Anda di halaman 1dari 20

1 GEOLOGI DAERAH LOMBOK KECAMATAN PITU RIASE KABUPATEN SIDENRENG RAPPANG PROVINSI SULAWESI SELATAN Oleh : G. CHRISTIANTO S.

B D611 06 018
Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin

ABSTRAK

Secara administratif daerah penelitian termasuk dalam wilayah Kecamatan Pitu Riase Kabupaten Sidenreng Rappang Provinsi Sulawesi Selatan. Secara geografis daerah ini terletak pada koordinat 120o0900 1201300 Bujur Timur dan 034200 034500 Lintang Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memberikan gambaran mengenai kondisi geologi Daerah Lombok yang meliputi aspek geomorfologi, tatanan stratigrafi, struktur geologi, sejarah geologi dan potensi bahan galian yang disusun dalam bentuk tulisan ilmiah dan dipetakan pada peta bersekala 1 : 25.000. Kondisi geomorfologi daerah penelitian dibagi menjadi dua satuan morfologi yaitu Satuan bentangalam perbukitan bergelombang dan Satuan bentangalam perbukitan tersayat tajam. Jenis sungai yang berkembang yaitu sungai permanen dan tidak permanen. Pola aliran sungai yang berkembang yaitu pola aliran dendritik dan subrectangular. Tipe genetik sungai yang berkembang pada daerah penelitian yaitu konsekuen dan insekuen. Stadia sungai muda menjelang dewasa dan stadia daerah sungai muda menjelang dewasa. Stratigrafi daerah penelitian dapat dibagi menjadi 3 (tiga) satuan batuan, dari yang termuda hingga tertua adalah satuan batugamping, satuan batulempung karbonatan dan satuan basal porfiri. Struktur geologi yang berkembang pada daerah penelitian yaitu struktur kekar berupa kekar sistematik dan sesar geser Lombok Bahan galian yang terdapat pada daerah penelitian yaitu termasuk dalam golongan batuan berupa basal dan sirtu (pasir dan batu )

Kata kunci : Sesar Geser Lombok

2 ABSTRACT

Administratively, research area belongs to Lombok Region, District of Pitu Riase, Sidenrengrappang Regency, Province of South Sulawesi which lies between 120o0900 1201300" East Longitude and 034200 03450 South Latitude. The objective of this research is to study geological conditions of Compong region, which geomophology, stratigraphy and structural geology and potential of natural resources. The geomorphology of mapping area consist of two landfrom unit, hill sloping units and sharply cutting hill unit . River type that develop in the area are permanent and nonpermanent. The river genetic type found in the area are consequent and insequent associated with dendritic drainage pattern and subrectangular drainage pattern. The maturity level of the area is young to mature. Based on illegas litostratigraphy system, the research area consist of 3 (three) rock units from the youngest to the oldest are limestone, calcareous claystone, and porphyry basalt. Geological structures occurred in the research area are joint and Lombok strike slip fault. The natural resources that found in the research area inluded into group of rock resources which basal and aggregate materials (rocks and sands)

Keys word : Lomboks Fault

3 PENDAHULUAN Dalam perkembangan bidang keilmuan geologi banyak fenomena yang sangat menarik untuk diteliti dan dianalisa. Karena pada umumnya keilmuan geologi terkait dengan kondisi yang terdapat disekitar lingkungan kita. Berkaitan dengan hal tersebut, sebagai calon ahli geologi harus mempunyai suatu kemampuan dalam menganalisa dan menginterpretasikan suatu wilayah mulai awal proses tatanan geologi dengan memperhatikan dari aspek geomorfologi, stratigrafi dan struktur geologi. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti terdahulu menunjukkan bahwa Pulau Sulawesi memiliki aspek geologi yang cukup rumit dan kompleks. Dengan dijumpainya suatu kondisi ideal dari suatu proses geologi yang bekerja pada suatu daerah, misalnya aneka batuan yang jarang terdapat pada kondisi geologi yang terjadi pada daerah lain, ataupun proses-proses yang cukup baik untuk dapat dianalisa serta dibuatkan rekonstruksi tentang proses yang terjadi, ataupun indikasi - indikasi lain yang mengakibatkan suatu daerah cukup menarik untuk dipelajari baik untuk kepentingan pengembangan wilayah maupun pengembangan keilmuan. Hal inilah yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian yang lebih detail pada Daerah Lombok Kecamatan Pitu Riase Kabupaten Sidenreng Rappang Provinsi Sulawesi Selatan agar diperoleh data-data yang cukup sebagai penunjang informasi geologi untuk mengetahui potensi yang terdapat pada daerah tersebut demi pengembangan daerah kearah yang lebih maju di masa yang akan datang. GEOMORFOLOGI DAERAH PENELITIAN Secara geografis, daerah penelitian terletak pada koordinat 120o0500 120o0900 BT dan 03o4200 03o4500 LS. Luas daerah penelitian sekitar 41,1 km2 dan secara umum berada pada ketinggian antara 68 sampai 563 meter di atas permukaan laut. Adapun pembahasan mengenai geomorfologi daerah penelitian meliputi pembagian satuan morfologi, pembahasan mengenai sungai, dan stadia daerah. Pembagian satuan geomorfologi didasarkan atas pendekatan morfometri, dan morfogenesa. Berdasarkan pendekatan tersebut di atas, maka daerah penelitian terdiri atas satu satuan geomorfologi, yaitu : 1. 2. Satuan bentangalam bergelombang Satuan bentangalam tersayat tajam. perbukitan perbukitan

Satuan bentangalam bergelombang

perbukitan

Satuan bentangalam perbukitan bergelombang ( Gambar 1 ) ini memiliki kemiringan lereng yaitu 14o 20o dan beda tinggi sekitar 75 200 meter dengan titik tertinggi yaitu sekitar 232 meter dan titik terendah sekitar 68 meter, relief relatif bergelombang dengan bentuk lembah yang menyerupai bentuk huruf U landai, menempati sekitar 20.8% dari keseluruhan daerah penelitian dengan luas 8,56 km2. Penyebaran pada bagian Selatan daerah penelitian yang relatif memanjang kearah Timur hingga bagian Barat Daya daerah

4 penelitian yang mencakup daerah Panreng dan Lombok. Sungai yang mengalir pada satuan bentangalam ini adalah Salo Paung, Salo Maula, dan Salo Likkua. Sungai-sungai tersebut berada pada bagian Barat Daya daerah penelitian. bergelombang. menempati sekitar 79.2% dari keseluruhan daerah penelitian dengan luas 32,67 km2. Penyebaran berada pada bagian Utara daerah penelitian yang memanjang relatif Tenggara hingga bagian Barat Laut daerah penelitian yang mencakup daerah Panreng dan Lombok.

Gambar 1. Kenampakan relief perbukitan bergelombang. Difoto relatif ke arah Tenggara stasiun 69

Gambar 2 Kenampakan relief perbukitan tersayat tajam. Difoto relatif ke arah Barat Laut desa Lombok

Litologi penyusun satuan geomorfologi ini yaitu batuan beku Basal porfiri dan batuan sedimen berupa Batulempung karbonatan dan Batugamping. Struktur geologi yang terdapat pada satuan bentangalam ini berupa kekar dan sesar. Sebagian besar daerah ini dimanfaatkan oleh penduduk setempat sebagai lahan perkebunan coklat, jeruk, lada dan durian. Satuan Bentangalam Tersayat Tajam Perbukitan

Satuan litologi penyusun satuan morfologi ini yang sangat dominan yaitu batuan beku basal porfiri dan batulempung karbonatan yang sangat berpengaruh dalam pembentukan morfologi hubungannya dengan sifat dan jenis litologi. Struktur geologi yang terdapat pada satuan bentangalam ini berupa kekar dan sesar yang mengontrol pembentukan morfologi yang dicirikan oleh pola pembentukan aliran sungai dan tingkat pelapukan dan erosi yang kuat pada zonazona hancuran pada zona Sesar Geser Lombok. Sebagian besar daerah ini dimanfaatkan oleh penduduk setempat sebagai lahan perkebunan coklat, jeruk, lada dan durian serta hutan lindung. Sungai Sungai adalah aliran air pada permukaan bumi yang terkonsentrasi dan mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah ( Thornburry, 1969 ).

Satuan geomorfologi perbukitan tersayat tajam (Gambar 2) ini memiliki persentase kemiringan lereng yaitu 21o 55o dan beda tinggi sekitar 200 500 meter, dengan titik tertinggi yaitu sekitar 563 meter dan titik terendah sekitar 186 meter, dengan relief relatif yang terjal hingga sangat terjal dimana puncakpuncaknya berbentuk membulat hingga meruncing dan profil lembah berbentuk huruf V dengan permukaan lereng yang

5 Pembahasan mengenai sungai pada daerah penelitian meliputi uraian tentang klasifikasi sungai, pola aliran sungai, tipe genetik sungai serta penetuan stadia sungai. Adapun sungai yang utama yang berada pada daerah penelitian yaitu Salo Lombok dengan beberapa anak sungai. Berdasarkan sifat alirannya, maka aliran sungai pada daerah penelitian termasuk dalam aliran eksternal, yaitu aliran air yang mengalir di permukaan bumi membentuk sungai. Berdasarkan pada kuantitas/volume airnya, maka sungai utama dan anak sungai yang mengalir di daerah penelitian digolongkan dalam tipe sungai : Sungai Permanen yaitu sungai yang mengalirkan air sepanjang tahun, pada musim hujan volume air bertambah dan pada musim kemarau volume air berkurang ( Thornbury, 1969 ). Jenis sungai ini berkembang pada Sungai utama yaitu Salo Lombok pada daerah penelitian . Sungai Tidak Permanen, yaitu sungai yang mengalirkan air pada musim hujan dan kering pada musim kemarau, dimana dikontrol litologi yang dilalui oleh sungai ini berupa basal porfiri, batulempung karbonatan dan batugamping. Salo Arangan, Salo Talorong, Salo Barabba, Salo Pabicara, Salo Maula, Salo Likkua, dan Salo Paung. Pola Aliran Sungai Pola pengaliran (drainage pattern) adalah penggabungan dari beberapa individu sungai yang saling berhubungan membentuk suatu pola dalam kesatuan ruang (Thornburry, 1969). Perkembangan pola aliran sungai tersebut sangat dikontrol oleh kondisi struktur geologi, kemiringan lereng, perbedaan tingkat resistensi batuan, serta jenis batuan dasarnya. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan dan analisa peta topografi dengan memperhatikan orientasi serta hubungan antara anak-anak sungai dengan sungai utama, maka pola aliran yang berkembang pada daerah penelitian diklasifikasikan sebagai pola aliran dendritik dan sub rectangular (Thornbury, 1969). Pola aliran dendritik dicirikan dengan pola aliran sungai yang menyerupai cabang-cabang pohon yang tidak teratur, biasanya berkembang pada daerah yang memiliki litologi batuan dan resistensi yang relatif seragam sehingga umumnya pola ini dikontrol oleh arah kemiringan lerengnya. Sedangkan pola aliran sub rectangular memperlihatkan alur-alur pengaliran yang berbelok relatif tegak lurus satu dengan yang lainnya, biasanya pola ini berkembang pada daerah yang telah mengalami proses pengkekaran atau pensesaran. Pola aliran dendritik berkembang relatif dari Utara Selatan pada bagian bawah daerah penelitian pada satuan bentangalam perbukitan bergelombang sedangkan Pola aliran subrectangular berkembang relatif dari Barat Laut-Tenggara pada satuan bentangalam perbukitan tersayat tajam pada daerah penelitian. Tipe Genetik Sungai Tipe genetik sungai merupakan hubungan antara arah aliran sungai dengan kedudukan perlapisan batuan sedimen (Thornburry, 1969). Berdasarkan uraian diatas maka tipe genetik sungai pada daerah penelitian dibagi menjadi :

6 Tipe genetik konsekuen dimana arah aliran sungai searah dengan kemiringan lapisan batuan. Sungaisungai yang digolongkan dalam tipe genetik konsekuen pada daerah penelitian yaitu Salo Paung, Salo Likkua dan Salo Maula. Tipe genetik Insekuen, dimana arah aliran sungai tidak dipengaruhi oleh kedudukan batuan. Sungai-sungai yang digolongkan dalam tipe genetik insekuen pada daerah penelitian yaitu Salo Barabba, Salo Arangan, Salo Talorong dan Salo Lombok. hulu sungai, hal ini dapat menunjukkan bahwa sungai yang terdapat pada daerah penelitian berstadia muda menjelang dewasa. Stadia Daerah Penelitian Menurut Thornburry (1969), stadia daerah penelitian ditentukan berdasarkan pada siklus erosi dan pelapukan, yaitu berbagai proses lanjutan yang dialami oleh daerah ini mulai dari saat terangkat hingga terjadi perataan. Hal tersebut terlihat dari tingkat erosinya, yang ditentukan oleh stadia sungai dan kenampakan morfologi permukaan. Pada daerah penelitian, analisis stadia ditinjau dari tingkat erosi yang telah terjadi dan proses pengikisan lembahlembah sungai yang menghasilkan penampang sungai. Jenis erosi yang terjadi didominasi oleh riil erotion dan gully erotion, bentuk penampang melintang dari lembah sungainya, dimana memperlihatkan bentuk profil menyerupai huruf V dan U serta pada sungai utama dijumpai adanya sedimentasi endapan sungai dan jeram-jeram sungai.Pada sungai utama dijumpai kelokan sungai berupa incised meander yang tidak memiliki dataran banjir yang diakibatkan adanya proses peremajaan kembali atau rejuvinasi yang ditandai oleh adanya endapan material sedimen pada tebing sungai dan tidak dijumpainya dataran banjir pada sungai di daerah penelitian. Bentuk bentang alam daerah penelitian di dominasi oleh perbukitan bergelombang dan terjal dengan bentuk lereng lurus hingga cembung tidak teratur. Lembah-lembah pada daerah penelitian umumnya sempit. Berdasarkan ciri-ciri tersebut maka dapat disimpulkan bahwa perkembangan daerah penelitian telah berada pada stadia muda menjelang dewasa.

Stadia Sungai Penentuan stadia sungai pada daerah penelitian didasarkan pada bentuk lembah sungai, jenis erosi, kelokan sungai, dan pengendapan yang bekerja sepanjang sungai serta bentuk aliran sungai. Sungai-sungai yang mengalir pada daerah penelitian terdiri dari sungai utama yaitu Salo Lombok yang relatif mengalir ke Barat Laut Tenggara. dan anak sungai seperti Salo Arangan, Salo Barabba, Salo Tolorong, Salo Maula, Salo Paung, Salo Likkua dan Salo Pabicara. Dari hasil pengamatan yang dilakukan pada sungai utama, nampak bahwa sungai utama memiliki penampang dan lembah sungai yang relatif lebar yang berbentuk huruf U serta gradient sungai yang landai, sedangkan untuk anak sungai yang lainnya kebanyakan memiliki gradient terjal dengan bentuk penampang sungai V . Adanya dasar lembah yang lebar mengindikasikan bahwa erosi lateral juga cukup intens bekerja pada daerah penelitian,. Selain itu disepanjang sungai utama dijumpai endapan alluvial berupa point bar dan channel bar, dimana materialnya adalah pasir dan kerikil dari

STRATIGRAFI DAERAH PENELITIAN Pengelompokan dan penamaan satuan batuan pada daerah penelitian didasarkan pada litostratigrafi tidak resmi, yang bersendikan ciri fisik yang dapat diamati di lapangan, meliputi jenis batuan, keseragaman gejala litologi, keterdapatan fosil, posisi stratigrafi dan hubungan antara satuan batuan, serta dapat terpetakan pada sekala 1 : 25.000 (Sandi Stratigrafi Indonesia, 1996). Pembagian satuan batuan pada daerah penelitian yaitu didasarkan pada lithostratigrafi tidak resmi dapat dibagi menjadi tiga satuan batuan yang diurutkan dari satuan termuda ke satuan tertua yaitu : Satuan batugamping Satuan batulempung karbonatan Satuan basal porfiri Pembahasan dan uraian dari urutan stratigrafi daerah penelitian dari tua ke muda adalah sebagai berikut : Satuan Basal Porfiri Pembahasan mengenai satuan basal porfiri ini meliputi uraian mengenai dasar penamaan, penyebaran dan ketebalan, ciri litologi meliputi karakteristik megaskopis dan mikroskopis, lingkungan pembentukan, umur dan hubungan stratigrafi dengan satuan batuan lainnya. Dasar penamaan satuan ini adalah berdasarkan pada litostratigrafi tidak resmi yang didasarkan atas ciri litologi, keseragaman litologi, kandungan mineral, dan penyebaran litologi yang mendominasi secara lateral, dan dapat terpetakan dalam sekala peta 1:25.000.

Penamaan litologi batuan dari satuan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu penamaan batuan secara megaskopis dan mikroskopis. Penamaan secara megaskopis ditentukan berdasarkan komposisi mineral yang dapat teramati langsung oleh mata dengan menggunakan klasifikasi Fenton, 1940. Sedangkan penamaan secara mikroskopis yaitu menggunakan mikroskop polarisasi untuk melakukan pengamatan secara mendetail terhadap kandungan mineral menggunakan klasifikasi Travis, 1955. Ciri Litologi Kenampakan megaskopis yang dijumpai dilapangan dari basal porfiri ini yaitu dalam keadaan segar berwarna abu abu kehijauan sedangkan dalam keadaan lapuk berwarna abu-abu kecoklatan, kristalinitas hipokristalin, granularitas porfiritik, bentuk subhedral-anhedral dengan relasi inequigranular, struktur masive, komposisi mineral plagioklas, piroksin, serta massa dasar ( gambar 3 ). Kenampakan petrografis pada sayatan tipis dengan nomor sayatan BB/GC/68 ( gambar 4 ) dan BB/GC/02 memperlihatkan warna kuning kecoklatan, warna interferensi abuabu kehitaman, tekstur hipokristalin, granularitas porfiritik, bentuk subhedraleuhedral, ukuran mineral antara (< 0,11,4 mm), tersusun atas mineral Plagioklas (Bitownit) (2540%), Piroksin (Diopsit) (7-10 %) , Biotit (5-10 %) , Mineral Opak (5-7%) serta massa dasar afanitik (20-33%) dengan nama batuan Basal porfiri ( Travis, 1955). Satuan basal porfiri ini menempati sekitar 69.17% dari luas keseluruhan daerah penelitian yaitu dengan luas penyebaran sekitar 28,52 km2. Penyebaran satuan ini meliputi bagian Barat Laut hingga

Tenggara pada daerah Salo Lombok dan menyebar dari Utara ke Selatan sepanjang anak sungai Salo Talorong, Salo Arangan, dan Salo Barabba. Satuan basal porfiri ini tersingkap segar sepanjang sungai utama yaitu Salo Lombok . Berdasarkan perhitungan ketebalan satuan basal porfiri pada penampang sayatan geologi A B, maka tebal satuan ini adalah sekitar 650 m.

Gambar 3. Singkapan basal porfiri pada Salo Lombok yang difoto relatif ke arah N 290 0 E pada Stasiun 68 e a b c

Satuan Basal porfiri pada daerah penelitian memiliki ciri fisik dalam keadaan segar berwarna abuabu kehijauan sedangkan dalam keadaan lapuk berwarna abu-abu kecoklatan. Berdasarkan ciri-ciri fisik litologi satuan ini dan penyebaran geografisnya maka satuan basal porfiri ini dapat disebandingkan dengan Formasi Lamasi, sehingga lingkungan pembentukan dari satuan basal porfiri ini yaitu lingkungan darat. Penentuan umur satuan basal porfiri ini ditentukan berdasarkan data-data yang dijumpai dilapangan serta kesebandingan terhadap stratigrafi regional daerah penelitian yaitu batuan gunungapi Lamasi (Tolv) yang dicirikan lava bersusunan basal, setempat mengandung feldspatoid, sebagian besar terkloritisasi dan terbreksikan yang diketahui berumur Oligosen, sehingga dapat diketahui bahwa umur dari satuan basal porfiri pada daerah penelitian adalah Oligosen. Hubungan stratigrafi antara satuan basal porfiri dengan satuan yang berada diatasnya yaitu satuan batulempung karbonatan dilihat dari lingkungan pembentukan yang berbeda dan adanya selang waktu pembentukan batuan, maka hubungan stratigrafinya adalah hubungan ketidakselarasan. Satuan Batulempung karbonatan

Gambar 4. Fotomikrograf basal porfiri pada sayatan BB/GC/68 yang memperlihatkan adanya mineral plagioklas (a), piroksin (b), Biotit (c) mineral opak (d), massa dasar (e)

Pembahasan tentang satuan batulempung karbonatan pada daerah penelitian berupa meliputi uraian mengenai dasar penamaan, penyebaran dan ketebalan, ciri litologi meliputi karakteristik megaskopis dan mikroskopis, umur, lingkungan pengendapan dan hubungan

stratigrafi dengan satuan lainnya pada daerah penelitian. Dasar penamaan satuan ini yaitu berdasarkan litostratigrafi tidak resmi yang didasarkan pada ciri litologi, keseragaman gejala litologi dan ukuran butir, kandungan mineral, dan penyebaran batuan yang mendominasi secara lateral, serta dapat terpetakan dalam peta bersekala 1: 25.000. Penamaan litologi dari satuan batulempung karbonatan ini dilakukan dengan dua cara yaitu penamaan batuan secara megaskopis dan mikroskopis. Penamaan secara megaskopis ditentukan berdasarkan ukuran butir yang dapat teramati langsung oleh mata dilapangan dengan memakai klasifikasi Wentworth, 1922. Sedangkan penamaan secara mikroskopis menggunakan mikroskop polarisasi untuk mengetahui kandungan mineral secara lebih spesifik menggunakan klasifikasi Pettijohn 1956. Satuan batulempung karbonatan ini menempati sekitar 25 % dari luas keseluruhan daerah penelitian yaitu dengan luas penyebaran sekitar 10,274 km2. Penyebaran satuan ini meliputi bagian Selatan daerah penelitian yang memanjang relatif dari Barat ke Timur desa Lombok sampai dusun Pandreng. Berdasarkan perhitungan ketebalan satuan batulempung karbonatan pada penampang sayatan geologi A B, maka tebal satuan ini adalah sekitar 550 m. Satuan ini terdiri dari batulempung karbonatan dan sisipan batugamping pasiran. Satuan batulempung karbonatan ini memiliki kenampakan lapangan dalam keadaan segar berwarna abu abu dan

dalam keadaan lapuk berwarna kuning kecoklatan, tekstur klastik halus, ukuran butir lempung, bersifat karbonatan, struktur berlapis (N1250E/250), nama batuan Batulempung karbonatan ( gambar 5). Kondisi singkapan di lapangan umumnya dijumpai dalam keadaan segar pada anak sungai Salo Paung, Salo Maula dan Salo Likkua di daerah penelitian.

Gambar 5. Singkapan Batulempung karbonatan


pada salo Paung difoto ke arah N 2300 E (Stasiun 46)

Kenampakan petrografis pada sayatan tipis dengan nomor sayatan GC/BL/46 ( gambar 6), memperlihatkan warna kuning kecoklatan, tekstur klastik, komposisi material terdiri dari mineral lempung (7080%), mineral karbonat (1015%), mineral opak (23%), fosil (1-2%), nama batuan Calcareous claystone (Pettijohn 1956) ( Gambar 6 )

10

plantonik berupa Globigerina praebulloides BLOW, Globigerina venezuelana HEDBERG,Globorotalia fohsi CUSHMAN and ELLISOR, Globorotalia menardii, Sphaerodinella subdehiscens BLOW, Orbulina universa DORBIGNY Berdasarkan keterdapatan fosil plantonik maka umur dari satuan batulempung karbonatan yaitu Miosen Tengah bagian Tengah - Miosen Akhir ( tabel 1 ) ditandai dengan pemunculan fosil Globorotalia menardii dan pemusnahan fosil Globigerina venezuelana HEDBERG atau dapat disebandingkan dengan zonasi BLOW, 1969 yaitu pada zonasi N.12 N.18 yang ditandai dengan pemunculan Globorotalia (G) fohsi dan pemusnahan Globorotalia tumida Penentuan hubungan stratigrafi antara satuan batulempung karbonatan pada daerah penelitian didasarkan pada ciri fisik dan umur batuan . Berdasarkan hasil penelitian dapat tentukan bahwa hubungan stratigrafi antara satuan batulempung karbonatan dengan satuan batuan yang lebih tua yaitu basal porfiri adalah ketidakselarasan. Sedangkan hubungan stratigrafi satuan batulempung karbonatan dengan satuan batugamping yang lebih muda adalah selaras .

Gambar 6. Fotomikrograf batulempung karbonatan dengan nomor sayatan GC/BL/46, memperlihatkan komposisi material berupa mineral lempung (a) material karbonat (b), mineral opak (c), fosil foraminifera

Penentuan lingkungan pengendapan pada satuan batulempung karbonatan ini didasarkan pada keterdapatan fosil bentonik yang dijumpai serta ciri fisik dari batuan tersebut. Berdasarkan hasil analisis mikropaleontologi pada fosil foraminifera bentonik yang dijumpai pada litologi batulempung karbonatan menunjukkan fosil Cibicides lobatulus ( Walker and Jacob ), Elphidium sagra ( dOrbigny ), dan Textularia bermudezi Cushman and Todd dalam jumlah yang banyak. Berdasarkan klasifikasi menurut Boltovskoy, 1976 kandungan fosil bentonik yang ada pada batulempung karbonatan tersebut menunjukkan lingkungan pengendapan dari satuan batulempung karbonatan yaitu Middle neritic dengan kedalaman berkisar 30 100 meter Penentuan umur Satuan batulempung karbonatan menggunakan penentuan umur relatif dengan melihat kandungan fosil plantonik yang dijumpai pada batulempung yang ditunjukkan pada zonasi Blow, 1969 ( Postuma, 1971). Berdasarkan hasil analisis mikropaleontologi dijumpai adanya fosil

11

Tabel 1 Penentuan umur satuan batulempung karbonatan berdasarkan fosil plantonik menurut Blow. 1969 ( Postuma,1971)

PLIOSEN

MIOSEN Awal Tengah Akhir

QUARTER

OLIGOSEN

KANDUNGAN FOSIL PLANKTONIK

Globorotalia menardii Globigerina venezuelana HEDBERG Orbulina universa DORBIGNY


N20 N22 N23 N10 N12 N13 N14 N15 N16 N17 N18 N19 N21 N11 N2 N3 N4 N5 N6 N7 N8 N9 N1 ZONASI BLOW, 1969

Satuan Batugamping Pembahasan tentang satuan batugamping pada daerah penelitian berupa meliputi uraian mengenai dasar penamaan, penyebaran dan ketebalan, ciri litologi meliputi karakteristik megaskopis dan mikroskopis, umur, lingkungan pengendapan dan hubungan stratigrafi dengan satuan lainnya pada daerah penelitian. Dasar penamaan satuan ini yaitu berdasarkan litostratigrafi tidak resmi yang didasarkan pada ciri litologi, keseragaman gejala litologi dan ukuran butir, kandungan mineral, dan penyebaran batuan yang mendominasi secara lateral, serta dapat terpetakan dalam peta berskala 1: 25000. Penamaan litologi dari satuan batugamping ini dilakukan dengan dua cara yaitu penamaan batuan secara megaskopis dan mikroskopis. Penamaan secara megaskopis ditentukan berdasarkan ukuran

butir yang dapat teramati langsung oleh mata dilapangan. Sedangkan penamaan secara mikroskopis dilakukan dengan menggunakan mikroskop polarisasi untuk mengamati sifat optik dari komposisi mineral dan material yang menyusun batuan menggunakan klasifikasi batuan karbonat menurut Dunham, 1962 ( Sam Boggs, 1991 ) yaitu berdasarkan komponen penyusun dan tekstur batugamping. Penyebaran satuan batugamping ini menempati 5,83% dari luas keseluruhan daerah penelitian, dengan luas penyebaran sekitar 2,28 km2. Satuan batugamping ini memiliki penyebaran meliputi bagian Barat Daya daerah penelitian. Satuan batugamping ini tersingkap dalam keadaan segar sepanjang anak sungai Salo Paung. Ketebalan satuan batugamping ini diperoleh dari perhitungan ketebalan pada penampang geologi A B yaitu 525 m.

12

Kenampakan lapangan dari batugamping pada stasiun 49 memperlihatkan warna segar abu abu, dalam keadaan lapuk berwarna coklat kehitaman, tekstur klastik, struktur berlapis ( gambar 7 ). Struktur berlapis dengan tebal perlapisan 13-20 cm, jurus perlapisan yaitu N1250E dengan kemiringan perlapisan bervariasi 290 hingga 380. Struktur sedimen berupa convolute laminasi ( gambar 8 ).

batugamping pada stasiun 49 ( gambar 9 ) memperlihatkan warna kuning kecoklatan, tekstur grain supported , komponen penyusunnya terdiri dari grain berupa skeletal grain mikrofosil dan nonskeletal berupa mineral kalsit (45-55%), mud berupa mineral karbonat ( 35-40%) dan impuritis berupa mineral opak ( 3 -5%), nama batuan Packstone ( Dunham,1962 ).

mf md

ks

Gambar 7. Singkapan batugamping pada Salo Paung difoto ke arah N 2850 E pada stasiun 49

Gambar 9. Fotomikrograf batugamping pada stasiun 49 dengan nomor sayatan GC/BG/49, memperlihatkan mineral kalsit (ks) , mikrofosil (mf) dan mud (md)

Gambar 8. Struktur sedimen convolute laminasi difoto ke arah N 300 0 E pada stasiun 63

Analisis petrografis dilakukan pada sayatan tipis batugamping pada stasiun 49 dan 63 ( GC/BG/49 dan GC/BG/63 ). Hasil analisis petrografis pada sayatan tipis

Penentuan lingkungan pengendapan satuan batugamping ini didasarkan pada ciri fisik litologi, struktur sedimen dan kandungan fosil bentonik yang dijumpai. Berdasarkan sifat fisik batuan yang berkomposisi karbonat,dan struktur sedimen convolute laminasi yang menunjukkan bahwa material terendapkan pada daerah dengan sistem arus turbidit yang merupakan lingkungan dimana terjadinya percepatan transportasi yang mengindikasikan bahwa daerah tersebut merupakan daerah continental slope (Sam Boggs, 1991), serta hasil analisis mikropaleontologi pada batugamping stasiun 63 dijumpai adanya fosil bentonik yaitu Elphidium sagra ( dOrbigny ),

13

Cibicides lobatulus ( Lihat Foto 3.13 ), maka dapat disimpulkan bahwa lingkungan pengendapan satuan ini yaitu pada middle neritic atau kedalamannya sekitar 30 130 meter ( Boltovskoy, 1976). Penentuan umur dari satuan batugamping ini didasarkan pada penentuan umur relatif dengan menggunakan fosil plantonik yang dijumpai menurut Blow, 1969 dalam Postuma 1971. Fosil foraminifera yang dijumpai pada satuan batugamping ini yaitu Orbulina bilobata, Globorotalia menardii, Sphaerodinella subdehiscens BLOW, Globigerina venezuelana HEDBERG. Berdasarkan keterdapatan fosil plantonik maka umur dari satuan batugamping yaitu Miosen Atas

Pliosen ditandai dengan pemunculan fosil Sphaerodinella subdehiscens BLOW dan pemusnahan fosil Globigerina venezuelana HEDBERG atau dapat disebandingkan dengan zonasi BLOW, 1969 yaitu pada zonasi N.16 N.18 yang ditandai dengan pemunculan Globorotalia acostaensis dan pemusnahan Globorotalia tumida Sphaerodinella subdehiscens ( tabel 2 ). Penentuan hubungan stratigrafi antara satuan batugamping dengan satuan batulempung karbonatan yang lebih tua didasarkan pada umur kandungan fosil. Berdasarkan umur kandungan fosil antara kedua satuan tersebut, maka hubungan stratigrafi antara kedua satuan tersebut adalah selaras.

Tabel 2 Penentuan umur satuan Batugamping berdasarkan fosil plantonik 1969 ( Postuma,1971)

menurut Blow,

OLIGOSEN

MIOSEN Bawah Tengah Atas

QUARTER

PLIOSEN

KANDUNGAN FOSIL PLANKTONIK

Globorotalia menardii Globigerina venezuelana HEDBERG


Sphaerodinella subdehiscens BLOW

Orbulina bilobata
N20 N22 N23 N10 N12 N13 N14 N15 N16 N17 N18 N19 N21 N11 N2 N3 N4 N5 N6 N7 N8 N9 ZONASI BLOW, 1969 N1

14

STRUKTUR GEOLOGI DAERAH PENELITIAN Pembahasan mengenai struktur geologi daerah penelitian meliputi pembahasan tentang indikasi pola struktur geologi yang dijumpai di lapangan, jenis struktur yang dijumpai, umur dari struktur tersebut yang berhubungan dengan kronologi urutan pembentukan struktur dan hubungannya dengan stratigrafi daerah penelitian serta pada kondisi fisik, bagaimana struktur tersebut terbentuk (mekanisme struktur geologi). Penentuan struktur geologi pada daerah penelitian berdasarkan data-data struktur geologi baik primer maupun sekunder yang dijumpai dilapangan dipadukan dengan data hasil interpretasi peta topografi. Data primer berupa cermin sesar dan breksi sesar yang dipadukan dengan pengukuran data kekar pada jalur sesar, sedangkan data sekunder berupa mata air. Pembahasan elemen struktur geologi dilakukan secara deskriptif, meliputi identifikasi, pengukuran orientasi, analisis data yang diperoleh serta rekonstruksi yang digunakan sebagai penunjang interpretasi pola struktur geologi yang berkembang. Metode dan cara yang dilakukan dalam mengenali dan menganalisa struktur pada daerah penelitian dilakukan dengan beberapa cara yaitu : Mengamati dan mengenali jenis struktur yang dijumpai di lapangan. Mengamati bentuk dan mengukur parameter terukur struktur yang dijumpai dalam keadaan sebenarnya di lapangan seperti spasi dan bukaan kekar serta dimensi cermin sesar yang dijumpai.

Melakukan pengukuran kedudukan dari unsur struktur yang dapat diukur, misalnya kedudukan perlapisan batuan, kedudukan bidang yang diindikasikan sebagai cermin sesar, arah pelamparan breksi sesar serta pengukuran secara random data kekar. Membuat sketsa atau foto dari struktur yang dijumpai di lapangan. Menganalisa parameter struktur yang terukur dari data kuantitatif dalam bentuk statistik dan dibuat dalam bentuk diagram-diagram pola, untuk diketahui gambaran umum pola strukturnya. Contohnya yaitu pengolahan data kekar dengan menggunakan proyeksi stereografis, rock ware dan diagram roset. Membuat rekontruksi struktur daerah penelitian dengan menggunakan penampang. Menganalisa dan mendiskusikan mekanisme struktur daerah penelitian dari hasil pengolahan semua data yang ada. Berdasarkan analisis dengan menggunakan metode yang dijelaskan sebelumnya maka indikasi struktur geologi yang dijumpai pada daerah penelitian terdiri atas : Struktur kekar Struktur sesar

Kekar Kekar atau joint merupakan rekahan pada batuan dimana tidak ada atau sedikit sekali mengalami pergeseran (Asikin, 1979). Sedangkan menurut Ragan (1973), kekar merupakan suatu fracture (retakan

15

pada batuan) yang relatif tidak mengalami pergeseran pada bidang rekahnya. Hal hal yang diamati dalam pengambilan data kekar di lapangan meliputi pengukuran kedudukan kekar, lebar bukaan, spasi antar kekar, isian kekar dan pemgambilan foto kekar. Adapun penetuan jenis kekar yang terdapat pada daerah penelitian yaitu berdasarkan bentuknya. Klasifikasi kekar berdasarkan bentuknya ( Hodgson dalam Sukendar Asikin, 1979), terdiri atas : a. Kekar Sistematik yaitu kekar yang umumnya selalu dijumpai dalam bentuk pasangan. Tiap pasangannya ditandai oleh arahnya yang serba sejajar atau hampir sejajar jika dilihat dari kenampakan di atas permukaan. b. Kekar Tidak Sistematik yaitu kekar yang tidak teratur susunannya, dan biasanya tidak memotong kekar yang lainnya dan permukaannya selalu lengkung dan berakhir pada bidang perlapisan. Berdasarkan bentuknya, kekar yang dijumpai pada daerah penelitian adalah kekar sistematikKekar jenis ini dijumpai pada litologi basal porfiri (gambar 10 )

Penentuan jenis kekar pada daerah penelitian berdasarkan genetiknya ditentukan berdasarkan jenis gaya pembentuknya berupa gaya tarikan, maka struktur kekar yang dijumpai pada daerah penelitian diklasifikasikan sebagai kekar tarik (release joint)

Gambar

11. Kenampakan kekar tarik release joint pada litologi basal porfiri yang dijumpai pada stasiun 67 .

Hasil pengukuran kekar pada litologi basalt porfiri di stasiun 72 sebanyak 100 kali memperlihatkan spasi kekar antara 4 18 cm, bukaan kekar 1 5 mm. Hasil pengukuran kekar tersebut dapat pada tabel 4.1. Hasil pengukuran kekar tersebut menunjukkan kekar yang sistematis dengan arah umum kekar Utara Baratlaut Selatan Menenggara , (kemiringan kekar relatif 20o 60o (tabel 4.1 dan 4.2). Hasil analisis data dengan menggunakan diagram kipas diperoleh tegasan utama maksimum ) menunjukkan Arah Tegasan Utama (1) N 345 0E, Arah Tegasan Minimum (3) N 75 0 E ( gambar 12 ).

Gambar 10. Kenampakan kekar sistematik pada litologi basal porfiri yang dijumpai pada stasiun 72 . difoto N 270oE.

16

Gambar 12. Diagram kipas kekar pada batuan beku basalt porfiri stasiun 72 dengan Arah Tegasan Utama (1) N 345 0E, Arah Tegasan Minimum (3) N 75 0E

Dijumpai cermin sesar yaitu pada stasiun 67,73 dan76 Dijumpai breksi sesar pada jalur sesar yaitu pada stasiun 66 dan 72 Dijumpai adanya penjajaran mata air pada stasiun 73 dan 76 Pola aliran sungai yang bertipe Rectangular pada Salo Lombok Pada peta topografi dijumpai pelurusan garis kontur.

Struktur Sesar
.

Sesar merupakan suatu rekahan di sepanjang batuan yang telah mengalami pergeseran sehingga terjadi perpindahan antara bagian bagian yang berhadapan, dengan arah yang sejajar dengan bidang patahan (Billing, 1968). Berdasarkan hasil analisa terhadap data lapangan berupa data primer ataupun data sekunder serta korelasi terhadap tektonik regional maka sesar yang bekerja pada daerah penelitian berupa sesar geser , dan berdasarkan pergerakan relatif serta daerah yang dilaluinya maka sesar pada daerah penelitian adalah Sesar Geser Lombok Sesar geser Lombok memanjang relatif pada arah Tenggara Barat laut. Sesar geser ini memotong satuan basalt porfiri, dan batu lempung karbonatan .Sesar geser ini bersifat menganan( dekstral strikeslip fault). Penentuan struktur sesar geser Lombok yang bekerja di daerah penelitian ini didasarkan dengan adanya data primer dan data sekunder yang dijumpai di lapangan yaitu :

Penentuan umur pembentukan Sesar geser Lombok didasarkan pada umur satuan batuan yang dipengaruhinya berupa satuan basal porfiri dan batulempung karbonatan yaitu Miosen Tengah Miosen Akhir Mekanisme pembentukan struktur geologi daerah penelitian didasarkan pada teori Harding dalam James D. Lowell, 1985 ( Gambar 14) . Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa mekanisme pembentukan struktur geologi yang terdapat pada daerah penelitian terjadi dalam satu periode arah tegasan utama

17

Penentuan arah tegasan utama pada daerah penelitian didasarkan pada hasil perhitungan kekar yang dilakukan dan selanjutnya dimasukkan kedalam diagram kipas sehingga didapatkan hasil akhir berupa arah tegasan utama. Adapun hasil pengolahan data tersebut adalah sebagai berikut; Hasil perhitungan kekar pada stasiun 72 menunjukkan kekar yang sistematis dengan arah umum kekar Utara Baratlaut Selatan Menenggara , (kemiringan kekar relatif 20o 60o (tabel 4.1 dan 4.2). Hasil analisis data dengan menggunakan diagram kipas diperoleh tegasan utama maksimum ) menunjukkan Arah Tegasan Utama (1) N 345 0E, Arah Tegasan Minimum (3) N 75 0 E Berdasarakan arah perkembangan sesar dan hasil analisis data kekar diatas maka diketahui bahwa struktur geologi yang ada di daerah penelitian, terbentuk oleh adanya gaya kompresi yang berarah Utara Baratlaut Selatan Menenggara , dimana tekanan yang menyebabkan terjadinya perlipatan pada daerah penelitian. karena tegasan ini terus berlanjut sampai melampaui batas elastisitas dari batuan, akan membentuk kekar kekar pada daerah penelitian. Terhentinya gaya yang berkerja mengakibatkan terjadinya release sehingga mengakibatkan terbentuknya sesar geser pada daerah Lombok hingga memajang ke barat melewati Salo Lombok

SEJARAH GEOLOGI Sejarah geologi pada daerah penelitian dimulai pada Kala Oligosen pada kondisi lingkungan darat, dimana pada kala ini terjadi aktivitas vulkanik. Aktivitas vulkanik yang terjadi berupa erupsi yang bersifat efusif yang mengeluarkan material berupa aliran lava ( lelehan) yang bersifat basaltik membentuk satuan Basal porfiri. Setelah pembentukan satuan Basal porfiri terjadi proses kenaikan muka air laut yang menyebabkan lingkungan darat berubah menjadi lingkungan laut dangkal Pada Kala Miosen Tengah dalam kondisi laut dangkal terendapkan materialmaterial halus berukuran lempung membentuk satuan batulempung karbonatan, pada proses pengendapan ini dipengaruhi oleh penurunan dan kenaikan muka air laut sehingga menyebabkan perselingan batulempung dengan batugamping pasiran. Kemudian terjadi aktivitas tektonik pada daerah penelitian, akibat pengaruh gaya kopel yang diikuti dengan gaya kompresi (gaya tekan) menghasilkan tegasan utama yang Utara BaratlautSelatan Menenggara menyebabkan terbentuknya kekar pada batuan. Gaya kompresi terus berlanjut hingga melewati batas plastisitas batuan mengakibatkan batuan mengalami pergeseran membentuk Sesar geser Lombok. Sesar geser ini memotong satuan basal porfiri dan batulempung karbonatan. Sesar geser ini bersifat menganan( dekstral strike-slip fault). 68 Setelah itu dilanjutkan proses pengendapan material material yang bersifat karbonat pada lingkungan laut dangkal membentuk satuan batugamping,

18

proses pengendapan ini berlangsung hingga kala Pliosen. Setelah proses pada daerah penelitian berlangsung proses-proses geologi muda berupa proses pelapukan, penelanjangan (denudasional), dan sedimentasi. Proses tersebut masih terus berlangsung sampai sekarang. BAHAN GALIAN Keberadaan bahan galian tidak terlepas dari asosiasi dan jenis litologi penyusunnya, dan proses serta aktivitas geologi yang sedang berlangsung. Kedua hal tersebut sangat mempengaruhi proses pembentukan, penyebaran, jumlah dan volume serta mutu bahan galian tersebut. Untuk mengetahui pemanfaatan dari bahan galian tersebut maka diperlukan informasi mengenai bahan galian didaerah penelitian, seperti lokasi keterdapatan, genesa, asosiasi litologi penyusun bahan galian tersebut, karakteristik fisik serta keterdapatan bahan galian tersebut apakah ekonomis untuk dikelola atau tidak. Bahan galian yang dijumpai di daerah penelitian merupakan golongan pertambangan batuan, yang berupa basal dan sirtu (pasir dan batu). Penyebaran bahan galian berupa basal di daerah penelitian dijumpai cukup banyak yaitu sekitar 69% dari luas daerah penelitian yang meliputi bagian Barat Laut hingga Tenggara pada daerah Salo Lombok dan menyebar dari Utara ke Selatan sepanjang anak sungai Salo Talorong, Salo Arangan, dan Salo Barabba. Potensi bahan galian sirtu tersebar cukup banyak dan dijumpai sepanjang aliran sungai Salo Lombok, terutama pada

kelokan sungai seperti pada stasiun 21, 25, 33 dan 66. Namun karena sarana dan prasarana yang belum memadai seperti jalan dan kondisi jalur yang cukup jauh dan terjal dari jalan utama sehingga bahan galian basal dan sirtu belum bisa di eksploitasi secara maksimal. Penggalian bahan galian ini telah dilakukan penduduk secara tradisional menggunakan pacul. Bahan galian ini digunakan sebagai pengerasan jalanan serta bahan timbunan. KESIMPULAN Dari hasil analisis pada pembahasan bab-bab sebelumnya maka dapat ditarik kesimpulan sebagai hasil penelitian ini , yaitu : Geomorfologi daerah penelitian tersusun oleh 2 satuan bentangalam yaitu satuan bentangalam perbukitan bergelombang dan satuan bentangalam perbukitan tersayat tajam. Jenis sungai yang berkembang adalah sungai permanen dan sungai tidak permanen, sedangkan secara tipe genetik terdiri dari konsekuen dan insekuen serta pola aliran dendritik dan subrectangular. Stadia sungai adalah stadia muda menjelang dewasa Stadia daerah penelitian adalah stadia muda menjelang dewasa. Stratigrafi daerah penelitian tersusun atas tiga satuan batuan berdasarkan pada pembagian satuan litostratigrafi tidak resmi, urutannya dari muda ke tua yaitu Satuan batugamping Satuanbatulempung karbonatan Satuan basal porfiri

19

Struktur geologi daerah penelitian terdiri dari kekar sistematik serta sesar berupa sesar geser Lombok yang bersifat dekstral yang terbentuk dari arah tegasan utama maksimum relatif dari arah Barat Laut Selatan Menenggara. Bahan galian pada daerah penelitian masih tergolong dalam bahan galian golongan batuan berupa basal dan sirtu ( pasir dan batu )

Geologi dan Sumber Daya Mineral, Departemen Pertambangan dan Energi, Indonesia. Graha, D. S., 1987, Batuan dan Mineral. Nova, Bandung, Indonesia. Ikatan Ahli Geologi Indonesia. 1996. Sandi Stratigrafi Indonesia. Bidang Geologi dan Sumber Daya Mineral. Jakarta. Indonesia. Kerr, P.F., 1959, Optical Mineralogy, The Mc Graw Hill Book Company Inc, New York, Toronto, London. Lowell.D.James,1985. Structure Styles in Petroleum Exploration.OGCI,inc, Oklahoma Pemerintah Republik Indonesia. 2009. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Postuma, J.A., 1971. Manual of Planktonic Foraminifera. Elsevier Publishing Company, Amsterdam. Pettijohn, F.J., Potter, P.E., Siever, R. 1987. Sand and Sandstone, Second Edition. Springer-Verlag New York Inc., USA. Ragan, D.M., 1973. Structure Geology An Introduction to Geometrical Techniques, Second Edition. Departement of Geology Arizona State University.

DAFTAR PUSTAKA Asikin, S., 1979. Dasar-Dasar Geologi Struktur. Departemen Teknik Geologi, Institut Teknologi Bandung, Indonesia. Billings, M.P., 1968. Structural Geology, Second Edition. Prentice-Hall of India Private Limited, New Delhi, India. Boggs, Jr., Sam, 1991. Petrology of Sedimentary Rocks. Cambridge University Press, Cambridge. Cushman, J.A.Phd., 1988, An Introduction Key to the Genera of The Foraminifera, Sharon Massachussets, USA. Dunham, R.J, 1962. Classification of Carbonate Rocks According to Depositional texture. Ham, WE Djuri dan Sudjatmiko, 1974, Geologi Lembar Majene dan Palopo Bagian Barat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Direktorat

20

Sukamto, Rab., 1975. Perkembangan Tektonik Sulawesi dan Sekitarnya yang Merupakan Sintesis Berdasarkan Tektonik Lempeng, Penelitian dan Pengembangan Geologi Direktorat Pertambangan Umum Departemen Pertambangan dan Energi, Bandung, Indonesia. Sukandarrumidi, 1998. Bahan Galian Industri. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, Indonesia. Sukido, dkk, 1997. Geologi Lembar Majene dan Palopo Bagian Barat. Puslitbang Geologi Thornburry, W.D., 1969. Principles of Geomorfology, John Billey and Sons Inc., Landon, New York, Sidney. Travis, R.B, 1955, Classification of Rock Volume 50, Colorado School of Mines.