Anda di halaman 1dari 8

Serial tulisan Tonggak-Tonggak Gerakan Seni Rupa Yogyakarta

Kaos Oblong Dagadu, paduka Tidak kalah beradabanya sama itu toga,

(Darmanto Jatman,

Duile Dagadu , 1997) Dagadu adalah sebuah fenomena. Bukan hanya dari sisi seni rupa, terutama pop culture, tapi juga kultur wirausaha yang

dikerjakan secara main-main dengan mengusung semangat perlawanan, serta identitas kota.

Mulanya, main-main ini yang ada di pikiran 25 mahasiswa arsitektur dan 2 mahasiswi dari MIPA dan Psikologisemuanya dari UGMsewaktu mereka secara resmi PT Aseli Dagadu Djokdja 9 Januari 1994. Walau main-main , toh mereka ngotot bahwa Dagaduistilah yang mereka pakai sebagai merekadalah warisan masa lalu yang panjang. Dagadu itu oleh orang Yogya sebetulnya umpatan:

matamu(!). Ini diambil dari bahasa walikan, bahasa slang orang Yogya yang disusun dengan cara membalik empat baris huruf Jawa.

ha na ca ra ka data sa wa la pa dha ja ya nya maga ba tha nga

Permainan sandi dalam bahasa walikan ini dilakukan dengan cara menjadikan baris pertama berpasangan dengan baris ketiga, baris kedua dengan baris keempat, dan begitu pula sebaliknya. Kata berbahasa Indonesia tinggal dipenggal-penggal berdasarkan suku katanya kemudian dipasangkan berdasarkan urutan baris huruf Jawa tersebut, tanpa perlu mengubah huruf vokalnya. Kata DA-GA-DU menjadi mudah dipahami. DA pada baris kedua dibaca MA yang ada di baris keempat. GA pada baris

keempat dibaca TA dibaris kedua. Dan DU (DA) berpasangan dengan MA (MU). Jadi, DAGADU itu MATAMU.

Itulah sebabnya logo DAGADU Djokdja bergambar mata. Yng itu juga berarti mata sebagai mripat yang konon berdekatan dengan makrifat. Mata juga menjadi sarana utama untuk sightseeing, jalan-jalan sambil melihat pemandangan serta panorama kota. Obat tetes mata steril

MERIPAT Menghilangkan Trihati Dan rasa Sedih di Mata, Membikin Tjantik Mata Anda Semakin Berbinar-binar P No 3 Awas Obat Keras ! Hanja Oentok Bahagian Loear Daripada Mata

Sejak kemunculannya pertama kali, posisi Dagadu adalah sebagai produk cinderamata alternatif dari Yogya. Jadi bukan sekadar kaos oblong. Mereka ingin seperti IBM yang bukan hanya komputer, tapi solusi. Karena itu produknya ringkas dan efisien, sebagaimana ciri cindermata pada umumnya. Lebih dari itu Dagadu pun bisa menjadi barang kenangan tentang kehadiran: ada cerita di baliknya, ada keunikan dibawakannya. Keunikan yang dimaksud adalah produk desain yang everything about Djokdja dengan semangat Smart, Smile, & Djokdja .

Secara ringkas karakteristik Dagadu terbingkai dalam empat ciri:

Memberi bingkai estetika pada hal-hal keseharian yang (dianggap) sederhana dan remeh. Mengungkapkan gagasan dengan gaya bermain-main yag mudah dipahami.

Memberi

penekanan

pada

aspek

keatraktifan

mealui

bentuk-bentuk sederhana yang mencolok Memilih citra fabrikan ketimbang craft atau kerajinan, baik melalui material yang digunakan maupun unsur-unsr disain dari pemilihan warna hingga finishing.

Dengan kerangka itulah, Dagadu mengeluarkan produknya. Dalam enam tahun kehadirannya, misalnya, terdapat lima item produknya, yang tersebar di POSYANDU (Pos Layanan Dagadu), UGD (Unit Gawat Dagadu), dan ULC (Unit Layanan Cepat).

Oblong T-shirt tanpa krah, bergambar, screen-painting, unisex, ukuran xl & l T-shirt tanpa krah, berkancing, bordir.

Sweater Baju hangat, tanpa krah, bergambar, screen painting, unisex, all size Baju hangat, tanpa krah, berkancing, bordir

Stationery: berhubungan dengan alat tulis, bergambar, kebanyakan printed-matter. Termasuk di sini adalah: pembatas buku, kartu pos, kertas surat, memo, kartu ucapan kosonga, stiker. Household: pernik rumah tangga, bergambar. Seperti mug, mug mini, gelas.

Aksesori: kelengkapan busana, bergambar. Seperti bandana, dompet, topi, tas kain, pin, jam tangan, raincoat.

Sebagai bentuk komunikasi dengan publik, Dagadu mengeluarkan tiga newsletter: (1) tandamata: newsetter ini ditujukan sebagai ajang komunikasi antara Dagadu dengan publik. Melalui layanan inilah segala info tentang produk, layanan, maupun agenda kegiatan diwartakan; (2) AmatiUGD:

media ini mewadahi segala hal yang terkait dengan Dagadu dalam konteks belajar: kewirausahaan, mendesain, maupun belajar menjadi anak muda yang kreatif dan penuh potensi; dan (3) Hirukpikuk Djokdja: media yang berkisah tentang Djokdja, kota yang telah melahirkan dan membesarkan DAGADU Djokdja. Tiap edisi berkisah tentang satu sisi kota Djokdja baik artefak, seremoni, sejarah, mitos, bahasa, maupun living culture.

Dagadu sebagai Usaha Cinderamata Sebagaimana dikutip James J. Spillane (2001), UNESCO Cultura Tourism Development (1993-1994) mengeluarkan laporan bahwa di Yogyakarta dan Jawa Tengah, wisatawan asing mengeluarkan 18% dari anggaran untuk cinderamata dan 33% untuk akomodasi. Dan cinderamata nomor satu adalah batik. Kaos oblong?

Di situlah kehandalan Dagadu yang disebut oleh pakar pemasaran ternama Hermawan Kertajaya, sebagai kecerdasan pemasaran, khususnya menyiasati content differentiation. Apa itu? Itulah plesetan khas Yogyakarta. Nah, segmentasi yang cukup teliti dan diikuti dengan targeting yang cermat serta postioning yang tepat membuat Dagadu seperti menemukan dan kemudian membangun pasar baru: souvenir untuk anak-anak muda wisnu (wisatawan nusantara); mulai dari anak SD hingga mahasiswa universitas yang berusia duapuluhan.

Dan Yogyakarta beruntung memiliki contoh wirausaha sinergik seperti dipraktikkan Dagadu ini. Dalam konteks itu, James J. Spillane (2001) menyebut bahwa Dagadu, suatu lembaga yang sangat imajinatif dan penuh daya khayal , lahir dari perkawinan antara pasar pariwisata lokal dan universitas lokal.

Dagadu sebagai Budaya Pop Menurut Seno Gumira Ajidarma (2001), dagadu adalah bagian kebudayaan pop: kaos oblong, disain, dan pasar. Seperti semua

produk komoditas lain, Dagadu bergulat dengan ide-ide untuk dijual dan menghadapi persoalan-persoalan pasar. Hal itu terlihat dari warna-warna yang digunakan dalam desain produk yang umumnya warna pop. Warna Dagadu bukanlah warna batik tulis yang serba coklat tua, bukan warna gudeg, bukan warna ayam goreng, dan tentu bukan warna kraton yang serba hijau tua atau kuning sepet yang bikin ngantuk.

Warna Dagadu kombinasi warna populer berciri kurang ajar, slengekan, nakal, humor tercermin pada warna merah, oranye, kuning, hijau, biru, dan ungu yang dipisahkan, ditegaskan, dan dikunci dengan garis kontur hitam (Sumbo Tinarbuko, 2001). Tentu saja, warna-warna itu juga membuka mata dan memang ditujukan untuk menyenangkan mata: memberi perasaan enak, riang, dan gembira. Dengan kata lain, warna pop Dagadu adalah warna yang disusun supaya harmonis. Ini berbeda dengan antiharmoni yang diperlihatkan oleh sidestream dalam fenomena budaya pop Barat, yang menolak segala kuasa artistik dan kemapanan estetik. Dengan penerimaan atas harmoni ini, jelas warna-warna Dagadu tidak ingin hadir untuk mengganggu, memberontak, dan mengacaukan selera. Penerimaan dan harmonisasi ini menempatkannya ke dalam estetika resepsi. Dalam estetika ini, bukan cita-cita disainer, melainkan penerimaan khalayak yang menjadi ukuran. Namun berhadapan dengan budaya adiluhung, Dagadu adalah antitesis, sementara berhadapan dengan budaya pop, dagadu termasuk dalam mainstream.

Desain Dagadu: Estetik Dekoratif+Parodi Dalam analisis Sumbo Tinarbuko (2001), disain kaos obong Dagadu Djokdja bisa dibagi dalam dua kelompok besar. Satu, disain dengan dominasi huruf dan tipografi sebagai kekuatan teks. Susunan teks di situ dibaca sebagai ilustrasi. Dua, disain yang mengedepankan unsur tipografi dan ilusrasi sebagai kekuatan daya ungkap. Dan keduanya mengedepankan unsur

humor, parodi, plesetan sebagai unique selling preposition dari produk kaos. Selain itu, produk desain kaos juga dirancang, dikemas, dan dihadirkan dengan tampilan desain poster.

Sebagai tipografi, bisa dilihat dari seri disain: Malio-Boro Malio-Boros . Pada disain itu terlihat upaya bermain-main dengan keisengan kreatif sambil mencoba memberikan aksentuasi dan penambahan huruf s pada kata Malioboro yang bermuara perbedaan makna yang kontras. Mengacu pada konsep parodinya Bachtin, disain Dagadu itu bertujuan mengekspresikan perasaan tidak puas, kurang nyaman dengan kondisi sosial budaya di sekitar Malioboro kian sumpek, kotor, macet, bikin pusing dan bising.

Menurut staf pengajar program Studi Desain Komunikasi Visual, FSR-ISI Yogyakarta itu, disain Dagadu yang lebih mengedepankan unsur tipografi dan ilustrasi sebagai kekuatan daya ungkap sebetulnya lebih banyak mengacu pada pendekatan disain modern. Ciri disain ini menonjolkan unsur kesederhanaan dengan white space yang luas sehingga memberikan keseimbagan yang terkontrol. Penekanannya pada bentuk horisontal, vertikal, dan diagonal. Pola modern ini bercirikan keteraturan, sederhana, dan kerapian geometri.

Dan pilihan disainer Dagadu adalah pada bentuk idiom estetik dekoratif, yakni suatu cara tertentu dalam mengkomposisikan elemen-elemen bentuk (ilustrasi, tipografi, layout,d an bidang) dengan menghasilkan bentuk-bentuk tertentu. Dalam hal ini, estetik dekoratif adalah sebuah istilah yang ditujukan pada perwujudan karya seni rupa dan desain yang menonjolkan segi hiasannya. Desainer Dagadu, menurut Sumbo, sangat sadar dengan pilihan estetik ini yang mencoba harmonis dengan asumsi publik pada umumnya. Apalagi sejak awal mereka melempar karya desain di pasar oblong bebas, niatan luhurnya menggunakan semangat parodi, semangat nyindir, dan semangat

ngenyek. Nah, estetik dekoratif cocok dengan tiga semangat itu. Berupaya melakukan sindiran tetapi tak melukai perasaan yang ditembak. Lain cerita dengan misalnya Dagadu memilih estetik realis.

Identitas Kota Sebagaimana kata Hermawan Kartajaya, keunggulan Dagadu adalah pilihan desain dan plesetannya pada karakter kota Yogya. Seno Gumira pun melihat bahwa Dagadu adalah saksi mata pertumbuhan kota dengan ragam ceritanya. Walau tema dan desain kaos oblongnya bisa begitu lokal, domestik, unik, Dagadu tak tenggelam dalam sikap chauvinistik.

Ambil misalnya seri disain Sleeping in My Becak; Traffic Jam Session: Nikmati Bersama Suasana Djokdja; Slippery When Wet: Djokdja 0.0 km - Awas Plesetan, Rest R.I.D. in Djokdja; Save the Bust For Last: Laste! Laste!; Tugu or not Tugu.

Untuk melihat keunikan tradisi bersepeda, Dagadu mengeluarkan seri desain yang berusaha mengejek diri dan mengubah keminderan bersepeda menjadi pura-pura bangga: Mijn Fiets is Bereid dan Naik sepeda Harap Turun: nikmati keramahan kampung-kampung.

Ada juga seri tema yang mengandaikan mentalitas orang Yogya dan perubahannya, seperti: As You Wish! As Yo Wis! Terserah!, Alon-Alon Waton on Time dan Cuek is the Best. Khusus seri Cuek, Dagadu punya cerita. Gara-gara produk itu, Rae Sita dan psikolog Sarlito Wirawan mengajukan kritik. Menurut keduanya, budaya cuek is the best yang dipopulerkan Dagadu itu merusak anak muda. Padahal, seperti kata Ahmad Noor Arief (1999), mereka hanya menyindir, nglulu, dan bukan hendak mengampanyekan mental itu. Bagi orang Yogya, jelas sekali bahwa itu hanya sindiran yang membikin tergeli dengan mental jelek yang dipelihara.

Dengan sindirian khas Yogya di kaos oblong itu pula, Dagadu telah menjadi identitas kota. Kekhasannya sebagai identitas kota sudah bisa disejajarkan dengan gudeg, bakpia pathuk, maupun perak kotagede.