Anda di halaman 1dari 37

FM-UII-AA-FKA-07/R1

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

MATERI/BAHAN MATA KULIAH


Fakultas Jurusan/Program Studi Kode Mata Kuliah Nama Mata Kuliah : PSIKOLOGI : Psikologi : : Pendidikan Pancasila Pertemuan ke Modul ke Juml. Halaman Mulai Berlaku : : : : VII, VIII, IX 4 1 2006

IV. PANCASILA SECARA YURIDIS KETATANEGARAAN A. Pendahuluan Perumusan Pancasila di dalam Pembukaan UUD 1945, menurut sistem konstitusional Indonesia mengandung dua makna penting, yaitu : pertama, sebagai dasar negara RI yakni sebagai dasar falsafahnya, dan kedua sebagai norma pokok (Grundnorm) atau kaidah fundamental negara yang merupakan sumber utama tertib hukum Indonesia. Rumusan Pancasila yang menyatu menjadi bagian dari isi Pembukaan UUD 1945 mempunyai kedudukan yang sangat kuat, karena menurut Tap No. XX/MPRS/1966 jo. Tap No. V/MPR/1973 merupakan sumber tertib hukum dan tata urutan peranturan perundang-undagan RI. Prof. Dr. Notonagoro, S.H. dalam pidato dies di Universitas Pancasila Jakarta menyatakan bahwa Pembukaan UUD 1945 yang memuat Pancasila sebagai dasar negara merupakan satu rangkaian dengan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945; Oleh karena itu, tidak dapat diubah oleh siapapun, termasuk MPR hasil Pemilu, karena mengubah isi Pembukaan UUD 1945 berarti pembubaran negara. Dalam kedudukan yang demikian maka Pembukaan UUD 1945 merupakan dasar dan sumber hukum bagi batang tubuhnya. B. Pembukaan UUD 1945 Pebukaan UUD 1945 bersama pasal-pasal UUD 1945 disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945, dan diundangkan dalam Berita RI Tahun II No. 7. Menurut ilmu hukum Pembukaan UUD 1945 mempunyai kedudukan di atas pasalpasal UUD 1945. Diantara Pembukaan UUD 1945 dengan pasal-pasalnya, dalam tertib hukum Indonesia memiliki kedudukan hukum yang berbeda, namun keduanya terjalin dalam hubungan kesatuan yang kausal dan organis. Pembukaan UUD 1945 terdiri atas empat alinea yang isi tiap-tiap alinea memiliki spesifikasi sendiri-sendiri. Alinea I, II, dan III memuat pernyataan yang tidak memiliki hubungan kausal organis dengan pasal-pasalnya. Bagian tersebut

memuat serangkaian pernyataan yang menjelaskan peristiwa atau keadaan yang mendahului terbentuknya negara. Adapun Alinea IV memuat pernyataan mengenai keadaan sesudah Negara Indonesia terbentuk, dan isinya memiliki hubungan kausal organis dengan pasal-pasal UUD 1945. Hubungan itu meyangkut 4 hal, yaitu : Pertama Kedua Ketiga Keempat : UUD ditentukan akan ada : yang diatur dalam UUD adalah tentang pembentukan pemerintahan negara yang memenuhi pelbagai syarat. : Negara Indonesia adalah berbentuk republic yang berkedaulatan rakyat. : Ditetapkannya Pancasila sebagai dasar filsafat negara Indonesia Pembukaan UUD 1945 yang memuat sifat-sifat fundamental dan asasi bagi negara tersebut, pada hakikatnya mempunyai kedudukan tetap dan tidak dapat diubah, baik secara formal maupun material. Secara formal Pembukaan dibentuk dan ditetapkan oleh pembentuk negara yang sesudah mendirikan Negara RI kemudian membubarkan diri. Hingga saat ini secara formal tidak ada satu lembaga negara pun yang dianggap setara dengan pembentuk negara. Secara material Pembukaan memuat Pancasila Dasar Negara Indonesia, dan oleh karena itu melekat pada kelangsungan hidup negara Proklamasi 17 Agustus 1945 yang hanya satu kali terjadi, serta merupakan fakta sejarah yang tidak dapat terulang lagi. 1. Hakikat Pembukaan UUD 1945 a. Pembukaan UUD 1945 sebagai Tertib Hukum Tertinggi Pembukaan UUD1945 dalam kaitannya dengan tertib hukum Indonesia memiliki dua aspek fundamental, yaitu pertama, memberikan faktor-faktor mutlak bagi terwujudnya tertib hukum Indonesia; dan kedua, memasukkan diri dalam tertib hukum Indonesia sebagai tertib hukum tertinggi. Dalam kedudukan dan fungsinya sebagai dasar Negara RI, pada hakikatnya Pembukaan UUD 1945 merupakan suatu dasar dan asas kerokhanian dalam setiap aspek penyelenggaraan negara, termasuk dalam penyusunan tertib hukum Indonesia. Oleh karena itu, maka kedudukan Pancasila sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 adalah sebagai sumber dari segala sumber hukum Indonesia. Dalam penjelasan Pembukaan UUD 1945 yang termuat di dalam Berita RI Tahun II No. 7, ditegaskan bahwa Pembukaan UUD 1945, didalamnya terkandung Pokok-pokok Pikiran yang meliputi suasana kebatinan dari UUD Negara Indonesia, serta mewujudkan suatu cita-cita hukum, yang menguasai

hukum dasar tertulis (UUD) maupun hukum dasar yang tidak tertulis (convensi). Pokok-pokok Pikiran tersebut dikonkritisasikan (dijelmakan) dalam pasal-pasal UUD 1945. Dalam pengertian ini dapat disimpulkan bahwa Pembukaan UUD 1945 adalah sebagai sumber hukum positif Indonesia. b. Pembukaan UUD1945 Memenuhi Syarat Adanya Tertib Hukum Indonesia Dalam Alinea IV Pembukaan UUD1945 termuat unsur-unsur yang menurut ilmu hukum disyaratkan bagi adanya suatu tertib hukum ( rechtsorde atau legal order), yaitu suatu kebulatan dan keseluruhan peraturan-peraturan hukum. Adapun syarat-syarat tertib hukum yang dimaksud adalah : 1) Adanya kesatuan subyek, yaitu penguasa yang mengadakan peraturan hukum. Dalam hal ini adalah Pemerintahan Negara RI. 2) Adanya kesatuan asas kerokhanian, yang merupakan dasar dari keseluruhan peraturan-peraturan hukum yang merupakan sumber dari segala sumber hukum. 3) Adanya kesatuan daerah di mana peraturan hukum berlaku. Dalam hal ini yang dimaksud adalah seluruh tumpah darah Indonesia. 4) Adanya kesatuan waktu, di mana keseluruhan peraturan hukum berlaku. Ini terpenuhi dengan adanya kalimat maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia. Di dalam suatu tertib hukum terdapat urutan-urutan susunan yang bersifat hierarkhis, di mana UUD (pasal-pasalnya) bukanlah tertib hukum tertinggi. Diatasnya masih terdapat norma dasar yang menguasai hukum dasar tertulis (UUD) maupun yang tidak tertulis (convensi), yang pada hakikatnya memiliki kedudukan hukum yang lebih tinggi yang dalam ilmu hukum tata negara disebut Staatsfundamentalnorm. Berdasarkan hal tersebut maka kedudukan Pembukaan UUD 1945 dalam tertib hukum Indonesia adalah sebagai berikut : 1) Menjadi dasarnya, karena Pembukaan UUD1945 memberikan faktorfaktor mutlak bagi adanya sutau tertib hukum Indonesia. 2) Pembukaan UUD1945 memasukkan diri didalamnya sebagai ketentuan hukum yang tertinggi.

c. Pembukaan UUD 1945 Sebagai Pokok Kaidah Negara yang Fundamental Dalam tertib hukum Indonesia, Pembukaan UUD 1945 berkedudukan sebagai Pokok Kaidah Negara yang Fundamental (Staatsfundamentalnorm). Suatu Staatsfundamentalnorm menurut ilmu hukum tata negara memiliki beberapa unsur mutlak, antara lain adalah : 1) Dari segi terjadinya, ditentukan oleh pembentuk negara dan terjelma dalam pernyataan lahir sebagai penjelmaan kehendak Pembentuk Negara untuk dijadikan sebagai dasar-dasar negara yang dibentuknya. 2) Dari segi isinya, memuat dasar-dasar pokok negara yaitu : a) Dasar Tujuan Negara (baik tujuan umum maupun khusus). b) Ketentuan diadakannya UUD Negara c) Bentuk Negara d) Dasar Filsafat Negara (asas kerokhanian negara) Dalam hubungannya dengan pasal-pasal UUD 1945 maka Pembukaan UUD 1945 mempunyai hakikat dan kedudukan sebagai berikut : 1) Dalam hubungannya dengan tertib hukum Indonesia, maka Pembukaan UUD 1945 mempunyai hakikat kedudukan yang terpisah dengan batang tubuhnya (pasal-pasal). Hal itu karena : a) Pembukaan UUD 1945 sebagai staatsfundamentalnorm merupakan tertib hukum tertinggi, sehingga pada hakikatnya mempunyai kedudukan lebih tinggi daripada batang tubuh UUD 1945. b) Pembukaan UUD 1945 merupakan sumber hukum dasar negara, karena ia merupakan staatsfundamentalnorm yang menguasai baik hukum dasar tertulis maupun yang tidak tertulis. c) Pokok-pokok Pikiran yang terkandung dalam Pembukaan UUD1945 harus dijabarkan ke dalam pasal-pasal UUD1945. 2) Pembukaan UUD 1945 merupakan suatu tertib hukum tertinggi dan pada hakikatnya mempunyai kedudukan lebih tinggi daripada batang tubuhnya. 3) Pembukaan UUD 1945 merupakan pokok kaidah negara yang fundamental yang menentukan adanya UUD 1945, yang menguasai hukum dasar tertulis (UUD) maupun tidak tertuis (convensi), jadi merupakan sumber hukum dasar negara.

4) Pembukaan UUD 1945 sebagai pokok kaidah negara yang fundamental mengandung pokok-pokok pikiran yang harus dijabarkan dalam pasalpasal UUD 1945. d. Pembukaan UUD 1945 Tetap Terlekat Dalam Kelangsungan Hidup Negara Republik Indonesia 17Agustus 1945 Pembukaan UUD 1945 mempunyai hakikat kedudukan sebagai naskah Proklamasi yang terinci, yaitu sebagai penjelmaan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, serta hakikat kedudukan lain sebagaimana tersebut dalam uraian di atas. Oleh karena itu Pembukaan UUD 1945 memiliki hakikat kedudukan hukum yang kuat, bahkan secara yuridis tidak dapat diubah, karena terlekat pada kelangsungan hidup negara. Hal itu berdasarkan alasan-alasan sebagai berikut : 1) Menurut tata hukum, suatu peraturan hukum hanya dapat diubah atau dihapuskan oleh penguasa atau dengan peraturan hukum yang lebih tinggi tingkatannya daripada penguasa yang menetapkannya. Dalam konteks ini, Pembukaan UUD1945 sebagai Staatsfundamentalnorm dari segi terjadinya ditentukan oleh pembentuk negara (PPKI), yaitu lembaga yang menentukan dasar-dasar mutlak negara, bentuk negara, tujuan negara, kekuasaan negara, bahkan menentukan dasar filsafat negara Pancasila. Setelah negara terbentuk, semua penguasa negara merupakan alat perlengkapan negara yang berkedudukan lebih rendah daripada pembentuk negara. Oleh karena itu, semua hukum yang dibuat oleh alat perlengkapan negara pada hakikatnya di bawah pembentuk negara dan dengan demikian tidak berhak meniadakan Pembukaan UUD 1945 sebagai Staatsfundamentalnorm. 2) Pembukaan UUD 1945 pada hakikatnya merupakan suatu tertib hukum tertinggi di Negara RI. Dalam ilmu hukum tatanegara, peraturan hukum yang berkedudukan di bawah Pembukaan UUD 1945 secara yuridis tidak dapat meniadakan Pembukaan UUD 1945. Selain itu dalam Pembukaan UUD 1945 terkandung faktor-faktor mutlak bagi adanya suatu tertib hukum. Konsekuensinya Pembukaan UUD 1945 mempunyai kedudukan yang tetap melekat pada negara dan secara hukum tidak dapat diubah. 3) Pembukaan UUD 1945 secara material tidak dapat diubah, karena dilihat dari segi isinya Pembukaan UUD 1945 merupakan pengejawantahan

Proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia yang hanya satu kali terjadi. Proklamasi Kemerdekaan merupakan awal bangsa Indonesia hidup bernegara sebagai suatu rahmat dari Allah Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Pembukaan UUD 1945 dan Negara RI pada hakikatnya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Pembukaan UUD 1945 senantiasa melekat dan menyertai kelahiran Negara RI yang hanya satu kali terjadi, sehingga pada hakikatnya Pembukaan UUD 1945 senantiasa melekat pada kelangsungan hidup Negara RI (Notonagoro, tanpa tahun : 15). 2. Pengertian Isi Pembukaan UUD 1945 a. Alinea Pertama : Bahwa sesungguhnya kemerdekaan ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu; maka penjajahan di atas di dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan. Dalam Alinea Pertama tersebut terkandung pengakuan tentang nilai hak kodrat yaitu hak kemerdekaan bagi segala bangsa. Deklarasi kemerdekaan atas segala bangsa merupakan suatu pernyataan yang bersifat universal. Hak kodrat adalah hak yang merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang melekat pada manusia sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial. Oleh karena kemerdekaan sifatnya sebagai hak kodrat, maka bersifat mutlak dan asasi serta hak itu juga merupakan hak moral. Ada dan berlakunya hak kemerdekaan itu adalah sejalan dengan tuntutan prikemanusiaan dan perikeadilan. Dengan demikian pengingkaran terhadap hak kodrat ini bagaimanapun bentuk dan manifestasinya harus lenyap dari atas bumi, sebagaimana halnya suatu penjajahan oleh negara terhadap negara lainnya. Penekanan pemberian hak kemerdekaan ini ditujukan kepada segala bangsa dalam wujud kebulatannya, tidak kepada individu. Namun tidak berarti bahwa hak kebebasan individu tidak mempunyai tempat sama sekali. Dalam hal ini, hak kebebasan individu dilekatkan dalam hubungannya dengan bangsa sebagai satu pokok kebulatan. Jadi kebebasan individu ditempatkan dalam hubungannya sebagai spesies terhadap genus-nya. Kata prikeadilan dan prikemanusiaan menjadi ukuran penentunya, yaitu bahwa dalam batas-batas keadilan dan kemanusiaan, manusia sebagai individu diakui kemandiriannya sehingga diakui pula hak-hak kebebasannya.

Pernyataan hak kemerdekaan dalam Pembukaan menunjukkan adanya perbedaan pandangan bangsa Indonesia mengenai hak kemerdekaan dalam ukuran negara-negara Barat pada umumnya yang menekankan pada kemerdekaan individu (liberalisme). b. Alinea Kedua : Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah pada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Alinea kedua ini merupakan suatu konsekuensi logis dari pernyataan akan kemerdekaan pada alinea pertama. Perjungan kemedekaan bangsa Indonesia di samping sebagai bukti obyektif atas penjajahan kepada bangsa Indonesia, juga merupakan perwujudan dari hasrat yang kuat dan bulat untuk menentukan nasib sendiri, terbebas dari kekuasaan bangsa lain. Hasil perjuangan bangsa Indonesia itu terjelma dalam suatu Negara Indonesia. Menyusun suatu negara atas kemampuan sendiri dan selanjutnya untuk menuju pada suatu cita-cita bersama, yaitu suatu masyarakat yang berkeadilan dan berkemakmuran. Demi terwujudnya cita-cita tersebut maka bangsa Indonesia harus merdeka, bersatu, dan mempunyai kedaulatan. Bangsa yang merdeka mengandung makna, negara yang benar-benar bebas dari kekuasaan bangsa lain, dapat menentukan nasibnya sendiri, bukan negara protektorat. Bersatu mengandung arti sebagai kebulatan kesatuan bangsa karena unsur utama negara adalah bangsa. Berdaulat diartikan sebagai bangsa yang merdeka, yang berdiri di atas kemampuan sendiri, kekuatan dan kekuasaannya sendiri, berhak dan bebas menentukan tujuan dan nasib sendiri, dan dalam kedudukannya di antara sesama bangsa dan negara adalah memiliki derajat yang sama. Dalam hubungan antar bangsa dan antar negara terjalin atas dasar saling menghormati berdasarkan keadilan dan kemanusiaan. Pengertian negara Indonesia yang adil yaitu negara yang mewujudkan keadilan dalam kehidupan bersama, yang meliputi : keadilan antara negara terhadap warga negara (keadilan distributive), antara warga negara terhadap negara (keadilan legal atau bertaat), dan di antara sesama warga negara (keadilan komutatif).

Cita-cita bangsa tentang kemakmuran berarti sebagai pemenuhan kebutuhan manusia baik material maupun spiritual, jasmani maupun rokhani. Secara lebih luas kemakmuran berarti tercapainya tingkatan harkat dan martabat manusia yang lebih tinggi yang meliputi seluruh unsur kodrat. c. Alinea Ketiga : Atas Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongoleh keinginan luhur supaya berkehidupan berbangsa yang bebas maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. Alinea ketiga ini berisi pernyataan kembali Proklamasi Kemerdekaan sehingga keberadaannya tidak dapat dilepaskan dengan pernyataan pada alinea pertama dan kedua. Alinea ketiga merupakan titik kulminasi yang pada akhirnya dilanjutkan pada alinea keempat yaitu tentang pendirian Negara Indoneia. Pernyataan dalam alinea ketiga mengandung 3 makna, yaitu : pengakuan nilai religius, pengakuan nilai moral, dan pernyataan kembali Proklamasi kemerdekaan Indonesia. d. Alinea Keempat : Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social ,maka disusunlah kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adildan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Alinea keempat merupakan pernyataan lebih lanjut tindakan yang harus dilakukan setelah berdirinya Negara Indonesia. Alinea keempat memuat perincian prinsip-prinsip dan pokok-pokok kaidah pembentukan pemerintahan negara Indonesia. Adapun isi pokok yang terkandung dalam Alinea keempat meliputi 4 hal yang merupakan prinsip-prinsip pokok kenegaraan, yaitu : 1) Tentang Tujuan Negara : a) Tujuan khusus, yaitu berkait dengan politik dalam negeri, terdiri atas :

(1) Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Dalam hubungannya dengan prinsip negara hukum mengandung pengertian negara hukum formal. (2) Memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebagai bukti dianutnya prinsip negara hukum material. b) Tujuan Umum, dalam arti lingkup kehidupan sesama bangsa di dunia, atau reaisasinya berhubungan dengan politik luar negeri, yaitu di antara bangsa-bangsa di dunia bangsa Indonesia ikut melaksanakan suatu ketertiban dunia yang berdasarkan pada prinsip kemerdekaan, perdamaian abadi, serta keadilan sosial. Prinsip ini mendasari kebijakan politik luar negeri yang bebas dan aktif. 2) Tentang Ketentuan Diadakannya UUD Negara Ketentuan mengenai hal tersebut di atas terkandung dalam kalimat maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesiaitu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia . Pernyataan di atas menunjukkan bahwa Negara Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum, negara yang bersifat konstitusional di mana mengharuskan bagi Negara Indonesia untuk diadakannya UUD Negara. Ketentuan ini merupakan sumber hukum atau dasar yuridis bagi adanya UUD 1945. Berdasarkan ketentuan ini maka jelas bahwa Pembukaan UUD1945 merupakan dasar yuridis atau sumber hukum bagi adanya UUD1945, dan dengan demikian maka Pembukaan UUD 1945 memiliki kedudukan lebih tinggi daripada pasal-pasal UUD 1945. 3) Tentang Bentuk Negara Ketentuan ini terdapat dalam anak kalimat yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat. Berdasarkan ketentuan tersebut dapat diketahui bahwa bentuk negara Indonesia Republik yang berkedaulatan rakyat. Negara dari, oleh dan untuk rakyat. Hal ini berarti merupakan norma dasar negara bahwa kekuasaan adalah di tangan rakyat. 4) Tentang Dasar Filsafat Negara Tersimpul dari dimuatnya sila-sila Pancasila sebagaimana tersebut dalam anak kalimat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan .dst. .

3. Tujuan Pembukaan UUD 1945 Berdasarkan susunannya, Pembukaan UUD 1945 mengandung 4 tujuan yang berbeda, yaitu : a. Alinea I, untuk mempertanggungjawabkan bahwa pernyataan kemerdekaan sesuatu yang sudah selayaknya, karena berdasarkan atas hak kodrat yang bersifat mutlak dari moral bangsa Indonesia untuk merdeka. b. Alinea II, untuk menetapkan cita-cita bangsa Indonesia yang akan dicapai dengan kemerdekaan, yaitu : terpeliharanya secara sungguh-sungguh kemerdekaan dan kedaulatan negara, kesatuan bangsa, negara, dan daerah atas dasar keadilan hukum dan moral, bagi diri sendiri dan pihak lain serta kemakmuran bersama yang berkeadilan. c. Alinea III, untuk menegaskan bahwa Proklamasi Kemerdekaan menjadi permulaan dan dasar hidup kebangsaan dan kenegaraan bagi seluruh orang Indonesia, yang luhur dan suci dalam lindungan Tuhan yang Maha Esa. d. Alinea IV, untuk melaksanakan segala sesuatu itu dalam perwujudan dasardasar tertentu yang tercantum dalam Alinea IV Pembukaan UUD1945, sebagai ketentuan pedoman dan pegangan yang tetap dan praktis yaitu dalam realisasi hidup bersama dalam suatu negara Indonesia ang berdasarkan Pancasila (Notonagoro, 1974 : 40) 4. Kedudukan Pembukaan UUD1945 a. Pembukaan UUD 1945 sebagai Pernyataan Kemerdekaan yang Terinci Dengan Pembukaan UUD 1945, maka Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 mendapatkan makna yang selengkapnya, karena baik pernyataan maupun tindakan-tindakan yang harus direalisasikan berkaitan dengan Proklamasi Kemerdekaan diperinci secara lengkap dalam Pembukaan UUD 1945. Dalam Pembukaan UUD1945 baik pernyataan proklamasi (pada alinea III) maupun tindakan-tindakan pembentukan Negara RI dirinci sejak alinea III. Kemudian pada alinea IV diawali dengan kalimat ... kemudian dari pada itu yang berarti setelah berdirinya Negara RI, dibentuklah suatu pemerintahan negara yang perinciannya adalah sebagai berikut : 1) Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruhtumpah darah Indonesia. 2) Memajukan kesejahteraan umum. 3) Mencerdaskan kehidupan bangsa.

4) Ikut meaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial. 5) Membentuk pemerintahan negara agar meaksanakan tujuan negara yang demikian ini, dan disusunlah suatu UUD Negara Indonesia. 6) UUD yang dimaksudkan itu terbentuk dalam suatu susunan Negara RI yang berkedaulatan rakyat. 7) Negara RI yang berkaulatan rakyat itu berdasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa serta Kemanusiaan yang adil dan beradab, dst. b. Kedudukan dan Fungsi Pembukaan UUD1945 sebagai Rangka dan Susunan Kehidupan Negara dan Tata Hukum Indonesia Pembukaan UUD 1945 memuat niai-nilai fundamental Negara Indonesia, terutama alinea IV karena didalamnya terkandung asas kerokhanian negara, tujuan negara, bentuk negara (asas politik negara), yang pada hakikatnya merupakan dasar bagi penyusunan UUD Negara Indonesia. Dengan demikian Pembukaan UUD1945 memiliki kedudukan hukum yang sangat kuat, dan berdasarkan kenyataan, Pembukaan UUD 1945 berada pada tingkatan tertib hukum tertinggi dan memberikan faktor-faktor mutlak bagi adanya tertib hukum Indonesia. Dalam pengertian ini, isi yang terkandung dalam Pembkaan UUD 1945 secara sistematis merupakan suatu kesatuan yang bertingkat dan berfungsi sebagai dasar, rangka, dan suasana bagi negara dan tertib hukum Indonesia, yang pernciannya adalah sebagai berikut : 1) Pancasila sebagaimana termuat dalam Pembukaan UUD1945, yang juga berkedudukan sebagai pandangan hidup bangsa adalah dasar filsafat, asas kerokhanian, dan basis bagi berdirinya Negara RI (sebagai dasar). 2) Di atas dasar tersebut berdiri Negara Indonesia dengan asas politik negara yang berupa bentuk republik yang berkedaulatan rakyat. 3) Di atas kedua basis tersebut diwujudkan pelaksanaan dan penyelenggaraan Negara Indonesia yang tercantum dalam peraturan pokok hukum positif Indonesia yaitu UUD 1945 (sebagai rangka). 4) Di atas UUD yang merupakan basis berdirinya bentuk, susunan, dan sistem pemerintahan, serta seluruh peraturan hukum positif, diselenggarakan pemerintahan negara yang mencakup segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dalam suatu hidup sesama secara kekeluargaan.

5) Semua itu adalah dalam rangka untuk mewujudkan tujuan bersama, seluruh bangsa dan tumpah darah Indonesia, untuk mencapai kebahagiaan baik jasmaniah maupun rokhaniah. Dengan demikian, keseluruhannya itu merupakan suatu kesatuan yang bertingkat, dan seluruh kehidupan bangsa dan negara beserta seluruh sistem hukumnya secara keseluruhan berdiri di atas dan diliputi oleh asas kerokhanian Pancasila yang termuat dalam Pembukaan UUD 1945, dalam pengertian ini maka Pembukaan UUD1945 sebagai suasana. c. Pembukaan Memuat Sendi-sendi Mutlak Kehidupan Negara Menurut ilmu hukum Pembukaan UUD1945 merupakan Pokok Kaidah Negara yang Fundamental (Staatsfundamentalnorm). Konsekuensinya, selain merupakan suasana kerokhanian dari UUD1945, Pembukaan UUD1945 juga merupakan pangkal derivasi (sumber penjabaran normatif) dari pasal-pasal UUD 1945 dan hukum positif lainnya. Oleh karena itu, dalam Pembukaan UUD1945 terkandung sendi-sendi mutlak bagi kehidupan negara, yaitu : 1) Hakikat dan sifat negara. Negara Indonesia adalah Negara Rebublik yang berkedaulatan rakyat, oleh karena itu hakikat dan sifat negara berdasarkan sifat kodrat manusia monodualis yaitu sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. 2) Tujuan Negara 3) Kerakyatan (Demokrasi) 4) Dasar Pemerintahan Negara 5) Bentuk Susunan Persatuan 5. Fungsi Pembukaan UUD 1945 dan Pokok-Pokok Pikiran Menurut Penjelasan Resmi dari Pembukaan UUD1945 yang termuat dalam Berita RI tahun II No. 7 ditegaskan bahwa Pembukaan UUD 1945 mengandung Pokok-pokok Pikiran yang meliputi suasana kebatinan UUD Negara Indonesia. Pokok-pokok Pikiran itu mewujudkan cita-cita hukum ( rechtsidee) yang menguasai hukum dasar negara, baik hukum dasar tertulis (UUD) maupun hukum dasar tidak tertulis (konvensi). Dengan pokok-pokok Pikiran tersebut, nilai-nilai yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 dijelmakan dan dijabarkan secara normatif dalam pasal-pasal UUD 1945. Pokok-pokok pikiran itu sekaligus

merupakan penjelasan logis dari inti alinea IV Pembukaan UUD 1945, sehingga dapat dikatan pula sebagai penjabaran dari Dasar Filsafat Negara, Pancasila. Adapun Pokok-pokok Pikiran yang dimaksud tersebut di atas adalah : a. Pokok Pikiran Pertama; Negara melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dengan berdasar asas persatuan dengan mewujudkan keadilan social bagiseluruh rakyat Indonesia. Pokok Pikiran ini menegaskan bahwa dalam Pembukaan UUD 1945 diterima aliran pengertian negara persatuan, yaitu negara yang melindungi dan meliputi segenap bangsa dan wilayah seluruhnya. Jadi negara mengatasi segala paham golongan maupun paham perorangan. Negara menurut Pembukaan UUD 1945 menghendaki persatuan yang meliputi segenap bangsa Indonesia seluruhnya. Dalam pengertian yang lazim, semua penyelenggara negara dan setiap warga negara wajib mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan golongan maupun perorangan. Pokok pikiran ini merupakan penjabaran Sila Ketiga Pancasila. b. Pokok Pikiran Kedua : Negara hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pokok pikiran ini menempatkan tujuan atau cita-cita yang ingin dicapai dalam Pembukaan,dan merupakan suatu kausa finalis (sebab tujuan), sehinga dapat menentukan jalan serta aturan-aturan mana yang harus dilaksanakan dalam UUD untuk sampai pada tujuan itu yang disadari dengan bekal persatuan. Dasar pokok pikiran ini adalah kesadaran bahwa mansia mempunai hak dan kewajiban yang sama untuk menciptakan keadilan social dalam kehidupan masarakat. Pokok pikiran ini merupakan penjabaran Sila Kelima Pancasila. c. Pokok Pikiran Ketiga : Negara ang berkedaulatan rakyat, berdasarkan atas kerakyatan dan permusyawaratan/perwakilan. Pokok pikiran ini mengandung konsekuensi logis bahwa sistem negara yang terbentuk dalam UUD harus berdasarkan kedaulatan rakyat dan berdasarkan permusyawaratan/perwakilan. Dengan demikian pokok pikiran ini merupakan Dasar Politik Negara sebagai penjabaran dari Sila Keempat Pancasila. d. Pokok Pikiran Keempat : Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa, menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Pokok pikiran keempat dalam Pembukaan ini mengandung konsekuensi logis bahwa UUD harus memuat isi yang mewajibkan pemerintah dan lain-lain

penyelenggara negara untuk memelihara budi pekerti kemanusiaan yang luhur dengan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia atau nilai-nilai kemanusiaan yang luhur. Pokok pikiran ini merupakan penjabaran Sila Pertama dan Sila Kedua Pancasila.. Sesuai dengan Pokok-pokok pikiran yang terkandung didalamnya, maka Pembukaan UUD 1945 memiliki fungsi sebagai berikut : 1) Merupakan Suasana Kebatinan dari UUD 1945 Menurut ilmu hukum, untuk mengetahui secara benar suatu hukum dasar (droit constitutionelle) dari suatu negara, tidak cukup jika hanya dilakukan dengan menyelidiki pasal-pasal UUD-nya (loi constitutionelle), melainkan harus dengan cara menyelidiki bagaimana prakteknya dan bagaimana suasana kebatinannya (geistlichenhintergrund) dari UUD itu. Untuk mengerti sungguh-sungguh maksud UUD suatu negara harus dilakukan dengan mempelajari juga bagaimana terjadinya teks, harus diketahui keterangan-keterangannya, dan dalam suasana apa teks itu diciptakan. Berdasarkan penjelasan dari Pembukaan UUD 1945 dapat diketahui bahwa empat pokok pikiran yang terkandung didalamnya pada hakikatnya merupakan penjelmaan asas kerakhanian negara Pancasila, sehingga UUD 1945 berdasarkan dan diliputi oleh nilai-nilai kerokhanian yang universal, yaitu Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan. Dasar-dasar kerokhanian Ketuhanan dan Kemanusiaan memberikan ciri dan sifat UUD Negara Indonesia tidak bersifat sekuler dan positivistik. Suasana kerokhanian persatuan dan kerakyatan, memberikan sifat dan UUD Negara Indonesia merupakan suatu kesatuan dengan peraturan perundang-undangan lainnya, yaitu merupakan suatu kesatuan Tertib Hukum Nasional Indonesia. Asas kerokhanian kerakyatan yang berdasarkan permusyawaratan/perwakilan memberikan ciri dan sifat UUD Negara Indonesia berasaskan kekeluargaan integralistik, bukan beraliran liberal dan juga tidak mengikuti paham demokrasi organis. Suasana kerokhanin keadilan memberikan sifat dan ciri UUD Negara Indonesia berdasarkan nilai-nilai keadilan kemanusiaan dan keadilan dalam hidup bersama (keadilan sosial), baik dalam kehidupan

bermasyarakat, berbangsa, maupun bernegara. Jadi empat Pokok Pikiran yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai suasana kerokhanian merupakan sumber penjabaran normative bagi UUD Negara Indonesia. Suasana kerokhanian tersebut memberikan arah bagi cita-cita hkum (rechtidee) UUD 1945 beserta penjabarannya dalam bentuk peraturan perundang-undangan yang lainnya. 2) Mewujudkan Cita-cita Hukum yang Menguasai Hukum Dasar Negara Pembukaan UUD1945 dalam filsafat hukum memiliki hakikat kedudukan sebagai Pokok kaidah Negara yang Fundamental (Staatsfundamentalnorm) bagi negara dan tertib hukum Indonesia. Oleh karena itu, Pembukaan UUD 1945 merupakan norma dasar yang memberikan arah serta dasar cita-cita hukum bagi UUD Negara Indonesia. Dalam Pembukaan UUD 1945 terkandung nilai-nilai universal, yaitu nilai-nilai hukum Tuhan (alinea III), hukum kodrat (alinea I), hukum etis (alinea III), serta hukum filosofis (alinea IV). Nilai hukum Tuhan, hukum kodrat dan hukum etis berfungsi sebagai sumber nilai bagi UUD serta hukum positif lainnya. Sedang nilai hukum filosofis merupakan sumber bentuk dan sifat bagi negara dan hukum positif Indonesia termasuk UUD. Dalam realisasinya negara merupakan pelaksana aktif dalam membentuk hukum positif yang disesuaikan dengan keadaan, tempat, waktu, serta dinamika masyarakat dan kemajuan peradaban umat manusia. Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut maka cita-cita hukum Indonesia di samping untuk mewujudkan keadilan, persatuan, kemerdekaan, kemakmuran, dan kedaulatan, juga meliputi cita-cita kehidupan manusia tentang hak religius, hak kodrat dan hak moral (hak etis). 3) Merupakan Sumber Semangat bagi UUD1945 Pembukaan UUD 1945 yang didalamnya terkandung Pokok-pokok Pikiran yang intinya Pancasila, pada hakikatnya merupakan sumber semangat bagi para penyelenggara negara, para pimpinan pemerintahan, para penyelenggara partai serta golongan fungsional dan seluruh alat perlengkapan negara lainnya. Semangat itu sesuai dengan yang terkandung dalam Pokok-pokok Pikiran Pembukaan UUD 1945 terdiri atas 4 hal yaitu : semangat persatuan, semangat keadilan social, semangat kerakyatan

berdasarkan permusyawaratan/perwakilan, serta semangat Ketuhanan dan kemanusiaan yang adil dan beradab. 6. Hubungan Pancasila dengan Pembukaan UUD 1945 Dalam uraian mengenai tertib hukum dan pokok kaidah negara yang fundamental dapat disimpulkan bahwa Pancasila sebagai asas kerokhanian dan filsafat negara mempunyai fungsi dan kedudukan yang penting dalam kehidupan negara dan bernegara. Pancasila sebagai asas kerokhanian dan filsafat negara merupakan unsure penentu ada dan berlakunya tertib hukum Indonesia dan pokok kaidah negara yang fundamental itu, sehingga oleh karenanya merupakan inti Pembukaan UUD 1945. Unsur-unsur Pancasila sebagaimana tertuang dalam alinea IV Pembukaan UUD 1945 bukanlah hal yang baru timbul saat pembentukan negara Indonesia, tetapi telah ada jauh sebelumnya, bahkan selama-lamanya telah dimiliki oleh bangsa Indonesia yang nata ada dan hidup dalam jia masyarakat. Common sense kita dapat meihat bahwa prilaku kehidupan dalam masyarakat bangsa Indonesia, apa-pun nama sukunya, dimanapun daerahnya di Indonesia, kelima unsure Pancasila telah menjadi miliknya. Oleh karena itu, Pancasila di samping merupakan asas kenegaraan (politik, social, ekonomi) juga meliputi asas cultural dan religius. Dengan dicantumkannya di dalam Pembukaan UUD 1945, maka Pancasila memperolehkedudukan sebagai norma dasar hukum obyektif. Dengan demikian, tata kehidupan bernegara tidak hanya bertopang pada asas-asas social-ekonomi-politik, tetapi dalam perpaduannya dengan keseluruhan asas yang melekat padanya, yaitu perpaduan asas-asas cultural,asas-asas religius dengan asas-asas kenegaraan. Jadi, dari alinea IV Pembukaan UUD 1945 sebagai tempat terdapatnya Pancasila dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut : a. bahwa rumusan Pancasila adalah seperti yang tercantum dalam Pembukaan; b. bahwa Pembukaan UUD 1945 berdasarkan pengertian ilmiah merupakan pokok kaidah negara yang fundamental dan terhadap tertib hukum Indonesia mempunyai dua kedudukan, yaitu : 1) sebagai dasarnya, karena Pembukaan UUD 1945 itulah yang memberi factor-faktor multak bagi adanya tertib hukum Indonesia. 2) Memasukkan dirinya di dalam tertib hukum itu sebagai ketentuan hukum yang tertinggi.

c. bahwa dengan demikian Pembukaan berkedudukan dan berfungsi, selain sebagai Mukadimah UUD 1945 dalamkesatuan yangidak terpisahkan, juga berkedudukan sebagai sesuatu yang bereksistensi sendiri, mempunyai dasar danberkemanusiaan hidup sendiri, yang ininya terjelma sebagai yang bernama Pancasila, dengan tidak tergantung adanya batangtubuh UUD 1945; d. bahwa Pancasila dengan demikian dapat dikonstatasi mempunyai hakikat, sifat, dan kedudukan serta fungsi sebagai pokok kaidah negara yang fundamental, yang menjelmakan dirinya sebagai dasar kelangsungan hidup Negara RI yang diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945; e. bahwa Pancasila sebagai inti Pembukaan UUD 1945 dengan demikian mempunyai kedudukan kuat, tetap, dan tidak dapat berubah/diubah, terlekat pada kelangsungan hidup Negara RI yang diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945 dan oleh karenya dengan jalan hukum tidak dapat diubah. Pancasila sebagai substansi dan essensial dari dan yang menempatkan dirinya dalam Pembukaan UUD 1945, rumusannya tidak boleh lain selain yang terdapat dalam Pembukaan. Pancasila dalam kedudukan dan fungsinya sebagai sumber dari segala sumber hukum dalam tertib hukum RI, perumusan autentiknya sebagai termuat dalam Pembukaan UUD 1945 merupakan perumusan yang telah pasti demi kepastian hukumnya. Perubahan/kelainan istilah dalam perumusan Pancasila dapat menimbulkan perubahan/kelainan pengertian; misalnya istilah kerakyatan an kedaulatan rakyat mempunyai pengertian yang berbeda, karena terletak pada bidang-bidang yang berbeda-beda pula. Kedaulatan rakyat terletak pada bidang asas politik, sedangkan kerakyatan merupakan asas filsafat. C. Undang-Undang Dasar 1945 1. Pengantar Tidak ada satu negara pun di dunia sekarang ini yang tidak mempunyai undang-undang dasar atau konstitusi. Negara dan konstitusi dapat dikatakan merupakan dua lembaga yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Dalam negara-negara yang mendasarkan dirinya atas demokrasi konstitusional, undang-undang dasar mempunyai fungsi yang khas yaitu membatasi kekuasaan pemerintah sedemikian rupa sehingga penyelenggaraan kekuasaan tidak bersifat sewenang-wenang dan hak-hak warga negara akan lebih terlindungi. Gagasan ini disebut Konstitusionalisme (Miriam Budiardjo, 2001 : 96)

Sesuai dengan kenyataan-kenyataan yang terdapat dalam negara-negara yang bersangkutan, dapat dikatakan bahwa undang-undang dasar sebagai konstitusi tertulis merupakan sebuah dokumen formal yang berisi 4 hal yaitu : a. hasil perjuangan politik bangsa di waktu yang lampau; b. tingkat-tingkat tertinggi perkembangan ketatanegaraan bangsa; c. pandangan tokoh-tokoh bangsa yang hendak diwujudkan, baik untuk waktu sekarang maupun untuk masa yang akan datang; d. suatu keinginan, dengan mana perkembangan kehidupan ketatanegaraan bangsa hendak dipimpin. (Sri Soemantri H., 2006 : 2-3). Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi tertulis juga dituangkan dalam dokumen formal yang ditetapkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 (dimuat dalam Berita Republik Indonesia Tahun II No. 7) dan diberlakukan kembali dengan Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959, serta dikukuhkan secara aklamasi oleh DPR pada tanggal 22 Juli 1959 sebagaimana tercantum dalam Lembaran Negara Nomor 75 Tahun 1959. Sebelum dilakukannya amandemen UUD 1945, yang dimaksud dengan UUD 1945 adalah keseuruhan naskah yang terdiri dari dan tersusun atas 3 (tiga) bagian, yaitu : a. Bagian Pembukaan, terdiri dari empat (4) alinea; b. Bagian Batang Tubuh (Pasal-pasal), terdiri dari : 16 Bab, 37 Pasal, 49 ayat, serta 4 Pasal Atural Peralihan, dan 2 ayat Aturan Tambahan; c. Bagian Penjelasan, yang terdiri atas Penjelasan Umum dan Penjeleasan pasal demi pasal. Sesudah diadakan perubahan keempat pada tahun 2002, UUD 1945 hanya terdiri atas 2 (dua) bagian saja, yaitu : a. Bagian Pembukaan, terdiri dari 4 (empat) alinea); dan b. Bagian Pasal-pasal, terdiri atas : 16 Bab, 73 Pasal, 170 Ayat, serta 3 Pasal Aturan Peralihan, dan 2 Pasal Aturan Tambahan. Ketentuan mengenai isi UUD 1945 setelah perubahan keempat hanya terdiri dari 2 (dua) bagian, secara tegas ditentukan dalam Pasal II Aturan Tambahan UUD NRI 1945 yang berbunyi Dengan ditetapkannya perubahan Undang-Undang Dasar ini, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 terdiri atas Pembukaan dan Pasal-pasal.

2. Pengertian Istilah Dalam ilmu hukum maupun praktek ketatanegaraan, istilah konstitusi sering dimaknai sama dengan istilah Undang-Undang Dasar, bahkan di Indonesia dikenal pula pernah dikenal pula istilah hukum dasar. Menurut Rukmana Amanwinata, istilah konstitusi dalam bahasa Indonesia antara lain berpadanan dengan kata Constitution (Inggris), Constitutie (Belanda), Constitutionel (Perancis), Verfassung (Jerman), dan Constitutio (Latin). (Dalam Budiman NDP Sinaga, 2005 : 2). Istilah konstitusi berarti pembentukan, berasal dari kata kerja constituer (Perancis) yang berarti membentuk. Sedangkan istilah UUD merupakan terjemahan dari istilah Grondwet (Belanda) yang disamakan artinya dengan istilah constitutie. Mengenai istilah konstitusi dan UUD terdapat dua pendapat, yaitu Pertama, membedakan antara konstitusi dengan UUD; dan Kedua, menyamakan diantara kedua istilah itu. Pada saat ini pendapat kedua lebih diterima. Menurut Sarjana hukum E.S.C. Wade dalam buku Constitutional Law, undang-undang dasar adalah naskah yang memaparkan rangka dan tugas-tugas pokok dari badan-badan pemerintahan suatu negara dan menentukan pokok-pokok cara kerja badan-badan tersebut. Bagi yang memandang negara dari sudut kekuasaan dan menganggapnya sebagai organisasi kekuasaan, maka undangundang dasar dapat dipandang sebagai lembaga atau kumpulan asas yang menetapkan bagaimana kekuasaan dibagi antara beberapa lembaga kenegaraan, misalya : antara badan legislative, badan eksekutif, dan badan yudikatif. Undangundang dasar menentukan cara-cara bagaimana pusat-pusat kekuasaan ini kerjasama dan menyesuaikan diri satu sama lain; undang-undang dasar merekam hubungan-hubungan kekuasaan dalam suatu negara. Dalam dunia politik, seperti dikemukakan K.C. Wheare, konstitusi sering digunakan dalam dua pengertian yaitu dalam arti luas dan dalam arti sempit. Konstitusi dalam arti luas adalah sistem pemerintahan dari suatu negara dan merupakan himpunan peraturan yang mendasari serta mengatur pemerintahan dalam menyelenggarakan tugas-tugasnya. Sebagai sistem pemerintahan didalamnya terdapat campuran tata peraturan baik yang bersifat hukum (legal) maupun yang bukan peraturan hukum (non legal atau ektra legal). Konstitusi dalam arti sempit adalah kumpulan peraturan yang legal dalam lapangan

ketatanegaraan suatu negara yang dimuat dalam suatu dokumen atau beberapa dokumen yang terkait satu sama lain. Adapun yang dimaksud dengan UUD menurut UUD 1945 adalah hukum dasar tertulis yang berisi norma-norma, aturan-aturan atau ketentuan-ketentuan yang harus dilaksanakan dan ditaati. Sebagai hukum, UUD 1945 mempunyai kekuatan hukum yang pasti dan mengikat, baik kepada pemerintah, setiap lembaga negara dan lembaga masyarakat, setiap WNI di manapun berada, serta semua penduduk yang berada dalam wilayah Negara RI. 3. Fungsi dan Kedudukan Konstitusi Beberapa pakar konstitusi, antara lain K.C. Wheare, C.F. Strong, Henc van Maarseven,Lawrence Beer, M. Rosenfeld, Sri Soemantri H., Jimly Asshiddiqie, bahkan Komisi Konstitusi MPR RI, berpandangan bahwa konstitusi mempunyai fungsi dan kedudukan sebagai berikut : a. Konstitusi sebagai dokumen nasional (national document) yang mengandung perjanjian luhur, berisi kesepakatan-kesepakatan tentang politik, hukum, pendidikan, kebudayaan, ekonomi,kesejahteraan, dan aspek fundamental yang menjadi tujuan negara. b. Konstitusi sebagai piagam kelahiran negara baru (a birth certificate of new state). Hal ini merupakan bukti adanya pengakuan masyarakat internasional, termasuk untuk menjadi anggota PBB. c. Konstitusi sebagai sumber hukum tertinggi. Konstitusi mengaturmaksud dan tujuan terbentuknya suatu negara dengan system administrasinya melalui adanya kepastian hukum yang terkandung dalam pasal-pasalnya. Konstitusi sebagai sumber hukum tidak saja berfungsi sebagai a tool of social engineering dan social control, melainkan juga harus mampu merespon secarakritis perubahan jaman. d. Konstitusi sebagai identitas nasional dan lambing persatuan. Konstitusi menjadi suatu sarana untuk memperlihatkan berbagai nilai dan norma suatu bangsa dan negara, misalnya symbol demokrasi, keadilan, kemerdekaan, negara hukum, yang dijadikan sandaran untukmencapai kemajuan dan keberhasilan tujuan negara. e. Konstitusi sebagai alat untuk membatasi kekuasaan. f. Konstitusi sebagai pelindung HAM dan kebebasan warga negara.

4. Isi dan Klasifikasi Konstitusi (UUD) Secara umum UUD berisi tiga hal pokok, yaitu : a. adanya jaminan terhadap hak-ha asasi manusia dan warga negara; b. ditetapkannya susunan ketatanegaraan yang bersifat fundamental; dan c. adanya pembagian dan pembatasan tugasketatanegaraan yang juga bersifat fundamental. (Sri Soematri, 2006 : 45). Senada dengan pendapat di atas, Bagir Manan dan Kuntana Magnar berpendapat bahwa lazimnya suatu UUD hanya berisi : a. Dasar-dasar mengenai jaminan terhada hak-hak dan kewajiban penduduk dan warga negara. b. Dasar-dasar susunan atau organisasi negara. c. Dasar-dasarpembagian dan pembatasan kekuasaan lembaga-lembaga negara; d. Hal-hal yang menyangkut identitas negara, seperti bendera dan bahasa nasional. Manurut Leslie Wolf Philips sebagaimana dikutip Parlin M.mangunsong, berdasarkan sifatnya konstitusi dapat diklasifikasikan menjadi 2 kelompok, yaitu : a. Konstitusi bersifat structural dan kuantitatif, terdiri atas : 1) Written-unwritten; codified-uncodified classification; 2) Rigid-flxible, conditional-unconditional; 3) Federal-unitary classification; 4) Presidential-executitve and parliamentary executive classification; 5) Monarchie-republican classification. b. Konstitusi bersifat kualitatif, terdiri atas : 1) Normative-Nominal; stable-fragile classification; 2) Public-privat; political-activity-factor andreated classification, yang terbagi menjadi : a) Programatic-confirmatory b) Competitive-consolidatory c) Ideological-legal. (Parlin M. Mangunsong, 1992 : 19) Sementara itu K.C. Wheare mengklasifikasikan konstitusimenjadi lima kelompok, yaitu : a. Written constitution dan non-written constitution (Konstitusi tertulis dan Konstitusi tidak tertulis) b. Flexibel constitution an Rigid constitution

(Konstitusi fleksibel dan konstitusikaku) c. Supreme constitution dan not supreme constitution (Konstitusi derajat tinggi dan konstitusi bukan derajat tinggi) d. Unitary constitution dan Federal constitution (Konstitusi Kesatuan dan konstitusi federal) e. Presidential executive constitution dan Parliamentary executive constitution (Konstitusi sistempemerintahan Presidensial dan konstitusi system pemerintahan parlementer). 5. Sifat UUD 1945 Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi tertulis bersifat singkat, karena hanya terdiri dari 16 Bab, 37 Pasal, 4 Pasal Aturan Peralihan, dan 2 ayat Aturan Tambahan (sebelum Amandemen). Sifat singkat ini menurut Penjelasan UUD 1945 karena hanya mengatur garis-garis besar atau yang pokok-pokok saja, sedangkan masalah-masalah yang lainnya dapat diatur dalam peraturan pelaksananya. Selain itu, UUD 1945 juga b.ersifat supel-fleksibel, karena dengan sifat singkatnya maka ia dapat menyesuaikan diri dengan dinamika perkembangan dan perubahan jaman. Sifat singkat dan fleksibelnya UUD 1945 dilandasi oleh suatu alasan, yaitu a. UUD 1945 dibuat dalam waktu yang sangat sempit dan dalam keadaan yang tergesa-gesa, karena ketika itu kemerdekaan Indonesia harus segera diproklamasikan sehubungan dengan menyerahnya Jepang dengan tanpa syarat kepada Tentara Sekutu pada Perang Dunia II. b. Secara sadar dikehendaki oleh para pembentuknya dengan maksud agar UUD 1945 tidak sering mengalami perubahan, karena jika suatu UUD sering dilakukan perubahan akan mengurangi kewibawaannya sebagai bentuk peraturan peundangan yang luhurdan tinggi. 6. Perubahan (Amandemen) UUD NRI 1945 Berakhirnya rezim Orde Baru pada tanggal 21 Mei 1998 yang ditandai dengan mundurnya H.M. Soeharto dari jabatan Presiden RI adalah saat dimulainya era reformasi dalam sejarah politik-ketatanegaraan RI. Era reformasi memberikan harapan besar bagi terjadinya perubahan menuju penyelenggaraan negara yang lebih demokratis, transparan, dan memiliki akuntabilitas tinggi serta terwujudnya good governance dan adanya kebebasan berpendapat. Pada awal era reformasi,

berkembang tuntutan reformasi dari berbagai komponen bangsa, yang antara lain meliputi hal-hal sebagai sebagai berikut : a. Amandemen UUD NRI 1945; b. Penghapusan doktrin Dwi Fungsi ABRI; c. Penegakan supremasi hukum, HAM, dan pemberantasan KKN; d. Otonomi Daerah (desentralisasi dan hubungan yang adil antara Pusat dan Daerah); e. Mewujudkan kebebasan Pers; f. Mewujudkan kehidupan demokrasi. Tuntutan perubahan UUD 1945 didasarkan pada pandangan bahwa UUD NRI 1945 belum cukup memuat landasan bagi kehidupan yang demokratis, pemberdayaan rakyat, dan penghormatan HAM. Selain itu didalamnya terdapat pasal-pasal yang menimbulkan dan membuka peluang bagi penyelenggaraan negara yang otoriter, sentralistik, tertutup, dan KKN yang menimbulkan kemerosotan kehidupan nasional di berbagai bidang kehidupan. Perubahan UUD 1945 merupakan langkah terobosan yang mendasar karena pada era sebelumnya, dengan sikap politik pemerintah yang sangat protektif, bahkan mensakralkan untuk tidak dikehendaki adanya perubahan terhadap UUD 1945. Namun kuatnya tuntutan perubahan itu kemudian benarbenar dirasakan sebagai kebutuhan bersama seluruh bangsa Indonesia, sehingga ditindaklanjuti dengan mewujudkan perubahan secara komprehensif, bertahap, dan sistematis dalam empat kali perubahan UUD 1945 yang dilakukan oleh MPR sejak 1999 sampai dengan 2002. a. Latar belakang dilakukannya perubahan UUD 1945 adalah karena : 1) Kekuasaan tertinggi di tangan MPR, seharusnya ada di tangan rakyat; 2) Kekuasaan yang sangat besar di tangan Presiden; 3) Pasal-pasal yang terlalu luwes sehingga dapat menimbulkan multi tafsir; 4) Presiden berwenang untuk mengatur hal-hal penting dengan UU; 5) Rumusan UUD 1945 tentang semangat penyelenggara negara belum cukup didukung ketentuan monstitusi. c. Tujuan Perubahan UUD1945 adalah untuk menyempurnakan aturan dasar mengenai : 1) Tatanan Negara; 2) Kedaulatan Rakyat;

3) Hak Asasi Manusia; 4) Pembagian Kekuasaan Negara; 5) Kesejahteraan social; 6) Eksistensi negara demokrasi dan negara hukum; 7) Hal-hal lain sesuai dengan perkembangan aspirasi dan kebutuhan bangsa. d. Dasar Hukum dilakukannya perubahan terhadap UUD 1945 adalah : 1) Pasal 3 UUD 1945; 2) Pasal 37 UUD 1945; 3) Tap MPR No. IX/MPR/1999; 4) Tap MPR No. IX/MPR/2000; dan 5) Tap MPR No. XI/MPR/2001 e. Kesepakatan Dasar Perubahan UUD 1945, meliputi 5 butir yaitu : 1) Tidak mengubah Pembukaan UUD1945; 2) Tetap mempertahankan Negara Kesatuan RI; 3) Mempertegas system Presidensial; 4) Penjelasan UUD 1945 yang memuat hal-hal normative akan dimasukkan ke adalam pasal-pasal; dan 5) Perubahan dilakukan dengan cara addendum. D. Sistem Pemerintahan Indonesia Berdasarkan UUD NRI 1945 1. Asas-asas Ketatanegaraan yang Terkandung Dalam UUD 1945 Pada umumnya setiap negara memiliki konsep pengelolaan yang didasarkan pada pandangan, cita-cita, dan tujuan negara masing-masing. Secara teoretik dapat dikatakan, bahwa semua bangsa bernegara menuangkan pandangan, pendirian, prinsip konseptual mengenai pengeolaan kehidupan meraka dalam bentuk konstitusi baik tertulis (written constitution) atau tidak tertulis (unwritten constitution). Adanya pandangan konseptual yang demikian bernilai sebagai kepastian konstitusi mengenai konsep pengelolaan kehidupan bangsa yang bersangkutan, kepastian landasan cita-cita dan tujuan. Hal itu sekaligus merupakan garis-garis pengarahan bagi perumusan kebijaksanaan politik dan perundang-undangan mengenai kepentingan bangsa, baik dibidang kehidupan bernegara maupun kehidupan bermasyarakat (political life and social life).

Pandangan, pendirian, dan perinsip konseptual mengenai pengeloaan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat itu berupa nilai-nilai yang terhimpun dalam satu kesatuan dan kebulatan (entitas) sebagai keseluruhan (entity) yang kemudian menentukan sistem nilai di dalam pengeloaan nasional serta mengatur hidup ketatanegaraan dan kemasyarakatan. Ketika nilai-nilai itu dijadikan dasar kehidupan manusia dalam hubungan sosial, maka berarti nilai itu mendapat tempat sebagai asas, atau dasar, atau prinsip dalam kehidupan sosial atau kehidupan bersama antar warga masyarakat. Berdasarkan asas-asas yang disepakati itu, maka kehidupan bersama mengenal aturan atau norma tertentu yang sejiwa dengan asas dan nilai yang menjadi sumber norma itu. Norma-norma ini berkembang menjadi tata hukum atau sistem hukum (legal system) yang meliputi hukum yang tertulis dan hukum yang tidak tertulis. Suatu sistem hukum nasional menyerap atau menganut asasasas, nilai-nilai yang bersumber pada pandangan hidup bangsa yang memiliki tata hukum itu, dan merasakannya sebagai tata hukum yang serasi dengan perasaan keadilannya (rechtsgevoel) dan cita-cita hukumnya (rechtsidee) dan serasi dengan anggapan dan pandangan mereka mengenai keadilan (sense of justice). Berpangkal tolak dari pemahaman tentang asas tersebut di atas, maka dapat dikemukakan bahwa asas-asas kehidupan ketatanegaraan yang terkandung dalam konstitusi Indonesia (UUD 1945) adalah sebagai berikut : a. Asas Pancasila Dalam ketatanegaraan RI, Pancasila adalah dasar filsafat negara sebagai perwujudan dari keinginan rakyat Indonesia sekaligus sebagai watak (karakter) bangsanya. Menurut pandangan ilmu hukum, Pancasila merupakan sumber hukum material, yaitu sesuatu yang seharusnya menjadi isinya suatu norma atau aturan hukum. Oleh karena itu, setiap peraturan perundangan tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, dan apabila hal itu terjadi maka peraturan perundang-undangan yang bersangkutan harus dicabut dan dinyatakan batal demi hukum. Adapun nilai-nilai sebagai asas kehidupan ketatanegaraan RI yang terkandung dalam Pancasila terdiri atas : nilai religi (Ketuhanan Yang Maha Esa), nilai kemanusiaan, nilai persatuan dan kebangsaan, nilai kerakyatan atau kedaulatan rakyat, dan nilai keadilan sosial.

b. Asas Kekeluargaan Asas kekeluargaan sebagai asas ketatanegaraan RI secara eksplisit termuat di dalam batang tubuh UUD 1945 yaitu dalam Pasal 33 ayat (3), dan sebelum amandemen UUD 1945 keempat terdapat pula di dalam bagian Penjelasan Umum UUD 1945. Idee mengenai asas kekeluargaan dicantumkan dalam UUD 1945 berasal dari Prof. Soepomo dalam pidatonya pada sidang BPUPKI tanggal 31 Mei 1945, di mana beliau mengusulkan agar pendirian Negara Indonesia Merdeka didasarkan pada teori negara (staatsidee) integralistik, dan dalam lapangan ekonomi negara akan bersifat kekeluargaan. Kekeluargaan adalah sifat masyarakat timur yang harus dipelihara sebaik-baiknya. Sistem tolongmenolong, sistem koperasi hendaknya dipakai sebagai salah satu dasar ekonomi Negara Indonesia. Dalam tataran implementasi, asas kekeluargaan diwujudkan dalam bentuk semangat kebersamaan dalam pengambilan keputusan yang harus diupayakan dengan lebih mengutamakan cara musyawarah untuk mufakat. Pengambilan keputusan dengan cara pemungutan suara ( voting) hanya akan ditempuh jika cara musyawarah untuk mufakat tidak dapat dicapai. Asas kekeluargaan dilaksanakan dengan dijiwai oleh nilai kerakyatan dan permusyawaratan sebagaimana tercantum dalam sila keempat Pancasila. c. Asas Kedaulatan Rakyat Secara umum kedaulatan (souvereignty) berarti wewenang tertinggi yang menentukan segala wewenang yang ada dalam suatu negara. Dalam sejarah ketatanegaraan, dijumpai adanya 5 (lima) macam teori kedaulatan, yaitu : kedaulatan Tuhan, kedaulatan hukum, dan kedaulatan rakyat. Dalam hukum internasional, kedaulatan diartikan sebagai hak dari suatu negara untuk menentukan urusannya sendiri baik yang menyangkut masalah-masalah dalam negeri maupun luar negeri tanpa adanya campur tangan dari negara lainnya. Kedaulatan ke dalam dinyatakan dalam wewenangnya untuk membentuk organisasi negara menurut keinginannya sendiri, yang meliputi tugas-tugasnya dalam bidang legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Sedangkan kedaulatan ke luar dinyatakan dalam wewenangnya untuk mengadakan hubungan diplomatik dengan negara-negara lain atau raja, kedaulatan negara, kedaulatan

dalam kekuasaannya untuk menyatakan perang atau damai dengan negaranegara lain. Sebagai konsepsi ketatanegaraan, kedaulatan rakyat berarti bahwa rakyatlah yang mempunyai wewenang yang tertinggi yang menentukan segala wewenang yang ada dalam negara. Suatu negara yang menganut asas kedaulatan rakyat disebut juga sebagai negara demokrasi, yang pengertian murninya adalah rakyat secara keseluruhan ikut menentukan jalannya pemerintahan. UUD 1945 secara tegas menganut ajaran kedaulatan rakyat sebagaimana ternyata dalam Pembukaan yang menyebutkan : Repubik Indonesia yang berkedaulatan rakyat Ketentuan tersebut dipertegas dalam batang tubuh UUD 1945, termuat dalam Pasal 1 ayat (2) yang berbunyi : Kedaulatan di tangan rakyat . d. Asas Negara Hukum Menurut Aristoteles Negara Hukum adalah negara yang berdiri di atas hukum yang menjamin keadilan kepada warga negaranya. Keadilan merupakan syarat bagi tercapainya kebahagiaan hidup untuk warga negaranya, dan sebagai dasar dari keadilan maka perlu diajarkan rasa susila kepada setiap manusia agar ia menjadi warga negara yang baik. Demikian pula peraturan hukum yang sebenarnya, hanya ada jika peraturan hukum itu mencerminkan keadilan bagi pergaulan hidup antar warga negaranya. Negara hukum sebagai asas ketatanegaraan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan demokrasi (kedaulatan rakyat). Demokrasi didasarkan atas jaminan rule of law, sebagai lawan rule by decree di bawah sistem otoriter. Bahwa UUD 1945 menetapkan agar RI sebagai Negara Hukum ( Rechtsstaat) dapat dibuktikan dari ketentuan dalam Pembukaan, Batang Tubuh, dan juga (dulu) dalam Penjelasan. Pembukaan UUD 1945 memuat dalam alinea pertama kata peri keadilan, dalam alinea kedua istilah adil, dan dalam alinea keempat perkataan keadilan sosial dan kemanusiaan yang adil. Semua istilah tersebut berindikasi kepada pengertian negara hukum, karena salah satu tujuan hukum adalah untuk mencapai keadilan. Selanjutnya dalam alinea keempat Pembukaan ditegaskan maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia. Ini

menunjukkan penganutan paham konstitusionalisme atau sistem konstitusional sebagai prinsip yang lebih khusus dari asas negara hukum. Dalam Batang Tubuh UUD 1945 juga termuat beberapa ketentuan yang mengindikasikan penganutan asas negara hukum, antara lain : 1) Pasal 1 ayat (3), menyatakan Negara Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum. 2) Pasal 4, menyatakan Presiden Republik Indonesia memegang kekuasan Pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar. Ketentuan ini berarti bahwa Presiden dalam menjalankan tugasnya harus mengikuti ketentuanketentuan yang sudah ditetapkan dalam UUD. 3) Pasal 9, mengenai sumpah Presiden dan wakil Presiden yang antara lain berbunyi memegangteguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya, melarang Presiden dan wakil Presiden menyimpang dari peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam menjalankan tugasnya. Suatu sumpah harus dihormati oleh Presiden dan wakil Presiden dalam mempertahankan asas negara hukum. 4) Pasal 27, menetapkan Segala warga negara bersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. Sebelum amandemen UUD 1945 keempat (2002) dalam Penjelasan Umum UUD 1945 tentang Sistem Pemerintahan antara lain ditegaskan bahwa Negara Indonesia berdasarkan atas hukum (Rectsstaat) tidak berdasarkan kekuasaan belaka (machtsstaat). Ketentuan itu memperjelas apa yang tersurat dan tersirat dalam Pembukaan dan Batang Tubuh UUD 1945. Suatu masyarakat hanya dapat disebut berada di bawah prinsip atau asas rule of law apabila telah memiliki syarat-syarat essensial tertentu, antara lain harus terdapat kondisi-kondisi minimum dari suatu sistem hukum di mana hak-hak asasi manusia dan human dignity dihormati. Sebagaimana telah diputuskan oleh Konggres Athena 1955 dari The International Commission of Jurists, kondisi-kondisi itu adalah sebagai berikut : 1) Keamanan pribadi harus dijamin 2) Tidak ada hak-hak fundamental dapat ditafsirkan dengan maksud untuk membatasi atau meniadakan hak-hak fundamental itu.

3) Setiap orang harus dijamin kebebasan menyatakan pendapatnya melalui semua media komunikasi, terutama pers. 4) Kehidupan pribadi orang harus tak dapat dilanggar, rahasia surat-menyurat harus dijamin. 5) Kebebasan agama harus dijamin. 6) Hak untuk mendapatkan pengajaran harus dijamin kepada semuanya, tanpa ada diskriminasi. 7) Setiap orang berhak untuk bebas berkumpul dan berserikat secara damai dan teristimewa untuk menjadi anggota suatu partai politik. 8) Setiap orang berhak mengambil bagian secara langsung atau melalui wakil-wakil yang dipilihnnya dibidang kehidupan politik negaranya; kemauan rakyat adalah kekuasaan penguasa; dan jaminan kebebasan pengadilan. 9) Pengakuan terhadap hak menentuka diri sendiri merupakan achievement yang besar dan merupakan salah satu prinsip fundamental dari hukum internasional. 10) Keadilan mengendaki bahwa seseorang atau sesuatu golongan atau partai minoritas tidakakan ditiadakan hak-haknya yang alamiah, teristimewa hakhak fundamental manusia dan warga negara atau daripelayanan yang sama karena sebab ras, warna kulit, golongan, kepercayaan politik, kasta, ataupun turunan. e. Asas Pembagian Kekuasaan Pembagian kekuasaan merupakan asas ketatanegaraan yang kelahirannya dilatarbelakangi oleh pemikiran perlunya pembatasan kekuasaan penguasa yang absolute yang hanya dipegang oleh satu orang penguasa, serta perlunya diciptakan sistem pemerintahan yang menjamin hak-hak asasi rakyat atau warga negara. Dalam teori kekuasaan negara dijumpai beberapa ajaran pembagian/pemisahan kekuasaan, seperti ajaran pemisahan kekuasaannya John Locke, ajaran Trias Politika oleh Montesquieu, teori Catur Praja oleh C. van Vollenhoven, dan Dwi Praja oleh Donner dan Gopdnow. UUD 1945 juga menganut asas pembagian kekuasaan, bukan pemisahan kekuasaan, dalam arti bahwa kekuasaan negara memang dibagibagi menjadi beberapa bagian, tetapi tidak dipisahkan sama sekali. Hak ini membawa konsekuensi bahwa di antara bagian-bagian kekuasaan itu

dimungkinkan adanya kerjasama dan saling mempengaruhi. Kekuasan negara RI menurut UUD 1945 dibagi menjadi 5 (lima Kekuasaan, yaitu : 1) Legislatif (dilaksanakan oleh MPR dan DPR bersama dengan Presiden), 2) Eksekutif (Presiden dan Wakil Presiden); 3) Yudikatif (Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi); 4) Inseminatif atau Inspektif (Badan Pengawas Keuangan); dan 5) Konsultatif (Dewan Pertimbangan Agung). Kekuasaan ini dihapus pada amandemen UUD 1945 kedua. 2. Demokrasi Indonesia Menurut UUD 1945 Demokrasi dalam arti yang murni merupakan sistem pemerintahan rakyat, di mana rakyat sebagai asal mula kekuasaan negara, sehingga rakyat harus ikut serta dalam pemerintahan untuk mewujudkan cita-citanya. Dalam Declaration of Independence, demokrasi diruskan sebagai government of the people, for the people and by the people. Suatu pemerintahan dari rakyat dituntut harus sesuai dengan filsafat hidup rakyat sendiri, sehingga di Indonesia harus sesuai dengan filsafat Pancasila, dan inilah yang menjadi dasar demokrasi Indonesia. Demokrasi Indonesia adalah Demokrasi Pancasila, yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan yang mengandung semangat Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan keadilan sosial (Sri Soemantri H, 1993 : 6). Secara filosofis, demokrasi Indonesia mendasarkan pada rakyat sebagai asal mula kekuasaan negara, sekaligus sebagai tujuan kekuasaan negara. Rakyat merupakan penjelmaan sifat kodrat menusiasebagai makhluk individu dan makhluk social, oleh karena itu dalam penertian demokrasi, kebebasan individu harus diletakkan dalam kerangka tujuan bersama, bukan bersifat liberal yang hanya mendasarkan pada kebebasan individu saja dan juga bukan demokrasi klas. Kebebasan individu yang diletakkan demi tujuan kesejahteraan bersama inilah yang menurut istilah pendiri negara disebut sebagai asas keberamaan, asas kekeluargaan, tetapi bukan nepotisme. Secara umum suatu system pemerintahan yang demokratis senantiasa mengandung unsure-unsur penting dan fundamental yaitu : a. Partisipasi warga negara dalam pembuatan keputusan politik; b. Tingkat persamaan tertentu di antara warga negara;

c. Tingkat kebebasan atau kemerdekaan tertentu yang diakui dan dipakai oleh warga negara; d. Sistem perwakilan; dan e. Sistem pemilihan kekuasaan mayoritas. Demokrasi mengandung ciri yang merupakan patokan, yaitu bahwa warga negara seharusnya terlibat dalam proses pembuatan keputusan-keputusan politik, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui wakil-wakil mereka. Ciri lainnya adalah adanya keterlibatan atau partisipasi warga negara baik langsung maupun tidak langsung dalam kehidupan pemerintahan negara. Sehubungan dengan ciri-ciri sistem pemerintah demokrasi tersebut, maka dalam kehidupan kenegaraan demokrasi selalu terdapat 2 (dua) unsur atau komponen pendukung tegaknya kehidupan demokrasi, yaitu Supra Struktur Politik (The Governmental Political Sphere) atau suasana kehidupan politik pemerintahan dan Infra Struktur Politik (The Sicio Political Sphere) atau suasana kehidupan politik raktyat. Dengan menggunakan konsepsi Montesquieu tentang Divition of Power maka Supra Struktur Politik eksekutif, dan lembaga yudikatif. Unsur atau komponen Supra Struktur Politik menurut sistem UUD 1945 (Amandemen) terdiri atas lembaga-lembaga : a. Majelis Permusyawaratan Rakyat; b. Dewan Perwakilan Rakyat; c. Dewan Perwakilan Daerah; d. Presiden dan Wakil Presiden; e. Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi; f. Badan Pengawas Keuangan; g. Komisi Pemilihan Umum; dan h. Komisi Yudisial. Adapun unsur Infra Struktur Politik terdiri atas : a. Partai Politik (Political Party); b. Golongan Kepentingan (Interest Group); c. Golongan Penekan (Presure Group); d. Alat Komunikasi Politik (Media Politica Comunication); dan e. Tokoh-tokoh Politik (Political Figure). terdiri atas : lembaga legislatif, lembaga

Antara Supra Struktur Politik dan Infra Struktur Politik masing-masing saling mempengaruhi dan mempunyai kemampuan untuk mengendalikan pihak lainnya. Mekanisme interaksi di antara keduanya dapat dilihat dalam proses pembuatan kebijaksanaan umum atau dalam menentukan keputusan politik. Setiap keputusan politik atau kebijaksanaan umum pada dasarnya merupakan masukan (input) dari Infra Struktur yang kemudian dijabarkan sedemikian rupa oleh Supra Struktur Politik. Akativitas Infra Struktur Politik merupakan representasi keterlibatan rakyat dalam kehidupan pemerintahan demokrasi. Dalam pemerntahan RI keikutsertaan rakyat itu dijamin dalam konstitusi sebagaimana terumuskan dalam UUD 1945 yang menyatakan bahwa Kedaulatan di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang Undang Dasar{Pasal 1 ayat (2)}. 3. Mekanisme Demokrasi Indonesia Menurut Sistem UUD 1945 Demokrasi Pancasila sebagai ciri khas pemerintahan RI merupakan demokrasi formal sekaligus juga merupakan demokrasi tidak langsung ( indirect democracy) atau demokrasi perwakilan (representative democracy). Hal itu ternyata dari kata permusyawaratan/perwakilan (dalam sila keempat Pancasila) yang kemudian dijabarkan dalam UUD 1945. Dengan demikian maka UUD 1945 mengatur demokrasi dalam arti representative in form yang secara tegas dinyatakan dalam Pasal 1 ayat (2). Suatu negara yang menganut sistem demokrasi perwakilan, seperti juga Indonesia, syarat-syarat disebut minimal Representative Representative Government. International Commission of Bangkok tahun 1965 menentukan Jurits dalam Konferensinya di

Government Under the Rule of Law sebagai berikut : a. Adanya proteksi konstitusional; b. Adanya pengadilan yang bebas dan tidak memihak; c. Adanya pemilihan umum yang bebas; d. Adanya kebebasan untuk meyatakan pendapat dan berserikat; e. Adanya tugas oposisi; dan f. Adanya pendidikan civic (kewarganegaraa). Rumusan kedaulatan di tangan rakyat sebagai perwujudan demokrasi Pancasila menunjukkan bahwa kedudukan rakyatlah yang tertinggi dan paling sentral. Rakyat adalah sebagai asal mula kekuasaan negara dan sebagai tujuan kekuasaan negara. Oleh karena itu rakyat merupakan paradigma sentral kekuasaan negara. Adapun rincian struktural ketentuan-ketentuan yang berkaitan

dengan demokrasi menurut UUD NRI 1945 adalah sebagaimana tersebut dalam uraian berikut ini. a. Konsep Kekuasaan Konsep kekuasaan negara menurut sistem demokrasi Pancasila sebagaimana dijabarkan dalam UUD NRI 1945 adalah sebagai berikut : 1) Kekuasaan di tangan rakyat; termaktub dalam : a) Pembukaan Alinea IV; b) Pokok Pikiran ketiga dari Pembukaan; c) Pasal 1 ayat (1) UUD NRI 1945; d) Pasal 1 ayat (2) UUD NRI 1945. 2) Pembagian Kekuasaan Berdasarkan ketentuan Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 yang menyatakan kedaulatan adalah di tangan rakyat dan dileksanakan menurut UUD, maka sistem pembagian kekuasaan negara RI setelah amandemen UUD 1945 tidak lagi mengenal adanya lembaga tertinggi (MPR). Pembagian kekuasaan negara ditempatkan dalam kedudukan sama dengan tugas dan wewenang yang berbeda. Diantara lembaga-lembaga negara menurut UUD NRI 1945 tidak ada yang kedudukannya lebih tinggi atau lebih rendah satu dengan lainnya. Adapun kekuasaan negara menurut dalam demokrasi Pancasila sebagaimana dijabarkan UUD NRI 1945 adalah : a) Kekuasaan Konstitutif, didelegasikan kepada MPR yang keanggotaannya terdiri atas anggota-anggota DPR dan DPD {Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 ayat (1)}; b) Kekuasaan Legislatif; didelegasikan kepada DPR bersama dengan Presiden {Pasal 20 ayat (1) dan Pasal 5 ayat (1)}; c) Kekuasaan Eksekutif, didelegasikan kepada Presiden {Pasal 4 (1)}; d) Kekuasaan Yudikatif, diserahkan kepada Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi {Pasal 24 (1)}; e) Kekuasaan Inseminatif atau inspektif, diserahkan kepada Badan Pengawas Keuangan {Pasal 23E (1)}. 3) Pemabatasan Kekuasaan Pembatasan kekuasaan dalam sistem UUD 1945 dapat dilihat melalui mekanisme 5 tahunan penggantian kekuasaan yang diatur dalam Pasal-pasal sebagai berikut :

a) Pasal 1 ayat (2) UUD NRI 1945 Kedaulatan di tangan rakyat . Kedaulatan politik rakyat dilaksanakan melalui mekanisme Pemilu langsung untuk membentuk MPR, DPR, dan DPD setiap 5 tahun sekali. Mekanisme pemilihan langsung juga diterapkan untuk pemilihan Presiden dan Wakil Presiden {Pasal 6A ayat (1)}, Kepala Daerah, serta DPRD masing-masing untuk masa jabatan 5 tahun. b) Pasal 7 UUD NRI 1945, Presiden dan Wail Presiden memegang jabatan selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan. c) Ada mekanisme saling mengawasi dan mengimbangi diantara masingmasing lembaga pemegang kekuasaan negara, seperti hubungan wewenang antara Presiden dan DPR yang diatur dalam Pasal 11 15 UUD NRI 1945. d) Ada mekanisme impeachment (pemberhentian dalam masa jabatan) bagi Presiden dan/atau Wakil Presiden sebagaimana diatur dalam Pasal 7A ayat (1- 4) UUD NRI 1945. Dalam pembatasan kekuasaan menurut konsepsi mekanisme 5 tahunan kekuasaan sebagaimana dimaksud di atas mencakupantara lain : periode kekuasaan, pegawasan kekuasaan, dan pertanggungjawaban kekuasaan (secara yuridis maupun politis-sosiologis). b. Konsepsi Pengambilan Keputusan Pokok Pikiran III dari Pembukaan UUD 1945 yang antara lain menyatakan oleh karena itu sistem negara yang terbentuk dalam UUD 1945, harus berdasarkan atas kedaulatan rakyat dan berdasarkan atas permusyawaratan perwakilan. Dalam Pasal 2 ayat (3) UUD NRI 1945 ditentukan Segalaputusan Majelis Permusyawaratan Rakyat ditetapkan dengan suara terbanyak. Ketentuan-ketentuan tersebut di atas mengandung pokok pikiran bahwa konsepsi pengambilan keputusan yang dianut dalam hukum tata negara Indonesia adalah berdasarkan : 1) suatu musyawarah sebagai asasnya; artinya segala keputusan yang diambil sejauh mungkin diusahakan dengan musyawarah untuk mencapai mufakat; 2) Apabila mufakat tidak tercapai, maka dimungkinkan pengambilan keputusan itu melalui suara terbanyak.

E. Isi Pokok Batang Tubuh (Pasal-pasal) UUD NRI 1945 1. Bentuk, Kedaulatan, Negara Hukum Dalam Pasal 1 ayat (1) UUD NRI 1945 ditentukan bahwa Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan, yang berbentuk Republik. Berdasarkan ketentuan Pasal ini dengan jelas diketahui bahwa bentuk Negara Indonesia adalah Kesatuan (Unitaris), sedangkan bentuk pemerintahannya adalah republic dengan Presiden sebagai kepala negara yang dipilih dari dan oleh rakyat secaralangsung untuk suatu jangka waktu tertentu (5 tahun). Selanjutnya dalam Pasal 1 ayat (2) disebutkan Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar. Rumusan tersebut sebagai ketentuan baru dari amandemen UUD 1945 merupakan penjabaran langsung paham kedaulatan rakyat yang secara tegas dinyatakan dalam Pembukaan UUD NRI 1945, alinea IV. Perubahan terhadap Pasal 1 ayat (2) ini karena rumusan yang berbunyi kedaulatan rakyat dilaksanakan sepenuhnya oleh MPR dalam praktekketatanegaraan RI justru telah mereduksi menjadi pahamkedaulatan negara, suatu paham yang hanya lazim dianut oleh negara yang masih menerapkan paham totalitarian dan/atau otoritarian. Ketentuan bahwa pelaksanaan kedaulatan rakyat ditentukan oleh UUD NRI 1945 artinya adalah UUD NRI 1945 yang menentukan bagian mana dari kedaulatan rakyat yang pelaksanaannya diserahkan kepada badan/lembaga yang keberadaan, wewenang, tugas, dan fungsinya ditentukan oleh UUD NRI 1945, serta bagian mana yang langsung dilaksanakan sendiri oleh rakyat. Dengan kata lain, pelaksanaan kedaulatan rakyat tidakdiserahkan kepada badan/lembaga manapun, tetapi langsung dilakasnakan oleh rakyat sendiri melalui pemilu. Dalam implementasinya pelaksanaan pemilihan langsung sebagai bentuk penggunaan hak kedaulatan rakyat bisa juga diberikan oleh UU yang bersumber pada UUD NRI 1945 seperti yangtelah berlaku dalam pemilihan anggota DPD dan pemilihan Kepala Daerah. Perubahan terhadap Pasal 1 ayat (2) ini langsung berpengaruh pada terjadinya perubahan sistemketatanegaraan Indonesia dari supremasi MPR kepada system kedaulatan rakyat yang diatur melalui UUD NRI 1945. Aturan dalam UUD NRI 1945 menjadi dasar dan rujukan utama dalam menjalankan kedaulatan rakyat. UUD NRI 1945 itulah yang mengaturdan membagi pelaksanaan kedaulatan rakyat kepada rakyat sendiri dan/atau kepada berbagai lembaga negara.

Dengan demikian maka dalam sistem ketatanegaraan Indonesia tidak dikenal lagi istilah lembaga tertinggi negara ataupun lembaga tinggi negara. Kedudukan setiap lembaga negara bergantung pada wewenang, tugas, dan fungsi yang diberikan oleh UUD NRI 1945. Selanjutnya dalam Pasal 1 ayat (3) UUD NRI 1945 dikemukakan pula secara tegas ketentuan tentang Indonesia adalah negara hukum. Ketentuan itu berasal dari Penjelasan UUD 1945 yang diangkat ke dalam UUD NRI 1945. Negara hukum yang dimaksud adalah negara yang menegakkan supremasi hukum untuk menegakkan kebenaran dan keadilan,dan tidakada kekuasaan yang tidak dipertanggung-jawabkan (akuntabel). Masuknya ketentuan tentang negara hukum dalam pasal UUD NRI 1945 dimaksudkan untuk memperteguh paham bahwa Indonesia adalah negara hukum, baik dalam penyelenggaraan negara maupun dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Secara umum setiap negara yang menganut paham negara hukum, akan selalu terlihat bekerjanya tiga prinsip dasar, yaitu : supremasi hukum ( supremacy of law), kesetaraan di hadapan hukum (equality before the law), dan penegakan hukum dengan cara yang tidak bertentangan dengan hukum ( due process of law). Dalam penjabaran selanjutnya, pada setiap negara hukum akan terlihat ciri-ciri adanya : a. jaminan perindungan hak-hak asasi manusia; b. kekuasaan kehakiman atau peradilan yang merdeka; dan c. legalitas dalam arti hukum, yaitu bahwa baik pemerintah/negara maupun warga negara dalam bertindak harus berdasar atas dan melalui hukum Ciri khas dari negara hukum Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (3) UUD NRI 1945 adalah bahwa paham negara hukum Indonesia itu terkait erat dengan negara kesejahteraan (welfare state) atau paham negara hukum material, sesuai dengan bunyi alinea IV Pembukaan dan ketentuan Pasal 34 UUD NRI 1945. Pelaksanaan paham negara hukum material akan mendukung dan mempercepat terwujudnya negara kesejahteraan Indonesia. 2. Majelis Permusyawaratan Rakyat

F.