Anda di halaman 1dari 26

BAB I PENDAHULUAN Salah satu dasar dari gerakan oikumene adalah doa Tuhan Yesus, demikian Aku berdoa:

"...supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku" (Yohanes 17:21). Dalam doa Tuhan Yesus ini ada beberapa pokok pikiran, a. Oikumene atau kesatuan adalah kehendak Allah. Penegasan ini penting supaya tidak ada pribadi atau lembaga apa pun mengklaim diri sebagai pencetus, penggagas, pembangun oikumene. Dengan demikian oikumene adalah konsisten sebagai gerakan yang dimulai dari pikiran Allah, sebagai impian atau visinya terhadap Tubuh Kristus di masa mendatang. b. Tritunggal adalah model nya. Oikumene yang diidamkan Tuhan harus memiliki model atau type. Ungkapan seperti Engkau dan Aku menunjukkan bahwa pola, model dan relasi dalam lembaga Tritunggal adalah model yang ideal

membangun atau mewujudkan oikumene. c. Doa memegang peran sentral dalam oikumene. Kesatuan dalam Tubuh kristus diletakkan dalam kontruksi konteks doa, bukan kebentulan. Pesan tegas ingin disampaikan Tuhan, bahwa oikumene adalah usaha Tuhan sendiri, dan doa adalah factor dominan mewujudkan oikumene. d. Okumene dan implikasinya. Ada target dan goal besar yang akan dihasilkan sebagai implikasi dari oikumene. Point-point ini akan dipertajam pada bab-bab berikutnya. A. TERMINOLOGI OIKUMENE

istilah dalam bahasa Yunani, 'oikos' yang berarti: rumah, tempat tinggal, istana, kota, keluarga, keturunan, bangsa, kekayaan1; sedangkan 'menein'2 berarti: tinggal atau berdiam. Pada dasarnya kata Oikumene sama sekali tidak ada hubungan atau bersangkut paut dengan gereja. Karena yang dimaksud dengan kata Yunani ini adalah dunia yang didiami dalam pengertian politis. Jadi istilah Oikumene sebenarnya berasal dari suasana politik, lalu dipindahkan ke dalam situasi gereja. Dr. W.H. Visser't Hufft mendaftarkan beberapa arti kata Oikumene seperti yang didapati di dalam sejarah, yaitu Oikumene adalah seluruh dunia yang didiami; seluruh kekaisaran Roma; gereja seluruhnya; gereja yang sah; hubungan-hubungan beberapa gereja atau orang Kristen yang pengakuannya berbeda-beda; usaha dan keinginan untuk mendapatkan keesaan Kristen. Kamus
Kristen

besar

bahasa

Indonesia

mendefinisikan oikumene gerakan yg bertujuan

menyatukan atau menghimpun kembali gereja sedunia dan akhirnya menyatukan segenap umat

Berbicara perihal Oikumene, maka juga harus berbicara mengenai Keesaan gereja. Sebab Oikumene dan Keesaan Gereja mempunyai hubungan yang erat. Tujuan utama dari gerakan Oikumene adalah perwujudan Keesaan Gereja. Dalam sejarah perwujudan Keesaan Gereja di Indonesia yang memakan waktu yang panjang, maka di dalamnya juga pengertian 'keesaan' mengalami berbagai perkembangan. Hal ini dapat dilihat melalui hasil-hasil sidang raya dan rapat BPL PGI yang sudah diadakan. Wujud keesaan yang dirindukan dan yang berhasil ditetapkan oleh PGI adalah suatu gereja dengan mempunyai wadah bersama di tingkat lokal, wilayah dan nasional yang dapat berunding, mengambil keputusan bersama; dengan mempunyai satu pengakuan iman dan tata gereja yang berlaku bagi semua; serta setiap gereja saling menerima, saling mengakui sebagai sama-sama wujud pernyataan diri dari gereja Tuhan yang kudus dan am. Namun

1 2

Di PB muncul 114x, lih. Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear, LAI, h. 565-566. Dari kata kerja menw (118x), ibid hal 510-511.

rumusan mengenai keesaan gereja ini dirasakan lebih menekankan organisasi daripada kesatuan dalam paham atau ajaran.12 Oleh sebab itu ada beberapa gereja yang menolak pandangan ini, sehingga paling tidak masih ada dua pandangan lain yang berbeda mengenai keesaan gereja, yakni: 3.1. Keesaan Gereja itu secara rohani Pandangan ini sejalan dengan pernahaman akan arti gereja yaitu adanya gereja yang kelihatan dan gereja yang tidak kelihatan. Gereja yang sesungguhnya yang terdiri dari orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, sudah mempunyai satu kesatuan dalam Kristus. Jadi keesaan yang sesungguhnya adalah bersifat rohani. 3.2. Keesaan gereja terletak dalam berkata dan berbuat Seperti yang difirmankan dan diperbuat oleh Bapa dan Anak; atau dengan kata lain, kesatuan dalam karya/tugas sesuai dengan kehendak Bapa dan Anak. Kesatuan orang beriman atau kesatuan gereja, jikalau itu adalah kesatuan seperti yang dirindukan oleh Kristus di dalam doaNya, maka itu terletak di dalam berkata-kata dan berbuat seperti apa yang difirmankan dan diperbuat oleh Bapa dan Anak. B. PENGERTIAN YANG SALAH TENTANG OIKUMENE Beberapa kalangan dan beberapa periode oikumene dipersepsikan, dianalogikan,

diposisikan atau diterjemahkan sebagai Usaha bersama seperti natal, baksos, paskah bersama, konsultasi dan pertemuan bersama. Persepsi yang demikian tentu ada beberapa factor yang menyebabkan, seperti : Minimnya literature mengenai oikumene. Cermin dari kesadaran baru dari gereja-gereja, secara khusus di Indonesia tentang pentingnya oikumene. Alam berpikir pragmatis, suatu kecenderungan mencari factor-faktor simple dan simpulnya saja. yang memberikan kajian dan penjelasan yang tepat

Perbuatan konkret lebih menyimbolkan dalam pemaknaan. Penerjemahan yang salah, tentu berakar dari persepsi pemaknaan yang juga salah, sebab oikumene sering dipahami suatu usaha untuk menyatukan seluruh gereja, dengan mempunyai satu tata gereja, satu pengakuan iman, satu papan nama, satu kuasa administratif. Pendek kata, menjadikan satu semuanya (uniformitas) Implikasi dari persepsi yang salah menyebabkan penjabaran berikutnya mengalami distorsi. Maka sangat tidak mengherankan jika ada pemimpin gereja yang pesimis bahwa oikumene adalah SEBUAH KEMUSTAHILAN. Mengapa mereka pesimis ? karena mereka berpikir bahwa Keesaan atau oikumene adalah penyeragaman. Dari awal model oikumene tidak dimaksudkan penyeragaman. Berarti oikumene adalah usaha radikal yang mana seluruh gereja, dengan berbagai latar belakang, berlainan suku, bahasa, kebudayaan dan tradisi dileburkan menjadi satu. Pada akhirnya oikumene harus dimaknai sebagai suatu sikap iman yang mendorong gereja-gereja untuk berjalan bersama-sama pada satu jalan dan arah yang sama. Esensi oikumene tidak bisa dilepaskan dari akar kelahirannya bahwa Pada hakekatnya gereja itu sudah satu dalam Kristus yang adalah kepala gereja. C. LATAR BELAKANG OIKUMENE Para sarjana dan Sejarawan gereja tidak memiliki kata sepakat perihal titik tonggak kelahiran gerakan oikumene yang bertalian dengan gereja. Seperti halnya dengan

kekristenan di Indonesia yang merupakan "barang impor" dari Eropa, demikian juga dengan Oikumene. Oikumene merupakan warisan dari gereja-gereja di Eropa yang kemudian mendarat di bumi Indonesia. Namun kapan gerakan Oikumene itu dimulai? Para ahli sejarah gereja cenderung memilih konperensi Pekabaran Injil Sedunia di Edinburgh 1910, sebagai titik mula lahirnya gerakan Oikumene Internasional. Walaupun sebenarnya Gerakan Oikumene sudah dirintis pada zaman Reformasi bahkan sebelumnya,

di mana gereja-gereja di Eropa mulai mengadakan pendekatan untuk mewujudkan kesatuannya. Tetapi jika diselidiki lebih jauh, sebenarnya sebelum konperensi Edinburgh 1910, pergerakan Oikumene baru dirintis oleh beberapa negara dan belum dalam kategori Internasional. Nanti pada konperensi Edinburgh baru dapat dikatakan Internasional, karena terdiri dari berbagai negara di dunia dan diikuti oleh 1200 delegasi dari 159 Badan Misi. Salah satu yang berhasil disimpulkan dalam konperensi itu yakni mengenai kerja sama dan pemupukan keesaan. Hal ini juga membawa gereja yang muda untuk memikirkan ke arah gereja yang dewasa. Hal-hal ini penting bagi gerakan keesaan gereja di kemudian hari, khususnya untuk gereja-gereja di Indonesia yang masih muda. Pada tanggal 22 Agustus 1948 diadakan pembentukan DGD di Amsterdam, yang merupakan penggabungan dari Gerakan Life and Work dan Gerakan Faith and Order. Dewan ini mengadakan sidang raya I yang dihadiri oleh 351 utusan dari 147 gereja dan di dalamnya termasuk perutusan dari Indonesia. DGD (Dewan gereja-gereja sedunia) yang merupakan hasil dari Gerakan Oikumene, memberikan suatu perkembangan yang baru bagi Gerakan Oikumene. Sebagai realisasi di Indonesia, pada tanggal 6-13 Nopember 1949 diadakan konperensi persiapan pembentukan DGI di Jakarta; dan akhirnya pada tanggal 25 Mei 1950 terbentuklah DGI (setelah SR X th. 1984 di Ambon, berubah nama menjadi PGI), yang juga merupakan hasil dari gerakan Oikumene. Dan selanjutnya PGI menjadi motivator utama bagi gerakan Oikumene di Indonesia. D. SIGNIFIKANSI OIKUMENE DALAM PERSPEKTIF EKLESIOLOGI Topik ini akan dibahas di bab berikut, namun platform tentang nilai penting dan tujuan oikumene sepantasnya dipetakan dari awal. Ada beberapa kisi yang menarik dalam mempelajari gerakan Oikumene :

Pertama, keragaman di Tubuh

Kristus

atau gereja, pada satu

sisi sebagai

keindahan gereja,3 tapi di sisi lain juga sebagai bom waktu yang bisa membumi hanguskan eksistensi dan missi gereja. Kedua, gereja bukan komunitas fiktif di dunia. Pergulatan gereja dalam membangun eksistensinya di dunia, bukan saja untuk kepentingan pembangunan jati dirinya, tetapi juga predikatnya sebagai garam dan terang dunia4 (Mat. 5:13-16). Jatuh bangunnya gereja untuk meraih prestasi gemilang mewujudkan organisme yang

menerangi sangat menarik untuk dikaji.

D. A. Carson, Gereja Jaman Perjanjian Baru & Masa Kini (Malang : Gandum Mas, 1997), h.

55-56.

John Stott, Isu-Isu Global (Jakarta : Yayasan Komunikasi Bina kasih/OMF); band. John Stott, The Living Church, (Jakarta : BPK. Gunung Mulia) dan D. A. Carson , Gereja Jaman Perjanjian Baru & Masa Kini (Malang : Gandum Mas, 1997), h. 31.

BAB II TINJAUAN ALKITAB TENTANG OIKUMENE Kata Oikumene dalam Alkitab dipergunakan beberapa kali. Dalam septuaginta, kata Oikumene diterjemahkan dari bahasa Ibrani untuk kata dunia atau bumi. Sedangkan dalam Perjanjian Baru sendiri setidaknya ada 15 kali dipergunakan. Kata Oikumene kadangkadang dipergunakan dalam arti politis penuh, artinya seluruh wilayah kekaisaran Romawi (Lukas 2:1, bandingkan Kis. 11:28; 19:27; 24:5), tetapi ini asing dari pandangan P.B. itu sendiri. Pada bagian lain kata Oikumene diartikan secara teologis penuh, yaitu seluruh dunia yang akan ditaklukkan di bawah pemerintahan Kristus (Ibrani 2:5). Tetapi pada dasarnya kata Oikumene berarti seluruh dunia yang didiami. Injil diberitakan di seluruh dunia/oikumene (Mat. 24:14). Dunia/oikumene dihakimi oleh Yesus Kristus (Yoh 3:17, band. Lukas 21:26). Kerajaan dunia/oikumene ditunjukkan kepada Yesus oleh setan (Lukas 4:5). Demikian juga bagian-bagian lain (Kis. 17:6; Roma 10:18; Ibrani 1:6; 2:5; Wahyu 3:10; 12:9; 16:14) diulang, atau pengembangan dari arti di atas. Jadi sebenarnya secara harfiah arti istilah Oikumene menurut Alkitab jelas berbeda dengan yang diartikan oleh Gerakan Oikumene dewasa ini. 4.2. Keesaan menurut Yohanes 17:20-26 Tujuan utama Gerakan Oikumene yakni terwujudnya keesaan gereja. Dan sebagai landasan Alkitabnya sering menggunakan Yohanes 17:21. Tetapi apakah memang Keesaan Gereja yang telah dirumuskan itu sesuai dengan Yoh. 17:21? Ada beberapa bagian Alkitab yang ada sangkut pautnya membicarakan mengenai keesaan gereja. Salah satu di antaranya yaitu terdapat di dalam Yohanes 17:20-26. Bagian ini menunjukkan perhatian Tuhan Yesus yang khusus untuk semua orang percaya/gereja yang universal. Perhatian yang dominan dalam bagian ini adalah merupakan suatu kesatuan dan kemuliaan Ilahi. Tetapi apa yang dimaksud kesatuan di sini? Kesatuan orang percaya dibandingkan dengan kesatuan antara Bapa dan Anak (ay. 21a). Sifat kesatuan ini bukan persamaan melainkan
7

merupakan suatu analogi. Tetapi yang jelas bahwa kesatuan antara orang percaya permulaannya hanya mungkin diperoleh dalam hubungan Bapa dan Anak. Namun selanjutnya kesatuan yang dimaksud dalam doa Tuhan Yesus ini dapat ditafsirkan dalam dua cara; yaitu: 1. Keberadaan kesatuan di antara orang percaya dan kesatuan antara Bapa dan Anak ada dalam kekekalan. Keduanya ini jelas sifat dasar kesatuan antara Bapa dan Anak yang rohani dapat bersatu menghadapi dunia ini. Ketika orang percaya bersatu dalam iman mereka ini, maka mereka mempunyai kuasa dan pengaruh dalam menghadapi dunia. 2. Kesatuan yang diutarakan oleh Berkouwer, yaitu yang dimaksud dalam bagian ini (Yoh. 17:21), bukan 'kesatuan yang mistik' atau kesatuan batiniah yang tidak kelihatan tetapi kesatuan kebenaran, pengudusan dan kasih sebagai suatu realitas yang nampak, yang dapat dilihat oleh tiap-tiap orang. Kedua cara/pandangan di atas mempunyai hubungan satu dengan yang lain. Kesatuan di antara orang percaya dalam realitas itu akan mungkin karena terlebih dahulu ada kesatuan kepercayaan dalam Kristus. Sebaliknya kesatuan rohani antara orang percaya perlu suatu perwujudan supaya dunia boleh melihat dan percaya. Hal keyakinan pada dasarnya adalah rohani; dan kesatuan di antara orang percaya pada hakekatnya adalah rohani (I Kor. 1:2,9; 12:12-13), tetapi juga perlu kenyataan/perwujudan dalam kehidupan (band. Efesus 4:1-6). Tuhan Yesus dalam doaNya mengungkapkan bahwa kesatuan itu pada dasarnya adalah rohani, namun hendaknya kesatuan itu ada dalam realitas, dapat dilihat oleh tiap-tiap orang. Pembahasan lebih lanjut akan menelaah mengenai kesatuan (kesatuan diartikan sama dengan keesaan, hal ini diterima oleh kebanyakan tokoh gereja hingga saat ini) di antara orang percaya. Kesatuan di antara orang percaya hanya dimungkinkan karena kepercayaan kepada Kristus (Yoh. 17:20). Kesatuan di antara orang percaya berhubungan dan berdasarkan pada kesatuan Bapa dan Anak. Kesatuan di sini erat hubungannya dengan kebenaran, kekudusan (ay. 17-19), kemuliaan (ay. 22,24) dan kasih (ay. 23,26), semuanya untuk dapat dilihat orang (ay. 21,24).
8

Bapa dan Anak secara zat/esensi adalah satu (Yoh. 10:30), sehingga apa yang Bapa miliki juga dimiliki oleh Anak (Yoh. 16:15). Tetapi kesatuan ini tanpa dinyatakan kepada manusia, maka itu tidak akan berarti dan tidak dimengerti oleh manusia. Sebab itu Kristus yang mulia harus datang ke dalam dunia untuk menyatakan hal ini (Yoh. 1:14; band. Yoh. 17:24). Kedatangan Kristus sejak semula yaitu melakukan kehendak Bapa untuk mati di atas kayu salib (Yoh. 3:14-17; band. Fil. 2:8). Kristus datang untuk menyatakan Allah Bapa kepada manusia (Yoh. 14:9-10). Tetapi dalam melihat hubungan Kristus yang unik dengan Allah Bapa, dan sekaligus memperkenalkan Allah Bapa kepada manusia, maka itu diwujudkan melalui perbuatan-perbuatanNya (Yoh. 14:11). Segala sesuatu yang Kristus lakukan dan katakan semuanya sesuai dengan kehendak Allah Bapa (Yoh. 8:28; 14:24). Jikalau kesatuan orang percaya ada dalam kesatuan Bapa dan Anak (ay. 21), maka kesatuan itu juga adalah dalam melakukan segala pekerjaan yang sesuai dengan Firman Tuhan, atau melakukan segala pekerjaan seperti Kristus melakukan pekerjaan Allah. Kesatuan di antara orang percaya/gereja akan terwujud jikalau orang percaya/gereja melakukan pekerjaan Tuhan sesuai dengan yang difirmankan Tuhan, dengan demikian barulah dapat membawa orang-orang untuk percaya kepada Kristus dan mengaku Kristus sungguh diutus Allah, sebagai Juru Selamat (ay. 21,23). Berhubungan dengan kemuliaan, jika orang-orang percaya menyatakan kemuliaan Kristus, maka ini akan menghasilkan kesatuan asasi. Pemahaman tentang kesatuan di antara orang percaya/gereja di atas, hampir sejalan dengan pandangan yang dikemukakan oleh Dr. Harun Hadiwijono yakni bahwa kesatuan yang dirindukan oleh Kristus dalam doanya itu, adalah terletak dalam berkata dan berbuat seperti yang difirmankan dan diperbuat oleh Bapa dan Anak: Perkataan dan perbuatan mereka harus mendemonstrasikan Firman dan karya Kristus dan Bapa. Di situlah mereka dipersatukan dengan Bapa dan Anak. Jikalau semua itu terjadi, maka dunia akan percaya bahwa Allah Bapa benar-benar telah mengutus Kristus untuk menyelamatkan dunia ini. Berdasarkan hal ini, maka tidak benar untuk menafsirkan doa Tuhan Yesus dalam Yoh. 17:20, 21, sebagai amanat untuk mendirikan satu gereja yang esa. 4.3. Keesaan menuju Kedewasaan Iman
9

Orang Kristen dipanggil untuk mendemonstrasikan perbuatan yang sesuai seperti difirmankan Tuhan sehingga tercipta kesatuan asasi. Namun bagaimana itu dapat terwujud dan apakah itu menjadi tujuan akhir? Dalam meneropong hal ini, Firman Tuhan akan dilandaskan menurut Efesus 4:1-16, di mana bagian ini juga sering dipergunakan para ahli/tokoh Oikumene dalam membahas mengenai Keesaan Gereja. Keesaan (=kesatuan) gereja adalah pekerjaan Roh Kudus. Hanya pekerjaan Roh Kudus sendiri yang memungkinkan kesatuan itu terwujud. Pengalaman dalam kesatuan ini hanya memungkinkan di antara mereka yang telah diterangi dan didiami oleh Roh Kudus (ay. 2-3, band. I Kor. 12:12-13). Pada dasarnya kesatuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus itu tidak terlihat, bersifat rohani. Tetapi hal itu kemudian akan diungkapkan secara nyata, terlihat melalui persekutuan di antara orang percaya. Dalam mencapai keesaan di antara orang percaya, maka hal pertama harus dimiliki oleh orang Kristen adalah kerendahan hati (ay. 2). Dengan, kerendahan hati akan mengantar seseorang untuk lemah lembut dan sabar; selanjutnya dalam kasih akan membawa kerja sama di antara orang percaya, karena kasih itu tidak mementingkan diri sendiri, tetapi mau toleransi dengan yang lain (I Kor. 13:4-7). Kesatuan di antara orang percaya/gereja bukan merupakan tujuan akhir, melainkan kesatuan itu mempunyai tujuan untuk pengembangan pelayanan yaitu pembangunan tubuh Kristus. Jadi keesaan itu dapat terwujud dalam kepelbagaian karunia (ay. 11-12). Kesatuan dalam iman dibutuhkan untuk menuju kedewasaan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Dalam perwujudan keesaan, gereja perlu pengenalan yang lebih mendalam tentang Kristus, supaya dapat bertumbuh bersama dan tetap diikat dalam suatu pelayanan yang dihangatkan dalam kasih Kristus, yang memungkinkan pertumbuhan setiap anggota menuju kedewasaan iman (Ef 4:13-16).

10

BAB III MODEL OIKUMENE DI INDONESIA

Perkembangan oikumene

yang

pada

mulanya

merupakan

kesadaran

pentingnya

keesaan gereja telah menjadi usaha dan model membangun keesaan gereja. Namun sebelum mempelajari model oikumene di Indonesia, adalah masuk akal jika sisi penghalang atau rintangan besar gereja di Indonesia dalam membangun oikumene di Nusantara. A. Tantangan Oikumene Di Indonesia Usaha mewujudkan oikumene di Bumi Indonesia, bukan saja mengalami pasang surut, tetapi juga memiliki tantangan yang Bhineka. Kajian ini bersifat historis dan Indonesiawi, termasuk korektif (terbuka) terhadap kajian yang lebih bertanggung jawab dan ilmiah. Ada dua klasifikasi tantangan oikumenikal di Indonesia, Pertama adalah aspek internal (dari dalam gereja), dan yang Kedua adalah aspek eksternal (dari luar gereja). i. Aspek Internal a. Hubungan Katolik dan Kristen Pasca reformasi gereja yang dimotori Marthin Luther pada tahun 1517, maka Potret gereja yang tunggal am Katolik menjadi tidak utuh. Pembangkangan Luther melalui 95 dalilnya di gereja Wittenberb merupakan perlawanan terbuka terhadap otoritas dan ajaran Gereja Katolik Roma. Perjuangan Luther bukanlah perjuangan pertama, karena sebelum 1517 sudah ada benih-benih perlawanan5 yang dilakukan kaum posisi

Gerakan reformasi (pembaruan) yang terjadi di Perancis yang dipimpin oleh Peter Waldo, yang di kemudian hari dikaitkan dengan gereja Waldensis (abad 12) yang peta persebarannya ada di Italia atau dikawasan yang banyak imigran Italia seperti Uruguay. John Hus (Yohanes Hus; 1369-1415) dari Bohemia (Cekozlovakia) pada era yang sama dengan Waldo juga bergerak dalam perjuangan reformasi yang sama. Yohanes Hus dan aliran yang didirikan di kemudian hari bergabung dengan gereja Calvin. Lih. Yahoo Answers. Band. Henk Ten Napel, Kamus Teologia (Jakarta : BPK. Gunung Mulia).

11

gereja terhadap hegemoni gereja Katolik yang dianggap sudah menyimpang pada waktu itu. Harus diakui bahwa perbedaan antara Katolik dengan Protestan cukup mendasar dan pada point vital, Pertama dalam konteks Penafsiran Alkitab. Selain menganut paham SOLA SCRIPTURA, tapi juga SOLA GRATIA yang merujuk pada Bapa Paus, Bishop dan Para Pastorlah yang berhak menafsirkan Kitab Suci 6, karena mereka mendapat sola gratia (rahmat). Kedua, perbedaan dasar pada Matius 16:18, Gerja Katolik mengklaim batu karang Petrus adalah Santo Petrus, dan pada suk sesi berikutnya merujuk pada para Paus sebagai wakil Petrus. Sedangkan gereja Protestan meyakini bahwa Batu karang7 sebagai dasar gereja adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri. Ketiga, gereja Protestan hanya mengakui Kitab Suci sebagai sumber

pengajaran gereja, tetapi gereja Katolik mengakui tradisi suci sebagai pendamping Kitab Suci sebagai sumber pengajaran gereja. Keempat, pada symbol salib di Protestan tidak ada Tubuh Kristus (corpus Christy), sedang Katolik sebaliknya. Kelima, katolik mengakui ada 7 macam sakramen, yaitu Baptis, Krisma, tobat, ekaristi, imamat, pernikahan dan sakramen pengurapan orang sakit. Protestan hanya memiliki dua sakramen, yaitu Baptisan air dan Perjamuan Kudus. Keenam, gereja Katolik merupakan Persekutuan para kudus (santa), dan mereka menjadi perantara para umat ber-devosi, asalkan tetap ditujukan kepada Tritunggal. Protestan menolak ajaran seperti ini, karena hakekat gereja adalah persekutuan orang percaya kepada Kristus dan hanya Kristus lah sebagai pusat iman (Kristosentris). Pada posisi sepeti inilah, oikumene Protestan dengan Katolik berhadapan dengan tembok besar dan tebal. Oikumene yang diakui Katolik adalah oikumene homogeny (di dalam Tubuh Katolik). Hubungan Katolik dengan Protestan bukan saja mengalami pasang surut, tetapi berat karena merupakan dua kekuatan besar aliran dunia dalam hal religi. b. Pluralitas di Tubuh Protestan Pasca pemisahan diri dari gereja Katolik, aliran Protestan mengalami dinamika yang luar biasa dan kompleks. Ketika gerakan reformasi masih berumur jagung, sudah
6 7

Stefan Leks, Kanon Alkitab (Yogjakarta : Kanisius). Donald Guthrie, Teologia Perjanjian Baru jilid I, III (Jakarta : BPK. Gunung Mulia, 1994).

12

Nampak benih resistensi, para pelopor reformasi, sudah berselisih tentang doktrin, seperti Marthin Luther dengan Zwingly. Embrio perpecahan dari perbedaan, semakin kuat dan bias dengan munculnya pengelompokan Methodis, Wesleyan, Lutheran, Baptis, Injili, Calvinis. Di perkembangan selanjutnya Tubuh Protestan semakin membengkak dengan menempelnya aliran Pentakosta, Advent hari Ketujuh, Bala Keselamatan, dan terakhir adalah Kharismatik. Jika dibedah dengan saksama maka Pluraliatas di tubuh Protestan umumnya

disebabkan atau juga dilatari karena : perbedaan teologi, Organisasi gereja, Orientasi Missi, Pemerintahan Gereja, Liturgi dan Tradisi. Aliran Protestan di Indonensia warnanya semakin terorganisir dengan tampilnya organisasi Aras Nasional, seperti : PGI (Persekutua Gereja di Indonesia), PGLII (dulunya PII = Persekutuan Injili Indonesia), GBI (Gereja Baptis Indonesia), GMAHK (Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh), PGPI (Persatuan Gereja Pantekosta Indonesia), Bala Keselamatan. Secara eksplisit organisasi gerejawi yang beragam ini merupakan cerminan

bahwa oikumene di Indonesia sangat menantang dan Potensial. (27/8/13) c. Pluralitas dalam teologi Protestan Pokok bahasan ini merupakan akar dari pembahasan sebelumnya. Ragam organisasi aras nasional merupakan implikasi dari pluralitas teologia protestan di Indonesia. Pada awal persebarannya, hanya ada dua kekuatan kekristenan, yaitu Katolik dan Protestan. Pada perkembangan selanjutnya aliran Protestan di Indonesia mengalami dinamika yang atraktif. Semula hanya dipisahkan dengan hanya Calvinis dan Arminian,

selanjutnya meluas berbentuk percabangan-percabangan (sub organisasi/sub teologi). Kelompok Calvinis mutasi menjadi Injili, Reformed dan Oikumenikal (mainstream). 8 Pengelompokan ini jika didiagnosis akan mengerucut pada perbedaan teologi. Dan jika dirunut lagi, maka akan muncul tema-tema teologi yang menjadi akar pluralitas di Protestan. Beberapa tema yang menjadi titik resistensi adalah : Soteriologi,

Stevri Lumintang, Teologia Reformasi (Batu : YPPII)I

13

eskatologi, Pneumatologi dan Missi. Khusus soteriologi menjadi topic yang paling dominan memberi sumbangsih terjadinya keragaman teologia di Tubuh Protestan. d. Gerakan Pantekosta-Kharismatik dan dilematikanya Gerakan Pantekosta merupakan gerakan kebangunan rohani dalam kekristenan modern yang cukup mengubah peta perkembangan agama Kristen 9. Revolusi gerakan kesucian lebih tajam, revolusi ibadah yang tidak lagi formas-liturgis, revolusi pemberdayaan kaum awam, revolusi penginjilan dan revolusi konsep gereja local. Khusus point terakhir, gereja local yang dipahami sebagai komunitas orang-orang Kristen dari suatu organisasi gereja dan beroperasi melalui fasilitas bangunan sebagai sarana tempat ibadah, telah bergeser pada unit kecil (jumlah sangat minim) orang-orang Kristen yang beribadah kepada Tuhan, tanpa dukungan tempat yang ideal. Gerakan Pantekosta akhirnya menjelma menjadi gereja atau sebagai komunitas yang eksistensinya diakui, walaupun melalui proses yang lumayan rumit dan panjang. Hal tidak lepas dari respon gereja arus utama (mainstreams) yang lebih dahulu berkiprah. Bahkan sempat gerakan Pantekosta, diposisikan sebagai aliran yang bidat. Gerakan Pantekosta memiliki tiga pilar idealism dalam gerakannya10 : Pertama, Orthodoksi (Keyakinan yang benar). Semangat mengembalikan Alkitab sebagai pusat kehidupan kekristenan, yang pada abad ke 19 mulai diracuni teologia modern yang dimotori Karl Barth dan Rudolph Bultmann11. Alkitab yang selama ini menjadi pusat teologi, mulai digoyang, namun pada saat yang bersamaan muncul gerakan Pantekosta yang dengan tulus menerima dan meyakini innerancy Alkitab yang justru mulai diragukan para teolog modern yang notabene berumah di gereja arus utama. Dr. Jackie David Johns dalam bukunya Kepemimpinan Formatif Pentakosta12, mengamati bahwa Alkitab adalah refensi vital bagi gerakan Pantekosta. Perjumpaan Alkitab dengan orang Kristen, dianggap perjumpaan dengan Allah

Sumral Lester, Perintis Iman (Jakarta : Yayasan Pekabaran Imanue, 1997l), h. 43. Wikipidia.org 11 Lih. Harvie Conn, Teologia Kontemporer (malang : SAAT, 1996) dan Band. Etta Linneman, Teologia Kontemporer (Malang : Dept Literatur Yppii, 1996). 12 Wikipidia.org
10

14

sendiri. Bagi gerakan Pentakosta, Alkitab dan Roh Kudus memiliki peran sangat penting dalam spiritualitas Pantekosta. Kedua, ortopati (perasaan yang benar). Rasionalisme telah mengebiri perasaan manusia dalam beberapa percaturan kehidupan. Emosi dipasung karena dianggap labil dan bertentangan dengan rasio. Teologia modern nampaknya mengaminkan apa yang diusung oleh alam pikir manusia modern. Gerakan Pantekosta mencoba menerobos kekakuan dalam beragama, dengan memberikan ruang bebas untuk emosi manusia berekspresi dalam ibadahnya kepada Tuhan. Ibadah gereja yang kaku dan beku dianggap bagian dari ibadah yang anti emosi. Penerjemahan orthopati Nampak pada ekspresi sukacita, tepuk tangan, menangis dalam ibadah di gerakan Pantekosta. Harus diakui penyimpangan tetap ada dalam penonjolan perasaan lebih daripada rasio, dan salah satunya adalah gerakan Pantekosta diposisikan sebagai gerakan Kekristenan yang anti intelektual.13 Ketiga, Ortopraksis (refleksi dan penerapan yang benar). Sejarah gereja bagai siklus musim. Ada masa-masa gereja beku spiritualitas, ada masa bergairah dalam spiritualitas. Periode-periode dalam sejarah gereja nampaknya hanya kita jumpai warna pengkutuban seperti itu. Hanya berumur 3 abad gereja bergairah membangun Siritualitas pasca reformasi melalui gerakan Protestan yang dipelopori Luther dan Calvin. Akhrinya gerakan Protestan kembali masuk pusaran Syndrome stagnan, bahkan membiarkan teologi modern berkiprah dalam gereja modern, yang mulai anti

Orthodoksi, hal-hal adikodrati dan nilai-nilai kekristenan lainnya yang selaras dengan ajaran gereja rasuli. Bagi gerakan Pantekosta Alkitab bukan sekedar menjadi bagian penting dalam ibadah (dikhotbahkan), tetapi juga untuk ditaati / dipraktekkan. Spirit inilah yang ditekankan oleh gerakan Pantekosta. Alkitab harus kembali menggarami dan menerangi setiap sendi kehidupan gereja non ibadah, seperti pernikahan, dunia kerja, hubungan dengan sesama dan sendi kehidupan lainnya. Ron Auch, penulis gerakan Pantekosta di dalam Krisis14, seolah mengingatkan kita kembali pada siklus

13 14

John Stott, Berpikir dan Beriman (Jakarta : PERKANTAS), h. 13. Ron Auch, Gerakan Pantekosta Di dalam Krisis (Malang : Penerbit Gandum Mas).

15

sejarah, akhirnya gerakan Pantekosta menjadi stagnan kembali dan digantikan oleh gerakan Kharismatik atau neo Pantekosta. (3/9/13) Kelemahan dari gerakan dan gereja Pantekosta dalam perspektif oikumene, cenderung anti social. Gerakan Pantekosta dan kharismatik cenderung menempatkan diri sebagai kelompok ekslusif. Hal ini harus dipahami karena bagi gerakan kharismatik dan juga Pantekosta, menjauhkan diri dari dunia adalah langkah Alkitabiah untuk mewujudkan kekudusan. Gerakan Pantekosta cenderung menghakimi gerakan atau gereja non Pantekosta sebagai komunitas yang sesat dan tanpa Roh Kudus. Kesadaran pentingnya ber-oikumene di kalangan Pantekosta muncul ketika mereka juga menyadari pentingnya system organisasi gereja yang lebih kuat. Pada tahap inilah, gereja Pantekosta mulai membuka diri untuk terbuka pada aliran lain yang memiliki system organisasi yang sudah baku dan tertata. Dalam mempelajari oikumene, maka kita tidak bisa melepaskan diri dari gerakan misi, karena titik tumbuk, titik temu dan titik perceraian ada di missi.

Misi dalam sejarah gerakan misi sedunia, yang terpolarisasi dalam dua kubu, yakni oikumenikal dan evangelikal / injili. Baik oikumenikal maupun injili, keduanya memulai pada konsep misi yang sama, yakni konsep misi warisan orthodoxy, namun kemudian keduanya, masing-masing berubah membentuk kutub polarisasi, yang masingmasing jatuh pada upaya mengformulasi misi secara sempit. Kubu oikumenikal sangat menekankan pada pemahaman "kontekstual", sehingga cenderung meninggalkan atau mengabaikan "teks", sedangkan kaum injili sangat menekankan pada pemahaman misi yang "tekstual", sehingga cenderung mengabaikan"konteks".

Reformed lebih banyak dikenal dengan doktrinnya, dari pada misinya. Bahkan sudah bukan rahasia lagi, terdengar atau terucap bahwa doktrin reformed bertentangan dengan misi gereja-gereja masa kini. Komentar mereka ini, tentu bukanlah komentar tanpa dasar, oleh karena pengaruh kaum Reformed liberal (teolog liberal) yang tentu telah

16

menyimpang dari azas-azas utama ajaran Reformed (Calvinisme). Selain itu, banyak misiolog memandang sistem teologi Reformed dengan sebelah mata, hal itu tidak bisa disalahkan oleh karena yang mereka lihat ialah apa yang ditampilkan oleh para penganut Hyper-Calvinist, yang memahami sistem teologi Reformed secara keliru dan ekstrim. Sedikitnya, inilah tantangan misi kaum Calvinist masa kini, khususnya di Indonesia. Di Indonesia, paling sedikit ada dua paradigma misi kaum Reformed. Pertama ialah paradigma misi kaum Reformed yang berada di bawah payung Persekutuan GerejaGereja Indonesia (PGI) atau yang menyebut gereja aliran arus utama (Oikumenikal). Kedua ialah paradigma Calvinist yang menyebut diri Reformed Injili Indonesia.

Secara statistic Tantangan gereja reformed di dunia, secara khusus di Indonesia ada empat golongan. Pertama, ialah dari golongan non reformed, seperti kaum Pelagius

dampai arminianisme. Soteriologinya yang Anthropo-centris sangat mendukung gerakan misinya. Dan kelompok ini adalah pelaku misi mayoritas di Indonesia. kedua, dari golongan kaum reformed yang murtad yaitu penganut metode historis kritis (kaum liberal). Uniknya walau ajaran mereka liberal namun mereka merasa bagian dari

reformed. Golongan ini memandang bahwa orang Kristen dan non Kristen adalah setara dalam misi karena sebagai agen misi Allah di dalam dunia ini. Ketiga, yaitu golongan hyper-Calvinisme, semula mereka seirama dengan reformed namun karena tidak puas dengan beberapa topic ajaran teologi reformed seperti dosa asal mula dosa yang mereka yakini sebagai Allah lah penciptanya. Kelompok ini juga memaknai kedaulatan Allah sedemikian rupa dan akhirnya mengabaikan sisi tanggung jawab manusia. Tentu hal ini sudah jauh dari yang dimaksudkan Calvin dan Calvinisme. Implikasi pandangan kelompok ini akhirnya berimplikasi pada ranah praktika kehidupan Kristen, secara khusus tugas misi gereja. Keempat, golongan Calvinis yang salah kaprah. Penekanan mereka bermuara dari keyakinan Calvin tentang Kerajaan Allah yang menggarami dunia. Membawa kaum ini hanya menekankan satu bidang misi saja, yaitu misalnya bidang politik, sehingga justru melahirkan makna misi yang tidak seimbang bahkan tawar. Dengan kasus seperti ini pun, kaum reformedlah yang kena getahnya, dituduh telah menyimpang dari panggilan Allah.

17

Keempat

golongan

ini

tentu

secara

eklesiologis

telah

member

andil

terpojoknya kaum reformed sebagai kelompok yang adem ayem dalam penginjilan atau bermisi. Namun demikian apa yang dipikirkan dan dilakukan oleh keempat kelompok tersebut bisa menjadi referensi pembanding kaum reformed dalam

bermisi, tentu sebagai referensi sekunder. Jika kaum reformed mau membangkitkan tanggung jawab misinya di

Indonesia, maka bukan semata-mata karena sengatan empat golongan tersebut, tapi harus merunut dan memformulasikan paradigma misinya dengan melihat data sejarah sejak abad 16 sampai abad yang lalu. Paling tidak dari diagnosis sejarah ada beberapa hal yang mengemuka atau menonjol dalam gerakan misi kaum reformed : (1). Hampir lima abad kaum reformed berkibar, namun topic yang hangat

diperbincangkan dibahas, didiskusikan dan diperdebatkan adalah tema-tema doctrinal. Energy perhatian daripada golongan reformed tereduksi dengan usaha pemberdayaan dan pematangan doctrinal. (2). Tentu formulasi ini berimbas pada langkah melihat doktrin dengan

implementasi dalam praktek hidup, termasuk pada tanggung jawab misi. Dalam konteks inilah kaum non reformed akhirnya mengambil kesimpulan bahwa antara pemahaman doctrinal dengan tanggung jawab misi tidak ada hubungannya. Dan bukan hanya itu, tanpa akurasi data riset yang bertanggung jawab kelompok ini menghakimi kaum reformed mandul dalam bermisi karena terjebak ajaran kedaulatan Allah dan predestinasi. Penulis buku mencoba menjernihkan simpang siur penyebab mandulnya tanggung jawab misi golongan reformed sebenarnya bukan karena system dan substansi doktrin reformed yang salah. Menurut pandangan penulis penyebabnya merosotnya tanggung jawab misi kaum reformed di dunia dan Indonesia adalah karena pengaruh kaum hyper-calvinisme dan teologi liberal yang berjubah reformed tapi mereka tidak memiliki paradigm misi yang memadai. Ada dua penyebab sementara yang menjadi persoalan misi kaum reformed. Pertama, system doktrin yang diasumsikan mempengaruhi paradigma misi kaum
18

reformed. Sedangkan yang kedua ialah fenomena historis bahwa memang gereja-gereja yang menganut ajaran Calvinisme (reformed) mengalami kemerosotan dalam bermisi dibandingkan kelompok gereja non Calvinis. Tentu penulis buku ini tidak menyorot seorang diri perihal kemerosotan misi kaum reformed : (10/9) a. Greenway mengamati dan berkomentar bahwa persoalan system doktrin dan kenyataan historis harus diakui sebagai penyebab kemerosotan gereja reformed dalam bermisi. Termasuk di Indonesia. b. Para akademisi, Kalangan STT, pendeta gereja-gereja dan misiolog dan praktisi misi menyorot bahwa system doktrin telah menggeser paradigma misi gereja reformed di Indonesia. Akhirnya mandul dan stagnan, padahal jika dibandingkan dengan sejarah pekabaran Injil di Indonesia, justru gerejagereja reformed yang menjadi perintis misi (babat alas) lahirnya gereja di Indonesia. Penulis juga menambahkan bahwa disamping dua pokok persoalan di atas, secara khusus di Indonesia gereja-gereja berlatar belakang reformed kenyataannya tidak banyak berbicara dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan misi, seperi penginjilan, gereja-

penanaman dan pertumbuhan gereja, pengutusan tenaga-tenaga misi, penginjilan pribadi, pengumpulan dana untuk kegiatan misi lintas budaya dan pertemuanpertemuan doa misi. Inilah kondisi yang sedang terjadi di dalam gereja-gereja

reformed di Indonesia. TANGGAPAN DAN RELEVANSI Tanggapan personal ini tidak dimaksudkan untuk menyanggah apa yang sudah disajikan oleh penulis buku. Secara khusus gereja-gereja yang beraliran reformed, seharusnya berterima kasih atas terbitnya buku MISIOLOGIA KONTEMPORER yang telah memberikan kritik, argumentasi dan rekomendasi agar gereja aliran reformed bangkit untuk bermisi kembali. Untuk bermisi di Indonesia, ada beberapa saran sebagai tanggapan setelah membaca buku misiologia kontemporer, secara khusus bab VIII, point B.
19

a. Gereja reformed dan non reformed perlu bersinergi dalam menjalankan amanat agung Tuhan Yesus. Tidak mungkin misi diusung gereja tertentu. Sinergi sangat penting, karena beberapa alasan : i. Desaign tubuh Kristus sudah jelas, bahwa secara anatomi kita didesaign saling butuh, saling menunjang dan saling menghormati demi

terwuudnya unity, termasuk unity dalam bermisi. ii. iii. Sinergi menghasilkan energy / daya yang lebih besar atau maksimal. Sinergi membuat kita lebih tangguh dan kuat. Alam sendiri memberi analogi bahwa berjejaring (jala) mampu menangkap ikan lebih banyak dibanding dengan model pancing (satu pancing satu ikan). b. Gereja reformed di Indonesia perlu belajar dari sejarah misi gereja reformed belanda di Indonesia, pada intinya mereka giat dan taktis dalam bermisi. Walau pun sempat ada tuduhan sejarah bahwa gereja membonceng pihak colonial. Jika gereja reformed yang merintis misi di Indonesia ada masalah di system

teologinya, pasti misi mereka juga stagnan. Dengan demikian kita sudah diyakinkan bahwa gereja reformed belanda yang memulai misi di Indonesia sudah menang dan dewasa c. dalam mengelola perbedaan internal alirannya sehingga energy misi tidak tereduksi oleh karena perdebatan. d. Gereja reformed dan non reformed perlu membuka ruang diskusi yang terbuka dan dewasa dalam membicarakan paradigma misi masing-masing. Dengan forum diskusi seperti ini akan meminimalisir semangat saling menghakimi, merasa paling benar, merasa paling missioner. Dan sangat mungkin akan terjadi semangat saling koreksi dari masing-masing kelompok. Jika suasana dan

semangat saling mengenal dan memahami terwujud, maka sangat mudah merealisasikan kerjasama dalam bermisi. e. Dalam bermisi, masing-masing kelompok harus menghargai paradigma masingmasing. Orang bijak berkata bahwa UNITY IS NOT UNIFORMITY (kesatuan bukalah keseragaman). Keragaman model bermisi penyebabnya terlalu sulit diuraikan. Paradigma teologi misi yang berbeda, konstruksi teologi nya, SDM

20

dan

tenaga-tenaga

misi yang variatif, bidang

minat

misi

termasuk

usia

pelayanan badan misi sangat mempengaruhi pelayanannya. f. Jangan pernah meninggalkan doa dalam bermisi. Yesus, Paulus sebagaimana dicatat oleh Perjanjian baru meyakini bahwa DOA merupakan factor penting. Semua pola dan metode misi atau pelayanan, tanpa doa hanya lah metode (Billy Graham, damai dengan Allah) yang pengaruhnya hanya sebatas wilayah akaliah / jasmaniah. Narrator Injil Lukas mencatat sebuah kronologi tentang DOA dan dampaknya, akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.Kuasa Tuhan menyertai Dia, sehingga Ia dapat menyembuhkan orang sakit (Lukas 5:16,17). Lukas di bagian kitab lain yang ditulisnya juga

memberikan catatan yang hampir sama menekankan tentang urgensinya doa, dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani (Kis. 4:31). Dari catatan Lukas, kita diberi

gambaran yang jelas tentang makna doa bagi seorang juru selamat kita bahwa, i. Doa adalah prioritas utama di atas agenda apa pun. Kristus yang sedang popular (naik daun), dan sibuk tidak mau kehilangan kesempatan sang indahnya berelasi dan berkomunikasi (Intimacy) empunya pelayanan / ladang misi. ii. Doa adalah sarana menghadirkan atau pun berada di zona kehadiran Allah. Ungkapan kuasa Tuhan menyertai Yesus, juga menegaskan bahwa Kuasa yang berasal dari Allah lah yang terpenting di atas metode, atau pun sumber daya manusia. iii. Mukjizat, tanda-tanda ajaib, seperti kesembuhan adalah konfirmasi dengan Bapa,

bahwa Allah yang diberitakan Kristus sebagai Pribadi yang omni potent. Apa yang terjadi di gereja mula-mula bahwa keberanian dan semangat dalam bermisi bukan berasal dari factor yang dari luar diri para murid, tapi dari sang Parakletos yang bekerja dari dalam hidup para murid yang sedang berdoa. Sedangkan Paulus, seorang misiolog dan teolog yang lengkap pada zamannya pun meyakini kuasa Allah dalam doa, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah
21

setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan segala permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang kudus, juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, (Efesus 6:18, 19). Tanggapan penutup, Prof. Mel Louck, PhD, Guru besar sejarah gereja di Fuller Theological

seminary berkata, events have effect, ideas have consequences, Sampai kapan pun gerakan misi di planet kita akan bergerak dalam irama yang berbeda. Gereja mula-mula sendiri dalam menorehkan sejarah misi tidak terlepas dari perseteruan karena

perbedaan. Bagaimana paulus mencela Petrus dan pada bagian episode sejarah rasuli yang lain, paulus berseberangan dengan Barnabas (Kis.15:35-41), catatan sejarah ini tentu akan menjadi pengingat bahwa sampai kapan pun perbedaan tetap mewarnai perjalanan misi gereja. Jika narrator Kitab kisah para rasul kita ijinkan memberikan testimony ia akan dengan lancer bertutur dan menyampaikan analisisnya bahwa, Pertama, perbedaan adalah hal yang lumrah dalam tubuh Kristus. Ragam paradigma misi, warna teologi dan minat bidang misi harus dipandang sebagai point to rich, khazanah yang akan memperkaya tubuh Kristus. Bayangkan jika pluralitas dalam bermisi tidak hadir, maka persemaian Injil juga monoton. Kedua, dibutuhkan sikap paroxusmo,j parachusmos namun data perselisihan tajam, yang dewasa dalam merespon perbedaan. frase ((sharp disagreement), bukan saja bermakna unsur semangat leksikal menyiratkan adanya

pemaksaan untuk sepaham, otoriter dan kasar. Paulus di kemudian hari menyadari noda hitam ini, sehingga Ia berpesan karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihiNya, kenakanlah belaskasihan, kemurahan, rendah hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang akan yang l ain(Kol. 3:12, 13a). dan paulus di kemudian hari juga membutuhkan Markus yang pernah ia kecam dan remehkan, hanya Lukas yang tinggal dengan aku. Jemputlah Markus dan bawalah ke

22

mari, karena pelayanannya penting bagiku (2 Tim. 4:11). Point sejarah rasuli ini penting sebagai sikap dan pendekatan kita terhadap keragaman di ladang misi. Ketiga, fakta kebutuhan kasih karunia, dan sesudah diserahkan saudara-

saudara itu kepada kasih karunia Tuhan (Kis. 15:40b). di saat kelemahan, noda kepemimpinan dan rapuhnya system serta miskinnya metode misi, suatu fakta yang tak terbantahkan bahwa Allah sumber kasih karunia mengatasi problematika yang kompleks tersebut. Kita tidak boleh terus menerus larut dalam kecemasan jika melihat kelemahan di sana-sini, yang sepertinya akan merusak proyek misi Allah sebab Dia yang berdaulat dan memiliki ketetapan kekal pasti sanggup mengatasinya. Menjalankan misi Allah pada hakekatnya menyerahkan segala sesuatunya ke dalam campur tangan Allah yang kaya kasih karunia dan hikmat.

Pertanyaan Refleksi : 1. Secara sederhana apa pengertian oikumene ? 2. Mengapa gereja selalu terjebak dalam siklus sejarah, khususnya dalam hal kesuaman rohani ? 3. Jelaskan kelebihan dan kelemahan dari gerakan Pantekosta ! 4. Kapan kesadaran ber-oikumene muncul di kalangan Pantekosta ? jelaskan !

23

ii.

Aspek Eksternal

Membedah gerakan atau usaha oikumene tidak hanya aspek internal yang kita perhatikan, namun aspek eksternal juga perlu mendapat porsi perhatian, sehingga ada keseimbangan. Kehidupan kebangsaan kita, akhir-akhir ini agak terganggu. Terorisme, radikalisme dan intoleransi bukan saja menjadi ancaman bagi NKRI, tetapi juga perkembangan oikumene di Indonesia. Prof. B.J. Habibie15 Bangsa Indonesia sejak awal adalah bangsa majemuk yang terdiri dari berbagai suku, agama dan budaya. Kondisi ini merupakan kekayaan berharga dan dapat mendorong berbagai inovasi dan produktivitas jika masyarakat pandai mengelolanya (Kompas.com, Sabtu 4 Agustus 2012) Namun kesadaran akan pluralitas hari-hari ini sedang terancam tumbuhnya benih-benih intoleransi. Beberapa indicator yang muncul seperti, dengan

Pertama, Tawuran. Pertikaian yang melibatkan kelompok (pelajar atau masyarakat) marak terjadi akhir-akhir ini. Sebuah fenomena social yang sebenarnya bukan baru, tetapi eskalasi yang meningkat sepantasnya membuat kita prihatin. Masyarakat kita menjadi sensitive dan sangat reaktif terhadap perbedaan nilai atau apa pun. Krisis kearifan dan toleransi. Kedua, Kekerasan Terhadap Minoritas. Kasus kekerasan terhadap Ahmadiyah, HKBP dan GKI Yasmin yang belum tuntas adalah bom waktu yang membahayakan harmoni kebangsaan kita yang selama ini bercirikan toleransi. Pemerintah oleh berbagai kalangan dianggap mandul & cuek atas penjajahan modern ini. Tentu masih ada indicator-indikator lain yang mungkin lebih ideal, bisa kita jadikan ukuran. Resistensi beberapa elemen masyarakat di Indonesia ketika Presiden SBY menerima penghargaan World Statesman Award dari Appeal Of Conscience Foundations (ACF) di New York pada tanggal 30 Mei 2013 menunjukkan ada goresan luka atau ketidakpuasan elemen masyarakat atas penanganan penindasan terhadap kemajemukan. Pemerintah dianggap membiarkan adanya penindasan terhadap kaum minoritas yang berbeda dengan yang merasa berhak atas rumah kebangsaan ini.
15

Mantan Presiden Republik Indonesia, disampaikan pada acara SILATURAHMI DAN DIALOG CENDEKIAWAN LINTAS AGAMA, Jakarta 3 Agustus 2012.

24

Kehidupan kebangsaan kita, akhir-akhir ini agak terganggu. Terorisme, radikalisme dan intoleransi bukan saja menjadi ancaman bagi NKRI, tetapi juga perkembangan oikumene di Indonesia. a. Penganiayaan Sejarah gereja merekam bahwa penganiayaan terhadap gereja nampaknya menjadi pasangan yang serasi, atau sulit diceraikan dari keberadaan gereja. Ada banyak sebab terjadinya penganiayaan,16 mulai dari politik, ekonomi, SARA dan social. Pada awal perkembangannya, gereja sudah diwarnai faksi-faksi (1 Kor. Ps. 1-3), perselisihan Paulus dengan Barnabas (Kis. 15:35-41); Perselisihan Paulus dengan Petrus (Kitab Galatia), termasuk pelaksanaan konsili gereja pertama kalinya di Yerusalem (Kis. 15), menyiratkan bahwa gereja rawan pecah, dan berat untuk padu. J. I. Packer menyorot kerawanan ini berakar dari sitz im lebben para murid Kristus mula-mula yang berlatar Yahudi17. Pada zaman Kristus sendiri, Yudaisme sangat beragam faksinya, ada Yudaime politis (Kaum Zelot), ada Yudasime Konservatif (Orang Farisi dan ahli Taurat), namun juga ada Yahudi Moderat dan Liberal (Saduki). Penganiayaan didesain oleh pembuatnya untuk memecah belah gereja,

membuat gereja tertekan dan hancur, tapi sebaliknya gereja justru bersehati berdoa (Kis. 4:23-37 dan Yoh 20:19-29). Demikian pula dalam perjalanan sejarah gereja modern di Indonesia pada periode 1995-2000, gereja di Indonesia mengalam tekanan-tekanan besar dari Pemerintah maupun oposisi gereja, namun pada era ini gereja bersatu, lahirlah organisasi-organisasi oikumenis atau organisasi-organisasi gerejawi yang selama ini sectarian sempit, menjadi inklusif dan terbuka.18 b. Sekularisme c. Sinkritisasi
Pada awal kekristenan, Penganiayaan menjadi alat uji kemurnian iman gereja. Agama Kristen dianggap sebagai religio Licita (agama liar), menjadi dasar hokum terjadinya aniaya besar dan sistematis terhadap gereja. Lih. Yongky Karman, Bunga Rampai Teologi Perjanjian Lama ( Jakarta : BPK. Gunung Mulia, 2012); band. DIETRICH Kuhl, Sejarah Gereja (Batuu : Penerbit YPPII). 17 J.I. Packer & Merril C. Tenney, Dunia Perjanjian Baru (Surabaya : Penerbit YAKIN) 18 Bamag Surabaya, Seminar Wawasan kebangsaan
16

25

d. Politis e. Revolusi Islam B. Model-model usaha Oikumene di Indonesia i. ii. iii. iv. v. vi. Model Oikumene Gereja Mainstream Model Oikumene Gereja Tanpa Tembok Model Oikumene Gereja Injili Model Oikumene Gereja Pantekosta-Kharismatik Model Oikumene Parachurch Model oikumene Lokal-sektoral

26