Anda di halaman 1dari 2

Upacara Kehamilan Tujuh Bulan di Pagaden Barat, Subang

Urang Subang masih kenal dengan Upacara Kehamilan Tujuh Bulanan? Ini warisan leluhur yang mulai ditinggalkan dan jarang dilakukan. Tentu, harusnya tidak demikian. Bagaimana upacara itu dilaksanakan? Begini cerita Mang Yon (Yono Karyono) dalam blog-nya, 23 September 2013, setelah diedit oleh Redaksi. Hari minggu tanggal 22 September 2013 mamang menghadiri Upacara Kehamilan Tujuh Bulanan di tempat saudara, anak uwak (paman) yang setahun lalu melangsungkan pernikahan. Upacara ini tepatnya di Kampung Bendungan, Desa Bendungan, Kecamatan Pagaden Barat, Subang, Jawa Barat, Indonesia Raya. Upacara dilakukan ketika seorang perempuan mengandung tujuh bulan. Tapi ada juga upacara yang di laksanakan pada umur kehamilan empat bulan dengan di sebut Upacara Kehamilan Empat Bulan. Upacara Kehamilan Tujuh Bulan dilaksanakan sejalan dengan acara pengajian. Keluarga yang menyelenggarakan upacara mengundang tetangga, ustadz, kerabat, dan saudara untuk membaca ayat-ayat Quran, khususnya Surat Yusuf, Surat Lukman dan Surat Maryam. Di samping itu dipersiapkan pula peralatan untuk upacara memandikan ibu hamil dengan bahan-bahan serba tujuh: Buah - buahan tujuh rupa Umbi - umbian tujuh rupa Rujak yang terbuat dari tujuh macam buah Kain samping tujuh lembar Belut tujuh ekor Bunga tujuh rupa lampu minyak tujuh buah. Sekarang pakai lilin tujuh buah yang di kasih alas atau tatakan dari alat cobekan.

Upacara Kehamilan Tujuh Bulan dilaksanakan agar bayi yang di dalam kandungan dan ibu yang melahirkan beroleh keselamatan. Dalam upaca ini dilakukan prosesi Tingkeban. Mang Yon menulis, Tingkeban berasal dari kata Tingkeb artinya tutup, maksudnya si ibu yang sedang mengandung tujuh bulan tidak boleh bercampur dengan

suaminya atau melakukan gituan *pasti udah pada pahamk han? Hehehe. Tingkeban berlangsung sampai empat puluh hari sesudah persalinan, dan jangan bekerja terlalu berat karena bayi yang dikandung sudah besar, untuk menghindari dari sesuatu yang tidak diinginkan. Setelah pengajian selesai, dilakukan Acara Siraman. Siraman berasal dari kata siram yang artinya mandi. Waktu itu pelaksanannya dilakukan di jalan perempatan. Siraman dilakukan oleh para sesepuh (orang yang dituakan) yaitu pak Ustadz dan Pak Kiyai serta mertua calon kakek dan suami dari ibu hamil tersebut. Kalau bisa, diusahakan berjumlah 7 (Tujuh) orang Secara filosofinya tujuh dalam bahasa Jawa artinya pitu, yaitu pitulungan/pertolongan. Mereka bergantian memandikan si calon ibu. Setelah siraman dilakukan 7 (tujuh) orang, akhir acara dilakukan memecahkan kendi yang di dalamnya berisi belut tujuh ekor serta uang recehan. Maksud dari siraman ini adalah untuk membersihkan zahir dan batin, baik bagi calon ibu maupun janin yang dikandungnya dan semoga mendapat pertolongan dari Allah SWT. Demikian banyak hal-hal positif yang bisa diambil dari upacara tradisional tujuh bulanan ini. Namun kalau menurut rangkaian upacara begitu banyak rangkaian yang sudah sebagian di tiadakan atau dikurangi rangkaian rangkaian upacaranya. Mungkin karena kesibukan, ribet atau lainnya. Sehingga upacara tersebut dibuat lebih simpel dan semoga tidak mengurangi makna, tutup Mang Yon.