Anda di halaman 1dari 10

1.

Definisi Sosiologi Pendidikan

Berikut ini beberapa definisi sosiologi pendidikan menurut beberapa ahli: 1. Menurut F.G. Robbins, dalam dalam buku Sosiologi Pendidikan yang dikarang oleh Muhamad Rifai, bahwa sosiologi pendidikan adalah sosiologi khusus yang tugasnya menyelidiki struktur dan dinamika proses pendidikan. Struktur mengandung pengertian teori dan filsafat pendidikan, sistem kebudayaan, struktur kepribadian dan hubungan kesemuanya dengan tata sosial masyarakat. Sedangkan dinamika yakni proses sosial dan kultural, proses perkembangan kepribadian,dan hubungan kesemuanya dengan proses pendidikan. 2. Menurut Prof. DR S. Nasution,M.A., dalam buku Sosiologi Pendidikan yang dikarang oleh Muhamad Rifai, bahwa sosiologi Pendidikan adalah ilmu yang berusaha untuk mengetahui cara-cara mengendalikan proses pendidikan untuk mengembangkan kepribadian individu agar lebih baik. 3. Menurut E.G Payne, dalam buku Sosiologi Pendidikan yang dikarang oleh Muhamad Rifai, bahwa sosiologi Pendidikan ialah studi yang komprehensif tentang segala aspek pendidikan dari segi ilmu sosiologi yang diterapkan. 4. Menurut F.G Robbins dan Brown buku Sosiologi Pendidikan yang dikarang oleh Muhamad Rifai, bahwa sosiologi Pendidikan ialah ilmu yang membicarakan dan menjelaskan hubungan-hubungan sosial yang mempengaruhi individu untuk mendapatkan serta mengorganisasi pengalaman. Sosiologi pendidikan mempelajari kelakuan sosial serta prinsip-prinsip untuk mengontrolnya. 5. Menurut Drs. Ary H. Gunawan, dalam buku Sosiologi Pendidikan yang dikarang oleh Muhamad Rifai, bahwa sosiologi Pendidikan ialah ilmu pengetahuan yang berusaha memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan analisis atau pendekatan sosiologis. 6. Menurut H.P. Fairchild dalam bukunya Dictionary of Sociology dikatakan bahwa sosiologi pendidikan adalah sosiologi yang diterapkan untuk memecahkan masalahmasalah pendidikan yang fundamental. Jadi ia tergolong applied sociology. Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa sosiologi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari seluruh aspek pendidikan, baik itu struktur, dinamika, masalahmasalah pendidikan, ataupun aspek-aspek lainnya secara mendalam melalui analisis atau pendekatan sosiologis. (Damsar. 2011.Pengantar Sosiologi Pendidikan.Pendidikan Kencana : Jakarta. Hal 79 )

2.

Ruang Lingkup Sosiologi Pendidikan

Nasution (2004:6-7), mengemukakan ruang lingkup sosiologi pendidikan meliputi pokokpokok berikut ini: 1. Hubungan sistem pendidikan dengan aspek-aspek lain dalam masyarakat. Dalam kategori ini terdapat masalah-masalah sebagai berikut : a. Hubungan pendidikan dengan sistem sosial atau struktur sosial. b. Hubungan antara sistem pendidikan dengan proses kontrol sosial dan sistem kekuasaan. c. Fungsi pendidikan dalam kebudayaan. d. Fungsi sistem pendidikan dalam proses perubahan sosial dan kultural atau usaha mempertahankan status quo. e. Fungsi sistem pendidikan formal bertalian dengan kelompok rasial, kultural dan sebagainya. 2. Hubugan antar manusia di dalam sekolah. Lapangan kedua ini menganalisis struktur sosial di dalam sekolah. Pola kebudayaan di dalam system sekolah menunjukkan perbedaan dengan apa yang terdapat di dalam masyarakat di luar sekolah. Di dalam bidang ini dapat dipelajari : a. Hakikat kebudayaan sekolah sejauh ada perbeadaanya dengan kebudayaan diluar sekolah. b. Pola interaksi sosial dan stuktur masyarakat sekolah, yang antara lain meliputi berbagai hubungan kekuasaan, stratifikasi sosial dan pola kepemimpinan informal sebagai terdapat dalam clique serta kelompok-kelompok murid lainnya 3. Pengaruh sekolah terhadap perilaku dan kepribadian semua pihak disekolah / lembaga pendidikan. Di dalam bidang ini diutamakan aspek proses pendidikan. Disini kita analaisis kepribadian dan kelakuan guru, murid, dan lain-lain atas pengaruh partisipasi dalam keseluruhan system pendidikan. Beberapa pokok persoalan yang akan diteliti ialah sebagai berikut : a. Peranan sosial guru-guru / tenaga pendidikan b. Hakikat kepribadian guru / tenaga pendidikan c. Pengaruh kepribadian guru / tenaga kependidikan terhadap kelakuan anak / peserta didik d. Fungsi sekolah / lembaga pendidikan dalam sosial murid / peserta didik.Hubungan lembaga pendidikan dalam masyarakat. Di sini dianalisis pola-pola interaksi antara sekolah/ lembaga pendidikan dengan kelompok-

kelompok sosial lainnya dalam masyarakat di sekitar sekolah / lembaga pendidikan. Hal yang termasuk dalam wilayah itu antara lain yaitu : a. Pengaruh masyakarat atas organisasi sekolah /lembaga pendidikan b. Analisis proses pendidikan yang terdapat dalam sistematis sosial dalam masyarakat luar sekolah. c. Hubungan antara sekolah dan masyarakat pendidikan d. Faktor-faktor demografi dan ekologi dalam masyarakat yang berkaitan dengan organisasi sekolah, yang perlu untuk memahami sistem pendidikan dalam masyarakat serta integrasinya di dalam kehidupan masyarakat. Ruang lingkup sosiologi pendidikan tersebut pada dasarnya untuk mempererat dan meningkatkan tujuan pendidikan secara keseluruhan. Karena itu, sosiologi pendidikan tidak akan keluar dari upaya-upaya agar pencapaian tujuan dan fungsi pendidikan tercapai menurut pendidikan itu sendiri. (S. Nasution. 2004 .Sosiologi Pendidikan. Bumi aksara : Jakarta 6-7)

3. Di dalam sosiologi pendidikan kita mengenal masyarakat elit, masyarakat menengah dan masyarakat rendah A. Jelaskan mengapa terjadi kelompok masyarakat rendah? Pertama. Mereka ada karena angka kelahiran yang tinggi. Kelompok masyarakat yang tidak maju (Untuk sementara kita memakai kaca mata kemajuan) sering disebut kaum miskin yang sarat dengan kemiskinan. Kaum miskin (plus kemiskinan) ini juga mengalami pertumbuhan dengan pesat atau bertambah banyak jumlahnya (terutama karena angka kelahiran yang tingi). Angka kelahiran kaum miskin di negara-negara dunia ketiga (termasuk pada wilayahwilayah tertentu di Indonesia) yang tinggi, pada konteks tertentu, tidak seimbang dengan tingkat kematian. Pertumbuhan kaum miskin yang sangat pesat ini terjadi hampir semua lokasi atau tempat mereka berada. Dengan demikian, pada umumnya mereka (kaum miskin) hampir tidak mempunyai apa-apa selain anak [anak-anak]; karena mereka tidak banyak berbuat apa-apa, selain prokreasi dan reproduksi. Kedua. Mereka tetap miskin karena menutup diri dari pengaruh luar. Tatanan serta keteraturan suatu komunitas masyarakat (di lokasi komunitas itu) merupakan warisan secara turun-temurun. Dan jika komunitas itu mempunyai kontak dengan yang lain, maka akan terjadi saling meniru kemudian masing-masing mengembangkan hasil tiruan itu sesuai dengan sikonnya. Dengan itu, dapat dipahami bahwa hubungan sosial (antar manusia, dan antar masyarakat) bersifat mempengaruhi satu sama lain. Namun, tidak menutup kemungkinan, walau terjadi interaksi, ada kelompok atau komunitas masyarakat (karena situasi tertentu) yang tidak mengembangkan diri, sehingga tetap berada pola-pola hidup dan kehidupan statis. Akibatnya, mereka tidak mengalami kemajuan yang berarti; (sekali lagi, dengan kaca mata kemajuan), mereka tetap dalam keberadaanya yaitu kemiskinan. Ketiga. Mereka tercipta karena korban ketidakadilan para pengusaha. Kemajuan sebagian masyarakat global [(ermasuk Indonesia) yang mencapai era teknologi dan industri ternyata tidak bisa menjadi gerbong penarik untuk menarik sesamanya agar mencapai kesetaraan. Para pengusaha teknologi dan industri tetap membutuhkan kaum miskin yang pendidikannya terbatas untuk dipekerjakan sebagai buruh. Dan dengan itu, karena alasan kurang pendidikan, mereka dibayar di bawah standar atau sangat rendah, serta umumnya, tanpa tunjangan kesehatan, transportasi, uang makan, dan lain sebagianya. Para buruh tersebut harus menerima keadaan itu karena membutuhkan nasi dan pakaian untuk bertahan hidup. Akibatnya, menjadikan mereka tidak mampu meningkatkan kualitas hidupnya. Secara langsung, mereka telah menjadi korban ketidakadilan para pengusaha (konglomerat) hitam yang sekaligus sebagai penindas sesama manusia dan pencipta langgengnya kemiskinan. Para buruh (laki-laki dan perempuan) harus menderita karena bekerja selama 12 jam per hari (bahkan lebih), walau upahnya tak memadai. Kondisi buruk yang dialami oleh para buruh tersebut juga membuat dirinya semakin terpuruk di tengah lingkungan sosial kemajuan di

sekitarnya (terutama para buruh migran pada wilayah metropolitan).Sistem kerja yang hanya mengutamakan keuntungan majikan, telah memaksa para buruh untuk bekerja demikian keras. Sehingga kehidupan yang standar, wajar dan normal, yang seharusnya dialami oleh para buruh, tidak lagi dinikmati oleh mereka. Fisik dan mental para buruh (yang giat bekerja tetapi tetap miskin), telah dipaksa menjadi bagian dari instrumen mekanis. Mereka dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan irama, kecepatan dan ritme mesin-mesin pabrik dan ritme bising mesin otomotif; mesin-mesin itu, memberikan perubahan dan keuntungan pada pemiliknya, namun sang buruh tetap berada pada kondisi kemiskinan. Dengan tuntutan itu, mereka tak memiliki kebebasan, kecuali hanya untuk melakukan aktivitas pokok makhluk hidup (makan, minum, tidur) di sekitar mesin-mesin yang menjadi tanggungjawabnya. (Koentjaraningrat. 2000. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Rineka Cipta)

B. Mengapa kelompok miskin itu menghambat pembangunan? Jumlah penduduk yang besar berdampak langsung terhadap pembangunan berupa tersedianya tenaga kerja yang sangat diperlukan dalam pelaksanaan pembangunan. Akan tetapi kuantitas penduduk tersebut juga memicu munculnya permasalahan yang berdampak terhadap pembangunan. Permasalahan-permasalahan tersebut di antaranya: 1. Pesatnya pertumbuhan penduduk yang tidak diimbangi dengan kemampuan produksi menyebabkan tingginya beban pembangunan berkaitan dengan penyediaan pangan, sandang, dan papan. 2. Kepadatan penduduk yang tidak merata menyebabkan pembangunan hanya terpusat pada daerah-daerah tertentu yang padat penduduknya saja. Hal ini menyebabkan hasil pembangunan tidak bisa dinikmati secara merata, sehingga menimbulkan kesenjangan sosial antara daerah yang padat dan daerah yang jarang penduduknya. 3. Tingginya angka urbanisasi menyebabkan munculnya kawasan kumuh di kota-kota besar, sehingga menimbulkan kesenjangan sosial antara kelompok kaya dan kelompok miskin kota. 4. Pesatnya pertumbuhan penduduk yang tidak seimbang dengan volume pekerjaan menyebabkan terjadinya pengangguran yang berdampak pada kerawanan sosial.

C. Bagaimana upaya mengatasi kemiskinan? Langkah Mengatasi Masalah Kemiskinan: Untuk itu kiranya pemerintah perlu membuat ketegasan dan kebijakan yang lebih berpihaka kepada rakyat dalam rangka menyelesaikan masalah kemiskinan ini. Beberapa langkah yang bisa dilakukan diantaranya adalah :

1. Menciptakan lapangan kerja yang mampu menyerap banyak tenaga kerja sehingga mengurangi pengangguran. Karena pengangguran adalah salah satu sumber penyebab kemiskinan terbesar di indonesia.

2. Memberikan subsidi pada kebutuhan pokok manusia, sehingga setiap masyarakat bisa menikmati makanan yang berkualitas. Hal ini berdampak pada meningkatnya angka kesehatan masyarakat. 3. Menghapuskan korupsi. Sebab korupsi adalah salah satu penyebab layanan masyarakat tidak berjalan sebagaimana mestinya. Hal inilah yang kemudian menjadikan masyarakat tidak bisa menikmati hak mereka sebagai warga negara sebagaimana mestinya. 4. Menggalakkan program zakat. Di indonesia, islam adalah agama mayoritas. Dan dalam islam ajaran zakat diperkenalkan sebagai media untuk menumbuhkan pemerataan kesejahteraan di antara masyarakat dan mengurangi kesenjangan kaya-miskin. Potensi zakat di indonesia, ditengarai mencapai angka 1 triliun setiap tahunnya. Dan jika bisa dikelola dengan baik akan menjadi potensi besar bagi terciptanya kesejahteraan masyarakat. 5. Menjaga stabilitas harga bahan kebutuhan pokok. Fokus program ini bertujuan menjamin daya beli masyarakat miskin/keluarga miskin untuk memenuhi kebutuhan pokok terutama beras dan kebutuhan pokok utama selain beras. Program yang berkaitan dengan fokus ini seperti : Penyediaan cadangan beras pemerintah 1 juta ton. Stabilisasi/kepastian harga komoditas primer.

6. Meningkatkan akses masyarakat miskin kepada pelayanan dasar. Fokus program ini bertujuan untuk meningkatkan akses penduduk miskin memenuhi kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan prasarana dasar. Beberapa program yang berkaitan dengan fokus ini antara lain : Penyediaan beasiswa bagi siswa miskin pada jenjang pendidikan dasar di Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs). Beasiswa siswa miskin jenjang Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah (SMA/SMK/MA). Beasiswa untuk mahasiswa miskin dan beasiswa berprestasi. Pelayanan kesehatan rujukan bagi keluarga miskin secara cuma-cuma di kelas III rumah sakit.

7. Menyempurnakan dan memperluas cakupan program pembangunan berbasis masyarakat. Program ini bertujuan untuk meningkatkan sinergi dan optimalisasi pemberdayaan masyarakat di kawasan perdesaan dan perkotaan serta memperkuat penyediaan dukungan pengembangan kesempatan berusaha bagi penduduk miskin.Program yang berkaitan dengan fokus ketiga ini antara lain :

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) di daerah perdesaan dan perkotaan. Program Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah. Program Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus. Penyempurnaan dan pemantapan program pembangunan berbasis masyarakat.

4. Jelaskan hubungan antara pendidikan dengan kemiskinan? Pendidikan dan Kemiskinan Pada umumnya, permasalahan mengenai pendidikan dan kemiskinan di negara berkembang hampir serupa. Umunya, negara-negara ini menghadapi dilema; apakah pertumbuhan ekonomi yang lebih dahulu dipacu ataukah pendidikan yang lebih baik. Persoalan ini sukar dijawab, sehingga ia lebih merupakan sebuah lingkaran setan (vicious circle). Keterkaitan kemiskinan dengan pendidikan sangat besar karena pendidikan memberikan kemampuan untuk berkembang lewat penguasaan ilmu dan keterampilan. Pendidikan juga menanamkan kesadaran akan pentingnya martabat manusia. Mendidik dan memberikan pengetahuan berarti menggapai masa depan. Hal tersebut seharusnya menjadi semangat untuk terus melakukan upaya mencerdaskan bangsa. Tidak terkecuali, keadilan dalam memperoleh pendidikan harus diperjuangkan dan seharusnya pemerintah berada di garda terdepan untuk mewujudkannya. Penduduk miskin dalam konteks pendidikan sosial mempunyai kaitan terhadap upaya pemberdayaan, partisipasi, demokratisasi, dan kepercayaan diri, maupun kemandirian. Pendidikan nonformal perlu mendapatkan prioritas utama dalam mengatasi kebodohan, keterbelakangan, dan ketertinggalan sosial ekonominya. Pendidikan informal dalam rangka pendidikan sosial dengan sasaran orang miskin selaku kepala keluarga (individu) dan anggota masyarakat tidak lepas dari konsep learning society adult education experience yang berupa pendidikan luar sekolah, kursus keterampilan, penyuluhan, pendidikan dan latihan, penataran atau bimbingan, dan latihan

5. Kita mendengar pendidikan wirausaha, jelaskan istilah itu! Pendidikan Kewirausahaan adalah usaha terencana dan aplikatif untuk meningkatkan pengetahuan, intensi/niat dan kompetensi peserta didik untuk mengembangkan potensi dirinya dengan di wujudkan dalam prilaku kreatif, inovatif dan berani mengelola resiko. (Ade Suyitno : 3) Pendidikan kewirausahaan merupakan kajian internasional terkini dan terus di teliti dan di kembangkan secara dinamis di seluruh belahan dunia. Pendidikan kewirausahann di lakukan mulai dari Universitas, Sekolah Menengah, Sekolah dasar hingga ada playgroup of entrepreneurship untuk anak-anak. Maraknya pendidikan kewirausahaan di seluruh dunia ini tidak lain karena semakin meningkatnya kesadaran akan pentingnya karakter kewirausahaan pada generasi muda (kreatif, inovatif dan berani mengelola resiko) dan pentingnnya kedudukan seorang entrepreneur pada suatu motor pergerakan perekonomian suatu negara. Hal ini di jelaskan secara gamblang oleh McClelland bahwa Negara akan makmur jika entrepreneur dalam suatu negara mencapai 2 % dari keseluruhan penduduknya.(Ade Suyitno : 1) (Ade Suyitno. 2013. Paper Pendidikan Kewirausahaan : Teori dan Praktik.Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung.)

6. A. Jelaskan cara mengatasi kemiskinan mealui kegiatan kewirausahaan? Kewirausahaan Dalam anggaran negara, telah dialokasikan program pengentasan kemiskinan dan pengangguran melalui berbagai cara. Pertama, memberi bantuan dan perlindungan kepada rakyat kurang mampu melalui beras untuk rakyat miskin (raskin), bantuan operasional sekolah (BOS), bantuan langsung tunai (BLT), jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas). Kedua, melalui program nasional pemberdayaan masyarakat mandiri (PNPM) termasuk pemberdayaan masyarakat pesisir, dan ketiga, memberi KUR kepada pengusaha mikro. Program kedua dan ketiga tersebut secara sinergi terimplementasi melalui kewirausahaan. Pemerintah tidak hanya memasukkan program pengentasan kemiskinan melalui cara-cara yang bersifat karitatif seperti BLT, tetapi berupaya menggerakkan ekonomi masyarakat melalui kegiatan usaha. Artinya, program pengentasan kemiskinan diperkuat melalui kegiatan kewirausahaan. Kewirausahaan yang di dalamnya menuntut kreativitas dan inovasi, menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, dan mengentaskan kemiskinan. Apabila kegiatan kewirausahaan yang dirangsang melalui

programprogram tersebut berjalan efektif dan konsisten, maka akan memperluas kesempatan kerja di 9egara formal maupun informal. Khususnya dengan mencetak wirausaha-wirausaha baru atau mendorong penganggur untuk menjadi wirausaha di berbagai bidang usaha produktif, termasuk generasi muda terdidik. Penciptaan wirausaha baru merupakan salah satu solusi kekurangan lapangan kerja dan menambah pertumbuhan dunia usaha. Kewirausahaan juga akan mendorong generasi muda untuk mengubah pola negara (mindset) dari mencari kerja, menjadi menciptakan lapangan kerja. Kewirausahaan hendaknya jangan hanya dipahami sekadar kemampuan membuka usaha sendiri, tetapi menjadi momentum mengubah mentalitas dan pola negara. Sebab dalam semangat kewirausahaan juga tertanam sikap membangun karakter yang tangguh, inovatif, kreatif, cerdas, mandiri, dan kemampuan memanfaatkan peluang serta sumber daya. Selama ini, kemampuan bertahan suatu 9egara banyak ditopang semangat kewirausahaan rakyatnya.

(Hendro. Dasar-dasar Kewirausahaan. Jakarta : Penerbit Erlangga. 2011. Hal 90) B. bagaimana peran mahasiswa dalam mengatasi kemiskinan? Mahasiswa, sebagai salah satu tulang punggung harapan bangsa tentu menjadi salah satu pihak yang paling diharapkan kiprahnya dalam mengatasi masalah kemiskinan. Selain mengandalkan aspek intelektual, jiwa sosial, kepekaan, dan sikap aktif inisiatif juga menjadi kunci bagi mahasiswa berkontribusi mengentaskan kemiskinan. Hanya saja, kecenderungan umum yang kerap menjadi salah kaprah bagi mahasiswa adalah idealismenya yang terlalu tinggi dan menerawang ke atas. Mahasiswa sering merasa cukup jika sudah melakukan demonstrasi yang isinya hanya mengkritik dan menuntut perbaikan kondisi rakyat jelata kepada pemerintah. Alih-alih melakukan aksi yang lebih riil, mahasiswa lebih senang unjuk diri di jalan-jalan sambil membawa poster buatan sendiri yang kadang awut-awutan. Sebenarnya aksi semacam itu tidak salah, tetapi menjadi kurang bernilai jika mahasiswa itu sendiri tidak berupaya melakukan sesuatu yang langsung menyentuh kelompok masyarakat miskin. Apalagi demonstrasi yang dilakukan kerap kali terkesan dipaksakan dan seadanya. Bagaimanapun juga, bentuk sumbangsih yang bisa mahasiswa lakukan sangat banyak dan bisa lebih baik dari itu Salah satu cara mahasiswa turut berkontribusi dalam melawan kemiskinan adalah dengan mendekati lembaga-lembaga penghimpun dan penyalur zakat. Saat ini, sudah banyak lembaga-lembaga zakat, infaq, dan shodaqoh (ZIS) yang berdiri di Indonesia. Kehadiran mereka tentu menjadi angin segar bagi percepatan pengentasan kemiskinan dengan programnya masing-masing. Ada lembaga ZIS yang fokus pada pemberian beasiswa bagi anak sekolah kurang mampu, ada yang sasaran utamanya anak-anak yatim, ada yang programnya lebih ke arah pemberdayaan, dan lain sebagainya. Keanekaragaman lembaga ZIS tersebut, diharapkan akan dapat mempercepat pendistribusian zakat dan pemerataan sebarannya karena tidak dimonopoli oleh satu atau sedikit lembaga. Meskipun masih belum

mampu menjangkau seluruh masyarakat miskin, namun kehadiran lembaga-lembaga ZIS yang semakin berkembang pesat patut mendapat apresiasi. Peran mahasiswa, diantaranya adalah mengarahkan lembaga ZIS tersebut agar memberikan bantuan kepada masyarakat miskin di daerah A misalnya, yang selama ini memang belum tersentuh atau bisa juga mengalami situasi tiba-tiba sehingga jatuh miskin. Keberadaan lembaga ZIS yang beraneka ragam menyebabkan pendistribusian zakat menjadi tidak merata, maka mahasiswa dapat berperan sebagai pemberi informasi rekomendasi kepada lembaga ZIS mengenai lokasi pendistribusian zakat. Akan lebih baik jika mahasiswa dapat berkontribusi dengan menjadi karyawan atau relawan di dalamnya, sehingga memiliki pengalaman empirik dalam menghimpun, mengelola, dan mendistribusikan zakat. Lebih dari itu, ada baiknya mahasiswa mencoba menjadi inisiator bagi suatu forum silaturahmi antar lembaga-lembaga ZIS. Tujuan daripada itu, terutama agar dapat saling berkoordinasi untuk meminimalisir penumpukan distribusi ZIS di wilayah atau struktur masyarakat miskin tertentu. Mahasiswa dapat menggagas itu melalui misalnya mengadakan seminar tentang kemiskinan, forum diskusi, atau sekadar lesehan bersama dengan mengundang tokoh-tokoh atau pimpinan lembaga-lembaga ZIS tersebut. (Kasali Rhenald. Modul Kewirausahaan. Jakarta Selatan : PT Mizan Publika. 2010.hal 112)

DAFTAR PUSTAKA http://sosbud.kompasiana.com/2012/09/01/masyarakat-miskin-di-indonesia-489622.html Ade Suyitno. 2013. Paper Pendidikan Kewirausahaan : Teori dan Praktik.Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung. Damsar. 2011.Pengantar Sosiologi Pendidikan.Pendidikan Kencana : Jakarta. Kasali Rhenald. 2010. Modul Kewirausahaan. PT Mizan Publika.: Jakarta Selatan Hendro. 2011. Dasar-dasar Kewirausahaan. Penerbit Erlangga.: Jakarta