyebabkan pembesaran rongga s umsum dan penipisan korteks di atasnya. Gambaran radiografi menunjukkan pembesaran tulang maksila yang berlebihan, akar gigi yang memendek, taurodontis, penipisan lamina dura, diastema, sinus maksila mengecil, kanalis alveolaris inferior dan korteks mandibula menipis II.1.5 DIAGNOSA 7 Diagnosa thalasemia mayor biasanya tidak sulit untuk ditegakkan. Manifestasi kli nis seperti hepatosplenomegali, bentuk muka yang khas, serta didukung oleh temua n hasil laboratorium berupa anisopoikilositosis, sel target, normoblas pada sedi aan apus darah memudahkan untuk menegakkan diagnosa thalasemia. Walaupun demikia n tidak selalu mudah untuk membedaknnya dengan thalasemia minor dan anemia hemol itik lainnya. Adanya gambaran mikrositik hiprokrom dengan atau tanpa anemia, sel target, sel retikulosit, pada sediaan apus darah tepi seseorang dengan hepatosp lenomegali mengarahkan kepada diagnosa thalasemia. Gambaran mikrositik hipokrom pada dugaan thalasemia, harus menyingkirkan diagnosa anemia karena defisiensi be si. Pemeriksaan kadar zat besi dalam sumsum tulang dapat membantu menegakkan dia gnosa. Pada pemeriksaan elektoforesis penderita thalasemia didapatkan peningkatan dari hemoglobin A2 dan hemoglobin F. Mengetahui riwayat penyakit keluarga dapat memba ntu kita dalam menegakkan diagnosa. II.1.6 PENATALAKSANAAN Sindrom thalasemi dapat dicegah dengan konseling genetik calon orang tua yang te rbukti heterozigot dan pemeriksaan janin antenatal. Terapi aktif diperlukan teru tama pada bentuk homozigot dan bentuk heterozigot yang parah dan pada dasarnya b ersifat suportif, karena tidak teradapat terapi spesifik. Salah satu terapi adalah transfusi darah teratur untuk menghasilkan kadar hemato krit antara 33 dan 35 persen, yang membantu menormalkan pertumbuhan dan perkemba ngan pasien, menekan eritropoiesis abnormal, menurunkan absorpsi zat besi, dan m embantu mencegah kelainan tulang. Tetapi, terapi ini memiliki kelemahan karena menyebabkan pembebanan zat besi pad a organ, yang hanya dihilangkan sebagian oleh desferrioxamine kelasi. Transfusi darah berulang juga menyebabkan sindrom perdarahan yang disebabkan oleh disfungs i hati, endokrinopati, dan splenomegali progresif dengan hipersplenisme. Pembesa ran limpa dapat memperberat anemia yang meningkatkan kebutuhan transfusi dengan menyebabkan sekuestrasi sel darah merah yang ditransfusikan, menyebabkan pansito penia. Splenektomi dapat menghilangkan sebagian efek merugikan dari transfusi te rsebut. Tetapi splenektomi juga meningkatkan resiko infeksi terutama pada anak k ecil. Penundaan operasi dapat dilakukan minimal sampai pasien berusia lebih dari 5 tahun.2 II. 2 EKSTRAKSI GIGI II.2.1 DEFINISI Definisi Pencabutan gigi merupakan suatu proses pengeluaran gigi dari alveolus, dimana pa da gigi tersebut sudah tidak dapat dilakukan perawatan lagi. Pencabutan gigi jug

a adalah operasi bedah yang melibatkan jaringan bergerak dan jaringan lunak dari rongga mulut, akses yang dibatasi oleh bibir dan pipi, dan selanjutnya dihubung kan/disatukan oleh gerakan lidah dan rahang. Definisi pencabutan gigi yang ideal adalah pencabutan tanpa rasa sakit satu gigi utuh atau akar gigi dengan trauma minimal terhadap jaringan pendukung gigi, sehingga bekas pencabutan dapat sembuh dengan sempurna dan tidak terdapat masalah prostetik di masa mendatang.15 Pencabutan gigi merupakan tindakan yang sangat komplek yang melibatkan struktur tulang, jaringan lunak dalam rongga mulut serta keselurahan bagian tubuh. Pada t indakan pencabutan gigi perlu dilaksanakan prinsip-prinsip keadaan suci hama ( a sepsis ) dan prinsip-prinsip pembedahan ( surgery ). Untuk pencabutan lebih dari satu gigi secara bersamaan tergantung pada keadaan umum penderita serta keadaan infeksi yang ada ataupun yang mungkin akan terjadi.12 Ekstraksi gigi adalah suatu tindakan bedah pencabutan gigi dari socket gigi deng an alat-alat ekstraksi (forceps). Kesatuan dari jaringan lunak dan jaringan kera s gigi dalam cavum oris dapat mengalami kerusakan yang menyebabkan adanya jalur terbuka untuk terjadinya infeksi yang menyebabkan komplikasi dalam penyembuhan d ari luka ekstraksi. Oleh karena itu tindakan aseptic merupakan aturan perintah d alam bedah mulut.16 Selalu diingat bahwa gigi bukanlah ditarik melainkan dicabut dengan hati-hati. Hal ini merupakan prosedur pembedahan dan etika bedah yang harus diikuti guna mence gah komplikasi serius (fraktur tulang atau gigi, perdarahan, infeksi). Gigi geli gi memang banyak namun masing-masing gigi merupakan struktur individual yang pen ting, dan masing-masing harus dipelihara sedapat mungkin. Tujuan dari ekstraksi gigi harus diambil untuk alasan terapeutik atau kuratif.10 II.2.2 EKSTRAKSI GIGI PADA PASIEN THALASEMIA Seorang dokter gigi haruslah mengusahakan agar setiap pencabutan gigi yang dilak ukannya merupakan suatu tindakan yang ideal. Untuk mencapai tujuan tersebut dan menghindari komplikasi yang mungkin timbul pada pencabutan gigi haruslah mengeta hui indikasi dan kontraindikasi dari pencabutan gigi. 12 Ekstraksi gigi pada pasien thalsemia juga merupakan suatu tindakan yang memiliki komplikasi. Indikasi dan kontraindikasi ekstraksi gigi juga berlaku pada pasien thalasemia, namun pada pasien ini lebih diperlukan perhatian khusus dalam penat alaksanaannya. II.2.3 INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI EKSTRAKSI GIGI Indikasi ekstraksi gigi desidua14 1. Karies besar sehingga pulpa menjadi non vital. Untuk poin ini ada pendapat ya ng berlawanan : segera cabut sebelum timbul keluhan/infeksi, dan melakukan peraw atan. Tapi tindakan dilakukan dengan melihat situasi. Jika sudah waktunya gigi e rupsi (atau dekat waktunya), maka tidak masalah dilakukan pencabutan. Tapi kalau pun terpaksa dicabut dan waktunya masih lama sebelum erupsi, bisa dicegah dengan menggunakan space retainer. 2. Mengganggu erupsi dan arah pertumbukan dari gigi tetap. 3. Kalau gigi susu itu sering menyebabkan sakit karena infeksi dan bengkak berul ang-ulang. 4. Kalau sudah terbentuk sinus pada mukosa disekitar ujung akar. 5. Kalau sudah terjadi ulkus decubitalis (akar giginya keluar sehingga ujungnya yang tajam melukai jaringan lunak sekitar,bibir/pipi). Indikasi ekstraksi gigi permanen10,12,13,15 Ada beberapa alasan pencabutan gigi permanent yang dapat dilakukan atau indikasi tindakan pencabutan gigi, antara lain: 1. Gigi yang rusak akibat perluasan lubang/karies gigi. Dimana karies luas dapat menyebabkan keradangan pulpa, menjalar ke daerah periapikal. Sehingga timbul be rbagai bentuk keradangan yang melibatkan struktur jaringan yang lebih dalam. 2. Gigi yang terlibat penyakit periodontal. Jaringan periodontal rusak yang tida k dapat diperbaiki lagi. Sehingga timbul suatu poket dan menyebabkan gigi yang g oyang. Sebagai panduan, kehilangan setengah dari kedalaman tulang alveolar yang normal atau ekstensi poket ke bifurkasi akar gigi bagian posterior atau mobilita

s yang jelas berarti pencabutan gigi tidak bisa dihindari lagi. 3. Abses (infeksi) gigi merupakan infeksi baik pada akar gigi maupun infeksi ant ara gigi dan gingiva. Kebanyakan penyebab abses adalah perluasan dari kerusakan/ kebusukan gigi, keadaan infeksi ini dapat menyebabkan rasa sakit yang sangat. Do kter gigi dapat menyelamatkan gigi tersebut dengan mengobati infeksinya namun bi la hal tersebut tidak berhasil maka gigi harus dicabut. 4. Gigi sebagai focal infeksi pada kasus-kasus infeksi misalnya : endokarditis r heumatik, infeksi ginjal, pencabutan gigi yang mati sering diindikasikan. 5. Gigi yang terlibat fraktur dan osteomyelitis. Gigi yang terletak garis fraktu r sebaiknya dicabut. (beberapa ahli berpendapat sebaiknya dipertahankan). Gigi y ang terlibat osteomyelitis dicabut bila telah goyang. Jika garis gigi pecah mung kin harus dilakukan pencabutan untuk mencegah infeksi tulang. 6. Gigi dalam keadaan mati atau pulpitis akut / kronis. Keadaan saluran akar tid ak mungkin dilakukan perawatan endodontik/saluran akar (pulpa non vital) 7. Gigi yang tidak mungkin dilakukan perawatan apikoectomy = pengambilan 1/3 uju ng akar dari gigi. 8. Persiapan radioterapi. Sebelum radiasi tumor oral, gigi yang tidak sehat memb utuhkan pencabutan, atau pengangkatan untuk mereduksi paparan radiasi yang berhu bungan dengan osteomelitis. 9. Gigi sehat untuk memperbaiki oklusi/estetika (perawatan ortodontik/kawat gigi ). 10. Gigi dalam keadaan impaksi. Dalam kasus ini terpadat ketidakcukupan ruang da lam mulut bagi gigi molar karena kepadatan gigi molar yang ada di depannya sehin gga menyebabkan nyeri dan bengkak. Terkadang gigi molar menjadi impaksi dalam ar ti tidak cukup kuat untuk erupsi sehigga menyebabkan rasa sakit dan infeksi ging iva. 11. Supernumerary teeth. Dalam situasi ini keadaan supernumery teeth terkadang m enghambat erupsi gigi lain dalam mulut dan membutuhkan ekstraksi agar didapatkan tempat yang cukup bagi gigi yang akan erupsi. 12. Sisa akar gigi 13. Gigi yang menyebabkan trauma pada jaringan lunak (pipi, bibir, langit-langit mulut dll) 14. Gigi penyebab / terlibat dengan kista. 15. Malposisi ekstrem 16. Gigi geraham belakang pertama (M1) atau geraham belakang dua (M2) yang rusak , untuk mencegah geraham belakang bungsu (M3) impaksi. Kontraindikasi ekstraksi gigi12,13 Secara umum ekstraksi gigi tidak dapat dilakukan apabila pasien tidak menghendak i giginya dicabut. Perlunya komunikasi yang baik antara dokter dengan pasien aka n menciptakan suatu kerja sama yang baik, dimana pasien akan memahami mengapa ha rus dilakukannya suatu tindakan dan dokter dapat melakukan tindakan tersebut ses uai dengan prosedurnya. Selain penolakan secara langsung dari pasien terdapat be berapa hal yang harus diperhatikan dalam ekstraksi gigi, seperti penyakit sistem ik dibawah ini. Kontaindikasi sistemik a. Kelainan jantung b. Kelainan darah. Pasien yang mengidap penyakit penyakit darah seperti leukemia , haemoragic purpura, hemofilia. Pasien yang mengidap anemia. c. Diabetes mellitus tidak terkontrol. Sangat mempengaruhi penyembuhan luka. d. Penyakit ginjal. Pasien dengan penyakit ginjal ( nephritis ) pada kasus ini b ila dilakukan ekstraksi gigi akan menyebabkan keadaan akut e. Penyakit hepar (hepatitis). f. Pasien dengan penyakit syphilis, karena pada saat itu daya tahan terutama tub uh sangat rendah sehingga mudah terjadi infeksi dan penyembuhan akan memakan wak tu yang lama. g. Alergi pada anastesi local h. Rahang yang baru saja telah diradiasi, pada keadaan ini suplai darah menurun sehingga rasa sakit hebat dan bisa fatal.

i. Toxic goiter j. Kehamilan. terpaksa dilakukan, dianjurkan dilakukan pada trimester ke dua kar ena obat-obatan pada saat itu mempunyai efek rendah terhadap janin. k. Psychosis dan neurosis pasien yang mempunyai mental yang tidak stabil karena dapat berpengaruh pada saat dilakukan ekstraksi gigi l. Terapi dengan antikoagulan. Kontraindikasi lokal a. Radang akut. Keradangan akut dengan cellulitis, terlebih dahulu keradangannya harus dikontrol untuk mencegah penyebaran yang lebih luas. Jadi tidak boleh lan gsung dicabut. b. Infeksi akut. Pericoronitis akut, penyakit ini sering terjadi pada saat M3 RB erupsi terlebih dahulu c. Malignancy oral. Adanya keganasan (kanker, tumor dll), dikhawatirkan pencabut an akan menyebabkan pertumbuhan lebih cepat dari keganasan itu. Sehingga luka be kas ekstraksi gigi sulit sembuh. Jadi keganasannya harus diatasi terlebih dahulu . d. Gigi yang masih dapat dirawat/dipertahankan dengan perawatan konservasi, endo dontic dan sebagainya II.2.3 PENATALAKSANAAN DENTAL2,5,6,8 Pasien dengan thalasemia mayor memerlukan hitung darah lengkap, termasuk kadar h emoglobin dan hematokrit, sebelum terapi dental. Hanya perawatan paliatif yang d apat dilakukan jika kadar hemoglobin kurang dari 10 gr/dl. Terapi dental rutin h arus dilakukan segera setelah jadwal transfusi teratur. Pasien lebih rentan terh adap infeksi, dan sebagian klinisi memberikan perlindungan antibiotika profilati k sebelum terapi dental untuk menghindari komplikasi postoperatif berupa osteomi elitis. Antibiotik spektrum luas dianjurkan karena spesies Salmonella dan Staphy lococcus lebih sering ditemukan pada kultur pasien-pasien ini.. Masalah ini adal ah kontroversial dan harus didiskusikan dengan ahli hematologi. Pemeriksaan dent al yang menyeluruh diperlukan untuk menyingkirkan sumber infeksi di mulut dari s uatu demam yang tidak diketahui asalnya. Permasalahan lain adalah meningkatnya r esiko infeksi pada pasien thalasemia yang telah menjalani splenektomi, dianjurka n agar pasien tersebut mendapatkan antibiotika profilaktik sebelum terapi dental . Juga, pasien dengan thalasemia memiliki resiko infeksi human immunodeficiency virus dan hepatitis yang lebih tinggi karena banyaknya transfusi darah yang mere ka terima. Dengan demikian kehati-hatian yang tepat harus diambil jika menterapi mereka. Kehati-hatian harus dilakukan selama prosedur bedah untuk mencegah fraktur patol ogis yang disebabkan oleh ruang sumsum tulang yang lebar. Terapi orthodontik dap at dilakukan untuk mengkoreksi defek dental dan kosmetik, terutama di daerah ant erior maksila. Pasien dengan thalasemia minor biasanya asimptomatik, dan pada sebagian besar ka sus terapi dental dapat dilakukan tanpa kehati-hatian khusus. Dokter gigi dalam melakukan perawatan gigi, dapat pertama sekali menemukan penya kit ini pada pasien. Hal ini dapat diketahui dari tampilan fisik penderita dan g ambaran radiografi dental. Radiografi dental perlu dilakukan untuk melihat perub ahan yang terjadi pada tulang wajah dan tengkorak. Gambaran radiografi menunjukk an pembesaran tulang maksila yang berlebihan, akar gigi yang memendek, taurodont is, penipisan lamina dura, diastema, sinus maksila mengecil, kanalis alveolaris inferior dan korteks mandibula menipis, sehingga dapat menjadi kriteria diagnosa untuk thalasemia dan menjadi bahan pertimbangan dalam melakukan perawatan gigi. II.2.6 KOMPLIKASI EKSTRAKSI GIGI9,10,11 1. Perdarahan. Pada kebanyakan kasus dikarenakan kurangnya pemeriksaan inspeksi dan debridemen dari socket gigi (meninggalkan granuloma atau kista di dalamnya). Setelah diberikan anestesi local, bersihkan socket dengan kuret kemudian gigit dengan kassa dan kompres. 2. Fraktur gigi. Terkadang gigi dapat patah saat pencabutan dan sisa gigi harus dikeluarkan seluruhnya, komplikasi ini juga dapat menyebabkan rasa sakit dan pem

bengkakan dan kerusakan jaringan ekstraksi juga lebih banyak. Fraktur patologis pada thalasemia yang disebabkan oleh ruang sumsum tulang yang lebar. Terkadang g igi dapat patah saat pencabutan dan sisa gigi harus dikeluarkan seluruhnya, komp likasi ini juga dapat menyebabkan rasa sakit dan pembengkakan dan kerusakan jari ngan ekstraksi juga lebih banyak. 3. Infeksi. Dapat diakibatkan karena tidak dilakukan tindakan aseptic saat ekstr aksi, adanya tulang mati (sequester bone) atau adanya sisa kista. Lakukan pemeri ksaan inspeksi dan pembersihan socket gigi dalam anestesi local. Pemberian antib iotic selama 6 sampai 8 hari sebaiknya diberikan jika terdapat rasa sakit yang b erat setelah masa penyembuhan usai atau jika tampak adanya pus. Jika lebih dari area akar gigi yang terinfeksi saat akan dilakukan ekstraksi gigi maka antibioti c mungkin sebaiknya diberikan setelah gigi pasien selesai diekstraksi. Meningkat nya resiko infeksi pada pasien thalasemia yang telah menjalani splenektomi, dian jurkan agar pasien tersebut mendapatkan antibiotika profilaktik sebelum terapi d ental. Juga, pasien dengan thalasemia memiliki resiko infeksi human immunodefici ency virus dan hepatitis yang lebih tinggi karena banyaknya transfusi darah yang mereka terima. Dengan demikian kehati-hatian yang tepat harus diambil jika ment erapi mereka. 4. Pembengkakan. Pembengkakan dapat berlanjut atau meningkat setelah dua hari pa ska ekstraksi, namun sebaiknya mulai berkurang pada hari ke 5. kompres ess dapat berguna untuk mengurangi pembengkakan 20 menit pada area pipi kemudian pada are a ekstraksi, hentikan selama 10 menit kemudian ulangi kembali. Pembengkakan dapa t menjadi masalah dalam hal membuka mulut, sehingga bila pembengkakan telah berk urang, mulut dapat bekerja lebih baik. 5. Dry socket. Dimana bekuan darah yang menutup daerah bekas ekstraksi menghilan g tanpa digantikan oleh bekuan darah yang lain. Tulang dan jaringan sarah terpap ar oleh udara dan lainnya yang terdapat dalam rongga mulut menyebabkan rasa saki t dan terkadang bau busuk. Dikarenakan anoksia dari tulang atau sequester alveol ar tertinggal di tempat tersebut menghasilkan rasa sakit 2 sampai 3 hari setelah tindakan. Untuk menanggulanginya bersihkan socket, gunakan analgetik dan antibi otic bila terdapat infeksi. Normalnya dry socket bersih sekitar 5 sampai 7 hari. 6. Rasa nyeri dan tidak nyaman saat tidur. Tidur dengan kepala agak dinaikkan da pat mengurangi tekanan pada rahang, menggunakan dua bantal dapat menolong. Cobal ah untuk menghindari tidur berbaring pada daerah ekstraksi untuk menghindari nye ri dan tidak nyaman. 7. Kerusakan gigi yang lain selama ekstraksi gigi berlangsung. II.2.7 TINDAKAN PASCA EKSTRAKSI GIGI17 LAKUKAN : o Tempatkan dan gigit kassa pada daerah ekstraksi lamanya minimal 10 menit atau sampai perdarahan berhenti. Jika perdarahan terus berlanjut, gigit kassa kembali kassa yang baru dan segera mencari pengobatan terdekat baik klinik gigi ataupun rumah sakit. o Telanlah saliva. o Minum obat yang dianjurkan. o o o o o HINDARI : Jangan banyak kumur-kumur dalam 24 jam Jangan mengganggu daerah bekas ekstraksi dengan lidah atau tangan. Hindari makanan panas atau minuman panas. Hindari aktivitas berat. Hindari merokok.

II.2.8 PROSES PENYEMBUHAN 9,11 Setelah gigi di ekstraksi maka akan terbentuk lubang pada tulang rahang dimana m erupakan tempat gigi yang sudah dicabut (socket gigi). Seiring berjalannya waktu lubang ini bentuknya akan semakin halus dan diisi oleh tulang. Hal ini dapat me makan waktu mingguan atau bulanan untuk proses penyembuhan yang sempurna. Sekita r 1-2 minggu setelah tindakan merupakan waktu yang cukup untuk terjadinya penyem buhan pada tempat bekas ekstraksi. Setelah 7 hari masa penyembuhan dapat memulai

makan makanan padat tanpa menyebabkan rasa sakit. Proses penyembuhan setelah ek straksi gigi adalah cepat karena di dalam mulut diciptakan agar penyembukan berj alan dengan cepatnya. Penyembuhan dapat terhambat karena merokok. Gingiva dapat sembuh sempurna 3-4 minggu setelah ekstraksi gigi. Jika tulang rahang mengalami kerusakan selama ekstraksi gigi, akan membutuhkan waktu sampai 6 bulan untuk sem buh sempurna. DAFTAR PUSTAKA 1. Dorland, W.A. Newman., 2002, Kamus Kedokteran Dorland edisi 29, Jakarta : EGC . 2. Rose, F.Louise, Kaye, Donald., 1997, Buku Ajar Penyakit Dalam untuk Kedoktera n Gigi Jilid satu edisi 2, Jakarta : Binarupa Aksara 3. Hoffbrand, A.V, Petit, J.E, Moss, P.A.H., 2005, Kapita Selekta Hematologi, Ja karta : EGC 4. Cooley s Anemia Foundation, 2009, Alfa Thalasemia, http://www.thalassemia.org/u pdates/pdf/Alpha_Thalassemia.pdf, Akes tanggal 07-08-2009 5. Steven L. Bricker, Robert P. Langlais, Craig S. Miller ,2009, Oral Diagnosis, Oral Medicine and Treatment Planning, http://books.google.co.id/books?id=525T7r w_M4IC&pg=PA373&lpg=PA373&dq=thalasemia+extraction+dental+management&source=bl&o ts=ukf5V4ayT6&sig=5XalwuolFh2NIxJaJb9uCvVPtDg&hl=id&ei=kWl-StqtNtCZkQXoqaGIAw&sa =X&oi=book_result&ct=result&resnum=2#v=onepage&q=&f=false, Akses tanggal 09-08-2 009 6. Leslie DeLong, Nancy W. Burkhart, 2009, General and oral pathology for the de ntal hygienist, http://books.google.co.id/books?id=pkxrRi16ZfcC&pg=PT231&lpg=PT2 31&dq=thalasemia+dental&source=bl&ots=AqgDTYFyrT&sig=e21mxLtmAIB6H2Nb3frl2IAHm_Q &hl=id&ei=SmN-So7VBseOkAWC9YHuAg&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=6#v=onepag e&q=&f=false, Akses tanggal 09-08-2009 7. Perhimpunan Hematologi dan Transfusi Darah Indonesia, 2009, Thalasemia, http: //www.phtdi.org/content/view/15/, Akses tanggal 09-08-2009 8. Leavell, S.Byrd, Thorup, A.Oscar, 1960, Fundamentals of Clinical Hematology, Amerika : W.B. Saunders Company 9. Purba Irma, 2009, Gambaran Radiografi Rongga Mulut Dan Wajah Pada Penderita T halasemia Mayor, http://library.usu.ac.id/index.php/component/journals/index.php ?option=com_journal_review&id=3733&task=view, Akses tanggal 09-08-2009 10. Anonim, 2009, Teeth Extraction, http://www.animated-teeth.com/tooth_extracti ons/t2_teeth_extractions.htm, Akses tanggal 07-08-2009 11. Mdecins Sans Frontires , 1989, Minor Surgical Procedures in Remote Areas, http ://nzdl.sadl.uleth.ca/cgi-bin/library.cgi?e=d-00000-00---off-0hdl--00-0----0-100---0---0direct-10---4-------0-1l--11-en-50---20-home---00-0-1-00-0-0-11-1-0utfZ z-8-00&a=d&cl=CL1.11&d=HASH01143dd539c1715fa288fad2.5.3, Akses tanggal 07-08-200 9 12. Urquhart Donald, 2005, Tooth and Teeth Extraction, http://www.toothandteeth. com/tooth-and-teeth-extraction.html, Akses tanggal 07-08-2009 13. Anonim, 2009, Alasan Mengapa Gigi Anda Harus/Tidak Harus Dicabut, http://for umbebas.net/thread-53126.html, Akses tanggal 07-08-2009 14. Hadianto, 2009, Indikasi dan Kontraindikasi pencabutan gigi, http://premolar e.blogspot.com/2009/07/indikasi-dan-kontraindikasi-pencabutan.html, Akses tangga l 07-08-2009 15. Walando Yan, Mailing List Dokter Indonesia, 2009, Indikasi Pencabutan Gigi S usu, http://www.mail-archive.com/dokter@itb.ac.id/msg12346.html, Akses tanggal 0 7-08-2009 16. Ulin, 2009, Kapan gigi harus dicabut, http://hiulin.blogspot.com/2009/04/kap an-gigi-harus-dicabut.html, Akses tanggal 07-08-2009 17. Anonim, 2007, Teeth Extraction, http://dental-mcqs.blogspot.com/2007/12/teet h-extraction.html, Akses tanggal 07-08-2009 18. Anonim, 2008, Tooth Extraction, http://www.myhealth.gov.my/myhealth/eng/rema ja_content.jsp?lang=remaja&sub=0&bhs=eng&storyid=1133498345484, Akses tanggal 07 -08-2009 Posted by Nina Rusmayanti Rusli at 2:44 PM

Labels: ARSIP GIGI DAN MULUT