Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PENDAHULUAN IMUNISASI CAMPAK

OLEH

Atika Cahya Fazriyah PO7224110003

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR PRODI D-III KEBIDANAN BALIKPAPAN JURUSAN KEBIDANAN TAHUN 2011/2012

DASAR TEORI IMUNISASI CAMPAK

A. PENGERTIAN

Imunisasi yang diberikan untuk kekebalan aktif terhadap penyakit campak. Vaksin ini mengandung virus campak hidup yang dilemahkan. Freeze Died adalah sediaan dalam bentuk serbuk kering yang kemudian dilarutkan. Nama paten dari vaksin campak adalah virus trimbax dan vaksin MMR ( Measles. Mumps, Rubella, Vaceint ). Kemasan dalam flacon berbentuk gumpalan yang beku dan kering untuk dilarutkan dalam 5 cc pelarut. Sebelum menyuntikkan vaksin ini, harus terlebih dahulu dilarutkan dengan pelarut vaksin (aqua bidest). Disebut beku kering oleh karena pabrik pembuatan vaksin ini pertama kali membekukan vaksin tersebut kemudian mengeringkannya. Vaksin yang telah dilarutkan potensinya cepat menurun dan hanya bertahan selama 8 jam.

B. TUJUAN

Mendapatkan kekebalan terhadap penyakit campak secara aktif dan sebaiknya diberikan pada usia 9-11 bulan. Sebenarnya bayi sudah mendapatkan kekebalan campak dari ibunya. Namun seiring bertambahnya usia, antibodi dari ibunya semakin menurun sehingga butuh antibodi tambahan lewat pemberian vaksin campak. Apalagi penyakit campak mudah menular, dan mereka yang daya tahan tubuhnya lemah gampang sekali terserang penyakit yang disebabkan virus Morbili ini. Untungnya campak hanya diderita sekali seumur hidup. Jadi, sekali terkena campak, setelah itu biasanya tak akan terkena lagi.

C. PERSIAPAN

1. Persiapan Vaksin Cek label plakon kasian Buka ampul / plakon yang diperlukan, sedot dalam pelarut spuit 1 cc. Masukkan pelarut dalam vaksin campak kocok sampai homogeny. Spuit untuk aplus vaksin, tidak digunakan untuk menyuntik

2. Persiapan Bayi Dudukan bayi di pangkuan ibu Lengan kanan bayi dilipat diketiak ibu Ibu menopang kepala bayi Tangan kiri ibu memegang tangan kiri bayi

3. Mengisi Spuit Ambil spuit 1 cc yang telah tersedia Bersihkan tutup karet yang akan digunakan dengan kapas lembab Isap 0,5 cc vaksin kedalam spuit Spuit ditegakluruskan untuk melihat adanya gelembung udara, vaksin segera diberikan

D. KEKEBALAN

Memberikan daya proteksi imunisasi campak sangat tinggi yaitu 96 % - 99 %.

E. USIA DAN JUMLAH PEMBERIAN

Sebanyak 2 kali; 1 kali di usia 9 bulan, 1 kali di usia 6 tahun. Dianjurkan, pemberian campak ke-1 sesuai jadwal. Selain karena antibodi dari ibu sudah menurun di usia 9 bulan, penyakit campak umumnya menyerang anak usia balita. Jika sampai 12 bulan belum mendapatkan imunisasi campak, maka pada usia 12 bulan harus diimunisasi MMR (Measles Mump Rubella).

F. PELAKSANAAN

1. Tempat yang akan disuntikkan adalah lengan atas 2. Disenfeksi daerah tempat penyuntikkan 3. Jepitlah lengan yang akan disuntikkan dengan jari-jari 4. Masukkan jarum kedalam kulit dengan sudut 45o 5. Tekan pistonnya. Perlahan-lahan dengan vaksin sebanyak 0,5 cc 6. Cabut jarum dengan segera setelah vaksin habis dan tekan bekas suntikkan.

G. PENULARAN

Penularan campak terjadi lewat udara atau butiran halus air ludah (droplet) penderita yang terhirup melalui hidung atau mulut. Pada masa inkubasi yang berlangsung sekitar 10-12 hari, gejalanya sulit dideteksi. Setelah itu barulah muncul gejala flu (batuk, pilek, demam), mata kemerahabn dan berair, si kecilpun merasa silau saat melihat cahaya. Kemudian, disebelah dalam mulut muncul bintik-bintik putih yang akan bertahan 3-4 hari. Beberapa anak juga mengalami diare. satu-dua hari kemudian timbul demam tinggi yang turun naik, berkisar 38-40,5 derajat celcius. Seiring dengan itu barulah muncul bercak-bercak merah yang merupakan ciri khas penyakit ini. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil. Awalnya haya muncul di beberapa bagian tubuh saja seperti kuping, leher, dada, muka, tangan dan kaki. Dalam waktu 1 minggu, bercak-bercak merah ini hanya di beberapa bagian tibih saja dan tidak banyak. Jika bercak merah sudah keluar, umumnya demam akan turun dengan sendirinya. Bercak merah pun akan berubah menjadi kehitaman dan bersisik, disebut hiperpigmentasi. Pada akhirnya bercak akan mengelupas atau rontok atau sembuh dengan sendirinya. Umumnya dibutuhkan waktu hingga 2 minggu sampai anak sembuh benar dari sisa-sisa campak.

H. EFEK SAMPING

Sangat jarang terjadi kejang kemungkinan kejang ringan dan tidak berbahaya pada hari ke 10-12 setelah penyuntikkan SPC ( subuole silencing panechepatitis )

I. KONTRA INDIKASI

Anak yang sakit parah Anak yang menderita TBC tanpa pengobatan Difesiensi gizi gangguan kekebalan Penderitaan penyakit atau sedang dalam pengobatan

J. DAFTAR PUSTAKA

Buku Panduan Imunisasi Indonesia, Jilid II. 2005 Departement Kesehatan RI. 1993. Asuhan Kesehatan Anak dalam Konsep keluarga. Maslam. 1997. Imunisasi Edisi II. Jakarta : Ficus

Balikpapan, Mengetahui CI Ruangan Mahasiswi

Atika Cahya Fazriyah

LAPORAN PENDAHULUAN IMUNISASI BCG

OLEH

Atika Cahya Fazriyah PO7224110003

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR PRODI D-III KEBIDANAN BALIKPAPAN JURUSAN KEBIDANAN TAHUN 2011/2012

DASAR TEORI IMUNISASI BCG

A. PENGERTIAN

Vaksin BCG adalah vaksin hidup yang berasal dari bakteri. Vaksin BCG adalah vaksin beku kering seperti campak berbentuk bubuk. Vaksin BCG melindungi anak terhadap penyakit tuberculosis (TBC). Vaksin dibuat dari bibit penyakit hidup yang telah dilemahkan, ditemukan oleh Calmett Guerint ( 1996 ). Sebelum menyuntikkan BCG, vaksin harus lebih dulu dilarutkan dengan 4 cc cairan pelarut (NaCl 0,9%). Vaksin yang sudah dilarutkan harus digunakan dalam waktu 3 jam. Vaksin akan mudah rusak bila kena sinar matahari langsung.

B. TUJUAN

Untuk menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit tubercolosis ( TBC ). Ketahanan terhadap penyakit TB (Tuberkulosis) berkaitan dengan keberadaan virus tubercel bacili yang hidup di dalam darah. Itulah mengapa, agar memiliki kekebalan aktif, dimasukkanlah jenis basil tak berbahaya ke dalam tubuh, alias vaksinasi BCG (Bacillus Calmette Guerin).

C. KEKEBALAN

Memberikan daya proteksi imunisasi BCG yaitu 85 %.

D. USIA DAN JUMLAH PEMBERIAN

Pemberian vaksin BCG cukup 1 kali, karena vaksin BCG berisi kuman hidup sehingga antibodi yang terbentuk akan memiliki kualitas yang sama dengan yang terinfeksi secara alami. Oleh karena itu, antibodi yang dihasilkan melalui vaksinasi sudah tinggi. Berbeda dari vaksin yang berisi kuman mati, umumnya memerlukan booster atau pengulangan.Kelompok umur yang rentan terserang TB adalah usia balita, terutama usia kurang dari 1 tahun. Hal ini disebabkan anak umumnya punya hubungan erat dengan

penderita TB dewasa, seperti dengan ibu, bapak, nenek, kakek, dan orang lain yang serumah. Karena itulah, vaksin BCG sudah diberikan kepada anak sejak berusia kurang dari 1 tahun, yaitu usia 2 bulan. Di usia ini sistem imun tubuh anak sudah cukup matang untuk mendapat vaksin BCG. Namun, bila ada anggota keluarga yang tinggal serumah atau kerabat yang sering berkunjung ke rumah menderita TB, maka ada baiknya bayi segera diimunisasi BCG setelah lahir. Bila umur bayi sudah terlewat dari 2 bulan, sebelum dilakukan vaksinasi hendaknya jalani dulu tes Mantoux (tuberkulin). Gunanya untuk mengetahui, apakah tubuh si anak sudah kemasukan kuman Mycobacterium tuberculosis atau belum. Vaksinasi BCG dilakukan apabila tes Mantoux negatif.

E. LOKASI PENYUNTIKAN

Yang dianjurkan oleh WHO adalah di lengan kanan atas. Cara menyuntikkannya pun membutuhkan keahlian khusus karena vaksin harus masuk ke dalam kulit. Bila dilakukan di paha, proses menyuntikkannya lebih sulit karena lapisan lemak di bawah kulit paha umumnya lebih tebal. Para orangtua juga tak perlu khawatir dengan luka parut yang bakal timbul di lengan, karena umumnya luka parut tersebut tidaklah besar. Jadi tidak akan merusak estetika keindahan lengan anak kelak.

F. PERSIAPAN ALAT

1. Persiapan Alat Spuit dan jarum Kapas hangat KMS / Kartu Imunisasi Bubuk kering dan pelarut

2. Persiapan vaksin BCG Pastikan terlebih dahulu labelnya Ambilkan pelarut BCG dengan spuit dn larutkan BCG Ambil spuit omega, ambilkan vaksin sebanyak 0,05 ml

3. Persiapan Klien Bayi digendong atau di pangku ibunya

G. PELAKSANAAN

1. Tempat yang akan disuntik lengan atas diotot deltoid 2. Disenfeksi daerah tempat penyuntikan dengan kapas DTT 3. Regangkan kulit dengan ibu jari dan jari telunjuk dengan jari atau lengan yang tidak dominan, 4. Tusukkan jarum kedalam kulit dengan lubang jarum menghadap keatas dan jarum dengan permukaan kulit membentuk sudut 15-20o . 5. Kulit agak diangkat ke atas sampai muncul gelembung di tempat penyuntikkan. 6. Hapus darah didaerah bekas penyuntikkan dengan kapas jering tanpa melakukan massase.

H. EFEK SAMPING

1. Reaksi normal Bakteri BCG ditubuh bekerja dengan sangat lambat. Setelah 2 minggu akan terjadi pembengkakan kecil merah di tempat penyuntikan dengan garis tengah 10 mm. Setelah 2 3 minggu kemudian, pembengkakan menjadi abses kecil yang kemudian menjadi luka dengan garis tengah 10 mm, jangan berikan obat apapun pada luka dan biarkan terbuka atau bila akan ditutup gunakan kasa kering. Luka tersebut akan sembuh dan meninggalkan jaringan parut tengah 3-7 mm. 2. Reaksi berat Kadang terjadi peradangan setempat yang agak berat atau abses yang lebih dalam, kadang juga terjadi pembengkakan di kelenjar limfe pada leher / ketiak, hal ini disebabkan kesalahan penyuntikan yang terlalu dalam dan dosis yang terlalu tinggi. 3. Reaksi yang lebih cepat Jika anak sudah mempunyai kekebalan terhadap TBC, proses pembengkakan mungkin terjadi lebih cepat dari 2 minggu, ini berarti anak tersebut sudah mendapat imunisasi BCG atau kemungkinan anak tersebut telah terinfeksi BCG.

I. KONTRA INDIKASI

1. Praktis tidak ada

2. Kurunkulosis 3. Eksim berat 4. Gangguan kekebalan

J. DAFTAR PUSTAKA

Otck, George. 1995. Imunisasi dalam Praktek. Jakarta : Hipokrates. Stace, John dan bidduliph. 1999. Kesehatan anak untuk perawat. Petugas penyuluhan kesehatan dan bidan didesa. Jogjakarta : Yayasan Essentia Medica.

Balikpapan, Mengetahui CI Ruangan Mahasiswi

Atika Cahya Fazriyah .

LAPORAN PENDAHULUAN IMUNISASI POLIO

OLEH

Atika Cahya Fazriyah PO7224110003

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR PRODI D-III KEBIDANAN BALIKPAPAN JURUSAN KEBIDANAN TAHUN 2011/2012

DASAR TEORI IMUNISASI POLIO

A. PENGERTIAN

Imunisasi polio dapat diberikan secara oral ( OPV ) maupun suntikan ( IPV ). Vaksin rutin digunakan sejak bayi lahir sebagai dosis awal. Bibit penyakit yang menyebabkan polio adalah virus, vaksin yang digunakan oleh banyak negara termasuk Indonesia adalah vaksin hidup, berbentuk cairan. Penyakit poliomyelitis adalah penyakit yang disebabkan oleh virus polio. Virus polio sangat menular, disebarkan melalui makanan atau dari mulut ke mulut. Penyakit polio menimbulkan kelumpuhan anggota badan bagian bawah pada anak. Polio juga bisa menyebabkan peradangan pada selaput otak. Dan imunisasi polio dapat mencegah penyakit poliomyelitis.

B. TUJUAN

Memicu antibody dalam darah sehingga menghasilkan pertahanan lokal terhadap virus polio liar.

C. USIA DAN JUMLAH PEMBERIAN

Imunisasi polio wajib diberikan yaitu pada saat anak lahir dan selanjutnya diberikan tiga dosis berturut-turut dengan jarak 6-8 minggu. Jenis vaksinasi polio dibagi menjadi dua polio hidup yang diberikan lewat mulut (OPV) dan vaksin polio mati yang disuntikkan (IPV). Tetapi vaksin polio yang dianjurkan adalah polio hidup yang diberikan melalui mulut dengan dosis 2 tetes ( 0,1 ml ), bila dalam 10 menit di muntahkan, maka dosis tersebut perlu di ulang. Imunisasi polio yang disuntikkan diberikan 0,5 ml subkutan dalam tiga kali pemberian berturut-turut dalam jarak 2 bulan masing-masing dosis. Perlindungan mukosa selaput usus yang ditimbulkan IPV lebih rendah daripada OPV.

D. PERSIAPAN

1. Persiapan alat Handscoon

Vaksin polio Pipet plastic Pinset Bengkok

E. PELAKSANAAN

1. Mengucapkan salam 2. Mencuci tangan 3. Membuka tutup karet plakon vaksin polio 4. Memasang pipet plastic pada plakon 5. Mengatur posisi bayi 6. Membuka mulut bayi dengan menggunakan 2 jari 7. Meneteskan vaksin polio langsung dari pipet kedalam mulut sebanyak 2 tetes. 8. Merapikan bayi 9. Memberikan penjelasan sehubungan dengan hasil imunisasi dan efek samping imunisasi. 10. Memberi tahu jadwal imunisasi selanjutnya 11. Merapikan alat 12. Mencuci tangan 13. Melakukan dokumentasi

F. EFEK SAMPING

Seperti sediaan obat lainnya, vaksin polio berisiko menimbulkan efek samping baik ringan maupun berat, namun resiko ini sangat kecil dibandingkan dengan jika menderita poliomyelitis. Setelah pemberian vaksin dapat mengalami gejala pusing, diare ringan, dan nyeri otot, namun sangat jarang. Bila anak sedang diare ada kemungkinan vaksin tidak bekerja dengan baik karena ada gangguan penyerapan vaksin oleh usus akibat diare berat. Selain itu efek samping yang mungkin terjadi adalah dapat berupa kejang-kejang, tetapi kemungkinan tersebut sangat kecil untuk terjadi. Pada kasus poliomyelitis yang berkaitan dengan vaksin pernah dilaporkan 1 dari 2,5 juta vaksin. Lumpuh layu setelah vaksin ini terjadi 4-30 hari setelah pemberian OPV dan 4-75 hari setelah kontak dengan

penerima OPV. Hubungi dokter jika ada keluhan yang berat seperti demam tinggi dan gangguan prilaku atau tanda reaksi berat seperti sesak nafas, dan pusing sampai pingsan.

G. KONTRA INDIKASI

Vaksin polio oral tidak boleh diberikan dalam keadaaan : 1. Ineksi HIV atau kontak dengan HIV serumah 2. Keadaan kekebalan tubuh yang rendah atau tinggal serumah dengan pasien yang memiliki kekebalan tubuh rendah seperti : terapi steroid jangka panjang, penyakit kanker, dakam kemoterapi. 3. Muntah atau diare berat, pemberian vaksin ditunda.

Vaksin polio suntik tidak boleh diberikan dalam keadaan : 1. Adanya alergi terhadap neomisin, streptomisin dan polimiksin-B

H. DAFTAR PUSTAKA

Muslihatun, Wafi Nur. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Yogyakarta : Fitramaya.

Balikpapan, Mengetahui CI Ruangan Mahasiswi

Atika Cahya Fazriyah .

LAPORAN PENDAHULUAN IMUNISASI HEPATITIS B

OLEH

Atika Cahya Fazriyah PO7224110003

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR PRODI D-III KEBIDANAN BALIKPAPAN JURUSAN KEBIDANAN TAHUN 2011/2012

DASAR TEORI IMUNISASI HEPATITIS B

A. PENGERTIAN

Vaksin hepatitis B adalah vaksin virus recombinant yang telah dimatikan dan bersifat reninfactorie / non-infecious, berasal dari HBsAg yang dihasilkan dalam sel ragi (Hansenula polymorpha) menggunakan teknologi DNA rekombinan. (vademecum Bio Farma Jan 2002). Hepatitis B (penyakit kuning) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis B yang merusak hati. Penyakit ini bisa menjadi kronis dan menimbulkan pengerasan hati (Cirrhosis Hepatis), kanker hati (Hepato Cellular Carsinoma) dan menimbulkan kematian. Infeksi pada anak biasanya tidak menimbulkan gejala. Kemasan: Vaksin hepatitis B adalah vaksin yang berbentuk cairan. Vaksin hepatitis B terdiri dari dua kemasan: - kemasan dalam prefiil injection device (PID) - kemasan dalam vial Satu box vaksin hepatitis B PID terdiri dari 100 HB PID. Satu box vaksin hepatitis B vial terdiri dari 10 vial @ 5 dosis masing-masing

B. TUJUAN

Untuk mendapatkan kekebalan aktif terhadap penyakit hepatitis B. Pemberian vaksin bagi bayi pada awal masa kehidupannya sangat penting untuk mencegah berbagai penyakit berbahaya. Salah satu yang paling penting untuk diberikan adalah vaksinasi hepatitis B. Dari pengidap hepatitis kronik yang berada di masyarakat, sekitar 90 persen di antaranya mengalami infeksi mereka masih bayi. Infeksi dari ibu yang mengidap virus hepatitis bisa terjadi sejak masa persalinan hingga bayi mencapai usia balita Penularan virus Hepatitis B pada bayi bukan didapat dari darah bayi yang terhubung kepada ibu melalui plasenta bayi atau dari air susu ibu . Tapi bisa terjadi saat persalian atau juga ketika menyusui di mana terjadi kontak antara luka kecil pada puting susu ibu dengan mulut bayi. Untuk mencegah penularan ini, setiap bayi diwajibkan mendapat vaksin hepatitis B pada usia 0-7 hari.

C. EFEKTIVITAS VAKSIN

Pemberian 3 dosis vaksin Hepatitis B secara intramuskluar menginduksi respon antibodi protektif pada lebih dari 90% dewasa sehat yang berusia kurang dari 40 tahun. Setelah berusia 40 tahun, imunitas berkurang dibawah 90%, dan saat berusia 60 tahun hanya 6576% vaksin yang mempunyai efek proteksi terhadap infeksi virus Hepatitis B. Meskipun faktor pejamu lainnya seperti merokok, obesitas, infeksi HIV, dan penyakit kronik menyebabkan imunogenisitas vaksin yang rendah, tetapi usia merupakan factor determinan terpenting.

D. JADWAL PEMBERIAN o Saat lahir : HB-1 harus diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir, dilanjutkan pada umur 1 dan 6 bulan. Apabila status HbsAg-B ibu positif, dalam waktu 12 jam setelah lahir diberikan HBlg 0,5 ml bersamaan dengan vaksin HB-1. Apabila semula status HbsAg ibu tidak diketahui dan ternyata dalam perjalanan selanjutnya diketahui bahwa ibu HbsAg positif maka masih dapat diberikan HBlg 0,5 ml sebelum bayi berumur 7 hari. o 1 bulan : Hb-2 diberikan pada umur 1 bulan, interval HB-1 dan HB-2 adalah 1 bulan. o 6 bulan : HB-3 diberikan umur 6 bulan. Untuk mendapatkan respons imun optimal, interval HB-2 dan HB-3 minimal 2 bulan, terbaik 5 bulan

E. CARA PENULARAN

1. Vertikal Penularannya langsung dari ibu ke anak pada kehamilan/persalinan dan pasca persalinan. 2. Horizontal Penularannya dari orang sakit ke orang yang sehat. Virus Hepatitis B dapat ditransmisikan dengan efektif melalui cairan tubuh, perkutan, dan melalui

membran mukosa. Penularan yang lebih rendah dapat terjadi melalui kontak dengan karier Hepatitis B, hemodialisis, paparan terhadap pekerja kesehatan yang terinfeksi, alat tato, alat tindik, hubungan seksual, dan inseminasi buatan. Selain itu penularan juga dapat terjadi melalui transfusi darah dan donor organ. Hepatitis B dapat menular melalui pasien dengan HBsAg yang negatif tetapi anti-HBc positif, karena adanya kemungkinan DNA virus Hepatitis B yang bersirkulasi, yang dapat dideteksi dengan PCR (10-20% kasus).Virus Hepatitis B 100 kali lebih infeksius pada pasien dengan infeksi HIV dan 10 kali lebih infeksius pada pasien Hepatitis C. Adanya HBeAg yang positif mengindikasikan risiko transmisi virus yang tinggi.

F. DOSIS DAN CARA PEMBERIAN

1. Pemberian sebanyak 3 dosis 2. Dosis pertama diberikan pada usia 0-7 hari, dosis berikutnya dengan interval minimal 4 minggu ( 1 bulan ) 3. Vaksin disuntikkandengan dosis 0,5 ml, pemberian secara IM, sebaiknya pada antero lateral / paha. 4. Sebelum digunakan vaksin harus dikocok dengan memegang botol terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen. Buka kantong aluminium / plastic dan keluarkan alat suntik PID. 5. Pegang alat suntik PID pada leher dan tutup jarum dengan memegang keduanya diantara jari telunjuk dan jempol dengan gerakan cepat dorong tutup jarum kearah leher. Dorong sampai tidak ada jarak antara tutup jarum dan leher. 6. Buka tutup jarum, tetap pasang alat suntik pada bagian leher dan tusukkan jarum pada antero lateral paha secara IM ( tidak perlu aspirasi ). 7. Pijat reserrior dengan kuat untuk menyuntik setelah reservoir kempis, cabut alat suntik.

G. KONTRA INDIKASI

Hipersensitif terhadap komponen vaksin. Sama halnya seperti vaksin-vaksin lain, vaksin ini tidak boleh diberikan kepada penderita infeksi berat disertai kejang.

H. EFEK SAMPING

Reaksi lokal seperti rasa sakit, kemerahan dan pembengkakan di sekitar tempat penyuntikan. Reaksi yang terjadi bersifat ringan dan biasanya hilang setelah 2 hari. Imunisasi hepatitis B juga dapat menggunakan vaksin DPT-HB atau biasa disebut dengan combo.

I. DAFTAR PUSTAKA

Depkes, RI . 1993. Asuhan Kesehatan Anak dalam Konsep Keluarga, Cetakan II. Jakarta Muslihatun, Wafi Nur. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Yogyakarta : Fitramaya Achmadi, Umar Fahmi. 2006. Imunisasi Mengapa Perlu?. Jakarta: PT Kompas Media Indonesia.

Balikpapan, Mengetahui CI Ruangan Mahasiswi

Atika Cahya Fazriyah .

LAPORAN PENDAHULUAN IMUNISASI DPT-HB

OLEH

Atika Cahya Fazriyah PO7224110003

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR PRODI D-III KEBIDANAN BALIKPAPAN JURUSAN KEBIDANAN TAHUN 2011/2012

DASAR TEORI IMUNISASI DPT-HB

A. PENGERTIAN

Imunisasi DPT combo adalah gabungan antara imunisasi DPT dan Hepetitis B sedangkan pengertian dari masing-masing imunisasi antara lain : a. DPT adalah imunisasi sebagai usaha mendapatkan kekebalan terhadap penyakit difteri, pertusis ( batuk rejan ) dan tetanus yang merupakan kekebalan aktif yang diperoleh dalam waktu bersamaan. Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal. Pertusis (batuk rejan) adalah inteksi bakteri pada saluran udara yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernafasan yang melengking. Pertusis berlangsung selama beberapa minggu dan dapat menyebabkan serangan batuk hebat sehingga anak tidak dapat bernafas, makan atau minum. Pertusis juga dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti pneumonia, kejang dan kerusakan otak. Tetanus adalah infeksi bakteri yang bisa menyebabkan kekakuan pada rahang serta kejang. b. Hepatits B; menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit hepatits B, diberikan sedini mungkin setelah bayi lahir. Bibit penyakit yang menyebabkan hepatitis B adalah virus. Vaksin hepatitis B dibuat dari bagian virus yaitu lapisan paling luar (mantel virus) yang telah mengalami proses pemurnian. Vaksin hepatitis B akan rusak karena pembekuan dan pemanasan. Vaksin hepatitis B paling baik disimpan pada temperatur 2,8C.

B. INDIKASI

Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit difteri, tetanus dan pertusis dan hepatitis B.

C. CARA PEMBERIAN

1. Pemberian dengan cara IM 0,5 ml sebanyak 3 dosis 2. Dosis pertama pada usia 2 bulan, dosis selanjutnya dengan interval 4 minggu

3. Di unit pelayanan, vaksin DPT-HB yang telah dibuka hanya boleh digunakan selama 4 minggu dengan ketentuan : Vaksin belum kadaluarsa Vaksin disimpan dalam suhu 2oC 8oC. Tidak terendam air Sterilisasinya terjaga

4. Diposyandu vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunakan lagi untuk hari berikutnya.

D. USIA DAN JUMLAH PEMBERIAN

Imunisasi DPT diberikan sebanyak 3 kali, yaitu pada saat anak berumur 2 bulan (DPT I), 3 bulan (DPT II) dan 4 bulan (DPT III); selang waktu tidak kurang dari 4 minggu. Imunisasi DPT ulang diberikan 1 tahun setelah DPT III dan pada usia prasekolah (5-6 tahun). Jika anak mengalami reaksi alergi terhadap vaksin pertusis, maka sebaiknya diberikan DT, bukan DPT. Setelah mendapatkan serangkaian imunisasi awal, sebaiknya diberikan booster vaksin td pada usia 14-16 tahun kemudian setiap 10 tahun (karena vaksin hanya memberikan perlindungan selama 10 tahun, setelah 10 tahun perlu diberikan booster). Hampir 85% anak yang mendapatkan minimal 3 kali suntikan yang mengandung vaksin difteri, akan memperoleh perlindungan terhadap difteri selama 10 tahun.

E. PERSIAPAN

1. Persiapan alat : Spuit dan jarum Kapas air hangat DTT KMS / Kartu Imunisasi Tempat sampah

2. Persiapan vaksin DPT Pastikan terlebih dahulu labelnya, kocok endapan sampai homogeny Cara mengisi spuit DPT-HB a. Buka tutup label. Usap karet penutup dengan kapas basah

b. Ambil spuit 2 cc / spuit khusus DPT combo, ambil vaksin 0,5 cc c. Cabut jarum dari flakon, spuit ditegakkan, luruskan untuk melihat gelembung udara, gelembung dibuang. d. Gunakan spuit dan jarum disposable. 3. Persiapan Klien Bayi dipangku ibu Tangan kiri ibu merangkul bayi, menyangga bahu dan memegang paha kiri bayi

F. PELAKSANAAN

1. Tempat penyuntikkan yang baik adalah dip aha bagian sebelah luar 2. Letakkan ibu jari dan telunjuk pada posisi yang akan disuntik 3. Pegang lah otot paha diantara jari-jari telunjuk dan ibu jari 4. Disenfeksi lokasi penyuntikkan dengan kapas DTT 5. Tusukkan jarum secara IM 90o 6. Lakukan aspirasi, pastikkan tidak menganai pembuluh darah 7. Dorong pangkal plakon dangan ibu jari untuk memasukkan vaksin 8. Cabut jarum 9. Tekan bekas penyuntikkan denga kapas DTT

G. EFEK SAMPING

1. Panas Kebanyakan anak akan menderita panas pada sore hari setelah mendapat imunisasi DPT, tapi panas ini akan sembuh dalam 1 2 hari. Anjurkan agar jangan dibungkus dengan baju tebal dan dimandikan dengan cara melap dengan air yang dicelupkan ke air hangat. 2. Rasa sakit di daerah suntikan Sebagian anak merasa nyeri, sakit, kemerahan, bengkak. 3. Peradangan Bila pembengkakan terjadi seminggu atau lebih, maka hal ini mungkin disebabkan peradangan, mungkin disebabkan oleh jarum suntik yang tidak steril karena:

Telah tersentuh,

Sebelum dipakai menyuntik jarum diletakkan diatas tempat yang tidak steril, Sterilisasi kurang lama, Pencemaran oleh kuman.

4. Kejang-kejang Reaksi yang jarang terjadi sebaliknya diketahui petugas, reaksi disebabkan oleh komponen dari vaksin DPT.

H. HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN

1. Pemberian vaksin 3 kali dengn dosis 0,5 cc dengan interval 4 minggu secara IM 2. Vaksisn yang digunakan tidak beku 3. Jika vaksin tersisa harus dibuang

I. DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, Arip. 2010. Kapita Selekta Kedokteran 2. Jakarta : Medika Aesculapius. Wahab, Semik. 2002. Sistem Imun, Imunisasi dan Penyakit Imun. Jakarta : Widya Medika

Balikpapan, Mengetahui CI Ruangan Mahasiswi

Atika Cahya Fazriyah .

LAPORAN PENDAHULUAN IMUNISASI TT

OLEH

Atika Cahya Fazriyah PO7224110003

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR PRODI D-III KEBIDANAN BALIKPAPAN JURUSAN KEBIDANAN TAHUN 2011/2012

DASAR TEORI IMUNISASI TT

A. PENGERTIAN

Imunisasi TT adalah proses untuk membangun kekebalan sebagai upaya pencegahan terhadap infeksi tetanus. Vaksin tetanus yaitu toksin kuman tetanus yang dilemahkan dan kemudian di murnikan.

B. TUJUAN

Untuk mencegah penyakit tetanus pada ibu dan bayi serta melindungi bayi baru lahir dan kemungkinan terkena kejang akibat tetanus neonatorum.

C. MANFAAT

1. Melindungi bayi baru lahir dan tetanus neonatorum yang disebabkan oleh clostridium tetani, yaitu kuman yang mengeluarkan toksin dan menyerang sistem saraf pusat. 2. Melindungi ibu terhadap kemungkinan tetanus apabila terluka 3. Meminimalkan angka kesakitandan kematian bayi.

D. JADWAL PEMBERIAN

Antigen TT 1 TT 2 TT 3 TT 4 TT 5

Selang Waktu Maksimal Saat pertama periksa 4 mgg setelah TT 1 6 bulan setelah TT 2 1 tahun setelah TT 3 5 tahun setelah TT 4

Lama Perlindungan Tidak ada 3 tahun 5 tahun 10 tahun 25 thn/seumur hdp

Presentase Perlindungan Tidak ada 80 % 85 % 99 % 99 %

Imunisasi TT sebaiknya diberikan sebelum 8 bulan untuk mendapatkan imunisasi TT lengkap ( BkkBN ) 2005. TT dapat diberikan sejak diketahui positif hamil dimana

biasanya diberikan pada kunjungan pertama ibu hamil kesarana kesehatan ( Depkes RI, 2000 ).

E. PERSIAPAN

1. Persiapan Alat : Spuit dan jarum Kapas DTT hangat Kartu Imunisasi TT Tempat sampah

2. Persiapan Vaksin Pastikan vaksin dalam keadaan baik

3. Persiapan Klien Klien duduk dan diberitahu tujuan dan tindakan yang akan di lakukan.

F. PELAKSANAAN

1. Mencuci tangan 2. Tempat penyuntikan yang baik adalah lengan atas pada tangan yang lebih sedikit bekerja. 3. Letakkan ibu jari dan telunjuk pada posisi lokasi penyuntikkan 4. Peganglah otot lengan diantara jari-jari telunjuk dan ibu jari 5. Disenfeksi lokasi penyuntikkan dengan kapas DTT hangat 6. Tusukkan jarum secara IM 90o dengan dosis 0,5 cc 7. Lakukan aspirasi, pastikan tidak mengenai pembuluh darah 8. Dorong pangkal spuit dengan ibu jari dan memasukkan vaksin 9. Jarum dicabut, tekan bekas suntikkan dengan kapas 10. Mencuci tangan

G. EFEK SAMPING

Biasanya hanya gejala-gejala ringan saja yaitu reaksi lokal pada tempat penyuntikkan berupa rasa nyeri, kemerahan dan pembengkakan. Efek samping tersebut berlangsung 12 hari akan sembuh dengan sendirinya tanpa tindakan / pengobatan.

H. DAFTAR PUSTAKA

BKKBN. 2005. Kartu Informasi KHIBA ( Kelangsungan Hidup Ibu Bayi dan Anak Balita ) Ditjen PPN, PL, Depkes RI. 2000. Modul Latihan Petugas Imunisasi Edisi 7 Idanati Rukna. 2005. TT. Pregnancy. Syaifuddin, dkk. 2011. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : JNPKKR. POET.

Balikpapan, Mengetahui CI Ruangan Mahasiswi

Atika Cahya Fazriyah .