Anda di halaman 1dari 0

www.rajaebookgratis.

com

Eh, Si Kecil Pandai Merayu
Anda punya balita bukan hanya pintar bicara tapi juga pandai merayu, palagi jika
ia ingin sesuatu? Bangga sih. Tapi, dari mana ia belajar merayu ya?

"Ih.. Bunda cantik banget. Bunda memang pintar dandan. Maria bangga sama
bunda," rayu Maria (5 tahun) sambil tersenyum memandangi Bundanya yang
hendak pergi. Tapi kemudian, "Eh..Bunda, nanti pulangnya beli es krim ya,"
pintanya setengah berbisik. Bundanya hanya bisa tersenyum sambil geleng-geleng
kepala.

Entah perasaan apa yang ada di hati Lina (35 tahun) ketika mendengar rayuan
Maria setiap kali si kecil itu ingin sesuatu. Ia senang, karena anaknya sangat
pandai berbicara. Namun, di sisi lain ia was-was juga karena setiap ingin sesuatu
Maria selalu mengeluarkan 'jurus' rayuannya. "Bisa-bisa anak itu nantinya malas
berusaha jika menginginkan sesuatu. Ia merasa dengan rayuan saja cukup untuk
'meng'goal'kan keinginannya.

Kekhawatiran Lina memang beralasan dan benar adanya. Hati-hati jika si kecil
sudah pandai perayu, jangan sampai kebablasan. Sebab dampaknya tidak baik di
masa depan. Memang, anak yang sangat pandai berbicara sangat menyenangkan
sekaligus membanggakan. Terkadang bahkan membuat kita tertawa terpingkal-
pingkal dengan gaya dan rayuannya itu.

Menurut psikolog Prima S Hernowo, dari Lembaga Psikologi dan Bimbingan Belajar
Mentari ini, anak lancar dan pandai bicara itu menandakan perkembangan
bahasanya yang baik. Namun jika kemudian ia menggunakan kepandaian
bahasanya itu dengan rayuan karena menginginkan sesuatu, itu yang harus
diwaspadai.

Bisa jadi ia belajar dari lingkungannya. "Bahkan mungkin orangtua sendiri yang
mengajarkannya secara tidak langsung," tegasnya. Dicontohkan oleh Prima,
misalnya kita menyuruh untuk bermanis-manis jika meminta sesuatu.
Misalnya,"Waktu diajak jalan-jalan Tante, kalau kamu ingin dibelikan boneka atau
mainan, kamu bilang, "Tante baik hati deh, atau Tante cantik deh. Pasti nanti
kemu dibelikan mainan."

Apalagi kini banyak tayangan sinetron televisi yang mengajarkan 'ketidaktulusan'.
Misalnya, ketika di depan temannya ia baik banget, tapi di belakangnya ia punya
rencana jahat terhadap temannya itu.

Merayu dan Memuji
Sekilas perilaku tersebut barangkali wajar dan biasa saja. Toh, terkadang sebaia
orangtua kita juga mengeluarkan jurus 'rayuan' supaya anak menuruti kemauan
kita. Namun, menurut Prima, bagi seorang anak, gaya merayu seperti itu kurang
baik untuk perkembangan anak selanjutnya.

Manfaatnya pun tidak ada. Di masa balita, ia masih memerlukan pengaruh yang
positif untuk perkembangan serta pertumbuhannya. Anak perlu dibiasakan untuk
berusaha dengan sekuat tenaga jika ingin mendapatkan sesuatu. Jangan sampai ia
merasa bahwa dengan rayuan, apa pun ia akan ia dapatkan.

Maka ia bisa saja melakukan pujian 'asal'. Artinya ia memuji tapi tidak sesuai
www.rajaebookgratis.com

dengan kondisi sebenarnya. Ia asal memuji karena memiliki maksud tertentu.
Beda dengan memuji. Biasanya pujian diberikan setelah perbuatan dilakukan.
Memuji biasanya tanpa pamrih, tetapi merayu biasanya memiliki pamrih.

Komunikasi yang Benar
Sama-sama memiliki tujuan tertentu, memang sebaiknya Maria diajari untuk
berkomunikasi yang baik. Tidak perlu merayu dan mengada-ada dengan memuji.
Jika ingin mendapatkan sesuatu, lebih baik kita mengajari anak untuk langsung
mengatakan yang sebenarnya. Misalnya, Maria tak perlu memuji dulu Bundanya
yang cantik hanya karena ia ingin dibelikan es krim.

Orangtua bisa mengajarkan Maria meminta dengan benar, misalnya: "Kalau nanti
Bunda pulang, Maria dibeliin es krim ya, Bunda," sang Bunda juga tidak perlu lagi
meminta 'jasa' dari si anak. "Baik, Bunda belikan oleh-oleh es krim, karena Maria
telah menjaga rumah dengan baik." Dengan demikian komunikasi lebih efektif.
Yang penting, orangtua perlu mengajarkan berkata yang sebenarnya jika anak
menginginkan sesuatu.

Ada juga anak yang merayu tapi dengan perbuatan. Misalnya, karena ingin
dibelikan boneka barbie, Fani (5) dengan rajin membantu ibunya memberesi
rumah. Ia merapikan sendiri mainannya, menata tempat tidurnya dan lain
sebagainya. Perbuatan itu untuk meraih simpati sang ibu, agar keinginannya
memiliki barbie segera terpenuhi.

Menurut beberapa psikolog, rayuan dengan perbuatan nyata ini lebih positif
dibanding dengan kata-kata. Dengan perbuatan, dampaknya akan terlihat nyata.
Misalnya, ruangan jadi bersih, tempat tidur juga rapi. Maka mestinya, jika hal itu
dilakukan oleh anak, sudah selayaknya orangtua mengabulkan permintaan anak.
"Hitung-hitung sebagai hadiah karena anak sudah melakukan sesuatu untuk
meraih tujuannya," imbuh Prima.

Hanya saja, jangan sampai cara itu terus menerus dilakukan. Karena rayuan apa
pun bentuknya pasti memiliki maksud. Akan lebih baik jika anak belajar
komunikasi yang benar dan efektif, untuk terus terang mengemukakan
maksudnya.

Menghadapi Anak Perayu
1. Jangan patahkan semangat anak untuk merangkai kata-kata rayuan.
Biarkan ia berimajinasi dengan rayuannya. Tapi, kemudian arahkan dia
agar belajar mengatakan hal yang sebenarnya. Jangan mudah tergoda
dengan rayuannya. Tapi, kenalilah apa yang ia inginkan di balik rayuan
tersebut.
2. Usahakan jika Anda akan memberikan sesuatu yang diinginkannya, ajari
anak agar berusaha keras untuk mndapatkannya. Ajarilah anak untuk
mengungkapkan perasaannya dan mengatakan sebenarnya apa yang
diinginkannya.
3. Jika Anda merasa bahwa anak Anda telah melakukan sesuatu tugas dengan
baik, maka jangan lupa memberinya hadiah, tanpa ia memintanya.
www.rajaebookgratis.com