Anda di halaman 1dari 14

1. PEKERJAAN PRELIMINARIES a. Penyiapan Papan Proyek Papan nama proyek diletakkan pada tempat yang mudah dilihat umum.

Papan nama proyek memuat : i. Nama proyek ii. Pemilik Proyek iii. Lokasi Proyek iv. Jumlah Biaya (kontrak) v. Sumber Dana vi. Nama Pelaksana (kontraktor) vii. Proyek dimulai bulan, tanggal, dan tahun b. Pekerjaan Listrik Kerja Pekerjaan kistrik kerja dibutuhkan untuk kelancaran pembangunan suatu proyek. Seperti halnya dalam penerangan di waktu malam hari, penyediaan air proyek, dan alat bantu kerja lainnyayang menggunakan listrik. Dan juga listrik kerja sangat dibutuhkan dalam penerangan pada malam hari. Penyediaan listrik dilakukan dengan cara menyambungsementara selama masa pembangunan dan daya secukupnya. Peralatan yang perlu juga disiapkan yaitu genset untuk mengantisipasi listrik eksisting yang digunakan jika terjadi pemadaman listrik. c. Pengukuran (surveying), MCO, Shop Drawing & as built drawing Pekerjaan pengukuran dimaksudkan untuk mendapatkan data topografi dan titik referensi yang mana nantinya akan digunakan sebagai referensi penentuan koordinat dan elevasi yang akan dikerjakan. Peralatan survey yang akan digunakan yaitu : Waterpass Total Station : 1 (satu) set : 1 (satu) set

Pelaksanaan pekerjaan surveying dapat dilihat pada gambar berikut I. Persiapan Pengukuran a. Working Plan, Layout dan Grid, serta peralatan sebagai berikut : i. Total Station ii. Prisma Electronic Distance Meter (EDM) iii. Statif dan Meteran iv. Meteran baja 50 meter v. Patok kayu dan paku payung

II.

Pelaksanaan Pengukuran a. Pekerjaan survey akan dimulai dari titik referensi yang telah ditunjukkan oleh direksi pekerjaan b. Pekerjaan survey akan menggunakan sistem poligon tertutup, dimulai dan berakhir pada BM yang telah ditentukan. c. Survey poligon akan dilaksanakan dalam satu arah. Dua sudut terdiri dari sudut biasa dan sudut luar biasa. d. Pengukuran panjang akan menggunakan EDM atau meteran baja. e. Peralatan survey harus berdiri di atas paku payung pada patok. f. Semua data yang dicatat adalah sudut vertikal, sudut horizontal dan data titik referensi. g. Pemasangan BM sementara akan diberi nomer serta notasi koordinat : X,Y,Z h. Pelaksanaan pengukuran akan dilaksanakan pada loaksi pekerjaan

III.

Perhitungan a. Semua titik poligon digunakan untuk menghitung koordinat b. Jarak dan tinggi suatu titik dihitung menggunakan metode Tachymetry c. Hasil perhitungan akan didiskusikan dengan direksi pekerjaan

Setelah itu dibuatkan gambar kerja dan detailnya (shop drawing) lalu diajukan ke direksi pengawas lapangan untuk mendapatkan persetujuan. Setelah itu kontraktor membuat catatan yang cermat dari penyesuaian pelaksanaan pekerjaan di lapangan, catatan tersebut dituangkan dalam gambar lengkap sesuai pelaksanaan (as built drawings) As Built Drawing akan diserahkan kepada Direksi Pengawas Lapangan dan Pemberi Tugas setelah pekerjaan selesai (PHO) d. Mobilisasi dan Demobilisasi Yang dimaksud dengan mobilisasi dan demobilisasi adalah semua kegiatan yang berhubungan dengan transportasi peralatan yang akan dipergunakan dalam melaksanakan pekerjaan. Penyedia jasa sudah memperhitungkan semua biaya yang diperlukan dalam rangkaian kegiatan untuk mendatangkan peralatan dan mengembalikan (demobilisasi) bila pekerjaan telah selesai. e. Pembuatan Direksi Keet dan Gudang Direksi keet pada suatu proyek digunakan sebagai tempat berdiskusi atau tempat rapat dalam suatu area proyek. Pembuatan direksi keet ini, dipilih pada tempat yang

strategis terhadap bangunan sehingga memudahkan manager proyek pengawas pekerjaan untuk melakukan pengawasan dan koordinasi antara pekerja dan pangawa di lapangan. Gudang digunakan untuk menampung material-material industi yang akan dipakai pada saat pekerjaan sudah berjalan. f. Pemeriksaan/Testing Material di Laboratorium Pengujian material bertujuan untuk mengetahui sifat-sifat bahan yang menjadi parameter mutu, baik bahan yang akan atau telah digunakan untuk dapat di evaluasi, serta untuk memperoleh variabel-variabel yang diperlukan dalam perhitungan gradasi agregat. g. Dokumentasi Dokumentasi proyek dilakukan pada saat kegiatan dimulai dengan bobot foto 0%, foto 50%, dan foto 100%. Dokumentasi ini juga dijadikan acuan dalam monitoring prestasi kegiatan pekerjaan yang sudah dilaksanakan. 2. PEKERJAAN PERSIAPAN a. Pembersihan Lahan Pembersihan lahan bertujuan untuk membebaskan tanah dari rumput-rumput, pohon-pohon, sampah, dan unsur-unsur lain yang bisa mengganggu kestabilan tanah. Pembersihan laha juga haru dilakukan secara selektif, agar tidak mengganggu jalannya konstruksi ataupun lalu lintas material ke dalam lahan kerja. b. Pemasangan bowplank Bowplank/papan bangunan berfungsi untuk mendapatkan titik-titik bangunan yang diperlukan sesuai dengan hasil pengukuran. Syarat-syarat memasang bowplank adalah sebagai berikut : Berjarak cukup dari rencana galian, diusahakan bowplank tidak goyang akibat pelaksanaan galian Terdapat titik atau dibuat tanda-tanda Sisi atas bowplank harus seragam (menghadap ke dalam bangunan semua) Garis benang bowplank merupakan as (garis tengah) daripada pondasi dan dinding batu bata Contoh pemasangan bowplank dapat dilihat pada gambar berikut

3. PEKERJAAN TANAH a. Pekerjaan Galian Tanah Pekerjaan ini merupakan pembuatan lubang galian untuk pondasi. Pekerjaan ini disesuaikan dengan jenis pondasi yang akan dibuat, kalau misalkan pondasi dibuat dari pasangan batu kali maka penggalian tanah dilakukan sepanjang denah bangunan. Ukuran galian sama dengan besar tapak. Namun, untuk pondasi batu kali sebaiknya ukuran galian di lebihkan 10 cm di kanan dan 10 cm di kiri (bila kosong). Tujuannya untuk memberikan ruang (space) bagi pekerja agar leluasa bekerja. Galian Tanah Pondasi : Perlu memperhatikan faktor keamanan bagi masyarakat di sekitar galian pada saat pelaksanaan pekerjaan. Perlunya pembuatan pagar atau papan petunjuk agar setiap orang berhati-hati disekitar galian. Hanya pekerja dan yang berkepentingan yang diijinkan memasuki area galian pondasi. Mengatur pekerja di lapangan sesuai dengan posisi dan job desk masingmasing agar pekerjaan dapat efektif dan optimal. Untuk pekerjaan galian yang digunakan secara manual, harus memperhatikan kondisi si pekerja dan juga harus menyiapkan peralatan yang di butuhkan. Sebelum melakukan galian, perlu memeriksa batas tanah pemilik. Jika tanah berbatasan dengan pemilik lain, maka terlebih dahulu dilakukan pembicaraan apakah galian tanah dapat dibuang sementara ke lokasi tanahnya. Jika tidak bisa dilakukan maka harus dilakukan pengaturan posisi pembuangan supaya dapat menghindari terjadinya longsoran tanah. Harus mengatur metode penggalian, pembuangan, dan penumpukan tanah. Penumpukan tanah tidak boleh terkonsentrasi dekat galian untuk mengurangi resiko runtuhan tanah masuk kembali ke dalam galian pondasi. Tipe galian disesuaikan dengan kondisi tanah aktual. Untuk kondisi tanah dimana koefisien runtuhnya kecil dapat dilakukan sisi galian tegak, jika koefisien runtuhan tanah besar maka sisi galian miring. Untuk jenis tanah berlumpur, kemungkinan terjadi lonsoran atau runtuhan tanah cukup besar. Karena itu dibuat galian sisi miring dan lebar galian diperbesar dari ukuran dimensi tapak. Lakukan perubahan cerucuk sebagai turap. Tujuannya supaya tekanan lumpur akan berkurang ke bekisting.

Untuk galian pondasi kedalaman lebih dari 1 m dimana jenis tanah adalah tanah runtuhan, maka harus segera dipasang DPT (Dinding Penahan Tebing) atau turap.

Untuk galian tanah yang terdapat sumber mata air dibawahnya maka harus menyiapkan pompa air untuk mengeluarkan air tersebut. Begitu juga apabila galian menampung air hujan maka sebelum meneruskan pekerjaan selanjutnya maka air harus dibuang terlebih dahulu.

Selama proses penggalian, harus memperhatikan keselamatan pekerja yang ada di dalam galian. Harus memastikan tersedianya sumber daya manusia yang membuang tumpukan tanah di pinggir galian supaya tanah tidak bertumpuk. Hal ini untuk menghindari longsoran dimana tanah galian masuk kembali ke dalam.

Jika proses penggalian sudah selesai, maka harus dilakukan pengecekan kembali ukuran dan elevasi kedalaman galian apakah sesuai dengan gambar rencana.

Setelah proses pengecekan selesai dan sudah memenuhi syarat, selanjutnya pekerjaan siap di lanjutkan dengan pembuatan lantai kerja.

b. Pekerjaan Urugan Pasir Pasir yang diurug harus pasir yang bersih dari akar-akar, kotoran-kotoran, tidak mengandung tanah dan tidak mengandung bahan kimia yang dapat merusak bahan bangunan lainnya. Lapisan urugan pasir harus di siram dengan air sehingga menjadi padat dan dipadatkan sampai terbentuk lapisan pasir padat. Sebelum pekerjaan pondasi dilakukan perlu dilakukan penaburan pasir urug ke tanah (disepanjang penggalian). Pekerjaan ini dilakukan karena untuk menghindari tercampurnya adukan dan tanah liat. Ketebalan pasir urug yaitu minimal 5 cm. Untuk jenis pondasi beton plan atau pondasi beton lajur, selain ditaburkan pasir juga perlu dibuatkan lantai kerja dari asukan 1 semen : 2 pasir : 5 koral minimal ketebalan 5 cm. c. Pekerjaan Urugan Tanah Pekerjaan ini dilakukan setelah pekerjaan pondasi sudah selesai dilakukan. Pekerjaan ini merupakan pengurugan kembali tanah galian pondasi sehingga tanah

bekas galian pondasi tidak tampak lagi. Kalau misalkan tanah tersebut masih sisa kemudian tanahnya digunakan untuk meratakan bagian dalam bangunan. Untuk pekerjaan urugan yang bertujuan sebagai peninggian lantai, kebutuhan tanahnya sangat tergantung pada tinggi elevasi lantai. Biasanya sisa tanah bekas galian sebanyak 2/3 volume tanah galian bila pondasi yang digunakan adalah pondasi batu kali. 4. PEKERJAAN PONDASI Pondasi adalah alas sebuah rumah atau bangunan. Kekuatan bangunan rumah salah satunya ditentukan dengan kekuatan pondasi. Kestabilan suatu bangunan terhadap beban atau gayagaya (baik luar maupun dalam, baik vertikal maupun horizontal, maupun momen puntir) dapat ditahan. a. Pemasangan Aanstamping (pasangan batu kosong) Aanstamping atau pasangan batu kosong disusun dibawah pondasi yang berfungsi untuk mengatasi gerakan dinamis tanah sehingga tidak merusak pondasi dan struktur bangunan di atasnya. Aanstamping mempunyai ketebalan rata-rata 20 cm, dengan panjang sesuai dengan panjang pondasinya, dan di isi pasir atau batu pecah pada celahnya hingga kokoh. Penempatan batu kosong : Pasangan batu kosong harus dibuat pada pondasi yang kuat dan pada garis dan arah yang tercantum dalam gambar atau sesuai petunjuk Direksi. Lubang-lubang pada pondasi harus diisi oleh bahan yang baik dan dipadatkan lapis per lapis setebal 15 cm. Bila pondasinya telah disetujui oleh Direksi, maka lapisan dasar berupa lapisan saringan pasir setebal 7,5 cm dan lapis saringan kerikil diatasnya setebal 12,5 cm atau seperti tercantum dalam gambar, harus dibuat. Bahan saringan pasir dan kerikil harus sesuai dengan spesifikasi teknik. Lapisan dasar harus diletakkan dengan tebal yang sama dan cukup rata, meskipun demikian menjadi pondasi yang kuat untuk pemasangan batu belah dan batu pecah. Batu belah dan batu pecah yang dipakai dalam pasangan batu kosong harus diletakkan pada lapisan dasar dengan cara sedemikian rupa sehingga pasangan batu kosong yang selesai dikerjakan menjadi stabil dan tidak longsor.

Rongga besar yang terbuka diantara batu pecah harus di hindari. Harus diusahakan agar semua batu belah dapat dijamin dan dipasang dengan baik pada bidang yang datar. Batu belah harus diletakkan demikian rupa sehingga tidak menonjol di atas garis yang dicantumkan dalam gambar atau menurut petunjuk Direksi. Semua celah dalam pasangan batu kosong harus diisi atau dikunci dengan batu pecah yang baik. Baiknya batu pecah yang dipakai tidak boleh melebihi volume yang dibutuhkan untuk mengisi rongga diantara batu belah.

Lapisan ijuk di atas pondasi dapat dipakai sebagai lapisan dasar sesuai dengan persyaratan atau menurut Direksi.

Lubang sulingan (whep holes) harus di buat sesuai dengan yang diperintahkan oleh Direksi.

Pekerjaan ini harus dilengkapi peneduh dan dilembabi selama tidak kurang dari 3 hari setelah selesai dikerjakan.

b. Pemasangan Pasangan Batu Kali Pengaturan Lokasi Pembuatan Adukan : Lokasi pembuatan adukan perlu diatur sedemikian rupa agar menjamin kelancaran pekerjaan. Memudahkan bagi pengawas dan menjamin tercapainya mutu adukan yang baik dan terlindung. Pengadukan yang dilakukan sedekat mungkin dengan lokasi konstruksi yang akan dibangun. Pasir dan semen disiapkan terpisah di tempat kering (lebih tinggi dari tanah sekitarnya) Kotak pengaduk dipasang ditempat datar dilokasi yang memudahkan bagi petugas pengaduk dan pengangkutan adukan ke lokasi bangunan Drum air ditempatkan didekat kotak pengaduk. Kotak-kotak takaran disiapkan secukupnya dilokasi timbunan pasir dan semen. Gerobak pengangkutan adukan dan ember disipakan dekat kotak adukan kearah konstruksi yang akan dibangun. Persiapan Pondasi Pasangan Batu : Pondasi untuk struktur pasangan batu harus disiapkan sesuai dengan syarat untuk bagian galian serta bagian pengaturan garis, ketinggian dan kelandaiannya. Terkecuali diisyaratkan lain atau ditunjukkan pada gambar, dasar pondasi struktur penahan dinding harus tegak lurus, atau bertangga yang juga tegak

lurus terhadap muka dari dinding. Untuk struktur lain, dasar pondasi harus mendatar atau bertangga yang juga horizontal. Bahan dasar lapisan filter tembus air (permeable) dan selimut filter atau kantong filter harus disediakan bila ditetapkan atau diperintahkan Direksi sesuai dengan persyaratan. Pelaksanaan Pemasangan Batu : Lakukan dan periksa persiapan yang meliputi penyediaan batu, pasir, air dilokasi kerja, kelengkapan peralatan dan alat bantu seperti kotak penampung adukan, penampung air, plastik pelindung hujan, tukang batu dan buruh pembantu, tenaga dan sarana pengangkutan adukan. Ratakan lantai dasar bangunan, pasang profil sesuai gambar design bangunan. Dalam kotak dan hamparkan serta ratakan pasir setebal 5-10 cm sebagai lantai kerja. Periksa dimensi dan elevasi profil dengan alat ukur (oleh juru ukur) dan minta persetujuan Direksi bila telah selesai gambar kontrak. Sebelum dipasang, batu harus dibersihkan dari lumpur atau tanah yang melekat serta basahi dengan air agar ikatan dengan adukan manjadi kuat. Pemasangan lapis batu pertama diawali dengan menghamparkan adukan setebal 3-5 cm, kemudian menyusun batu diatas hamparan dengan jarak 2-3 cm (tidak bersinggungan) pukul atau ketok-ketok batu tersebut agar terikat kuat dengan adukan. Batu harus diletakkan dengan permukaan yang paling panjang mendatar dan permukaan menonjol, masing-masing batu harus diatur sejajar dengan permukaan kdinding yang sedang dibangun. Batu-batu harus dengan hati-hati dipasang untuk menghindarkan pergeseran atau gerakan batu yang sudah dipasang. Alat yang mencukupi harus disediakan dimana perlu untuk menopang dan memasang batu-batu besar, berat dalam posisinya. Penggilasan atau memutar-mutar batu di atas pekerjaan batu yang sudah terpasang tidak diijinkan. Isi rongga diantara batu-batu dengan adukan sampai penuh/mampat dengan menggunakan sendok adukan. Jika sebuah batu dalam struktur terlepas atau tergeser sesudah adonan diletakkan, batu tersebut harus disingkirkan, dibersihkan dari adonanadonan yang mengeras dan dipasang kembali dengan adonan yang segar.

Bila memerlukan suling-suling resapan sesuai design/kontrak (pada dinding penahan, sayap bendung dan sebagainya). Suling dari pipa paralon yang dibungkus ijuk diujung pipa bagian dalam dipasang berselang-seling arah vertikal.

Apabila hujan atau setelah selesai, pasangan ditutup plastik agar pasangan yang masih baru tersebut tidak rusak karena air hujan.

Penyelesaian Pasangan Batu : Segera setelah semua batu muak dipasang, dan sementara adonan masih segar, permukaan yang nonjol penuh dari struktur harus dibersihkan seluruhnya dari noda-noda adonan. Kecuali ditetapkan lain, permukaan puncak horizontal dari semua pasangan batu akan diselesaikan dengan tambahan lapisan aus atau adukan semen setebal 2 cm, dikulir sampai permukaan rata dengan kemiringan melintang yang akan menjamin perlindungan terhadap air hujan dan dengan ujung yang dibuat tumpul. Lapis aus tersebut akan dimasukkan di dalam ukuran khusus struktur. Permukaan selesai akan dirawat mengeras sebagaimana diperlukan untuk pekerjaan beton dalam spesifikasi. Bila pasangan batu tersebut cukup kuat, dan tidak lebih cepat dari 14 hari setelah penyelesaian pekerjaan pemasangan, urugan kembali akan dilaksanakan sebagaimana di tetapkan, atau sebagaimana diperintahkan Direksi sesuai dengan persyartan spesifikasi yang relevan. Lereng yang bersebelahan dengan bahu jalan harus dipangkas dan untuk memperoleh bidang antar muka rapat dan halus dengan pasangan batu sehingga akan memberikan drainase yang lancar dan mencegah gerusan pada tepi pekerjaan pasangan batu. c. Pekerjaan Plesteran (1:4) Bagian-bagian tertentu dari pasangan batu sesuai gambar design/kontrak harus diplester. Plesteran dibuat dari campuran 1 bagian semen dan 4 bagian pasir yang disaring atau sesuai dengan ketentuan dalam gambar kontrak. Tebal plesteran dibuat 2-3 cm dari permukaan batu, sebelum plesteran dipasang diantara batu-batu harus dikorek sampai kedalaman 1-2 cm

dibawah permukaan batu. Kemudian permukaan pasangan dibersihkan dan disiram air agar terjadi ikatan yang kuat antara pasangan dan plesteran. d. Pekerjaan Whep Hole (pipa PVC) Merupakan pekerjaan pemasangan pipa PVC pada pekerjaan pasangan batu, dimana ujung pipa di beri ijuk. Hal ini digunakan untuk mengalirkan air rembesan pada tanah timbunan di belakang pekerjaan pasangan batu. 5. PEKERJAAN DRAINASE a. Galian Tanah Pondasi Pekerjaan ini merupakan pembuatan lubang galian untuk pondasi. Pekerjaan ini disesuaikan dengan jenis pondasi yang akan dibuat, kalau misalkan pondasi dibuat dari pasangan batu kali maka penggalian tanah dilakukan sepanjang denah bangunan. Ukuran galian sama dengan besar tapak. Namun, untuk pondasi batu kali sebaiknya ukuran galian di lebihkan 10 cm di kanan dan 10 cm di kiri (bila kosong). Tujuannya untuk memberikan ruang (space) bagi pekerja agar leluasa bekerja. b. Urugan Tanah Bekas Galian Pekerjaan ini dilakukan setelah pekerjaan pondasi sudah selesai dilakukan. Pekerjaan ini merupakan pengurugan kembali tanah galian pondasi sehingga tanah bekas galian pondasi tidak tampak lagi. c. Pasangan Batu Kosong Bawah Pondasi Saluran Aanstamping atau pasangan batu kosong disusun dibawah pondasi yang berfungsi untuk mengatasi gerakan dinamis tanah sehingga tidak merusak pondasi dan struktur bangunan di atasnya. Aanstamping mempunyai ketebalan rata-rata 20 cm, dengan panjang sesuai dengan panjang pondasinya, dan di isi pasir atau batu pecah pada celahnya hingga kokoh. d. Urugan Pasir Bawah Pondasi Pasir yang diurug harus pasir yang bersih dari akar-akar, kotoran-kotoran, tidak mengandung tanah dan tidak mengandung bahan kimia yang dapat merusak bahan bangunan lainnya. Lapisan urugan pasir harus di siram dengan air sehingga menjadi padat dan dipadatkan sampai terbentuk lapisan pasir padat tebal 10 cm. e. Pasangan Batu Kali (1:4) Pekerjaan saluran batu kali dilaksanakan dengan campuran 1:4 dengan bentuk kemiringan dan ukuran-ukuran seperti yang tertera pada gambar rencana.

10

Batu yang dipakai adalah batu gunung atau batu kali yang dibelah, keras, tidak porous, bersih dan besarnya tidak lebih dari 30 cm. Sama sekali tidak diperkenankan memakai batu dalam bentuk bulat atau batu endapan. Pembelahan batu harus dilakukan diluar pekerjaan bowplank.

Semen, pasir (agregat halus) dan air haru memenuhi ketentuan dalam pekerjaan beton menurut SNI 03-1750-1990.

Pasir untuk pekerjaan ini dipakai pasir yang baik, pasir tidak mengandung bahan yang dapat merusak pondasi dan ketahanannya. Pasir disimpan ditempat yang saling terpisah dalam tumpukan yang tidak lebih dari 1 m berpermukaan bersih, padat serta kering dan harus dicegah terhadap pengkantoran.

f.

Plesteran (1:4) Pencampuran bahan plesteran dengan menggunakan mesin mixer. Pencampuran air secara bertahap dan di aduk rata selama 3-4 menit. Bagian-bagian tertentu dari pasangan batu sesuai gambar design/kontrak harus diplester. Plesteran dibuat dari campuran 1 bagian semen dan 4 bagian pasir yang disaring atau sesuai dengan ketentuan dalam gambar kontrak. Tebal plesteran dibuat 2-3 cm dari permukaan batu, sebelum plesteran dipasang diantara batu-batu harus dikorek sampai kedalaman 1-2 cm dibawah permukaan batu. Kemudian permukaan pasangan dibersihkan dan disiram air agar terjadi ikatan yang kuat antara pasangan dan plesteran.

g. Whep Hole Pipa PVC 2 Merupakan pekerjaan pemasangan pipa PVC pada pekerjaan pasangan batu, dimana ujung pipa di beri ijuk. Hal ini digunakan untuk mengalirkan air rembesan pada tanah timbunan di belakang pekerjaan pasangan batu. 6. PEKERJAAN BETON Pekerjaan beton bertulang diawali dari pekerjaan sloof, kolom pagar serta ringbalk. Tahaptahap awal pada tiap-tiap item pekerjaan adalah pekerjaan pembesian, lalu memasang bekisting, pengecoran beton, melepas bekisting, dan terakhir merawat beton. a. Pekerjaan Pembesian Membuat tulangan sengkang sesuai dengan syarat : o o Bengkokkan kait minimal 90o ditambah dengan perpanjangan 12d Atau bengkokkan kait 135o ditambah perpanjangan 6d

11

o -

Pembengkokan dilakukan dalam keadaan dingin

Potong tulangan memanjang dan bentuk sesuai dengan gambar kerja Masukkan tulangan-tulangan memanjang balok pada sela-sela tulangan kolom, sloof, atau ringbalk disebelahnya sesuai dengan dimensi ringbalk dan posisi tulangan.

Masukkan sengkang-sengkang sesuai dengan jumlahnya. Masukkan tulangan-tulangan memanjang ringbalk pada ujung yang lain ke sela-sela kolom/ringbalk sebelahnya.

Ikat sengkang dengan tulangan memanjang sesuai dengan jarak sengkang yang di tentukan dengan menggunakan kawat bendrat.

Cek kembali hasil pabrikasi dengan gambar kerja yang ada. Pasang pengatur jarak selimut beton/decking.

b. Pekerjaan Bekisting Pekerjaan bekisting dibuat dengan bahan kayu sesuai dengan spesifikasi yang ditunjuk oleh Direktur. Cek jarak sabuk kolom/sloof/ringbalk. Permukaan plywood dibersihkan dan dilumasi dengan minyak bekisting. Menyetel sabuk dan kayu support bekisting Pemberian mortar pada dudukan bekisting, pastikan mortar yang ditabur mengering. c. Pengecoran Menggunakan mutu beton sesuai dengan spesifikasi yang ditunjuk oleh Direktur. Untuk kolom pengecoran dilakukan tiap satu meter. Untuk pengecoran sloof dan ringbalk dilakukan sekaligus. Melakukan vibrasi yang cukup selama pengecoran. Melakukan pengetokan pada sekeliling luar bekisting.

d. Pelepasan Bekisting Satu hari setelah pengecoran, bekisting dilepas.

e. Perawatan Beton Menyiram beton setiap siang dan sore minimal 3 hari Menutupi beton dengan karung basah.

7. Pekerjaan Dinding a. Pekerjaan Pasangan Batu Bata

12

Memasang acuan kayu atau profil secara vertikal pada setiap ujung dinding yang akan dipasang.

Mengukur dan menandai jarak setiap ketinggian batu bata dan di kontrol keseimbangan horizontalnya antara ujung yang satu dengan ujung yang lainnya.

Basahi bata yang akan dipasang sampai tidak menyerap air. Setelah itu berikan adukan mortar (perekat) pada setiap sambungan antara batu bata dan pada setiap sambungan atas dan bawah dari batu bata tidak boleh membentuk garis lurus atau vertikal.

Usahakan potongan batu bata yang besarnya kurang dari setengahnya tidak dipakai atau dipasang.

Tinggi pemasangan dinding batu bata dalam satu hari supaya tidak lebih dari 1 meter, untuk menjaga keruntuhan.

b. Pekerjaan Plesteran Dinding Siapkan material yang akan di pakai pada lokasi yang terdekat atau strategis dari dinding yang akan diplester. Siram permukaan bata dengan air sampai basah secara merata (curing). Buat adukan dengan perbandingan sesuai dengan spesifikasi yang ditunjuk Direktur. Lakukan penyipratan pada bidang yang telah dibasahi dengan jarak lemparan 50 cm dari permukaan yang diciprati dengan ketebalan 15-20 mm. Setelah bidang yang di ciprati kering, lakukan penyiraman lagi atau curing selama 3 hari di pagi, siang, dan sore hari. Setelah itu, mulailah membuat adukan plesteran sesuai dengan spesi yang ditentukan oleh Direktur. Buat petunjuk plesteran dengan tebal 15mm, lanjutkan dengan penyiraman jika sudah kering. Lakukan plesteran pada bidang-bidang yang telah ada petunjuk plesterannya sampai seluruh permukaan pada setiap bagian dengan cara di lempar 50 cm. Gunakan alat bantu untuk meratakan plesteran dengan petunjuk plesterannya. Saat plesteran setengah kering, gosok permukaan dinding agar halus dan rata. Kemudian lanjutkan dengan curing selama 7 hari sampai semua permukaan plesteran betul-betul basah. Setelah itu keringkan selama 1 hari.

13

Haluskan permukaan dinding lagi dengan amplas halus. Plamir permukaan plesteran yang telah kering, lakukan sampai 3 kali atau sampai dinding benar-benar halus dan rata.

14