Anda di halaman 1dari 8

NUR CHAYATI PENGAUDITAN I / F0311088 RANGKUMAN MATA KULIAH

BAB 11 FRAUDS AUDITING (AUDITING KECURANGAN)

JENIS-JENIS KECURANGAN

Sebagai konsep legal yang luas, kecurangan menggambarkan setiap upaya penipuan yang disengaja, yang dimaksudkan untuk mengambil harta atau hak orang atau pihak lain. Dalam konteks audit atas laporan keuangan, kecurangan didefinisikan sebagai salah saji laporan keuangan yang disengaja. Dua kategori kecurangan yang utama, yaitu: 1. Pelaporan keuangan yang curang adalahsalah saji atau pengabaian jumlah atau pengungkapan yang disengaja dengan maksud menipu para pemakai laporan itu. Kebanyakan kasus pelaporan keuangan yang curang melibatkan upaya melebihsajikan laba ataupun merendahsajikan laba. Pengaturan laba menyangkut tindakan manajemen yang disengaja untuk memenuhi tujuan laba. Perataan laba merupakan salah satu bentuk pengaturan laba di mana pendapatan dan beban ditukar-tukar di antara periode-periode untuk mengurangi fluktuasi laba. 2. Penyalahgunaan aktiva adalah kecurangan yang melibatkan pencurian aktiva entitas. Istilah penyalahgunaan aktiva biasanya digunakan untuk mengacu pada pencurian yang melibatan pegawai dan orang lain dalam lain organisasi. Penyalahgunaan aktiva biasanya dilakukan pada tingkat hierarki organisasi yang lebih rendah. Namun, tidak menutup kemungkinan hal itu terjadi pada manajemen puncak. KONDISI KONDISI PENYEBAB KECURANGAN

Tiga kondisi kecurangan yang berasal dari laporan keuangan yang curang dan penyalahgunaan aktiva diuraikan dalam SAS 99 (AU 316). Ketiga kondisi tersebut ini disebut sebagai segitiga kecurangan (triangle frauds)

FRAUDS AUDITING

1. Insentif / Tekanan Manajemen atau pegawai lain merasakan insentif atau tekanan untuk melakukan kecurangan. 2. Kesempatan Situasi yang membuka kesempatan bagi manajemen atau pegawai untuk melakukan kecurangan. 3. Sikap / Rasionalisasi Ada sikap, karakter, atau serangkaian nilai nilai etis yang membolehkan manajemen atau pegawai untuk melakukan tindakan yang tidak jujur atau mereka berada dalam lingkungan yang cukup menekan yang membuat mereka merasionalisasi tindakan yang tidak jujur.

Faktor Risiko untuk Pelaporan Keuangan yang Curang 1. Insentif Insentif yang umum bagi perusahaan adalah untuk memanipulasi laporan keuangan adalah menurunnya prospek keuangan perusahaan. 2. Kesempatan Meskipun laporan keuangan semua perusahaan mungkin saja menjadi sasaran manipulasi, risiko bagi perusahaan yang berkecimpung dalam industri yang melibatkan pertimbangan dan estimasi yang signifikan jauh lebih besar. 3. Sikap atau rasionalisasi Sikap manajemen puncak terhadap laporan keuangan merupakan faktor risiko yang sangat penting dalam menilai kemungkinan laporan keuangan yang curang.

Faktor Risiko untuk Penyalahgunaan Aktiva 1. Insentif Tekanan keuangan adalah dorongan atau insentif yang umum bagi pegawai yang menyalahgunakan aktiva. 2. Kesempatan Kesempatan untuk mencuri ada di semua perusahaan.Akan tetapi, kesempatan itu jauh lebih besar di perusahaan yang memiliki kas yang bisa diakses atau persediaan atau aktiva yang bernilai lainnya, terutama jika aktiva itu kecil atau mudah dibawa.

FRAUDS AUDITING

3. Sikap atau Rasionalisasi Sikap manajemen terhadap pengendalian dan perilaku etis dapat membuat pegawai serta manajer merasionalisasi pencurian aktiva.

MENILAI RESIKO KECURANGAN

Auditor memikul tanggung jawab untuk menanggapi risiko kecurangan dengan merencanakan dan melaksanakan audit guna memperoleh kepastian yang layak bahwa salah saji yang material, apakah akibat kekeliruan atau kecurangan, akan terdeteksi.

Skeptisisme Profesional SAS 1 menyatakan bahwa dalam melaksanakan skeptisisme profesional, auditor tidak mengasumsikan bahwa manajemen tidak jujur tetapi juga tidak mengasumsikan kejujuran absolut. 1. Pikiran yang selalu mempertanyakan : SAS 99 menekankan agar mempertimbangkan kerentanan klien terhadap kecurangan tanpa memperdulikan bagaimana keyakinan auditor tentang kemungkinan kecurangan serta kejujuran dan integritas manajemen. 2. Evaluasi kritis atas bukti audit : Ketika mengungkapkan informasi atau kondisi lain yang mengindikasikan bahwa mungkin telah terjadi salah saji yang material akibat kecurangan, auditor harus menyelidiki permasalahannya secara mendalam, memperoleh bukti tambahan sebagaimana yang diperlukan, dan berkonsultasi dengan anggota tim lainnya.

Sumber Informasi yang dikumpulkan untuk Menilai Risiko Lima sumber informasi yang digunakan untuk menilai risiko, antara lain : 1. Komunikasi di antara tim audit : SAS 99 mewajibkan tim audit mengadakan diskusi untuk berbagi wawasan di antara anggota tim audit yang lebih berpengalaman serta untuk curah pendapat. 2. Pengajuan pertanyaan kepada manajemen : SAS 99 mengharuskan auditor untuk mengajukan pertanyaan spesifik tentang kecurangan dalam setiap audit. 3. Faktor-faktor risiko : SAS 99 mengharuskan auditor mengevaluasi apakah faktor-faktor risiko kecuragan mengindikasikan adanya insentif atau tekanan untuk melakukan kecurangan, kesempatan untuk berbuat curang, atau sikap atau rasionalisasi yang digunakan untuk membenarkan tindakan yang curang.

FRAUDS AUDITING

4. Prosedur analitis : Auditor harus melaksanakan prosedur analitis selama tahap perencanaan dan penyelesaian audit untuk membantu mengidentifikasi transaksi atau peristiwa tidak biasa yang mungkin mengindikasikan adanya salah saji yang material dalam laporan keuangan. 5. Informasi lain : Auditor harus mempertimbangkan semua informasi yang sudah diperoleh dalam setiap tahap atau bagian audit ketika menilai risisko kecurangan.

Mendokumentasikan Penilaian Kecurangan. SAS 99 mengharuskan auditor mendokumentasikan hal-hal berikut ini yang berhubungan dengan pertimbangan auditor mengenai salah saji yang material akibat kecurangan : 1. Diskusi antara personel tim penugasan selama tahap perencanaan audit tentang kerentanan laporan keuangan entitas terhadap kecurangan yang material. 2. Prosedur yang ditempuh untuk memperoleh informasi yang diperlukan untuk mengidentifikasi dan menilai resiko kecurangan yang material. 3. Resiko khusus tentang kecurangan yang material yang sudah teridentifikasi, serta uraian tentang respon auditor terhadap resiko tersebut. 4. Alasan yang mendukung kesimpulan bahwa tidak ada resiko yang signifikan atas pengakuan pendapatan yang tidak tepat secara material. 5. Hasil dari prosedur yang ditempuh untuk menghadapi resiko pengabaian pengendalian oleh manajemen. 6. Kondisi dan hubungan analitis lainnya yang menunjukkan bahwa diperlukan prosedur auditing tambahan atau respons lainnya, serta tindakan yang diambil oleh auditor. 7. Sifat komunikasi tentang kecurangan yang disampaikan kepada manajemen, komite audit, atau pihak lainnya.

MENGAWASI TATA KELOLA KORPORASI UNTUK MEGURANGI RISIKO KECURANGAN

Untuk membantu manajemen dan dewan direksi dalam upaya memerangi kecurangan, AICPA, bersama dengan beberapa organisasi professional menerbitkan Manajement Antifraud Programs and Controls: Guidance to Help Prevent, Deter, and Detect Fraud. Pedoman inimengidentifikasi tiga unsur untuk mencegah, menghalangi, dan mendeteksi kecurangan. Ketiga unsur tersebut yaitu :

FRAUDS AUDITING

1. Budaya jujur dan etika yang tinggi Penciptaan budaya jujur dan etika yang tinggi meliputi unsur : a. Menetapkan tone at the top Manajemen dan dewan direksi bertanggung jawab untuk menetapkan tone at the top terhadap perilaku etis dalam perusahaan. b. Menciptakan lingungan kerja yang postif Tempat kerja yang positif dapat mendongkrak semangat kerja karyawan, dan dapat mengurangi kemungkinan karyawan melakukan kecurangan terhadap perusahaan. c. Mempekerjakan dan mempromosikan pegawai yang tepat Agar berhasil mencegah kekurangan, perusahaan yang dikelola dengan baik mengimplementasikan kebijakan penyaringan yang efektif untuk mengurangi kemungkinan mempekerjakan dan mempromosikan orang-orang yang tingkat kejujurannya rendah, terutama yang akan yang bertanggung jawab atau penting. d. Pelatihan Semua pegawai baru harus dilatih tentang ekspektasi perusahaan menyangkut perilaku etis pegawai. Pegawai harus diberitahu tentang tugasnya untuk

menyampaikan kecurangan yang aktual. e. Konfirmasi Sebagian besar perusahaan mengharuskan pegawainya untuk secara periodik mengonfirmasikan tanggung jawabnya mematuhi kode perilaku. f. Displin Pegawai harus mengetahui bahwa mereka akan dimintai pertanggungjawaban jika tidak mengikuti kode perilaku perusahaan. 2. Tanggung jawab manajemen untuk mengevaluasi risiko kecurangan a. Mengidentifikasi dan mengukur risiko kecurangan Pengawasan yang efektif atas kecurangan mungkin terjadi dan hampir semua pegawai sanggup melakukan perbuatan yang tidak jujur bila situasinya memungkinkan. b. Mengurangi risiko kecurangan Manajemen bertanggungjawab untuk merancang dan mengimplementasikan program serta pengendalian untuk mengurangi resiko kecurangan, dan dapat mengubah aktivitas serta proses bisnis yang rentan terhadap kecurangan untuk mengurangi insentif dan kesempatan untuk melakukan kecurangan. c. Memantau program dan pengendalian pencegahan kecurangan

FRAUDS AUDITING

Untuk bidang-bidang yang resiko kecurangannya tinggi, manajemen harus mengevaluasi secara periodik apakah program dan pengendalian anti kecurangan yang tepat telah diimplementasikan serta berjalan efektif. 3. Pengawasan oleh komite audit a. Pelaporan langsung temuan-temuan penting oleh audit internal kepada komite audit b. Laporan periodik oleh pejabat etika tentang whistle-blowing c. Laporan maintentang tidak adanya perilaku etis atau kecurangan yang dicurigai

MERESPON RISIKO KECURANGAN

Apabila risiko salah saji yang material akibat kecurangan sudah teridentifikasi, pertama auditor harus membahas temuan tersebut dengan manajemen dan minta pandangan manajemen mengenai potensi kecurangan serta pengendalian yang ada yang dirancang untuk mencegah atau mendeteksi salah saji. Selanjutnya, auditor harus mempertimbangkan apakah program dan pengendalian antikecurangan seperti itu dapat mengurangi risiko salah saji yang material akibat kecurangan atau apakah ada defisiensi pengendalian yang meningkatkan risiko kecurangan. Respon auditor terhadap risoko kecurangan meliputi hal-hal berikut ini : 1. Mengubah pelaksanaan audit secara keseluruhan Auditor dapat memilih di antara beberapa respon secara keseluruhan bila risiko kecurangan meningkat. Jika risiko salah saji akibat kecurangan meningkat, personil yang lebih berpengalaman dapat ditugaskan dalam audit itu. 2. Merancang dan melaksanakan prosedur audit untuk menangani risiko kecurangan Prosedur audit yang tepat yang digunakan untuk menagani risiko kecurangan tertentu tergantung pada akun yang diaudit dan jenis risiko kecurangan yang diidentifikasi. 3. Merancang dan melaksanakan prosedur untuk menangani pengabaian pengendalian oleh manajemen. Risiko pengabaian pengendalian oleh manajemen selalu ada dalam hampir semua audit. Ada 3 prosedur yang harus dilaksanakn dalam setiap audit : a. Memeriksa ayat jurnal dan penyesuaian lainnya untuk mencari bukti salah saji yang mungkin akibat kecurangan. b. Mereview estimasi akuntansi untuk mengetahui adanya bias. c. Mengevaluasi dasar pemikiran bisnis untuk transaksi tidak biasa yang signifikan.

FRAUDS AUDITING

Memutakhirkan Proses Penilaian Risiko Auditor harus mewaspadai kondisi-kondisi berikut ketika melakukan audit : 1. Perbedaan dalam catatan akuntansi. 2. Bukti audit yang bertentangan atau hilang. 3. Hubungan yang serba salah atau tidak biasa antara auditor dan manajemen. 4. Hasil dari prosedur subtantif atau prosedur analitis pada tahap review akhir yang mengindikasikan risiko kecurangan, yang sebelumnya tidak diketahui. 5. Jawaban yang tidak jelas atau tidak masuk akal atas pertanyaan yang diajukan selama audit atau yang menghasilkan bukti yang tidak konsisten dengan bukti lainnya.

BIDANG-BIDANG RISIKO KECURANGAN YANG SPESIFIK

Tergantung pada industri klien, akun-akun tertentu sangat rentan terhadap manipulasi atau pencurian . Risiko Kecurangan dalam Pendapatan dan Piutang Usaha 1. Risiko pelaporan keuangan yang curang atas pendapatan Tiga jenis utama manipulasi pendapatan adalah : a. Pendapatan fiktif Pendapatan fiktif merupakan bentuk kecurangan yang paling menyolok. Kasus yang pernah terjadi terkait dengan pendapatan fiktif adalah Kasus Ultramares pada tahun 1931. Pendapatan fiktif adalah pendapatan yang direkayasa. b. Pengakuan pendapatan premature Pengakuan pendapatan prematur adalah pengakuan pendapatan sebelum persyaratan GAAP untuk mencatat pendapatan dipenuhi harus dibedakan dari kekeliruan pisah batas atau cutoff error dimana transaksi secara sengaja dicatat dalam periode yang salah. c. Manipulasi atas penyesuaian pendapatan Penyesuaian yang paling umum dilakukan terhadap pendapatan menyangkut retur penjualan dan pengurangan harga. Suatu perusahaan mungkin menyembunyikan retur penjualan dari auditor untuk melebihsajikan penjualan dan laba bersih. 2. Tanda- tanda peringatan kecurangan pendapatan a. Prosedur analitis b. Perbedaan dokumenter

FRAUDS AUDITING

3. Penyalahgunaan penerimaan yang melibatkan pendapatan a. Kelalaian mencatat penjualan b. Pencurian peneriman kas setelah penjualan dicatat Tanda-tanda peringatan atas penyalahgunaan pendapatan dan penerimaan kas Pengendalian internal untuk yang nilainya relatif kecil Prosedur analitis dan perbandingan lainnya untuk kecurangan besar

Risiko Kecurangan Persediaan 1. Risiko pelaporan keuangan yang curang untuk persediaan Persediaan fiktif telah menjadi pusat dari beberapa kasus besar pelaporan keuangan yang curang. 2. Tanda-tanda peringatan kecurangan persediaan 3. Prosedur analitis 4. Risiko pelaporan keuangan yang curang untuk utang usaha Penyalahgunaan dalam siklus akuisisi dan pembayaran a. Aktiva tetap b. Beban gaji

TANGGUNG JAWAB BILA DICURIGAI ADA KECURANGAN

Merespon Salah Saji yang Mungkin Ditimbulkan oleh Kecurangan 1. Teknik Pengajuan Pertanyaan : a. Pengajuan pertanyaan informasional b. Pengajuan pertanyaan penilaian c. Pengajuan pertanyaan intogratif 2. Mengevaluasi respons atau pengajuan pertanyaan a. Teknik menyimak b. Mengganti petunjuk perilaku 3. Tanggung jawab lain apabila dicurigai ada kecurangan

FRAUDS AUDITING