Anda di halaman 1dari 24

PERCOBAAN VII : Reaksi Reaksi Aldehid dan Keton.

. : Pada akhir percobaan ini mahasiswa harus paham mengenai: a. Azas azas reaksi dari senyawa karbonil. b. Perbedaan antara reaksi aldehid dan keton. c. Jenis jenis pengujian kimia sederhana yang dapat membedakan aldehid dan keton. Hari/Tanggal : Selasa / 14 Desember 2010. Tempat : Laboratorium Kimia FKIP UNLAM Banjarmasin.

Judul Tujuan

I. DASAR TEORI Aldehid dan keton, keduanya mempunyai gugus yang sama yaitu gugus karbonil, C = O. Oleh karena itu sifat reaksi umumnya sama, terhadap sifat karbonil. Biasanya, aldehid bereaksi lebih cepat daripada keton terhadap suatu pereaksi yang sama. Hal ini disebabkan oleh karena atom karbon karbonil dari aldehid kurang terlindung dibandingkan keton. Begitu pula aldehid lebih mudah teroksidasi daripada keton. Dalam percobaan ini akan diperiksa, persamaan dan perbedaan dari reaksi aldehid dan keton. Aldehid sangat mudah menjalani oksidasi menjadi asam karboksilat yang mengandung jumlah atom karbon yang sama banyaknya. Sedangkan keton tidak menjalankan reaksi yang serupa, karena dalam oksidasi terjadi pemutusan ikatan karbon karbon yang menghasilkan 2 asam karboksilat dengan jumlah karbon yang masing-masing lebih sedikit daripada keton semula ( keton siklik akan menghasilkan suatu asam karboksilat ). O || RCH Aldehida O || R C OH Asam Karboksilat

Oksidasi

O O || || R C CH2 R` R C OH + Keton Asam

O || HO C R` Asam

Perbedaan kereaktifan tehadap oksidator antara aldehid dan keton dapat digunakan untuk membedakan kedua senyawa tersebut. Pereaksi Tollen's, yaitu larutan ion Perak beramonia, direduksi oleh aldehid menjadi logam perak, sedangkan aldehid dioksidasi menjadi asam yang bersangkutan. Keton tidak dioksidasi oleh pereaksi ini.

2 Ag(NH3)2+ -OH Ag2O + 4 NH3 + H2O


Pereaksi Tollens O O || || + R C O +NH4 + 2 Ag + R C H + 2 Ag(NH3)2 OH 3 NH3 + H2O Keton Asam Asam Bila pengujian dilakukan dengan menggunakan pereaksi yang encer, dan di dalam tabung reaksi yang besih, perak akan mengendap berupa cermin pada dinding tabung. Oksidasi bisa juga dilakukan dengan ion Cu (II) di dalam larutan alkali. Agar supaya tembaga tidak mengendap sebagai hidroksid, ia ubah menjadi ion kompleks dengan tartarat (pereaksi Fehling) atau dengan sitrat (Pereaksi Benedict). Aldehid akan mereduksi tembaga, biasanya larutan yang berwarna biru akan berubah menjadi hijau dan lambat laun terjadi endapan Cu(II) oksida, Cu 2O, yang berwarna merah bata. Keton yang sederhana tidak akan terjadi reaksi ini walaupun beberapa hidroksi keton dan karbohidrat akan bereaksi. O || R C H + 2 Cu2+ + 5 OHO || R C O` + Cu2O + H2O Merah Bata

tatrat sitrat

Atom Hidrogen yang terikat pada atom karbon karbonil yang disebut atom karbon alfa adalah bersifat asam lemah. Hal ini disebabkan karena muatan dari anion enolat dapat diserahkan ke atom Oksigen yang elektronegatif. H O | || C C R + R+ | O | || BH + C C R | O| C=CR] | C Anion Etanoat

Atom Hidrogen alfa mudah diganti oleh halogen di dalam larutan basa. Reaksi ini didasarkan kepada reaksi yang cepat antara ion enolat dengan halogen. Oleh Karena pengaruh tarikan elektron dari halogen, maka atom H yang masih ada pada C alfa akan lebih asam dan lebih mudah di tukar dengan halogen. Oleh karena itu gugus metril yang terikat pada atom karbon karbonil mudah sekali diubah menjadi senyawa trihalometil oleh halogen dan basa. O || R C CH3 + I I + 3 OHO || R C CH3 + 3 H2O + 3 I-

Senyawa trihalo yang dihasilkan mudah sekali diuraikan oleh basa menghasilkan haloform, CHX3. Biasanya reaksi ini digunakan untuk menunjukkan adanya metil keton, CO CH3 dan juga untuk gugus CH(OH) CH3 karena mudah dioksidasi (I2 sebagai oksidator). Pereaksinya adalah I2 dalam basa dihasilkan iodoform yang baunya khas kuning dan berbentuk kristal.

II. Alat dan Bahan A. Alat-alat yang digunakan : 1. Tabung reaksi besar 2. Tabung reaksi kecil 3. Rak tabung reaksi 4. Termometer : 2 buah : 8 buah : 2buah : 2 buah

5. Penangas air 6. Gelas kimia 500 mL 7. Thermoline 8. Gelas kimia 250 mL 9. Batang pengaduk 10. Gelas ukur 10 mL 11. Hot plate 12. Pipet tetes B. Bahan-bahan yang digunakan : 1. Aseton 2. Larutan NaOH 5 % dan 10 % 3. Larutan AgNO3 5 % 4. Larutan NH4OH 2 % 5. Formalin 6. Larutan Iodium Iodida 7. Sikloheksanon 8. Benzaldehid

: 1 buah : 1 buah : 1 buah : 4 buah : 2 buah : 5 buah : 1 buah : 5 buah

III. Prosedur Kerja 1. Uji cermin pereaksi Tollens a. Membuat pereaksi Tollens dengan menambahkan 2 mL larutan AgNO3 5 % ke dalam tabung reaksi dan menambahkan 2 tetes larutan NaOH 5% lalu menambahkan setetes demi setetes sambil mengaduk larutan amonia pekat. b. Menyiapkan 4 tabung reaksi berisi pereaksi Tollens c. Menguji larutan benzaldehid, aseton, sikloheksanon dan formaldehida dengan jalan menambahkan masing-masing dua tetes bahan tersebut ke dalam tabung uji d. Mengaduk campuran e. Mendiamkan selama 10 menit, bila reaksi tidak terjadi, memanaskan tabung dalam penangas air selama 5 menit dan mengamati yang terjadi

2. Uji Fehling a. Menambahkan 5 mL pereaksi Fehling pada empat tabung reaksi b. Menambahkan 5 tetes bahan yang akan diuji c. Menempatkan tabung reaksi dalam air mendidih selama 10-15 menit d. Menguji formaldehida, aseton dan sikloheksanon 3. Reaksi Haloform a. Menambahkan 5 tetes aseton pada 3 mL NaOH 5 % dalam tabung reaksi b. Menambahkan 10 mL larutan Iodium Iodida sambil mengguncangguncang sampai warna coklat tidak hilang lagi. IV. Hasil Pengamatan Uji cermin perak, Tollens No Perlakuan Hasil Pengamatan - Larutan bening

1. - 2 ml AgNO3(aq) 5 % NaOH 5 % 2.

- Menambahkan 2 tetes larutan - Larutan keruh dan timbul endapan

Menambahkan tetes demi tetes - V NH3 = 2,5 mL sambil mengaduk larutan NH3 - Larutan berwarna silver pekat secukupnya

3. - Pereaksi Tollens (2 mL AgNO3 5 % + 2 tetes larutan NaOH 5 % + NH3 pekat) sebanyak 1 mL + 2 tetes benzaldehid - Dipanaskan selama 5 menit

-Larutan berwarna putih susu dan terbentuk endapan

- Terbentuk cermin perak

4. - Pereaksi Tollens 1 mL + 2 tetes - Larutan bening aseton - Dipanaskan selama 5 menit - Terbentuk cermin perak 5. - Pereaksi Tollens 1 mL + 2 tetes - Larutan berwarna kuning sikloheksanon - Dipanaskan selama 5 menit - Terbentuk cermin perak

6. Pereaksi Tollens 1 mL + 2 tetes Terbentuk cermin perak formaldehid Uji Fehling No 1. Tabung I - 5 mL Fehling + formaldehid - Warna Fehling biru malam, larutan sebanyak 5 tetes terpisah menjadi 2 lapisan. Lapisan atas bening dan terdapat gelembung sedangkan lapisan bawah berwarna biru tua - Memanaskan - Larutan berubah menjadi bening dan terdapat endapan merah bata di bawah 2. Tabung II - 5 mL Fehling + aseton sebanyak - Warna Fehling biru malam, larutan 5 tetes terpisah menjadi 2 lapisan. lapisan atas berwarna biru tua - Memanaskan - Larutan tetap terpisah menjadi 2 lapisan 3. Tabung III - 5 mL Fehling + sikloheksanon - Warna Fehling biru malam, larutan sebanyak 5 tetes terpisah menjadi 2 lapisan. lapisan atas bening - Memanaskan - Larutan tetap terpisah menjadi 2 lapisan Reaksi Haloform No Perlakuan Hasil Pengamatan Perlakuan Hasil Pengamatan

1.

- 5 tetes aseton + 2 mL NaOH - Larutan bening 5% -Larutan bening + larutan - Larutan berwarna coklat kemerahan

Iodium Iodida - Mengocok - Terdapat endapan kuning dan bau menyengat

V. ANALISIS DATA Percobaan kali ini dilakukan untuk memeriksa persamaan dan perbedaan dari reaksi aldehid dan keton dengan menggunakan pereaksi Tollens dan pereaksi fehling serta reaksi haloform pada aseton. 1. Uji Cermin Perak, Tollens Keton tidak mudah dioksidasi, tetapi aldehid sangat mudah teroksidasi menjadi asam karboksilat. Hampir setiap reagensia yang mengoksidasi suatu alkohol juga mengoksidasi aldehid. Disamping oksidasi oleh permanganat dan dikromat, aldehid dapat dioksidasi oleh zat pengoksid yang sangat lembut, seperti Ag+ atau Cu2+, reagensia Tollens (suatu larutan basa dari ion kompleks perakamonia) digunakan sebagai reagensia uji untuk aldehid. Aldehid itu dioksidasi menjadi anion karboksilat, ion Ag+ dalam reagensia Tollens direduksi menjadi logam Ag. Uji positif ditandai oleh terbentuknya cermin perak pada dinding dalam tabung reaksi. Reaksinya :

2AgNO3(aq) + 2NaOH(aq) Ag2O + 4NH3 + H2O

Ag2O(aq) + 2NaNO3(aq) + H2O(l) 2Ag(NH3)2 + + OH-

Reaktifitas relatifitas aldehid dan keton dalam reaksi adisi sebagian dapat disebabkan oleh banyaknya karbon positif pada karbon karbonil. Makin besar muatan karbonil ini akan semakin reaktif. Bila muatan positif ini tersebar ke seluruh molekul maka senyawa karbonil itu lebih stabil dan kurang reaktif. Gugus karbonil distabilkan oleh gugus alkil didekatnya yang bersifat melepas elektron.

O RCR

O RCH

O H-CH

Naiknya reaktifitas Pada percobaan pertama, pada saat formaldehid direaksikan dengan pereaksi Tollens menghasilkan larutan bening, dan setelah didiamkan pada dinding tabung terbentuk cermin perak (endapan). Hal ini terjadi karena aldehid dapat mereduksi larutan perak amoniak (larutan AgNO3 dalam larutan NH3 berlebih)., pereaksi perak amoniak ini yang disebut pereaksi Tollens. Dan juga karena formaldehid tanpa gugus alkil adalah paling reaktif diantara aldehid dan keton. Formaldehid mempunyai 2 atom H yang terikat langsung pada atom C karbonil, sehingga mampu mereduksi pereaksi Tollens. Reaksi :
O H O H + 2Ag(NH3)2+ -OH H

O+ -NH4

+ 2Ag + 3NH3 + H2O

formaldehid

Tollen's

Pada percobaan kedua, pada saat benzaldehid direaksikan dengan pereaksi Tollens menghasilkan larutan berwarna putih susu dan endapan coklat dibawahnya. Ini membuktikan benzaldehid mampu mereduksi pereaksi Tollens. Setelah dipanaskan terbentuk cermin perak pada dasar tabung. Reaksi :
O C H + 2Ag(NH3)2+ -OH O C O + 2Ag + 3NH3 + H2O

Benzaldehid

Pada percobaan ketiga, pada saat aseton direaksikan dengan pereaksi Tollens, dari hasi pengamatan terbentuk cermin perak. Hal ini terjadi karena kesalahan praktikan, kekurang telitian dalam hasil pengamatan. Aseton tidak reaktif dengan pereaksi Tollens karena pada aseton tidak memiliki atom H yang terikat langsung pada atom karbon karbonilnya. Reaksi :

O C H3C

+ 2Ag(NH3)2+ -OH
CH3

aseton

Pada percoabaan keempat, pada saat sikloheksanon direaksikan dengan larutan Tollens terbentuk cermin perak. Seharusnya tidak ada reaksi. Sama halnya dengan aseton, sikloheksanon tidak reaktif dengan pereaksi Tollens karena pada sikloheksanon tidak memiliki atom H yang terikat langsung pada atom karbon karbonilnya. Ini juga karena kesalahan praktikan, kekurang telitian dalam hasil pengamatan. Reaksi :
O

+ 2Ag(NH3)2+ -OH

2.

Uji Fehling Oksidasi juga bisa dilakukan dengan ion Cu (II) di dalam larutan alkali.

Supaya tembaga tidak mengendap sebagai hidroksid, ia diubah menjadi ion kompleks dengan tartarat yang disebut pereaksi fehling. Pereaksi fehling terdiri atas fehling A yang terdiri dari CuSO4 dalam air, H2SO4 dan fehling B yang terdiri dari Kalium Natrium tartarat, KOH dalam air, berupa larutan yang berwarna biru tua. Dalam pereaksi fehling ini, terdapat ion Cu2+ sebagai ion kompleks. Pada pengujian pereaksi fehling terhadap formaldehid terbentuk endapan berwarna merah bata. Ini berarti formaldehid dapat bereaksi dengan pereaksi fehling. Dimana formaldehid dapat dioksidasi oleh ion Cu2+ dalam pereaksi fehling, karena formaldehid mempunyai atom hidrogen yang terikat langsung pada karbon karbonilnya. Formaldehid dalam pereaksi fehling akan mereduksi tembaga, sehingga terbentuk endapan Cu2O yang berwarna merah bata. Reaksi :

O C H H

+ 2 C u 2+

OH H

C O-

C u 2O

H 2O

F o r m a l d eh i d Pada percobaan kedua, aseton dan sikloheksanon direaksikan dengan pereaksi fehling tidak terbentuk endapan hanya terdapat larutan yang terpisah menjadi dua lapisan. Hal ini karena aseton dan sikloheksanon tidak mempunyai atom H yang terikat langsung pada atom C karbonilnya sehingga tidak mengalami oksidasi. Aseton dan sikloheksanon dalam pereaksi fehling tidak dapat mereduksi ion tembaga, sehingga tidak terbentuk endapan. Reaksi :
O C H3 C CH3

+ 2Cu2+ +

OH-

+ 2Cu2+ + 5OH-

Aldehid dapat dioksidasi oleh pereaksi fehling dan terbentuk endapan Cu2O yang berwarna merah bata. Sedangkan keton tidak mengalami oksidasi oleh pereaksi fehling. Sehingga pengujian dengan pereaksi fehling dapat dilakukan untuk membedakan antara aldehid dan keton. 3. Reaksi Haloform Halogenasi alfa merupakan dasar suatu uji kimia, yang disebut iodoform, untuk metil keton. Gugus metil dari suatu metil keton diiodinasi bertahap sampai terbentuk iodoform (CHI3) padat berwarna kuning. Uji iodoform :
O CCH3 + 3I2 O

OH-, H2O

CO-

CHI3 Iodoform kristal kuning

Sikloheksil metil keton

ion sikloheksil karboksilat

Pada percobaan pertama, aseton yang ditambahkan NaOH dan iodium iodida sedikit demi sedikit yang menghasilkan endapan berwarna kuning dan

menimbulkan bau seperti bau yang sangat menyengat. Endapan berwarna kuning ini merupakan iodoform (suatu haloform) yang menandakan aseton dan iodium iodida beraksi dengan bantuan NaOH yang berperan menjaga agar campuran dalam keadaan basa. Karena dalam keadaan basa atom hidrogen alfa akan mudah digantikan oleh halogen. Karena pengaruh tarikan elektron dari iod (halogen), maka atom H yang masih ada pada karbon alfa menjadi lebih asam, sehingga lebih mudah ditukar dengan halogen itu. Reaksi :
O H3C O
CH3 + I2 + 3OH

H3C

CI3 + 3H2O + 3I-

Gugus metil yang terikat pada atom C karbonil pada aseton diubah menjadi senyawa triiodometil (trihalometil) oleh iod (halogen) dan basa. Kemudian senyawa ini diuraikan oleh basa menghasilkan iodoform yang berupa padatan/endapan berwarna kuning. Reaksi pembentukan haloform ini untuk menunjukkan adanya metil keton, karena mudah dioksidasi oleh I2.

VI. KESIMPULAN 1. Untuk membedakan anatara aldehid dan keton dapat dilakukan pengujian dengan perakasi Tollens dan pengujian dengan pereaksi fehling. 2. Perbedaan reaksi antara aldehid dan keton :
-

Aldehid lebih cepat bereaksi dibandingkan keton terhadap pereaksi yang sama.

Aldehid sangat mudah dioksidasi, sedangkan keton tidak mengalami oksidasi.

3. Uji cermin perak, Tollens merupakan reaksi identifikasi aldehid dalam suatu senyawa karbon. 4. Uji Fehling digunakan untuk membedakan golongan aldehid dan keton, dimana aldehid terjadi reaksi positif (membentuk endaoan Cu2O, merah bata), sedangkan keton tidak terjadi reaksi.

5. Pada reaksi haloform terbentuk haloform yang baunya khas. Reaksi ini digunakan untuk menunjukkan adanya metil keton (CO-CH3) dan juga gugus CH(OH)-CH3 karena mudah dioksidasi. Uji ini postif apabila terdapat endapan kuning (CHI3) jika direaksikan dengan I2.

VII. DAFTAR PUSTAKA


Fessenden and Fessenden. 1991. Kimia Organik Jilid I. Jakarta: Erlangga. Fessenden and Fessenden. 1999. Kimia Organik Jilid II. Jakarta: Erlangga. Matsjeh, S. 1992. Kimia Organik Dasar 1. Yogyakarta : UGM-Press. Syahmani dan Rilia Iriani. 2010. Petunjuk Praktikum Kimia Organik. Banjarmasin : FKIP Unlam.

VIII. LAMPIRAN Jawaban Pertanyaan Prapraktek


1. Struktur umum aldehid dan keton adalah : a) Aldehida O || RCH b) Keton O || R C R`

2. Aldehid sangat mudah menjalani oksidasi menjadi asam karboksilat yang mengandung jumlah atom karbon yang sama banyaknya sedangkan keton tidak menjalankan reaksi yang serupa karena dalam oksidasi terjadi pemutusan ikatan karbon karbon menghasilkan 2 asam karboksilat dengan jumlah karbon yang masing masing sedikit dari keton semula ( keton siklik akan menghasilkan suatu asam bikarboksilat ). Aldehid dapat dioksidasi oleh zat pengoksida yang sangat lembut seperti Ag+ dalam pereaksi Tollens dan Cu2+ dalam pereaksi Benedict dan Fehling. Uji positif pereaksi Tollens ditandai oleh terbentuknya cermin perak sedangkan uji positif pereaksi Benedict dan Fehling ditandai oleh terbentuknya endapan merah bata dari Cu2O. 3. Suatu reaksi kondensasi adalah reaksi dimana 2 molekul atau lebih bergabung menjadi 1 molekul yang lebih besar dengan atau tanpa adanya suatu molekul kecil. Kondensasi aldol merupakan suatu reaksi adisi dimana tidak dilepaskan suatu molekul kecil dan dapat terjadi dengan syarat kedua molekul yang bergabung harus sama-sama memiliki Hidrogen alfa. Proses pertama dari

reaksi ini adalah pembentukkan ion enolat dalam konsentrasi rendah. Ion enolat akan bereaksi dengan suatu molekul aldehid yang lain dengan cara mengadisi pada karbon karbonil untuk membentuk suatu ion alkoksida yang kemudian merebut sebuah proton dari dalam air untuk menghasilkan aldol itu sendiri. Jawaban Pertanyaan Pascapraktek 1. Persamaan Reaksi a) Reaksi Tollens dengan Formaldehid adalah : O O || || + H C O +NH4 + 2 Ag + H C H + 2 Ag(NH3)2 OH 3 NH3 + H2O b) Reaksi Ketonfehling dengan heptaldehida Asam O || CH3(CH2)5 C H + 2 Cu2+ + 5 OHAsam O || CH3(CH2)5 C O+ Cu2O + 3 H2O c) Pembuatan senyawa adisi aseton-bisulfit O || CH3 C CH3 + HSO3Na OH | CH3 C SO3Na+ | H

d) Pembuatan benzaldehida fenilhidrazon O || CH + H3N NHC6H5 O || C H3N

NHC6H5 + Cu2O + 3H2O

e) Pembuatan sikloheksanol-oksim

= O + HONH2

= NOH + H2O

f) Pengujian iodoform terhadap 2-pentanon O ||


OH , H 2 O CH3(CH2)2 C CH3 + 3 I2

O || CH3(CH2)2 C O- + 3 CHI3

2-pentanon

2. Mekanisme reaksi kondensasi aldol silang dari aseton dengan benzaldehida

O O O || || || C6H5 CH=CH C CH3 + H2O C6H5 C H + CH3 C CH3 Dibenzalaseton

3. Pengujian Iodoform dapat dilakukan untuk membedakan methanol dari etanol. Hal itu dikarenakan iod merupakan zat pengoksidasi lembut sehingga senyawa apa saja yang dioksidasi menjadi suatu senyawa karbonil metil juga akan menunjukkan uji positif. Reaksi uji Iodoform pada etanol akan menunjukkan uji positif karena adanya gugus metil keton yang dapat diodinasi sampai terbentuk Iodoform padat berwarna kuning. Sedangkan uji pada methanol akan uji negatif karena tidak adanya gugus metil yang dapat diiodinasi.

Reaksinya adalah: O || HCH

CH3OH

I2 OH

(uji negatif)

CH3CH2OH

I2 OH

O || CH3 C H

O || H C O- + CHI3

Uji Iodoform juga dapat digunakan untuk membedakan isopropanol dai nbutanol dimana uji positif akan ditunjukkan pada pengujian isopropanol dan uji negatif pada n-butanol. Reaksinya adalah : CH3 | CH3 CH OH isopropanol O || CH3 C CH3 O || CH3 C O- + CHI3 ion asetat iodoform

I2 OH

I2 OH

CH3(CH2)2CH2 OH n-butanol

I2 OH

O || CH3(CH2)2 C H

(uji negatif)

4. Peranan natrium dari pembuatan oksim adalah sebagai katalis agar terjadi pengendapan

FLOW CHART

1. Uji Cermin Perak a) Membuat pereaksi Tollens 2 m L AgNO3 5% + 2 tetes NaOH 5% + NH3 pekat secukupnya

- Memasukkan ke dalam tabung reaksi


yang bersih sekali - mengaduk Larutan pereaksi Tollens (keruh) NB: Pengujian akan gagal kalau terlalu banyak menambahkan NH3 b) Pengujian 2 tetes benzaldehid + larutan pereaksi Tollens

- Memasukkan ke dalam tabung reaksi - Mengaduk campuran - Mendiamkan


Larutan keruh dengan 2 lapisan

- Memanaskan tabung dalam penangas


air selama 2 menit - Mengamati yang terjadi Terbentuk cermin

2 tetes aseton + larutan pereaksi Tollens

- Memasukkan ke dalam tabung reaksi - Mengaduk campuran - Mendiamkan


Larutan keruh dengan 2 lapisan

- Memanaskan tabung dalam penangas


air selama5 menit - Mengamati yang terjadi Tidak terbentuk cermin

2 tetes sikloheksanon + larutan pereaksi Tollens Tidak terbentuk cermin

- Memasukkan ke dalam tabung reaksi - Mengaduk campuran - Mendiamkan selama 10 menit


Larutan keruh dengan 2 lapisan

- Memanaskan tabung dalam penangas


air selama 5 menit - Mengamati yang terjadi Terbentuk cermin

2 tetes formaldehid + larutan pereaksi Tollens

- Memasukkan ke dalam tabung reaksi - Mengaduk campuran


Terbentuk cermin

2. Uji Fehling a) Membuat pereaksi fehling 1,739 gram CuSO4 + 25 mL air suling + H2SO4

- Memasukkan ke dalam Erlenmeyer - Melarutkan


Larutan pereaksi fehling A

3,85 gram KOH + 8,75 gram K-Na Tartarat + 25 mL air suling

- Memasukkan ke dalam Erlenmeyer - Melarutkan


Larutan pereaksi fehling B NB: Mencampurkan fehling A dan fehling B dengan volume yang sama banyak. b) Pengujian 5 mL pereaksi Fehling + 5 tetes formaldehid

- Memasukkan ke dalam tabung reaksi - Menempatkan tabung reaksi dalam air


mendidih selama 10-15 menit

Larutan merah bata + endapan merah bata

5 mL pereaksi Fehling + 5 tetes aseton

- Memasukkan ke dalam tabung reaksi - Menempatkan tabung reaksi dalam air


mendidih selama 10-15 menit

Larutan biru + endapan merah

5 mL pereaksi Fehling + 5 tetes sikloheksanon

- Memasukkan ke dalam tabung reaksi - Menempatkan tabung reaksi dalam air


mendidih selama 10-15 menit

Larutan biru + endapan merah

3. Adisi Bikarbonat 5 mL NaHCO3 jenuh

- Memasukkan ke dalam Erlenmeyer 50 mL - Mendinginkan larutan dalam air es


Larutan + 2,5 mL aseton

- Menambahkan tetes demi tetes - Mengaduk selama 5 menit


Larutan + 10 mL etanol

- Mengkristalisasi
Larutan + kristal

Kristal + beberapa tetes HCl pekat

Filtrat

- Mengamati yang terjadi


Kristal

4. Pengujian dengan Fenilhidrazin 5 mL fenilhidrazin + 10 tetes benzaldehid

- Memasukkan dalam tabung reaksi - Menutup tabung reaksi - Menggoncangkan dengan kuat selama 1-2
menit hingga mengkristal Larutan + kristal

Kristal + beberapa tetes HCl pekat

Filtrat

- Mencuci dengan sedikit air dingin - Merekristalisasi dengan sedikit


metanol dan etanol - mengeringkan Kristal

5 mL fenilhidrazin + 10 tetes sikloheksanon

- Memasukkan ke dalam tabung reaksi - Menggoncangkan dengan kuat selama 1-2


menit Tidak terbentuk kristal

5. Reaksi Haloform 5 tetes aseton + 3 mL NaOH 5% + 10 mL larutan iodium iodida

- Memasukkan ke dalam tabung reaksi - Menggoncang-goncangkan sampai warna


coklat tidak hilang lagi Larutan coklat + endapan kuning 6. Kondensasi aldol 10 mL etanol, + 1 mL aseton + 2 mL benzaldehid + 5 mL NaOH 5%

- Menempatkan dalam labu 50 mL - Merefluks campuran selama 5 menit


Campuran merah tua

- Mendinginkan labu
Larutan + kristal

- Mengumpulkan Kristal dengan corong Buchner

Kristal

Filtrat

- Merekristalisasi dengan etanol - Menentukan titik leleh


Kristal

Anda mungkin juga menyukai