Anda di halaman 1dari 8

RETENSIO URIN DEFINISI Retensi Urin adalah ketidakmampuan seseorang untuk mengeluarkan urin yang terkumpul di dalam buli-buli

hingga kapasitas maksimal buli-buli terlampaui Etiologi Adapun penyebab dari penyakit retensio urine dapat dibagi menurut letaknya yang adalah sebagai berikut: 1. Supra vesikal a. Kerusakan pada pusat miksi di medulla spinalis S2 - S4. b. Kerusakan saraf simpatis dan parasimpatis baik sebagian ataupun seluruhnya. c. Kelainan medulla spinalis, misalnya meningokel, tabes dorsalis, atau spasmus sfinkter yang ditandai dengan rasa sakit yang hebat. 2. Vesikal a. Kelemahan otot detrusor karena lama teregang. b. Atoni pada pasien DM atau penyakit neurologis. c. Divertikel yang besar. 3. Intravesikal a. Pembesaran prostate. b. Kekakuan leher vesika. c. Striktura. d. Batu kecil. e. Tumor pada leher vesika. f. Fimosis. Selain itu penyebab dari penyakit retensi urine juga dapat dibagi menurut organ yang terkenanya. Pembagiannya adalah sebagai berikut: 1. Vesika urinaria a. Neuropati diabetes b. Atoni otot detrusor karena pembesaran kronis yang berlebihan. 2. Uretra a. Pada bayi dan anak-anak i. Katup uretra posterior ii. Stenosis meatal iii. Fimosis dan parafimosis b. Pada pria dewasa i. Batu ii. Striktura c. Pada wanita dewasa i. Obstruksi uretra ( sangat jarang ) d. Pada pria tua i. Beningn Prostat Hiperplasia ii. Batu iii. Kanker prostat iv. Striktura e. Pada wanita tua i. Karunkel uretra ii. Polip uretra KLASIFIKASI Retensi urin akut Retensi urin yang akut adalah ketidakmampuan berkemih yang tiba-tiba dan disertai rasa sakit meskipun buli-buli terisi penuh. Berbeda dengan kronis, tidak ada rasa sakit karena sedikit2 nimbunnya. Kondisi yang terkait adalah tidak dapat berkemih sama sekali, kandung kemih penuh, terjadi tiba-tiba, disertai rasa nyeri, dan keadaan ini termasuk kedaruratan dalam urologi. Kalau tidak dapat berkemih sama sekali segera dipasang kateter. Retensi urin kronik Retensi urin kronik adalah retensi urin tanpa rasa nyeri yang disebabkan oleh

peningkatan volume residu urin yang bertahap. Misalnya lama-lama tidak bisa kencing. pada pembesaran prostat, pembesaran sedikit-sedikit, bisa kencing sedikit tapi bukan karena keinginannya sendiri tapi keluar sendiri karena tekanan lebih tinggi daripada tekanan sfingternya. Kondisi yang terkait adalah masih dapat berkemih, namun tidak lancar , sulit memulai berkemih (hesitancy), tidak dapat mengosongkan kandung kemih dengan sempurna (tidak lampias). Retensi urin kronik tidak mengancam nyawa, namun dapat menyebabkan permasalahan medis yang serius di kemudian hari. EPIDEMIOLOGI Insidens retensi urin di AS: o laki-laki usia 40-83 thn: 4,5 6,8/1000 laki-laki/tahun o usia 70-an: 10% o usia 80-an: 30% o Insidens retensi urin akut: 3/1000 laki-laki/tahun o Insidens pada wanita: 3/100.000 wanita/tahun Perhatikan bahwa pada retensi urin akut, laki-laki lebih banyak daripada wanita dengan perbandingan 3/1000 : 3/100000. Berdasarkan data juga dapat dilihat bahwa dengan bertambahnya umur pada laki-laki, kejadian retensi urin juga akan semakin meningkat. 2.2.3. GAMBARAN KLINIS Retensi urine memberikan gejala gangguan berkemih, termasuk diantaranya kesulitan buang air kecil; pancaran kencing lemah, lambat, dan terputus-putus; ada rasa tidak puas, dan keinginan untuk mengedan atau memberikan tekanan pada suprapubik saat berkemih. Suatu penelitian melaporkan bahwa gejala yang paling bermakna dalam memprediksikan adanya gangguan berkemih adalah pancaran kencing yang lemah, pengosongan kandung kemih yang tidak sempurna, mengedan saat berkemih, dan nokturia. 2.2.4. PATOFISIOLOGI Proses berkemih melibatkan 2 proses yang berbeda yaitu pengisian dan penyimpanan urine dan pengosongan kandung kemih. Hal ini saling berlawanan dan bergantian secara normal. Aktivitas otot-otot kandung kemih dalam hal penyimpanan dan pengeluaran urin dikontrol oleh sistem saraf otonom dan somatik. Selama fase pengisian, pengaruh sistem saraf simpatis terhadap kandung kemih menjadi bertekanan rendah dengan meningkatkan resistensi saluran kemih. Penyimpanan urin dikoordinasikan oleh hambatan sistem simpatis dari aktivitas kontraktil otot detrusor yang dikaitkan dengan peningkatan tekanan otot dari leher kandung kemih dan proksimal uretra. Pengeluaran urine secara normal timbul akibat dari kontraksi yang simultan otot detrusor dan relaksasi saluran kemih. Hal ini dipengaruhi oleh sistem saraf parasimpatis yang mempunyai neurotransmiter utama yaitu asetilkholin, suatu agen kolinergik. Selama fase pengisian, impuls afferen ditransmisikan ke saraf sensoris pada ujung ganglion dorsal spinal sakral segmen 2-4 dan informasikan ke batang otak. Impuls saraf dari batang otak menghambat aliran parasimpatis dari pusat kemih sakral spinal. Selama fase pengosongan kandung kemih, hambatan pada aliran parasimpatis sakral dihentikan dan timbul kontraksi otot detrusor. Hambatan aliran simpatis pada kandung kemih menimbulkan relaksasi pada otot uretra trigonal dan proksimal. Impuls berjalan sepanjang nervus pudendus untuk merelaksasikan otot halus dan skelet dari sphincter eksterna. Hasilnya keluarnya urine dengan resistensi saluran yang minimal. Pada retensio urine, penderita tidak dapat miksi, buli-buli penuh disertai rasa sakit yang hebat di daerah suprapubik dan hasrat ingin miksi yang hebat disertai mengejan. Retensio urine dapat terjadi menurut lokasi, factor obat dan factor lainnya seperti ansietas, kelainan patologi urethra, trauma dan lain sebagainya. Berdasarkan lokasi bisa dibagi menjadi supra vesikal berupa kerusakan

pusat miksi di medulla spinalis menyebabkan kerusaan simpatis dan parasimpatis sebagian atau seluruhnya sehingga tidak terjadi koneksi dengan otot detrusor yang
mengakibatkan tidak adanya atau menurunnya relaksasi otot spinkter internal, vesikal berupa kelemahan otot detrusor karena lama teregang, intravesikal berupa hipertrofi prostate, tumor atau kekakuan leher vesika, striktur, batu kecil menyebabkan obstruksi urethra sehingga urine sisa meningkat dan terjadi dilatasi bladder kemudian distensi abdomen. Dari semua factor di atas menyebabkan urine mengalir labat kemudian terjadi poliuria karena pengosongan kandung kemih tidak efisien.Selanjutnya terjadi distensi bladder dan distensi abdomen sehingga memerlukan tindakan, salah satunya berupa kateterisasi urethra. 2.2.5. DIAGNOSIS

Pada pasien dengan keluhan saluran kemih bagian bawah, maka anamnesis dan pemeriksaan fisik yang lengkap, pemeriksaan rongga pelvis, pemeriksaan neurologik, jumlah urine yang dikeluarkan spontan dalam 24 jam, pemeriksaan urinalisis dan kultur urine, pengukuran volume residu urine, sangat dibutuhkan. Fungsi berkemih juga harus diperiksa, dalam hal ini dapat digunakan uroflowmetry, pemeriksaan tekanan saat berkemih, atau dengan voiding cystourethrography. 1. Anamnesis - Tidak bisa kencing atau kencing menetes /sedikit-sedikit - Nyeri dan benjolan/massa pada perut bagian bawah - Riwayat trauma: "straddle", perut bagian bawah/panggul, ruas tulang belakang. - Pada kasus kronis, keluhan uremia 2. Pemeriksaan Fisik - Inspeksi: Penderita gelisah Benjolan/massa perut bagian bawah Tergantung penyebab : batu dimeatus eksternum, pembengkakan dengan/tanpa fistulae didaerah penis dan skrotum akibat striktura uretra, perdarahan per uretra pada kerobekan akibat trauma. - Palpasi dan perkusi: Teraba benjolan/massa kistik-kenyal (undulasi) pada perut bagian bawah. Bila ditekan menimbulkan perasaan nyeri pada pangkal penis atau menimbulkan perasaan ingin kencing yang sangat mengganggu. Terdapat keredupan pada perkusi. Dari palpasi dan perkusi dapat ditetapkan batas atas buli-buli yang penuh, dikaitkan dengan jarak antara simfisis-umbilikus. Tergantung penyebab : Teraba batu di uretra anterior sampai dengan meatus eksternum. Teraba dengan keras (indurasi) dari uretra pada striktura yang panjang Teraba pembesaran kelenjar prostat pada pemeriksaan colok dubur. Teraba kelenjar prostat letaknya tinggi bila terdapat ruptur total uretra posterior. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang yang digunakan dalam menegakkan diagnosis pada retensi urin ialah dengan: A. Pemeriksaan urin lengkap. Bila pada pemeriksaan sediment urin ditemukan piuria pada 50% kasus infeksi saluran kemih. Tidak ada korelasi yang pasti antara piuria dan bakteriuria, tetapi pada setiap kasus dengan piuria haruslah dicurigai kemungkinan adanya infeksi saluran kemih. Kelainan urin secara laboratorik yang ditemukan apabila terdapat infeksi pada saluran kemih ialah : 1. Urinalisis

Leukosituria.

Leukosituria atau piuria merupakan salah satu petunjuk penting terhadap dugaan adanya infeksi saluran kemih. Leukosuria dinyatakan positif bilamana terdapat 5 leukosit / lapang pandang besar ( LPB ) sedimen air kemih. Adanya leukosit silinder pada sedimen air kemih menunjukkan adanya keterlibatan ginjal. Hematuria. Hematuria dipakai sebagai petunjuk adanya infeksi saluran kemih bilamana dijumpai 5 10 eritrosit / lapang pandang besar ( LPB ) sedimen air kemih. 2. Bakteriologis. Mikroskopis Pada pemeriksaan mikroskopis dapat digunakan air kemih segar tanpa diputar atau tanpa pewarnaan gram. Bakteri dinyatakan positif bilamana ditemukan satu bakteri lapang pandang minyak emersi. Biakan bakteri Selain untuk mengetahui adanya infeksi pemeriksaan laboratorium lain yang perlu dilakukan ialah pemeriksaan gula darah sewaktu untuk mengetahui kadar glukosa pasien tersebut karena apabila pasien mempunyai penyakit diabetes maka diabetes dapat menyebabkan retensi urin. B. Uroflometri. Uroflometri adalah pencatatan tentang pancaran urin selama proses miksi secara elektronik. Pemeriksaan ini ditujukan untuk mendeteksi gejala obstruksi saluran kemih bagian bawah yang tidak invasif. Dari uroflometri dapat diperoleh informasi mengenai volume miksi pancaran maksimum, pancaran rata-rata, waktu yang dibutuhkan untuk mencapai pancaran maksimum dan lamanya pancaran. C. Foto polos abdomen. Foto polos abdomen merupakan pemeriksaan uroradiologis termudah. Ini merupakan radiographi pendahuluan umum dalam pemeriksaan radiologis yang lebih canggih seperti urographi intravena dan biasanya dilakukan dengan posisi supine. Pada pasien dengan retensi urin, pada pemeriksaan foto polos abdomen dapat memperlihatkan bayangan buli buli penuh dan mungkin terlihat bayangan batu opak pada uretra atau pada buli buli apabila karena batu pada saluran kemih. D. Uretrografi Uretrografi adalah pencitraan uretra dengan memakai bahan kontras. Bahan kontras dimasukkan langsung melalui klem Broadny yang dijepitkan pada glans penis. Gambaran yang mungkin terjadi adalah : Jika terdapat striktura uretra akan tampak adanya penyempitan atau hambatan kontras pada uretra. Trauma uretra tampak sebagai ekstravasasi kontras keluar dinding uretra. Tumor uretra atau batu non opak pada uretra tampak sebagai filling defect pada uretra. E. Uretrosistoskopi. Pemeriksaan ini secara visual dapat mengetahui keadaan uretra prostatika dan buli-buli. Terlihat adanya pembesaran, obstruksi uretra dan leher buli-buli, batu buli-buli, selule dan divertikel buli-buli. Uretrosistoskopi dikerjakan pada saat akan dilakukan tindakan pembedahan untuk menentukan perlunya dilakukan TUIP, TURP, atau prostatektomi terbuka. Disamping itu pada kasus yang disertai dengan hematuria atau dugaan adanya karsinoma buli-buli sistoskopi sangat membantudalam mencari lesi pada buli-buli. F. Ultrasonografi. Prinsip pemeriksaan ultrasonografi adalah menangkap gelombang bunyi ultra yang dipantulkan oleh organ-organ ( jaringan ) yang berbeda kepadatannya. Pemeriksaan ini tidak invasif dan tidak menimbulkan efek radiasi. USG dapat membedakan antara massa padat ( hiperekoik ) dengan massa kistus ( hipoekoik ). Pada kelenjar prostat, melalui pendekatan transrektal ( TRUS ) dipakai untuk mencari nodul pada keganasan prostat dan menentukan volume / besarnya prostat. Jika didapatkan adanya dugaan keganasan prostat, TRUS dapat dipakai sebagai penuntun dalam melakukan biopsy kelenjar prostat.

PENANGANAN RETENSI URIN Urin dapat dikeluarkan dengan cara Kateterisasi atau Sistostomi. Penanganan pada retensi urin akut berupa : kateterisasi bila gagal dilakukan Sistostomi. Kateterisasi Kateterisasi Uretra adalah memasukkan kateter ke dalam buli-buli melalui uretra. Tujuan Kateterisasi Tindakan ini dimaksudkan untuk tujuan diagnosis maupun untuk tujuan terapi. Tindakan diagnosis antara lain adalah : 1. Kateterisasi pada wanita dewasa untuk memperoleh contoh urin guna pemeriksaan kultur urin. 2. Mengukur residu (sisa) urin yang dikerjakan sesaat setelah pasien selesai miksi. 3. Memasukkan bahan kontras untuk pemeriksaan radiologi, antara lain : Sistografi atau pemeriksaan adanya refluks vesiko-ureter melalui pemeriksaan voiding cysto-urethrography (VCUG). 4. Pemeriksaan urodinamik untuk menentukan tekanan intra vesika. 5. Untuk menilai produksi urin pada saat dan setelah operasi besar. Indikasi kateterisasi : 1. Mengeluarkan urin dari buli-buli pada keadaan obstruksi infravesikal, baik yang disebabkan oleh hiperplasia prostat maupun oleh benda asing (bekuan darah) yang menyumbat uretra. 2. Mengeluarkan urin pada disfungsi buli-buli. 3. Diversi urin setelah tindakan operasi sistem urinaria bagian bawah, yaitu pada operasi prostatektomi, vesikolitektomi. 4. Sebagai splint setelah operasi rekonstruksi uretra untuk tujuan stabilisasi uretra. 5. Memasukkan obat-obatan intravesika, antara lain sitostatika atau antiseptik untuk buli-buli. Kontraindikasi kateterisasi : Ruptur uretra, ruptur buli-buli, bekuan darah pada buli-buli. Macam-macam Kateter Kateter dibedakan menurut ukuran, bentuk, bahan, sifat, pemakaian, sistem retaining (pengunci), dan jumlah percabangan. Ukuran Kateter Ukuran kateter dinyatakan dalam skala Cherieres (French). Ukuran ini merupakan ukuran diameter luar kateter. 1 Cheriere (Ch) atau 1 French (Fr) = 0,33 milimeter atau 1 milimeter = 3 Fr Jadi, kateter yang berukuran 18 Fr artinya diameter luar kateter itu adalah 6 mm. Kateter yang mempunyai ukuran yang sama belum tentu mempunyai diameter lumen yang sama karena adanya perbedaan bahan dan jumlah lumen pada kateter itu. Bahan kateter dapat berasal dari logam (stainless), karet (lateks), lateks dengan lapisan silikon (siliconized) dan silikon. Bentuk Kateter Straight catheter merupakan kateter yang terbuat dari karet (lateks), bentuknya lurus dan tanpa ada percabangan. Contoh kateter jenis ini adalah kateter Robinson dan kateter Nelaton. Coude catheter yaitu kateter dengan ujung lengkung dan ramping. Kateter ini dipakai jika usaha kateterisasi dengan memakai kateter berujung lurus mengalami hambatan yaitu pada saat kateter masuk ke uretra pars bulbosa yang berbentuk huruf S, adanya hiperplasia prostat yang sangat besar, atau hambatan akibat sklerosis leher buli-buli. Contoh jenis kateter ini adalah kateter Tiemann. Tindakan Kateterisasi Pada wanita Pemasangan kateter pada wanita jarang menjumpai kesulitan karena uretra wanita lebih pendek. Kesulitan yang sering dijumpai adalah pada saat mencari muara uretra karena terdapat stenosis muara uretra atau tertutupnya muara uretra oleh tumor uretra / tumor vaginalis / serviks. Untuk itu mungkin perlu dilakukan dilatasi dengan busi a boule terlebih dahulu. Pada pria Teknik kateterisasi pada pria adalah sebagai berikut : 1. Setelah dilakukan desinfeksi pada penis dan daerah sekitarnya, daerah genitalia dipersempit dengan kain steril. 2. Kateter yang telah diolesi dengan pelicin / jelly dimasukkan ke dalam orifisium uretra eksterna.

3. Pelan-pelan kateter didorong masuk dan kira-kira pada daerah daerah sfingter uretra eksterna akan terasa tahanan; pasien diperintahkan untuk mengambil nafas dalam supaya sfingter uretra eksterna menjadi lebih relaks. Kateter terus didorong hingga masuk ke buli-buli yang ditandai dengan keluarnya urin dari lubang kateter. 4. Kateter terus didorong masuk ke buli-buli hingga percabangan kateter menyentuh meatus uretra eksterna. 5. Balon kateter dikembangkan dengan 5-10 ml air steril. 6. Jika diperlukan kateter menetap, kateter dihubungkan dengan pipa penampung (urinbag). 7. Kateter difiksasi dengan plester di daerah inguinal atau paha bagian proksimal. 3.2 Kateterisasi Suprapubik Kateterisasi Suprapubik adalah memasukkan kateter dengan membuat lubang pada buli-buli melalui insisi suprapubik dengan tujuan mengeluarkan urin. Kateterisasi suprapubik ini biasanya dikerjakan pada : 1. Kegagalan pada saat melakukan kateterisasi uretra. 2. Ada kontraindikasi untuk melakukan tindakan transuretra, misalkan pada ruptur uretra atau dugaan adanya ruptur uretra. 3. Untuk mengukur tekanan intravesikal pada studi sistotonometri. 4. Mengurangi penyulit timbulnya sindroma intoksikasi air pada saat TUR Prostat. Pemasangan kateter sistostomi dapat dikerjakan dengan cara operasi terbuka atau dengan perkutan (trokar) sistostomi. Sistostomi Trokar Kontraindikasi Sistostomi Trokar : tumor buli-buli, hematuria yang belum jelas penyebabnya, riwayat pernah menjalani operasi daerah abdomen / pelvis, buli-buli yang ukurannya kecil (contracted bladder), atau pasien yang mempergunakan alat prostesis pada abdomen sebelah bawah. Tindakan ini dikerjakan dengan anestesi lokal dan mempergunakan alat trokar. Alat-alat dan bahan yang digunakan : 1. Kain kasa steril. 2. Alat dan obat untuk desinfeksi (yodium povidon). 3. Kain steril untuk mempersempit lapangan operasi. 4. Semprit beserta jarum suntik untuk pembiusan lokal dan jarum yang telah diisi dengan aquadest steril untuk fiksasi balon kateter. 5. Obat anestesi lokal. 6. Alat pembedahan minor, antara lain : pisau, jarum jahit kulit, benang sutra (zeyde). 7. Alat trokar dari Campbel atau trokar konvensional. 8. Kateter Foley (ukuran tergantung alat trokar yang digunakan). Jika mempergunakan alat trokar konvensional, harus disediakan kateter Naso-gastrik(NG tube) no. 12. 9. Kantong penampung urine (urinebag). Langkah-langkah Sistostomi Trokar : 1. Desinfeksi lapangan operasi. 2. Mempersempit lapangan operasi dengan kain steril. 3. Injeksi (infiltrasi) anestesi lokal dengan Lidokain 2% mulai dari kulit, subkutis hingga ke fasia. 4. Insisi kulit suprapubik di garis tengah pada tempat yang paling cembung + 1 cm, kemudian diperdalam sampai ke fasia. 5. Dilakukan pungsi percobaan melalui tempat insisi dengan semprit 10 cc untuk memastikan tempat kedudukan buli-buli. 6. Alat trokar ditusukkan melalui luka operasi hingga terasa hilangnya tahanan dari fasia dan otot-otot detrusor. 7. Alat obturator dibuka dan jika alat itu sudah masuk ke dalam buli-buli akan keluar urine memancar melalui sheath trokar. 8. Selanjutnya bagian alat trokar yang berfungsi sebagai obturator (penusuk) dan sheath dikeluarkan melalui buli-buli sedangkan bagian slot kateter setengah lingkaran tetap ditinggalkan. 9. Kateter Foley dimasukkan melalui penuntun slot kateter setengah lingkaran, kemudian balon dikembangkan dengan memakai aquadest 10 cc. Setelah balon dipastikan berada di buli-buli, slot kateter setengah lingkaran dikeluarkan dari buli-buli dan kateter dihubungkan dengan

kantong penampung urin (urinbag). 10. Kateter difiksasikan pada kulit dengan benang sutra dan luka operasi ditutup dengan kain kasa steril. Menusukkan alat trokar ke dalam buli-buli Setelah yakin trokar masuk ke buli-buli, obturator dilepas dan hanya slot kateter setengah lingkaran ditinggalkan Jika tidak tersedia alat trokar dari Campbell, dapat pula digunakan alat trokar konvensional, hanya saja pada langkah ke-8, karena alat ini tidak dilengkapi dengan slot kateter setengah lingkaran maka kateter yang digunakan adalah NG tube nomer 12 F. Kateter ini setelah dimasukkan ke dalam buli-buli pangkalnya harus dipotong untuk mengeluarkan alat trokar dari buli-buli. Penyulit Beberapa penyulit yang mungkin terjadi pada saat tindakan maupun setelah pemasangan kateter sistotomi adalah : 1. Bila tusukan terlalu mengarah ke kaudal dapat mencederai prostat. 2. Mencederai rongga / organ peritoneum. 3. Menimbulkan perdarahan. 4. Pemakaian kateter yang terlalu lama dan perawatan yang kurang baik akan menimbulkan infeksi, ekskrutasi kateter, timbul batu saluran kemih, degenerasi maligna mukosa buli-buli, dan terjadi refluks vesiko-ureter. Sistostomi Terbuka Sistostomi terbuka dikerjakan bila terdapat kontraindikasi pada tindakan sistostomi trokar atau bila tidak tersedia alat trokar. Dianjurkan untuk melakukan sistostomi terbuka jika terdapat jaringan sikatriks / bekas operasi di daerah suprasimfisis, sehabis mengalami trauma di daerah panggul yang mencederai uretra atau buli-buli, dan adanya bekuan darah pada buli-buli yang tidak mungkin dilakukan tindakan per uretram. Tindakan ini sebaiknya dikerjakan dengan memakai anestesi umum. Tindakan 1. Desinfeksi seluruh lapangan operasi. 2. Mempersempit daerah operasi dengan kain steril. 3. Injeksi anestesi lokal, jika tidak mempergunakan anestesi umum. 4. Insisi vertikal pada garis tengah + 3-5 cm diantara pertengahan simfisis dan umbilicus. 5. Insisi diperdalam sampai lemak subkutan hingga terlihat linea alba yang merupakan pertemuan fasia yang membungkus muskulus rektus kiri dan kanan. Muskulus rektus kiri dan kanan dipisahkan sehingga terlihat jaringan lemak, buli-buli dan peritoneum. Bulibuli dapat dikenali karena warnanya putih dan banyak terdapat pembuluh darah. 6. Jaringan lemak dan peritoneum disisihkan ke kranial untuk memudahkan memegang bulibuli. 7. Dilakukan fiksasi pada buli-buli dengan benang pada 2 tempat. 8. Dilakukan pungsi percobaan pada buli-buli diantara 2 tempat yang telah difiksasi. 9. Dilakukan pungsi dan sekaligus insisi dinding buli-buli dengan pisau tajam hingga keluar urin, yang kemudian (jika perlu) diperlebar dengan klem. Urin yang keluar dihisap dengan mesin penghisap. 10. Eksplorasi dinding buli-buli untuk melihat adanya : tumor, batu, adanya perdarahan, muara ureter atau penyempitan leher buli-buli. 11. Pasang kateter Foley ukuran 20F-24F pada lokasi yang berbeda dengan luka operasi. 12. Buli-buli dijahit 2 lapis yaitu muskularis-mukosa dan sero-muskularis. 13. Ditinggalkan drain redon kemudian luka operasi dijahit lapis demi lapis. Balon kateter dikembangkan dengan aquadest 10 cc dan difiksasikan ke kulit dengan benang sutra. 3.3. Prognosis Prognosis pada penderita dengan retensi urin akut akan bonam jika retensi urin ditangani secara cepat.

BAB III PENUTUP KESIMPULAN Traktus urinarius bagian bawah memiliki dua fungsi utama, yaitu: sebagai tempat untuk menampung produksi urine dan sebagai fungsi ekskresi. Retensio Urine Adalah merupkan urine dalam kandung kemih akibat ketidakmampuan kandung kemih untuk mengosongkan kandung kemih sehingga menyebabkan distensi vesika urania atau keadaan ketika seseorang mengalami pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap. Retensio Urine dapat dibagi menjadi 3 lokasi yaitu Supravesikal, Vesikal, Infravesikal. Retensi urine memberikan gejala gangguan berkemih, termasuk diantaranya kesulitan buang air kecil; pancaran kencing lemah, lambat, dan terputus-putus; ada rasa tidak puas, dan keinginan untuk mengedan atau memberikan tekanan pada suprapubik saat berkemih. Untuk mendeteksi retensi urin tidaklah sulit. Diperlukan perhatian dan kewaspadaan dari dokter maupun perawat yang bersangkutan. Untuk menangani retensi urin tidak dibutuhkan keahlian maupun ketrampilan khusus. Diperlukan pemahaman akan syarat-syarat dan tekniknya serta cara-cara merawatnya. DAFTAR PUSTAKA Ganong. Review of medical Phisiologi. USA. McGraw-Hill companies. 2003 Guyton & Hall. Textbook of medical Phisiologi. 2003. Price, Sylvia dkk. Patofisiologi konsep klinis proses penyakit volume I1 2006. Sabiston, David C. Hipertrofi Prostat Benigna, Buku Ajar Bedah bagian 2, Jakarta : EGC, 2008. Schwartz, Seymour I. 2009. Intisari Prinsip-prinsip Ilmu Bedah. Ed 6. EGC Jakarta. Suyono S, 2007, Buku Ajar Ilmur Penyakit Dalam, Jilid I, Edisi Ketiga, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.