Anda di halaman 1dari 6

Tugas Antropologi Budaya

1 Oktober 2009 Nama: Fajar Cahyanto NPM : 0906558155

___________________________________________ Kebudayaan Jawa di Yogyakarta


Wujud Kebudayaan Dalam bukunya Pengantar Ilmu Antropologi, Koentjaraningrat mengemukakan tiga gejala kebudayaan menurut J.J. Honigmann yaitu (1) ideas, (2) activities, dan (3) artifacts. Berdasarkan itu pula, Konetjaraningrat berpendirian bahwa ada tiga wujud kebudayaan, yaitu: 1. 2. 3. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia Wujud pertama adalah wujud ideal dari kebudayaan. Sifatnya abstrak, tak dapat diraba atau difoto. Lokasinya ada di dalam alam pikiran warga masyarakat di mana kebudayaan bersangkutan itu hidup. Ide-ide itu tidak berada lepas satu dari yang lain, melainkan selalu berkaitan, menjadi suatu sistem yang disebut sistem budaya atau cultural system. Dalam bahasa Indonesia disebut adat (jamak: adat-istiadat). Wujud kedua adalah sistem sosial atau social system, mengenai tindakan berpola dari manusia itu sendiri yang terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia-manusia yang berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu dengan yang lain dari waktu ke waktu, selalu menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sistem sosial bersifat konkret, terjadi di sekeliling kita sehari-hari, bisa diobservasi, difoto, dan didokumentasi. Wujud ketiga disebut kebudayaan fisik berupa seluruh total dari hasil fisik aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat. Sifatnya paling konkret berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan difoto. Dalam kebudayaan Jawa, dapat diambil contoh dari tiga wujud kebudayaan norma-norma, peraturan dan sebagainya. manusia dalam masyarakat.

tersebut, misalnya gotong-royong. Ketika ide ini timbul dalam benak masyarakat, maka wujud pertama terjadi. Wujud kedua terjadi saat ide tersebut disetujui dan diadopsi sebagai ide yang bermanfaat, yang kemudian terbentuk pola seperti organisasi sosial. Wujud ketiga terjadi ketika terdapat hasil fisik, misalnya pencatatan ide dan pola yang terjadi dalam sebuah prasasti (sebagai contoh: prasasti Tugu dari kerajaan Tarumanegara, yang menjelaskan adanya penggalian Sungai Gomati dan Chandrabagha yang mencerminkan sikap gotong-royong) Unsur-unsur Kebudayaan Universal Bahasa Bahasa yang menjadi bahasa ibu di daerah Yogyakarta adalah bahasa Jawa. Hal yang sangat menarik dari bahasa Jawa yang terdapat di Yogyakarta adalah adanya tingkatan atau strata bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang sangat kuat, di mana penerapan tingkatan ini semakin ke arah Jawa Timur maka akan semakin memudar. Tingkatan tersebut terbagi dalam dua kelompok besar yakni bahasa Jawa Krama dan bahasa Jawa Ngoko. Bahasa Jawa Krama merupakan bahasa yang dipergunakan untuk percakapan dengan arah yang formal, lebih sopan, maupun bersifat lebih menghormati. Oleh sebab itu, bahasa Jawa Krama dipergunakan kepada orang yang lebih tua, lebih dihormati, dan pada orang yang masih asing atau belum akrab. Sedang bahasa Jawa Ngoko, merupakan bahasa yang lebih bersifat kasar dan tidak formal sehingga lebih cocok jika dipergunakan dalam pergaulan sehari-hari kepada orang yang telah akrab. Sistem Pengetahuan Sistem pengetahuan masyarakat Jawa, antara lain, dikenal dengan sebutan primbon. Primbon, sesuai dengan umur kebudayaan Jawa, bersifat sangat kaya dan kompleks. Isi primbon berupa aneka ragam pengetahuan yang berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari untuk tujuan mendapatkan keselamatan. Secara garis besar primbon berisi masalah yang berhubungan dengan kelahiran, perkawinan, kematian, dan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan alam. Primbon memuat pengetahuan tentang penyakit, cara mengobati, serta ramuan obat dan bahan-bahannya (atau lebih kita kenal dengan jamu) yang bahkan dapat kita dapat secara bebas.

Organisasi Sosial Organisasi sosial di Yogyakarta sangat nyata terstruktur dalam sistem keraton. Keraton Yogyakarta secara nyata menjadi lembaga dan pranata adat. Dalam sistem keraton terdapat jabatan atau kedudukan tertentu dengan tugas-tugas tertentu pula, misalnya saat ini Sultan Hamengkubuwono X yang menjabat sebagai kepala adat tertinggi (di samping jabatan administratifnya sebagai gubernur) dan juga adanya pegawai keraton yang dikenal sebagai abdi dalem . Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi Sistem peralatan hidup dan teknologi mereka tergantung dengan unsur-unsur kebudayaan yang lainnya. Misalnya, dalam masyarakat agraris yang bermata pencaharian petani, maka akan ditemukan alat-alat bertani seperti cangkul, bajak, dan lesung padi. Sementara bagi masyarakat maritim yang bermata pencaharian nelayan maka akan ditemukan peralatan seperti perahu dan jala ikan. Sistem Mata Pencaharian Hidup Sistem mata pencaharian hidup di dalam masyarakat Jawa sebagian besar adalah petani. Hal ini berkaitan dengan tanah yang subur di Jawa sebagai efek dari banyaknya gunung berapi. Sementara itu, sebagian kecil dari masyarakat Jawa yang tinggal di wilayah pesisir, juga bermata pencaharian sebagai nelayan maupun pedagang. Hal-hal tersebut membuat masyarakat Jawa lebih dikenal sebagai petani dan kurang menonjol dalam hal nelayan maupun perdagangan Sistem Religi Sistem religi dalam masyarakat Jawa mencakup beberapa agama dan kepercayaan. Secara mayoritas, masyarakat Jawa menganut agama Islam. Selain itu, terdapat pula penganut agama-agama lain seperti Hindu dan Budha yang merupakan hasil warisan kerajaan-kerajaan zaman dulu (misalnya kerajaan Majapahit) serta agama Kristen dan Katolik yang ikut masuk bersama datangnya bangsa Eropa. Selain itu, terdapat kepercayaan animisme asli yang lebih dikenal dengan kejawen. Kesenian Kesenian Jawa terdapat dalam seni rupa, seni musik, dan juga seni drama. Dalam

seni rupa, khususnya di Yogyakarta, dapat dijumpai batik tulis Yogyakarta. Dalam seni musik, dapat dijumpai karawitan Jawa yang memiliki scale nada tersendiri yang disebut javanese pelog. Sementara dalam seni drama, dapat dijumpai wayang kulit dan wayang orang. Interaksi, Kedudukan/Status, dan Peranan/Role Interaksi Interaksi terjadi apabila seorang invidu dalam masyarakat berbuat sedemikian rupa sehingga menimbulkan suatu repons atau reaksi dari individu-individu lain. Hal seperti ini terjadi dalam masyarakat Jawa. Misalnya saja dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa di sekitar pasar candi Borobudur, terjadi interaksi antara pedagang dan pembeli souvenir khas Borobudur. Dalam interaksi, terdapat dua proses, yaitu: (1) kontak, dan (2) komunikasi. Melanjutkan contoh diatas, ketika pedagang berteriak menjajakan dagangannya, kontak terjadi sesederhana ketika ada penyampaian informasi dari pedagang, tetapi bukan merupakan hal yang bermakna bagi pembeli. Tetapi ketika teriakan pedagang tersebut merupakan sebuah hal yang bermakna bagi pembeli tersebut, maka terjadi komunikasi, walaupun dalam hal ini masih satu arah. Selanjutnya ketika penyampaian informasi tersebut menciptakan respon yakni sebuah feedback, misalnya ketika pembeli menawar harga, maka akan terjadi komunikasi dua arah. Dengan pola yang berulang dan mantap, maka hal tersebut dapat diartikan sebagai tindakan berinteraksi. Kedudukan/Status, dan Peran/Role Suatu kompleks tindakan berinteraksi yang menyebabkan terwujudnya pola-pola sosial dalam masyarakat disebut dengan pranata. Dalam rangka status atau kedudukankedudukan dalam suatu pranata maka para individu warga masyarakat bertindak menurut norma-norma khusus dari pranata bersangkutan. Tingkah-laku individu yang mencerminkan suatu kedudukan tertentu disebut dengan suatu istilah ilmiah, yaitu peranan sosial (social role, atau role saja) Status secara khusus dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) ascribed status dan (2) achieved status. Ascribed status merupakan kedudukan yang tergariskan misalnya gender ataupun gelar tertentu seperti sultan, karena didapat dari warisan. Achieved status

merupakan kedudukan yang diusahakan, maksudnya tiap indvidu harus melalui usaha tertentu dalam memperoleh status tersebut. Mengenai status dan peran sosial yang terjadi dalam masyarakat Yogyakarta, dapat dicontohkan melalui pribadi Sultan Hamengkubuwono X. Contoh ascribed status yang dimilikinya adalah sultan sebagai warisan dari ayahnya Sultan Hamengkubuwono IX. Contoh achieved status yang dimilikinya adalah suami dari Gusti Kanjeng Ratu Hemas, yang memerlukan usaha tertentu misalnya mempersunting dan menikahi. Dengan status yang dimilikinya, Sultan memiliki peran tertentu misalnya sebagai Sultan, berhak dan berkewajiban memerintah keraton dengan baik, sementara sebagai suami, harus dapat memberi perhatian yang cukup kepada istri dan keluarga. Dalam status dan peran seseorang memang mungkin terjadi konflik, oleh sebab itu masing-masing individu dituntut untuk dapat memberi porsi yang seimbang bagi tiap kepentingan status dan peran sosialnya. Perusakan dan Pelestarian Warisan Budaya Dalam pembelajaran kebudayaan asing, dikenal adanya akulturasi dan asimilasi. Akulturasi adalah proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri. Asimilasi adalah proses sosial yang timbul bila ada: (1) golongan-golongan manusia dengan latar kebudayaan yang berbeda-beda, (2) saling bergaul langsung secara intensif untuk waktu yang lama, sehingga (3) kebudayaan-kebudayaan golongan-golongan tadi masing-masing berubah wujudnya menjadi unsur-unsur kebudayaan campuran. Baik proses akulturasi maupun asimilasi ini dapat membawa dampak yang baik maupun yang buruk sesuai efek atau hasilnya. Berikut akan dijelaskan beberapa faktor yang secara spesifik, baik asing maupun domestik, berpengaruh terhadap perubahan kebudayaan masyarakat Yogyakarta. Modernisasi Modernisasi terjadi dalam berbagai hal. Pembangunan real estate merupakan salah satu modernisasi yang nyata terjadi dalam masyarakat Yogyakarta. Real estate di Yogyakarta mengancam keberlangsungan cara hidup dan kebudayaan tradisional di daerah-

daerah tertentu di kota Yogyakarta,

dan mungkin akan menyebabkan pemisahan

masyarakat menjadi kelas-kelas baru berdasarkan kekayaan dan hak milik tanah itu. Orang-orang yang tinggal di daerah ini, mereka dilindungi dari akses publik oleh pos satpam di gerbang depan yang kemudian menciptakan suatu daerah kantung dimana orangorang bebas dari bergaul dengan masyarakat umum. Hal ini mengancam juga keberadaan konsep-konsep seperti gotong royong karena orang-orang tak lagi ingin berhutang pada tetangga atau rekan-rekan. Mereka kemudian menggaji seorang tukang kalau ada sesuatu yang harus diservis atau diperbaiki. Ini selaras dengan impian orang-orang yang ingin hidup di dunia yang lebih individualis dan mencari hidup mereka sendiri. Turisme Turisme menjadi hal yang sangat penting, terutama bagi perekonomian masyarakat Yogyakarta. Misalnya saja batik Yogyakarta yang memiliki sifat khas dan hanya dimiliki oleh masyarakat Yogyakarta. Bagi para turis, hal yang bersifat khas adalah hal yang menjadi alasan kedatangannya. Dengan kegiatan turisme tersebut, terjadi kegiatan lain seperti konsumsi produk lokal, seperti batik, yang mendatangkan pendapatan bagi masyarakat Yogyakarta. melestarikan budayanya. Media Massa Media massa berperan besar karena merupakan sumber informasi yang sangat luas dan mudah dijangkau. Media massa dalam masyarakat Yogyakarta berperan dalam berbagai hal. Sayangnya, media massa berperan seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, media massa memberi pengaruh positif dalam pelestarian budaya (televisi menyajikan beberapa tayangan seperti pagelaran wayang kulit), tetapi juga menampilkan unsur-unsur modern yang jika terlalu besar porsinya akan memberi dampak yang negatif (misalnya seperti kasus real estate di atas). _________________________________________________________________________ Sumber Pustaka: Heppel, Daniel Justin. Penyebab dan Akibat Perubahan Kebudayaan Jawa di Yogyakarta. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Muhammadiyah. Malang: 2004. Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. PT Rineka Cipta. Jakarta: 2002. Dengan demikian, masyarakat Yogyakarta dituntut untuk