Anda di halaman 1dari 10

Page |1

ANALISIS GELOMBANG DENGAN RANGKAIAN RC


Abdul Aziz, Putriana Khusnul, Rafika R, Rayhan Hanina, Susanti
Jurusan Fisiska FMIPA Universitas Sebelas Maret Surakarta Email: rafikarahmawati@gmail.com

ABSTRACT
Experiment to analyze wave with RC circuit component , result experiment taken , by using Quantitative analyzing using series RC circuit, Osiloscope and Function Generator . Experiment does to measure the input voltage (Vin) and to measure each component voltage in VC and VR circuit , for every variation resistor and capasitor , there are R1C1 , R1C2 and R2C1 for 5 frequancy variation , that is 1000-5000 Hz. The data is processing by analyzing the graph realted between VC with VR also XC with R . the resonance frequency is zero because wasnt using the Inductance . Keyword: oscilasi harmonic, resonance, capasitancy, resistancy

ABSTRAK
Telah dilakukan percobaan analisis gelombang dengan rangkaian RC pada tanggal 14 Juni 2013. Metode pengambilan data melalui pengamatan kuantitif dengan menggunakan rangkaian RC seri, Osiloskop dan Function Generator. Eksperimen dilakukan dengan cara mengukur tegangan masukan Vin dan menhukur tegangan tiap komponen rangkaian VC dan VR untuk setiap variasi resistor dan kapasitor yaitu R1C1, R1C1, dan R2C1 pada 5 variasi frekuensi yaitu 1000-5000 Hz. Data ditelaah dengan analisis grafik hubungan VC-f, VR-f, XC-f, dan R-f dan kajian teoritis. Diagram fasor akan menampilkan hubungan antara VC dengan VR dan XC dengan R. Frekuensi resonansi bernilai nol karena tidak menggunakan induktansi. Kata Kunci: osilasi harmonic, resonansi, kapasitansi, resistansi

PENDAHULUAN

Arus dan tegangan bolak-balik adalah arus yang dihasilkan oleh sebuah sumber generator dimana arus dan tegangan merupakan fungsi waktu yang berubah-ubah. Dalam bagian ini kita akan membahas respon suatu rangkaian yang mengandung elemen R,L dan C yang dibatasi pada rangkaian seri. Beberapa analisis yang sering dilakukan adalah mengamati tegangan dan arus AC ataupun DC, amplitudo frekuensi, fasa dan berbagai bentuk gelombang, serta fase yang terjadi diantara dua sinyal, cacat yang terjadi pada sinyal,bentuk dan karakteristik signal listrik dapat diperoleh dari respon berbagai rangkaian elektronik yang dibentuk oleh konfigurasi rangkaian maupun nilai komponennya. Salah satu alat yang dapat digunakan untuk mengamati dan mengukur fenomen-fenomena pada sinyal listrik tersebut yaitu Osiloskop. Apabila digunakan osiloskop untuk mengukur tegangan rangkaian seri pada rangkaian RLC maka berpengaruh pada nilai frekuensi.Pada hambatanhambatan yang dipasang secara seri, kuat arus listrik yang mengalir pada tiap-tiap hambatan adalah sama.Dalam sistem listrik arus bolak-balik, jenis rangkaian dapat diklasifikasikan menjadi 3 macam, yaitu rangkain resistif,rangkaian kapasitif dan rangkaian induktif.

Page |2

Makalah ini memberikan pemahaman kepada pembaca tentang hubungan arus dan tegangan dalam rangkaian AC dengan tambahan R,L dan C serta mampu menentukan frekuensi resonansi. Arus listrik adalah aliran muatan listrik yang terjadi karena adanya perbedaan potensial dalam medan listrik.Beda potensial dapat juga dihasilkan oleh sel baterai atau generator yang mengakibatkan arus listrik mengalir. Arus bolak-balik (AC) adalah arus yang arahnya dalam rangkaian berubah-ubah (sinusoida) dalam selang waktu yang teratur.Arus AC ditimbulkan oleh gaya gerak listrik yang berubah-ubah. Arus AC dapat dengan mudah diubah untuk mengahasilkan beda potensial menjadi lebih besar atau lebih kecil dengan menggunakan transformator. Reaktansi adalah perlawanan komponen sirkuit/rangkaian atas perubahan arus listrik atau tegangan listrik karena adanya kapasitansi atau induktansi.Medan listrik yang terbentuk dalam komponen tersebut akan menghambat perubahan potensial listrik dan medan magnet magnetic yang terbentuk menghambat perubahan arus listrik. Nilai kapasitansi dan induktansi mempengaruhi sifat dari komponen tersebut,namun efek reaktansi hanya akan terlihat jika ada perbuahan arus atau tegangan.Jadi,nilai reaktansi berubah-ubah sebanding dengan perubahan arus,dan jika frekuensi perubahan arusnya teratur,seperti dalam arus bolak-balik maka nilai reaktansinya menjadi konstan.Resistor ideal tidak memiliki reaktansi (bernilai 0),sedang inductor dan kapasitor ideal tidak memiliki resistansi (tahanan bernilai 0).Gabungan antara tahanan (R) dan reaktansi (X) disebut impedansi[2]. Rangkaian RLC yang dirangakai secara seri :

Gambar 1 rangkaian RLC

Rangkaian Resistif yaitu rangkaian yang dianggap tidak mempunyai induktansi dan kapasitor maka tidak dipengaruhi oleh perubahan B disekitarnya.

(1) Sebuah penghantar dalam penghantar rangkaian arus bolak-balik memiliki hambatan,reaktansi induktif dan reaktansi kapasitif. Untuk menyederhanakan rangkaian tersebut,digunakan prinsip Hukum OHM dengan nilai tegangan di ujung-ujung rangkaian dapat dihitung dengan rumus : V=Vr+Vc+Vl (2)

Page |3

Ada tiga kemungkinan yang bersangkutan dengan Rangkaian RLC seri : 1. Bila Xl > Xc atau Vl > Vc,maka rangkaian bersifat induktif 2. Bila Xl < Xc atau Vl < Vc,maka rangkaian bersifat kapasitif 3. Bila Xl = Xc atau Vl = Vc,maka rangkaian bersifat resistif[4].

Tegangan antara ujung-ujung rangkaian RLC yaitu Vab = V adalah jumlah fasor antara Vr,Vc dan Vl. Penjumlahan tersebut akan menghasilkan tegangan total yaitu V= (3)

Impedansi suatu rangkaian bergantung dengan frekuensi. Karena reaktansi induktif sebanding lurus dengan reaktansi kapasitif dan berbanding terbalik dengan frekuensi. Besarnya arus AC yang mengalir pada rangkaian bergantung dengan besarnya tegangan dan impedansi . Dengan nilai impedansi rangkaian (Z) : (4) Rangkaian yang mengandung tiga elemen dalam rangkaian seri, sebuah resistor R, sebuah indicator L, dan sebuah Kapasitor C. Jika suatu rangkaian hanya memiliki dua dari ketiga elemen ini, kita masih dapat menggunakan hasil dari pembahasan dengan menetpakan R= 0, L= 0, atau C= (tak hingga) sesuai dengan keperluan. Kita gunakan Vr, Vl, dan Vc untuk menyatakan nilai maksimum (puncak) dari tegangan. Resonansi adalah suatu gejala yang terjadi pada rangkaian bolak-balik yang mengandung komponen inductor dan kapasitor.Resonansi seri terjadi bila reaktansi induktif sama dengan reaktansi kapasitif. Resonansi parallel (anti resonansi) terjadi bila substansi induktif disuatu cabang sama dengan substansi kapassitif pada cabang lainnya. Resonansi terjadi bila harga Xl = Xc. Maka impedansi sama dengan hambatan (Z = R). (5) (6) Maka, frekuensi resonansi akan bernilai : (7) Dimana : L = Induktansi Induktor (H) C = Kapasitansi kapasitor ( F) f = Frekuensi Resonansi (Hz)

Page |4

Untuk mengetahui hubungan antara VC-VR dan XC-R salah satunya adalah dengan menggunakan fasor. Fasor adalah grafik untuk menyatakan magnitude besar) dan arah (posisi sudut). Fasor utamanya digunakan untuk menyatakan gelombang sinus dalam bentuk magnituda dan sudut serta untuk analisis rangkaian reaktif. Contoh fasor diperlihatkan pada Gambar 1. Panjang panah fasor menyatakan magnituda dan sudut menyatakan posisi sudut seperti pada bagian (a) untuk sudut positif. Contoh fasor pada bagian (b) mempunyai magnituda 2 dan sudut fasa 450. Bagian (c) mempunyai magnituda 3 dan sudut fasa 1800 dan bagian (d) magnituda 3 dan sudut fasa -450 (+3150). Perhatikan bahwa sudut positif diukur berlawanan arah jarum jam dari referensi (00) dan sudut negatif diukur searah jarum jam dari referensi (00).

Gambar 2 diagam fasor

METODE

Percobaan analisis fase gelombang menggunakan rangkaian RC ini dimaksudkan untuk mencari hubungan arus dan tegangan dalam rangkaian AC dengan tambahan resistor dan kapasitor serta menentukan frekuensi resonansi (fo). Rangkaian RC dirangkai secara seri dengan komponen berupa Resistor dan kapasitor dengan besaran tertentu. Percobaan ini menggunakan alat utama Osiloskop untuk menampilkan bentuk gelombang yang dihubungkan dengan function generator dan Rangkaian RC. Percobaan ini menggunakan variasi resistor dan kapasitor yaitu R1=2000, R2=100k dan C1=1F,C2= 4,7F. Kombinasi yang digunakan adalah R1C1, R1C2 dan R2C1 pada 5 variasi frekuensi dari 1-5kHz. Dicari nilai tegangan masukan, tegangan kapasitor dan tegangan resistor pada setiap kombinasi. Tegangan masukan diperoleh dengan cara menghubungkan osiloskop ke function generator. Tegangan kapasitor dengan cara menghubungkan osiloskop dengan kapasitor pada rangkaian dan dihubungkan pada sumber tegangan AC (function Generator). Sedangkan tegangan resistor ditentukan dengan menghubungkan Osiloskop dengan resistor pada rangkaian RC dan dihubungkan pada Function generator. Bentuk gelombang akan ditampilkan secara visual melalui osiloskop dalam bentuk gelombang sinusoidal. Dari gambar yang ditampilkan tersebut, dapat ditentukan besar tegangan yang muncul melalui analisa puncak gelombang. Pada percobaan ini tidak dgunakan inductor sehingga rangkaian percobaan menjadi : C

Page |5

Gambar 3. Rangkaian percobaan

Keterangan : V = Tegangan masukan (Vin) C = Kapasitor R = Resistor Percobaan ini pertama tama dilakukan dengan mengkalibrasi osiloskop. Kalibrasi dilakukan dengan menghubungkan probe positif osiloskop dengan ground lalu diatur pada tegangan AC pada panel control kemudian mengatur posisi garis mendatar yang tampil pada osiloskop sehingga berhimpit dengan posisi nol, dengan sebelumnya menekan tombol ground pada panel control. Kemudian tombol ground dilepaskan dan diatur pada volt/div sehingga pada layar osiloskop muncul 2 Vp-p. Pada percobaan ini, dilakukan tiga variasi nilai resistor dan kapasitor. Dilakukan pengukuran nilai Vc dengan menghubungkan probe posiif osiloskop dengan kaki posiif kapasitor dan probe negative osiloskop dengan kaki negative kapasitor. Untuk pengukuran Vr langkahnya sama seperti pengukuran Vc namun resistor tidak ada kaki positif dan negative. Dari percobaan ini, diperoleh 5 data di masing-masing kombinasi. Arus bolak-balik yaitu arus yang besar dan arahnya selalu berubah-ubah secara periodic. Hal ini berlaku pula pada tegangan AC. Tegangan periodic ini menghasilkan tegangan sinusoidal yang besarnya: V=Vo cos t =2f (8) (9)

Rangkaian RLC akan membentuk osilator harmonic dan beresonansi jika diberi tegangan. Bentuk osilator harmonic dapat diamati melalui osiloskop. Dalam percobaan ini, tegangan kapasitor dan tegangan resistor menjadi variable yang dicari dan dianalisa.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Adapun perolehan data tegangan-tegangan pada variasi kapasitansi kapasitor dan resistansi resistor adalah sebagai berikut: Percobaan 1 (R1C1) f (Hz) V 1000 2 Vpp Vin 5 VC 4.4 VR 5 Vin 3.8 VC 0.2 VR 4.6 Vin 4.6 VC 0.8 VR 5 Percobaan 2 (R2C1) Percobaan 3 (R1C2)

Page |6

2000 3000 4000 5000

2 Vpp 2 Vpp 2 Vpp 2 Vpp

4.8 4.8 4.8 4.8

3.6 2 1.2 0.8

5 5 5 5

4 4 4 4

0.12 0.08 0.04 0.04

4.6 4.6 4.6 4.6

4.6 4.6 4.6 4.6

0.5 0.1 0.04 0.04

5 5 5 5

Tabel 1. Data hasil Percobaan

Dengan:

R1= 2 k dan R2=100 k C1= 1 F dan C2=4.7 F

Dari data di atas, dilakukan 2 proses. Proses pertama yaitu penentuan Impedansi, kapasitansi dan arus menggunakan perhitungan. Sedangkan proses kedua penentuan hubungan secara grafik dan diagram. Secara perhitungan, besar impedansi diperoleh dengan persamaan:

Dalam percobaan ini, tidak digunakan sebuah inductor, sehingga besar induktansinya adalah nol. Adapun nilai kapasitansi (XC) diperoleh dari persamaan: dimana Sedangkan arus dapat dicari dengan persamaan dari hokum Kirchoff yaitu hubungan antara arus, tegangan dan hambatan. (10) Hasil yang diperoleh dari percobaan analisis fase gelombang dengan rangkaian RC adalah besarnya Vin, VC, dan VR untuk setiap kombinasi resistor dan kapasitor yaitu R1C1, R1C2 dan R2C1 pada 5 variasi frekuensi dari 1-5kHz. Hasil yang diperoleh diplot dalam grafik sebagai berikut:

Page |7

Gambar 4. Grafik hubungan antara VC(V) dan f (Hz)

Dari grafik hubungan antara VC(V) dan f (Hz) dapat dilihat ketiga grafik dari 3 kombinasi R1C1, R1C2 dan R2C1 yang turun secara eksponensial, dari grafik tersebut hubungan antara VC dan f didapat dari persamaan: VC= = sehingga VC ~ dan VC ~

Dari persamaan diatas menunjukkan bahwa hubungan antara VC dan f yaitu berbanding terbalik.

Gambar 5. Grafik hubungan antara VR(V) dan f (Hz)

Dari grafik hubungan antara VR(V) dan f (Hz) menunjukkan 3 buah grafik pada 3 kombinasi R1C1, R1C2 dan R2C1. Hubungan VR dan f sebenarnya tidak ada hubungannya sehingga walaupun nilai frekuensinya berubah-ubah makan nilai VR yang dihasilkan bernilai tetap atau tidajk berubah.

Page |8

Gambar 6. Grafik hubungan antara XC() dan f (Hz)

Dari grafik hubungan antara XC() dan f (Hz) dari 2 kapasitor C1 dan C2. Grafik yang terbentuk adalah grafik eksponensial. Hal ini berarti berarti antara frekuensi dan kapasitor saling berbanding terbalik. Hal ini dapat dilihat dari persamaan: XC= =

XC ~ ~ Dari persamaan diatas menunjukkan bahwa hubungan antara XC dan f yaitu berbanding terbalik.

Gambar 7. Grafik hubungan antara R() dan f (Hz)

Dari grafik hubungan antara R() dan f (Hz) pada 2 resistor R1 dan R2. Frekuensi dan R sebenarnya tidak ada hubungannya jadi walaupun nilai frekuensi berubah nilai R akan tetap atau tidak berubah.

Page |9

Untuk melihat hubungan relative dua atau lebih gelombang sinusoidal frekuensi yang sama, dapat dibuat suatu diagram yang disebut Diagram Fasor. Diagram fasor ini digunakan untuk mencari hubungan antara XC dengan R untuk mencari nilai Impedansi (Z) sebagai fungsi linear serta VC dengan VR untuk mencari nilai Vmax sebagai fungsi linear. Diagram tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut:

Gambar 8 Diagram fasor (a) hubungan antara XC dengan R (b) hubungan antara VC dengan VR

Sedangkan untuk mencari sudut fase, dapat dilakukan dengan mencari hasil -arctan dari XC/R. Sudut fase digunakan untuk mencari arah Impedansi. Seperti disinggung sebelumnya, bahwa rangkaian RC ini juga akan beresonansi. Resonansi adalah suatu gejala yang terjadi pada suatu rangkaian bolak-balik yang mengandung elemen induktor dan kapasitor. Resonansi dalam rangkaian seri disebut resonansi seri, sedangkan resonansi parallel (anti resonansi) adalah resonansi rangkaian paralel. Resonansi seri terjadi bila reaktansi induktif sama dengan reaktansi kapasitif. Resonansi ini akan menimbulkan suatu frekuensi resonansi frekuensi resonansi dapat ditentukan dengan persamaan:

Dalam percobaan ini, frekuensi resonansi tidak dapat ditentukan karena nilai induktansi dalam percobaan ini adalah nol.
KESIMPULAN

Rangkaian RLC akan mengalami osilasi harmonic dan beresonansi. Dari osilasi harmonic, dapat diamati bentuk gelombang dan dianalisa besaran besaran seperti tegangan input, tegangan kapasitor dan tegangan resistor. Data yang diperoleh, diolah dalam 2 metode. Yaitu metode perhitungan dan metode grafik. Metode perhitungan digunakan untuk menentukan besaran yanga tidak dapat diamati secara langsung melalui penampakan gelombang seperti arus dan besar impedansi. Sedangkan grafik digunakan untuk mengetahui hubungan antara frekuensi dengan tegangan masukan, tegangan kapasitor, dan tegangan resistor serta kapasitansi kapasitor. Besar hubungan tegangan kapasitor dengan tegangan resistor dan kapasitansi dengan impedansi dapat ditentukan melalui diagram fasor. Frekuensi resonansi dalam rangkaian RC ini tidak dapat ditentukan karena besar induktansi bernilai nol. DAFTAR PUSTAKA

P a g e | 10

1. .Jones,D.Larry & Chan,A .Foster. 2011. Electronics Instruments and Measurement. Willey&Son : New York. 2. Margunadi, A.R. 1990. Teori Rangkaian. Penerbit Erlangga, Jakarta. 3. Giancoli,Douglas.2001.Fisika.Erlangga : Jakarta. 4. Cooper,D.William.1995.Instrumentasi Elektronik dan Teknik Pengukuran. Erlangga : Jakarta. 5. Freedman,Young.1995.Fisika Universitas.Erlangga : Jakarta.