Anda di halaman 1dari 24

Makalah Farmakologi

Anestesi Umum dan Lokal

Disusun Oleh : Anggota :

Kelompok VIII 1. Bunga Monica Sari (08121006063) 2. Hasti Rizky Wahyuni (08121006069) 3. Putri Wulandari (08121006071) 4. M. Nuryadin (08121006061)

Dosen Pengajar : Herlina, M.Kes, Apt.

Program Studi Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sriwijaya

1|Makalah Farmakologi

Kata Pengantar

Alhamdulillah, segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan YME atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah mengenai anastesi umum dan lokal ini dengan lancar. Penulisan ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh dosen matakuliah Farmakologi serta agar menambah ilmu pengetahuan tentang sistem saraf yang menyusun tubuh. Makalah ini ditulis dari hasil penyusunan data-data sekunder yang kami peroleh dari buku panduan, serta informasi dari media massa yang berhubungan dengan Anastesi Umum dan Lokal. Kami harap makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua. Memang makalah ini masih jauh dari sempurna, maka kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik.

2|Makalah Farmakologi

Daftar Isi
Cover Makalah..1 Kata Pengantar..2 Daftar Isi ..3 Bab I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang....4 1.2 Tujuan ....4 Bab II Pembahasan 2.1 Anestesi Lokal.5 2.2 Anestesi Umum.............14

Bab III Penutup 3.1 Kesimpulan ...........23 3.2 Saran .23 Daftar Pustaka ....24

3|Makalah Farmakologi

BAB I Pendahuluan
1.1 Latar belakang Kata anestesi berasal dari bahasa yunani yang berarti keadaan tanpa rasa sakit. Anestesiologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mendasari berbagai tindakan yang meliputi pemeberian anestesi ataupun analgesi, pengawasan keselamatan pasien dioperasi atau tindakan lainnya, bantuan hidup (resusitasi), perawatan intensif pasien gawat, pemeberian terapi inhalasi, dan penanggulangannya nyeri menahun. Anestesi dibagi menjadi 2 kelompok yaitu Anestesi Lokal dan Anestesi Umum. Pada anestesi lokal hilagnya rasa sakit tanpa disertai hilangnya kesadaran, sedangkan pada anestesi umum hilangnya rasa sakit disertai hilang kesadaran. Usaha menekan rasa nyeri pada tindakan operasi dengan menggunakan obat Telah dilakukan sejak zaman dahulu termasuk pemberian alcohol dan opodium secara oral. Setiap obat anestesi mempunyai variasi tersendiri bergantung pada jenis obat, dosis yang diberikan, dan keadaan secara klinis. Anestetik yang ideal akan bekerja secara tepat dan baik serta mengembalikan kesadaran dengan cepat segera sesudah pemberian dihentikan. Selain itu, batas keamanan pemakaian harus cukup lebar dengan efek samping yang sangat minimal. Tidak satu pun obat anestetik dapat memberikan efek yang diinginkan tampa disertai efek samping, bila diberikan secara tunggal. Anestesi lokal menghambat impuls konduksi secara revesibel sepanjang akson saraf dan membran eksitabel lainnya yang menggunakan saluran natrium sebagai alat utama pembangkit potensi aksi. Secara klinik, kerja ini dimamfaatkan untuk menghambat sensasi sakit dari-atau impuls vasokontstriktor simpatis ke-bagian tubuh tertentu. Kokain, obat anestesi pertama, yang diisolasi oleh niemann pada tahun 1860. Kokain dikenal dana pengunaan klinik oleh koller, pada tahun 1884, sebagai suatu anestesi oftalmik.

1.2 Tujuan
1. Memahami tentang anestesi umum dan anestesi local 2. Mampu membedakan penggunaan anestesi umum dan anestesi lokal 3. Memahami perbedaan anestesi umum dan anestesi local 4. Dapat mengetahui jenis obat-obat anestesi umum dan lokal 4|Makalah Farmakologi

Bab II Pembahasan
2.1 Anastetik Lokal
2.1.1 Pengertian Anestetik Lokal Anestetik lokal adalah obat yang menghasilkan blokade konduksi atau blokade lorong natrium pada dinding saraf secara sementara terhadap rangsang transmisi sepanjang saraf, jika digunakan pada saraf sentral atau perifir. Prinsip kerjanya adalah menghilangkan keterangsangan dari organ akhir yang

menghantarkan nyeri dan menghilangkan kemungkinan penghantaran dari serabut saraf sensibel secara bolak-balik pada tempat tertentu, sebagai akibatnya rasa (sensasi) nyeri untuk sementara hilang. Anastesi Lokal adalah obat yang diberikan secara oral (topikal atau suntikan) dalam kadar yang cukup dapat menghambatan hantaran implus pada syaraf yang dikenal oleh obat tersebut .Obat-obat ini menghilangkan rasa/sensasi nyeri (pada konsentrasi tinggi dapat mengurangi aktivitas motorik) terbatas pada daerah tubuh yang dikenai tanpa menghilangi kesadaran .Kebanyakan obat anestesi lokal adalah suatu ester atau amida dari derivat benzen sederhana . Secara Kimia, obat-obat anestesi lokal terdiri dari golongan senyawa kimia yang mirip dengan senyawa yang memblok kanal Na pada membran sel syaraf yang mudah dirangsang .Tipe ikatan ini menentukan sifat farmakologi obat anestesi lokal, terutama anestesi lokal golongan ester (yang mempunyai ikatan ester) umumnya kurang stabil dan mudah dimetabolisme karena pada degredasi dan inaktif didalam tubuh , gugus tersebut akan dihidrolisis. Anestetik lokal menghilangkan penghantaran saraf ketika digunakan secara lokal pada jaringan saraf dengan konsentrasi tepat. Bekerja pada sebagian Sistem Saraf Pusat (SSP) dan setiap serabut saraf. Kerja anestetik lokal pada ujung saraf sensorik tidak spesifik. Hanya kepekaan berbagai struktur yang dapat dirangsang berbeda. Serabut saraf motorik mempunyai diameter yang lebih besar daripada serabut sensorik. Oleh karena itu, efek anestetika lokal menurun dengan kenaikan diameter serabut saraf, maka mula-mula serabut saraf sensorik dihambat dan baru pada dosis lebih besar serabut saraf motorik dihambat.
5|Makalah Farmakologi

2.1.2 Karakteristik Obat Anastetik Lokal Anestetik lokal ialah gabungan dari garam yang larut dalam air dan alkaloid yang larut dalam lemak yang terdiri dari bagian kepala cincin aromatik Tak jenuh bersifat lipofilik (paba para amino benzoic acid), bagian badan sebagai Penghubung terdiri dari cincin hidrocarbon dan bagian ekor yang terdiri dari Asam amino tersier bersifat hidrofilik. Dalam bentuk basa bebas, anestetik lokal hanya sedikit larut dan tidak stabil dalam bentuk larutan. Oleh karena itu diperdagangkan dalam bentuk garam yang mudah larut dalam air, biasanya garam hidroklori. Anestetik lokal sering dikombinasikan dengan vasokonstriktor dengan maksud memperpanjang dan memperkuat kerja anestetik lokal dan juga mengurangi kecepatan absorpsi anestetik lokal sehingga akan mengurangi toksisitas sistemiknya. Vasokonstriktor yang digunakan epinefrin (1 dalam 200.000 bagian) dan norepinefrin (1 dalam 100.000 bagian). Dosis toksik obat anestesi lokal, dipengaruhi oleh: 1. Jenis (sifat toksik inheren dan efek vasodilatasi) obat AL 2. Konsentrasi obat AL 3. Injeksi intravaskuler 4. Kecepatan injeksi 5. Vaskularisasi jaringan 6. Berat badan penderita 7. Kecepatan metabolisme dan ekskresi obat 8. Dosis toksik juga sangat dipengaruhi oleh apakah digunakan dengan campuran vas okontriktor atau tidak

6|Makalah Farmakologi

2.1.3 Penggolongan Anastetik Lokal Berdasarkan jenis ikatan yang terdapat di dalam struktur kimia anestetik lokal, maka digolongkan menjadi dua golongan, yaitu : Senyawa ester (terdapatnya ikatan ester). Contohnya : Kokain, Prokain, tetrakain dan Benzokain 2. Senyawa amida (terdapatnya ikatan amida). Contohnya : Lidokain, Dibukain, Mepivakain dan Prilokain.
1.

Berdasarkan teknik pemberian anestetik lokal:


1. Anestesi permukaan, yaitu mengoleskan atau penyemprotan analgetik lokal

diatas selaput mukosa seperti mata, hidung atau faring. 2. Anestesi Inhalasi, yaitu penyuntikan larutan analgetik lokal langsung diarahkan disekitar tempat lesi, luka atau insisi. Cara inflitrasi yang sering digunakan adalah blokade lingkar dan obat suntikan intradermal atau subkutan. 3. Anestesi Blok, yaitu penyuntikan analgetika lokal langsung kesaraf utama atau pleksus saraf. Hal ini bervariasi dari blokade pada saraf tunggal, misalnya saraf oksipital dan pleksus brakialis, anestesi spinal, anestesi epidural, dan anestesi kaudal. Pada anestesi spinal, analgetik lokal disuntikan langsung kedalam ruang subaraknoid diantara konus medularis dan bagian akhir ruang subaraknoid. Anestesi epidural diperoleh dengan menyuntikkan zat anestesi lokal kedalam ruang epidural. Pada anestesi kaudal, zal analgetik lokal disuntikan melalui hiatus sakralis. 4. Analgesi Regional, yaitu penyuntikan larutan analgetik lokal intravena. Ekstrimitas dieksanguinasi dan diisolasi bagian proksimalnya dari sirkulasi sistemik dengan turniket pneumatik.

2.1.4 Farmakokinetik Anestesi lokal biasanya diberikan secara suntikan ke dalam daerah serabut saraf yang akan menghamba. Oleh karena itu, penyerapan dan distribusi tidak terlalu penting dalam memantau mula kerja efek dalam menentukan mula kerja anestesi dan halnya mula kerja anestesis umum terhadap SPP dan toksisitasnya pada jantung. Aplikasi topikal anestesi lokal bagaimanapun juga memerlukan difusi obat guna mula keja dan lama kerja efek anestesinya. a. Absorbsi Absorbsi sistemik suntikan anestesi lokal dari tempat suntika dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain dosis, tempat suntikan, ikatan obat jaringan, adanya bahan vasokonstriktor, dan sifat fisikokimia obat. Aplikasi anestesi
7|Makalah Farmakologi

lokal pada daerah yang kaya vaskularisasinya seperti mukosa trakea menyebabkan penyerapan obat yang sangat cepat dan kadar obat dalam darah yang lebih tinggi dibandigkan tempat yang perfusinya jelek, seperti tendo. Untuk anestesi regio yang menghambat saraf yang besar, kadar darah maksimum anestesi lokal menurun sesuai dengantempat pemberian yaitu: interkostal (tertinggi) > kaudal > epidural > pleksus brankialis > saraf insciadikus (terendah). Bahan vasokonstriktor seperti epinefrin mengurangi penyerapan sistematik anestesi lokal dari tempat tumpukan obat dengan menguragi aliran darah di daerah ini. Keadaan ini menjadi nyata terhadap obat yang massa kerjanya singkat atau menengah seperti prokain, lidokain, dan mepivakain (tidak untuk prilokain). Ambilan obat oleh saraf diduga diperkuat oleh kadar obat lokal yang tinggi ,dan efek dari toksik sistemik obat akan berkurang karena kadar obat yang masuk dalam darah hanya 1/3-nya saja b. Distribusi Anestesi lokal amida disebar meluas dalam tubuh setelah pemberian bolus intravena. Bukti menunjukkan bahwa penyimpanan obat mungkin terjadi dalam jaringan lemak.setelah fase distribusi awal yang cepat, yang mungkin menandakan ambilan ke dalam organ yang perfusinya tinggi seperti otak, ginjal, dan jantung, dikuti oleh fase distribusi lambat yang terjadi karena ambilan dari jaringan yang perfusinya sedang, seperti otot dan usus. Karena waktu paruh plasma yang sangat singkat dari obat tipe estesr (lihat bawah), maka distribusinya tidak diketahui.

c. Metabolisme dan ekskresi Anestesi lokal diubah dalam hati dan plasma menjadi metabolit yang mudah larut dalam air dan kemudian diekskresikan ke dalam urin. Karena anestesi lokal yang bentuknya tak bermuatan mudah berdifusi melalui lipid, maka sedikit atau tidak ada sama sekali bentuk netralnya yang diekskresikan kerana bentuk ini tidak mudah diserap kembali oleh tubulus ginjal. Tipe ester anestesi lokal dihidrolisis sangat cepat di dalam darah oleh butirilkolinesterase (pseudokolinesterase). Oleh karena itu, obatini khas sekali mempunyai waktu paruh yang sangat singkat, kurang dari 1 menit untuk
8|Makalah Farmakologi

prokain dan kloroprokain. Penurunan pembersihan anestesi lokal leh hati ini harus diantisipasi dengan menurunkan aliran darah kehati. Sebagai contoh, pembersihan lidokain oleh hati pada binatang yang dianestesi dengan halotan lebih lambat dari pengukuran binatang yang diberi nitrogen oksida dan kurare. Penurunan pembersihan ini berhubungan penurunan aliran darah ke dalam hati dan penekanan mikrosom hati karena halotan. Propranolol dapat

memperpanjang waktu paruh anestesi lokal amida.

2.1.5 Farmakodinamik Isyarat dalam serabut saraf dihantarkan melalui impuls listrik yang terbentuk pada awalnya di setiap membran sel syaraf. Setiap membran sel syaraf (demikian juga semua membran sel tubuh lainnya) mempunyai potensial listrik sebesar -90 mV pada keadaan istirahat. Potensial listrik ini terbentuk karena adanya perbedaan konsentrasi ion natrium di dalam dan di luar membran sel, dimana konsentrasi di luar membran ( 142 mEq/L) lebih besar daripada di dalam membran sel ( 14 mEq/L), sementara konsentrasi anionnya sama ( 150 mEq/L). Keadaan ini menyebabkan suasana di dalam membran sel lebih negatif ketimbang di luar. Pada saat timbulnya rangsangan terhadap sel syaraf ( baik rangsangan kimia, fisik maupun listrik ) membran sel menjadi lebih permeabel terhadap ion natrium sehingga terjadi aliran ion natrium dari luar ke dalam sel melalui kanal natrium. Hal ini menimbulkan situasi dimana konsentrasi ion natrium di dalam membran sekarang menjadi lebih besar ketimbang di luar membran sel dan menyebabkan potensial listrik berubah dari -90mV menjadi +45mV. Perubahan ini disebut dengan peristiwa depolarisasi. Impuls listrik inilah yang nantinya menghantarkan isyarat sepanjang serabut syaraf. Obat anestetik lokal berikatan dengan reseptor khusus di kanal natrium sehingga menimbulkan blokade yang mencegah aliran natrium. Hal ini lebih lanjut mencegah terjadinya perubahan potensial listrik yang artinya juga mencegah timbulnya impuls listrik sehingga hantaran isyarat tidak terjadi.

9|Makalah Farmakologi

2.1.6

Efek Samping penggunaan Obat Anastesi Lokal Seharusnya obat anestesi local diserap dari tempat pemberian obat. Jika kadar obat dalam darah menigkat terlalu tinggi, maka akan timbul efek pada berbagai sistem organ. a) Sistem Saraf Pusat Efek terhadap SSP antara lain ngantuk, kepala terasa ringan, gangguan visual dan pendengaran, dan kecemasan. Pada kadar yang lebih tinggi, akan timbul pula nistagmus dan menggigil. Akhirnya kejang tonik klonik yang terus menerus diikuti oleh depresi SSP dan kematian yang terjadi untuk semua anestesi local termasuk kokain. Reaksi toksik yang paling serius dari obat anestesi local adalah timbulnya kejang karena kadar obat dalam darah yang berlebihan. Keadaan ini dapat dicegah dengan hanya memberikan anestesi local dalam dosis kecil sesuai dengan kebutuhan untuk anestesi yang adekuat saja. b) Sistem Saraf Perifer (Neurotoksisitas) Bila diberikan dalam dosis yang berlebihan, semua anestesi local akan menjadi toksik terhadap jaringan saraf. c) Sistem Kardiovaskular Efek kardiovaskular anestesi local akibat sebagian dari efek langsung terhadap jantung dan membrane otot polos serta dari efek secara tidak langsung melalui saraf otonom. Anestesi local menghambat saluran natrium jantung sehingga menekan aktivitas pacu jantung, eksitabilitas, dan konduksi jantung menjadi abnormal. Walaupun kolaps kardiovaskular dan kematian biasanya timbul setelah pemberian dosis yang sangat tinggi, kadang-kadang dapat pula terjadi dalam dosis kecil yang diberikan secara infiltrasi. d) Darah Pemberian prilokain dosis besar selama anestesi regional akan

menimbulkan penumpukan metabolit o-toluidin, suatu zat pengoksidasi yang mampu mengubah hemoglobin menjadi methemeglobin. Bila kadarnya cukup besar maka warna darah menjadi coklat. e) Reaksi alergi Reaksi ini sangat jarang terjadi dan hanya terjadi pada sebagian kecil populasi.

10 | M a k a l a h F a r m a k o l o g i

2.1.7 Obat-Obat Anastesi Lokal 1. Kokain (benzoylmetilekgonin) Anestetikum dari kelompok ester ini berkhasiat vasokontriksi dan bekerjanya lebih lama, mungkin karena merintangi re-uptake noradrenalin di ujung neuron adrenergic sehingga kadarnya di daerah reseptor meningkat. Selain itu , kokain juga memiliki efek simpatomimetik sentral dan perifer. Daya kerja stimulasinya terhadap SSP (cortex) menimbulkan beberapa gejala, seperti gelisah, ketegangan, dan meningkatnya kapasitas dan tenaga sehingga tahan lama untuk bekerja lama karena hilangnya perasaan lelah. Penggunaannya hanya untuk enestesia permukaan pada pembedahan di hidung, tenggorok, telinga atau mata. Penggunaannya sebagai tetes mata sudah di tinggalkan berhubung resiko akan cacat kornea dan sifat midriasisnya. Penggunaannya yang terlalu sering dengan konsentrasi tinggi dapat mengakibatkan necrosis (mati jaringan) akibat vasokontriksi setempat. Kehamilan : kokain dapat meningkatkan resiko abortus dan cacat pada janin, terutama pada saluran urinnya. Dosis: kedokteran mata: larutan (HCL) 1-4 %, anesthesia hidung, telinga, dan tenggorok 1-10%.

2. Benzokain Ester ini merupakan derivate dari asam p-amino benzoate yang reabsorbsinya lambat. Khasiat anestetik obat ini lemah, sehingga hanya digunakan pada anestesi permukaan untuk menghilangkan nyeri dan gatal-gatal (pruritus). Benzokain digunakan dalam suppositoria (250-500 mg untuk Rako) atau salep (2%) anti-wasir (untuk Borraginol), juga dalam salep kulit, bedak tabor 5-20% dan lotion anti-sunburn (3%, Benzomid).

3. Prokain: Novocaine, etokain Derivat-benzoat ini yang disintesa pada tahun 1905 tidak begitu toksis dibandingkan kokain. Anestetik local dari kelompok-ester ini bekerja singkat dalam tubuh zat ini dengan cepat dan sempurna dihidrolisa oleh kolinesterase

11 | M a k a l a h F a r m a k o l o g i

menjadi dietilamino etanol dan PABA (asam para-aminobenzoat), yang mengantagonir daya kerja sulfonamide. Reabsorbsinya di kulit buruk, maka hanya digunakan sebagai injeksi dan sering kali bersamaan dengan adrenalin untuk memperpanjang daya kerjanya.sebagai anestetik local, prokain sudah banyak di gantikan oleh lidokain karena efek-efek sampingnya. Efek sampingnya yang serius adalah: Hipersensitasi Kadang-kadang pada dosis rendahsudah dapat menyebabkan kematian dan kolaps dan kematian. Reaksi terhadap preparat kombinasi proka penisilin. Berlainan dengan kokain, zat tidak mengakibatkan adiksi Dosis: 0,25-0,5%

4. Oksibuprokain (benoxinate, Novesin) Merupakan derivate-oksibutil (1954) yang tidak bersifat merangsang, terutama digunakan pada kedokteran THT dan mata. Tetapi pemakaiannya harus berhati-hati bila terdapat selaput lender yang rusak atau adanya peradangan setempat. Mulai kerjanya cepat dan kuat (dalam 1 menit) dan bertahan lebih kurang 10 menit. Toksisitasnya ringan dan menurut laporan tidak menimbulkan reaksi alergi.

5. Tetrakain (ametokain) adalah derivate benzoat dengan gugus-metil pada atom(1941). Khasiatnya lebih kurang 10 kali lebih kuat dari pada prokain, tetapi juga beberapa kali lebih toksis. Mulai kerjanya cepat dan berlangsung lama, sedangkan resorpsinya dari mukosa jauh lebih baik daripada prokain

6. Lidokain : lignokain, Xylocaine Derivate-asetanlida ini ( 1947) termasuk kelompok amida dan merupakan obat pilihan utama untuk untuk anastesia permukaan ataupun filtrasi . zat ini digunakan pada selaput lender dan kulit untuk nyeri,perasaan terbakar dan gatal .

12 | M a k a l a h F a r m a k o l o g i

Dibandingkan prokain, khasiatnya lebih kuat dan lebih cepat kerjanya (setelah beberapa menit) juga bertahan lebih lama. Penggunaan : lidokain banyak digunakan setelah infark jantung sebagai obat pencegah aritmia ventricular( di bagian ICCU) dan pada bedah jantung . Efek sampingnya adalah Mengantuk, Pusing, Sukar bicara, Hipotensi, dan Konvulsi. Semua efek SSP yang terutama timbul pada overdose.

7. Prilokain (Citanest) Adalah derivate yang mulai kerja dan kekuatannya sama dengan lidokain. Toksisitasnya lebih rendah daripada lidokain, karena efek vasodilatasinya lebih ringan sehingga reabsorbsinya juga lebih lambat dan perombakannya lebih cepat . di dalam hati, zat ini dirombak menjadi o-toluidin dan metabolit lain . ekskresinya melalui kemih ( kurang dari 1%) . obat ini digunakan pada anstesia permukaan 4% dan secara parenteral 1-1,5% dengan atau tanpa adrenalin.

8. Mepivakain, Scandicaine Derivate-piperidin ini termasuk kelompok-amida yang mulai kerja dan kekuatannya mirip lidokain tetapi berthan sedikit lama . tidak berkhasiat vasodilatasi sehingga tidak perlu ditambahkan vasokonstraktor. Obat ini terutama digunakan sebagai aastesia infiltrasi dan enis anastesia parenteral pada pembedahan dental, mata dan THT.

9. Cinchokain Derivate-kinolin ini dari tipe amida yang beberapa kali lebih kuat daripada lidokain tetapi juga lebih toksis.kerjanya bertahan lebih lama dan juga bersifat vasodilatasi. Obat ini banyak digunakan sebagai anestetikum permukaan antara lain dalam suppositoria anti wasir atau dalam salep untuk nyeri dan gatal gatal, tidak menimbulkan hipersensitasi. efeknya tampak setelah ca 15 menit dan berlangsung 24 jam.

10. Artikain Derivate-tiofen ini merupakan zat anestetik local dari kelompok-amida dengan kerja panjang ( 1976 0 terikat pada protein plasma ca 95%. Efeknya
13 | M a k a l a h F a r m a k o l o g i

timbul setelah 3 menit dan berlangsung agak lama, ca 45-90 menit. Obat ini digunakan untuk pembedahak kevil dan di kedokteran gigi . karena artikain memiliki daya penetrasi tulang yang lebih baik dibandingkan lidokain. Efek samping : Pada orang yang alergi terhadap zat pengisi lubang gigi amalgam dan artukain dapat timbul keluhan kesehatan serius. Dosis dewasa sekalinya 400mg..
11. Benzilalkohol

Cairan ini melarut dalam air dan berkhasiat anastetis dan anti gatal lemah begitupula bakteriostatis terhadap kuman.

2.2 Anastesi Umum


2.2.1 Pengertian Anastesi Umum Anestetik umum (obat narkosis) adalah obat yang menyebabkan keadaan narkosis, yaitu hilangnya rasa sakit disertai hilang kesadaran. Dalam perkembangannya semua operasi dilakukan hanya dalam keadaan narkosis. Pada suatu narrkosis, akibat kelumpuhan bagian-bagian dari sistem saraf pusat, terjadi pemutusan secara bolak-balik dari sensasi nyeri, kesadaran, refleks kesiagaan, tegangan otot.

2.2.2

Jenis obat anestesi umum Umumnya obat anestesi umum diberikan secara inhalasi atau suntikan intravena. 1. Anestetik inhalasi Nitrogen aksida yan stabil pada tekanan dan suhu kamar merupakan salah satu anestetik gas yang banyak dipakai karena dapat digunakan dalam bentuk kombinasi dengan anestetik lainnya. Halotan, enfluran, isofluran, desfluran dan metoksifluran merupakan zat cair yang mudah menguap. Sevofluran merupakan anestesi in halasi terbaru tetapih belum diizinkan beredar di USA. Anestesi inhalasi konvensional seperti eter, siklopropan, dan kloroform pemakaiannya sudah dibatasi karena eter dan siklopropan mudah terbakar sedangkan kloroform toksik terhadap hati. 2. Anestetik intravena Beberapa obat anestetik diberikan secara intravena baik tersendiri maupun dalam bentuk kombinasi dengan anestetik lainnya untuk

14 | M a k a l a h F a r m a k o l o g i

mempercepat tercapainya stadium anestesi atau pun sebagai obat penenang pada penderita gawat darurat yang mendapat pernafasan untuk waktu yang lama, Yang termasuk : etoheksital)

-obat lain (profopol, etomidat) isosiatif anestetik.

2.2.3 Tanda dan stadium anestesi umum Gambaran tradisional tanda dan stadium anestesi (tanda guedel) berasal terutama dari penilitian efek diatil eter, yang mempunyai mula kerja sentral yang lambat karena kelarutannya yang tinggi didalam darah. Stadium dan tanda ini mungkin tidak mudah terlihat pada pemakaian anestetik modern dan anestetik intravena yang bekerja cepat. Karenanya, pemakaian anestetik dipergunakan dalam bentuk kombinasi antara anestetik inhalasi dengan anestetik intravena. Banyak tanda-tanda anestetik ini menunjukkan pada efek obat anestetik pernafasan, aktivitas refleks, dan tonus otot. Secara tradisional, efek anestetik dapat dibagi 4 stadium peningkatan dalamnya depresi susunan saraf pusat, yaitu : 1. Stadium analgesi Pada stadium awal ini, penderita mengalami analgesi tampa disertai kehilangan kesadaran. Pada akhir stadium 1, baru didapatkan amnesia dan analgesi 2. Stadium terangsang Pada stadium ini, penderita tampak delirium dan gelisah, tetapih kehilangan kesadaran. Volume dan kecepatan pernafasan tidak teratur, dapat terjadi mual. Inkontinensia urin dan defekasi sering terjadi. Karena itu, harus diusahakan untuk membatasi lama dan berat stadium ini, yang ditandai dengan kembalinya pernafasan secara teratur. 3. Stadium operasi Stadium ini ditandai dengan pernafasan yang teratur. Dan berlanjut sampai berhentinya pernafasan secara total. Ada empat tujuan pada stadium III

15 | M a k a l a h F a r m a k o l o g i

digambarkan dengan perubahan pergerakkan mata, dan ukuran pupil, yang dalam keadaan tertentu dapat merupakan tanda peningktan dalamnya anestesi. 4. Stadium depresi medula oblongata Bila pernafasan spontan berhenti, maka akan masuk kedalam stadium IV. Pada stadium ini akan terjadi depresi berat pusat pernafasan dimedula oblongata dan pusat vasomotor. Tampa bantuan respirator dan sirkulasi, penderita akan cepat meninggal.

Pada praktek anestesi modern, perbedaan tanda pada masing-masing stadium sering tidak jelas. Hal ini karena mula kerja obat anestetik modern relatife lebih cepat dibandingkan dengan dietil eter disamping peratan penunjang yang dapat mengontrol ventilasi paru secara mekanis cukup tersedia. Selain itu, adanya obat yang diberikan sebelum dan selama operasi dapat juga berpengaruh pada tanda-tanda anestesi. Atropin, digunakan untuk mengurangi skresi, sekaligus mendilatasi pupil; obat-obatnya seperti tubokurarin suksinilkolin yang dapat mempengaruhi tonus otot; serta obat analgetik narkotik yang dapat menyebabkan efek depresan pada pernafasan.tanda yang paling dapat diandalkan untuk mencapai stadium operasi adalah hilangnya refleks kelopak mata dan adanya pernapasan yang dalam dan teratur.

2.2.4 Farmakokinetik Dalamnya anestesi ditentukan oleh konsentrasi anestetik didalam susunan saraf pusat. Kecepatan pada konsentrasi otak yang efektif (kecepatan induksi anestesi) bergantung pada banyaknya farmakokinetika yang mempengaruhi ambilan dan penyebaran anestetik. Factor tersebut menentukan perbedaan kecepatan transfer anestetik inhalasi dari paru kedalam darah serta dari darah ke otak dan jaringan lainnya. Faktor-faktor tersebut juga turut mempengaruhi masa pemulihan anestesi setelah anestetik dihentikan. Absorpsi dan distribusi Konsentrasi masing-masing dalam suatu campuran gas anestetik sebanding dengan tekanan atau tegangan persialnya. Istilah tersebut sering dipergunakan secara bergantian dalam membicarakan berbnagai proses transfer anestetik gas dalam tubuh. Tercapainya konsentrasi obat anestetik yang adekuat dalam otak
16 | M a k a l a h F a r m a k o l o g i

untuk menimbulkan anestesi memerlukan transfer obat anestetik dari udara alveolar kedalam darah dan otak. Kecepatan pencapaian konsentrasi ini bergantung pada sifat kelarutan anestetik, konsentrasinya dalam udara yang dihisap, laju ventilasi paru, aliran darah paru, dan perbedaan gradian konsentrasi (tekanan parsial) obat anestesi antara darah arteri dan campuran darah vena. Ekskresi Waktu pemulihan anestesi inhalasi bergantung pada kecepatan

pembuangan obat anestetik dari otak setelah konsentrasi obat anestesi yang diisap menurun. Banyaknya proses transfer obat anestetik selama waktu pemulihan sama dengan yang terjadi selama induksi. Factor-factor yang mengontrol kecepatan pemulihan anestesi meliputi; aliran darah paru, besarnya ventilasi, serta kelarutan obat anestesi dalam jaringan dan darah serta dalamnya fase gas didalam paru.

2.2.5 Farmakodinamik (Mekanisme Kerja) Kerja neurofisiologik yang penting pada obat anestesi umum adalah dengan meningkatkan ambang rangsang sel. Dengan meningkatnya ambang rangsang, akan terjadi penurunan aktivitas neuronal. Obat anestetik inhalasi seperti juga intravena barbiturate dan benzodiazepine menekan aktivitas neuron otak sehingga akson dan transmisisinaptik tidak bekerja. Kerja tersebut digunakan pada transmisi aksonal dan sinaptik, tetapi proses sinaptik lebih sensitive dibandingkan efeknya. Mekanisme ionik yang diperkirakan terlibat adalah bervariasi. Anestetik inhalasi gas telah dilaporkan menyebabkan hiperpolarisasi saraf dengan aktivitas aliran K+, sehingga terjadi penurunan aksi potensial awal, yaitu peningkatan ambang rangsang. Mekanisme molecular dengan anestetik gas merubah aliran ion pada membran neuronal belumlah jelas. Efek ini dapat menghasilkan hubungan interaksi langsung antara molekul anestetik dan tempat hidrofobik pada saluran membrane protein yang spesifik. Mekanisme ini telah diperkenalkan pada penilitian interaksi gas dengan saluran kolineroseptor nikotinik interkais yang tampaknya untuk menstabilkan saluran pada keadaan tertutup. Interpretasi alternatif, yang dicoba untuk diambil dalam catatan perbedaan struktur yang nyata diantara anestetik, memberikan interaksi yang kurang spesifik pada obat ini

17 | M a k a l a h F a r m a k o l o g i

dengan dengan membran matriks lipid, dengan prubahan sekunder pada fungsi saluran.

2.2.6 Obat-Obat Anastesi Inhalasi Teknik pemberian obat inhalasi : a. Sistem Terbuka Cairan terbang(eter,kloroform,trikloretilen) diteteskan tetes demi tetes ke atas helai kain kasa dibawah suatu kap dari kawat yang menutupi mulut dan hidung pasien. b. Sistem Tertutup Suatu mesin khusus menyalurkan suatu campuran gas dengan oksigen ke dalam suatu kap dimana sejumlah CO2 dari ekshalasi dimasukkan kembali. c. Insuflasi Gas atau uap ditiupkan kedalam mulut atau tenggorok dengan perantaraan suatu mesin. Obat yang tergolong obat Anestesi Inhalasi adalah: Halotan, enfluran, isofluran, sevofluran, desflurane, dan methoxyflurane merupakan cairan yang mudah menguap.
18 | M a k a l a h F a r m a k o l o g i

1. Halothane Bau dan rasa tidak menyengat. Khasiat anestetisnya sangat kuat tetapi khasiat analgetisnya dan daya relaksasi ototnya ringan. Halotan digunakan dalam dosis rendah dan dikombinasi dengan suatu relaksans oto, seperti galamin atau

suksametonium. Kelarutannya dalam darah relative rendah induksi lambat, mudah digunakan, tidak merangsang mukosa saluran napas. Bersifat menekan refleks dari paring dan laring, melebarkan bronkioli dan mengurangi sekresi ludah dan sekresi bronchi. Famakokinetik: sebagian dimetabolisasikan dalam hati bromide, klorida anorganik, dan trifluoacetik acid. Efek samping: menekan pernapasan dan kegiatan jantung, hipotensi, jika penggunaan berulang, maka dapat menimbulkan kerusakan hati. Dosis: tracheal 0,5-3 v%.

2. Enfluran Anestesi inhalasi kuat yang digunakan pada berbagai jenis pembedahan, juga sebagai analgetikum pada persalinan. Memiliki daya relaksasi otot dan analgetis yang baik, melemaskan otot uterus, dan tidak begitu menekan SSP. Resorpsinya setelah inhalasi , cepat dengan waktu induksi 2-3 menit. Sebagian besar diekskresikan melalui paru-paru dalam keadaan utuh, dan sisanya diubah menjadi ion fluoride bebas. Efek samping: hipotensi, menekan pernapasan, aritmi, dan merangsang SSP. Pasca bedah dapat timbul hipotermi (menggigil), serta mual dan muntah, dapat meningkatkan perdarahan pada saat persalinan, SC, dan abortus.

3. Isofluran (Forane) Bau tidak enak Termasuk anestesi inhalasi kuat dengan sifat analgetis dan relaksasi otot baik.
19 | M a k a l a h F a r m a k o l o g i

Efek

samping:

hipotensi,

aritmi,

menggigil,

konstriksi

bronkhi,

meningkatnya jumlah leukosit. Pasca bedah dapat timbul mual, muntah, dan keadaan tegang 4. Desfluran Dessfluran merupakan halogenasi eter yang rumus bangun dan efek klinisnya mirip isofluran. Desfluran sangat mudah menguap. Bersifat simpatomimetik menyebabkan takikardia dan hipertensi. Merangsang jalan napas atas, sehingga tidak digunakan untuk induksi anestesi 5. Sevofluran Merupakan halogenasi eter Induksi dan pulih dari anestesi lebih cepat dibandingkan dengan isofluran Baunya tidak menyengat dan tidak merangsang jalan napas Efek terhadap kardiovaskular cukup stabil, jarang menyebabkan aritmia. Efek terhadap sistem saraf pusat seperti isofluran dan belum ada laporan toksik terhadap hepar

2.2.7 Obat-Obat Anastesi Intarvena Termasuk golongan ini adalah: barbiturate (thiopental, methothexital);

benzodiazepine (midazolam, diazepam); opioid analgesic (morphine, fentanyl, sufentanil, alfentanil, remifentanil); propofol; ketamin, suatu senyawa

arylcylohexylamine yang dapat menyebabkan keadaan anestesi disosiatif dan obatobat lain ( droperianol, etomidate, dexmedetomidine). 1. Barbiturat Blokade sistem stimulasi di formasi retikularis Mengambat pernapasan di medula oblongata, menghambat kontraksi otot. jantung, tdk timbulkan sensitisasi jantung thd ketekolamin Dosis : induksi = 2 mg/kgBB (i.v) dlm 60 dtk; maintenance = dosis induksi. a. Na tiopental : Induksi : dosis tgt BB, keadaan fisik dan penyakit Dws : 2-4ml lar 2,5% scr intermitten tiap 30-60 dtk ada capaian
20 | M a k a l a h F a r m a k o l o g i

b. Ketamin sifat analgesik, anestetik, kataleptik dg kerja singkat. Analgesik kuat utk sistem somatik, lemah utk sistem viseral Ketamin sering menimbulkan takikardi, hipertensi, hipersalivasi, nyeri kepala, pasca anestesi dapat menimbulkan mual-muntah, pandangan kabur, dan mimpi buruk. Dosis 0.1 mg/kg intravena dan untuk mengurangi salivasi diberikan sulfas atropin 0.001 mg/kg.

2. Fentanil dan droperidol Analgesik & anestesi neuroleptik Kombinasi tetap. Aman diberikan pd px yg alami hiperpireksia ok anestesi umum lain Fentanil :masa kerja pendek, mula keja cepat. Droperidol : masa kerja lama & mula kerja lambat

3. Propofol Propofol dikemas dalam cairan emulsi lemak berwarna putih susu bersifat isotonik dengan kepekatan 1% (1 ml=10 mg). Suntikan intravena sering menyebabkan nyeri, sehingga beberapa detik sebelumnya dapat diberikan lidokain 1-2 mg/kg intravena. Dosis untuk anestesi intravena total 4- 12 mg/kg/jam dan dosis sedasi untuk perawatan intensif 0.2 mg/kg. Pada manula dosis harus dikurangi, pada anak <3 tahun dan pada wanita hamil tidak dianjurkan. 4. Diazepam Suatu benzodiazepine dengan kemampuan menghilangkan kegelisahan, efek relaksasi otot yang bekerja secara sentral, dan bila diberikan secara intravena bekerja sebagai antikejang. Respon obat bertahan selama 12-24 jam menjadi nyata dalam 30-90 mnt stlah pemberian scra oral dan 15 mnt slah injeksi intravena. Kontraindikasi: hipersensitif terhadap benzodiazepine, pemberian

parenteral dikontraindikasikan pada pasien syok atau koma Dosis : induksi = 0,1-0,5 mg/kgBB

21 | M a k a l a h F a r m a k o l o g i

5. Opioid Opioid (morfin, petidin, fentanil, sufentanil) untuk induksi diberikan dosis tinggi. Opioid tidak mengganggu kardiovaskular, sehingga banyak digunakan untuk induksi pasien dengan kelainan jantung. Untuk anestesi opioid digunakan fentanil dosis induksi 20-50 mg/kg, dilanjutkan dengan dosis rumatan 0.3-1 mg/kg/menit.

2.2.8 Efek Samping Obat Anastesi Umum Hampir semua anestesia mengakibatkan sejumlah efek samping, yang terpenting diantaranya : a. Menekan pernafasan. b. Mengurangi kontraksi jantung. c. Merusak hati, oleh karena tidak digunakan lagi seperti senyawa klor (kloroform). d. Merusak ginjal, khususnya metoksifluran.

22 | M a k a l a h F a r m a k o l o g i

Bab III Penutup


3.1 Kesimpulan Anastesi Adalah hilangnya rasa sakit seluruh tubuh secara sentral disertai hilangnya kesadaran yang bersifat reversibel. Kerja obat anastesi, yaitu apabila obat anestesi inhalasi, dihirup bersama-sama udara inspirasi masuk kedalam saluran pernafasan, didalam alveoli paru akan berdifusi masuk kedalam sirculasi darah. Demikian pula yang disuntikkan secara intramuskular, obat tersebut akan diabsorbsi masuk kedalam sirkulasi darah. Setelah masuk kedalam sirkulasi darah obat tersebut akan menyebar kedalam jaringan. Dengan sendirinya jaringan yang kaya pembuluh darah seperti otak atau organ vital akan menerima obat lebih banyak dibandingkan jaringan yang pembuluh darahnya sedikit seperti tulang atau jaringan lemak . Kerja obat anastesi juga tergantung jenis obatnya, dimana didalam jaringan sebagian akan mengalami metabolisme, ada yang terjadi di hepar , ginjal atau jaringan lain. Eksresi bisa melalui ginjal ,hepar, kulit, atau paru-paru. Eksresi bisa dalam bentuk asli atau hasil metabolismenya. N2O dieksresi dalam bentuk asli lewat paru. Perbedaan anastesi umum dengan anestesi local yaitu : Pada anestesi local hilangnya rasa sakit setempat sedangkan pada anestesi umum seluruh tubuh. Pada anestesi local yang terpengaruh syaraf perifer sedang pada anestesi umum yang terpengaruh syaraf pusat dan Pada anestesi local tidak terjadi kehilangan kesadaran.

3.2

Saran Sebaiknya pemilihan obat anestesi local maupun umum menyesuaikan dengan kondisi pasien (berat badan, penyakit yang diderita), jenis obat anestesi dan efek sampingnya.

23 | M a k a l a h F a r m a k o l o g i

Daftar Pustaka
Boulton, Thomas B. 1994. Anestesiologi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Ganiswara, Silistia G. 1995. Farmakologi dan Terapi (Basic Therapy Pharmacology). Jakarta : Alih Bahasa: Bagian Farmakologi F K U I. Goodman LS and Gillman AG. 1985. The pharmacological Basic of therapeutics, 7th. MacMillan Publishing Company. Katzung B.G. 1989. Basic and Clinical pharmachology.4th.ed.(1989). Appleton & Lange, A publishing Division of Prentice Hall International Inc.Conecut USA. Kee, Joyce. L. 1996. Farmakologi. Jakarta : EGC. Michael. B Dobson. 1994. Penuntun Praktis Anestesi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Obstretri Williams. 2009. Panduan Ringkas Anestesi. Jakarta : EGC. Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fak. Kedokteran UNSRI. 2008. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Jakarta : EGC.

24 | M a k a l a h F a r m a k o l o g i