Anda di halaman 1dari 59

DIARE AKUT

CASE RUMAH SAKIT

KELOMPOK III

PRORAM PROFESI APOTEKER FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS ANDALAS


2012

DIARE AKUT

ANGGOTA KELOMPOK

Annisya Harfan, S. Farm Feni Rahayu Gusti, S.Farm Maryorie Rosa, S. Farm Narita, S. Farm Nyayu Novianti, S.Farm Rahmad Abdillah, S. Farm Tasia Amelia, S. Farm Yeli Pandu Gustia, S.Farm

DIARE AKUT

DAFTAR ISI

Halaman Pendahuluan............................................................................................................ Pengertian......................................................................................................... Etiologi............................................................................................................. Patofisiologi................................................................................................... Gejala Fisik....................................................................................................... Pemeriksaan Fisik............................................................................................. Pemeriksaan Laboratorium............................................................................... Penatalaksanaan................................................................................................ .. ..

Ilustrasi kasus................................................................................................................ Kerasionalan Obat......................................................................................................... Analisa Data Laboratorium............................................................................................ Tinjauan Fisika kimia...................................................................................................... Tinjauan Farmaseutika................................................................................................... Tinjauan Biologi............................................................................................................. Tinjaun Farmakologi......................................................................................................

DIARE AKUT

DIARE

Pendahuluan
Diare adalah suatu kondisi dimana terjadi peningkatan frekuensi dan penurunan konsistensi pengeluaran feses dibandingkan dengan kondisi normal. Diare akut biasanya berlangsung <14 hari, diare persisten berlangsung >14 hari. Diare kronis terjadi >30 hari (Dipiro 2008). Kebanyakan kasus diare akut disebabkan oleh infeksi, dapat berupa infeksi virus, bakteri, atau protozoa dan biasanya infeksi ini dapat berhenti dengan sendirinya. Meskipun infeksi virus sering disertai dengan gastroenteritis akut, namun infeksi bakteri dapat juga terjadi pada beberapa kasus diare akut (Dipiro, 2008). Pada umumnya diare dapat berhenti dengan sendirinya, dalam jangka watu 72 jam. Namun pada bayi, anak-anak, lansia, dan pada kondisi tubuh yang lemah, hal ini dapat menyebabkan resiko yang serius serta kematian. Pasien pada kelompok ini dapat mengalami ketidakseimbangan air, elektrolit, dan asam-basa tubuh, serta berpotensial mengalami gagal jantung dan kematian (Dipiro, 2008).

Etiologi
Beberapa penyebab terjadinya diare (Hoan, 2006) a. Virus, antara lain oleh rotavirus dan adenovirus. Virus melekat pada sel-sel mukosa usus sehingga kapasitas resorpsi menurun. b. Bakteri, bakteri membentuk enterotoksin yang dapat diresorpsi ke dalam darah dan menimbulkan gejala seperti demam, nyeri, kejang. c. Parasit, protozoa Entamoeba histolytica dan Giardia lambia

DIARE AKUT

d. Diare akibat penyakit, misalnya colitis ulcerosa, Irretable Bowel Syndrome (IBS), kanker kolon. Dapat juga disebabkan oleh alergi terhadap makanan/minuman, protein susu sapi serta intoleransi laktosa. e. Obat-obatan, seperti antibiotik spektrum luas dan sitostatika. f. Keracuna makanan.

Patofisologi
Terdapat 4 mekanisme patofisiologi terjadinya gangguan keseimbangan air dan elektrolit yang menyebabkan diare, yaitu (Dipiro, 2008): a. Perubahan transpor ion aktif yang disebabkan oleh penurunan absorpsi natrium dan peningkatan sekresi klorida. b. Perubahan motilitas usus c. Peningkatan osmolaritas luminal d. Peningkatan tekanan hidrostatik jaringan Mekanisme tersebut sebagai dasar pengelompokan diare secara klinis, yaitu: a. Secretory diarrhea, terjadi ketika senyawa yang strukturnya mirip (contoh: Vasoactive Intestinal Peptide [VIP] atau toksin bakteri) meningkatkan sekresi atau menurunkan absorpsi air dan elektrolit dalam jumlah besar. b. Osmotic diarrhea, terjadi bila ada bahan yang tidak dapat diserap meningkatkan osmolaritas dalam lumen yang menarik air dari plasma sehingga terjadi diare c. Exudative diarrhea, disebabkan oleh penyakit infeksi saluran pencernaan yang mengeluarkan mukus, protein atau darah ke dalam saluran cerna. d. Gangguan motilitas usus Hiperperistaltik mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan, sehingga timbul diare, sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan

DIARE AKUT

mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula. Sebagai akibat diare baik akut maupun kronis akan terjadi : a. kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang mengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan asam basa (asidosis metabolic dan hipokalemia). b. Gangguan gizi sebagai akibat kelaparan (masukan makanan kurang, pengeluaran bertambah) c. Hipoglikemia d. Gangguan sirkulasi darah

Gejala Klinis
a. Mual, muntah, nyeri abdominal, sakit kepala, demam, kedinginan, dan perasaan tidak enak badan. b. Tinja cair dan mungkin disertai lender dan atau darah c. Adanya intermitten periumbilical atau nyeri pada kuadran kanan bawah disertai kram dan bunyi pada perut. d. Pada diare kronis dapat terjadi penurunan berat badan, anoreksia, dan lemas.

Pemeriksaan Fisik
Pada penderita diare dapat dilakukan pemeriksaan fisik abdomen untuk mendeteksi hiperperistaltik dengan borborygmi (bunyi pada lambung). Pemeriksaan turgor kulit dapat dilakukan utuk memperkirakan status cairan tubuh.

Pemeriksaan Laboratorium
a. Pemeriksaan pada feses termasuk mikroorganisme, darah, lendir, lemak, osmolalitas, pH, konsentrasi elektrolit dan mineral.

DIARE AKUT

b. Tes kit untuk mendeteksi virus gastrointestinal, terutama sekali rotavirus. c. Frekuensi dan volume BAB d. Visualisasi secara endoskopi dan biopsi pada kolon dapat dilakukan untuk memastikan adanya penyakit lainnya seperti colitis dan kanker

Penatalaksanaan
a. Pencegahan Pencegahan diare pada dasarnya harus ditujukan pada peningkatan kebersihan, khususnya mencuci tangan dengan bersih sebelum makan dan mengolah makan. Makanan dimasak hingga matang dan disimpan pada tempat yang tertutup. Hindari mengkonsumsi susu sapi jika bayi mengalami intoleransi laktosa. b. Tujuan Jika usaha preventif tidak berhasil dan terjadi diare, maka tujuan dari terapi yang dilakukan adalah: 1. Mengatur diet, 2. Mencegah ketidakseimbangan air, elektrolit dan asam-basa tubuh, 3. Meredakan gejala 4. Mencecah penyakit sekunder yang disebabkan diare Diare merupakan suatu bentuk pertahanan tubuh dari bahaya atau mikroorganisme patogen. Oleh karena itu respon terapi yang diharapkan bukan lah menghentikan diare sesegera mungkin. c. Terapi Farmakologi Antimotilitas Loperamid dan derivat opium. Berkhasiat obstipasi kuat dengan mengurangi peristaltik. Loperamid lebih banyak digunakan karena tidak mempengaruhi SSP, sedangkan derivat opium dapat menyebabkan adiksi.

DIARE AKUT

Adsorben Arang aktif, kaolin dan pektin, digunakan untuk meringankan gejala, tetapi kerjanya tidak spesifik, sehingga dapat mengabsorpsi nutrisi dan obat lainnya. Penggunaan bersamaan dengan obat lain akan mengurangi bioavalabilitasnya.

Antibiotik Antibiotik dapat menyembuhkan diare jika organisme penyebab diare sensitif terhadap antibiotik tersebut. Namun penggunaanya sangat terbatas.

Sedian lactobacillus Sedian lactobacillus diharapkan dapat mengganti mikroflora normal. Hal ini diduga dapat mengembalikan fungsi usus dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme patogen. Kelompok probiotik yang terdiri dari Lactobacillus dan Bifidobacteria atau Saccharomyces boulardii, bila mengalami peningkatan jumlahnya di saluran cerna akan memiliki efek yang positif karena berkompetisi untuk nutrisi dan reseptor saluran cerna. Syarat penggunaan dan keberhasilan mengurangi/menghilangkan diare harus diberikan dalam jumlah yang adekuat.

DIARE AKUT

Diare

Riwayat dan Pemeriksaan Fisik

Diare Akut (< 3 hari)

Diare Kronik ( 14 hari)

tanpa demam atau gejala sistemik

demam dan gejala sistemik

terapi simptomatik -cairan pengganti / elektrolit -loperamide, diphenoxylateatau absorben -diet

cek feses ; WBC, RBC, telur atau parasit

negatif

positif

obati gejala

gunakan antibiotik yang tepat dan pengobatan gejala

Penatalaksanaan Diare Akut (Dipiro, 2008)

DIARE AKUT

ILUSTRASI KASUS
Seorang anak perempuan usia 4 tahun dengan berat badan 8 kg, dengan keluhan utama muntah dan mencret sejak sehari sebelum masuk rumah sakit. Demam tidak ada, tapi muntah setiap makan dan minum. Pemeriksaan terhadap feses pasien didapatkan adanya lendir serta tidak ada ampas dan darah. Hasil pemeriksaan lab adalah sebagai berikut; HB (10.6) leukosit (11.000/mm3) trombosit 356/mm3

Terapi yang didapatkan adalah sbb:

di IGD

di bangsal anak

saat pulang pasien dibekalkan obat sbb IVFD 2A 12 tts Vomina 3x2 cth Spectrem 2x1 cth Zinkid 1x1 tab Lacto B 2x1 sach oralit bila muntah

IVFD 2A 60tts Vomina 3x2 cth Spectrem 2x1 cth Zinc 1x1 tab oralit 3x1

IVFD 2A 12tts Vomina 3x2 cth Spectrem 2x1 cth Zinc 1x1 tab oralit 3x1

10

DIARE AKUT

KERASIONALAN OBAT

Nama Obat

Tepat Indikasi

Tepat Obat

Tepat Pasien

Tepat Dosis

Waspada Efek Samping

Keterangan Pencegahan dan pengobatan pada dehidrasi akibat diare Dosis yang diberikan melebihi dosis max (20 mg) /hari untuk anak Penggunaan antibakteri tanpa indikasi yang jelas, karena diare yang terjadi belum tentu disebabkan oleh bakteri Membantu menurunkan frekuensi diare Memenuhi kebutuhan elektrolit tubuh yang hilang akibat diare dan muntah

IGD

IVFD 2A 60tts

Vomina 3x2 cth

Spectrem 2x1 cth

Zinc 1x1 tab

Oralit 3x1

11

DIARE AKUT

Bangsal IVFD 2A Anak 12tts

Vomina 3x2 cth

Spectrem 2x1 cth

Zinc 1x1 tab

Pulang

IVFD 2A 12 tts

Vomina 3x2 cth

Spectrem 2x1 cth

Pencegahan dan pengobatan pada dehidrasi akibat diare Dosis yang diberikan melebihi dosis max (20 mg) /hari untuk anak Penggunaan antibakteri tanpa indikasi yang jelas, karena diare yang terjadi belum tentu disebabkan oleh bakteri Membantu menurunkan frekuensi diare Pencegahan dan pengobatan pada dehidrasi akibat diare Dosis yang diberikan melebihi dosis max (20 mg) /hari untuk anak Penggunaan antibakteri tanpa indikasi yang jelas, karena diare yang terjadi belum

12

DIARE AKUT

Zinkid 1x1 tab

Lacto B 2x1 sach

Oralit bila muntah

tentu disebabkan oleh bakteri Membantu menurunkan frekuensi diare Mengembalik an jumlah flora normal usus yang terganggu akibat penggunaan antibakteri dan membantu dalam intoleransi laktosa Memenuhi kebutuhan elektrolit tubuh yang hilang akibat diare dan muntah

13

DIARE AKUT

ANALISA DATA LABORATORIUM

Nama Hb Leukosit Trombosit

Nilai Normal 12,0 14,0 g/dl 5000 10000/l 150000 400000/l

Hasil Pemeriksaan 10,6 g/dl 11000 /mm 356/mm


3 3

Keterangan
normal inflamasi Normal

14

DIARE AKUT

TINJAUAN FISIKA KIMIA

IVFD 2A
Kandungan : dekstrosa 2,5%; NaCl 0,45%

GLUCOSI NATRII CHLORIDI INFUNDIRILIUM


Infus intravenus Glukosa Natrium Klorida

Infus intravenus glukosa natrium klorida mengandung glukosa anhidrat dan natrium klorida. Kadar glukosa, C6H12O6, tidak kurang dari 95% dan tidak lebih dari 105,0% dari jumlah yang tertera pada etiket. Kadar natrium klorida, NaCl, tidak kurang dari 95% dan tidak lebih dari 105,0% dari jumlah yang tertera pada etiket. Pemerian : Larutan jernih; tidak berwarna, atau kuning jerami pucat Identifikasi :

a. Jika dipanaskan dengan larutan Kalium Tembaga (II) tartrat P., terbentuk endapan merah b. Menunjukkan reaksi Natrium dan Klorida. Natrium: a) Basahi senyawa natrium dengan asam klorida P, bakar pada sebatang kawat platina dalam nyala bunsen, nyala berwarna kuning

15

DIARE AKUT

b) Asamkan larutan garam natrium dengan asam asetat P, saring jika perlu, tambahkan larutan magnesium uranil asetat berlebih, terbentuk hablur kuning c) Pada larutan garam natrium, tambahkan larutan kalium antimonat P, terbentuk hablur putih perlahan-lahan. Klorida: a) Panaskan larutan klorida dengan asam sulfat P dan mangan (IV) oksida P, terjadi klor yang memutihkan kertas lakmus P basah dan terjadi warna biru pada kertas kanji iodida P. b) Pada larutan klorida tambahkan larutan perak nitrat P, terbentuk endapan putih yang tidak larut dalam asam nitrat P. Endapan larut dalam amonia encer P setellah sebelumnya dicuci dengan air, tambahkan asam nitrat P, terbentuk endapan lagi. Keasaman-Kebasaan : Syarat infus intravenus : Pirogen Penetapan Kadar : Natrium klorida. Sejumlah volume infus intravenus yang diukur seksama setara dengan 100mg natrium klorida, titrasi dengan perak nitrat 0,1 N menggunakan indikator kalium kromat P. 1ml perak nitrat 0,1 setara dengan 5,844 mg NaCl. Glukosa. Seumlah voume infus intravenus yang diukur seksama setara dengan 2-5 g glukosa anhidrat, tambahkan 0,2 ml amonia encer P dan air secukupnya hingga 100,0 ml, campur baik, biarkan selama 30 menit. Tetapkan rotasi optik menggunakan tabung-2 dm. Rotasi yang diperoleh pada skala dikalikan 0,9477, menunjukkan jumlah glukosa dalam volume infus intravenus yang digunakan. : pH 3,5 sampai 5,5 Memenuhi syarat infus intravenus Memenuhi uji pirogenitas

16

DIARE AKUT

Penyimpanan

Dalam wadah dosis tunggal, jernih, tidak berwarna, pada suhu tidak lebih dari 25o

Penandaan

Pada etiket harus juga tertera : Kadar dalam milimol per liter.

Natrium Clorida NaCl


Rumus Molekul BM Pemerian : : : NaCl 58,44 tidak berwarna atau serbuk hablur putih; tidak berbau; rasa asin; bentuk hablur heksahedral Kelarutan : Larut dalam 2,8 bagian air dan Larut dalam 2,7 bagian air mendidih; sukar larut dalam etanol; larut dalam 10 bagian gliserol P Stabilitas : Stabil dalam bentuk larutan. Larutan stabil dapat menyebabkan pengguratan partikel dari tipe gelas. Sterilisasi pH Wadah : : : Sterilisasi dengan autoklaf atau filtrasi. 6,7 7,3 (Exipient hal 672) penyimpanan Dalam wadah tertutup baik

Keasaman-kebasaan Larutkan 50 g dalam 200 ml air bebas karbondioksida P, tambahkan 10 tetes larutan biru bromotimol P. Jika larutan berwarna kuning, untuk merubah menjadii warna hijau biru diperlukan tidak lebih dari 1,0 ml natrium hidroksida 0,02 N. Jika larutan berwarna hijau atau biru, untuk merubah menjadi warna kuning diperlukan tidak lebih dari 3,12 ml asam klorida 0,02 N. Susut Pengeringan Tidak lebiih dari 0,5%

17

DIARE AKUT

Penetapan Kadar Timbang seksama 250mg, larutkan dalam 50ml air. Titrasi dengan perak nitrat 0,1 N menggunakan indikator larutan kalium kromat P. 1 mg perak nitrat 0,1 N setara dengan 5,844 mg NaCl Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik

Dextrosa

Nama umum Nama kimia Rumus kimia Berat molekul Pemerian

: Dextrose : D-glucose monohydrate : C6H12O6.H2O : 198,17 : Hablur tidak bewarna, serbuk hablur atau serbuk granul putih, tidak berbau dan rasa manis

Kelarutan

: Mudah larut dalam air, sangat mudah larur dalam air mendidih,larut dalam etnol mendidih, sukar larut dalam etanol.

Identifikasi

Tambahkan beberapa tetes larutan (1 dalam 20) pada 5 mL tembaga (II)tartrat alkali LP panas sehingga terbentuk endapan merah tembaga oksida Warna larutan

18

DIARE AKUT

Larutkan 25 gr dalam air hingga 50 mL, warna larutan tidak lebih intensif dari larutan yang dibuat sebagai berikut : Campur 1 mL kobal (II) klorida LK, 3 mL besi (III) klolrida LK dan 2 mL tembaga (II) sulfat LK dengan air hingga 10 mL. Encerkan 3 mL lrutan dengan air hingga 50 mL. Bandingkan warna dengan mengamati larutan tegak lurus dari atas pada alas dasar warna putih dalam tabung pembanding warna yang selaras

Rotasi optik Bernilai antara +52,6 dan +53,2, dihitung terhadap zat anhidrat, lakukan penetapan menggunakan larutan yang mengandung 10 gram zat dan 0,2 mL ammonium hidroksida 6 N per 100 mL.

Keasaman Larutkan 5 gram dalam 50 mL air bebas karbondioksida P, tambahkan fenoftalein LP, dan titrasi dengan natrium hidroksida 0,02 N LV hingga terjadi warna merah muda : diperlukan tidak lebih dari 0,3 mL untuk titrasi.

Sisa pemijaran :

Tidak lebih dari 0,1 %

Wadah dan penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

SPECTREM
Kandungan : sulfametoksazole 200 mg trimethoprim 40 mg

19

DIARE AKUT

Sulfametoksazole

Nama Umum Nama Kimia Sinonim

: Sulfamethoxazolum : 2,4-Diamino-5-(3,4,5-trimetoksibenzil) pirimidina-2,4-diamin : Sulfametoxazol, Sulfamethoxazolum, Sulfametoksazolas

Rumus molekul : C10H11N3O3S Berat Molekul Penetapan Kadar : 253, 28 : sulfametoksazol mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih dari 101,0% C10H11N3O3S dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.

Pemerian

: serbuk hablur, putih sampai hampir putih, tidak berbau , serbuk kristal

Kelarutan

: praktis tidak larut dalam air, dalam eter dan kloroform, mudah larut dalam aseton, dan dalam larutan NaOH encer, agak sukar larut dalam etanol. : 168-172 oC

Titik Lebur

Identifikasi : Spektrum serapan inframerah zat yang telah didispersikan dalam kalim bromida P, menunjukkan spectrum yang sama dengan pembanding Spektrum UV Sulfametoksazol dalam NaOH P menunjukkan panjang gelombang maksimum 257 nm

20

DIARE AKUT

Larutkan lebih kurang 100 mg dalam 2 ml HCl p, tambahkan 3 ml larutan natrium nitirit P, dan 1 mL larutan NaOH P yang berisi 10mg 2-naftol P, akan terbentuk endapan merah jingga

Trimetoprim

Nama Umum Nama Kimia

: Trimethoprim : 2,4-Diamino-5-(3,4,5-trimetoksibenzil) pirimidina-2,4diamin

Sinonim

: Trimethoprimum, Trimethoxyprim

21

DIARE AKUT

Rumus molekul Berat Molekul Penetapan Kadar

: C14H18N4O3 : 290,32 : trimetroprim mengandung tidak kurang dari 98,5% dan tidak lebih dari 101,0% C14H18N4O3 dihitung

terhadap zat yang telah dikeringkan. Pemerian : hablur atau serbuk hablur, putih sampai krem, tidak berbau, serbuk kristal Kelarutan : sangat sukar larut dalam air, larut dalam benzilalkohol, agak sukar larut dalam kloroform dan dalam metanol, sangat sukar larut dalam etanol dalam aseton, praktis tidak larut dalam eter dan dalam karbon tetraklorida Titik Lebur : 199-203 oC

Identifikasi : Spektrum serapan inframerah larutan dalam kloroform P (1 dalam 100) menunjukkan spectrum yang sama dengan pembanding

Spektro UV Dengan menimbang lebih kurang 100 mg zat, masukkan kedalam labu 100 mL, kemudian larutkan dalam 25 mL etanol P. Encerkan secara kuantitatif dan

22

DIARE AKUT

bertahap dengan larutan NaOH P ( 1 dalam 250) hingga diperoleh larutan (1 dalam 50.000). Trimetropin dapat diamati dengan Spectro UV pada panjang gelombang maksimum 287 nm

VOMINA
Kandungan : Domperidon Domperidon

Nama Umum Nama Kimia

: :

Domperidone 5-kloro-1-{1-[3-(2-oxo-2,3-dihidro-1H-benzimidazol-1 yl)propil]piperidin-4-yl}-1,3 dihidro-2H-benzimidazol-2one

Sinonim

Domperidona, Domperidonas, Domperidoni, Domperidonum

Rumus molekul Berat Molekul Penetapan Kadar

: : :

C22H24ClN5O2 425,9 domperidon mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih dari 101,0% C10H11N3O3S dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.

Pemerian Kelarutan

: :

serbuk putih sampai hampir putih praktis tidak larut dalam air, sedikit larut dalam etanol

23

DIARE AKUT

(96%) dan metanol, larut dalam dimetilformamida Titik Lebur : 244-248 oC

Identifikasi : Spektrum serapan inframerah Thin layer kromatography (TLC)

ZINK
Zink Sulfate ZnSO4.H2O

Nama Umum Sinonim Rumus molekul Berat Molekul Penetapan Kadar

: Seng Sulfat Monohidrat (Zinc Sulphate Monohydrate) : Zinc Sulfate, Zinc Sulphate : ZnSO4,H2O : 179,5 : mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih dari 101,0% ZnSO4,H2O

Pemerian

: serbuk hablur, putih sampai hampir putih, tidak berwarna, kristal transparan, tidak berbau, rasa sepat mirip logam

Kelarutan

: sangat mudah larut dalam air, praktis tidak larut dalam etanol (95%) P, mudah larut dalam gliserol P. : 419.53 oC

Titik Lebur

24

DIARE AKUT

Identifikasi : Analisa untuk Zink Tambahkan hidrogen sulfide dan natrium asetat P kedalam larutan garam zink maka akan terbentuk endapan putih, yang tidak larut dalam asam asetat P, tetapi larut dalam HCl 3 N

LACTO B
Kandungan : 1x1010 CFU/gram (Lactobacillus acidhophilus,

Bifidobacterium

longun, Strepcoccus termophillus)

Energi 3,4 kalori, karbohidrat 0,6 gram, protein 0,02 gram, lemak total 0,1 gram, vitamin C 10 mg, vitamin B1 0,5 mg, vitamin B2 0,5 mg, vitamin B6 0,5 mg, niacin 2 mg.

Thiamini Hydrochloridium Vitamin B1

Nama Umum Sinonim Rumus molekul Berat Molekul

: Thiamini Hydrochloridium : Vitamin B1 : C12H17ClN4OS.HCl : 337,3

25

DIARE AKUT

Penetapan Kadar

: mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari 101,0% C12H17ClN4OS.HCl

Pemerian

: Hablur atau serbuk hablur, putih; bau khas lemah. Jika bentuk anhidrat terpapar udara dengan cepat

menyerap air lebih kurang 4%. Melebur pada suhu lebih kurang 248o disertai penguraian Kelarutan : mudah larut dalam air, sukar larut dalam etanol (95%) P, praktis tidak larut dalam eter P dan dalam benzen P, larut dalam gliserol P

Identifikasi : a. Spektrum IR zat yang telah dikeringkan pada suhu 108o selama 2 jam dan didispersikan dalam kalium bromida P, menunjukkan maksimum serapan hanya pada panjang gelombang yang sama seperti pada tiamina hidroklorida PK b. Larutan 2% b/v menunjukkan reaksi klorida: a) Panaskan larutan klorida dengan asam sulfat P dan mangan (IV) oksida P, terjadi klor yang memutihkan kertas lakmus P basah dan terjadi warna biru pada kertas kanji iodida P. b) Pada larutan klorida tambahkan larutan perak nitrat P, terbentuk endapan putih yang tidak larut dalam asam nitrat P. Endapan larut dalam amonia encer P setellah sebelumnya dicuci dengan air, tambahkan asam nitrat P, terbentuk endapan lagi. Keasaman-kebasaan pH larutan 1% b/v, 2,7 sampai 3,4 Susut Pengeringan Tidak lebih dari 5%; pengeringan dilakukan pada suhu 105o selama 2 jam menggunakan 500 mg. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya Antineuritikum, komponen vitamin B kompleks

Khasiat dan Penggunaan:

26

DIARE AKUT

Riboflavinum Vitamin B2

Nama Umum Sinonim Rumus molekul Berat Molekul Penetapan Kadar

: Riboflavinum : Vitamin B2 : C17H20N4O6 : 376,4 : mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari 102,0% C17H20N4O6 dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan

Pemerian

: Serbuk hablur, kuning sampai kuning jingga, bau lemah, rasa agak pahit

Kelarutan

: Sangat sukar larut dalam air, dalam etanol (95%) P dan dalam larutan natrium klorida; isotonis, praktis tidak larut dalam kloroform P dan dalam eter P, sangat mudah larut dalam larutan alkali encer. : 280 oC

Titik Lebur

27

DIARE AKUT

Identifikasi Larutan 1 mg dalam 100 ml air, dilihat dengan cahaya yang diteruskan larutan berwarna kuning pucat kehijauan, berfluorosensi hijau kuning intensif, yang dengan penambahan asam mineral atau alkali fluoresensi hilang. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya Komponen vitamin B kompleks

Khasiat dan Penggunaan :

Pyridoxini Hydrochloridium Vitamin B6

. HCl Nama Umum Sinonim Rumus molekul Berat Molekul Penetapan Kadar : Pyridoxini Hydrochloridium : Vitamin B6 : C8H11NO3HCl : 205,6 : mengandung tidak kurang dari 98% C8H11NO3HCl, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Pemerian : Hablur putih atau tidak berwarna, atau serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa asin. Kelarutan : Mudah larut dalam air, sukar larut dalam etanol (95%) P, praktis tidak larut dalam eter P Titik Lebur : 208 oC

28

DIARE AKUT

Identifikasi : a. Spektrum serapan IR zat yang didispersikan dalam parafin cair P menunjukkan maskimum hanya pada panjang gelombang yang sama seperti pada piridoksin hidroklorida P. b. Masukkan ke dalam 2 tabung kimia masing-masing 1 ml larutan yang mengandung 100 g dan 2 ml larutan natrium asetat P 20% b/v. Pada tabung pertama tambahkan 1 ml larutan asam borat 4% b/v, campur. Dinginkan kedua tabung hingga suhu lebih kurang 20o. Pada masing-masing tabung tambahkan dengan cepat 1 ml larutan siklorokininklorimida P 0,5% b/v dalam etanol (95%) P. Dalam tabung tabung pertama terjadi warna biru, yang segera memucat setelah beberapa menit berubah menjadi merah. Dalam tabung kedua tidak terjadi warna biru. c. Pada 2 ml larutan 0,5% b/v tambahkan 0,5 ml larutan fosfowolframat P, terbentuk endapan putih. d. Menunjukkan reaksi klorida. Penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya Khasiat dan Penggunaan Komponen vitamin B kompleks

Acidum Nicotinum Niasina

Nama Umum Sinonim

: Acidum Nicotinum : Niasina

29

DIARE AKUT

Rumus molekul Berat Molekul Penetapan Kadar

: C6H5NO2 : 123,1 : mengandung tidak kurang dari 99,0% C6H5NO2 dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.

Pemerian

: Habur atau serbuk hablur putih; putih atau putih kekuningan; tidak berbau atau berbau lemak; rasa agak asam

Kelarutan

: Larut dalam 55 bagian air, mudah larut dalam air mendidih dan dalam etanol (95%) P mendidih, praktis tidak larut dalam eter P, larut dalam larutan alkali hidroksida : 234-237 oC

Titik Lebur Identifikasi : a.

Panaskan 1 bagian dengan 4 bagian natrium karbonat anhidrat P, terbentuk piridina yang dapat dikenali dari baunya

b.

Pada 2 ml larutan 0,1% b/v tambahkan 6 ml larutan sianogen bromida P dan 1 ml larutan anilina P 2,5% v/v terbentuk warna kuning emas

c.

Didihkan 20 mg dengan 5 ml larutan natrium hidroksida P, tidak terbentuk amonia (perbedaan dengan nikotinamida)

Keasaman-kebasaan pH larutan 1,3% b/v 3,0 sampai 3,5 Penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat Khasiat dan Penggunaan Antipelagra, vasodilator

ORALIT
Kandungan : Glucose anhydrous 4 g, NaCl 0,7 g, Na bicarbonate 0,5 g, KCl 0,3 g

30

DIARE AKUT

Glucose Anhydrous Glukosa anhidrat

Rumus Molekul BM Pemerian

: : :

C6H12O6 180,16 Putih atau hampir putih, serbuk kristalin, berasa manis.

Kelarutan

Mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam methanol 96%

Identifikasi

Tambahkan beberapa tetes larutan (1 dalam 20) pada 5 ml tembaga(II) klorida tartrat alkali panas : terbentuk endapan merah tembaga oksida

Keasaman

Larutkan 5,0 g dalam 50 ml air bebas karbon dioksida, tambahkan fenolftalein, dan titrasi dengan natrium hidroksida 0,020 N hingga terjadi warna merah muda; diperlukan tidak lebih dari 0,30 ml untuk netralisasi

Sisa pemijaran Wadah

: :

Tidak lebih dari 0,1% Dalam wadah yang tertutup baik

31

DIARE AKUT

Natrium Clorida NaCl


Rumus Molekul BM Pemerian : : : NaCl 58,44 tidak berwarna atau serbuk hablur putih; tidak berbau; rasa asin; bentuk hablur heksahedral Kelarutan : Larut dalam 2,8 bagian air dan Larut dalam 2,7 bagian air mendidih; sukar larut dalam etanol; larut dalam 10 bagian gliserol P Stabilitas : Stabil dalam bentuk larutan. Larutan stabil dapat menyebabkan pengguratan partikel dari tipe gelas. Sterilisasi Ph Wadah : : : Sterilisasi dengan autoklaf atau filtrasi. 6,7 7,3 (Exipient hal 672) penyimpanan Dalam wadah tertutup baik

Keasaman-kebasaan Larutkan 50 g dalam 200 ml air bebas karbondioksida P, tambahkan 10 tetes larutan biru bromotimol P. Jika larutan berwarna kuning, untuk merubah menjadii warna hijau biru diperlukan tidak lebih dari 1,0 ml natrium hidroksida 0,02 N. Jika larutan berwarna hijau atau biru, untuk merubah menjadi warna kuning diperlukan tidak lebih dari 3,12 ml asam klorida 0,02 N. Susut Pengeringan Tidak lebiih dari 0,5% Penetapan Kadar Timbang seksama 250mg, larutkan dalam 50ml air. Titrasi dengan perak nitrat 0,1 N menggunakan indikator larutan kalium kromat P. 1 mg perak nitrat 0,1 N setara dengan 5,844 mg NaCl Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik

32

DIARE AKUT

Na bicarbonate NaHCO3
Nama Umum Sinonim Rumus molekul Berat Molekul Penetapan Kadar : Mononatrium Bikarbonat : Natrium Bikarbonat : NaHCO3 : 84,01 : mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih dari 100,5% NaHCO3, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan Pemerian : Serbuk hablur putih, stabil di udara kering, tetapi dalam udara lembab secara perlahan lahan terurai. Kelarutan peyimpanan : Larut dalam air; tidak larut dalam etanol : Dalam wadah tertutup baik

Penetapan kadar Timbang seksama lebih kurang 3 g, campur dengan 100 ml air, tambahkan merah metil, titrasi dengan asam klorida 1N. Tambahkan asam perlahan lahan sambil terus diaduk sampai larutan berwarna merah muda lemah. Panaskan larutan hingga mendidih, dinginkan dan lanjutkan titrasi sampai warna larutan merah muda lemah tidak hilang setelah dididihkan 1 ml asam klorida 1 N setara dengan 84,01 mg NaHCO3 Susut pengeringan Tidak lebih dari 0,25%

33

DIARE AKUT

Kalium Klorida Kalii Chloridum KCl Nama Umum Sinonim Rumus molekul Berat Molekul Penetapan Kadar : Kalium Klorida : Kalii chloridum : KCl : 74,55 : mengandung tidak kurang dari 99.0% atau tidak lebih dari 100,5%KCl, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan Pemerian : Hablur berbentuk memanjang, prisma atau kubus, tidak berwarna, atau srbuk granul putih tidak berbau, stabil dalam udara, larutan bereaksi netral terhadap lakmus Kelarutan : Mudah larut dalam air, lebih mudah larut dalam air mendidih, tidak larut dalam etanol peyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

Keasaman dan Kebasaan Pada larutan 5,0 g dalam 50 ml air bebas karbon dioksida, tambahkan 3 tetes fenolftalein, tidak terjadi warna merah muda. Kemudian tambahkan 0,30 mL narium hidroksida 0,020 N; terjadi warna merah muda

Penetapan kadar Timbang seksama lebih kurang 250 mg, larutkan dalam 150 ml air. Tambahkan 1 ml asam nitrat dan segera titrasi dengan perak nitrat 0,1 N; tetapkan titik akhir secara potensiometrik dengan menggunakan electrode peral kalomel dengan jembatan

34

DIARE AKUT

garam yang mengandung 4% agar dalam larutan kalium nitrat tidak jenuh. Lakukan penetapan blanko 1ml perak nitrat 0,1 N setara dengan 7,455 mg KCl

35

DIARE AKUT

TINJAUAN FARMASEUTIK TINJAUAN FISIKA KIMIA


1. IVFD 2A
Komposisi Bentuk sediaan Kompetitor Dosis : : : : dekstrosa 2,5%; NaCl 0,45% infus i.v Infusan D2.5 + NS individual

2. VOMINA
Komposisi Bentuk sediaan Kompetitor Dosis : : : : domperidon sirup Vometa, Vomerin, Vomitas, Vesperum, Motilium Pada anak-anak, dosis 250-500 mikrogram/kg dapat diberikan secara oral 3-4 kali sehari, dengan dosis maksimum mencapai 2,4 mg/kg dan tidak boleh melebihi dosis total 80 mg perhari. Secara alternatif anak-anak dengan berat lebih dari 15 kg dapat diberikan melalui rektal dengan dosis 30 mg dua kali sehari

3. SPECTREM
Komposisi : Per 5 ml: Klotrimoksazol: trimetropin 40 mg, sulfametokzsazol 200 mg. Bentuk sediaan Kompetitor : : sirup Trimoxsul, Septrin, Sanprima, Primazole, Primadex

36

DIARE AKUT

Dosis

sirup anak 6-12 tahun 2 sdt, 2-5 tahun 1 sdt, < 2 tahun sdt, diberikan 2 kali sehari

4. ORALIT
Komposisi : Glucose anhydrous 4 g, NaCl 0,7 g, Na bicarbonate 0,5 g, KCl 0,3 g Bentuk sediaan Dosis : : Larutan larutkan 1 bungkus ke dalam 200 mL atau 1 L air

5. ZINKID
Komposisi : Tiap tablet mengandung zinc sulfat 64,9 mg stara dengan zinc 20 mg Bentuk sediaan Kompetitor Dosis : : : tablet 50 mg tiga kali sehari

6. LACTO-B
Komposisi : Viable cell counts 1 x 109 CFU/g (Lactobacillus acidophilus, Bifidobacterium longum, Streptococcus thermophillus), Energi 3,4 Kalori, Karbohidrat 0,6 gram, Protein 0,02 gram, Lemak total 0,1 gram, Vitamin C 10 mg, Vitamin B1 0,5 mg, Vitamin B2 0,5 mg, Vitamin B6 0,5 mg, Niacin 2 mg larutan -

Bentuk sediaan Kompetitor

: :

37

DIARE AKUT

TINJAUAN BIOLOGI TINJAUAN FISIKA KIMIA


SAMBILOTO Andrographis paniculata Nees

Klasifikasi Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) : Asteridae : Scrophulariales : Acanthaceae : Andrographis : Andrographis paniculata Nees

http://www.plantamor.com/index.php?plant=96

Sinonim Justicia latebrosa Russ., J. paniculata Burm. f., J. stricta Lam. ex Steud

Nama daerah Akar cerita bidara, alui, Andrographidis Kraut, bidara, bhoonimba, bhuinimo, bhulimb, bhuninba, charayeta, charayetha, charita, cheranta, cherota, chiraita,

38

DIARE AKUT

chiretta, chuan-hsin-lien, chua n-xin-lin, cng cng, faathalaaichon, fathalaai, fathalaichon, fathalaijone, halviva, herba sambiloto, hinbinkohomba, I-chien-hsi, kalafath, kalmegh, kan-jang, kariyat, khee-pang-hee, king of bitters, kiriathu, kirta, kiryata, kiryato, lanhelian, mahatikta, mahatita, naelavemu, nay-nahudandi, nelavemu, quasab-uz-zarirah, rice bitters, sambilata, sambiloto, senshinren, sinta, xuyn tm lin, yaa kannguu yijianxi

Penyebaran Banyak ditemukan di daerah tropis dan subtropics Asia, Asia Selatan dan India.

Deskripsi Sambiloto tumbuh liar di tempat terbuka, seperti di kebun, tepi sungai, tanah kosong yang agak lernbap, atau di pekarangan. Tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian 700 m dpl. Terna semusim, tinggi 50 90 cm, batang disertai banyak cabang berbentuk segi empat (kwadrangularis) dengan nodus yang membesar. Daun tunggal, bertangkai pendek, letak berhadapan bersilang, bentuk lanset, pangkal runcing, ujung meruncing, tepi rata, permukaan atas hijau tua, bagian bawah hijau muda, panjang 2 8 cm, lebar 1 3 cm. Perbungaan rasemosa yang bercabang membentuk malai, keluar dari. ujung batang atau ketiak daun. Bunga berbibir berbentuk tabung;kecil- kecil, warnanya putih bernoda ungu. Buah kapsul berbentuk jorong, panj ang sekitar 1,5 cm, lebar 0,5 cm, pangkal dan ujung tajam, bila masak akan pecah mernbujur menjadi 4 keping-Biji gepeng, kecil-kecil, warnanya cokelat muda. Perbanyakan dengan biji atau setek batang.

Kandungan kimia utama Kandungan senyawa kimia utama adalah diterpen lakton (bentuk bebas danglikosidik) termasuk andrographolide, deoxyandrographolide, 11,12-didehydro14-deoxy-andrographolide, neoandrographolide, andrographiside,

39

DIARE AKUT

deoxyandrographiside dan andropanoside. Struktur andrographolide dan diterpen lakton :

Penggunaan untuk pengobatan Pencegahan dan pengobatan gejala infeksi saluran nafas atas, bronkitis, dan faringotonsilitis, infeksi saluran nafas bawah dan diare akut.

Farmakologi Herba sambiloto memiliki aktivitas antidiare in situ. Ekstrak etanol, kloroform atau 1-butanol 300 mg/ml menghambat respon dari enterotoksin dari E. coli yang

menyebabkan diare pada uji terhadap kelinci dan babi. Senyawa yang berperan adalah diterpen lakton, andrographolide dan neoandrographolide.

JAMBU BIJI Psidium guajava L


Klasifikasi Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Spermatophyta (Menghasilkan biji) : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) : Rosidae : Myrtales : Myrtaceae (suku jambu-jambuan) : Psidium : Psidium guajava L.

40

DIARE AKUT

Sinonim Psidium aromaticum Blanco, Psidium pumilum Vahl, Psidium guajava L. var. pumilum (Vahl) Griseb. Psidium guajava L. var. cujavillum King & Urban

Nama umum Indonesia Inggris Melayu Vietnam Thailand Pilipina Cina Deskripsi Pohon yang tingginya 10 m, mempunyai banyak percabangan. Pepagan halus, warna merah agak coklat. Daun berhadapan, helaian daun elip/lonjong sampai bundar telur, sebelah bawah daun berbulu halus. Perbungaan soliter atau 2 -3 bunga terdapat dalam 1 tangkai, muncul di ketiak daun, warna putih. Buah bulat satu-satu sebesar bola tenis yang agak meruncing ke pangkal, warna buah hijau sampai kuning, wangi dan rasanya manis kalau sudah tua/masak. Buah mengandung banyak biji kecil-kecil seperti kerikil berwarna coklat kemerahan http://www.proseanet.org/prohati2/browser.php?docsid=282 : : : : : : : Jambu batu, Jambu biji, Jambu kluthuk (Jw), giawas (Papua) guava Jambu Batu, Jambu Biji Oi Farang Bayabas, Guayabas, Kalimbahin, B Fan shi liu gan

Penyebaran Psidium guajava L berasal dari daerah tropic Amerika. De Candolle dalam verhejj dan Coronel (1997) berpendapat bahwa Psidium guajava L berasal dari daerah antara Meksiko dan Peru. Sekarang Psidium guajava L tersebar dengan baik didaerah tropic dan subtropik.

41

DIARE AKUT

Kandungan Kimia Kandungan kimia daun jambu biji antara lain : avicularin, guaijaverin, amritosida, asam krataegolat, asam luteioat, asam argamolat, kuersetin, tannin, minyak atsiri, flavonoid, ursolat, oleanolat, karoten, vitamin B1, B2, B3, B6, vitamin C dan resin.

Farmakologi Minyak atsiri dapat menghambat pertumbuhan atau mematikan kuman dengan mengganggu proses pertumbuhan atau mematikan kuman dengan menganggu proses terbentuknya membrane dan atau dinding sel. Tanin memiliki efek sebagai pengelat berefek spasmolitik dan dapat menciutkan dan mengerutkan sehingga gerak peristaltik berkurang. Tanin memiliki daya antibakteri dengan cara mengendapkan protein.

42

DIARE AKUT

TINJAUAN FARMAKOLOGI

Vomina syrup
Komposisi : Domperidone 5 mg/ml. DOMPERIDONE (martindal 35th) Indikasi Domperidone digunakan sebagai antiemetik pada pengobatan jangka pendek pada mual dan muntah oleh berbagai penyebab. Tidak cocok digunakan pada mual muntah kronis, dan tidak untuk pencegahan rutin atau muntah postoperasi. Domperidone juga digunakan untuk dispepsia karna aksi prokinetiknya, dan juga dicoba digunakan pada diabetes gastroparesis, diberikan dengan parasetamol dalam pengobatan migrain. Mekanisme Kerja: Domperidone adalah antagonis dopamin. Digunakan karna sifat antiemetik dan prokinetiknya. Domperidone dapat menstimulasi motilitas dari saluran

gastrointestinal bagian atas tampa mempengaruhi gastrik, biliary, atau sekresi pankreas dan meningkatkan peristaltik lambung, mempercepat pengosongan lambung. Peristaltik duodenal juga meningkat dengan menurunnya waktu transit intestinal. Domperidone memiliki aktifitas parasimpatomimetik karna merupakan antagonis

43

DIARE AKUT

reseptor dopamin dengan efek langsung pada daerah pemicu kemoreseptor. Dia juga memiliki sifat anatgonis reseptor serotonin (5-HT3). Dosis: Untuk pengobatan mual dan muntah, domperidone dapat diberikan secara oral dengan dosis 10 sampai 20 mg tiga sampai empat kali sehari dengan dosis maksimum 80 mg atau dapat diberikan melalui rektal dengan dosis 60 mg dua kali sehari Pada anak-anak, dosis 250-500 mikrogram/kg dapat diberikan secara oral 3-4 kali sehari, dengan dosis maksimum mencapai 2,4 mg/kg dan tidak boleh melebihi dosis total 80 mg perhari. Secara alternatif anak-anak dengan berat lebih dari 15 kg dapat diberikan melalui rektal dengan dosis 30 mg dua kali sehari Interaksi Secara teoritis, domperidone dapat mengantagonis efek dari obat hipoprolaktinemik seperti bromokriptin. Sebagai tambahan, efek prokinetik dari domperidone dapat mempengaruhi absorpsi dari beberapa obat. Analgetik opium dan antimuskarinik dapat mengantagonis efek prokinetik dari domperidone. Domperidone dimetabolisme dihati via cytochrome P450 isoenzyme CYP3A4, penggunaan dengan ketokonazol dilaporkan dapat meningkatkan konsentrasi plasma tiga kali lipat, sehingga berhubungan dengan perpanjangan pada interval QT. Peningkatan serupa dari konsentrasi domperidone secara teoritis dapat terlihat pada penghambat CYP3A4 yang pten seperti erythromycin atau ritonavir, sehingga kombinasinya sebaiknya dihindari.

44

DIARE AKUT

Pharmakokinetik Bioavaibilitas dari domperidone hanya sekitar 15 % pada pemberian oral, dan dapat meningkat bila diberikan setelah makan. Bioavaibilitasnya yang rendah disebabkan oleh first past hepatik dan intestinal metabolisme. Bioavaibilitas domperidone yang diberikan melalui rektal juga sama dengan oral, meskipun konsentrasi puncak plasma tercapai setelah satu jam, dibandingkan dengan oral yang dapat dicapai setelah 30 menit. Domperidone lebih dari 90% terikat pada protein plasma dan memiliki eaktu paruh 7,5 jam. Sekitar 30% dari dosis oral dieksresikan melalui urin dalam 24 jam, dan hampir seluruhnya dalam bentuk metabolit, yang diekresikan melalui feses dalam beberapa hari, sekitar 10% dalam bentuk obat. Domperidone tidak menembus barier otak. Dalam jumlah kecil domperidone didistribusikan melalui air susu. Efek samping Konsentrasi plasma dari prolaktin dapat meningkat, yang dapat menimbulkan galactorrhoea atau gynaekomastia. Dilaporkan dapat menurunkan libido, ruam dan berbagai reaksi alergi. Domperidone tidak menembus barier sawar otak sehingga kejadian dari efek sentral seperti reaksi ekstrapiramidal atau mengantuk lebih rendah dibandingkan metoklorpamide, ada laopran reaksi distonik. Domperidone injeksi dapat menimbulkan konvulsi, aritmia. Perhatian Domperidone tidak direkomendasikan pada penggunaaan kronis dan pencegahan rutin dari mual muntah postoperasi. Domperidone harus diperhatikan pada penggunaan secara intravena, karena resiko dari aritmia, terutama pada pasien kecendrungan aritmia jantung atau hipokalemia

45

DIARE AKUT

SPECTREM
Informasi Obat (ISO) Komposisi : Per 5 ml: Klotrimoksazol: trimetropin 40 mg, Sulfametokzsazol 200 mg. KLORTIMOKSAZOL (martindal 35th) Indikasi Klotrimoksazol adalah campuran dari sulfonamide, sulfametksazol, dan

diaminopyrimidine, trimethoprim, dengan perbandingan 5 bagian sulfametksazol dan satu bagian trimethoprim. Biasa digunakan pada infeksi saluran urin, pernapasan dan saluran cerna. Kegunaan utamanya sekarang adalah pneumositosis, toksoplasma dan nocardiosis. Kegunaan lain meliputi pengobatan jerawat, infeksi saluran biliari, brucellosis. Mekanisme Kerja Trimetoprim adalah inhibitor dari reduktase dihidrofolat. Menghambat perubahan dari asam dihidrofolat bakteri menjadi asam tertrahidrofolat yang berguna untuk sintesis asama amino, purin, timidin dan DNA. Trimetropin dapat bersifat bakterisid atau bakteriostatik tergantung kondisi pertumbuhan, sebagai contoh nanah dapat menghambat kerja trimetropin karena adanya timin dan timidin. Spektrum aktivitas: Trimethoprim aktif melawan banyak bakteri aerob Gramnegative dan Gram-positive aerobes, dan beberapa protozoa. Aktivitas dengan antimikroba lain: Karena aktivitasnya saling komplemen,

mempengaruhi pembentukan asam folat dengan cara berbeda, makan kombinasi yang poten antara trimetropin dengan solfonamida.

46

DIARE AKUT

Sulfametoksazol dan sulfonamida lain memiliki struktur yang sama dengan asam paminobenzoic dan mempengaruhi sintesis asam nukleat pada mikroorganisme sensitif dengan cara memblok perubahan dari asam p-aminobenzoic menjadi coenzyme asam dihidroflat yang menurunkan pembentukan asam folat. Pada manusia asam dihidrofolat diperoleh dari diet asam folat sehingga sulfonamida tidak mempengaruhi sel manusia. Aktifitasnya pada umumnya bakteriostatik, meskipun dapat bersifat bakterisida pada konsentrasi timin yang rendah disekelilingnya. Sulfonamida memiliki spektrum luas, namun sudah mengalami resistensi yang luas. Dosis Kotrimoksazol biasanya diberikan secara oral pada orang dewasa dengan dosis 960 mg (trimethoprim 160 mg and sulfametksazol 800 mg) dua kali sehari. Pada infeksi berat dosis 2.88 g perhari dibagi dalam 2 dosis. Dosis rendah diberikan pada pengobatan jangka panjang dan pada pasien kerusakan ginjal. Dosis kotrimoksasol dapat diberikan dua kali sehari pada anak-anak: Umur 6 minggu sampai 5 bulan : 120 mg Umur 6 bulan sampai 5 tahun: 240 mg Umur 6 sampai 12 tahun: 480 mg Alternatifnya, pada anak-anak dapat diberikan dengan dosis 24 mg/kg dua kali sehari. Kotrimoksazol sebaiknya tidak diberikan pada bayi dibawah 6 minggu karena resiko kernikterus dari komponen sulfonamidnya. Meskipun demikian dapat digunakan pada bayi berumur 4 minggu pada pengobatan atau pencehahan pnemositosis pneumonia. Untuk infeksi serius, bila penggunaan oral tidak memungkinkan, klotrimoksazol dapat diberikan secara infus intravena yang dilarutkan sebelum digunakan pada

47

DIARE AKUT

pelarut yang sesuai. Ampul yang mengandung 480 mg dari klotrimoksazol dalam 5 ml di ad 125 ml dan diberikan selama 60 sampai 90 menit. Efek samping: Efek samping dari kotrimoksazol sama dengan komponen nya (sulfametoksazol dan trimetroprin). Efek samping yang paling sering muncul adalah mual muntah dan reaksi kulit. Kematian juga dapat terjadi, pada pasien lanjut usia karena disorder darah, nekrosis hati dan reaksi kulit. Trimetropin: pruritus dan ruam kulit, gangguan saluran cerna seperti mual, muntah dan glositis. Efek lain meliputi dermatitis, erythema multiforme, Stevens-Johnson syndrome, and toxic epidermal necrolysis. Peningkatan serum kreatini dan nitrogen urea darah atau penghambatan sekresi tubular dari kreatinin. Juga dilaporkan fotosensitifitas, reaksi hypersensitivitas dann anafilaksis serta angioedema. Kasus aseptic meningitis juga muncul. Trimethoprim dapat menimbulkan depresi haematopoiesis. Dapat menimbulkan anemia megaloblastic atau trombositopenia dan leukopenia. Sulfametoksazol: mual muntah dan diare, rashes, pruritus, photosensitivity reactions, exfoliative dermatitis, and erythema nodosum. Reaksi kulit seperti toxic epidermal nekrolisis dan sindrom Stevens-Johnson. Juga dilaprokan Systemic lupus erythematosus, reaksi Nephrotoxic yang dapat menyebabkan gagal ginjal, Lumbar pain, haematuria, oliguria, and anuria dapat terjadi karena kristalisasi urin crystallisation. Kelainan darah juga bisa terjadi seperti agranulocytosis, aplastic anaemia, thrombocytopenia, leucopenia, hypoprothrombinaemia, and eosinophilia. Efek samping lain yang timbul seperti hypoglycaemia, hypothyroidism, reaksi neurological seperti aseptic meningitis, ataxia, intracranial hypertension, konvulsi , kebingunan, mengantuk, pusing, sakit kepala, insomnia, depresi mental, psikosis, tinnitus, vertigo, dan pankratitis.

48

DIARE AKUT

Perhatian Kotrimoksazol tidak boleh diberikan pada pasien dengan riwayat hipersensitif sulfonamida atau trimetropin. Harus dihentikan pada kemunculan pertama ruam kulit, atau perkembangan kelainan darah. Harus dihindari pasien dengan kerusakan hati. Klortimoksazol harus dihindarkan pada kerusakan ginjal, dan perlu penyesuaian dosis. Suplement folat dibutuhkan pada pasien dengn defisiensi folat, seperti pada pasien lanjut usia dan pada penggunaan dalam dosis tinggi dalam jangka waktu lama. Co-trimoxazole kontraindikasi pada pasien dengan anemia megaloblastik dengan defisiensi asam folat. Farmakokinetik Sulfametksazol diabsorbsi secara cepat dari saluran gastrointestinal dan konsentrasi puncak plasma tercapai setelah 2 jam. Dengan dosis tunggal 2g secara oral, konsentrasidalam darah sampai 100 micrograms/mL are achieved. Terikat dengan protein plasma sampai 70%. Waktu paruh berkisar 6 sampai 12 jam, dan dapat diperpanjang pada pasien dengan kerusakan ginjal. Sulfametksazol seperti kebanyakan sulfonamida, didistribusikan secara bebas kedalam jaringan tubuh dan dapat ditemukan di urin, saliva, keringat dan empedu, dalam serebrspinal, peritonela, mata dan cairan sinovial dan dalam pleural. Melewati plasenta dan masuk kedalam sirkulasi fetal, dan dalam konsentrasi rendah di temukan dalam air susu. Sulfametksazol mengalami konjugasi utama di hati, menjadi turunan yang tidak aktif turunan N-acetyl derivative, metabolit ini terdapat sekitar 15% dari jumlah total sulfametksazol dalam darah. Metabolisme meningkat pada pasien dengan kerusakan ginjal dan menurun pada pasien dengan kerusakan hati. Eliminasi di urin tergantung pada pH, sekitar 80 sampai 100% dari dosis di eksresikan melalui urin, dimana kira2 60% dalam bentuk turunan asetil, yang sisanya dalam

49

DIARE AKUT

bentuk

obat

dan

glukoronida.

Sulfametksazol

juga

dioksidasi

menjadi

hidroksilaminhe metabolit yang menunjukkan efeksamping dari sulfonamida. Trimetropin diabsorbsi sempurna dari saluran cerna dan konsentrasi puncak dalam sirkulasi muncul pada 1 sampai 4 jam setelah pemberian dengan dosis oral, konsentrasi puncak plasma berkisar 1 microgram/mL dilaporkan pada dosis tunggal 100mg. Sekitar 45% terikat dengan protein plasma. Trimetroprin didistribusi secara luas pada berbagai jaringan dan cairan seperti ginjal, hati, paru-paru dan sekret bronkial, saliva, aqueous humour, jaringan prostat sekret vagina. Trimetropin melewati plasenta dan melewati air susu. Waktu paruh sekitar 8 sampai 10 jam pada dewasa, dan lebih panjang pada kerusakan ginjal dan neonatus. Trimetropin dieksresikan terutama di ginjal,sekitar 10-20% trimetroprin

dimetbolisme di hati dan dalam jumlah kecil dieksresikan di feses melalui hati, tetapi kebanyak sekitar 40-605 dari dosis dieksresikan di urin, sebagian besar dalam obat utuh, selama 24 jam Interaksi Trimethoprim dapat meningkatkan konsentrasi serum dan potensiasi efek dri beberapa obat seperti fenitoin, digoxin dan prokainamida. Efek ini dapat terjadi karena kompetitif inhibisi dari eksresi renal, penuruanan metabolisme atau keduanya. Trimetropin dapat mempotensiasi efek warfarin, juga dapat menurunkan eksresi ginjal dan meningktakan konsentrasi obat dari zidovudine, zalcitabine, and lamivudine. Trimethoprim dan dapsone saling meningktakna konsentrasi serum, dan rifampisin dapat menurunkan trimethoprim. Peningkatan nefrotoksik pada penggunaan dengan siklosporin. Pada pasien dengan yang juga menerima diuretik, dilaprkan terjadi hiponatremia. Penggunaan trimetropin dengan depresan sumsum tulan dapat meningktakan myelosuppressi, sehingga meningkat resiko aemia megaloblastik bila diberikan dengan penghambat asam folat lain seperti pyrimethamine atau methotrexate. Hiperkalemia juga terjadi

50

DIARE AKUT

pada pasien yang diberikan trimethoprim (atau co-trimoxazole) bersamaan dengan ACE inhibitor. Sulfametoksazol dan sulfonamida dapat diantagonis oleh asam p-aminobenzoic acid dan turunannya. and its derivatives, terutama sekali kalium aminobenzoate dan grup prokain dari anastesi lokal. Sulfametoksazol dan sulfonamida lain dapat mempotensiasi efek dari beberapa obat, seperti antikoagulan oral, methotrexate dan phenytoin. Interaksi dengan obat yang tinggi terikat protein plasma seperti NSAID. Dosis tinggi sulfonamida dilaporkan dapat menimbulkan efek hipoglikemik, efek antidiabetik dari sulfonilurea.

ZINKID
Informasi obat (ISO) Komposisi : Tiap tablet mengandung zinc sulfat 64,9 mg stara dengan zinc 20 mg Indikasi Pelengkap untuk pengobatan diare pada anak-anak usia < 5 tahun. Mencegah atau mengobati dehidrasi dan untuk mencegah kekurangan nutrisi. Mengurangi lama dan tingkat keparahan dari dehidrasi.

Dosis Anak usia 2 - 6 bulan : Satu kali sehari 10 mg ( setengah tablet ) diberikan setiap hari selama 10 hari berturut-turut (bahkan ketika diare telah berhenti). Anak usia 6 bulan - 5 tahun : Satu kali sehari 1 tablet diberikan setiap hari selama 10 hari berturut-turut (bahkan ketika diare telah berhenti). penggunaan Zinkid bersama dengan oralit.

51

DIARE AKUT

ZINK (martindal 35th) Indikasi Zink adalah element esensial dari nutrisi. Merupakan unsur pokok dari sistem enzim dan terdapat dalam semua jaringan. Garam zink yang mudah larut digunakan sebagai suplement untuk memperbaiki defisiensi zink, seperti pada sindrome malabsorpsi, selama pemberian makanan secara parenteral, pada kondisi peningkatan penurunan badan (trauma, luka bakar, dan kehilangan protein) pada ankrodermatitits enteropatik ( kelainan genetik karna kekurangan zink). Dan digunakan pada pengobatan pada berbagai kondisi yang berhubungan dengan defisiensi zink. Dosis Pada kasus defisiensi, zink diberikan secara oral dalam bentuk sulfat atau glukonat dalam dosis sampai 50 mg tiga kali sehari. Bila suplement intravena dibutuhkan dapat diberikan dalam bentuk zink klorida atau zink sulfat, dosis yang dianjurkan untuk nutrisi parenteral adalah 6,5 mg elemen zink (100 mikromol) perhari. Pada diare, WHO menganjurkan suplement zink sekitar 10 samapi 20 mg sehar selama 14 hari. efikasi dari mengurangi diare dapat menigkta bila zink diberikan bersama dengan vitamin A. Efek samping Efek samping yang sering muncul dari zink sulfat (glukonat dan sulfat) yang diberikan secara oral adalah nyeri abdominal, dispepsia, mual, muntah, diare, iritasi lambung, dan gastritis. Hal ini disebabkan pemberian garam zink pada kondisi perut kosong, dan dapat berkurang dengan pemberian bersama makanan.

52

DIARE AKUT

Pada overdosis akut garam sulfat bersifat korosif, karena pembentukan zink klorida oleh asam lambung, pengobatannya meliputi pemberian susu atau basa karbonat dan arang aktif. Penggunaan lama dalam dosis tinggi dari suplement zink, secara oral atau parenteral, dapat menimbulkan defisiensi tembaga yang berhubungan dengan anemia sideroblastik atau neutropenia, jumlah darah total dan kolesterol serum harus dimonitor untuk memonitor gejala dini dari defisiensi tembaga. Interaksi Absorbsi dari zink dapat menurun dengan adanya suplement besi, penisilamin, sediaan yang mengandung fosfor, dan tetrasiklin. Suplement zink mengurangi

absorbsi dari tembaga, florokuinolon, besi, penisilamin dan tertrasiklin. Farmakokinetik Absorbsi dari zink pada saluran cerna tidak sempurna, dan berkurang pada konstitiuensi diet seperti fitat. Bioavaibilitas diet zink bervariasi tergantung sumber, berkisar 20-30%. Zink didistribusikan keseluruh tubuh dengan konsentrasi yang besar ditemukan pada otot, tulang, mata dan pada cairan prostat. Terutama dieksresikan melalui feses. Dalam jumlah kecil ditemukan dalam urin dan keringat.

Lacto B
Kandungan Komposisi Per Sachet mengandung : Viable cell counts 1 x 109 CFU/g (Lactobacillus acidophilus, Bifidobacterium longum, Streptococcus thermophillus), Energi 3,4 Kalori, Karbohidrat 0,6 gram, Protein 0,02 gram, Lemak total 0,1 gram, Vitamin C 10 mg, Vitamin B1 0,5 mg, Vitamin B2 0,5 mg, Vitamin B6 0,5 mg, Niacin 2 mg.

53

DIARE AKUT

Indikasi Lactic Acid Bacterial menghasilkan asam organik yang menghambat bakteri merugikan, sehingga dapat membantu memperbaiki ketidakseimbangan flora usus pada diare. Lactobacilli menghasilkan enzim -Galaktosidase, untuk menghidrolisa laktosa menjadi glukosa dan galaktosa. Lacto-B dapat mengurangi lactose intolerance (diare akibat mengkonsumsi susu formula yang mengandung laktosa). Vitamin B dapat membantu keseimbangan flora usus.

Dosis - Dibawah 1 tahun : 2 sachet per hari. - Usia 1 sampai 6 tahun : 3 sachet per hari. - Dapat diberikan langsung (rasa enak) atau dicampur dengan susu, makanan bayi atau air.

ORALIT
Komposisi ORALIT 200 masing sachet mengandung: Kalium Klorida 0.3 g . Natrium Klorida 0.7 g Natrium Bicarbonate 0.5 g anhidrat glukosa 4.0 g ORALIT 1000 Each sachet contains : Kalium Klorida1,5 g Natrium Klorida 3.5 g Natrium Bicarbonate 2.5 g anhidrat glukosa 20.0 g Indikasi Mencegah dan mengobati dehidrasi yang disebabkan diare, disentri dan kolera.

54

DIARE AKUT

KCl (Martindal 35th) Indikasi Digunakan untuk pencegahan dan pengobatan penurunan kalium atau hipokalemia. Efek samping Dapat terjadi hiperkaliemia, terutama pada pasien gangguan ginjal, gejala meliputi parastesia, kelemahan oto, paralisis, aritmia jantung, konvusi. Mual muntah, diare dan kram perut dapat terjadi pada penggunaan oral garam kalium Perhatian Harus digunakan secara hati-hati pada pasien dengan penyakit jantung. Harus dimonitor kadar elektrolitnya Farmakokinetik Garam kalium di serap secara cepat disaluran cerna. Dieksresikan utama di ginjal, disekresi di tubulus distal dalam exchange dari natrium atau hidrogen. Kalium juga dieksresikan di feses dan dalam jumlah kecil dieksresikan di keringat. NaCL (Martindal 35th) Indikasi Natrium klorida digunakan dalam manajemen defisisensi ion natrium dan klorida dalam kondisi kurang garam (hiponatrimia) Efek samping Konsentrasi serum harus ditentukan, dan bila kondisi hipernatrimia muncul, harus segera ditangani

55

DIARE AKUT

Perhatian Garam Natrium harus digunakan secara hati-hti pada pasien hipertensi, gagal jantung, udem periferal dan pulmonary, gangguan ginjal, pre-eklamsia dan keadaan lain yang berhubungan dengan retensi Natrium. Larutan Natrium klorida tidak boleh digunakan untuk menginduksi muntah, karena berbahaya dan dapat menimbulkan kematian karena hipernatrimia. Farmakokinetik Natrium diserab secara baik di saluran cerna. Natrium dieksresikan melalui ginjal, dan dalam jumlah kecil dalam feses dan keringat.

Anhidrat Glukosa (Martindal 35th) Indikasi Glukosa diberikan secara oral atau infus intravena pada pengobatan pengurangan cairan dan karbohidrat. Digunakan untuk pencegahan dan pengobatan pada dehidrasi yang disebabkan oleh diare. Juga digunakan pada keadaan hipoglikemia. Efek samping Intravena glukosa dapat menimbulkan nyeri lokal, may cause local pain, iritasi vena thrombophlebitis, nekrosis jaringan dan necrosis. Infus intravena dapat menimbulkan gangguan elektrolit dan hypokalaemia, hypomagnesaemia, dan hypophosphataemia. Infus lama dan cepat dalam jumlah besar dari larutan isoosmosi dapat menyebabkan udem atau intoxication air; infus jangka panjang dan cepat dari larutan hiperosmosis dapat menyebabkan dehidrasi dan menyebabkan hiperglikemia.

56

DIARE AKUT

Penggunaan hiperosmosis larutan glukosa dikontraindikasikan pada pasien dengan anuria, intrakranial atau intraspinal hemoragi, harus digunakan secara perhatian pada pasien dengan diabetes mellitus, infus cepat dapat menimbulkan hiperglikemia, Farmakokinetik Glukosa dimetabolisme melalui piruvat dan asam laktat atau karbon dioksida dan air dengan melepaskan energi.

IVFD 2A
Komposisi Indikasi : : Dekstrosa 2,5%, NaCl 0,45% Mencegah dan mengobati dehidrasi dan kehilangan elektrolit DEKSTROSA 2,5% (Martindal 35th) Indikasi Glukosa diberikan secara oral atau infus intravena pada pengobatan pengurangan cairan dan karbohidrat. Digunakan untuk pencegahan dan pengobatan pada dehidrasi yang disebabkan oleh diare. Juga digunakan pada keadaan hipoglikemia. Efek samping Intravena glukosa dapat menimbulkan nyeri lokal, may cause local pain, iritasi vena thrombophlebitis, nekrosis jaringan dan necrosis. Infus intravena dapat menimbulkan gangguan elektrolit dan hypokalaemia, hypomagnesaemia, dan hypophosphataemia. Infus lama dan cepat dalam jumlah besar dari larutan isoosmosi dapat menyebabkan udem atau intoxication air; infus jangka panjang dan cepat dari larutan hiperosmosis dapat menyebabkan dehidrasi dan menyebabkan hiperglikemia.

57

DIARE AKUT

Penggunaan hiperosmosis larutan glukosa dikontraindikasikan pada pasien dengan anuria, intrakranial atau intraspinal hemoragi, harus digunakan secara perhatian pada pasien dengan diabetes mellitus, infus cepat dapat menimbulkan hiperglikemia, Farmakokinetik Glukosa dimetabolisme melalui piruvat dan asam laktat atau karbon dioksida dan air dengan melepaskan energi. NaCL 0,45% (Martindal 35th) Indikasi Natrium klorida digunakan dalam manajemen defisisensi ion natrium dan klorida dalam kondisi kurang garam (hiponatrimia) Efek samping Konsentrasi serum harus ditentukan, dan bila kondisi hipernatrimia muncul, harus segera ditangani Perhatian Garam Natrium harus digunakan secara hati-hti pada pasien hipertensi, gagal jantung, udem periferal dan pulmonary, gangguan ginjal, pre-eklamsia dan keadaan lain yang berhubungan dengan retensi Natrium. Larutan Natrium klorida tidak boleh digunakan untuk menginduksi muntah, karena berbahaya dan dapat menimbulkan kematian karena hipernatrimia. Farmakokinetik Natrium dieksresikan melalui ginjal, dan dalam jumlah kecil dalam feses dan keringat.

58

DIARE AKUT

DAFTAR PUSTAKA

59