Anda di halaman 1dari 6

PRAKTIK PROFESI KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (KMB) PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN STIKes HANG TUAH PEKANBARU TA.

2013/2014 LAPORAN PENDAHULUAN FISTULA VESIKO VAGINA Nama NIM Ruangan Tanggal : Dwi Methasari : 09031006 : Cendrawasih I : 12-14 September 2013

A. Konsep Dasar 1. Definisi Fistula Vesikovaginal merupakan salah satu jenis fistula urogenital pada wanita. Fistula vesikovaginal terjadi karena terbentuknya saluran abnormal yang menghubungkan antara kandung kemih dan vagina. Fistula yang terbentuk memungkinkan pengeluaran urine tanpa disadari kedalam liang vagina. Salah satu penyebab terjadinya fistula, yaitu trauma obstretik (termasuk di dalamnya adalah partus yang lama & ukuran bayi yang besar). Kejadian ini sering terjadi pada negara berkembang. Sedangkan pada negara maju trauma selama dalam pembedahan ginekologik menjadi penyebab utama terbentuknya fistula. Fistula vesikovaginal paling sering ditemukan pada primigravida usia muda. 2. Etiologi Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya Fistula Vesiko Vagina antara lain: Komplikasi Obstetrik Operasi Ginekologi Prosedur Urologi Radiasi Penyebab lain yang jarang ditemukan seperti kondisi peradangan saluran pencernaan, penyakit chrons, trauma yang berasal dari benda asing dan kelainan kongenital Faktor predisposisi terjadinya Fistula Vesiko Vagina PID berulang Diabetes Melitus Aterosklerosis Keganasan Endometritis 3. Patofisiologi Secara normal pada proses partus atau persalinan, bagian kepala bayi akan menekan secara langsung jaringan lunak pada jalan lahir dan juga tulang pada dasar panggul,

4.

5.

sehingga kandung kemih yang berada di bawahnya juga akan ikut tertekan. Namun, apabila proses partus bertambah panjang, maka akan terjadinya penekanan yang lama antara kepala dan tulang panggul yang menyebabkan gangguan sirkulasi (iskemia) sehingga bisa terjadi kematian jaringan lokal (nekrosis). Sebagai respon penyembuhan terhadap nekrosis jaringan, tubuh akan membentuk jaringan fibrosis/parut pada daerah tersebut berbentuk lubang. Lubang inilah yang nantinya akan membentuk fistula. Manifestasi klinis a. Secara klinis gejala Fistula Vesiko Vagina mengalami inkontinen urine dan tidak ada rasa nyeri. b. Fistula sebagai akibat trauma obstetrik dapat timbul segera setelah persalinan atau beberapa lama setelah persalinan, sedangkan fistula akibat tindakan operasi ginekologi 5 - 14 hari pasca bedah. c. Pada fistula yang kecil urine dapat merembes sedikit. Gejala paling sering dari Fistula Vesiko Vagina adalah inkontinensia total involunter yaitu adanya iritasi daerah vulva dan seringnya terjadi ISK. Trias gejala yang timbul setelah tindakan pembedahan : sekret air kencing, nyeri perut dan kenaikan suhu badan dapat dipastikan adanya Fistula Vesiko Vagina d. Pasien mungkin mengeluhkan peningkatan pengeluaran sekret vagina yang terjadi setelah operasi panggul atau radioterapi pada panggul dengan atau tanpa operasi sebelumnya. Drainase urine ke vagina biasanya berkelanjutan, walaupun pada fistula yang ukurannya sangat kecil sekali drainase urine bisa bersifat intermitten. Inkontinensia urine kadangkala bisa menyerupai gambaran stres inkontinensia dimana urine keluar selama aktivitas fisik atau pasien berubah posisi dari baring menjadi duduk atau berdiri. e. Inkontinensia urine yang terjadi biasanya tanpa disertai nyeri. Peningkatan nyeri abdominal, panggul atau pinggang pasca operasi, ileus berkepanjangan dan demam memungkinkan adanya suatu urinoma atau asites urine dan membutuhkan evaluasi segera. Sistitis rekuren atau pielonefritis, aliran urine abnormal dan hematuria juga menjadi penanda untuk pemeriksaan lanjutan. f. Pasien dengan fistula vesikovaginal pada awalnya menampakkan gejala sistitis radiasi, hematuri dan kontraktur kandung kemih. Pada fistula vesikovaginal yang lama bisa terjadi vaginitis dan timbul ekskoriasi pada akibat iritasi dari urine. Komplikasi a. Infeksi b. Gangguan fungsi reproduksi c. Gangguan dalam berkemih d. Gangguan dalam defekasi e. Ruptur/ perforasi organ yang terkait f. Adanya iritasi pada daerah perineum dan paha atas, dermatitis kronis, infeksi saluran kemih serta penumpukkan kristal (Calculi pada buli-buli), amenorrhoe sekunder sebagai akibat sentral oleh karena depresi berat dan endometritis.

g. 6.

Juga dapat terjadi striktura / stenosis vagina yang merupakan gejala yang sering bersamaan dengan fistula. Penatalaksanaan Fistula vesikovaginal yang disebabkan oleh trauma. Pada keadaan ini segera setelah terjadi fistula, kelihatan air kencing menetes ke dalam vagina. Jika hal ini ditemukan, harus segera dilakukan penjahitan luka yang terjadi. Sebelum penjahitan, terlebih dahulu dipasang kateter tetap dalam vesika urinaria, kemudian baru luka dijahit lapis demi lapis sesuai dengan bentuk anatomi vesika urinaria; yaitu mulamula dijahit selaput lendir, kemudian otot-otot dinding vesika urinaria lalu dinding depan vagina. Jahitan dapat dilakukan secara terputus-putus atau jahitan angka delapan (figure of eight suture). Kateter tetap dibiarkan di tempat selama beberapa waktu. Fistula vesikovaginal yang disebabkan oleh karena lepasnya jaringan nekrosis. Dalam hal ini gejala beser kencing tidak segera dapat dilihat. Gejala-gejala baru kelihatan setelah 3-10 hari pasca persalinan. Kadang-kadang pada fistula yang kecil, dengan menggunakan kateter tetap (untuk drainase vesika urinaria) selama beberapa minggu, fistula yang kecil tersebut dapat menutup sendiri. Pada fistula yang agak besar, penutupan fistula baru dapat dilakukan setelah 3-6 bulan pasca persalinan. Fistula rectovaginal Merupakan suatu fistula yang terjadi karena adanya perforasi pada septum rectovaginal dapat terjadi karena proses persalinan. Pembedahan selalu dianjurkan karena beberapa fistula sembuh secara spontan. Fistulektomi (eksisi saluran fistula) adalah prosedur yang dianjurkan. Usus bawah dievakuasi secara seksama dengan enema yang diprogramkan. Selama pembedahan, saluran sinus diidentifikasi dengan memasang alat ke dalamnya atau dengan menginjeksi saluran dengan larutan biru metilen. Fistula didiseksi ke luar atau dibiarkan terbuka, dan insisi lubang rektalnya mengarah keluar. Luka diberi tampon dengan kasa. Tidak ada penanganan medikal yang dapat mengkoreksi fistula vesikovaginal dan fistula ureterovaginal dengan memuaskan. Meskipun estrogen conjugated (oral atau transvaginal) dapat memperbaiki jaringan vagina menjadi lebih lunak dan lembut untuk persiapan reparasi fistula. Hal ini penting untuk wanita postmenopause dan wanita dengan vaginitis atropik. Dapat juga diberikan estrogen vaginal cream pada pasien hipoestrogenik. Estrogen vaginal cream diberikan selama 4 6 minggu, dosis 2 4 gr saat tidur sekali per minggu. Untuk mengurangi risiko cystitis, produksi mukus yang banyak, dan terbentuknya batu buli-buli, maka urine diasamkan dengan diberikan Vitamin C oral 3 x 500 mg per hari. Untuk higiene pribadi dan perawatan kulit, maka rendam duduk dengan kalium permanganat.

B. Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian a. Sirkulasi Tanda : Peningkatan TD (efek pembesaran ginjal) b. Eliminasi Gejala : Penurunan kekuatan /dorongan aliran urin, tetesan Tanda : Feses keluar melalui fistula c. Makanan/cairan Gejala : Anoreksia; mual dan muntah Tanda : Penurunan Berat Badan d. Nyeri/kenyamanan Gejala : Nyeri suprapubik, daerah fistula dan nyeri punggung bawah e. Keamanan Gejala : Demam f. Penyuluhan/pembelajaran Gejala : Rencana pembedahan Rencana Pemulangan : Memerlukan bantuan dengan manajemen terapi 2. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul a. Nyeri berhubungan dengan iritasi mukosa, proses inflamasi b. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh, proses pembedahan c. Gangguan konsep diri berhubungan dengan perubahan pola defekasi. d. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan. e. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi, kesalahan interpretasi. 3. Intervensi Nyeri berhubungan dengan iritasi mukosa, proses inflamasi Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam nyeri berkurang atau hilang Intervensi a. Dorong pasien untuk melaporkan nyeri. Rasional: TDMencoba untuk mentoleransi nyeri tanpa analgesik. b. Kaji laporan kram abdomen atau nyeri, catat lokasi, lamanya, intensitas. Rasional: Nyeri sebelum defekasi sering terjadi pada KU dengan tiba-tiba, dimana dapat berat dan terus-menerus c. Catat petunjuk non-verbal, mis.gelisah, menolak untuk bergerak, berhati-hati dengan abdomen. Rasional: Dapat digunakan pada hubungan petunjuk verbal untuk mengidentifikasi luas/ beratnya masalah d. Kaji ulang faktor-faktor yang meningkatkan/ menghilangkan nyeri Rasional: Dapat menunjukkan dengan tepat pencetus atau faktor pemberat e. Bersihkan area rektal dengan sabun ringan dan air/lap setelah defekasi dan berikan perawatan kulit. Rasional: Melindungi kulit dari asam usus, mencegah ekskoriasi.

f.

Observasi/ catat distensi abdomen, peningkatan suhu, penurunan Rasional: Dapat menunjukkan terjadinya obstruksi usus karena inflamasi, edema, dan jaringan parut.

Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh, proses pembedahan Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam klien bebas dari tanda-tanda infeksi. Intervensi a. Pantau tanda-tanda vital, perhatikan peningkatan suhu. Rasional: Suhu malam hari memuncak yang kembali ke normal pada pagi hari adalah karakteristik infeksi. b. Obeservasi penyatuan luka, adanya inflamasi Rasional: Perkembangan infeksi dapat memperlambat pemulihan. c. Pantau pernapasan, bunyi napas. Pertahankan kepala tempat tidur tinggi 35-45 derajat, bantu pasien untuk membalik, batuk, dan napas dalam. Rasional: Infeksi pulmonal dapat terjadi karena depresi pernapasan, ketidakefektifan batuk, dan distensi abdomen. d. Observasi terhadap tanda/ gejala peritonitis, mis, demam, peningkatan nyeri, distensi abdomen. Rasional: Meskipun persiapan usus dilakukan sebelum pembedahan, peritonitis dapat terjadi bila usus terganggu, mis, ruptur praoperasi, kebocoran anastomosis. e. Pertahankan perawatan luka aspetik. Pertahankan balutan kering. Rasional: melindungi pasien dari kontaminasi silang selama penggantian balutan. Balutan basah bertindak sebagai retrograd, menyerap kontaminan eksternal. f. Berikan obat antibiotik sesuai indikasi. Rasional: Diberikan secara profilaktik dan untuk mengatasi infeksi. Gangguan konsep diri berhubungan dengan perubahan pola defekasi. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x 24 jam terjadi peningkatan rasa harga diri Intervensi a. Kaji respon dan reaksi pasien dan keluarga terhadap penyakit dan penanganannya Rasional: Menyediakan data tentang masalah pada pasien dan keluarga dalam menghadapi perubahan dalam hidup. b. Kaji hubungan antara pasien dengan anggota keluarga Rasional: Mengindentifikasi penguatan dan dukungan terhadap pasien. c. Kaji pola koping pasien dan anggota keluarga Rasional: Pola koping yang efektif diasa lalu mungkin potensial destruktif ketika memandang pembatasan yang ditetapkan.

d.

Ciptakan diskusi terbuka tentang perubahan yang terjadi akibat penyakit dan penanganannya. Rasional: Pasien dapat mengindentifikasi masalah dan langkah-langkah yang diperlukan untuk menghadapinya.

Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan. Tujuan : Kecemasan berkurang atau teratasi Intervensi a. Catat petunjuk perilaku mis, gelisah, peka rangsang, menolak, kurang kontak mata, perilaku menarik perhatian. Rasional: Stres dapat terjadi sebagai akibat gejala fisik kondisi, juga reaksi lain. b. Dorong menyatakan perasaan. Berikan umpan balik Rasional: membuka hubungan terapeutik. Membantu dalam meng-indentifikasi masalah yang menyebabkan stres. c. Akui bahwa ansietas dan masalah mirip yang diekspresikan orang lain. Tingkatkan perhatian mendengan pasien. Rasional: Validasi bahwa perasaan normal dapat membantu menurunkan stres. d. Berikan informasi yang akurat dan nyata tentang apa yang dilakukan. Rasional: Keterlibatan pasien dalam perencanaan perawatan memberikan rasa kontrol dan membantu menurunkan ansietas. e. Berikan lingkungan tenang dan istirahat. Rasional: meningkatkan relaksasi, membantu menurunkan ansietas. f. Dorong pasien/orang terdekat untuk menyatakan perhatian, perilaku perhatian. Rasional: tindakan dukungan dapat membantu pasien merasa stres berkurang. g. Bantu pasien belajar mekanisme koping baru, mis teknik mengatasi stres. Rasional: meningkatkan kontrol penyakit. C. Daftar Pustaka Doengoes Marilynn E, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Ed.3. Jakarta: EGC. http://id.scribd.com/doc/138913718/Patofisiologi-Fistula-Vesikovaginal http://id.scribd.com/doc/27215767/Fistula-1 Mansjoer Arief, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Ed 3. Jakarta: Penerbit Media Aesculapuis FKUI. Smeltzer Suzanne. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Ed 8. Jakarta: EGC.