Anda di halaman 1dari 25

Contents

BAB I...................................................................................................................3 PENDAHULUAN ...............................................................................................3 A. B. C.


1. 2.

Latar Belakang Masalah ........................................................................... 3 Rumusan Masalah .................................................................................... 5 Tujuan Peneitian ....................................................................................... 5
Tujuan Umum ..................................................................................................... 5 Tujuan Khusus ..................................................................................................... 5

D.

Manfaat Penelitian .................................................................................... 6

BAB II .................................................................................................................7 TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................................7 A.


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Landasan Teori ......................................................................................... 7


Hipertensi ............................................................................................................ 7 Klasifikasi Hipertensi ........................................................................................... 8 Etiologi Hipertensi ............................................................................................... 8 Patofisiologi Hipertensi ....................................................................................... 9 Manifestasi Klinis Hipertensi ............................................................................. 10 Penatalaksanaan Hipertensi ............................................................................. 10 Pengetahuan ..................................................................................................... 11 Perilaku ............................................................................................................. 13

9. Hubungan Pengetahuan Pasien Hipertensi dengan Kepatuhan Pasien dalam Pelaksanaan Program Terapi .................................................................................... 18

B. C.

Kerangka Konsep ................................................................................... 19 Hipotesis ................................................................................................. 19

BAB III ..............................................................................................................20 METODOLOGI PENELITIAN ........................................................................20 A. B.


1. 2.

Desain Penelitian .................................................................................... 20 Tempat dan Waktu Penelitian ................................................................ 20


Tempat .............................................................................................................. 20 Waktu ................................................................................................................ 20

C. D.
1. 2.

Populasi dan Sampel .............................................................................. 20 Variabel dan Definisi Operasional ......................................................... 21


Variabel ............................................................................................................. 21 Definisi Operasional .......................................................................................... 21

E.

Matrik Prioritas Masalah ........................................................................ 22

F. Instrumen Penelitian................................................................................... 22 G.
1. 2. 3.

Cara Pengumpulan Data ......................................................................... 23


Persiapan Penelitian ......................................................................................... 23 Pelaksanaan Penelitian ..................................................................................... 23 Tahap penyelesaian .......................................................................................... 23

H. I. J.

Analisis Data .......................................................................................... 23 Kesulitan Penelitian ................................................................................... 24 Etika Penelitian .......................................................................................... 24

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Kemajuan di bidang kesehatan, meningkatnya sosial ekonomi masyarakat dan meningkatnya pengetahuan masyarakat yang bermuara dengan

meningkatnya pada kesejahteraan rakyat akan meningkatkan usia harapan hidup sehingga menyebabkan jumlah penduduk usia lanjut dari tahun ke tahun semakin meningkat (Nugroho, 2000). Pada tahun 2000 jumlah usia lanjut di Indonesia sekitar 15.1 juta jiwa atau 7.2% dari seluruh penduduk (Depsos, 2005). Pada tahun 2010 diperkirakan jumlah penduduk usia lanjut di Indonesia, sebesar 24 juta jiwa atau 9.77% dari total jumlah penduduk (Depkes, 2008). Usia lanjut sebagai tahap akhir siklus kehidupan merupakan tahap perkembangan normal yang akan dialami oleh setiap individu yang sudah mencapai usia lanjut tersebut dan merupakan kenyataan yang tidak dapat dihalangi (Stanley, 2006). Pada lanjut usia terjadi kemunduran sel-sel karena proses penuaan yang dapat berakibat pada kelemahan organ, kemunduran fisik, timbulnya berbagai macam penyakit terutama penyakit degeneratif. Hal ini akan menimbulkan masalah kesehatan, sosial, ekonomi dan psikologis (Depkes, 2008). Salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada masa usia lanjut adalah hipertensi. Sekitar 60% lansia akan mengalami hipertensi setelah berusia 75 tahun. Hal ini merupakan pengaruh degenerasi yang terjadi pada orang yang bertambah usianya. Data dari The National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) menunjukkan bahwa dari tahun 1999-2000, insiden hipertensi pada orang dewasa adalah sekitar 29-31%, yang berarti terdapat 58-65 juta penderita hipertensi di Amerika (Yogiantoro, 2006). Berdasarkan data Depkes (2008), prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar

31.7%. Proporsi mortality rate hipertensi di seluruh dunia adalah 13% atau sekitar 7,1 juta kematian. Sebagian besar kasus hipertensi di masyarakat belum terdeteksi dan tidak diketahui penyebabnya. Keadaan ini tentu sangat berbahaya yang menyebabakan kematian dan berbagai komplikasi seperti stroke. Hipertensi merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit stroke dan tuberkulosis mencapai 6,7% dari populasi kematian pada semua umur di Indonesia. Prevalensi hipertensi secara nasional mencapai 31,7% (Riskesdas, 2007). Pada kelompok umur 25-34 tahun sebesar 7% naik menjadi 16% pada kelompok umur 35-44 tahun dan kelompok umur 65 tahun atau lebih menjadi 29% (Survey Kesehatan Nasional, 2001). Meningkatnya kasus hipertensi menjadi masalah yang cukup besar. Pemerintah mengadakan penanggulangan hipertensi bekerjasama dengan Perhimpunan Hipertensi Indonesia atau Indonesian Society of Hypertension (InaSH) membuat kebijakan berupa pedoman penanggulangan hipertensi sesuai kemajuan tekhnologi dan kondisi daerah (local area specific), memperkuat logistik dan distribusi untuk deteksi dini faktor resiko penyakit jantung dan hipertensi, mengembangkan SDM dan sistem pembiayaan serta memperkuat jejaring serta memonitoring dan evaluasi pelaksanaan. Peran pemerintah sangat penting didukung juga oleh tingkat pengetahuan keluarga maupun pasien dalam tindakan pencegahan komplikasi hipertensi diharapkan dapat mengontrol tekanan darah yaitu mengurangi konsumsi garam, membatasi lemak, olahraga teratur, tidak merokok dan tidak minum alkohol, menghindari kegemukan atau obesitas (Gunawan, 2001 cit Yanti, 2008). Pengetahuan dalam pencegahan komplikasi hipertensi dilatarbelakangi oleh tiga faktor yaitu faktor predisposisi meliputi pengetahuan, sikap,

kepercayaan, nilai, tradisi keluarga, faktor pendukung meliputi ketersediaan sumber fasilitas, faktor pendorong meliputi sikap, perilaku petugas kesehatan, anggota keluarga dan teman dekat (Notoatmodjo, 2007).

Pengetahuan atau kognitif merupakan faktor dominan yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (over behavior). Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Mubarak dkk, 2007). Peningkatan pengetahuan penderita hipertensi tentang penyakit akan mengarah pada kemajuan berfikir tentang perilaku kesehatan yang lebih baik sehingga berpengaruh terhadap terkontrolnya tekanan darah. Penelitian Mardiyati (2009), menunjukkan bahwa penderita hipertensi mempunyai sikap yang buruk dalam menjalani diet hipertensi, hal tersebut disebabkan oleh faktor pengetahuan penderita hipertensi. Sikap merupakan suatu tindakan aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi dari perilaku. Menurut (WHO, 1992 cit Notoatmodjo, 2007), perilaku seseorang adalah penyebab utama menimbulkan masalah kesehatan,tetapi juga merupakan kunci utama pemecahan. Perilaku merupakan faktor kedua terjadi perubahan derajat kesehatan masyarakat. B. Rumusan Masalah a. Apakah terdapat hubungan antara tngkat pengetahuan terhadap perilaku pada lansia penderita hipertensi ? b. Bagaimana hubugan antara tingkat pengetahuan terhadap perilaku pada lansia dengan hipertensi ? C. Tujuan Peneitian 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui adanya hubungan tingkat pengetahuan terhadap perilaku pada lansia dengan hipertensi. 2. Tujuan Khusus Untuk mengetahui bagaimana hubungan tingkat pengetahuan terhadap perilaku pada lansia dengan hipertensi.

D. Manfaat Penelitian a. Memberikan kontribusi dalam perkembanan ilmu pengetahuan khususnya Ilmu Kesehatan Masyarakat. b. Memberikan informasi berkaitan dengan pentingnya menjaga gaya hidup, meningkatkan kepatuhan minum obat dan melakukan kontrol tekanan darah secara rutin pada pasien lansia dengan hipertensi. c. Memberikan kontribusi terhadap pengambilan kebijakan

pemerintah dalam usaha penaggulangan hipertensi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Landasan Teori 1. Hipertensi Hipertensi kini menjadi masalah global karena prevalensinya yang terus meningkat sejalan dengan perubahan gaya hidup yang tidak sehat. Hipertensi adalah keadaan

meningkatnya tekanan darah sistolik lebih besar dari 140 mmHg, atau diastolik lebih besar dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu 5 menit dalam keadaan cukup istirahat/ tenang (Kuswardhani, 2005). Hipertensi merupakan penyakit yang timbul akibat adanya interaksi berbagai faktor resiko yang dimiliki seseorang. Risiko relatif hipertensi tergantung pada jumlah dan keparahan dari faktor risiko yang dapat dimodifikasi seperti stress, obesitas, nutrisi, alkohol, dan merokok; serta faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi seperti genetik, umur, jenis kelamin, dan etnis. (Anggraini, et al., 2009). Saat ini terdapat kecenderungan pada masyarakat perkotaan lebih banyak menderita hipertensi dibandingkan masyarakat pedesaan. Hal ini antara lain dihubungkan dengan adanya gaya hidup masyarakat kota yang berhubungan dengan risiko hipertensi seperti stress, obesitas (kegemukan), kurangnya olah raga, merokok, alkohol, dan makan makanan yang tinggi kadar lemaknya. Perubahan gaya hidup seperti perubahan pola makan menjurus kesajian siap santap yang mengandung banyak lemak, protein, dan garam tinggi tetapi rendah serat pangan, membawa konsekuensi sebagai salah satu faktor berkembangnya penyakit degeneratif seperti hipertensi (Yundini, 2006). Hipertensi yang tidak terkontrol dengan baik akan meningkatkan angka mortalitas dan menimbulkan komplikasi ke beberapa organ vital seperti jantung (infark miokard,

jantung koroner, gagal jantung kongestif), otak (stroke, enselopati hipertensif), ginjal (gagal ginjal kronis), mata (retinopati hipertensif) (Anggraini, et al.,2009).

2. Klasifikasi Hipertensi Menurut The Seventh Report of The Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure (JNC VII) tahun 2003, klasifikasi tekanan darah pada orang dewasa dengan usia lebih dari 18 tahun terbagi menjadi kelompok normal, prahipertensi, hipertensi derajat 1 dan derajat 2 (Chobanian, et al., 2004). Tekanan darah sistolik (mmHg) < 120 120 139 140 159 > 160 Tekanan darah diastolik (mmHg) < 80 80 89 90 99 > 100

Klasifikasi tekanan darah Normal * Prehipertensi ** Hipertensi grade 1 Hipertensi grade 2 Keterangan:

Tanda * yaitu batas optimal untuk resiko penyakit kardiovaskuler. Namun, tekanan darah yang terlalu rendah juga dapat mengakibatkan masalah jantung dan membutuhkan bantuan dokter. Tanda ** yaitu prehipertensi merupakan keadaan dimana tidak memerlukan medikasi, namun termasuk pada kelompok beresiko tinggi untuk menjadi hipertensi, penyakit jantung koroner dan stroke. Individu dengan prehipertensi tidak memerlukan medikasi, tetapi dianjurkan untuk modifikasi pola hidup sehat yang mencakup penurunan berat badan, mengurangi asupan garam, berhenti merokok dan membatasi minum alkohol. 3. Etiologi Hipertensi Hipertensi dapat diklasifikasikan berdasarkan etiologi yaitu dengan penyebab yang tidak diketahui (hipertensi esensial/ primer atau idiopatik) dan dengan penyebab diketahui (hipertensi sekunder). Sebagian besar kasus hipertensi sekitar 90%

diklasifikasikan sebagai hipertensi esensial, yaitu tanpa kelainan dasar patologi yang jelas. Penyebabnya multifaktorial meliputi faktor genetik, lingkungan, hiperaktivitas susunan saraf simpatik, sistem renin angiotensin, defek dalam ekskresi natrium,

peningkatan natrium dan kalsium intraseluler,

serta

faktor-faktor yang

dapat

meningkatkan resiko seperti : obesitas, alkohol, rokok, serta polisitemia (Tjay, 2002). Hipertensi sekunder adalah hipertensi dengan penyebabnya diketahui dan ini (2007),

menyangkut 10% dari kasus-kasus hipertensi (Sheps, 2005). Menurut Nafrialdi

yang termasuk dalam kelompok ini adalah hipertensi akibat penyakit ginjal (hipertensi renal), hipertensi endokrin, kelainan syaraf pusat, obat-obatan. 4. Patofisiologi Hipertensi Corwin (2001) menjelaskan bahwa hipertensi tergantung pada kecepatan denyut jantung, volume sekuncup dan Total Peripheral Resistance (TPR). Peningkatan salah satu dari ketiga variabel yang tidak dikompensasi dapat menyebabkan hipertensi. Peningkatan kecepatan denyut jantung dapat terjadi akibat rangsangan abnormal saraf atau hormon pada nodus SA. Peningkatan kecepatan denyut jantung kronik sering menyertai keadaan hipertiroidisme, namun peningkatan kecepatan denyut jantung biasanya dikompensasi oleh penurunan volume sekuncup atau TPR, sehingga tidak meninbulkan hipertensi (Astawan, 2002). Peningkatan volume sekuncup yang

berlangsung lama dapat terjadi apabila terdapat peningkatan volume plasma yang berkepanjangan, akibat gangguan penanganan garam dan air oleh ginjal atau konsumsi garam yang berlebihan. Peningkatan pelepasan renin atau aldosteron maupun penurunan aliran darah ke ginjal dapat mengubah penanganan air dan garam oleh ginjal. Peningkatan volume plasma akan menyebabkan peningkatan volume diastolik akhir sehingga terjadi peningkatan volume sekuncup dan tekanan darah. Peningkatan preload biasanya berkaitan dengan peningkatan tekanan sistolik (Amir, 2002). Peningkatan TPR yang berlangsung lama dapat terjadi pada peningkatan rangsangan saraf atau hormon pada arteriol, atau responsivitas yang berlebihan dari arteriol terdapat rangsangan normal. Kedua hal tersebut akan menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Peningkatan Total Peripheral Resistance membuat jantung harus memompa secara lebih kuat dan dengan demikian menghasilkan tekanan yang lebih besar, untuk mendorong darah melintas pembuluh darah yang menyempit. Hal ini disebut peningkatan dalam afterload jantung dan biasanya berkaitan dengan peningkatan tekanan diastolik. Apabila peningkatan afterload berlangsung lama, maka ventrikel kiri mungkin mulai mengalami hipertrofi (membesar), sehingga kebutuhan ventrikel akan oksigen

semakin meningkat dan ventrikel harus mampu memompa darah secara lebih keras lagi untuk memenuhi kebutuhan tesebut. Pada hipertrofi, serat-serat otot jantung juga mulai tegang melebihi panjang normalnya yang pada akhirnya menyebabkan penurunan kontraktilitas dan volume sekuncup (Hayens, 2003). 5. Manifestasi Klinis Hipertensi Individu yang menderita hipertensi kadang tidak menampakkan gejala sampai

bertahun-tahun. Perubahan patologis pada ginjal dapat bermanifestasi sebagai nokturia (peningkatan urinasi pada malam hari) dan azetoma (peningkatan nitrogen urea darah dan kreatinin. Keterlibatan pembuluh darah otak dapat menimbulkan stroke atau serangan iskemik transien yang bermanifestasi sebagai paralisis sementara pada satu sisi (hemiplegia) atau gangguan tajam penglihatan (Wijayakusuma, 2000). Menurut Corwin (2001) bahwa sebagian besar gejala klinis timbul setelah

mengalami hipertensi bertahun-tahun berupa nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah, akibat peningkatan tekanan darah intrakranial, penglihatan kabur akibat kerusakan retina akibat hipertensi, ayunan langkah yang tidak mantap karena kerusakan susunan saraf pusat, nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerolus, edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler. Gejala lain yang umumnya terjadi pada penderita hipertensi yaitu pusing, muka merah, sakit kepala, keluaran darah dari hidung secara tiba-tiba, tengkuk terasa pegal, telinga berdengung, dan mata berkunang-kunang (Wiryowidagdo, 2002). 6. Penatalaksanaan Hipertensi Menurut Ganiswarna (2007), penatalaksanaan penyakit hipertensi ini memerlukan terapi dalam pengobatannya. Tujuan terapi hipertensi adalah mencapai dan mempertahankan tekanan darah sitolik di bawah 140 mmHg dan tekanan darah diastolik di bawah 90 mmHg dan mengontrol faktor resiko. Menurut Katzung & Bertram (2007), ada dua terapi yang dilakukan untuk mengobati hipertensi. Terapi yang diberikan pada penderita hipertensi yaitu terapi farmakologis dan terapi nonfarmakologis. a. Terapi farmakologis

Manajemen pengobatan hipertensi berdasarkan klasifikasi hipertensi. Individu dengan tekanan darah normal cukup dianjurkan melakukan perubahan gaya hidup, sedangkan pada penderita hipertensi grade I obat antihipertensi diberikan bila dalam pemantauan selama bulan, tekanan darah tetap tinggi setelah melakukan modifikasi gaya hidup. Pada hipertensi grade I dapat diberikan monoterapi (1 macam obat) dulu golongan diuretik, penyekat ACEIs (Angiotensin Converting Enzymes), penyekat beta (beta blockers), penyekat reseptor Angiotensin dan penyekat Calsium Channel Bloker atau

dimungkinkan kombinasi obat (Hakim, 2006). Penderita hipertensi grade II, sangat dianjurkan untuk memberikan terapi kombinasi karena berdasarkan suatu penelitian hampir jarang mencapai tekanan darah diinginkan dengan menggunakan monoterapi. Sebagian besar tekanan darah baru mencapai level yang diinginkan dengan kombinasi 2 - 4 macam kombinasi obat (Hakim, 2006). b. Terapi nonfarmakologis Terapi ini meliputi perubahan gaya hidup yang merupakan kunci utama dalam pengendalian penyakit hipertensi. Terapi yang menerapkan gaya hidup sehat bagi setiap orang dan melakukan modifikasi gaya hidup yang terbukti dapat menurunkan tekanan darah, mempertinggi kinerja obat-obat antihipertensi dan mengurangi resiko terserang penyakit kardiovaskuler (Chobanian et al., 2003). Modifikasi gaya hidup yang dapat menurunkan tekanan darah meliputi: mengurangi berat badan untuk individu yang obes atau gemuk, perencanaan pola makan DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) yang kaya akan potassium dan kalsium, diet rendah natrium, mengkonsumsi alkohol seperlunya, olahraga aerobik secara teratur minimal 30 menit/hari seperti jogging, berenang, jalan kaki, dan menggunakan sepeda, menghentikan rokok, mempelajari cara mengendalikan diri/ stres seperti melalui relaksasi atau yoga (Ayu, 2008). Menurut Astawan (2002), adapun cakupan modifikasi gaya hidup antara lain berhenti merokok, mengurangi kelebihan berat badan, menghindari alkohol, modifikasi diet serta yang mencakup psikis antara lain mengurangi stres, olahraga, dan istirahat. 7. Pengetahuan Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan

penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera

manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan umumnya datang dari pengalaman, juga bisa didapat dari informasi yang disampaikan oleh guru, orang tua, teman, buku, dan surat kabar (Notoatmodjo, 2003). Menurut Setiawati (2008), pengetahuan adalah hasil dari proses pembelajaran dengan melibatkan indra penglihatan, pendengaran, penciuman, dan pengecap. Pengetahuan akan memberikan penguatan terhadap individu dalam setiap mengambil keputusan sehingga individu tersebut akan melakukan perubahan dengan mengadopsi perilaku. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah ada dan tersedia sementara orang lain tinggal menerimanya. Menurut Wahid,dkk. (2007) faktor seseorang antara lain : a) Pendidikan Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain agar mereka dapat memahami. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin mudah pula bagi mereka untuk menerima informasi, dan pada akhirnya semakin banyak pengetahuan yang mereka miliki. b) Pekerjaan Lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang memperoleh pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun secara tidak langsung. c) Umur Semakin bertambahnya umur seseorang akan terjadi perubahan aspek fisik dan psikologis (mental), dimana aspek psikologis ini taraf semakin matang dan dewasa. d) Minat Minat diartikan sebagai suatu kecenderungan atau keinginan yang tinggi terhadap sesuatu. Minat menjadikan seseorang untuk mencoba menekuni suatu hal dan pada akhirnya diperoleh pengetahuan yang lebih mendalam. e) Pengalaman Pengalaman adalah suatu kejadian yang pernah dialami oleh individu baik dari dalam dirinya ataupun dari lingkungannya. Pada dasarnya pengalaman berpikir seseorang faktor yang mempengaruhi pengetahuan

mungkin saja menyenangkan atau tidak menyenangkan bagi individu yang melekat menjadi pengetahuan pada individu secara subjektif. f) Informasi Kemudahan seseorang untuk memperoleh informasi dapat membantu mempercepat seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang baru. Penderita hipertensi harus mempunyai pengetahuan dan sikap kepatuhan untuk dapat menyesuaikan penatalaksanaan terapi hipertensi dalam kehidupan seharihari (Willy, 2007). Kepatuhan dalam mengontrol tekanan darah dipengaruhi oleh pengetahuan pasien tentang penyakit yang dideritanya serta diit

hipertensi (Saputro, 2009). Kurangnya kesadaran dan pengetahuan pasien tentang penyakit hipertensi terbukti dengan pasien yang masih memilih dan

makanan siap saji yang umumnya rendah serat, tinggi lemak,

mengandung banyak garam, yang merupakan pola makan yang kurang sehat sebagai pemicu penyakit hipertensi (Austriani, 2008). 8. Perilaku a. Kepatuhan Minum Obat Kepatuhan berasal dari kata dasar patuh, yang berarti disiplin dan taat. Kepatuhan adalah suatu tingkat dimana perilaku individu (misalnya dalam kaitan dengan mengikuti pengobatan, mengikuti instruksi diet, atau membuat perubahan gaya hidup) sesuai atau tepat dengan anjuran kesehatan (Sackett, 1976 dalam Smet, 2002). Kepatuhan juga didefenisikan sebagai tingkatan dimana individu mengikuti instruksi yang diberikan untuk mendukung pengobatan terhadap sakitnya (Morrison, 2004). Shillinger (1983, dalam Isnanda, 2005) mengatakan bahwa kepatuhan mengacu pada proses dimana

seorang klien mampu mengasumsikan dan melaksanakan beberapa tugas yang merupakan bagian dari sebuah regimen terapeutik. Akhir dari kepatuhan

diimplikasikan individu pada tingkat yang lebih aktif, sukarela, dan keterlibatan pasien dalam melatih perilaku tersebut (Meichenbaum & Turk, 1998 dalam Mairani, 2006). Menurut Feuer Stein, et al. dalam Niven (2002), ada beberapa faktor yang dapat mendukung sikap patuh pasien, diantaranya: a) Pendidikan

Pendidikan pasien dapat meningkatkan kepatuhan sepanjang pendidikan tersebut merupakan pendidikan yang aktif, seperti penggunaan buku dan lainlain. b) Akomodasi Suatu usaha harus dilakukan untuk memahami ciri kepribadian pasien yang dapat mempengaruhi kepatuhan. Pasien yang lebih mandiri, harus dilibatkan secara aktif dalam program pengobatan sementara pasien yang tingkat ansietasnya tinggi harus diturunkan terlebih dahulu. Tingkat ansietas yang terlalu tinggi atau rendah, akan membuat kepatuhan pasien berkurang. c) Modifikasi faktor lingkungan dan sosial Membangun dukungan sosial dari keluarga dan teman-teman sangat penting, kelompok pendukung dapat dibentuk untuk membantu memahami

kepatuhan terhadap program pengobatan, seperti pengurangan berat badan dan lainnya. d) Perubahan Model Terapi Program pengobatan dapat dibuat sesederhana mungkin dan pasien terlibat aktif dalam pembuatan program tersebut. e) Meningkatkan interaksi profesional kesehatan dengan pasien. Hal penting memberikan umpan balik pada pasien setelah memperoleh informasi diagnosis. Menurut Brunner dan Suddarth (2002) dalam buku ajar Keperawatan

Medikal Bedah, faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan adalah: a) Faktor demografi seperti usia,jenis kelamin,suku bangsa,status sosial ekonomi dan pendidikan. b) Faktor penyakit seperti keparahan penyakit dan hilangnya gejala akibat terapi. c) Faktor program terapeutik seperti kompleksitas program dan efek samping obat yang tidak menyenangkan. d) Faktor psikososial seperti intelegensia,sikap terhadap tenaga penerimaan,atau penyangkalan terhadap penyakit,keyakinan kesehatan, agama atau

budaya dan biaya financial dan lainnya yang termasuk dalam mengikuti regimen. Penderita hipertensi sangat penting untuk mengendalikan tekanan darah dan faktor resiko guna meningkatkan derajat kesehatannya. Suhardjono (2008) menyatakan bahwa

penyakit hipertensi merupakan penyebab tersering yang menimbulkan kesakitan dan kematian akibat komplikasi penyakit kardiovaskuler. Berdasarkan hal tersebut maka kepatuhan pasien hipertensi dalam mengontrol tekanan darah adalah tindakan yang sangat penting. Kepatuhan pasien hipertensi dapat dilihat dari perilaku pasien hipertensi yang menaati semua nasihat dan petunjuk yang dianjurkan oleh kalangan medis guna mencapai keberhasilan pengobatan. Kepatuhan mencakup faktor resiko kombinasi antara kontrol tekanan darah dan penurunan

yang dilakukan pasien. Keberhasilan dalam mengendalikan tekanan darah

tinggi merupakan usaha bersama antara pasien dan dokter yang menanganinya. Kepatuhan seorang pasien yang menderita hipertensi tidak hanya dilihat berdasarkan kepatuhan dalam meminum obat antihipertensi tetapi juga dituntut peran aktif pasien dan kesediaannya untuk memeriksakan kesehatannya ke dokter sesuai dengan jadwal yang ditentukan serta perubahan gaya hidup sehat yang dianjurkan (Burnier, 2001). Hal ini

didukung juga oleh pendapat Nazir (2008) berdasarkan hasil studinya yang menyatakan bahwa kepatuhan pasien hipertensi dalam mengontrol tekanan darah dan menghindari komplikasi penyakit dapat dilihat dari perilaku pasien dalam mengkonsumsi obat antihipertensi secara teratur sesuai dengan anjuran dokter, menghindari konsumsi garam yang berlebihan dalam setiap masakan atau makanan dan rajin melakukan olahraga. Kepatuhan pasien hipertensi melalui modifikasi gaya hidup menurut Evi (2008) yaitu dengan menurunkan berat badan apabila kegemukan, membatasi konsumsi minuman beralkohol, meningkatkan aktivitas fisik, menurunkan konsumsi sodium (natrium), mempertahankan asupan potassium, mempertahankan asupan kalsium dan magnesium untuk kesehatan, berhenti merokok, serta menurunkan asupan lemak jenuh dan kolesterol untuk kesehatan kardiovaskuler. Penderita hipertensi juga tidak sadar dengan gejala yang timbul tenggelam. Ketika penderita hipertensi dinyatakan bisa berhenti minum obat karena tekanan darahnya bisa normal, dia sering menganggap kesembuhannya permanen, padahal sekali divonis hipertensi, pasien hipertensi akan menyandang penyakit tersebut seumur hidup. Pada sebagian kasus, hipertensi memang bisa disembuhkan total tetapi presentasenya kecil,

itu pun hanya sebatas prehipertensi atau hipertensi ringan. Maka yang bisa dilakukan pasien adalah mengontrolnya dengan mengomsumsi obat penurun hipertensi dan

menjalankan pola hidup sehat (Lawrance, 2002).

Ketidakpatuhan adalah tingkat dimana perilaku seseorang gagal dalam penyesuaian dengan kegiatan yang mendukung kesehatannya atau rencana terapi tidak dilaksanakan oleh individu. Menurut Niven (2002) faktor-faktor yang mempengaruhi ketidak patuhan dapat digolongkan menjadi empat bagian yaitu: a) Pemahaman Tingkat Intruksi. Tidak seorangpun dapat memenuhi intruksi jika ia salah paham tentang

instruksi yang diberikan kepadanya. b) Kualitas interaksi. Kualitas interaksi antara professional kesehatan dan pasien merupakan bagian yang penting dalam menentukan derajat kepatuhan. c) Isolasi sosial dan keluarga. Keluarga dapat menjadi faktor yang sangat berpengaruh dalam menentukan keyakinan dan nilai kesehatan individu serta juga dapat menentukan tentang program pengobatan yang dapat mereka terima. d) Keyakinan, sikap dan kepribadian. Becker et al (1979) dalam Niven (2002) telah membuat suatu usulan bahwa model keyakinan kesehatan berguna untuk memperkirakan adanya

ketidakpatuhan. b. Gaya Hidup Menurut Lisnawati (2001), pasien hipertensi dianjurkan untuk melakukan gaya hidup sehat yang menggambarkan pola perilaku sehari-hari yang mengarah pada upaya memelihara kondisi fisik, mental dan sosial berada dalam keadaan positif. Gaya hidup sehat meliputi kebiasaan tidur, makan, pengendalian berat badan, tidak merokok atau minum-minuman beralkohol, berolahraga secara teratur dan terampil dalam mengelola stres yang dialami. Sejalan dengan pendapat Lisnawati, Notoatmojo (2005)

menyebutkan bahwa perilaku sehat (healthy behavior) adalah perilaku-perilaku atau kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan upaya mempertahankan dan meningkatkan kesehatan. Perilaku sehat (healthy behavior) yang dimaksud mencakup beberapa hal antara lain :

a) Makan dengan menu seimbang (appropriate diet), mencakup pola makan sehari-hari yang memenuhi kebutuhan nutrisi yang memenuhi kebutuhan tubuh baik menurut jumlahnya ( kuantitas ) maupun jenisnya ( kualitas ). b) Olahraga teratur, mencakup kualitas ( gerakan ) dan kuantitas dalam arti frekuensi dan waktu yang digunakan untuk olah raga. Kedua aspek ini tergantung dari usia dan status kesehatan yang bersangkutan. c) Tidak merokok dan tidak mengkonsumsi alkohol serta tidak menggunakan narkoba. d) Istirahat yang cukup, berguna untuk menjaga kesehatan fisik dan mental. Istirahat yang cukup adalah kebutuhan dasar manusia untuk

mempertahankan kesehatannya. e) Pengendalian atau manajemen stress. Stres tidak dapat dihindari oleh

siapapun namun hanya dapat dilakukan adalah mengatasi, mengendalikan atau mengelola stres tersebut agar tidak mengakibatkan gangguan kesehatan baik kesehatan fisik maupun kesehatan mental (rohani). Penanganan hipertensi dilakukan bersama dengan diet rendah kolesterol atau, diet tinggi serat dan diet rendah energi bagi penderita hipertensi yang juga obesitas. Pasien hipertensi supaya banyak mengkonsumsi buah-buahan, sayuran, dan makanan rendah lemak dapat menurunkan tekanan darah. Pengubahan pola hidup dapat berupa penurunan berat badan jika overweight; membatasi konsumsi alkohol, berolahraga teratur; mengurangi konsumsi garam, mempertahan konsumsi natrium, kalsium, magnesium yang cukup, dan berhenti merokok. Selain itu penderita hipertensi juga harus mempunyai pengetahuan dan sikap kepatuhan untuk dapat menyesuaikan penatalaksanaan hipertensi dalam kehidupan sehari- hari (Willy, 2007). c. Kontrol Tekanan Darah Menurut Gonner (2008), pasien hipertensi perlu mengetahui cara pengontrolan tekanan darah yaitu dengan berkonsultasi secara teratur dengan dokternya dan mendapatkan informasi mengenai obat antihipertensi seperti mengapa obat diperlukan dan resiko apa yang mungkin terjadi bila tidak mengkonsumsi obat tersebut, informasi mengenai manfaat dan efek samping obat.

Informasi-informasi tersebut akan menambah pengetahuan pasien hipertensi sehingga dapat meningkatkan kepatuhannya dalam melaksanakan program terapi. 9. Hubungan Pengetahuan Pasien Hipertensi dengan Kepatuhan Pasien dalam Pelaksanaan Program Terapi Kepatuhan dalam menjalankan terapi guna mengontrol tekanan darah dipengaruhi oleh pengetahuan. Pasien yang tidak mengetahui bahaya laten yang tersembunyi dibalik penyakit hipertensi membuat pasien tidak mengambil tindakan terhadap penyakit yang diderita serta membuat pasien tidak patuh dalam mengikuti pengobatan (Health Care Compliance Proggram, 2007). Satu hal yang penting dalam pelaksanaan terapi pasien yang baru terdiagnosa hipertensi adalah kepatuhan. Monitor pasien yang ketat pada tahun pertama akan menurunkan jumlah resiko putus obat dan dapat mengganti obat antihipertensi bila tidak sesuai dengan pasien. Informasi tentang kelompok organisasi pendukung, web sites atau materi edukasi dapat menambah pengetahuan pasien dan membantu pasien yang baru terdiagnosa untuk patuh pada pengobatan sehingga tekanan darah dapat terkontrol (Andra, 2007). Penyebab kontrol tekanan darah yang tidak baik antara lain karena banyak pasien yang tidak meminum obat yang diresepkan. Pada kebanyakan survei, kira-kira 25-50% pasien-pasien yang mulai meminum obat antihipertensi kemudian menghentikannya dalam 1 tahun (Irmalita, 2003). Oleh karena itu, sangat penting memberikan edukasi akan manfaat pengontrolan penyakit dalam jangka panjang yang pada akhirnya akan sangat berguna untuk mencapai terapi yang diinginkan (Kaplan, 2001). Menurut Ragot et al. (2005), pentingnya informasi mengenai hipertensi akan menambah pengetahuan pasien sehingga dapat meningkatkan kepatuhan pasien mengontrol tekanan darah.

B. Kerangka Konsep Tingkat Pengetahuan

Perilaku: 1. Kontrol Rutin Tekanan Darah 2. Gaya Hidup 3. Kepatuhan Minum Obat

Tekanan Darah

C. Hipotesis 1. Ada hubungan antara tngkat pengetahuan terhadap perilaku pada lansia penderita hipertensi 2. Semakin tinggi tingkat pengetahuan semakin baik perilaku pada lansia dengan hipertensi.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN


A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental berbentuk survey deskriptif analitik dengan rancangan penelitan cross sectional , yaitu dengan melakukan pengukuran tekanan darah dan pengisian kuisioner terhadap subyek. B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian ini, dilakukan di Posyandu Lansia Prancak Glondong, Posyandu Lansia Prancak Dukuh dan Posyandu Lansia Pandes, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul yang berada di wilayah kerja Puskesmas Sewon II Bantul. Posyandu posyandu tersebut dijadikan sampel karena termasuk kriteria inklusi, dari segi jumlah penduduk, ciri ciri masyarakat dan jenis pekerjaan. 2. Waktu Penelitian dilakukan selama 2 minggu dari tanggal September 2013. C. Populasi dan Sampel Populasi penelitian ini adalah seluruh lansia yang datang di posyandu posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas Sewon II Bantul. Sampel penelitian yang digunakan adalah lansia yang datang ke Posyandu Lansia Prancak Dukuh, Posyandu Lansia Prancak Glondong dan Posyandu Lansia Pandes. Kriteria Inklusi pada penelitian ini adalah seluruh lansia dengan hipertensi yang datang di Posyandu Lansia Prancak Dukuh, Posyandu Lansia Prancak Glondong dan Posyandu Lansia Pandes, yang mengetahui bahwa dirinya menderita hipertensi. Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah lansia yang saat dilakukan pengukuran tekanan darah terbukti tidak hipertensi, lansia yang tidak mengisi inform consent, lansia yang absent saat pemberian kuisioner , lansia yang tidak mengumpulkan kuisioner dan lansia yang 10 September sampai 24

tidak tahu bahwa dirinya menderita hipertensi atau lansia yang baru mengetahui saat dilakukan pemerikasaan. D. Variabel dan Definisi Operasional 1. Variabel Terdapat dua variabel dalam penelitian ini, yaitu variabel bebas dan variabel tergantung. Variabel bebas pada penelitian ini meliputi tingkat pengetahuan pada lansia penderita hipertensi, sedangkan variabel tergantungnya adalah perilaku pada lansia penderita hipertensi (gaya hidup, kepatuan minum obat dan kontrol tensi rutin). 2. Definisi Operasional Tingkat Penegetahuan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah segala sesuatu yang diketahui penderita hipertensi tentang hipertensi, seperti pengertian hipertensi, penyebab, faktor risiko, gejala, pengobatan, pengendalian dan memahami cara pencegahan terhadap naiknya tekanan darah. Pengetahuan diukur dengan menggunakan skala ordinal dengan ukuran tinggi, sedang dan rendah. Perilaku dalam penelitian ini merupakan perbuatan yang dilakukan oleh orang yang terdiagnosis hipertensi dalam menjaga tekanan darah agar tetap normal. Pada penelitian kali ini perilaku subyek dikaji dalam beberapa aspek yaitu, kepatuhan meminum obat, rutin control tekanan darah dan menjaga pola hidup sehat. Dari tiap tiap aspek tersebut dimasukan dalam poin poin dalam kuisioner yang kemudian dibuat skala ordinal yaitu baik, sedang dan buruk. Kepatuhan minum obat pada penelitian ini adalah tindakan pasien menjalankan perintah dokter atau tenaga kesehatan lain yang memberikan obat antihipertensi kepada subyek penelitian bersangkutan secara teratur sesuai anjuran yang disampaikan. Kepatuhan pada subyek dikaji dalam poin poin yang ada pada kuisioner. Kemudian digabungkan dan dibuat skala ordinal baik, sedang dan buruk. Kontrol rutin tekanan darah pada penelitian ini adalah tindakan subyek penelitian yang bersangkutan dalam memeriksakan tekanan darahnya ke posyandu atau layanan kesehatan lain secara rutin dan berkala. Kepatuhan dinilai dengan kuisioner yang kemudian hasilnya dibuat skala ordinal baik, sedang dan buruk.

Pola hidup sehat pada penelitian ini adalah tindakan subyek yang bersangkutan dalam menjaga asupan garam, mengurangi porsi makan, menghindari makanan cepat saji, melakukan olahraga, mengatur jadual olahraga dan jadual istirahat dan melakukan refreshing saat stress. Pola hidup sehat pada penelitian ini diukur dengan menggunakan kuisioner dan dibuat skala ordinal baik, sedang dan buruk. Lansia pada penelitian ini adalah individu dengan batasan usia lebih dari 60 tahun. Penderita hipertensi pada penelitian kali ini adalah individu yang saat dilakukan pengukuran tekanan darah sesuai prosedur di posyandu tersebut menunjukan tekanan darah sistolik >=140 mmHg dan tekanan darah diastolic >= 90 mmHg E. Matrik Prioritas Masalah Daftar No Masalah 1 2 3 4 Importancy T P S 3 2 2 2 RI 3 2 2 1 DU SB PB 5 3 3 1 4 5 3 1 5 3 3 1 PC 3 2 1 1 5 4 5 5 5 5 5 5 337500 21600 8100 50 R IxTxR

Hipertensi 5 Scizo Maag Lepto 3 3 1

Prioritas masalah yang ditentukan adalah berdasarkan laporan tahunan penyakit pada tahun 2012 di puskesmas Sewon II kabupaten bantul daerah istimewa yogyakarta. Masalah masalah tersebut antara lain hipertensi, gangguan jiwa, gastritis, dan leptospirosi. Untuk mentukan prioritas masalah digunakan matriks dengan komponen penilaian terdiri dati Importancy (kepentingan), Technology, Resource (ketersediaan sumber daya), yang kemudian dinilai dan hasil tertinggi dijadiakn sebagai prioritas masalah, yaitu Hipertensi. F. Instrumen Penelitian Informed Consent Kuisioner Spyghnomanometer / tensi meter

G. Cara Pengumpulan Data 1. Persiapan Penelitian a. Penetapan masalah dan judul yang akan diteliti b. Mencari segala informasi terkait dengan permasalahan ini baik dari text book, jurnal, ataupun segala referensi yang terkait dengan penelitian ini. c. Menentukan lokasi, populasi dan pengurusan izin penelitian pada lokasi yang telah ditentukan. d. Penyediaan informed concent dan kuisioner serta instrumen penelitian yang dibutuhkan. 2. Pelaksanaan Penelitian a. Dilakukan pengukuran tekanan darah sesuai prosedur pada semua lansia yang datang ke posyandu b. Penyaringan lansia yang memiliki tekanan darah yang tinggi yang masuk criteria inklusi c. Lansia yang tekanan darahnya tinggi diminta untuk mengisi informed concent, dan dibantu oleh peneliti dalam mengisi kuisioner d. Pengumpulan kuisioner, melakukan koding, scoring dan rekapitulasi kuisioner sehingga diperoleh skor untuk tiap responden. 3. Tahap penyelesaian a. Pengolahan dan analisa data. b. Penyusunan laporan penelitian. H. Analisis Data Setelah pengumpulan data selesai dilaksanakn maka data dianaisa menggunakan metode pengolahan despkripsi isi (content analysis). Data yang diperoleh berupa data kategorikal berkelompok, dengan jenis komparatif maka dilakukan pengolahan dengan metode Chi-square menggunakan alat bantu SPSS 15.0 Evaluation for windows.

I. Kesulitan Penelitian Kesulitan yang dialami selama penelitian ini adalah dalam hal pengisian kuisioner dimana karena subyek yang dipilih adalah lansia yang rata rata tidak bisa membaca, tidak dapat melihat tulisan dengan jelas dan tidak mengerti maksud dari kuisioner, maka peneliti membacakan tiap poin dalam kuisioner dan mencatat jawaban didepan responden. Karena waktu posyandu yan terbatas, mengharuskan pengisian kuisioner berlangsung singkat tanpa bisa menggali informasi lebih dalam terhadap subyek penelitian. Kesulitan lain adalah waktu penelitian yang disediakan amat terbatas +/- 2 minggu, sehingga menyulitkan peneliti untuk mengurus perizinan, mencari informasi terkait dan pengolahan data penelitian. J. Etika Penelitian Penelitian yang berjudul "Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Perilaku Pada Lansia Dengan Hipertensi Di Puskesmas Sewon II Bantul" memiliki surat ijin dari program studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UMY yang sah untuk melakukan penelitian. Segala bentuk jawaban dan data pribadi dari responden akan dijaga kerahasiaannya. Karena subyek penelitian adalah manusia, maka peneliti menggunakan Informed consent yang merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan. Identitas dari subyek penelitian tidak disebarluaskan baik melalui media clektronik maupun media cetak.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian tentang hubungan tingkat pengetahuan terhadap prilaku pasien lansia dengan hipertensi di puskesmas sewon 2, maka didapatkan kesimpulan sebagai berikut: 1. Puskesmas sewon 2 2. Puskesmas sewon 2 3. Puskesmas sewon 2 B. Saran Prioritas jalan