Anda di halaman 1dari 89

MAKALAH PERKEMBANGAN ARSITEKTUR 1 ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON

Disusun Oleh : Laode Adiyaksa Mutmainna Mansyur D51112121 D51112901

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS HASANUDDIN GOWA 2013

MAKALAH PERKEMBANGAN ARSITEKTUR 1 ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON

Dosen Pembimbing :

Ir. Syarif Beddu, MT Syahriana Syam, ST.,MT.

NIP. 195903251986011001 NIP. 197511242006042001

Disusun Oleh : Laode Adiyaksa Mutmainna Mansyur D51112121 D51112901

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS HASANUDDIN GOWA 2013

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa memberikan kekuatan dan kesehatan serta menyempurnakan kita dengan akal pikiran sebagai pusat logika yang dengannya mejadikan hidup manusia lebih terarah dan maju dan hati sebagai pusat perasaan yang dengannya kita merasakan keindahan. Sehingga kita dapat merasakan kemajuan teknologi yang didasarkan ilmu pengetahuan dan seni disetiap bidang, termasuk arsitektur. Kami selaku mahasiswa yang mengikuti program sarjana pada program studi Arsitektur diberikan tugas untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Perkembangan Arsitektur. Sebagai salah satu persyaratan untuk melengkapi tugas yang dimasudkan, maka kami menyusun sebuah makalah dengan judul Arsitektur Tradisional Keraton Buton. Materi ini disusun berdasarkan sumber-sumber dan referensi bacaan yang

mendukung. Makalah ini diharapkan mampu memberikan beberapa penjelasan dan deskripsi dari konsep dan filosofi arsitektural Keraton Buton dalam hal ini rumah adat Suku Walio kepada pihak-pihak yang berkesempatan meluangkan waktunya sejenak untuk membaca makalah ini. Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kami tujukan kepada dosen mata kuliah Perkembangan Arsitektur kelas A Universitas Hasanuddin, Bapak Syarif Beddu dan Ibu Syahriana Syam Yang telah

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

memberikan tugas ini dan menyajikan pemahaman terlebih dahulu tentang tugas makalah ini. Dan kepada seluruh pihak yang telah membantu penyelesaian makalah ini, baik secara langsung maupun tidak langsung, semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan pahala yang besar. Akhir kata, Semoga makalah ini memberikan manfaat bagi para pembaca, dan permohonan maaf sebesar-besarnya kami ucapkan apabila ada kesalahan dari pembuatan makalah ini. Karna kami sebagai penulis hanya manusia biasa yang tak luput dari salah. Wassalam. Makassar, 14 april 2013

Penulis.

II

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR GLOSSARY BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Permasalahan 1.3. Tujuan dan Sasaran penulisan 1.3.1 Tujuan Penulisan 1.3.2 Sasaran Penulisan 1.4. Manfaat penulisan 1.5. Lingkup Penulisan 1.5.1. Lingkup Penulisan Wilayah 1.5.2. Lingkup Penulisan Materi TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Arsitektur Tradisional 2.2. Arsitektur Nusantara 2.3. Arsitektur Rakyat 2.4. Arsitektur Vernakular I III V VIII 1 1 2 2 2 2 3 3 3 4 5 6 8 9 12

BAB II.

BAB III. TINJAUAN ARSITEKTUR 14 3.1. Lokasi 14 3.2. Sejarah 15 3.2.1. Sejarah Awal 15 3.2.2. Kerajaan Buton Dan Kesultanan Islam Buton 17 3.2.3. Silsilah 18 3.2.4. Periode Pemerintahan 20 3.2.5. Wilayah Kekuasaan 21 3.2.6. Struktur Pemerintahan 21 3.2.7. Kehidupan Sosial Budaya Pada Zaman Keraton Buton 21 3.3. Penduduk 25 3.4. Agama 25 3.5. Mata Pencaharian 26 3.6. Sosial Budaya 26 BAB IV. ARSITEKTUR DAN STRUKTUR BANGUNAN 4.1. Asal Usul 29 30

III

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

4.2. 4.3. 4.4.

4.5. 4.6.

4.7.

4.8. BAB V.

Filosofi Makrokosmos dan Mikrokosmos Ciri-ciri Arsitektur dan Struktur 4.4.1. Ciri-ciri Arsitektur 4.4.2. Struktur Arsitektur Arsitek atau Tukang yang membangun Detail-detail Arsitektur 4.6.1. Ragam Hias 4.6.2. Detail Struktur Arsitektur 4.6.3. Detail Makna Konstruksi Bahan-Bahan Dan Peralatan 4.7.1. Bahan-bahan 4.7.2. Peralatan Jenis-jenis Bangunan

32 33 36 36 47 54 56 56 57 60 62 62 64 64 74 74 75 76

PENUTUP 5.1. Simpulan 5.2. Saran

DAFTAR PUSTAKA

IV

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

DAFTAR GAMBAR
GAMBAR 2.1. : GAMBAR 2.2. : GAMBAR 2.3. : GAMBAR 2.4. : GAMBAR 2.5. : GAMBAR 2.6. : GAMBAR 2.7. : GAMBAR 2.8. : GAMBAR 3.1. : GAMBAR 3.2. : GAMBAR 3.3. : GAMBAR 3.4. : GAMBAR 3.5. : GAMBAR 3.6. : GAMBAR 3.7 : GAMBAR 3.8. : GAMBAR 3.9. : GAMBAR 4.1. : GAMBAR 4.2. : GAMBAR 4.3. : GAMBAR 4.4. : GAMBAR 4.5. : GAMBAR 4.6. : Rumah Tradisional Malige Buton Rumah Tradisional Gadang - Sumatera Barat Rumah Tradisional Tongkonan - Sulawesi Selatan Rumah Tradisional Bali Rumah Tradisional Nias NTT Rumah Masyarakat Tradisional Rumah Masyarakat Tradisional Amerika Rumah Tradisional Aceh Lokasi Kerajaan/Keraton Buton Kehidupan Masyarakat Buton Pada Zaman Dahulu Sultan Pertama Buton Para Bangsawan Sultan dan Para Bangsawan Pertemuan Presiden Soekarno dengan Sultan Muh. Falihi 6 7 8 9 11 11 12 13 14 15 17 18 20

Alat Tukar Uang ( Kampua ) Ketika Zaman Kesultanan 22 Arah Perdagangan Jalur Strategis Pelayaran Arah Perdagangan Jalur Strategis Pelayaran Rumah Adat Suku Walio Kebudayaan Buton Rumah Kesultanan Buton Malige Maket Rumah Kesultanan Buton Malige Analogi Rumah Kesultanan Buton Malige 23 25 27 29 30 34

Suasana Sekitar Malige Disesuaikan Dengan Konsep Kosmologi 35 Tampak Depan Rumah Kesultanan Buton Malige 37

Suasana Sekitar Malige Disesuaikan Dengan Konsep Kosmologi 39

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

GAMBAR 4.7. : GAMBAR 4.8. : GAMBAR 4.9. : GAMBAR 4.10.: GAMBAR 4.11. : GAMBAR 4.12. : GAMBAR 4.13. : GAMBAR 4.14. : GAMBAR 4.15. : GAMBAR 4.16. : GAMBAR 4.17. : GAMBAR 4.18. : GAMBAR 4.19. : GAMBAR 4.20. : GAMBAR 4.21. : GAMBAR 4.22. : GAMBAR 4.23. : GAMBAR 4.24. : GAMBAR 4.25. : GAMBAR 4.26. : GAMBAR 4.27. : GAMBAR 4.28. : GAMBAR 4.29. : GAMBAR 4.30. : GAMBAR 4.31. : GAMBAR 4.32. :

Denah Rumah Kesultanan Buton Malige

41

Tampak Banua Kembero Rumah Pejabat Kesultanan 43 Tampak Depan Banua Kembero Rumah Pejabat Kesultanan Denah Banua Kembero Rumah Pejabat Kesultanan Tampak Depan Banua Tada Masyarakat Biasa Denah Banua Tada Masyarakat Biasa Gambar Susunan Tada Rumah Adat Suku Walio Gambar Susunan Lantai Rumah Adat Suku Walio Maket Konstruksi/Struktur Rumah Adat Suku Walio Rangka Kuda-Kuda Atap Rumah Adat Suku Walio Saraginti (Tukang Ahli) 44 45 46 47 48 50 51 52 54

Motif Nanas Dan Bosu-bosu Pada Bumbungan Atap 56 Sambungan Kayu Pada Rumah Malige Sandi Pondasi Rumah Malige Tangga Dan Pintu Malige Tampak Dalam Rumah Malige Masjid Agung Keraton Buton Masjid Agung Keraton Buton Tampak Samping Masjid Agung Keraton Buton di Pagi dan Malam Baruga Keraton Buton Tampak Benteng Keraton Dari Atas Benteng Keraton Buton Benteng Keraton Buton dari Depan Bagian-Bagian Benteng Keraton Buton Bagian-Bagian Benteng Keraton Buton Tiang Bendera Keraton Buton 58 59 61 62 64 66 67 68 69 70 71 71 72 72

VI

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

GAMBAR 4.33. :

Gua Arupalaka Di Tepi Tebing Keraton Buton

72

VII

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

DAFTAR ISTILAH
A Ake; nama simbol/dekorasi pada rumah adat Buton kamali/malige, banua kambero, bentuknya seperti patra (daun) B Baluara, bastion; pos jaga/kubu pertahanan yang berada di kiri dan kanan benteng kesultanan Buton Banguana kabelai; ritual pendirian tiang utama rumah adat Buton Banua; rumah Banua Kambero; bentuk rumah pejabat kesultanan Buton yang dibangun pada masa Kesultanan Buton, bentuk rumah sesuai dengan jabatan pemilik rumah di Kesultanan Buton. Banua Tada; bentuk rumah masyarakat umum yang dibangun pada masa Kesultanan Buton Baruga; balairung; bangunan yang merupakan tempat pertemuan. Batu Yi Gandangi; nama tempat pertama kali kata Wolio diucapkan oleh Sipanjonga, Batu Yi Gandangi maksudnya batu yang dipukulkan gendang, pada masa Kesultanan Buton tempat ini adalah tempat memandikan calon Sultan sebelum dilantik. Bhalo-bhalo bamba; jendela atau ventilasi yang letaknya pada bagian pintu Bonto; nama jabatan dalam struktur pemerintahan Kesultanan Buton Bonto Ogena; pejabat atau menteri besar dalam Kesultanan Buton Bosu-bosu; nama simbol/dekorasi pada rumah adat Buton kamali/malige, banua kambero. G Gogoli; suatu tata cara hukuman mati di Kesultanan Buton dengan cara leher dililitkan tali. H

VIII

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

Haroa; pesta, acara K Kabelai; tiang utama rumah pada rumah adat Buton Kamali/malige; rumah atau istana kediaman Sultan Buton. Kamba; kembang nama simbol/dekorasi pada rumah adat Buton kamali/malige, banua kambero, bentuknya seperti kelopak teratai bunga matahari. Kambero; kipas, tiang-tiang penyangga pada rumah malige/kamali. Kamboru-mboru talu palena; simbol tiga kelompok bangsawan yang berhak menjadi Sultan Buton. Kampua;nama mata uang Kesultanan Buton Kenepulu; pejabat/sekretaris perdana menteri Kesultanan Buton Kaomu; nama strata sosial kebangsawana Kesultanan Buton Kapitalao; pejabat/menteri pertahanan Kesultanan Buton Kolemiana Banua; ritual sebelum menghuni rumah baru Kotika; penentuan hari atau waktu L Lawa, lawana ; pintu gerbang, pintu gerbang pada benteng kesultanan Buton yang berjumlah 12 buah. Limbaisiana Banua; ritual menempati rumah baru M Martabat Tujuh; Undang-undang Dasar Kesultanan Buton yang di buat pada masa Sultan Dayanu Ikhsanuddin (Sultan Ke empat). Mia Patamiana; (kelompok empat orang) pelayar dari negeri melayu yaitu Sipanjonga, Simalui, Sitamanajo, Sijawangkati P Pancaloga; lima jenis logam (emas, perak, besi, tembaga dan perunggu) yang di pakai pada ritual pendirian tiang utama rumah adat Buton

IX

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

Pasana tutumbu; proses pemasangan tiang utama rangka atap rumah adat Buton Patalimbo; empat kampung yaitu Gundu-Gundu, Barangkatopa, Peropa dan Baluwu. Patalimbona; kesatuan pemimpin empat kampung yaitu Gundu-Gundu, Barangkatopa, Peropa dan Baluwu, pemimpin kampung ini disebut bonto Pepali; tabu R Rasi; hitung-hitungan nama atau hari kelahiran orang pada ritual penentuan hari atau waktu (kotika) pada masyarakat Buton S Sandi; pondasi Sapati; pejabat/menteri Kesultanan Buton, yang posisinya dibawah satu tingkat posisi Sultan Siolimbona; lembaga legislatif yang berjumlah sembilan orang Sombuana kayu; ritual pemahatan pertama pada tiang utama rumah adat Buton T Tunggu Weti; pejabat pemungut pajak pasa masa Kesultanan Buton Tutumbu; tiang utama rangka atap pada rumah adat Buton Tuturangina tanah; ritual yang dilakukan untuk menentukan lokasi rumah W Walaka; nama strata sosial kebangsawana Kesultanan Buton Welia atau wolio; nama awal kampung tradisional di dalam benteng sebelum berdirinya Kerajaan Buton

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Arsitektur hadir sebagai hasil persepsi masyarakat yang memiliki berbagai kebutuhan. Untuk itu, arsitektur adalah wujud kebudayaan yang berlaku di masyarakatnya, sehingga perkembangan arsitektur tidak dapat dipisahkan dari perkembangan kebudayaan masyarakat itu sendiri. Pada saat ini, ketika perkembangan budaya dan peradaban sudah sedemikian maju, maka perkembangan arsitektur terutama di Indonesia nampak berjalan mulus tanpa ada saringan yang cenderung menghilangkan jatidiri. Arsitektur tradisional di nusantara berkembang mencapai bentuknya yang sekarang melalui proses dalam kurun waktu lama dan sukar di-ketahui secara pasti sejarah dan konsep-konsep bentuk bangunannya karena diturunkan dari generasi ke generasi tanpa peninggalan baik berupa gambar maupun tulisan. Demikian juga konsep-konsep pola pikir yang abstrak, ke-percayaan, budaya, adat istiadat, iklim, lingkungan dan lain-lain. Arsitek sebagai salah satu penentu arah perkembangan asitektur di Indonesia dituntut untuk lebih aktif berperan dalam menentukan arah dengan pemahaman terhadap nilai dan norma yang hidup di masyarakat sebagai tolok ukurnya. Selain itu, diperlukan pula kreativitas untuk menjabarkan rambu-rambu tradisional sebagai suatu konsep yang telah lama dimiliki masyarakat ke dalam bentuk-bentuk yang akrab dengan lingkungan dan mudah dicerna apa makna serta pesan yang akan disampaikan. Olehnya pada kesempatan kali ini penulis akan mengangkat, mengkaji, mempelajari dan memaparkan salah satu Arsitektur Tradisional Indonesia yang berlokasi di daerah Buton Jazirah Tenggara Pulau Sulawesi. yaitu, ARSITEKTUR KERATON BUTON

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

1.2.

Rumusan Permasalahan Kemajuan di bidang arsitektur selalu menunjuk pada hal-hal yang

bersifat konkrit dengan konsep yang jelas. Sebaliknya tradisional seperti arsitektur tradisional menunjuk pada hal-hal yang bersifat abstrak, spiritual dan bahkan kental oleh pengaruh kebudayaan. Suku Walio, sebuah

kelompok etnik yang tinggal disebelah tenggara jazirah pulau Sulawesi, yang mempunyai bentuk arsitektur tradisional yang unik dan indah, yang merupakan ekspresi dari ajaran tasawuf, kepercayaan dan kebudayaan setempat diekspresikan dalam Arsitektur di Keraton Buton, baik dalam tata letak, orientasi, konstruksi, material bangunan, detail, ornamen dan aspekaspek arsitektur lainnya. Dengan mengacu pada Kebudayaan Dan Arsitektur Keraton Buton yang ada penulis mengangkat permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan makalah ini adalah: Apa pengaruh kebudayaan dan

kepercayaan

masyarakat Suku Walio ( Buton ) terhadap Arsitektur di

Keraton Buton serta detail-detail pada bangunan tersebut ?.

1.3.

Tujuan Dan Sasaran

1.3.1. Tujuan Penulisan Berangkat dari permasalahan yang telah diungkapkan, maka yang menjadi tujuan penulisan makalah ini adalah mengkaji pengaruh kebudayaan terhadap arsitektur di Keraton Buton dan detail-detail arsitektural pada bangunan tersebut. 1.3.2. Sasaran Penulisan Sedangkan sasaran yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Mengkaji beberapa pengertian arsitektur yang berkembang di masyarakat dulu.

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

2. Mengkaji proses kehidupan masyarakat, sejarah, kepercayaan dan sosial budaya Suku Walio.di Pulau Buton. 3. Mengkaji arsitektur dan struktuk rumah dan bangunan adat Suku Walio ( Buton ).

1.4.

Manfaat Penulisan Seluruh hasil yang didapat dari penulisan makalah ini baik rumusan-

rumusan, pembuktian teori ataupun temuan-temuan tertentu diharapkan: 1. Dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan dipergunakan untuk kemungkinan penelitian lebih lanjut tentang arsitektur tradisional di Keraton Buton. 2. Dapat memberikan pengetahuan tentang pengaruh kebudayaan dan kepercayaan leluhur Suku Walio terhadap arsitektur di Keraton Buton. 3. Dapat mengaspirasi masyarakat terutam arsitek tentang pentingnya arsitektur tradisional sehingga mencegah kemungkinan hilangnya ciri khas budaya lokal. 4. Dapat memberikan informasi bahwa di Kota Bau-Bau terdapat permukiman tradisional yang dapat dijadikan sebagai objek wisata.

1.5.

Ruang Lingkup Penulisan

1.5.1. Ruang lingkup wilayah Ruang lingkup wilayah studi dalam penulisan makalah ini adalah permukiman tradisional Suku Wolio di Kelurahan Melai Kota Baubau yang dikelilingi oleh benteng peninggalan Kesultanan Buton. Dasar pemilihan lokasi disebabkan daerah ini merupakan bagian pusat pemerintahan Kesultanan Buton yang banyak menyimpan sejarah yang mempunyai keunikan dan ciri khas arsitektur bangunan yang tidak dimiliki oleh daerah atau kawasan tradisional lain.

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

1.5.2. Ruang lingkup materi 1. Lokasi, Sejarah, kepercayaan, dan sosial budaya masyarakat buton. 2. Untuk mengetahui seberapa jauh pengaruhnya kebudayaan leluhur masyarakat Buton terhadap perkembangan arsitektur tradisional di Keraton Buton. 3. Peranan konsep tasawuf dalam proses pembangunan rumah oleh masyarakat Buton. 4. Detail-detail arsitektutal dan struktur rumah adat Suku Walio serta kepercayaan dalam pembangunan dan bentuk rumah tersebut. 5. Bangunan-bangunan di kawasan Keraton Buton.

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Wujud arsitektur bukan merupakan hasil seni yang bebas kehendaknya dan melukis untuk dirinya sendiri. Akan tetapi, seni arsitektur merupakan seni yang terikat oleh kaidah-kaidah tertentu sebagai seni terapan terlebih pada arsitektur yang berkembang pada masyarkat terdahulu sangat sarat akan nilai-nilai kepercayaan dan kebudayaan yg dipengaruhi oleh keadaan alam daerah tersebut - termasuk di dalamnya Keraton Buton - yang mampu dinikmati semua pihak, menjadi milik masyarakat, bangsa dan para pengamat yang berhak menikmati karya arsitektur setempat (bukan impor dari luar). Oleh karnanya disini penulis memaparkan bentuk dan jenis arsitektur yang berkembang di masyarakat Indonesia dahulu sebelum di temukannya rumusan-rumusan disiplin ilmu arsitektur. Dengan demikian kita dapat memahami kembali bahwasanya arsitektur dahulu sarat akan nilai-nilai dan makna dibalik karyanya. Jenis-jenis arsitektur tersebut adalah : 1. Arsitektur Tradisional 2. Arsitektur Nusantara 3. Arsitektur Rakyat 4. Arsitektur Vernacular

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

1.1.

Arsitektur Tradisional

Sumber : Banua Tada Rumah Tradisional Suku Wolio di Sulawesi Tenggara Melayu Online

Gambar 2.1. Rumah Tradisional Malige - Buton

Pengertian Dan Definisi Menurut Dhanao Iswanto (2006), Arsitektur tradisional merupakan ilmu yang memiliki berbagai dasar-dasar falsafat, ekologi, teknologi, estetik, tata laksana, tata ritual, sosiologi, dan sebagainya secara lengkap dan menyeluruh dan terperinci. Berbagai arsitektur tradisional yang telah melembaga dengan mantap dan utuh, pada umumnya mengandung pengetahuan dan pengertian yang sangat mendalam dan luas mengenai tata ruang waktu bagi kehidupan manusia di akherat. Menurut Amos Rapoport (1960), Arsitektur tradisional merupakan bentukan arsitektur yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mempelajari bangunan tradisional berarti mempelajari tradisi masyarakat yang lebih dari sekadar tradisi membangun secara fisik. Masyarakat tradisional terikat dengan adat yang menjadi konsesi dalam hidup bersama.

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

Bruce

Allsop

(1980)

Arsitektur

Tradisional

mendasarkan

pemahamannya pada arsitektur sebagai cerminan budaya & kepercayaan, yang dibuat dengan cara yang sama secara turun temurun dengan tanpa perubahan. Jadi, Arsitektur tradisional adalah arsitektur yang lahir dengan kepercayaan etnik suatu daerah yang kental dan bergantung pada alam dibuat dengan cara yang sama secara turun temurun dengan sedikit atau tanpa adanya perubahan-perubahan yang signifikan pada bangunan tersebut. Contoh arsitektur tradisional : a. Rumah Tradisional Suku Walio (Buton) Sulawesi Tenggara. b. Rumah Tradisional Gadang Sumatera Barat c. Rumah Tradisional Betang Kalimantan Barat

Sumber : http://melayu-online/rumah-adat-padang.

Gambar 2.2. Rumah Tradisional Gadang Sumatera Barat

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

1.2.

Arsitektur Nusantara

Sumber : http://melayu-online/rumah-adat-tongkonan-sulawesi-tenggara.

Gambar 2.3. Rumah Tradisional Tongkonan Sulawesi Selatan Pengertian dan definisi Menurut Prof. Josef Prijotomo ,Arsitektur Nusantara itu berbeda dari arsitektur tradisional. Arsitektur Nusantara mendasarkan pemahamannya atas arsitektur anak bangsa Nusantara pada pertama, kenyataan geoklimatik (kepulauan dan tropik lembab) serta yang kedua adalah kenyataan tradisi tanpa tulisan. Di sini ihwal adat hingga upacara dan artefak menjadi rekaman-rekaman pengetahuan arsitektur. Sementara itu, arsitektur tradisional mendasarkan pemahamannya pada arsitektur sebagai cerminan budaya/kebudayaan, sebuah dasar yang tanpa disadari ternyata adalah ranah kajian budaya dan antropologi. Arsitektur Nusantara adalah arsitektur tradisional yang merupakan warisan para leluhur dan tersebar dari Sabang hingga Meraoke Eksistensinya di beberapa wilayah telah menghilang dimakan waktu, mahal, rumit, dan juga akibat perubahan sikap manusia.

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

Jadi, arsitektur nusantara adalah arsitektur tradisional yang merupakan warisan para leluhur dan tersebar dari Sabang hingga Meraoke berdasarkan kenyataan alam nusantara yaitu iklim tropis dan lembab serta pepulauan. Contoh Arsitektur Nusantara : a. Rumah Tradisional Tongkonan Sulawesi Selatan b. Rumah Tradisional Sasak Lombok c. Dan seluruh rumah tradisional di nusantara

1.3.

Arsitektur Rakyat

Sumber : borzoi book, by Alfred A. Knopf, Inc NY

Gambar 2.4. Rumah Tradisional Bali Pengertian dan definisi Menurut Bruce allshop (1980), Karya arsitektur yang berkembang di masyarakat atas dasar pertimbangan lingkungan / iklim setempat. Menurut Glen Balk, Folk architecture is a concrete living environment that people create for themselves. We can also define it as an architecture that has occurred in an anonymous design process which has

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

become traditional under some general factors.(Arsitektur Rakyat adalah lingkungan hidup nyata bahwa orang menciptakan untuk diri mereka sendiri. Kita juga bisa mendefinisikannya sebagai arsitektur yang telah terjadi dalam proses desain tanpa nama yang telah menjadi tradisional di bawah beberapa faktor umum.) Arsitektur Rakyat sering digunakan untuk melukiskan perbedaan antara arsitektur populer atau landmark dan hampir identik dengan istilah "arsitektur vernakular" dan "arsitektur tradisional." Oleh karena itu, arsitektur rakyat termasuk tempat tinggal, tempat ibadah, lumbung pangan, dan struktur lainnya yang dirancang dan dibangun tanpa bantuan arsitek resmi terdidik dan terlatih secara profesional. Arsitektur Rakyat cenderung berfaedah dan konservatif, yang mencerminkan kebutuhan khusus, ekonomi, adat istiadat, dan keyakinan dari suatu komunitas tertentu. Arsitektur rakyat juga mewakili kebijaksanaan kumulatif masyarakat tentang solusi untuk masalah tertentu. Untuk alasan ini, tradisi arsitektur rakyat yang organik telah berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan prioritas rakyat dan nilai-nilai atau untuk mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh pengaturan alam tertentu. Memang, salah satu kualitas yang paling penting dari arsitektur rakyat menyangkut karakter ekologis tersebut. Artinya, rakyat hunian dan struktur yang disesuaikan dengan lingkungan lokal dan biasanya mencerminkan karakteristik alami dari suatu tempat atau daerah. Pada arsitektur rakyat secara umum paling sering dikaitkan dengan lokasi kota atau pedesaan. ( Terjemahan dari artikel barbahasa inggris oleh Oklahoma Historical Society) Jadi, Arsitektur rakyat adalah Lingkungan hidup yang diciptakan oleh rakyat sendiri berdasarkan pertimbangan iklim dan lingkungan lokal yang mencerminkan karakter alami daerah tersebut dan dibangun oleh arsitek lokal tanpa pendidikan khusus.

10

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

Contoh Arsitektrur Rakyat : a. Rumah Tradisiaonal Bali b. Rumah Tradisional NTT c. Pemukiman Tradisional

Sumber : http://melayu-online/suku-sasak

Gambar 2.5. Rumah Tradisional - NTT

Sumber : google picture perumahan tradisiona

Gambar 2.6. Rumah Masyarakat Tradisional

11

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

1.4.

Arsitektur Vernakular

Sumber : google picture arsitektur vernakular

Gambar 2.7. Rumah Masyarakat Tradisional Amerika Pengertian Dan Definisi Menurut Bruce allshop (1980), Arsitektur yang dikembangkan oleh tukang atas dasar pengalamannya Arsitektur vernakular adalah arsitektur yang terbentuk dari proses yang berangsur lama dan berulang-ulang sesuai dengan perilaku, kebiasaan, dan kebudayaan di tempat asalnya. Vernakular, berasal dari vernacullus yang berarti lokal, pribumi. Pembentukan arsitektur berangsur dengan sangat lama sehingga sikap bentuknya akan mengakar. - Wikipedia Menurut Vernacular Architecture book Turan, Arsitektur Vernakular adalah arsitektur yang tumbuh dan berkembang dari arsitektur rakyat yang lahir dari masyarakat etnik dan berjangkar pada tradisi etnik, serta dibangun oleh tukang berdasarkan pengalaman (trial and error), menggunakan teknik dan material lokal serta merupakan jawaban atas setting lingkungan tempat

12

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

bangunan tersebut berada dan selalu membuka untuk terjadinya transformasi. Menurut Ade Sahroni (2012), Arsitektur vernakular adalah arsitektur yang tumbuh dan berkembang dari arsitektur rakyat yang lahir dari masyarakat etnik dan berakar pada tradisi etnik, serta dibangun oleh tukang berdasarkan pengalaman (trial and error), menggunakan teknik dan material lokal serta merupakan jawaban atas setting lingkungan tempat bangunan tersebut berada dan selalu membuka untuk terjadinya transformasi. Jadi, Arsitektur Vernakular adalah arsitektur yang lahir dari proses yang lama dan berulang berdasarkan tradisi etnik daerah tersebut yang dibangun berdasarkan pengalaman tukangnya. Contoh Arsitektur Vernakular : a. Rumah Tradisional Aceh. b. Rumah Tradisional Machiya Jepang c. Rumah Masyarakat Amerika

Sumber : google picture arsitektur vernkular indonesia

Gambar 2.8. Rumah Tradisional Aceh

13

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

BAB III TINJAUAN ARSITEKTUR


3.1. Lokasi

Sumber : http://old. kaskus.co.id/showthread.php?t=2996730

Gambar 3.1. Lokasi Kerajaan/Keraton Buton

Rumah Adat Malige terletak di Kota Bau-Bau, Sulawesi tenggara. Pulau Buton (Pulau Baubau) secara geografis merupakan kawasan timur jazirah tenggara Pulau Celebes/Sulawesi.

14

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

3.2.

Sejarah

3.2.1. Sejarah Awal Sebagai sebuah negeri, keberadaan Buton tercatat dalam Negara Kertagama karya Mpu Prapanca pada tahun 1365 M. Dalam naskah kuno itu, negeri Buton disebut dengan nama Butuni. Digambarkan, Butuni merupakan sebuah desa tempat tinggal para resi yag dilengkapi taman, lingga dan saluran air. Rajanya bergelar Yang Mulia Mahaguru.

Sumber : http://old. kaskus.co.id/showthread.php?t=2996730

Gambar 3.2. Kehidupan Masyarakat Buton Pada Zaman Dahulu Dalam sejarahnya, cikal bakal Buton sebagai negeri telah dirintis oleh empat orang yang disebut dengan Mia Patamiana. Mereka adalah: Sipanjonga, Simalui, Sitamanajo, Sijawangkati. Menurut sumber sejarah lisan Buton, empat orang pendiri negeri ini berasal dari Semenanjung Melayu yang datang ke Buton pada akhir abad ke-13 M. Empat orang (Mia Patamiana) tersebut terbaagi dalam dua kelompok: Sipanjongan dan Sijawangkati; Simalui dan Sitamanajo. Kelompok pertama beserta para pengikutnya menguasai daerah Gundu-Gundu, sementara kelompok kedua dengan para pengikutnya menguasai daerah Barangkatopa. Sipanjongan

15

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

dan para pengikutnya meninggalkan tanah asal di Semenanjung Melayu menuju kawasan timur dengan menggunakan sebuah perahu palolang pada bulan Syaban 634 Hijriyah (1236 M). Dalam perjalanan itu, mereka singgah pertama kalinya di pulau Malalang, terus ke Kalaotoa dan akhirnya sampai di Buton, mendarat di daerah Kalampa. Kemudian mereka mengibarkan bendera Kerajaan Melayu yang disebut bendera LongaLonga. Ketika Buton berdiri, bendera Longa-Longa ini dipakai sebagai bendera resmi di kerajaan Buton. Sementara Simalui dan para pengikutnya diceritakan mendarat di Teluk Bumbu, sekarang masuk dalam daerah Wakarumba. Pola hidup mereka berpindah-pindah hingga akhirnya berjumpa dengan kelompok Sipanjonga. Akhirnya, terjadilah percampuran melalui perkawinan. Sipanjonga menikah dengan Sibaana, saudara Simalui dan memiliki seorang putera yang bernama Betoambari. Setelah dewasa, Betoambari menikah dengan Wasigirina, putri Raja Kamaru. Dari perkawinan ini, kemudian lahir seorang anak bernama Sangariarana. Seiring perjalanan, Betoambari kemudian menjadi penguasa daerah Peropa, dan Sangariarana menguasai daerah Baluwu. Dengan

terbentuknya desa Peropa dan Baluwu, berarti telah ada empat desa yang memiliki ikatan kekerabatan, yaitu: Gundu-Gundu, Barangkatopa, Peropa dan Baluwu. Keempat desa ini kemudian disebut Empat Limbo, dan para pimpinannya disebut Bonto. Kesatuan keempat pemimpin desa (Bonto) ini disebut Patalimbona. Mereka inilah yang berwenang memilih dan mengangkat seorang Raja. Selain empat Limbo di atas, di pulau Buton juga telah berdiri beberapa kerajaan kecil yaitu: Tobe-Tobe, Kamaru, Wabula, Todanga dan Batauga. Seiring perjalanan sejarah, kerajaan-kerajaan kecil dan empat Limbo di atas kemudian bergabung dan membentuk sebuah kerajaan baru, dengan nama kerajaan Buton. Saat itu, kerajaan-kerajaan kecil tersebut memilih seorang wanita yang bernama Wa Kaa Kaa sebagai raja. Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1332 M.

16

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

Berkaitan dengan asal-usul nama Buton, menurut tradisi lokal berasal dari Butu, sejenis pohon beringin (barringtonia asiatica). Penduduk setempat menerima penyebutan ini sebagai penanda dari para pelaut nusantara yang sering singgah di pulau itu. Diperkirakan, nama ini telah ada sebelum Majapahit datang menaklukkannya. Dalam surat-menyurat, kerajaan ini menyebut dirinya Butuni, orang Bugis menyebutnya Butung, dan Belanda menyebutnya Buton. Selain itu, dalam arsip Belanda, negeri ini juga dicatat dengan nama Butong (Bouthong). Ketika Islam masuk, ada usaha untuk mengkaitkan nama Buton ini dengan bahasa Arab. Dikatakan, nama Buton berasal dari kata Arab bathni atau bathin, yang berarti perut atau kandungan.

3.2.2. Kerajaan Buton Dan Kesultanan Islam Buton Dengan naiknya Wa Kaa Kaa sebagai rajaputri, Kerajaan Buton semakin berkembang hingga Islam masuk ke Buton melalui Ternate pada pertengahan abad ke-16 M. Selama masa pra Islam, di Buton telah berkuasa enam orang raja, dua di antaranya perempuan. Perubahan Buton menjadi kesultanan terjadi pada tahun 1542 M (948 H), bersamaan dengan pelantikan Lakilaponto sebagai Sultan Buton pertama, dengan gelar Sultan Murhum Kaimuddin Khalifatul Khamis.

Sumber : http://old. kaskus.co.id/showthread.php?t=2996730

Gambar 3.3. Sultan Pertama Buton Para Bangsawan

17

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

Setelah Raja Lakilaponto masuk Islam, kerajaan Buton semakin berkembang dan mencapai masa kejayaan pada abad ke 17 M. Ikatan kerajaan dengan agama Islam sangat erat, terutama dengan unsur-unsur sufistik. Undang-undang Kerajaan Buton disebut dengan Murtabat Tujuh, suatu terma yang sangat populer dalam tasawuf. Undang-undang ini mengatur tugas, fungsi dan kedudukan perangkat kesultanan. Di masa ini juga, Buton memiliki relasi yang baik dengan Luwu, Konawe, Muna dan Majapahit.

3.2.3. Silsilah Berikut ini daftar raja dan sultan yang pernah berkuasa di Buton. Gelar raja menunjukkan periode pra Islam, sementara gelar sultan menunjukkan periode Islam.

Sumber : http://old. kaskus.co.id/showthread.php?t=2996730

Gambar 3.4. Sultan Dan Para Bangsawan Raja-raja : 1. Rajaputri Wa Kaa Kaa 2. Rajaputri Bulawambona 3. Raja Bataraguru 4. Raja Tuarade 5. Rajamulae 6. Raja Murhum

18

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

Sultan-sultan : 1. Sultan Murhum (1491-1537 M) 2. Sultan La Tumparasi (1545-1552) 3. Sultan La Sangaji (1566-1570 M) 4. Sultan La Elangi (1578-1615 M) 5. Sultan La Balawo (1617-1619) 6. Sultan La Buke (1632-1645) 7. Sultan La Saparagau (1645-1646 M) 8. Sultan La Cila (1647-1654 M) 9. Sultan La Awu (1654-1664 M) 10. Sultan La Simbata (1664-1669 M) 11. Sultan La Tangkaraja (1669-1680 M) 12. Sultan La Tumpamana (1680-1689 M) 13. Sultan La Umati (1689-1697 M) 14. Sultan La Dini (1697-1702 M) 15. Sultan La Rabaenga (1702 M) 16. Sultan La Sadaha (1702-1709 M) 17. Sultan La Ibi (1709-1711 M) 18. Sultan La Tumparasi (1711-1712M) 19. Sultan Langkariri (1712-1750 M) 20. Sultan La Karambau (1750-1752 M) 21. Sultan Hamim (1752-1759 M) 22. Sultan La Seha (1759-1760 M) 23. Sultan La Karambau (1760-1763 M) 24. Sultan La Jampi (1763-1788 M) 25. Sultan La Masalalamu (1788-1791 M) 26. Sultan La Kopuru (1791-1799 M) 27. Sultan La Badaru (1799-1823 M) 28. Sultan La Dani (1823-1824 M) 29. Sultan Muh. Idrus (1824-1851 M)

19

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

30. Sultan Muh. Isa (1851-1861 M) 31. Sultan Muh. Salihi (1871-1886 M) 32. Sultan Muh. Umar (1886-1906 M) 33. Sultan Muh. Asikin (1906-1911 M) 34. Sultan Muh. Husain (1914 M) 35. Sultan Muh. Ali (1918-1921 M) 36. Sultan Muh. Saifu (1922-1924 M) 37. Sultan Muh. Hamidi (1928-1937 M) 38. Sultan Muh. Falihi (1937-1960 M).

3.2.4. Periode Pemerintahan Era pra Islam Kerajaan Buton berlangsung dari tahun 1332 hingga 1542 M. Selama rentang waktu ini, Buton diperintah oleh enam orang raja. Sementara periode Islam berlangsung dari tahun 1542 hingga 1960 M. Selama rentang waktu ini, telah berkuasa 38 orang raja. Sultan terakhir yang berkuasa di Buton adalah Muhammad Falihi Kaimuddin.

Kekuasaannya berakhir pada tahun 1960 M.

Sumber : http://old. kaskus.co.id/showthread.php?t=2996730

Gambar 3.5. Pertemuan Presiden Soekarno dengan Sultan Muh. Falihi

20

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

3.2.5. Wilayah Kekuasaan Kekuasaan Kerajaan Buton meliputi seluruh Pulau Buton dan beberapa pulau yang terdapat di Sulawesi.

3.2.6. Struktur Pemerintahan Kekuasasan tertinggi di Kerajaan Buton dipegang oleh sultan. Struktur kekuasaan di kesultanan ditopang oleh dua golongan bangsawan: kaomu dan walaka. Walaka adalah golongan yang memegang adat dan pengawas pemerintahan yang dijalankan oleh sultan. Wewenang pemilihan dan pengangkatan sultan berada di tangan golongan Walaka, namun, sultan harus berasal dari golongan kaomu. Untuk mempermudah jalannya pemerintahan, Buton menjalankan sistem desentralisasi dengan

membentuk 72 wilayah kecil yang disebut kadie. Beberapa jabatan yang ada di struktur pemerintahan Buton adalah bontona (menteri), menteri besar, bonto, kepala Siolimbona dan sekretaris sultan.

3.2.7. Kehidupan Sosial Budaya Pada Zaman Kesultanan Buton Sebagai kerajaan Islam yang tumbuh dari hasil transmisi ajaran Islam di Nusantara, maka kerajaan Buton juga sangat dipengaruhi oleh model kebudayaan Islam yang berkembang di Nusantara, terutama dari tradisi tulis-menulis. Bahkan, dari peninggalan tertulis yang ada, naskah peninggalan Buton jauh lebih banyak dibanding naskah Ternate, negeri darimana Islam di Buton berasal. Peninggalan naskah Buton sangat berarti unutk mengungkap sejarah negeri ini, dan dari segi lain, keberadaan naskah-naskah ini menunjukkan bahwa kebudayaan Buton telah

berkembang dengan baik. Naskah-naskah tersebut mencakup bidang hukum, sejarah, silsilah, upacara dan adat, obat-obatan, primbon, bahasa dan hikayat yang ditulis dalam huruf Arab, Buri Wolio dan Jawi. Bahasa yang digunakan adalah Arab, Melayu dan Wolio. Selain itu, juga terdapat naskah yang berisi surat menyurat antara Sultan Buton dengan VOC Belanda.

21

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

Kehidupan di bidang hukum berjalan denga baik tanpa diskriminasi. Siapapun yang bersalah, dari rakyat jelata hingga sultan akan menerima hukuman. Sebagai bukti, dari 38 orang sultan yang pernah berkuasa di Buton, 12 di antaranya mendapat hukuman karena melanggar sumpah jabatan. Satu di antaranya, yaitu Sultan ke-8, Mardan Ali (La Cila) dihukum mati dengan cara digogoli (dililit lehernya dengan tali sampai mati). Dalam bidang ekonomi, kehidupan berjalan dengan baik berkat relasi perdagangan dengan negeri sekitarnya. Dalam negeri Buton sendiri, telah berkembang suatu sistem perpajakan sebagai sumber pendapatan kerajaan. Jabatan yang berwenang memungut pajak di daerah kecil adalah tunggu weti. Dalam perkembangannya, kemudian tejadi perubahan, dan jabatan ini ditingkatkan statusnya menjadi Bonto Ogena. Dengan perubahan ini, maka Bonto Ogena tidak hanya berwenang dalam urusan perpajakan, tapi juga sebagai kepala Siolimbona (lembaga legislatif saat itu). Sebagai alat tukar dalam aktifitas ekonomi, Buton telah memiliki mata uang yang disebut Kampua. Panjang Kampua adalah 17,5 cm, dan lebarnya 8 cm, terbuat dari kapas, dipintal menjadi benang kemudian ditenun menjadi kain secara tradisional.

Sumber : http://old. kaskus.co.id/showthread.php?t=2996730

Gambar 3.6. Alat Tukar Uang ( Kampua ) Ketika Zaman Kesultanan

22

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

Pada umumnya, ada empat prinsip yang dipegang teguh oleh masyarakat Buton dalam kehidupan sehari-hari saat itu yakni: 1. Yinda Yindamo Arata somanamo Karo (Harta rela dikorbankan demi keselamatan diri) 2. Yinda Yindamo Karo somanamo Lipu (Diri rela dikorbankan demi keselamatan negeri)

3. Yinda Yindamo Lipu somanamo Sara (Negeri rela dikorbankan demi keselamatan pemerintah). 4. Yinda Yindamo Sara somanamo Agama (Pemerintah rela dikorbankan demi keselamatan agama)

Sumber : http://old. kaskus.co.id/showthread.php?t=2996730

Gambar 3.7. Arah Perdagangan Jalur Strategis Pelayaran Buton adalah sebuah negeri yang berbentuk pulau dengan letak strategis di jalur pelayaran yang menghubungkan pulau-pulau penghasil rempah di kawasan timur, dengan para pedagang yang berasal dari

23

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

kawasan barat Nusantara. Karena posisinya ini, Buton sangat rawan terhadap ancaman eksternal, baik dari bajak laut maupun kerajaan asing yang ingin menaklukkannya. Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, maka kemudian dibentuk sistem pertahanan yang berlapis-lapis. Lapis pertama ditangani oleh empat Barata, yaitu Wuna, Tiworo, Kulisusu dan Kaledupa. Lapis kedua ditangani oleh empat Matana Sorumba, yaitu Wabula, Lapandewa, Watumotobe dan Mawasangka, sementara lapis ketiga ditangani oleh empat orang Bhisa Patamiana (pertahanan kebatinan). Untuk memperkuat sistem pertahanan berlapis tersebut, kemudian dibangun benteng dan kubu-kubu pertahanan. Pembangunan benteng dimulai pada tahun 1634 oleh Sultan Buton ke-6, La Buke. Tembok keliling benteng panjangnya 2.740 meter, melindungi area seluas 401.900 meter persegi. Tembok benteng memiliki ketebalan 1-2 meter dan ketinggian antara 2-8 meter, dilengkapi dengan 16 bastion dan 12 pintu gerbang. Lokasi benteng berada di daerah perbukitan berjarak sekitar 3 kilometer dari pantai. Sepanjang era kesultanan, ada 38 sultan yang memerintah. Tahun 1960 Kesultanan Buton dihapus oleh pemerintahan Republik Indonesia atas nama NKRI. Saat itu Kesultanan Buton dipimpin oleh Sultan Muhamad Falihi Kaimuddin. Demikianlah deskripsi ringkas mengenai Kerajaan Buton. Saat ini, di bekas wilayah kerajaan ini, telah berdiri beberapa kabupaten dan kota yaitu: Kabupaten Buton, Kabupaten Muna, Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Bombana dan Kota BauBau. Kota Bau-bau ini merupakan pusat Kerajaan Buton pada masa dulu. Hingga saat ini, masih tersisa peninggalan kerajaan, di antaranya bangunan istana. Sumber: melayuonline.

Sumber : http://old. kaskus.co.id/showthread.php?t=2996730

24

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

3.3.

Penduduk Jumlah Penduduk Kerajaan Tahun 1877 Di Bawah 100.000 Jiwa

Dan tahun 1997 Menjadi 306.308 Jiwa.

Sumber : http://old. kaskus.co.id/showthread.php?t=2996730

Gambar 3.8. Arah Perdagangan Jalur Strategis Pelayaran Stuktur Penduduk Kerajaan Terdiri Atas Tiga Golongan : 1. Kaum Bangsawan Yaitu Lalaki 2. Kaum Walaka Dan 3. Kaum Papara

3.4. Agama Hampir semua orang Wolio beragama Islam. Namun, terdapat kepercayaan terhadap roh-roh. Selain itu, di tingkat pusat juga dikenal suatu aliran yang disebut Sufi. Melalui ajaran Sufi ini, mereka melakukan meditasi untuk mencari visi dari Allah atau mencari hal-hal yang tersembunyi di luar akal mereka. Reinkarnasi juga dipercaya oleh banyak dari mereka sebagai akibat dari ajaran Hindu yang masih melekat. Roh-roh jahat yang dapat menimbulkan penyakit, roh-roh penolong yang dapat memberikan petunjukpetunjuk adalah roh-roh yang mereka percayai. Selain itu mereka juga

25

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

percaya adanya roh para leluhur yang dapat menolong atau dapat menimbulkan penyakit tergantung dari tingkah laku/kebiasaan mereka. Pengaruh Hindu dimanifestasikan dalam pola dan hirarki ruang diwujudkan pada manusia itu sendiri yaitu ruang bagian depan (bamba) diibaratkan kaki manusia. Ruang bagian tengah (tanga) diibaratkan badan manusia. Ruang belakang (suo) diibaratkan kepala manusia. Ruang sasambiri difungsikan sebagai rapu (dapur). Di bagian atas terdapat ruang pa (loteng) (Kadir, 2000). Tampak depan rumah tradisional Buton dianalogikan manusia sedang sholat dalam posisi berdiri. 3.5. Mata Pencaharian Orang Wolio membutuhkan lapangan pekerjaan yang dapat menghasilkan uang untuk membiayai hidup. Kendatipun tanah mereka subur, hasil pertanian dan juga non pertanian belum dapat meningkatkan perekonomian orang Wolio secara berarti. Keadaan geografis yang berupa kepulauan membutuhkan sarana perhubungan yang cukup memadai untuk memungkinkan mereka mengadakan kontak dengan dunia luar. Para nelayan membutuhkan ketrampilan menangkap ikan dan pengetahuan yang cukup untuk dapat meningkatkan produksi dan distribusi hasil laut daerah mereka yang terkenal seperti ikan tuna dan ikan ekor kuning di pulau Buton dan Muna. Selain itu, sikap haus ilmu orang Wolio memproyeksikan KEBUTUHAN pengajar dan pendidik yang dapat mengembangkan potensi dan wawasan mereka. 3.6. Sosial Budaya Di dalam perkampungan mereka umumnya terdapat pasar yang menjual hasil-hasil tenunan dari sutera, katun dan sejenisnya. Banyak kampung juga memiliki toko-toko kecil dan penjaja keliling, di mana hal ini terlihat dari gerobak-gerobak yang mereka buat sendiri untuk berjualan. Mata pencaharian utama suku Wolio adalah bertani, karena tanah yang mereka tempati sangatlah subur. Hasil pertanian tersebut antara lain beras,

26

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

jagung dan singkong. Banyak juga yang menjadi nelayan atau pembuat perahu. Perairan pulau Buton dan Mina kaya akan ikan tuna dan ikan ekor kuning. Tetapi sejak kesempatan untuk memperoleh penghasilan yang cukup di daerah terasa sulit, banyak dari mereka yang kemudian pergi meninggalkan pulau mereka dengan bekerja sebagai buruh di perusahanperusahaan dagang dalam jangka waktu yang lama.

Sumber : http://old. kaskus.co.id/showthread.php?t=2996730

Gambar 3.9. Rumah Adat Suku Walio Kebudayaan Buton Saat ini, banyak orang-orang Wolio asli yang tinggal di Indonesia bagian timur (Maluku dan Irian Jaya). Dalam masyarakat Wolio, laki-laki yang mencari nafkah, sedangkan wanita menyiapkan makan, melakukan pekerjaan rumah tangga, membuat barang-barang dari tanah liat, menenun dan menyimpan uang yang telah dikumpulkan oleh kaum laki-laki. Sejak dulu, orang Wolio juga sangat mementingkan pendidikan. Pendidikan yang baik terhadap anak laki-laki dan perempuan membuat mereka memiliki kesusasteraan yang maju. Tidak ketinggalan pula dalam hal mempelajari bahasa asing. Karena itu, saat ini mulai terlihat hasil-hasil kemajuan di bidang sosial. Perkawinan dalam kebudayaan Buton sudah bersifat monogami. Setelah menikah, pasangan akan tinggal di rumah keluarga wanita sampai sang suami anggup mendirikan rumah sendiri. Tanggup jawab

27

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

membesarkan anak ada di bahu ayah dan ibu. Rumah tempat tinggal suku Wolio didirikan di atas sebidang tanah dengan menggunakan papah yang kuat, dengan sedikit jendela dan langit-langit yang terbuat dari papan yang kecil dan daun kelapa. Etnik Buton sebutan bagi masyarakat yang berasal dari kerajaan dan kesultanan Buton, memiliki sejumlah bahasa yang berbeda tiap wilayah. Sebagai bahasa pemersatu digunakan Bahasa Wolio.Bahasa daerah dapat dikatakan pada setiap bagian desa terdapat adanya bahasa suku, namun yang menjadi bahasa kerajaan adalah bahasa wolio, sedangkan bahasa itu terdapat puluhan bahkan tidak kurang dari pada 200 bahasa suku. Dari sekian banyaknya dapat dibagi dalam empat kelompok yang utama masing-masing : 1. Bahasa Wuna; 2. Bahasa Cia-Cia; 3. Bahasa Tolaki dan; 4. Bahasa Wolio.

28

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

BAB IV ARSITEKTUR DAN STRUKTUR BANGUNAN


Kesultanan Buton merupakan kerajaan yang pada masa lalu masyhur dan berjaya di Nusantara. Bahkan berbagai sumber sejarah menyebutkan bahwa Kesultanan Buton tidak pernah dikuasai atau tunduk oleh kerajaan ataupun bangsa di dunia. Namun bukan berarti Kesultanan Buton menjadi sempit akan pengetahuan. Kesultanan Buton pada saat itu bersifat terbuka dan bersahabat kepada siapapun. Dengan demikian karya nyata peradaban manusia yang beraneka ragam juga dapat di jumpai di sini. Salah satu dari karya nyata peradaban tersebut, yang berhubungan erat dengan arsitektur, tentunya adalah rumah adat. Rumah adat Buton, yang merupakan rumah tempat tinggal suku Wolio, disebut dengan Banua Tada. Banua Tada berasal dari dua kata Banua dan Tada. Kata Banua dalam bahasa setempat berarti rumah sedangkan tada berarti siku, jadi Banua Tada adalah Rumah siku .

Sumber : http://orang_buton.com

Gambar 4.1. Rumah Kesultanan Buton Malige

29

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

4.1.

Asal-Usul Banua tada adalah rumah suku walio atau orang buton di kabupaten

buton. Kata banua dalam bahasa setempat berarti rumah sedangkan tada berarti siku. Jadi, banua tada dapat diartikan sebagai rumah siku. Berdasarkan status sosial penghuninya, struktur bangunan ini dapat dibedakan menjadi tiga yaitu Kamali, Banua Tada Tare Pata Pale, dan Banua Tada Tare Talu Pale. Kamali atau yang lebih dikenal dengan nama Malige berarti Mahligai atau istana, yaitu tempat tinggal raja atau sultan dan keluarganya. Banua Tada Tare Pata Pale yang berarti rumah siku bertiang empat adalah rumah tempat tinggal para pejabat atau pegawai istana. Sementara itu, Banua Tada Tare Talu Pale yang berati rumah siku bertiang tiga adalah rumah tinggal untuk orang biasa.

Sumber : foto dari PPT Malige House Of Sultan

Gambar 4.2. Maket Rumah Kesultanan Buton Malige Masyarakat luas lebih banyak mengenal Malige sebagai rumah adat masyarakat buton daripada kedua jenis rumah adat buton lainnya, yaitu Banua Tada Tare Pata Pale dan Banua Tada Tare Talu Pale. Hal ini dikarenakan Malige yang merupakan arsitektur peninggalan Kesultanan Buton sarat degan nilai-nilai dan kearifan budaya serta peradaban masyarakat Buton di masa lampau. Nilai-nilai itu dapat dipelajari dari pemaknaan simbol dan ragam hias pada bangunan tersebut. Fungsi dan

30

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

makna simbolis pada bangunan Malige banyak dipengaruhi oleh konsep dan ajaran tasawuf. Masyarakat buton pada saat itu menganggap pemilik Malige dalam hal ini Sultan adalah replika dari wajah tuhan (Allah) yang diwujudkan dalam bentuk Malige, baik secara kontruktif maupun dekoratif. Pengaruh konsep tasawuf pada bangunan Malige muncul sekitar pertengahan abad ke-16 M, yaitu sejak Raja Buton ke-6, Timbang Timbangan atau Lakilaponto atau Halu Oleo, memeluk agama Islam dan dilantik sebagai Sultan Buton yang pertama dengan gelar Murhum Kaimuddin Khalifatul. Terdapat perbedaan pendapat mengenai siapa ulama yang mengislamkan dan melantik Raja Lakilaponto menjadi Sultan. Ada pendapat yang mengatakan bahwa Raja Lakiponto diislamkan oleh ulama ahli tasawuf dari Negri Johor yang bernama Syekh Abdul Wahid Bin Syarif Sulaiman Al-Fathani. Pendapat lain mengatakan, Raja Buton ke-6 tersebut diislamkan dan dilantik menjadi sultan oleh Imam Fathani, yaitu guru dari Syekh Abdul Wahid Bin Syarif Sulaiman Al-Fathani. Pendapat yang terakhir ini lebih diyakini kebenarannya karena Syekh Abdul Wahid Bin Syarif Sulaiman dua kali datang ke Buton, yaitu tahun 1526 M dan tahun 1541 M. Pada kedatangannya yang kedua, ia disertai oleh gurunya yang bernama Imam Fathani. Menurut pendapat ini, Imam Fathani itulah yang mengislamkan lingkungan Istana Buton sekaligus melantik Raja Lakiponto sebagai Sultan Buton pertama dengan gelar Murhum. Kata Murhum diambil dari nama sebuah kampung di Patani yang bernama Kampung Parit Murhum. ( http://gundala69.wordpress.com ) Sultan Murhum Kaimuddin menempatkan ajaran tasawuf sebaga pijakan utama untuk mengatur seluruh sendi-sendi kehidupan negara dan masyarakatnya. Beliau bersama gurunya, Syekh abdul wahid bin syarif Sulaiman Al-Fathani, menerbitkan undang-undang Martabah tujuh yang sebagian berisi ajaran tentang penyucian akhlak sebagai undang-undang tertinggi di negeri itu (http://semua-tentangkehidupanku.blogspot.com). Selanjutnya , nilai-nilai ajaran tasawuf yang terkandung didalam undang-

31

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

undang tersebut diekspresikan baik dalam bentuk manuskrip maupun melalui simbol-simbol yang dilekatkan pada artefak-artefak, seperti pada Benteng Kesultanan (Benteng Wolio) maupun pada bangunan malige. 4.2. Filosofi Rumah adat suku walio atau orang buton, terutama pada bangunan malige, sangat kaya akan nilai-nilai filofosi dan kearifan lokal. Nilai-nilai tersebut diantaranya kedekatan dengan alam, nilai keyakinan, nilai sosial, dan nilai estetika. 1. Nilai Kedekatan Dengan Alam Nilai kesatuan dengan alam tercermin pada rumah adat buton

terlihata pada bahan-bahan bangunan yang digunakan. Semua bangunan tersebut terbuat dari bahan-bahan alami yang banyak tersedia di alam sekitar tempat tinggal suku walio. Nilai kesatuan dengan alam ini semakin jelas terlihat ketika mereka menggangap pemggunaan kayu sebagai bahan untuk tiang rumah dapat memberikan

kesejahteraan pada penghuninya. Hal ini juga terlihat pada symbolsimbol yang terkandung dalam ragam hias yang terdapat pada rumah adat ini. Motif-motif yang digunakan sebagian besar berasal dari alam. 2. Nilai Keyakinan Struktur bangunan rumah adat buton secara umum dipengaruhi oleh ajaran tasawuf. Hal ini menunjukkan bahwa dengan keyakinan dan pengetahuan yang mereka miliki, masyarakat buton dalam hal ini sultan murhum kaimuddin mampu mengekspresikan nilai-nilai keyakinannya (ajaran tasawuf) melalui bentuk bangunan sehingga terciptalah bangunan yang indah dan artistik bernama malige sebgai tempat tinggal. Struktur bangunan rumah tersebut secara umum juga mempengaruhi struktur bangunan rumah masyarakat buton.

32

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

3. Nilai Sosial Nilai social dalam rumah adat buton dapat dilihat dalam proses pembangunannya. Meskipun sebagian tenaga yang digunakan adalah tenaga upahan, namun sebagian pekerjaan pembuatan rumah adat tersebut dilakukan secara bergotong royong, terutama dalam proses pembangunan malige. Dalam pembangunan malige, seluruh tenaga kerja yang terlibat merupakan suatu kesatuan terorganisir mulai dari mahkamah syarah, sio lombo, saraginti, hingga pandempuu. Mereka selalu bekerja sama untuk membangunan rumah tempat tinggal raja mereka. Nilai social pada proses pembangunan rumah orang biasa juga dapat dilihat ketika para keluarga atau tetangga terdekat mereka secara bersama-sama membantu si calon pemilik rumah mencari bahan-bahan bangunan dari dalam hutan, membersihkan lokasi, mendirikan bangunan, dan memasang atap. Melalui kerjasama tersebut sifat solidaritas antar sesame masyarakat wolio akan terjalin dengan baik. 4. Nilai estetika Nilai estetika merupakan salah satu nilai yang paling menonjol pada bangunan orang buton. Nilai-nilai keindahannya terlihat sangat jelas mulai dari struktur dan bentuk bangunan hingga ragam hiasnya yang sarat seni rupa dan seni ukir. Ukiran motif-motif flora dan fauna tampak sangat indah pada hamper semua bagian rumah adat tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat buton pada masa lampau telah memiliki jiwa seni dan daya kreasi yang tinggi.

4.3.

Makrokosmos Dan Mikrokosmos Tampak bangunan terbagi 3 (tiga) sebagai ciri 3 (tiga) alam

kosmologi yakni, alam atas (atap), alam tengah atau badan rumah dan alam bawah atau kaki/kolong. Masing-masing bagian tersebut dapat diselesaikan sendiri-sendiri tetapi satu sama lain dapat membentuk suatu struktur yang kompak dan kuat dimana keseluruhan elemennya saling berkaitan dan

33

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

berdiri di atas tiang-tiang yang menumpu pada pondasi batu alam, dalam bahasa Buton disebut Sandi. Sandi tersebut tidak ditanam, hanya diletakkan begitu saja tanpa perekat. Sandi berfungsi meletakkan tiang bangunan, antara sandi dan tiang bangunan diantarai oleh satu atau dua papan alas yang ukurannya disesuaikan dengan diameter tiang dan sandi. Fungsinya untuk mengatur keseimbangan bangunan secara keseluruhan. Penggunaan batu alam tersebut bermakna simbol prasejarah dan pemisahan alam (alam dunia dan alam akherat)/ konsep dualisme, walaupun sebenarnya jika ditinjau dari fungsinya lebih bersifat profan.
KEPALA

BADAN

HATI

KAKI

Sumber : foto dari PPT Malige House Of Sltan

Gambar 4.2. Analogi Rumah Kesultanan Buton Malige Bentuk rumah adat tradisional orang buton diibaratkan tubuh manusia yang memiliki kepala, badan, kaki dan hati. Bagian kepala dianalogikan atap rumah, badan dianalogikan dengan badan rumah, kaki dianalogikan bagian bawah atau kolom rumah, dan hati dianalogikan

34

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

dengan pusat rumah. Menurut keyakinan orang buton, hati merupakan titik sentral tubuh manusia. Dengan demikian, sebuah rumah harus memiliki hati. Itulah sebabnya dalam masyarakat buton terdapat sebuah tradisi memberi lubang rahasia pada salah satu kayu terbaiknya yang kemudian digunakan sebagai tempat untuk menyimpan emas. Lubang rahasia tersebuat dianggap sebagai simbol pusar yang merupakan titik sentral tubuh manusia sementara emas adalah simbol hati rumah tersebut. Lokasi, arah, letak bangunan rumah suku walio pada umumnya dilakukan menurut ketentuan yang sama. Lokasi yang dipilih harus aman dari sumber penyakit dan segala gangguan dari luar. Pola perkampungan masyarakat pada umumnya mengelompok dan berjejer mengikuti jalan raya serta berada tidak jauh dari sumber-sumber air. Sementara itu, arah rumah yang baik menurut masyarakat setempatadalah arah utara atau selatan walaupun tetap harus diusahankan tidak harus tepat atau bisa bergeser sedikit dari titik utara atau selatan. Menurut keyakinan mereka, arah rumah tidak boleh tepat pada titik utara atau selatan karena, selain menghindari angin jahat, arah yang dipilih harus memudahkan mereka dalam menentukan arah kiblat ketika akan melaksanakan shalat (lakebo, 1986: 96-97).

Sumber : foto dari PPT Malige House Of Sultan

Gambar 4.3. Suasana Sekitar Malige Disesuaikan Dengan Konsep Kosmologi

35

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

Hal lain yang melandasi penataan struktur bangunan rumah tradisional orang buton adalah konsep kosmologi. Konsep ini mengajarkan tentang perlunya keseimbangan diantara seluruh unsur alam semesta. Oleh karena itu, dalam proses pembuatan sebuah rumah, keberadaan sebuah sistem pengetahuan tentang kondisi lingkungan sekitar menjadi sangat penting. Dengan sistem pengetahuan yang dimiliki, masyarakat setempat dapat memilih bahan bangunan yang baik, waktu dan lokasi mendirikan rumah yang cocok, serta bentuk dan desain rumah yang tepat atau seimbang sehingga sebuah bangunan rumah dapat selaras dengan alam sekitar. 4.4. Ciri-Ciri Arsitektur Dan Struktur

4.4.1 Ciri-Ciri Arsitektur Bentuk dan ciri pada sebuah rumah memberikan arti dan makna yang berbeda-beda. Luas bangunan, bentuk dan ornamen-ornamen yang melekat pada konstruksi rumah tersebut memberikan arti dan makna tergantung siapa yang menempati rumah tersebut. Rumah tradisional Buton berupa rumah panggung yang disebut Banua Tada, mempunyai bentuk dan ciri yang khas. Yang membedakan bentuk rumah tersebut adalah status sosialnya, apakah pemilik rumah itu adalah Sultan, pejabat kesultanan atau masyarakat umum.( BB1.P2/LU) Ciri umumnya yaitu ukuran rumah, kalau rumahnya besar berarti tinggi juga jabatan dalam kesultanan, juga dari bentuk atapnya, pejabat kesultanan atapnya bersusun sedangkan masyarakat biasa hanya satu susun.( BB1.P3/HK) Yang membedakan bentuk rumah yang dibangun berdasarkan status sosialnya, apakah ia sultan, pejabat kesultanan atau masyarakat biasa.( BB1.P2/AS)

36

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

Rumah sering direpresentasikan sebagai tempat nilai-nilai adat dan budaya yang berhubungan dengan nilai kepercayaan atau agama yang bersifat khusus atau unik pada suatu masyarakat tertentu. Rumah tradisional buton bentuk dan modelnya menandakan status sosial penghuninya, semakin besar dan unik bentuknya semakin besar pula tanggung jawab pemilik rumah tersebut. Rumah dijadikan sebagai lambang dan simbol kekuasaan serta status sosial pemiliknya. Simbol yang melekat di konstruksi rumah Buton mempunyai makna yang sangat sakral yang di ambil dari alam kosmos sebagai manifestasi ajaran agama dilihat dari proses budaya. 1. Malige/Kamali sebagai Rumah Sultan

Sumber : foto Malige dari TMII melayu online

Gambar 4.4. Tampak Depan Rumah Kesultanan Buton Malige

Sultan sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di Kesultanan Buton dan juga sebagai simbol kesejahteraan masyarakatnya, dalam pembuatan rumah kediamannya tentu harus mencirikan kebesaran dan kehormatannya. Di Kesultanan Buton, Sultan sebagai pemimpin

37

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

pemerintahan, pimpinan Agama, pelindung dan pengayom rakyat. Jabatan yang diembannya ini di tuangkan dalam pembangunan rumah kediamannya. Rumah tinggal Sultan yang disebut Kamali atau Malige mempunyai bentuk dan ciri rumah utama yaitu : a. Bentuk atap yang bersusun dengan jarak yang rengga menandakan bahwa Sultan adalah Pemerintah, pimpinan agama dan pengayom masyarakat. b. Jumlah petak rumah berjumlah lima, tujuh ataupun sembilan yang jumlahnya harus ganjil. Ini dianalogikan bahwa Sultan sebagai pemimpin agama harus menjalankan pemerintahan sesuai dengan ajaran agama Islam, maksud dari lima petak dianalogikan dengan rukun Islam, tujuh dianalogikan Surat Alfatiha dan susunan langit tujuh lapis. c. Adanya tiang-tiang penyangga di kiri kanan rumah yang disebut kambero, d. Bentuk lantai rumah yang ditinggikan disebelah kanan rumah dan semakin kebelakang semakin tinggi yang dianalogikan sebagai posisi orang waktu sembahyang. e. Pada bagian atas rumah terdapat simbol Nenas dan Naga, nenas ini merupakan simbol kesejahteraan yang ditumbuhkan dari rakyat, sedangkan Naga menyimbolkan kekuasaan pemerintah dan mengisahkan asal-usul leluhur Buton dari daratan Cina (Raja Pertama Buton Wakaaka) f. Adanya ruang teras didepan sebagai tempat menerima tamu yang menyimbolkan transparan Sultan bagi rakyatnya. g. Guci yang diletakkan di depan rumah sebagai tempat air, yang menyimbolkan kesucian bahwa siapa saja yang memasuki rumah hatinya telah suci. Ciri khas yang menonjol adalah ukuran bangunannya besar, Susunan atap bersusun, Ornamen bangunan yang unik, ada naga dan nenas dibagian atap. ( BB1.P3/LU)

38

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

Sumber : sketsa penulis

Gambar 4.4. Suasana Sekitar Malige Disesuaikan Dengan Konsep Kosmologi Fungsi dan makna simbolis pada bangunan Kamali/Malige dipengaruhi oleh pemahaman masyarakat secara keseluruhan tentang konsep tasawuf (Martabat Tujuh), yang menganggap bahwa pemilik Kamali/Malige dalam hal ini Sultan adalah replikasi dari wajah Tuhan (Allah) yang wujudnya dianalogikan dalam bentuk arsitektur rumahnya (istananya) baik yang bersifat konstruksi maupun dekorasi. Bentuk lantai dan atapnya yang bersusun menunjukkan kebesaran dan keagungan Sultan. Bentuk tersebut juga menggambarkan fungsi Sultan sebagai pimpinan agama, pimpinan kesultanan serta pengayom dan pelindung rakyat. Kamali/Istana Malige dalam penataan struktur bangunannya, didasari oleh konsep kosmologis sebagai wujud keseimbangan alam dan manusia. Disisi lain keberadaannya merupakan media

penyampaian untuk memahami kehidupan masyarakat pada jamannya (masa Kesultanan) dan sebagai alat komunikasi dalam memahami

39

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

bentuk struktur masyarakat, status sosial, ideologi dan gambaran struktur pemerintahan yang dapat dipelajari melalui pemaknaan lambanglambang, simbol maupun ragam hiasnya secara detail. Untuk Istana Malige pembagian tata ruangan tersebut

mengandung unsur pemaknaan sebagai berikut: 1. Disebut Sasambiri disimbolkan sebagai penggambaran pribadi Sultan yang selalu terbuka kepada rakyatnya. Hal ini terlihat pada penempatan pintu utama dan pintu belakang yang fungsi umumnya untuk keluar-masuknya orang kedalam istana. 2. Disebut Bamba dan Tanga disimbolkan sebagai rongga perut, berfungsi sebagai tempat berkumpulnya tamu dan menampung segala pesoalan yang ditujukan kepada Sultan maupun

keluarganya. Bamba biasanya digunakan untuk tamu yang bukan kerabat dekat Sultan sedangkan tanga digunakan untuk kerabat dekat Sultan. 3. Disebut Suo disimbolkan sebagai rongga dada dan kepala. Hal ini dihubungkan dengan penempatan kamar utama yang berfungsi sebagai tempat peraduan Sultan. Selain itu Suo berhubungan dengan tradisi masyarakat setempat yang disebut posuo. Tradisi ini berbentuk acara ritual yang ditujukan kepada gadis-gadis untuk dipingit karena dianggap sudah dewasa (aqil baligh) dan pantas untuk berkeluarga. 4. Penghuni istana disimbolkan sebagai nyawa atau ruh pada manusia. Hubungan antara tubuh atau jasad dengan ruh manusia

mengandung pemahaman saling menjaga dan saling merawat dan memelihara. Denah ruangan Kamali/Malige yang ada sebagaimana gambar 4.4 sangat jelas peruntukan ruangannya. Pada lantai satu terlihat pembagian ruangan yang tertata bagi seluruh penghuninya. Lantai dua diperuntukan sebagai tempat menyimpan barang-barang kesultanan sedangkan lantai tiga sebagai gudang dan tempat mengintai.

40

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

Sumber : hasil observasi penulis

Gambar 4.5. Denah Rumah Kesultanan Buton Malige Secara umum dapat digambarkan bahwa susunan ruangan dalam istana Malige adalah sebagai berikut: 1. Lantai pertama terdiri dari 7 petak atau ruangan, ruangan pertama dan kedua berfungsi sebagai tempat menerima tamu atau ruang sidang anggota Hadat Kerajaan Buton. Ruangan ketiga dibagi dua, yang sebelah kiri dipakai untuk kamar tidur tamu, dan sebelah kanan sebagai ruang makan tamu. Ruangan keempat juga dibagi dua, berfungsi sebagai kamar anak-anak Sultan yang sudah menikah. Ruang kelima sebagai kamar makan Sultan, atau kamar tamu bagian dalam, sedangkan ruangan keenam dan ketujuh dari kiri ke kanan dipergunakan sebagai makar anak perempuan Sultan yang sudah dewasa, kamar Sultan dan kamar anak laki-laki Sultan yang dewasa. 2. Lantai kedua dibagi menjadi 14 buah kamar, yaitu 7 kamar di sisi sebelah kanan dan 7 kamar di sisi sebelah kiri. Tiap kamar mempunyai tangga sendiri-sendiri hingga terdapat 7 tangga di sebelah kiri dan 7 tangga sebelah kanan, seluruhnya 14 buah tangga. Fungsi kamar-kamar tersebut adalah untuk tamu keluarga, sebagai kantor, dan sebagai gudang. Kamar besar yang letaknya di

41

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

sebelah depan sebagai kamar tinggal keluarga Sultan, sedangkan yang lebih besar lagi sebagai Aula. 3. Lantai ketiga berfungsi sebagai tempat rekreasi. 4. Lantai keempat berfungsi sebagai tempat penjemuran. Di samping kamar bangunan Malige terdapat sebuah bangunan seperti rumah panggung mecil, yang dipergunakan sebagai dapur, yang

dihubungakan dengan satu gang di atas tiang pula. Di anjungan bangunan ini dipergunakan sebagai kantor anjungan. Pada bangunan Malige terdapat 2 macam hiasan, yaitu ukiran naga yang terdapat di atas bubungan rumah, serta ukiran buah nenas yang tergantung pada papan lis atap, dan di bawah kamar-kamar sisi depan. Adapun kedua hiasan tersebut mengandung makna yang sangat dalam, yakni ukiran naga merupakan lambang kebesaran kerajaan Buton. Sedangkan ukiran buah nenas, dalam tangkai nenas itu hanya tumbuh sebuah nenas saja, melambangkan bahwa hanya ada satu Sultan di dalam kerajaan Buton. Bunga nenas bermahkota, berarti bahwa yang berhak untuk dipayungi dengan payung kerajaan hanya Sultan Buton saja. Nenas merupakan buah berbiji, tetapi bibit nenas tidak tumbuh dari bibit itu, melainkan dari rumpunya timbul tunas baru. Ini berarti bahwa kesultanan Buton bukan sebagai pusaka anak beranak yang dapat diwariskan kepada anaknya sendiri. Falsafah nenas ini dilambangkan sebagai kesultanan Buton, dan Malige Buton mirip rongga manusia Dari hasil kajian tersebut dapat dirumuskan, bahwa bentuk dan ciri Kamali/Malige memperlihat bagaimana wibawa dan status sosial penghuninya. Ornamen-ornamen yang melekat di konstruksi

Kamali/Malige yang beraneka ragam baik dari ornamen yang mewakili flora maupun fauna terlihat dengan indah yang mempunyai nilai kewibawaan bagi siapa saja yang melihatnya. Bentuk Kamali/Malige itu juga menggambarkan bagaimana besar tanggung jawab pemiliknya

42

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

terhadap masyarakatnya, baik itu sebagai pemimpin pemerintahan, pemimpin agama, pengayom dan pelindung masyarakat. 2. Banua Kambero Sebagai Rumah Pejabat Kesultanan

Sumber : melayu online

Gambar 4.6. Tampak Banua Kembero Rumah Pejabat Kesultanan Pejabat Kesultanan yang merupakan pembantu-pembantu Sultan dalam melaksanakan tugas pemerintahan di dalam Undangundang Kesultanan Buton (Martabat Tujuh) telah diatur fungsi dan kedudukannya. Bentuk rumah Pejabat Kesultanan tidaklah sama bentuk dan ornamennya tergantung seberapa besar jabatannya dalam pemerintahan, contoh rumah siolimbona beda dengan rumah bonto. ( BB1.P2/HK) Sebagaimana kedudukannya didalam pemerintahan, dalam pembangunan rumah tinggal para pejabat Kesultanan, bentuk dan simbol yang terdapat pada konstruksi rumah ditidaklah sama antara pejabat yang satu dengan yang lain tergantung jabatannya.

43

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Istana_Malige

Gambar 4.6. Tampak Depan Banua Kembero Rumah Pejabat Kesultanan Secara garis besar bentuk dan dan ciri khas konstruksi rumah Pejabat Kesultanan atau Banua Kambero yaitu : a. Bentuk atap bersusun dua sebagai simbol pembantu sultan dan pengayom rakyat. b. Jumlah petak rumah 3-5 petak. c. Ornamen-ornamen sebagian besar sama dengan rumah untuk Sultan,namun simbol yang tidak diperbolehkan yaitu ornamen Naga. d. Adanya penambahan teras di depan rumah sebagai tempat menerima tamu dan sebagai tempat untuk mengintai gerak gerik masyarakat, ini khusus untuk pejabat Bonto Ogena. e. Bentuk lantai rumah yang ditinggikan disebelah kanan rumah dan semakin kebelakang semakin tinggi yang dianalogikan sebagai posisi orang waktu sembahyang. Bentuk-bentuk rumah serta ornamen-ornamen yang melekat dikontruksi rumah Pejabat Kesultanan ini tidak sama antara pejabat Kesultanan, semakin tinggi jabatan pemilik rumah di Kesultanan semakin besar bentuk rumah dan semakin banyak ornamen yang melekat dikonstruksinya. Denah ruangan rumah pejabat Kesultanan (Banua Kambero) seperti pada gambar 4.6. terbagi atas dua denah, perbedaan tersebut

44

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

dilihat hari status sosial penghuninya. Denah rumah untuk 3 petak diperuntukan untuk pejabat kesultanan seperti staf Pertahanan (Staf Kapitalao), lantai dua biasa digunakan untuk tempat tidur dan menyimpan barang. Denah rumah untuk 5 petak diperuntukan untuk Pejabat Kesultanan yang mempunyai jabatan penting di kesultanan seperti Sekretaris Perdana Menteri (Kenipulu), Kapitalao, Bontogena dan lain-lain yang masuk dalam struktur pemerintahan Kesultanan Buton. Lantai dua diperuntukan sebagai tempat menyimpan barang ataupun sebagai gudang. Dari hasil kajian tersebut dapat dirumuskan, bahwa bentuk dan ciri Banua Kambero bermacam-macam tergantung tinggi rendahnya jabatan yang dipegang oleh pemilik rumah tersebut. Bentuk-bentuk rumah serta ornamenornamen yang melekat dikontruksi rumah Pejabat Kesultanan ini tidak sama antara pejabat Kesultanan, semakin tinggi jabatan di Kesultanan semakin besar rumah dan semakin unik ornamenornamen yang melekat pada konstruksi rumah tersebut, yang secara tidak langsung memperlihatkan status sosial penghuninya.

Sumber : hasil observasi penulis

Gambar 4.6. Denah Banua Kembero Rumah Pejabat Kesultanan

45

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

3. Banua Tada sebagai Rumah Masyarakat

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Istana_Malige

Gambar 4.7. Tampak Depan Banua Tada Masyarakat Biasa Awal terbentuknya permukiman Wolio di Baluwu dan Peropa dimulai dengan terbangunnya rumah-rumah panggung, sebagai pendatang bentuk rumah yang dibangun masih sangat sederhana yang kemudian rumah tersebut dikenal sebagai Banua Tada yang kemudian dijadikan bentuk rumah masyarakat umum pada masa Kerajaan dan Kesultanan Buton. Bentuk rumah tada adalah bentuk awal rumah panggung yang dibangun di Baluwu dan Peropa yang kemudian menjadi bentuk rumah masyarakat umum.(BB1.P3/TU) Rumah masyarakat biasa petak rumahnya dua atau 3 petak saja, tidak boleh lebih dari itu, ornamen-ornamen pada rumah tidak ada seperti pada rumah sultan atau rumah pejabat.( BB1.P3/MZ) Bentuk dan ciri banua tada untuk masyarakat berupa rumah panggung dengan ciri-ciri sebagai berikut : a. Jumlah petak rumah dua atau 3 petak. b. Tidak ada simbol-simbol pada bangunan rumah. c. Atap rumah satu susun. d. Guci di tempatkan depan rumah

46

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

Dengan bentuk yang sangat sederhana, penghuni banua tada tidak mempermasalakan bentuk rumah dan ornamen yang melekat dikontruksi rumah mereka. Masyarakat yang menempati rumah tersebut umumnya mempunyai pekerjaan sebagai petani, buruh, tukang kayu, tukang batu ataupun nelayan. Harapan mereka dapat tinggal dengan tenang dan kehidupannya dapat berjalan dengan damai dan aman di bawah pemerintahan Kesultanan Buton. Jumlah rumah ini di dalam benteng Keraton Buton tidak banyak dan saat ini jumlah mulai berkurang di ganti dengan bentuk rumah yang menyerupai bentuk rumah pejabat.

Sumber : hasil observasi penulis

Gambar 4.8. Denah Banua Tada Masyarakat Biasa 4.4.2 Struktur Arsitektur Tahap Pembuatan Para siriginti, pandeempu, dan pande lainnya mulai membersihkan (menguliti) dan meluruskan kayu dengan menggunakan kapak atau bingku setelah seluruh bahan yang dibutuhkan terkumpul. Setelah dipilih dan dikelompokkan sesuai dengan fungsinya, kayu-kayu tersebut dan bahan-

47

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

bahan lainnya diramu menjadi bagian-bagian rumah. Setiap bagian rumah memiliki fungsi dan cara pembuatannya masing-masing . berikut fungsi dan cara pembuatan beberapa bagian rumah adat orang Buton. 1. Sandi (sendi), yaitu pondasi tiang rumah yang terbuat dar bau kali (sungai) ataubatu gunung yag berbentuk pipih. Sandi ini hanya diletakkan begitu saja ditanah tanpa harus ditanam atau diberi perekat. Antara sandi dan tiang diberi papan alas yang terbuat dari kayu keras dan ukurannya disesuaikan dengan diametersandi dan tiang. Bagian ini berfungsi untuk mengatur keseimbangan bangunan secara keseluruhan. 2. Tiang, yaitu bagian rumah yang berfungsi untuk menopang bagianbagian rumah lainnya. Tiang ini memiliki peranan yang sama pentingnya dengan pondasi pada rumah modern. Oleh karena itu harus dipilih kayu-kayu yang berkualitas tinggi seperti kayu nagka, teme, atau jati. Kayu yang telah dipilih keudian dibentuk menjadi empat persegi panjang untuk tiang malige dan berbentuk bundar untuk tiang rumah orang biasa. Tiang-tiang tersebut kemudian diberi lubang, dimulai dari tiang utama kemudian disusul tiang-tiang lainnya. Setelah itu, tiang-tiang tersebut dirangkai bersama bagianbagian rumah lainnya menjadi satu deret sehngga terbentuklah kerangka rumah.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Istana_Malige

Gambar 4.9. Gambar Susunan Tada Rumah Adat Suku Walio 48

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

Susunan tada pada bangunan rumah adat suku Walio atau Orang Buton Keterangan : 1. Tiang 2. Tada 3. Tada

3. Kayi atau balok penyambung, yaitu bagian rumah yang berbentuk balok pipih dengan ukuran tebal 6-7cmdan lebar 12-15cm. panjang balok pipih ini disesuaikan dengan panjang rumah. Kayi berfungsi sebagai penghubung antara satu tiang dengan tiang yang lain. Kayi dibuat dengan cara menghaluskan kayu yang telah dibentuk menjadi balok pipih. penghalusan ini dilakukan dengan menggunakan serut. 4. Tumbu tada yaitu balok pipih panjang yang berfungsi untuk mengikat atau menyambung deretan tiang yang berjejer kesamping. Tumbu ada berukuran tebal sekitar 6 cm, lebar 12 cm, dan panjangnya disesuaikan dengan lebar rumah. Cara membuatnya sama seperti cara pembuatan kayi. 5. Galaga (gelegar), yaitu balok pipih yang diletakkan di antara tumbu tada. Ukuran tebal dan lebarnya sama dengan ukuran tumbu tada sedangkan panjangnya diseuaikan dengan panjang masing-masing ruang. Galaga berfungsi sebagai landasan atau penyangga papan lantai. Cara membuatnya sama seperti membuat kayi dan tumbu tada. 6. Lantai, yaotu bagian bawah atau alas (dasar) suau ruanganatau bagunan yang berfungsi tempat melakukan segala kegiatan didalam rumah. Lantai rumah tempat tinggal rakya biasanya terbuat dari kayuj jati, yang melambangkan status sosial sang sultan. Maknanya adalah bahwa sultan adalah seorang bangsawan dan pribadi yang selalu tenang menghadapi persoalan. Sementara itu, lantai rumah tempat tinggal orang biasa terbuat dari kayu bamboo ang sudah tua.

49

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

Agar awet, bambu tersebut terlebih dahulu direndam di air laut selama berhari-hari. Setelah itu, bambu tersebut dipotong-potong sesuai dengan panjang kamar didalam rumah, lalu dibelah dan diraut hingga halus. Selanjutnya, belahan-belahan bambu halus tersebut dijalan menjadi satu kesatuan dengan tali penjalin yang disebut woll sehingga tampak lebih indah.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Istana_Malige

Gambar 4.10. Gambar Susunan Lantai Rumah Adat Suku Walio Susunan lantai rumah adat suku wolio Keterangan : 1. Ariy 2. Konta 3. Tumbu tada 4. Galaga 5. Kayi

7. Rindi atau dinding, yaitu bagian tengah rumah yang berfungsi sebagai penutup semua kerangka bagian tengah yang bangunan (badan) rumah. Dinding rumah adat buton umumnya terbuat dari papan kayu. Dinding ni dibuat dengan cara memasang papan kayu

50

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

bakal dinding pada tuorana rindi (rangka dinding) yang telah disiapkan sebelumnya. 8. Kerangka atap, yaitu bagian atas rumah yang berfungsi sebagai tempat untuk melekatkan atap rumah yang terbuat dari daun rumbia atau nipah. Kerangka atap ini terdiri dari beberapa bagian yang dirangkai menjadi satu kesatuan sehingga membentuk piramida. Bagian-bagian tersebuat adalah tutumbu (tiang bubung), kasolaki, pana-pana, kumboho (bubungan), lelea, tadana tutumbu atau sule ngalu, dan tora-tora, jika bangunan rumah terdiri dari 4 tingkat seperti bangunan malige, maka bangunan tersebut juga membutuhkan 4 set kerangka atap. Susunan kerangka atap dan istilah-istilah yang digunakan dapat dipahami dengan melihat gambar berikut.

Sumber : esden art 0nline

Gambar 4.11. Maket Konstruksi/Struktur Rumah Adat Suku Walio Tahap pendirian rumah adat buton 1. Mendirikan tiang atau kerangka rumah Lokasi rumah dibersihkan dan diratakan terlebih dahulu sebelum tiang didirikan, kemudian sandi-sandi disiapkan ditempat tiang-tiang tersebut akan dipasang. Sandi ini hanya diletakkan begitu

51

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

saja ditanah tanpa harus ditanam atau diberi perekat. Antara sandi dan tiang diberi papan alas yang terbuat dari kayu keras dan ukurannya disesuaikan dengan diameter sandi dan tiang. Bagian ini berfungsi untuk mengatur keseimbangan bangunan secara

keseluruhan. Stelah itu, pendirian kerangka rumah dapat segera dimulai. 2. Memasang kerangka atap atap dan atap rumah Susunan atau tahap-tahap pendirian rumah modern biasanya dimulai dari bagian bawah, tengah, dan atas. Namun, urutan tahaptahap pendirian rumah adat buton tidak demikian. Lantai yang merupakan bagian rumah paling bawah justru dipasang setelah bagian atas atau rumah selesai. Jadi, setelah kerangka rumah berdiri , proses dilanjutkan dengan pemasangan kerangka atap, lalu disusul dengan pemasangan atap rumah yang terbuat dari daun rumbia atau nipa.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Istana_Malige

Gambar 4.12. Rangka Kuda-Kuda Atap Rumah Adat Suku Walio Kerangka atap rumah adat suku wolio Keterangan : 1. Tutumbu 2. Kasolaki 3. Pana-pana 4. Kumbowu

52

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

5. Tadana tutumbu 6. Lelea 7. Tora-tora

3. Memasang bagian tengah rumah (lantai, dinding, pintu, dan tangga) Pemasangan bagian-bagian tengah rumah dilakukan setelah pemasangan atap rumah selesai. Bagian tengah rumah yang pertama-tama dipasang adalah lantai yang terbuat dari papan kayu atau jalinan bambu. Setelah itu, tourana rindi ( rangka dinding rumah ) dipasang dan dilanjutkan dengan pemasangan dinding, pintu, dan jendelah rumah. Tahap terakhir adalah pemasangan oda atau tangga rumah. Sertelah semua bagian rumah induk dipasang, maka pekerjaan selanjutnya adalah membuat bangunan rumah tambahan seperti dapur dan kamar mandi. Urutan tahap-tahap pendirian rumah tersebut diatas berlaku pada semua bangunan rumah adat buton. Hanya saja, pendirian bangunan malige lebih kompleks karena ruangannya lebih banyak daripada kedua jenis rumah adat buton lainnya. 4.5. Arsitek Atau Tukang Yang Membangun Proses pembangunan rumah adat suku wolio dimulai dengan diadakannya musyawarah untuk mufakat. Dalam musyawarah tersebut, dibicarakan berbagai macam hal seperti bentuk bangunan, tipologi dan ukuran rumah, cara pengambilan bahan, pemilihan lokasi dan arah rumah, dan siapa pelaksananya. Jika kamali yang akan didirikan, maka seluruh pelaksanaannya menjadi tanggung jawab mahkamah syarah dengan dibantu oleh sio limbona dan para kadie sementara arsitek dan pelaksananya adalah para saraginti dan pandeempu. Jika banua yang akan dibangun, maka pelaksanaannya menjadi tanggung jawab si pemilik. Si pemilik menentukan bentuk dan lokasi rumah yang akan dibangun, jumlah biaya yang dibutuhkan dan siapa arsiteknya melalui musyawarah keluarga.

53

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

Untuk arsiteknya, mereka biasanya menunjuk seorang pande yang berasal dari keluarga terdekat (lakebo, 1986:94-85). Jenis tenaga atau pelaksana yang diperlukan untuk membangun rumah adat suku walio atau orang buton terdiri dari tiga macam yaitu tenaga perancang, tukang ahli, dan tenaga umum. 1. Tenaga Perancang Tenaga perancang yang diperlukan dalam membangun rumah adat buton dibedakan menjadi dua, yaitu tenaga perancang untuk kamali atau malige dan tenaga perancang untuk tempat tinggal pribadi. Tenaga perancang untuk malige adalah mahkmah syara atau syarana wolio. Mereka ini bertugas untuk merencanakan bentuk dan tipologi malige yang sesuai dengan idaman sultan. Sementara itu, tenaga perancang untuk rumah pribadi adalah calon pemilik rumah itu sendiri. Namun, biasanya masalah perencanaan tersebut diserahkan kepada seorang pande (tukang) yang berasal dari keluarga dekat calon pemilik rumah. 2. Saraginti Dan Pandeempu (Tukang Ahli) Saraginti tukang ahli adalah yang jawab para khusus dalam

bertanggung

pembagunan kamali atau malige pada masa kesultanan buton

masih berkuasa. Di kalangan masyarakat umum atau di luar keraton buton, terdapat pula

tukang ahli yang disebut dengan pandeempu, yang berarti tukang


Sumber : melayu online

betul.

Orang

ini

disebut

Gambar 4.12.

pandeempu, selain ahli dibidang bangunan, ia juga ahli dibidang

Saraginti (Tukang Ahli)

54

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

kemasyarakatan seperti ahli kutika (ahli penentu waktu), peramal (meramalkan segala sesuatu berupa malapetaka yang akan terjadi dimasa datang), dan lain sebagainya. Meski demikian, adapula seorang pande yang memiliki seluruh keahlian tersebut. 3. Tenaga Umum Tenaga umum adalah jenis tenaga yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan banyak tenaga. Tenaga umum dibagi menjadi dua macam, yaitu tenaga upahan dan tenaga pembantu. 3.1. Tenaga Upahan, yaitu orang-orang yang dipekerjakan pada suatu bangunan rumah dengan cara diupah atau digaji. Orang orang yang terlibat dalam pekerjaan ini disebut sebagai pande hamba, yaitu para pembantu tukang ahli. Mereka merupakan satu kesatuan yang terorganisasi dibawah pimpinan seorang tukang ahli dan di gaji dengan sistem gaji harian atau gaji brongan. 3.2. Tenaga Pembantu, yaitu masyarakat atau keluarga yang bekerja secara sukarela untuk membantu pembangunan sebuah rumah. Jika banguanan yang akan didirikan adalah kamali, baruga (tempat musyawarah), atau bangunan yang didirikan untuk kepentingan umum, maka tenaga yang digunakan adalah tenaga masyarakat secara umum. Sistem pengerahan tenaga semacam ini disebut dengan sistem kerja bakti atau gotong royong. Jenis-jenis pekerjaan yang mereka kerjakan di antaranya adalah mengumpulkan bahan-bahan bangunan, membersihkan lokasi, mendirikan bangunan, dan memasang atap. Jika bangunan dibangun untuk kepentingan pribadi maka sistem pengerahan tenaganya disebut dengan sistem tolong menolong, yaitu mengundang keluarga dan para tetangga terdekat untuk membantu membagun rumah.

55

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

Jenis pekerjaan yang mereka kerjakan sama seperti pada sistem gotong-royong.

4.6.

Detail-Detail Arsitektur

4.6.1 Ragam Hias Ragam hias pada rumah adat suku walio atau orang buton secara garis besar terdiri dari dua macam, yaitu ragam hias dalam bentuk seni pahat (tiga dimensi) dan ragam hias dalam bentuk seni ukir (dua dimensi). Ragam hias dalam bentuk seni pahat dan seni ukir tersebut biasanya ditempatkan pada bingkai-bingkai pintu atau jendela, pada dinding, dan ujung depan atau belakang bumbungan atap rumah. Dari segi motif, ragam hias yang paling menonjol pada rumah orang buton adalah motif flora dan fauna. Tiaptiap motif memiliki makna simbolis dan nilai falsafah hidup yang tinggi.

Kedua jenis motif tersebut adalah. 1. Motif Flora Motif Nenas Motif Bosu-bosu

Sumber :

Gambar 4.12. Motif Nanas Dan Bosu-bosu Pada Bumbungan Atap 1.1 Nanasi, yaitu hiasan yang berbentuk buah nenas. Motif yang biasa ditempatkan pada ujung atap bagian depan dan belakang melambangkan keuletan dan kesejahteraan. Tanaman nenas menurut orang buton merupakan tanaman yang mudah tumbuh dan tidak mudah layu walaupun ditanam di tanah kering. Symbol nenas ini menyiratkan dimanapun orang buton berada atau

56

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

mencari nafkah, dia harus ulet dalam menghadapi segala tantangan alam. 1.2 Bosu-bosu atau buah pohon butun (baringtonia asiatica), yaitu sejeni buah yang menyerupai buah delima. Motif yang biasa ditempatkan di tenkebala atau bate (yaitu bagian atap rumah yang berada dibawah cucuran atap) merupakan simbol keselamatan, keteguhan, dan kebahagiaan. 1.3 Ake, yaitu motif yang berbentuk seperti patra (daun). Motif ini melambangkan kesempurnaan. Motif ini juga terdapat pada bangunan malige sebagai lambing bersatunya sultan (sebagai manusia) dengan khalik (tuhan). Makna simbolis ini berasal dari ajaran tasawuf wahdatul wujud. 1.4 Kambang, yaitu sejenis kembang berbentuk kelopak teratai atau matahari yang melambangkan kesucian. Karena bentuknya seperti matahari, maka orang buton menyebutnya lambing suryanullah (cahaya allah ), yang menggambarkan kemajuan dari zaman majapahit ke zaman islam. 2. Motif Fauna Motif fauna yang paling menonjol dari rumah adat orang buton adalah motif naga. Motif ini biasanya ditempatkan pada bubungan atap rumah karena masyrakat beranggapan naga itu tinggal di langit. Motif ini melambangkan kekuasaan dan pemerintahan. Selain pada bubungan atap rumah, motif ini juga biasa dipasang pada pintu depan dan belakang, dengan maksud agar penghuni rimah terhindar dari segalam macam bahaya, terutama angin jahat. Terdapatnya tempayan/guci di depan rumah yang melambangkan kesucian. Tempayan ini mutlak harus ada di setiap bangunan kamali maupun rumah rakyat biasa. 4.6.2 Detail Struktur Arsitektur Rumah adat ini berbentuk panggung ini unik karna dapat berdiri tegak tanpa menggunakan paku

57

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

Sistem Pasak Saling Mengaitkan Antar Balok

Sumber : makna konstruksi malige - online

Sumber : http://makna-konstruksi-malige.com

Gambar 4.12. Sambungan Kayu Pada Rumah Malige 58

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

Konstruksi ketiga rumah adat Suku Walio pada dasarnya adalah sama karna berasal dari satu konstruksi yang sama, yaitu rumah yang memiliki siku. Meskipun demikian, ketiga jenis bangunan diatas tetap memiliki perbedaan. Perbedaan itu dapat dilihat pada jumlah tiang yang digunakan, bentuk susunan rumah, dan posisi lantai rumah. Rumah tempat raja atau sultan memiliki tiang samping 8 buah sedangkan rumah pejabat sultan mempunyai tiang samping 6 buah. Sementara itu, jumlah tiang samping pada rumah orang biasa hanya 4 buah. Jika dilihat dari segi susunan bangunan, rumah tinggal raja terdiri dari 4 tingkat sedangkan rumah pejabat istana dan rakyat biasa hanya satu tingkat. Perbedaan juga dilihat pada susunan lantai rumah. Lantai istana raja/sultan di buat bertingkat-tingkat. Sementara itu susunan lantai rakyat biasa dibuat rata atau tidak bertingkat. Tampak bangunan terbagi 3 (tiga) bagian yakni, atap, badan rumah dan kaki/kolong. Masing-masing bagian tersebut dapat diselesaikan sendiri-sendiri tetapi satu sama lain dapat membentuk suatu struktur yang kompak dan kuat dimana keseluruhan elemennya saling berkaitan dan berdiri di atas tiang-tiang yang menumpu pada pondasi batu alam, dalam bahasa Buton disebut Sandi.

Sandi

Sumber : foto dari PPT Malige House Of Sultan

Gambar 4.12. Sandi Pondasi Rumah Malige 59

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

Sandi tersebut tidak ditanam, hanya diletakkan begitu saja tanpa perekat. Sandi berfungsi meletakkan tiang bangunan, antara sandi dan tiang bangunan diantarai oleh satu atau dua papan alas yang ukurannya disesuaikan dengan diameter tiang dan sandi. Fungsinya untuk mengatur keseimbangan bangunan secara keseluruhan.

4.6.3 Detail makna konstruksi Konstruksi lainnya adalah balok penghubung sebagai tiang yang harus diketam halus adalah penggambaran budi pekerti orang beriman, sebagai analogi bagi penghuni istana. Menurut Zahari (2002), makna simbolis pada konstruksi Kamali/Malige diantaranya adalah: 1. Atap yang disusun sebagai analogi susunan atau letaknya posisi kedua tangan dalam shalat, tangan kanan berada di atas tangan kiri. Pada sisi kanan kiri atap terdapat kotak memanjang berfungsi bilik atau gudang. Bentuk kotak tersebut menunjukkan adanya tanggungjawab Sultan terhadap kemaslahatan rakyat. 2. Balok penghubung yang harus diketam halus adalah

penggambaran budi pekertinya orang beriman, sebagai analogi bagi penghuni istana. 3. Tiang Istana di bagi menjadi 3 (tiga) yang pertama disebut Kabelai (tiang tengah), disimbolkan sebagai ke-Esa-an Tuhan yang pencerminannya diwujudkan dalam pribadi Sultan. Kabelai ditandai dengan adanya kain putih pada ujung bagian atas tiang. Penempatan kain putih harus melalui upacara adat (ritual) karena berfungsi sakral. Berikutnya adalah tiang utama sebagai tempat meletakkan tada (penyangga). Bentuk tada melambangkan strata sosial atau kedudukan pemilik rumah dalam Kesultanan. Tiang lainnya adalah tiang pembantu, bermakna pelindung, gotong royong dan keterbukaan kepada rakyatnya. Ketiga tiang ini di analogikan pula sebagai simbol kamboru-mboru talu palena, yang maksudnya ditujukan kepada tiga keturunan (Kaomu/kaum)

60

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

pewaris jabatan penting yakni Tanailandu, Tapi-Tapi dan Kumbewaha.

Sumber : foto dari ppt Malige House Of Sultan

Gambar 4.12. Tangga Dan Pintu Malige 4. Tangga dan Pintu mempunyai makna saling melengkapi. Tangga depan berkaitan dengan posisi pintu depan, sebagai arah hadap bangunan yang berorientasi timur-barat bermakna posisi manusia yang sedang shalat. Pemaknaan ini berkaitan dengan perwujudan Sultan sebagai pencerminan Tuhan yang harus di hormati, dan secara simbolis mengingatkan pada perjalanan manusia dari lahir, berkembang dan meninggal dunia. Berbeda dengan tangga dan pintu belakang yang menghadap utara disimbolkan sebagai penghargaan kepada arwah leluhur (nenek moyang/asal-usul).

61

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

Sumber : foto dari ppt Malige House Of Sultan

Gambar 4.12. Tampak Dalam Rumah Malige 5. Lantai yang terbuat dari kayu jati melambangkan status sosial bahwa sultan adalah bangsawan dan melambangkan pribadi sultan yang selalu tenang dalam menghadapi persoalan. 6. Dinding sebagai penutup atau batas visual maupun akuistis melambangkan kerahasian ibarat alam kehidupan dan alam kematian. Dinding dipasang rapat sebagai upaya untuk mengokohkan dan prinsip Islam pada diri Sultan sebagai khalifah. 7. Jendela (bhalo-bhalo bamba) berfungsi sebagai tempat keluar masuknya udara. Pada bagian atasnya terdapat bentuk hiasan balok melintang member kesan adanya pengaruh Islam yang mendalam. Begitu pula pada bagian jendela lain yang menyerupai kubah. 4.7. Bahan-Bahan Dan Peralatan

4.7.1 Bahan-bahan Dalam pembangunan rumah tradisional suku walio bahan-bahan yang digunakan semua berasal dari alam. yaitu, 1. Kayu, digunakan untuk membuat tiang, dinding, pasak, gelegar, tangga, maupun bahan untuk membuat kerangka atap rumah. Jenisjenis kayu yang dianggap berkualitas untuk dijadikan bahan bangunan diantaranya adalah kayu pohon nangka, jati dan bayem. 2. Bambu. Bambu pada umumnya digunakan sebagai lantai rumah. Jenis bambu yang dipilih adalah bambu yang sudah tuakemudian

62

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

diawetkan dengan cara direndam didalam air laut selama beberapa waktu sebelum dipasang agar dapat bertahan hingga ratusan tahun. 3. Daun rumbia atau nipa. Daun ini digunakan untuk membuat atap rumah. Tahap Pengadaan Bahan Sistem pengetahuan masyarakat setempat memiliki peranan yang sangat penting dalam tahap pengadaan bahan. Dengan sistem

pengetahuan tersebut, orang wolio dapat memilih waktu yang tepat untuk mengambil kayu dan dapat mengetahui jenis-jenis kayu yang berkualitas. Menurut mereka, waktu yang paling baik untuk mengambil bahan bangunan di hutan adalah pada waktu siang hari, yaitu sekitar pukul 05.00 pagi sampai pukul 11.00 siang. Bagi masyarakat pesisir, mereka menandai hal tersebut dengan berpedoman pada kondisi air laut. Jika air laut sedang pasang, yaitu sekitar pukul 09.00 pagi maka pada saat itulah waktu yang paling tepat untuk mengambil bahan bangunan di hutan. Saat-saat selain jam-jam tersebut dianggap sebagai waktu yang tidak baik (lakebo, 1986: 97). Adapun jenis kayu yang dianggap berkualitas untuk buat tiang rumah menurut pengetahuan masyarakat buton adalah kayu danga (kayu nangka). Selain kuat dan kokoh, kayu ini mengandung nilai filosofis yang tinggi. Menurut mereka, kayu nangka adalah pohon yang berdaun rimbun, berbuah lebat dan rasanya manis, yang bermakna bahwa sipemilik rumah dapat tumbuh berkembang serasi dan berkesinambungan dalam suasana bahagia , aman dan sentosa serta banyak rezeki. Masyarat buton juga dapat mengenali ciri-ciri kayu melalui tanda yang disebut sebagai buku atau mata kayu (bekas cabang). Jenis-jenis kayu yang paling baik untuk dijadikan bahan bangunan berdasarkan tanda tersebut adalah kayu yang tidak memiliki buku. Sementara itu, jenis kayu yang tidak baik untuk bahan bangunan adalah kayu yang memilik buku mate, yaitu bekas dahan yang sudah lama patah atau sudah lapuk namun tertutupi kulit hidup. Menurut keyakinan masyarakat setempat, kayu seperti

63

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

ini tidak baik dijadikan bahan bangunan karena selain cepat rusak juga dapat menyebabkan hidup si penhuni rumah tersebut tidak tenang (Lakebo, 1986: 99-100) 4.7.2 Peralatan Adapun peralatan yang dibutuhkan dalam proses pembangunan rumah adat suku walio. yaitu, 1. Kapak, bingku, dan golocinca (golok pelurus), digunakan untuk membersihkan atau menguliti kayu. 2. Hooti (pahat), boro, bassi (tali peluruh), digunakan untuk melubangi tiang. 3. Karakaji (Gergaji), kapulu (parang), dan pisau, digunakan untuk memotong dan meraut bambu yang akan dibuat mejadi lantai. 4. Parang, Gergaji, bingku, dan serut, yaitu digunakan untuk meluruskan kusen pintu dan kusen dinding rumah. Sementara itu, untuk menghaluskan kusen pintu dan kusen dinding, digunakan alat hooti (pahat) dalam berbagai ukuran dan uwe-uwe (water pas).

4.8.

Jenis-Jenis Bangunan terdapat bangunan-bangunan jenis lain selain rumah yang

merupakan peninggalan kesultanan buton didalam kawasan keraton Buton yang saling berhubungan dan membentuk peradaban masyarakat suku walio di kawasan tersebut. Bangunan-bangunan tersebut adalah 1. Masjid Keraton Buton

Gambar 4.12. Masjid Agung Keraton Buton

Sumber : melayu online

64

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

Mesjid Agung Keraton Buton bisa juga di sebut sebagai lambang kerajaan Buton, karena kokoh bangunanya. Masjid ini dibangun berbentuk empat persegi panjang berukuran 20,6 x 19,40 m dengan atap berjumlah dua lapis berbentuk limas. Masjid terdiri dari tiga lantai, mengikuti struktur bangunan rumah panggung yang menjadi ciri khas rumah adat masyarakat Sulawesi Tenggara. Bahan yang digunakan untuk membangun masjid itu sama dengan bahan untuk benteng keraton. Lantai satu yang lebih luas sebagai ruang shalat, sementara lantai dua yang lebih kecil berfungsi sebagai tempat mengumandangkan azan. Di atas bangunan lantai dua itu duduk bangunan empat persegi yang lebih kecil dan merupakan puncak kerucut dari keseluruhan bangunan Masjid Agung. Puncak kerucut itu adalah kubah bagi umumnya model masjid di Tanai Air. Letak Geografis Mesjid Agung Keraton Buton terletak dalam benteng keraton Buton, datas bukit yang bernama bukit sin. karena bentuknya seperti sin. Ujung I : letak kuburan seerti baaluwu di sebut waolima/walimea yang artinya "tebaslah" , tindakan pertama penebasan untuk perkampungan. Ujung II Ujung III : Torisi adalah tempat mengadakan pertemuan. : Gama/Gema yang bertujuan bergema sepanjang masa.

Bentuk atau Arsitektur bangunan Bentuk Panjang saf 13, dan 40 orang persafnya. Didirikan sejak tahun 948 H (1538) oleh Syekh Abdul Wahid. Arsitektur Bangunan Mesjid Agung Keraton didirikan pada masa kesultanan Buton adalah "Mesjid Agung Keraton" yang di dirikan pada tahun 948 H (1538

65

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

M) yang menjadi pelopor pembangunannya adalah Syekh Abdul Wahid, di bantu para pejabat tinggi kerajaan. Struktur bangunan masjid yang belum pernah diganti sejak didirikan adalah fondasi dan bangunan dinding yang bahannya menggunakan batuan kapur dengan spesimen pasir dan kapur. Ukuran masjid juga masih tetap seperti aslinya, 20,6 meter x 19,4 meter.

Luas Mesjid Luas Mesjid 18x24 m persegi, panjang berbentu Mihrab Luas serambi muka 5x40 m persegi Luas serambi kanan 8x40 m persegi Luas serambi bagian barat 20x40 m persegi Luas serambi bagian serambi kiri selatan 14x40 m persegi

Sumber : melayu online

Gambar 4.12. Masjid Agung Keraton Buton Tampak Samping Terdapat 12 pintu masuk ke dalam masjid yang salah satu di antaranya berfungsi sebagai pintu utama. Pada bagian depan masjid di sebelah timur masjid, terdapat serambi terbuka. di dalam masjid terdapat sebuah mihrab dan mimbar yang terletak secara

berdampingan. Keduanya terbuat dari batu bata yang di bagian atasnya

66

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

terdapat hiasan dari kayu berukir corak tumbuh-tumbuhan yang mirip dengan ukiran Arab. kayu yang digunakan untuk membangun masjid tersebut berjumlah 313 potong yang diidentikkan dengan jumlah tulang pada tubuh manusia. Jumlah anak tangga masuk masjid 17 buah, sama dengan jumlah rakaat salat umat Islam dalam sehari. Bedug masjid yang berukuran panjang 99 cm dianalogikan dengan asmaul husna (99 sifat Allah), dan diameter 50 cm dimaknai sama dengan jumlah rakaat salat yang pertama kali diterima Rasulullah. Pasak yang digunakan untuk mengencangkan bedug tersebut terdiri dari 33 potong kayu yang dianalogikan dengan jumlah bacaan tasbih sebanyak 33 kali. Di depan pintu utama di antara dua selasar terdapat sebuah guci bergaris tengah 50 sentimeter dengan tinggi 60 sentimeter. Guci itu terhunjam ke lantai semen berlapis marmer. Guci tersebut telah ditempatkan di situ sejak adanya masjid ini sebagai penampungan air untuk berwudu

Sumber : melayu online

Gambar 4.12. Masjid Agung Keraton Buton di Pagi dan Malam Sebuah lampu antik yang terbuat dari perunggu bercabang tiga yang digantung tepat di tengah ruangan masjid ini. Pada tiap-tiap cabang lampu gantung tersebut, tersedia tiga tempat untuk bola lampu. Konon, lampu-lampu dengan model itu hanya terdapat di tiga tempat di

67

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

Indonesia, dua lagi terdapat di dalam Istana Negara Jakarta dan Keraton Yogyakarta. Masjid Agung Keraton Buton merupakan salah satu dari sembilan Masjid kuno di Indonesia dan telah ditetapkan oleh pemerintah RI sebagai benda cagar budaya atau situs cagar budaya berdasarkan keputusan Mentri Kebudayaan dan Pariwisata No :

KM.8/PW.007/MKP.03 Tanggal 04 Maret 2003.

2. Baruga

Sumber : melayu online

Gambar 4.12. Baruga Keraton Buton Menurut sejarah Buton dahulu, yang dimulai dari kerajaan tepatnya pada tahun 1542 M dan pada tahun 1712 M Buton beralih menjadi sebuah kesultanan. dari itu pada massa pemerintahan Sultan Syakiyuddin Darul Alam atau biasa di kenal dengan Laelangi. Di masa pemerintahan beliau banyak yang dibangun Benteng keraton Buton dan salah satunya adalah Baruga. Baruga pada masa pemerintahan Laelangi berfungsi sebagai tempat berkumpulnya para sultan untuk melakukan upacara ataupun membahas masalah-masalah ekonomi, politik dan lain-lain yang di hadapi oleh masyarakat Buton. Di samping itu baruga juga digunakan untuk pelantikan sultan-sultan.

68

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

3. Benteng Keraton Buton

Benteng

Sumber : google earth

Gambar 4.12. Tampak Benteng Keraton Dari Atas

Benteng Keraton Buton merupakan salah satu peninggalan Kesultanan Buton dibangun pada abad ke-16 oleh Sultan Buton III bernama La Sangaji yang bergelar Sultan Kaimuddin (1591-1596). Pada awalnya, benteng tersebut hanya dibangun dalam bentuk tumpukan batu yang disusun mengelilingi komplek istana dengan tujuan untuk mambuat pagar pembatas antara komplek istana dengan

perkampungan masyarakat sekaligus sebagai benteng pertahanan. Pada masa pemerintahan Sultan Buton IV yang bernama La Elangi atau Sultan Dayanu Ikhsanuddin, benteng berupa tumpukan batu tersebut dijadikan bangunan permanen. Pada masa kejayaan pemerintahan Kesultanan Buton, keberadan Benteng Keraton Buton memberi pengaruh besar terhadap eksistensi Kerajaan. Dalam kurun waktu lebih dari empat abad, Kesultanan Buton bisa bertahan dan terhindar dari ancaman musuh.

69

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

Benteng

yang

merupakan bekas ibukota Kesultanan memiliki Buton ini

bentuk

arsitek

yang cukup unik, terbuat dari batu kapur/gunung. Benteng yang berbentuk lingkaran
Sumber : http://benteng-keraton buton.com

ini keliling

dengan 2.740

panjang

Gambar 4.12. Benteng Keraton Buton

meter. Benteng Keraton Buton mendapat

penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) dan Guiness Book Record yang dikeluarkan bulan september 2006 sebagai benteng terluas di dunia dengan luas sekitar 23,375 hektar. Benteng ini memiliki 12 pintu gerbang yang disebut Lawa dan 16 emplasemen meriam yang mereka sebut Baluara. Karena letaknya pada puncak bukit yang cukup tinggi dengan lereng yang cukup terjal memungkinkan tempat ini sebagai tempat pertahanan terbaik di zamannya. Dari tepi benteng yang sampai saat ini masih berdiri kokoh anda dapat menikmati

pemandangan kota Bau-Bau dan hilir mudik kapal di selat Buton dengan jelas dari ketinggian,suatu pemandangan yang cukup menakjukkan. Selain itu, di dalam kawasan benteng dapat dijumpai berbagai peninggalan sejarah Kesultanan Buton. Benteng ini terdiri dari tiga komponen yaitu Badili, Lawa, dan Baluara

Gambar 4.12. Benteng Keraton Buton dari Depan

70

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

Keunikan lain dari Benteng Keraton Buton adalah pintu masuk benteng terdiri atas 12 pintu. Oleh masyarakat Buton, pintu sebanyak itu diidentikan dengan jumlah lubang dalam tubuh manusia yaitu dua lubang mata, dua lubang hidung, dua lubang telinga, satu lubang anus, satu lubang mulut, satu lubang kecing, satu saluran sperma, satu lubang pusat, dan satu lobang keringat atau pori-pori. Lubang keluarnya sperma pada tubuh manusia, dianalogikan dengan pintu rahasia kerajaan, yakni pintu tempat keluarnya keluarga kerajaan apabila ada bahaya yang mengancam kerajaan.

Badili

Baluara

Lawa

Sumber : http://benteng_keraton_buton.com

Gambar 4.12. Bagian-Bagian Benteng Keraton Buton

71

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

4. Makam Para Sultan

Sumber : melayu online

Gambar 4.12. Bagian-Bagian Benteng Keraton Buton Makam Sultan Murhum Makam Sultan Nasruddin

5. Tiang Bendera

Sumber : melayu online

Gambar 4.12. Tiang Bendera Keraton Buton Didirikan pada abad ke-17, untuk mengibarkan Tombi kerajaan Buton. Bahan dasarnya terbuat dari kayu jati dengan tinggi 21 M dari permukaan tanah yang berdiameter antara 25 cm hingga 70 cm.

72

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

Tiang bendera ini didirikan tepatnya pada tahun 1712 M, didirikan oleh Sultan Nur Alam dan sudah berumur kurang lebih 300 tahun dan fungsi utama Tiang bendera ini adalah sebuah syarat utama sebuah kerajaan. 6. Liana Latoundu (Gua Arupalaka)

Sumber : melayu online

Gambar 4.12. Gua Arupalaka Di Tepi Tebing Keraton Buton Gua ini merupakan ceruk kecil bentukan Alam setinggi 1,5 M di jadikan tempat persembunyian Latoundu (Arupalaka) Raja Bone yang berpengaruh di tanah Bugis yang melarikan diri ke Buton pada tahun 1660 dan menetap tidak lama dan kembali lagi ke Sulawesi selatan untuk memimpin perlawanan menghadapi Gowa.

73

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

BAB V PENUTUP
5.1. Kesimpulan Berdasarkan beberapa temuan penelitian, dapat dirumuskan bahwa arsitektur tradisional Keraton Buton dipengaruhi oleh tradisi yang masih tetap dipegang teguh oleh masyarakatnya. Hal ini dapat dilihat dari berbagai aspek yaitu: 1. Konsep pembangunan rumah adat Buton diambil dari norma Falsafah Martabat Tujuh. Sebagai Undang-undang dasar

Kesultanan Buton, penerapan dan maknanya telah mengakar dan telah dijadikan tradisi bagi masyarakat Melai dalam berkehidupan sosial masyarakat termasuk dalam hal membangun rumah. 2. Simbol yang melekat di konstruksi rumah Buton mempunyai makna yang sangat sakral yang di ambil dari alam kosmos sebagai manifestasi ajaran agama dilihat dari proses budaya. 3. Konstruksi dalam rumah adat buton memiliki keunikan yaitu rumah panggung dengan hirarki ruang yg dipengaruhi oleh ajaran tasawuf dengan struktur sambungan kayu yang saling mengait dengan pasak kayu tanpa menggunakan paku. 4. Keberlanjutan arsitektur tradisional Keraton buton terancam

kelangsungannya. Hal ini disebabkan adanya kelangkaan dan mahalnya kayu yang dibutuhkan dan maraknya pembangunan rumah modern.

Dari beberapa kesimpulan diatas, dapat dirumuskan bahwa hubungan kebudayaan dalam proses dan hasil pembangunan rumah adat suku Walio dalam hal ini Malige yang merupakan arsitektur tradisional Keraton Buton sangat sarat akan nilai-nilai dan makna yang sakral yg di

74

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

pengaruhi oleh ajaran Tasawuf dalam Falsafah Martabat Tujuh yg masih di pegang masyarakat buton hingga kini.

5.2.

Rekomendasi Menindaklanjuti hal tersebut diatas, penulis mengajukan beberapa

saran sebagai masukan yaitu: 1. Ada pendapat yang mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai budayanya termasuk rumah tradisional - , karena itu kita perlu menjaga citra dan jati dirinya bangsa kita yang merupaka warisan nusantara dengan peduli dan berperan dalam pelestariaannya. serta ikut serta dalam

memperkenalkan budaya kita ke dunia. 2. Arsitek sebagai salah satu penentu arah perkembangan asitektur di Indonesia dituntut untuk lebih aktif berperan dalam menentukan arah dengan pemahaman terhadap nilai dan norma yang hidup di masyarakat sebagai tolok ukurnya. Selain itu, diperlukan pula kreativitas untuk menjabarkan rambu-rambu tradisional sebagai suatu konsep yang telah lama dimiliki masyarakat ke dalam bentuk-bentuk yang akrab dengan lingkungan dan mudah dicerna apa makna serta pesan yang akan disampaikan.

75

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

Daftar Pustaka
Ahmadi, Ali La Ode, 2006. Makna Simbolis Pada Istana Malige Buton. Surabaya. Andjo, Nur Ikhsanuddin, 1999, Rumah Adat Buton, Majalah Budaya Buton Edisi II dan III, Kendari: Yayasan Wolio Malagi. Anonim. "Asal Mula Orang Buton", [online], tersedia dalam

(http://orangbuton.wordpress.com),[diaploud pada tanggal 22 Juli 2008]. Bertyn Lakebo, at al., 1986. arsitektur tradisional daerah sulawesi tenggara. jakarta: departemen pendidikan dan kebudayaan. La Ode Ali Ahmad. 2009. " Makna Simbolis Pada Istana Malige Buton", [online], tersedia dalam (http://bumibuton.blogspot.com/2011/01/maknasimbolis-pada-istana-malige-buton.htm),[diaploud pada tanggal desember 2012]. Nusriat, 1988, Mesjid Keraton Buton, Skripsi, Ujung Pandang : Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin. Rieska Wulandari. 2009. "Pulau Aspal Dengan Kerajaan Agung", [online], tersedia dalam(http://orangbuton.wordpress.com), {diaploud pada tanggal 1 Agustus 2008]. "Bangunan-Bangunan Tanpa Paku", [online], tersedia dalam

(http://segasih.blogspot.com/2012/05/bangunan-bangunan-tanpapaku.html). Banua Tada: Rumah Tradisional Suku Wolio di Sulawesi Tenggara, [online], tersedia dalam (http://m.melayuonline.com/ind/literature/dig/2601 /banua-tada-rumah-tradisional -suku-wolio-di-sulawesi-tenggara), [di

aploud pada tanggal 30 April 2013]

ARSITEKTUR TRADISIONAL KERATON BUTON Perkembangan Arsitektur 1

Benteng

Keraton

Buton",

[online],

tersedia

dalam

(http://id.wikipedia.org/wiki/Benteng_Keraton_Buton), [diaploud pada pada 15.05, 7 April 2011]. "Istana Malige", [online], tersedia dalam (http://id.wikipedia.org

/wiki/Istana_Malige), [diaploud pada pada 02.36, 7 Juli 2011]. "Kesultanan Buton - Chapter-1"oleh Gundala. [online], tersedia dalam (http://gundala69.wordpress.com), [diunduh pada tanggal 14 Maret 2008] "Kerajaan/Kesultanan Buton - Wolia Mogalina : Negeri Yang Lestari" oleh bluemoon feal, [online], tersedia dalam (http://old.

kaskus.co.id/showthread.php?t=2996730), [diaploud pada tanggal 25 desember2009, 12:20 AM]. "Malige: Rumah Adat Orang Buton"' [online], tersedia dalam (http://archnewsnusantara.wordpress.com),[diaploud pada 9 agustus 2009 / 8:09 pm]. "Miniatur Konstruksi", Rumah [online], Tradisional/Adat tersedia dalam Sulawesi Tenggara-Rangka

(http://esdenart.blogspot.com

/2012_10_01_archive.html), [diaploud pada tanggal Selasa, 23 Oktober 2012]. "Perkembangan Arsitektur, Tanggung Jawab Arsitek Dan Masyarakat" oleh Budy Fathony - ikatan peneliti lingkungan binaan indonesia. [online], tersedia dalam (http://iplbi.or.id/2012/02/perkembangan-arsitektur[diaploud pada tanggal 7

tanggung-jawab-arsitek-dan-masyarakat/), februari 2012].

"Sultan Butuni Pemimpin Orang Buton", [online], tersedia dalam (http://semua-tentangkehidupanku.blogspot.com), [diaploud pada tanggal Jumat, 26 Juni 2009].