Anda di halaman 1dari 22

GANGGUAN STRES PASCA TRAUMA

OLEH: IKA AYU PARAMITA 110.2006. 118

Pembimbing Dr. Asmarahadi Sp.KJ

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN JIWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI JAKARTA 2013

DAFTAR ISI
Halaman KATA PENGANTAR ............................................................................................... DAFTAR ISI .............................................................................................................. BAB I. BAB II. PENDAHULUAN ................................................................................ GANGGUAN STRES PASCATRAUMA ......................................... Definisi .................................................................................................. Epidemiologi ........................................................................................ Etiologi ................................................................................................. Gambaran Klinis dan Diagnosa.......................................................... Perjalanan Penyakit dan Prognosa ................................................... Diagnosis Banding ............................................................................... Penatalaksanaan .................................................................................. BAB III. BAB IV. KESIMPULAN .................................................................................... PENUTUP ............................................................................................ 3 4 4 7 11 12 13 17 19 20 ii iii 1

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN

Gangguan Stres Pascatraumatik merupakan gangguan mental pada seseorang yang muncul setelah mengalami suatu pengalaman traumatik dalam kehidupan atau suatu peristiwa yang mengancam keselamatan jiwanya. Sebagai contoh peristiwa perang, perkosaan atau penyerangan secara seksual, serangan yang melukai tubuh, penyiksaan, penganiayaan anak, peristiwa bencana alam seperti : gempa bumi, tanah longsor, banjir bandang, kecelakaan lalu lintas atau musibah pesawat jatuh. Orang yang mengalami sebagai saksi hidup kemungkinan akan mengalami gangguan stres. Supaya pasien dapat diklasifikasikan sebagai penderita gangguan stres pascatraumatik, mereka harus mengalami suatu stres emosional yang besar yang akan traumatik bagi setiap orang. Gangguan stres pascatraumatik terdiri dari : Pengalaman kembali trauma melalui mimpi dan pikiran yang membangunkan ( waking thought ). Penghindaran yang yang persisten oleh penderita terhadap trauma dan penumpukan responsivitas pada penderita tersebut. Kesadaran berlebihan ( hyperararousal ) yang persisten. Gejala penyerta yang sering dari gangguan stres pascatraumatik adalah depresi, kecemasan dan kesulitan kognitif (sebagai contohnya, pemusatan perhatian yang buruk). Di dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder edisi keempat (DSM IV), lama gejala minimal untuk gangguan stres pascatraumatik adalah satu bulan. Trauma untuk pria biasanya akibat pengalaman peperangan dan trauma untuk wanita paling sering adalah penyerangan atau pemerkosaan. Gangguan sangat mungkin terjadi pada mereka yang sendirian, bercerai, janda, mengalami gangguan ekonomi atau menarik diri secara sosial. Gangguan Stres Pasca Trauma termasuk dalam gangguan cemas. Gangguan cemas disebabkan oleh situasi atau obyek yang sebenarnya tidak membahayakan yang mengakibatkan situasi atau obyek tersebut dihindari secara khusus atau dihadapi dengan perasaan terancam. Perasaan tersebut tidak berkurang walaupun mengetahui bahwa orang lain menganggap tidak berbahaya atau mengancam.

Gejala kecemasan patologis antara lain rasa was-was yang berlebihan, ketakutan, penarikan diri dari masyarakat dan lingkungan, kesukaran konsentrasi dan berfikir, gejala-gejala somatik seperti tremor, panas dingin, berkeringat, sesak napas, jantung berdebar, serta dapat pula ditemui gejala gangguan persepsi seperti depersonalisasi, derealisasi dan mungkin terdapat gejala yang lain.

BAB II GANGGUAN STRES PASCATRAUMA Definisi


Gangguan Stress Pasca Trauma / Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) dapat didefinisikan sebagai keadaan yang melemahkan fisik dan mental secara ekstrim yang timbul setelah seseorang melihat, mendengar, atau mengalami suatu kejadian trauma yang hebat dan atau kejadian yang mengancam kehidupannya. Keadaan ini ditandai dengan suasana perasaan murung, sedih, kurangnya semangat dalam melakukan kegiatan sehari-hari maupun kegiatan yang menimbulkan kesenangan, kadang-kadang disertai dengan waham dan bila sudah berat dapat menimbulkan gangguan dalam fungsi peran dan kehidupan sosial.

Gangguan Stress Pascatraumatik adalah gangguan cemas yang terdiri dari : 1. Pengalaman trauma yang muncul kembali dalam mimpi atau pikiran-pikiran waktu terjaga. 2. Emosi yang tumpul dalam kehidupan atau hubungan interpersonal 3. Terdapat gejala-gejala otonom yang tidak stabil, depresi dan gangguan kognitif (seperti kesukaran konsentrasi) Gangguan tersebut timbul apabila mengalami stres emosional / trauma psikologik yang besar yang berada di luar batas - batas pengalaman manusia yang lazim. Gangguan stres pascatraumatik dapat terjadi dengan segera, hal ini dapat dilihat langsung pada bencana alam, pengalaman seseorang terhadap reaksi dari trauma tersebut merespon kejadian yang baru dialaminya di luar kontrol dirinya, menangis, hilang ingatan sesaat, menjerit-jerit, histeria dan sebagainya. Gangguan stres pascatraumatik juga dapat disebabkan oleh stres ringan yang pada awalnya, akan tetapi stres berlangsung secara kontinu, stres tersebut berlangsung sampai berminggu-minggu, bulan dan bahkan tahunan.

Epidemiologi
Prevalensi gangguan stres pascatraumatik pada masyarakat umum diperkirakan dari 1 sampai 3 persen dimana 0,5 % untuk pria dan 1,2 % pada wanita, anak-anak juga mengalami gangguan tersebut. Sebagai contoh peristiwa perang, perkosaan atau penyerangan secara seksual, serangan yang melukai tubuh, penyiksaan, penganiayaan anak, peristiwa bencana alam seperti : gempa bumi, tanah longsor, banjir bandang, kecelakaan lalu lintas atau musibah pesawat jatuh. Walaupun gangguan stres pascatraumatik dapat tampak pada setiap usia, gangguan ini paling menonjol pada dewasa muda, karena sifat situasi yang mencetuskannya. Tetapi, anak-anak dapat mengalami gangguan stres pascatraumatik. Trauma untuk pria biasanya akibat pengalaman peperangan dan trauma untuk wanita paling sering adalah penyerangan atau pemerkosaan. Gangguan sangat mungkin terjadi pada mereka yang sendirian, bercerai, janda, mengalami gangguan ekonomi atau menarik diri secara sosial. Penelitian terhadap korban yang selamat dalam kamp NAZI menemukan bahwa 97% dari korban masih terganggu dengan kecemasan sampai 20 tahun setelah ia dibebaskan dari kamp tersebut. Banyak dari mereka yang membayangkan trauma hukuman mati di dalam mimpi mereka dan merasa takut bahwa sesuatu dapat terjadi pada pasangan atau anak-anak saat tidak terlihat (Krystal, 1968) Suatu survei yang menyangkut veteran Vietnam disebutkan bahwa 15% dari veteran tersebut mengalami gangguan stres paca-traumatik sejak kepulangan mereka (Centers Disease Control, 1988), sementara penelitian lain menyebutkan bahwa reaksi stres terhadap horor perang juga ditemukan pada Perang Dunia I yang disebut dengan shell shock sindrom dan combat fatigue pada Perang Dunia II

Etiologi
Stresor adalah penyebab utama dalam perkembangan gangguan stres pascatraumatik. Tetapi tidak semua orang akan mengalami gangguan stres pascatraumatik setelah suatu peristiwa traumatik. Walaupun stressor diperlukan, namun stressor tidak cukup untuk menyebabkan gangguan. Faktor-faktor yang harus ikut dipertimbangkan adalah faktor biologis individual, faktor psikososial sebelumnya dan peristiwa yang terjadi setelah trauma. Penelitian terakhir pada gangguan stres pascatraumatik sangat menekankan pada respon subjektif seseorang terhadap trauma ketimbang beratnya stresor itu sendiri. Walaupun gejala

gangguan stres pascatraumatik pernah dianggap secara langsung sebanding dengan beratnya stresor, penelitian empiris telah membuktikan sebaliknya. Jika dihadapkan dengan trauma yang berat, sebagian orang tidak akan mengalami gangguan stres pascatraumatik. Sebaliknya peristiwa yang mungkin tampaknya biasa atau kurang berbahaya bagi kebanyakan peristiwa tersebut. Faktor kerentanan yang merupakan predisposisi tampaknya memainkan peranan penting dalam menentukan apakah gangguan akan berkembang yaitu : 1. Adanya trauma masa anak-anak 2. Sifat gangguan kepribadian ambang, paranoid, dependen, atau antisosial 3. Sistem pendukung yang tidak adekuat 4. Kerentanan konstitusional genetika pada penyakit psikiatrik 5. Perubahan hidup penuh stres yang baru terjadi 6. Persepsi lokus kontrol eksternal 7. Penggunaan alkohol, walaupun belum sampai pada taraf ketergantungan. Penelitian psikodinamika terhadap orang yang dapat bertahan hidup dari trauma psikis yang parah telah menemukan aleksitimia, yaitu ketidakmampuan untuk mengidentifikasi atau mengungkapakan keadaaan perasaan sebagai ciri yang umum. Jika trauma psikis terjadi pada masa anak- anak, biasanya dihasilkan perhentian perkembangan emosional. Jika trauma terjadi pada masa dewasa, regresi emosional sering kali terjadi. Mereka tidak mampu menenangkan dirinya jika dalam keadaan stres. orang mungkin dapat menyebabkan gangguan stres pascatraumatik pada beberapa orang karena arti subjektif dari

BAGAN STRES DAN STRES PASCA TRAUMA

Faktor Psikodinamika Model kognitif dari gangguan stres pascatraumatik menyatakan bahwa orang yang terkena stres pascatraumatik tidak mampu memproses atau merasionalkan trauma yang mencetuskan gangguan. Mereka terus mengalami stres dan berusaha untuk tidak mengalami kembali stres dengan teknik menghindar. Sesuai dengan kemampuan parsial mereka untuk mengatasi peristiwa secara kognitif, pasien mengalami periode mengakui peristiwa dan menghambatnya secara berganti-ganti. Model perilaku dari gangguan stres pascatraumatik menyatakan bahwa gangguan memiliki dua fase dalam perkembangannya. Pertama, trauma (stimulus yang tidak dibiasakan) adalah dipasangkan, melalui pembiasaan klasik dengan stimulus yang dibiasakan (pengingat fisik atau mental terhadap trauma). Kedua, melalui pelajaran instrumental, pasien mengambangkan pola penghindaran terhadap stimulus yang dibiasakan maupun stimulus yang tidak dibiasakan. Model psikoanalitik dari gangguan menghipotesiskan bahwa trauma telah mereaktivasi konflik psikologis yang sebelumnya diam dan belum terpecahkan. Penghidupan kembali trauma masa anak-anak menyebabkan regresi dan penggunaan mekanisme pertahanan represi, penyangkalan, dan meruntuhkan (undoing). Ego hidup kembali dan dengan demikian berusaha
8

menguasai dan menurunkan kecemasan. Pasien juga mendapatkan tujuan sekunder dari dunia luar, peningkatan perhatian atau simpati, dan pemuasan kebutuhan ketergantungan. Tujuan tersebut mendorong gangguan dan persistensinya. Suatu pandangan kognitif tentang gangguan stres pascatraumatik adalah bahwa otak mencoba untuk memproses sejumlah besar informasi yang dicetuskan oleh trauma dengan periode menerima dan menghambat peristiwa secara berganti-ganti. Faktor biologis Teori biologis tentang gangguan stres pascatraumatik telah dikembangkan dari penelitian praklinik dari model stres pada binatang dan dari pengukuran variable biologis dari populasi klinis dengan gangguan stres pascatraumatik. Banyak system neurotransmitter telah dilibatkan dalam kumpulan data tersebut. Model praklinik pada binatang tentang ketidakberdayaan, pembangkitan, dan sensitisasi yang dipelajari telah menimbulkan teori tentang norepinefrin, dopamine, opiat endogen, dan reseptor benzodiazepine dan sumbu hipotalamus, hipofisis adrenal. Pada populasi klinis, data telah mendukung hipotesis bahwa system noradrenergik dan opiat endogen, dan juga sumbu hipotalamus-hipofisis adrenal, adalah hiperaktif pada sekurangnya beberapa pasien dengan gangguan stres pascatrauamtik. Temuan biologis utama lainnya adalah peningkatan aktivitas dan responsivitas system saraf otonom, seperti yang dibuktikan oleh peninggian kecepatan denyut jantung dan pembacaan tekanan darah, dan arsitektur tidur yang abnormal (sebagai contohnya, fragmentasi tidur dan peningkatan latensi tidur).

Gambaran Klinis dan Diagnosis


Gambaran klinis utama dari gangguan stres pascatraumatik adalah pengalaman ulang peristiwa yang menyakitkan, suatu pola menghindar dan kekakuan emosional dan kesadaran yang berlebihan yang hampir tetap. Gangguan mungkin tidak berkembang sampai berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah peristiwa. Pemeriksaaan status mental seringkali mengungkapkan rasa bersalah, penolakan dan penghinaan. Pasien mungkin juga menggambarkan keadaan disosiatif dan serangan panik. Ilusi dan halusinasi mungkin ditemukan. Tes kognitif mungkin mengungkapkan bahwa pasien memiliki gangguan daya ingat dan perhatian. Gejala penyerta dapat berupa agresi, kekerasan , pengendalian impuls yang buruk dan depresi. Berbagai ciri anti sosial mungkin ditemukan termasuk penyalahgunaan dan ketergantungan

alkohol dan obat, perasaan bersalah yang menonjol, insomnia, ilusi dan halusinasi, disosiasi, serangan panik, agresi, kekerasan dan gangguan daya ingat serta gangguan memusatkan perhatian (konsentrasi). Kriteria diagnosis DSM-IV untuk gangguan stres pascatraumatik ditulis untuk memperjelas beberapa kriteria dalam DSM-III-R. Pertama DSM-III-R menggambarkan stresor di luar rentang pengalaman manusia pada umumnya. Karena kriteria adalah tidak jelas dan tidak dapat dipercaya, DSM-IV memperjelas artinya (Kriteria A). Dalam DSM-IV, kriteria B menyebutkan, seperti dalam DSM-III-R, bahwa pasien secara menetap mengalami kembali peristiwa traumatik. Kriteria C dan D pada DSM IV tetap sama dengan DSM-III-R, mereka menyebutkan penghindaran persisten terhadap situasi tertentu dan peningkatan kesadaran pada pasien. DSM-IV menyebutkan bahwa gejala pengalaman ulang (reexperiencing), menghindar dan kesadaran yang berlebihan (hiperarousal) harus berlangsung lebih dari 1 bulan. Bagi pasien yang gejalanya ditemukan kurang dari satu bulan, diagnosis yang tepat mungkin adalah gangguan stres akut. Kriteria diagnostik DSM-IV untuk gangguan stres pascatraumatik yang memungkinkan klinisi menentukan apakah gangguan adalah akut (jika berlangsung kurang dari tiga bulan ) atau kronis (jika gejala berlangsung tiga bulan atau lebih). DSM-IV juga memungkinkan klinisi menentukan bahwa gangguan adalah dengan onset lambat jika onset gejala adalah enam bulan atau lebih setelah peristiwa stres. Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Stres Pascatraumatik : A. Orang telah terpapar dengan suatu kejadian traumatik dimana kedua dari berikut ini terdapat : 1. Orang mengalami, menyaksikan, atau dihadapkan dengan suatu kejadian atau kejadian-kejadian yang berupa ancaman kematian atau kematian yang sesungguhnya atau cedera yang serius, atau ancaman kepada integritas fisik diri atau orang lain. 2. Respon orang tersebut berupa rasa takut yang kuat, rasa tidak berdaya atau horor. B. Kejadian traumatik secara menetap dialami kembali dalam satu (atau lebih) cara berikut :

10

1. Rekoleksi yang menderitakan, rekuren, dan mengganggu tentang kejadian, termasuk angan pikiran atau persepsi. 2. Mimpi menakutkan yang berulang tentang kejadian. 3. Berkelakuan atau merasa seakan-akan kejadian traumatik terjadi kembali (termasuk perasaan penghidupan kembali pengalaman kembali pengalaman, ilusi, halusinasi dan episode kilas balik disosiatif, termasuk yang terjadi saat terbangun atau saat terintoksikasi). 4. Penderitaan psikologis yang kuat saat terpapar dengan tanda internal atau eksternal yang menyimbolkan atau menyerupai suatu aspek kejadian traumatik. 5. Reaktivitas psikologis saat terpapar dengan tanda internal atau eksternal yang menyimbolkan atau menyerupai suatu aspek kejadian traumatik. C. Penghindaran stimulus yang persisten yang berhubungan dengan trauma dan kaku karena responsivitas umum (tidak ditemukan sebelum trauma), seperti yang ditunjukkan oleh tiga (atau lebih) berikut ini : 1) Usaha untuk menghindari pikiran, perasaan, atau percakapan yang berhubungan trauma 2) Usaha untuk menghindari aktivitas, tempat atau orang yang menyadarkan rekoleksi dengan trauma. 3) Tidak mampu untuk mengingat aspek penting dari trauma. 4) Hilangnya minat atau peran serta yang jelas dalam aktivitas yang bermakna 5) Rentang afek yang terbatas 6) Perasaan bahwa masa depan menjadi pendek. D. Gejala menetap adanya peningkatan kesadaran (tidak ditemukan sebelum trauma ) yang ditunjukkan oleh dua (atau lebih) berikut : 1) Kesulitan untuk tidur atau tetap tidur 2) Iritabilitas atau ledakan kemarahan 3) Sulit berkonsentrasi 4) Kewaspadaan berlebihan 5) Respon kejut yang berlebihan E. Lama gangguan (gejala dalam kriteria b, c, d) adalah lebih dari satu bulan

11

F. Gangguan menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lain. Sebutkan jika : Akut Kronis Sebutkan jika : Dengan onset lambat : onset gejala sekurangnya enam bulan setelah stressor
Tabel dari DSM- IV, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disoerder, ed 4. Hak cipta American Psychiatric Association, Washington 1994.

: :

jika lama gejala adalah kurang dari 3 bulan jika lama gejala adalah 3 bulan atau lebih

Kriteria diagnostik untuk Gangguan Stres Akut A. Orang telah terpapar dengan suatu kejadian traumatik dimana kedua dari berikut ini ditemukan : 1. Orang mengalami, menyaksikan, atau dihadapkan dengan suatu kejadian atau kejadian-kejadian yang berupa ancaman kematian atau kematian yang sesungguhnya atau cedera yang serius, atau ancaman kepada integritas diri atau orang lain. 2. Respon orang tersebut berupa rasa takut yang kuat, rasa tidak berdaya atau horor. B. Salah satu selama mengalami atau setelah mengalami kejadian yang menakutkan, individu tiga (atau lebih) gejala disosiatif berikut : 1. perasaan subyektif kaku, terlepas, atau tidak ada responsivitas emosi 2. penurunan kesadaran terhadap sekelilingnya (misalnya, berada dalam keadaan tidak sadar) 3. derelisasi 4. depersonalisasi 5. amnesia disosiatif (yaitu, ketidakmampuan untuk mengingat aspek penting dari trauma) C. Kejadian traumatik secara menetap dialami kembali sekurangnya satu cara berikut : bayangan, pikiran, mimpi, ilusi, episode kilas balik yang rekuren, atau suatu perasaan hidupnya kembali pengalaman atau penderitaan saat terpapar dengan mengingat kejadian traumatik D. Penghindaran jelas terhadap stimuli yang menyadarkan rekoleksi trauma (misalnya, pikiran, perasaan, percakapan, aktivitas, tempat, orang).
12

E. Gejala kecemasan yang nyata atau pengingat kesadaran (misalnya, sulit tidur, iritabilias, konsentrasi buruk, kewaspadaan berlebihan, respon kejut yang berlebihan, dan kegelisahan motorik). F. Gangguan menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lain, menganggu kemampuan individu untuk mengerjakan tugas yang diperlukan, seperti meminta bantuan yang diperlukan atau menggerakan kemampuan pribadi dengan menceritakan kepada anggota keluarga tentang pengalaman traumatic. G. Gangguan berlangsung selama minimal 2 hari dan maksimal 4 minggu dan terjadi dalam 4 minggu setelah traumatik H. Tidak karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat yang disalahgunakan, medikasi) atau kondisi medis umum, tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan psikotik singkat dan tidak semata-mata suatu eksaserbasi gangguan Aksis I atau Aksis II dan telah ada sebelumnya.

Perjalanan penyakit dan Prognosis


Gangguan stres pascatraumatik biasanya berkembang pada suatu waktu setelah trauma, dapat sependek satu minggu atau selama 30 tahun. Gejala dapat berfluktuasi dengan berjalannya waktu dan mungkin paling kuat selama periode stres. Kira-kira 30% pasien piulih secara lengkap, 40% terus menderita gejala ringan, 20% terus menderita gejala sedang, dan 10% tetap tidak berubah atau menjadi buruk. Prognosis yang baik diramalkan oleh onset gejala yang cepat, durasi gejala yang singkat (kurang dari enam bulan), fungsi pramorbid yang baik, dukungan sosial yang kuat dan tidak adanya gangguan psikiatrik, atau berhubungan dengan zat lainnya. Pada umumnya, orang yang sangat muda atau sangat tua memiliki lebih banyak kesulitan dengan peristiwa traumatik dibandingkan mereka yang dalam usia pertengahan. Kecacatan psikiatrik yang ada sebelumnya, apakah suatu gangguan kepribadian atau suatu kondisi yang lebih serius, juga meningkatkan efek stresor tertentu. Tersedinya dukungan sosial juga mempengaruhi perkembangan, keparahan dan durasi gangguan stres pasca traumatik. Pada umumnya, pasien yang mendapat dukungan sosial yang baik kemungkinan tidak mengalami gangguan atau tidak mengalami gangguan dalam bentuk yang parah.

13

Diagnosis Banding
Pertimbangan utama dalam diagnosis banding gangguan stress pascatraumatik dengan kemungkinan bahwa pasien juga mengalami cedera kepala selama trauma. Pertimbangan organik lainnya yang dapat menyebabkan atau mengeksaserbasi gejala adalah epilepsi, gangguan penggunaan alkohol dan gangguan yang berhubungan dengan zat lainnya. Intoksikasi akut atau putus dari suatu zat mungkin juga menunjukkan gambaran klinis yang sulit dibedakan dari gangguan stres pascatraumatik sampai efek zat hilang. Gangguan stress pascatraumatik pada umumnya sering keliru didiagnosis sebagai gangguan mental lain, yang menyebabkan pengobatan yang tidak tepat. Klinisi harus mempertimbangkan gangguan stres pascatraumatik pada pasien yang menderita gangguan nyeri ( pain disorder), penyalahgunaan zat, gangguan kecemasan lain, dan gangguan mood. Pada umumnya, gangguan stres pascatraumatik dapat dibedakan dari gangguan mental organik dengan mewawancarai pasien tentang peristiwa traumatik sebelumnya dan melalui sifat gejala sekarang ini. Gangguan kepribadian ambang, gangguan disosiatif, gangguan buatan atau berpura-pura juga harus dipertimbangkan. Gangguan sebab akibat. Gangguan disosiatif biasanya tidak memiliki derajat perilaku menghindar, kesadaran berlebih otonomik, atau riwayat trauma yang dilaporkan oleh pasien gangguan stres pascatraumatik. Sebagian karena publisitas yang telah diterima gangguan stres pascatraumatik dalam berita populer, klinisi harus juga mempertimbangkan kemungkinan suatu gangguan buatan dan berpura pura. kepribadian ambang mungkin sulit dibedakan dari gangguan stress pascatraumatik. Dua gangguan tersebut dapat terjadi bersama-sama atau bahkan saling berhubungan

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Gangguan Kecemasan khususnya Gangguan Stres Pascatrauma Terdapat tiga pendekatan terapetik untuk mengatasi gejala berhubungan dengan kecemasan yaitu :
14

1. Manajemen krisis 2. Psikoterapi 3. Farmakoterapi Tujuan utama dari Manajemen Krisis adalah : 1. Peredaan gejala 2. pencegahan konsekuensi yang merugikan dari krisis tersebut untuk jangka pendek 3. Suportif (dukungan)

Psikoterapi Psikoterapi harus dilakukan secara individual, karena beberapa pasien ketakutan akan pengalaman ulang trauma. Rekosntruksi peristiwa traumatik dengan abreaksi dan katarsis yang menyertai mungkin bersifat terapeutik. Intervensi psikodinamika untuk gangguan stres pascatraumatik adalah terapi perilaku, terapi kognitif dan hipnosis. Banyak klinisi menganjurkan psikoterapi singkat untuk korban trauma. Terapi tersebut biasanya menggunakan pendekatan kognitif dan juga memberikan dukungan dan jaminan. Sifat jangka pendek dari psikoterapi menekan risiko ketergantungan dan kronisitas. Masalah kecurigaan, paranoia, dan kepercayaan seringkali merugikan kepatuhan. Ahli terapi harus mengatasi penyangkalan pasien tentang peristiwa traumatik, mendorong mereka untuk santai, dan mengeluarkan mereka dari sumber stress. Pasien harus didorong untuk tidur, menggunakan medikasi jika dilakukan. Dukungan dari lingkungan (seperti teman-teman dan sanak saudara) harus disediakan. Pasien harus didorong untuk mengingat dan melepaskan perasaan emosional yang berhubungan dengan peristiwa traumatik dan merencanakan pemulihan di masa depan. Psikoterapi setelah peristiwa traumatik harus mengikuti suatu model intervensi krisis dengan dukungan, pendidikan, dan perkembangan mekanisme mengatasi dan penerimaan peristiwa. Jika gangguan stress pascatraumatik telah berkembang, dua pendekatan psikoterapetik utama dapat diambil. Pertama adalah pemaparan dengan peristiwa traumatik melalui teknik pembayangan (imaginal technique) atau pemaparan in vivo. Pemaparan dapat kuat, seperti pada terapi implosif, atau bertahap. Seperti pada desensitisasi sitematik. Pendekatan kedua adalah mengajarkan pasien metoda penatalaksanaan kognitif untuk mengatasi stres, termasuk teknik relaksasi dan pendekatan

15

kognitif. Beberapa data awal menyatakan bahwa, walaupun teknik penatalaksanaan stress adalah efektif lebih cepat dibandingkan teknik pemaparan, hasil dari teknik pemaparan adalah lebih lama. Disamping teknik terapi individual, terapi kelompok dan terapi keluarga telah dilaporkan efektif pada kasus gangguan stres pascatraumatik. Keuntungan terapi kelompok adalah berbagi berbagai pengalaman traumatik dan mendapatkan dukungan dari anggota kelompok lain. Terapi kelompok telah berhasil pada veteran Vietnam. Terapi keluarga seringkali membantu mempertahankan suatu perkawinan melalui periode gejala yang mengalami eksaserbasi. Perawatan di rumah sakit mungkin diperlukan jika gejala adalah cukup parah atau jika terdapat risiko bunuh diri atau kekerasan lainnya. Farmakoterapi Obat-obat anti anxietas sebaiknya digunakan untuk waktu yang singkat karena ditakutkan akan terjadi ketergantungan, meskipun banyak obat yang efektif untuk meredakan anxietas. 1. Trycyclic and monoamine oxidase inhibitors (MAOIs) Bahwa reversible MAOIs, moclobimide juga dapat berguna dalam perawatan gangguan stress pascatrauma. 2. Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs) Perubahan terutama terlihat untuk reexperiencing dan gejala hyperarousal daripada penolakan. Yang juga menarik adalah penurunan rasa bersalah dari yang selamat. Fluvoxamine tampaknya lebih efektif. Digunakan pula paroxetine sampai 60 mg untuk 12 minggu. Disamping itu dapat pula dicoba dengan Trazodone, dosis sampai 400 mg/hari. 3. Benzodiazepin Benzodiazepin telah merupakan obat terpilih untuk gangguan kecemasan umum. Pada gangguan benzodiazepin dapat diresepkan atas dasar jika diperlukan, sehingga pasien menggunakan benzodiazepin kerja cepat jika mereka merasakan kecemasan tertentu. Pendekatan alternatif adalah dengan meresepkan benzodiazepin untuk suatu periode terbatas, selama mana pendekatan terapetik psikososial diterapkan.

16

Beberapa masalah adalah berhubungan dengan pemakaian benzodiazepin dalam gangguan kecemasan umum. Kira-kira 25 sampai 30 persen dari semua pasien tidak berespon, dan dpat terjadi toleransi dan ketergantungan. Beberapa pasien juga mengalami gangguan kesadaran saat menggunakan obat dan dengan demikian, adalah berada dalam risiko untuk mengalami kecelakaan kendaraan bermotor atau mesin.
4.

Obat-obat lainnya Propanolol dan Clonidin, keduanya secara efektif menekan aktivitas noradrenergik, telah digambarkan berguna dalam beberapa serial kasus terbuka. Selain itu juga terdapat laporan kasus yang menunjukkan keberhasilan dari alfa-agonis Guanfacine pada wanita muda. Serotonergik dibandingkan antidepresan lainnya juga berguna untuk kasus gangguan stress pascatrauma, sebagai contoh Buspirone. Dosis 60 mg/hari atau lebih dapat efketif, trauma untuk gejala hyperarousal. Sebagai tambahan, Cyproheptadine (sampai 12 minggu saat tidur) dilaporkan berguna untuk melepaskan mimpi buruk pada pasien dengan gangguan stress pascatrauma. Dopamine blocker juga dilaporkan berguna untuk beberapa kasus gangguan stress pascatrauma. Ada pula yang melaporkan kegunaan Risperidone gangguan stress pascatrauma ditunjukkan melalui kilas balik yang jelas dan mimpi-mimpi buruk. Naltrexone (50 mg/hari) dilaporkan efektif dalam mengurangi kilas balik pada pasien dengan gangguan stress pascatrauma. Tetapi tidak terdapat controlled studies dengan opiat agenda pada gangguan stress pascatrauma. Ada beberapa laporan mengenai kegunaan Thymoleptics-lithium Carbamazepine dan Valproat dalam gangguan stress pascatrauma.

BAB IV KESIMPULAN

17

Gangguan Stres Pascatraumatik adalah gangguan cemas yang terdiri dari : 1. Pengalaman tentang trauma melalui mimpi dan pikiran yang datang runtun beruntun 2. penghindaran terhadap trauma dan 3. kesadaran berlebihan yang persisten sifatnya Prevalensi gangguan stres pascatraumatik pada masyarakat umum yaitu 0,5% untuk pria dan 1,2% untuk wanita. Anak-anak dapat mengalami gangguan tersebut. Etiologi dari gangguan stres pascatraumatik antara lain : 1. Stresor 2. Faktor psikodinamik 3. Faktor biologis 4. Stresor merupakan penyebab utama dalam perkembangan gangguan stress pascatrauma. DSM-IV menyebutkan bahwa gejala pengalaman ulang, menghindar, dan kesadaran yang berlebihan harus berlangsung lebih dari satu bulan. Bagi pasien yang gejalanya ditemukan kurang dari satu bulan, diagnosis yang tepat adalah gangguan stress akut. Kriteria diagnostik DSM-IV untuk gangguan stress pascatraumatik memungkinkan klinisi menentukan apakah gangguan adalah akut (jika gejala berlangsung kurang dari tiga bulan) atau kronis (lebih dari tiga bulan). Manfaat Imipramin dan Amitriptilin, dua obat Trisiklik, dalam pengobatan gangguan stress pascatraumatik didukung oleh sejumlah uji coba klinisi terkontrol baik.

Obat lain yang mungkin berguna dalam pengobatan gangguan stress pascatraumatik adalah Serotonin-Specific Reuptake Inhibitors (SSRI), Mono-Amine Oxidase Inhibitors (MAOI), dan anti konvulsan (carbamazepin). Clonidin dan Propanol dianjurkan. Intervensi psikodinamika untuk gangguan stress pascatraumatik adalah terapi perilaku, terapi kognitif, dan hypnosis. Banyak klinisi menganjurkan psikoterapi singkat untuk korban trauma. Terapi tersebut biasanya menggunakan pendekatan kognitif dan juga memberikan dukungan dan jaminan.

18

Psikoterapi harus dilakukan secara individual, karena beberapa pasien ketakutan akan pengalaman ulang trauma. Psikoterapi setelah peristiwa traumatic harus mengikuti suatu model intervensi krisis dengan dukungan pendidikan, dan perkembangan mekanisme mengatasi dan penerimaan peristiwa. Jika gangguan stress pascatraumatik telah berkembang, dua pendekatan psikoterapi utama dapat diambil. Pertama adalah pemaparan engan peristiwa traumatic melalui teknik pembayangan (imaginal technique) atau pemaparan invivo. Pemaparan dapat menjadi kuat, seperti pada terapi implosif, atau bertahap, seperti pada desentisasi sistemik. Pendekatan kedua adalah dengan cara mengajarkan kepada pasien metode pelaksanaan stress, termasuk teknik relaksasi dan pendekatan kognitif untuk mengatasi stress.

19

BAB IV PENUTUP
Keadaan stres, konflik-konflik yang kompleks menjadikan pencetus stres bagi individu maupun masyarakat sendiri. Secara subyektif kecemasan itu bagi kebanyakan orang adalah perasaan yang tidak enak, yang perlu secepat-cepatnya dihalaukan. Secara objektif kecemasan itu merupakan suatu pola psikobiologik dengan fungsi pemberitahu (alarm) adanya bahaya, dengan mengakibatkan suatu perencanaan tindakan yang efektif, ialah suatu usaha penyesuaian diri terhadap trauma psikis, krisis dan konflik. Apabila perencanaan dalam penyesuaian diri ini berjalan dengan baik maka kecemasan akan berkurang, tetapi apabila perencanaan ini berlangsung tidak baik kecemasan bahkan akan bertambah hebat. Untuk itu dalam menghadapi kecemasan orang dapat mengadakan reaksi sebagai berikut : secara sadar menghadapinya dan berusaha meniadakan atau memperkecil kekuatannya dengan jalan rasionalisasi. Secara tidak sadar orang dapat menghadapinya dan berusaha meniadakan atau memperkecil kekuatannya dengan jalan rasionalisasi Secara tidak sadar orang dapat menempuh 2 jalan : a. Dengan menggunakan mekanisme pembelaan, yang kita lihat pada reaksi fobik dan reaksi obsesi. b. Dengan menggunakan mekanisme konversi.

20

DAFTAR PUSTAKA

1. Gabbard GO : Anxiety Disorders : The DSM IV Edition, American Psychiatric Press, Washington, 1994 2. Kaplan, Sadock : Synopsis of Psychiatry, 7th Edition, William & Wilkins, Baltimore, 1993 3. Ibrahim A. S : Panik, Neurosis dan Gangguan Cemas, PT. Dian Ariesta,Jakarta, 2003 4. Andreasen. N.C and Black. D.W, 2001, Introductory Textbook of Psychiatry. 3 rd ed, British Libarry, USA: 335-342. 5. http: // med linux.blogspot.com/2007/08/gangguan Stres Pasca Trauma.html 6. http://psiko-indonesia.blogspot.com/2007/01/ gangguan Stres Pasca Trauma.html 7. http:// www.pulih.or.id/?lang=&page=self

21

22