Anda di halaman 1dari 23

KERUSAKAN LAHAN DI BOGOR AKIBAT EROSI TANAH DAN LANGKAH-LANGKAH TEKNIS PENANGGULANGANNYA

Disusun oleh : Nama : Anisa Rosida NIM : 115040200111029 Kelas : C

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013

BAB I. PENDAHULUAN Salah satu bagian penting dari budi daya pertanian yang sering terabaikan oleh para praktisi pertanian di Indonesia adalah konservasi tanah. Hal ini terjadi antara lain karena dampak degradasi tanah tidak selalu segera terlihat di lapangan, atau tidak secara drastis menurunkan hasil panen. Dampak erosi tanah dan pencemaran agrokimia, misalnya, tidak segera dapat dilihat seperti halnya dampak tanah longsor atau banjir badang. Padahal tanpa tindakan konservasi tanah yang efektif, produktivitas lahan yang tinggi dan usaha pertanian sulit terjamin keberlanjutannya. Praktek pertanian yang buruk ini tidak hanya ditemui di Indonesia, tetapi juga di negara-negara berkembang lainnya. Hal ini tercermin dari pernyataan Lord John Boyd Orr (1948), Dirjen FAO pertama, dalam (Dudal 1980) sebagai berikut: If the soil on which all agriculture and all human life depends is wasted away, then the battle to free mankind from want cannot be won. Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya konservasi tanah untuk memenangkan perjuangan kemanusiaan dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia. Sebagai gambaran yang mengkhawatirkan di Indonesia, khusus di Pulau Jawa saja, kerugian akibat erosi tanah mencapai US$341-406 juta/tahun (Margrath dan Arens 1989). Data lain menunjukkan bahwa selama periode 1998-2004, terjadi 402 kali banjir dan 294 kali longsor di Indonesia, yang mengakibatkan kerugian materi sebagai tangible product senilai Rp668 miliar (Kartodihardjo 2006). Nilai intangible products yang hilang sulit dikuantifikasi, baik dalam aspek ekologis, lingkungan maupun sosial dan budaya, sebagai bagian dari multifungsi pertanian. Namun dapat dipastikan bahwa nilai intangible tersebut sangat besar, baik secara material maupun immaterial. Erosi tanah saat ini merupakan masalah utama bagi lingkungan. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan angka lahan kritis dan sedimentasi di beberapa daerah, khususnya di wilayah yang mempunyai intensitas hujan tinggi dan kondisi topografi yang bervariasi. Erosi merupakan terangkatnya lapisan tanah atau sedimen karena stres yang ditimbulkan oleh gerakan angin atau air pada permukaan tanah atau dasar perairan. Wilayah ini dapat berubah secara drastis. Erosi yang terjadi dipengaruhi oleh faktor alam secara alami maupun oleh adanya tindakan dari manusia yang berusaha untuk mengolah tanah dan lingkungan demi kepentingannya. Misalnya, bila dipicu oleh peningkatan jumlah penduduk yang cepat sehingga pemenuhan kebutuhan hidup dasar seperti makanan dan tempat tinggal juga meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, penduduk membuka lahan untuk pertanian dan perkebunan secara terus menerus tanpa mempertimbangkan kondisi tanahnya. Salah satu bentuk dari erosi tanah, yaitu merupakan proses pemecahan dan transportasi tanah pada permukaan lahan oleh angin dan air yang dipengaruhi oleh faktor alam (energi hujan, materi induk tanah, kedalaman tanah, dan topografi/kemiringan lereng) dan faktor antropologi (tipe vegetasi, tutupan vegetasi dan praktek managemen). Dengan demikian, erosi tanah merupakan fungsi dari erosivitas dan erodibilitas tanah (kondisi fisik tanah, kondisi topografi dan tutupan vegetasi/penggunaan lahan). Erosi tanah merupakan faktor utama penyebab degradasi tanah, yaitu menurunnya produktivitas tanah pada saat ini maupun masa yang akan datang. Indonesia dengan wilayah seluas 190,5 juta ha, 11,9% diantaranya tererosi. Erosi tanah yang timbul diakibatkan oleh air, yaitu 12,1 juta ha akibat erosi permukaan tanah atau sheet erosion dan 10,5 juta ha akibat erosi alur atau rill erosion dan erosi parit atau gully erosion (Firmansyah, 2007). Erosi tanah juga merupakan salah satu bencana sumber daya alam, yang jika terjadi terus menerus akan memicu terjadinya bencana alam lain, seperti tanah longsor dan banjir.

Kerentanan tanah terhadap erosi ini sangat bergantung dengan vegetasi alami yang tumbuh pada tanah tersebut. Seiring dengan tuntutan peningkatan perekonomian saat ini, tanah dipergunakan untuk berbagai peruntukkan terutama tanaman pangan dan perkebunan bahkan dengan mengorbankan areal hutan. Perubahan penggunaan lahan ini turut mempercepat degradasi tanah melalui erosi tanah karena struktur akar tanaman hutan yang kuat mengikat tanah digantikan dengan struktur tanaman pertanian yang lebih lemah (Wikipedia, 2012). Lahan kering terutama berada di daerah aliran sungai (DAS) secara umum merupakan lahan yang dipergunakan untuk keperluan pertanian dan perkebunan. Potensi perkebunan khususnya kelapa sawit menjadi salah satu andalan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat salah satunya dengan pencanangan program sejuta bibit sawit. Kelapa sawit sendiri banyak ditanam di lahan kering sekitar DAS. Kondisi ini biasanya berpotensi menjadi penyebab kerusakan lingkungan yang makin parah yaitu menurunkan produktivitas lahan, meningkatkan erosi dan sedimentasi, serta memacu meluasnya banjir pada musim hujan. Perubahan vegetasi hutan menjadi lahan pertanian secara langsung berimbas pada perubahan fungsi hutan sebagai catchment area. Akibat yang terjadi dari perubahan ini adalah semakin besarnya tingkat erosi yang berujung pada sumbangannya terhadap kehilangan hara serta kelestarian/ umur lahan. Kondisi ini menunjukkan bahwa Daerah Aliran Sungai (DAS) mempunyai potensi tinggi untuk terjadnya erosi tanah. Pemantauan erosi tanah di DAS agak sulit dilakukan jika kondisi lahannya berbukit dan bergunung serta peningkatan populasi penduduk yang cepat. Oleh sebab itu, keberadaan data fisik spasial sangat penting untuk memantau dan menghitung erosi tanah yang mungkin terjadi.

BAB II. KARAKTERISTIK DAN PERMASALAHAN KERUSAKAN LAHAN Letak Geografis Secara geografis Kota Bogor terletak di antara 106 48 BT dan 6 26 LS, kedudukan geografis Kota Bogor di tengah-tengah wilayah Kabupaten Bogor serta lokasinya sangat dekat dengan Ibukota Negara, merupakan potensi yang strategis bagi perkembangan dan pertumbuhan ekonomi dan jasa, pusat kegiatan nasional untuk industri, perdagangan, transportasi, komunikasi, dan pariwisata. Kota Bogor mempunyai rata-rata ketinggian minimum 190 m dan maksimum 330 m dari permukaan laut. Kemiringan Kota Bogor berkisar antara 015% dan sebagian kecil daerahnya mempunyai kemiringan antara 1530%. Jenis tanah hampir di seluruh wilayah adalah latosol coklat kemerahan dengan kedalaman efektif tanah lebih dari 90 cm dan tekstur tanah yang halus serta bersifat agak peka terhadap erosi. Bogor terletak pada kaki Gunung Salak dan Gunung Gede sehingga sangat kaya akan hujan orografi. Angin laut dari Laut Jawa yang membawa banyak uap air masuk ke pedalaman dan naik secara mendadak di wilayah Bogor sehingga uap air langsung terkondensasi dan menjadi hujan. Hampir setiap hari turun hujan di kota ini dalam setahun (70%) sehingga dijuluki "Kota Hujan". Keunikan iklim lokal ini dimanfaatkan oleh para perencana kolonial Belanda dengan menjadikan Bogor sebagai pusat penelitian botani dan pertanian, yang diteruskan hingga sekarang.

Iklim Kondisi iklim di Kota Bogor suhu rata-rata tiap bulan 26 C dengan suhu terendah 21,8 C dengan suhu tertinggi 30,4 C. Kelembaban udara 70 %, Curah hujan rata-rata setiap tahun sekitar 3.500 4000 mm dengan curah hujan terbesar pada bulan Desember dan Januari. Kota Bogor terletak pada ketinggian 190 sampai 330 m dari permukaan laut. Udaranya relatif sejuk dengan suhu udara rata-rata setiap bulannya adalah 26 C dan kelembaban udaranya kurang lebih 70%. Suhu rata-rata terendah di Bogor adalah 21,8 C, paling sering terjadi pada Bulan Desember dan Januari. Arah mata angin dipengaruhi oleh angin muson. Bulan Mei sampai Maret dipengaruhi angin muson barat. Wilayah Administrasi Luas Wilayah Kota bogor sebesar 11.850 Ha terdiri dari 6 kecamatan dan 68 kelurahan. Kemudian Secara Administratif kota Bogor terdiri dari 6 wilayah kecamatan, 31 kelurahan dan 37 desa (lima diantaranya termasuk desa tertinggal yaitu desa Pamoyanan, Genteng, Balungbangjaya, Mekarwangi dan Sindangrasa), 210 dusun, 623 RW, 2.712 RT dan dikelilingi oleh Wilayah Kabupaten Bogor yaitu sebagai berikut : a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kec. Kemang, Bojong Gede, dan Kec. Sukaraja Kabupaten Bogor. b. Sebelah Timur berbatasan dengan Kec. Sukaraja dan Kec. Ciawi, Kabupaten Bogor.

c. Sebelah Barat berbatasan dengan Kec. Darmaga dan Kec. Ciomas, Kabupaten Bogor. d. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kec. Cijeruk dan Kec. Caringin, Kabupaten Bogor. Di kota ini juga mengalir beberapa sungai yang permukaan airnya jauh di bawah permukaan dataran, yaitu: Ci (Sungai) Liwung, Ci Sadane, Ci Pakancilan, Ci Depit, Ci Parigi, dan Ci Balok. Topografi yang demikian menjadikan Kota Bogor relatif aman dari bahaya banjir alami. Penggunaan Lahan Tabel 1: Penggunaan Lahan di Kota Bogor NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. NAMA PRODUK Lahan Sawah Lahan Kering Perkebunan Hutan Negara Situ dan Kolam Pekarangan Pemukiman Lain-lain JUMLAH LUAS 1.006.000 1.479.670 309.621 150.000 111.470 869.290 6.217.292 1.706.657 11.850.000

Kondisi sumber daya lahan Indonesia cenderung mempercepat laju erosi tanah, terutama tiga faktor berikut: (1) curah hujan yang tinggi, baik kuantitas maupun intensitasnya, (2) lereng yang curam, dan (3) tanah yang peka erosi, terutama terkait dengan genesa tanah. Data BMG (1994) menunjukkan bahwa sekitar 23,1% luas wilayah Indonesia memiliki curah hujan tahunan > 3.500 mm, sekitar 59,7% antara 2.000-3.500 mm, dan hanya 17,2% yang memiliki curah hujan tahunan < 2.000 mm. Dengan demikian, curah hujan merupakan faktor pendorong terjadinya erosi berat, dan mencakup areal yang luas. Lereng merupakan penyebab erosi alami yang dominan di samping curah hujan. Sebagian besar (77%) lahan di Indonesia berlereng > 3% dengan topografi datar, agak berombak, bergelombang, berbukit sampai bergunung. Lahan datar (lereng < 3%) hanya sekitar 42,6 juta ha, kurang dari seperempat wilayah Indonesia (Subagyo et al. 2000). Secara umum, lahan berlereng (> 3%) di setiap pulau di Indonesia lebih luas dari lahan datar (< 3%). Erosi Dan Abrasi Penyebab Kerusakan Tanah Di Bogor Kondisi tanah pada beberapa wilayah di Kabupaten Bogor memperihatinkan. Dari data Balai Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Bogor 2010, enam dari tujuh tanah di beberapa kecamatan dikategorikan telah mengalami kerusakan. Dari

penelitian yang dilakukan, tanah di beberapa titik di Kecamatan Megamendung, Sukaraja, Citerep, Gunung Putri, setengah Kecamatan Babakan Madang dan setengah Ciawi, tergolong cukup rusak, menurut Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Kerusakan Lingkungan (PKL) BLH Bogor, Yularso.

Gb. Pertambangan emas liar di Bogor Kerusakan dilihat dari beberapa unsur. Diantaranya dari bobot isi tanah, porositas tanah, jenis batuan, unsur hara dalam tanah, vegetasi dan tingkat keasaman. Ia mengaku, hal ini terjadi karena beberapa penyebab. Di Babakan Madang misalnya, tanah menjadi rusak karena terkontaminasi limbah industri. Sementara di Citerep, tanah rusak karena tercemar limbah domestik dari perumahan. Di Gunung Putri, tanah menjadi rusak karena banyaknya wilayah pertambangan. Sementara di Megamendung, kondisi tanah menjadi labil karena dijadikan areal persawahan. Meski demikian, dari penelitian tersebut, ditemukan pula dua wilayah yang tanahnya masih amat baik. Meliputi sebagian Cisarua dan wilayah Bojong Gede.

Gb. Areal pertanian di Bogor

Selain tanah, sebelumnya, kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) di sekitar Kali Ciliwung yang melintasi Bogor- dari wilayah Puncak, Kabupaten Bogor, ke wilayah Depok- juga memperihatinkan. Dari data BLH Kabupaten Bogor, sekitar 36 persennya kini dalam kondisi rusak. Hal ini terjadi karena faktor alam seperti erosi dan abrasi. Selain itu, kerusakan ini juga akibat pemanfaatan ruang yang salah, di mana areal resapan akhir dijadikan pemukiman warga. Kondisi yang sama juga dialami DAS Kali Cisadane- dari Pasir Kuncir, Kabupaten Bogor hingga Tangerang Selatan- dan Kali Cilengsi- dari Puncak bagian timur hingga Bekasi. Di Cisadane kerusakan mencapai 34 persen. Sementara di Cilengsi, sama seperti Ciliwung , tingkat kerusakan hingga 36 persen. Menurut Yularso, penyebabnya relatif sama. Banyak pepohonan di sekitar sungai yang ditebang dan wilayah yang beralih fungsi.

Gb. Daerah Aliran Sungai Ciliwung Rusak BLH akan memeriksa lima DAS lainnya. Mulai DAS Kali Cibeet di wilayah Cariu, DAS Kali Cipamingkis di wilayah Jonggol, DAS Kali Cikeas di wilayah Cikeas, DAS Kali Baru di sepanjang Jalan Raya Bogor, dan DAS Kali Cikaniki di wilayah Cibadak hingga Nanggung. DAS merupakan suatu ekosistem yang berfungsi sebagai pengumpul, penyimpan dan penyalur baik air, sedimen, serta unsur hara lainnya. Kerusakan DAS dapat berpengaruh pada luapan debit air sungai. (als)

Gb. Resapan air dibangun pemukiman

BAB III. STRATEGI KONSERVASI TANAH DAN LANGKAH PENERAPAN DI LAPANGAN AGAR MASALAH TERSEBUT DAPAT DITANGGULANGI Degradasi tanah di Indonesia yang paling dominan adalah erosi. Proses ini telah berlangsung lama dan mengakibatkan kerusakan pada lahan-lahan pertanian. Jenis degradasi yang lain adalah pencemaran kimiawi, kebakaran hutan, aktivitas penambangan dan industri, serta dalam arti luas termasuk juga konversi lahan pertanian ke nonpertanian. Degradasi tanah tidak hanya berdampak buruk terhadap produktivitas lahan, tetapi juga mengakibatkan kerusakan atau gangguan fungsi lahan pertanian. Oleh karena itu, perlu dipikirkan strategi konservasi tanah dan penerapan langkah di lapangan, yaitu sebagai berikut : a. Strategi Konservasi Bekas Lahan Tambang Deifinisi Reklamasi yang berkaitan tentang kegiatan Pertambangan yaitu suatu usaha memperbaiki atau memulihkan kembali lahan dan vegetasi dalam kawasan hutan yang rusak sebagai akibat kegiatan usaha pertambangan dan energi agar dapat berfungsi secara optimal sesuai dengan peruntukannya. Istilah lain yang berkaitan dengan reklamasi yaitu rehabilitasi lahan dan revegetasi. Rehabilitasi lahan adalah usaha memperbaiki, memulihkan kembali dan meningkatkan kondisi lahan yang rusak (kritis), agar dapat berfungsi secara optimal, baik sebagai unsur produksi, media pengatur tata air maupun sebagai unsur perlindungan alam lingkungan. Revegetasi merupakan suatu usaha atau kegiatan penanaman kembali lahan bekas tambang. Adapun Tahapan atau kegiatan yang dilakukan dalam reklamasi lahan pertambangan ialah: 1. Melakukan penimbunan lahan kemudian menempelkan lapisan tanah yg subur (top soil) di lahan yang akan direklamasi. Ini bertujuan untuk memberikan lapisan penyubur sehingga memudahkan tanaman untuk tumbuh dan memberikan kekuatan menyangga tanah karena lahan eks tambang umumnya miskin unsur hara, memiliki porositas tinggi dan penyerapan air rendah. 2. Tahap persiapan lahan yaitu dengan perataan lahan ( contour leveling). Tahapan ini adalah meratakan sehingga nantinya memudahkan penimbunan top soil, menguatkan porositas da menyerap air. Reklamasi memang dapat dilakukan di lahan miring atau lereng meskipun akan ditemui banyak kesulitan. Lahan yang kemiringannya sudah diratakan akan memudahkan proses lanjut reklamasi. Pemadatan lapisan tanah untuk menstabilkan lereng ini dilakukan dengan tractor, grader atau bulldozer (sheep foot roller). Di beberapa lokasi lahan yang curam, maka pemadatan ini ditarik dengan bulldozer. Setelah tanah dipadatratakan, maka selanjutnya perlu dibuat saluran drainase untuk mengatur penyaliran.

Gb. Penimbunan bekas tambang dengan lapisan tanah subur 3. Hydroseeding adalah aktivitas penyebaran atau penyemaian lahan reklamasi dengan bibit tanaman perintis (umumnya yang digunakan Brassica, karena mampu menyerap logam Au ( emas ) dan centrocema) yang sebelumnya telah dicampurkan dengan fertilizer dan aditif lainnya. Penyebaran dilakukan dengan truck hydro seeder. Hydro seeding ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas tanah sehingga tanaman akan mendapatkan lingkungan yang baik. Setelah tumbuh, untuk menghindari kontaminasi kembali pada tanah, tanaman Brassica dibakar.

Gb. Penanaman Brassica 4. Tahap selanjutnya bisa dilakukan penanaman pohon, Untuk penanaman pohon, maka disusun pembuatan lubang tanam untuk anakan dengan dimensi disesuaikan dengan kebutuhan. Media tanam yang diperlukan umumnya adalah tanah top soil, pupuk (kompos) dan fertilizer lainnya. Jarak tanam juga disesuaikan. Untuk memperkuat lahan maka biasanya ditambahkan jarring (mesh) di selanjang lokasi juga untuk mencegah longsor. Pohon yang ditanam dalam reklamasi adalah Pohon yang cepat tumbuh, biasanya Pohon Akasia. Pemilihan pohon cepat tumbuh (sengon, angsana/Pterocarpus Indicus atau akasia/Acacia Mangium) adalah alternative awal untuk merevegatasi lahan eks tambang. Tanaman ini adalah dua dari beberapa jenis tanaman reklamasi yang cepat tumbuh. Dalam beberapa tahun dengan maintenance yang baik, hampir dapat dipastikan reklamasi akan berjalan bagus.

Gb. Penanaman Pohon Akasia Teknik reklamasi terdiri atas gabungan: 1. Penggunaan amelioran, berupa bahan organik, pupuk kandang, kapur pertanian, 2. Penanaman tanaman penutup tanah dan penyerap logam, dan 3. Penanaman kayu-kayuan (penghijauan) seperti turi (leguminoseae) selain dapat mengikat air dalam jumlah yang relative banyak, daunnya juga bias digunakan sebagai pupuk nitrogen. b. Strategi Konservasi Areal Pertanian Di areal pertanian yang terdapat pada dataran tinggi, hendaknya dibuat terasiring untuk mengurangi tingkat terjadinya erosi di sekitar areal tersebut. Terasering adalah bangunan konservasi tanah dan air secara mekanis yang dibuat untuk memperpendek panjang lereng dan atau memperkecil kemiringan lereng dengan jalan penggalian dan pengurugan tanah melintang lereng. Tujuan pembuatan teras adalah untuk mengurangi kecepatan aliran permukaan ( run off) dan memperbesar peresapan air, sehingga kehilangan tanah berkurang (Sukartaatmadja 2004). Terdapat berbagai cara mekanik dalam menahan erosi air dan angin. Cara utama adalah dengan membentuk mulsa tanah dengan cara menyusun campuran dedaunan dan ranting pohon yang berjatuhan di atas tanah; dan membentuk penahan aliran air, misalnya dengan membentuk teras-teras di perbukitan (terasering) dan pertanian berkontur.

Gb. Terasering Pertanian Berkontur

Penanaman pada terasering dilakukan dengan membuat teras-teras yang dilakukan untuk mengurangi panjang lereng dan menahan atau memperkecil aliran permukaan agar air dapat meresap ke dalam tanah. Jenis terasering antara lain teras datar, teras kredit, Teras Guludan, dan teras bangku. Teras Datar (level terrace) Teras datar dibuat pada tanah dengan kemiringan kurang dari 3 % dengan tujuan memperbaiki pengaliran air dan pembasahan tanah. Teras datar dibuat dengan jalan menggali tanah menurut garis tinggi dan tanah galiannnya ditimbunkan ke tepi luar, sehingga air dapat tertahan dan terkumpul. Pematang yang terjadi ditanami dengan rumput.

Teras Kridit (ridge terrace) Teras kridit dibuat pada tanah yang landai dengan kemiringan 3 - 10 %, bertujuan untuk mempertahankan kesuburan tanah. Pembuatan teras kridit di mulai dengan membuat jalur penguat teras sejajar garis tinggi dan ditanami dengan tanaman seperti caliandra.

Teras Guludan (cotour terrace) Teras guludan dibuat pada tanah yang mempunyai kemiringan 10 - 50 % dan bertujuan untuk mencegah hilangnya lapisan tanah

Teras Bangku (bench terrace) Teras bangku dibuat pada lahan dengan kelerengan 10 - 30 % dan bertujuan untuk mencegah erosi pada lereng yang ditanami palawija

Teras Individu Teras individu dibuat pada lahan dengan kemiringan lereng antara 30 50 % yang direncanakan untuk areal penanaman tanaman perkebunan di daerah yang curah hujannya terbatas dan penutupan tanahnya cukup baik sehingga memungkinkan pembuatan teras individu.

Teras Kebun Teras kebun dibuat pada lahan-lahan dengan kemiringan lereng antara 30 50 % yang direncanakan untuk areal penanaman jenis tanaman perkebunan. Pembuatan teras hanya dilakukan pada jalur tanaman sehingga pada areal tersebut terdapat lahan yang tidak diteras dan biasanya ditutup oleh vegetasi penutup tanah. Ukuran lebar jalur teras dan jarak antar jalur teras disesuaikan dengan jenis komoditas. Dalam pembuatan teras kebun, lahan yang terletak di antara dua teras yang berdampingan dibiarkan tidak diolah.

Teras Saluran Teras saluran atau lebih dikenal dengan rorak atau parit buntu adalah teknik konservasi tanah dan air berupa pembuatan lubang-lubang buntu yang dibuat untuk meresapkan air ke dalam tanah serta menampung sedimensedimen dari bidang olah.

Jadi secara garis besar terasering adalah kondisi lereng yang dibuat bertangga tangga yang dapat digunakan pada timbunan atau galian yang tinggi dan berfungsi untuk: 1. Menambah stabilitas lereng 2. Memudahkan dalam perawatan (Konservasi Lereng) 3. Memperpanjang daerah resapan air 4. Memperpendek panjang lereng dan atau memperkecil kemiringan lereng 5. Mengurangi kecepatan aliran permukaan (run off) 6. Dapat digunakan untuk landscaping Karena Bogor memiliki kemiringan antara 15-30%, maka sebaiknya pada lahan pertaniannya dibuat teras banku dan dibuat menurut garis kontur. c. Strategi Konservasi DAS Ciliwung Di Bogor, terdapat beberapa DAS yang mnegalami kerusakan. Salah satunya adalah DAS Ciliwung. Dalam konservasi DAS ini, ditawarkan model konservasi 555151. Model ini memuat indikator, jenis pengendalian, jenis pemanfaatan, pelaku perbaikan Ciliwung dan tahapan yang perlu ditempuh untuk memperbaiki Ciliwung. Rangkaian angka 555151 sengaja dipilih agar memudahkan siapa pun untuk mengingatnya dan memahamai persoalan dan sekaligus solusi yang dapat ditempuh untuk memperbaiki Ciliwung. Model ini terdiri dari: 5 indikator yang ingin dicapai 5 upaya pengendalian yang harus dilakukan 5 jenis pemanfaatan sungai, sempadan dan lahan DAS Ciliwung 1 komunitas hijau yang perlu ada di setiap RW 5 tahapan fasilitasi, dan 1 forum DAS sebagai rumah belajar bersama bagi siapa pun yang peduli terhadap Ciliwung 5 Indikator Angka 5 pertama dari Model 555151 adalah menandakan 5 Indikator yang akan menjadi tolok ukur setiap kegiatan di Ciliwung baik yang diprakarsai oleh pemerintah maupun oleh masyarakat dan dunia usaha. 5 indikator pemulihan Ciliwung adalah: Indikator satu adalah indikator debit Sungai Ciliwung. Berbagai aktifitas yang dilakukan hendaknya secara sengaja diarahkan untuk menurunkan debit puncak (peak discharge) untuk setiap besaran hujan ekstrim yang terjadi dan

dengan demikian sekaligus menaikan debit aliran dasar (base flow) di musim kemarau . Indikator dua adalah indikator sedimen. Sungai Ciliwung yang berwarna coklat merupakan indikator dari sedimen yang tersuspensi di air sungai. Sedimen itu adalah bagian tanah yang tererosi yang masuk ke sungai. Berbagai aktivitas yang dilakukan hendaknya secara sengaja diarahkan untuk menurunkan banyaknya sedimen di sungai Ciliwung Indikator tiga adalah indikator kualitas air. Berdasarkan PP 82/2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air terdapat 4 kelas kualitas air sungai: I, II, III, dan IV. Kualitas air kelas I adalah yang terbaik dan kelas IV yang terburuk. Berbagai aktivitas yang dilakukan oleh berbagai pihak (pemerintah, masyarakat, dunia usaha dan perguruan tinggi) harus menjamin bahwa terjadi penaikan kelas kualitas air sungai di tiap segmen. Indikator empat adalah indikator limbah padat terutama sampah anorganik. Berbagai aktivitas yang dilakukan hendaknya menuju pada kondisi sungai yang dari waktu ke waktu semakin bebas dari sampah. Indikator lima adalah indikator terkait sempadan. PP No. 38 Tahun 2011 tentang Sungai telah mengatur status kepemilikan sempadan sebagai kekayaan negara, lebar sempadan sesuai dengan klasifikasi sungai, dan pihak-pihak yang bewenang menetapkan garis sempadan sungai (GSS). Kewenangan untuk menetapkan GSS Sungai Ciliwung sebagai sungai lintas propinsi adalah Menteri (dalam hal ini Menteri Pekerjaan Umum).

5 Upaya Pengendalian Angka 5 yang kedua dari Model 555151 menggambarkan lima upaya pengendalian yang harus dilakukan secara sinergi oleh berbagai pihak. Upaya pertama adalah pengendalian debit run off. Bentuk-bentuk kegiatan yang secara sengaja diarahkan untuk menurunkan debit run off antara lain: menanam pohon, pembuatan teras (teras bangku, teras kredit, teras gulud), penampungan air hujan baik di atas permukaan tanah maupun di bawah permukaan tanah, sumur resapan, lubang resapan biopori, taman resapan / rain garden), bioretensi, embung, peningkatan kapasitas tampung situ, konservasi rawa-rawa alami, konservasi situ-situ, dam parit.

Gb. Reboisasi

Gb. PersawahanTerasering

Gb. Embung

Upaya kedua adalah pengendalian erosi dan sedimen. Bentuk-bentuk aktivitas yang dapat dilakukan: penanaman tanaman penutup tanah (cover crops), grass barier (sekat rumput / strip rumput), mulsa, menciptakan lapisan di bawah tegakan tanaman yang berserasah, dsb. Semua upaya pengendalian debit adalah juga dapat mengendalikan erosi dan sedimen.

Gb. Penanaman Tanaman Penutup Tanah

Upaya ketiga adalah pengendalian limbah cair (industri, domestik/rumah tangga, dan pertanian/peternakan). Untuk limbah cair industri: ipal yang dioperasikan secara benar. Untuk black water (dari kakus / jamban) adalah dengan septik tank dengan disain yang benar. Untuk grey water (dari kamar mandi, air bekas cucian) : ipal komunal, eko teknologi / fitoremediasi.

Gb. Pembuatan Septik Tank

Gb. Ipal Komunal

Upaya keempat adalah pengendalian limbah padat (organik dan anorganik). Untuk sampah organik: keranjang takakura, komposter, komposter ram kawat, lubang resapan biopori, pengomposan skala kawasan. Untuk sampah anorganik yang layak jual: bank sampah, berbagai bentuk produk trashion. Untuk sampah anorganik sisa: tabung sampah plastik (Tabung SP)

Gb. Komposer

Gb. Tabung Plastik

Upaya kelima adalah pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah DAS pada umumnya dan khususnya pengendalian pemanfaatan ruang sempadan Sungai Ciliwung. Acuannya adalah PP 38 Tahun 2011 tentang Sungai. Pilihan vegetasi permanen adalah vegetasi khas Ciliwung.

5 Jenis Pemanfaatan Angka 5 yang ketiga dari Model 555151 adalah terkait dengan pemanfaatan air sungai, pemanfaatan sempadan Sungai Ciliwung dan pemanfaatan lahan di DAS Ciliwung.

Pemanfaatan pertama adalah menjadikan air Sungai Ciliwung sebagai air baku untuk keperluan rumah tangga, perkotaan dan industri. Di Depok terdapat dua intake dari PDAM Tirta Kahuripan yang mengambil air Sungai Ciliwung sebagai air baku bagi warga Kota Depok. Ke depan, sejalan dengan membaiknya kualitas air sungai Ciliwung maka akan semakin banyak intake pengambilan air sungai Ciliwung sebagai air baku, terutama untuk wilayah Jakarta yang selama ini mengandalkan dari Sungai Citarum dan Cisadane. Pemanfaatan kedua adalah menjadikan seluruh segmen Ciliwung sebagai obyek wisata: wisata air dan berbagai obyek wisata di sekitar sungai. Pemanfaatan ketiga adalah menjadikan seluruh segmen Sungai Ciliwung sebagai tempat belajar (pendidikan lingkungan) bagi siswa / mahasiswa dan masyarakat pada umumnya. Pemanfaatan keempat adalah menjadikan air sungai dan sempadan Ciliwung sebagai habitat untuk konservasi keanekaragaman hayati. Jika kondisi kualitas air sungai membaik maka berbagai jenis ikan bisa tumbuh dan berkembang secara optimal. Sempadan sungai juga mernjadi habitat untuk berbagai jenis vegetasi khas Ciliwung yang saat ini cenderung punah. Pemanfaatan kelima adalah memanfaatkan setiap lahan di DAS Ciliwung secara produktif, yaitu memanfaatakan lahan sesuai dengan kelas kemampuannya (I-VIII) dan menerapkan kaidah-kaidah konservasi tanah dan air.

1 Komunitas Hijau di Tiap RW Angka 1 yang keempat dari Model 555151 adalah mengusahakan adanya 1 komunitas hijau (green community) di tiap RW di wilayah DAS Ciliwung. Komunitas inilah yang akan beraktivitas di RW masing-masing. Kegiatan yang dilakukan masing-masing komunitas hijau adalah melakukan 5 pengendalian dan 5 pemanfaatan di atas. Komunitas hijau melakukan rekrutmen relawan DAS Ciliwung hingga mencapai 1 juta relawan. 5 Tahapan Fasilitasi Angka 5 yang kelima dari Model 555151 menggambarkan 5 langkah fasilitasi terhadap komunitas-komunitas hijau di tiap-tiap RW di DAS Ciliwung. Fasilitasi pertama adalah fasilitasi terbentuknya komunitas-komunitas hijau di tiap RW dengan prioritas RW-RW yang berbatasan langsung dengan Sungai Ciliwung (RW Hijau). Fasilitasi kedua adalah fasilitasi penyusunan rencana aksi komunitas hijau (RAKH) di tiap RW yang berisi rencana komunitas hijau tersebut terkait dengan 5 pengendalian di atas. Fasilitasi ketiga adalah fasilitasi implementasi rencana-rencana dari tiap komunitas hijau. Fasilitasi keempat adalah fasilitasi pengembangan jaringan antar kiomunitas hijau dan antara komunitas hijau dengan berbagai pihak yang relevan, serta pelaksanaan lomba antar komunitas hijau. Momentum yang bisa digunakan adalah: Hari Lahan Basah (2 Februari), Hari DAS (1 Maret) Hari Air Sedunia (22 Maret), Hari Bumi (27 April), Hari Lingkungan Hidup (5 Juni), Hari Sungai (27 Juni) Fasiltasi kelima adalah fasilitasi terkait dengan good governance, monitoring dan evaluasi. Setiap mendapatkan bantuan yang berasal dari dana APBN atau APBD, misalnya, komunitas hijau selalu mengumumkan secara transparan jumlah dana yang diterima dan pemanfaatannya serta memberikan laporan tertulis kepada instansi pemerintah yang memberikan bantuan dengan tembusan ke inspektorat dan KPK. 1 Forum DAS Ciliwung

Angka satu yang keenam dari Model 555151 adalah menggambarkan perlunya rumah bersama bagi para penggiat Ciliwung yaitu dalam bentuk satu Forum DAS Ciliwung. Forum DAS semacam ini diamanahkan dalam PP 37 Tahun 2012 tentang Pengelolaan DAS. Dengan demikian, diharapkan Pengelolaan DAS dengan metode 555151 ini akan memperbaiki kerusakan yang telah terjadi dan kerusakan DAS akibat erosi ini dapat teratasi.

d. Strategi Pelaksanaan Program Pendukung


Upaya konservasi lahan pertanian perlu didukung perbaikan perencanaan dan implementasi programnya, antara lain berupa program sebagai berikut. Peningkatan Kesadaran Masyarakat Hasil penelitian di DAS Citarum dan DAS Kaligarang menunjukkan bahwa masyarakat pedesaan baru mengenal 2-4 jenis fungsi lahan pertanian, yaitu penghasil produk pertanian, pemelihara pasokan air tanah, pengendali banjir, dan penyedia lapangan kerja. Padahal fungsi lahan pertanian bagi kemanusiaan mencapai 30 jenis. Sehubungan dengan hal tersebut, penggalakan konservasi tanah harus meliputi pula advokasi pentingnya pertanian beserta fungsi gandanya. Dalam jangka pendek, promosi dapat dilakukan melalui seminar dan simposium serta media cetak dan elektronis. Dalam jangka panjang, sasaran advokasi bukan saja masyarakat umum, tetapi juga pelajar dan mahasiswa melalui kurikulum pokok dan ekstra-kurikuler. Penguatan Kelembagaan Penyuluhan Kondisi kelembagaan penyuluhan saat ini kurang kondusif untuk pembangunan pertanian secara umum, lebih-lebih untuk pengembangan konservasi tanah. Hal ini terjadi terutama setelah diberlakukannya UU No. 32/2004 tentang otonomi daerah, yang antara lain mengalihkan pengelolaan urusan penyuluhan pertanian dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Kabupaten. Namun dengan diterbitkannya UU No 16/2006 tentang penyuluhan diharapkan fungsi penyuluhan akan lebih baik, apalagi dengan digabungnya penyuluhan pertanian, perkebunan, dan peternakan dalam satu wadah. Salah satu hal yang perlu diupayakan adalah pengadaan tenaga penyuluh konservasi tanah lapangan yang terlatih dan dibekali pengetahuan dan teknologi konservasi yang memadai. Penegakan Hukum RUU Konservasi Tanah masih dalam proses ke arah pengesahan menjadi undang-undang. Namun sebenarnya berbagai peraturan/ perundangan yang berkaitan dengan masalah kerusakan lahan pertanian, terutama konversi lahan ke nonpertanian, sudah banyak diberlakukan dalam bentuk Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri, dan Peraturan Daerah. Masalah yang mengemuka adalah lemahnya penegakan hukum terutama karena penerapan law-enforcement yang kurang tegas. Advokasi Penanggung Jawab Konservasi Perlu dilakukan advokasi intensif kepada masyarakat luas untuk menjelaskan bahwa penyelamatan sumber daya lahan dan lingkungan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab bersama seluruh generasi bangsa Indonesia. Dalam mencapai startegi pelaksanaan program pendukung ini, terdapat suatu program yang telah berjalan yaitu Program RUPES Kontrak Konservasi Tanah dan Air

RUPES telah bekerja di Sumberjaya sejak 2004 dengan tujuan mencari dan membangun berbagai cara untuk menjaga fungsi ekologi melalui pemberian imbalan terhadap masyarakat hulu yang telah menyediakan jasa lingkungan, terutama fungsi DAS. RUPES yang dikoordinasikan ICRAF SEA melakukan kegiatan ini bekerjasama dengan pemerintah daerah (Bupati dan Dinas Kehutanan Lampung Barat), LSM setempat, dan kelompok masyarakat. RUPES bersama Economy and Environment Program of Southeast Asia (EEPSEA) melaksanakan program konservasi tanah dan air dengan mengikutsertakan masyarakat sekitar hulu DAS Way Besay sebagai penyedia jasa Program RUPES memfasilitasi skema imbal jasa lingkungan dari pemakai jasa lingkungan kepada masyarakat/petani yang telah melakukan kegiatan konservasi dalam upaya meningkatkan fungsi DAS.

Gb. Penyuluhan oleh RUPES Skema penghargaan ini diharapkan meningkatkan motivasi masyarakat serta berbagai pihak lain yang terkait dalam melakukan kegiatan perbaikan fungsi DAS secara berkelanjutan. Artikel singkat ini memaparkan suatu riset eksperimental tentang skema imbal jasa lingkungan secara tunai sebagai imbalan terhadap kegiatan konservasi tanah dan air untuk peningkatan fungsi DAS Way Besay. Dalam hal ini pemakai jasa lingkungan adalah masyarakat atau korporasi yang menikmati air sungai bebas sedimen sedangkan penyedia jasa lingkungan adalah petani kopi yang melakukan kegiatan konservasi. lingkungan. Masyarakat tersebut diwajibkan membuat berbagai bangunan konservasi yang berfungsi mengawetkan tanah dan mengurangi proses sedimentasi ke sungai.

Gb. Diskusi antar anggota, proses lelang konservasi dan penandatanganan kontrak

Selama satu tahun, anggota masyarakat yang tergabung dalam kelompok konservasi tanah dan air (Soil Conservation Group) terikat dalam suatu kesepakatan berupa Kontrak Konservasi yang bertanggung jawab untuk melakukan kegiatan konservasi sesuai dengan kesepakatan bersama. Adapun imbalan yang akan diberikan yaitu berupa uang tunai yang akan diterima oleh setiap petani yang besarnya ditentukan melalui proses Lelang Konservasi. Proses-proses dan tahapan yang dilakukan untuk mendapatkan skema imbal jasa lingkungan ini meliputi beberapa desain riset, yaitu; 1) Pengumpulan data dan informasi, 2) Sosialisasi, 3) Pelatihan dan studi banding, 4) Prosedur sampling dan kegiatan pra lelang, 5) Diskusi kelompok antar anggota masyarakat, 6) Lelang Konservasi, dan 7) Penandatangan kontrak dan pembayaran.

BAB IV. KESIMPULAN Dari hasil pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kerusakan tanah yang ada di daerah Bogor disebabkan karena penambangan emas liar, areal pertanian yang tidak memperhatikan lingkungan, dan kerusakan pada DAS Ciliwung. Kerusakan-kerusakan yang terjadi ini dapat diatasi dengan beberapa strategi konservasi. Strategi tersebut antara lain adalah : 1. Kerusakan bekas tambang Melakukan penimbunan dan perataan bekas galian tambang dengan tanah yang subur, menanam tanaman perintis Brassica untuk menyerap logam Au (emas), dan setelah sisa logam sudah tidak ada menanam pohon yang cepat tumbuh (misalnya : Pohon Akasia). 2. Kerusakan Areal Pertanian Membuat areal pertanian di lahan miring menjadi terasering, seperti teras bangku, karena pada wilayah Bogor, tingkat kemiringannya anatar 15-30% dan menerapkan system Agroforestri. 3. Kerusakan DAS Ciliwung

Menerapkan konservasi DAS model 555151, antara lain dengan cara reboisasi, pembuatan terasering, pembuatan embung, menanam tanaman penutup tanah, mengelola limbah dll. Hal ini dilakukan untuk memperbaiki kerusakan pada DAS, sehingga lingkungan tetap lestari. Selain itu, ada bebeapa upaya lain yang dapat dilakukan, seperti yang telah ada yaitu program RUPES. Pada program ini dilakukan kontrak kerja kepada masyarakat sekitar, bahwasannya Program RUPES memfasilitasi skema imbal jasa lingkungan dari pemakai jasa lingkungan kepada masyarakat/petani yang telah melakukan kegiatan konservasi dalam upaya meningkatkan fungsi DAS. Masyarakat tersebut diwajibkan membuat berbagai bangunan konservasi yang berfungsi mengawetkan tanah dan mengurangi proses sedimentasi ke sungai.

DAFTAR PUSTAKA Adimiharja, A. 2008. Teknologi Dan Strategi Konservasi Tanah Dalam Kerangka Revitalisasi Pertanian. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Jalan Ir. H. Juanda No. 98, Bogor 16123, Pengembangan Inovasi Pertanian 1(2), 2008: 105-124 Agung. 2012. Reklamasi Lahan Bekas Tambang Batu Bara [Online], http://agungagroteknology.blogspot.com/2012/11/reklamasi-lahan-bekastambang-batu-bara.html Aziz, A. 2013. Terasering [Online], http://abdulaziiz062.blogspot.com/ Berita Bogor. 2010. Erosi dan Abrasi Penyebab Kerusakan di Bogor [Online], http://www.beritabogor.com/2010/12/erosi-dan-abrasi-penyebabkerusakan.html Kab. Bogor. 2013. Selayang Pandang [Online], http://www.bogorkab.go.id/selayangpandang/ Lestari, E.B. 2012. Penyebaran Tumbuhan Hiperakumulator Emas [Online], http://iaslesta.wordpress.com/author/iaslesta/

Pasha, R. dkk. 2010. Kontrak Konservasi Tanah dan Air: Skema Imbal Jasa Lingkungan melalui Lelang Konservasi. World Agroforestry Centre ICRAF. Bogor Polontalo, S. 2012. Memulihkan Ciliwung dengan Model 555151 [Online], http:// konservasidasciliwung.wordpress.com/ Wikipedia. 2013. Kota Bogor [Online], http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Bogor Reza. 2010. Karakteristik Internal Kota Bogor [Online], http://rezaprimawanhudrita. wordpress.com/2010/01/21/karakteristik-internal-kota-bogor/