Anda di halaman 1dari 245

Skripsi

PERLINDUNGAN EKSPRESI BUDAYA TRADISIONAL DALAM

KERANGKA REZIM HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL

Karya cipta skripsi ini dipegang oleh Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, dan hak
moralnya dipegang oleh penulis terkait. Segala bentuk penjiplakan (plagiasi), pengutipan
tanpa ijin maupun tanpa pencantuman sumber merupakan pelanggaran yang dapat membawa
tindakan hukum.

Gunakan skripsi ini dengan bijak dan bertanggung jawab dan sesuai etika dan tata cara
akademik yang layak. Terimakasih.

Kontak penulis : lukas.rasat@gmail.com


PERLINDUNGAN EKSPRESI BUDAYA TRADISIONAL

DALAM KERANGKA REZIM HAK KEKAYAAN

INTELEKTUAL

PENULISAN HUKUM
Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas
dan memenuhi syarat-syarat guna menyelesaikan
program Sarjana (S1) Hukum

DISUSUN OLEH
NAMA : OKTAGAPE LUKAS
NIM : B2A004179
FAKULTAS : HUKUM
JURUSAN : HUKUM INTERNASIONAL

UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2008

i
LEMBAR PENGESAHAN

PERLINDUNGAN EKSPRESI BUDAYA TRADISIONAL


DALAM KERANGKA REZIM HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL

SKRIPSI

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas


dan Memenuhi Syarat-syarat Guna
Menyelesaikan Program Sarjana (S1)
Ilmu Hukum
Universitas Diponegoro

Oleh:

Nama : Oktagape Lukas B


NIM : B2A 004 179

Skripsi dengan judul diatas telah


disahkan dan disetujui untuk diperbanyak

Pembimbing I Pembimbing II

(Kholis Roisah, SH, MHum) (DR Budi Santoso, SH, MS)

ii
HALAMAN PENGUJIAN

PERLINDUNGAN EKSPRESI BUDAYA TRADISIONAL


DALAM KERANGKA REZIM HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL

Disusun Oleh :

OKTAGAPE LUKAS
B2A004179

Telah diujikan di depan Dewan penguji


Pada Tanggal 18 Desember 2008

Dewan Penguji

Ketua Sekretaris
Dekan FH Universitas Diponegoro Pembantu Dekan IV

(Prof.Dr. Arief Hidayat, SH.,MS) (Lapon Tukan Leonard, SH.,MA)

Pembimbing I Pembimbing II

(Kholis Roisah, SH., M.Hum) (Dr. Budi Santoso, SH., MS)

Penguji

(Prof.Dr. Etty Susilowati SH.,MS)

iii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka

karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri.

(Pramoedya Ananta Toer)

Untuk Masa Depan.

I’m the master of my faith,

I’m the captain of my soul

(William Ernest Henley)

iv
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Kristus Sang Anak Manusia,

yang telah memberikan berkatnya sehingga skripsi ini dapat penulis selesaikan

dan hadirkan di hadapan pembaca.

Adapun skripsi berjudul “PERLINDUNGAN EKSPRESI BUDAYA

TRADISIONAL DALAM KERANGKA REZIM HAK KEKAYAAN

INTELEKTUAL” dimaksudkan sebagai salah satu persyaratan guna

menyelesaikan Program Sarjana (S-1) Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum

Universitas Diponegoro Semarang. Skripsi ini tak akan selesai tanpa bantuan

dan bimbingan banyak pihak yang menyertai penulis. Untuk itu dengan rasa

hormat dan terima kasih penulis sampaikan pada pihak-pihak yang telah

membantu, antara lain kepada :

1. Bapak Prof.Dr.dr. Susilo Wibowo, M.Ked.Sp.And. selaku Rektor

Universitas Diponegoro;

2. Bapak Prof.Dr. Arief Hidayat, SH., Ms selaku Dekan Fakultas Hukum

Universitas Diponegoro;

3. Ibu Kholis Roisah, SH., MHum selaku Pembimbing I atas segala

kesabarannya dalam memberikan dukungan, bimbingan, petunjuk,

arahan dan kepercayaannya kepada penulis dalam menyelesaikan

skripsi ini;

4. Bapak DR. Budi Santoso, SH., MS selaku Pembimbing II atas segala

kesabarannya dalam memberikan dukungan, bimbingan, petunjuk,

v
arahan dan kepercayaannya kepada penulis dalam menyelesaikan

skripsi ini;

5. Ibu Prof.Dr. Etty Susilowati, SH.,MS selaku dosen penguji;

6. Ibu Rinitami Njatrijani,SH.,MHum selaku dosen wali yang selalu

memberi dukungan, nasehat dan bimbingan selama penulis menempuh

studi di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang;

7. Bapak dan Ibu dosen Fakultas Hukum Universitas Diponegoro

Semarang, terutama bagian Hukum Internasional dan segenap Civitas

Akademika Fakultas Hukum Universitas Diponegoro yang telah

membantu selama masa studi penulis;

8. Ibu Dra. Dede Mia Yusanti. MLS, dari Direktorat Jenderal HKI

Departemen Hukum dan HAM RI dan Bapak Basuki Antariksa dari

Biro Kerjasama Luar Negeri Departemen Kebudayaan dan Pariwisata

RI yang telah membantu penulis dalam menyusun skripsi ini dan

memberikan data-data yang penulis perlukan;

9. Papah dan Mamah tercinta untuk dukungan moril dan materiilnya serta

keluarga yang kukasihi;

10. Teman-teman semua di Fakultas Hukum Undip khususnya angkatan

2004 yang tidak penulis sebutkan satu persatu, semoga sukses selalu

untuk semua;

11. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyusun skripsi ini

baik secara langsung maupun tidak langsung yang tidak dapat penulis

sebutkan satu persatu. Terima kasih.

vi
Dalam penyusunan skripsi ini tentulah tidak lepas dari berbagai

kekurangan dan kesalahan yang tentu saja terjadi tanpa sengaja. Maka dengan

segala kerendahan hati penulis mengharapkan saran dan kritik dari semua

pihak guna kesempurnaan skripsi ini.

Akhirnya penulis berharap skripsi ini bermanfaat bagi pembaca dan

semua pihak yang membutuhkan.

Semarang, 12 Desember 2008

Hormat Penulis

Oktagape Lukas

vii
ABSTRACTION

Traditional cultural expressions is a form of living cultural heritage of


indigenous people, in which important traditional and cultural values attached.
As a result of human creativities, it’s inseparable from the indigenous
community in where it’s born, live, grow and flourish.
In modern era, technological advancement, globalization and
modernization bring a major impact to the traditional cultural expressions and
it’s indigenous people. When globalization and modernization posed a new
challenge to cultural and traditional values of indigenous people everywhere,
at the same time newer forms of exploitation facilitated by modern
technologies posed new challenges for the protection of traditional cultural
expressions itself. Many forms of illicit exploitation and other prejudicial
actions by unwanted parties becomes a major threat not only to the traditional
cultural expressions but also the interests of the indigenous people related.
Therefore a new forms of protection of traditional cultural expressions is
needed, in which traditional cultural expressions seen not only as a form of
living cultural heritage but also as a intellectual property of indigenous people.
The methodology adopted for the legal script included legal research
methods by the use of legal literatures study and other legal researches needed.
The objectives of the this legal script were to examine the forms of
protection of traditional cultural expressions provided by intellectual property
rights. How it’s legislated in international level and national level and how it’s
implemented. The scope of the research extended to protection offered
through laws on copyright and related rights, other laws on intellectual
property. Review of the Model Provisions was also within the scope of the
study conducted.

Keywords: Traditional Cultural Expressions, Protections, Intellectual


Property Rights

viii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL …………………………………………………………i

HALAMAN PENGESAHAN ………………………………………………...ii

HALAMAN PENGUJIAN ………………………………………………..iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ………………………………………………..iv

KATA PENGANTAR ………………………………………………………...v

ABSTRAKSI ………………………………………………………………viii

DAFTAR ISI ………………………………………………………………..ix

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang …...……………………………………………………1

B. Perumusan Masalah ….……………………………………………12

C. Tujuan Penelitian ……………………………………………….12

D. Manfaat Penelitian ……………………………………………….13

E. Sistematika Penulisan ……………………………………………….14

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Mengenai Hak Kekayaan Intelektual ……………….18

1. Pengertian Hak Kekayaan Intelektual ……………………….18

2. Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual ……………………….21

3. Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual Dalam Hukum Internasional

……………………………………………………………………….26
ix
4. Hak Kekayaan Intelektual Dalam Kerangka WIPO ……………….28

5. Hak Kekayaan Intelektual Dalam Kerangka TRIPS ……………….32

6. Hak Kekayaan Intelektual Dalam Hukum Nasional Indonesia ……..35

B. Tinjauan Umum Mengenai Hak Kekayaan Intelektual Tradisional ……….39

1. Pengertian dan Jenis Hak Kekayaan Intelektual Tradisional ……….39

2. Dasar Perlindungan Terhadap Kekayaan Intelektual Tradisional…...48

C. Ekspresi Budaya Tradisional (Traditional Cultural Expression/Expressions of

Folklore) Sebagai Bentuk Dari Kekayaan Intelektual Tradisional ……….52

1. Pengertian Ekspresi Budaya Tradisional Dari Sudut Pandang Pakar

Kebudayaan ……………………………………………………….53

2. Pengertian Ekspresi Budaya Tradisional Dari Sudut Pandang Pakar

Hukum ……………………………………………………….59

3. Kaitan Antara Ekspresi Budaya Tradisional dan Pengetahuan Tradi-

sional……………………………………………………………….63

BAB III METODE PENELITIAN

A. Metode Pendekatan ……………………………………………………….67

B. Spesifikasi Penelitian ………………………………………………….……68

C. Metode Penelusuran Bahan-bahan hukum …………….…………………69

D. Metode Penyajian Data ……………………………………………….71

x
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Perlindungan Terhadap Ekspresi Budaya Tradisional Dalam Rezim Hak Ke-

kayaan Intelektual Konvensional ……………………………………….73

1. Latar Belakang Perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional ……….73

2. Pendekatan Dalam Perlindungan Terhadap Ekspresi Budaya Tradi-

sional ...……………………………………………………………..80

3. Upaya Perlindungan Positif Terhadap Ekspresi Budaya Tradisional

Dalam Kerangka Hak Kekayaan Intelektual Konvensional ……….83

a. The Berne Convention for the Protection of Literary and Artistic-

Works 1967 ……………………………………………….86

b. WIPO Performances and Phonograms Treaty 1996 ……….88

c. WTO Agreement on Trade-Related Aspects of Intellectual Proper-

ty Rights ……………………………………………………….92

4. Hambatan dan Tantangan Upaya Perlindungan Ekspresi budaya Tradi-

sional dalam Kerangka Rezim Hak Kekayaan Intelektual Tradisional

………………………………………………………...……………..97

B. Perlindungan Terhadap Ekspresi Budaya Tradisional Dalam Rezim Hak Ke-

kayaan Intelektual Sui Generis ……………………………………...107

1. Upaya Perlindungan Positif Terhadap Ekspresi Budaya Tradisional

Dalam Kerangka Hak Kekayaan Intelektual Sui Generis ……...107

a. Tunis Model Law on Copyright for Developing Countries 1976


xi
……………………………………………………………………...108

b. WIPO-UNESCO Model Provisions for National Laws on the Pro-

tection of Expressions of Folklore Against Illicit Exploitation and

Other Prejudicial Actions ……………………………………...118

2. Upaya Pembentukan Instrumen Perlindungan Hak Kekayaan Intelek-

tual Sui Generis Terhadap Ekspresi Budaya Tradisional Pada Tingkat

Internasional ……………………………………………………...132

C. Perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional Pada Tingkat Nasional ……...141

1. Bentuk Perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional di Beberapa Nega-

ra ……………………………………………………………...141

2. Perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional di Indonesia ……..146

a. UU Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta ……………..149

b. UU Nomor 15 Tahun 2001 Tentang Merek serta PP Nomor 51 Ta-

hun 2007 Tentang Indikasi-geografis ……………………...152

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan ……………………………………………………………...166

5.2 Saran ……………………………………………………………...168

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

xii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pada era perdagangan bebas dan globalisasi dewasa ini, konsep Hak

Kekayaan Intelektual1 memiliki tempat sendiri. Berawal dari pemahaman

bahwa perlunya satu bentuk penghargaan khusus terhadap karya intelektual

seseorang dan hak yang muncul dari karya itu, konsep Hak Kekayaan

Intelektual berkembang. Hingga pada dasarnya konsep Hak Kekayaan

Intelektual sendiri merupakan bentuk penghargaan hasil kreativitas manusia,

baik dalam bentuk penemuan-penemuan (inventions) maupun hasil karya cipta

dan seni (art and literary work), terutama ketika hasil kreativitas itu

digunakan untuk tujuan komersial.

Mulai munculnya kesadaran akan pentingnya HKI sejak abad 20

merupakan fenomena menarik baik di tingkat global hingga ke tingkat lokal.

Tumbuhnya kesadaran ini sendiri sebenarnya diawali lebih awal lagi, yaitu

diprakarsai dalam Konvensi Paris tahun 1883 (The Paris Convention for

Protection of Industrial Property of 1883) dan Konvensi Berne Pertama yang

diadakan tahun 1886 (Berne Convention for the Protection of Literary and

Artistic Works 1886). Dalam perkembangan selanjutnya, kesadaran HKI

semakin meningkat dalam tataran Hukum Internasional. Hal ini ditandai

dengan pendirian WIPO (World Intelectual Properties Organization) pada

1
Selanjutnya akan disingkat menjadi HKI

1
tahun 1967 dimana sekarang keanggotaannya telah diikuti oleh 184 negara,

dan diikutsertakannya Persetujuan TRIPS (Agreement on Trade Related

Aspect on Intelectual Properties Rights) sebagai syarat keikutsertaan dalam

WTO (World Trade Organization), yang telah diratifikasi oleh 150 negara

lebih, baik negara maju maupun negara berkembang. Dengan itu maka TRIPs

maupun WTO dapat kita kenal sebagai suatu langkah pengkajian,

pembentukan dan penerapan rezim hukum HKI di tingkat global maupun

nasional. Indonesia sendiri telah menjadi anggota WIPO pada tahun 1997 dan

ikut serta meratifikasi TRIPs lewat UU Nomor 7 Tahun 1994 sebagai syarat

keikutsertaan dalam WTO.

Rezim HKI yang hidup ditingkat global maupun nasional tidak luput

dari berbagai kritik dan tantangan. Salah satu tantangan dan kritik terbesar

bagi rezim HKI saat ini adalah dalam kaitannya dalam perlindungan terhadap

Hak Kekayaan Intelektual Tradisional2. Kebutuhan akan perlindungan

terhadap HKI Tradisional ini beriringan dengan munculnya gerakan kembali

ke alam (back to nature)3 yang ditandai dengan semakin besarnya kesadaran

akan budaya tradisional sebagai bagian dari kekayaan intelektual dan warisan

budaya yang layak dihargai dan wajib dijaga, terutama di negara-negara

berkembang.

Tantangan perlindungan terhadap HKI Tradisional ini semakin terasa

di Indonesia, terutama pada saat munculnya kasus kontroversi lagu Rasa

Sayange yang menghiasi media berbagai massa Indonesia dan menjadi


2
Selanjutnya akan disingkat dengan sebutan HKI Tradisional
3
Kholis Roisah, “Perlindungan hukum Terhadap Kekayaan Intelektual Tradisional,” Majalah
Ilmiah Masalah-Masalah Hukum FH UNDIP edisi Juli-September 2006, halaman 355

2
pembicaraan masyarakat sejak awal Oktober 2007. Kontroversi ini dimulai

dari kampanye pariwisata Visit Malaysia yang mengunakan Rasa Sayang (The

Feel of Love) sebagai tema utama. Sebuah gubahan dari lagu Rasa Sayang-

Sayange yang diberi judul Rasa Sayang Hey menghiasi iklan pariwisata

Malaysia yang beredar di Internet dan media elektronik internasional4.

Selain itu, pengunaan Rasa Sayang tidak hanya sebagai lagu, namun

juga slogan pariwisata. Slogan Rasa Sayang gencar menjadi tema promosi

pariwisata Malaysia di tingkat internasional, terpampang di berbagai media

massa internasional dan billboard besar disudut-sudut Kuala Lumpur. Bahkan

situs pariwisata Malaysia pun mengunakan alamat www.rasasayang.com.my.

Pengunaan lagu dan slogan Rasa Sayang-Sayange ini kemudian menjadi

perhatian dan pembicaraan di forum diskusi Internet oleh para netter

Indonesia, hingga kasus ini kemudian merebak menjadi headline di berbagai

media massa besar Indonesia dan memicu protes banyak kalangan, mulai dari

anggota DPR hingga khalayak awam. Maka tak heran akhirnya muncul

anggapan publik Indonesia bahwa Malaysia secara tidak langsung mengklaim

lagu Rasa Sayang-Sayange sebagai bagian dari kebudayaan Malaysia dan

merupakan milik Malaysia.

Opini masyarakat secara umum terkejut bagaimana lagu ini secara

provokatif digunakan dalam kampanye pariwisata Malaysia. Kemunculan lagu

ini pun tidak disertai dengan satupun keterangan bahwa lagu ini adalah lagu

tradisional Indonesia. Bahkan terjadi mutilasi karya cipta dengan mengubah

4
Iklan pariwisata ini masih dapat diakses lewat situs video streaming Youtube
http://www.youtube.com/watch?v=eu-nfKFDSB8

3
lirik dan judul lagu tersebut menjadi lirik dengan perpaduan bahasa Inggris,

bahasa Melayu, bahasa Tamil dan bahasa Mandarin. Jelas ini merupakan

berupa pelanggaran terhadap hak ekslusif yang dimiliki oleh setiap pencipta

atas karya ciptanya, yaitu Hak Moral. Hak Moral adalah hak-hak pribadi

pencipta/pengarang untuk dapat mencegah perubahan atas karyanya dan

tunduk tetap disebut sebagai pencipta karya tersebut.5 Kedudukan Hak Moral

sendiri telah diatur dalam Pasal 6bis (1) Konvensi Berne yang menyatakan:

“...the author shall have the right to claim authorship of the work and
to object to any distortion, mutilation or other modification of, or other
derogatory action in relation to, the said work, which would be
prejudicial to his honor or reputation.”

Maka dijelaskan bahwa setiap pencipta memiliki hak untuk mengklaim

kepemilikan atas karyanya dan mengajukan keberatan atas distorsi, mutilasi

atau perubahan-perubahan serta perbuatan pelanggaran lain yang berkaitan

dengan karya tersebut yang dapat merugikan kehormatan atau reputasi si

pencipta.

Lebih lanjut konsep dari Hak Moral ini diatur dalam Pasal 24 UU

Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta yang menjelaskan bahwa:

1. Pencipta atau ahli warisnya berhak menuntut Pemegang Hak Cipta


supaya nama Pencipta tetap dicantumkan dalam Ciptaannya.
2. Suatu Ciptaan tidak boleh diubah walaupun Hak Ciptanya telah
diserahkan kepada pihak lain, kecuali dengan persetujuan Pencipta
atau dengan persetujuan ahli warisnya dalam hal Pencipta telah
meninggal dunia.
3. Selanjutnya dalam Pasal 3(2) dijelaskan bahwa hak-hak tersebut tidak
dapat dipindahkan selama penciptanya masih hidup, kecuali atas
wasiat pencipta berdasarkan peraturan perundang-undangan.
5
Tim Lindsey, Eddy Damian,Simon Butt, Tomi Suryo Utomo, Hak Kekayaan Intelektual: Suatu
Pengantar (Bandung : PT Alumni, 2002), halaman 117

4
Berdasarkan ini, maka dapat kita definisikan bahwa telah terjadi pelanggaran

Hak Moral. Hak prinsipil yang dimiliki oleh setiap pencipta atas karya

ciptanya.

Namun kasus ini menjadi semakin pelik karena ternyata tidak ada

satupun yang tahu jelas siapa pencipta lagu Rasa Sayange. Secara umum

masyarakat Indonesia berpendapat bahwa lagu Rasa Sayang-Sayange berasal

dari daerah kepulauan Maluku dan karena itu merupakan bagian dari budaya

Indonesia. Lagu ini merupakan lagu daerah yang sudah dikenal jauh sebelum

Indonesia merdeka dan merupakan bagian dari adat tradisional masyarakat

kepulauan Maluku6. Akibat dari tidak adanya kejelasan siapa pencipta

sebenarnya dari lagu Rasa Sayange, maka lagu ini tak bisa dilindungi oleh UU

Hak Cipta selayaknya karya cipta lainnya. Sebab salah satu syarat utama dari

dilindunginya hak pencipta atas suatu karya cipta adalah adanya kejelasan

klaim kepemilikan sesuai yang ditentukan dalam Pasal 5 UU Hak Cipta yang

menyebutkan bahwa kecuali terbukti sebaliknya, yang dianggap sebagai

Pencipta adalah:

1. Orang yang namanya terdaftar dalam Daftar Umum Ciptaan pada


Direktorat Jenderal; atau
2. Orang yang namanya disebut dalam Ciptaan atau diumumkan sebagai
Pencipta pada suatu Ciptaan.

Akibat dari simpang siur klaim kepemilikan Hak Cipta serta identitas pencipta

aslinya, maka sulit untuk memperoleh perlindungan hukum yang kuat dari UU

Hak Cipta atas lagu Rasa Sayange. Akibatnya seringkali muncul anggapan

6
Antara.co.id., “Gubernur Maluku Bersikeras Lagu "Rasa Sayange" Milik Indonesia,” artikel
berita ANTARA tertanggal 3 Oktober 2007

5
bahwa berdasar UU Hak Cipta, lagu Rasa Sayange adalah milik umum (public

domain) yang dapat digunakan oleh siapa saja untuk tujuan apa saja tanpa

kecuali.

Ketidakmampuan UU Hak Cipta dalam melindungi lagu Rasa

Sayange, bukan berarti lagu tersebut tidak dapat dilindungi. Sebab mengingat

kedudukannya sebagai lagu daerah, maka dia tidak dapat digolongkan sama

seperti karya cipta konvensional yang dilindungi oleh UU Hak Cipta. Lagu

Rasa Sayange adalah bagian dari budaya tradisional bangsa Indonesia. Maka

lagu tersebut lebih tepat digolongkan bukan sebagai karya cipta biasa, namun

sebagai bentuk dari Ekspresi Budaya Tradisional (Traditional Cultural

Expressions/Expressions of Folklore).7 Menurut Edi Sedyawati, secara umum,

pengertian Ekspresi Budaya Tradisional atau apa yang dia sebut dengan istilah

folklor adalah segala bentuk ungkapan budaya yang bersifat ekspresif yaitu

khususnya ungkapan seni dimana yang penciptanya anonim dan

ditransmisikan secara lisan.8

Sampai sekarang pun tidak ada yang tahu pasti siapa pencipta lagu

Rasa Sayange. Diperkirakan lagu ini diciptakan sekitar awal abad 20. Karena

nadanya yang riang dan mudah dinyanyikan, lagu ini menyebar ke seluruh

daerah Hindia Belanda dan sekitarnya pada saat itu. Lagu ini kemudian

sempat jadi penghias di film dokumentar Hindia Belanda berjudul Insulinde

7
Beragam istilah yang dipakai untuk menyebut ekspresi budaya tradisional, mulai dari folklor
hingga Traditional Cultural Expression. Istilah lain yang juga umum digunakan adalah
Expression of Folklore. Selanjutnya penulis akan mengunakan istilah Ekspresi Budaya
Tradisional yang merupakan terjemahan literal dari Traditional Cultural Expressions. Lebih
lanjut lihat Bab II halaman 51
8
Edi Sedyawati, Warisan Tradisi, Penciptaan dan Perlindungan, (Jakarta : 13 Agustus 2003),
halaman 2

6
pada tahun 1940. Lagu ini juga muncul sebagai salah satu track dalam

piringan hitam souvenir SEA GAMES ke 4 di Jakarta tahun 1962, bersama

lagu daerah Indonesia lain seperti Sorak-Sorak Bergembira dan O Ina Ni

Keke9.

Pihak Malaysia sendiri sejak awal menolak disalahkan atas pengunaan

lagu Rasa Sayang-Sayange ini. Argumen Malaysia adalah bahwa lagu ini

sudah dikenal dan dinikmati secara luas di tengah masyarakat Semenanjung

Malaya sejak lama. Hal ini membuat Malaysia merasa memiliki dan berhak

atas lagu tersebut. Namun kemudian pihak Malaysia sendiri secara tidak

langsung mengakui bahwa lagu ini berasal dari Indonesia dan merupakan

bagian dari kebudayaan Indonesia. Lagu ini kemudian dibawa oleh penduduk

Indonesia yang bermigrasi ke Malaysia dan kemudian berasimilasi dengan

masyarakat setempat. Hingga kemudian kebudayaan yang mereka bawa juga

berasimilasi dan menyatu dengan kebudayaan setempat dan menjadi bagian

dari kebudayaan Malaysia10.

Masalah silang budaya ini merupakan argumen menarik. Sebab jujur

dipahami, karena sudut kedekatan geografis dan historis, banyak budaya dua

negara yang merupakan hasil proses panjang asimilasi dan adopsi satu sama

lain. Banyak Ekspresi Budaya Tradisional, mulai dari lagu, tarian hingga

makanan, selain dikenal luas di Malaysia juga dikenal di sebagian wilayah

Indonesia, terutama daerah Sumatera dan Riau Kepulauan. Seperti contohnya

9
Kompas Cybermedia, “Lagu Rasa Sayange Direkam di Lokananta,” diambil dari harian Kompas
tanggal 2 November 2007
10
Tempo Interaktif, “Indonesia dan Malaysia Mengkaji Rasa Sayange,” artikel berita Tempo
tertanggal 17 November 2007

7
batik, keris dan berbagai tari-tarian adat dari beberapa daerah Indonesia, juga

dikenal luas sebagai bagian dari kebudayaan Malaysia. Namun, sebagian

kalangan di Indonesia sendiri menilai bahwa inti permasalahannya bukanlah

pada silang budaya antara Indonesia-Malaysia, namun pada aroma

komersialisasi pariwisata Malaysia yang dianggap sangat provokatif.

Terutama pengunaan banner dan jingle Rasa Sayang dalam kampanye

pariwisata di tingkat internasional untuk tujuan komersil, yaitu menarik

pelancong asing untuk berwisata ke Malaysia.

Reaksi masyarakat mengenai kontroversi lagu Rasa Sayang-Sayange

ini sangat sporadis dan bermacam-macam. Mulai dari perdebatan di forum-

forum diskusi Internet antara netter Indonesia dan netter Malaysia, perang

opini di media massa antara tokoh Indonesia dan tokoh Malaysia, demonstrasi

anti Malaysia di beberapa daerah di Indonesia, hingga serangan hacker

Indonesia ke situs www.rasasayang.com.my hingga situs tersebut down dan

tidak dapat dibuka lagi. Kontroversi ini kemudian pelan-pelan mereda setelah

pemerintah Malaysia mengakui bahwa lagu Rasa Sayang-Sayange merupakan

milik bersama.11

Kontroversi ini juga semakin diperburuk dengan berbagai masalah

yang mewarnai hubungan bilateral Indonesia-Malaysia, mulai dari kasus

Pulau Sipadan-Ligitan, sengketa Blok Ambalat, penganiayaan TKI hingga

yang terbaru saat itu adalah pemukulan wasit karate Indonesia oleh aparat

kepolisian Malaysia. Hingga tidak heran muncul istilah slang “Malingsia”

11
Antara.co.id, “Malaysia Akhirnya Akui "Rasa Sayange" Sebagai Milik Bersama,” artikel berita
ANTARA tertanggal 17 November 2007

8
yang berkonotasi negatif dan bernada menyindir di sebagian kalangan

masyarakat Indonesia.

Namun kritik dan protes paling hebat tidak ditujukan pada Pemerintah

Malaysia, namun pada Pemerintah Indonesia sendiri. Pemerintah Indonesia

dinilai kurang tegas dan terlalu hati-hati dalam menyikapi masalah ini.

Pemerintah Indonesia juga dinilai gagal melindungi kekayaan budaya

tradisional, terutama dalam hal ini lagu daerah Rasa Sayang-Sayange dari

klaim Malaysia. Pemerintah Indonesia sendiri lewat Departemen Hukum dan

HAM RI serta Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI mengakui kepada

media massa bahwa mereka belum memiliki metode yang tepat dan jelas

dalam melindungi kekayaan intelektual tradisional Indonesia12. Hal ini

membuat banyak unsur karya budaya daerah Indonesia rentan masalah karena

tidak ada payung hukum yang jelas.

Skripsi ini, tidak secara khusus akan membahas kontroversi lagu Rasa

Sayang diatas. Namun mesti kita sadari lewat gambaran diatas tentang kasus

kontroversi lagu Rasa Sayange ini, kita dapat melihat bagaimana pentingnya

perlindungan terhadap kekayaan budaya tradisional kita, terutama dalam hal

ini perlindungan terhadap Ekspresi Budaya Tradisional (Traditional Cultural

Expression/Expressions of Folklore). Tidak hanya perlindungan dari segi hak

moral, yaitu untuk mencegah suatu Ekspresi Budaya Tradisional menjadi

korban mutilasi hingga kehilangan bentuk aslinya, tapi juga perlindungan

terhadap klaim kepemilikan suatu bangsa terhadap karya budaya tertentu

12
Hukumonline, “Indonesia Masih Telusuri Bukti Kepemilikan Lagu 'Rasa Sayange,” artikel
berita tertanggal 23 Oktober 2007

9
Pada tingkat internasional sendiri masalah perlindungan budaya secara

umum dan perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional secara khusus telah

menjadi pokok bahasan rutin di WIPO (World Intelectual Property

Organization) maupun UNESCO (United Nations Education, Science and

Cultural Organization). Berbagai upaya telah dilakukan untuk menyusun

instrumen hukum di tingkat internasional untuk menghadapi masalah ini.

Mulai dari Berne Convention for the Protection of Literary and Artistic Works

(1967), Tunis Model Law on Copyright for Developing Countries (1976),

hingga WIPO-UNESCO Model Provisions for National Laws on the

Protection of Expressions of Folklore Against Illicit Exploitation and Other

Prejudicial Actions (1982).

Secara umum, usaha memberikan bentuk perlindungan terhadap Hak

Kekayaan Intelektual Tradisional ditingkat internasional dibagi dalam dua

lingkup perlindungan. Pertama adalah bentuk perlindungan di dalam rezim

HKI konvensional13 atau rezim HKI modern yang pengaturannya berada di

bawah WIPO dan kemudian diadopsi dalam TRIPS. Kedua adalah bentuk

perlindungan Hak Kekayaan Intelektual Sui Generis yang berada di luar

lingkup HKI Konvensional atau HKI Modern, terutama dalam rezim HKI

Tradisional yang secara memiliki karakteristik khusus.

Pembagian bentuk perlindungan Hak Kekayaan Intelektual ini

dilakukan karena perlindungan suatu Kekayaan Intelektual tidak dapat dibatasi

13
Istilah HKI “Konvensional” merupakan istilah yang digunakan penulis untuk memisahkan rezim
HKI yang berlandaskan pada prinsip-prinsip yang diatur dalam TRIPS dan memiliki
karakteristik yang menekankan pada nilai-nilai komersialitas dalam bisnis dan perdagangan
(Trade-related). Lebih lanjut dibahas dalam Bab IV halaman 92.

10
dalam lingkup konvensional saja. Terkadang bentuk perlindungan yang

diterapkan juga membutuhkan karakteristik khusus untuk melindungi hal yang

bersifat khusus juga. Inilah yang kemudian menjadi awal dibentuknya

kerangka perlindungan Hak Kekayaan Intelektual Sui Generis. Contoh lain

dari bentuk perlindungan HKI Sui Generis adalah perlindungan HKI terhadap

desain galangan kapal di Amerika dan perlindungan HKI terhadap desain

mode adibusana di Perancis.

Kedua bentuk perlindungan inilah yang menjadi fokus utama dari

skripsi ini. Bentuk perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional seperti apa yang

ditawarkan baik dalam rezim HKI Konvensional maupun HKI Sui Generis.

Serta bagaimana usaha perlindungannya di Indonesia.

Inilah yang menjadi tantangan penulis dalam menyusun skripsi ini.

Penulis ingin mengkaji bentuk perlindungan apa yang dapat digunakan untuk

melindungi Ekspresi Budaya Tradisional serta bagaimana implementasinya

baik di tingkat internasional dan nasional, terutama di indonesia sendiri. Sebab

pada akhirnya, kita harus sadar bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan

terbesar didunia yang sangat luas dan majemuk, adalah negara yang memiliki

beragam kekayaan budaya dan warisan tradisional tak ternilai. Karena itu

perlindungan atas HKI Tradisional menjadi sangat penting.

11
B. Perumusan Masalah

Skripsi ini berjudul Perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional Dalam

Kerangka Rezim Hak Kekayaan Intelektual. Untuk memudahkan dalam

memperoleh kejelasan mengenai apa yang akan dibahas dalam skripsi ini,

penulis melakukan pembatasan permasalahan pada :

1. Bagaimana bentuk perlindungan terhadap Ekspresi Budaya

Tradisional (Traditional Cultural Expressions/Expressions of

Folklore) ditinjau dalam lingkup rezim HKI Konvensional?

2. Bagaimana bentuk perlindungan terhadap Ekspresi Budaya

Tradisional (Traditional Cultural Expressions/Expressions of

Folklore) ditinjau dari lingkup perlindungan Hak Kekayaan

Intelektual Sui-generis?

3. Bagaimana usaha-usaha perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional

(Traditional Cultural Expressions/Expressions of Folklore) di

tingkat nasional terutama dalam hal ini di Indonesia?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan pokok yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk

menjawab permasalahan-permasalahan yang telah ditentukan sebelumnya,

yaitu meliputi:

1. Untuk mengetahui bagaimana bentuk perlindungan Ekspresi

Budaya Tradisional (Traditional Cultural Expressions/Expressions

of Folklore) dalam lingkup rezim HKI Konvensional.

12
2. Untuk mengetahui bagaimana bentuk perlindungan Ekspresi

Budaya Tradisional (Traditional Cultural Expressions/Expressions

of Folklore) di luar lingkup rezim HKI Konvensional, yaitu dalam

hal ini perlindungan dalam lingkup rezim HKI yang bersifat Sui-

Generis.

3. Untuk mengetahui Bagaimana bentuk usaha-usaha perlindungan

Ekspresi Budaya Tradisional (Traditional Cultural

Expressions/Expressions of Folklore) di tingkat nasional terutama

dalam hal ini di Indonesia.

D. Kegunaan Penelitian

1. Kegunaan Teoritis

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi karya

ilmiah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan bidang hukum,

khususnya untuk pengembangan pemikiran yang berkaitan dengan

pengetahuan tentang perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional

(Traditional Cultural Expressions/Expressions of Folklore) pada

khususnya dan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual Tradisional pada

umumnya.

2. Kegunaan Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi yang

lengkap bagi masyarakat mengenai perlindungan Ekspresi Budaya

Tradisional (Traditional Cultural Expressions/Expressions of Folklore)

13
pada khususnya dan Kekayaan Intelektual Tradisional pada umumnya.

Sehingga dalam perkembangan era globalisasi ini masyarakat akan

semakin mengerti pentingnya perlindungan terhadap kekayaan budaya

tradisional sebagai bagian dari identitas dan kekayaan budaya bangsa yang

wajib untuk terus menerus dijaga dan dilestarikan.

E. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan penelitian dalam skripsi ini dibagi dalam 5

(lima) Bab, yang masing-masing bab tersebut memiliki beberapa sub bab

tersendiri, yang secara garis besar perinciannya sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Dalam bab ini disajikan keadaan secara umum, yang terdiri dari 5

(lima) sub bab, yaitu : Latar Belakang Penelitian, Perumusan Masalah,

Tujuan penelitian, Kegunaan Penelitian, dan Sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Dalam bab ini diuraikan tentang norma-norma hukum, teori-teori

hukum serta peraturan-peraturan yang mendasari dan berhubungan

dengan fakta atau permasalahan yang akan dibahas. Disamping itu

juga dapat diuraikan mengenai berbagai asas hukum atau pendapat

yang berhubungan dengan asas atau teori hukum yang benar-benar

bermanfaat sebagai bahan untuk melakukan analisa terhadap fakta

ataupun permasalahan yang dibahas pada bab IV.

Tujuan utama bab ini adalah juga untuk menguraikan apa yang

dimaksud dengan Hak Kekayaan Intelektual, dan apa yang dimaksud

14
dengan HKI Tradisional secara umum, serta bagaimana kedudukan

Ekspresi Budaya Tradisional (Traditional Cultural

Expressions/Expressions of Folklore) dalam rezim HKI Tradisional

pada khususnya dan dalam rezim HKI pada umumnya.

Bab ini dibagi dalam tiga sub-bab utama yaitu: Tinjauan Umum

Tentang Hak Kekayaan Intelektual, Tinjauan Umum Tentang Hak

Kekayaan Intelektual Tradisional, dan Ekspresi Budaya Tradisional

(Traditional Cultural Expressions/Expressions of Folklore) sebagai

salah satu bentuk dari Kekayaan Intelektual Tradisional.

BAB III METODE PENELITIAN

Bab ini diuraikan secara sederhana langkah-langkah penelitian yang

dilakukan serta tentang metode penelitian yang digunakan. Bab III

terdiri dari 4 (empat) sub bab, yaitu : Metode Pendekatan, Spesifikasi

Penelitian, Metode Pengumpulan Data, dan Metode Analisis Data.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini diuraikan, dipaparkan, dan disajikan mengenai hasil

penelitian yang dilakukan serta pembahasan mengenai permasalahan

yang akan diangkat dalam skripsi ini. Bab ini secara khusus membahas

tiga pokok perumusan masalah berkaitan dengan perlindungan

Ekspresi Budaya Tradisional (Traditional Cultural Expresions) dalam

rezim Hak Kekayaan Intelektual serta implementasinya. Ada tiga

pokok utama yang akan diuraikan dalam bab ini:

15
a. Perlindungan Terhadap Ekspresi Budaya Tradisional Dalam Rezim

Hak Kekayaan Intelektual Konvensional : Sub-bab ini membahas

latar belakang perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional, berbagai

bentuk pendekatan dalam perlindungan Ekspresi Budaya

Tradisional, upaya perlindungan positif terhadap Ekspresi Budaya

Tradisional dalam kerangka Hak Kekayaan Intelektual

Konvensional serta hambatan dan tantangan yang dihadapi dalam

berbagai upaya tersebut.

b. Perlindungan Terhadap Ekspresi Budaya Tradisional Dalam Rezim

Hak Kekayaan Intelektual Sui Generis : Sub-bab ini membahas

mengenai upaya perlindungan positif dalam kerangka Hak

kekayaan Intelektual Sui Generis. Termasuk membahas Tunis

Model Law on Copyright for Developing Countries 1976 dan

Model Provisions 1982. Bab ini juga membahas berbagai upaya

yang dilakukan dalam usaha pembentukan instrumen internasional

perlindungan HKI Sui Generis terhadap Ekspresi Budaya

Tradisional.

c. Perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional Pada Tingkat Nasional :

Sub-bab ini membahas berbagai bentuk perlindungan yang

diimplementasikan dalam hukum nasional berbagai negara,

termasuk Indonesia pada khususnya. Dalam sub-bab khusus yang

membahas perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional di Indonesia,

16
akan dibahas mengenai kesulitan dan tantangan yang dihadapi serta

upaya mengatasinya.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini merupakan kristalisasi dari apa yang telah dicapai pada

masing-masing bab sebelumnya. Bab ini berisi kesimpulan dari hasil

pembahasan terhadap permasalahan yang diangkat dan telah diuraikan

dalam bab-bab sebelumnya, serta pemberian saran-saran yang

dianggap perlu demi tercapainya kegunaan dari skripsi ini sehingga

bisa bermanfaat bagi masyarakat.

17
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Mengenai Hak Kekayaan Intelektual

1. Pengertian Hak Kekayaan Intelektual

Hak Kekayaan Intelektual (HKI) adalah suatu hak eksklusif yang

berada dalam ruang lingkup kehidupan teknologi, ilmu pengetahuan, ataupun

seni dan sastra. Kepemilikannya bukan terhadap barangnya melainkan

terhadap hasil kemampuan dan kreativitas intelektual manusianya, yaitu

diantaranya berupa ide atau gagasan. Hal yang terpenting dari setiap bagian

hak milik intelektual ini adalah adanya suatu hasil ciptaan tertentu. Ciptaan ini

mungkin dalam bidang kesenian, tetapi mungkin juga di dalam bidang industri

atau pengetahuan. Mungkin pula suatu kombinasi dalam ketiga bidang

tersebut1, yang masing-masing mempunyai istilah tertentu.

Menurut Budi Santoso, HKI pada dasarnya merupakan suatu hak yang

timbul sebagai hasil kemampuan intelektual manusia dalam berbagai bidang

yang menghasilkan suatu proses atau produk bermanfaat bagi umat manusia2.

HKI memiliki dua aspek utama, yaitu:

a. Proses dan produk ini meliputi berbagai bidang secara luas, mulai

dari bidang seni dan sastra hingga invensi dan inovasi di bidang

1
Mahadi, dalam Saidin, Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual(Intellectual Property Rights),
(Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2004), halaman 12
2
Budi Santoso, Pengantar Hak Kekayaan Intelektual, (Semarang : Pustaka Magister, 2008),
halaman 3

18
teknologi serta segala bentuk lainnya yang merupakan hasil dari

proses kreatifitas manusia lewat cipta, rasa, dan karsanya.

b. Karya cipta tersebut menimbulkan hak milik bagi pencipta atau

penemunya. Karena sifatnya sebagai hak milik, maka karenanya

hak seorang pencipta atau penemu atas karya ciptanya haruslah

dilindungi.

Dengan kata lain, HKI merupakan hak yang muncul atas hasil kreatifitas

seseorang, yang muncul sebagai bentuk pengakuan dan penghargaan (reward)

dalam bentuk perlindungan lewat rezim hukum HKI.

Secara etimologis, istilah Hak Kekayaan Intelektual digunakan sebagai

padanan dari istilah Intelectual Property Rights. Intellectual Property Rights

dalam sistem hukum common law merupakan bentuk dari hak yang secara

hukum memberikan izin bagi pemegangnya untuk melakukan kontrol atau

pengawasan penggunaan ide atau gagasan tertentu yang belum tampak dan

ekspresi idenya. Selanjutnya dalam sistem civil law, intellectual property

sering ditujukan sebagai suatu intellectual rights. Di sini intellectual rights

cakupannya menjadi luas, mencakup apa yang disebut dengan moral rights

yang tidak dapat dibeli atau dijual atau dialihkan. Kemudian dalam

perkembangannya intellectual rights menjadi lebih digunakan.

Istilah Intelectual Property Rights sendiri berasal dari penulis Prancis

A.Nion pada abad 19. Intelectual property rights berasal dari istilah Prancis

“Propertiete Intellectualle” yang terdapat pada buku “Droits Civil des

Auteurs, Artistes, et Inventeurs” yang terbit pada tahun 1846. Istilah ini

19
kemudian menemukan padanannya dalam bahasa Inggris lewat istilah

intelectual property dan mulai digunakan secara umum dan meluas dalam

konteks hak perlindungan lewat bentuk Intelectual Property Rights lewat

Convention on Establishing the World Intellectual Property Organization

pada tahun 1967 dan kemudian dilanjutkan dalam Trade Related Aspects on

Intelectual Property Rights (TRIPS) yang terkandung sebagai bagian dari

GATT/WTO pada tahun 1994. Uniknya, Konvensi Paris 1883 yang dianggap

sebagai konvensi internasional pertama yang mengatur hal-hal yang berkaitan

dengan HKI, sama sekali tidak mengunakan istilah Intelectual Property

Rights, tapi mengunakan istilah Industrial Rights.

Istilah Intelectual Property Rights sendiri kemudian masuk ke

indonesia pertama kali dalam bentuk Hak Milik Intelektual. Namun istilah ini

dikritik karena selain tidak taat asas tata bahasa, istilah ini dianggap tidak

tepat dan tidak dapat mendefinisikan secara subtantif mengenai intelectual

property rights. Karena itu kemudian Bambang Kesowo memperkenalkan

istilah Hak Atas Kekayaan Intelektual yang dianggap sebagai padanan yang

tepat untuk istilah Intelectual Property Rights3.

Istilah Hak Atas Kekayaan Intelektual sendiri kemudian kembali

mendapat tantangan dari A. Zen Umar Purba. Menurutnya kata “Atas” dalam

Hak Atas Kekayaan Intelektual tidak lazim digunakan dan menyalahi kaidah

tata bahasa. Istilah Hak “Atas” Kekayaan Intelektual sama tidak lazimnya

3
Bambang Koesowo seperti dikutip dalam Ibid, halaman. 11

20
dengan istilah Presiden “dari” Republik Indonesia. Karena itu A. Zen Umar

Purba menyarankan pengunaan istilah Hak Kekayaan Intelektual4.

Sependapat dengan A. Zen Umar Purba, Saidin menterjemahkan istilah

Intelectual Property Rights lebih tepat menjadi Hak Kekayaan Intelektual.

Dengan alasan bahwa hak milik sebenarnya sudah merupakan istilah baku

dalam kepustakaan hukum. Padahal tidak semua HKI itu merupakan hak milik

dalam arti yang sesungguhnya, bisa merupakan hak untuk memperbanyak atau

untuk menggunakannya dalam produk tertentu.5

Lain halnya dengan Budi Santoso, yang mengidentikkan Intellectual

Property Rights dengan istilah Hak Milik Intelektual. Hal ini didasarkan pada

pemahaman istilah “property” dalam Intellectual Property Rights adalah suatu

hak dan bukan hasil kreativitas intelektual itu sendiri.6 Dalam sistem hukum

Indonesia, Hak milik intelektual merupakan bagian dari hak milik atas benda

bergerak yang tidak berwujud. Dijelaskan juga bahwa secara tata bahasa

istilah “property” sebenarnya berasal dari bahasa latin “Proprius” yang

mempunyai arti “milik seseorang”, maka tepat kiranya konsep Intellectual

Property diidentikkan dengan istilah Hak Milik Intelektual.7

2. Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual

Tujuan utama dari Hak Kekayaan Intelektual adalah memberikan

perlindungan terhadap hak seseorang atas hasil dari kreatifitasnya.

Perlindungan itu diberikan sebagai suatu bentuk penghargaan dan pengakuan

4
Ibid, halaman 12
5
Saidin, Op.Cit., halaman 7
6
Budi santoso, Op.cit., halaman 13
7
Loc.cit, 2007

21
atas kreatifitas dan karya cipta seseorang. Menurut Tim Lindsey dkk. ada tiga

alasan utama kenapa perlindungan atas Hak Kekayaan Intelektual mesti

dilakukan, yaitu meliputi8:

a. Hak Alamiah

Prinsip utama pada HKI yaitu bahwa hasil kreasi dari

pekerjaan dengan memakai kemampuan intelektualnya tersebut,

maka pribadi yang menghasilkannya mendapatkan kepemilikannya

berupa hak alamiah.

Sistem hak milik intelektual yang berkembang sekarang

mencoba menyeimbangkan antara dua kepentingan, yaitu antara

pemilik hak dan kepentingan masyarakat umum. Hal ini dapat

dilihat pada pasal 27 ayat 1 The Declaration of Human Rights

yaitu:

“Everyone has the rights freely to participate in the


cultural life or the community, to enjoy the arts and to
share in scientific advancement and its benefits”.

Dalam International Covenant on Economic, Social and

Cultural Rights yang diadopsi pada 16 Desember 1966, dinyatakan

pada Pasal 15 ayat (1) bahwa :

“The States Parties to the present Covenant recognize the


right of everyone:
a. To take part in cultural life;
b. To enjoy the benefits of scientific progress and its
applications;

8
Tim Lindsey, Eddy Damian, Simon Butt, Tomi Suryo Utomo, ed., Hak Kekayaan Intelektual:
Suatu Pengantar , (Bandung : PT Alumni, 2002), halaman 13

22
c. To benefit from the protection of the moral and material
interests resulting from any scientific, literary or
artistic production of which he is the author.”

Maka salah satu konsekuensi dari munculnya hak alamiah

adalah tidak hanya menikmati manfaat dari kemajuan dibidang

keilmuan dan penerapannya seperti dalam ayat (1) huruf a, tapi

juga terwujud dengan adanya hak setiap orang untuk memperoleh

keuntungan dari perlindungan terhadap kepentingan moral maupun

materiil yang diperoleh dari suatu karya yang ia hasilkan, baik

dibidang keilmuan, susastraan dan kesenian sesuai ayat (1) huruf b.

b. Perlindungan Reputasi

Dapat dibayangkan sebuah perusahaan membangun

reputasi lewat citra dan brand images, dalam bentuk nama, gambar

dan logo, kepada konsumennya selama bertahun-tahun dengan

berbagai cara dan menghabiskan biaya yang sangat banyak.

Namun tiba-tiba ada pihak yang mengunakan nama gambar atau

logo yang serupa atau bahkan sama untuk mendompleng reputasi

perusahaan itu.

Demikian pula seorang seniman yang berkarya dengan jerih

upayanya. Namun kemudian ada pihak lain yang menjiplak

karyanya bahkan mengunakannya untuk hal-hal yang tidak

senonoh dan tidak pantas tanpa seijin sang seniman.

Oleh karena itu salah satu tujuan perlindungan HKI adalah

untuk melindungi reputasi dan kehormatan si pencipta atau

23
penemu. Sebab dalam setiap karya cipta tercermin kehormatan dan

reputasi sang pencipta atau penemu sebagai bentuk dari hak moral.

Hal ini dapat dilihat pada pasal 27 ayat 2 The Declaration of

Human Rights yaitu :

“Everyone has the rights protection of the moral and


material interest resulting from any scientific, literary or
artistic production of which he is the author.”

c. Dorongan dan Imbalan Dari Inovasi dan Penciptaan

Salah satu alasan utama seseorang berkarya adalah sebagai

mata pencaharian. Seorang seniman membuat karya seni, penulis

menulis buku, musisi mencipta lagu dan ilmuwan meneliti dan

menemukan teknologi baru, mereka seringkali melakukannya

untuk memperoleh uang sebagai sumber penghidupan. Dalam

proses kreatif dan penciptaan karya itupun seringkali

membutuhkan modal biaya dan waktu serta jerih upaya yang

sangat besar. Maka setiap penemu dan pencipta membutuhkan hak

dan jaminan atas keuntungan ekonomi yang dapat diperoleh dari

karya ciptanya.

Disinilah HKI bekerja, untuk menjamin dan melindungi

hak ekonomi setiap pencipta dan penemu. Maka tidak heran

banyak ahli yang berpendapat HKI sebagai bentuk kompensasi dan

dorongan untuk mencipta. Tanpa ada perlindungan HKI, maka

akan sedikit kemajuan dan inovasi dalam berbagai bidang yang

dapat dicapai dalam peradaban manusia.

24
Perlindungan HKI sendiri disisi lain tidak dapat dilepaskan antara

Kekayaan Intelektual sebagai hak milik eksklusif sang pemegang hak dan hak

masyarakat untuk memperoleh dan mengakses Kekayaan Intelektual itu.

Disinilah diperlukan suatu prinsip yang bertujuan menyeimbangkan antara

kepentingan sang individu pemilik hak dan kepentingan masyarakat, yang

meliputi9 :

a. Prinsip Keadilan (the principle of natural justice)

Pencipta sebuah karya, atau orang lain yang bekerja membuahkan

hasil dari kemampuan intelektualnya, wajar memperoleh imbalan.

Imbalan tersebut dapat berupa materi maupun bukan materi seperti

adanya rasa aman karena dilindungi dan diakui atas hasil karyanya.

Hukum memberikan perlindungan tersebut demi kepentingan

pencipta berupa suatu kekuasaan untuk bertindak dalam rangka

kepentingannya tersebut, maka kita sebut hal itu sebagai hak.

b. Prinsip ekonomi (The economic argument)

Hak milik intelektual ini merupakan hak yang berasal dari hasil

kegiatan kreatif suatu kemampuan daya pikir manusia yang

diekspresikan kepada khayalak ramai berbagai bentuknya, yang

memiliki manfaat dan berguna dalam menunjang kehidupan

manusia, maka hak milik inteluktual merupakan suatu bentuk

kekayaan bagi pemilikannya dalam bentuk pembayaran royalty dan

technical fee.

9
Sunaryati Hartono, Hukum Ekonomi Pembangunan Indonesia, seperti dikutip dalam Tim
Lindsey, Eddy Damian, Simon Butt, Tomi Suryo Utomo, ed., Op.cit., halaman 90

25
c. Prinsip Kebudayaan (the cultural argument)

Bahwa karya manusia itu pada hakekatnya bertujuan untuk

memungkinkannya hidup, dari karya itu akan timbul gerak hidup

yang menghasilkan lebih banyak karya lagi. Dengan demikian

maka pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan, seni

sastra sangat besar artinya bagi peningkatan taraf kehidupan,

peradaban dan martabat manusia.

d. Prinsip Sosial (the social argument)

Hak apapun yang diakui oleh hukum, yang diberikan kepada

perseorangan, persekutuan atau kesatuan tidak boleh semata-mata

untuk kepentingan mereka saja tetapi untuk kepentingan seluruh

masyarakat.

3. Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual Dalam Hukum Internasional

Sejak Konvensi Paris tahun 1883 (The Paris Convention for Protection

of Industrial Property of 1883) dan Konvensi Berne Pertama yang diadakan

tahun 1886 (Berne Convention for the Protection of Literary and Artistic

Works 1886). HKI telah menjadi pokok masalah yang lingkup pembahasannya

tidak hanya dilakukan pada tingkat nasional, tapi juga internasional.

Seiring dengan itu, juga muncul kebutuhan akan kerangka pengaturan

HKI di tingkat internasional. Kerangka ini bertujuan mengatur masalah-

masalah yang berkaitan dengan regulasi hingga penyelesaian sengketa di

bidang HKI, termasuk didalamnya pembentukan badan resmi di bidang HKI.

Ada dua kerangka internasional di bidang HKI yang umumnya diikuti oleh

26
komunitas internasional. Dua kerangka itu adalah WIPO (World Intellectual

Property Organization) dan TRIPS (Agreement on Trade Related Aspect of

Intellectual Property Rights) yang merupakan bagian dari GATTS/WTO.

Secara kelembagaan, WIPO maupun TRIPS berada dalam kotak yang

berbeda. WIPO merupakan bagian dari PBB sementara TRIPS merupakan

bagian dari GATTS/WTO. Dengan demikian, maka keanggotaannya pun

berbeda. Misalkan Indonesia sebagai anggota baik WIPO maupun WTO.

Indonesia memperoleh hak dan kewajibannya dari keanggotaan WIPO dan

perjanjian internasional yang diselenggarakan WIPO, terpisah dari hak dan

kewajiban dari TRIPS yang diperoleh Indonesia sebagai anggota WTO.

Meski demikian, terjadi tumpang tindih dari segi substansi antara

peejanjian-perjanjian WIPO dan perjanjian-perjanjian TRIPS, sehingga

penting untuk dipahami hubungan organik dua lembaga. Secara khusus

persetujuan TRIPS mewajibkan semua anggota WTO untuk menetapkan

hukum nasional yang isinya sesuai dengan aturan-aturan baik Konvensi Paris

maupun Konvensi Berne (dengan adanya pengecualian kecil, contohnya Pasal

9 ayat (1) TRIPS yang menegaskan berlakunya seluruh isi Konvensi Berne

kecuali Pasal 6bis tentang hak moral), terlepas dari apakah negara tersebut

telah atau belum menjadi anggota kedua konvensi tersebut. TRIPS juga

mengikuti dan mengadaptasi isi pengaturan dalam Konvensi Roma

(International Convention for the Protection of Performers, Producers of

Phonograms and Broadcasting Organizations) maupun Traktat WIPO tentang

Sirkuit Terpadu (Washington Treaty on Intellectual Property in Respect of

27
Integrated Circuits). Standar yang diatur oleh TRIPS dalam beberapa bidang

HKI secara langsung merujuk pada standar WIPO yang dikembangkan,

dijabarkan dan dilaksanakan secara lebih jelas.10

Lebih lanjut mengenai kerjasama dan hubungan resmi antara WIPO

dan WTO, diatur dalam Agreement Between the World Intellectual Property

Organization and the World Trade Organization yang disahkan pada tanggal

22 Desember 1995.

4. Hak Kekayaan Intelektual Dalam Kerangka WIPO

WIPO sebagai organisasi internasional yang mengurus bidang HKI

didirikan pertama kali pada tahun 1967 lewat Convention on Establishing the

World Intellectual Property Organization. WIPO merupakan salah satu dari

15 badan khusus (special agent) PBB yang didirikan sebagai kelanjutan dari

sekretariat Konvensi Berne dan Konvensi Paris11. Tujuan utama di dirikannya

WIPO adalah untuk

“...promote the protection of intellectual property throughout the


world throuh cooperation among states and where appropriate, in
collaboration with any other international organization and to ensure
administrative cooperation among the intellectual property union.”

Maka dapat kita pahami bahwa tujuan berdirinya WIPO adalah untuk

mendorong perlindungan HKI di dunia melalui kerjasama antara negara dan

kolaborasi dengan organisasi internasional lainnya serta memastikan

kerjasama adinistratif diantara badan-badan HKI.

10
Ibid., halaman 29
11
Budi santoso, Op.cit., halaman 24

28
WIPO kemudian berperan dalam menyusun dan menghasilkan

berbagai konvensi internasional di bidang HKI. Konvensi internasional yang

dihasilkan WIPO meliputi 4 kategori utama, yaitu12:

Tabel 1: Instrumen Internasional mengenai Hak Kekayaan Intelektual berdasarkan


kategorinya masing-masing
Kategori Instrumen Internasional
a. General Convention  International Convention for the Protection

of New Varities of Plants (UPOV)

 Convention on Establishing the World

Intellectual Property Organization

b. Intellectual Property  Berne Convention on Protection of Literary

Protection Treaties; and Artistic Works

 Convention for the Protection of Producers

of Phonograms Againts Unathourized

Duplication of Their Phonograms

 Madrid Agreement for the Repression of

False or Deceptive Indications of Souces on

Goods

 Nairobi Traties on the Protection of

Olympic Symbol

 Paris Convention for the Protection of

Industrial Property

12
Loc.cit., 2007

29
 Patent Law Treaty

 Trademark Law Treaty

 Treaty on the International Registration of

Audiovisual Works

 Washington Treaty on Intellectual Property

in Respect of Integrated Circuits

 WIPO Copyright Treaty

 WIPO Performances and Phonograms

Treaty

c. Global Protection  Budapest Treaty on International


System Treaty
Recognation of The Deposit of

Microorganisms for the Purpose of Patent

Procedure

 Hague Agreement Concerning the

International Deposit of Industrial Designs

 Lisbon Agreement for the Protection of

Appelation of Origin and Their

International Registration

 Madrid Agreement Concerning the

International Registration of Marks

 Patent Cooperation Treaty

30
d. Classification Treaty  Locarno Agreement Establishing an

International Classification for Industrial

Designs

 Nice Agreement Concerning International

Classification of Goods and Services for the

Purpose of the Registration of Marks

 Strauborg Agreement Concerning the

International Patent Classification

 Vienna Agreement Establishing an

International Classification of the

Figurative Elements of Marks

Selain itu, berdasar Pasal 2 angka (viii) Convention on Establishing the

World Intellectual Property Organization di Stockholm pada 14 Juli 1967,

WIPO menetapkan bahwa klasifikasi hak kekayaan intelektual terdiri dari:

a. literary, artistic and scientific works,

b. performances of performing artists, phonograms and broadcasts,

c. inventions in all fields of human endeavor,

d. scientific discoveries,

e. industrial designs,

f. trademarks, service marks and commercial names and

designations,

g. protection against unfair competition,

31
h. and all other rights resulting from intellectual activity in the

industrial, scientific, literary or artistic fields.”

Untuk literary, artistic dan scientific works berada pada lingkup Hak Cipta.

Sementara untuk performance of performing artists, phonograms dan

broadcasts biasanya disebut sebagai hak terkait (related rights). Sedangkan

invensi, desain industri, mereka berada pada bagian hak industri (Industrial

Rights).

5. Hak Kekayaan Intelektual Dalam Kerangka TRIPS

Diluar kerangka WIPO, masalah-masalah HKI di tingkat internasional

juga diatur oleh kerangka TRIPS (Agreement on Trade Related Aspect of

Intellectual Property Rights). TRIPS dihasilkan dari Uruguay Round tahun

1994 sebagai bagian dari kesepakatan pendirian WTO (World Trade

Organization). Ratifikasi dan pelaksanaan TRIPS kedalam hukum nasional

kemudian menjadi kewajiban bagi negara anggota WTO sesuai asas pacta

sunt servanda. Hingga saat ini TRIPS telah diratifikasi lebih dari 150 negara

anggota WTO, termasuk Indonesia.

Tujuan utama TRIPS adalah untuk memaksimalkan kontribusi HKI

terhadap pertumbuhan ekonomi melalui perdagangan dan investasi. Dalam

Pasal 7 Bagian I tentang General Provisions and Basic Principles dalam

TRIPS, dijelaskan bahwa:

“The protection and enforcement of intellectual property rights should


contribute to the promotion of technological innovation and to the
transfer and dissemination of technology, to the mutual advantage of
producers and users of technological knowledge and in a manner

32
conducive to social and economic welfare, and to a balance of rights
and obligations.“

Maka dijelaskan bahwa tujuan utama TRIPS dalam perlindungan dan

penegakan HKI adalah untuk memberikan kontribusi dalam mendorong

inovasi teknologi dan alih teknologi serta penyebaran teknologi. Dengan

tujuan bagi keuntungan bersama baik bagi produser maupun penguna ilmu

teknologi dan dengan cara yang kondusif bagi kesejahteraan ekonomi dan

sosial, serta bagi keseimbangan antara hak dan kewajiban.

Karena perlindungan HKI dalam kerangka TRIPS hanya terbatas pada

sektor perdagangan dan investasi, maka menurut Tim Lindsey dkk,

perlindungan TRIPS memiliki karakteristik yang berbeda, yaitu13:

a. Pengertian bahwa perlindungan HKI yang seimbang dan efektif

merupakan suatu masalah perdagangan, dan untuk itu diarahkan ke

dalam suatu sistim aturan perdagangan multilateral yang lebih luas.

b. Lingkup aturan hukum yang lebih menyeluruh, termasuk Hak

Cipta, Hak Terkait, dan Kekayaan Industri dalam satu perjanjian

internasional.

c. Pengaturan-pengaturan rinci mengenai penegakkan dan

administrasi HKI dalam sistim hukum nasional.

d. Pengunaan mekanisme penyelesaian sengketa WTO.

e. Pembuatan proses-proses yang transparan dan terstruktur untuk

mendorong pemahaman yang lebih rinci dari hukum HKI nasional

negara-negara anggota WTO.

13
Tim Lindsey, Eddy Damian, Simon Butt, Tomi Suryo Utomo, ed., Op.cit., halaman 31

33
Karena itu peran TRIPS dalam WTO, untuk dapat mendorong

terwujudnya iklim perdagangan dan investasi yang kondusif rezim HKI,

terwujud dengan14:

a. Menetapkan standar minimum perlindungan HKI dalam sistim

hukum nasional negara-negara anggota WTO.

b. Menetapkan standar bagi administrasi dan penegakan HKI dalam

hukum nasional negara-negara anggota WTO.

c. Menciptakan suatu mekanisme yang transparan dimana setiap

anggota WTO wajib menyediakan rincian mengenai sistem dan

hukum HKI nasionalnya.

d. Menciptakan sistem penyelesaian sengketa yang efektif dan dapat

diprediksi untuk menyelesaikan sengketa HKI diantara negara

anggota WTO.

e. Memastikan adanya mekanisme yang memastikan bahwa sistem

HKI nasional mendukung tujuan-tujuan kebijakan publik yang

telah diterima luas.

f. Menyediakan mekanisme untuk menghadapi penyalahgunaan

sistem HKI.

Dalam kerangka WTO sendiri, klasifikasi HKI yang digunakan

meliputi tertuang dalam suatu persetujuan yang disebut dengan TRIPS. Hal ini

lebih khusus lagi diatur pada Bagian II tentang Standards Concerning the

14
Ibid, halaman 36

34
Availablity, Scope and Use of Intellectual Property Rights. Lebih lengkapnya

lagi klasifikasi HKI berdasarkan TRIPS terdiri dari15:

a. Copyrights and Related Rights

b. Trademarks

c. Geographical Indications

d. Industrial Designs

e. Patents

f. Layout-designs (Topographies) of Integrated Circuits

g. Protection of Undisclosed Information

h. Control of Anti-Competitive Practices in Contractual Licences

Klasifikasi TRIPS inilah yang selama ini umum digunakan di Indonesia dan

negara-negara anggota WTO lainnya. Klasifikasi yang digunakan oleh TRIPS

sendiri memang tidak seluas klasifikasi yang digunakan oleh WIPO.

Mengingat TRIPS hanya mengatur bidang HKI dalam kaitannya dengan

perdagangan (trade-related).

6. Hak Kekayaan Intelektual Dalam Hukum Nasional Indonesia

Perlindungan dan penegakan HKI sebenarnya telah dilakukan sebelum

jaman kemerdekaan di Indonesia. Antara lain dengan dengan berbagai

peraturan yang dikeluarkan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda yang

meliputi Auteurswet 1912 Stb.1912 No.600 bagi perlindungan Hak Cipta,

Reglement Industriele Eigendom Kolonien Stb.1912 No.545 jo. Stb.1913

15
Budi Agus Riswandi, Hak Kekayaan Intelektual Prospek dan Tantangannya di Indonesia,
(Yogyakarta : 11 Maret 2005) halaman 6

35
No.214 mengenai pelindungan hak merek, dan Octrooweit 1910 S.No.33 yis

S.11-33, S.22-54 mengenai perlindungan hak Paten16.

Telah disadari bahwa tujuan utama diperlukannya perlindungan dan

penegakkan HKI di tingkat nasional. Sistem HKI dibentuk, diikat dan dikelola

untuk mencapai tujuan yang lebih luas, misalnya untuk17:

a. Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perdagangan dan

investasi.

b. Memberikan kontribusi bagi perkembangan teknologi, melalui alih

teknologi secara efektif dan peningkatan kemampuan teknologi

masyarakat lokal.

c. Mendorong usaha-usaha yang memiliki nilai pembeda dan

mempunyai daya saing internasional.

d. Mendorong komersialisasi secara efektif terhadap penemuan-

penemuan dan inovasi masayarakat lokal.

e. Mendorong perkembangan sosial dan budaya.

f. Memberi nilai tambah terhadap ekspor nasional dan melindungi

reputasi ekspor di pasar internasional.

Sesudah era kemerdekaan, komitmen Indonesia akan perlindungan dan

penegakan HKI tidak terkesampingkan. Sesuai aturan peralihan, peraturan-

peraturan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda yang telah ada sebelumnya

pun masih berlaku hingga diganti dengan yang baru atau dinyatakan tidak

berlaku lagi. Pada 11 Oktober 1961, Pemerintah Indonesia mengundangkan

16
Budi santoso, Op.cit., halaman 29
17
Tim Lindsey, Eddy Damian,Simon Butt, Tomi Suryo Utomo, ed., Loc.cit

36
UU No.21 Tahun 1961 tentang Merek Perusahaan dan Merek Perniagaan.

Usaha ini kemudian dilanjutkan dengan mengundangkan UU No.6 Tahun

1982 jo. UU No.7 Tahun 1987 tentang Hak Cipta. Lalu pada tahun 1989

diundangkan UU No.6 Tahun 1989 tentang Paten.

Pada tingkat internasional peran aktif Pemerintah Indonesia juga

tampak. Pemerintah Indonesia turut serta secara aktif dalam berbagai

Konvensi dan kajian internasional di bidang HKI. Hal ini terwujud dalam

komitmen Indonesia dalam mekanisme regional maupun internasional di

bidang HKI, yang meliputi18:

- Keanggotaan aktif di WIPO, diperkuat dengan ratifikasi Konvensi

pembentukan WIPO (Convention on Establishing the World

Intellectual Property Organization) pada tahun 1979.

- Kepatuhan pada Konvensi-Konvensi internasional yang bersifat

mendasar mengenai hukum HKI yang secara subtantif dikelola

WIPO khususnya Konvensi Paris tentang Perlindungan Kekayaan

Industri (The Paris Convention for Protection of Industrial

Property of 1883) yang disahkan tahun 1883, Indonesia menjadi

pihak dalam revisi terakhir lewat Stockholm Act sejak 24 Desember

1950. Selain itu juga pada Konvensi Berne 1886 (Berne

Convention for the Protection of Literary and Artistic Works 1886)

yang diratifikasi beserta perubahan terakhirnya (Paris Act 1971)

oleh Indonesia pada tanggal 5 September 1997. Serta Konvensi

18
Tim Lindsey, Eddy Damian, Simon Butt, Tomi Suryo Utomo, ed., Op.cit., halaman 26

37
Hak Cipta WIPO (WIPO Copyright Treaty), dimana Indonesia

menjadi negara pertama yang meratifikasi pada 5 September 1997.

- Kepatuhan pada perjanjian internasional yang diselenggarakan

WIPO yang bersifat teknis, administratif dan fasilitatif, seperti

Konvensi Kerjasama Paten (Patent Cooperation Treaty), atau

Konvensi Hukum Merek (Trademark Law Treaty).

- Keikutsertaan dalam proses pembuatan kebijakan WIPO, misalnya

panitia kerja mengenai aspek hukum HKI internasional. Selain itu

juga aktif dalam forum konsultasi tentang isu-isu HKI terbaru serta

dalam kegiatan kerjasam WIPO secara tekhnis baik pada tingkat

nasional, regional maupun internasional.

- Keikutsertaan dalam kerjasama regional, misalnya kerangka kerja

ASEAN mengenai kerjasama di bidang HKI, kelompok ahli

kerjasama Asia Pasifik mengenai HKI (IPEG) dan deklarasi politik

yang dibuat bersama seperti Agenda Kerja OSAKA APEC tahun

1995.

- Kepatuhan terhadap instrumen-instrumen internasional mengenai

permasalahan-permasalahan yang terkait dengan sistim HKI.

Misalnya Konvensi Keanekaragaman Hayati (Convention of

Biological Diversity) yang diratifikasi pada tanggal 23 Agustus

1994.

Pada tahun 1994, Indonesia aktif dalam Uruguay Round dan menjadi

anggota WTO. Otomatis Indonesia juga turut meratifikasi kesepakatan-

38
kesepakata yang dihasilkan dalam Uruguay Round lewat UU Nomor 7 Tahun

1994. Termasuk didalam kesepakatan-kesepakatan ini adalah TRIPS, yang

saat ini menjadi garis besar dalam pengaturan dan penegakan HKI di

Indonesia. Undang-Undang yang secara khusus mengatur HKI di Indonesia

hingga saat ini meliputi:

a. UU No. 29 Tahun 2000 tentang Varitas Tanaman

b. UU No. 30 Tahun 2000 Rahasia Dagang

c. UU No. 31 Tahun 2000 Desain Industri

d. UU No. 32 Tahun 2000 Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu

e. UU.No 14 Tahun 2001 Paten

f. UU.No 15 Tahun 2001 Merek

g. UU.No 19 Tahun 2002 Hak Cipta

B. Tinjauan Umum Mengenai Hak Kekayaan Intelektual Tradisional

1. Pengertian dan Jenis Hak Kekayaan Intelektual Tradisional

Salah satu hak yang dimiliki oleh masyarakat adat atas kekayaan

budayanya adalah Hak Kekayaan Intelektual Tradisional. Menurut Edi

Sedyawati, Kekayaan Intelektual Tradisional adalah berupa karya cipta

ataupun pengetahuan yang merupakan hasil kreatifitas seseorang atau

kelompok masyarakat sebagai ungkapan tradisi budaya turun menurun dari

satu generasi ke generasi dalam rangka memenuhi kebutuhan dan

kesejahteraan hidupnya yang ditransmisikan secara lisan dan penciptanya

39
anonim.19 Ciri utama dari hasil karya maupun Pengetahuan Tradisional ini

adalah adanya kearifan dalam hubungan manusia dengan manusia, manusia

dengan alam dan dengan Tuhannya. Ciri lainnya adalah kekayaan intelektual

tradisional ini dilestarikan dan dikembangkan oleh kelompok masyarakat lokal

yang ada di sebagian besar negara berkembang.20

Konsep Kekayaan Intelektual Tradisional sendiri sebenarnya tidak

lepas dari perdebatan. Ada kalangan yang berpandangan bahwa suatu warisan

budaya, apapun bentuknya adalah milik bersama umat manusia. Bukan suatu

bentuk Kekayaan Intelektual yang oleh karenanya dapat diterapkan hak-hak

eksklusif. Namun ada pula kalangan yang berpandangan bahwa warisan

budaya dalam berbagai bentuknya dapat dimasukan dalam kerangka Kekayaan

Intelektual.

Berkaitan dengan ini, maka kita mesti kembali melihat definisi dari

Kekayaan Intelektual itu sendiri, yang merupakan obyek perlindungan dari

rezim HKI. Menurut Konvensi pendirian WIPO, pengertian Kekayaan

Intelektual meliputi produksi dan hal-hal yang luas sifatnya, dalam arti tidak

hanya terbatas pada jenis-jenis HKI yang sudah ada saat ini. Hal tersebut

diungkapkan sebagai berikut21:

“The phrase at the end of the definition in the WIPO Convention (“all
other rights resulting from intellectual activity in the industrial,
scientific, literary or artistic fields”) makes it clear that ‘intellectual

19
Edi Sedyawati, Warisan Tradisi, Penciptaan dan Perlindungan, (Jakarta : 13 Agustus 2003)
halaman 3
20
Kholis Roisah, “Perlindungan hukum Terhadap Kekayaan Intelektual Tradisional,” Majalah
Ilmiah Masalah-Masalah Hukum FH UNDIP edisi Juli-September 2006, halaman 355
21
Basuki Antariksa, Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional : Keterkaitan
Dengan Rezim Hak Kekayaan Intelektual (Biro Kerjasama Luar Negeri Departemen
Kebudayaan dan Pariwisata), halaman 3

40
property’ is a broad concept and can include productions and matter
not forming part of the existing categories of intellectual property,
provided they result ‘from intellectual activity in the industrial,
scientific, literary or artistic fields”.

Berdasarkan pengertian diatas, maka warisan budaya dalam berbagai

bentuknya dapat dimasukan dalam konsep Kekayaan Intelektual. Beberapa

argumen yang diungkapkan di sejumlah literatur memberikan dukungan

terhadap pandangan ini yaitu meliput22:

a. Kekayaan intelektual dan Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi

Budaya Tradisional memiliki karakteristik yang sama, yaitu

merupakan “creation of mind”. Sebagaimana diketahui, baik jenis-

jenis kekayaan intelektual yang saat ini dikenal di dunia maupun

Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional

merupakan sebuah jawaban atas kebutuhan-kebutuhan manusia

dalam meningkatkan kualitas hidupnya dan/atau mempertahankan

eksistensinya; dan

b. Seperti juga kekayaan intelektual, Pengetahuan Tradisional dan

Ekspresi Budaya Tradisional memiliki potensi nilai komersial

karena dapat diperjualbelikan, seperti kerajinan tangan, obat

tradisional dan sebagainya, dan bahkan dapat dikembangkan

menjadi bagian dari kekayaan intelektual.

Berangkat dari konsep kekayaan intelektual tradisional ini,

berkembang berbagai bentuk kekayaan intelektual tradisional, baik berupa

22
Basuki Antariksa, Pedoman Umum Upaya Perlindungan Kekayaan Intelektual Atas
Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional (Biro Kerjasama Luar Negeri
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata: 2007), halaman 8

41
Pengetahuan Tradisional (Traditional Knowledge) maupun Ekspresi Budaya

Tradisional (Traditional Cultural Expressions/Expressions of Folklore).

Selain itu Kekayaan Hayati dan Keanekaragaman Hayati (Genetic Resources)

juga sering digolongkan sebagai Kekayaan Intelektual Tradisional23. Dari situ

dapat kita pahami ada tiga bentuk Kekayaan Intelektual Tradisional yang

berbeda satu sama lain, namun merupakan bagian dari kekayaan budaya

tradisional dan membutuhkan perlindungan khusus.

Bentuk pertama, adalah Ekspresi Budaya Tradisional atau dikenal

dengan istilah Traditional Cultural Expressions atau Expressions of Folklore.

Sulit mendapat pengertian baku dari Ekspresi Budaya Tradisional. Istilah

Ekspresi Budaya Tradisional digunakan dalam WIPO-UNESCO Model

Provisions for National Laws on the Protection of Expressions of Folklore

Against Illicit Exploitation and Other Prejudicial Actions (Model Provisions


24
1982) untuk menjelaskan :

““Expressions of folklore” means poductions consisting of


characteristic elements of traditional artistic heritage developed and
maintained by a community of [name of the country] or by individuals
reflecting the traditional artistic expectations of such a community, in
particular :
1. verbal expressions, such as: folk tales, folk poetry, and riddles;
2. musical expressions, such as folk songs and instrumental
music;
3. expressions by action, such as folk dances, plays, and artistic
forms or rituals;
Whether or not reduced to a material form; and
4. tangible expressions, such as:

23
A. Zen Umar Purba, Peta Mutakhir Hak Kekayaan Intelektual Indonesia, (Jakarta : 29 Januari
2002), halaman 10
24
Lihat Section 2 dari WIPO-UNESCO Model Provisions for National Laws on the Protection of
Expressions of Folklore Against Illicit Exploitation and Other Prejudicial Actions 1982

42
- productions of folk art, in particular, drawings, paintings,
carvings, sculptures, pottery, terracotta, mosaic,
woodwork, metalware, jewelry, basket weaving,
needlework, textiles, carpets, costumes;
- musical instruments
- architectural forms;”

Maka dapat kita pahami bahwa Ekspresi Budaya Tradisional adalah bentuk

ekspresi sosial budaya yang dituangkan dalam bentuk ekspresi seni, baik

yanag berbentuk karya seni dan sastra verbal maupun non-verbal, maupun

yang memiliki bentuk yang bersifat wujud (tangible) seperti kerajinan

tradisional, instrumen musik tradisional hingga pola arsitektur.

Pengertian Ekspresi Budaya Tradisional yang diperoleh dari Model

Provision 1982 diatas, hampir sama dengan pengertian yang ada dalam

penjelasan Pasal 10 ayat (2) UU Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.

Dimana pada pasal tersebut dijelaskan bahwa apa yang dimaksud sebagai

folklor adalah sekumpulan ciptaan tradisional, baik yang dibuat oleh

kelompok maupun perorangan dalam masyarakat, yang menunjukkan identitas

sosial dan budayanya berdasarkan standar dan nilai-nilai yang diucapkan atau

diikuti secara turun temurun, termasuk:

- cerita rakyat, puisi rakyat;

- lagu-lagu rakyat dan musik instrumen tradisional;

- tari-tarian rakyat, permainan tradisional;

- hasil seni antara lain berupa: lukisan, gambar, ukiran-ukiran,

pahatan, mosaik, perhiasan, kerajinan tangan, pakaian, instrumen

musik dan tenun tradisional.

43
Selanjutnya dalam penjelasan juga disebutkan bahwa dalam rangka

melindungi Ekspresi Budaya Tradisional dan hasil kebudayaan rakyat lain,

Pemerintah dapat mencegah adanya monopoli atau komersialisasi serta

tindakan yang merusak atau pemanfaatan komersial tanpa seizin negara

Republik Indonesia sebagai Pemegang Hak Cipta. Ketentuan ini dimaksudkan

untuk menghindari tindakan pihak asing yang dapat merusak nilai kebudayaan

tersebut.

Lebih lanjut mengenai Ekspresi Budaya Tradisional dan

perlindungannya akan dibahas dalam bab IV.

Bentuk kedua, adalah Pengetahuan Tradisional (Traditional

Knowledge) yang sering juga disebut dengan istilah indigenous knowledge

atau local knowledge. Dalam Pasal 8 (j) Convention of Biological Diversity,

disebutkan pengertian dari Pengetahuan Tradisional (Traditional Knowledge)

adalah :“… knowledge, innovations and practices of indigenous and local

communities embodying traditional lifestyles relevant for the conservation and

sustainable use of biological diversity…”

Dari definisi diatas, dapat kita batasi bahwa Pengetahuan Tradisional

adalah hal-hal yang bersifat invensi, praktik maupun teknologi yang dilakukan

oleh masyarakat adat sebagai bagian dari kebudayaan tradisional mereka.

Perlindungan terhadap Pengetahuan Tradisional (Traditional

Knowledge) sendiri pada awalnya diletakkan bersama Ekspresi Budaya

Tradisional dalam kerangka perlindungan Hak Cipta. Namun karena dirasa

terlalu sempit dan tidak dapat memenuhi kebutuhan perlindungan, kemudian

44
Pengetahuan Tradisional (Traditional Knowledge) dan Ekspresi Budaya

Tradisional diletakkan dalam kerangka terpisah. Mengingat Pengetahuan

Tradisional memiliki cakupan yang lebih luas, termasuk pengetahuan

mengenai tumbuhan dan binatang, dalam hal pengobatan dan makanan serta

lainnya yang memerlukan kerangka perlindungan lain diluar Hak Cipta, yaitu

Paten dan Keanekaragaman Hayati25.

Menurut Stephen A. Hansen dan Justin W. VanFleet, definisi dari

Pengetahuan Tradisional adalah 26:

“… the information that people in a given community, based on


experience and adaptation to a local culture and environment,have
developed over time, and continue to develop. This knowledge is used
to sustain the community and its culture and to maintain the genetic
resources necessary for the continued survival of the community.”

Dari definisi ini, maka dapat kita ketahui bahwa ciri Pengetahuan Tradisional

(Traditional Knowledge) adalah :

a. Berupa informasi yang ada ditengah masyarakat, berdasarkan

pengalaman dan adaptasi terhadap budaya lokal dan alam sekitar.

b. Telah berkembang untuk jangka waktu yang lama dan terus

berkembang.

c. Berfungsi untuk menjalankan masyarakat adat dan budayanya serta

melestarikan Keanekaragaman Hayati yang berperan penting

dalam kelangsungan hidup masyarakat adat.

25
Michael Blakeney, Intellectual Property in The Dreamtime-Protecting the Cultural Creativity of
Indigenous People, (9 November 1999) halaman 2
26
Stephen A. Hansen dan Justin W. VanFleet, Traditional Knowledge and Intellectual Property:
A Handbook on Issues and Options for Traditional Knowledge Holders in Protecting their
Intellectual Property and Maintaining Biological Diversity, (Washington : Juli 2003), halaman 3

45
Dari pengertian dan pembatasan ini, maka yang termasuk dalam

Pengetahuan Tradisional (Traditional Knowledge) antara lain27 seperti

pengunaan turmeric di India sebagai penyembuh luka, pengunaan ayahuasca

di pedalaman hutan Amazon untuk tujuan religius dan penyembuhan dan

pengunaan j’oublie di Kamerun dan Gabon sebagai pemanis.

Bentuk ketiga adalah bentuk khusus dari Pengetahuan Tradisional,

yaitu Pengetahuan Tradisional dalam kaitan Keanekaragaman Hayati (Genetic

Resources). Keanekaragaman Hayati berkaitan erat dengan Pengetahuan

Tradisional dibidang pemanfaatan kekayaan hayati. Terutama pada

masyarakat adat di negara-negara berkembang yang memiliki tradisi dan adat

istiadat yang masih mengakar kuat. Kekayaan hayati oleh masyarakat adat

dieksploitasi dengan tetap memperhatikan nilai-nilai tradisional yang

berkaitan dengan konservasi dan pengunaan berkelanjutan untuk

menghasilkan karya cipta ataupun temuan-temuan lainnya28.

Sama seperti negara berkembang, bagi perusahaan-perusahaan dan

lembaga-lembaga di negara maju sumber daya hayati juga sangat penting.

Pemanfaatan sumber daya hayati seringkali mendatangkan keuntungan

komersil yang tak sedikit sekaligus berperan besar dalam kemajuan riset dan

ilmu pengetahuan, terutama di bidang bioteknologi. Seringkali pula berbagai

riset dan invensi baru yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya hayati

merupakan sekedar pengembangan dari Pengetahuan Tradisional yang sudah

dikenal sejak lama oleh masyarakat adat. Namun berbeda dengan masyarakat

27
Loc.cit, 2003
28
Kholis Roisah, Op.cit., halaman 360

46
adat negara berkembang yang masih mengunakan dan menghormati

Pengetahuan Tradisional yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya

hayati. Eksploitasi yang dilakukan oleh berbagai perusahaan dan lembaga dari

negara maju seringkali kental dengan unsur komersialisasi tanpa

memperhatikan nilai–nilai tradisional masyarakat adat di negara berkembang.

Sering pula dikeluhkan tidak adanya penghormatan moril maupun kompensasi

materiil yang layak bagi masyarakat adat yang memiliki dan telah

mengembangkan Pengetahuan Tradisional tersebut.

Karena itu dibutuhkan akses dan pembagian keuntungan yang adil

dalam konteks pemanfaatan sumber daya hayati. Disinilah fungsi hak atas

Keanekaragaman Hayati (Genetic Resources). Maka dalam Pasal 8 huruf (j)

Convention on Biological Diversity, dinyatakan bahwa:

“Subject to its national legislation, respect, preserve and maintain


knowledge, innovations and practices of indigenous and local
communities embodying traditional lifestyles relevant for the
conservation and sustainable use of biological diversity and promote
their wider application with the approval and involvement of the
holders of such knowledge, innovations and practices and encourage
the equitable sharing of the benefits arising from the utilization of such
knowledge, innovations and practices.”

Pasal ini menjelaskan bahwa adanya kewajiban dari negara terhadap

perlindungan hak masyarakat adat atas Pengetahuan Tradisional yang mereka

miliki, terutama dalam kaitannya dengan pemanfaatan kekayaan hayati. Dari

pasal ini dapat kita ambil kesimpulan bahwa tiap negara wajib untuk:

a. Menghormati, melestarikan, dan mempertahankan pengetahuan,

inovasi-inovasi dan praktik masyarakat adat dan lokal yang

47
mencakup tata cara hidup tradisional yang relevan dalam

pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan dari kenekaragaman

hayati.

b. Mendorong penerapan lebih luas dari pengetahuan, inovasi-inovasi

dan praktik tersebut dengan persetujuan dan keterlibatan

pemiliknya.

c. Mendukung pembagian yang adil atas keuntungan dan

pemanfaatan pengetahuan, inovasi-inovasi dan praktek tersebut.

Dalam tatanan hukum Indonesia, Convention on Biological Diversity

telah diratifikasi lewat UU Nomor 5 Tahun 1994. Namun dalam proses

pelaksanaannya belum berjalan karena belum adanya peraturan yang mengatur

lebih lanjut (implementing legislation).

2. Dasar Perlindungan Terhadap Kekayaan Intelektual Tradisional

Pada dasarnya setiap orang memiliki hak berbudaya. Hak ini

merupakan salah satu hak asasi mendasar yang dimiliki secara hakiki oleh

manusia. Dengan adanya hak ini, setiap orang dapat berperan aktif kehidupan

budaya dalam masyarakat, terutama masyarakat adat dimana ia menjadi

bagian nyata daripada masyarakat tersebut. Keberadaan hak budaya

memperoleh penegasan sebagai salah satu pasal dalam UN Universal

Declaration of Human Rights yang menyatakan :

“Everyone has the right freely to participate in the cultural life of the
community, to enjoy the arts and to share in scientific advancement
and its benefits. “

48
Lebih jauh kemudian pernyataan pasal ini dijabarkan kembali

kemudian dalam Pasal 15 International Covenant on Economic, Social and

Cultural Rights (ICESCR), yang menyatakan bahwa :

“The States Parties to the present Covenant recognize the right of


everyone:
(a) To take part in cultural life;
(b) To enjoy the benefits of scientific progress and its applications;
(c) To benefit from the protection of the moral and material interests
resulting from any scientific, literary or artistic production of which he
is the author.”

Selain itu setiap orang juga memperoleh perlindungan atas kepentingan

materiil maupun moril yang ia peroleh dari peran sertanya dalam kehidupan

budaya tersebut (Pasal 27 ayat 2 UN Universal Declaration of Human Rights).

Oleh karena itu hak berbudaya memiliki kedudukan penting tidak

hanya sebagai bagian dari hak asasi tiap individu, tapi bagian tak terpisahkan

dari masyarakat adat dimana sang individu menjadi anggota. Hak berbudaya

tidak lagi hanya dapat diterjemahkan sebagai hak individual, tetapi sebagai

hak kolektif yang dimiliki oleh masyarakat adat. Disadari pula, lewat hak

berbudaya ini muncullah kekayaan budaya yang merupakan bagian dari

struktur politik, sosial, ekonomi atau bahkan religius, spiritual, historis dan

filosofis dari masyarakat adat tersebut. Kekayaan budaya ini haruslah

dihormati sebagai bagian penting dalam kehidupan, keberadaan, dan

perkembangan masyarakat adat.

Berangkat dari kesadaran itu, maka dalam United Nations Declaration

on the Rights of Indigenous Peoples yang disahkan pada 13 September 2007,

dinyatakan bahwa Majelis Umum PBB mengakui "..the urgent need to

49
respect and promote the inherent rights of indigenous peoples which derive

from their political, economic and social structures and from their cultures,

spiritual traditions, histories and philosophies.." dan menyatakan bahwa "..

that indigenous peoples possess collective rights which are indispensable for

their existence, well-being and integral development as peoples.."

Lebih jauh dalam United Nations Declaration on the Rights of

Indigenous Peoples, dinyatakan bahwa masyarakat adat sendiri memiliki hak

untuk menjalankan dan menghidupkan tradisi dan kebiasaan budayanya.

Termasuk dalam merawat, melindungi dan mengembangkan kebudayaan itu

dalam bentuk apapun. Dalam pelaksanaan hak tersebut, kemudian pemerintah

juga wajib turut serta memfasilitasi secara layak dan hormat. Hal ini kemudian

dipertegas dalam Pasal 11 ayat 1 dan 2 United Nations Declaration on the

Rights of Indigenous Peoples yang menyatakan bahwa :

“Indigenous peoples have the right to practise and revitalize their


cultural traditions and customs. This includes the right to maintain,
protect and develop the past, present and future manifestations of their
cultures, such as archaeological and historical sites, artefacts,
designs, ceremonies, technologies and visual and performing arts and
literature.”
“States shall provide redress through effective mechanisms, which
may include restitution, developed in conjunction with indigenous
peoples, with respect to their cultural, intellectual, religious and
spiritual property taken without their free, prior and informed consent
or in violation of their laws, traditions and customs.”

Selanjutnya kebih jauh dalam pasal 31 ayat 1 dan 2 United Nations

Declaration on the Rights of Indigenous Peoples dinyatakan bahwa:

"Indigenous peoples have the right to maintain, control, protect and


develop their cultural heritage, traditional knowledge and traditional

50
cultural expressions, as well as the manifestations of their sciences,
technologies and cultures, including human and genetic resources,
seeds, medicines, knowledge of the properties of fauna and flora, oral
traditions, literatures, designs, sports and traditional games and visual
and performing arts. They also have the right to maintain, control,
protect and develop their intellectual property over such cultural
heritage, traditional knowledge, and traditional cultural expressions."
"In conjunction with indigenous peoples, States shall take effective
measures to recognize and protect the exercise of these rights."

Dalam pasal ini, United Nations Declaration on the Rights of

Indigenous Peoples menyatakan bahwa masyarakat adat memiliki hak untuk

merawat, mengendalikan, dan melindungi warisan budaya tradisional (cultural

heritage), Pengetahuan Tradisional (Traditional Knowledge), ekspresi budaya

traditional (Traditional Cultural Expressions/Expressions of Folklore) serta

segala bentuk manifestasi dari ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya

masyarakat tersebut. Selain itu mereka juga memiliki Hak atas Kekayaan

Intelektual yang terdapat pada segenap bentuk dan hasil dari kekayaan budaya

tersebut diatas dan pemerintah memiliki kewajiban untuk memberi

perlindungan secara efektif atas hak tersebut.

Karena itulah kewajiban perlindungan terhadap hak masyarakat atas

kekayaan budaya tradisional ini disadari penting oleh pemerintah. Kewajiban

ini menjadi salah satu kewajiban konstitusional negara sesuai yang tercantum

dalam UUD 1945 Amandemen. Dimana negara menghormati kebudayaan

tradisional dari masyarakat adat sebagai bagian dari kebudayaan nasional

Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat

dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya. Selanjutnya

dalam pasal 18B ayat (2) UUD 1945 Amandemen dinyatakan bahwa :

51
“Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat
hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan
sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan
Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang.”

C. Ekspresi Budaya Tradisional (Traditional Cultural

Expression/Expressions of Folklore) Sebagai Bentuk Dari Kekayaan

Intelektual Tradisional

Salah satu bentuk kekayaan intelektual tradisional yang dilindungi

lewat HKI Tradisional adalah Ekspresi Budaya Tradisional. Perlindungan

terhadap Ekspresi Budaya Tradisional yang akan menjadi fokus utama

penulisan hukum ini.

Traditional Cultural Expression atau Expressions of Folklore sendiri

bukanlah satu-satunya istilah untuk Ekspresi Budaya Tradisional. Banyak

istilah lain yang juga digunakan, mulai dari folklore, foklor (yang merupakan

serapan dari folklore), hingga indegenous culture and intelectual property.

Penulis sendiri memilih mengunakan istilah Ekspresi Budaya Tradisional

yang merupakan padanan kata dari Traditional Cultural Expression dengan

pertimbangan istilah ini adalah salah satu yang baku digunakan oleh PBB

dalam United Nations Declaration on the Rights of Indigenous Peoples

maupun WIPO sendiri29.

Istilah Ekspresi Budaya Tradisional atau sebelumnya lebih dikenal

sebagai “folklore” pertama kali diperkenalkan oleh William Thoms pada tahun

1846. Dia mengunakan istilah folk-lore dalam suratnya kepada The

29
WIPO Secretariat, Consolidated Analysis of The Legal Protection of Traditional Cultural
Expression/Expression of Folklore, halaman 25

52
Athenaeum untuk mengantikan “popular antiquities” dan “popular

literature.” Folklore yang dimaksud oleh Thoms sendiri adalah kebiasaan,

observasi, takhyul, cerita rakyat, dan seterusnya yang dia anggap sebagai

tradisi masyarakat (lore of the people). Namun sejak kata folklore

diperkenalkan, belum ditemukan definisi yang tepat dan disepakati oleh para

ahli. Muncul beragam definisi berbeda tentang pengertian folklor itu sendiri.

Perbedaan pendapat mengenai definisi foklor ini sendiri muncul misalkan

dalam Standart Dictionary of Folklore yang memiliki dua puluh satu definisi

yang saling berbeda dari folklor30.

Perbedaan definisi inilah yang mesti kita pertimbangkan dalam

menentukan pengertian dari Ekspresi Budaya Tradisional . Setidaknya ada dua

kelompok definisi berbeda yang berangkat dari dua sudut pandang yang

berbeda yang mesti kita cermati. Kelompok definisi pertama berangkat dari

sudut pandang ilmu budaya dan kelompok definisi kedua berangkat dari sudut

pandang perlindungan hukum. Inilah yang akan kita kaji dalam sub-bab

selanjutnya ini.

1. Pengertian Ekspresi Budaya Tradisional Dari Sudut Pandang Pakar

Kebudayaan

Untuk mengkaji pengertian dari Ekspresi Budaya Tradisional ini, kita

mesti melihat terlebih dahulu berbagai macam pengertian yang ada dari sudut

pandang ilmu budaya. Sebagai catatan, kebanyakan ahli budaya tidak

30
P.V. Valsala G. Kutty, National Experiences With The Protection of Expressions of
Folklore/Traditional Cultural Expressions: India, Indonesia and Philipines, halaman 7

53
membedakan antara Pengetahuan Tradisional (Traditional Knowledge) dan

Ekspresi Budaya Tradisional, sebab keduanya adalah bentuk dari folklor.

Menurut para ahli budaya, baik Pengetahuan Tradisional maupun

Ekspresi Budaya Tradisional merupakan dua istilah yang memiliki pengertian

yang sama. Walaupun istilah Pengetahuan Tradisional lebih menekankan pada

technical know-how yang bersifat tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional

menekankan pada ekspresi budaya sebagai bentuk dan bagian dari kebudayaan

itu. Namun pemisahan antara keduanya lebih banyak disebabkan oleh

perbedaan persepsi antara para praktisi (ilmu budaya) dan kalangan penentu

kebijakan (ahli hukum)31. Karena itu mereka lebih banyak mengunakan istilah

folklore atau folklor yang dalam konteksnya merujuk pada baik Pengetahuan

Tradisional maupun Ekspresi Budaya Tradisional , kecuali apabila menurut

para ahli keduanya dapat dipisahkan maupun mesti dipisahkan dalam

konteksnya masing-masing.

Menurut Kusnaka Adhimiharja, Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi

Folklor (istilah yang digunakannya untuk Ekspresi Budaya Tradisional)

merupakan fenomena budaya tradisional yang terletak dalam kesadaran

individu, komunitas bahkan merupakan identitas suatu bangsa32. Adhimiharja

menuntut kita melihat keduanya bukan sebagai kreasi masa lalu yang tuntas

dan sempurna, dalam artian hanya sebagai fenomena budaya yang bersifat

imitasi dan reproduksi atas gagasan, kelembagaan dan produk warisan budaya

tersebut. Menurutnya, budaya tradisional tidak bersifat statis, namun dinamis.


31
Kusnaka Adhimiharja, Jenis Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Folklor Serta
Karakteristiknya, (1 februari 2007) halaman 1
32
Loc.Cit

54
Baik Pengetahuan Tradisional maupun Ekspresi Budaya Tradisional akan

lebih menghasilkan “nilai” apabila berkembang terus menerus bersama

masyarakat pendukungnya. Tidak bersifat meniru, pengulangan atau imitasi

belaka dari apa yang sudah ada.33

Menurut Edi Sedyawati, folklor dalam pengertian baik Pengetahuan

Tradisional maupun Ekspresi Budaya Tradisional merupakan semua jenis

hasil aktivitas manusia yang berlanjut menjadi milik bersama dalam suatu

komuniti, komunitas, maupun masyarakat yang penciptanya anonim dan

ditransmisikan pada prinsipnya secara lisan. Pengertian ini tidak memisahkan

antara Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional, namun bila

keduanya dipisahkan, maka Ekspresi Budaya Tradisional dapat dibatasi pada

bentuk folklor yang bersifat ekspresif saja, khususnya dalam hal ini adalah

ungkapan seni34. Pengertian ini juga dapat dibatasi lagi dalam kaitan

perlindungannya, yaitu dalam bentuk yang terdapat pada masyarakat etnik

tradisional. Perlindungan terhadap folklor diawali dari keprihatinan bahwa

folklor itu akan punah, yang apabila terjadi merupakan kerugian pada

khasanah pengetahuan manusia pada umumnya; atau dikhawatirkan dapat

dimanfaatkan secara tidak sah dan tidak adil oleh pihak-pihak diluar

pemiliknya35.

Menurut James Danandjaya, folklor adalah sebagian dari kebudayaan

Indonesia yang tersebar dan diwariskan turun temurun di antara kolektif

macam apa saja, secara tradisional, dalam versi yang berbeda baik dalam
33
Ibid., halaman 3
34
Edi Sedyawati, Loc.cit.,
35
Ibid., halaman 2

55
bentuk lisan maupun contoh yang disertai gerak isyarat, atau alat bantu

pengingat (mnemonic device)36. Folklor sendiri menurut James Danandjaya

dapat dibagi dalam tiga kelompok besar, yang didasarkan pada unsur-unsur

kebudayaan yang menjadi ciri khasnya. Kelompok tersebut terdiri dari37 :

a. Folklor Lisan, yang diperinci lagi dalam bentuk genre :

- Ujaran rakyat (seperti logat, rujukan, pangkat tradisional, dan

gelar kebangsawanan)

- Ungkapan tradisional (seperti pepatah, peribahasa dan pemeo)

- Pertanyaan tradisional (seperti teka-teki)

- Nyanyian rakyat (seperti balada, epos, wira carita)

b. Folklor sebagian lisan yaitu adalah permainan rakyat, teater rakyat,

makanan dan minuman rakyat, dan keprcayaan dan keyakinan

rakyat.

c. Folklor bukan lisan, yang diperinci lagi dalam sub-kelompok :

- Material (seperti arsitektur rakyat, seni kriya rakyat, pakaian

dan perhiasan tubuh rakyat, dan obat-obatan rakyat)

- Non-material (seperti gerak isyarat tradisional rakyat dan

bunyi-bunyian rakyat)

Menurut Valsala G. Kutty, folklor tidak harus berbentuk lisan dan

anonim. Ada bentuk khusus yang bersifat tertulis dan diketahui siapa

penciptanya, namun tetap dianggap folklor karena nilai budaya yang

terkandung dalamnya. Valsala G. Kutty mengutip Allan Dunes yang

36
James Danandjaya, Perlindungan Hukum Terhadap Folklor di Indonesia, halaman 1
37
Loc.cit.,

56
menyebutkan “Since materials other than folklore are also orally transmitted,

the criterion of oral transmission by itself is.” Lebih lanjut, Alan Dunes

menyebutkan38:

“There are some forms of folklore which are manifested and


communicated almost exclusively in the written as opposed to oral
form, such as autograph-book verse, book marginalia, epitaphs, and
traditional letters. In actual practice a professional folklorist does not
go so far as to say that a folktale or a ballad is not folklore, simply
because it has at some time in its life history been transmitted by script
or print. But he would argue that if a folktale or a ballad had never
been in the oral tradition, it is not folklore. It might be a literary
production based upon a folk model.”

Karena itu, Valsala G. Kutty berpendapat bahwa kurang bijak untuk

menganggap semua yang bersifat lisan sebagai folklor. Lebih beralasan jika

membatasi folklor pada aspek kreatif dari satu komunitas, yang tercermin

dalam kehidupan sehari-hari dan terwujud dalam bentuk material maupun

non-material, daripada hanya merujuk pada bentuk penyampaian, apakah itu

lisan maupun tulisan.39 Maka karena itu Valsala G. Kutty juga mengolongkan

kesastraan tradisional India seperti Mahabrata dan Ramayana, hingga Kitab

Seni Perang Tradisional karangan Sun Tzu dalam kesustraan tradisional Cina

sebagai bentuk dari folklor.

Lebih lanjut, Valsala G. Kutty membegi folklor menjadi empat bentuk,

yaitu meliputi40:

38
P.V. Valsala G. Kutty, Loc.cit.,
39
“However, it may not be wise to consider all that is passed on orally as folklore. It is, perhaps,
more reasonable to limit folklore to the creative aspects of a society, as reflected in its day-to-
day life and expressed in material or non-material forms, rather than referring purely to the
form of transmission, whether written or oral.” Lihat Ibid. halaman 7
40
Ibid, halaman 8-9

57
a. Literatur Tradisional (Folk Literature)

Berbagai bentuk cerita rakyat dan dongeng, mite serta tahyul yang

populer dalam satu komunitas. Selain itu dapat pula berupa

anekdot, cerita pendek pepatah, permainan teka-teki dan berbagai

bentuk lainnya yang populer.

Umumnya, literatur tradisional disampaikan lisan, namun ada juga

sebagian yang kemudian diabadikan dalam bentuk tulisan, dan ada

juga sebagian yang sudah ada dalam bentuk tulisan sejak awal.

b. Praktik Tradisional (Folk Practices)

Segala bentuk praktik yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-

hari dalam komunitas tradisional tertentu. Baik berupa kebiasaan,

ritual, festival dan berbagai bentuk lainnya.

c. Seni dan budaya Tradisional (Folk arts or artistic folklore)

Termasuk yang bersifat performing arts seperti lagu dan tarian

tradisional. Dapat pula bersifat non-performing arts seperti lukisan,

ukiran, rajutan, pakaian dan sebagainya.

d. Pengetahuan Tradisional (Folk Science and Technology)

Berbagai metode dan pengetahuan yang digunakan dalam

masyarakat tradisional. Mulai dari metode pengobatan, arsitektur

hingga pembuatan barang kerajinan. Bersifat teknologi.

58
2. Pengertian Ekspresi Budaya Tradisional Dari Sudut Pandang Pakar

Hukum

Perbedaan definisi juga terjadi ketika kita bicara mengenai masalah

perlindungan folklor. Tak jauh berbeda dengan apa yang terjadi dalam ilmu

budaya, ketika kita mesti bicara dari sudut pandang perlindungan pun, banyak

silang pendapat antara para ahli yang terlibat. Oleh karena itu sejak

pertengahan 1980-an, baik WIPO dan UNESCO telah berusaha menyatukan

berbagai pendapat dan pemikiran yang berbeda dalam masalah perlindungan

terhadap Ekspresi Budaya Tradisional.

Salah satu usaha untuk menyatukan berbagai pikiran dan pemahaman

berbeda tersebut dilakukan WIPO dan UNESCO antara lain dalam pertemuan

Group of Experts on The Protection of Expressions of Folklore by Intellectual

Property pada tahun 1982. Lewat pertemuan ini diperoleh definisi folklor

sebagai obyek perlindungan, yaitu adalah41 :

“Folklore (in broader sense traditional and popular folk culture) is a


group-oriented and tradition-based creation of groups and individuals
reflecting the expectations of community as an adequate expression of
its cultural and social identity; its standards are transmited orally, by
imitation or by other means. Its forms include, among others,
language, literature, music dance, games, mythology, rituals, customs,
handicrafts, architecture and other arts.”

Definisi ini segera menuai kritik karena dianggap terlalu sempit dalam

memahami konsep perlindungan terhadap folklor dalam bentuk ekspresi

budaya sendiri. Sebab dalam prakteknya, folklor sendiri tidak hanya

41
Michael Blakeney, Protecting Traditional Cultural Expressions : The International Dimension,
halaman 3

59
mencakup ekspresi budaya saja, tapi juga dapat berbentuk technological

know-how dalam lingkup Pengetahuan Tradisional.

Karena itu kemudian diperkenalkan istilah yang disebut “Expression of

Folklore.” Istilah ini digunakan untuk mendefinisikan bentuk folklor secara

khusus, yaitu folklor sebagai bentuk ekspresi budaya. Dalam Model

Provisions for National Laws on the Protection of Expressions of Folklore

Against Illicit Exploitation and Other Prejudicial Actions 1982 istilah ini

digunakan untuk menjelaskan42:

““Expressions of folklore” means poductions consisting of


characteristic elements of traditional artistic heritage developed and
maintained by a community of [name of the country] or by individuals
reflecting the traditional artistic expectations of such a community, in
particular :
1. verbal expressions, such as: folk tales, folk poetry, and riddles;
2. musical expressions, such as folk songs and instrumental music;
3. expressions by action, such as folk dances, plays, and artistic
forms or rituals; Whether or not reduced to a material form; and
4. tangible expressions, such as:
- productions of folk art, in particular, drawings, paintings,
carvings, sculptures, pottery, terracotta, mosaic, woodwork,
metalware, jewelry, basket weaving, needlework, textiles,
carpets, costumes;
- musical instruments
- architectural forms;”

Definisi dari istilah ekspresi folklor (Expression of Folklore) dalam Model

Provision 1982 inipun tidak dapat dianggap baku. Definisi ini tidak berusaha

mengkaji secara mendalam pengertian dari Ekspresi Budaya Tradisional,

42
Lihat Section 2 dari WIPO-UNESCO Model Provisions for National Laws on the Protection of
Expressions of Folklore against Illicit Exploitation and Other Prejudicial Actions 1982

60
tetapi lebih berfokus pada bentuk-bentuk Ekspresi Budaya Tradisional yang

dapat dilindungi.

Usaha penyempurnaan selanjutnya adalah dengan ditambahkan

karakteristik tertentu yang dianggap menjadi ciri dari Ekspresi Budaya

Tradisional sebagai usaha untuk melengkapi definisi yang telah ada. Dalam

Revised Draft Provision For The Protection of Traditional Cultural

Expressions/Expressions of Folklore didefinisikan bahwa :

““Traditional cultural expressions” or “expressions of folklore” are


any forms, whether tangible and intangible, in which traditional
culture and knowledge are expressed, appear or are manifested, and
comprise the following forms of expressions or combinations thereof:
1. verbal expressions, such as: stories, epics, legends, poetry, riddles
an other narratives; words, signs, names, and symbols;
2. musical expressions, such as songs and instrumental music;
3. expressions by action, such as dances, plays, ceremonies, rituals
and other performances, whether or not reduced to a material form;
and,
4. tangible expressions, such as productions of art, in particular,
drawings, designs, paintings (including body-painting), carvings,
sculptures, pottery, terracotta, mosaic, woodwork, metalware,
jewelry, baskets, needlework, textiles, glassware, carpets, costumes;
handicrafts; musical instruments; and architectural forms;
which are:
- the products of creative intellectual activity, including individual and
communal creativity;
- characteristic of a community’s cultural and social identity and
cultural heritage; and
- maintained, used or developed by such community, or by individuals
having the right or responsibility to do so in accordance with the
customary law and practices of that community.”

Ciri khas Ekspresi Budaya Tradisional tersebut meliputi bentuknya sebagai

produk dari aktivitas kreatif intelektual, baik individu maupun komunal.

Selain itu Ekspresi Budaya Tradisional memiliki karakteristik sebagai warisan

61
budaya, identitas sosial dan budaya suatu masyarakat. Serta Ekspresi Budaya

Tradisional dilestarikan, digunakan dan dikembangkan oleh masyarakat adatt

pemiliknya atau individu-individu yang diberi hak untuk itu.

Berdasar berbagai perbedaan pengertian yang ada, baik dari sudut

pandang pakar kebudayaan maupun sudut pandang perlindungan hukum

diatas, secara umum dapat kita simpulkan ciri dari Ekspresi Budaya

Tradisional adalah43 :

- Diteruskan dari satu generasi ke genrasi lain baik secara lisan

maupun lewat peniruan.

- Mencerminkan identitas budaya dan sosial sautu masyarakat

- Memiliki karakteristik sebagai suatu warisan masyarakat

- Pembuatnya anonim (author unknown) atau/dan oleh individu-

individu dalam masyarakat secara bersama-sama memiliki hak,

tanggung jawab maupun ijin untuk melakukan itu.

- Diciptakan bukan untuk tujuan komersial, namun sebagai bentuk

ekspresi keagamaan atau ekspresi kebudayaan

- Terus menerus berubah, berkembang, dan tercipta kembali

(recreated) dalam masyarakat tersebut.

Dari ciri-ciri diatas, maka dapat kita simpulkan bahwa Ekspresi Budaya

Tradisional merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat

adat pemiliknya.

43
WIPO Secretariat, Intellectual Property and Traditional Cultural Expressions/Folklore, halaman
5

62
3. Kaitan Antara Ekspresi Budaya Tradisional dan Pengetahuan

Tradisional

Baik Ekspresi Budaya Tradisional maupun Pengetahuan Tradisional

(Traditional Knowledge) pada awalnya dianggap sebagai satu kesatuan

holistik dalam bentuk folklor. Pemisahan antara keduanya baru muncul

belakangan, namun inipun tidak lepas dari berbagai kritik. Seperti yang

diungkapkan dari sudut pandang pakar kebudayaan, baik Ekspresi Budaya

Tradisional maupun Pengetahuan Tradisional tidak dapat dipisahkan karena

keduanya merupakan bagian dari identitas sosial dan budaya masyarakat adat

yang kompleks. Karena itu banyak pakar kebudayaan yang menolak untuk

memisahkan Ekspresi Budaya Tradisional dan Pengetahuan Tradisional.

Berbeda dengan sudut pandang pakar kebudayaan, apabila kita bicara

dari sudut pandang perlindungan terhadap kebudayaan itu sendiri, pemisahan

antara keduanya jelas diperlukan. Pemisahan ini terjadi dalam kedudukan

Ekspresi Budaya Tradisional dan Pengetahuan Tradisional sebagai Kekayaan

Intelektual Tradisional, hingga pemahaman dalam konsep Hak Kekayaan

Intelektual-lah yang berlaku.

Pemisahan antara Ekspresi Budaya Tradisional dan Pengetahuan

Tradisional dalam upaya perlindungan terhadap keduanya, dilakukan karena

bentuk perlindungan yang diberikan juga berbeda. Perlindungan terhadap

Pengetahuan Tradisional bersifat perlindungan terhadap bentuk substansi dari

know-how, keahlian, praktek, dan pembelajaran dalam konteks budaya

tradisional. Hingga perlindungan Pengetahuan Tradisional lebih dekat dengan

63
bentuk perlindungan seperti Paten dan rahasia dagang. Berbeda dengan bentuk

perlindungan terhadap Pengetahuan Tradisional, perlindungan terhadap

Ekspresi Budaya Tradisional sebagai bentuk ekspresi dari budaya tradisional

tersebut lebih bersifat pada perlindungan hasil kreatifitas dan ekspresi budaya

dan seni. Hingga perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional lebih dekat

dengan bentuk perlindungan seperti Hak Cipta.

Dalam prakteknya kemudian pun, dua bentuk perlindungan ini dapat

saling melengkapi dan tumpang tindih terhadap satu sama lain. Misalkan

perlindungan terhadap batik. Teknologi pembuatan batik tersebut, dalam

artian mulai dari tenunan kain hingga metode “mbatik” dapat dilindungi lewat

Pengetahuan Tradisional. Sementara pola desain dan corak desain batik

tersebut dapat dilindungi dalam bentuk Ekspresi Budaya Tradisional. Hal ini

tidak berbeda jauh dengan HKI konvensional. Seperti software komputer

misalkan, yang dapat dilindungi baik oleh Hak Cipta maupun perlindungan

Paten44.

44
WIPO Secretariat, Op.cit., halaman 28

64
BAB III

METODE PENELITIAN

Skripsi sebagai suatu penulisan ilmiah membutuhkan suatu metodologi

penelitian dalam proses penyusunannya. Suatu metodologi penelitian dalam

penelitian hukum tersebut sangat penting dalam penyusunan, pengolahan, dan

analisa data yang terkumpul dalam proses penyusunan suatu skripsi. Lewat

metodologi penelitian diharapkan suatu skripsi memenuhi standar ilmiah yang

layak, baik secara kualitatif maupun kuantatif.

Metodologi penelitian yang digunakan dalam penulisan ilmiah

dibidang hukum adalah metodologi penelitian hukum. Penelitian hukum itu

bertujuan untuk membina kemampuan dan ketrampilan para mahasiswa dan

para sarjana hukum dalam mengungkapkan kebenaran ilmiah, yang objektif,

metodik dan sistematik.1 Selanjutnya Soerjono Soekanto mendefinisikan

penelitian sebagai berikut:2

1. Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan

analisis dan konstruktif yang dilakukan secara metodologis, sistematis

dan konsisten.

2. Metodologi berarti sesuai dengan metode atau ciri-ciri tertentu.

3. Sistematis adalah berdasarkan suatu sistem, sedangkan konsisten berarti

tidak adanya hal-hal yang bertentangan dalam suatu kerangka tertentu.

1
Hilman Hadikusuma, Metode Pembuatan Kertas Kerja atau Skripsi Ilmu Hukum, (Bandung:
Mandar Maju, 1995), halaman 8
2
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta : UI Press, 1991), halaman 42

65
Untuk melakukan suatu penelitian diperlukan data-data yang valid dan akurat,

sehingga dengan demikian penelitian tersebut dapat dipertanggungjawabkan

secara ilmiah.

Tanpa metodologi seorang peneliti tidak akan dapat menemukan,

menganalisa suatu masalah tertentu untuk menemukan suatu kebenaran,

karena pada prinsipnya metode merupakan pedoman pada ilmuwan untuk

mempelajari, menganalisa serta memahami persoalan yang dihadapi. Dengan

demikian dapatlah dikatakan, bahwa metodologi merupakan suatu unsur yang

mutlak harus ada di dalam penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.3

Untuk memperoleh pemecahan permasalahan atau guna mendapatkan

jawaban atas pokok-pokok permasalahan yang telah dirumuskan diperlukan

adanya penelitian yang dilaksanakan secara sistematis. Penulisan hukum ini

juga menggunakan penelitian hukum yang normatif, yaitu penelitian hukum

yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder,

sehingga penelitian hukum sekunder dapat pula dikatakan sebagai penelitian

hukum kepustakaan. 4

Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penyusunan skripsi

ini adalah :

3
Soerjono Soekanto, Ibid., halaman 7
4
Burhan Ashofa, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta : Rineka Cipta, 2001) halaman 15.

66
A. Metode Pendekatan

Metode pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah

metode pendekatan yuridis normatif5, yaitu suatu penelitian yang berusaha

mensinkronisasikan ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku dengan kaidah-

kaidah yang berlaku dalam perlindungan hukum terhadap norma-norma atau

peraturan-peraturan hukum lainnya dengan kaitannya dalam penerapan

peraturan-peraturan hukum itu pada praktik nyatanya di lapangan.

Metode pendekatan di atas digunakan dengan mengingat bahwa

permasalahan yang diteliti berkisar pada berbagai instrumen hukum dan

peraturan perundang-undangan yaitu hubungan peraturan satu dengan

peraturan lainnya serta hubungannya.

Segi-segi yuridis dalam penelitian ini adalah kajian berdasarkan

hukum internasional yang berkaitan Hak Kekayaan Intelektual (intellectual

Property Rights) pada umumnya dan Hak Kekayaan Intelektual tradisional

pada khususnya. Dalam penelitian ini, tidak hanya digunakan perundang-

undangan nasional yang berlaku, namun juga berbagai instrumen hukum

internasional yang mengatur hal terkait. Intrumen hukum internasional dan

peraturan-peraturan nasional tersebut antara lain :

1. United Nations Declaration of Human Rights

2. United Nations Declaration on the Rights of Indigenous Peoples

3. United Nations International Covenant on Economic, Social and

Cultural Rights

5
Ibid, halaman 25

67
4. The Berne Convention for the Protection of Literary and Artistic

Works 1967

5. WIPO-UNESCO Model Law on Copyright for Developing Countries

6. WIPO-UNESCO Model Provisions for National Laws on the

Protection of Expressions of Folklore Against Illicit Exploitation and

Other Prejudicial Actions

7. WIPO Performances and Phonograms Treaty

8. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta beserta

penjelasannya

9. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 Tentang Merek beserta

penjelasannya

10. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2007 Tentang Indikasi-

geografis

11. Instrumen hukum Internasional dan instrumen hukum nasional lainnya.

B. Spesifikasi Penelitian

Spesifikasi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah


6
analisis deskriptif yaitu riset yang menggambarkan peraturan perundang-

undangan yang berlaku dikaitkan dengan teori-teori hukum dan praktek

pelaksanaan hukum positif yang menyangkut permasalahan di atas. Selain

menggambarkan objek yang menjadi permasalahan juga menganalisa data

yang diperoleh dari penelitian dan mencoba untuk menarik kesimpulan yang

6
Ibid, halaman 26.

68
bukan merupakan kesimpulan umum. Jadi penelitian ini bertujuan untuk

memberikan gambaran mengenai perlindungan hukum terhadap Ekspresi

Budaya Tradisional (Traditional Cultural Expression/Expressions of

Folklore).

Penelitian yang dilakukan dalam hal ini yaitu penelitian kepustakaan

sekaligus karena penelitian ini dilakukan dengan mempelajari materi

kepustakaan yang berupa literatur baik buku-buku, tulisan, makalah mengenai

teori Hak Kekayaan Intelektual pada umumnya dan Hak Kekayaan Intelektual

tradisonal pada khususnya maupun melalui media massa yang berkaitan

dengan pokok masalah terkait.

C. Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, data yang digunakan adalah data sekunder sesuai

dengan metode pendekatan yang dipakai. Dimana sumber data yang diperoleh

melalui studi kepustakaan dengan mempelajari literatur, dokumen resmi,

peraturan perundang-undangan, keputusan hakim/yurisprudensi dan berbagai

konvensi internasional yang berkaitan dengan obyek dan permasalahan yang

diteliti.

Adapun teknik pengumpulan data sekunder dilakukan dengan cara

studi kepustakaan. Melalui studi kepustakaan ini dimaksudkan untuk mencari

teori-teori, konsepsi-konsepsi, pendapat para ahli, baik hukum maupun

disiplin ilmu lainnya sebagai landasan analisis terhadap pokok permasalahan

yang akan dibahas. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara

69
studi kepustakaan ini juga diarahkan untuk mempelajari atau menganalisis

instrumen-instrumen hukum yang berhubungan dengan permasalahan yang

akan diteliti. Adapun studi kepustakaan yang dimaksud dapat berupa data

sekunder di bidang hukum dan bidang ilmu lainnya dengan dilihat dari sudut

kekuatan mengikatnya, yaitu :

1. Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang mengikat,

yang berkaitan dengan pengaturan Hak Kekayaan Intelektual

khususnya mengenai hal-hal terkait perlindungan ekspresi budaya

tradisional, terdiri dari :

a. Instrumen internasional seperti United Nations Declaration

on the Rights of Indigenous Peoples, Berne Convention on

Protection of Literary and Artistic Works, dan lain-lain;

b. Peraturan-peraturan mengenai Hak Kekayaan Intelektual

(HKI) baik mengenai Merek, Hak Cipta, Indikasi-geografis

serta yang hak-hak eksklusif terkait lainnya.

c. Doktrin-doktrin atau pendapat para ahli hukum

d. Peraturan perundang-undangan maupun peraturan-

peraturan lainnya yang berkaitan dengan masalah yang

dibahas.

70
2. Bahan Hukum Sekunder

Yaitu bahan hukum yang merupakan karya para sarjana baik yang

telah dipublikasikan maupun belum, yang memeberikan penjelasan

tentang bahan hukum primer, antara lain berupa :

a. Hasil karya para sarjana, tulisan-tulisan atau pendapat para

pakar budaya maupun hukum, khususnya pakar Hak

Kekayaan Intelektual ;

b. Berbagai hasil-hasil penelitian;

c. Buku dan diktat mengenai Hak Kekayaan Intelektual dan

Hak Kekayaan Intelektual Tradisional;

3. Bahan Hukum tersier

Yaitu yang memberikan informasi lebih lanjut mengenai bahan

hukum primer dan bahan hukum sekunder, antara lain yaitu :

a. Artikel surat kabar dan majalah yang memuat artikel terkait

masalah perlindungan budaya tradisional secara umumnya

dan Ekspresi Budaya Tradisional secara khusus ;

b. Kamus Hukum ;

c. Kamus Bahasa Inggris ;

D. Metode Analisis Data

Metode analisa yang digunakan adalah metode kualitatif. Metode

kualitatif yaitu suatu penelitian yang mempergunakan data deskriptif analisis,

yaitu apa yang dinyatakan oleh responden secara tertulis maupun lisan, juga

71
perilaku yang nyata diteliti dan dipelajari sebagai suatu bagian yang

utuh7.Data yang diperoleh melalui penelitian lapangan dan penelitian

kepustakaan dikumpulkan yang kemudian dianalisa secara sistematis.

Analisis kualitatif ini ditujukan terhadap data-data yang sifatnya

berdasarkan kualitas, mutu dan sifat yang nyata berlaku dalam masyarakat.

Adapun jenis data yang dibutuhkan adalah data kualitatif yaitu proses

penyusunan, mengkategorisasikan data kualitatif, mecari pola atau tema

dengan maksud memahami maknanya. Data kualitatif sendiri terdiri atas kata-

kata yang tidak boleh menjadi angka-angka. Data-data yang terkumpul

dianalisa untuk mendapatkan kejelasan masalah yang akan dibahas.

Langakah-langkah analisa adalah sebagai berikut :

1. Editing

Adalah penelitian atau pengecekan terhadap bahan-bahan yang

masuk. Dalam proses editing ini dilakukan pembetulan data yang

salah, menambahkan dan melengkapi data yang masih kurang ;

2. Interpretasi

Adalah meninjau data dan bahan dalam konteks yang lebih luas

dan memberikan penafsiran terhadap gejala-gejala yang

tersembunyi di belakang data yang tertulis serta dihubungkan

dengan teori-teori dan ketentuan yang ada.

7
Soerjono Soekanto,Op.Cit ,Hal 250

72
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Perlindungan Terhadap Ekspresi Budaya Tradisional Dalam Rezim Hak Kekayaan

Intelektual Konvensional

1. Latar Belakang Perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional

Kebudayaan tradisional pada dasarnya terletak dalam kesadaran individu,

komunitas bahkan identitas nasional dari suatu bangsa. Didalam kebudayaan tradisional

sendiri terkandung nilai-nilai ekonomi, nilai-nilai adat (termasuk spiritual), maupun nilai-

nilai komunal yang menjadi bagian penting baik dari suatu bangsa maupun masyarakat

tradisional yang menjadi bagian dari bangsa itu pada khususnya.

Seiring masuknya era globalisasi, bumi seakan semakin kecil. Jarak ruang dan

waktu yang menghilang karena perkembangan teknologi dan telekomunikasi serta

kemajuan jaman dan arus informasi. Demikian pula arus barang dan modal yang

menciptakan pasar bebas melintasi batas-batas negara, dimana setiap komoditas dan jasa

yang dapat dikomersilkan dijual.

Demikian pula dengan kebudayaan tradisional yang turut serta terglobalisasi

(Globalizationed). Baik ditengah arus informasi maupun sebagai komoditas yang

dipasarkan dalam perdagangan bebas. Akibatnya seringkali kebudayaan tradisional tidak

lagi secara ekslusif dikenal dalam satu kelompok masyarakat adat atau bahkan satu

bangsa saja, tapi juga bangsa lain atau bahkan seluruh dunia. Hal ini dipicu oleh

pertukaran budaya antarnegara yang dipicu oleh perkembangan keragaman kreativitas

manusia secara global1.

1
Kusnaka Adhimiharja, Jenis Pengetahuan tradisional dan Ekspresi Folklor Serta Karakteristiknya, (1 februari
2007) halaman 1

73
Situasi ini memunculkan tantangan tersendiri bagi kekayaan budaya tradisional.

Akibatnya perbedaan dan keragaman kualitas budaya komunitas lokal di berbagai belahan

dunia termasuk di Indonesia, saat ini sedang menghadapi ancaman uniformitas melalui

teknologi baru, globalisasi budaya, dan perdagangan internasional berbasis pasar bebas.

Menurut Kusnaka Adhimiharja, hal ini menimbulkan tantangan-tantangan yang mesti

dihadapi bersama baik oleh negara dimana masyarakat adat bernaung maupun masyarakat

adat itu sendiri. Tantangan itu berupa 2:

a. Negara harus mampu menyediakan kebijakan yang mengelola secara

seimbang antara perlindungan, pemeliharaan, dan pengembangan keragaman

kekayaan intelektual tradisional sebaga warisan budaya. Hal demikian berlaku

juga bagi komunitas lain yang memiliki keragaman budaya sejenis.

b. Diperlukan adanya suasana keterbukaan yang bebas dalam semangat

pertemuan dan pertukaran pengalaman budaya antara masyarakat lokal

maupun pendatang yang akan memperkaya keragaman budaya itu.

c. Diperlukan adanya model pengelolaan dalam menengahi atau mediasi untuk

melakukan perlindungan, pemeliharaan dari warisan budaya tersebut dalam

keragaman budaya disatu pihak dan dilain pihak, adanya perkembangan

budaya nyata (living culture) yang merupakan produk kreatif dari keterbukaan

dan kebebasan tadi.

d. Perkembangan teknologi baru yang mendorong upaya pembaharuan produk

budaya tradisional yang perwujudannya berupa peniruan, pertukaran,

pengunaan baru atau diperbaharui yang dapat dilakukan oleh siapa saja. Hal

ini berpengaruh terhadap kreativitas budaya tradisional itu sendiri.

2
Ibid, halaman 2

74
Salah satu contoh persoalan yang menjadi tantangan bagi banyak pihak adalah

masalah penyerobotan maupun pengunaan secara tak pantas terhadap berbagai bentuk

Kekayaan Intelektual Tradisional yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat adat.

Penyerobotan dilakukan dalam bentuk komersialisasi dan pengambilan keuntungan

sepihak yang merugikan nilai-nilai ekonomi masyarakat adat pemiliknya, terkadang

bahkan disertai klaim kepemilikan terhadap Kekayaan Intelektual Tradisional tersebut

oleh pihak yang bukan pemilik aslinya. Penggunaan secara tak pantas terjadi dalam

bentuk pengunaan yang dilakukan tanpa menghormati nilai budaya dan adat yang

terkandung secara khusus serta masyarakat adat pada umumnya, baik mulai penggunaan

tanpa otorisasi hingga bentuk penggunaan yang sedemikian rupa hingga melecehkan

masyarakat adat pemiliknya. Baik masyarakat adat dari negara maju maupun negara-

negara dunia ketiga sering kali merasa dirugikan atas penyerobotan penggunaan tak

pantas yang terjadi.

Penyerobotan dan penggunaan tak pantas ini seringkali dilakukan baik oleh

peneliti maupun perusahaan multinasional dari negara maju dengan melakukan klaim dan

komersialisasi terhadap kekayaan budaya tradisional masyarakat adat secara serampangan

dan tidak bertanggung jawab. Beberapa kasus terkait penyerobotan terhadap Pengetahuan

Tradisional dan Keanekaragaman Hayati seperti kasus Turtumic Patent, Brasmanti Rice,

dan Neem Ree yang merupakan Pengetahuan Tradisional (Traditional Knowledge)

masyarakat adat di India oleh Peneliti dari Universitas Mississippi dan Perusahaan

Multinasional Amerika di Kantor Paten Amerika (USPTO) dan Kantor Paten Eropa

(EPO), dan kasus Paten gandum Nep-Hal milik Suku Indian oleh Perusahaan

Multinasional Mensanto di Kantor Paten Eropa. Indonesia sendiri juga mengalami

masalah yang sama, dari 45 jenis obat penting yang terbuat dari tumbuhan di Amerika

75
Serikat, 14 diantaranya diambil dari kekayaan hayati (Genetic Resources) maupun

pengetahuan tradisional (Traditional Knowledge) masyarakat adat Indonesia3.

Persoalan serupa juga terjadi pada Ekspresi Budaya Tradisional (Traditional

Cultural Expressions/Expressions of Folklore) sebagai salah satu bentuk dari Kekayaan

Intelektual Tradisional. Ekspresi Budaya Tradisional memiliki nilai budaya yang sangat

besar sebagai bentuk warisan budaya yang terus menerus berkembang bahkan dalam

masyarakat modern di penjuru dunia. Sementara disisi lain, mereka juga memegang peran

penting sebagai bagian dari identitas sosial dan wujud ekspresi budaya dari suatu

masyarakat adat.

Selain itu, Ekspresi Budaya Tradisional juga masih memiliki nilai ekonomi besar

yang berfungsi sebagai penunjang penghidupan masyarakat adat4. Sebagai contoh,

menurut laporan Pemerintah Australia melalui Department of Communications,

Information Technology and the Arts, seni dan kerajinan visual telah menjadi sumber

penghidupan bagi Suku Aborigin, baik seniman tradisional maupun masyarakat adat itu

sendiri. Diperkirakan nilai perdagangan seni dan kerajinan tradisional Aborigin mencapai

angka US$ 130 juta, dimana sekitar US$ 30 juta masuk ke masyarakat adat pemiliknya.

Sementara di Afrika Selatan, program penanggulangan kemiskinan “Investing in

Culture” bagi Suku Khomani San dilakukan dengan merevitalisasi industri kerajinan

tradisional sebagai sumber penghidupan dan mata pencaharian. Program ini sangat sukses

hingga setiap seniman tradisional Khomani San dapat memperoleh pendapatan rata-rata

US$ 600 pertahun, diiringi dengan turunnya tingkat kemiskinan dan juga pengangguran.

Dari kedua contoh ini, dapat kita simpulkan bahwa Ekspresi Budaya Tradisional tidak

3
Budi Agus Riswandi, Hak Kekayaan Intelektual Prospek dan Tantangannya di Indonesia, (Yogyakarta : 11
Maret 2005) halaman 10
4
WIPO Secretariat, Background Paper No. 1 – Consolidated Analysis of The Legal Protection of Traditional
Cultural Expressions/Expressions of Folklore, (2 Mei 2003) halaman 29

76
dapat dipandang sebagai sekedar bagian dari masa lalu, namun merupakan tradisi budaya

yang hidup dan bermanfaat, terutama bagi masyarakat adat di berbagai negara.

Namun perkembangan teknologi modern terutama di bidang dapat menimbulkan

berbagai pengunaan secara tak pantas dari Ekspresi Budaya Tradisional yang ada.

Berbagai bentuk komersialisasi terhadap Ekspresi Budaya Tradisional terjadi bahkan

hingga tingkat global tanpa seijin masyarakat adat pemiliknya. Komersialisasi ini juga

disertai dengan berbagai bentuk distorsi, pengubahan maupun modifikasi terhadap

Ekspresi Budaya Tradisional secara tidak pantas. Sebagai contoh adalah kasus Bulun

Bulun v Nejlam Pty Ltd 5, dimana seniman Aborigin Australia mengugat sebuah

perusahaan tekstil yang mengeluarkan kaos bergambar karya lukisan tradisional "Magpie

Geeseand Water Lillies at the Waterhole" tanpa seijin penciptanya. Kasus lain adalah

serupa adalah kasus Foster v Mountford6, dimana Suku Pitjantjatjara menuntut penulis

sebuah buku teks Antropologi berjudul Nomads of the Desert yang dianggap melecehkan

nilai budaya dan adat istiadat Suku Pitjantjatjara karena menampilkan foto dari gambar

tradisional yang dianggap sakral dan rahasia. Selain kasus-kasus diatas, kasus serupa juga

terjadi belakangan ini di indonesia, walaupun belum ada penyelesaian secara hukum.

Kasus ini berawal dari pengunaan lagu tradisional Rasa Sayange sebagai jingle iklan Visit

Malaysia tanpa otorisasi masyarakat adat Maluku sebagai pemiliknya, hingga memancing

kontroversi antara dua negara karena muncul anggapan telah terjadi pelecehan terhadap

budaya tradisional Indonesia.

Kasus-kasus diatas hanyalah sebagian dari kasus-kasus penyerobotan dan

pengunaan Ekspresi Budaya Tradisional secara tidak pantas. Baik dalam bentuk

komersialisasi tanpa menghormati hak-hak ekonomi masyarakat adat pemilikinya, atau

bahkan dalam bentuk pengunaan yang tak pantas hingga dapat dikatakan sebagai
5
Michael Blakeney, Intellectual Property in The Dreamtime-Protecting the Cultural Creativity of Indigenous
People, (9 November 1999) halaman 4
6
Ibid., halaman 8

77
pelecehan terhadap nilai-nilai budaya dan adat tradisional yanag menjadi bagian dari

Ekspresi Budaya Tradisional tersebut.

Secara umum, WIPO dalam Background Paper No. 1 – Consolidated Analysis of

The Legal Protection of Traditional Cultural Expressions/Expressions of Folklore

memberikan contoh-contoh bentuk penyerobotan dan penggunaan secara tak pantas

terhadap Ekspresi Budaya Tradisional yang terdiri atas7 :

a. Segala bentuk komersialisasi terhadap gambar tradisional baik berupa lukisan,

lukisan tubuh (body paintings atau tatto), lukisan dinding (petroglyph) yang

dilakukan oleh pihak luar tanpa seijin dari pihak masyarakat adat pemiliknya.

b. Segala bentuk rekaman, adaptasi, maupun aransemen ulang terhadap lagu dan

musik tradisional serta kemudian dipublikasikan pada khalayak umum oleh

pihak luar tanpa seijin masyarakat adat pemiliknya.

c. Sastra tradisional lisan maupun tulisan, baik dalam bentuk puisi maupun cerita

rakyat yang kemudian dibuat dalam bentuk tertulis, diterjemahkan, dan

dipublikasikan oleh pihak luar oleh pihak luar tanpa seijin masyarakat adat

pemiliknya.

d. Komersialisasi terhadap alat musik tradisional yang kemudian diadaptasi

maupun dimodifikasi atau bahkan diganti namanya hingga kehilangan bentuk

asli dan nilai budayanya. Serta produksi replika alat musik tradisional untuk

dijual sebagai cendramata turis oleh pihak luar tanpa seijin masyarakat adat

pemiliknya.

e. Peniruan dan komersialisasi terhadap desain rajutan maupun kerajinan tekstil

tradisional oleh pihak luar tanpa seijin masyarakat adat pemiliknya.

7
WIPO Secretariat, Op.Cit., halaman 31

78
f. Rekaman, adaptasi maupun pertunjukan kesenian tradisional dalam bentuk

cerita, drama, musik maupun tarian tanpa seijin masyarakat adat pemiliknya.

g. Publikasi pertunjukan kesenian tradisional baik berupa lagu dan tarian dalam

bentuk foto yang kemudian ditampilkan ke khalayak umum.

h. Reproduksi seni dan kerajinan tradisional dalam bentuk barang-barang modern

seperti kaus, kartu pos, minuman ringan, cangkir, gelas mug dan sebagainya

yang kemudian dijual. Hingga dikhawatirkan seni dan kerajinan tersebut

kehilangan nilai-nilai budayanya.

i. Usaha pengumpulan, pengoleksian, disseminasi dan riset terhadap budaya

masyarakat adat oleh pihak luar yang dikhawatirkan dapat menimbulkan

terjadinya penyerobotan dan penggunaan secara tak pantas.

j. Untuk tujuan komersialisasi, dan agar mengesankan unsur etnik, dilakukan

usaha reproduksi gaya maupun metode tradisional dalam proses pembuatan

benda-benda non-tradisional oleh pihak luar.

k. Pengunaan, publikasi dan reproduksi dari benda maupun seni budaya yang

memiliki nilai sakral maupun rahasia oleh pihak luar tanpa seijin masyarakat

adat pemiliknya.

l. Pengunaan kata-kata yang memiliki nilai budaya tradisional seperti

“tohunga”, “mata nui”, “pontiac”, “cherokee”, “billabong”, “tomahawk”,

“boomerang”, “tairona”, “vastu”, ”ayurveda”, ‘gayatri”, “siddhi”, “yoga”,

dan “rooibos” untuk tujuan komersial oleh pihak luar tanpa seijin masyarakat

adat pemiliknya.

Tampak jelas jika berbagai bentuk pelanggaran, penyerobotan dan pengunaan

tidak pantas terhadap Ekspresi Budaya Tradisional itu dibiarkan terjadi tanpa ada usaha

menangani, mengendalikan dan mengatasi maka akan berdampak buruk. Dampak itu

79
tidak hanya dirasakan oleh komunitas masyarakat adat pemilik Ekspresi Budaya

Tradisional tersebut yang merasa hak-haknya dirampas dan nilai budaya dan identitas

sosialnya dilecehkan. Dampak paling buruk akan menimpa Ekspresi Budaya Tradisional

itu sendiri yang akan perlahan terdistorsi dan kehilangan nilai-nilai budaya dan adat

istiadat yang luhur, berubah menjadi sekedar komoditas komersial belaka.

Inilah yang melatar belakangi berbagai tuntutan akan dibentuknya suatu rezim

perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional yang layak. Disadari bahwa Ekspresi Budaya

Tradisional juga harus dilindungi mengingat kerentanannya terhadap berbagai bentuk

penyerobotan dan penggunaan yang tak pantas. Sebab Ekspresi Budaya Tradisional

merupakan bagian dari penting dari kehidupan masyarakat adat pemiliknya dan memiliki

kandungan nilai budaya yang kaya dan harus dijaga.

2. Pendekatan Dalam Perlindungan Terhadap Ekspresi Budaya Tradisional

Berkaitan dengan persoalan perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional,

berdasarkan hasil penelitian dari WIPO Fact-finding Missions on Intellectual Property

and Traditional Knowledge (1998-1999) yang dilakukan oleh WIPO di 28 negara di

kawasan Pasifik Selatan, Afrika Timur dan Selatan, Karibia, Asia Selatan, Afrika Barat,

Amerika Utara, Tengah dan Selatan, dan Arab (tidak termasuk Indonesia). Bentuk

pendekatan perlindungan yang diharapkan terhadap Kekayaan Intelektual Tradisional

secara umum dan Ekspresi Budaya Tradisional secara khusus dapat disimpulkan dalam

tiga jenis, yaitu meliputi8 :

a. Perlindungan Kekayaan Intelektual untuk mendukung pertumbuhan ekonomi

(IP protection to support economic development). Disadari bahwa banyak

komunitas masyarakat adat yang berharap agar dapat diterapkannya

perlindungan terhadap Kekayaan Intelektual atas hasil kreativitas dan inovasi

8
Ibid., halaman 15

80
yang didasarkan pada tradisi budaya mereka. Perlindungan tersebut diberikan

atas pengunaan komersial dari Kekayaan Intelektual Tradisional mereka oleh

pihak luar. Dengan begitu maka mereka dapat memperoleh keuntungan

komersil yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi mereka sendiri.

b. Perlindungan Kekayaan Intelektual untuk mencegah pengunaan yang tidak

dikehendaki oleh pihak luar dari komunitas masyarakat adat tersebut (IP

protection to prevent unwanted use by others). Hingga dengan begitu segala

bentuk penggunaan dan komersialisasi terhadap warisan budaya yang

dilakukan secara tidak pantas atau bahkan melecehkan oleh pihak luar dapat

dihindari. Contohnya : (i) pengunaan Kekayaan Intelektual Tradisional oleh

pihak luar yang dibuat dengan sengaja seakan berhubungan erat dengan

masyarakat adat pemiliknya; (ii) pengunaan yang secara tidak pantas, tidak

layak, dan melecehkan terhadap nilai-nilai budaya; dan (iii) pengunaan

Ekspresi Budaya Tradisional yang bersifat sakral dan rahasia, yang digunakan

secara tidak pantas atau bahkan dipublikasikan tanpa otorisasi ke masyarakat

umum.

Dua pendekatan perlindungan diatas dapat juga disebut dengan istilah

perlindungan positif (positive protection). Bertujuan memberikan perlindungan utuh dan

menyeluruh terhadap hak-hak dan kepemilikan Hak Kekayaan Intelektual atas warisan

budaya tradisional tersebut.

c. Strategi defensif dalam perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional (Defensive

strategies to protect Traditional Cultural Expressions). Strategi ini berfungsi

untuk mencegah penerapan rezim HKI terhadap warisan budaya tradisional.

Hingga berbagai bentuk warisan budaya tradisional tersebut tetap berada

dalam ranah public domain sebagai warisan budaya milik bersama tanpa ada

81
satu pihak pun yang mengklaim hak-hak eksklusif atasnya. Bentuk

perlindungan ini lebih berfokus pada pelestarian nilai-nilai budaya yang

terkandung dalam Kekayaan Intelektual Tradisional yang hidup ditengah

masyarakat.

Pendekatan terakhir ini dapat disebut dengan istilah perlindungan defensif

(defensive protection). Bentuk perlindungan ini berada di luar kerangka Hak Kekayaan

Intelektual, lebih berfokus untuk mencegah agar warisan budaya pada umumnya dan

Ekspresi Budaya Tradisional pada khususnya tidak hilang atau punah. Tujuannya untuk

menjaga keutuhan nilai-nilai budaya yang hidup sembari tetap menjaga keberadaan

Ekspresi Budaya Tradisional tersebut dalam ranah public domain yang dapat diakses dan

digunakan siapa saja. Konsep perlindungan ini tidak bermaksud untuk memperoleh

berbagai macam bentuk Hak atas Kekayaan Intelektual maupun hak-hak ekslusif lainnya

atas Kekayaan Intelektual Tradisional tersebut, bahkan oleh masyarakat adat pemiliknya

sekalipun.

Diantara ke dua jenis pendekatan diatas, yang menjadi fokus utama pembahasan

skripsi ini adalah pendekatan dalam lingkup perlindungan positif (positive protection).

Pendekatan ini didasarkan pada suatu bentuk perlindungan dalam kerangka Hak

Kekayaan Intelektual. Dimana berbagai bentuk Ekspresi Budaya Tradisional dianggap

sebagai suatu bentuk dari Kekayaan Intelektual yang dimana daripadanya dapat

diterapkan hak-hak yang bersifat eksklusif.

Tujuan utama pendekatan perlindungan positif sangat jelas, yaitu untuk

melindungi hak-hak eksklusif masyarakat adat terkait Kekayaan Intelektual Tradisional

yang mereka miliki. Perlindungan positif diberikan atas hak untuk turut serta memperoleh

hasil dari segala bentuk komersialisasi Kekayaan Intelektual Tradisional yang merupakan

hasil karya kreativitas intelektual mereka yang berlandaskan nilai-nilai budaya dan

82
identitas sosial yang hidup. Perlindungan juga diberikan terhadap pengunaan yang tidak

diinginkan serta pengunaan yang tidak pantas terhadap Kekayaan Intelektual Tradisional

mereka oleh pihak-pihak yang berada di luar komunitas masyarakat adat dan konteks

budaya masyarakat tersebut.

3. Upaya Perlindungan Positif Terhadap Ekspresi Budaya Tradisional Dalam

Kerangka Hak Kekayaan Intelektual Konvensional

Seperti diungkapkan sebelumnya, bentuk perlindungan dalam rezim Hak

Kekayaan Intelektual (HKI) merupakan bentuk perlindungan positif (positive protection).

Ada dua aspek dalam lingkup perlindungan positif. Aspek pertama yaitu bagaimana cara

masyarakat adat pemegang hak atas Ekspresi Budaya Tradisional mencegah pengunaan

secara tak pantas ataupun tanpa otorisasi oleh pihak ketiga. Aspek kedua adalah

bagaimana cara masyarakat adat mengunakan nilai ekonomi Ekspresi Budaya Tradisional

tersebut sebagai sumber penghidupan mereka. Dengan begini, sebagai contoh,

perlindungan positif dalam kerangka rezim HKI mengijinkan komersialisasi dan

pengunaan Ekspresi Budaya Tradisional oleh masyarakat adat pemiliknya, namun disisi

lain melarang komersialisasi dan pengunaan tanpa otorisasi dan secara tak pantas oleh

pihak luar.

Seiring dengan perkembangan rezim HKI Konvensional, tuntutan agar disusunnya

suatu rezim dan bentuk perlindungan yang layak juga tumbuh. Namun disisi lain, disadari

juga bahwa rezim HKI modern sulit untuk memenuhi tuntutan tersebut karena

karakteristiknya yang menekankan pada perlindungan nilai-nilai ekonomi. Namun

tuntutan akan perlunya rezim perlindungan yang layak bagi Kekayaan Intelektual

Tradisional terutama dalam hal ini Ekspresi Budaya Tradisional tidak surut, namun

sebaliknya semakin kuat dan semakin ditanggapi oleh pihak-pihak terkait. Hal ini dapat

83
dilihat dengan semakin banyak diadopsinya mekanisme perlindungan Ekspresi Budaya

Tradisional ke dalam instrumen-instrumen HKI Konvensional.

Penulis sendiri dalam skripsi ini sengaja mengunakan istilah Hak Kekayaan

Intelektual “Konvensional” (HKI Konvensional) untuk membedakan dengan rezim HKI

yang bersifat khusus dan unik (Sui Generis). Terlebih setelah adanya TRIPS (Agreement

on Trade Related Aspect of Intellectual Property Rights) tahun 1994 yang kemudian

menjadi landasan rezim HKI di negara-negara anggota WTO. Rezim HKI Konvensional

memiliki karakteristik yang menekankan pada perlindungan nilai-nilai ekonomi, suatu

bentuk perlindungan yang menekankan pada aspek komersialitas dalam kaitannya dengan

bisnis dan perdagangan (Trade-related).

Satu karakteristik penting HKI adalah sifatnya yang lintas batas negara. Sejak

awal kelahirannya, sistem HKI bertujuan sebagai salah satu antisipasi terhadap upaya

komersialisasi suatu Kekayaan Intelektual oleh pihak yang tak diinginkan, termasuk

pihak asing. Alasannya, jika persoalan ini berada dalam teritori suatu negara, maka tidak

akan ada persoalan karena sepenuhnya dapat diselesaikan dengan hukum positif negara

yang bersangkutan. Oleh karena itu, perlindungan yang efektif dan efisien dengan sistem

HKI atas Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional hanya dapat terwujud

jika telah dibentuk satu atau beberapa kesepakatan internasional yang merupakan payung

bagi penegakan hukum HKI atas karya-karya tradisional tersebut9.

Karena itu telah disadari betul perlunya pembentukan suatu instrumen

internasional bersifat legally-binding yang mengatur mekanisme perlindungan Ekspresi

Budaya Tradisional, terutama dalam kerangka perlindungan positif. Instrumen

internasional dianggap perlu dengan pemikiran untuk memberi mekanisme perlindungan

Ekspresi Budaya Tradisional di tingkat internasional, terutama untuk mengatasi


9
Basuki Antariksa, Pedoman Umum Upaya Perlindungan Kekayaan Intelektual Atas Pengetahuan Tradisional
dan Ekspresi Budaya Tradisional, (Biro Kerjasama Luar Negeri Departemen Kebudayaan dan Pariwisata:
2007), halaman 8

84
pelanggaran-pelanggaran dalam pengunaan Ekspresi Budaya Tradisional yang bersifat

lintas batas negara.

Upaya penyusunan instrumen internasional ini pada awalnya diletakan dalam

ranah HKI Konvensional. Pertama kali dilakukan pada tahun 1967 lewat The Berne

Convention for the Protection of Literary and Artistic Works (Konvensi Berne 1967) yang

mengatur konsep kepemilikan terhadap karya cipta anonim. Walaupun tidak secara

khusus mengatur mengenai perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional, ketentuan dalam

Konvensi Berne 1967 ini dapat diterapkan terhadap Ekspresi Budaya Tradisional,

terutama dalam hal ini Ekspresi Budaya yang tidak diketahui penciptanya.

Selain Konvensi Berne 1967, perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional juga

berusaha dilakukan lewat WIPO Performances and Phonograms Treaty (WPPT). WPPT

memberi perlindungan terhadap Ekspresi Budaya Tradisional dalam kerangka hak

penampil (performer’s rights), terutama setelah dimasukan definisi khusus bahwa yanag

dikategorikan sebagai penampil (performer) adalah juga termasuk seniman tradisional

yang menampilkan karya seni tradisional.

Dalam rezim HKI Konvensional kemudian juga diperkenalkan konsep Indikasi-

geografis (Geographical Indication). Kedua konsep HKI ini berangkat dari pemahaman

bahwa suatu Kekayaan Intelektual merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat dan

daerah asalnya. Karena itu diperlukan suatu perlindungan terhadap keterkaitan antara

daerah asal tersebut dan Kekayaan Intelektual yang berasal daripadanya. Konsep ini

diperkenalkan sebagai bagian dari Hukum Merek lewat Agreement on Trade-Related

Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPS).

Berbagai instrumen hukum internasional dalam rezim HKI Konvensional yang

turut mengatur mengenai mekanisme perlindungan terhadap Ekspresi Budaya Tradisional

pada khususnya tersebut meliputi :

85
a. The Berne Convention for the Protection of Literary and Artistic Works 1967

The Stockholm Diplomatic Conference for Revision of the Berne

Convention for the Protection of Literary and Artistic Works (atau Konvensi

Berne 1967) merupakan upaya perintis untuk memasukkan mekanisme

perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional dalam kerangka hukum Hak Cipta.

Walau sama sekali tidak mengunakan istilah Ekspresi Budaya Tradisional,

seni budaya maupun folklore, upaya tersebut dilakukan dengan memasukkan

pasal yang berkaitan dengan perlindungan terhadap karya cipta yang tak

diketahui penciptanya. Pada 15 ayat 4 Konvensi Berne 1967, dinyatakan

bahwa :

“(a) In the case of unpublished works where the identity of the author
is unknown, but where there is every ground to presume that he is a
national of a country of the Union, it shall be a matter for legislation
in that country to designate the competent authority who shall
represent the author and shall be entitled to protect and enforce his
rights in the countries of the Union.”

Dengan adanya pasal ini, maka perlindungan terhadap karya cipta anonim,

yaitu karya cipta yang tidak diketahui siapa penciptanya dapat dilakukan,

dengan cara diwakilkan pada negara tempat asal dari karya tersebut.

Selanjutnya pada pasal 15 ayat (4) huruf b Konvensi Berne 1967

dijelaskan prosedur pendaftaran atas karya cipta anonim :

“(b) Countries of the Union which make such designation under the
terms of this provision shall notify the Director General [of WIPO] by
means of a written declaration giving full information concerning the
authority thus designated. The Director General shall at once
communicate this declaration to all other countries of the Union.”

86
Pendaftaran diwakilkan oleh negara asal karya cipta anonim atau pencipta

karya cipta anonim tersebut, dilakukan dengan cara memberi notifikasi resmi

kepada pihak yang diberi wewenang oleh konvensi tersebut, yaitu dalam hal

ini adalah Direktorat Jendral WIPO.

Maka setelah didaftarkan, karya cipta anonim pun juga mendapat

perlindungan selayaknya karya biasa. Negara sebagai pemegang hak atas

karya cipta anonim memperoleh hak-hak eksklusif atas karya cipta tersebut.

Hak-hak eksklusif yang diatur dalam Konvensi Berne 1967 termasuk hak

untuk translasi (Pasal 8), hak reproduksi dalam berbagai bentuk termasuk

rekaman audio visual (Pasal 9), hak untuk menampilkan drama, drama-

musikal, serta karya musik (Pasal 11), hak untuk untuk menyiarkan dan

mengkomunikasikan kepada publik (Pasal 11bis), hak untuk menampilkan

penampilan publik (public recitation) (Pasal 11ter), hak untuk membuat

adaptasi, aransemen, maupun perubahan terhadap karya cipta (Pasal 12), hak

untuk membuat adaptasi dan reproduksi sinematografis terhadap karya cipta

(Pasal 14), hak “droit de suite” berkaitan dengan karya seni dan manuskrip

asli (Pasal 14ter) serta hak moral (Pasal 6bis).

Mesti kita ingat, tujuan utama Pasal 15 Konvensi Berne ini pada

dasarnya bukanlah secara khusus bertujuan untuk melindungi Ekspresi Budaya

Tradisional, tetapi hanya untuk perlindungan terhadap karya cipta anonim.

Karya cipta anonim sendiri, lepas dari karakteristik khas dimana sang pencipta

sebenarnya tidak diketahui, tetaplah sebuah karya cipta. Hingga demikian,

persyaratan yang melekat selayaknya pada Hak Cipta konvensional, seperti

jangka waktu perlindungan, keaslian dan bentuk yang berwujud juga melekat

pada karya cipta anonim. Hal ini menjadi hambatan tersendiri. Sebab mesti

87
kita sadari bahwa Ekspresi Budaya Tradisional memiliki karakteristik berbeda

dengan karya cipta dalam Hak Cipta. Ekspresi Budaya Tradisional misalkan

tidak mengenal konsep keaslian maupun jangka waktu perlindungan

selayaknya karya cipta yang daitur dalam Konvensi Berne 1967.

Pada akhirnya dapat kita simpulkan. Perlindungan terhadap karya cipta

yang penciptanya anonim lewat Konvensi Berne 1967 ini merupakan

terobosan. Sebab sebelumnya karya cipta bersifat individualistik dan baru

dapat dilindungi apabila jelas siapa penciptanya. Sementara Ekspresi Budaya

Tradisional bersifat komunal. Bukan hasil karya perorangan namun hasil

kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat adat.

b. WIPO Performances and Phonograms Treaty 1996

WIPO Performances and Phonograms Treaty (WPPT) merupakan

kelanjutan dari International Convention for the Protection of Performers, the

Producers of Phonograms and Broadcasting Organizations 1961 (Konvensi

Roma 1961). Tujuannya adalah untuk memberi perlindungan terhadap hak-

hak terkait dalam hal ini secara khusus adalah hak penampil (performer’s

right) atas karya yang ditampilkan dan produser yang merekam penampilan

dari karya tersebut (producer of phonogram). WPPT sendiri juga turut

memberikan perlindungan terhadap Ekspresi Budaya Tradisional, mengingat

tarian tradisional, puisi, drama, lagu dan musik serta berbagai bentuk kesenian

tradisional lainnya muncul sebagai bagian dari pertunjukan hidup (live

performance) yang ditampilkan. Oleh karenanya, perlindungan terhadap hak

penampil atas karya pertunjukan yang ditampilkan juga dapat digunakan

dalam konteks perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional.

88
Perkembangan yang membedakan antara WPPT dengan Konvensi

Roma 1961 adalah definisi dari penampil tersebut. Pada Pasal 3(a) Konvensi

Roma 1961, definisi penampil dibatasi dalam :

““performers” means actors, singers, musicians, dancers, and other


persons who act, sing, deliver, declaim, play in, or otherwise perform
literary or artistic works.”

Sementara dalam WPPT, definisi penampil ditarik lebih jauh lagi,

mengingat karya seni yang ditampilkan tidak hanya dapat dibatasi dalam

bentuk “literary and artistic works” yang bermakna kontemporer. Karena itu

pada Pasal 2(a) WPPT, penampil didefisinikan sebagai :

““performers” are actors, singers, musicians, dancers, and other


persons who act, sing, deliver, declaim, play in, interpret, or otherwise
perform literary or artistic works or expressions of folklore;”

Dengan digunakannya definisi penampil diatas, maka WPPT juga turut

memberikan perlindungan terhadap seniman tradisional yang menampilkan

pertunjukan Ekspresi Budaya Tradisional. Adapun bentuk perlindungan

terhadap penampil yang diberikan oleh WPPT meliputi :

1) Moral Rights of Performers (Pasal 5) adalah bentuk perlindungan terhadap

hak dari penampil sebagai bagian tak terpisahkan dari pertunjukannya,

termasuk hak untuk melindungi pertunjukan yang ia tampilkan dari segala

bentuk perubahan dan distorsi yang dapat mencederai reputasinya sebagai

penampil.

2) Economic Rights of Performers in Their Unfixed Performances (Pasal 6)

adalah hak eksklusif bagi penampil untuk memberi otorisasi bagi segala

bentuk penyiaran (broadcasting) maupun publikasi (communication to the

public) dari pertunjukan yang ia tampilkan. Termasuk disini hak untuk

89
memberi otorisasi terhadap segala bentuk perekaman (fixation) dari

pertunjukannya.

3) The Right of Reproduction (Pasal 7) adalah hak untuk memberikan

otorisasi atas segala bentuk reproduksi, baik langsung maupun tak

langsung, dari rekaman (phonogram) pertunjukannya.

4) The Right of Distribution (Pasal 8) adalah hak untuk memberikan otorisasi

atas segala bentuk publikasi rekaman pertunjukannya, baik karya asli

maupun reproduksi, kepada umum melalui penjualan maupun bentuk

pemindahan hak miliki lainnya (other transfer of ownership).

5) The Right of Rental (Pasal 9) adalah hak untuk memberi otorisasi

penyewaan komersil rekaman pertunjukan, baik karya asli maupun

reproduksinya, kepada publik dengan melihat ketentuan dalam hukum

nasional yang berlaku.

6) The Right of Making Available (Pasal 10) adalah hak untuk memberikan

otorisasi segala bentuk pengadaan rekaman pertunjukan (making available

to the public). Hingga dengan begitu masyarakat umum dapat menyimak

(access) rekaman tersebut sesuai keinginan mereka.

Walaupun WPPT dapat dianggap sebagai salah satu upaya memberikan

perlindungan terhadap Ekspresi Budaya Tradisional, namun fokus utama dari

WPPT tetap lah terhadap perlindungan dari hak sang penampil (performer’s

right). Perlindungan terhadap Ekspresi Budaya Tradisional dalam WPPT

sendiri diberikan dengan anggapan bahwa suatu karya seni pertunjukan

merupakan bagian tak terpisahkan dari penampilnya. Perlindungan terhadap

hak penampil inipun juga memiliki jangka waktu perlindungan yang telah

ditentukan sebelumnya.

90
Disisi lain, perlindungan yang diberikan terhadap Ekspresi Budaya

Tradisional pun masih sangat terbatas dalam lingkup “phonogram” yang

didefinisikan sebagai “the fixation of the sounds of a performance or of other

sounds, or of a representation of sounds, other than in the form of a fixation

incorporated in a cinematographic or other audiovisual work.”(Pasal 2 huruf

(b)) Maka dapat dikatakan bahwa perlindungan yang diberikan WPPT

membutuhkan suatu bentuk “fixation,” sementara Ekspresi Budaya tradisional

seringkali tidak memiliki bentuk “fixation” karena sifatnya yang berangkat

dari tradisi lisan yang hidup. Selain itu WPPT tidak melindungi aspek visual,

namun hanya melindungi aspek suara dari Ekspresi Budaya Tradisional atau

Ekspresi Budaya Tradisional yang memiliki aspek suara (sound) dan

perwakilan dari suara (representation of sound).

Bentuk Ekspresi Budaya Tradisional yang dilindungi dalam WPPT

masih sangat terbatas dalam bentuk seni pertunjukan tradisional (traditional

performing arts). Padahal Ekspresi Budaya Tradisional juga hadir dalam

bentuk ekspresi seni lainnya seperti lukisan, gambar, atau hasil kerajinan.

Hingga dapat dikatakan perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional yang

diberikan oleh WPPT masih bersifat parsial dan tidak dapat dikatakan mampu

melindungi berbagai jenis Ekspresi Budaya Tradisional secara keseluruhan.

Maka karena itu dalam konferensi diplomatik yang mengadopsi WPPT dan

WIPO Copyright Treaty (WCT) pada Desember 1996, the WIPO Committee

of Experts on a Possible Protocol to the Berne Convention and the Committee

of Experts on a Possible Instrument for the Protection of the Rights of

Performers and Producers of Phonograms merekomendasikan bahwa10 :

10
WIPO Secretariat, Op.Cit., halaman 23

91
“provision should be made for the organization of an international
forum in order to explore issues concerning the preservation and
protection of expressions of folklore, IP aspects of folklore, and the
harmonization of the different regional interests”.

c. WTO Agreement on Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights.

Upaya lain yang juga dapat diaplikasikan untuk melindungi Ekspresi

Budaya Tradisional dalam rezim Hak Kekayaan Intelektual Konvensional

adalah kerangka Indikasi-geografis (Geographical Indication). Konsep

Indikasi-geografis dan Indikasi Asal ini sebenarnya masih baru dalam rezim

Hak Kekayaan Intelektual dan menjadi bagian dari ketentuan yang masuk

dalam kerangka pengaturan Agreement on Trade-Related Aspects of

Intellectual Property Rights (TRIPS) sebagai salah satu bagian dari

mekanisme perlindungan HKI pada WTO.

Indikasi-geografis pertama kali diperkenalkan dalam Model Law on

Mark tahun 1967, selanjutnya konsep ini dikembangkan dalam WIPO Special

Model Law for Developing Countries on Appelations of Origins and

Indications of Sources. Dalam model perlindungan hukum ini dinyatakan

bahwa suatu Indikasi-geografis harus memiliki karakteristik di bidang kualitas

dan reputasi. Kata “Geografis” (Geographical) sendiri tidak hanya sekedar

bermakna sebagai daerah dalam pengertian sempit sebagai suatu lokasi

geografis. Namun juga tidak dapat melepaskan konsep bahwa daerah itu

memiliki keterkaitan erat dengan berbagai faktor, baik dalam hal ini faktor

alam (natural factors), faktor manusia (human factors) atau faktor keduanya

(natural and human factors)11.

Lebih lanjut konsep Indikasi-geografis sebagai penanda asal dari suatu

barang juga turut masuk secara tidak langsung kedalam Paris Convention for
11
Budi Santoso, Pengantar Hak Kekayaan Intelektual, (Semarang : Pustaka Magister, 2008), halaman 68

92
the Protection of Industrial Property (Konvensi Paris 1979). Pada Pasal 10

Konvensi Paris 1979 dinyatakan bahwa :

“(1) The provisions of the preceding Article shall apply in cases of


direct or indirect use of a false indication of the source of the
goods or the identity of the producer, manufacturer, or merchant.
(2) Any producer, manufacturer, or merchant, whether a natural
person or a legal entity, engaged in the production or manufacture
of or trade in such goods and established either in the locality
falsely indicated as the source, or in the region where such locality
is situated, or in the country falsely indicated, or in the country
where the false indication of source is used, shall in any case be
deemed an interested party.”

Dari ketentuan Pasal ini dinyatakan bahwa setiap negara wajib melindungi

produsen, pembuat (manufacturer) maupun pedagang dari pengunaan indikasi

palsu (false indications) terhadap sebuah barang. Indikasi palsu ini digunakan

untuk memalsukan asal barang, identitas produser, pembuat maupun pedagang

dari barang tersebut.

Perlindungan dari pengunaan indikasi palsu dan menyesatkan ini

kemudian berkembang menjadi konsep Indikasi-geografis. Perkembangan ini

diawali dengan kesadaran bahwa suatu barang tidak dapat dilepaskan dalam

kaitannya dengan daerah penghasilnya serta masyarakat asal barang tersebut.

Keterkaitan antara keduanya seringkali menjadi jaminan kualitas dan keaslian

barang tersebut, serta menjadi tanda pengenal dan tanda kepemilikan yang

sangat populer ditengah masyarakat. Maka akrab diingatan kita istilah seperti

“Ukiran Jepara,” “Batik Pekalongan,” atau “Pahatan Asmat.” Inilah yang

dimaksud sebagai Indikasi-geografis. Bahwa hubungan antara barang dan

daerah geografis atau masyarakat penghasilnya adalah dua hal yang tidak

dapat dipisahkan.

93
Konsep Indikasi-geografis ini pertama kali diperkenalkan oleh WTO

melalui Agreement on Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights

(TRIPS) pada tahun 1994. Definisi dari Indikasi-geografis dinyatakan dalam

Pasal 22 ayat (1) mengenai Protection of Geographical Indications, bahwa :

“(1) Geographical indications are, for the purposes of this Agreement,


indications which identify a good as originating in the territory of
a Member, or a region or locality in that territory, where a given
quality, reputation or other characteristic of the good is essentially
attributable to its geographical origin.”

Definisi TRIPS menyatakan bahwa Indikasi-geografis adalah indikasi yang

yang digunakan untuk mengidentifikasi asal suatu barang, baik dari suatu

wilayah, daerah maupun masyarakat daerah tersebut. Indikasi-geografiss

berasal darai kesadaran bahwa terdapat keterkaitan erat secara esensial antara

reputasi, kualitas maupun karakteristik suatu barang dengan daerah

penghasilnya.

Lebih lanjut pada Pasal 22 ayat (2) TRIPS mewajibkan setiap negara

anggota WTO untuk melindungi Indikasi-geografis. Dinyatakan bahwa :

“(2) In respect of geographical indications, Members shall provide the


legal means for interested parties to prevent:
(a) the use of any means in the designation or presentation of a
good that indicates or suggests that the good in question
originates in a geographical area other than the true place of
origin in a manner which misleads the public as to the
geographical origin of the good;
(b) any use which constitutes an act of unfair competition within
the meaning of Article 10bis of the Paris Convention (1967)”

Pasal 22 ayat (2) ini mengatur mengenai bentuk perlindungan yang diberikan

terhadap Indikasi-geografis. Negara anggota WTO diwajibkan menyediakan

sarana dan perlindungan hukum kepada pihak-pihak yang berkepentingan dari

segala bentuk pelanggaran berupa :

94
- Pengunaan cara apapun dalam memberikan petiunjuk atau kesan

menyesatkan kepada masyarakat bahwa suatu barang berasal dari daerah

lain selain daerah asal barang tersebut.

- Setiap pengunaan Indikasi-geografis yang merupakan bentuk persaingan

curang (unfair competition) sesuai yang didefinisikan pada Pasal 10bis

Konvensi Paris 1979.

Adapun, definisi dari persaingan curang dalam Konvensi Paris 1979

didefinisikan pada Pasal 10bis ayat (2) dan (3) yang menyatakan :

“(2) Any act of competition contrary to honest practices in industrial


or commercial matters constitutes an act of unfair competition.
(3) The following in particular shall be prohibited:
(i) all acts of such a nature as to create confusion by any means
whatever with the establishment, the goods, or the industrial or
commercial activities, of a competitor;
(ii) false allegations in the course of trade of such a nature as to
discredit the establishment, the goods, or the industrial or
commercial activities, of a competitor;
(iii) indications or allegations the use of which in the course of
trade is liable to mislead the public as to the nature, the
manufacturing process, the characteristics, the suitability for
their purpose, or the quantity, of the goods.”

Maka dapat kita simpulkan bahwa definisi dari persaingan curang yang

dilarang dalam pengunaan Indikasi-geografis seperti yang diatur oleh Pasal

10bis meliputi segala bentuk persaingan yang bertentangan dengan praktek

perdagangan dan industri yang jujur. Lebih lanjut, perbuatan yang jelas

dilarang berkaitan dengan persaingan curang meliputi :

- Segala bentuk perbuatan yang dapat menimbulkan kebingungan tentang

pihak pesaing, barang, ataupun kegiatan perdagangan dan industrial

pesaing.

95
- Persangkaan palsu (false allegations) yang bertujuan untuk

mendiskeditkan pihak pesaing, barang, ataupun kegiatan perdagangan dan

industrial pesaing.

- Persangkaan atau petunjuk yang yang dapat menyesatkan publik mengenai

kondisi, proses pembuatan, karakteristik, kelayakan, serta kuantitas dari

barang.

Memang pada awalnya Indikasi-geografis seringkali digunakan

terhadap produk pertanian dan pangan. Tetapi dalam perkembangan

selanjutnya Indikasi-geografis berpotensi besar memberikan perlindungan

terhadap beberapa bentuk Ekspresi Budaya Tradisional seperti kerajinan

tradisional. Lewat Indikasi-geografis, keterkaitan antara suatu produk dengan

daerah asalnya, baik karena faktor geografis maupun faktor manusia ataupun

keduanya diakui dan dilindungi, termasuk dalam hal ini pengakuan terhadap

nilai-nilai budaya dan adat istiadat yang terkandung dalam Ekspresi Budaya

Tradisional yang dapat dianggap sebagai bentuk dari faktor manusia juga.

Disisi lain perlu kita ingat pula bahwa perlindungan Ekspresi Budaya

Tradisional dalam kerangka Indikasi-geografis ini sangat terbatas.

Perlindungan hanya diberikan terhadap Ekspresi Budaya Tradisional yang

memiliki wujud nyata sebagai suatu bentuk produk barang (goods). Ekspresi

Budaya Tradisional yang bersifat ekspresi lisan misalnya, sulit untuk

dilindungi oleh Indikasi-geografis.

Perlindungan Indikasi-geografis sendiri pada dasarnya berada dalam

kerangka perlindungan Merek. Maka selayaknya kerangka Merek,

perlindungan Indikasi-geografis lebih berfokus untuk menjaga pelanggaran-

pelaggaran serta pengunaan tak layak terhadap penanda Indikasi-geografis

96
yang digunakan. Perlindungan Indikasi-geografis sendiri, misalkan, tidak

mengatur lebih jauh hal-hal seperti perlindungan terhadap pengunaan produk

barang Ekspresi Budaya Tradisional. Tidak ada pula perlindungan terhadap

produk barang Ekspresi Budaya Tradisional dari berbagai bentuk distorsi,

perubahan maupun pengunaan tak layak yang bersifat melecehkan.

Sebagian besar instrumen-instrumen HKI Konvensional tersebut memang tidak

secara khusus mengatur mengenai mekanisme perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional

ini. Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya, rezim HKI Konvensional, baik dalam

kerangka WIPO maupun WTO lebih banyak memprioritaskan pada perlindungan

Kekayaan Intelektual yang berkaitan dengan industri dan perdagangan. Namun diantara

berbagai mekanisme perlindungan HKI Konvensional tersebut, tetap terdapat mekanisme-

mekanisme yang berpeluang untuk dapat diterapkan dalam melindungi Ekspresi Budaya

Tradisional, walau masih bersifat sangat umum dan tidak secara utuh.

4. Hambatan dan Tantangan Upaya Perlindungan Ekspresi budaya Tradisional

dalam Kerangka Rezim Hak Kekayaan Intelektual Tradisional

Upaya pengunaan pendekatan perlindungan positif lewat rezim Hak Kekayaan

Intelektual juga tidak lepas dari berbagai hambatan dan tantangan. Memang, baik

Kekayaan Intelektual Konvensional dan Kekayaan Intelektual Tradisional sama-sama

merupakan bentuk hasil kreasi manusia bersumberdaya dan bermodal intelektual dalam

rangka memenuhi hajat hidupnya. Namun pada dasarnya tetaplah Kekayaan Intelektual

Konvensional dan Kekayaan Intelektual Tradisional memiliki perbedaan yang mau tidak

mau turut memberi pengaruh besar dalam upaya perlindungannya.

Sejauh ini, ada tiga bentuk hambatan dan tantangan yang dapat kita identifikasi.

Hambatan dan tantangan ini muncul seiring usaha memberikan bentuk perlindungan

97
Ekspresi Budaya Tradisional ke dalam rezim HKI. Hambatan dan tantangan tersebut

meliputi :

a. Perbedaan karakteristik dasar antara Hak Kekayaan Intelektual Konvensional

dan Hak Kekayaan Intelektual Tradisional.

Masalah ini dapat dikatakan sebagai hambatan dan tantangan terbesar

dalam upaya perlindungan Kekayaan Intelektual Tradisional dalam rezim

HKI. Masalah ini tidak hanya dijumpai dalam upaya perlindungan ekpresi

budaya tradisional, tapi juga perlindungan berbagai bentuk lain dari Kekayaan

Intelektual Tradisional.

Perbedaan ini muncul karena karakteristik rezim HKI konvensional

dibentuk dari budaya komersialitas dan individualisme yang tumbuh di

masyarakat barat. Hingga dapat dikatakan bahwa bentuk kekayaan intelektual

yang dilindungi oleh rezim HKI konvensional berangkat dari model kekayaan

intelektual barat. Memang, ketika rezim ini diberlakukan untuk hal-hal yang

bersifat individual seperti perlindungan karya-karya intelektual maupun

kekayaan intelektual lainnya dengan sumber dan riwayat yang jelas, maka

rezim itu efektif dan menjanjikan. Namun apabila rezim HKI konvensional

diterapkan pada karya- karya intelektual tradisional yang sifatnya lisan dan

komunal, tentulah rezim itu tidak akan bersahabat lagi. Ia justru berpotensi

melahirkan permasalahan baru yang juga sangat rumit dan bisa merugikan12.

Seperti telah kita kutip sebelumnya, menurut Menurut James

Danandjaya, ada karakteristik kekayaan intelektual tradisional yang sangat

12
Rizaldi Siagian, Jenis-jenis Pemanfaatan Atas Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Folklor Yang Perlu
Dilindungi dan Implikasi Pemanfaatannya, halaman 1

98
menonjol dan membedakannya dari kekayaan intelektual barat yang dilindungi

oleh HKI konvensional, yaitu berupa13:

(1) Penyebaran dan pewarisan bersifat lisan, yaitu disebarkan lewat tutur kata

dari mulut ke mulut (atau suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat,

dan alat pembantu pengingat-mnemonics devices.) dari satu generasi ke

generasi lain.

(2) Bersifat tradisional, yaitu disebarkan dalam bentuk yang relatif tetap, ada

dalam bentuk standar, disebarkan dalam kolektif tertentu, dalam waktu

yang cukup lama (paling sedikit dua generasi)

(3) Hadir dalam varian-varian yang berbeda. Hal ini diakibatkan oleh cara

penyebarannya yang bersifat lisan. Sehingga muncul faktor lupa dan

mudah berubah.

(4) Bersifat anonim, dalam arti tidak diketahui lagi secara pasti siapa

penciptanya.

(5) Bentuknya rumus atau berpola, dalam artian seringkali memiliki bentuk

dasar yang bersifat baku.

(6) Mempunyai fungsi kegunaan dalam kehidupan kolektif, contohnya seperti

cerita rakyat yang memiliki fungsi sebagi pelipur lara, protes sosial,

hingga ekspresi religius.

(7) Pralogis, dalam artian memiliki sistem logika sendiri yang terkadang

tidak sesuai dengan logika standar (logika Aristotleian)

(8) Milik kolektif bersama dari satu komunitas, bukan milik perorangan.

(9) Bersifat polos, spontan, lugu, vulgar hingga seringkali terlihat kasar,

porno dan bersifat SARA. Hal ini dapat dimengerti karena kekayaan

13
James Dananjaya, Perlindungan Hukum Terhadap Folklor di Indonesia, halaman 2-3

99
intelektual tradisional merupakan proyeksi emosi manusia yang paling

jujur manifestasinya.

Sementara menurut Tim Lindsey dkk., masalah paling mendasar

mengenai perlindungan HKI Tradisional adalah mengenai konsep hak komunal

itu sendiri. Seperti kita ketahu, rezim HKI konvensional mengunakan konsep

perlindungan hak individu dan tidak mengenal konsep perlindungan hak

komunal. Hak individu ini berkaitan erat dengan tujuan pemanfaatan ekonomi

yang menjadi prioritas perlindungan dari rezim HKI modern.

Padahal banyak karya-karya intelektual tradisional diciptakan

masyarakat tradisional secara berkelompok. Berarti banyak pula orang yang

memberi sumbangan pada produk akhir. Banyak pula pengetahuan tradisional

yang ditemukan secara kebetulan maupun dikembangkan oleh orang-orang

berbeda selama jangka waktu yang sangat panjang. Bahkan lebih penting lagi :

masyarakat adat seringkali tidak mengenal konsep hak individu, harta

berfungsi sosial dan bersifat umum. Dengan demikian pencipta maupun

inventor dari karya-karya intelektual maupun pengetahuan yang bersifat

tradisional seringkali tidak mementingkan hal-hal individu ataupun hak

kepemilikan individual atas karya mereka14.

Hingga dapat kita simpulkan, Kekayaan Intelektual Tradisional dan

Kekayaan Intelektual konvensional tetaplah memiliki perbedaan karakteristik

dasar, yaitu meliputi15:

14
Tim Lindsey, Eddy Damian, Simon Butt, Tomi Suryo Utomo, ed., Hak Kekayaan Intelektual: Suatu
Pengantar, (Bandung : PT Alumni, 2002), halaman 261
15
Kholis Roisah, “Perlindungan hukum Terhadap Kekayaan Intelektual Tradisional,” Majalah Ilmiah Masalah-
Masalah Hukum FH UNDIP edisi Juli-September 2006, halaman 359

100
Tabel 2: Perbedaan karakteristik antara rezim Kekayaan HKI Konvensional dan HKI
Tradisional

Rezim Hak Kekayaan Intelektual Rezim Hak Kekayaan Intelektual


konvensional Tradisonal
 Hasil kreasi individu  Hasil kreasi kelompok
 Hak individu/kepemilikan masyarakat
individu  Tidak mengenal kepemilikan
 Jelas pencipta/penemunya individu
 Perubahan bersifat  Tidak jelas
pembaharuan terhadap nilai penciptanya/penemunya
dan konsep tradisional  Konservasi terhadap nilai dan
 Eksploitasi alam secara konsep tradisional
intensif  Konservasi alam dan
 Orientasi komersil/pasar pengunaan berkelanjutan
 Kompetensi dan kompetisi  Kompetensi dan kompetisi
terhadap pasar bebas bersifat lokal
 Nilai-nilai ilmiah mendasari  Nilai-nilai tradisional
perubahan dan tuntutan mendasari tuntutan kebutuhan
kebutuhan  Perlindungan tidak terbatas
 Perlindungan terbatas  Terikat dengan karakter dan
 Bersifat universal nilai adat istiadat

101
b. Sempitnya lingkup perlindungan rezim Hak Kekayaan Intelektual

Konvensional terhadap Ekspresi Budaya Tradisional.

Selama ini umumnya perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional

masuk dalam kerangka hukum Hak Cipta, baik lewat Konvensi Berne 1967,

Tunis Model Law 1976 hingga WPPT 1996. Namun dapat dikatakan bahwa

usaha perlindungan dalam kerangka hukum Hak Cipta ini juga menemui

banyak persoalan berarti. Jika upaya perlindungan dalam kerangka hukum

Hak Cipta ini berusaha terus dilakukan maka akan timbul setidaknya empat

masalah pokok, menurut Joseph Githaiga, yaitu meliputi16 :

(1) Masalah kepemilikan Hak Cipta dan pencipta

Masalah ini berkaitan dengan siapa pencipta dan siapa pemilik Hak Cipta

atas suatu karya cipta. Dalam Hak Cipta pada rezim HKI Konvensional,

pencipta adalah orang atau beberapa orang yang bersama-sama melahirkan

ciptaan. Sementara pada terdapat juga definisi pemegang Hak Cipta yaitu

adalah si pencipta ataupun pihak yang menerima hak tersebut. Pada HKI

Tradisional, seringkali tidak diketahui secara jelas siapa yang menciptakan

karya cipta tradisional itu. Seringkali penciptanya anonim dan sumbernya

tidak jelas. Hingga dengan begitu sulit pula mengetahui siapa yang berhak

memegang Hak Cipta.

(2) Keaslian Hak Cipta

Salah satu prinsip utama Hak Cipta dalam HKI Konvensional adalah

orisinalitas. Bahwa suatu karya cipta haruslah benar-benar orisinil dan asli

diciptakan oleh si pencipta. Hingga dengan begitu suatu ciptaan hanya

dapat dilindungi apabila unsur keaslian tersebut terpenuhi. Sementara pada

16
Joseph Githaiga, Intellectual Property Law and the Protection of Indigenous Folklore and Knowledge, (Juni
1998)

102
HKI Tradisional, seringkali karya cipta tradisional hanyalah

pengembangan dari karya cipta tradisional yang sudah ada dan dikenal

sebelumnya, atau bahkan hanya sekedar varian. Hingga karena itu faktor

orisinalitasnya seringkali sulit dipertanggungjawabkan.

(3) Bentuk karya cipta

Dalam HKI Konvensional dikenal prinsip perlindungan Hak Cipta hanya

dapat diberikan apabila karya cipta yanag dilindungi tersebut memiliki

bentuk yang berwujud (fixation). Seperti buku, film, lukisan, rekaman

musik dan rekaman koreografi tarian. Sementara dalam HKI Tradisional,

suatu karya cipta tradisional seringkali bersifat lisan, dan dipertunjukkan

maupun diwariskan ke generasi berikutnya secara turun temurun tanpa

pernah direkam dalam suatu bentuk berwujud.

(4) Jangka waktu perlindungan

Dalam Hak Cipta pada HKI Konvensional, dikenal konsep jangka waktu

perlindungan terhadap suatu karya cipta. Dimana lewat jangka waktu

perlindungan tersebut, haka eksklusif pencipta terhadap karya ciptanya

dibatasi dalam jangka waktu tertentu. Setelah itu maka karya cipta tersebut

menjadi milik umum (public domain). Sementara dalam HKI Tradisional,

suatu karya cipta dikembangkan dan digunakan terus secara turun temurun

hingga bahkan mencapai ribuan tahun demi kelangsungan budaya dan

tradisi masyarakat. Jika jangka waktu perlindungannya dibatasi, maka

sulit memberikan perlindungan ketika karya cipta tradisional itu

diturunkan dan digunakan oleh generasi-generasi selanjutnya.

Selain itu, masalah yang muncul dari konsep perlindungan Ekspresi

Budaya Tradisional dalam kerangka hukum Hak Cipta adalah bentuk dari

103
Ekspresi Budaya Tradisional sendiri yang tidak hanya berbentuk ekspresi seni

seperti lagu, tarian, musik dan sastra lisan. Ekspresi Budaya Tradisional dapat

muncul dalam bentuk lain seperti hasil kerajinan, pola rajutan atau, hingga

simbol dan gambar yang memiliki nilai sakral dan rahasia.

Ambil contoh misalkan pola gambar yang digunakan dalam produksi

kaos bermotif etnik. Apakah dia berada dalam kerangka Hak Cipta atau lebih

tepat berada di bawah desain industri? Bagaimana dengan merek yang

mengunakan istilah atau simbol etnik seperti “billabong” atau “cherokee,”

apakah berada di bawah hukum Hak Cipta atau hukum merek? Jika

perlindungan terhadap Ekspresi Budaya Tradisional juga dilakukan dalam

kerangka hukum desain industri atau hukum merek, bagaimana bentuk

perlindungan yang dapat ditawarkan?

c. Kedudukan Ekspresi Budaya Tradisional sebagai bagian dari public domain.

Salah satu tantangan utama untuk memenuhi tuntutan perlindungan

terhadap Ekspresi Budaya Tradisional ini mengakar pada pandangan yang

hidup dalam HKI Konvensional terutama dalam prakteknya di negara-negara

maju. Bahwa Ekspresi Budaya Tradisional dan segala bentuk Kekayaan

Intelektual Tradisional lainnya merupakan bagian dari masa lalu, dan

karenanya tidak dapat dan tidak perlu dilindungi oleh rezim HKI, namun

merupakan bagian dari warisan budaya bersama dan berada dalam lingkup

public domain.

Pandangan ini beranggapan bahwa Ekspresi Budaya Tradisional dan

bentuk Kekayaan Intelektual Tradisional lainnya haruslah tetap berada dalam

ranah public domain hingga dapat diakses dan digunakan oleh semua orang

tanpa kecuali. Hal ini dirasa perlu karena Kekayaan Intelektual tradisional

104
merupakan bagian penting dari identitas budaya dan warisan bersama umat

manusia. Masuknya Ekspresi Budaya Tradisional dalam wilayah public

domain berarti Ekspresi budaya Tradisional tersebut tidak dlindungi. Setiap

orang/pihak dapat memanfaatkannya tanpa perlu ijin ataupun pemenuhan hak

ekonomi kepada pencipta maupun pemiliknya.

Kekayaan Intelektual Tradisional juga merupakan salah satu sumber

kreativitas utama di tengah masyarakat. Banyak karya cipta modern dibangun

diatas landasan Kekayaan Intelektual Tradisional yang ada di masyarakat, baik

sebagai bentuk pengembangan maupun terinspirasi oleh nilai-nilai budaya dan

estetika yang terdapat dalam Kekayaan Intelektual Tradisional tersebut. Upaya

melindungi Ekspresi Budaya Tradisional dengan menerapkan suatu bentuk

HKI yang bersifat eksklusif justru dianggap memasung kreativitas yang dapat

muncul dari landasan Kekayaan Intelektual Tradisional tersebut. Kekayaan

Intelektual Tradisional yang dahulunya merupakan sumber kreativitas

masyarakat terpasung menjadi hak milik kelompok tertentu yang mengklaim

secara eksklusif sebagai pemiliknya.

Pandangan ini dianggap tidak toleran dan tidak sesuai dengan

kebutuhan negara-negara berkembang, terutama negara-negara yang memiliki

masyarakat adat yang bergantung erat pada Kekayaan Intelektual Tradisional

yang mereka miliki. Sebab di belahan dunia ketiga, segala bentuk

penyerobotan dan penggunaan secara tak pantas dan tanpa otorisasi terhadap

kekayaan Intelektual Tradisional mereka oleh pihak luar sangat marak.

Sementara masyarakat adat pemiliknya tidak memperoleh kontribusi apa-apa

dari pengunaan Kekayaan Intelektual Tradisional mereka dan seakan terasa

“dirampok.” Hingga tak heran penggunaan Kekayaan Intelektual Tradisional

105
tanpa otorisasi dengan alasan bahwa Kekayaan intelektual tersebut berada

dalam ranah public domain dianggap oleh sebagian kalangan sebagai sesuatu

yang tidak dapat dibenarkan secara moral, budaya maupun ekonomi.

Berbagai hambatan dan tantangan diatas setidaknya menyadarkan kita,

perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional dalam kerangka rezim HKI Konvensional

dapat dilakukan walau tidak lepas dari berbagai kesulitan dalam penerapannya. Kesulitan

ini menyadarkan kita bahwa penerapan perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional dalam

rezim HKI Konvensional memiliki batasan-batasan tertentu. Batasan ini muncul karena

perbedaan karakteristik antara keduanya, hingga apabila dipaksakan justru akan

menimbulkan permasalahan baru yang juga sangat rumit dan bahkan bisa merugi.

Masalah ini muncul karena dalam rezim HKI Konvensional, obyek perlindungan

budaya tradisional hanya dipandang dari sudut komersialitas (perlindungan hak ekonomi)

dan individualisme (perlindungan hak individu). Akhirnya nilai-nilai pembangunan

ekonomi, nilai-nilai adat (termasuk spiritual) dan nilai komunal menjadi terlewatkan. Seni

budaya hanya dilihat sebagai obyek mati bukan subyek yang hidup dan terus

berkembang. Semangat substansial mengenai budaya sendiri pada akhirnya belum

tersentuh dan tampaknya belum terpahami dengan benar17. Sementara hasil karya

intelektual yang berasal dari HKI Tradisional dewasa ini menjadi komoditas yang

semakin laku dijual ditengah era globalisasi dan pasar bebas beriring dengan kemajuan

teknologi dan perkembangan jaman.

17
Rizaldi Siagian, Loc.cit.,

106
B. Perlindungan Terhadap Ekspresi Budaya Tradisional Dalam Rezim Hak Kekayaan

Intelektual Sui Generis

1. Upaya Perlindungan Positif Terhadap Ekspresi Budaya Tradisional Dalam

Kerangka Hak Kekayaan Intelektual Sui Generis

Keberadaan berbagai tantangan dan hambatan tersebut diatas menunjukan kepada

kita bahwa upaya perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional memang bukan sesuatu yang

mudah. Hingga tak heran banyak pihak berpendapat bahwa upaya penyusun mekanisme

perlindungan ekspresi Budaya Tradisional lewat rezim HKI Konvensional tidak akan

dapat berjalan efektif dan cukup. Dibutuhkan suatu rezim perlindungan yang mampu

melingkupi berbagai karakteristik dari Kekayaan Intelektual Tradisional terutama dalam

hal ini Ekspresi Budaya Tradisional yang bersifat khas, namun disisi lain tetap bertumpu

dalam kerangka Hak Kekayaan Intelektual.

Berangkat dari masalah ini, maka disadari akan perlunya dibentuk suatu kerangka

perlindungan Hak Kekayaan Intelektual Sui Generis (HKI Sui Generis). Istilah Sui

Generis berasal dari bahasa latin yang berarti khusus atau unik. Unik disini dalam artian

bahwa kerangka perlindungan tersebut memiliki karakteristik yang berbeda dari

Kekayaan Intelektual pada umumnya, namun masih berada dalam ranah Hak Kekayaan

Intelektual. Dari sinilah konsep atau lebih tepatnya istilah HKI Sui Generis atau HKI

Tradisional dapat kita gunakan. yang sesuai dengan karakteristik Kekayaan Intelektual

Tradisional.

Upaya perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional dalam kerangka HKI Sui

Generis telah dirintis pertama kali lewat WIPO-UNESCO Model Law on Copyright for

Developing Country 1976 dan WIPO-UNESCO Model Provisions for National Laws on

the Protection of Expressions of Folklore Against Illicit Exploitation and Other

Prejudicial Actions (Model Provisions 1982). Keduanya bukanlah instrumen hukum

107
internasional yang bersifat legally-binding seperti Konvensi (Convention) atau

Persetujuan (Agreement) tapi merupakan suatu model perlindungan hukum dan Model

Provisions yang menjadi panduan bagi tiap negara untuk menyusun kerangka

perlindungan Ekspresi Budaya Tradisionalnya masing-masing.

Unsur Sui-Generis dari kedua panduan pembentukan hukum ini sendiri terlihat

dari upaya pembentukan mekanisme perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional yang

bersifat khusus dan utuh. Mekanisme perlindungan tersebut tidak lagi berada dalam

bentuk mekanisme HKI Konvensional yang dapat diaplikasikan kepada Ekspresi Budaya

Tradisional. Tapi berada sebagai mekanisme HKI Sui Generis, baik tertuang sebagai

bagian khusus dan pengecualian dalam pengaturan kerangka mekanisme HKI

Konvensional (contoh: Tunis Model Law 1976) maupun secara benar-benar khusus utuh

dan tersendiri sebagai mekanisme pengaturan HKI Sui Generis (contoh: Model Provisions

1982).

Instrumen hukum di bidang HKI Sui Generis yang turut mengatur mengenai

bentuk perlindungan terhadap Ekspresi Budaya Tradisional tersebut meliputi :

a. Tunis Model Law on Copyright for Developing Countries 1976

Upaya perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional dilanjutkan lewat

WIPO-UNESCO Model Law on Copyright for Developing Country 1976

(Tunis Model Law). Tunis Model Law disusun oleh UNESCO bekerjasama

dengan WIPO sebagai panduan pembentukan hukum nasional yang mengatur

perlindungan Hak Cipta di dalam sistem hukum negara-negara berkembang.

Walaupun bertujuan untuk memenuhi tuntutan kebutuhan akan rezim Hak

Cipta, namun Tunis Model Law juga turut membentuk mekanisme

perlindungan budaya dalam kerangka Hak Cipta dengan berbagai

pengecualian khusus yang bersifat Sui Generis.

108
Bentuk perlindungan yang ditawarkan dalam WIPO-UNESCO Model

Law on Copyright for Developing Country 1976 berupa :

1) Konteks dan tujuan perlindungan.

Dalam komentar nomor 39 dinyatakan bahwa berkaitan dengan “folklore,”

konteks dan tujuan perlindungan dalam Tunis Model Law adalah : “to

prevent any improper exploitation and to permit adequate protection of the

cultural heritage known as folklore which constitutes not only a potential

for economic expansion, but also a cultural legacy intimately bound up

with the individual character of the community.”

2) Obyek perlindungan

Obyek perlindungan dalam Tunis Model Law adalah “works of national

folklore.”

Definisi dari istilah “folklore” yang digunakan dalam istilah “works of

national folklore” (karya cipta folklor nasional) berpatokan pada Section

18(iv) yang menyatakan bahwa :

“(iv)"folklore" means all literary, artistic and scientific works created


on national teritory by authors presumed to be nationals of such
countries or by ethnic communities, passed from generation to
generation and constituting one of the basic elements of the
traditional cultural heritage.”

Dari definisi diatas, dapat kita pahami bahwa Tunis Model Law tidak

memisahkan antara Ekspresi Budaya Tradisional, Pengetahuan Tradisional

maupun Keanekaragaman Hayati, namun dianggap sebagai satu kesatuan

Kekayaan Intelektual Tradisional dalam kerangka works of national

folklore (karya cipta folklor nasional). Maka dapat dikatakan bahwa

Ekspresi Budaya Tradisional termasuk bentuk Kekayaan Intelektual yang

dilindungi dalam Tunis Model Law.

109
Istilah works of national folklore sendiri mengandung unsur “works”

(karya cipta) dan “folklore” yang menunjukan bahwa “works of national

folklore” ini berada dalam kerangka Hak Cipta, walaupun bersifat Sui

Generis.

3) Syarat perlindungan

Syarat perlindungan bagi works of national folklore dalam Tunis Model

Law tidak dicantumkan secara mendetail. Syarat perlindungan yang

dicantumkan dalam Tunis Model Law hanyalah syarat bahwa suatu karya

cipta dalam kerangka works of national folklore tidaklah harus asli

selayaknya syarat karya cipta dalam Hak Cipta biasa.

Selain itu dalam Section 1 (5bis) juga dinyatakan bahwa works of national

folklore dapat dilindungi walaupun tidak berada dalam suatu bentuk

perekamanan (fixation).

4) Pemegang hak

Dalam komentar nomor 39 dinyatakan bahwa pemegang hak atas works of

national folklore yang dilindungi adalah otoritas yang berwenang

menangani (competent authority) sebagai wakil dari masyarakat adat

pemiliknya.

5) Hak yang dilindungi

Dalam Tunis Model Law, hak yang dilindungi dalam kaitannya dengan

Ekspresi Budaya Tradisional diletakan secara khusus pada Section 6

mengenai Works of national folklore yang menyatakan bahwa :

“(1) In The case of works of national folklore, the rights reffered to in


section 4 and 5(1) shall be exercised by the competent authority as
defined in section 18.”

110
Pada Section 6(1) dinyatakan bahwa bentuk perlindungan terhadap “works

of national folklore” meliputi perlindungan terhadap dua hak, yaitu hak

ekonomi (Section 4) dan hak moral (Section 5(1)).

Hak ekonomi yang dilindungi dimana dinyatakan dalam Section 4 adalah :

“Subject to Sections 6 to 10, author of a protected works has the


exclusive right to do or authorize the following acts [in relation to the
whole work or a substantialpart thereof]
(i) To reproduce the work;
(ii) To make a translation, adaptation, arrangement, transformation of
the work;
(iii)To communicate work to public by performance or by
broadcasting.”

Sementara perlindungan terhadap hak moral dinyatakan dalam Section

5(1)) dimana :

(1) The authors has the right :


(i) to claim authorship, in particular that his authorship be
indicated in connection with any of the acts reffered to in
Section 4, except when the work is included incidentally or
accidentally when reporting current event by means of
broadcasting;
(ii) to object to, and to seek relief in connection with, any
distortion, mutilation, modification of and any other derogatory
action in relation to, his work, where such action would be or
is prejudicial to his honor or reputation.

Pengecualian perlindungan juga dapat diaplikasikan terhadap works of

national folklore yang digunakan oleh badan publik (public entity) untuk

tujuan non-komersil.

“(1bis) Subsection shall not apply when works of national folklore are
used by a public entity for non-commercial purpose”

Tunis Model Law juga melindungi hak ekonomi pemilik “works of

national folklore” lewat sistem domaine public payant yang dinyatakan

dalam Section 17.

111
6) Prosedur perlindungan

- Otoritas yang menangani

Sesuai ketentuan Section 6(1) dinyatakan bahwa yang berewenang

menangani perlindungan works of national folklore yang dilindungi adalah

otoritas yang berwenang menangani (competent authority).

Definisi dari otoritas berwenang (competent authority) ini dijabarkan

dalam Section 18(iii) yang menyatakan :

(iii) "competent authority" means one or more bodies, each


consisting of one or more persons appointed by the Goverment
for the purpose of excersing jurisdictions under the provisions
of this Law whenever any matter requires to be determined by
such authority.

- Prosedur pelaksanaan

Dalam komentar nomor 41 dinyatakan bahwa segala bentuk pengunaan

works of national folklore harus memperoleh otorisasi dari otoritas yang

berwenang (competent authority). Otorisasi tersebut dikeluarkan dengan

memperhatikan dan mempertimbangkan serta negoisasi berbagai

kepentingan pihak terkait, baik pemilik works of national folklore maupun

pihak penguna works of national folklore tersebut termasuk didalamnya

mengenai keuntungan-keuntungan yang didapat dan kompensasi yang

diberikan. Hingga dapat diusahakan suatu bentuk pengunaan yang

memberi keuntungan bagi semua pihak.

Pada Section 6(3) dinyatakan bahwa :

(2) Copies of works of national folklore made abroad, and copies


of translations, adaptations, arrangements or other
transformations of works of a national folklore made abroad
without the authorization of the competent authority, shall be
neither imported nor distributed.

112
Maka works of national folklore baik dalam bentuk salinan, salinan

terjemahan, adaptasi dan perubahan ke dalam segala bentuk yang

dilakukan tanpa otorisasi dari otoritas berwenang (competent authority),

tidak boleh diimpor maupun didistribusikan.

Pada Section 17 dinyatakan bahwa dalam pengunaan works of national

folklore untuk tujuan komersial, otoritas yang berwenang berhak menarik

sejumlah pungutan dalam kerangka “Domaine Public Payant,” sejumlah

sekian persen yang telah ditentukan sebelumnya dari jumlah produksi

penguna works of national folklore. Dinyatakan dalam Section 17

mengenai "Domaine Public Payant" :

“The user shall pay to the competent authority ... percent of the
receipts produced by the use of works in the public domain or their
adaptation, including works of national folklore. The sums collected
shall be used for the following purposes :
(i) To promote institutions for the benefit of authors [and of
performers], such as societies of authors, cooperatives, guilds, etc.
(ii) To protect and disseminate national folklore”

Jumlah pembayaran bagi otoritas yang berwenang tersebut kemudian

digunakan untuk kepentingan komunitas, kelompok maupun institusi

penghasil karya cipta tersebut serta digunakan dalam upaya perlindungan

serta diseminasi terhadap warisan budaya nasional.

Tidak ada ketentuan lebih jauh yang mengatur mengenai prosedur

perlindungan dalam Tunis Model Law. Mekanisme perlindungan lebih

lanjut diserahkan pada masing-masing negara sesuai kebutuhannya

masing-masing.

- Sanksi dan penegakan

113
Sanksi dan penegakan terhadap pelanggaran atas pengunaan works of

national folklore diatur pada Section 15 mengenai Infringements and

sanctions. Dinyatakan dalam Section 15 tersebut bahwa :

“(1) Any person infringing any one of the rights protected under this
Law
(i) Shall be obliged by the court to cease such infringements;
(ii) Shall be liable for damages;
(iii) Shall, if the infringement was willful, be punishable by a fine
not exceeding ... or imprisonement not exceeding ... months or
both, provided that, in the case of recidivism, the above amount
or term or both may be doubled.
(2) Any infringement of any of these rights which is considered as
violation of the national cultural heritage may be curbed by all
legitimate means.
(3) Infringing copies, receipts arising from acts constituting an
infringements of these rights and any implements used for the
infringements shall be subject to seizure
(4) The material proof of such infringement of any one of the rights
may be provided by statements of police officers or by the certified
statements of the sworn agents of the organization of authors.”

Maka berdasar ketentuan Section 15, setiap bentuk pelanggaran hak dalam

pengunaan works of national folklore, maka dilakukan sanksi dan

penegakan terhadap pihak terkait berupa :

- Setiap pelaku diwajibkan untuk menghentikan setiap bentuk

pelanggaran yang dilakukannya.

- Setiap pelaku diwajibkan bertanggungjawab atas segala dampak dan

kerugian yang muncul dari pelanggaran tersebut.

- Jika diketahui bahwa pelanggaran tersebut terjadi karena niat pelaku,

maka pelaku dapat dipidana dengan pidana denda maupun pidana

penjara dengan jumlah yang ditentukan sesuai kebutuhan tiap negara.

- Setiap bentuk tindakan lain yang dianggap sebagai pelanggaran

terhadap warisan budaya tradisional, dapat ditangani secara hukum.

114
- Segala salinan, hasil, alat yang digunakan maupun keuntungan yang

diperoleh dari tindakan pelanggaran dapat disita oleh negara.

7) Jangka waktu perlindungan

Pada Section 6(2) dinyatakan bahwa :

“(2) Works of national folklore are protected by all means accordance


with subsection (1), without limitation in time.”

Maka perlindungan terhadap works of national folklore dilakukan tanpa

adanya batasan waktu perlindungan.

8) Hubungan dengan instrumen HKI lain

Sesuai ketentuan Section 2 mengenai Derivative works, yang menyatakan

bahwa :

(1) The following are also protected as original works :



(iv) works derived from national folklore

Maka berbagai karya yang merupakan karya turunan (derivative works)

dari works of national folklore, baik berupa adaptasi maupun karya yang

terinspirasi dianggap bukan sebagai works of national folklore, namun

sebagai karya cipta biasa di ranah Hak Cipta.

9) Perlindungan ditingkat regional dan internasional.

Pada Section 6(3) dinyatakan bahwa :

“(3) Copies of works of national folklore made abroad, and copies of


translations, adaptations, arrangements or other transformations
of works of a national folklore made abroad without the
authorization of the competent authority, shall be neither imported
nor distributed.”

Maka segala bentuk pelanggaran berupa duplikasi tanpa otorisasi terhadap

works of national folklore yang dilakukan diluar negara yang mengatur,

115
dilarang beredar di dalam negara yang mengatur dalam model

perlindungan hukum ini.

Selanjutnya dinyatakan dalam Section 16 (2) mengenai Field of

application of Law bahwa yaitu :

“(2) [Alternative X] This Law shall futhermore apply to all works


which by virtue of treaties entered into by the country, are to be
protected, as well as to works of national folklore.
(2) [Alternative Y] This Law shall futhermore apply to works :
(i) Of authors who are nationals of, or have their habitual
residence in countries;
(ii) First published in countries;
(iii) Of organizations; and
(iv) Of national folklore of countries.
Which with references to this subsection, shall be named in
approriate orders promulgated by the Goverment.”

Maka dapat kita simpulkan berdasar ketentuan dalam Section 16 (2)

[Alternative X] Tunis Model Law bahwa pelindungan juga diberikan

terhadap bentuk karya cipta yang dilindungi oleh instrumen hukum

internasional dimana negara tersebut menjadi anggota. Termasuk

didalamnya perlindungan terhadap Ekspresi Budaya Tradisional dan

Kekayaan Intelektual Tradisional lainnya.

Selanjutnya berdasar ketentuan dalam Section 16 (2) [Alternative X]

bahwa karya cipta yang dilindungi berdasar ketentuan negara yang

melindungi, termasuk adalah karya cipta warisan budaya nasional (works

of national folklore).

Model perlindungan dalam Tunis Model Law ini masih tidak terlepas

dari kritik. Terutama karena tidak dipisahkannya konsep antara Ekspresi

Buadaya Tradisional, Pengetahuan Tradisional dan Keanekaragaman Hayati

yang kemudian digeneralisir ke dalam satu definisi yaitu “works of national

116
folklore.” Hal ini menimbulkan pertanyaan, bagaimana misalnya Pengetahuan

Tradisional dengan aspek technological know-how-nya(yang dalam definisi

Section 18(iv) disebut dengan istilah scientific works) dapat dimasukan dalam

kerangka Hak Cipta dan bukan hukum Paten? Kritik lain adalah mengenai

otoritas berwenang (competent authority), siapa yang berhak mengatur dan

menentukan siapa otoritas berwenang itu serta bagaimana prosedur tugasnya

juga tidak dijelaskan lebih jauh dalam model perlindungan hukum ini.

Berbagai kritik ini memunculkan anggapan bahwa bentuk

perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional dalam Tunis Model Law terasa

sangat sempit dan tidak cukup untuk memenuhi tuntutan perlindungan

Ekspresi Budaya Tradisional. Tunis Model Law seakan berusaha memasukkan

secara paksa Ekspresi Budaya Tradisional dalam sistim Hak Cipta dalam

rezim HKI Konvensional yang jelas memiliki karakter berbeda.

Karena itu dalam perkembangan selanjutnya disadari bahwa

dibutuhkan suatu bentuk model perlindungan hukum yang dapat memberikan

perlindungan Sui Generis secara lebih utuh dan khusus terhadap berbagai

bentuk Kekayaan Intelektual Tradisional. Kekurang mampuan Tunis Model

Law dalam menjawab kebutuhan perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional

pada khususnya memunculkan Model Provisions for National Laws on the

Protection of Expressions of Folklore Against Illicit Exploitation and Other

Prejudicial Actions yang dapat dianggap sebagai kelanjutan dari Tunis Model

Law sekaligus kelanjutan dari upaya membentuk mekanisme perlindungan

Ekspresi Budaya Tradisional yang efektif.

117
b. WIPO-UNESCO Model Provisions for National Laws on the Protection of

Expressions of Folklore Against Illicit Exploitation and Other Prejudicial

Actions

Pada tahun 1973, pemerintah Bolivia mengajukan permintaan kepada

UNESCO untuk menyusun suatu bentuk instrumen hukum internasional

bersifat legally-binding yang mengatur perlindungan Kekayaan Intelektual

Tradisional dalam kerangka Hak Kekayaan Intelektual Sui Generis.

Diharapkan instrumen ini kemudian dapat diadopsi sebagai protokol dalam

Universal Copyright Convention (UCC)18. Menanggapi usulan tersebut, WIPO

kemudian bersama-sama dengan WIPO membentuk suatu working groups

yang bertugas untuk mengkaji dan merumuskan suatu mekanisme

perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional yang layak.

Dalam perkembangan berikutnya, hasil pengkajian WIPO-UNESCO

working groups tersebut kemudian merumuskan pemikiran mengenai

mekanisme perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional yang didasarkan pada19

: (i) dibutuhkan suatu bentuk perlindungan folklore yang pantas; (ii)

perlindungan tersebut dapat dikembangkan di tingkat nasional lewat bentuk

model perlindungan hukum; (iii) Model perlindungan hukum tersebut haruslah

bersifat menyeluruh (elaborated) hingga dapat diterapkan baik dalam suatu

tatanan hukum baru ataupun menjadi bagian pengembangan dari tatanan

hukum yang telah ada sebelumnya; (iv) perlindungan dalam Model

perlindungan hukum tersebut juga tidak menutup kemungkinan perlindungan

Ekspresi Budaya Tradisional lewat kerangka Hak Cipta dan hak terkait

(neighbouring rights) apabila hal tersebut dapat dilakukan; dan (v) Model
18
P.V. Valsala G. Kutty, National Experiences With The Protection of Expressions of Folklore/Traditional
Cultural Expressions: India, Indonesia and Philipines, halaman 5
19
WIPO Secretariat, Op.Cit., halaman 22

118
perlindungan hukum tersebut merupakan langkah awal bagi pembentukan

perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional di tingkat sub-regional, regional

hingga internasional.

Berangkat dari pemikiran tersebut, pada tahun 1982 diadopsilah

WIPO-UNESCO Model Provisions for National Laws on the Protection of

Expressions of Folklore Against Illicit Exploitation and Other Prejudicial

Actions (Model Provisions 1982.) Model Provisions 1982 merupakan panduan

pembentukan hukum yang diadopsi oleh UNESCO dan WIPO dengan tujuan

untuk memenuhi kebutuhan perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional di

tingkat nasional. Selain itu model perlindungan hukum ini juga diharapkan

menjadi awal dari usaha penyusunan suatu instrumen hukum internasional

yang secara khusus mengatur mengenai mekanisme perlindungan Ekspresi

Budaya Internasional di tingkat sub-regional, regional atau bahkan global.

Model Provisions 1982 sendiri harus kita lihat secara khusus karena

karakteristiknya yang unik. Tujuan utamanya adalah memberi perlindungan

dari segala bentuk eksploitasi yang tak sah (illicit exploitation) dan bentuk

pelanggaran lainnya (other prejudicial actions). Model perlindungan hukum

ini tidak mengunakan prinsip yang umumnya digunakan dalam rezim Hak

Kekayaan Intelektual Konvensional. Model perlindungan hukum ini, misalnya

tidak mengenal konsep karya cipta (works) selayaknya yang digunakan dalam

lingkup Hak Cipta. Selain itu berbagai perbedaan karakteristik lain seperti

bentuk pelanggaran, hak yang diperoleh hingga tidak adanya batas waktu

perlindungan mengaskan sifat Sui Generis dari Model perlindungan hukum

ini.

119
Bentuk perlindungan yang ditawarkan dalam WIPO-UNESCO Model

Provisions for National Laws on the Protection of Expressions of Folklore

Against Illicit Exploitation and Other Prejudicial Actions 1982 berupa :

1) Konteks dan tujuan perlindungan.

Tujuan utama Model Provisions 1982 adalah sebagai panduan dalam

menyusun peraturan hukum yang memberikan perlindungan yang pantas

terhadap ekspresi budaya tradisional dari segala bentuk “illicit

exploitation” dan “other prejudicial actions” yang dilakukan baik oleh

warga negara terkait maupun pihak asing. Dalam Section 1 mengenai

Principle of Protection dinyatakan bahwa :

“Expressions of folklore developed and maintained in (insert the name


of the country) shall be protected by this (law) against illicit
exploitation and other prejudicial actions as defined in this (law).”

Definisi dari “illicit exploitation” adalah segala bentuk perbuatan yang

menyalahi ketentuan dalam section 3, dengan pengecualian pada section 4.

Sementara definisi dari “other prejudicial action” adalah segala bentuk

perbuatan yang tidak mentaati ketentuan yang diatur pada section 5 ayat 1

serta segala bentuk perbuatan yang digambarkan dalam section 6 ayat 3

dan ayat 4.

2) Obyek perlindungan

Obyek perlindungan dalam Model Provisions 1982 adalah Ekspresi

Budaya Tradisional. Dalam Model Provisions ini digunakan istilah

“expressions of folklore” tanpa mendefinisikan lebih jauh mengenai apa

definisi dari “folklore” itu sendiri. Dalam Section 2 mengenai Protected

expressions of folklore dinyatakan

120
“For the purpose of this (law), “expressions of folklore” means
productions consisting of characteristic elements of the traditional
artistic heritage developed and maintained by a community of (name of
the country) or by individuals reflecting the traditional artistic
expectations of such a community, in particular:
(i) Verbal expressions, such as folk tales, folk poetry and riddles;
(ii) Musical expressions, such as folk songs and instrumental music;
(iii)Expressions by action, such as folk dances, plays and artistic forms
or rituals;
Whether or not reduced to a material form; and
(iv) Tangible expressions, such as:
(a) Productions of folk art, in particular, drawings, paintings,
carvings, sculptures, pottery, terracotta, mosaic, woodwork,
metal ware, jewellery, basket weaving, needlework, textiles,
carpets, costumes;
(b) Musical instruments;
(c) Architectural forms.”

Model Provisions 1982 juga mengunakan istilah ekspresi (expressions)

dan produksi (production) dan bukan istilah karya cipta (works) yang

sering digunakan dalam HKI Konvensional, terutama di bidang Hak Cipta.

Pengunaan istilah yang berbeda ini digunakan sebagai garis penegas dari

unsur Sui Generis yang muncul dari ekspresi budaya tradisional tersebut.

Mengingat bahwa karya cipta (works) merupakan obyek perlindungan Hak

Cipta yang memiliki karakteristik yang berbeda dengan obyek

perlindungan dalam kerangka Ekspresi Budaya Tradisional.

Ekspresi Budaya Tradisional yang diatur dalam Section 2 didefinisikan

sebagai produk-produk (productions) yang mengandung elemen-elemen

karakteristik (characteristic elements) dari warisan kesenian tradisional

yang berkembang dan dilestarikan di tengah masyarakat atau oleh

individu-individu yang mewakili kesenian tradisional masyarakat tersebut .

Produk-produk ini dapat dibagi dalam empat golongan, meliputi :

121
- Ekspresi lisan secara verbal, dalam bentuk cerita rakyat, sastra rakyat,

dsb.

- Ekspresi musikal, dalam bentuk seni musik dan lagu tradisional

- Ekspresi gerak, dalam bentuk seni tari, ritual adat istiadat, dsb.

- Ekspresi bentuk (tangible) dengan contoh seperti kerajinan tradisional,

alat musik tradisional, dsb.

3) Syarat perlindungan

Model Provisions 1982 tidak mencantumkan syarat yang diberikan bagi

karya yang dilindungi sebagai Ekspresi Budaya Tradisional. Syarat

perlindungan sepenuhnya diserahkan bagi masing-masing negara untuk

mengatur sesuai kebutuhannya.

4) Pemegang hak

Pemegang hak dari Ekspresi Budaya Tradisional yang dilindungi dalam

Model Provisions 1982, dalam hal ini berwenang sebagai pemberi otorisasi

bagi pengunaan Ekspresi Budaya Tradisional adalah otoritas yang

berwenang (competent authority) dan/atau komunitas masyarakat adat

terkait (community concerned). Hal ini sesuai dinyatakan dalam Section 3

mengenai Subject of authorization yang menyatakan bahwa : “Subject to

the provisions of Section 4, the following utilizations of the expressions of

folklore are subject to authorization by the [competent authority

mentioned in Section 9, paragraph 1] [community concerned]…”

Lebih lanjut mengenai kedudukan dan definisi dari otoritas yang

berwenang (competent authority) diatur dalam Section 9 dan prosedur

pemberian otorisasi baik oleh otoritas yang berwenang maupun oleh

122
komunitas masyarakat adat terkait (community concerned) diatur dalam

Section 10 Model Provisions 1982

5) Hak yang dilindungi

Hak yang dilindungi dalam Model Provisions 1982 meliputi hak ekonomi

sesuai ketentuan Section 3 mengenai Utilizations Subject to Authorization

dimana dinyatakan :

“Subject to the previsions of Section 4, the following utilizations of the


expressions of folklore are subject to authorization by the (competent
authority mentioned in Section 9, paragraph 1) (community
concerned) when they are made both with gainful intent and outside
their traditional or customary context:

(i) Any publication, reproduction and any distribution of copies of


expressions of folklore;
(ii) Any public recitation or performance, any transmission by wireless
means or by wire, and any other from of communication to the
public, of expressions of folklore.”

Maka dinyatakan dalam Section 3 bentuk-bentuk pengunaan Ekspresi

Budaya Tradisional yang membutuhkan otorisasi dari otoritas yang

berwenang atau/dan masyarakat adat pemiliknya. Pengunaan tersebut baik

dalam bentuk publikasi, reproduksi, dan distribusi salinan Ekspresi Budaya

Tradisional maupun dalam bentuk pertunjukan publik, atau penyampaian

ke publik lainnya lewat berbagai media komunikasi. Otorisasi pengunaan

tersebut diberikan bagi pihak-pihak luar konteks budaya dan tradisi

komunitas masyarakat adat pemiliknya, yang akan mengunakan Ekspresi

Budaya Tradisional tersebut untuk tujuan komersil (gainful intent).

Pengecualian terhadap hak ekonomi diatur dalam Section 4 mengenai

Exceptions yang menyatakan :

1. The provisions of Section 3 shall not apply in the following cases:


(i) Utilization for purposes of education;

123
(ii) Utilization by way of illustration in the original work of an
author or authors, provided that the extent of such utilization is
compatible with fair practice;
(iii)Borrowing of expressions of folklore for creating an original
work of an author or authors;
2. The provisions of Section 3 shall not apply also were the utilization
of the expressions of folklore is incidental. Incidental utilization
includes in particular:
(i) Utilization of any expression of folklore that can be seen or
heard in the course of a current event for the purposes of
reporting on that current event by means of photography,
broadcasting or sound or visual recording, provided that the
extent of such utilization is justified by the informatory
purpose;
(ii) Utilization of objects containing the expressions of folklore
which are permanently located in a place where they can be
viewed by the public, of the utilization consist in including their
image in a photograph, in a film or in a television broadcast.

Maka dalam hal ini otorisasi tidak dibutuhkan untuk pengunaan Ekspresi

Budaya Tradisional untuk tujuan-tujuan tertentu seperti edukasi, ilustrasi

atau pun proses penciptaan karya cipta asli. Selain itu otorisasi juga tidak

diperlukan untuk pengunaan Ekspresi Budaya Tradisional dalam

pengunaan yang bersifat insidental seperti dalam penayangan berita atau

kejadian terkini maupun obyek-obyek yang mengunakan unsur-unsur

Ekspresi Budaya Tradisional yang diletakan ditempat publik untuk tujuan

non komersil.

Segala bentuk perbuatan yang menyalahi ketentuan dalam section 3,

dengan pengecualian pada section 4 dianggap sebagai bentuk “illicit

exploitation.”

Selain hak ekonomi, Model Provisions 1982 juga melindungi hak moral.

Hal ini dinyatakan dalam Section 5 mengenai Acknowledgement of Source

yang menyatakan :

124
1. In all printed publications, and in connection with any
communications to the public, of any identifiable expression of
folklore, its source shall be indicated in an appropriate manner, by
mentioning the community and/or geographic place from where the
expression utilization has been derived.
2. The provisions of paragraph 1 shall not apply to utilizations
referred to in Section 4, paragraphs 1 (iii) and 2.

Selayaknya hak moral dalam karya cipta. Setiap pengunaan Ekspresi

Budaya Tradisional dalam media komunikasi maupun pertunjukan serta

karya dan duplikasi apapun, diwajibkan untuk mencantumkan sumber dari

Ekspresi Budaya Tradisional tersebut, baik daerah asal maupun

masyarakat adat pemiliknya, secara layak.

6) Prosedur perlindungan

- Otoritas yang menangani

Otoritas yang diberi wewenang menangani perlindungan Ekspresi Budaya

Tradisional diatur dalam Section 9 mengenai Authorities. Dinyatakan

bahwa :

(1) For the purpose of this (law), the expression “competent


authority” means …
(2) For the purpose of this (law), the expression “supervisory
authority” means …

Otoritas yang menangani dalam ketentuan Section 9 meliputi dua otoritas

berbeda, yaitu otoritas yang berwenang (competent authority) dan otoritas

supervisor (supervisory authority). Definisi dan mekanisme kerja kedua

otoritas tersebut ditentukan oleh negara bersangkutan sesuai kebutuhan

masing-masing.

Selain diatur dalam ketentuan Section 9 diatas, komunitas masyarakat adat

(community concerned) pemilik Ekspresi Budaya Tradisional juga

memiliki kewenangan untuk memberi otoritasi terhadap pengunaan

125
Ekspresi Budaya Tradisional sesuai ketentuan dari Section 3 maupun

ketentuan Section 10 mengenai Authorization yang menyatakan :

Application for individual or blanket authorization of any utilization of

expressions of folklore subject to authorization under this (law) shall be

made (in writing) to the [competent authority][community concerned].

Mengenai pengaturan pemberian otorisasi oleh komunitas masyarakat adat

serta hubungan antara komunitas tersebut dengan otoritas yang diatur

dalam Section 9 diserahkan pada ketentuan masing-masing negara.

- Prosedur pelaksanaan

Prosedur pemberian otorisasi dilakukan sesuai kerangka Section 3 yang

menyatakan bahwa otorisasi pengunaan Ekspresi Budaya Tradisional

diberikan kepada pihak diluar konteks tradisi maupun kebiasaan

masyarakat adat terkait yang akan mengunakannya untuk tujuan komersil

(gainful intention). Pengunaan tersebut baik dalam bentuk publikasi,

reproduksi, dan distribusi salinan Ekspresi Budaya Tradisional maupun

dalam bentuk pertunjukan publik, atau penyampaian ke publik lainnya

lewat berbagai media komunikasi. Tentu saja dengan pengecualian

sebagaimana dicantumkan dalam Section 4.

Pada Section 10 mengenai Authorization diatur tentang prosedur

pemberian otorisasi oleh otoritas yang menangani. Dinyatakan dalam

Section 10(1) bahwa pengajuan permohonan otorisasi dilakukan secara

tertulis kepada otoritas yang menangani dan diberi wewenang untuk

mengeluarkan otorisasi :

1. Application for individual or blanket authorization of any


utilization of expressions of folklore subject to authorization under
this (law) shall be made (in writing) to the [competent authority][
community concerned].

126
Section 10 juga mengatur bahwa otorisasi yang menangani berhak

menentukan kompensasi terhadap pengunaan Ekspresi Budaya

Tradisional. Penentuan kompensasi diberikan bersamaan dengan keluarnya

otorisasi yang memberi ijin pengunaan Ekspresi Budaya Tradisional

tersebut untuk tujuan komersil. Kompensasi yang ditarik akan digunakan

dalam rangka promosi maupun pelestarian budaya nasional.

2. Where the [competent authority][ community concerned]grants


authorization, it may fix the amount of and collect fees
(corresponding to a tariff (established) (approved) by the
supervisory authority. The fees collected shall be used for the
purpose of promoting or safeguarding national (culture) (folklore).

Terakhir, Section 10 juga mengatur mengenai keberatan yang diajukan

oleh pihak terkait atas otoritas yang keluar/tidak keluar.

3. Appeals against the decisions of the competent authority may be


made by the person applying for the authorization and/or the
representative of the interested community.

Dalam Section 11 mengenai Jurisdiction dinyatakan bahwa permohonan

banding terhadap keputusan dari otoritas yang menangani dalam

pengunaan Ekspresi Budaya Tradisional dapat dilakukan di depan

pengadilan yang berwenang. Seperti dinyatakan dalam Section 11 (1) :

1. Appeals against the decisions of the (competent authority)


supervisory authority) are admissible to the court of …

- Sanksi dan penegakan

Mengenai Sanksi terhadap pelanggaran hak terhadap pengunaan Ekspresi

Budaya Tradisional diatur dalam Section 6 mengenai Offences yang

menyatakan bahwa :

1. Any person who willfully [or negligently] does not comply with the
provisions of Section 5, paragraph 1, shall be liable to …

127
2. Any person who, without the authorization of the [competent
authority referred to in Section 9, paragraph 1] [community
concerned] willfully [or negligently] utilizes an expression of
folklore in violation of the provisions of Section 3, shall be liable to

3. Any person willfully deceiving others in respect of the source of
artifacts or subject matters of performances of recitations made
available to the public by him in any direct or indirect manner,
presenting such artifacts or subject matters as expressions of
folklore of a certain community, from where, in fact, they have not
been derived, shall be punishable by …
4. Any person who publicly uses, in any direct or indirect manner,
expressions of folklore willfully distorting the same in a way
prejudicial to the cultural interest of the community concerned,
shall be punishable by …

Dalam Section 6 dijabarkan bentuk-bentuk pelanggaran terhadap

perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional. Section 6(1) dan section 6(2)

mengatur pelanggaran berkaitan dengan Section 5 dan Section 3. Section

6(3) mengatur pelanggaran dalam bentuk penipuan dan section 6(4)

mengatur pelanggaran dalam bentuk distorsi terhadap Ekspresi Budaya

Tradisional.

Sanksi dalam bagian ini ditentukan sepenuhnya oleh negara yang

bersangkutan yang mengaturnya. Segala bentuk perbuatan yang tidak

mentaati ketentuan yang diatur pada section 6(1) serta segala bentuk

perbuatan yang digambarkan dalam section 6(3) dan section 6(4)

didefinisikan sebagai “other prejudicial action”.

Selanjutnya dalam Section 7 mengenai Seizure or Other Actions diatur

bahwa:

“Any object which was made in violation of this (law) and any receipts
of the person violating it and corresponding to such violations shall be
subject to (seizure) (applicable actions and remedies).”

128
Section 7 ini mengatur mengenai bentuk penyitaan, baik terhadap obyek

yang melanggar ketentuan yang diatur dalam Model Provisions 1982 ini

maupun segala bentuk upaya yang digunakan dalam pelanggaran tersebut.

Bentuk mekanisme penyitaannya ditentukan oleh negara yang

bersangkutan.

Sementara pada Section 8 mengenai Civil Remedies diatur bahwa :

“The sanctions provided for in [Section 6] [Section 6 and 7] shall be


applied without prejudice to damage or other civil remedies as the
case may be.”

Bagian ini mengatur mengenai hubungan antara sanksi pidana pada

Section 6 dan hubungannya dengan pengunaan penyelesaian secara perdata

pada kasus-kasus pelanggaran terhadap perlindungan Ekspresi Budaya

Tradisional.

7) Jangka waktu perlindungan

Model Provisions 1982 tidak mencantumkan jangka waktu perlindungan

yang diberikan bagi karya yang dilindungi sebagai Ekspresi Budaya

Tradisional. Jangka waktu perlindungan terhadap Ekspresi Budaya

Tradisional sepenuhnya diserahkan bagi masing-masing negara untuk

mengatur sesuai kebutuhannya.

8) Hubungan dengan instrumen HKI lain

Dalam Section 12 mengenai Relation to Other Forms of Protection

dinyatakan bahwa :

“This (law) shall in no way limit or prejudice any protection


applicable to expressions of folklore under the copyright law, the law
protecting performers, producer of phonograms and broadcasting
organizations, the laws protecting industrial property, or any other
law or international treaty to which the country is party; nor shall it in
any way prejudice other forms of protection provided for the safeguard
and preservation of folklore.”

129
Section 12 mengatur mengenai hubungan antara Model Provisions 1982

dengan berbagai instrumen hukum yang juga turut mengatur perlindungan

dari bentuk Ekspresi Budaya Tradisional. Diharapkan bahwa bentuk

perlindungan yang ditawarkan dalam model perlindungan hukum ini tidak

membatasi atau bahkan menganggu perlindungan terhadap bentuk

Ekspresi Budaya Tradisional yang diatur dalam kerangka hukum lainnya

seperti Hak Cipta, hak penampil (performers rights) dan serta instrumen

internasional yang mengatur mengenai pelestarian folklor.

9) Perlindungan ditingkat regional dan internasional.

Ditingkat regional maupun internasional, perlindungan Ekspresi Budaya

Tradisional diatur dalam Section 14 mengenai Protection of Expression of

Folklore of Foreign Countries dinyatakan bahwa :

“Expressions of folklore developed and maintained in a foreign


country are protected under this (law)
(i) Subject to reciprocity, or
(ii) On the basis of international treaties or other agreements.”

Section 14 ini mengatur bahwa perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional

yang dikembangkan maupun digunakan oleh negara asing dilindungi

dengan asas resiprositas atau melalui instrumen internasional yang

mengatur masalah terkait.

Walaupun tidak mengeluarkan satu bentuk instrumen hukum

internasional yang mengatur mekanisme perlindungan Ekspresi Budaya

Tradisional. Upaya WIPO-UNESCO lewat Model Provisions 1982 seringkali

dianggap sebagai suatu terobosan. Diharapkan model perlindungan hukum ini

dapart berperan membantu negara-negara yang membutuhkan untuk

130
membangun suatu mekanisme perlindungan yang layak dalam sistem hukum

mereka.

Secara umum, Model Provisions 1982 sebagai kelanjutan dari Tunis Model law

1976 juga tidak lepas dari berbagai kekurangan. Beberapa kritik mempertanyakan hal-hal

seperti definisi dari Ekspresi Budaya Tradisional yang dipandang terlalu ambigu dan

kurang jelas serta bagaimana mekanisme perlindungan terhadap karya-karya kontemporer

yang bersifat turunan (derivative works) yang terinspirasi maupun diadopsi dari Ekspresi

Budaya Tradisional yang hidup di tengah masyarakat.

Karena itu maka sejak awal sudah disadari bahwa Model Provisions 1982 harus

terus menerus direvisi dan diperbaiki untuk menghadapi perubahan jaman dan kebutuhan

serta tuntutan yang terus berkembang. Usulan-usulan revisi terkait perubahan tersebut

meliputi : kesadaran lebih besar terhadap luasnya hak-hak dan kebutuhan dari masyarakat

adat; berkembangnya pengertian mengenai hubungannya dengan pelestarian warisan

budaya; promosi terhadap keanekaragaman budaya (cultural diversity) dan HKI;

kehadiran instrumen budaya baru mengenai keanekaragaman budaya dan warisan budaya;

perkembangan rezim HKI setelah adanya TRIPS 1994 dan WPPT 1996; serta

perkembangan teknologi dan kemunculan berbagai bentuk eksploitasi komersil baru sejak

awal 1980-an20.

Usaha revisi untuk menyusun suatu model perlindungan hukum baru yang lebih

memenuhi tuntutan jaman ini kemudian dikerjakan oleh WIPO Intergovermental Comitee

on Intellectual Property and Genetic Resources, Traditional Knowledge and Folklore

yang hingga saat ini (2008) masih menyusun draft Revised Provisions for the Protection

of Traditional Cultural Expressions/Expressions of Folklore.

20
Ibid., halaman 56

131
2. Upaya Pembentukan Instrumen Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual Sui

Generis Terhadap Ekspresi Budaya Tradisional Pada Tingkat Internasional

Sebagaimana kita ketahui diatas, bahwa selama ini mekanisme perlindungan

Ekspresi Budaya Tradisional hanya terdapat dalam bentuk panduan perlindungan di

tingkat nasional yang hanya dapat diaplikasikan ke dalam hukum nasional masing-masing

negara. Pertanyaannya, bagaimana mengatasi pelanggaran perlindungan Ekspresi Budaya

Tradisional ditingkat lintas negara, yang dalam hal ini jelas berada diluar jangkauan

hukum nasional tiap negara. Memang kita telah membahas mengenai perlindungan

internasional dalam kerangka HKI Konvensional. Namun tetap saja diragukan apakah

perlindungan yang ditawarkan dalam berbagai instrumen internasional mengenai HKI

Konvensional itu mencukupi, sebab sifatnya yang tidak menyeluruh dan tidak secara

khusus melindungi Kekayaan Intelektual Tradisional pada umumnya dan Ekspresi

Budaya Tradisional pada khususnya.

Berangkat dari itu muncul tuntutan dan upaya untuk membentuk suatu instrumen

internasional yang bersifat Sui Generis yang mengatur mengenai perlindungan Hak

Kekayaan Intelektual terhadap Ekspresi Budaya Tradisional dan berbagai bentuk

Kekayaan Intelektual Tradisional lainnya. Instrumen itu haruslah bersifat khusus dan

menyeluruh, untuk mengakomodir karakteristik-karakteristik khas dari Kekayaan

Intelektual Tradisional yang tidak dapat diakomodir oleh HKI Konvensional. Jangkauan

lingkup perlindungannya haruslah bersifat internasional untuk menjangkau pelanggaran-

pelanggaran lintas negara yang tak terjangkau oleh hukum nasional. Serta sifat instrumen

itu haruslah legally-binding sebagai kesepakatan bersama yang ditaati tiap negara anggota

selayaknya berbagai instrumen internasional dibidang HKI Konvensional lainnya.

Upaya menuju pembentukan perlindungan khusus tersebut pertama kali dirintis

pada tanggal 2 Maret 1977 oleh negara-negara Afrika yang bernaung dibawah OAPI

132
(African Intellectual Property Organization) yang mengadopsi the Bangui Agreement.

Perjanjian ini, walau hanya bersifat regional, dapat dianggap sebagai terobosan dan titik

awal perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional yang bersifat legally-binding pada

tingkat internasional21.

The Bangui Agreement sendiri mengatur secara spesifik bentuk perlindungan

terhadap Ekspresi Budaya Tradisional dan karya turunan yang terinspirasi dan

dikembangkan darinya. Pengaturan tersebut dibentuk dengan sistem yang dibangun

berdasarkan Hak Cipta dan model domaine public payant22. Selain itu, Perjanjian ini juga

menyusun sistem Sui Generis yang menganggap bahwa folklor merupakan bagian dari

warisan budaya suatu negara, bukan milik individu pencipta selayaknya dalam Hak Cipta.

Sebuah terobosan yang kemudian diikuti oleh sistim perlindungan Sui Generis lain.

Hingga saat ini, The Bangui Agreement telah diratifikasi 15 negara Afrika anggota OAPI,

walau belum ada laporan lengkap mengenai hasil implementasinya.

Selanjutnya pada tingkat internasional, pemikiran serupa juga muncul. Pada tahun

1973, pemerintah Bolivia meminta WIPO mengkaji perlunya suatu mekanisme

perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional di tingkat internasional. Permintaan ini

ditanggapi WIPO dengan bekerja sama dengan UNESCO membentuk working groups

yang berfungsi mengkaji permintaan tersebut. Akhirnya pada tahun 1982, working groups

WIPO-UNESCO menyusun WIPO-UNESCO Model Provisions for National Laws on the

Protection of Expressions of Folklore Against Illicit Exploitation and Other Prejudicial

Actions (Model Provisions 1982.) yang kemudian diajukan dalam Joint Meeting of the

Expert Commitee of the Berne Convention and Intergovermental Copyright Commitee of

the UCC (Joint Meeting 1983) pada tahun 1983. Sebagai catatan, selain menyiapkan draft

Model Provisions 1982, working groups dari WIPO-UNESCO juga menyiapkan draft

21
P.V. Valsala G. Kutty, Loc.cit.,
22
WIPO Secretariat, Op.Cit., halaman 57

133
Konvensi yang mengatur tentang perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional. Namun

sayangnya, dalam perkembangan berikutnya hanya Model Provisions 1982 yang diterima

dan diadopsi23.

Upaya penyusunan instrumen internasional tersebut tidak berhenti. Salah satu

pandangan yang berkembang dalam Joint Meeting 1983 adalah perkembangan pesat

teknologi dalam pengunaan Ekspresi Budaya Tradisional yang membuat makin sulitnya

perlindungan dilakukan baik negara asal maupun masyarakat adat pemiliknya. Perlunya

mekanisme perlindungan lintas batas negara namun disisi lain karena kekosongan

pengaturan internasional ini, memaksa UNESCO-WIPO membentuk Group of Experts on

the International Protection of Expressions of Folklore by Intellectual Property yang

kemudian bertemu di Paris pada tanggal 10-14 Desember 1984. Dalam pertemuan

tersebut, group of experts diminta untuk mempertimbangkan kebutuhan akan mekanisme

perlindungan internasional terhadap Ekspresi Budaya Tradisional beserta bentuknya.

Hasil pertemuan tersebut menyimpulkan bahwa ada dua masalah utama yang

mesti diatasi apabila mekanisme perlindungan internasional ingin dibentuk24 : (i)

kurangnya sumber yang layak dalam melakukan identifikasi terhadap Ekspresi Budaya

Tradisional yang dilindungi (ii) sedikitnya mekanisme perlindungan yang benar-benar

bekerja efektif dalam mengatasi masalah perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional tidak

hanya di satu negara, tetapi beberapa negara dalam satu regional. Pada akhirnya dalam

laporan yang disampaikan pada The Executive Committee of the Berne Convention and

the Intergovernmental Committee of the Universal Copyright Convention, disimpulkan

bahwa pembentukan instrumen internasional yang mengatur perlindungan Ekspresi

Budaya Tradisional masih terlalu dini, berhubung masih minimnya pengalaman dalam

23
P.V. Valsala G. Kutty, Op.Cit., halaman 6
24
WIPO Secretariat, Loc.cit.,

134
implementasi perlindungan di tingkat nasional. Kalaupun ada instrumen serupa pada saat

ini, maka hanya bersifat rekomendasi saja25.

Pada April 1997, WIPO bekerja sama dengan UNESCO kembali mengadakan the

WIPO-UNESCO World Forum on the Protection of Folklore di Phuket, Thailand yang

membahas mengenai masalah HKI dan folklor. Pertemuan ini mengadopsi sebuah “Plan

of Action” yang merumuskan kebutuhan dan masalah yang dihadapi, meliputi26 :

a. Dibutuhkannya suatu standar internasional dalam perlindungan hukum

terhadap folklor.

b. Pentingnya menyeimbangkan kepentingan komunitas adat pemiliknya

dana pihak penguna Ekspresi Budaya Tradisional tersebut.

Selain itu, “Plan of Action” juga merekomendasikan pembentukan empat forum

konsultasi regional berkaitan dengan perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional

(Regional Consultations on the Protection of Expressions of Folklore in 1999) dimana

tiap forum regional menyusun suatu resolusi atau rekomendasi yang berkaitan dengan

kebutuhan akan perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional dan kaitannya dengan HKI.

Dapat dikatakan bahwa dengan adanya forum ini, upaya perlindungan Ekspresi budaya

Tradisional di tingkat internasional belum terhenti.

Pada tahun 1998-1999, WIPO juga mengadakan suatu fact-finding missions yang

berfungsi untuk mengidentifikasi kebutuhan dan harapan dari pemilik Kekayaan

Intelektual Tradisional. WIPO Fact-finding Missions on Intellectual Property and

Traditional Knowledge dilakukan di 28 negara di kawasan Pasifik Selatan, Afrika Timur

dan Selatan, Karibia, Asia Selatan, Afrika Barat, Amerika Utara, Tengah dan Selatan, dan

Arab (tidak termasuk Indonesia). Walau fokus utamanya adalah Pengetahuan Tradisional

(Traditional Knowledge), namun Ekspresi Budaya Tradisional juga turut menjadi topik

25
Ibid., halaman 23
26
Loc.cit.,

135
penelitian dengan anggapan bahwa Ekspresi Budaya Tradisional merupakan salah satu

sub-set dari Pengetahuan Tradisional. Kesimpulan dan hasil dari fact-finding mission ini

kemudian disajikan dalam laporan “Intellectual Property Needs and Expectations of

Traditional Knowledge Holders: WIPO Report on Fact-finding Missions (1998-1999)”

yang beberapa pokoknya telah kita bahas sebelumnya.

Pada akhir tahun 2000, sebagai tindak lanjut upaya yang telah dilakukan

sebelumnya, negara anggota WIPO membentuk Intergovernmental Committee on

Intellectual Property and Genetic Resources, Traditional Knowledge and Folklore (IGC-

GRTKEF). Dengan anggota lebih dari 400 perwakilan berbagai negara, organisasi

internasional dan berbagai LSM, IGC-GRTKEF bertugas mengkaji pembentukan

perlindungan Kekayaan Intelektual yang layak, baik berupa Pengetahuan Tradisional

(Traditional Knowledge), Ekspresi Budaya Tradisional (Traditional Cultural

Expressions/Expressions of Folklore), maupun Keanekaragaman Hayati (Genetic

Resources).

Berkaitan dengan perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional, IGC-GRTKEF telah

mengkaji pengunaan bentuk perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional baik dalam

kerangka HKI maupun Sui Generis di 66 negara. Hingga saat ini (2008), telah dilakukan

11 kali persidangan yang terakhir diselenggarakan pada 3-12 juli 2007. Walau belum

berhasil merumuskan instrumen internasional yang melindungi Ekspresi budaya

tradisional pada khususnya, namun upaya internasional belum selesai.

Selain WIPO, UNESCO juga bergerak menangani masalah perlindungan

Kekayaan Intelektual Tradisional. Memang, bentuk perlindungan yang disusun oleh

UNESCO berangkat dari pandangan bahwa berbagai bentuk Kekayaan Intelektual

Tradisional tersebut merupakan suatu warisan budaya, bukan sekedar obyek dari suatu

bentuk Hak Kekayaan Intelektual. Namun UNESCO telah beberapa kali

136
menyelenggarakan kerjasama dengan WIPO baik dalam suatu forum bersama serta dalam

menyusun suatu bentuk mekanisme perlindungan terhadap Kekayaan Intelektual

Tradisional secara umum maupun Ekspresi Budaya Tradisional, antara lain lewat WIPO-

UNESCO Model Law on Copyright for Developing Country 1976 atau WIPO-UNESCO

Model Provisions for National Laws on the Protection of Expressions of Folklore Against

Illicit Exploitation and Other Prejudicial Actions serta berbagai forum internasional

lainnya yanag membahas keterkaitan antara HKI dengan perlindungan budaya.

Diluar kerangka kerjasama dengan WIPO, bentuk perlindungan yang disusun oleh

UNESCO berada dalam kerangka “safeguarding.” Istilah safeguarding ini digunakan

dalam UNESCO Recommendation on the Safeguarding of Traditional Culture and

Folklore yang diadopsi di Paris pada tanggal 15 November 1989. Memang dalam

rekomendasi tersebut tidak dijelaskan definisi dari “safeguarding,” namun definisi

tersebut dapat ditemui dalam Konvensi berbeda, misalkan dalam Pasal 2 ayat 3 UNESCO

Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage 2003 yang

menyatakan bahwa :

““Safeguarding” means measures aimed at ensuring the viability of the


intangible cultural heritage, including the identification, documentation, research,
preservation, protection, promotion, enhancement, transmission, particularly
through formal and non-formal education, as well as the revitalization of the
various aspects of such heritage.”

Dari definisi diatas kita dapat memahami secara umum cakupan dari istilah safeguarding

itu dapat didefinisikan sebagai usaha menjaga keberadaan (ensuring the viability) dengan

berbagai upaya seperti meliputi identifikasi, dokumentasi, riset, preservasi, perlindungan,

promosi, pengembangan, transmisi maupun revitalisasi dari berbagai aspek warisan

budaya itu sendiri.

137
Selain itu untuk melengkapi, istilah “folklore” dalam bagian A dari UNESCO

Recommendation on the Safeguarding of Traditional Culture and Folklore mengenai

Definition of folklore didefinisikan sebagai :

“For purposes of this Recommendation: Folklore (or traditional and popular


culture) is the totality of tradition-based creations of a cultural community,
expressed by a group or individuals and recognized as reflecting the expectations
of a community in so far as they reflect its cultural and social identity; its
standards and values are transmitted orally, by imitation or by other means. Its
forms are, among others, language, literature, music, dance, games, mythology,
rituals, customs, handicrafts, architecture and other arts.”
Maka, dengan ini digariskan suatu rekomendasi dalam rangka safeguarding, yang

didalamnya termasuk meliputi mengenai masalah perlindungan terhadap Kekayaan

Intelektual Tradisional.

UNESCO Recommendation on the Safeguarding of Traditional Culture and

Folklore menyatakan bahwa foklor dalam wujudnya sebagai kreativitas intelektual

(intellectual creativity) harus dilindungi selayaknya suatu Kekayaan Intelektual.

Perlindungan terhadap folklore merupakan suatu yang tak dapat ditinggalkan dalam

rangka pengembangan, pelestarian maupun diseminasi lebih jauh terutama terhadap

Ekspresi Budaya Tradisional sebagai bentuk dari folklor tersebut. Diluar aspek HKI

sendiri, masih banyak hak lain telah dilindungi dan dapat terus dilindungi melalui pusat

dokumentasi dan arsip. Karena dalam bagian F mengenai Protection of folklore dari

UNESCO Recommendation on the Safeguarding of Traditional Culture and Folklore,

diharapkan bahwa negara anggota harus :

a. Mempertimbangkan aspek Kekayaan Intektual Tradisional yang terdapat

dalam berbagai instrumen UNESCO-WIPO sembari disisi lain menyadari

bahwa instrumen itu hanya melindungi satu aspek perlindungan folklor saja

tanpa melupakan aspek-aspek perlindungan lain.

b. Mempertimbangkan hak-hak lain yang terkait, meliputi :

138
1) Perlindungan terhadap informan yang berfungsi sebagai penerus tradisi

(dalam bentuk perlindungan “privacy and confidentiality”);

2) Melindungi kepentingan dari kolektor dengan menjamin bahwa materi

yang dikumpulkan dilestarikan dalam bentuk arsip dengan keadaan yang

baik dan sistematis;

3) Mengadopsi upaya-upaya yang diperlukan dalam safeguarding materi

yang dikumpulkan terhadap segala bentuk penyalahgunaan, baik sengaja

maupun tidak.

4) Menyadari tanggung jawab arsip untuk mengawasi pengunaan materi yang

dikumpulkan.

Maka seiring dengan rekomendasi tersebut, UNESCO juga mengadopsi

mekanisme perlindungan warisan budaya dalam kerangka safeguarding dalam berbagai

instrumen internasional. Instrumen internasional tersebut antara lain :

- The 1966 Declaration on the Principles of International Cultural

Cooperation;

- The UNESCO Convention on the Means of Prohibiting and Preventing the

Illicit Import, Export and Transfer of Ownership of Cultural Property, 1970

yang melindungi “cultural property”;

- The UNESCO Convention Concerning the Protection of the World Cultural

and Natural Heritage (the World Heritage Convention 1972)

- UNESCO Recommendation on the Safeguarding Protection of Traditional

Culture and Folklore 1989;

- UNESCO Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage

2003

139
- UNESCO Convention on the Protection and promotion of the Diversity

Cultural Expressions 2005

Berbagai instrumen internasional tersebut diatas memiliki fokus perlindungan dalam

kerangka “safeguarding.”

Menariknya, selain WIPO dan UNESCO, ILO (Internasional Labour

Organization) juga turut berpartisipasi lewat ILO Indigenous and Tribal Peoples

Convention 1989. Pada pasal 5 huruf (a) dinyatakan :

“the social, cultural, religious and spiritual values and practices of these peoples
shall be recognised and protected, and due account shall be taken of the nature of
the problems which face them both as groups and as individuals;”

Dilanjutkan lebih jauh pada Pasal 7 ayat 1 yang menyatakan :

“The peoples concerned shall have the right to decide their own priorities for the
process of development as it affects their lives, beliefs, institutions and spiritual
well-being and the lands they occupy or otherwise use, and to exercise control, to
the extent possible, over their own economic, social and cultural development. In
addition, they shall participate in the formulation, implementation and evaluation
of plans and programmes for national and regional development which may affect
them directly.”

Konvensi ini mengenali folklor sebagai bagian dari identitas masyarakat adat yang mesti

dilindungi. Karena itu masyarakat adat pemiliknya memiliki hak untuk turut serta

mengendalikan berbagai aspek dari hak masyarakat adat, termasuk turut serta dalam

pembentukan, implementasi, dan evaluasi rencana dan program di berbagai tingkat yang

memberi pengaruh bagi kehidupan mereka.

Dapat disimpulkan bahwa hingga saat ini tidak terdapat bentuk perlindungan

internasional dalam kerangka rezim HKI Sui Generis yang bersifat legally-binding. Inilah

yang menjadi hambatan utama dalam perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional dan

berbagai bentuk HKI Tradisional lainnya. Sebab sebesar apapun daya upaya masing-

masing negara berkepentingan untuk melindungi HKI Tradisional mereka, berbagai

140
bentuk pelanggaran yang terus menerus berkembang dan melintasi batas-batas negara

tidak akan pernah dapat teratasi tanpa adanya kerangka perlindungan internasional yang

bersifat legally-binding.

C. Perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional Pada Tingkat Nasional

1. Bentuk Perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional di Beberapa Negara

Diluar upaya pembentukan mekanisme perlindungan Kekayaan Intelektual

Tradisional di tingkat internasional, upaya di tingkat nasional telah berlangsung sejak

lama. Pembentukan mekanisme perlindungan telah dilakukan di banyak negara sejak

akhir tahun 1960-an, antara lain Tunisia (1967), Bolivia (1968), Chile (1970) Moroko

(1970), Aljazair (1973), Senegal (1973), Kenya (1975), Mali (1977), Burundi (1978),

Pantai Gading (1978), hingga Guinea (1980)27. Bentuk perlindungan diletakkan dalam

kerangka hukum Hak Cipta, walau tidak secara khusus melindungi Ekspresi Budaya

Tradisional tapi lebih secara umum melindungi Kekayaan Intelektual Tradisional yang

dianggap sebagai warisan budaya suatu bangsa. Rangkaian hukum nasional inilah yang

kemudian menjadi bahan kajian dalam pembentukan WIPO-UNESCO Model Provisions

1982, yang kemudian pada gilirannya akan membantu negara-negara lain untuk

mengembangkan model perlindungan yang layak dalam sistim hukumnya masing-

masing.

Secara umum, implementasi bentuk perlindungan Ekspresi budaya Tradisional

dalam kerangka Hak Kekayaan Intelektual di banyak negara dapat dikategorikan dalam

dua pendekatan berbeda28. Pendekatan pertama menempatkan Ekspresi Budaya

Tradisional sama seperti bentuk Kekayaan Intelektual lainnya. Maka Ekspresi Budaya

Tradisional tidak membutuhkan pengaturan khusus, namun cukup dengan mengunakan


27
Lihat WIPO-UNESCO Model Provisions for National Laws on the Protection of Expressions of Folklore
Against Illicit Exploitation and Other Prejudicial Actions - Introductory Observations Nomor. 5
28
WIPO Secretariat, Op.Cit., halaman 35

141
Rezim HKI Konvensional yang telah ada. Pendekatan kedua beranggapan bahwa sekedar

rezim HKI belaka tidak akan cukup. Karena itu diperlukan bentuk perlindungan yang

menempatkan Ekspresi Budaya Tradisional dalam kerangka khusus, melalui suatu bentuk

perlindungan Sui Generis. Kedua bentuk perlindungan ini tidak bersifat eksklusif. Negara

misalkan dapat melindungi dalam kerangka double-track system, dimana rezim HKI

melindungi satu aspek dari Ekspresi Budaya Tradisional tersebut, sementara aspek lain

dilindungi dibawah kerangka hukum Sui Generis.

Berbagai contoh dapat kita ambil dalam kaitan dengan implementasi dua

pendekatan tersebut. Di India, perlindungan terhadap Ekspresi Budaya Tradisional berada

dibawah hak Penampil (performer’s right) yang merupakan bagian dari rezim Hak

Cipta29. Pada Bab VIII, Section 38 Performer’s Right dalam The Indian Copyright Act

diungkapkan :

(1) Where any performer appears or engages in any performance, he shall have a
special right to be known as the “performer’s right” in relation to such
performance.
(2) The performer’s right shall subsist until twenty-five years from the beginning
of the calendar year next following the year in which the performance is made.
(3) During the continuance of a performer’s right in relation to any performance,
any person, who without the consent of the performer, does any of the
following acts in respect of the performance or any substantial part thereof,
namely:
(a) makes a sound recording or visual recording of the performance; or
(b) reproduces a sound recording or visual recording of the performance
which sound recording or visual recording was:
(i) made without the performer’s consent
(ii) made for purposes different from those for which the performer
gave his consent; or
(iii) made for purposes different from those referred to in Section 39; or
(c) broadcasts the performance except where the broadcast is made from a
sound recording or visual recording other than one made in accordance
with Section 39, or is a re-broadcast by the same broadcasting
organization of an earlier broadcast which did not infringe the
performer’s right; or

29
P.V. Valsala G. Kutty, Op.Cit., halaman 19

142
(d) communicates the performance to the public otherwise than by broadcast,
except where such communication to the public is made from a sound
recording or a visual recording or a broadcast, shall, subject to the
provision of Section 39, be deemed to have infringed the performer’s right.
(4) Once a performer has consented to the incorporation of his performance in a
cinematograph film, the provisions of sub-Sections (1), (2) and (3) shall have
no further application to such performance.

Dalam Act tersebut, yang didefinisikan sebagai performer adalah “an actor, singer,

musician, dancer, acrobat, juggler, conjurer, snake charmer, a person delivering a

lecture, or any other person who makes a performance.” Hingga dapat dikatakan walau

tidak secara khusus melindungi Ekspresi Budaya Tradisional, namun ketentuan yang

diatur dapat digunakan dalam melindungi penampil kesenian tradisional.

Contoh lain adalah dalam kasus Bulun Bulun v Nejlam Pty Ltd pada tahun 198930,

dimana seniman Aborigin Australia Johnny Bulun Bulun bersama 13 seniman Aborigin

lainnya mengugat perusahaan tekstil Nejlam Pty Ltd. yang mengeluarkan kaos bergambar

karya lukisan tradisional "Magpie Geeseand Water Lillies at the Waterhole" melalui the

Australian Copyright Act 1968. Dalam kasus ini, pengadilan Australia memenangkan

Johnny Bulun Bulun dan 13 seniman Aborigin lain dengan memutuskan bahwa Nejlam

Pty Ltd telah melakukan pelanggaran Hak Cipta dan diwajibkan untuk membayar ganti

rugi $150.000 kepada seniman-seniman Aborigin yang dirugikan.

Contoh diatas memberi gambaran bahwa perlindungan Ekspresi Budaya

Tradisional lewat rezim HKI Tradisional dapat dilakukan, lepas dari berbagai kelemahan

yang mungkin terjadi. Namun pendekatan kedua lewat sistem perlindungan Ekspresi

Budaya tradisional yang bersifat Sui Generis juga dapat dilakukan, yaitu dengan

menyusun suatu sistim hukum yang secara khusus melindungi Ekspresi Budaya

Tradisional serta berbagai bentuk Kekayaan Intelektual lainnya. Sebagai contoh di

30
Terri Janke, Minding Culture : Case Studies on Intellectual Property and Traditional Cultural Expressions,
halaman 51

143
Panama terdapat Special Intellectual Property Regime on Collective Rights if Indigenous

Peoples for the Protection and Defense of their Cultural Identity as their Traditional

Knowledge 200031. Peraturan perundang-undangan ini secara khusus melindungi berbagai

bentuk Kekayaan Intelektual Tradisional, termasuk diantaranya desain pakaian dan tekstil

adat. Sistem ini didasarkan kepada prinsip bahwa pengetahuan tradisional merupakan hak

yang bersifat kolektif. Dalam pendaftaran, tidak perlu dicantumkan tanggal. Untuk Hak

Cipta, syarat keaslian diperlukan. Untuk Paten, kebaruan, inovasi dan sifat aplikatif bagi

industri merupakan syarat. Diperlukan juga bukti mengenai hubungan budaya antara

suatu pengetahuan tradisional dengan suatu kelompok masyarakat. Tidak diperlukan

biaya untuk melakukan pendaftaran32. Penduduk asli memiliki hak untuk mengijinkan

atau melarang :

a. pemanfaatan dan komersialisasi;

b. reproduksi industri;

c. kepemilikan HKI atas suatu varietas;

d. sertifikasi folklor.

Selain Panama, Filipina juga memiliki hukum serupa. Pada 28 Juli 1997, Filipina

mengesahkan the Indigenous Peoples Rights Act of 1997 (IPRA) 33. IPRA memiliki fungsi

untuk mengakui, melindungi dan mempromosikan hak-hak masyarakat adat di Filipina

melalui badan National Commission on Indigenous People (NCIP), termasuk didalamnya

perlindungan berkaitan dengan Hak Intelektual Masyarakat (community intellectual

rights) hak atas sistem pengetahuan asli (right to indigenous knowledge systems), praktek

pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adat (practices to develop their own

sciences and technologies), serta tata cara berkaitan dengan akses sumber daya biologis

31
WIPO Secretariat, Op.Cit., halaman 53
32
Luthfi Asiarto, Basuki Antariksa., Beberapa Bentuk Perlindungan Hukum Bagi Folklor dan Pengetahuan
Tradisional di Berbagai Negara, Forum Konsultasi Menuju Perlindungan Hukum atas Ekspresi Budaya
Tradisional dan Pengetahuan Tradisional, (Jakarta, 30 November - 1 Desember 2004), halaman 6
33
P.V. Valsala G. Kutty, Op.Cit., halaman 26

144
dan Keanekaragaman Hayati (the norms regarding access to biological and genetic

resources). Persetujuan ini didefinisikan sebagai "konsensus dari seluruh anggota

penduduk asli dimaksud dan sesuai dengan hukum adat dan praktek yang berlaku". Ini

berarti hukum adat merupakan faktor yang dominan dalam rangka pengelolaan dan

perlindungan pengetahuan tradisional dan folklor34. IPRA memberikan hak kepada

penduduk asli untuk :

a. mengatur masuknya peneliti dan lembaga penelitian;

b. memberikan persetujuan tertulis berkaitan dengan tujuan, desain dan hasil

yang diharapkan dari penelitian;

c. meminta pengakuan mengenai sumber material bila informasi berkaitan

dengan material tersebut dipublikasikan;

d. meminta copy dari hasil penelitian; dan

e. memperoleh bagi hasil dari keuntungan yang dihasilkan dari penelitian

tersebut.

Pengaturan mengenai perlindungan lebih lanjut terdapat antara lain pada Section 34

IPRA yang menjamin kepemilikan, kendali dan perlindungan penuh atas hak budaya dan

hak intelektual oleh masyarakat adat. Diatur disini bahwa masyarakat adat memiliki hak

penuh terhadap berbagai bentuk Pengetahuan Tradisional dana Ekspresi Budaya

Tradisional yang mereka miliki.

Dari berbagai contoh diatas, dapat kita simpulkan bahwa pada tingkat nasional,

baik pendekatan perlindungan hukum terhadap Ekspresi Budaya Tradisional dan

Kekayaan Intelektual Tradisional lainnya dengan dapat dilakukan rezim HKI

Konvensional maupun rezim Sui Generis. Tidak ada bentuk pendekatan yang lebih baik

dibanding yang lain. Sebab kita mesti mengingat bahwa setiap negara memiliki kondisi

34
Luthfi Asiarto, Basuki Antariksa., Ibid.,

145
dan kebutuhan yang berbeda-beda. Setiap negara juga memiliki berbagai bentuk

kebudayaan dan komposisi masyarakat adat yang tidak sama. Selain itu tiap negara juga

memiliki sistim hukum yang unik satu dibanding yang lain. Maka mekanisme

perlindungan yang sukses disatu negara belum tentu sukses di negara lain. Pada intinya

semua kembali kepada masing-masing negara.

2. Perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional di Indonesia

Indonesia sebagai negara dengan masyarakat yang majemuk, memiliki berbagai

macam budaya dan adat istiadat yang terdapat dalam ribuan Suku serta berbagai agama

yang berbeda. Indonesia memiliki keunikan tersendiri, yang juga diiringi kebutuhan dan

kondisi yang juga berbeda. Karena itu tantangan dalam melakukan perlindungan, promosi

dan pelestarian Ekspresi Budaya Tradisional di Indonesia menjadi sangat khas dan unik.

Sementara ditinjau dari segi hukum, Indonesia adalah salah satu negara anggota

WIPO dan WTO yang telah meratifikasi Konvensi Paris, Konvensi Berne serta TRIPS

memiliki tanggung jawab dalam menegakan HKI, termasuk dalam hal ini memberi

perlindungan terhadap berbagai bentuk Kekayaan Intelektual Tradisional.

Karena itu dibutuhkan suatu bentuk mekanisme hukum yang memberi

perlindungan dalam pemanfaatan dan pelestarian Kekayaan Intelektual Tradisional,

terutama dalam hal ini Ekspresi Budaya Tradisional. Namun sejak awal pembentukan

mekanisme hukum tersebut tidak lepas dari berbagai tantangan. Berbagai tantangan yang

muncul antara lain35 :

- Terdapat berbagai macam keanekaragaman budaya dan multikultur dalam

masyarakat yang memiliki komunitas asli dan imigran sehingga memerlukan

kebijakan untuk : a) menyelaraskan antara keperluan perlindungan dan

pelestarian budaya; dan b) upaya menyelaraskan dua kepentingan tersebut


35
Arif Syamsudin.,” Antara Pelestarian dan Perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional/Pengetahuan Tradisional
dan Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual bagian pertama"., Media HKI Departemen Hukum dan HAM RI
edisi Juni 2008, halaman 24

146
dengan tetap memperhatikan kemungkinan pertumbuhan budaya asli terhadap

pengaruh budaya luar . Sebagai catatan, bahwa kepentingan pelestarian

Ekspresi Budaya Tradisional menuntut perlunya menjaga dan

mempertahankan keberadaan budaya tersebut agar tidak punah dari generasi

satu ke generasi lainnya (menjadi tanggung jawab pemilik budaya atau

diambil alih negara sebagai pemegang kedaulatan rakyat). Disamping itu

kepentingan perlindungan hukum dimaksudkan untuk membuat peraturan

yang dapat mencegah pihak lain tanpa izin atau tanpa hak mengeksploitasi

nilai-nilai budaya untuk tujuan komersial. Namun demikian masih terdapat

permasalahan yaitu pengaruh budaya luar yang dianggap lebih sesuai dengan

tuntutan jaman dapat membuat punah atau menghilangnya keaslian Ekspresi

Budaya Tradisional maupun Pengetahuan Tradisional yang ada. Permasalahan

lainnya adalah sampai saat ini belum ada hukum/perjanjian internasional yang

bersifat mengikat setiap negara peserta dalam hal pengaturan eksploitasi yang

dapat melarang pihak lain tanpa ijin mengeksplotasi secara komersial terhadap

Ekspresi Budaya Tradisional maupun Pengetahuan Tradisional bila dilakukan

oleh orang lain di luar yuridiksi negara pemilik Ekspresi Budaya Tradisional

maupun Pengetahuan Tradisional tersebut.

- Perlunya keseimbangan antara kegiatan yang bertujuan untuk pelestarian

budaya tradisional dengan kegiatan yang dapat mendorong inovasi dan

kreativitas yanag bersumber pada budaya tradisional untuk meningkatkan

kontribusi pada nilai-nilai ekonomis yanag berkelanjutan. Sebagai catatan, di

satu pihak diperlukan upaya pelestarian keaslian budaya lokal namun di lain

pihak upaya berinovasi dengan menyempurnakan dan mengembangkan karya

asli tradisional menjadi karya-karya baru karena tuntutan nilai komersial akan

147
berakibat menghilangnya nilai keaslian. Sebagai contoh : celana/baju jeans

diberikan pola batik dengan motif kombinasi beberapa lukisan /seni tradisional

dan memakai peralatan modern untuk membatiknya.

- Terdapat kepentingan antara perlindungan karya intelektual dengan keperluan

promosi aset keragaman budaya tradisional sebagai penunjang daya tarik

pariwisata. Misalkan suatu daerah memperkenalkan/menjual cenderamata

khas produk Ekspresi Budaya Tradisional kepada turis asing, kemudian turis

tersebut menjual secara massal cenderamata tersebut di negara asalnya.

Mengenai hal itu, tidak ada satupun aturana yang dapat melarangnya hingga

saat ini. Dilain pihak disadari atau tidak, larisnya cenderamata tersebut

menjadi kebanggaan daerah tujuan pariwisata dengan harapan dapat

memperkenalkan budaya tradisional daerah ke manca negara.

- Perlunya kebijakan atau aturan yang dapat digunakan dalam sistem

perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional sekaligus menjamin pelestariannya.

Sebagai catatan bahwa dalam konteks pelestarian budaya, siapa saja boleh

melestarikan budaya tradisional, apakah penduduk asli/lokal atau imigran atau

oranag asing yang tertarik memakai/mengunakan/mempelajari dan

mempertahankan kebudayaannya agar tetap eksis. Dalam konteks

perlindungan hukum yang dimaksud hanya orang yang berhak atau mendapat

ijin yang dapat memakai/mengunakan/mempelajari dan mempertahankan

budaya tradisional tersebut sehingga ada pihak yang harus dilarang

memakai/mengunakan Ekspresi Budaya Tradisional atau Pengetahuan

Tradisional tersebut untuk tujuan komersial.

Berhadapan dengan berbagai tantangan dan kesulitan diatas tidak menyurutkan

niat Pemerintah Indonesia untuk berupaya melindungi Kekayaan Intelektual Tradisional

148
pada umumnya serta Ekspresi Budaya Tradisional pada khususnya. Upaya perlindungan

Ekspresi Budaya Tradisional di Indonesia dilakukan melalui beberapa peraturan

perundangan-undangan yaitu meliputi :

a. UU Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta

Pada awalnya, usaha perlindungan terhadap Ekspresi Budaya

Tradisional dan berbagai bentuk Kekayaan Intelektual Tradisional lainnya

diatur dalam dalam UU Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.

Perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional diatur dalam bentuk perlindungan

folklor. Dalam penjelasan Pasal 10 Undang-Undang No. 19 Tahun 2002

dinyatakan bahwa dalam rangka melindungi folklor dan hasil kebudayaan

rakyat lain, Pemerintah dapat mencegah adanya monopoli atau komersialisasi

serta tindakan yang merusak atau pemanfaatan komersial tanpa seizin negara

Republik Indonesia sebagai Pemegang Hak Cipta. Ketentuan ini dimaksudkan

untuk menghindari tindakan pihak asing yang dapat merusak nilai kebudayaan

tersebut.

Pengertian dari yang dimaksud sebagai “folklor” yang dilindungi

dalam UU No. 19 Tahun 2002 ini dijelaskan dalam Penjelasan Pasal 10 ayat 2

sebagai :

“Folklor dimaksudkan sebagai sekumpulan Ciptaan tradisional, baik


yang dibuat oleh kelompok maupun perorangan dalam masyarakat,
yang menunjukkan identitas sosial dan budayanya berdasarkan standar
dan nilai-nilai yang diucapkan atau diikuti secara turun temurun,
termasuk :
a. cerita rakyat, puisi rakyat;
b. lagu-lagu rakyat dan musik instrumen tradisional;
c. tari-tarian rakyat, permainan tradisional;
d. hasil seni antara lain berupa: lukisan, gambar, ukiran-ukiran,
Pahatan, mosaik, perhiasan, kerajinan tangan, pakaian, instrumen
musik dan tenun tradisional.”

149
Pengertian folklor diatas memiliki kesamaan dengan pengertian Ekspresi

Budaya Tradisional dalam Model Provisions 1982 yang membagi Ekspresi

Budaya Tradisional dalam empat penggolongan dalam bentuk ekspresi lisan,

ekspresi musikal, ekspresi gerak dan ekspresi bentuk36.

Berkaitan dengan perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional, maka

pada Pasal 10 UU No 19 Tahun 2002 yang menyatakan :

(1) Negara memegang Hak Cipta atas karya peninggalan prasejarah,


sejarah, dan benda budaya nasional lainnya.
(2) Negara memegang Hak Cipta atas folklor dan hasil kebudayaan
rakyat yang menjadi milik bersama, seperti cerita, hikayat,
dongeng, legenda, babad, lagu, kerajinan tangan, koreografi, tarian,
kaligrafi, dan karya seni lainnya.
(3) Untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaan tersebut pada
ayat (2), orang yang bukan warga negara Indonesia harus terlebih
dahulu mendapat izin dari instansi yang terkait dalam masalah
tersebut.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai Hak Cipta yang dipegang oleh
Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini, diatur dengan
Peraturan Pemerintah.

Lebih lanjut dalam Pasal 31 diatur mengenai pengecualian terhadap jangka

waktu perlindungan yang berlaku dinyatakan bahwa :

(1) Hak Cipta atas Ciptaan yang dipegang atau dilaksanakan oleh
Negara berdasarkan:
a. Pasal 10 ayat (2) berlaku tanpa batas waktu;

Mekanisme perlindungan pada UU No 19 Tahun 2002 ini dapat

dianggap dekat dengan mekanisme perlindungan dalam Tunis Model Law,

yang meletakan perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional bukan dalam

wilayah yang bersifat Sui Generis, namun sebagai bagian dari kerangka Hak

Cipta.

36
Lihat halaman 113

150
Sangat disayangkan bahwa kemudian dalam prakteknya, perlindungan

Ekspresi Budaya Tradisional lewat UU Nomor 19 Tahun 2002 ini dapat

dikatakan gagal. Penyebab gagalnya Pasal 10 UU Nomor 19 Tahun 2002

mungkin diakibatkan karena tidak populernya konsep perlindungan Kekayaan

Intelektual Tradisional itu sendiri ditengah masyarakat. Walaupun masih dapat

diperdebatkan kebenarannya, kemungkinan tidak populernya isu perlindungan

HKI atas Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional

disebabkan oleh 2 (dua) hal utama, yaitu37:

1) Konsep HKI yang berasal dari kebudayaan Eropa dan tidak dikenal di

dalam kebudayaan asli masyarakat Indonesia. Ini disebabkan di dalam

budaya bangsa Indonesia, tidak dikenal konsep kekayaan yang sifatnya

abstrak. Di samping itu, karena sangat dipengaruhi oleh budaya

agrikultural, maka bangsa Indonesia secara tradisional tidak mengenal

sistem kepemilikan individual yang menjadi salah satu ciri utama HKI,

melainkan hanya mengenal sistem kepemilikan kolektif.

2) Bangsa Indonesia pada umumnya adalah masyarakat yang tidak suka

menonjolkan diri, sehingga seringkali tidak bersedia disebutkan namanya

di dalam ciptaannya sendiri.

Maka jika kita tetap menggunakan ketentuan Pasal 10, ada beberapa

hal yang harus diperjelas. Sebagai contoh, UU Hak Cipta mensyaratkan bahwa

cipta harus bersifat asli agar dapat dilindungi. Syarat tersebut cukup sulit

untuk dipenuhi karena dalam masyarakat adat kita berlaku ketentuan bahwa

suatu kebiasaan yang tidak sama dengan kebiasaan sebelumnya dianggap

37
Basuki Antariksa, Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional : Keterkaitan Dengan Rezim
Hak Kekayaan Intelektual., (Biro Kerjasama Luar Negeri Departemen Kebudayaan dan Pariwisata), halaman
2

151
melanggar peraturan adat38. Pasal 10 juga tidak mengatur mengenai instansi

apa yang ditunjuk untuk mengurus perijinan dalam pengunaan hak cipta atas

folklor oleh orang asing bukan Indonesia, serta mengenai pembentukan

instansi-instansi terkait yang menangnai masalah ini. Terakhir, hal paling

penting yang mesti ditegaskan terkait Pasal 10 adalah mengenai ketentuan

pemerintah yang diamanatkan Pasal 10 ayat (4). Penyusunan ketentuan

pemerintah ini dapat dikatakan gagal. Sebab hingga saat ini belum ada

ketentuan lebih lanjut yang berfungsi sebagai panduan mengatur implementasi

Pasal 10, maka akibatnya Pasal 10 memang tidak mungkin dilaksanakan.

b. UU Nomor 15 Tahun 2001 Tentang Merek serta PP Nomor 51 Tahun 2007

Tentang Indikasi-geografis

Selain lewat Hak Cipta, salah satu mekanisme perlindungan Ekspresi

Budaya Tradisional lain di Indonesia adalah Indikasi-geografis. Konsep

Indikasi-geografis sebagai mekanisme perlindungan Ekspresi Budaya

Tradisional serta bentuk HKI Tradisional lainnya telah diajukan oleh pakar

hukum Indonesia seperti Miranda Risang Ayu39. Indikasi-geografis dianggap

mampu melindungi dan mengakui keterkaitan erat antara sebuah produk

barang Ekspresi Budaya Tradisional dengan masyarakat dan daerah

penghasilnya.

Indikasi-geografis dalam sistim HKI Indonesia diperkenalkan lewat

UU Nomor 15 Tahun 2001 Tentang Merek (UU Merek). Pada Pasal 56 ayat

(1) UU Merek, Indikasi-geografis didefinisikan sebagai :

“Indikasi-geografis dilindungi sebagai suatu tanda yang menunjukkan


daerah asal suatu barang, yang karena faktor lingkungan geografis
termasuk faktor alam, faktor manusia, atau kombinasi dari kedua

38
Luthfi Asiarto, Basuki Antariksa., Op.Cit., halaman 8
39
Miranda Risang Ayu., “Indikasi Asal Bagi Kekayaan Adat.”, (Kompas , 25 Oktober 2008), halaman 14

152
faktor tersebut, memberikan ciri dan kualitas tertentu pada barang yang
dihasilkan.”

Lebih lanjut dijelaskan terkait dengan definisi diatas bahwa Indikasi-geografis

adalah suatu indikasi atau identitas dari suatu barang yang berasal dari suatu

tempat, daerah atau wilayah tertentu yang menunjukkan adanya kualitas,

reputasi dan karakteristik termasuk faktor alam dan faktor manusia yang

dijadikan atribut dari barang tersebut. Tanda yang digunakan sebagai indikasi-

geografis dapat berupa etiket atau label yang dilekatkan pada barang yang

dihasilkan. Tanda tersebut dapat berupa nama tempat, daerah, atau wilayah,

kata, gambar, huruf, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut. Pengertian

nama tempat dapat berasal dari nama yang tertera dalam peta geografis atau

nama yang karena pemakaian secara terus-menerus sehingga dikenal sebagai

nama tempat asal barang yang bersangkutan.

Definisi ini kemudian digunakan juga dalam Pasal 1 angka 1 PP

Nomor 51 Tahun 2007 tentang Indikasi-geografis. Selanjutnya pada Pasal 2

PP No 51 Tahun 2007 dijelaskan bahwa lingkup Indikasi-geografis meliputi :

(1) Tanda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 merupakan


nama tempat atau daerah maupun tanda tertentu lainnya yang
menunjukkan asal tempat dihasilkannya barang yang dilindungi
oleh Indikasi-geografis.
(2) Barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa hasil
pertanian, produk olahan, hasil kerajinan tangan, atau barang
lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1.
(3) Tanda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilindungi sebagai
Indikasi-geografis apabila telah terdaftar dalam Daftar Umum
Indikasi-geografis di Direktorat Jenderal.
(4) Indikasi-geografis terdaftar tidak dapat berubah menjadi milik
umum.

Selanjutnya dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan "tanda tertentu lainnya"

adalah tanda yang berupa kata, gambar, atau kombinasi dari unsur-unsur

153
tersebut, seperti kata "Minang" mengindikasikan daerah Sumatera Barat atau

gambar rumah adat Toraja, mengindikasikan daerah Toraja di Sulawesi

Selatan. Sementara yang dimaksud dengan "pertanian" mencakup juga:

kehutanan, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kelautan. Sedangkan yang

dimaksud dengan "barang lainnya" mencakup antara lain bahan mentah

dan/atau hasil olahan dari hasil pertanian maupun yang berasal dari hasil

tambang. Dijelaskan pula bahwa suatu nama, indikasi atau tanda yang telah

terdaftar sebagai Indikasi-geografis tidak dapat didegradasi, dianggap sebagai

nama barang, dan selanjutnya menjadi milik umum.

Keberadaan Indikasi-geografis bertujuan melindungi hak-hak

pemegangnya. Hak yang dilindungi dalam Indikasi-geografis dicantumkan

pada Pasal 57 UU Merek yang menyatakan bahwa :

(1) Pemegang hak atas indikasi-geografis dapat mengajukan gugatan


terhadap pemakai indikasi-geografis yang tanpa hak berupa
permohonan ganti rugi dan penghentian penggunaan serta
pemusnahan etiket Indikasi-geografis yang digunakan secara tanpa
hak tersebut.
(2) Untuk mencegah kerugian yang lebih besar pada pihak yang
haknya dilanggar, hakim dapat memerintahkan pelanggar untuk
menghentikan kegiatan pembuatan, perbanyakan, serta
memerintahkan pemusnahan etiket indikasi-geografis yang
digunakan secara tanpa hak tersebut.

Selain itu pelanggaran Indikasi-geografis meliputi perbuatan-perbuatan yang

dijabarkan pada Pasal 25 PP No 51 Tahun 2007 yang meliputi :

(a) Pemakaian Indikasi-geografis yang bersifat komersial, baik secara


langsung maupun tidak langsung atas barang yang tidak memenuhi
Buku Persyaratan;
(b) Pemakaian suatu tanda Indikasi-geografis yang bersifat komersial,
baik secara langsung maupun tidak langsung atas barang yang
dilindungi atau tidak dilindungi dengan maksud:

154
1. untuk menunjukkan bahwa barang tersebut sebanding
kualitasnya dengan barang yang dilindungi oleh Indikasi-
geografis;
2. untuk mendapatkan keuntungan dari pemakaian tersebut; atau
3. untuk mendapatkan keuntungan atas reputasi Indikasi-
geografis;
(c) pemakaian Indikasi-geografis yang dapat menyesatkan masyarakat
sehubungan dengan asal usul geografis barang itu;
(d) pemakaian Indikasi-geografis secara tanpa hak sekalipun tempat
asal barang dinyatakan;
(e) peniruan atau penyalahgunaan lainnya yang dapat menyesatkan
sehubungan dengan asal tempat barang atau kualitas barang yang
tercermin dari pernyataan yang terdapat pada:
1. pembungkus atau kemasan;
2. keterangan dalam iklan;
3. keterangan dalam dokumen mengenai barang tersebut;
4. informasi yang dapat menyesatkan mengenai asal usulnya
(dalam hal pengepakan barang dalam suatu kemasan); atau
(f) Tindakan lainnya yang dapat menyesatkan masyarakat luas
mengenai kebenaran asal barang tersebut.

Dalam rangka memberikan perlindungan, dilakukan dengan

mengajukan permohonan tertulis dan Buku Persyaratan sesuai syarat dan

ketentuan Pasal 5 dan Pasal 6 PP No 51 Tahun 2007 kepada Dirjen HKI.

Adapun yang berhak sebagai pemohon terdiri atas:

(a) lembaga yang mewakili masyarakat di daerah yang memproduksi


barang yang bersangkutan, terdiri atas:
1. pihak yang mengusahakan barang hasil alam atau kekayaan
alam;
2. produsen barang hasil pertanian;
3. pembuat barang hasil kerajinan tangan atau barang hasil
industri; atau
4. pedagang yang menjual barang tersebut;
(b) lembaga yang diberi kewenangan untuk itu; atau
(c) kelompok konsumen barang tersebut

Selain itu juga diatur dalama Pasal 3 PP No 51 Tahun 2007 bahwa ada

beberapa bentuk Indikasi-geografis yang tidak dapat didaftarkan meliputi

Indikasi-geografis yang bersifat :

155
(a) bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, moralitas
agama, kesusilaan atau ketertiban umum;
(b) menyesatkan atau memperdaya masyarakat mengenai: ciri, sifat,
kualitas, asal sumber, proses pembuatan barang, dan/atau
kegunaannya;
(c) merupakan nama geografis setempat yang telah digunakan sebagai
nama varietas tanaman, dan digunakan bagi varietas tanaman yang
sejenis; atau
(d) telah menjadi generik.

Apabila permohonan pendaftaran Indikasi-geografis diterima, maka

permohonan itu kemudian diproses oleh Dirjen HKI. Dirjen HKI kemudian

meneruskan permohonan kepada Tim Ahli Indikasi-geografis yang dibentuk

sesuai ketentuan Pasal 14. Tim Ahli Indikasi-geografis kemudian mengadakan

pemeriksaan substansif terhadap materi yang didaftarkan. Apabila Indikasi–

geografis itu dianggap dapat didaftarkan, maka proses pendaftaran dilanjutkan

oleh Dirjen HKI yang kemudian berwenang untuk meneruskan prosesnya

menurut ketentuan yang diatur dalam pasal 11 sampai 13 PP No 51 Tahun

2007.

Setelah pendaftar Indikasi-geografis diterima, maka pendaftar

memiliki kedudukan sebagai pemegang hak yang dapat melakukan gugatan

kepada pemakai Indikasi-geografis tanpa hak. Apabila ada pihak selain

pemegang hak yang ingin mengunakan Indikasi-geografis tersebut, maka

diwajibkan untuk mendaftarkan pada Dirjen HKI serta melaksanakan

ketentuan dan prosedur yang diatur dari Pasal 15 hingga Pasal 20.

Selain Indikasi-geografis, UU Merek juga mengatur mengenai Indikasi

asal. Pada Pasal 59 dinyatakan bahwa Indikasi asal dilindungi sebagai suatu tanda

yang memiliki sifat :

(a) memenuhi ketentuan Pasal 56 ayat (1), tetapi tidak didaftarkan;


atau
(b) semata-mata menunjukkan asal suatu barang atau jasa.
156
Perlindungan terhadap Indikasi asal sebagai “Indikasi-geografis yang tidak

didaftarkan” ini merupakan implikasi dari kedudukan Indonesia sebagai

anggota WTO yang wajib mencegah peredaran barang atau jasa dengan

sumber yang palsu atau menyesatkan. Selanjutnya pada Pasal 60 UU Merek

dinyatakan bahwa ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 dan Pasal

58 UU tersebut juga berlaku secara mutatis mutandis terhadap pemegang hak

atas indikasi-asal.

Dalam kaitannya dengan perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional,

pengunaan Indikasi-geografis maupun Indikasi asal di Indonesia dapat

menjadi salah satu solusi yang dapat digunakan. Indikasi-geografis dalam hal

ini dapat melindungi Ekspresi Budaya Tradisional yang memiliki bentuk

barang seperti hasil kerajinan tradisional. Misalkan sekelompok pengrajin

pahat dari Suku Asmat di Propinsi Irian Jaya dapat mendaftarkan Indikasi–

geografis atas produk yang mereka hasilkan karena produk Pahatan tersebut

mengunakan kayu yang hanya ada di hutan Irian Jaya (faktor alam) dan dalam

proses pembuatannya, Pahatan tersebut memiliki akar sejarah budaya lokal

yang panjang sebagai bagian dari Suku Asmat, memiliki komunitas

pemangku, memiliki cara-cara pembuatan tradisional tertentu, dan memiliki

kesatuan wilayah produksi (faktor manusia).

Dengan mendaftarkan Pahatan Asmat sebagai Indikasi-geografis maka

kaitan antara Suku Asmat dan Pahatan yang dihasilkannya diakui dan

dilindungi. Siapapun pemakai Indikasi Geografis atas suatu benda dapat

diketahui dan diatur lewat Dirjen HKI. Suku Asmat sebagai pemegang hak

dapat melakukan gugatan terhadap pihak-pihak yang secara sengaja

mengunakan Indikasi-geografis tanpa hak.

157
Namun pengunaan Indikasi-geografis sebagai alternatif perlindungan

Ekspresi Budaya Tradisional tidak luput dari kesulitan. Pertama, Indikasi-

geografis hanya melindungi Ekspresi Budaya Tradisional yang memiliki

bentuk nyata sebagai sebuah produk atau barang yang dikomersialkan.

Indikasi-geografis tidak dapat digunakan untuk melindungi Ekspresi Budaya

Tradisional dalam bentuk ekspresi seni atau musikal yang bersifat lisan.

Memang, dalam hal ini kita dapat mengunakan Indikasi asal dengan definisi

sebagai penunjuk barang atau jasa sesuai Pasal 59 ayat (2) UU Merek. Tetapi

pada Pasal 59 tersebut tidak didefinisikan lebih rinci apakah pengertian “jasa”

termasuk merupakan ekspresi seni yang bersifat lisan?

Kedua, Indikasi-geografis dalam pengunaanya berfungsi melindungi

reputasi suatu barang dengan kaitannya dengan asal barang tersebut. Indikasi-

geografis tidak melindungi barang atau produk tersebut. Indikasi-geografis

tidak dapat digunakan misalkan apabila sebuah perusahaan membuat suatu

kaos dengan gambar Pahatan Asmat yang telah dilindungi dalam Indikasi-

geografis, yang kemudian dikomersilkan dan dijual ke tempat umum. Suku

Asmat pun tidak dapat menuntut kompensasi apapun karena tidak diatur dalam

Indikasi-geografis mengenai kompensasi oleh pihak pemakai suatu produk

Ekspresi Budaya Tradisional dengan masayarakat adat asal Ekspresi Budaya

Tradisional tersebut.

Ketiga, Indikasi-geografis memiliki kecenderungan monopolistik.

Suku Asmat sebagai pemilik hak atas produk Pahatannya yang telah

didaftarkan misalkan, dapat mengugat pihak-pihak diluar Suku Asmat yang

juga memproduksi produk Pahatan tersebut. Pahatan Asmat seakan hak

ekslusif Suku Asmat yang tak dapat diganggu gugat pihak lain. Hal ini malah

158
dapat menjadi kontra-produktif dan dapat menjadi sumber disintegrasi apabila

diterapkan di Indonesia. Suku Asmat misalkan dapat melarang Suku Dani

memproduksi Pahatan Asmat. Kelompok pengrajin Pekalongan dapat

melarang kelompok pengrajin kota lain untuk memproduksi Batik Pekalongan.

Perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional dalam kerangka HKI di Indonesia

selayaknya perlindungan dalam kerangka rezim HKI Konvensional, bersifat tidak utuh

dan sangat umum. Mekanisme perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional harus dapat

memenuhi karakteristik dari Ekspresi Budaya Tradisional itu sendiri yang dalam hal ini

sulit dipenuhi oleh mekanisme perlindungan dalam kerangka rezim HKI Konvensional di

Indonesia pada khususnya.

Berangkat dari kegagalan mekanisme perlindungan sebelumnya tersebut, maka

Departemen Hukum dan HAM bekerjasama dengan pihak terkait mencoba menyusun

“Rancangan Undang-Undang Tentang Perlindungan dan Pemanfaatan Kekayaan

Intelektual Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional.” Diharapkan

bahwa RUU ini dapat memberikan suatu mekanisme perlindungan dalam pemanfaatan

dan pelesatrian Kekayaan Intelektual Tradisional di Indonesia yang diiringi dengan

penegakan hukum yang konsisten.

Hingga saat ini RUU tersebut masih berada dalam perjuangan yang panjang untuk

diwujudkan. Berbagai upaya pembahasan telah dilakukan oleh pihak-pihak

berkepentingan, mulai dari pemerintah, LSM, hingga unsur-unsur masyarakat adat40.

Upaya pembahasan tersebut berlangsung alot karena berbagai kepentingan dan

pandangan yang berbeda satu sama lain. Beberapa pemikiran mengenai upaya yang

dimaksud adalah sbb.41 :

40
Basuki Antariksa., Wawancara., Biro Kerjasama Luar Negeri Departemen Kebudayaan dan Pariwisata,
(Jakarta, 1 September 2008)
41
Luthfi Asiarto, Basuki Antariksa., Op.Cit., halaman 9

159
- Perlu segera diupayakan terwujudnya kesepakatan nasional mengenai definisi

pengetahuan tradisional dan folklor. Jika bangsa Indonesia tidak memutuskan

hal tersebut, maka kondisi perlindungannya akan terus menerus berada dalam

ketidakjelasan.

- Perlu dijelaskan apa yang menjadi tujuan nasional kita untuk melindungi

pengetahuan tradisional dan folklor. Butir 2 akan terkait erat dengan perlunya

menciptakan keseimbangan antara kepentingan perlindungan dengan

kepentingan akses publik. Kecuali untuk pengetahuan tradisional dan folklor

yang bersifat sakral, jika dapat dimanfaatkan untuk kebaikan publik, maka

akses masyarakat terhadap pengetahuan tradisional dan folklor secara moral

kelihatannya tidak mungkin untuk dilarang. Ini mengandung pengertian bahwa

untuk beberapa jenis pengetahuan tradisional dan folklor, perlu ditetapkan

batas waktu pemberian perlindungan.

- Perlu ditetapkan siapa yang menjadi pemegang hak atas suatu pengetahuan

tradisional dan folklor.

- Perlu ditetapkan siapa yang berfungsi sebagai lembaga pengelola royalty atas

pengetahuan tradisional dan folklor. Mengingat HKI merupakan sarana yang

sangat penting bagi negara berkembang untuk mendukung pembangunan,

maka idealnya pemerintah propinsi/kota ditugaskan untuk menjadi pengelola

yang nantinya akan mendistribusikan royalti selain kepada pemegang hak,

juga untuk membangun daerah dan melakukan penelitian lebih lanjut

mengenai hal-hal yang terkait dengan kedua jenis kekayaan intelektual

tersebut, misalnya penelitian mengenai asal-usul suatu pengetahuan tradisional

dan folklor. Ini sesuai dengan prinsip pada Pasal 36 ayat (3) dari Undang-

160
Undang No 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang menetapkan

bahwa hak milik mempunyai fungsi sosial.

- Berkaitan dengan royalti, perlu ditetapkan Sui Generis system di mana jumlah

yang harus dibayar oleh orang asing yang mengeksploitasi pengetahuan

tradisional dan folklor Indonesia, dapat lebih tinggi daripada yang harus

dibayar oleh warga negara kita sendiri. Alasannya, pemanfaatan pengetahuan

tradisional dan folklor secara domestik bagi bangsa kita tidak hanya

merupakan masalah ekonomi, tetapi juga sebagai sarana untuk meningkatkan

rasa persatuan dan kesatuan antar daerah dan Suku.

- Perlu dipertimbangkan pembentukan suatu dewan perlindungan HaKI di

daerah yang fungsinya memberikan rekomendasi mengenai siapa yang berhak

atas penyaluran dana hasil royalty tersebut (semacam collective management

society).

- Perlu diberikan penghargaan khusus kepada orang-orang yang secara

individual merupakan "living human treasure" karena melestarikan eksistensi

pengetahuan tradisional dan folklor, agar dapat terus berkarya melestarikan

dan mengembangkan kekayaan intelektual semacam ini.

- Hal yang paling penting adalah melakukan law enforcement secara konsisten.

Jika ditinjau secara lebih mendalam, negara berkembang pada umumnya

hanya memiliki kemampuan sebatas mengakui bahwa suatu pengetahuan

tradisional dan folklor adalah milik mereka. Sementara itu, negara maju

memiliki berbagai sumber daya yang menjadikan mereka mampu "mengolah"

sumber-sumber kekayaan intelektual tersebut ke dalam bentuk yang sangat

menguntungkan baik secara material maupun non-material. Oleh karena itu,

negara berkembang harus mengembangkan kemampuannya ke arah tersebut

161
dengan dukungan law enforcement yang baik untuk membuktikan bahwa

dirinya mampu melindungi kekayaan intelektual pengetahuan tradisional dan

folklor, mengembangkan dan memperoleh keuntungan yang signifikan dari

kekayaan intelektual dimaksud. Jika tidak, dikhawatirkan negara berkembang

tidak akan memenangkan apapun dari perjuangannya untuk melindungi

pengetahuan tradisional dan folklor.

- Perlu dibentuk suatu lembaga untuk menyusun dan memelihara database

mengenai pengetahuan tradisional dan folklor yang lengkap sebagai dasar bagi

defensive protection. Hal tersebut akan mempermudah proses pembuktian

ketika suatu pihak mengklaim bahwa sebuah pengetahuan tradisional atau

folklor adalah miliknya, seperti kasus batik cap yang sekarang terjadi.

Sejalan dengan pembahasan RUU Tentang Perlindungan dan Pemanfaatan

Kekayaan Intelektual Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional,

sejumlah “pekerjaan rumah” perlu segera dilakukan, secara berkelanjutan, oleh seluruh

pemangku kepentingan di tanah air dalam rangka proses menuju perlindungan HKI atas

Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional. Sebagai langkah-langkah

awal, beberapa tindakan dimaksud adalah sebagai berikut42:

- Menyusun dan secara berkala menyempurnakan suatu database mengenai

berbagai kekayaan intelektual Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya

Tradisional yang terdapat di daerah di mana para pemangku kepentingan

tersebut berada. Database ini dapat berbentuk buku, rekaman suara atau

audiovisual, informasi di dalam jaringan internet dan sebagainya. Hal ini

sangat penting karena salah satu konsep yang diterapkan oleh banyak negara

saat ini adalah menerapkan apa yang disebut dengan defensive protection. Pola
42
Basuki Antariksa, Pedoman Umum Upaya Perlindungan Kekayaan Intelektual Atas Pengetahuan Tradisional
dan Ekspresi Budaya Tradisional., (Biro Kerjasama Luar Negeri Departemen Kebudayaan dan Pariwisata:
2007), halaman 12

162
perlindungan seperti ini memungkinkan suatu negara untuk menggagalkan

klaim negara lain yang menyatakan bahwa suatu Pengetahuan Tradisional dan

Ekspresi Budaya Tradisional adalah miliknya padahal sebenarnya tidak

demikian. Di dalam database tersebut paling sedikit harus terdapat bukti

sejarah bahwa Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional

dimaksud berasal dari suatu wilayah di Indonesia, seperti misalnya alat musik

tradisional Angklung yang di dalam The Garland Encyclopedia of World

Music disebutkan sebagai salah satu bagian dari seni musik Suku Sunda.

- Perlu dilakukan pengkajian dan sosialisasi secara luas mengenai konsep-

konsep HKI “modern”, aplikasinya serta berbagai konsekuensi yang mungkin

muncul dari segi sosial, budaya dan ekonomi. Hal ini sangat penting agar

masyarakat mengetahui landasan berpikir sistem HKI dalam rangka

melakukan proses analogi dengan upaya perlindungan HKI atas Pengetahuan

Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional.

- Perlu dilakukan berbagai upaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang

terdapat di dalam List of Core Issues. Jawaban yang memuaskan atas

pertanyaan-pertanyaan tersebut akan sangat membantu pemerintah dalam

proses diplomasi di tingkat internasional untuk mempercepat perwujudan

instrumen internasional yang mengikat secara hukum, sehingga penegakan

perlindungan HKI atas Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya

Tradisional dapat diterapkan antar negara.

- Mengumpulkan data dan informasi yang akurat mengenai berbagai kasus

pencurian Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional terutama

oleh pihak asing. Data dan informasi tersebut sangat penting sebagai alat bukti

163
mengenai terjadinya tindakan-tindakan yang dilakukan oleh pihak asing, yang

merugikan bangsa Indonesia.

Selain melakukan upaya di tingkat nasional, Indonesia turut aktif dalam forum-

forum internasional yang membahas mengenai perlindungan Kekayaan Intelektual

Tradisional43. Dalam kedudukannya sebagai anggota WIPO, Indonesia turut aktif dalam

pembahasan-pembahasan di WIPO Intergovernmental Committee on Intellectual

Property and Genetic Resources, Traditional Knowledge and Folklore (IGC-GRTKEF).

Dalam Sidang ke 11 IGC GRTKEF pada tanggal 3-12 Juli 2007, delegasi Indonesia

dalam butir-butir list of issues tetap menekankan pentingnya pembentukan international

legally binding instrument44.

Pembentukan international legally binding instrument dirasa sangat penting

mengingat banyak pelanggaran terhadap perlindungan Kekayaan intelektual Tradisional

yang terjadi diluar batas negara karena pesatnya perkembangan teknologi dan

berkembangnya bentuk pelanggaran yang terjadi. Karena itu dibutuhkan suatu bentuk

international legally binding instrument yang mengatur mengenai masalah perlindungan

dan pemanfaatan Kekayaan Intelektual Tradisional di tingkat internasional. Tuntutan ini

telah berkembang sejak lama, terutama di negara-negara berkembang. Namun karena

benturan kepentingan dengan negara maju yang merupakan penguna terbesar dari

Kekayaan Intelektual Tradisional, hingga saat ini belum ada kata sepakat untuk

pembentukan international legally binding instrument45.

Diluar kerangka WIPO, Indonesia juga turut serta lewat forum multi-regional New

Asia-Africa Strategic Partnership (NAASP). Lewat NAASP ini kemudian Indonesia turut

memprakarsai Asian Africa Forum on Traditional Cultural Expressions, Traditional

43
Dede Mia Yusanti., Wawancara., Dirjen HKI Departemen Hukum dan HAM RI, (Tangerang, 27 Agustus
2008)
44
Lihat Laporan Hasil Sidang IGC GRTKEF Ke-11 halaman 2
45
Basuki Antariksa., Wawancara., Biro Kerjasama Luar Negeri Departemen Kebudayaan dan Pariwisata,
(Jakarta, 1 September 2008)

164
Knowledge and Genetic Resources di Bandung pada tanggal 18-20 Juni 2007. Forum ini

menghasilkan Bandung Declaration on the Protection of Traditional Cultural

Expressions, Traditional Knowledge and Genetic Resources yang salah satu butirnya

kembali menyatakan pentingnya pembentukan international legally binding instrument.

165
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Pada pembahasan Perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional Dalam Rezim Hak

Kekayaan Intelektual, maka dapat disimpulkan:

1. Rezim Hak Kekayaan Intelektual Konvensional memberikan perlindungan

terhadap Ekspresi Budaya Tradisional lewat dalam kerangka Hak Cipta, Hak

Penampil maupun Indikasi-geografis. Kekuatan utama perlindungan Hak

Kekayaan Intelektual Konvensional adalah adanya rezim perlindungan yang

mapan dan legally-binding di tingkat sub-regional, regional maupun

internasional, baik dalam kerangka WIPO maupun TRIPS.

Hingga saat ini, mekanisme perlindungan Hak Kekayaan Intelektual

Konvensional yang dapat secara langsung maupun tidak langsung kita

implementasikan untuk melindungi Ekspresi Budaya Tradisional dapat kita

temui dalam berbagai instrumen hukum internasional seperti meliputi The

Berne Convention for the Protection of Literary and Artistic Works 1967,

WIPO Performances and Phonograms Treaty 1996, Paris Convention for the

Protection of Industrial Property 1979 dan Agreement on Trade-Related

Aspects of Intellectual Property Rights.

2. Rezim Hak Kekayaan Intelektual Sui Generis memberikan perlindungan

terhadap Ekspresi Budaya Tradisional lewat kerangka yang lebih bersifat utuh

dan khusus. Diharapkan melalui perlindungan Hak Kekayaaan Intelektual Sui

Generis, Ekspresi Budaya Tradisional tetap dapat dilindungi dengan

memperhatikan nilai-nilai pembangunan ekonomi, nilai-nilai adat (termasuk

166
spiritual) dan nilai komunalnya. Karena itulah perlindungan Hak Kekayaan

Intelektual Sui Generis yang memperhatikan karakteristik-karakteristik khusus

dari Kekayaan Intelektual Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional pada

khususnya diperlukan.

Hingga saat ini, WIPO dan UNESCO telah merumuskan dua model

perlindungan hukum di tingkat nasional dalam kerangka perlindungan Hak

Kekayaan Intelektual Sui Generis. Model perlindungan hukum terebut terdiri

atas WIPO-UNESCO Model Law on Copyright for Developing Countries dan

WIPO-UNESCO Model Provisions for National Laws on the Protection of

Expressions of Folklore Against Illicit Exploitation and Other Prejudicial

Actions.

3. Pada tingkat nasional, perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional secara

umum dikategorikan dalam dua pendekatan berbeda. Pendekatan pertama

menempatkan Ekspresi Budaya Tradisional sama seperti bentuk Kekayaan

Intelektual lainnya. Maka Ekspresi Budaya Tradisional tidak membutuhkan

pengaturan khusus, namun cukup dengan mengunakan Rezim Hak Kekayaaan

Intelektual Konvensional yang telah ada.

Pendekatan kedua beranggapan bahwa sekedar rezim Hak Kekayaaan

Intelektual Konvensional belaka tidak akan cukup. Karena itu diperlukan

bentuk perlindungan yang menempatkan Ekspresi Budaya Tradisional dalam

kerangka khusus, melalui suatu bentuk perlindungan Sui Generis.

Kedua bentuk perlindungan ini tidak bersifat eksklusif. Negara misalkan dapat

melindungi dalam kerangka double-track system, dimana rezim Hak

Kekayaaan Intelektual melindungi satu aspek dari Ekspresi Budaya

167
Tradisional tersebut, sementara aspek lain dilindungi dibawah kerangka

hukum Sui Generis.

Di Indonesia sendiri, perlindungan terhadap Ekspresi Budaya Tradisional dan

Kekayaan Intelektual Tradisional lain, pada khususnya telah dirintis lewat

Pasal 10 UU Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta. Sayangnya upaya

perlindungan melalui mekanisme Hak Cipta ini dianggap gagal karena hingga

sekarang tak dapat diimplementasikan. Diluar kerangka mekanisme Hak

Cipta, perlindungan terhadap Ekspresi Budaya Tradisional juga mungkin

dilakukan lewat Indikasi-geografis dan Indikasi-asal seperti yang tertuang

dalam UU Nomor 15 Tahun 2001 Tentang Merek serta PP Nomor 51 Tahun

2007 Tentang Indikasi-geografis. Namun Indikasi-geografis inipun tidak luput

dari berbagai hambatan dan tantangan serupa hingga sulit untuk memberikan

mekanisme perlindungan yang bersifat utuh dan khusus.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan atas permasalahan yang ada diatas maka penulis

memberikan saran-saran sebagai berikut:

1. Pada dasarnya perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional melalui lingkup Hak

Kekayaan Intelektual Konvensional mungkin dilakukan, namun lingkup

perlindungan melalui Hak Kekayaan Intelektual Sui Generis tetap diperlukan,

baik sebagai komplementer dalam kerangka double-track system terhadap

perlindungan Hak Kekayaan Intelektual Konvensional yang telah ada maupun

sebagai mekanisme perlindungan khusus dan utuh serta berdiri sendiri

terhadap Ekspresi Budaya Tradisional.

168
2. Terkait implementasinya sendiri, untuk saat ini sangat diperlukan suatu

mekanisme perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional dalam rezim Hak

Kekayaan Intelektual Sui Generis yang bersifat khusus dan menyeluruh.

Mengingat berbagai tantangan dan hambatan yang ada terutama berkaitan

dengan pembentukan mekanisme perlindungan yang bersifat legally-binding

di tingkat internasional, maka diusulkan bahwa agar setiap negara membentuk

suatu mekanisme perlindungannya sendiri dalam sistim hukum masing-masing

yang bersifat khusus untuk memenuhi kebutuhan yang khas dari negara

tersebut.

Setelah mekanisme perlindungan di tingkat nasional terbentuk, maka langkah

selanjutnya dapat dilakukan dengan membentuk mekanisme perlindungan di

tingkat sub-regional, baik secara bilateral maupun multilateral. Mekanisme ini

diharapkan berfungsi memberi perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional di

wilayah antara negara-negara yang memiliki budaya serumpun. Setelah itu

langkah selanjutnya adalah membentuk suatu mekanisme perlindungan di

tingkat regional. Antara negara-negara kawasan yang secara geografis

berdekatan hingga karenanya memiliki pola budaya yang serupa.

Setelah langkah-langkah tersebut terpenuhi, maka barulah memungkinkan

agar dibentuknya suatu kerangka internasional dari mekanisme perlindungan

Ekspresi Budaya Tradisional yang bersifat legally-binding.

3. Berkaitan dengan implementasi perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional di

Indonesia pada khususnya, hal pertama dan utama yang harus dilakukan

terlebih dahulu adalah dengan menyusun database kekayaan budaya nasional.

Beriringan dengan itu, pemerintah juga menyusun peraturan hukum nasional

yang memberi perlindungan dan mengatur pengunaan terhadap kekayaan

169
budaya tersebut. Peraturan tersebut dapat bersifat Sui Generis dalam kerangka

perlindungan Hak Kekayaan Intelektual dari masyarakat adat pemilik

kekayaan budaya yang dilindungi.

Selain itu mengingat kondisi masyarakat Indonesia dengan budayanya yang

sangat heterogen, maka peraturan tersebut bersifat umum dan menyeluruh

dengan dibantu Perda di masing-masing daerah untuk mengatur hal-hal yang

bersifat spesifik dan unik sesuai karakteristik dan kebutuhan komunitas

masyarakat adat di masing-masing daerah.

170
DAFTAR PUSTAKA

1. Buku
Ashofa, Burhan, Metode Penelitian Hukum, Rineka Cipta, Jakarta, 2001.

Hadikusuma, Hilman, Metode Pembuatan Kertas Kerja atau Skripsi Ilmu Hukum,
Mandar Maju, Bandung, 1995.

Hansen, Stephen A. dan Justin W. VanFleet, Traditional Knowledge and Intellectual


Property: A Handbook on Issues and Options for Traditional Knowledge
Holders in Protecting their Intellectual Property and Maintaining Biological
Diversity, Washington, Juli 2003.

Janke, Terri, Minding Culture : Case Studies on Intellectual Property and Traditional
Cultural Expressions, WIPO, Jenewa, 2003.

Lindsey, Tim, Eddy Damian,Simon Butt, Tomi Suryo Utomo, Hak Kekayaan
Intelektual: Suatu Pengantar, PT Alumni, Bandung, 2002.

Saidin, Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual (Intellectual Property Rights), Raja
Grafindo Persada, Jakarta, 2004.

Santoso, Budi, Pengantar Hak Kekayaan Intelektual, Pustaka Magister, Semarang,


2008.

Valsala, P.V., National Experiences With The Protection of Expressions of


Folklore/Traditional Cultural Expressions: India, Indonesia and Philipines,
WIPO, Jenewa, November 2002.

WIPO Secretariat, Consolidated Analysis of The Legal Protection of Traditional


Cultural Expression/Expression of Folklore, WIPO, Jenewa, Mei 2003.

______________, Intellectual Property and Traditional Cultural


Expressions/Folklore, WIPO, Jenewa.
2. Makalah Hukum

Adhimiharja, Kusnaka, Jenis Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Folklor Serta


Karakteristiknya, 1 Februari 2007.

Antariksa, Basuki, Pedoman Umum Upaya Perlindungan Kekayaan Intelektual Atas


Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional, Biro Kerjasama
Luar Negeri Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Jakarta, 2007.

______________, Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional :


Keterkaitan Dengan Rezim Hak Kekayaan Intelektual, Biro Kerjasama Luar
Negeri Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Jakarta.

Asiarto, Luthfi dan Basuki Antariksa., Beberapa Bentuk Perlindungan Hukum Bagi
Folklor dan Pengetahuan Tradisional di Berbagai Negara, makalah
disampaikan pada acara Forum Konsultasi Menuju Perlindungan Hukum atas
Ekspresi Budaya Tradisional dan Pengetahuan Tradisional, (Jakarta, 30
November - 1 Desember 2004).

Ayu, Miranda Risang, “Indikasi Asal Bagi Kekayaan Adat.”, Kompas, 25 Oktober
2008, halaman 14

Blakeney, Michael, Intellectual Property in The Dreamtime-Protecting the Cultural


Creativity of Indigenous People, Research Seminar - Oxford Intellectual
Property Research Centre, (Oxford, 9 November 1999).

______________, Protecting Traditional Cultural Expressions : The International


Dimension, 2006

Danandjaya, James, Perlindungan Hukum Terhadap Folklor di Indonesia, Depok,


Agustus 2003.

Githaiga, Joseph, Intellectual Property Law and the Protection of Indigenous Folklore
and Knowledge, Murdoch University School of Law, Juni 1998.

Purba, A. Zen Umar, Peta Mutakhir Hak Kekayaan Intelektual Indonesia, makalah
disampaikan pada acara Orientasi Kepailitan bagi para Hakim Agung,
Pusdiklat Mahkamah Agung RI, (Jakarta, 29 Januari 2002).

Riswandi, Budi Agus, Hak Kekayaan Intelektual Prospek dan Tantangannya di


Indonesia, makalah disampaikan pada acara Prospek Hukum Bisnis dan Pasar
Modal, Fakultas Hukum UII, (Yogyakarta, 11 Maret 2005).
Roisah, Kholis, “Perlindungan hukum Terhadap Kekayaan Intelektual Tradisional,”
Majalah Ilmiah Masalah-Masalah Hukum FH UNDIP edisi Juli-September
2006, halaman 354-364.

Sedyawati, Edi, Warisan Tradisi, Penciptaan dan Perlindungan, makalah disampaikan


pada acara Temu Wicara Perlindungan Hukum Folklore dan Traditional
Knowledge, Departemen Kehakiman dan HAM, (Jakarta, 13 Agustus 2003).

Siagian, Rizaldi, Jenis-jenis Pemanfaatan Atas Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi


Folklor Yang Perlu Dilindungi dan Implikasi Pemanfaatannya, April 2007.

Syamsudin, Arif, ”Antara Pelestarian dan Perlindungan Ekspresi Budaya


Tradisional/Pengetahuan Tradisional dan Perlindungan Hak Kekayaan
Intelektual bagian pertama", Media HKI Departemen Hukum dan HAM RI
edisi Juni 2008, halaman 22-25.

3. Perundang-undangan.
United Nations Declaration of Human Rights

United Nations Declaration on the Rights of Indigenous Peoples

United Nations International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights

Convention on Establishing the World Intellectual Property Organization

The Stockholm Diplomatic Conference for Revision of the Berne Convention for the

Protection of Literary and Artistic Works 1967

International Convention for the Protection of Performers, the Producers of

Phonograms and Broadcasting Organizations

WIPO Performances and Phonograms Treaty

Paris Convention for the Protection of Industrial Property

Convention on Biological Diversity

Agreement on Trade Related Aspect of Intellectual Property Rights


UNESCO Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage 2003

ILO Indigenous and Tribal Peoples Convention

WIPO-UNESCO Model Law on Copyright for Developing Countries

WIPO-UNESCO Model Provisions for National Laws on the Protection of

Expressions of Folklore Against Illicit Exploitation and Other Prejudicial Actions

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945

Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta beserta penjelasannya

Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 Tentang Merek beserta penjelasannya

Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2007 Tentang Indikasi-geografis

The Indian Copyright Act (India)

the Indigenous Peoples Rights Act of 1997 (Filipina)

4. Artikel Berita

Antara.co.id, Gubernur Maluku Bersikeras Lagu "Rasa Sayange" Milik Indonesia, (3


Oktober 2007)

__________, Malaysia Akhirnya Akui "Rasa Sayange" Sebagai Milik Bersama, (17
November 2007)

Hukumonline, Indonesia Masih Telusuri Bukti Kepemilikan Lagu 'Rasa Sayange, (23
Oktober 2007)

Kompas Cybermedia, Lagu Rasa Sayange Direkam di Lokananta, (2 November


2007)

Tempo Interaktif, Indonesia dan Malaysia Mengkaji Rasa Sayange, (17 November
2007)

5. Wawancara
Dra. Dede Mia Yusanti. MLS, Wawancara., Kasubdit Pengembangan pada Direktorat
Jenderal HKI Departemen Hukum dan HAM RI, (Tangerang, 27 Agustus
2008)

Basuki Antariksa., Wawancara., Kasubag UNESCO dan WTO pada Biro Kerjasama
Luar Negeri Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, (Jakarta, 1 September
2008)

6. Website

www.un.org/Overview

www.wipo.int/

www.wto.org

www.mun.ca/indigenousIP/index.html

www.antara.co.id/

www.kompas.com/

www.hukumonline.com/

www.tempointeraktif.com/