Anda di halaman 1dari 13

BAGIAN ILMU BEDAH FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

JURNAL READING MEI 2013

Proctitis and anusitis David E Stein, Sarosh N Zafar, Elisa A Stein,

DISUSUN OLEH: I Gusti Putu Agung Pratama Putra C 111 08 133 PEMBIMBING: dr. Adi Sastrawijaya SUPERVISOR: dr. Sulaihi, Sp.B-KBD

DIBUAT DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK PADA BAGIAN ILMU BEDAH FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013

1.

LATAR BELAKANG Peradangan pada lapisan mukosa rektum didefinisikan sebagai proktitis, sedangkan

anusitis hanyalah inflamasi pada anus. Inflamasi di area-area tersebut dapat menyebabkan gejala seperti gatal, rasa terbakar, perdarahan rektum, tekanan pelvis, dan kotoran berbau busuk. Perbedaan antara proktitis dan anusitis tidak terlalu relevan, karena etiologi dan pengobatan anusitis dan proktitis serupa. Terdapat beberapa etiologi yang berbeda, termasuk inflammatory bowel disease (IBD), infeksi organisme (misalnya, gonore, Salmonella, Shigella), penyebab non-infeksius (misalnya, radiasi, iskemik, diversi), dan penyebab idiopatik. Artikel ini mengelompokkan etiologi-etiologi tersebut menjadi 3 kategori, sebagai berikut: IBD, proktitis infeksius, dan proktitis non-infeksius. Untuk tujuan artikel ini, istilah proktitis akan digunakan untuk menyertakan anusitis. 2. MASALAH

Sebagaimana yang disebutkan di atas, proktitis mengacu pada peradangan lapisan epitel pada rektum dan anus. Proktitis dapat terjadi baik dalam pengaturan akut maupun kronis dan dapat menyebabkan keluhan anorektal yang signifikan. Penanganannya secara umum adalah nonbedah. Namun, dalam kasus-kasus tertentu, diindikasikan untuk pembedahan. 3. EPIDEMIOLOGI

Frekuensi Belum ada penelitian epidemiologis yang telah dilakukan untuk memastikan prevalensi proktitis pada populasi umum. Namun, seseorang dapat memastikan insiden proktitis ketika menganalisis keadaan penyakit tertentu. Sebagai contoh, pasien dengan kolitis ulseratif mungkin awalnya mengalami dengan proktitis. Selain itu, pasien yang mendapatkan terapi radiasi (misalnya, serviks, prostat, rektal) memiliki kesempatan 1-2% untuk terjadinya proktitis radiasi kronis. Persentase ini berhubungan dengan dosis radiasi yang diterima.

4.

ETIOLOGI

Artikel ini membagi etiologi menjadi 3 kategori berikut: Proktitis disebabkan radang usus (misalnya, kolitis ulseratif, penyakit Crohn) Penyebab infeksius, seperti Clostridium difficile dan Salmonela sp. (Dalam kebanyakan kasus, inflamasi rektum yang disebabkan oleh infeksi peradangan cenderung menyebabkan inflamasi pada kolon juga.) Proktitis dikarenakan kondisi jinak, seperti diversi, iskemia, dan proktitis radiasi

5.

PATOFISIOLOGI

Patofisiologi tergantung pada berbagai etiologi dan tidak sepenuhnya dipahami. Selain itu, beberapa pasien tampaknya lebih rentan terhadap kondisi peradangan ini. Patofisiologi proktitis di IBD diyakini disebabkan oleh proses autoimun, meskipun belum diperoleh antigen spesifik. Etiologi infeksius mungkin berhubungan dengan organisme itu sendiri atau toksin yang dihasilkan oleh organisme. Proktitis radiasi mungkin karena cedera selular sekunder akibat iskemia dari radiasi. Proktitis diversi diduga disebabkan oleh defisiensi asam lemak rantai pendek. Proktitis iskemik mungkin karena oklusi vena mesenterika, operasi aortoiliaka, radioterapi, intervensi vaskular, penyakit aterosklerosis, atau penggunaan obat (misalnya, kokain). Semua dari 3 kategori tersebut (yaitu, IBD, infeksius, non-infeksius) mengakibatkan respon inflamasi yang tidak terkendali, dengan sel-sel inflamasi menjadi produk yang memediasi cedera jaringan selular. 6. MANIFESTASI KLINIS

Seorang pasien dengan proktitis dapat hadir dengan beberapa gejala dan atau tanda-tanda berikut ini: Perdarahan rektum cenderung berwarna merah terang dan persisten tetapi jarang parah. Perdarahan bisa berlangsung selama beberapa minggu atau lebih. Perubahan pada kebiasaan buang air besar cenderung terjadi, biasanya dengan penurunan volume dan peningkatan konten mukoid. Pasien akan mengeluh diare ringan dengan banyak lendir. Diare ringan adalah keluhan yang paling umum. Pasien dapat melaporkan tenesmus atau urgensi fekal.
3

Diare berat umumnya jarang terjadi. Konstipasi dapat terjadi jika peradangan parah. Pasien juga dapat mengeluh kram abdominal. Hal ini disebabkan oleh inflamasi pada pelvis. Bila melakukan anamnesis pasien, pertanyaan harus mencakup riwayat IBD, radiasi

panggul, riwayat perjalanan, dan riwayat seksual (termasuk pertanyaan mengenai seks anal). Status HIV pasien juga penting untuk dicatat. Anamnesis juga harus mencakup daftar obat yang digunakan (misalnya, NSAIDs, antibiotik). Riwayat IBD atau penyakit gastrointestinal lain dalam keluarga juga sangat penting untuk ditanyakan. Sebuah tinjauan sistematik dibutuhkan untuk meninjau setiap gejala sistemik yang dapat berhubungan dengan proktitis, seperti IBD dan gangguan kolagen vaskular. Selain itu, mengidentifikasi pasien yang mengalami gangguan sistem imun juga penting, karena beberapa infeksi (misalnya, cytomegalovirus, cryptosporidiosis) yang dapat menyebabkan proktitis hanya mempengaruhi pasien dengan gangguan sistem imun. Penemuan pada pemeriksaan fisik mungkin tidak bermakna. Nyeri tekan abdomen dapat terlihat pada IBD, colitis yang infeksius, dan proktitis iskemik. Pemeriksaan colok dubur tidak dapat dilakukan karena nyeri tekan. Jika hal ini terjadi dan harus diperiksa, diperlukan tindakan di bawah pengaruh anestesi. 7. INDIKASI PENGOBATAN Indikasi untuk terapi bervariasi sesuai dengan etiologi dari proktitis. Sebagai contoh, pada pasien dengan IBD, kolonoskopi harus dilakukan untuk mengetahui sejauh mana peradangan yang terjadi. Banyak pasien dengan IBD yang hadir dengan proktitis dapat berkembang menjadi kolitis sisi kiri dan mungkin pankolitis. Manajemen lini pertama untuk pasien-pasien ini adalah terapi medis, yang akan dibahas di bawah. Pembedahan diindikasikan untuk terapi medis yang gagal, dan displasia yang terlihat pada spesimen biopsi, dan adanya kanker. Pembedahan jarang diindikasikan untuk proktitis akibat infeksi. Tujuan terapi adalah untuk mengobati infeksi yang menyebabkan peradangan. Dalam kasus yang jarang, sepsis mungkin memerlukan reseksi bedah sebagai manuver untuk menyelamatkan jiwa.

Yang terakhir, indikasi untuk pengobatan proktitis seperti radiasi atau diversi juga didasarkan pada gejala. Perdarahan rektum dan diare persisten memerlukan pemeriksaan, termasuk proktoskopi rigid dan atau kolonoskopi. 8. ANATOMI Penting untuk menyadari bahwa sebagian besar proses inflamasi pada rektum juga melibatkan anus dan kolon yang berada dekat rektum. Kontroversi tetap ada mengenai anatomi rektum dan anus. Beberapa pihak mengatakan bahwa rektum dimulai pada tingkat vertebra sakralis ketiga, sedangkan yang lain menganggap awal dari rektum berada di promontorium sakralis. Daerah dimana rektum berakhir juga diperdebatkan. Sementara beberapa orang mengatakan bahwa rektum berakhir ketika melewati muskulus levator ani, sebagian besar setuju bahwa transisi rektum ke anus ada pada titik dimana sel epitel berubah dari sel kolumnar menjadi sel skuamosa. World Health Organization (WHO) dan American Joint Cancer Cmmittee

mendefinisikan kanalis anus sebagai bagian distal saluran pencernaan yang cocok dengan sfingter anal internal. Dalam proktitis dan anusitis, anatomi tidak mempengaruhi terapi, karena terdapat tumpang tindih signifikan antara radang anorektal dan peradangan rektosigmoid. 9. PEMERIKSAAN LABORATORIUM Secara umum, untuk semua pasien yang didiagnosis dengan proktitis, dilakukan kultur feses, analisis ova dan parasit, dan hapusan feses. Jika dicurigai kolitis Clostridium difficile, maka perlu untuk mendapatkan dan mengirim pemeriksaan toksin Clostridium difficile minimal 3 kali. Mengirim pengumpulan dan kultur sesuai dengan spesifikasi laboratorium adalah hal yang penting karena dapat hasil yang didaptkan dari kultur bervariasi tergantung pada rumah sakit. Pada pasien dengan risiko proktitis gonokokal, ambil dan kirimkan hapusan anorektal. Jika pasien mengalami gangguan sistem imun, lakukan kultur jamur dan virus. (ingat, infeksi jamur dan virus anorektal jarang terjadi pada populasi tanpa gangguan sistem imun). Pada Entamoeba histolytica yang didiagnosis dengan menemukan amuba pada feses, hal yang dilakukan ialah kirim 3 sampel tinja. Selain itu, terdapat tes serologi, termasuk

hemaglutinasi indirek, elektroforesis indirek, dan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Mengenai proktitis pseudomembran atau kolitis akibat C difficile, feses untuk titer toksin C difficile harus dikumpulkan dan diperiksa dari setiap pasien dengan riwayat penggunaan antibiotik atau sedang menggunakan antibiotik saat ini. Pengambilan ini Harus dikirim 3 kali untuk memastikan hasil yang positif, karena banyak tes hanya memiliki sensitivitas 60%. 10. PEMERIKSAAN RADIOLOGI Umumnya, tidak ada pemeriksaan radiologi yang diperlukan jika inflamasi diketahui terbatas pada rektum dan anus. Namun, jika terdapat kemungkinan IBD (baik penyakit Crohn ataupun kolitis ulseratif) atau iskemia, maka diperlukan pemeriksaan radiologi lebih lanjut. Jika dicurigai penyakit Crohn, X-ray gastrointestinal bagian atas dengan kontras dapat menunjukkan penyakit ileum terminal dan striktur jejunal-ileum. CT Scan abdomen dan pelvis juga dapat menunjukkan fistel entero-enterika dan penebalan dinding usus yang konsisten dengan penyakit Crohn. Pada kolitis infeksius, jika pasien masuk ke rumah sakit, CT Scan dapat dilakukan, yang mana dapat menunjukkan peradangan dinding kolon dan rektal. Ini dapat membantu dalam menetapkan diagnosis. Pada proktitis iskemik, CT Scan abdomen dan pelvis dengan kontras oral atau intravena dapat dilakukan. Penemuan yang paling umum adalah penebalan bentuk dinding yang terikat pada rektum dan kolon sigmoid, yang terkait dengan mendendapnya lemak perirektal. 11. PROSEDUR DIAGNOSTIK Pemiilihan utama untuk Prosedur diagnostik pada pasien dengan proktitis dan anusitis adalah endoskopi, termasuk anoskopi, sigmoidoskopi (kaku atau fleksibel), dan kolonoskopi. Pemeriksaan-pemeriksaan ini memungkinkan pemeriksa untuk melihat mukosa anus dan rektum serta daerah di atas rektum ke sigmoid. Selain itu, biopsi jaringan dapat diambil dengan prosedur-prosedur ini. Perhatikan gambar di bawah ini.

Gambar 1. Proktitis yang terlihat pada endoskopi fleksibel Kolonoskopi penuh dianjurkan untuk pasien dengan proktitis, karena spesimen biopsi yang diperoleh dari sisi kanan kolon dapat menunjukkan tanda-tanda IBD, seperti metaplasia sel. 12. TEMUAN HISTOLOGIS Penemuan histologis biasanya konsisten dengan peradangan. Namun, penemuan histologis terinci yang menuju etiologi seringkali tidak memungkinkan. Inflamasi yang parah dapat merusak penemuan histopatologis spesifik dari penyakit-penyakit lain, seperti IBD atau C difficile. Mengenai etiologi infeksi, colitis diversi, atau proktitis radiasi, histologi inflamasi tidak bersifat patognomonik. Salah Satu pengecualian adalah kolitis CMV pada pasien dengan gangguan sistem imun. 13. TERAPI MEDIS Pengobatan medis proktitis tergantung pada etiologi. Jika idiopatik atau terkait dengan IBD, maka steroid, sulfasalazine, produk asam 5-aminosalisilat (5-ASA), dan bahkan obat imunosupresif dapat digunakan. Banyak dari produk-produk ini yang tersedia sebagai obat oral serta enema dan suposituria. Terapi kombinasi menggunakan kedua-duanya baik obat oral maupun obat topikal, seperti 5-ASA, telah terbukti lebih efektif daripada modalitas lain yang digunakan sebagai obat tunggal. Jika penyebabnya adalah infeksi, pengobatan ditargetkan terhadap patogen yang bertanggung jawab. Proktitis akibat infeksi Salmonella sp. biasanya dapat sembuh dengan sendirinya, dan penggunaaan antibiotik tidak diperlukan. Yang dibutuhkan oleh pasien adalah asupan cairan yang adekuat dan keseimbangan elektrolit serta perawatan suportif.
7

Proktitis Shigella biasanya dapat sembuh dengan sendirinya, tetapi durasinya dapat dipersingkat dengan penambahan antibiotik. Penggunaan Antibiotik selama 1 minggu dapat berupa ampisilin, tetrasiklin, ciprofloxacin, dan trimetoprim-sulfa (lebih disukai). Proktitis Yersinia juga dapat sembuh dengan sendirinya dan tidak boleh diobati dengan antibiotik kecuali terjadi septisemia sistemik; dalam kasus ini, antibiotik (misalnya, trimetoprim-sulfa, aminoglikosida, tetrasiklin, sefalosporin generasi ketiga) harus digunakan. Campylobacter sp. juga biasanya dapat sembuh sendiri. E histolytica umumnya diobati dengan metronidazol dan iodoquinol. C difficile umumnya diobati dengan metronidazol intravena atau oral, atau vankomisin oral. Mutasi C difficile yang lebih agresif yang terlihat, mungkin memiliki perjalanan yang lebih progresif menuju septisemia dan colitis toksik. Pada pasien yang nampaknya tidak respon terhadap metronidazole dan mengalami leukositosis (jumlah leukosit lebih dari 20.000/mL), terapi harus beralih ke vankomisin oral. Penghentian dari setiap antibiotik lainnya harus dilakukan jika situasi klinis memungkinkan. Pasien dengan kolonisasi C difficile memiliki kecenderungan untuk rekurensi, sehingga kapan saja mereka mendapatkan antibiotik, mereka harus menyadari kemungkinan diare. Pengobatan medis proktitis radiasi meliputi terapi oral dan terapi rektal. Obat oral termasuk 5-ASA dan metronidazole; terapi rektal termasuk 5-ASA, hidrokortison, sukralfat, dan formalin. Dalam hal penggunaan enema steroid, hidrokortison tampaknya lebih efektif dalam mengurangi gejala dan juga dalam menyembuhkan perdarahan rektum dibandingkan dengan steroid lainnya, seperti betametason. Sementara enema asam lemak rantai pendek, seperti butirat, memiliki beberapa manfaat yang terbukti dalam proktitis jenis lain, dan belum ada penelitian yang membuktikan efek menguntungkan pada proktitis akibat radiasi. Penelitian menunjukkan enema sukralfat menjadi terapi medis yang paling efektif untuk proktitis radiasi bila diberikan dua kali sehari selama 3 bulan. Laporan anekdotal juga menunjukkan beberapa efikasi untuk perawatan oksigen hiperbarik. Satu penelitian menunjukkan resolusi lengkap dari perdarahan refraktori akibat radiasi pada 7 dari 9 pasien, dengan resolusi parsial pada 2 pasien sisanya. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan potensi penuh dari modalitas terapi ini. Terapi oksigen hiperbarik juga telah muncul sebagai terapi potensial untuk proktitis radiasi karena kemampuannya untuk meningkatkan jumlah pembuluh darah pada jaringan yang terkena radiasi; namun penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk menentukan efikasi dari

modalitas terapi ini. Proktitis diversi yang simptomatik umumnya membaik setelah ostomy dilakukan dan kontinuitas usus dipulihkan. Dalam perjalanan proktitis jenis apapun, obat antispasmodik dapat membantu dalam mengurangi keluhan abdominal. Selain itu, terapi diet rendah residu dan pelunak feses dapat memberi manfaat karena rapuhnya mukosa rektal dan kerentanannya terhadap terjadinya kerusakan oleh isi feses. 14. TERAPI BEDAH Banyak faktor yang ikut bermain saat memutuskan kapan pembedahan harus dilakukan dan pembedahan didaerah mana yang harus dilakukan. Untuk sebagian besar kasus proktitis, perawatan medis sudah cukup memadai. Namun, untuk proses penyakit tertentu, perawatan bedah lebih memadai untuk dilakukan. Untuk pasien dengan kolitis ulseratif yang membutuhkan terapi pembedahan, proktokolektomi total harus dilakukan dan rekonstruksi dengan kantong ileum dapat menjadi pilihan. Pada pasien dengan kolitis Crohn parah atau proktitis yang parah, pilihan berkisar mulai dari diversi fekal, proktektomi, dan proktokolektomi total berdasarkan perluasan dari proses penyakit yang terjadi. Pada penyebab infeksius akibat proktitis, penanganan bedah jarang diperlukan. Dalam kasus kolitis C difficile yang parah, suatu kolektomi subtotal mungkin diperlukan. Untuk pasien dengan proktitis radiasi yang diperberat dengan pendarahan refraktori, terapi endoskopik tampaknya lebih efektif daripada terapi medis; terapi endoskopi juga menghasilkan lebih sedikit morbiditas dibandingkan terapi bedah. Secara khusus, argon plasma coagulation (APC) telah terbukti lebih unggul daripada formalin dan penanganan laser endoskopik. Terapi endoskopi lainnya seperti metode termal endoskopi, yang menghancurkan telangiektasia untuk menghentikan pendarahan. Jika, setelah tindakan medis dan endoskopi, perdarahan yang signifikan masih terjadi, diversi fekal secara laparoskopi harus dilakukan. Proktitis radiasi jarang menjadi sangat parah hingga mengalami ulserasi dan membentuk fistel rektourethra. Dalam kasus-kasus seperti ini, diversi fekal dan urinaria sementara harus dilakukan sampai peradangan mereda. Dan setelah itu terapi definitif dapat dilakukan. Pemilihan utama dari prosedur bedah adalah pendekatan perineum dengan memperbaiki defek pada flap otot dan mukosa.
9

15. RINCIAN PREOPERATIF Rincian preoperatif perihal proktitis yang perlu dipikirkan adalah indikasi spesifik untuk operasi dan etiologi proktitis tersebut. Seperti biasanya, dilakukan persiapan bedah umum termasuk mengoptimalkan status medis dan memberikan profilaksiss deep vein thrombosis (DVT), persiapan usus, dan profilaksis antibiotik preoperatif. Sebuah kateter Foley akan dipasang setelah induksi anestesi. Status nutrisi preoperatif dapat menjadi prediksi dari hasil klinis yang paling signifikan. Setiap usaha harus dilakukan untuk menilai status gizi pasien dan memperbaikinya jika diperlukan. Praktek penulis saat ini adalah untuk mendapatkan prealbumin pada semua pasien yang dijadwalkan menjalani laparotomi. Jika rendah, penulis akan menunda operasi dan memberikan nutrisi tambahan. Jika pasien akan memiliki stoma, konseling preoperatif dengan perawat enterostomal yang terlatih sangat penting untuk dilakukan. Mereka akan mengedukasi pasien tentang kehidupan dengan stoma dan juga menandai pasien secara preoperatif untuk memastikan penempatan stoma yang optimal. Untuk pasien yang membutuhkan kolektomi subtotal, penilaian kompleks sfingter sangat membantu dalam menentukan kontinensia fekal pasca operasi. Hal ini juga berlaku untuk pasien yang menjalani proktokolektomi total dengan kantong ileum. Selain itu, untuk pasien yang menjalani proktektomi, perlu untuk mendiskusikan fungsi seksual dan urinaria mereka sebelum melakukan prosedur, karena ada kemungkinan kecil tapi nyata untuk berkurangnya fungsi seksual dan kontinensia kandung kemih setelah pembedahan pelvis. 16. RINCIAN INTRAOPERATIF Teknik bedah yang baik merupakan hal penting untuk diperhatikan. Ketika melakukan pembedahan pelvis, amat penting untuk mengetahui bidang anatomis dan struktur yang berdekatan penting dalam menghindari cedera. Nervus presakralis berada di aspek anterior dari sakrum. Saraf-saraf ini biasanya dapat diidentifikasi di promontorium sakral, kira-kira 1 cm arah lateral menuju midline tubuh. Perhatikan inervasi parasimpatis ke organ urinaria dan genitalia dan rektum pada sisi lateral rektum. Persarafan parasimpatis di daerah ini berasal dari nervi erigentes. Diseksi yang terlalu ke lateral dapat mengganggu persarafan parasimpatis didaerah tersebut.
10

Pertahankan bidang diseksi sepanjang rektum posterior. Dengan prinsip-prinsip yang sama dari eksisi mesorektal total, bidang di luar mesorektum tetapi di atas fasia presacral adalah bidang yang benar untuk diseksi. Diseksi terlalu anterior akan memasuki mesorektum tersebut. Diseksi terlalu dalam melalui fasia presacralis berisiko untuk perdarahan presacral. Pertahankan bidang diseksi yang benar sepanjang rektum anterior. Jelas, struktur penting ada di perempuan (vagina) dan laki-laki (prostat, vesikula seminalis). Tetap memperhatikan jalannya ureter sepanjang rektum lateralis saat diseksi masuk ke pelvis. 17. RINCIAN PASCA OPERASI Seperti halnya setiap prosedur bedah mayor, pemantauan ketat status cairan, kondisi jantung, kondisi paru, dan kembalinya fungsi gastrointestinal sangat penting untuk dilakukan. Untuk pasien yang memerlukan rawat inap di rumah sakit, sangat penting untuk diberikan profilaksis DVT. Banyak pusat kesehatan memiliki protokol yang berbeda dalam hal melepaskan kateter Foley. Penulis cenderung melepaskan kateter Foley pada hari ke-tiga pasca operasi. Salah satu masalah yang penting adalah pasien dengan luka perineum. Seringkali, ketegangan pada luka dapat signifikan, tergantung apakah mekanisme sphincter direseksi atau tidak. Karena pasien sering berada dalam posisi supine, pemeriksaan luka perineum mudah dilakukan. Pengamatan seksama pada daerah ini merupakan hal penting, karena masalah dengan penyembuhan luka di daerah ini merupakan sesuatu yang bersifat signifikan. Risiko komplikasi luka meningkat pada pasien yang pernah terkena radiasi pada pelvis. 18. FOLLOW UP Follow up perawatan sangat penting sehubungan dengan luka bedah (baik perineal maupun abdominal) dan kolostomi. Selain itu, fungsi seksual dan urinaria pasca operasi harus didiskusikan dan memulai pemeriksaan lebih lanjut jika diperlukan. 19. KOMPLIKASI Komplikasi yang terkait dengan proktektomi dijelaskan di bawah ini. Luka infeksi: Luka infeksi merupakan hal yang tidak biasa terjadi pada luka perineum terjadi sedikit pada periode segera setelah operasi. Jika ada eritema atau kotoran terlihat sekitar luka, terutama jika terdapat beberapa tension pada saat penutupan, lebih bijaksana untuk membuka

11

luka tersebut agar ditindaki lebih awal. Mengatasi luka terbuka dengan mengganti wound dress jenis basah ke kering secara rutin memungkinkan luka untuk menutup tanpa insiden. Disfungsi seksual: Ini terjadi ketika saraf-saraf di pelvis terluka. Cara terbaik untuk mengatasi komplikasi ini adalah menyadari kemungkinan terjadinya luka sebelum operasi dan menghindarinya. Ketika komplikasi ini terjadi, sangat sedikit tindakan yang bisa dilakukan untuk memperbaiki saraf-saraf tersebut. Peran obat-obatan seperti sildenafil (Viagra) masih belum jelas, meskipun sildenafil telah dilaporkan dapat membantu. Disfungsi urinaria: Sama halnya dengan disfungsi seksual, menghindari terjadinya disfungsi urinaria di ruang operasi adalah cara yang terbaik. Cedera ureter: Menghindari komplikasi ini dengan tetap menyadari anatomi ureter merupakan yang terpenting. Ketika cedera terjadi, menyadari hal ini pada saat operasi jelas yang terbaik. Lokasi terjadinya cedera pada ureter menentukan perbaikan yang akan dilakukan. Konsultasi dengan ahli urologi merupakan pilihan bijaksana. Perdarahan presacral: Dalam beberapa kasus, perdarahan presacral telah dilaporkan dapat berlanjut ke kematian. Jelas, menghindari kejadian ini adalah cara terbaik untuk menangani komplikasi ini. Jika hal ini terjadi di tengah-tengah prosedur, kauter atau penekanan umumnya tidak menghentikan pendarahan presacral dari pembuluh darah vena pelvis. Metode yang biasa dilakukan untuk menghentikan pendarahan adalah dengan thumbtack. Suatu tampon otot juga merupakan cara cerdas untuk mengkauterisasi pendarahan. Ambil sedikit otot rektus, terapkan ke lokasi perdarahan, dan kauter otot tersebut dengan regulasi koagulasi tinggi. 20. HASIL DAN PROGNOSIS Dalam fase akut, sebagian besar proktitis memiliki hasil klinis dan prognosis yang baik. Terutama jika proktitis infeksius dapat diobati dengan tepat, cenderung tidak terjadi rekurensi. Untuk penyakit yang lebih kronis, seperti IBD, hasil dan prognosis bervariasi. Jelas, pada proktitis dan kolitis ulseratif yang diobati dengan obat-obatan, sekitar 40-70% kasus tidak memerlukan pembedahan. Jika operasi proktokolektomi dilakukan, pasien sudah sembuh dari penyakit.

12

Penyakit Crohn adalah cerita lain. Karena dapat terjadi pada semua bagian dari traktus gastrointestinal bahkan setelah proktektomi, rekurensi penyakit Crohn berkisar dari 45% hingga 90%. Proktitis diversi umumnya memiliki hasil klinis dan prognosis yang baik setelah diversi dibalik. Hasil dan prognosis proktitis radiasi bervariasi tergantung pada tingkat keparahan proktitis. Hasil berkisar dari membutuhkan perawatan medis dalam bentuk enema hingga pembedahan. Tingkat komplikasi untuk penanganan bedah dilaporkan setinggi 75%.

13