Anda di halaman 1dari 8

1

TATALAKSANA ASMA JANGKA PANJANG / STABIL


Dr. Ahmad Subagyo, Sp.P Bagian Pulmonologi RS Pertamina Balikpapan Website: www.klikparu.com dan www.pdpikaltim.com
Asma merupakan masalah kesehatan global yang serius. Asma adalah penyakit saluran napas kronik yang bisa terjadi pada semua umur, semua negara seluruh dunia, bila tidak terkontrol akan membatasi aktifitas sehari-hari dan kadang fatal. Prevalensi asma meningkat pada hampir semua negara, terutama pada anak. Asma tidak hanya meningkatkan biaya kesehatan, namun juga akan menekan produktivitas dan mengurangi partisipasi penyandang asma dalam kehidupan keluarga. Asma adalah gangguan inflamasi saluran napas yang melibatkan banyak sel dan elemennya. Inflamasi kronik menyebabkan peningkatan hiperesponsif saluran napas yang menimbulkan gejala episodik berulang berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat dan batuk terutama malam dan atau dini hari. Episode tersebut berhubungan dengan obstruksi saluran napas yang luas, bervariasi dan seringkali bersifat reversibel dengan atau tanpa pengobatan. Diagnosis Studi epidemiologik menunjukkan bahwa asma sering underdiagnosis di banyak negara. Berikut ini riwayat penyakit atau keluhan yang bisa dicurigai sebagai asma: Bersifat episodik, sering reversibel dengan atau tanpa pengobatan Gejala berupa batuk, sesak napas, rasa berat di dada dan berdahak Gejala timbul atau memburuk terutama pada malam dan atau dinihari Biasanya diawali oleh faktor pencetus yang bersifat individu Memberikan respons terhadap pengobatan bronkodilator (pelonggar napas) Hal lain yang perlu dipertimbangkan dalam riwayat penyakit: Riwayat keluarga dengan keluhan atopi Riwayat alergi atau atopi Penyakit lain yang memberatkan Perkembangan penyakit dan pengobatan Apabila didapatkan keluhan di atas, maka perlu diteruskan dengan pemeriksaan fisik, pemeriksaan faal paru dan bila perlu ditambah pemeriksaan lain untuk menegakkan diagnosis asma. Tatalaksana asma Penatalaksanaan asma bertujuan mendapatkan kondisi asma yang terkontrol yaitu keadaan optimal yang menyerupai orang sehat sehingga penderita dapat melakukan aktivitas harian seperti orang normal dan ini berarti meningkatkan kualitas hidup penderita. Keberhasilan penatalaksanaan asma ditentukan oleh berbagai faktor. Tiga faktor terpenting adalah faktor tenaga kesehatan, faktor penderita dan faktor obat-obatan. Tenaga kesehatan berperan dalam memastikan penyakit asma,

Disampaikan pada Seminar dan pelatihan pelayanan farmasi pada penanganan kasus asma, Ikatan Apoteker Indonesia cabang Balikpapan, Hotel Sagita Balikpapan, 1 Juni 2013

menentukan obat yang sesuai dengan beratnya penyakit dan melakukan edukasi tentang asma kepada pasien dan keluarganya. Apoteker dan asisten apoteker, sebagai bagian dari tenaga kesehatan berperan mempersiapkan obat yang ditentukan dokter, menjelaskan cara mengkonsumsi obat dan membantu memastikan obat bisa bekerja dengan baik sehingga tujuan pengobatan tercapai. Empat komponen tatalaksana asma: 1. Bangun hubungan tenaga kesehatan dengan pasien. Agar tatalaksana asma bisa efektif perlu dikembangkan kerjasama antara pasien dengan tim petugas kesehatan yang mengobatinya. Dengan bantuan tim pasien bisa belajar untuk: a. Menghindari faktor risiko b. Menggunakan obat secara tepat c. Mengetahui perbedaan antara obat pengontrol dan pelega d. Memonitor status asmanya berdasarkan gejala dan, jika mungkin, dengan PFR e. Mengenal tanda bahwa asmanya sedang memburuk dan perlu tindakan f. Mencari bantuan medis pada saat yang tepat Edukasi, dengan berbagai metode, merupakan bagian integral seluruh interaksi antara pasien dengan petugas kesehatan 2. Temukan dan hindari pajanan terhadap faktor risiko Untuk meningkatkan kontrol asma dan mengurangi kebutuhan obat pasien sebaiknya mengambil langkah untuk mengenali dan menghindari faktor risiko yang akan memunculkan gejala asma. Perlu disadari, banyak pasien asma memberikan reaksi terhadap berbagai faktor dan ada di mana-mana sehingga tidak mungkin menghindari faktor-faktor tersebut secara lengkap. Jadi pengobatan untuk mempertahankan kontrol asma menjadi penting. Aktiivitas fisik sering menimbulkan gejala asma namun pasien tidak mungkin menghindari exercise. Gejala dapat dicegah dengan inhalasi beta-2 agonis kerja cepat sebelum exercise berat. Pasien asma derajad sedang sampai berat sebaiknya dianjurkan vaksinasi influenza setiap tahun. 3. Nilai, obati dan monitor asma Setiap pasien asma sebaiknya dinilai untuk menentukan regimen pengobatan sekarang, ketaatan terhadap pengobatan sekarang dan tingkat kontrol asmanya (terkontrol, terkontrol sebagian atau tidak terkontrol). Pemantauan terusmenerus perlu dilakukan untuk mempertahankan kontrol asma dan menentukan step paling rendah dan dosis pengobatan untuk meminimalkan biaya dan memaksimalkan keamanan. Umumnya pasien dianjurkan kontrol kembali 1 sampai 3 bulan setelah kunjungan pertama dan selanjutnya setiap 3 bulan. Setelah terjadi eksaserbasi, follow up sebaiknya dalam 2 minggu sampai 1 bulan. 4. Atasi eksaserbasi Eksaserbasi asma (serangan asma) adalah episode peningkatan progresif pada kesulitan bernapas, batuk, mengi, atau dada terasa berat atau kombinasi gejala tersebut. Jangan

Disampaikan pada Seminar dan pelatihan pelayanan farmasi pada penanganan kasus asma, Ikatan Apoteker Indonesia cabang Balikpapan, Hotel Sagita Balikpapan, 1 Juni 2013

underestimete terhadap beratnya serangan, serangan asma berat bisa mengancam kematian. Penatalaksanaan asma stabil Penatalaksanaan asma meliputi edukasi pasien, nilai dan pantau beratnya asma, hindari faktor pencetus serangan asma, penatalaksanaan asma jangka panjang dan perencanaan untuk menghadapi eksaserbasi bila muncul. Pada makalah kali ini akan dibahas tentang penatalaksanaan asma jangka panjang. Penatalaksanaan di rumah Kemampuan penderita untuk mendeteksi dini perburukan asmanya merupakan faktor penting penanganan serangan akut. Bila penderita mampu mengobati dirinya saat serangan di rumah, maka keterlambatan pengobatan bisa dihindari dan kemampuan mengontrol asma akan menjadi lebih baik. Idealnya seorang penyandang asma mampu: Mengenal perburukan asma Memodifikasi atau menambah pengobatan Menilai beratnya serangan Mendapatkan bantuan medis Pada serangan asma ringan diberikan obat inhalasi agonis beta-2 kerja singkat berbentuk IDT (inhalasi dosis terukur), namun lebih dianjurkan dengan spacer atau nebulisasi. IDT dengan spacer mempunyai efek yang sama dengan nebulisasi, mempunyai onset lebih cepat, efek samping lebih minimal dan perlu waktu yang lebih singkat sehingga lebih mudah dilakukan di rumah. Pada beberapa keadaan, pemberian obat secara nebulisasi hasilnya lebih baik misalnya pada penderita asma anak. Bila di rumah tidak tersedia obat inhalasi, dapat diberikan agonis beta-2 kerja singkat oral, atau kombinasi agonis beta-2 kerja singkat oral dan teofilin. Agonis beta-2 kerja singkat inhalasi, diberikan 2 4 semprot setiap 3-4 jam, atau oral setiap 6-8 jam. Lanjutkan terapi tersebut selama 24-48 jam. Terapi tambahan tidak dibutuhkan jika pengobatan tersebut menghasilkan respons komplet (APE >80% nilai terbaik/prediksi) dan respons tersebut bertahan minimal sampai 3-4 jam. Pada penderita dalam terapi inhalasi steroid, selain terapi inhalasi agonis beta-2, dosis terapi inhalasi steroid ditingkatkan, maksimal sampai 2 kali lipat dosis sebelumnya. Anjurkan penderita untuk mengunjungi dokter. Bila memberikan respons komplet, pertahankan terapi tersebut sampai 5-7 hari bebas serangan, kemudian terapi turun kembali ke dosis sebelumnya. Pada asma serangan sedang sampai berat, bronkodilator saja tidak cukup untuk mengatasi serangan karena tidak hanya terjadi bronkospasme tetapi juga peningkatan inflamasi saluran napas, karena itu mutlak diperlukan kortikosteroid. Penatalaksnaan asma di Rumah Sakit

Disampaikan pada Seminar dan pelatihan pelayanan farmasi pada penanganan kasus asma, Ikatan Apoteker Indonesia cabang Balikpapan, Hotel Sagita Balikpapan, 1 Juni 2013

Serangan akut berat adalah keadaan gawat yang membutuhkan bantuan medis segera, penanganan harus cepat dan sebaiknya dilakukan di rumah sakit. Penilaian beratnya serangan didasarkan riwayat singkat serangan termasuk gejala, pemeriksaan fisik, dan sebaiknya pemeriksaan faal paru, dan selanjutnya diberikan pengobatan yang tepat. Namun demikian pemeriksaan faal paru dan laboratorium jangan menjadikan sebab keterlambatan pengobatan. Obat asma Perlu diketahui bahwa asma bukan hanya suatu episode penyakit tetapi merupakan suatu proses kronik, karena itu fokus penanganan asma berubah dari hanya untuk menangani serangan akut menjadi pengobatan jangka panjang dengan tujuan mencegah serangan, mengontrol atau mengubah perjalanan penyakit. Pada prinsipnya pengobatan asma dibagi menjadi 2 golongan yaitu antiinflamasi dan bronkodilator. Antiinflamasi merupakan pengobatan rutin yang bertujuan mengontrol penyakit dan mencegah serangan (eksaserbasi), disebut obat pengontrol. Bronkodilator merupakan pengobatan saat serangan untuk mengatasi eksaserbasi atau serangan, disebut obat pelega. Termasuk dalam kelompok obat pengontrol adalah: Kortikosteroid inhalasi Kortikoseroid sistemik Sodium kromoglikat Nedokromil sodium Metilsantin Agonis beta-2 kerja lama (long acting beta-2 agonist/LABA) inhalasi Agonis beta-2 kerja lama (long acting beta-2 agonist/LABA) oral Leucotrien modifier Antihistamin generasi ke dua (antagonis H1) Sedangkan yang termasik obat pelega adalah: Agonis beta-2 kerja singkat Kortikosteroid sistemik, digunakan sebagai obat pelega bila penggunaan bronkodilator lain sudah optimal tetapi hasil belum tercapai, penggunaannya dikombinasikan dengan bronkodilator lain. Antikolinergik Aminofilin Adrenalin Rute pemberian pengobatan Obat asma dapat diberikan melalui berbagai cara yaitu inhalasi, oral dan parentral (subkutan, intramuscular, intravena). Kelebihan memberikan obat langsung ke jalan napas (inhalasi) adalah: Lebih efektif untuk mencapai konsentrasi tinggi di saluran napas Efek sistemik minimal atau bisa dihindarkan Beberapa obat hanya dapat diberikan lewat inhalasi karena tidak terabsorbsi pada pemberian oral (antikolinergik dan kromolin)

Disampaikan pada Seminar dan pelatihan pelayanan farmasi pada penanganan kasus asma, Ikatan Apoteker Indonesia cabang Balikpapan, Hotel Sagita Balikpapan, 1 Juni 2013

Onset (waktu kerja) bronkodilator lebih cepat bila diberikan secara inhalasi daripada oral.

Macam-macam cara pemberian obat inhalasi Nebuliser (kompresor, ultrasound) Inhalasi dosis terukur (IDT) atau metered-dose inhaler (MDI) IDT dengan alat bantu (spacer) Dry powder inhaler (DPI) o Turbuhaler o Diskus o Swinghaler DPI dalam kapsul o Handyhaler o Breezhaler o Ventolin

Nebulizer kompresor

Nebulizer ultrasound

Disampaikan pada Seminar dan pelatihan pelayanan farmasi pada penanganan kasus asma, Ikatan Apoteker Indonesia cabang Balikpapan, Hotel Sagita Balikpapan, 1 Juni 2013

Macam-macam metered dose inhaler (MDI)

MDI dengan counter

Spacer

Spacer

Spacer untuk bayi atau anak kecil

Disampaikan pada Seminar dan pelatihan pelayanan farmasi pada penanganan kasus asma, Ikatan Apoteker Indonesia cabang Balikpapan, Hotel Sagita Balikpapan, 1 Juni 2013

Turbuhaler

Accuhaler / diskus

Swinghaler

Handihaler

Respimat

Brezhaler

Rotahaler

Disampaikan pada Seminar dan pelatihan pelayanan farmasi pada penanganan kasus asma, Ikatan Apoteker Indonesia cabang Balikpapan, Hotel Sagita Balikpapan, 1 Juni 2013

Obat-obat nebuliser

Disampaikan pada Seminar dan pelatihan pelayanan farmasi pada penanganan kasus asma, Ikatan Apoteker Indonesia cabang Balikpapan, Hotel Sagita Balikpapan, 1 Juni 2013