Anda di halaman 1dari 5

MODUL 1 INTERFEROMETER DAN PRINSIP BABINET

Kezia R, Fitri Aulia, Fransiska Ratih, Frans Willy, Vessabhu Wijaya, Kamal Dwi 10209026, 10211087, 10211098, 10211048, 10211026, 10211067 Email : cityofmelancholy@gmail.com Asisten : CH. A. Andre Mailoa/10210026 Tanggal Praktikum : 25-09-13
Abstrak Pada praktikum ini dipelajari bagaimana interferometer digunakan untuk mengamati pola interferensi cahaya laser He-Ne. Interferometer yang dipakai adalah interferometer Michelson-Morley dan Mach-Zehnder. Dan dengan laser He-Ne yang sama, dilakukan pengamatan gejala difraksi menggunakan sehelai rambut untuk memahami prinsip babinet. Dari percobaan interferensi, hasil yang didapatkan berbeda dengan referensi, karena kesalahan saat kalibrasimembuat tata letak alat tidak simetris. Dari percobaan difraksi, hasilberupa diameter rambut sesuai dengan referensi. Kata kunci : beam divider, difraksi, interferensi, laser, optik.

I.
[1]

Pendahuluan
[2]

Cahaya adalah radiasi elektromagnetik. Selain itu, cahaya adalah paket partikel yang disebut foton. Kedua definisi tersebut merupakan sifat cahaya yang ditunjukkan secara bersamaan, sehingga disebut dualisme gelombang-partikel. Sebagai gelombang, cahaya juga mempunyai sifat-sifat gelombang. Yaitu dapat mengalami refleksi, refraksi, difraksi, interferensi, dan lainlain. Refleksi (pemantulan) adalah peristiwa pengembalian seluruh atau sebagian dari suatu berkas partikel atau gelombang bila berkas tersebut bertemu dengan bidang batas antara dua medium. Pada peristiwa pemantulan, berlaku suatu hukum yaitu Hukum Pemantulan, yang berbunyi: a. sinar datang, sinar pantul, dan garis normal terhadap bidang batas pemantul pada titik jatuh, semuanya berada dalam satu bidang, b. sudut datang (i) sama dengan sudut pantul (r) (pemantulan sempurna pada bidang datar)

Refraksi (pembiasan) gelombang terjadi saat gelombang itu sampai pada bidang batas antara dua medium, yang mengakibatkan arah dan kelajuan gelombang tersebut berubah. [1] Panjang gelombangnya bertambah atau berkurang sesuai dengan perubahan kelajuannya, tetapi tidak ada perubahan frekuensi.

[1]

Gambar 2. Pembiasan gelombang

Dalam refraksi berlaku hukum Snellius, yaitu : n1.sin 1 = n2.2 (1) Keterangan: 1 : sudut datang 2 : sudut pembiasan n1 : indeks bias medium 1
[3]

[1]

Gambar 1. Pemantulan gelombang oleh bidang

Difraksi adalah peristiwa penyebaran atau pembelokan gelombang pada saat gelombang tersebut melintas melalui penghalang berupa kisi atau celah. Ini menjelaskan bahwa peristiwa difraksi adalah saat cahaya akan

melewati celah/kisi, cahaya tersebut akan membentur tepi celah/kisi tersebut dan akan membelok kearah bagian kisi/celah yang kosong. Sehingga bagian cahaya dapat lewat akan menjadi titik terang, sementara bagian cahaya yang tidak dapat berbelok ke bagian kosong akan tertahan dan menjadi titik gelap. Sehingga terbentuklah pola terang-gelap. Prinsip Hyugens menyatakan bahwa setiap gelombang dapat menghasilkan gelombang-gelombang baru dengan yang sama. Prinsip Huygens juga menggambarkan bahwa, semakin kecil halangan, penyebaran gelombang semakin besar, begitu pula sebaliknya.

[6]

Gambar 4 : interferensi celah ganda Young

Dalam konteks cahaya, interferensi cahaya dapat terjadi jika sumber cahaya mempunyai koheren. Yaitu memiliki beda fase, frekuensi dan amplitude yang sama. (d. x)/L = d. x = L (2) Keterangan: d = diameter celah tunggal x = jarak terang pusat ke gelap pertama = panjang gelombang cahaya sumber L = jarak layar ke celah Interferometer adalah alat yang digunakan untuk menghasilkan pola interferensi. Interferometer Michelson-Morley dan interferometer Mach-Zehnder adalah salah dua dari sekian jenis interferometer linear yang susunannya sederhana. II. Metode Percobaan

[4]

Gambar 3 : percobaan difraksi pada celah tunggal

Gambar diatas menunjukkan percobaan difraksi pada celah tunggal, lebih dikenal sebagai difraksi Fraunhofer (difraksi medan jauh) ataupun difraksi Hesnel (difraksi medan dekat). Prinsip babinet dapat diamati dengan melakukan percobaan difraksi Fraunhofer.
[5]

Menurut prinsip Babinet, pola interferensi yang sama terjadi jika satu atau sekelompok celah diganti dengan komplemennya. Pola difraksi oleh sebuah rambut berketebalan d akan sama dengan pola difraksi oleh suatu celah yang memiliki lebar d. Dan dengan menggunakan prinsip babinet salah satunya yaitu kita dapat menentukan ketebalan rambut. Interferensi adalah penggabungan dua gelombang atau lebih yang menimbulkan gelombang baru. Jika gelombang baru tersebut lebih besar dari gelombang sebelumnya, maka disebut interferensi konstruktif. Interferensi destruktif adalah kebalikannya.

Mengacu pada tujuan praktikum, akan dipelajari dan diamati pola interferensi yang dihasilkan interferometer Michelson-Morley dan Mach-Zehnder, serta pola difraksi untuk mempelajari prinsip babinet. Dengan menggunakan referensi yang didapat dari buku dan internet, diharapkan hasil praktikum ini sesuai dengan referensi, mulai dari ketepatan menyusun cermin dan beam divider untuk interferometer, pola interferensi yang didapatkan, serta difraksi yang didapatkan saat mengamati difraksi celah tunggal. Langkah pertama untuk merangkai interferometer, alat-alat tersebut disusun seperti gambar pada referensi, lalu dikalibrasi agar sinar laser yang yang melewati semua peralatan tersebut tepat segaris. Kemudian mirror 1 dan 2 digeser-geser sedemikian rupa sehingga pantulannya memasuki focus lens tepat

ditengah-tengah, Sehingga muncul pola gelapterang pada screen. Kalibrasi yang dilakukan pada kedua interferometer diatas dilakukan sedemikian rupa tanpa menghiraukan x dan yang telah kami terapkan pada alat-alat tersebut, sehingga pola interferensinya akan berbeda dengan referensi. Untuk mengamati pola difraksi rambut, statif yang berisi rambut dianggap sebagai celah tunggal dan disinari laser. Untuk memenuhi syarat difraksi Fraunhofer (medan jauh), x minimal diatur sesuai kesepakatan peserta praktikum, yaitu sebesar 1 meter. Pengamatan dilakukan beberapa kali dengan variasi jarak screen terhadap rambut, untuk melihat perbedaan ukuran dan perbedaan pola gelapterang yang terbentuk. III. Data dan Pengolahan 1. Interferometer
MM Hasil MZ

Gambar 4 : grafik L vs x

y = mx + c dari (2) didapat d. x = L sehingga d = m d = 63.28 m Keterangan: d = diameter celah tunggal = diameter rambut x = jarak terang pusat ke gelap pertama = panjang gelombang cahaya sumber L = jarak layar ke celah

Ref

Tabel 1:Tabel gambar hasil praktikum vs referensi[7]

Gambar 5 : difraksi rambut pada L = 1.5 m

2. Prinsip Babinet He-Ne = 633 nm


no 1 2 3 4 L (cm) 100 110 120 130 x (cm) 0.5 0.6 0.7 0.8

5 140 0.9 Tabel 2:Tabel variasi jarak layar

IV. Pembahasan Pola terang gelap didapatkan pada semua hasil praktikum, karena terjadi difraksi cahaya. Yaitu saat akan melewati celah/kisi, cahaya akan membentur tepi celah/kisi tersebut dan akan membelok kearah bagian kisi/celah yang kosong. Sehingga bagian cahaya dapat lewat akan menjadi titik terang, sementara bagian cahaya yang tidak dapat berbelok ke bagian kosong akan tertahan dan menjadi titik gelap. Sehingga terbentuklah pola terang-gelap. Pola interferensi MZ dan MM hasil praktikum menunjukkan kesamaan dan perbedaan. Kesamaannya adalah pola terang-gelap yang

didapatkan mendatar. Perbedaannya adalah hasil yang didapatkan interferometer MM lebih terang dan lebih jelas dari interferometer MZ. Hal itu bisa terjadi dikarenakan interferometer MM hanya menggunakan 1 beam divider sehingga terjadi 1 kali pembiasan, sedangkan interferometer MZ menggunakan 2 beam divider, sehingga pembiasan terjadi 2 kali. Penyebab lain yang mungkin adalah tata letak alat-alat yang kurang simetris sehingga proses interferensi tidak berjalan seperti seharusnya. Beberapa hal yang mempengaruhi pola interferensi bagi interferometer MM adalah kekoherensian cahaya sumber, indeks bias beam divider, kemiringan cermin serta sudut datang cahaya dan sudut bias cahaya. Sudut bias cahaya dapat diatur dengan mengatur kesimetrisan sudut-sudut cermin dan beam divider (seharusnya simetris). Beam divider mempunyai sifat semi-reflektif, yaitu bisa memantulkan dan membiaskan cahaya datang secara bersamaan, sehingga dari 1 cahaya datang terbagi menjadi 1 cahaya hasil refleksi dan 1 cahaya hasil pembiasan. Saat praktikum pada beam divider terdapat 3 titik, karena cahaya datang menumbuk beam divider tidak pada permukaan datar nya, tapi pada sudut tepi bawahnya. Sehingga cahaya datang menumbuk 2 permukaan. Pada saat menumbuk permukaan sudut tepi bawah, cahaya terpantul dan terbias. Cahaya yang terbias mengalami pemantulan dan pembiasan lagi saat menumbuk bagian datar beam divider. Sehingga terdapat 3 titik terang pada beam divider. Hasil interferensi yang kami dapat berbeda dengan referensi. Pola terang-gelap MM dari referensi berbentuk melingkar, sedangkan yang kami dapatkan berbentuk mendatar. Begitu pula pola terang-gelap MZ referensi berbentuk tegak, sedangkan yang kami dapat berbentuk mendatar. Hal ini bisa disebabkan karena saat mengkalibrasi alat, kami menggeser-geser cermin dan beam divider tanpa memperhitungkan x dan yang telah kami berikan pada alat-alat tersebut, sehingga tata letak alat-alat menjadi kurang simetris dan proses interferensi tidak berjalan seperti seharusnya (persentasi galat menjadi lebih besar). Dari referensi yang kami dapat, diameter rambut manusia adalah 17 180 m [8]. Dan

dari hasil perhitungan menggunakan matlab, kami dapatkan bahwa rambut yang digunakan untuk mempelajari prinsip babinet mempunyai diameter 63.28 m. Yang berarti sesuai dengan referensi. Pada pola difraksi rambut terdapat garis-garis tipis karena terjadi interferensi celah tunggal, yaitu pada saat rambut disinari laser (rambut dianggap sebagai celah tunggal). Pola interferensi yang terlihat pada screen tampak seolah berjalan bisa terjadi karena 2 hal. Pertama, karena gelombang cahaya laser berbentuk transversal, sehingga memiliki kaki dan bukit. Saat yang berpadu adalah bagian bukit, maka terbentuk terang pada x tertentu. Tapi ketika di t selanjutnya yang berpadu adalah kaki, maka pada x tersebut terbentuk gelap. Kedua, karena pergantian gelap-terang tersebut terjadi dalam t mendekati nol, mata kita tak menyadari perbedaan sehingga menganggapnya seolah berjalan.
[9]

Cahaya adalah gelombang. Gelombang memerlukan medium untuk merambatkan energinya. Karena itu ilmuwan Christian Huygens mengemukakan eter, yaitu sebuah medium tanpa massa yang terdapat di udara yang bisa menghantarkan gelombang.
Michelson-Morley membuktikan bahwa eter tidak ada. Kesimpulan tersebut didapat dari percobaan menggunakan inteferometer MM. Inteferometer MM disetting sedemikian rupa untuk menciptakan keadaan cahaya ketika bergerak searah dengan eter, karena Michelson berhipotesis bahwa seharusnya kecepatan cahaya ketika searah dengan eter akan lebih besar dari pada ketika berlawanan dengan eter. Tetapi setelah percobaan ini dilakukan berulangkali, ternyata konsep tentang adanya eter tidak bisa dipertahankan, karena kecepatan cahaya ke arah manapun dia bergerak pada percobaan Michelson itu besarnya sama. V. 1. Simpulan

2.

Pola terang gelap didapatkan pada semua hasil praktikum, karena terjadi difraksi cahaya. Pola interferensi hasil praktikum MZ lebih jelas dan lebih terang dari MM, meski sama-sama mendatar.

3.

4.

5.

Ketidak simetrisan susunan alat membuat hasil interferensi praktikum berbeda dengan referensi. Hasil perhitungan diamtere rambut yaitu 63.28 m sesuai dengan referensi, yaitu 17 180 m. Pada pola difraksi rambut terdapat garisgaris tipis karena terjadi interferensi celah tunggal.

VI. Pustaka [1]http://perpustakaancyber.blogspot.com/2013 /04/sifat-sifat-gelombang-dan-contohnyapemantulan-pembiasan-refraksi-difraksiinterferensi-dispersi-polarisasi.html diakses 27/09/13 [2]http://fisikanesia.blogspot.com/2013/03/sifat -gelombang-pembiasan-gelombang.html Diakses 27/09/13 [3]http://fisikamemangasyik.wordpress.com/fisi ka-3/optik-fisis/c-difraksi-cahaya/ Diakses 27/09/13 [4]http://perpustakaancyber.blogspot.com/2013 /04/pengertian-difraksi-cahaya-fisika-celahtunggal-dan-majemuk-kisi-difraksi-sifatgelombang-rumus-contoh-soal-jawaban.html Diakses 28/09/13 [5]http://sitiphysicskuliah.blogspot.com/2011/12/interferometerdan-prinsip-babinet.html Diakses 28/09/13 [6] http://tienkartina.wordpress.com Diakses 28/09/13 [7]http://ejournal.undip.ac.id/index.php/berkala _fisika/article/download/3048/2729 Diakses 28/09/13 [8]http://majalah.tempo.co/konten/2013/06/16/ ANG/142828/Rambutmu-Mahkotamu/16/42 Diakses 28/09/13 [9]http://pustakafisika.wordpress.com/2012/11/ 27/percobaan-michelson-morley-mengungkapsifat-cahaya/ Diakses 28/09/13