Anda di halaman 1dari 0

C

O
P
Y
Refleksi Achmad Charris Zubair
Attention: Dilarang mengutip tanpa ijin pengarang! Terima kasih. Achmad Charris Zubair
1
Attention: Dilarang mengutip tanpa ijin pengarang! Terima kasih. Achmad Charris Zubair
TINJAUAN MORAL DAN KULTURAL TERHADAP HEDONISME DI
KALANGAN GENERASI MUDA

Achmad Charris Zubair




Kajian Sejarah
Ketika saya berbicara dengan teman-teman mengenai kesukaan dunia seperti: makan enak,
main seks, pesta dan sebagainya. Sering muncul celetukan wah ini adalah perilaku hedonis.
Di banyak kota besar sekarang juga banya tempat pelesiran tidak hanya berupa tempat
pelacuran, melainkan juga panti-panti pijat, caf dan bar, salon dengan service plus dan
sebagainya kita mengatakan bahwa nampaknya masa sekarang hedonisme mendapatkan
tempat memadai di masyarakat. Bahkan masyarakat sekarang cenderung dikatakan sebagai
masyarakat yang mendewakan kenikmatan jasmani, dengan kata lain memuja perilaku
hedonis.

Hedonisme sebagai istilah teknis yang menunjuk faham mementingkan kesenangan dan
kemewahan fisik, berasal dari kata latin Hedon yang berarti kesenangan. Di dalam sejarah
filsafat Yunani kuno tokoh pertama yang dikenal mengajarkan aliran hedonisme adalah
Democritus (400-370 SM), yang memandang kesenangan sebagai tujuan pokok di dalam
kehidupan ini. Kendatipun yang dimaksud bukan terhenti pada kesenangan fisik semata-
mata, melainkan kesenangan fisik sebagai alat perangsang bagi berkembangnya intelek
manusia. Salah seorang pengikut Socrates, Aristippus (395 SM) mengajarkan bahwa
kesenangan merupakan satu-satunya yang ingin dicari manusia. Kesenangan didapat langsung
dari pancaindera. Orang yang bijaksana selalu mengusahakan kesenangan sebanyak-
banyaknya, sebab kesakitan adalah suatu pengalaman yang yang tidak menyenangkan. Tokoh
lain adalah Epicurus (341-270 SM) sebagai tokoh masa Hellenisme ia lebih memiliki
argumen rinci tentang hedonisme. Baginya kesenangan tetap menjadi sumber norma. Tetapi
tidak sekedar meliputi kesenangan jasmaniah semata-mata, sebab kesenangan ini toh
akhirnya akan menimbulkan rasa sakit pula. Banyak makan enak akan menyebabkan sakit
perut, banyak berhubungan seksual akan mengakibatkan lelah luar biasa. Senang bagi
Epicurus bermakna tidak adanya rasa sakit dalam badan dan tidak adanya kesulitan kejiwaan.
Jadi bukan sekedar makan minum enak, bukan pula kesenangan seksual. Tetapi lebih banyak
mencari argumen yang menghilangkan segala kerisauan jiwa. Terlampau mengejar nilai-nilai
kesenangan seperti uang, kehormatan, kekuasaan, tidak akan menimbulkan kepuasan jiwa.
Sehingga puncak hedone bagi Epicurus ialah ketenangan jiwa. Jiwa dapat meninjau kembali
peristiwa-peristiwa yang menyenangkan. Jiwa dapat mengatasi keterbatasan jasmani manusia.
Epicurisme merupakan bentuk hedonisme yang bercorak eudaimonistik.
Aliran hedonisme dari Yunani kuna timbul kembali dalam abad 17 di Inggris dengan
ungkapannya, bahwa kesenangan yang dianggap penting sebagai hasil dari setiap keputusan
C
O
P
Y
Refleksi Achmad Charris Zubair
Attention: Dilarang mengutip tanpa ijin pengarang! Terima kasih. Achmad Charris Zubair
2
tindakan manusia. Tokoh yang terkenal adalah Jeremy Bentham (1748-1832). Dalam
bukunya An Introduction to the Principles of Morals and Legislation (1780) ia menulis:
Nature has mankind placed under the governance of two sovereign matters, pain and
pleasure. It is for them alone to point out what we ought to do, as well as to determine what
we shall do. On the other hand the standard of right and wrong, on the other chain of causes
and effects, are fastened to their throne. They govern us in all we do, in all we say, in all we
think
Sikap etis bagi Bentham adalah kemampuan menghitung dengan cermat rasa senang dan rasa
sakit, sebagai hasil suatu perbuatan untuk kemudian mengurangi sebanyak mungkin rasa sakit
menuju sebanyak-banyaknya rasa senang. Bahkan Bentham menawarkan konsep hedonistic
calculus atau rumus menghitung jumlah rasa senang dan sakit. Ukurannya meliputi tujuh
unsur: 1. Intensity, kuat atau lemahnya rasa sakit dan senang. 2. Duration, panjang atau
pendeknya waktu berlakunya rasa sakit dan senang. 3. Certainty, kepastian akan timbulnya
rasa tersebut. 4. Propincuity, dekat atau jauhnya waktu terjadinya perasaan sakit dan senang.
5. Fecundity, kemungkinan rasa sakit dan senang diikuti oleh perasaan yang sama. 6. Purity,
kemurnian dalam arti tidak tercampurnya dengan perasaan yang berlawanan. 7. Extent,
jumlah orang yang terkena perasaan itu. Enam unsur pertama tentang perbuatan yang
menimbulkan rasa senang individual. Unsur ketujuh menjadikan etik individual menjadi etik
sosial. Dengan hedonistic calculus Bentham memberikan dasar matematis pada bidang etika
yang dapat memberikan arah bagi perbuatan manusia.
Hedonisme Modern
Dengan melihat kondisi manusia yang terdiri dari aspek jasmani dan ruhani, sesungguhnya
paham yang cenderung menitik beratkan pada salah satu aspek, tidak dapat dielakkan.
Hedonisme pada prinsipnya menitik beratkan kebutuhan jasmani daripada ruhani. Sehingga
sejak awal sejarah manusia, hedonisme dengan berbagai versi serta aktualisasinya, sadar atau
tidak sadar, akan selalu muncul. Hanya saja, fenomena hedonisme, di akhir abad ini sudah
sedemikian meluas dan mencolok apabila dibandingkan dengan masa-masa lalu.
Hedonisme modern tidak dapat dilepaskan dari perkembangan antroposentrisme dan
positivisme pada abad tengah sebagai reaksi atas gereja yang secara otoriter
mengembangkan hegemoninya atas wilayah akal budi manusia (ordre intellectuelle).
Disusul dengan gerakan renaisans, humanisme, dan rasionalisme, bahkan ateisme-
materialisme yang mencapai puncak pada abad 18 yang dikenal dengan sebutan zaman
Aufklrung atau Enlightenment. Muncul anggapan bahwa agama menjadi penghambat
perkembangan otonomi manusia, muncul paham sekularisme sebagai sumber moral manusia
modern.
An ethical system founded on principles of natural morality and independent of revealed
religion or supernatualism (Bakry 1984).
Perkembangan di barat sejak abad pertengahan, ditandai dengan berkembangnya revolusi
industri. Sehingga dapat dikatakan bahwa modernisasi barat diawali oleh industrialisasi.
Modernisasi secara implisit merupakan proses yang menghilangkan nilai-nilai tradisional.
Secara faktual nilai-nilai tradisional itu adalah nilai agama dan nilai ruhaniah. Dengan paparan
singkat di atas, modernisasi di negara-negara berkembang merupakan akibat proses global
yang di dalamnya terimbas oleh paham materialisme dan sekularisme. Inilah yang
sesungguhnya menjadi akar permasalahan, negeri-negeri barat mengawali modernisasi
C
O
P
Y
Refleksi Achmad Charris Zubair
Attention: Dilarang mengutip tanpa ijin pengarang! Terima kasih. Achmad Charris Zubair
3
dengan proses industrialisasi sementara negara berkembang, modernisasi dulu baru ada
proses industrialisasi.
Pardoyo (1993) menuliskan, bahwa modernisasi di barat melalui proses rasionalisasi,
komersialisasi, dan industrialisasi. Alfian (1985) juga mengatakan bahwa barat sejak revolusi
industri sangat berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan materi manusia. Pemuasan materi
yang berlebihan, ditandai dengan tingkat konsumsi yang tinggi, dan tampak kurang diikuti
oleh pemenuhan kebutuhan ruhani. Sehingga muncul kelompok masyarakat yang terpesona
oleh keunggulan barat yang diikuti oleh anggapan betapa tidak relevannya nilai-nilai yang
mereka miliki. Mereka berpendapat bahwa satu-satunya jalan adalah menjelmakan diri
sepenuhnya menjadi barat, termasuk dalam sistem nilai dan normanya.
Hedonisme Generasi Muda di Indonesia
Hedonisme di Indonesia saat ini merupakan fenomena paham perilaku yang khas negara
berkembang. Perilaku tanggung dalam menangkap modernitas sebagai nilai. Simbol
modernitas ditangkap sebagai barang jadi dan tidak memahami proses yang
mendahuluinya. Pemilikan barang-barang mutakhir yang bercirikan teknologi tinggi adalah
ciri kemodernan dan merupakan prestasi yang harus dikejar, dan karena itu prestise
tersendiri. Memilikinya jauh lebih mempunyai makna dari menguasainya secara fungsional.
Simbol-simbol lahiriah seperti arsitektur rumah kediaman, pusat-pusat perbelanjaan modern,
tempat-tempat hiburan modern, makanan modern, gaya hidup, itu harus meniru bangsa
modern dan itu identik dengan barat. Tentu saja, di sisi lain, apa saja yang berbau
tradisional, kendatipun itu milik kita sendiri harus dianggap ketinggalan jaman dan harus
ditinggalkan.
Sesungguhnya persepsi itu telah merasuk di hampir semua lini dalam masyarakat. Pemimpin
masyarakat, pejabat, orang tua, dan yang harus dicatat fenomena ini tidak hanya terbatas
pada generasi muda. Ukuran-ukuran keberhasilan hidup tidak lagi pada keunggulan ruhaniah,
tetapi pada kelebihan jasmaniah semata-mata. Norma menjadi longgar, karena apapun dapat
dilakukan untuk menuju keberhasilan di bidang jasmani dan materi. Satu contoh kasus yang
tercatat dan cukup menarik untuk disimak adalah apa yang termuat dalam Koran Minggu
Pagi Minggu pertama November 1996:
Empat orang gadis siswa sebuah SMU di Semarang, terlibat pesta seks dengan seorang pria,
karyawan BUMN di sebuah hotel berbintang. Ketika ditanya, jawaban gadis-gadis tersebut
sangat naif sekali: Ingin merasakan tidur di hotel mewah.
Kasus tersebut merupakan salah satu contoh fenomena hedonisme generasi muda, dari
sekian banyak yang lain. Keinginan untuk merasakan kemewahan dan simbol lahiriah yang
lain mendorong banyak generasi muda ingin meraihnya, bahkan dengan mengorbankan
harga diri maupun nilai-nilai ruhaniah yang dimilikinya. Keinginan untuk memiliki jeans yang
modis, cd player mutakhir, makan pizza, dan sebagainya lebih mendorong genarasi muda
untuk mengorbankan segala-galanya. Majalah Matra no. 49, 1990 dan Tiara no. 27, 1991
pernah memuat artikel pelacuran di kalangan mahasiswi Yogyakarta, dan salah satu alasan
adalah: Di samping untuk membayar uang kuliah, juga lumayan dapat mengikuti mode-
mode terakhir, pakaian, lipstick, alat-alat elektronika, dan mampu membeli kendaraan
pribadi.
Apalagi nampaknya kesenjangan sosial ekonomi di negara kita ini cukup besar dan
nampaknya tidak pernah diselesaikan dengan baik. Sebagai contoh pernah di majalah
C
O
P
Y
Refleksi Achmad Charris Zubair
Attention: Dilarang mengutip tanpa ijin pengarang! Terima kasih. Achmad Charris Zubair
4
Tempo 1994, memuat artikel tentang perempuan anak pengusaha kaya di Indonesia yang
mampu mengoleksi beberapa arloji mahal seharga setidaknya setengah milyar rupiah per
bijinya.
Tetapi sebenarnya pula kesalahan tidak dapat sepenuhnya ditimpakan pada generasi muda.
Sebab sistem yang diciptakan oleh orang tua, yang dalam hal ini berarti para penguasa
pengambil keputusanlah, yang sebenarnya membuat hedonisme menjadi semakin meluas.
Siapa yang dulu mengizinkan berdirinya diskotek-diskotek yang kemudian disadari sebagai
salah satu tempat potensial peredaran extacy dan transaksi seksual. Siapa dulu yang
mengijinkan beroperasinya usaha franchise (waralaba) yang kemudian disadari merusak pola
makanan tradisional yang lebih sehat. Siapa dulu yang mengijinkan berdirinya supermarket
dan mall yang kemudian disadari itu membuat pola konsumtif yang berlebihan dan membuat
si miskin semakin ternganga, sehingga untuk melampiaskan keinginannya ia akan berbuat apa
saja serta akibatnya meningkatkan angka di bidang kriminalitas. Siapa yang mengijinkan
berdirinya panti-panti pijat demi tourisme, lokalisasi pelacuran yang katanya resosialisasi,
tetapi faktanya tempat kaderisasi. Tentu saja kambing hitam yang paling cocok adalah
orang tua yang kebetulan jadi pengambil keputusan itu. Apalagi generasi muda di samping
telah menjadi korban sistem, sekaligus kehilangan idola, karena orang tua pun telah menjadi
hedonis tingkat tinggi.
Apa Yang Harus Dilakukan ?
Secara realistik menghilangkan sama sekali dorongan ke arah pemuasan kebutuhan jasmani
adalah tidak mungkin. Sebab jasmaniah juga merupakan landasan penting untuk kesem-
purnaan hidup manusia. Nonsens apabila dikatakan kita akan bahagia tanpa kebutuhan
jasmaniah terpenuhi. Tetapi selalu harus ditumbuhkan kesadaran bahwa manusia bukan
sekedar makhluk jasmaniah melainkan pula makhluk ruhaniah. Di mana kesenangan jasmani
menjadi tidak bermakna tanpa kebahagiaan yang bersifat ruhani. Tentu saja ini memerlukan
kejelasan sistem norma, terutama agama. Kendatipun di Indonesia sendiri tidak pernah
mengalami peristiwa traumatis di bidang agama sebagaimana gereja pada abad tengah di
Eropa, tetapi dampak merosotnya peran agama berkaitan dengan modernisasi yang
sekularistik juga dirasakan. Agama dalam hal ini memerlukan dataran baru yang mampu
memecahkan persoalan konkret kemnanusiaan. Di samping tentu saja sistem yang
mengharuskan adanya perilaku pendukung yang dapat diteladani, termasuk perlu dilakukan
reevaluasi dari program-program pembangunan yang selama ini kita lakukan demi
meminimalisasi dampak negatif dari pembangunan itu sendiri.
Generasi muda adalah generasi masa mendatang, dan oleh karena itu wajar apabila ia
mengisi kehidupannya untuk mencari jati dirinya. Oleh karena itu perlu ada bimbingan nor-
matif ruhaniah melalui intensitas pemahaman dan penghayatan agama sekaligus jangan
sampai mereka kehilangan idola yang dapat dicontoh kebaikannya. Sebab bagaimanapun juga
gambaran masa depan manusia dapat terlihat dari perilaku generasi muda yang hidup saat
sekarang.