Anda di halaman 1dari 19

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur atas kebesaran Allah SWT telah menciptakan keanekaragaman ilmu pengetahuan alam semesta ini. Dan karena rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan case report ini. Penyelesaian dari case report ini tidak terlepas dari peran serta dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada kesempatan kali ini izinkanlah penulis menyampaikan terima kasih kepada pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan referat ini. Semoga Allah SWT membalasnya dengan memberikan imbalan yang setimpal kepada kami. Setiap manusia pasti memiliki kesalahan. Begitu pula dengan buah karya dari tangan manusia itu sendiri yang masih memerlukan beberapa perbaikan dalam pembuatan case report selanjutnya. Karena itu penulis sangat memerlukan saran, kritik, dan komentar, agar dapat dijadikan pedoman dalam pembuatan case report selanjutnya. Semoga case report ini dapat berguna bagi para pembaca.

Cirebon, 21 januari 2013

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ...................................................................................... 1 DAFTAR ISI ..................................................................................................... 2 BAB I. PENDAHULUAN. 3 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA..........4 2.1. Definisi ....................................................................................................... 5 2.2. Klasifikasi.................................................................................................... 5 2.3. Etiologi......7 2.4. Diagnosis...7 2.5. komplikasi.....7 2.6. Penatalaksanaan.....8 BAB III. LAPORAN KASUS..9 BAB 4. PEMBAHASAAN19 BAB 5. KESIMPULAN20 DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

Persalinan normal suatu keadaan fisiologis, normal dapat berlangsung sendiri tanpa intervensi penolong. Kelancaran persalinan tergantung 3 faktor P utama yaitu kekuatan ibu (Power), keadaan jalan lahir (Passage) dan keadaan janin (Passanger). Faktor lainnya adalah psikologi ibu (respon ibu), penolong saat bersalin, dan posisi ibu saat persalinan. Dengan adanya keseimbangan atau kesesuaian antara faktor-faktor P tersebut, persalinan normal diharapkan dapat berlangsung. Bila ada gangguan pada satu atau lebih faktor P ini, dapat terjadi kesulitan atau gangguan pada jalannya persalinan. Kelambatan atau kesulitan persalinan ini disebut distosia. Salah satu penyebab dari distosia adalah karena kelainan His (Power) menyebabkan rintangan pada proses kelahiran sehingga persalinan mengalami hambatan atau kemacetan. Distosia berpengaruh buruk bagi ibu maupun janin. Pengenalan dini dan penanganan tepat akan menentukan prognosis ibu dan janin.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Definisi Distosia atau persalinan disfungsional didefinisikan sebagai persalinan yang panjang, sulit, atau abnormal yang timbul akibat berbagai kondisi yang berhubungan dengan 5 faktor persalinan. Adapun keadaan yang dapat menyebabkan distosia : 1. Persalinan disfungsional akibat kontraksi uterus yang tidak efektif atau akibat upaya mengedan ibu ( Kekuatan/ Power). 2. Perubahan struktur pelvis (jalan lahir/ passage). 3. Sebab - sebab pada janin, meliputi kelainan presentasi maupun kelainan posisi, bayi besar dan jumlah bayi ( passanger ). 4. Posisi ibu selama persalinan dan melahirkan. 5. Respon psikologis ibu selama persalinan yang berhubungan dengan pengalaman, persiapan, budaya dan warisannya, serta sistem pendukung 1. Kelima faktor ini bersifat interdependen. Dalam mengkaji pola persalinan abnormal wanita, seorang tenaga medis harus mempertimbangkan interaksi kelima faktor ini dan bagaimana kelima faktor tersebut mempengaruhi proses persalinan. Distosia diduga terjadi jika kecepatan dilatasi serviks, penurunan dan pengeluaran (ekspulsi) janin tidak menunjukan kemajuan, atau jika karakteristik kontraksi uterus menunjukan perubahan. Kelainan his adalah suatu keadaan dimana his tidak normal, baik kekuatannya maupun sifatnya sehingga menghambat kelancaran persalinan. Distosia kelainan His (Power) merupakan His yang abnormal dalam kekuatan atau sifatnya menyebabkan kerintangan pada jalan lahir yang lazim terdapat pada setiap persalinan, tidak dapat diatasi sehingga persalinan mengalami hambatan atau kemacetan. His yang normal atau adekuat adalah his persalinan yang menyebabkan kemajuan persalinan. His persalinan tersebut meliputi : 1) Secara klinis yaitu minimal 3 kali kontraksi dalam 10 menit, biasanya selama 40-60 detik, sifatnya kuat. 2) KTG yaitu 3 kali kontraksi dalam 10 menit, biasanya selama 40-60 detik dengan tekanan intrauterina 40-60 mmHg.
4

3) Tonus otot rahim diluar his tidak seberapa tinggi, lalu meningkatkan pada waktu his. Pada kala pembukaan servik ada 2 fase : fase laten dan fase aktif yang digambarkan pada servikogram menurut friedman. 4) Kotraksi rahim dimulai pada salah satu tanduk rahim, sebelah kanan atau kiri, lalu menjalar keseluruh otot rahim. 5) Fundus uteri berkontraksi lebih dulu (fundal dominan) lebih lama dari bagian-bagian lain. Bagian tengah berkontraksi agak lebih lambat, lebih singkat dan tidak sekuat kontraksi fundus uteri bagian bawah (segmen bawah rahim) dan serviks tetap pasif atau hanya berkontraksi sangat lemah. 6) Sifat-sifat his : lamanya, kuatnya, keteraturannya, seringnya dan relaksasinya, serta sakitnya.1 II.2 klasifikasi distosia karena his Distosia karena kelainan His ( his hipotonik dan his hipertonik ) dapat disebabkan karena: a) Inersia uteri hipotonik Adalah kelainan his dengan kekuatan yang lemah / tidak adekuat untuk melakukan pembukaan serviks atau mendorong anak keluar. Di sini kekuatan his lemah dan frekuensinya jarang. Sering dijumpai pada penderita dengan keadaan umum kurang baik seperti anemia, uterus yang terlalu teregang misalnya akibat hidroamnion atau kehamilan kembar atau makrosomia, grandemultipara atau primipara, serta pada penderita dengan keadaan emosi kurang baik. Dapat terjadi pada kala pembukaan serviks, fase laten atau fase aktif, maupun pada kala pengeluaran. 2 Inertia uteri hipotonik terbagi dua, yaitu : 1) Inersia uteri primer Terjadi pada permulaan fase laten. Sejak awal telah terjadi his yang tidak adekuat ( kelemahan his yang timbul sejak dari permulaan persalinan ), sehingga sering sulit untuk memastikan apakah penderita telah memasuki keadaan inpartus atau belum. 2) Inersia uteri sekunder Terjadi pada fase aktif kala I atau kala II. Permulaan his baik, kemudian pada keadaan selanjutnya terdapat gangguan / kelainan. b) Inersia uteri hipertonik
5

Adalah kelainan his dengan kekuatan cukup besar (kadang sampai melebihi normal) namun tidak ada koordinasi kontraksi dari bagian atas, tengah dan bawah uterus, sehingga tidak efisien untuk membuka serviks dan mendorong bayi keluar. Disebut juga sebagai incoordinate uterine action. Contoh misalnya tetania uteri karena obat uterotonika yang berlebihan. Pasien merasa kesakitan karena his yang kuat dan berlangsung hampir terusmenerus. Pada janin dapat terjadi hipoksia janin karena gangguan sirkulasi uteroplasenter. Faktor yang dapat menyebabkan kelainan ini antara lain adalah rangsangan pada uterus, misalnya pemberian oksitosin yang berlebihan, ketuban pecah lama dengan disertai infeksi, dan sebagainya.2 Inersia uteri Kejadian Saat terjadinya Nyeri Fetal distres Reaksi terhadap oksitosin Pengaruh sedative Hipotonis 4 % dari persalinan Fase aktif Tidak nyeri Lambat terjadi Baik sedikit Inersia uteri Hipertonis 1% persalinan Fase laten Nyeri berlebihan Cepat Tidak baik Besar

c) Incoordinate uterine action Disini sifat His berubah. Tonus otot uterus meningkat, juga di luar His dan kontraksinya tidak berlangsung seperti biasa karena tidak ada sinkronasi kontraksi bagian-bagiannya. Tidak adanya koordinasi antara kontraksi bagian atas, tengah dan bawah menyebabkan His tidak efisien dalam mengadakan pembukaan.2 Disamping itu, tonus otot uterus yang menaik menyebabkan rasa nyeri yang lebih keras dan lama bagi ibu dapat pula menyebabkan hipoksia pada janin. His ini juga di sebut sebagai Incoordinate hypertonic uterine contraction. Kadang-kadang pada persalinan lama dengan ketuban yang sudah lama pecah, kelainan His ini menyebabkan spasmus sirkuler setempat, sehingga terjadi penyempitan kavum uteri pada tempat itu. Ini dinamakan lingkaran kontraksi atau lingkaran kontriksi. Secara teoritis lingkaran ini dapat terjadi dimana-mana, tetapi biasanya ditemukan pada batas antara bagian atas dengan segmen bawah uterus. Lingkaran kontriksi tidak dapat diketahui dengan pemeriksaan dalam, kecuali kalau pembukaan sudah lengkap sehingga tangan dapat dimasukkan ke dalam kavum uteri.
6

II.3 Etiologi Menurut Prof. dr. Sarwono Prawirohardjo (2009) penyebab inersia uteri yaitu : 1. Kelainan his terutama ditemukan pada primigravida, khususnya primigravida tua. 2. Inersia uteri sering dijumpai pada multigravida. 3. Faktor herediter 4. Faktor emosi dan ketakutan 5. Salah pimpinan persalinan 6. Bagian terbawah janin tidak berhubungan rapat dengan segmen bawah uterus, seperti pada kelainan letak janin atau pada disproporsi sefalopelvik 7. Kelainan uterus, seperti uterus bikornis unikolis 8. Salah pemberian obat-obatan, oksitosin dan obat penenang 9. Peregangan rahim yang berlebihan pada kehamilan ganda atau hidramnion 10. Kehamilan postmatur 2 II.4 Diagnosis Menurut Prof. dr. Sarwono Prawirohardjo (2009) diagnosis inersia uteri paling sulit dalam masa laten sehingga diperlukan pengalaman. Kontraksi uterus yang disertai rasa nyeri, tidak cukup untuk membuat diagnosis bawah persalinan sudah mulai. Untuk pada kesimpulan ini diperlukan kenyataan bahwa sebagai akibat kontraksi itu terjadi perubahan pada serviks, yaitu pendataran atau pembukaan. Kesalahan yang sering terjadi pada inersia uteri adalah mengobati pasien padahal persalinan belum dimulai (False Labour). 1 II.5 Komplikasi Inersia uteri dapat menyebabkan persalinan akan berlangsung lama dengan akibatnya terhadap ibu dan janin (infeksi, kehabisan tenaga, dehidrasi, dll) 1. Inersia uteri dapat menyebabkan kematian atau kesakitan 2. Kemugkinan infeksi bertambah dan juga meningkatnya kematian perinatal. 3. Kehabisan tenaga ibu dan dehidrasi : tanda-tandanya denyut nadi naik, suhu meninggi, asetonuria, napas cepat, meteorismus, dan turgor berkurang 2,4

II.6 Penatalaksanaan Menurut Prf. Dr. Sarwono Prawirohardjo penanganan atau penatalaksanaan inersia uteri adalah : 1. Periksa keadaan serviks, presentasi dan posisi janin, turunnya bagian terbawah janin dan keadaan janin. 2. Bila kepala sudah masuk PAP, anjurkan pasien untuk jalan-jalan. 3. Buat rencana untuk menentukan sikap dan tindakan yang akan dikerjakan misalnya pada letak kepala : a. Berikan oksitosin drips 5-10 satuan dalam 500 cc dextrose 5%, dimulai dengan 12 tetes permenit, dinaikkan 10-15 menit sampai 40-50 tetes permenit. Tujuan pemberian oksitosin adalah supaya serviks dapat membuka. b. Pemberian okstisosin tidak usah terus menerus. Bila tidak memperkuat his setelah pemberian oksitosin beberapa lama hentikan dulu dan anjurkan ibu untuk istirahat. Pada malam hari berikan obat penenang misalnya valium 10 mg dan esoknya diulang lagi pemberian oksitosin drips. c. Bila inersia uteri diserati disproporsi sefalopelvis maka sebaiknya dilakukan seksio sesaria. d. Bila semula his kuat tetapi kemudian terjadi inersia uteri sekunder, ibu lemah, dan partus telah berlangsung lebih dari 24 jam pada primi dan 18 jam pada multi tidak ada gunanya memberikan oksitosin drips. Sebaiknya partus segera diselesaikan sesuai dengan hasil pemeriksaan dan indikasi obstetrik lainnya (Ekstrasi vakum, forcep dan seksio sesaria).2,4,5

BAB II1 LAPORAN KASUS

Status Obstetri
Data Pasien Nama Umur Pekerjaan Agama Suku/Bangsa Alamat Data Suami : Ny. I/S1 Nama : 25 tahun Umur : Guru Pekerjaan : Islam Agama : Padang/Indonesia Suku/Bangsa : Jalan ujung harapan kec. Kesambi Cirebon-Jabar : Tn. E/S1 : 40 tahun : PNS : Islam : Sunda/Indonesia

Tanggal masuk RS Rujukan dari

: 14 januari 2013 : Datang sendiri

Waktu : Pkl 02.20 WIB

I. ANAMNESA 1. Keluhan Utama : Merasa mules-mules disertai pengeluaran pervaginam lendir bercampur darah. 2. Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien wanita,35 tahun G3P0A2 merasa hamil 9 bulan dan pasien masih merasakan gerakan janin. Menurut HPHT usia kehamilan pasien 39-40 minggu, selama ini pasien control ke puskesmas secara teratur dan pernah USG dikatakan bayi normal. Dan pasien tidak pernah mengalami tekanan darah tinggi. Satu setengah jam yang lalu keluar air-air dari kemaluan pasien, berwarna bening disertai lendir dan darah. Pasien juga merasakan mules yang semakin bertambah sejak 12 jam SMRS, namun tidak bertambah banyak sejak mules yang pertama. Saat itu pasien masih dapat merasakan gerakan janin. Selama hamil pasien tidak pernah mengalami keputihan atau nyeri saat berkemih. Pasien juga tidak mengalami sakit kepala, pandangan kabur, nyeri ulu hati dan kejang.

3. Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat penyakit seperti diabetes militus, hipertensi, asma, dan alergi serta TBC disangkal oleh pasien. 4. Riwayat Operasi Riwayat operasi disangkal oleh pasien. 5. Riwayat Pernikahan Perkawinan yang ke : 1 6. Riwayat Obstetri NO 1 2 3 KEHAMILAN/PARTUS Abortus / 2bln Abortus / 4bln Sekarang UMUR 2010 2011 KEADAAN ANAK KET Kuretase-RSUDGJ Kuretase-RSUDGJ Lama Perkawinan sekarang : 4 Tahun.

7. Kehamilan Sekarang, Hari pertama haid terakhir (HPHT) Hari perkiraan lahir (HPL) : : 12 04 2012 19 01 2013

8. Riwayat ANC Berapa kali : > 9 kali Dimana : Rumah Sakit

II. STATUS PRAESENS 1. Keadaan Umum 2. Tanda-tanda Vital, Tekanan Darah Frekuensi Nadi Frekuensi Nafas Suhu Tinggi Badan : : : : : 130/80 mmHg 100 kali/menit 24 kali/menit 36,2C 162 cm : Compos Mentis

10

Berat Badan Tidak Tidak

65 kg

3. Konjungtiva Anemis : Konjungtiva Ikterik : 4. Mammae 5. Jantung 6. Paru-paru 7. Edema : : : :

Puting susu tidak simetris,kedua puting menonjol BJ I/II reguler dan tidak ada suara jantung tambahan VBS +/+, wheezing -/-, ronkhi -/Tidak terdapat edema pada kaki

III. PEMERIKSAAN OBSTETRI 1. Pemeriksaan Luar Tinggi Fundus Uteri : 33 cm Letak Anak DJJ His : Memanjang, Puki, Preskep : 140 kali/menit : 2x/ 10/30 TBJ : 3410 gram

2. Pemeriksaan Dalam Vulva/vagina Porsio Pembukaan Selaput ketuban Bagian terendah Kesan panggul : Tidak Ada Kelainan : Tipis lunak : 6-7 cm : (-) : Kepala : Normal Hodge : 1-2

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan pada Tanggal 14 januari 2013 Leukosit Eritrosit Hemoglobin Hematokrit Trombosit PCT DIFF % Limfosit : 19,5 L Limfosit : 1,7 103/mm3
11

: 8,9 x 103/mm3 : 3,09 x 106/mm3 : 8,6 gr/dL : 26,5 % : 160 x 103/mm3 : 0.124 %

MCV MCH MCHC RDW MPV FDW

: 55 m3 : 17 pg : 33,2 gr/dL : 13,8 % : 7,8 fl : 13,2 %

% Monosit % Granulosit

: 4,7 L : 75,8 H

Monosit Granulosit

: 0,4 L 103/mm3 : 6,8 H 103/mm3

V. DIAGNOSIS G3P0A2 Gravida aterm (39-40 mg) kala 1 fase aktif dengan inersia utery + anemia sedang VI. PENATALAKSANAAN Rencana Monitoring 1. Observasi TNSP, his dan DJJ/30 menit 2. Rencana awal partus pervaginam : augmentasi dengan oksitosin 5 IU/500 mL RL, naikan 4 tetes/30 menit sampai his adekuat kemudian nilai ulang 3 jam setelah his adekuat. . Rencana Edukasi Konseling keluarga perihal rencana perawatan sekaligus informed consent

Observasi Ruang Persalinan 14 Januari 2013 pk 02.30 Terpasang augmentasi oksitosin 5 IU dalam 500 cc RL mulai 8 tpm naik 4 tetes dalam 30 menit sampai his adekuat, nilai 3 jam setelaah his adekuat. 14 Januari 2013 pk 03.00 Tercapai his adekuat dengan oksitosin 8 tpm nilai ulang 3 jam kemudian 06.00) HIS : 3 x/10 35. 24 Januari 2013 pk 04.00 S : ibu ingin meneran, gerak janin + O : KU baik , CM, TD 120/90, N 89x/menit, R 22x/menit, S 36,2C Status generalis : Mata : konjungtiva pucat +/+, sclera ikterik -/Paru : VBS +/+, Rh -/-, Wh -/Jantung : BJ I-II Reg, M -, G -/12

Ekstremitas : akral hangat Status obstetrikus : His 4x/10/35, DJJ 138 dpm VT : portio lengkap, lengkap, kepala H III-IV, selaput ketuban -, Diangnosis : G3P0A2 parturient aterm (39-40 minggu) kala 1 fase aktif dengan inersia utery+ anemia sedang. Advice : pimpin meneran 14 Januari 2013 pk 04.45 S : ibu dipimpin meneran O : KU baik , CM, TD 120/80, N 90x/menit, R 24x/menit, S 36,2C Status generalis : Mata : konjungtiva pucat +/+, sclera ikterik -/Paru : VBS +/+, Rh -/-, Wh -/Jantung : BJ I-II Reg, M -, G -/Ekstremitas : akral hangat Status obstetrikus : His 4x/10/40, DJJ 140 dpm VT : portio lengkap, lengkap, kepala H III-IV, selaput ketuban -, 14 Januari 2013 pk 05.05 Dengan persalinan pervaginam lahir bayi perempuan, BL 3520 gr, AS 7/9, bayi dikeringkan dan diselimuti, tali pusat dijepit dan dipotong, ibu disuntik oksitosin 10 IU im kemudian dilakukan peregangan tali pusat terkendali. 14 Januari 2013 pk 05.10 Lahir spontan plasenta lengkap, dilakukan masase fundus, kontraksi baik, pada eksplorasi didapatkan rupture perineum gr II, dilakukan jahitan hemostasis dan perineurafi. Perdarahan kala III dan IV 250 cc. Observasi 2 jam postpartum Jam ke I Waktu 05.20 TD 120/80 Nadi 92 Suhu 36,5 TFU 2 jbpst Kontraksi Baik Perdarahan BAK 13

05.35 05.55 II 06.10 06.40 07.10

120/80 120/80 120/70 120/70 120/70

92 90 90 88 88 36

2 jbpst 2 jbpst 2 jbpst 2 jbpst 2 jbpst

Baik Baik Baik Baik Baik

LABORATORIUM DARAH Pemeriksaan darah pada Tanggal 15 januari 2013 Leukosit Eritrosit Hemoglobin Hematokrit Trombosit PCT : 14,3 x 103/mm3 : 3,25 x 106/mm3 : 8,3gr/dL : 27,6 % : 197 x 103/mm3 : 0.167 % MCV MCH MCHC RDW MPV PDW : 55 m3 : 17 pg : 32,8 gr/dL : 13,7 % : 8,4 fl : 15,3 %

VII. PROGNOSIS Ibu Janin : : Quo ad vitam Quo ad fuctionam Quo ad vitam Quo ad fuctionam : : : : Bonam Bonam Bonam Bonam

VIII. RESUME Pasien berusia 35 tahun, G3P0A2 datang dengan keluhan perut mules bagian bawah dan menjalar sampai kepinggang, disertai pengeluaran pervaginam lendir bercampur darah. Riwayat penyakit Jantung, Hipertensi, Asma brochial, TBC dan Diabetes Melitus disangkal oleh pasien. Riwayat operasi disangkal pasien. Ini ada pernikahan pertama sejak 4 tahun yang lalu. Riwayat Obstetri : kehamilan 1 aburtus usia kehamilan 2 bulan tahun 2010 dan kehamilan kedua aburtus usia kehamilan 4 bulan tahun 2011

14

Dari pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran Compos Mentis dengan tekanan darah 130/80 mmHg, frekuensi nadi 100 kali/menit, frekuensi nafas 24 kali/menit, suhu di axilla 36,2C. Status general dalam batas normal. Pada pemeriksaan obstetri ditemukan tinggi fundus uteri 33 cm,Letak anak : Memanjang-Puka-Preskep,Denyut Jantung Janin 140 kali/menit, dan his positif 2x/10/30. Pada pemeriksaan dalam didapatkan keadaan Vulva dan vagina tidak ada kelainan,Portio lunak lunak dan Pembukaan 6-7cm , Selaput ketuban positif dan bagian terendah kepala Hodge 1-11 Pada pemeriksaan penunjang didapatkan Hb 8,6 gr/dl. Setelah itu dilakukan pemeriksaan CTG. Setelah dilakukan semua pemeriksaan pasien di observasi dan di rencanakan untuk persalinan pervaginam .

15

BAB IV PEMBAHASAN Wanita berusia 35 tahun, G3P0A2 datang ke rumah sakit dengan ketuban pecah 1 jam. Ketuban pecah pada pasien ini disertai pengeluaran lendir dan darah (bloody show). Pasien juga mengalami kontraksi yang semakin bertambah sejak 12 jam sebelum masuk rumah sakit. Dari pemeriksaan status obstetrikus didapatkan portio yang semakin menipis dengan tebal cm dengan pembukaan 6-7 cm. Datadata tersebut menunjukkan bahwa pasien sudah mengalami in partu yaitu berada dalam PK I aktif. Namun, dari pemeriksaan didapatkan his 2x/10/30. His pada pasien ini termasuk his yang tidak adekuat jika dibandingkan dengan fase persalinan sehingga dapat dikatakan pada pasien ini terdapat inersia uteri pada PK I aktif. Inersia uteri pada PK I aktif dapat berupa protraction disorder dan arrest disorder. Pada protraction disorder perkembangan yang terjadi lebih lambat dari seharusnya (dilatasi serviks kurang dari 1 cm/jam dalam pemantauan minimal 4 jam), sedangkan pada arrest disorder, tidak ada perkembangan sama sekali. Pada pasien ini tidak diketahui jenis gangguan inersia uteri karena pembukaan awal tidak diketahui dan observasi 4 jam tidak dilakukan. Namun, berdasarkan his yang tidak adekuat yaitu 2x/10/30 dapat dilihat bahwa terdapat inersia uteri hipotonik dimana kontraksi uterus kurang dari normal, lemah dan dalam durasi yang pendek. Penyebab inersia uteri hipotonik (Hypotonic Uterine Ineartio) belum diketahui, namun pada pasien ini didapatkan factor resiko anemia yang diketahui dari pemeriksaan laboratorium . Hal ini diperkuat dengan adanya konjungtiva pucat pada mata dan dari hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan kadar Hb 8,6.. Dari pemeriksaan USG didapatkan janin tunggal hidup dengan denyut jantung janin dalam batas normal dan gerakan janin masih aktif, maka dipikirkan untuk partus pervaginam sehingga dilakukan penguatan atau augmentasi dari kontraksi uterus. Augmentasi dilakukan dengan pemberian Oksitosin 5 IU dalam 500 cc RL yang dimulai dengan 8 tetes permenit kemudian dinaikkan 4 tetes dalam 30 menit sehingga
16

didapatkan his yang adekuat. Tiga puluh menit setelah pemberian Oksitosin dicapai keadaan his yang adekuat dengan 8 tetes permenit dan direncanakan untuk penilaian ulang 3 jam kemudian. Empat puluh menit kemudian didapatkan pembukaan lengkap sehingga ibu dipimpin meneran.. Dari pemeriksaan denyut jantung janin didapatkan denyut jantung yaitu 140 dpm. Hal ini dinyatakan sebagai bukan gawat janin pada PK II sehingga pimpin persalinan dilanjutkan. 14 Januari 2013 pk 05.05Dengan persalinan pervaginam lahir bayi perempuan, BL 3520 gr, AS 7/9, bayi dikeringkan dan diselimuti, tali pusat dijepit dan dipotong, ibu disuntik oksitosin 10 IU im kemudian dilakukan peregangan tali pusat terkendali Anemia pada pasien ini adalah anemia mikrositik hipokrom berdasarkan kadar Hb 8,6 mg/dL , MCV 55 pg dan MCH 17fl. Anemia mikrositik hipokrom dapat disebabkan oleh defisiensi besi atau thalasemia.. Untuk memastikan anemia defisiensi besi perlu dilakukan pemeriksaan kadar feritin, serum iron dan TIBC. Kadar hemoglobin saat pasien datang adalah 8,6 mg/dL dan kadar hemoglobin setelah melahirkan adalah 8,3 mg/dL sehingga dibutuhkan transfuse PRC pada pasien ini. Prognosis ad vitam pada pasien ini adalah bonam mengingat tidak ada faktor yang mengancam keselamatan pasien. Adanya anemia pada pasien diatasi dengan transfusi PRC. Prognosis ad functionam pada pasien adalah bonam karena dengan keadaan dan tindakan yang dilakukan terhadap pasien tidak menimbulkan perlukaan hebat pada jalan lahir sedangkan prognosis ad sanactionam pada pasien ini adalah bonam karena pasien tidak memiliki faktor resiko untuk terjadinya inersia uteri pada kehamilan berikutnya kecuali jika pada kehamilan berikutnya didapatkan kelainan yang bermakna. Prognosis ad vitam, ad functionam dan ad sanactionam pada bayi adalah bonam karena keberhasilan dari persalinanan pervaginam dengan induksi oksitosin .

17

BAB V KESIMPULAN Inersia uteri adalah kelainan his yang kekuatannya tidak adekuat untuk melakukan pembukaan serviks atau mendorong janin keluar. Disini kekuatan his lemah dan frekuensinya jarang. Sering dijumpai pada penderita dengan keadaan umum kurang baik seperti ,primitua, anemia, uterus yang terlalu teregang misalnya akibat hidramnion atau kehamilan kembar atau makrosomia, grandemultipara atau primipara, serta para penderita dengan keadaan emosi kurang baik. Dapat terjadi pada kala pembukaan serviks, fase laten atau fase aktif maupun pada kala pengeluaran

18

DAFTAR PUSTAKA 1. Prawirohardjo, S. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka. Jakarta. 2009 2. Mochtar, R. Partus Lama dan Partus Terlantar dalam SINOPSIS OBSTETRI. Jilid I. Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran. EGC. Jakarta. 2002 3. Oxorn, H. Patologi dan Fisiologi Persalinan. Yayasan Essentia Medica. Jakarta . 1990. 4. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Haunth JC. Williams obstetrics. 22 nd ed. 2006. Mc Graw hill. 5. Induksi dan Akselerasi Persalinan. Pada Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : 2002. Hal P 10- P 15.

19

Anda mungkin juga menyukai