Anda di halaman 1dari 13

Sudrajat, et.al.

REVIEW PAPER

Ekologi Industri :
Prospek Penerapannya di Indonesia *
H. Sudrajat ,, M.E. Subandrio, A.W. Pradipta
Corresponding Author : hanggara.sudrajat@gmail.com

Kata kunci
ekologi industri kawasan industri agroindustri

Abstrak
Telah dilakukan kajian mengenai ekologi industri sebagai suatu konsep baru dalam mempelajari dampak sistem industri pada lingkungan dan prospek penerapannya di Indonesia. Hasilnya menunjukan bahwa industri di Indonesia masih berupa kawasan industri yang belum memiliki simbiosis satu sama lain sehingga masih menimbulkan banyak dampak negatif ke lingkungan. Pada kawasan industri di negara maju, telah terbukti bahwa dengan menerapkan konsep ekologi industri, maka keuntungan secara ekonomi termasuk peningkatan kinerja lingkungan dapat tercapai. Pada kajian ini akan diuraikan dua contoh kasus potensi penerapan ekologi industri di Indonesia yang berbasis agro. Pada contoh kasus pertama, kawasan industri yang dikaji adalah murni berbasis agro dimana tidak melibatkan industri-industri berat, kemudian untuk contoh kasus yang kedua adalah kombinasi kawasan indutri berbasis industri berat yang potensial untuk diintegrasikan dengan industri berbasis agro. * sebagai bagian dari tugas matakuliah ekologi industri

Alamat

korespondensi : Mahasiswa Pascasarjana, Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

1. Latar Belakang Masalah lingkungan hidup banyak dibicarakan sejak diselenggarakannya konferensi PBB tentang lingkungan hidup di Stockholm, Swedia, pada tanggal 15 Juni 1972 [1]. Di Indonesia, tonggak sejarah masalah lingkungan hidup dimulai dengan diselenggarakannya seminar pengelolaan lingkungan hidup dan pembnagunan nasional oleh Universitas Padjajaran di Bandung pada tanggal 15-18 Mei 1972 [2]. Sebenarnya permasalahan lingkungan bukan merupakan suatu hal yang baru, melainkan sudah muncul sejak lahirnya bumi, hanya saja karena berbagai sebab maka masalah ini tidak mencuat ke permukaan [3]. Ada anggapan bahwa masalah lingkungan hidup menjadi besar karena kemajuan teknologi [4]. Sebenarnya anggapan tersebut tidak seluruhnya benar karena pada dasarnya teknologi bukan hanya dapat merusak lingkungan, namun teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk mengatasi masalah lingkungan. Faktor terpenting dalam permasalahan lingkungan adalah besarnya populasi manusia (laju pertumbuhan penduduk), sebab dengan tingkat

pertambahan penduduk yang tinggi, kebutuhan pangan, bahan bakar, pemukiman dan kebutuhan dasar yang lain akan meningkat pula, sehingga akan meningkatkan limbah baik domestik maupun industri, yang pada akhirnya mengakibatkan terjadinya perubahan besar pada kualitas lingkungan hidup. Yang menjadi masalah selanjutnya adalah bentuk pembangun-an yang bagaimana yang tidak mengakibatkan rusaknya lingkungan. Untuk mengatasi masalah ini, maka pembangunan yang dicanangkan haruslah pembangunan dengan konsep yang bijaksana, dengan tujuan meningkatkan kualitas lingkungan. Konsep pembangunan yang bijak-sana tersebut harus berkelanjutan, yang ke-mudian lebih dikenal dengan konsep pem-bangunan berkelanjutan [5]. Industrialisasi menempati posisi sentral dalam ekonomi masyarakat modern dan merupakan motor penggerak yang memberikan dasar bagi proses pembangunan. Agar pembangunan itu sendiri dapat berkelanjutan, maka harus diadakan perubahan mendasar pada kualitas pembangunan tersebut. Secara umum, industri

Ekologi Industri : Prospek Penerapannya di Indonesia

dan setiap kegiatan industrialisasi harus di-rangsang agar lebih efisien dalam penggunaan sumber daya, menghasilkan pencemar dan limbah yang lebih sedikit, lebih berdasar pada penggunaan sumber daya yang dapat pulih dan meminimalkan dampak negatifnya terhadap kesehatan manusia dan lingkungan [5]. Wujud nyata dari sistem industri guna menuju pembangunan berkelanjutan adalah melalui penerapan konsep ekologi industri [6]. Seperti telah diketahui bahwa ketidakserasian antara dunia bisnis dengan alam, antara ekonomi dan ekologi, terutama kerena adanya kenyataan bahwa alam adalah suatu siklus, sedangkan sistem industri adalah linier. Pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan membutuhkan suatu siklus, meniru proses ekosistem alam. Untuk mencapai pola siklus, dibutuhkan rancangan ulang yang mendasar dari bisnis dan ekonomi, pola linier perlu diubah menjadi pola siklus. Konsep ekologi industri muncul untuk mengubah paradigma bahwa sistem industri merupakan sistem linier dan mencoba memandang bagaimana mewujudkan bahwa suatu sistem industri haruslah sebagai sistem yang merupakan pola siklus tersebut. Pada dasarnya ekologi industri merupakan suatu pendekatan manajemen lingkungan dimana suatu sistem tidak dilihat secara terpisah dengan sistem sekelilingnya tetapi merupakan bagian utuh yang saling mendukung dalam rangka mengoptimalkan siklus material ketika suatu bahan baku diproses menjadi produk [6]. Ekologi Industri dirancang agar suatu sistem dapat berintegrasi antar industri menyerupai ekosistem yang ada di alam, sehingga interaksi antar industri dalam sistem ekologi industri berlangsung secara alami. Konsep ekologi industri telah banyak dikembangkan di negara-negara maju dan bah-kan di negara-negara berkembang seperti sistem ekologi industri Kalundborg di Denmark, Brownville di Amerika Serikat, Guitang di Cina dan Naroda di India [7-8]. Di negara maju, ekologi industri telah digunakan sebagai salah satu instrumen untuk merancang pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Sementara itu di negara berkembang, masih terdapat kendala bahwa sumber daya alam yang melimpah masih belum dapat dioptimalkan penggunaannya. 2. Pengertian Ekologi Industri Salah satu pengertian dari ekologi industri yaitu suatu sistem yang digunakan untuk mengelola aliran energi atau material sehingga diperoleh efisiensi yang tinggi dan menghasilkan

sedikit polusi [9]. Definisi yang lain yaitu ekologi industri merupakan suatu pendekatan manajemen lingkungan dimana suatu sistem industri tidak dilihat secara terpisah dengan sistem sekelilingnya tetapi merupakan bagian utuh yang saling mendukung dalam rangka mengoptimalkan siklus material ketika suatu bahan baku diproses menjadi produk. Dasar utama ekologi industri yaitu metabolisme industri yang merupakan keseluruhan aliran material dan energi yang ada dalam sistem industri [10]. Sebenarnya tidak ada satupun definisi tunggal dari ekologi industri yang berlaku umum. Namun pada dasarnya, kebanyakan pengertian yang diberikan mengandung atributatribut serupa, walaupun dengan menggunakan penekanan yang berbeda. Atribut-atribut tersebut antara lain adalah bahwa ekologi industri: merupakan suatu pendekatan sistem yang menginteraksikan antara sistem ekologis dengan industri, mempelajari aliran material dan energi serta transportasinya, berorientasi pada masa depan, suatu perubahan dari proses linier ke proses siklis, menekankan keharmonisan yang mengintegrasikan aktivitas industri dalam sistem ekologi dan memiliki gagasan untuk membuat sistem industri menjadi lebih efisien serta berkelanjutan secara alami [9-11]. Graedel dan Allenby, yang mengeluarkan buku teks pertama tentang ekologi industri [12], menyebutkan bahwa ekologi industri dapat diartikan bahwa manusia dapat dengan bebas dan secara rasional mendekati dan memelihara apa yang diingininya sesuai dengan kemampuannya, memberikan keberlanjutan secara ekonomi, budaya dan perubahan teknologi. Konsep ini mengandung makna bahwa sustu sistem yang ada di sekitarnya, tetapi sebaliknya haruslah menyatu dengan sistem di sekitarnya tersebut, dengan tujuan untuk menemukan caracara untuk mngoptimalkan daur material dari material murni, produk akhir, komponenkomponen produksi, sampah hingga penjualan terakhir. Faktor-faktor yang dioptimalkan tersebut terdiri dari sumber daya, energi dan modal. Kata-kata bebas dan rasional mengidentifikasikan bahwa adanya multidisiplin bidang atau ilmu dalam ekologi industri yang di dalamnya mencakup teknologi dan ilmu-ilmu dasar untuk mempertimbangkan serta mewujudkan keberlanjutan global, dan bukan merupakan suatu hal yang tidak terencana atau pun menimbulkan biaya yang besar yang pada akhirnya hanya menimbulkan bencana. Sedangkan kata-kata diinginkan memungkinkan sesuatu yang berbeda berpotensi teknologi, budaya dan bentuk pengelolaan ekonomi sesuai yang diinginkan

Sudrajat, et.al.

oleh para pelakunya. Hal ini berarti pula bahwa tidak ada suatu aturan mutlak yang harus dipenuhi dalam penerapan konsep ekologi industri tersebut. Sehingga secara praktis ekologi industri tidak lain adalah menggambarkan keberterimaan suatu sistem industri bagi lingkungan, sehingga sistem industri tersebut dapat selalu mampu memproduksi barang dan jasanya secara terus menerus atau berkelanjutan [12]. 3. Teori yang Mendasari Ekologi Industri 3.1. Konsep Dasar Ide ekologi industri dianalogikan dengan sistem ekologi alam, yang biasanya digerakan oleh energi matahari, ekosistem, termasuk di dalamnya hubungan mutualisme antar berbagai jasad renik dan lingkungan sekitarnya dimana terjadi pertukaran material melalui suatu siklus besar [13]. Idealnya, sistem yang dibangun dalam ekologi industri juga mengikuti siklus seperti itu, di mana aliran energi, material dan penggunaan sampah hasil olahannya dapat dibentuk dalam suatu siklus tertutup, sehingga dapat mengefisiensikan penggunaan sumber daya alam, bahkan bisa melengkapi atau memperkaya sumber daya alam itu sendiri [13-14]. Konsep dasar ekologi industri dapat dijelaskan secara singkat seperti berikut: manufaktur menggunakan material murni, diekstrak menjadi produk tertentu yang kemudian di-gunakan oleh industri lain atau langsung dikonsumsi oleh konsumen. Produk sisa yang dihasilkan dari proses produksi ini atau sisa konsumsi konsumen kemudian diproses ulang sehingga nantinya dapat digunakan lagi untuk pertumbuhan material murni. Semua tahapan yang dilalui ini terbentuk dalam suatu sistem yang disebut dengan sistem tertutup, dimana semua sisa produksi dipulihkan kembali. Memang di setiap proses tidak semuanya selalu efisien, akan ada fliksi-fliksi dan hilangnya beberapa sumber daya selama proses daur hidup tersebut. Namun demikian, sebenarnya tujuan utama ekologi industri tidak lain adalah mengurangi penggunaan material murni, khususnya bahan baku dan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Apabila dibahas lebih dalam, maka ekologi industri tidak lain adalah bagaimana mengatur atau mengelola aktivitas manusia dalam suatu landasan yang berkelanjutan [14]. 3.2. Tujuan Tujuan utama ekologi industri tidak lain adalah untuk memajukan dan melaksanakan konsep pembangunan berkelanjutan baik itu secara global, regional maupun lokal, dengan mencoba menemukan antara kebutuhan generasi se-

karang dengan generasi yang akan datang. Dalam hal ini ada tiga prinsip kunci pembangunan yang berkelanjutan yang menjadi tujuan ekologi industri, yaitu: 3.2.1. Penggunaan sumber daya yang berkelanjutan Ekologi industri mengembangkan prinsip untuk lebih mengutamakan penggunaan sumber daya alam yang dapat diperbaharui dan mengurangi penggunaan sumber daya alam yang tidak da[at diperbaharui. Menipisnya sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui dan rusaknya sumber daya alam yang dapat diperbaharui harus dapat diminimalisir agar aktivitas industri dapat berkelanjutan. 3.2.2. Menjamin mutu atau kualitas hidup masyarakat sekitarnya Kualitas hidup manusia tergantung pada kualitas komponen lain dalam ekosistem, struktur dan fungsi ekosistem, sehingga hal ini harus menjadi fokus dalam ekologi industri. Bagaimana caranya agar aktivitas industri tidak menyebabkan rusaknya ekosistem atau secara perlahan merusak struktur dan fungsi ekosistem itu sendiri. 3.2.3. Memelihara kelangsungan hidup ekologi sistem alami Tantangan yang utama dari pembangunan berkelanjutan adalah bagaimana upaya untuk mencapai suatu keadilan bagi antargenerasi dan antarmasyarakat. Menghabiskan sumber daya alam dan merusak kualitas ekologi demi mencapai tujuan jangka pendek dapat membahayakan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. 3.3. Perangkat Sistem 3.3.1. Pencegahan polusi Konsep pencehagan polusi (pollution prevention) dinyatakan sebagai pola pikir lingkungan proaktif yang menjanjikan manajemen industri lebih berkelanjutan [14]. Dengan sasaran pada penyebab daripada akibat, aktifitas mempolusi, pencegahan polusi mencari cara menghilangkan polutan disumbernya dan sekaligus menghindari kebutuhan untuk mengolah atau membuang polutan tersebut. Konsep pencehagan polusi menawarkan pemecahan win-win dimana inovasi dan cara berpikir baru akan membawa pada pengurangan limbah, dan sekaligus membuat keuntungan bagi perusahaan dengan mengurangi biaya atau merangsang produk baru. Pencehagan polusi menjadi solusi paling langsung dari masalah lingkungan, menghilangkan polutan lewat reduksi sumber polusi atau mendaur ulang sebelum pengolahan atau pembuangan akhir (final disposal) menjadi isu. Pen-

Ekologi Industri : Prospek Penerapannya di Indonesia

cegahan polusi menjadi tantangan bagi sektor swasta karena memerlukan bentuk inovasi berbeda. Pencehagan polusi dapat memerlukan rancang ulang produk, konfigurasi kembali proses manufaktur, dan penyusunan kembali hubungan pemasok dan konsumen. Karena inovasi sulit, bahkan mahal, perusahaan harus juga mencari cara lain mengintegrasi pertimbangan lingkungan ke dalam proses perencanaan perusahaan. Kata Cleaner Production (produksi bersih/CP) dan pollution prevention (pencegahan polusi/PP) sering digunakan secara bergantian, namun sebenarnya pengertiannya relatif sama. Perbedaan antara dua frasa ini hanya bersifat geografis, frasa Pencegahan Polusi cenderung banyak digunakan di Amerika Utara, sementara Produksi Bersih (Cleaner Production) banyak digunakan di tempat lain di dunia. Keduanya berfokus pada strategi untuk secara terus-menerus mengurangi polusi dan dampak lingkungan melalui pengurangan di sumbernya, yaitu menghilangkan limbah dalam proses. Pengolahan limbah tidak termasuk dalam definisi pencegahan polusi karena tidak mencegah terjadinya limbah. Environment Canada mendefinisikan pencegahan polusi sebagai penggunaan proses, praktek, material, produk atau energi yang menghindari atau meminimalkan terjadinya polutan dan limbah, dan mengurangi resiko keseluruhan pada kesehatan manusia dan lingkungan [14]. US EPA mendefinisikan pencehagan polusi sebagai pengurangan sumber, mencegah atau mengurangi limbah ditempat dimana dihasilkan, pada sumbernya, termasuk praktek mengkonservasi sumberdaya alami dengan mengurangi atau menghilangkan polutan melalui peningkatan efisiensi dalam penggunaan material mentah, energi, air, dan tanah. Dibawah undang-undang Pollution Prevention Act pada tahun 1990, pencegahan polusi menjadi kebijakan lingkungan nasional di AS. 3.3.2. Produksi bersih Definisi produksi bersih (cleaner production) seperti yang diadopsi oleh UNEP adalah sebagai berikut [14]: produksi bersih adalah aplikasi terus-menerus strategi terintegrasi perlindungan lingkungan pada proses, produk, dan jasa untuk meningkatkan efisiensi keseluruhan, dan mengurangi resiko pada manusia dan lingkungan. Produksi bersih dapat diaplikasikan pada proses yang digunakan dalam setiap industri, untuk memproduksi, dan pada macam-macam jasa yang disediakan dalam masyarakat. Bagi proses produksi, Produksi bersih dihasilkan dari satu atau kombinasi mengkonservasi material mentah, air, energi, menghilangkan material mentah be-

racun dan berbahaya; dan mengurangi jumlah dan toksisitas semua emisi dan limbah di sumbernya selama proses produksi. Bagi produk, produksi bersih bertujuan untuk mengurangi dampak lingkungan, kesehataan, dan keselamataan produk selama keseluruhan siklus hidupnya, dari ekstraksi material mentah, melalui pembuatan, penggunaan, sampai pembuangan akhir dari produk. Bagi jasa, produksi bersih mengimplikasikan penggabungan perhatian lingkungan kedalam pendisainan dan pengiriman jasa. Produksi bersih mengacu pada mentalitas seberapa baik barang dan jasa diproduksi dengan dampak lingkungan minimum dibawah batasan teknologis dan ekonomis sekarang. Produksi bersih tidak menghalangi pertumbuhan, hanya menekankan bahwa pertumbuhan harus berkelanjutan secara ekologis. Produksi bersih sebaiknya tidak dianggap hanya sebagai strategi lingkungan, karena juga berhubungan dengan pertimbangan ekonomis. Dalam konteks ini, limbah dianggap sebagai produk dengan nilai ekonomi negatif. Setiap aksi untuk mengurangi konsumsi material mentah dan energi, dan mencegah atau mengurangi pembangkitan limbah, dapat meningkatkan produktifitas dan membawa manfaat keuangan pada perusahaan. Produksi bersih adalah strategi win-win, yaitu dengan tetap melindungi lingkungan, konsumen, dan pekerja sementara juga memperbaiki efisiensi industri, profitabilitas, dan daya kompetitif.Perbedaan kunci antaa kontrol polusi dan produksi bersih adalah dari segi waktu (timing). Kontrol polusi terjadi setelah peristiwa (after-theevent), pendekatan reaktif dan mengolah (react and treat). Produksi bersih adalah filosofi antisipasi dan pencegahan (anticipate and prevent) dengan melihat kedepan (forward looking). 3.3.3. Pengkajian siklus hidup (Life Cycle Assessment) Life-cycle assessment (LCA) adalah proses mengevaluasi dampak yang dipunyai produk terhadap lingkungan di seluruh perioda hidupnya yang karena itu meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya dan menurunkan pertanggungan (liabilities). Dapat digunakan untuk mempelajari dampak lingkungan pada produk atau fungsi produk yang didisain untuk bekerja. LCA umumnya dipandang sebagai analisa cradle-tograve. LCA adalah proses terus-menerus, perusahaan dapat memulai LCA pada setiap titik dalam siklus produk/fungsi [14]. LCA dapat diunakan bagi pengembangan keputusan pemilikan strategi bisnis, bagi produk, dan disain proses, dan perbaikan, untuk menata kriteria eko-labeling dan untuk berkomunikasi tentang aspek ling-

Sudrajat, et.al.

kungan dari produk. Siklus hidup produk bermula ketika material mentah diekstraksi dari dalam bumi, diikuti oleh pembuatan, transportasi, dan penggunaan dan berakhir dengaan manajemen limbah termasuk pendaur ulangan dan pembuangan akhir. Pada setiap tahapan siklus hidup terjadi emisi dan konsumsi sumberdaya. Dampak lingkungan dari keseluruhan siklus hidup produk dan jasa perlu diketahui. Untuk melakukan ini, pemikiran siklus hidup diperlukan [14]. 3.3.4. Perancangan bagi lingkungan (Design for Environment) Adalah pendekatan sistematik untuk mengevaluasi konsekuensi dampak lingkungan dari produk dan proses-prosesnya, dan dampaknya pada kesehatan manusia dan lingkungan [15]. Didasarkan pada pengertian apa yang pelanggan butuhkan, menganalisa pilihan, dan mengambil sumberdaya tersedia untuk dengan cepat mencapai hasil produk baru yang diinginkan. Berdasarkan penanganan produk dan proses produksi cradle-to-grave. Fokus utama adalah identifikasi kandungan dan implikasi lingkungannya, menentukan dampak yang dipunyai produk dan proses pada lingkungan selama siklus hidupnya, dan pengembangan produk dan proses yang cocok secara lingkungan. DfE (Design for Environment) menurut Environment Australia [16] adalah proses untuk mengurangi dampak lingkungan dari produk yang dirakit perusahaan dengan menerapkan perbaikan pada tahap desain. Memiliki hubungan erat dengan Life Cycle Assessment/LCA. Tujuan program DfE adalah untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi pekerja, masyarakat, dan ekosistem. Program DfE memenuhi tujuan ini dengan mempromosikan perubahan sistem dalam cara perusahaan mengelola perhatian lingkungannya. Pendekatan dan prinsip program DfE berguna dalam memenuhi kebutuhan peraturan dan memperbesar perlindungan lingkungan setelah pemenuhan [15-16]. Program DfE dari EPA menyediakan bimbingan dan alat untuk menolong perusahaan mencapai perbaikan lingkungan berkelanjutannya. Pendekatan DfE mendorong perusahaan untuk mempertimbangkan lingkungan dan resiko kesehatan manusia dalam semua keputusan bisnisnya. Sebagai tambahan, DfE juga mendorong perusahaaan untuk mengevaluasi proses bersih, teknologi, dan praktek tempat kerja [16]. Tujuan DfE menurut EPA adalah menyediakan informasi untuk menolong industri merancang operasi yang lebih bersifat lingkungan, aman bagi pekerja dan biaya lebih efektif [16].

3.4. Konsep Dasar Penerapan Yang selanjutnya menjadi pertanyaan adalah bagaimana konsep ekologi industri dapat berhubungan dan diimplikasikan dalam sistem industri. Ada dua hal yang mendasar dari konsep ekologi industri yaitu metabolisme industri dan ekosistem industri. 3.4.1. Metabolisme industri Salah satu hal yang mendasari ekologi industri adalah fenomena metabolisme industri [17]. Metabolisme industri merupakan suatu cara bagaimana industri tersebut menangani aliran material dan aliran energinya secara keseluruhan melalui suatu sistem industri, kepada konsumen dan pada tempat pembuangan akhirnya. Dalam konteks konsep ekologi industri, maka metabolisme industri dalam hal ini dianalogikan dengan metabolisme alami. Ada tiga konsep metabolisme alami yang dibawakan dalam konsep ekologi industri. Pertama, metabolisme industri merupakan integrasi menyeluruh dari sekumpulan proses fisik yang mengubah bahan baku dan energi menjadi produk akhir dan limbah dalam kondisi steady state. Kedua, metabolisme industri dapat diuji sebagai sebuah unit operasi secara individu dalam sebuah proses produksi secara industri, pada level pabrik maupun global. Ketiga, hal yang dianalogikan antara metabolisme biologi dengan metabolisme industri adalah konsep daur hidup. Adapun kunci untuk mewujudkan suatu metabolisme industri yang berhasil dapat dilihat pada tiga hal yakni optimalisasi, pengintegrasian sistem dan ekoefisiensi [18]. Ketika berbicara tentang metabolisme, maka akan berbicara tentang proses. Suatu proses yang berhasil adalah proses yang sudah berlangsung secara optimal. Untuk mengukur tingkat optimalisasi ini sebenarnya ada beberapa cara. Semua hal tersebut dikelompokan dalam dua kategori utama yaitu pengujian metabolisme industri dan implementasinya. Pengintegrasian sistem berarti bagaimana mengintegrasikan berbagai sistem industri yang ada sehingga dapat memaksimalkan efisiensi dan keuntungan. Agar dapat mengintegrasikan sistem dengan baik dibutuhkan banyak sistem ekologi industri. Dalam sistem yang terintegrasi ini akan melibatkan berbagai bentuk internalisasi siklus aliran. Ini berarti bagaimana dari berbagai bentuk ekosistem yang ada dimaksimalkan usaha untuk meminimalkan kembali atau dengan kata lain memperpanjang siklus fungsinya. Kemudian sebagai pengukur berhasil atau tidaknya suatu metabolisme industri adalah seberapa besar telah diciptakan suatu ekoefisiensi. Konsentrasi yang paling di-

Ekologi Industri : Prospek Penerapannya di Indonesia

tekankan untuk mewujudkan ini adalah menerapkan berbagai pendekatan untuk mengurangi polusi udara, air, bahan-bahan berbahaya dan konsumsi energi. Walaupun tanpa cacat/zero defect cukup sulit untuk diterapkan, namun demikian usaha-usaha yang mengarah ke hal sana terus dikembangkan. 3.4.2. Ekosistem industri Terdapat lima komponen utama dalam ekosistem industri yaitu produsen bahan baku utama, sumber energi, prosesor material dan sektor manufaktur, sektor pengolahan limbah dan kemudian yang terakhir sektor konsumen. Pada suatu sistem yang ideal, aliran material antar kelima komponen tersebut sangat tinggi. Masing-masing sistem material berkembang dengan sendirinya sehingga sehingga memaksimalkan efisiensi sistem dengan memanfaatkan material dan energi. Produser material utama dapat berasal dari satu atau beberapa perusahaan yang dipilih untuk menyediakan material dasar untuk keberlanjutan ekosistem industri. Pada umumnya, dalam ekosistem industri yang nyata biasanya yang menjadi material utama ini merupakan material murni. Walaupun beberapa kasus, material utama ini juga bisa berasal dari bahanbahan yang telah di daur ulang. Bahan baku yang dihasilkan dari penghasil bahan baku utama biasanya diolah lebih lanjut dalam pabrik pada suatu proses manufaktur. Proses ini biasanya lebih kompleks karena melibatkan lebih banyak bahan lainnya. Biasanya proses pengolahan pada beberapa bahan dalam proses manufaktur banyak memungkinkan untuk dapat didaur ulang atau dimanfaatkan lebih lanjut. Pada sektor konsumen, produk dijual pada konsumen yang akan menggunakan produk tersebut. Lamanya penggunaan bervariasi untuk tiap produk. Dalam banyak kasus, biasanya produk-produk yang sudah selesai dipakai akan dibuang atau dilakukan pendaurulangan. Dalam suatu proses ekologi industri, yang bisa dianggap berhasil adalah sebanyak mungkin bahan yang dapat didaur ulang dapat didaur ulang daripada dibuang. Pada sektor pengolah limbah, proses daur ulang dapat mengandung arti yang sangat luas, yang sekarang ini lebih cenderung diartikan sebgai suatu cara untuk memisahkan antara berbagai sampah dan mengolahnya kembali dalam suatu sistem industri. Sistem terdiri dari perusahaan-perusahaan yang melakukan aktivitas mengumpulkan, memisahkan dan mengolah

hasil buangan sehingga dapat digunakan kembali untuk kepentingan lain. Seperti halnya suatu organisasi, maka keberhasilan suatu ekologi industri juga sangatlah kompleks, antara kebutuhan akan suatu pengelolaan yang baik, sistem yang terintegrasi dan kebutuhan akan peningkatan kemampuan unuk bisa berkembang dengan sendirinya bagi semua komponen yang ada dalam sistem ekologi industri tersebut. Hal ini merupakan tantangan dalam menyusun regulasi dan aturan sehingga segala bentuk kebijakan yang diambil mampu memberikan kontribusi bagi pengembangan ekosistem industri itu sendiri, serta memberikan kesempatan bagi setiap komponen ekologi industri tersebut untuk dapat berkembang. 4. Penerapan Ekologi di Negara Maju 4.1. Kawasan Industri Kalundborg Contoh paling populer dari sebuah kawasan industri yang telah menerapkan konsep ekologi industri dengan baik adalah kawasan industri di Kalundborg, Denmark [19]. Simbiosis yang berkembang di daerah ini mulai muncul sejak tahun 1970 sebagai suatu bentuk kemitraan industri-industri yang mencoba untuk mengurangi biaya dan mencoba memenuhi bersama peraturanperaturan lingkungan yang berlaku pada saat itu, seperti menemukan cara yang inovatif dalam manajemen sampah dan penggunaan air bersih yang efisien. Industri-industri yang terlibat dalam simbiosis di Kalundborg adalah: 1. Asnaes Power Station Berdiri pada tahun 1959, merupakan power station terbesar di Denmark, memiliki kapasitas 1.500 MWe. Perusahaan ini juga bergerak di bidang perikanan. 2. Statoil. Merupakan satu kilang minyak terbesar di Denmark dengan kapasitas 4.8 juta ton/tahun. 3. Novo Nordisk Sebuah peusahaan bioteknologi internasional dengan penjualan lebih dai dua miliar dolar. Penghasil produk-produk farmasi seperti insulin dan katekin. 4. Gyproc Subuah pabrik papan partikel yang membuat 14 juta meter kubik papan partikel. 5. Kota Kalundborg Penyedia layanan utama bagi penduduk kota yang berjumlah 200.000 jiwa yang juga menyuplai air bagi rumah tangga dan industri. 6. Petani Lokal Beratus petani lokal dengan ladang pertaniannya yang menghasilkan berbagai hasil.

Sudrajat, et.al.

Gambar 4.1. Kawasan Ekologi Industri di Kalundborg, Denmark [19]

Lebih dari dua dekade, kerjasama yang bersifat spomtan antar perusahaan di atas berkembang sebagai pertukaran bilateral yang juga melibatkan sejumlah perusahaan lain. Ker-jasama ini timbul tanpa ada yang merencanakan sebelumnya. Kerjasama ini berkembang sebagai sebuah collection of on-to-one deals yang mem-bentuk economic sense satu sama lain. Simbiosis ini timbul ketika Gyproc didirikan di Kalunborg yang mencoba mengambil keuntungan untuk memperoleh bahan bakar gas dari statoil. 4.1.1. Aliran energi dan material Kilang minyak Statoil merupakan station energi yang menggunakan bahan baku batu bara dan beroperasi dengan tingkat efisiensi termal hingga 40%. Seperti station energi berbahan bakar fosil lainnya, mayoritas energi akan dikeluarkan melalui cerobong asap. Pada waktu bersamaan, dia juga menghasilkan energi lainnya, berupa gas sebagai hasil samping. Sejak awal tahun 70-an, sejumlah kerjasama mulai dilakukan. Kilang minyak bersedia untuk menjual gas yang dihasilkan pada Gyproc. Statoil melihat bahwa gas yang mereka hasilkan merupakan sebuah sumber low-cost bahan bakar. Asnaes pada awalnya hanya menyuplai steam untuk kebutuhan sistem pemanas kota yang kemudian juga mensuplai kebutuhan Novo Nordisk dan Statoil. Stasiun pembangkit menggunakan air garam dan ini diperoleh dari fjord, sebagai pendingin. Ini berarti mengurangi penggunaan air yang diambil dari danau Tisso. Hasil produk sampingnya yang berupa air garam panas disuplai untuk kebutuhan pertanian ikan sebanyak 57 kolam. Tahun 1992, stasiun pembangkit mulai mensubstitusi bahan bakarnya dengan menggunakan sulfur dari kilang gas sebagai pengganti batu bara. Hal ini baru terwujud ketika statoil membangun sebuah unit pemulihan sulfur sesuai dengan peraturan yang berlaku saat itu tentang emisi sulfur. Hasilnya gas yang di-

hasilkan jauh lebih bersih dan cukup memenuhi persyaratn untuk digunakan stasiun pembangkit. Sementara itu, pada tahun 1976, Novo Nordisk memulai pola aliran material untuk menyeimbangkan perkembangan aliran energi yang terjadi di Kalundborg. Lumpur dari Novo Nordisk memulai pola aliran material dari pertanian perikanan digunakan sebagai pupuk bagi pertanian setempat. Aktifitas ini merupakan bentuk pertukaran meterial terbesar yang terjadi di Kalundborg, yaitu mencapai lebih dari satu juta ton per tahun. Sebuah perusahaan semen menggunakan abu layang terdesulfurisasi dari stasuin pembangkit, dimana Asnaes mampu menghasilkan sulfur dioksida dalam tumpukan gas yang dihasilkannya dengan kalsium karbonat, kemudian dibuat menjadi kalsium sulfat yang kemudian dijual ke Gyproc. Proses operasi refineri desulfurisasi menghasilkan surfit cair murni, yang kemudian diangkut ke sebuah pabrik asam sulfurik di Yetland, Denmark. 4.1.2. Kesimpulan yang dapat diambil Proses daur ulang dan penggunaan kembali yang dilakukan di Kalundborg telah memberikan keuntungan tersendiri bagi perusahaan-perusahaan yang terlibat. Selain lebih menghemat biaya, mereka juga telah mengurangi polusi udara, air dan tanah pada daerah tersebut. Pada kawasan industri tersebut telah terjadi pengurangan energi secara signifikan, yaitu batu bara, minyak dan penggunaan air. Dampak lingkungan dapat dikurangi melalui pengurangan emisi sulfur dioksida dan karbon dioksida termasuk memperbaiki kualitas air buangan. Produksi limbah-limbah tradisional seperti abu layang, lumpur biologis dan gipsum sudah diubah menjadi bahan baku untuk produksi. Dengan adanya simbiosis di Kalundborg ini telah pandangan positif bagi kawasan tersebut, sebagai sebuah kota industri yang bersih dan menjadi contih terbaik bagi penerapan konsep ekologi industri. Menurut wakil presiden Novo Nordisk, ada beberapa faktor yang mendorong keberhasilan simbiosis industri di Kalundborg yaitu bahwa industri yang tumbuh di daerah tersebut berasal dari indutri yang memiliki latar belakang berbeda tetapi mereka berusaha mencari kecocokan satu sama lain. Pada kawasan tersebut juga terdapat adanya kedekatan secara mental antar para pelaku sehingga memberikan suatu kesalingmengertian. Selain itu, kedekatan jarak juga sangat penting sehingga memberikan keuntungan secara ekonomi karena banyak transformasi yang dilakukan tidak membutuhkan biaya yang besar. Para manajermanajer di Kalundborg yang memiliki latar

Ekologi Industri : Prospek Penerapannya di Indonesia

belakang bidang bisnis berbeda juga saling tahu satu sama lain. 4.2. Kawasan Industri Guitang Daerah otonomi Guangxi Zhuang merupakan penghasil gula terbesar di Cina, yang mem-produksi lebih dari 40% produksi gula Cina. Namun dalam beberapa tahun lamanya, pertumbuhan industri gula ini sempat mengalami masa-masa sulit, karena mendapat saingan dari gula-gula Brazil, Thailand dan Australia, yang juga sempat mengancam perusahaan gula terkenal di Cina yakni Grup Guitang yang terdapat di kota Guangxi. Perusahaan ini berdiri pada tahun 1954 oleh Grup Guitang yang sekarang menjadi perusahaan gula terbesar di Cina. Perusahaan ini mempekerjaan sekitar 3.800 pekerja, dengan jumlah modal lebih dari 1 triliun Yuans. Luas lahan fasilitas mencapai 1,5 km persegi. Pada mulanya Grup Guitang ini hanya memproduksi gula, namun sekarang sudah menjadi salah satu industri pembuat kertas, alkohol dan juga penggilingan semen serta penghasil pupuk. Semua bahan baku industri ini tidak lain berasal dari limbah industri gula [20]. 4.2.1. Aliran energi dan material Industri utama dari perusahaan Guitang ini adalah industri gula. Hasil samping yang utama dari pengilangan gula ini adalah ampas tebu yang kemudian diolah menjadi pulp sebagai bahan baku kertas. Hasil samping lain dari pengilangan gula ini adalah molase yang disuling menjadi produk alkohol dalam bentuk etanol yang diolah menjadi pupuk tanaman. Sementara itu, sisa ampas lain termasuk air yang telah melewati proses pengolahan terlebih dahulu disuplai ke perkebunan tebu. Hasil samping dari pulp yang ditambah dengan sisa daun tebu kering atau ampas pertanian yang mudah terbakar dimanfaatkan sebagai sumber energi generator. Lumpur putih hasil samping dari pembuatan kertas diolah menjadi semen. Untuk menjamin agar aliran material ini terus berjalan dengan baik dan menjamin jumlah kualitas gula, anak perusahaan melakukan kerjasama dengan petani di daerah setempat untuk membeli hasil panennya. Imbas lain adalah bahwa perusahaan bertanggung jawab terhadap suplai air bagi perkebunan mereka. Grup Guitang ini terus melakukan inovasi baru, diantaranya untuk masa akan datang Guitang Group akan terus berencana melakukan pembangunan peternakan sapi baru dengan menggunakan sisa gula sebagai pakannya, pembangunan pabrik penghasil susu murni, susu bubuk dan yogurt untuk pasar lokal, pem-

bangunan rumah pengepakan daging sapi dan bone glue, pembangunan plantasi biokimia untuk membuat asam amino berdasarkan produkproduk gizi. Sebuah perusahaan pemngembangan jamur menggunakan pupuk dari sisa pengolahan susu dan perternakan sapi juga kemudian akan dikembangkan. Residu jamur akan digunakan sebagai pupuk untuk tanaman tebu. 4.2.2. Kesimpulan yang dapat diambil Adanya kerjasama yang terjalin di Guitnag menjadikan suatu ilham untuk menjadikan kota ini menjadi kota yang ekoindustri dalam waktu lima tahun. Kebergantungan yang besar ekonomi daerah ini terhadap industri gulanya mendorong mereka untuk terus meningkatkan efisiensi semua pihak yang terlibat dalam berbagai proses produksi gula. Salah satu rencananya adalah untuk menghimbau semua petani untuk mengirimkan hasil samping mereka ke perusahaan Guitang. Perusahaan Guitang juga melakukan usaha lain dengan memperluas skala tanam tebu. Dengan keinginan-keinginan seperti, maka akan dikembangkan pelatihan-pelatihan bagi industri dan pemerintah tentang prinsip-prinsip ekoindustri dan metode-metode pendekatan strategi produksi bersih. Beberapa tujuan jangka panjang yang direncanakan adalah membangun sebuah kawasan eco-sugar untuk pertanian tebu organik, dengan meningkatkan kandungan gula tebu per meter persegi lahan dan memperpanjang masa panen, memperluas pabrik penggilingan kertas dengan tujuan meningkatkan produksi hingga 300.000 ton per tahun dalam tiga fase, membangaun sebuah fasilitas produksi bahan bakar alkohol dari hasil samping molase dan gula serta mengadopsi teknologi berklorida tinggi untuk pemucatan kertas. Rencana yang akan dijalankan oleh Guitang ini didukung penuh oleh State Environmental Protection Bureau China juga China National Cleaner Production Center. 5. Prospek Penerapan Ekologi Industri di Indonesia Selain dapat diterapkan di nagara maju, konsep ekologi industri dapat diterapkan juga di negara-negara berkembang sehingga makin meningkatkan tingkat pembangunannya. Seperti telah disebutkan pada uraian sebelumnya bahwa di negara berkembang, yang menjadi persoalan utama adalah sumber daya alam yang melimpah namun masih belum dapat dioptimalkan penggunaannya. Hal lain yang menghambat adalah kurangnya dukungan pemerintah secara nyata terhadap pembangunan yang berkelanjutan dan

Sudrajat, et.al.

berwawasan lingkungan. Kawasan industri masih berupa suatu kawasan yang belum terpadu secara sistematis dan hanya berupa kumpulan industri yang berdiri sendiri. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang sebenarnya telah mengaplikasikan ekologi industri. Konsep ekologi industri yang dikembangkan di Indonesia masih sangat sederhana dan belum sampai tahap sistem ekologi industri yang menyeluruh. Konsep ekologi industri di Indonesia masih sangat berprospek untuk dikembangkan lebih lanjut sehingga pada akhirnya diperoleh suatu pembangunan industri yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Mengingat bahwa penduduk Indonesia yang mayoritas sebagai petani harus tetap menjadi fokus untuk terus dikembangkan kesejahteraannya. Penataan kawasan ekologi industri dapat dimulai dari pendirian kawasan industri terpadu di dekat kawasan pertanian masyarakat atau lebih dikenal dengan kawasan agroindustri. Paling sedikit ada lima alasan utama kenapa agroindustri ini penting untuk menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan, yakni karena: a. Agroindustri mampu mentransformasikan keunggulan komparatif menjadi keunggulan bersaing (kompetitif), yang pada akhirnya akan memperkuat daya saing produk agribisnis Indonesia. b. Produknya memiliki nilai tambah dan pangsa yang besar sehingga kemajuan yang dicapai dapat mempengaruhi perekonomian nasional secara keseluruhan. c. Memiliki keterkaitan yang besar baik ke hulu maupun ke hilir (forward and backward linkages), sehingga mampu menarik kemajuan sektor-sektor lainnya. d. Memiliki basis bahan baku lokal (keunggulan komparatif) yang dapat diperbaharui sehingga terjamin sustainabilitasnya. e. Memiliki kemampuan untuk mentransformasikan struktur ekonomi nasional dari pertanian ke industri. Seperti telah dijelaskan pada uraian sebelumnya bahwa pengembangan agroindustri di Indonesia terbuka sangat luas, hal ini dimungkinkan karena adanya dukungan faktor internal dan eksternal yang kuat. Faktor internal yang memperkuat pengembangan agroindustri adalah: a. Besarnya jumlah penduduk. b. Tingkat pendapatan masyarakat yang semakin meningkat. c. Cukup tersedianya faktor-faktor produksi. d. Kapasitas produksi yang idle. e. Teknologi dasar pengolahan pangan yang sudah dikuasai.

Faktor eksternal yang mendukung bagi pengembangan industri pangan adalah: a. Liberalisasi perdagangan dunia. b. Perekonomian dunia yang semakin membaik. c. Naiknya permintaan pangan dunia. d. Tingginya konsumsi pangan olahan di masyarakat negara maju. Pada pembahasan selanjutnya, akan diuraikan dua contoh kasus potensi penerapan ekologi industri di Indonesia yang berbasis agro. Pada contoh kasus pertama, kawasan industri yang dikaji adalah murni berbasis agro dimana tidak melibatkan industri-industri berat, yakni Kawasan Agroindustri Poto Tano di Kabupaten Sumbawa Barat, Propinsi Nusa Tenggara Barat. Kemudian untuk contoh kasus yang kedua adalah kombinasi kawasan indutri berbasis industriindustri berat yang potensial untuk diintegrasikan dengan industri berbasis agro yakni di Kawasan Industri Kujang Cikampek, Propinsi Jawa Barat. 5.1. Kawasan Agroindustri Poto Tano 5.1.1. Gambaran umum Kawasan Agroindustri Poto Tano terletak di Desa Poto Tano, kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, Propinsi Nusa Tenggara Barat. yang memiliki sub agroekosistem Dataran Rendah Iklim Sedang (DRIS). Pemilihan lokasi didasarkan pada hasil kesepakatan bersama antara Bappeda dengan Tim BPTP Nusa Tenggara Barat. Kawasan Agroindustri Poto Tano terintegrasi dengan Program Pengembangan Manajemen Kawasan Terpadu Pulau Sumbawa (mencakup 4 kabupaten dan 1 kota) yang difasilitasi pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pengem-bangan Kawasan Agroindustri Poto Tano telah ditetapkan oleh Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal tanggal 9 September 2008. Penetapan komoditas unggulan dan inovasi teknologi didasarkan pada pertimbangan: peluang pasar dari masing-masing komoditas unggulan dan penunjang, potensi lahan dan kesesuaian agroekosistem, tingkat penerapan teknologi oleh petani, tingkat kemudahan dan peluang penerapan inovasi oleh petani, potensi peningkatan hasil, potensi peningkatan pendapatan dan keuntungan, ketersediaan inovasi teknologi, potensi pengembangan usaha pengolahan hasil (potensi komoditas sebagai bahan baku industri) Sesuai dengan tujuan awal, program pengembangan Kawasan Agroindustri Poto Tano diarahkan untuk: a. Meningkatkan ekspor produk agroindustri melalui peningkatan efisiensi, promosi dan mutu untuk peningkatan daya saing produk.

Ekologi Industri : Prospek Penerapannya di Indonesia

b.

Meningkatkan mutu produk agroindustri olahan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri serta mengurangi ketergantungan terhadap produk impor. c. Memperluas kesempatan usaha dan lapangan kerja. d. Memasyarakatkan pola kemitraan usaha antara petani produsen dan industri pengolah yang saling menguntungkan. Adapun sasaran program pengembangan kawasan agroindustri Poto Tano adalah: a. Meningkatnya daya saing produk agroindustri olahan melalui peningkatan mutu, produktivitas dan efisiensi. b. Meningkatnya investasi dan ekspor dengan memanfaatkan sumber daya alam dan sumber daya manusia setempat. c. Semakin kuatnya struktur industri pangan hulu-hilir dan skala besar-menengah-kecil. d. Meningkatnya kemampuan penguasaan teknologi dan manajemen usaha agroindustri, baik untuk tenaga kerja, pengusaha dan aparat pembina. Terkait dengan tujuan tersebut, maka peluang penerapan konsep ekologi industri berbasis agroindustri di Kawasan Agroindustri Poto Tano sangat mungkin untuk dilakukan. 5.1.2. Aliran energi dan material Kawasan Industri Poto Tano merupakan kawasan agroindustri yang baru didirikan dan belum berkembang dengan baik. Kawasan Industri Poto Tano pada awalnya merupakan sentra peternakan sapi berskala besar yang berdampingan dengan perkebunan sayur-mayur dan tempat pembudidayaan ikan air tawar. Untuk

mengatasi kelangkaan pupuk sintesis, belakangan dibangun pabrik pembuatan pupuk organik berbahan dasar limbah kotoran sapi. Aliran material dan pertukaran hasil samping sebenarnya sudah terjadi, namun dengan skala yang relatif kecil. Diharapkan dengan masuknya investor baru, maka kemungkinan berkembangnya kawasan agroindustri yang telah direncanakan sejak awal akan dapat terwujud. Dengan menerapkan kosep ekologi industri besarta tools yang telah diuraikan sebelumnya, maka investor baru kemungkinan besar akan lebih tertarik untuk mendirikan unit produksinya di kawasan tersebut, karena dengan diterapkannya ekologi industri akan memaksimalkan keuntungan secara ekonomi termasuk juga meningkatkan kinerja lingkungannya. Salah satu usulan penerapan konsep ekologi industri di Kawasan Industri Poto Tano adalah dengan mendirikan perusahaan atau unit-unit produksi yang dapat memaksimalkan pertukaran hasil samping, seperti yang tertera dalam Gambar 5.1. Beberapa unit produksi yang dapat diintegrasikan diantaranya adalah pabrik tahu, pengalengan daging sapi, tempat budidaya jamur pangan, pabrik pembuatan bir, pembukaan lahan perkebunan anggur dan pabrik minuman herbal berbahan dasar ekstrak daun anggur. Sentra peternakan sapi selain menghasilkan sapi bali varietas unggul dengan skala ekspor juga akan menghasilkan limbah padat maupun cair terutama dari kotoran sapi dengan jumlah yang relatif besar. Kotoran padat dan cair ini dapat dialirkan ke unit digester anaerobik untuk memproduksi biogas yang akan disuplai ke pabrik tahu maupun dialirkan ke pabrik pupuk or-

Gambar 5.1. Aliran material yang potensial diterapkan di Kawasan Agroindustri Poto Tano

Sudrajat, et.al.

10

ganik yang pupuknya akan disuplai untuk kebutuhan perkebunan sayuran dan perkebunan anggur. Digester anaerobik selain menghasilkan biogas juga menghasilkan air yang akaya akan nutrien, air ini dapat dialirkan ke unit kolam pembiakan alga. Kolam unit pembiakan alga juga akan menghasilkan air kaya nutrien yang dapat dialirkan ke area budidaya kolam ikan akuakultur. Alga dan mikroba yang mati dapat dialirkan ke unit pabrik pembuatan pupuk organik sebagai salah satu bahan bakunya. Selain dari unit digester anaerobik dan kolam alga, air kaya nutrien juga dapat berasal dari area budidaya ikan akuakultur. Air ini dapat digunakan untuk keperluan perkebunan sayuran sehingga dapat mengurangi kebutuhan air untuk keperluan tersebut. Sementara di sisi lain, pabrik tahu yang didirikan dapat dicukupi kebutuhan bahan bakunya yakni kedelai dari perkebunan sayur-mayur yang diantaranya menanam kedelai. Pabrik tahu ini akan menghasilkan limbah cair yang masih kaya akan nutrien dan juga menghasilkan ampas tahu. Limbah cair yang masih kaya akan nutrien ini dapat digunakan untuk campuran pakan sapi yang dicampur dengan ampas tahu sehingga dapat mengurangi kebutuhan pakan sapi. Daerah Kawasan Agroindustri Poto Tano merupakan lahan dataran rendah dengan iklim sedang yang cenderung kering. Iklim seperti ini sangat cocok untuk budidaya tanaman anggur. Di area perkebunan anggur dapat didirikan pabrik pembuatan minuman beralkohol atau bir yang sisa-sisa residunya dapat digunakan oleh tempat pembudidayaan anggur sebagai zat aditif kaya nutrien. Selain dari produk anggur, sisa dari daun-daun tanaman anggur dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan minuman herbal dari ekstrak daun anggur. Produk ini telah terbukti dapat diterima di pasar internasional sehingga sangat potensial untuk dikembangkan. Semua komoditas dari kawasan industri ini dapat dipasarkan baik untuk skala daerah setempat, nasional maupun internasional. 5.2. Kawasan Industri Kujang Cikampek 5.2.1. Gambaran umum Kawasan Industri Kujang Cikampek adalah anak perusahaan PT Pupuk Kujang yang berlokasi di Cikampek yang dikelola oleh PT Kawasan Industri Kujang Cikampek (PT. KIKC). KIKC mengelola kawasan industri seluas 140 hektar. Kondisi lingkungan dikawasan ini cukup ideal untuk bekerja dan tempat tinggal karena udaranya yang bersih dan lingkungan sekitar yang masih alamiah. Temperatur setempat berkisar 23 C dan maksimum 35 C. Kelembaban

relatif sekitar 73% sampai 94%, sedangkan arah angin utama dari Utara ke Selatan. Kawasan ini berada pada Zona 3 berdasarkan klasifikasi zona gempa Indonesia. Terletak pada pertemuan segitiga jalan menuju Jakarta, Bandung dan Cirebon, tepatnya di interchange Tol JakartaCikampek dan Jakarta-Bandung, sekitar 1,5 km dari pintu Cikampek (km 68). PT Kawasan Industri Kujang Cikampek menyewakan lahan mulai dari 5.000 m2 sampai diatas 1 hektar dengan masa sewa selama mi-nimum 5 tahun sampai dengan 30 tahun dan dapat diperpanjang, serta harga sewa lahan siap pakai cukup wajar yaitu US$2.50/m2 per tahun. Di kawasan industri ini juga disewakan dan di-bangun Warehouse atau Standard Factory Building sesuai pesanan termasuk jasa pelayanan pabrik. Beberapa pabrik yang beroperasi di Kawasan Industri Kujang Cikampek antara lain seperti yang tertera di Tabel 5.1.
Tabel 5.1. Pabrik yang beroperasi di Kawasan Industri Kujang Cikampek
Nama Perusahaan PT Kujang Sud Chemie Catalysts PT Graha Paper Utama PT Kujang Agri Mulia PT Kujang Amanah Tani PT Indo Raya Kimia Produk Katalis Kertas dan kertas tissue Pupuk NPK Pupuk Hayati Alkohol

Beberapa industri tersebut ditambah dengan beberapa industri baru yang sesuai dapat dihubungkan untuk membentuk suatu aliran pertukaran energi dan material yang mampu menerapkan konsep ekologi industri. Di area sekitar Kawasan Industri Kujang Cikampek masih berupa lahan pertanian rakyat, oleh karenanya lahan pertanian rakyat ini cocok untuk diintegrasikan dengan industri-industri yang berada dalam area Kawasan Industri Kujang Cikampek membentuk sustu simbiosis yang saling menguntungkan. 5.1.2. Aliran energi dan material Komoditas yang perlu dikembangkan di area Kawasan Industri Kujang Cikampek adalah industri gula tebu. Dengan adanya lahan perkebunan tebu di area tersebut harus dibarengi dengan pendirian pabrik gula tebu yang dapat langsung mengolah hasil komoditas tebu menjadi gula. Pabrik tebu ini dapat diintegrasikan dengan industri yang berada dalam Kawasan Industri Kujang Cikampek. Salah satu alternatif bagan aliran pertukaran hasil samping antar pabrik gula dengan industri-industri di dalam Kawasan Industri Kujang Cikampek adalah seperti yang tertera pada Gambar 5.2.

11

Ekologi Industri : Prospek Penerapannya di Indonesia

Gambar 5.2. Aliran material yang potensial diterapkan di Kawasan Industri Kujang Cikampek

Pabrik utama semen kujang sebenarnya tidak berlokasi di Kawasan Industri Kujang Cikampek, namun dapat diusulkan untuk dibangun pabrik semen di kawasan industri ini meskipun skalanya lebih kecil dari pabrik utama. Pada diagram aliran energi dalam Gambar 5.2, tebu diangkut ke perkebunan tebu untuk diproduksi menjadi gula tebu yang akan dijual ke pasar baik nasional maupun internasional. Pabrik gula menghasilkan produk samping molase dan bagas serta residu lumpur. Molase dialirkan ke pabrik alkohol untuk diproduksi sebagai alkohol. Pabrik alkohol ini juga akan menghasilkan residu yang akan dialirkan ke pabrik pupuk. Pabrik pupuk akan menghasilkan pupuk yang sebagian hasilnya dialirkan ke perkebunan tebu. Sementara itu, residu lumpur dapat dialirkan ke pabrik semen sebagai salah satu dari komponen pembuatan semen. Kemudian untuk produk samping bagas dapat dialirkan ke pabrik pembuatan pulp sebagai bahan baku. Pabrik pulp akan menghasilkan produk utama pulp, air limbah dan black liquid. Produk utama pulp akan dikirimkan ke pabrik kertas dan kertas tissue, sementara air limbah akan dialirkan ke unit pengolahan limbah. Untuk black liquid dapat dialirkan ke unit alkali recovery, karena black liquid ini masih banyak mengadung logam alkali. Dari unit alkali recovery ini akan dihasilkan lumpur putih yang dapat dialirkan ke pabrik semen, sedangkan logam-logam alkali dapat dialirkan kembali ke pabrik pulp. 6. Kesimpulan Ekologi industri merupakan suatu konsep yang digunakan untuk mengelola aliran energi atau material sehingga diperoleh efisiensi yang tinggi dan menghasilkan sedikit polusi. Penerapan konsep ekologi industri tesebut sangat diper-

lukan dalam rangka pembangunan industri yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Indonesia sebenarnya telah menerapkan konsep kawasan ekologi industri meskipun masih sederhana dan perlu dikembangkan lebih lanjut. Konsep kawasan ekologi industri di Indonesia sebaiknya disesuaikan dengan kondisi geografis dan yang paling sesuai untuk dikembangkan segera adalah kawasan ekologi industri pertanian atau agroindustri. Konsep ekologi industri telah terbukti cukup potensial untuk diterpakan di beberapa kawasan agroindustri di Indonesia. 7. Daftar Pustaka
[1] World Commission on Environment and Development, 1987, Our Common Future, Oxford University Press, New York, USA. [2] Djajadiningrat, S.T., 2001, Untuk Generasi Masa Depan: Pemikiran, Tantangan dan Permasalahan Lingkungan, ITB Press, Bandung, Indonesia. [3] Lester, R.B., 1991, Building Sustainable Society, The Free Press, New York, USA. [4] Hernandez-Santoyo J, Sanchez-Cifuentes A. Trigeneration: an alternative for energy savings. Appl Energy 2003;76:21927. [5] Allenby, B.R., 2001, Sustainable Development, National Academic Press, Washington D.C., USA. [6] Garner, H., and Koeleland, G.A., Industrial Ecology: An Introduction, 1995, National Pollution Prevention Centre for Higher Education, University of Michigan, USA. [7] Richards, D.J., and Frosch, R.A., 1997, The Industrial Green Game: Overview and Perspective, National Academic Press, Washington, D.C., USA. [8] Nonamem, and Singh, K., 2001, Naroda Eco-Industrial Parks, J. Industrial Tech., 3(6): 21-29. [9] Manahan, S.E., 1999, Industrial Ecology: Environmental Chemistry and Hazardous Waste, Lewis Publishers, New York, USA. [10] Richards, D.J., and Furreton, A.B., 1997, Industrial Ecology: US-Japan Perspective, National Academy of Engineering, New York, USA. [11] Xuemei, B., 2007, Industrial Ecology and the Global Impacts of Cities, Journal of Industrial Ecology, 11(2): 342-352. [12] Noonan, M., and Greenhalgh, L., 1998, Industrial Ecology: Tools for Sustainable Development, AHURI Press.

Sudrajat, et.al.

12

[13] Garner, A., 1995, Industrial Ecology: An Introduction, Pollution Prevention and Industrial Ecology, University of Michigan Press, USA. [14] Tibbs, R., 1993, Industrial Ecology: An Environment Agenda for Industry, Global Business Network, EmerYville, California, USA. [15] Fiksel, J., Design for Environment: Creating Eco-efficient Products and Process, McGraw-Hill, USA. [16] Environment Australia, 1999, Profiting from Environmental Improvement in Business: an ecoefficiency information tool kit for Australian industry, Canberra, Australia.

[17] van Berkel, R., 2001, Industrial Metabolism, Curtin University Press, Australia. [18] Kinlaw, D., 1993, Competitive and Green: Sustainable Performance in the Environmental Age, Pfeiffer and Company, San Diego, USA. [19] Lowe, E.A., 2001, EIP Handbook for Asian Developing Countries, Report to Asian Development Bank. [20] Haas, G., Wetterich, F., Kopke, U., 2001, Comparing intensive, extensified and organic grassland farming in southern China by process life cycle assessment, Agric. Ecosyst. Environ, 83, 4353.