Anda di halaman 1dari 7

DIAGNOSIS BANDING Diagnosis banding aktinomikosis tergantung dari tempat terjadinya. Aktinomikosis memiliki gejala yang cukup khas.

Tetapi sebagai penyakit yang jarang, diagnosis tidak dapat ditegakkan dengan mudah. Aktinomikosis kadang sulit didiagnosis karena menyerupai tuberculosis dan penyakit noninfeksi seperti tumor ganas pada regio cervicofacial. Diagnosis ditegakkan dengan mengidentifikasi butiran-butiran di nanah dan pada pemeriksaan histologis. Diagnosis harus dikonfirmasi dengan kultur.(1-3)

Gambar 1. Diferensial diagnosis dari aktinomikosis Dikutip dari kepustakaan (1) Tuberculosis TBC kulit memiliki distribusi di seluruh dunia. Meskipun penyakit manusia dengan Mycobacterium tuberculosis dan M. bovis biasanya menyebar melalui droplet, dan masuk sering melalui saluran pernapasan, Tuberculosis cutis juga dapat terjadi secara primer. Diagnosis banding dari Tuberculosis yang paling mendekati aktinomikosis adalah Tuberculosis cutis colliquativa (sclofuloderma). Scrofuloderma adalah

tuberculosis cutis yang dapat menyebabkan abses dan kerusakan kulit atasnya. Scrofuloderma dapat multibasiler maupun paucibasiler. Prevalensi tertinggi scrofuloderma terjadi pada anak-anak, remaja dan usia lanjut.(4-5) Scrofuloderma kebanyakan terjadi di regio parotis, submandibular, dan

supraklavikular. Pertama kali terlihat sebagai nodul subcutaneous yang berbatas tegas, mobile, dan asimtomatik. Semaikn membesar nodul tersebut, akan semakin lunak. Setelah beberapa bulan, pengeluaran cairan dengan perforasi akan muncul yang menyebabkan timbulnya ulkus dan sinus. Ulkus pada scrofuloderma berbentuk sangat rusak, tepi kebiruan dan lunak, dan mempunyai lantai yang bergranula.(6) Nekrosis masif dan abses pada tengah lesi tidaklah spesifik. Meskipun demikian, tepi abses atau batas dari sinus mengandung granula tuberculoid untuk pemeriksaan histopatologis. Diagnosis biasanya dilakukan melalui aspirasi jarum halus, atau biosi eksisi dari masa dan tes bakteriologis melalui pewarnaan bakeri tahan asam (BTA). Apabila terdapat lympadenitis tuberculous atau kerusakan tulang dan sendi, diagnosis scrofuloderma dapat ditegakkan dengan mudah. Hasil positif pada kultur dapat memastikan diagnosis.

Gambar 2. Scrofuloderma pada regio clavicular. dikutip dari kepustakaan (6) Pendekatan terbaik untuk pengobatan kelainan seperti scrofuloderma adalah obat anti tuberkulosis konvensional. Sementara individu yang pernah kontak dekat dengan pasien, seperti anggota keluarga, harus menjalani tes tuberkulin. Nodul yang terkena dapat disembuhkan dengan electrosurgery, cyrosurgery, dan kuretase dengan electrodessication. Terapi farmakologis tetap mengiringi sebagai pengobatan utama. TUMOR PAROTIS Kelenjar parotis merupakan kelenjar saliva terbesar. Kelenjar ini terletak di regio preauricular, jauh di dalam kulit dan jaringan subkutan. Kebanyakan tumor parotis, baik jinak maupun ganas bermanifestasi sebagai masa yang tidak nyeri. Meskipun demikian, tumor ganas dapat merusak nervus di sekitarnya yang menyebabkan nyeri lokal atau regional, mati rasa, paresthesia, dan kehilangan fungsi motorik.(7)

Gambar 3. tumor parotis Dikutip dari kepustakaan (8) Pada pemeriksaan fisik, yang paling sering ditemukan adalah massa tidak nyeri tekan, mobile, tegas, dan soliter. Dapat dilakukan inspeksi pada duktus Stensen untuk

memeriksa karakter dari aliran saliva (kejelasan, konsistensi, dan nanah), adanya kemerahan, bengkak, dan iritasi lubang duktus. (7) Pemeriksaan yang dapat dilakukan pada tumor parotis adalah tes hematologis, serologis dan pemeriksaan radiologis. CT-Scan hampir 100% sensitif dalam mendeteksi massa kelenjar ludah, tetapi tidak dapat membedakan antara massa jinak dan ganas. CT-Scan membantu menentukan ukuran dan luas tumor secara anatomis. Diagnosis pasti dari tumor parotis ditegakkan dengan biopsi jarum halus dengan akurasi lebih dari 96% dan sensitifitas 88-98%.(9) Pengobatan yang dianjurkan biasanya pembedahan untuk mengangkat kelenjar ludah yang terkena. Jika tumor jinak, tidak ada pengobatan lain yang diperlukan. Terapi radiasi atau pembedahan ekstensif diperlukan jika tumor tersebut ganas. Kemoterapi kadang digunakan pada pasien yang dianggap beresiko tinggi atau ketika telah menyebar ke keluar dari kelenjar ludah.(7)

TERAPI Terapi antimikroba yang diperpanjang (yaitu, 6-12 bulan) biasanya telah direkomendasikan untuk pasien dengan semua bentuk klinis actinomycois untuk mencegah kambuhnya penyakit. Namun, individualisasi terapi dianjurkan dimana durasi antibiotik tergantung pada beban awal penyakit, tempat infeksi, dan respon klinis dari pengobatan. Drainase yang tepat diperlukan jika terdapat abses. Penggunaan antibiotik telah meningkatkan prognosis untuk semua bentuk aktinomikosis. Saat ini, tingkat kesembuhan yang tinggi dengan tidak mengalami cacat atau kematian adalah hal yang umum. Penisilin G adalah obat pilihan untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh salah satu dari Actinomyces. Penisilin G diberikan dalam dosis tinggi dalam jangka waktu yang lama, karena infeksi memiliki kecenderungan untuk kambuh. Kebanyakan infeksi diharapkan dapat merespon penisilin G intravena, 10 sampai 20 juta unit / hari diberikan selama 2 sampai 6

minggu, diikuti oleh phenoxypenicillin oral dalam dosis 2 sampai 4 g / hari. Terapi penisilin oral tambahan selama beberapa minggu mungkin memadai untuk aktinomikosis cervicofacial tanpa komplikasi; kasus yang disertai komplikasi dan penyakit paru atau perut yang luas mungkin memerlukan pengobatan selama 12 sampai 18 bulan. Resistensi penisilin G oleh Actinomyces selama terapi berkepanjangan jarang ditemukan. Kombinasi penisilin (yaitu, amoksisilin, piperasilin) dan inhibitor betalaktamase (yaitu, klavulanat, tazobactam) dapat digunakan untuk terapi dari patogen aerobik dan anaerobik yang resisten terhadap penisilin. Beberapa copathogens dapat menghasilkan enzim beta-laktamase yang dapat melindungi Actinomyces dari penisilin. Pada penderita dengan alergi penisilin dapat menggunakan alternatif antibiotik lini pertama termasuk amoksisilin, tetrasiklin, eritromisin, kloramfenikol, dan

klindamisin. Sefalosporin generasi pertama, ceftriaxone, dan imipenem juga dapat digunakan. Metronidazol, aminoglikosida, aztreonam, kotrimoksazol (TMP-SMX), penisilinase (misalnya, methicillin, nafcillin, oksasilin, kloksasilin) dan sefaleksin dan obat antijamur tidak efektif terhadap organisme aktinomikosis.(10) PROGNOSIS Prognosis dari aktinomikosis tanpa pengobatan umumnya buruk. Apabila aktinomikosis didiagnosis dini dan diobati dengan terapi antibiotik yang tepat, prognosisnya sangat baik.(2) Karena aktinomikosis bersifat progresif, prognosis tergantung pada tahap di mana infeksi didiagnosa dan diobati. Meskipun perbaikan lambat dan membutuhkan terapi antibiotik selama berbulan-bulan, kebanyakan individu dapat pulih. Aktinomikosis cervicofacial adalah yang paling mudah diobati. Prognosis kurang menggembirakan pada aktinomikosis toraks dan abdomen atau ketika infeksi yang meluas terjadi. Jika infeksi tidak sepenuhnya dihilangkan, individu berisiko untuk relaps dalam bentuk

yang lebih parah. Infeksi yang tidak diobati dapat menyebabkan cedera jaringan luas atau kematian.(11)

KOMPLIKASI

Komplikasi aktinomikosis diantaranya adalah: Abses otak Endocarditis Meningitis Osteomyelitis

Abses yang terjadi sebagai akibat dari aktinomikosis yang dapat berkembang di berbagai tempat di tubuh, termasuk paru-paru. Abses dapat menyebar dengan mudah dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh yang lain.(1) Actinomyces dapat memasuki aliran darah dan menyebar ke seluruh tubuh, menyebabkan infeksi dalam darah (sepsis), dalam selaput otak tulang belakang (meningitis bakteri), dalam otak (abses otak), atau di hati. Meskipun jarang, komplikasi ini sering fatal. Aktinomikosis yang melibatkan wajah atau leher dapat menyebar ke gusi, tulang rahang, telinga tengah (otitis media), tulang rusuk, atau tulang belakang(osteomielitis). Aktinomikosis paru dapat menyebabkan

pneumonia.(11)

1.

Fitzpatrick TB. Dermatology in general medicine. In: Bravo FG, Arenas R,

Sigali DA, editors. Actinomycosis, Nocardiosis, and Actinomycetoma. New York: McGraw-Hill; 2008. p. 1778-81. 2. Rook A, Burns T. Rook's textbook of dermatology. 7th ed. Malden, Mass.: iftdoan DY, Bayram N, Akaln T. Actinomycosis in Differential Diagnosis

Blackwell Science; 2004. 3.

of Cervicofacial Mass. journal Pediatr Inf. 2009;3:28-30. 4. Iftikhar U, Nadeem M, Aman S, Kazmi AH. Scrofuloderma: a common type

of cutaneous tuberculosis. A case report. Journal of Pakistan Association of Dermatologists. 2011;21:61-5. 5. Halpern AV, Heymann WR. Bolognia: Dermatology. In: Bolognia JL, Jorizzo

Jl, Rapini Rp, editors. Cutaneous Tuberculosis. Second edition ed. London: Elsevier; 2008. 6. Fitzpatrick TB. Tuberculosis and infection with atypical mycobacteria. In:

Bravo FG, Arenas R, Sigali DA, editors. Dermatology in general medicine. 7th ed. New York ; Toronto: McGraw-Hill; 2008. p. 1778-81. 7. Smith RV. Salivary Gland Tumors. 2008 [updated July 2008; cited 2011

October 24]; Available from: www.merckmanuals.com. 8. Dalal S, M.S. N, Goyan p. Sialoblastoma: A rare pediatric tumour of the glands. 2009 [cited 2011 23 October]; Available from:

salivary

http://www.ispub.com/journal/the_internet_journal_of_surgery/volume_21_number_ 2_1/article/sialoblastoma-a-rare-pediatric-tumour-of-the-salivary-glands.html. 9. Dubner S, Ketch L, Talavera F, Garza JR, slenkovich NG. Parotid Tumors,

Benign. 2010 [cited 2011 October 24]. 10. Brook I. Actinomycosis: diagnosis and management. South Med J. 2008

Oct;101(10):1019-23. 11. Actinomycosis. 2010 [cited 2011 23 October]; Available from:

www.mdguidelines.com.