Anda di halaman 1dari 19

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Banyaknya kalor yang dihasilkan dalam suatu reaksi kimia dapat diukur dengan menggunakan kalorimeter, kalau diukur dengan jalan jumlah total kalor yang diserap lingkungan. Kalor yang diserap air merupakan hasil perkalian antara massa, kalor jenis dan kenaikan suhu. Kalor yang diserap komponen lingkungan lain yaitu bom, pengaduk, termometer, dan sebagainya merupakan hasil kali jumlah kapasitas kalor komponen-komponen ini dengan suhu. Dari sini, dapat diketahui bahwa penjumlahan kalor dapat diterapkan melalui Hukum Hess. Dan Hukum Hess itu sendiri merupakan sebuah hukum dalam kimia fisika untuk ekspansi Hess dalam siklus Hess. Hukum ini digunakan untuk memprediksi perubahan entalpi dari hukum kekekalan energi. Hukum Hess menyatakan bahwa besarnya entalpi dari suatu reaksi tidak ditentukan oleh jalan atau tahap reaksi, tetapi hanya ditentukan oleh keadaan awal dan keadaan akhir suatu reaksi. Selain itu Hukum Hess juga menyatakan bahwa entalpi suatu reaksi merupakan jumlah total dari penjumlahan kalor reaksi tiap satu mol dari masing-masing tahap atau orde reaksi. Oleh karena itu, percobaan ini dilakukan agar dapat mengetahui fungsi dari hukum Hess yaitu untuk dapat mengukur perubahan entalpi dari suatu reaksi dengan menggunakan arah 1 dan arah 2.

1.2 Tujuan Percobaan Mengetahui massa dari H2SO4 pada percobaan Mengetahui apakah hasil percobaan yang dilakukan sesuai dengan hukum Hess Mengetahui hasil entalpi arah 1 dan arah 2

1.3 Prinsip Prinsip percobaan hukum Hess adalah berdasarkan perbedaan panas atau kalor yang dihasilkan dari jalannya reaksi yang berbeda ada dari arah 1 dan arah 2 dimana pada arah 1 penambahan NaOH terakhir. Kita akan membuktikan bunyi hukum Hess apakah hasil awal dan akhir sesuai dengan Hukum Hess.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


Cabang ilmu fisika yang membahas tentang energi adalah termodinamika yang berisi berbagai hukum mengenai perubahan energi dalam sistem. Hukum pertama termodinamika mengungkapkan hubungan kalor energi dalam, dan kerja yang menyertai perubahan sistem. Kalor yang menyertai reaksi sama dengan perubahan entalpinya dan dapat ditentukan tanpa percobaan. Akibatnya kita dapat mengetahui apakah suatu reaksi eksotermik atau endotermik. Hukum kedua termodinamika mengemukakan arah proses spontan, yaitu menambah ketidak teraturan yang ditandai dengan meningkatnya entalpi alam semesta. Entropi suatu zat kimia dapat dihitung berdasarkan hukum ketiga termodinamika. Dari nilai tersebut dapat dihitung perubahan entropi reaksi yang berguna dalam menghitung energi bebasnya. Nilai perubahan energi bebas berguna dalam menentukan apakah reaksi spontan atau tidak. Dalam mempelajari suatu peristiwa, kita harus memperhatikan suatu bagian yang disebut sistam. Sistem adalah bagian tertentu dari alam yang menjadi pusat perhatian untuk dipelajari. Disamping sistem ada lingkungan. Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada diluar sistem. Jika kita ingin mempelajari reaksi kimia dalam tabung reaksi, maka zat kimia yang ada didalam tabung disebut sistem, sedangkan yang diluar zat kima termasuk tabung sendiri dan udara di atas permukaannya adalah lingkungan. Umumnya sebuah sistem jauh lebih kecil dari lingkungannya. Dialam ini terjadi banyak kejadian atau perubahan sehingga alam mengandungnsistem dalam jumlah tak hingga, ada yang berukuran besar (seperti tata surya), berukuran kecil (manusia dan sebuah mesia), dan yang berukuran kecil sekali (seperti sebuah sel dan satu atom). Akibatnya, satu sistem kecil dapat berada dalam sistem besar atau satu sistem merupakan lingkungan bagi sistem lainnya. Akan tetapi bila sebuah sistem

dijumlahkan dengan lingkungannya, yang disebut alam semesta. Alam semesta adalah sistem ditambah lingkungannya. Oleh karena itu alam semesta hanya ada satu (Syukri, 1999). Organisasi termodinamika meliputi suatu set hukum dasar alam yang berhubungan dengan energi dan perpindahan energi antara suatu sistem dan lingkungannya. Hukumnya dibedakan oleh nomor, sehingga ada hukum pertama termodinamika, kedua dan seterusnya. Hukum pertama termodinamika intinya adalah pengulangan dari hukum kekekalan energi. Ingat bahwa hukum ini menyatakan bahwa dalam perubahan kimia dan fisika, energi tak dapat dibentuk atau dimusnahkan, energi hanya dapat diubah dari suatu bentuk ke bentuk lain. Akan tetapi, termodinamika menyatakan hal ini dalam bentuk yang lebih halus. Hukum pertama termodinamika menyatakan bahwa : jika pada suatu sistem mengalami berbagai perubahan yang akhirnya akan mengembalikan ke keadaan semula, jumlah perubahan energinya sama dengan nol. Ini berarti bahwa energi adalah suatu fungsi keadaan. Biasanya, kita tak berminat pada proses yang kembali ke keadaan semula. Kita hanya ingin mengetahui bagaimana perubshsn energi bila suatu sistem berubah dari suatu keadaan ke keadaan yang lain. Oleh sebab iti, termodinamika menjelaskan suatu besaran yang disebut energi dalam E, yang dugunakan untuk menggambarkan perubahan energi ini bila terjadi dalam suatu sistem kimia ataupun fisika. Energi dalam adalah suatu fungsi keadaan yang berhubungan dengan sistem. Apabila suatu sistem berubah dari suatu keadaan ke keadaan lain, ada dua cara untuk menukar energi dengan lingkungannya. Yang pertama, menerima energi kalor atau kehilangan energi tersebut. Apabila sistemnya mengadsorpsi kalor, energinya akan bertambah dan bila mengeluarkan kalor energinya akan berkurang. Cara yang kedua dari sistem penukar energi dengan lingkungannya adalah dengan melakukan usaha atau usaha dilakukan padanya. Apabila sistem melakukan usaha, energinya akan berkurang. Sebaliknya apabila usaha dilakukan pada sistem, energinya akan energi total dari

bertambah. Pembukuan energi untuk kalor dan usaha ini diberikan oleh persamaan berikut E = q+w Dengan q didefinisikan sebagai kalor yang diabsorpsi oleh sistem dari lingkungannya bila sistem mengalami perubahan, dan w adalah usaha yang dilakukan pada sistem oleh lingkungan. Maka bila suatu sistem mengabsorpsi kalor, energinya akan bertambah. Energi dari sistem juga akan naik jika usaha dilakukan padanya. Kalor yang ditambahkan pada suatu sistem dan usaha yang dilakukan pada sistem, keduanya merupakan besaran yang positif. Usaha listrik adalah salah satu cara usaha yang dapat dilakukan oleh suatu sistem atau diberlakukan pada sistem tersebut. Jenis usaha lain yang penting ada hubungannya dengan ekspansi atau kompresi suatu sistem yang mengalami tekanan. Jumlah usaha yang berhubungan dengan kompresi atau ekspansi ada hubungannya dengan tekanan serta perubahan volume yang terjadi pada sistem. Hal ini akan terlihat bila kita menyadari bahwa usaha didapat dengan cara menggerakkan gaya untuk jarak tertentu. Pada suatu reaksi kimia, akan terjadi perubahan energi potensial bila ikatan rusak dan terbentuk suatu ikatan yang baru dan ini dicerminkan pada jumlah energi yang diabsorpsi atau dilepaskan pada waktu terjadi reaksi. Jika kita tujukan dengan sebuah molekul energi ikatan didefinisikan sebagai jumlah energi yang dibutuhkan untuk memisahkan ikatan kimia menghasilkan bagian-bagian yang netral secara elektrik. Untuk sebuah molekul kompleks energi yang dibutuhkan untuk memisahkan semua ikatan dan mereduksi semua bentuk molekul gas menjadi atom gas netram disebut energi atomisasi yang direpresentasikan sebagai merupakan penjumlahan semua energi ikatan dalam molekul. Molekul diatomik sederhana seperti H2, Cl2 dan HCl hanya memiliki satu ikatan maka energi ikatan dan energi atomisasi nilainya sama. Untuk senyawa yang H atom. Nilai ini

sederhana energi ikatan dapat ditentukan dari spectrum yang dihasilkan ketika molekul mengabsorpsi atau mengemici cahaya tampak (Brady, 1999). Hukum Termodinamika I disebut juga hukum kekekalan tenaga. Isi hukum tersebut ialah : Tenaga tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan dengan kata lain bila suatu tenaga hilang akan timbul tenaga dalam bentuk lain, yang jumlahnya sama. Besarnya kerja tekanan dan volume atau kerja mekanik tergantung pada sistemnya (Sukardjo, 2004).

BAB 3 METODOLOGI PERCOBAAN


3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat-alat Neraca ohauss Gelas ukur Termometer Pengaduk Botol timbang dan tutup Pipet tetes Beaker glass Spatula Botol semprot

3.1.2 Bahan-bahan Aquades H2SO4 2 M NaOH padatan Tissue

3.2 Prosedur Percobaan 3.2.1 Arah 1 Ditimbang 4 gram NaOH dalam botol timbang dan tutupnya Dimasukkan aquades sebanyak 25 ml ke dalam kalorimeter Dicatat suhunya Dimasukkan NaOH kedalam kalorimeter Dikocok sampai larut

Dicatat suhunya Diukur 20 ml H2SO4 2 M Dicatat suhu awalnya Dimasukkan kedalam kalorimeter Dikocok Dicatat suhu sebagai suhu akhir

3.2.2 Arah 2 Diukur 25 ml aquades Dicatat suhunya sebagai suhu awal Dimasukkan kedalam kalorimeter Dikocok Dicatat suhunya Ditimbang 4 gr NaOH dalam botol timbang dan tutupnya Dimasukkan perlahan kedalam kalorimeter Dikocok Dicatat suhu maksimum campuran

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Pengamatan Keterangan Arah 1 Aquadest 4 g NaOH H2SO4 2 M Arah 2 Aquadest H2SO4 2 M 4 g NaOH 290C 290C 300C 590C 290C 290C 520C 560C Suhu awal Suhu akhir

4.2 Reaksi 4.2.1 Arah 1 NaOH(s) NaOH(aq) 2NaOH(aq) + H2SO4(aq) Na2SO4(aq) + H2O(l)

4.2.2 Arah 2 H2SO4(aq) H2SO4(aq) H2SO4(aq) + 2NaOH(aq) Na2SO4(aq) + H2O(l) 4.3 Perhitungan Diketahui V H2SO4 = 20 ml = 0,02 L V aquadest = 25 ml

g NaOH = 4g M H2SO4 = 2 M C = 4,184 J/g N NaOH = M H2SO4 = n H2SO4 = M H2SO4 =2 n H2SO4 = gram = n H2SO4 = 0,04 = 3,92 g 4.3.1 Arah 1 Q1 = g NaOH =4 4,184 C (T NaOH max T air) (52 29) 23 Mr H2SO4 V H2SO4 = = 0,1 mol

0,02 = 0,04 mol

98 g/mol

= 16,736 J = 384,93 J = 0,38493 kJ H1 =

Q2 = g H2SO4 = 3,92

(T H2SO4 max T NaOH max) (56 52)

4,184 4

= 36,40128 = 65,60 J = 0,0656 kJ H2 =

Arah 1 = H1 + H2 = 3,8493 kJ/mol + 1,64 kJ/mol = 5,4893 kJ/mol 4.3.2 Arah 2 Q1 = g H2SO4 = 3,92 C (T H2SO4 max T air) (30 29)

4,184

= 16,40 J = 0,0164 kJ H1 =

Q2 = g NaOH =4 4,184

(T H2SO4 NaOH max T H2SO4 max) (59 30)

= 485,34 J = 0,48534 kJ H2 =

Arah 2 = H1 + H2 = 0,41 kJ/mol + 4,8534 kJ/mol = 5,2634 kJ/mol 4.3 Pembahasan Hukum Hess menyatakan bahwa, entalpi suatu reaksi tidak dipengaruhi oleh jalannya reaksi akan tetapi hanya tergantung pada keadaan awal dan keadaan akhir.

Jadi untuk menentukan entalpi suatu reaksi kita bisa memperolehnya dengan mengambil semua jalan yang tersedia. Artinya untuk menentukan entalpi suatu reaksi tunggal maka kita bisa mengkombinasi beberapa reaksi sebagai jalan untuk menentukan entalpi reaksi tunggal tersebut. Hasil akhir yang akan kita peroleh akan menunjukkan nilai yang sama. Selain itu dengan menggunakan hukum Hess, nilai H juga dapat diketahui dengan pengurangan entalpi pembentukan produk-produk dikurangi entalpi pembentukan reaktan. Secara matematis : H = (Hf produk) (Hf reaktan) Menurut hukum hess, karena entalpi adalah fungsi keadaan, perubahan entalpi dari suatu reaksi kimia adalah sama, walaupun langkah-langkah yang digunakan untuk memperoleh produk berbeda. Dengan kata lain, hanya keadaan awal dan akhir yang berpengaruh terhadap perubahan entalpi, bukan langkah-langkah yang dilakukan untuk mencapainya. Entalpi adalah istilah dalam termodinamika yang menyatakan jumlah energi internal dari suatu sistem termodinamika ditambah energi yang digunakan untuk melakukan kerja. Entalpi tidak bisa diukur, yang bisa dihitung adalah nilai perubahannya. Entalpi molar pembentukan yaitu perubahan entalpi pada

pembentukan 1 mol zat langsung dari unsur-unsurnya. Entalpi molar standar yaitu pengukuran yang dilakukan pada keadaan standar (298 K, 1 atm) dan semua unsurunsurnya dalam brntuk standar. Entalpi pembakaran standar yaitu perubahan entalpi pada pembakaran sempurna 1 mol suatu zat yang diukur pada 298 K, 1 atm. Kalorimeter adalah suatu sistem terisolasi (tidak ada pertukaran materi maupun energi dengan lingkungan diluar kalorimeter) atau sebuah alat yang digunakan untuk mengukur jumlah kalor yang terlibat dalam suatu perubahan atau reaksi kimia. Semua kalor yang dibebaskan oleh reaksi yang terjadi didalam kalorimeter. Dengan mengukur kenaikan suhu di dalam kalorimeter, kita dapat menentukan jumlah kalor yang diserap oleh air serta perangkat kalorimeter.

Kalorimeter bom terdiri dari sebuah bom (wadah tempat berlangsungnya reaksi pembakaran, biasanya terbuat dari bahan stainless steel) dan sejumlah air atau suatu larutan yang dibatasi dengan wadah kedap panas. Kalorimeter sederhana disusun dari dua buah gelas plastik. Plastik merupakan bahan nonkonduktor, sehingga jumlah kalor yang diserap atau yang berpindah kelingkungan dapat diabaikan. Jika suatu reaksi berlangsung secara eksoterm, maka kalor sepenuhnya akan diserap oleh larutan di dalam gelas. Sebaliknya, jika reaksi yang berlangsung tergolong endoterm, maka kalor itu diserap dari larutan di dalam gelas. Adiabatik adalah tidak ada kalor yang ditambahkan pada sistem atau meninggalkan sistem (Q=0). Proses adiabatik bisa terjadi pada sistem tertutup yang terisolasi dengan baik. Untuk sistem tertutup yang terisolasi dengan baik, biasanya tidak ada kalor yang dengan seenaknya mengalir kedalam sistem atau meninggalkan sistem. Proses adiabatik juga bisa terjadi pada sistem tertutup yang tidak terisolasi. Untuk kasus ini, proses harus dilakukan dengan sangat cepat sehingga kalor tidak sempat mengalir menuju sistem atau meninggalkan sistem. Energi atomisasi adalah energi yang diperlukan untuk memutuskan semua ikatan 1 mol molekul menjadi atom-atom bebas dalam keadaan gas. Energi atomisasi = jumlah seluruh ikatan atom-atom dalam 1 mol senyawa. Contoh: pada molekul NH3 terdapat 3 ikatan N-H. sementara itu, energi ikatan N-H = 93kkal/mol, sehingga energi atomisasinya = 3x93 kkal/mol = 297 kkal/mol. Faktor-faktor yang mempengaruhi hukum hess yaitu: Jumlah zat yang bereaksi, jumlah zat yang bereaksi di dalam kalorimeter akan mempengaruhi panas yang dihasilkan. Suhu atau temperatur, semakin tinggi suhu yang dihasilkan maka menyebabkan perubahan entalpinya semakin meningkat. Jenis reaksi, suatu jenis reaksi yang dihasilkan apakah endoterm atau eksoterm mempengaruhi perubahan entalpi.

Pelarut, pelarut yang memiliki titik didih tinggi akan mempengaruhi reaksi yang terjadi di dalam kalorimeter. Sifat zat, sifat zat yang beraksi, sifat mudah sukarnya suatu zat bereaksi akan menentukan kecepatan berlangsung reaksi. Secara umum, dinyatakan bahwa yang pertama reaksi antara senyawa ion umumnya berlangsung cepat. Hal ini disebabkan oleh adanya gaya tarik menarik antara ion-ion yang muatannya berlawanan dan yang kedua reaksi antara senyawa kovalen umumnya berlangsung lambat. Hal ini disebabkan karena untuk berlangsungnya reaksi tersebut dibutuhkan energi untuk memutuskan ikatan-ikata kovalen yang terdapat dalam molekul zat yang bereaksi.

Konsentrasi, konsenstrasi dari berbagai percobaan menunjukkan bahwa semakin cepat reaksi berlangsung. Semakin besar konsentrasi semakin banyak zat-zat yang bereaksi sehingga semakin besar pula kemungkinan terjadi reaksi.

Tekanan. Perubahan tekanan mempunyai pengaruh yang kecil terhadap kelarutan suatu zat cair atau zat padat dalam pelarut cair tetapi pada kelarutan gas selalu bertambah dengan bertambahnya tekanan.

Katalisator, zat yang ditambahkan ke dalam suatu reaksi dengan maksud memperbesar kecepatan reaksi. Katalis terkadang ikut terlibat dalam reaksi akan tetapi tidak mengalami perubahan kimiawi yang permanen dengan kata lain akhir reaksi katalis akan dijumpai kembali dalam bentuk dan jumlah yang sama seperti sebelum reaksi.

Kalor, kalor metupakan panas yang mempengaruhi hukum hess, karena kalor akan mempengaruhi saat perhitungan untuk menentukan arah 1 dan arah 2. Pengadukan dan pengocokan, semakin continue atau cepat pengadukan yang dilakukan semakin besar nilai entalpi baik pada arah 1 dan arah 2. Sifat fisik dari NaOH yaitu:

Titik didih 1390C Titik leleh 318C

Densitas 2,1 g/cm3 Berwarna putih Keras, rapuh Higroskopis Sifat kimia dari NaOH yaitu: Sangat basa Menyerap CO2 dan lembab Mudah larut dalam air Tidak larut dalam eter Mudah terionisasi Bereaksi dengan asam membentuk garam dan air Bereaksi dengan etanol membentuk natrium etanolat dan air Sifat fisik dari H2SO4 yaitu: Beruapa cairan tak berwarna Tak berbau Densitas 1,84 g/cm3 Massa molar 98,08 g/mol Sifat kimia dari H2SO4 yaitu: Reaksi hidrasinya sangat eksotermik Asam sulfat pekat bereaksi dengan air akan dapat mendidih dan bereaksi dengan keras Bereaksi dengan pati akan menghasilkan karbon dan air Bereaksi dengan basa menghasilkan garam sulfat ` Sifat fisik dari aquades yaitu:

Cairan bening Berat molekul 18 g/mol Densitas 1,08 g/cm3 Titik beku 0C

Titik didih 100C Pelarut polar Rumus molekul H2O Kalor jenis 4184 J/(Kg.K) Tidak berasa Tidak berbau Sifat kimia dari aquades yaitu: Memiliki sejumlah momen dipol Dapat diuraikan menjadi unsur-unsur asalnya dengan mengalirinya arus listrik Pelarut yang kuat, melarutkan banyak jenis zat kimia Mempunyai sifat kohesi dan adhesi Memiliki tegangan permukaan Fungsi bahan pada percobaan ini yaitu: Aquades digunakan sebagai pelarut untuk melarutkan beberapa bahan yang lain NaOH digunakan sebagai bahan berupa padatan yang akan direaksikan atau dilarutkan oleh aquades H2SO4 dengan 2M digunakan untuk direaksikan dengan aquades dan NaOH dalam arah 1 dan arah 2. Dimana H2SO4 bersifat eksoterm/melepaskan panas Fungsi perlakuan pada percobaan ini yaitu:

Ditimbang NaOH untuk mengukur berapa banyak NaOH padat yang akan digunakan Diukur aquades dan H2SO4 agar ukurannya pas (tidak lebih dan tidak kurang) Dikocok untuk melarutkan semua campuran tersebut hingga larut sempurna Diukur suhunya untuk mengetahui suhu maksimal dari masing-masing reagen Faktor kesalahan pada percobaan ini yaitu: Kurang atau berlebih ketika menimbang NaOH Kurang atau berlebih ketika mengukur aquades dan H2SO4

Tidak melakukan pengocokan secara sempurna sehingga tidak larut semua dan hasil tidak maksimal Kurang teliti ketika melihat skala pada temperatur Rusaknya kalorimeter Pada percobaan ini dilakukan tentang Hukum Hess dimana terdapat arah 1

dan arah 2. Pada arah 1 dimasukkan 25 ml aquades ke dalam kalorimeter dan dicatat suhunya didapatkan suhu sebesar 29C kemudian ditambahkan 4 gr NaOH sampai larut, suhu campurannya sebesar 52C. ditambahkan lagi 20 ml H2SO4 2M dengan suhu awal 29C dan dikocok sampai suhunya naik sehingga suhu campurannya sebesar 56. Didapatkan H arah 1 sebesar 5,4893 KJ/mol. Pada arah arah 2 dimasukkan 25 mL aquades kedalam kalorimeter dan dicatat suhunya didapatkan suhu sebesar 29oC kemudian ditambahkan 20 mL H2SO4 2M dengan suhu awal 29oC kemudian dikocok sehingga suhhu campurannya sebesar 30oC. Ditambahkan NaOH 4 gr kedalam campuran kemudian dikocok sehingga suhu campurannya sebesar 59oC. Didapatkan Jadi, dapat disimpulkan maka Hukum Hess berlaku. Dalam percobaan ini dilakukan percobaan hukum Hess dengan menggunakn NaOh padatan dan larutan H2SO4 2M. Dimana pertama kita hitung konsentrasi dari NaOH padatan yang telah dicampurkan dengan aquades yaitu sebesar 0,1 mol. Kemudian didapatkan massa H2SO4 sebesar 3,92 gram. Pada arah 1 dfidapatkan Q1 dan Q2 berturut-turut yaitu 0,38493 KJ dan 0,0656 KJ, sedangkan perubahan entalpi
1 dan 2 didapatkan 1

arah 2 sebesar 5,2634 KJ/mol. arah 2 mempunyai nilai yang sama

arah 1 dan

sebesar 3,8493 KJ/mol dan 1,64 KJ/mol sehingga jumlahlah dan


2

perubahan entalpi

adalah sebesar 5,4893 KJ/mol. Pada arah 2

didapatkan Q1 dan Q2 berturut-turut yaitu 0,0164 KJ dan 0,48534 KJ, sedangkan perubahan entalpi
1

dan

didapatkan sebesar 0,41 Kj/mol dan 4,8534 KJ/mol.


1

Sehingga jumlah perubahan entalpi Jadi, dapat disimpulkan bahwa

dan

adalah sebesar 5,2634 KJ/mol.

1 dan 2 sama dengan ini Hukum Hess berlaku.

BAB 5 PENUTUP
5.1 Kesimpulan - Massa dari H2SO4 adalah 3,92 gram - Berdasarkan percobaan yang dilakukan hasil percobaan tidak sesuai hukum Hess, dikarenakan hukum Hess hanya bergantung pada keadaan awal dan akhir sedangkan dalam percobaan tidak - Pada arah satu didapatkan entalpinya 5,4893 KJ/mol dan pada arah dua sebesar 5,2634 KJ/mol

5.2 Saran Pada praktikum selanjutnya dapat menggunakan asam selain H2SO4 seperti HCl dan basa selain NaOH dengan mengganti Ba(OH)2 agar dapat mengetahui perbandingan pada arah 1 dan arah 2.

DAFTAR PUSTAKA

Brady, James E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Tangerang: Binarupa Aksara. Daintith, John. 1994. Kamus Lengkap Kimia. Jakarta: Erlangga. Sukardjo. 2004. Kimia Fisika. Jakarta: Rineka Cipta. Syukri, S. 1999. Kimia Dasar 1. Bandung: ITB.