Anda di halaman 1dari 13

PERAN DEWAN KERJA SENIOR BANTARA (DEKASEBAN)

IKATAN ALUMNI SMK YAMSIK DALAM MENINGKATKAN


MOTIVASI SISWA TERHADAP EKSTRAKURIKULER
GERAKAN PRAMUKA DI GUDEP 1382-1383
SMK YAMSIK KUNINGAN

Disusun Oleh :
INDRA

BAB I
LATAR BELAKANG

1.1 Latar Belakang Masalah


Pramuka, atau sering juga disebut pandu atau kepanduan (b. Inggris:
Scouting) adalah sebuah gerakan pemuda yang telah merambah ke seluruh
dunia. Gerakan kepanduan terdiri dari berbagai organisasi kepemudaan, baik
untuk pria maupun wanita, yang bertujuan untuk melatih fisik, mental dan
spiritual para pesertanya dan mendorong mereka untuk melakukan kegiatan
positif di masyarakat. Tujuan ini dicapai melalui program latihan dan
pendidikan non-formal kepramukaan yang mengutamakan aktivitas praktis
di lapangan. Saat ini, terdapat lebih dari 38 juta anggota pramuka dari 217
negara dan teritori.
Di Indonesia, lahirnya Gerakan Pramuka ditandai dengan serangkaian
peristiwa yang saling berkaitan yaitu :
1. Pidato Presiden/Mandataris MPRS dihadapan para tokoh dan pimpinan
yang mewakili organisasi kepanduan yang terdapat di Indonesia pada
tanggal 9 Maret 1961 di Istana Negara. Peristiwa ini kemudian disebut
sebagai HARI TUNAS GERAKAN PRAMUKA
2. Diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20
Mei 1961, tentang Gerakan Pramuka yang menetapkan Gerakan
Pramuka sebagai satu-satunya organisasi kepanduan yang ditugaskan
menyelenggarakan pendidikan kepanduan bagi anak-anak dan pemuda
Indonesia, serta mengesahkan Anggaran Dasar Gerakan Pramuka yang
dijadikan pedoman, petunjuk dan pegangan bagi para pengelola
Gerakan Pramuka dalam menjalankan tugasnya. Tanggal 20 Mei
adalah; Hari Kebangkitan Nasional, namun bagi Gerakan Pramuka
memiliki arti khusus dan merupakan tonggak sejarah untuk pendidikan
di lingkungan ke tiga. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI
PERMULAAN.
3. Pernyataan para wakil organisasi kepanduan di Indonesia yang dengan
ikhlas meleburkan diri ke dalam organisasi Gerakan Pramuka,
dilakukan di Istana Olahraga Senayan pada tanggal 30 Juli 1961.
Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI IKRAR GERAKAN
PRAMUKA.
4. Pelantikan Mapinas, Kwarnas dan Kwarnari di Istana Negara, diikuti
Defile Pramuka untuk diperkenalkan kepada masyarakat yang didahului
dengan penganugerahan Panji-Panji Gerakan Pramuka, dan
kesemuanya ini terjadi pada tanggal pada tanggal 14 Agustus 1961.
Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI PRAMUKA.

Pidato Presiden pada tanggal 9 Maret 1961 juga menggariskan agar


pada peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI Gerakan Pramuka telah ada
dan dikenal oleh masyarakat. Oleh karena itu Keppres RI No.238 Tahun
1961 perlu ada pendukungnya yaitu pengurus dan anggotanya.
Gerakan Pramuka secara resmi diperkenalkan kepada seluruh rakyat
Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1961 bukan saja di Ibukota Jakarta, tapi
juga di tempat yang penting di Indonesia. Di Jakarta sekitar 10.000 anggota
Gerakan Pramuka mengadakan Apel Besar yang diikuti dengan pawai
pembangunan dan defile di depan Presiden dan berkeliling Jakarta.
Sebelum kegiatan pawai/defile, Presiden melantik anggota Mapinas,
Kwarnas dan Kwarnari, di Istana negara, dan menyampaikan anugerah tanda
penghargaan dan kehormatan berupa Panji Gerakan Kepanduan Nasional
Indonesia (Keppres No.448 Tahun 1961) yang diterimakan kepada Ketua
Kwartir Nasional, Sri Sultan Hamengku Buwono IX sesaat sebelum
pawai/defile dimulai. Peristiwa perkenalan tanggal 14 Agustus 1961 ini
kemudian dijadikan sebagai HARI PRAMUKA yang setiap tahun
diperingati oleh seluruh jajaran dan anggota Gerakan Pramuka.
Menurut Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, pimpinan perkumpulan
ini dipegang oleh Majelis Pimpinan Nasional (MAPINAS) yang di
dalamnya terdapat Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Kwartir
Nasional Harian.
Dalam melaksanakan kegiatan dan pencapaian tujuan gerakan
Pramuka maka dibentuklah :
1. Kwartir Nasional (Kwarnas) untuk tingkat pusat.
2. Kwartir Daerah (Kwarda) untuk tingkat Provinsi.
3. Kwartir Cabang (Kwarcab) untuk tingkat Kecamatan
4. Gugus Depan (Gudep) untuk tingkat Satuan
Namun demikian, di masa sekarang banyak kendala yang dihadapi
oleh Gerakan Pramuka dalam usaha pencapaian tujuan Gerakan Pramuka,
dimana salah satunya adalah semakin menurunnya motivasi remaja ataupun
pemuda khususnya di tiap Gudep untuk terlibat dalam Organisasi Gerakan
Pramuka, dimana dalam pandangan mereka Gerakan Pramuka saat ini sudah
tidak relevan dengan kemajuan dan perkembangan zaman. Namun, disisi
lain ternyata masih ada insan-insan yang peduli terhadap perkembangan
Gerakan Pramuka khususnya di Gudep 1382-1383 Ambalan Girilaya-
Mangkubumi SMK YAMSIK Kuningan yang tergabung dalam Dewan Kerja
Senior Bantara (Dekaseban) Alumni SMK Yamsik Kuningan.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis mencoba untuk meneliti dan
mengemukakan permasalahan tersebut dalam Makalah ini yang berjudul
“Peran Dewan Kerja Senior Bantara (Dekaseban) Alumni SMK Yamsik
Dalam Meningkatkan Motivasi Siswa Terhadap Ekstrakurikuler
Gerakan Pramuka di Gudep 1382-1383 SMK Yamsik Kuningan”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi topik
permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Faktor apa saja yang mempengaruhi menurunnya
motivasi siswa terhadap Ekstrakurikuler Gerakan
Pramuka.
2. Bagaimana langkah yang diambil oleh Dewan Kerja
Senior Bantara (Dekaseban) Alumni SMK Yamsik
Kuningan dalam meningkatkan motivasi siswa
terhadap ekstrakurikuler Gerakan Pramuka.

1.3 Pembatasan Masalah


Agar penelitian ini lebih terarah, maka bidang kajian yang diteliti
dalam penelitian ini dibatasi. Adapun batasan masalah dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut
1. Sekilas Dewan Kerja Senior Bantara
(Dekaseban) Alumni SMK Yamsik
Kuningan
2. Peran, Fungsi dan Kewenangan
Dekaseban dalam pelatihan dan
pendidikan Gerakan Pramuka di
Gudep 1382-1383 Ambalan Girilaya
– Mangkubumi SMK Yamsik
Kuningan
3. Konsep Pelatihan dan Pendidikan
Gerakan Pramuka oleh Dekaseban
untuk meningkatkan motivasi siswa
terhadap ekstrakurikuler Gerakan
Pramuka di Gudep 1382-1383
Ambalan Girilaya – Mangkubumi
SMK Yamsik Kuningan
1.4 Tujuan Penyusunan Makalah
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui Faktor apa saja yang mempengaruhi menurunnya motivasi
siswa terhadap Ekstrakurikuler Gerakan Pramuka.
2. Mengetahui langkah yang diambil oleh Dewan Kerja Senior Bantara
(Dekaseban) Alumni SMK Yamsik Kuningan dalam meningkatkan
motivasi siswa terhadap ekstrakurikuler Gerakan Pramuka.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Hakekat Peran


Makalah ini akan mengangkat sejauh mana peran sebuah organisasi
dalam penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan Gerakan Pramuka
khususnya di Ambalan Girilaya-Mangkubumi Gudep 1382-1383 SMK
Yamsik Kuningan, untuk itu kita perlu mengetahui batasan yang jelas
tentang makna peran yang dimaksudkan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia peran memiliki arti
seperangkat tingkat yang diharapkan dimiliki oleh orang yang
berkedudukan di masyarakat sedangkan peranan dapat diartikan sebagai
bagian dari tugas utama yang dilaksanakan.

2.2 Dewan Kerja Senior Bantara


2.2.1 Sekilas Dekaseban
Dewan Kerja Senior Bantara (Dekaseban) adalah suatu
organisasi alumni yang mengkhususkan kegiatan operasional pada
pelaksanaan pendidikan dan pelatihan Gerakan Pramuka. Dekaseban
berdiri pada tanggal 23 September 2003 dengan anggota awal
mencapai 23 orang yang terdiri dari berbagai angkatan dan berbagai
asal Ambalan
Organisasi adalah sistem sosial yang memiliki identitas
kolektif yang tegas, daftar anggota yang terperinci, program
kegiatan yang jelas, dan prosedur pergantian anggota. (Janu
Murdiyamoko dan Citra Handayani, Sosiologi untuk SMU Kelas I),
sedangkan menurut W.J.S. Poerwadarminta, (Kamus Umum Bahasa
Indonesia), Organisasi adalah susunan dan aturan dari berbagai
bagian (orang dsb) sehingga merupakan kesatuan yang teratur.
Alumni adalah seluruh lulusan yang telah menyelesaikan
pendidikan dalam sebuah lembaga pendidikan (wikipedia).
Oleh karena itu, Dekaseban dapat juga di katakan sebagai
suatu organisasi yang anggotanya terdiri dari para alumni yang
mengkhususkan kegiatan pada penyelenggaraan dan pelatihan
Gerakan Pramuka.

2.2.2 Tujuan Dibentuknya Dekaseban


Tujuan dibentuknya Dekaseban adalah :
1. Untuk mengkoordinir para alumni
yang masih memiliki kepedulian dan
memiliki kesamaan visi untuk ikut
melaksanakan pendidikan dan
pelatihan Gerakan Pramuka.
2. Menampung dan Menyalurkan
kreatifitas alumni (Purna Bakti
Ambalan) dalam penyelenggaraan
pendidikan dan pelatihan Gerakan
Pramuka.
3. Memberikan nuansa baru dalam hal
kurikulum penyelenggaraan
pelatihan dan pendidikan gerakan
pramuka sehingga lebih terarah dan
lebih terorganisir.
4. Berusaha meningkatkan motivasi
siswa terhadap kegiatan
ekstarkurikuler Pramuka di Ambalan
Girilaya-Mangkubumi Gudep 1382 –
1383 SMK Yamsik Kuningan.

2.2.3 Ruang Lingkup Kegiatan


Sebagai sebuah organisasi yang memfokuskan diri pada
penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan Gerakan Pramuka, Ruang
lingkup kegiatan Dekaseban tidak terbatasi. Namun walau begitu
Dekaseban memiliki prioritas dalam penyelenggaraan pendidikan
pelatihan Gerakan Pramuka yaitu di Ambalan Girilaya-Mangkubumi
Gudep 1382-1383 SMK Yamsik Kuningan yang juga di jadikan Pilot
Project dari rumusan kurikulum pelatihan yang disusun oleh
Dekaseban.

2.2.4 Peran, Fungsi dan Wewenang Dekaseban


Berdasarkan hasil pertemuan dalam pembahasan kerjasama
dengan Ambalan Girilaya-Mangkubumi Gudep 1382 – 1383 SMK
Yamsik Kuningan yang diselenggarakan di Pangkalan Ambalan pada
hari Minggu tanggal 15 Februari 2004, Dekaseban memiliki peran,
fungsi dan wewenang sebagi berikut :
1. Peran.
Dekaseban berperan sebagai stake holder dari Ambalan untuk
ikut melaksanakan pendidikan dan pelatihan.
2. Fungsi
Fungsi Dekaseban adalah sebagai Pembantu Pembina dalam
penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan.
3. Wewenang
Dekaseban berhak untuk merumuskan dan melaksanakan
kurikulum pendidikan dan pelatihan yang akan dijadikan acuan
dalam penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan dengan
persetujuan Pembina Gudep

BAB III
KONSEP PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

3.1 Minat dan Motivasi Siswa


Pada usianya yang hampir setengah abad, Pramuka tampak begitu
renta. Jumlah anggotanya terus berkurang dan tak lagi diminati kalangan
muda. Organisasi yang sebenarnya mengajarkan survival itu ternyata
kesulitan bertahan.
Tahun ini, Pramuka genap berusia 47 tahun menjelang usia ke 48
tahun. Warga kota yang berusia lebih dari 30 tahun mungkin masih ingat
bahwa 14 Agustus adalah hari kebesaran Pramuka. Maklum, mereka masih
merasakan kejayaan Pramuka yang ketika itu menjadi kegiatan
ekstrakurikuler wajib bagi pelajar.
Sekarang, kondisinya sangat jauh berbeda. Pramuka tak lagi identik
dengan pelajar, apalagi di perkotaan. Bahkan, banyak sekolah yang terang-
terangan menolak memasukkan Pramuka dalam kegiatan ekstrakurikuler
mereka. Alasannya, ajaran Pramuka terlalu menyita waktu dan kurang
bermanfaat bagi pelajar di perkotaan.
Seragam Pramuka pun tak lagi wajib dikenakan seluruh pelajar pada
Jumat dan Sabtu. Hampir semua sekolah swasta menggantinya dengan
seragam yang menjadi identitas masing-masing. Hanya sekolah negeri yang
masih mau mempertahankan tradisi tersebut. Itu pun sebatas menggunakan
seragam, bukan menjadikannya simbol kegiatan ekstrakurikuler.
Perbandingan Pramuka zaman dulu dengan sekarang ibarat bumi
dengan langit. Dulu, pepatah mati satu tumbuh seribu pasti berlaku bagi
Pramuka. Kini, pepatah itu sudah terbalik, mati seribu tumbuh satu.
Pramuka begitu sulit menambah jumlah anggota, malah berkurang tiap
tahun.
Mengapa bisa seperti itu ? Jawabannya ada tiga. Pertama, Pramuka tak
lagi diwajibkan. Kedua, Ketiadaan pembina yang memiliki kemampuan
lebih untuk memodifikasi Pramuka menjadi kegiatan yang lebih
menyenangkan. Ketiga, Pramuka kalah bersaing dari ekstrakurikuler lain.
Penurunan tersebut tidak hanya terjadi di Kuningan. Di berbagai kota
lain, tak banyak pelajar yang berminat pada Pramuka. Apalagi setelah
gerakan kepanduan itu tidak menjadi kegiatan yang diwajibkan. Itu
diperparah oleh ketiadaan pembina yang memiliki kemampuan lebih untuk
memodifikasi Pramuka menjadi kegiatan yang lebih menyenangkan.Karena
tidak memahami tugasnya, yang diajarkan pun tidak berkembang.
Akibatnya, peserta didik menjadi bosan. Dan Pramuka mati suri. Bukan
hanya itu, statistik tersebut menunjukkan fakta yang tidak berimbang antara
pembina dengan peserta didik. Idealnya, sepuluh peserta didik dibimbing
satu Pembina, meski tak lagi sebesar dulu, bukan berarti Pramuka harus
beralih jalur.
Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, sampai saat ini gaung
revitalisasi Gerakan Pramuka yang dicanangkan oleh Kamabinas Susilo
Bambang Yudhoyono yang juga Presiden Republik Indonesia belum juga
menunjukan suatu hal berarti, begitu juga Kesanggupan Kwarda Jabar yang
telah mencanangkan bahwa Jawa Barat adalah Provinsi Pramuka sampai
saat ini belum ada perubahan yang signifikan.
Gerakan Pramuka hanya terasa gaungnya apabila telah memasuki
bulan Agustus dimana pada tanggal 14 Agustus dijadikan sebagai Hari
Gerakan Pramuka.
Menyikapi dinamika tersebut penulis dapat menyimpulkan bahwa
tersurutnya atau semakin sedikitnya remaja dan pemuda yang melibatkan
diri pada Gerakan Pramuka adalah karena kurangnya motivasi mereka untuk
terlibat dalam Gerakan Pramuka.

3.2 KONSEP PENDIDIKAN DAN PELATIHAN


Sebagaimana diuraikan diatas, maka Dekaseban Alumni SMK Yamsik
Kuningan dalam menyikapi menurunnya motivasi serta minat siswa
terhadap Gerakan Pramuka, telah merumuskan dan menyusun konsep
Pendidikan dan Pelatihan atau lebih dikenal sebagai kurikulum pelatihan
Ambalan, sebagaimana berikut :
1. Pelatihan dan
Pendidikan
lebih
difokuskan
pada Syarat
Kecakapan
Umum (SKU)
Sistem ini dimaksudkan agar pelatihan dan pendidikan gerakan
pramuka bagi yang akan mengikuti kenikan tingkat lebih terarah dan
tepat sasaran.
Konsep ini merupakan perpaduan dari konsep Kegiatan Belajar-
Mengajar disekolah, yakni ada pembatasan waktu dan pemberi materi,
misal : Pertemuan latihan pertama pembahasan SKU point 1 sampai
dengan point 7 dan diberikan atau dipandu oleh sangga Perintis dengan
durasi 2 kali 60 menit sisanya adalah pendidikan untuk meningkatkan
keterampilan. Pertemuan kedua pembahasan SKU Point 8 sampai
dengan point 14. begitu seterusnya.

2. Pelatihan
Keterampilan
yang lebih
bervariasi
Pelatihan untuk mengasah keterampilan Dewan Ambalan
diupayakan keterampilan yang menarik minat peserta sebagaimana
remaja pada umumnya mereka sangat menyukai kegiatan yang memiliki
tantangan dalam upaya pencarian jati diri diantaranya : Survival,
Hyking, Refling, pembuatan kompor sederhana dll. Kegiatan ini
biasanya dilakukan di luar ruangan atau alam bebas.

3. Lebih
mengutamakan
Kegiatan di
luar ruangan
Untuk menghindari kejenuhan peserta, maka kegiatan diluar
lapangan memiliki porsi terbesar yakni 70 persen.
Materi pelatihan yang diberikan adalah seputar keterampilan
mulai yang sederhana hingga keterampilan untuk bertahan hidup di alam
bebas.

4. Penyaluran
Dewan
Ambalan ke
setiap
Perindukan
Penggalang
sebagai
implementasi
pembentukan
mental Dewan
Ambalan.
Untuk melihat hasil dari pelatihan dan pendidikan selama di
Ambalan, maka Peserta diwajibkan untuk melaksanakan Turun Galang
ketiap Perindukan Penggalang.
Turun Galang adalah sarana untuk meningkatkan rasa percaya diri
Dewan Ambalan dan juga sebagai penyaluran dari materi yang telah
diberikan di Ambalan, biasanya dilaksanakan setelah pelantikan
kenaikan tingkat

5. Pemberian
tanda
penghargaan
Sebagai pengakuan atas keterlibatan atau partisifasi peserta dalam
suatu kegiatan, maka Dekaseban bekerja sama dengan pihak Ambalan
memberikan tanda penghargaan berupa sertifikat maupun piagam.

6. Pelaksanan
Lomba Uji
Bantara
Lumba Uji Bantara merupakan sarana untuk melihat kemajuan
peserta dalam hal materi kepramukaan dan keterampilan lainnya.
Biasanya lomba ini dilaksanakan pada saat Perkemahan
Penerimaan Tamu Ambaan (PPTA) dengan harapan dapat menarik minat
siswa lebih banyak lagi.