Anda di halaman 1dari 3

TUGAS INDIVIDU 2

YUSNIA SATYAWATI H I 0211061 THE EXTENT OF BASKORO TEDJO SENSIBILITYS


Pak Bas adalah panggilan akrab dari Baskoro Tedjo, beliau merupakan salah satu arsitek ternama di Indonesia. Dalam buku terbarunya, Pak Bas membagi bukunya menjadi 3 bab yang didasarkan pada gagasan bahwa setiap jenis proyek membutuhkan sudut pandang dan strategi yang berbeda serta spesifik, yaitu monumen publik, rumah tinggal privat, dan pendekatan sayembara desain. Monumen publik Dilihat dari namanya, sudah cukup jelas bahwa objek arsitektural ini dirancang untuk masyarakat umum dan pemakaiannya tidak spesifik. Pak Bas paling senang merancang objek arsitektural berupa public space karena menurut beliau, desain kita akan membawa manfaat bagi masyarakat umum selama desain tersebut dipakai. Salah satu contoh dari proyek yang dirancang Pak Bas ialah Ruang Seni Selasar Sunaryo di Bandung tahun 1996 yang mendapat penghargaan 2001 IAI AWARD FOR CULTURAL INSTITUTION. Pada Selasar Sunaryo ini tersedia berbagai fasilitas yang disediakan untuk umum, seperti

MAKET DESAIN KESELURUHA N

AMPHITEATER

ENTRANCE SELASAR SUNARYO

GALERI SENI

Rumah Tinggal Privat Merupakan objek arsitektural yang rata-rata digunakan oleh 6-10 orang.

PONDOK INDAH HOUSE 1, 2010

TUGAS INDIVIDU 2

YUSNIA SATYAWATI H I 0211061


Pendekatan Sayembara Desain Salah satu cara belajar mendesain adalah dengan mendesain sebanyak-banyaknya, hal itu bisa diterapkan dengan mengikuti berbagai sayembara-sayembara desain yang ada. Dengan mengikuti berbagai sayembara tersebut, akan membantu dalam menambah pengetahuan dan kreativitas kita dalam mendesain.

Contoh desain sayembara pemenang pertama Bali Garden of Hope tahun 2005

Merentang sensibiltas Ir. Revianto Budi Santosa, M. Arch


Merentang sensibilitas 1 : kisah dari rumah ke rumah Sebuah genteng dari suatu rumah hilang. Yang kemudian genteng tersebut diganti oleh genteng transparan. Dari genteng inilah cahaya matahari dapat masuk ke dalam dapur rumah. Cahaya ini mampu mengubah suasana dapur menjadi lebih hidup dari sebelumnya. Pak Bas menyebut ini sebagai fenomenologi arsitektur pertama. Dalam mendesain ada dua sektor, yaitu sektor supply dan sektor demand. Dalam sektor supply kita tidak mengetahui siapakah klien kita yang akan memakai dan menghidupkan rumah yang kita desain. Mungkin saja rumah itu dibeli oleh seseorang yang kemudian nantinya akan dijual kepada orang lain. Sedangkan dalam sektor demand kita sudah mengetahui orang yang nantinya akan memakai dan menghidupkan rumah yang kita desain. Merentang sensibilitas 2 : menyisipkan Dalam hal ini, menyisipkan berarti memasuki lingkungan yang sudah ada. Kita dituntut untuk tidak mengusik bahkan mengubah lingkungan yang sudah ada tersebut dengan bangunan yang kita rancang, tetapi menjadikan bangunan yang kita rancang tersebut sebagai pelengkap dan bukan menjadikannya sebagai sesuatu yang mendominasi pada lingkungan yang sudah ada.. Menciptakan bangunan yang tidak bersifat dominan terhadap bangunan di sekitarnya memang cukup susah karena membutuhkan rasa kerelaan yang sangat tinggi. Sebagai contoh yaitu seorang arsitek yang dituntut untuk meningkatkan kualitas ruangan tanpa mengacak-acak keseluruhan ruangan pada bangunan tersebut. Untuk menyisipinya maka diperlukan pemahaman terhadap

TUGAS INDIVIDU 2

YUSNIA SATYAWATI H I 0211061


lingkungan yang akan disisipi sehingga karya yang diimbuhkan tersebut mampu memberikan warna baru yang memperkuat karakter lingkungan yang sudah ada tersebut. Karya Pak Bas ini menjadi pelengkap yang menghadirkan realitas baru yang meningkatkan kualitas entitas lingkungan tersebut. Merentang sensibilitas 3 : tradisi Berhadapan dengan tradisi, ada respon yang sangat beragam. Sensibilitas berkaitan dengan beberapa abstrak sehingga bisa memainkan komposisikomposisi. Abstraksi geometri sebagai pegangan yang paling akrab bagi kita untuk dimainkan secara leluasa menjadi satuan geometrik, tetapi ketika semua itu dikunci mati oleh klien, maka tidak ada ruang untuk bernapas dan bergerak yang berarti kita tidak dapat mengolah geometri tersebut. Dalam hal ini, inspirasi seorang arsitek dibatasi oleh keinginan klien sehingga ide-ide yang dikeluarkan oleh sang arsitek tidak akan berguna jika sang klien tidak menyukainya. Jadi ide sang arsitek yang akan diterapkan pada desain sangat terbatas karena dibatasi oleh keinginan klien. Arsitektur tradisional menjadi

inspiratif, maksudnya ialah menjadi modal untuk bergerak dan berkreasi tapi hal ini tidak dapat diterapkan pada bangunan pemerintahan. Merentang sensibilitas 4 : geometri Geometri bisa menjadi kaku apabila seseorang belum bisa mengolah/memainkannya. Di tangan Pak Bas, geometri mampu menjadi sesuatu yang bukan baku atau tidak kaku. Sebagai arsitek maupun calon arsitek harus bisa menguasai geometri, bukan geometri yang menguasai kita. Kita harus menggunakan sensibilitas untuk menguasai geometri sehingga bisa menjadi suatu rancangan desain yang menarik. Jika kita bisa menguasai dan mengendalikan geometri, maka geometri tersebut akan menjadi alat untuk membantu kita dalam menciptakan ruangan yang indah dan selaras dengan alam.