Anda di halaman 1dari 8

MODUL PERKULIAHAN

Pendidikan Pancasila
Pancasila Dalam Kajian Sejarah Perjuangan Bangsa
Fakultas
FEB

Program Studi

Manajemen

Tatap Muka

Kode MK
MK90037

Disusun Oleh
Rusmulyadi, M.Si.

03

Abstract
Bab ini menguraikan proses perumusan dan pengesahan Pancasila dalam konteks sejarah perjuangan bangsa, baik pada masa pra kemerdekaan, dan Kemerdekaan. Diuraikan pula perkembangan nilainilai sosial cultural yang menjadi basis terbentuknya Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa

Kompetensi
Tujuan intsruksional pembelajaran yang hendak dicapai adalah agar mahasiswa memiliki kemampuan analisis, berpikir rasional, bersikap kritis dalam mengkaji Pancasila dalam sejarah perjuangan bangsa menuju Indonesia merdeka dan sekaligus memahami akar nilai Pancasila dalam sejarah keindonesiaan

Pancasila Dalam Kajian Sejarah Perjuangan Bangsa


1. Sejarah Lahirnya Pancasila
Pancasila diyakini sebagai produk kebudayaan bangsa Indonesia yang telah menjadi sistem nilai selama berabad-abad lamanya. Nilai-nilai sosio budaya bangsa yang kemudian dikristalisasi menjadi budaya bangsa tidak begitu saja muncul pada tahun 1945, melainkan tumbuh dan berkembang dalam jangka waktu yang sangat panjang sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan bangsa Indonesia. Ir. Soekarno, yang selama dikenal sebagai pencetus lahirnya Pancasila, menyatakan telah melakukan kajian sosiologis masyarakat Indonesia dari zaman dulu sampai zaman sekarang (Alam, dalam Ketut Rindjin: 7). Jadi nilai-nilai Pancasila itu berPancasila dalam arti cultural dan religius. Hal ini merupakan bukti bahwa nilai-nilai Pancasila sudah lama tertanam di bumi persada dan bukan ciptaan seseorang. Bung Karno dengan tegas menolak disebut sebagai pencipta Pancasila, sebab suatu dasar negara ciptaan seseorang tidak akan tahan lama. Selanjutnya Bung Karno menyatakan: Aku menggali lima mutiara yang terbenam di dalamnya, yang tadinya lima mutiara itu cemerlang, tetapi oleh karena penjajahan asing yang 350 tahun lamanya, terbenam kembali di dalam bumi bangsa Indonesia ini (Alam, 2001 dalam Ketut Rindjin: 7). Jadi Pancasila diciptakan oleh bangsa Indonesia sendiri. Bung Karno menggali sangat dalam melalui empat zaman, yaitu zaman pra Hindu, zaman Hindu, zaman Islam dan zaman perjuangan kemerdekaan, hingga ia sampai pada perumusan dan pengesahan Pancasila sebagai dasar negara. Dengan demikian, nilai-nilai Pancasila pada awalnya merupakan pandangan hidup dalam praktik hidup sehari-hari masyarakat. Baru kemudian nilai-nilai itu dianalisis dan diuraikan secara sistematis dan eksplisit oleh Bung Karno. Oleh karenaya ada hubungan yang sangat erat antara nilai Pancasila dengan nilainilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam konteks sejarah keindonesian.

201 3

Pendidikan Pancasila Rusmulyadi, M.Si.


Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id

Kebudayaan bisa dilihat dari sudut unsur-unsur dan wujudnya. Unsur kebudayaan menurut Koentjaraningrat (!974:12) adalah: 1. Sistem religi dan upacara keagamaan 2. Sistem dan organisasi kemasyarakatan 3. Sistem pengetahuan 4. Bahasa 5. Kesenian 6. Sistem mata pencaharian hidup 7. Sistem teknologi dan peralatan Dilihat dari wujudnya, kebudayaan mempunyai wujud:(1) sistem nilai budaya; (2) sistem sosial; dan (sistem fisik). Wujud sistem nilai budaya mempengaruhi wujud sistem sosial (tindakan manusia) dan wujud sistem fisik (hasil karya manusia dalam bentuk benda-benda fisik), mempengaruhi pula pola-pola perbuatan manusia dan cara berpikirnya. Jadi hubungan itu bersifat dua arah. Suatu sistem nilai budaya terdiri atas konsepsi-konsepsi abstrak yang hidup dalam alam pikiran masyarakat mengenai hal-hal yang dianggap amat bernilai dalam hidup (Koentjaraningrat, 1974: 32). Untuk menelusuri keadaan dan pertumbuhan nilai sosio-budaya bangsa Indonesia, dalam pandangan Soekmono (dalam Ketut Rindjin, 2012: 27) dan pengaruhnya terhadap nilai-nilai Pancasila digambarkan melalui empat zaman, yaitu: a. Zaman Prasejarah (600.000SM 500M) b. Zaman Purba (500M 1500M) c. Zaman Madya (1500M 1900M) d. Zaman Modern (1900 18 Agustus 1945)

A. Zaman Prasejarah
Keadaan sosio budaya zaman prasejarah ini bisa dipilah menjadi (1) zaman batu tua (paleolithikum); (2 zaman batu muda (neolithikum); dan zaman megalithikum. Pada zaman batu tua dari lapisan bumi pleistocen kira-kira 600.000 tahun yang lalu itulah ditemukan bukti adanya manusia dan kebudayaannya. Pada zaman batu muda atau neolithikum, mereka sudah membuat alat dari batu yang sudah diasah dan diupam. Mereka juga sudah mampu membuat kerajinan tangan, kapak persegi dan kapak lonjong serta menenun, berdagang, berlayar, bercocok tanam dan berternak. Inilah

201 3

Pendidikan Pancasila Rusmulyadi, M.Si.


Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id

awal dari revolusi pertama peradaban manusia; dari pencari bahan makanan ( food gathers) menjadi penanam bahan makanan (food growers). Yang dimaksud kebudayaan megalithikum adalah kebudayaan yang terutama menghasilkan bangunan-bangunan dari batu-batu besar. Kebudayaan batu besar ini bukan berarti kembali ke zaman batu. Adapun hasil terpenting kebudayaan megalithikum ini adalah: a. Menhir, berbentuk seperti tiang atau tugu yang didirikan sebagai tanda peringatan dan melambangkan arwah nenek moyang, sehingga menjadi benda pemujaan; b. Dolmen, berbentuk seperti meja batu berkaki menhir sebagai tempat saji dan pemujaan kepada nenek moyang atau di bawahnya terdapat kuburan; c. Sarcophagus atau keranda, berbentuk seperti palung atau lesung dengan penutup di atasnya; d. Kubur batu, sebetulnya tak berbeda dengan peti mayat dari batu e. Punden berundak, yaitu bangunan pemujaan yang tersusun bertingkat-tingkat f. Arca, mungkin ada yang melambangkan nenek moyang dan menjadi pujaan. Selain itu, juga terdapat juga manik-manik dan alat perunggu. Inti dari kehidupan bangsa Indonesia pada masa Prasejarah hakekatnya adalah nilainilai Pancasila itu sendiri, yaitu : 1. Nilai Religi Adanya kerangka mayat pada Paleolitikum menggambarkan adanya penguburan, terutama Wajakensis dan mungkin Pithecanthropus Erectus, serta dalam menghadapi tantangan alam tenaga gaib sangat tampak. Selain itu ditemukan alat-alat baik dari batu maupun perunggu yang digunakan untuk aktifitas religi seperti upacara mendatangkan hujan, dan lain lain. Adanya keyakinan terhadap pemujaan roh leluhur juga dan penempatan menhir di tempat-tempat yang tinggi yang dianggap sebagai tempat roh leluhur, tempat yang penuh keajaiban dan sebagai batas antara dunia manusia dan roh leluhur. Jelas bahwa masa Prasejarah sudah mengenal nilai-nilai kehidupan religi dalam makna animisme dan dinamisme sebagai wujud dari religious behavior. 2. Nilai Peri Kemanusiaan
201 3

Pendidikan Pancasila Rusmulyadi, M.Si.


Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id

Nilai ini tampak dalam perilaku kehidupan saaat itu misalnya penghargaan terhadap hakekat kemanusiaan yang ditandai dengan penghargaan yang tinggi terhadap manusia meskipun sudah meninggal. Hal ini menggambarkan perilaku berbuat baik terhaap sesama manusia, yang pada hakekatnya merupakan wujud kesadaran akan nilai kemanusiaan. Mereka tidak hidup terbatas di wilayahnya, sudah mengenal sistem barter antara kelompok pedalaman dengan pantai dan persebaran kapak. Selain itu mereka juga menjalin hubungan dengan bangsa-bangsa lain. 3. Nilai Kesatuan Adanya kesamaan bahasa Indonesia sebagai rumpun bahasa Austronesia, sehingga muncul kesamaan dalam kosa kata dan kebudayaan. Hal ini sesuai dengan teori perbandingan bahasa menurut H.Kern dan benda- benda kebudayaan Pra Sejarah Von Heine Gildern. Kecakapan berlayar karena menguasai pengetahuan tentang laut, musim, perahu, dan astronomi, menyebabkan adanya kesamaan karakteristik kebudayaan Indonesia. Oleh karena itu tidak mengherankan jika lautan juga merupakan tempat tinggal selain daratan. Itulah sebabnya mereka menyebut negerinya dengan istilah Tanah Air. 4. Nilai Musyawarah Kehidupan bercocok tanam dilakukan secara bersama-sama. Mereka sudah memiliki aturan untuk kepentingan bercocok tanam, sehingga memungkinkan tumbuh kembangnya adat sosial. Kehidupan mereka berkelompok dalam desa-desa, klan, marga atau suku yang dipimpin oleh seorang kepala suku yang dipilih secara musyawarah berdasarkan Primus Inter Pares (yang pertama diantara yang sama). 5. Nilai Keadilan Sosial Dikenalnya pola kehidupan bercocok tanam secara gotong-royong berarti masyarakat pada saat itu telah berhasil meninggalkan pola hidup foodgathering menuju ke pola hidup foodproducing. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat itu upaya kearah perwujudan kesejahteraan dan kemakmuran bersama sudah ada.

201 3

Pendidikan Pancasila Rusmulyadi, M.Si.


Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id

B. Zaman Purba
Zaman ini ditandai oleh timbulnya beberapa kerajaan di Indonesia. Kerajaan tertua terdapat di daerah Kutai (Kalimantan Timur). Di sini ditemukan tujuh prasasti berbentuk Yupa bertuliskan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta sekitar 400M, yang menunjukkan pengaruh dan kebudayaan India. Raja yang memerintah adalah Mulawarman. Kerajaan Kutai menentukan proses penghinduan selanjutnya.

Kerajaan kedua adalah Tarumanegara di Jawa Barat (400 500M). disini juga ditemukan tujuh prasasti dengan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta. Raja yang memerintah adalah Purnawarman, yang beragama Hindu. Sementara itu di Sumatera berdiri kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7. Disini ditemukan lima prasasti dengan huruf Pallawa, tetapi dalam bahasa Melayu Kuno. Sriwijaya dikenal sebagai pusat pengembangan agama Hindu. Wilayah kerajaan Surabaya sangat luas, hampir meliputi seluruh nusantara, bahkan sampai Srilangka termasuk di dalamnya Semenanjung Malaya dan kepulauan sekitarnya (Suwarno, dalam Ketut Rindjin, 2012: 30). Sriwijaya merupakan kerajaan dengan wawasan kelautan yang menguasai pelabuhan di Sumatera Timur dan Selat Malaka, yang menjadi jalur lalu lintas perdagangan laut yang sangat ramai. Karena itu, Sriwijaya dikenal sebagai kerajaan maritim yang kuat. Muh. Yamin menamakan kerajaan Sriwijaya sebagai Negara Kesatuan Pertama dengan dasar kesatuan. Nilai-nilai yang muncul dan terkait dengan Pancasila adalah nilai persatuan, religius, kemasyarakatan dan ekonomi yang terjalin dalam bentuk hubungan dagang dengan negeri-negeri lain. Sebelum kerajaan Majapahit, muncul kerajaan- kerajaan yang memancangkan nilainilai Nasionalisme. Muncul kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur secara silih berganti. Di Kerajaan Isana, Jawa Tengah muncul Kerajaan Kalingga (abad ke Darmawangsa, VII) dan Sanjaya pada (abad ke VIII), dan Airlangga. Raja Airlangga Membangun bangunan Keagamaan dan Asrama sebagai sikap toleransi dalam beragama Membuat Hubungan dagang dan kerja sama dengan Benggala, Chola dan1037, Raja Airlangga Champa yang membuat tanggul 1019, para pengikutnya , rakyat, menunjukkan nilai-nilai dan waduk demi dan para brahmana bermusyawarah dan kemanusiaan keseahteraan memutuskan untuk memohon pertanian Rakyat, Airlangga bersedia menjadimerupakan nilai-nilai Raja sebagai nilai-nilai sila ke IV sila ke V.
201 3

Pendidikan Pancasila Rusmulyadi, M.Si.


Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id

Pada tahun 1293, berdirilah keraaan Majapahit yang mencapai zaman keemasannya pada pemerintahan Raja Hayamwuruk. Pada waktu itu, agama Hindu dan Budha hidup berdampingan dalam satu Kerajaan, bahkan salah satu bawahan kekuasaannya yaitu Pasai justru memeluk agama Islam. Toleransi positif dalam beragama dijunjung tinggi sejak masa bahari yang telah silam. Majapahit menjulang dalam arena sejarah kebangsaan Indonesia dan banyak meninggalkan nilai- nilai yang diangkat dalam nasionalisme negara kebangsaan Indonesia 17 Agustus 1945). Pada zaman Majapahit secara embrional kelima sila Pancasila sudah muncul ke permukaan, seperti kepercayaan kepada Tuhan, rasa kemanusian, persatuan. Musyawarah mufakat dan kesejahteraan Sosial. Semboyan Bhineka Tunggal Ika merupakan cermin pandangan hidup bangsa Indonesia yang sudah tertanam sejak zaman Majapahit. Mahapatih Gajah Mada juga dikenal sebagai ahli hukum. Kitab hukum yang selalu dipakai sebagai dasar pemerintahan di Majapahit adalah Kutaramanawa. Kitab ini disusun berdasarkan kutarasastra dan kitab hukum Hindu Manawasastra yang disesuaikan dengan hukum adat yang berlaku pada zaman itu. Hasrat Gajah Mada untuk menjadikan Majapahit sebagai satu-satunya kerajaan yang berkuasa dapat diketahui dari sumpahnya yang terkenal, yaitu Sumpah Palapa ( Tan Amukti Palapa), artinya ia tidak akan merasakan palapa (artinya garam dan rempah-rempah) sebelum seluruh nusantara berada di bawah kekuasan Majapahit. Langkah pertama untuk memperluas kekuasaan Majapahit dilakukan pada 1343 dan menuju Bali, kemudian dilanjutkan ke Sumatera. Pada masa Hayam Wuruk, Majapahit mengalami zaman keemasan. Wilayahnya meliputi seluruh Nusantara, bahkan sampai ke semenanjung Melayu dan Filipina selatan, yang oleh Muh. Yamin disebut Negara Kesatuan Kedua. Rakyat hidup makmur, tenteram dan damai sebagai tercermin dalam ungkapan gemah ripah loh jinawi, tata tenteram kerta raharja. Ada toleransi agama antara Hindu dan Budha sesuai semboyan Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Darma Mangwa. Setelah Gajah Mada meninggal pada tahun 1364, lebih-lebih setelah Hayam Wuruk wafat, kerajaan Majapahit mengalami kemunduran karena perang saudara dan pemberontakan, dan akhirnya runtuh pada tahun 1520.

201 3

Pendidikan Pancasila Rusmulyadi, M.Si.


Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id

Penyebaran dan asal usul penduduk yang mendiami kepulauan Nusantara ini menimbulkan berbagai macam suku bangsa sehingga terjadilah perbedaan dalam bahasa, adat istiadat, budaya, kepercayaan, mata pencaharian, dan lain-lain. Indonesia terdiri atas 17.508 pulau dan di antaranya yang dihuni adalah 6.024 pulau. Terdapat 758 bahasa daerah, tetapi hanya delapan bahasa daerah yang mempunyai tradisi tulisan, 556 suku bangsa dan 19 daerah hukum adat serta aneka seni budaya daerah. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Inilah antara lain kebhinekaan bangsa Indonesia. Persamaannya antara lain terletak pada kepercayaan terhadap kekuatan gaib, yang disebut dinamisme dan hidup bergotong royong. Kepercayaan terhadap roh kemudian membuka jalan masuknya penyebaran agama ke Indonesia, seperti Hindu, Budha, Islam, Kristen dan Katolik.

Daftar Pustaka
1. Ketut Rindjin, Pendidikan Pancasila Untuk Perguruan Tinggi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2012 2. Syharial Syarbaini, Pendidikan Pancasila, Jakarta: Hartomo Media Pustaka, 2012

201 3

Pendidikan Pancasila Rusmulyadi, M.Si.


Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id