Anda di halaman 1dari 1

Bermil

jarak

terbentang

rasa.

Kebisingan

melanda bahkan sebelum kaku menyergap. Remang terasa semakin mengerjap. Berbisik pelan dalam kalbu tentang sebuah pesan kerinduan. Sesosok asa masih saja satu diantara sejuta. Berulang kali sebuah mimpi yang sama tapi tetap saja menerka. Perasaan rindu yang begitu membuncah merumpah ruah memenuhi benak. Tiada sesal namun bulir air mata tetap saja berserakan. Warna memudar,segala berganti dan waktu tetap saja tega. Merenggut raga terkasih begitu memilukan. Namun biarkan sekali ini hati tidak ingin memilih. Jari-jari itu masih saja bergemetar perlahan menyesapi sebuah kehangatan yang pernah digenggam. Kehangatan yang kini berbalut keabadian. Bukan sebuah keegoisan yang terpendam, hanya setumpuk perasaan bernama kerinduan. Tertidur dengan senyum terukir, menyentakkan kesadaran. Selongsong raga tanpa jiwa, hilang, rapuh bersama bumi. Walau raga berpisah, sebuncah kehadiran mengiringi langkah. Hawa hangat tetap saja menyelimuti walau luka itu begitu pekat. Tiada bernama akhir jika takdir berkata. Sebuah pertemuan yang abadi menanti. Seiring lemah bergulir, bergumul dengan waktu yang semakin mengejar. Kepastian itu menjanjikan sebuah ketulusan yang abadi. Senyum terlukis mecoba menggapai mimpi yang begitu merindukan. Persetan dengan segala kepalsuan bernama cinta. Karena cinta begitu rapuh saat digenggam, merekah saat bahagia mengiringi, retak berkeping-keping saat kesedihan merenggut. Mereka bukan lagi muda. Segala kepahitan, segala kegetiran, segala perasaan yang membuncah saat kebersamaan itu berlalu. Hanya seikat kesetiaan janji yang terucap setiap detak jantung bergema mengisi raga. Bahkan ketika serpihan cinta itu menghilang menuju selaksa keabadian. Bahkan percuma saja cemburu dengan cinta mereka. Karena cinta mereka telah bertumbuh seiring keabadian itu menjemput waktu.