Anda di halaman 1dari 21

ETOS KERJA Makalah ini dibuat untuk memenuhi Tugas Terstuktur Al-Quran Hadits

Disusun oleh : Ummu Kalsum Andi Lajeng Citra Chairunnisa Aziz Faisal Amanillah (1112016200012) (1112016200023) (11120162000

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMA PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2013

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya makalah ini dapat terselesaikan dengan baik dan sesuai dengan apa yang diharapkan. Tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah AlQuran Hadits. Terselesainya makalah ini tak lepas dari bantuan dan nasehat-nasehat dari berbagai pihak, maka sudah menjadi kewajiban penulis untuk berterimakasih kepada Bapak Mundzier Suparta, selaku dosen mata kuliah Al-Quran Hadits, teman-teman yang kami banggakan dan semua pihak yang telah memberikan motivasi dan berbagi pengetahuannya sehingga terselesaikannya makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah yang dibuat ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi bahasa maupun segi ulasannya. Segala kritik dan saran dari pihak yang terkait, penulis terima dengan lapang dada agar penulis dapat melakukan hal ini dengan lebih baik lagi. Harapan penulis agar makalah ini bermanfaat bagi kita semua dan semoga pada masamasa yang akan datang penyusunan makalah ini dapat lebih baik lagi.

Ciputat, 02 Mei 2013

Penulis

DAFTAR ISI BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Rumusan Masalah C. Tujuan BAB II PEMBAHASAN 1. Arti dan Makna Bekerja 2. Ciri-Ciri Etos Kerja Muslim 2.1 Pendekatan Sifat-sifat 2.2 Pendekatan Perilaku 2.3 Pendekatan Situasional 3. Model-model Kepemimpinan 3.1 Model Personal-situasional 3.2 Model Kontingensi 3.3 Model Managerial Grid 3.4 Model Tiga Dimensi 4. Kekuatan-kekuatan Kepemimpinan 4.1 Kekuatan Teknikal

4.2 Kekuatan Manusia 4.3 Kekuatan Pendidikan 4.4 Kekuatan Simbolik 4.5 Kekuatan Budaya 5. Peranan Seorang Pemimpin 6. Fungsi Kepemimpinan 7. Pemimpin yang Baik Dalam Kepemimpinan Pendidikan 8. Memperbaiki Kepemimpinan BAB III PENUTUP 1. Kesimpulan 2. Saran DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Agama Islam berdasarkan al-Quran dan al-Hadits sebagai tuntunan dan pegangan bagi kaum muslimin mempunyai fungsi tidak hanya mengatur dalam segi ibadah saja melainkan juga mengatur umat dalam memberikan tuntutan dalam masalah yang berkenaan dengan kerja. Bekerja adalah fitrah dan sekaligus salah satu identitas manusia, sehingga bekerja diwajibkan bagi tiap muslim. Kerja merupakan bagian dari amal yang tak lepas dengan kaitan iman seseorang. Idealnya, semakin tinggi iman itu maka semangat kerjanya juga selaras. Keberhasilan kerja seseorang diantaranya ditentukan oleh adanya etos kerja yang tinggi dan berakar dalam dirinya. Dengan cara memahami dan meyakini ajaran-ajaran

agama yang berhubungan dengan penilaian ajaran agama tersebut terhadap kerja, akan menumbuhkan suatu etos kerja pada diri seseorang. B. Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan etos kerja? 2. Apa saja ciri-ciri etos kerja muslim? 3. Bagaimana bentuk etos kerja Islam? C. Tujuan 1. Memahami apa yang dimaksud dengan etos kerja 2. Memahami ciri-ciri etos kerja muslim 3. Memahami bentuk etos kerja Islam BAB II PEMBAHASAN 1. Pengetian Etos Kerja Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, etos ialah etos ialah pandangan hidup yg khas dr suatu golongan sosial. Etos berasal dari bahasa Yunani ( ethos) yaitu suatu sifat khusus dari perasaan moral dan kaidah-kaidah etis dalam sekelompok orang.. Etos berasal dari bahasa Yunani (ethos) yaitu suatu sifat khusus dari perasaan moral dan kaidah-kaidah etis dalam sekelompok orang. Maka secara lengkapnya etos ialah karakteristik dan sikap, kebiasaan, serta kepercayaan, yang bersifat khusus tentang seseorang individu atau sekelompok manusia. Perkataan etos terambil pula perkataan

etika dan etis yang merujuk kepada makna akhlak atau bersifat akhlaqi yaitu kualitas esensial seseorang atau suatu kelompok termasuk suatu bangsa. Sehingga dengan kata etik atau etos dikenallah istilah etika bisnis yaitu cara atau pedoman perilaku dalam menjalankan sesuatu usahanya.1 Kerja, adalah kata dasar dari bekerja, yang berarti melakukan sesuatu, bekerja dapat dilihat dari tiga segi pandang. Pertama, dari segi perseorangan, bekerja adalah gerak daripada badan dan pikiran orang untuk melangsungkan hidup badaniah maupun rohaniah. Kedua, dari segi kemasyarakatan, bekerja merupakan melakukan sesuatu untuk memuaskan kebutuhan masyarakat. Ketiga, dari segi spiritual bekerja merupakan hak dan kewajiban manusia dalam memuliakan dan mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.2 Sehingga dapat disimpulkan bahwa etos kerja ialah melakukan suatu kegiatan yang bertujuan mendapatkan hasil atau mencapai kesuksesan. Etos kerja islam merupakan bagian dari konsep Islam yang merupakan nilai-nilai untuk membentuk kepribadian seseorang yang baik dalam bekerja. 2. Ciri-Ciri Etos Kerja Muslim 2.1 Memiliki jiwa kepemimpinan Memimpin berarti mengambil peran secara aktif untuk mempengaruhi orang lain, agar orang lain tersebut dapat berbuat sesuai dengan keinginannya. Kepemimpinan berarti kemampuan untuk mengambil posisi dan sekaligus memainkan peran (role), sehingga kehadiran dirinya memberikan pengaruh pada lingkungannya. Seorang pemimpin adalah seorang yang mempunyai personalitas yang tinggi. Dia larut dalam

1 2

Toto Tasmara, Etos Kerja Pribadi Muslim (Yogyakarta : PT. Dana Bhakti Wakaf, 1995) hal.25 Nanat Fatah Natsir, Etos Kerja Wirausahawan Muslim (Bandung : Gunung Djati Press, 1999) hal.76

keyakinannya tetapi tidak segan untuk menerima kritik, bahkan mengikuti apa yang terbaik.

- -
Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta

pertanggungjawabannya. (Al-isra;36) makna mufrodat: Dan janganlah kamu Mengikuti Pendengaran Penglihatan Penglihatan pertanggungjawabannya.

Semangat dan rasa kepemimpinan harus sejak dini ditanamkan dikalangan keluarga muslim. Apabila dia ingin melihat putra putrinya sebagai generasi yang kuat, menjadi subyek dan bukan sebaliknya kita mengantarkan anak anak kita sebagai calon calon sapi perahan yang tidak berdaya, sehingga Allah sendiri mewanti wanti kita semua, hendaknya kita merasa sangat khawatir apabila meninggalkan generasi yang lemah ( dzuriatan dziafan )
Dari Ibnu Umar r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda, "Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu akan ditanya mengenai kepemimpinanmu. Imam

(Penguasa) adalah pemimpin dan akan ditanya mengenai kepemimpinannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin keluarganya dan bertanggung jawab

mengenai kepemimpinannya. Istri adalah pemimpin rumah tangga suaminya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Pelayan (buruh) adalah

pemeliharaharta majikannya dan akan ditanya mengenai pemeliharaannya.

Maka kamu sekalian adalah pemimpin dan masing-masing bertanggung jawab atas kepemimpinannya.

2.2 Selalu berhitung (QS. Al-Hasyr : 18)

- -
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Sebagai mana rasulullah bersabda dengan ungkapannya yang paling indah : berkerjalah untuk duniamu, seakan akan engkau akan hidup selama lamanya dan beribadahlah untuk akhirat seakan akan engkau akan mati besok. Di dalam bekerja dan berusaha, akan tampaklah jejak seorang muslim yang selalu teguh pendirian, tetap janji dan berhitung dengan waktu. 2.3 Menghargai waktu (Al-Ashr : 1-3)

-- -- - -
Artinya : 1. Demi masa. 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian

3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Waktu adalah rahmat yang tiada terhitung nilainya. Pengertian terhadap makna waktu merupakan tanggung jawab yang sangat besar. Sehingga sebagai konsekuensi logisnya menjadikan waktu sebagai wadah produktifitas. Menyusun tujuan, membuat perencanaan kerja, dan kemudian melakukan evaluasi atas hasil kerja, merupakan salah satu ciri dan karakter seorang mujahid. Al quran meminta setiap muslim untuk memperhatikan dirinya dalam rangka persiapan menghadapi hari esok. Sebab itulah disadari oleh setiap muslim bahwa memang apa yang akan diraih pada waktu yang akan dating ditentukan oleh caranya mengada pada hari ini. 2.4 Dia tidak pernah merasa puas berbuat kebaikan Dalam pribadi seorang muslim tidak ada kamus menyerah, pantang surut apalagi terbelenggu dalam kemalasan. Sekali ia berniat, tak ada yang dapat menghalangi. Dengan semangat ini, seorang muslim selalu berusaha untuk mengambil posisi dan memainkan perannya yang dinamis dan kreatif. AL-Quran di ummu Hadits blm

2.5 Hidup berhemat dan efisien Seorang musim akan menjauhkn diri dari sikap yang tidak produktif dan mubazir karena mubazir adalah skutunya setan yang maha jelas. Seorang muslim berhemat bukanlah karena igin menumpuk kekayaan, sehingga melahirkan sifat kikir individualistis, namun berhemat dikarenakan suatu reserve , bahwa tidak selamanya waktu berjalan lurus. Sehingga berhemat berarti mengestimasikan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.3
Hadits Tentang Perintah Hemat

Dari Abu Karimah al-Miqdad bin Ma`dikarib ra. berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW. bersabda: Tidaklah lebih berbahaya seseorang itu memenuhi suatu bejana melebihi bahayanya memenuhi perut. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan yang data menegakkan tulang punggungnya. Dan seandainya ia tidak mampu berbuat seperti itu, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiganya lagi untuk nafasnya. Al quran blm

2.6 Memiliki jiwa wiraswasta Seorang muslim tanggap terhadap lingkungan dan setiap tindakannya diperhitungkan dengan laba-rugi, manfaat atau mudharat. Rasul sendiri merupakan seorang penggembala dan pedagang ulung. Ia telah mencontohkan kepada umatnya agar menjadi seorang wiraswasta yang jujur. Sungguh sangat bijak apabila kita mau menyimak dan menghayati denga peuh rasa tanggung jawab akan sabda Rasulullah yang mengatakan : Innalloha yuhibul

Drs. H. Toto Tasmara, Etos Kerja Pribadi Muslim (Yogyakarta : PT Dana Bhakti Wakaf, 1995) hal.34

mukminal muhtarif (sesungguhnya Allah sangat cinta kepada seorang mukmin yang berpenghasilan).4 Al-quran 2.7 Memiliki insting bertanding dan bersaing (Al-Baqarah : 148) Semangat bertanding merupakan sisi lain dari citra seorang muslim yang memiliki semangat jihad. Panggilan untuk ertanding dalam segala lapangan kebajikan dan meraih prestasi, dihayatinya dengan penuh rasa tanggung jawab sebagai panggilan Allah dan sekaligus sebagai pembuktian ayat Quraniyah sebagaiana firmanNya: - - Artinya : Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Seorang muslim yang memiliki etos kerja islami tidak pernah menyerah pada kegagalan. Harus disadari bahwa keuletan dan kegigihan adalah fitrah diri setiap pribadi manusia, sehingga sikap malas dan kehilangan sense of competition adalah satu kondisi yang melawan fitrah kemanusiaannya dan mengkhianati misinya sebagai seorang khalifah fil ardhi.5 Sebagaimana sabda Rasulullah saw. :

4 5

Ibid., hal.36 Ibid., hal 38

4816 : Terjemah hadits / Mumin yang kuat itu lebih baik dari pada mu;min yang lemah dan dalam semua kebaikan terimalah yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan pada Allah, jangalah bermalas-malasan, ketika kamu mendapat sesuatu jangan berkata apabila saya begini maka begini dan begini tetapi katakanlah semua itu telah dipastikan oleh Allah dan sesuai dengan kehendak Allah dan ketidaksadaran akan hal itu akan membuka kreatifitas setan. 2.8 Keinginan untuk mandiri 1338 : Terjemah hadits / Tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah, dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik-baiknya sedekah itu adalah dari punggung orang kaya dan barang siapa yang minta dijaga maka Allah akan menjaganya dan barang siapa yang minta kaya maka Allah akan memberinya kecukupan.

2.9 Haus untuk memiliki sifat keilmuan (Al-Isra : 36) (Al-Mujaadilah : 11) Seorang muslim sadar bahwa dirinya tidak boleh ikut-ikutan tanpa pengetahuan karena seluruh potensi dirinya suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban dari Allah swt. Sebagaimana firman Allah : - - Artinya : 36. Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al-Isra : 36)

Demikian pula ditegaskan dalam firmanNya : - - Artinya : 11. Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapanglapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Setiap muslim harus dapat menerapkan tiada satu hari pun berlalu tanpa diisinya dengan niali keilmuan. Seorang mujtahid adalah seorang yang haus untuk mencicipi

ilmu, karena dia sadar bahwa Rasulullah saw mewajibkan kepada setiap muslim untuk mencari dan menggali ilmu mulai dari buaian hingga ke liang lahat. Dengan ilmu, ia mampu bersikap kritis dan mampu melakukan analisa yang tajam terhadap segala fenomena yang terjadi di sekitarnya.6

Rasulullah SAW bersabda : "Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim (baik muslimin maupun muslimah)." (HR. Ibnu Majah)7 "Kelebihan seorang alim (ilmuwan) terhadap seorang 'abid (ahli ibadah) ibarat bulan purnama terhadap seluruh bintang." (HR. Abu Dawud ) 3. Bentuk Etos Kerja Islam 3.1 Bekerja Sampai Tuntas Bekerja dengan tuntas dapat diartikan pekerjaan yang diselesaikan dengan baik dan hasil yang sangat memuaskan, dengan proses kerja yang baik juga dengan menggunakan waktu dengan efisien dengan melakukannya seprofesional mungkin, komitmen dengan kerjaan dan perencanaan serta evaluasi yang baik. Sesungguhnya Allah mencintai seseorang diantara kamu yang apabila mengerjakan sesuatu pekerjaan, dia rapikan pekerjaan itu 3.2 Bekerja dengan Ikhlas

6 7

Ibid., hal.42
Moch. Rizky Prasetya Kurniadi , 2012. http://mrizkypk.blogspot.com/2012/12/kumpulan-hadits-tentang-ilmu.html 21-5 10:26

Dimensi pekerjaan bukan semata duniawi, melaikan kehidupan setelah mati dengan mengharap ridha Allah SWT. Usaha dan bekerja merupakan hal yang paling baik jika diiringi dengan keikhlasan. Ikhlas merupakan sikap untuk menerima dengan tulus hati. Dan Islam sangat menjunjung tinggi kejujuran, Islam sangat tidak menghendaki tindakan ketidak jujuran dan ancaman tidak masuk surga Allah SWT. Usaha dan bekerja paling baik ialah usaha dan bekerja dengan ikhlas dan bersih 3.3 Bekerja Menggunakan Teknologi Terus berusaha mengoptimalkan pekerjaan sebaik mungkin dengan perangkat teknologi. Teknologi sangat memungkinkan pekerjaan dilakukan dengan lebih cepat dan mudah dan hasilnya akan lebih memuaskan bagi orang banyak. Dan umat Islam tidak boleh bermalas-malasan dalam mempelajari teknoogi sehingga seakan umat Islam menjadi terbelakang. Maka dari itu mahasiswa harus terus bangkit dan semangat dan belajar lebih keras untuk kebangkitan peradaban. Rasulullah saw mengambil dua dirham dan memberikan ke seseorang laki-laki anshar, dan berkata. Satu dirham untuk membeli makan dan berikan kepada keluargamu, dan satu dirham untuk membeli kapak, kemudian bawalah kemari. Orang tersebut kemudian kembali kepada Rasulullah SAW dengan membawa kapak, dan Rasulullah bersabda : Pergilah dengan mencari kayu itu dan kamu jangan menampakkan dirimu dihadapanku selama lima belas hari. Dari hadits di atas terlihat bahwa Rasulullah SAW memberikan alat kerja, dan bukan uang kepada sahabat anshar untuk mendapatkan nafkah. Memang teknologi pada saat itu masih berupa kampak untuk menebang pohon, mungkin pada zaman

sekarang seperti gergaji mesin dll. Namun demikian, ada gambaran jelas bahwa untuk berhasil nabi menyuruh kita mengggunakan alat kerja yang sesuai. 3.4 Bekerja dengan Kelompok melakukan kegiatan dalam rangka mencapai tujuan bersama-sama dengan orang lain atau beberapa orang lain. Kerjasama dengan suka rela dan dikerjakan dengan berkelompok umumnya relatif berhasil karena mempunyai semangat bersama dan menimbulkan rasa cinta rasa cinta terhadap pekerjaan dengan penuh keikhlasan
Dari Ibnu `Umar r.a melaporkan:. Rasulullah (saw) bersabda: Seorang muslim adalah saudara (lain) Muslim, ia tidak kesalahan dia juga tidak menyerahkannya kepada orang yang tidak dia salah Jika ada memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya, jika satu mengurangi seorang muslim dari kesulitan, Allah akan meringankan kesulitannya pada hari kiamat, dan jika ada yang menutupi seorang Muslim (dosa-dosanya), Allah akan menutupi dia (nya dosa-dosa) di Hari Kebangkitan . (HR.Mutafaq alaihi).

3.5 Bekerja Keras (Al-Insyirah : 7)

- -
Artinya : 7. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.

bekerja dengan penuh semangat dan penuh motivasi. Etos kerja berarti bekerja keras dan dapat diartikan sebagai bekerja dengan penuh semangat dan penuh motivasi


Artinya: Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung (QS: Al Jumuah : 10) 3.6 Bekerja sebagai Bentuk Pelayanan bentuk usahamelayani kebutuhan orang lain. Bekerja sebagai bentuk

pelayanandikenal dengan kepuasan konsumen. Maka bentuk kerja sebagai pelayanan juga lebih utama dibandingkan orang yang hanya beribadah dan berdoa saja tanpa usaha yang keras dan sungguh-sungguh. Ada orang yang dipuji dalam majelis Rasulullah SAW, dikatakan, Apabila kami naik unta, dia selalu berzikir kepada Alaah sehingga kami turun. Apabila kami turun, dia selalu shalat, sehingga kami naik lagi. Rasulullah SAW bertanya : Siapa yang memberi makan untanya dan memasak makanannya?. Para sahabat menjawab, Kami semua. Rasulullah SAW berkata, Kamu semua lebih baik daripadanya. Dari hadits di atas, ternyata orang yang dilayani ternyata tidak dipandang lebih baik dari yang dibandingkan dengan orang melayani, walaupun orang yang dilayani tersebut banyak berzikir dan beribadah. Hal ini juga menunjukkan bahwa bekerja dalam rangka melayani tidaklah hina namun mulia.8 3.7 Bekerja dengan Jujur

H.Ghazaly Ama La Nora S.Ip.,M.Si kk.mercubuana.ac.id/files/99024-7-989530306427.doc

Bekerja dangan tujuan tidak berbohong dengan siapapun dan dimanapun dan tidak berkhianat dan dapat dipercaya orang banyak. Semua pekerjaan yang kita lakukan pasti akan dipertanggungjawabkan. Dan setiap pekerjaan harus

dipertanggungjawabkan, maka pada dasarnyakita harus bekerjasebaik mungkin dan sejujur mungkin tanpa ada pengkhiatan sedikitpun. Dan Islam sangat menjunjung tinggi kejujuran, Islam sangat tidakmenghendaki tindakan ketidak jujuran dan ancaman tidak masuk surga. Siapa saja yang memperoleh harta dengan jalan yang tidak halal dan menafkahkannya, maka ia dan hartanya tidak memperoleh berkah, dan apabila ia bersedekah tidak akan diterima dan sisanya menjadi bekal ke neraka. aSesungguhnya orang yang keji, tetapi orang yang baik dapat menghapus dosa orang yang keji Dari penjelasan beberapa contoh diatas jelas, secara sadar atau tidak sadar kita akan berada dalam aktivitas yang bersentuhan dengan Etos Kerja Islam yang bersumberkan Al-Quran, As-Sunnah. BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Etos kerja ialah melakukan suatu kegiatan yang bertujuan mendapatkan hasil atau mencapai kesuksesan. Etos kerja islam merupakan bagian dari konsep Islam yang merupakan nilai-nilai untuk membentuk kepribadian seseorang yang baik dalam bekerja. Seorang muslim yang baik harus memiliki etos kerja yang baik pula. Dengan etos kerja yang baik, maka segala yang dilakukan akan berjalan dengan baik.

3.2 Saran Diperlukan pengkajian lebih mendalam terhadap materi ini. Sumber-sumber referensi juga dibutuhkan guna memantapkan pemahaman terhadap materi ini.

DAFTAR PUSTAKA

Tasmara, Toto. 1995. Etos Kerja Pribadi Muslim . Yogyakarta : PT. Dana Bhakti Wakaf Natsir, Fatah Nanat. 1999. Etos Kerja Wirausahawan Muslim . Bandung : Gunung Djati Press Kurniadi, Rizky Prasetya. 2012. Kumpulan Hadits.

http://mrizkypk.blogspot.com/2012/12/kumpulan-hadits-tentang-ilmu.html diakses pada 21 Mei 2013 pukul 10:26

Nora, Ghazaly Ama La. 2011. Etos Kerja.

http://kk.mercubuana.ac.id/files/99024-7-

989530306427.doc diakses pada 21 Mei 2013 11:45