Anda di halaman 1dari 11

Arief Luqman/ 180120130017 Sastra Bandingan Ilmu Sastra Sastra Kontemporer FIB - Unpad/ 2013

Pengaruh Faktor Penerimaan Pengarang dalam Narasi Mahabharata Karya Nyoman S. Pendit dan Wisanggeni Sang Buronan Karya Seno Gumira Ajidarma

1. Latar Belakang

Membandingkan dua karya sastra dengan pengaruh dari satu karya sumber, akan melibatkan hubungan dari karya-karya yang dibandingkan. Perbandingan dua karya sastra atau lebih, telah mengalami perkembangan dalam metode pendekatan yang digunakannya. It has developed a methodology which, going beyond the collection of information concerning reviews, translations, and influences, considers carefully the image, the concept of a particular author at a particular time, such diverse factors of transmission as periodicals, translators, salons, and travelers, and the receiving factor, the special atmosphere and literary situation into which the foreign author is imported (Wellek dan Warren, 1949:41)

Dari kutipan di atas, Wellek dan Warren menitik beratkan faktor penerimaan menjadi hal yang penting dalam perkembangan karya sastra yang dibandingkan untuk kasus karya yang di impor. Dalam hal ini karya impor adalah kisah
1

Mahabharata yang berasal dari India, kemudian karya yang dibandingkan adalah Mahabharata Karya Nyoman S. Pendit dan Wisanggeni Sang Buronan Karya Seno Gumira Ajidarma. Dalam mereproduksi karya sastra dari satu sumber -kisah Mahabharata Indiaterdapat faktor penerimaan pengarang terhadap karya sumber, ditambah dengan ide kreatif pengarang yang menjadikan karya baru khas dengan budaya pengarang Mahabharata dan Wisanggeni Sang Buronan. Seorang pengarang menerima pengaruh dari karya sastra yang telah dibacanya dimana pengaruhnya adalah berupa faktor penerimaan pengarang. Teori penerimaan sendiri adalah apa yang Jauss kemukakan mengenai pengetahuan pembaca tentang teks sastra yang dibacanya dalam bentuk respon pembaca (Adam, 1991:1237). Dari faktor penerimaan tersebut pengarang membuat karya sastra baru baik berupa saduran dari karya sumber, transformasi dengan bentuk cerita alternatif, ataupun bentuk lainnya. Terdapat beberapa bukti dari kedua karya yang dibandingkan yang membuktikan bahwa faktor penerimaan dari sumber yang sama berperan dalam produksi di kedua karya sastra baru tersebut. Pertama, adanya kesamaan beberapa tokoh : Arjuna, Kresna, Hanoman yang ditemukan dalam Mahabharata dan ditemukan juga dalam Wisanggeni Sang Buronan. Kedua, adanya peristiwa yang sama: pengasingan Pandawa di dalam hutan. Ketiga, ditemukannya tragedi yang terjadi pada tokoh utama di kedua karya tersebut. Untuk Mahabharata karya Nyoman S. Pendit sendiri sudah merupakan hasil dari faktor penerimaan Pendit sendiri sebagai pembaca dan diwujudkan dalam bentuk karya sastra baru yang meringkas kisah

Mahabharata asli -selanjutnya penulis menggunakan Mahabharata karya Nyoman S. Pendit sebagai representasi karya sumber dan menggunakan Wisanggeni Sang Buronan sebagai karya pembanding.

Mahabharata menceritakan perang saudara antar sesama keturunan bangsa Bharata bangsa Kuru- di padang Kurusetra, diceritakan juga tentang legendalegenda pahlawan, dewa-dewa, pengembaraan kasta para brahmana dengan doktrin dan teologi mereka masing-masing (Winternitz, 1977:317). Tidak jauh berbeda dengan Mahabharata karya Nyoman S. Pendit, letak perbedaan yang paling terlihat adalah dari panjangnya cerita, dimana Mahabharata India terdiri dari delapan belas buku, sedangkan karangan Nyoman S. Pendit hanya dalam satu buku dengan lima puluh lima bab. Lain halnya dengan Wisanggeni Sang Buronan, yang mengisahkan pengembaraan sorang keturunan Arjuna salah satu tokoh dalam Mahabharata- yang dalam pengejaran untuk dibunuh, tokoh Wisanggeni sendiri tidak muncul dalam Mahabharata. Persamaan yang penulis temukan dari alur cerita-cerita tersebut terdapat persamaan yaitu ditemukannya tragedi. Menurut Aristotle (Hazard, 1991:55) tragedi adalah sifat karya sastra yang membawa pembaca pada perasaan haru dalam kisah yang membersihkan, menyedihkan, dan menakutkan; Plato mengemukakan bahwa tragedi diperlukan untuk menguras emosi sebagai sebuah kebutuhan (Wellek dan Warren, 1949:40). Tragedi yang terdapat di kedua karya sastra yang dibandingkan

tersebut, terletak pada pengisahan tokoh utama yang mendapat penderitaan dan dilema yang beruntun dan silih berganti.
2. METODE

Metode yang digunakan dalam penulisan karya tulis ini adalah dengan metode bandingan, menggunakan rancang bangun kualitatif, dan deskriptif analisis dalam menganalisa data disertai dengan menggunakan pendekatan faktor penerimaan pengarang. Data yang penulis gunakan adalah narasi dan dialog-dialog dari kedua karya sastra tersebut yang penulis anggap mendukung pembahasan isu yang penulis angkat.
3. Pembahasan

Peran faktor penerimaan pengarang terhadap cerita Mahabharata dalam proses produksi karya sastra baru mengakibatkan karya sastra baru tersebut memiliki beberapa persamaan, dan dilain sisi, keduanya memiliki ciri khas si pengarang masing-masing. Persamaan dan perbedaan tersebut merupakan hasil dari faktor penerimaan pengarang yang diwujudkan menjadi karya sastra baru. Dalam praktiknya Wisanggeni Sang Buronan secara tidak merujuk langsung ke cerita Mahabharata dari India, akan tetapi merujuk ke Mahabharata dalam cerita wayang Jawa.
3.1 Peran Faktor Penerimaan Pengarang dalam Persamaan yang Ditemukan

Baik dalam cerita Mahabharata maupun Wisanggeni ditemukan beberapa persamaan, Persamaan-persamaan yang ditemukan mengarah pada karya sumber

-persamaan tersebut diantaranya tokoh yang sama, peristiwa yang sama dan tragedi yang terjadi terhadap tokoh utama.
3.1.1 Persamaan dalam Tokoh

Dalam Wisanggeni Sang Buronan, muncul tokoh-tokoh yang juga muncul dalam kisah Mahabharata. Mereka adalah Arjuna salah satu pandawa, Krisna, dan Hanoman sang kera. Arjuna juga adalah ayah dari Wisanggeni, muncul dalam narasi berikut: Shadan, di suatu tempat yang sunyi dan gersang, Arjuna sedang bertarung antara hidup dan mati. Musuhnya adalah tiga kesatria yang bergelar Tri Eka Sakti (Ajidarma, 2000:17) Dalam narasi tersebut, sosok Arjuna tidak dijelaskan dalam narasi namun dalam gambar yang pengarang sisipkan dalam narasi tersebut. Dalam gambar tersebut, Arjuna dan Wisanggeni -dengan sikap berdiri sempurna layaknya wayang orang- saling berhadapan satu sama lain. Penggambaran sosok Arjuna dalam gambar sebenarnya dibuat oleh Danarto-redaktur novel-, dimana Danarto sebagai penggambar ilustrasi dan Ajidarma sebagai penulis naskahnya hal ini dijelaskan dalam catatan penulis di awal bagian buku novel. Penggambaran dalam gambar ini merupakan sebuah respons pembaca atas perwatakan Arjuna dalam Mahabharata. Contoh narasi yang menjelaskan Arjuna di Mahabharata adalah sebagai berikut: Arjuna, yang berarti cemerlang, putih bersih bagaikan perak disegani sebagai penjelmaan sifat-sifat pemberani, budi yang luhur, dermawan, lembut hati dan berwatak kesatria dalam membela kebenaran dan kehormatan(Pendit,2003:64)
5

Arjuna yang sangat cerdas dan memiliki pandangan jauh ke depan(Pendit,2003:414)

Arjuna yang dinarasikan dalam Mahabharata dan Arjuna yang digambarkan dalam Wisanggeni Sang Buronan adala tokoh yang sama. Namun, dalam penggambarannya dalam gambar yang disetujui oleh Ajidarma sebagai penulis karya baru, Arjuna dalam novelnya adalah Arjuna berdasarkan penerimaan Ajidarma dan Danarto sebagai pembaca dari Mahabharata. Tokoh sama lain yang muncul adalah Hanoman atau Hanuman. Dalam narasi novel Wisanggeni Sang Buronan, penggambaran Hanoman adalah sebagai berikut: Di hadapannya, Wisanggeni melihat seekor monyet putih melayang dengan tenang. Tubuhnya setinggi manusia dan monyet itu pun berpakaian seperti manusia. Pada pinggangnya terlilit sarung kotakkotak hitam putih dan mata monyet itu lembut penuh dengan cahaya kemanusiaan. (Ajidarma, 2000:13)

Dalam narasi di atas, Hanoman dinarasikan dengan detail beserta pakaian yang dikenakannya serta motif kotak-kotak hitam putih pada sarungnya. Sedangkan dalam Mahabharata penggambaran Hanoman

dinarasikan sebagai berikut: Bhima mendekat dan melihat seekor kera besar berbulu indah bercahaya sedang berbaring tak bergerak. Demikian besarnya kera itu hingga Bhima tak bisa melangkah maju. (Pendit, 2003:202)

Dalam kasus ini, apa yang Jauss kemukakan mengenai teori penerimaan dan reader response, bahwa horizon pembaca mempengaruhi hasil responsnya sendiri. Hanoman yang digambarkan dalam Wisanggeni Sang Buron telah ditambahkan detail-detail budaya pembaca Ajidarma yang menggambarkan Hanoman seperti demikian. Tokoh selanjutnya adalah Krisna, atau Sri Kresna. Dalam Wisanggeni Krisna dinarasikan sebagai berikut: Dan terlihatlah manusia berkulit hitam itu duduk di atas meja (Ajidarma, 2000:16)

Sedangkan

dalam

Mahabharata

tidak

ada

detail

tentang

penggambaran Krisna, yang dalam Wisanggeni sendiri Krisna berkulit hitam. Hal ini sama dengan kasus penggambaran Arjuna yang telah dibahas sebelumnya.
3.1.2 Persamaan dalam Peristiwa

Dalam Wisanggeni Sang Buronan, terdapat potongan seting waktu yang pada kisah Mahabarata saat Pandawa sedang mengalami masa pengasingan di dalam hutan. Dalam narasi novel Wisanggeni Sang Buronan seting waktu tersebut ditemukan sebagi berikut: Mereka hanya mengirim Tri Eka Sakti untuk membunuh Arjuna karena para Pandawa sedang dalam pengasingan dan Indraprasta dikuasai Hastina. (Ajidarma, 2000:20)

Seting waktu diamana masa pengasingan Pandawa dibuang kehutan sendiri juga ditemuakan dalam narasi Mahabharata sebagai berikut: Melihat Pandawa berangkat meninggalkan kerajaan menuju hutan tempat mereka dibuang, rakyat merasa sedih. (Pendit, 2003:155)

Kejadian tersebut memang terjadi dalam kedua karya tersebut, namun dalam Wisanggeni Sang Buron, telah terjadi penambahan cerita. Penambahan cerita yang terjadi saat dua belas tahun pengasingan Arjuna justru menjadi alur cerita utama kisah Wisanggeni.
3.2 Peran Faktor Penerimaan Pengarang dalam Tragedi Wisanggeni

Selain beberapa persamaan dalam cerita Mahabharata maupun Wisanggeni Sang Buronan yang ditemukan, perbedaan-perbedaan yang menjadi ciri khas pengarang tidak dapat terhindarkan. Yang menjadi pembeda utama dalam kedua kisah tersebut adalah kisah tragedi Wisanggeni sendiri yang menjadi tokoh utama dalam Wisanggeni Sang Buronan. Kisah Wisanggeni sendiri menjadi pembeda utama dengan cerita

Mahabharata, kehidupan Wisanggeni yang ada dalam tragedi dimana dia harus mengetahui kehadirannya di dunia adalah suatu kesalahan. Wisanggeni mengalami krisis keberadaan dan mencari jati dirinya dengan menelusuri asal-usulnya. Dia mengembara dan bertemu orang-orang yang akan mengungkap mengapa dia menjadi buronan para dewa. Dalam pengembaraannya, Wisanggeni telah membunuh utusan

dewa yang mencoba membunuhnya (Ajidarma, 2000:6). Penggambaran Wisanggeni sendiri dalam narasi novel begitu memprihatinkan: mucul seorang laki-laki berpakaian compang-camping berjalan tersaruksaruk memasuki kota yang mengakhiri lautan padang pasir itu ketika matahari menyemprot dengan ganas dan wajah lelaki itu terlindung oleh sebuah caping yang lebar sementara telapak kakinya dialasi terompah yang terbuat dari kulit kerbau (Ajidarma, 2000:1-2)

Mengingat

Wisanggeni

adalah

keturunan

Pandawa,

penggambaran

Wisanggeni mirip dengan penggambaran Pandawa ketika masa pengasingan. Namun apa yang dialami Wisanggeni justru lebih parah, eksistensinya tidak diharapkan Dewa, tidak seperti kerabat lainnya, Wisanggeni adalah keturunan Pandawa yang tidak diinginkan, sampai akhir cerita dia di gambarkan tetap dengan atribut gelandangannya: Pada saat itu seorang lelaki berewok yang berpakaian compang-camping, bercaping, dan kasutnya terbuat dari kulit kerbau, menelusup di antara penonton (Ajidarma, 2000:88)

Dalam Mahabharata sendiri terdapat tragedi terhadap tokoh utama namun tidak menyeluruh, dan hanya ditemukan pada saat masa pengasingan Pandawa di dalam hutan saja. Sedangkan pada Wisanggeni yang mengetahui kehadirannya tidak diakui, tragedi itu berlangsung sampai akhir: Aku sudah harus lenyap dari jagad pewayangan, katanya pada diri sendiri, aku tak akan mengganggu lakon yang sedang dan akan berlangsung.(Ajidarma, 2000:87)

Tragedi ini merupakan kreatif pengarang atas penerimaan dari kisah Mahabharata khususnya masa pengasingan Pandawa di hutan belantara. Dengan mengeksplorasi kisah Wisanggeni yang merupakan keturunan Arjuna Pandawa, alur waktu yang ditemukan juga betepatan dengan masa pengasingan Pandawa.
4. Kesimpulan

Berdasarkan analisis yang telah diuraikan sebelumnya, dapat diketahui bagaimana pengaruh kisah Mahabharata terhadap kisah Wisanggeni Sang Buronan ditemukan dalam beberapa kemiripan. Meskipun tidak merujuk langsung kepada cerita Mahabharata yang asli, kisah Wisanggeni Sang Buronan memiliki kisah yang disangkutpautkan dengan kisah didalamnya. Dengan memaparkan analisis data yang dipaparkan sebelumnya, peneliti menarik kesimpulan bahwa faktor penerimaan pengarang dari karya sumber mempengaruhi isi cerita dari karya yang dihasilkan.

Bibliografi Adam, Hazard. 1991. Critical Theory Since plato. Revised Edition. Harcourt Brace Jovanovich College Wellek, Ren, and Austin Warren. 1949. Theory of Literature. New York: Harcourt

10

Winternitz, Maurice. 1977. A History of Indian Literature. Vol. I. New Delhi: University of Calcuta Ajidarma, Seno Gumira. 2000. Wisanggeni Sang Buronan. Yogyakarta : Bentang Pendit, Nyoman S. 2003. Mahabharata. Jakarta : Gramedia

11