Anda di halaman 1dari 2

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Sindroma Guillain-Barre adalah polineuropati inflamasi akut yang mengalami demielinasi. Pada sebagian besar pasien, sindrom ini berkaitan dengan infeksi yang terjadi sebelumnya. Terdapat keterlibatan motorik yang lebih dominan, seringkali melibatkan otot pernafasan dan bulbar, juga kebutuhan untuk tatalaksana kedaruratan.1 Sindrom Guillain-Barre mempunyai banyak sinonim, antara lain polineuritis akut pasca infeksi, polineuritis akut toksik, polineuritis febril, poliradikulopati, dan acute ascending paralysis.. Insiden rata-rata per tahun 0,4-0,7 per 100.000 populasi. Insiden lebih tinggi pada perempuan daripada pria dengan perbandingan 2:1, dan lebih banyak terjadi pada usia muda. Sindrom ini dicirikan oleh kelumpuhan otot ekstremitas yang akut dan progresif, biasanya muncul sesudah infeksi.2 Sindroma Guillain-Barre (SGB) merupakan penyebab kelumpuhan yang cukup sering dijumpai pada usia dewasa muda. SGB ini seringkali mencemaskan penderita dan keluarganya karena terjadi pada usia produktif, apalagi pada beberapa keadaan dapat menimbulkan kematian, meskipun pada umumnya mempunyai prognosa yang baik.3 Penyakit ini terdapat di seluruh dunia pada setiap musim, menyerang semua umur. Selama periode 42 tahun Central Medical Mayo Clinic melakukan penelitian mendapatkan insidensi rate 1.7 per 100.000 orang. Terjadi puncak insidensi antara usia 15-35 tahun dan antara 50-74 tahun. Jarang mengenai usia dibawah 2 tahun. Usia termuda yang pernah dilaporkan adalah 3 bulan dan paling tua usia 95 tahun. Laki-laki dan wanita sama jumlahnya. Dari pengelompokan ras didapatkan bahwa 83% penderita adalah kulit putih, 7% kulit hitam, 5% Hispanic, 1% Asia dan 4% pada kelompok ras yang tidak spesifik. Data di Indonesia mengenai gambaran epidemiologi belum banyak. Penelitian Chandra menyebutkan bahwa insidensi terbanyak di Indonesia adalah dekade I, II, III (dibawah usia 35 tahun) dengan jumlah penderita laki-laki dan wanita hampir sama. Sedangkan penelitian di Bandung menyebutkan bahwa perbandingan laki- laki dan wanita 3 : 1 dengan usia rata-rata 23,5 tahun.3
1

Etiologi SGB sampai saat ini masih belum dapat diketahui dengan pasti penyebabnya. Sindroma Guillain-Barre diduga disebabkan oleh infeksi virus, tetapi akhir-akhir ini terungkap bahwa virus bukan sebagai penyebab. Teori yang dianut sekarang adalah suatu kelainan imunobiologik, baik secara primary immune response maupun immune mediated process. Pada umumnya sindrom ini didahului oleh penyakit influenza atau infeksi saluran pernafasan atas atau saluran pencernaaan. Penyebab infeksi pada umumnya adalah kelompok virus dari kelompok herpes. Sindrom ini dapat didahului pula oleh vaksinasi, gangguan endokrin, anastesi, tindakan operasi, dan sebagainya.2 Sekitar sepertiga dari pasien memerlukan perawatan intensif, terutama karena kegagalan pernapasan. Setelah stabilisasi medis, pasien dapat dirawat di ruang perawatan/ neurologis umum, tetapi kewaspadaan tetap penting dalam mencegah kegagalan pernapasan, henti jantung, dan komplikasi medis lainnya. Pengobatan dengan imunoglobulin intravena atau pertukaran plasma dapat mempercepat pemulihan.4 Angka kematian rata-rata adalah 2-6%, yang secara umum disebabkan akibat komplikasi dari ventilasi, henti jantung, emboli paru, sepsis, bronkospasme, pneumotoraks, dan ARDS. Lebih dari 75 % penderita mengalami perbaikan sempurna atau hampir sempurna tanpa defisit neurologi atau hanya kelelahan dan kelemahan distal yang minimal. Sedangkan sebagian penderita yang lain, membutuhkan bantuan ventilasi akibat dari kelemahan bagian distal yang berat. Sekitar 15 % penderita berakhir dengan gejala sisa berupa defisit neurologi.5

I.2 Tujuan Mengetahui dan mempelajari mengenai Sindroma Guillain-Barre, meliputi definisi, fisiologi, patogenesis, patofisiologi, tanda dan gejala, diagnosis, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan, serta prognosis.