Anda di halaman 1dari 2

Deteksi transmisi transovarial virus dengue pada nyamuk aedes aegypty Cecep dani sucipto, jurnal ilmu kesehatan

Vol.XIII No.2 Juli 2012 diterbitkan oleh poltekes kemenkes Pontianak. Virus dengue adalah golongan virus RNA yang sangat pathogen pada manusia dan cepat menyebar melalui gigitan nyamuk aedes aegypti dan aedes albopictus terutama di negara tropis. Virus dengue menyebabkan manifestasi klinik yang sangat bervariasi, seperti flu (DD) sampai demam berdarah dengue (DBD) dan berkembang sampai menjadi DSS (dengue shock syndrome) dan kadang kadang disertai dengan kejang-kejang karena adanya encephalopathy. Kota Pontianak dan kota singkawang merupakan endemis DBD di Kalimantan barat, sedangkan beberapa wilayah di kabupaten Pontianak kejadian terjadi secara sporadic terletak digaris khatulistiwa merupakan dataran rendah (1 m dari permukaan laut/dpl) dengan temperature ratarata 30OC, curah hujan rata-rata 2500 mm/tahunnya. Sebagian besar masyarakat di ketiga wilayah tersebut memiliki kebiasaan menyimpan air hujan sebagi cadangan di tempayan/tempat penyimpan air lainnya untuk memenuhi kebutuhan air minum, ditunjang oleh tingkat mobilitas penduduk tinggi karena merupakan jalur lalu lintas antar negara yaitu Malaysia dan brunei Darussalam. Dengan karakteristik wilayah seperti di atas kota Pontianak memiliki tingkat reseptivitas sebagai habitat Aedes aegypti sebagai vector utama DBD.

Terdapat tiga faktor yang memegang peranan pada transmisi infeksi virus dengue yaitu manusia, vector perantara dan virus. Manusia yang mempunyai status imun yang baik menjadi salah satu factor terhindarnya dari penyakit DBD. Menurut WHO (1997) factor yang mempengaruhi KLB DBD apabila level imunitas penduduknya terhadap dengue rendah. Populasi penduduk suatu daerah berperan dalam transmisi virus dengue, bila kepadatan penduduk meningkat, maka infeksi virus dengue lebih mudah terjadi dibandingkan penduduk yang tidak padat. Penduduk yang padat mendukung frekuensi kontak dengan nyamuk vector, karena sifat antropfilik dan menggigit berulang/multiple bitters.

Survey virologist serotipe virus dengue sebagai bitaahan pertimbangan kebijakan pemberantasan demam berdarah dengue. Cucunawangsih. Jurnal kedokteran universitas pelita harapan. Vol.3 No.3 okt 2009-feb2010 Keempat serotype virus dengue mempunyai virulensi berbeda-beda, dimana virulensi ini sangat ber Peran dalam patogenesi DBD atau DSS. Perubahan virulensi serotype virus dengue menyebabkan terjadinya mutasi terseleksi dan rekombinasi genetic, sehingga virus dengue pada serotype tertentu dapat lebih vrirulen dibandingkan yang lain. Untuk itu karakteristi serotype

virus dengue yang ada di suatu daerah menjadi sangat penting karena setiap serotype akan memberikan gambaran klinis yang berbeda