Anda di halaman 1dari 22

1

BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG Pembentukan parut akibat ulserasi kornea adalah penyebab utama kebutaan dan gangguan penglihatan diseluruh dunia. Kebanyakan gangguan penglihatan ini dapat dicegah, namun hanya bila diagnosis penyebabnya ditetapkan secara dinidan diobati secara memadai. Ulserasi supuratif sentral dahulu hanya disebabkan oleh S. pneumonia. Tetapi akhir-akhir ini sebagai akibat luasnya penggunaan obat-obat sistemik dan lokal (sekurang-kurangnya di Negara maju), bakteri, fungi, dan virus oportunistik cenderung lebih banyak menjadi penyebab kasus ulkus kornea daripada S pneumonia. I.2 RUMUSAN MASALAH I.2.1 Bagaimana etiologi, patogenesis, diagnosis dan penatalaksanaan ulkus kornea? I.3 TUJUAN I.3.1 Mengetahui etiologi, patogenesis, diagnosis dan penatalaksanaan ulkus kornea. I.4 MANFAAT I.4.1 I.4.2 Menambah wawasan mengenai penyakit mata khususnya ulkus kornea. Sebagai proses pembelajaran bagi dokter muda yang sedang mengikuti kepaniteraan klinik bagian ilmu penyakit mata.

BAB II STATUS PASIEN II.1 IDENTITAS PASIEN Nama Jenis Kelamin Umur Alamat Pendidikan Pekerjaan Status Suku Bangsa Tanggal Periksa No. RM II.2 ANAMNESIS 1. Keluhan Utama : mata kanan ditengah-tengahnya seperti ada bisul yang pecah. 2. Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien dibawa keluarganya ke rumah sakit pada tanggal 2 maret 2011 dengan keluhan mata kanan ditengah-tengahnya seperti ada bisul yang pecah sejak 1 bulan. Awalnya pasien kelilipan dan matanya dikucek-kucek, kemudian mata kanannya diberi daun sirih oleh pasien. Karena tidak sembuh maka pasien berobat ke dokter dan diberi obat tarivid, tapi belum membaik hingga sekarang. Sejak kelilipan, pasien sering mengeluh kepala sebelah kanannya cekotcekot, penglihatan kabur dan saat melihat seperti ada sesuatu yang menutupi penglihatannya. Sebelumnya penglihatan pasien dirasa baik-baik saja. Mata pasien juga merah sejak kelilipan serta dirasa ada sesuatu yang mengganjal di mata kanannya. Mata kanannya juga kadang mengeluarkan kotoran dan dirasa lengket, serta terkadang silau jika kena sinar matahari. 3. Riwayat Penyakit Dahulu jantung (-). 4. Riwayat Penyakit Keluarga 5. Riwayat Pengobatan : Disangkal : pernah dibawa ke dokter dan diberi tarivid. : Hipertensi (-), DM (-), Asma (-), Penyakit : Ny. S : Perempuan : 81 tahun : Bululawang : SMP : Ibu Rumah Tangga : Menikah : Jawa : 2 maret 2011 : 247608

6. Riwayat Kebiasaan II.3 STATUS GENERALIS

:-

Kesadaran : compos mentis (GCS 456) Vital sign : II.4 Tensi : 120/80 mmHg Nadi : 92 x/menit RR : 22 x/menit Suhu : 37oC

STATUS OFTALMOLOGIS

S : mata seperti ada nanah yang pecah, penglihatan kabur da seperti ada sesuatu yang menutupi penglihatan. O: Pemeriksaan dengan inspeksi, palpasi dan penyinaran oblik Pemeriksaan AV Tanpa koreksi Dengan koreksi TIO Kedudukan Pergerakan 1/60 Tn orthophoria 6/8,5 Tn orthophoria OD OS

Palpebra edema hiperemi + -

trikiasis ptosis simblefaron benjolan xantelasma

+ + + Keruh Tidak rata + + Cukup + (1/6 BMD) -

Jernih Cembung Cukup -

- lagoftalmus Konjungtiva bleeding injeksi konjungtival pericorneal injection sekret - folikel Kornea warna permukaan infiltrate

- sikatrik Bilik mata depan kedalaman hifema hipopion flare

Iris / pupil warna iris ukuran pupil bentuk pupil reflek cahaya Coklat isokor Regular + Tidak dilakukan Tidak dilakukan Coklat isokor Regular + Tidak dilakukan Tidak dilakukan

- sinekia Lensa warna - Iris shadow Vitreus Retina

a: ulkus b: hipopion c: cunjungtival & pericorneal injection II.5 DIAGNOSIS Working diagnosis Differential Diagnosis II.6 PENATALAKSANAAN Planning Diagnosis :

Mata tampak normal

: OD ulkus kornea dengan hipopion : OD ulkus kornea et causa bakteri OD ulkus kornea et causa fungi Pewarnaan kornea dengan zat fluoresensi.

Goresan ulkus untuk analisa atau kultur (pulasan gram, giemsa atau KOH) Pada jamur dilakukan pemeriksaan kerokan kornea dengan spatula kimura dari dasar dan tepi ulkus dengan biomikroskop dilakukan pewarnaan KOH, gram atau Giemsa. Lebih baik lagi dengan biopsi jaringan kornea dan diwarnai dengan periodic acid Schiff. Selanjutnya dilakukan kultur dengan agar sabouraud atau agar ekstrak maltosa. Planning Therapy : C. tropin eye drop 3x1 tetes OD C. tobro eye dropp 1 tetes/jam OD Ciprofloxacin 2x500 mg Ketokonazole 1x200 mg II.7 PROGNOSIS Ad vitam Ad Functionam Ad Sanationam : dubia ad malam : dubia ad bonam : dubia ad malam

II.8

Follow Up Tanggal 2 maret 2011

S : mata seperti ada nanah yang pecah, penglihatan kabur seperti ada sesuatu yang menutupi penglihatan. O: Pemeriksaan dengan inspeksi, palpasi dan penyinaran oblik Pemeriksaan AV Tanpa koreksi Dengan koreksi TIO Kedudukan Pergerakan 1/60 Tn orthophoria 6/8,5 Tn orthophoria OD OS

Palpebra edema hiperemi trikiasis ptosis simblefaron benjolan xantelasma + + + + + -

- lagoftalmus Konjungtiva Kornea warna permukaan infiltrate bleeding injeksi konjungtival pericorneal injection sekret folikel

Keruh Tidak rata + + Cukup

Jernih Cembung Cukup

- sikatrik Bilik mata depan kedalaman

hifema hipopion flare

+ (1/6 BMD) -

Iris / pupil warna iris ukuran pupil bentuk pupil reflek cahaya Coklat isokor Regular + Coklat Regular + Tidak dilakukan Tidak dilakukan Coklat isokor Regular + Coklat Regular + Tidak dilakukan Tidak dilakukan

- sinekia Iris / pupil warna iris bentuk pupil reflek cahaya

- sinekia Lensa warna - Iris shadow Vitreus Retina

a: ulkus b: hipopion c: cunjungtival & pericorneal injection A : OD ulkus kornea dengan hipopion P : C. tropin eye drop 3x1 tetes OD C. tobro eye dropp 1 tetes/jam Ciprofloxacin 2x500 mg Ketokonazole 1x200 mg Tanggal 3 maret 2011

Mata tampak normal

S : pasien merasa sudah lebih enak daripada kemaren, kepala cekot-cekot sudah mulai berkurang, panglihatan sedikit lebih jelas daripada sebelumnya. O : Pemeriksaan dengan inspeksi, palpasi dan penyinaran oblik Pemeriksaan AV Tanpa koreksi Dengan koreksi TIO Kedudukan Pergerakan 3/60 Tn orthophoria 6/8,5 Tn orthophoria OD OS

Palpebra edema hiperemi trikiasis ptosis simblefaron benjolan xantelasma + + + + + -

- lagoftalmus Konjungtiva Kornea warna permukaan infiltrate bleeding injeksi konjungtival pericorneal injection sekret folikel

Keruh Tidak rata + + Cukup

Jernih Cembung Cukup

- sikatrik Bilik mata depan kedalaman

hifema hipopion flare

+ (1/6 BMD) -

Iris / pupil warna iris ukuran pupil bentuk pupil reflek cahaya Coklat isokor Regular + Coklat Regular + Tidak dilakukan Tidak dilakukan Coklat isokor Regular + Coklat Regular + Tidak dilakukan Tidak dilakukan

- sinekia Iris / pupil warna iris bentuk pupil reflek cahaya

- sinekia Lensa warna - Iris shadow Vitreus Retina

a: ulkus b: hipopion c: cunjungtival & pericorneal injection A : OD ulkus kornea dengan hipopion

Mata tampak normal

P : RUJUK untuk pemeriksaan kultur dan terapi diteruskan C. tropin eye drop 3x1 tetes OD C. tobro eye dropp 1 tetes/jam Ciprofloxacin 2x500 mg Ketokonazole 1x200 mg

10

BAB III TELAAH KASUS III.1 ANATOMI

11

Anatomi & gambaran mikroskopik kornea Kornea (latin cornum = seperti tanduk) adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya, merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata sebelah depan dan terdiri atas lapis: 1. epitel tebalnya 50 m, terdiri atas 5 lapis sel epitel yang tidak bertanduk yang saling tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel polygonal dan sel gepeng. Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong ke depan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi sel gepeng, sel basal yang berikatan erat dengan sel basal di sampingnya dan sel polygonal di depannya melalui desmosom dan macula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit, dan glukosa yang merupakan barrier. 2. membrane bowman terletak dibawah membrane basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma. Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi. 3. stroma terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu dengan yang lainnya, pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang di bagian perifer serat kolagen ini bercabang; terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan. Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblast terletak di antara serat kolagen stroma. Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesusah trauma. 4. membrane descement merupakan membran aseluler dan merupakan batas belakang stroma kornea dihasilkan sel endotel dan merupakan membrane basalnya. Bersifat sangat elastic dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal 40 m. 5. endotel

12

Berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besar 20-40 m. endotel melekat pada membrane descement melaui hemidesmosom dan zonula okluden. III.2 PENGERTIAN Ulkus kornea merupakan hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian jaringan kornea. Terbentuknya ulkus pada kornea mungkin banyak ditemukan oleh adanya kolagenase oleh sel epitel baru dan sel radang. Dikenal dua bentuk ulkus pada kornea yaitu sentral dan marginal / perifer. Ulkus kornea perifer dapat disebabkan oleh reaksi toksik, alergi, autoimun dan infeksi. Infeksi pada kornea perifer biasanya oleh kuman Stafilokok aureus, H. influenza dan M.lacunata. Terjadinya ulkus kornea biasanya didahului oleh factor pencetus yaitu rusaknya system barrier epitel kornea oleh penyebab-penyebab seperti: Kelainan pada bulu mata (trikiasis) dan system air mata (insufisiensi air mata, sumbatan saluran lakrimal) dsb. Oleh factor eksternal yaitu: luka pada kornea (erosi kornea) karena trauma, penggunaan lensa kontak, luka bakar pada daerah muka. Kelainan-kelainan kornea yang disebabkan oleh: edema kornea kronik, exposure keratitis (pada lagoftalmus, bius umum, koma); keratitis karena defisiensi vitamin A, keratitis neuroparalitik, keratitis superfisialis virus. Kelainan-kelainan sistemik: malnutrisi, alkoholisme, sindrom Steven-Johnson, sindrom defisiensi imun. Obat-obatan yang menurunkan mekanisme imun misalnya: kortikosteroid, IDU (Idoxyuridine), anastetik local dan golongan imunosupresif. III.3 KLASIFIKASI Dikenal dua bentuk ulkus kornea yaitu: 1. Ulkus kornea sentral

Ulkus kornea sentral dengan hipopion

13

a. ulkus kornea bakterialis

Ulkus Streptokokus : Khas sebagai ulcus yang menjalar dari tepike arah tengah kornea (serpinginous). Ulkus bewarna kuning keabu- abuan berbentuk cakram dengan tepi ulkus yang menggaung. Ulkus cepat menjalar ke dalam dan menyebabkan perforasi kornea, eksotoksin yang dihasilkan oleh streptokok pneumonia. Ulkus Stafilokokus: Pada awalnya berupa ulkus yang bewarna putih kekuningan disertai infiltrat berbatas tegas tepat dibawah defek epitel. Apabila tidak diobati secara adekuat, akan terjadi abses kornea yang disertai edema stroma dan infiltrasi sel leukosit. Walaupun terdapat hipopion ulkus seringkali indolen yaitu reaksi radangnya minimal. Ulkus Pseudomonas: Lesi pada ulkus ini dimulai dari daerah sentral kornea. ulkus sentral ini dapat menyebar ke samping dan ke dalam kornea. Penyerbukan ke dalam dapat mengakibatkan perforasi kornea dalam waktu 48 jam. gambaran berupa ulkus yang berwarna abu-abu dengan kotoran yang dikeluarkan berwarna kehijauan. Kadang-kadang bentuk ulkus ini seperti cincin. Dalam bilik mata depan dapat terlihat hipopion yang banyak. Ulkus Pneumokokus: Terlihat sebagai bentuk ulkus kornea sentral yang dalam. Tepi ulkus akan terlihat menyebar ke arah satu jurusan sehingga memberikan gambaran karakteristik yang disebut Ulkus Serpen. Ulkus terlihat dengan infiltrasi sel yang penuh dan berwarna kekuningkuningan.Penyebaran ulkus sangat cepat dan sering terlihat ulkus yang menggaung dan di daerah ini terdapat banyak kuman. Ulkus ini selalu di temukan hipopion yang tidak selamanya sebanding dengan beratnya ulkus yang terlihat. Diagnose lebih pasti bila ditemukan dakriosistitis.
b. ulkus kornea fungi

karena

Mata dapat tidak memberikan gejala selama beberapa hari sampai beberapa minggu sesudah trauma yang dapat menimbulkan infeksi jamur ini. Pada permukaan lesi terlihat bercak putih dengan warnakeabu-abuan yang agak kering. Tepi lesi berbatas tegas irregular dan terlihat penyebaran seperti bulu pada bagian epitel yang baik. Terlihat suatu daerah tempat asal

14

penyebaran di bagian sentral sehingga terdapat satelit-satelit disekitarnya. Tukak kadang-kadang dalam, seperti tukak yang disebabkan bakteri. Pada infeksi kandida bentuk tukak lonjong dengan permukaan naik. Dapat terjadi neovaskularisasi akibat rangsangan radang. Terdapat injeksi siliar disertai hipopion. c. ulkus kornea virus Ulkus Kornea Herpes Zoster : Biasanya diawali rasa sakit padakulit dengan perasaan lesu. Gejala ini timbul satu 1-3 hari sebelum timbulnya gejala kulit. Pada mata ditemukan vesikel kulit dan edem palpebra, konjungtiva hiperemis, kornea keruh akibat terdapatnya infiltrat subepitel dan stroma. Infiltrat dapat berbentuk dendrit yang bentuknya berbeda dengan dendrit herpes simplex. Dendrit herpes zoster berwarna abu-abu kotor dengan fluoresin yang lemah. Kornea hipestesi tetapi dengan rasa sakit. Keadaan yang berat pada kornea biasanya disertai dengan infeksi sekunder. Ulkus Kornea Herpes simplex : Infeksi primer yang diberikan oleh virus herpes simplex dapat terjadi tanpa gejala klinik. Biasanya gejala dini dimulai dengan tanda injeksi siliar yang kuat disertai terdapatnya suatu dataran sel di permukaan epitel kornea disusul dengan bentuk dendrit atau bintang infiltrasi. terdapat hipertesi pada kornea secara lokal kemudian menyeluruh. Terdapat pembesaran kelenjar preaurikel. Bentuk dendrit herpes simplex kecil, ulceratif, jelas diwarnai dengan fluoresin dengan benjolan diujungnya

15

d.

ulkus kornea acanthamoeba Awal dirasakan sakit yang tidak sebanding dengan temuan kliniknya, kemerahan dan fotofobia. Tanda klinik khas adalah ulkus kornea indolen, cincin stroma, dan infiltrat perineural.

2. Ulkus kornea perifer

a. Ulkus marginal

Bentuk ulkus marginal dapat simpel atau cincin. Bentuk simpel berbentuk ulkus superfisial yang berwarna abu-abu dan terdapat pada infeksi stafilococcus, toksit atau alergi dan gangguan sistemik pada influenza disentri basilar gonokok arteritis nodosa, danlain-lain. Yang berbentuk cincin atau multiple dan biasanya lateral. Ditemukan pada penderita leukemia akut, sistemik lupus eritromatosis dan lain-lain.
b. Ulkus mooren (ulkus serpinginosakronik/ulkus roden)

Merupakan ulkus yang berjalan progresif dari periferkornea kearah sentral. ulkus mooren terutama terdapat pada usia lanjut. Penyebabnya sampai sekarang belum diketahui. Banyak teori yang diajukan dan salah satu adalah teori hipersensitivitas tuberculosis, virus, alergi dan autoimun. Biasanya menyerang satu mata. Perasaan sakit sekali. Sering menyerang seluruh permukaan kornea dan kadang meninggalkan satu pulau yang sehat pada bagian yang sentral.
c. Ulkus cincin (ring ulcer)

Terlihat injeksi perikorneal sekitar limbus. Dikornea terdapat ulkus yang berbentuk melingkar dipinggir kornea, di dalam limbus, bisa dangkal atau dalam, kadang- kadang timbul perforasi. Ulkus marginal yang banyak kadang-kadang dapat menjadi satu menyerupai ring ulcer. Tetapi pada ring

16

ulcer yang sebetulnya tak ada hubungan dengan konjungtivitis kataral. Perjalanan penyakitnya menahun. III.4 ETIOLOGI Secara umum etiologi ulkus kornea dapat disebabkan oleh: Bakteri: kuman yang murni dapat menyebabkan ulkus kornea adalah streptococcus pneumonia sedangkan bakteri yang lain menimbulkan ulkus kornea melalui adanya factor-faktor pencetus di atas. Virus: herpes simpleks, zoster, vaksinia, variola. Jamur: golongan kandida, fusarium, aspergillus, sefalosforium. Reaksi hipersensitivitas: terhadap stafilococcus (ulkus marginal), TBC (keratokonjungtivitis flikten), allergen tak diketahui (ulkus cincin). III.5 PATOFISIOLOGI

17

III.6

GEJALA a. Mata merah b. Sakit mata ringan hingga berat c. Fotofobia d. Penglihatan menurun e. Kekeruhan berwarna putih pada kornea Gejala yang dapat menyertai adalah terdapatnya penipisan kornea, hipopion, hifema dan sinekia posterior. Ulkus kornea biasanya terjadi setelah terdapatnya trauma enteng yang merusak epitel kornea. Pada mulanya mata akan terasa pedih dan sakit disertai dengan fotofobia. Biasanya kokkus gram positif, Staphylococcus aureus dan streptococcus pneumonia akan memberikan gambaran tukak yang terbatas, berbentuk bulat atau lonjong berwarna putih abu-abu pada tukak yang supuratif. Dareah kornea yang tidak terkena akan tetap berwarna jernih dan tidak terlihat infiltrasi sel radang. Kadang-kadang dalam bilik mata depan terdapat hipopion. Bila tukak disebabkan oleh pseudomonas maka akan terlihat melebar dengan cepat, bahan purulen berwarna kuning hijau terlihat melekat permukaan tukak. lipatan Descemet, reaksi jaringan kornea (akibat gangguan vaskularisasi iris), berupa suar,

III.7

DIAGNOSA Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan klinis dengan menggunakan slit lamp dan pemeriksaan laboratorium. Anamnesis pasien penting pada penyakit kornea, sering dapat diungkapkan adanya riwayat trauma, benda asing, abrasi, adanya riwayat penyakit kornea yang bermanfaat, misalnya keratitis akibat infeksi virus herpes simplek yang sering kambuh. Hendaknya pula ditanyakan riwayat pemakaian obat topikal oleh pasien sepertikorti kosteroid yang merupakan predisposisi bagi penyakit bakteri, fungi, virus terutama keratitis herpes simplek. Juga mungkin terjadi imunosupresi akibat penyakit sistemik seperti diabetes, AIDS, keganasan, selain oleh terapi imunosupresi khusus. Pada pemeriksaan fisik didapatkan gejala obyektif berupa adanya injeksi siliar, kornea edema, terdapat infiltrat, hilangnya jaringan kornea. Pada kasus berat dapat terjadi iritis yang disertai dengan hipopion. Disamping itu perlu juga dilakukan pemeriksaan diagnostik seperti:

Ketajaman penglihatan

18

Tes refraksi

Tes air mata Pemeriksaan slit-lamp Keratometri (pengukuran kornea)

Respon reflek pupil


Pewarnaan kornea dengan zat fluoresensi. Goresan ulkus untuk analisa atau kultur (pulasan gram, giemsa atau KOH) Pada jamur dilakukan pemeriksaan kerokan kornea dengan spatula kimura dari dasar dan tepi ulkus dengan biomikroskop dilakukan pewarnaan KOH, gram atau Giemsa. Lebih baik l agi dengan biopsi jaringan kornea dan diwarnai dengan periodic acid Schiff. Selanjutnya dilakukan kultur dengan agar sabouraud atau agar ekstrak maltosa.

III.8

PENGOBATAN Pengobatan pada ulkus kornea bertujuan untuk: Menghalangi hidupnya bakteri, dengan antibiotika. Mengurangi reaksi radang, dengan steroid. Secara umum ulkus kornea diobati sebagai berikut: Sikloplegik Kebanyakan dipakai sulfas atropine karena bekerja lama 1-2 minggu. efek kerja sulfas atropine: Sedatif, menghilangkan rasa sakit. Dekongestif, menurunkan tanda-tanda radang. Menyebabkan paralysis M. siliaris dan M.konstriktor pupil. Dengan lumpuhnya M. siliaris mata tidak mempunyai daya akomodsi sehingga mata dalam keadaan istirahat. Dengan lumpuhnya M.konstriktor pupil, terjadi midriasis sehinggga sinekia posterior yang telah ada dapat dilepas dan mencegah pembentukan sinekia posterior yang baru Antibiotika yang sesuai topical dan subkonjungtiva Antibiotik yang sesuai dengan kuman penyebabnya atau yang berspektrum luas diberikan sebagai salep, tetes atau injeksi subkonjungtiva. Pada pengobatan ulkus sebaiknya tidak diberikan salap mata karena dapat

19

memperlambat penyembuhan dan juga dapat menimbulkan erosi kornea kembali. Tidak boleh dibebat, karena akan menaikkan suhu sehingga akan berfungi sebagai incubator. Secret yang terbentuk dibersihkan 4 kali satu hari. Diperhatikan kemungkinan terjadinya glaucoma sekunder. Debridement sangat membantu penyembuhan. Diberikan antibiotika yang sesuai dengan causanya. Biasanya diberi local kecuali keadaannya berat. Pengobatan dihentikan bila sudah terjadi epitelialisasi dan mata terlihat tenang kecuali bila penyebabnya pseudomonas yang memerlukan pengobatan ditambah 1-2 minggu. Pada ulkus kornea dilakukan pembedahan atau keratoplasti apabila: Dengan pengobatan tidak sembuh Terjadinya jaringan parut yang mengganggu penglihatan. Indikasi Rawat Inap ulkus sentral luas ulkus > 5 mm ulkus dengan ancaman perforasi (descementocele; seperti mata ikan) ulkus dengan hipopion III.9 KOMPLIKASI Kebutaan parsial atau komplit dalam waktu sangat singkat Kornea perforasi dapat berlanjut menjadi endoptalmitis dan panopthalmitis Prolaps iris Sikatrik kornea Katarak Glaukoma sekunder III.10 PROGNOSIS Prognosis ulkus kornea tergantung pada tingkat keparahan dan cepat lambatnya mendapat pertolongan, jenis mikroorganisme penyebabnya, dan ada tidaknya komplikasi yang timbul. Ulkus kornea yang luas memerlukan waktu

20

penyembuhan yang lama,

k a r e n a jaringan kornea bersifat avaskular. Semakin

tinggi tingkat keparahan dan lambatnya mendapat pertolongan serta timbulnya komplikasi, maka prognosisnya menjadi lebih buruk. Penyembuhan yang lama mungkin juga dipengaruhi ketaatan penggunaan obat. Dalam hal ini, apabila tidak ada ketaatan penggunaan obat terjadi pada penggunaan antibiotika maka dapat menimbulkan resistensi. Ulkus kornea harus membaik setiap harinya dan harus disembuhkan dengan pemberian terapi yang tepat. Ulkus kornea dapat sembuh dengan dua metode; migrasi sekeliling sel epitel yang dilanjutkan dengan mitosis sel dan pembentukan pembuluh darah dari konjungtiva. Ulkus superfisial yang kecil dapat sembuh dengan cepat melalui metode yang pertama, tetapi pada ulkus yang besar, perlu adanya suplai darah agar leukosit dan fibroblas dapat membentuk jaringan granulasi dan kemudian sikatrik

21

BAB IV PENUTUP IV.1 KESIMPULAN Dari hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik pasien didiagnosa OD ulkus kornea dengan hipopion. Ulkus kornea merupakan hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian jaringan kornea. Terbentuknya ulkus pada kornea mungkin banyak ditemukan oleh adanya kolagenase oleh sel epitel baru dan sel radang. Dikenal dua bentuk ulkus pada kornea yaitu sentral dan marginal / perifer. Ulkus kornea perifer dapat disebabkan oleh reaksi toksik, alergi, autoimun dan infeksi. Infeksi pada kornea perifer biasanya oleh kuman Stafilokok aureus, H. influenza dan M.lacunata. Gejala dari ulkus kornea adalah: mata merah, sakit mata ringan hingga berat, fotofobia, penglihatan menurun serta kekeruhan berwarna putih pada kornea. Gejala yang dapat menyertai adalah terdapatnya penipisan kornea, hifema dan sinekia posterior. Pengobatan pada ulkus kornea bertujuan untuk: menghalangi hidupnya bakteri, dengan antibiotika serta untuk mengurangi reaksi radang, dengan steroid. IV.2 SARAN Pemberian KIE kepada masyarakat awam mengenai bahay kelilipan yang bila tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan ulkus kornea, sehingga dapat menggangu penglihatan. lipatan Descemet, reaksi jaringan kornea (akibat gangguan vaskularisasi iris), berupa suar, hipopion,

22

DAFTAR PUSTAKA

Anggraini

ND.

2004.

Ulkus

kornea.

Available

at

http://www.scribd.com/doc/35916168/ULKUS-KORNEA. Ilyas S. 2005. Ilmu penyakit mata edisi ketiga Cetakan ke-5. FKUI press; Jakarta. h. 4-6. Ilyas S, dkk. 2002. Ilmu penyakit mata untuk dokter umum dan mahasiswa kedokteran edisi ke-2. CV. SAGUNG SETO; Jakarta. h. 116-140. Ilyas S. 2005. Kedaruratan dalam ilmu penyakit mata. FKUI press: Jakarta. h. 69-83. Kanski JJ. Clinical Ophthalmology A systemic approach sixth edition. ButterworthHeinemann, New York, 2007. Page 250-254. Hawkins, Dr. 2008. EyeRounds Online Atlas of Ophthalmology at

Category:

Cornea.

Available

http://webeye.ophth.uiowa.edu/eyeforum/atlas/indexes/Cornea.html Kanski JJ. Clinical Ophthalmology A synopsis. Butterworth-Heinemann, Boston, 2009. Page 138-149. Vaughan DG, dkk. Oftalmologi Umum. Editor : Y. Joko Suyono. Edisi 14. Jakarta : Widya Medika. 1996. h. 130-142.