Anda di halaman 1dari 27

TUGAS HIDROMETRI DAN HIDROGRAFI PENGUKURAN DEBIT

Disusun oleh : Ani Hairani 09/285453/TK/35796

JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS GADJAH MADA 2013

PENGUKURAN DEBIT (DISCHARGE MEASUREMENTS)

4.1 PENDAHULUAN Pada saluran terbuka dikenal beberapa jenis aliran yang dapat diklasifikasikan berdasarkan perubahan kedalaman, debit, dan kecepatan aliran terhadap fungsi ruang dan waktu. Ditinjau dari aspek waktu, aliran dapat dibedakan menjadi dua, yaitu aliran tunak (steady flow) dan aliran tak tunak (unsteady flow), sedangkan dari aspek ruang, aliran dibedakan atas aliran seragam (uniform flow), dan aliran tidak seragam (nonuniform flow). Untuk membedakan tipe aliran yang terjadi, dapat dilakukan dengan mengukur debit pada saluran terbuka. Secara umum, debit pada saluran terbuka mengambil konsep persamaan : Q=v.A Dimana Q (debit) dapat ditentukan jika luas area diketahui serta dengan melakukan pengukuran kecepatan. 4.1.1 Tujuan Pengukuran aliran bertujuan untuk perencanaan desain pada bangunan air, distribusi air irigasi, kebutuhan air kegiatan industri dan treatment plant, saluran navigasi, manajemen air pada daerah perkotaan maupun pedesaan, serta pada kegiatan monitoring.

4.2 METODE PENGUKURAN DEBIT 1. Single measurements a. Velocity area method b. Slope area method c. Dilution method 2. Continuous measurements

a. Stage discharge method b. Slope stage discharge c. Acoustic method d. Electro magnetic method d. Pumping Stations e. Flow measuring structures Dalam memilih metode pengukuran yang akan dilakukan, pelu memperhatikan dan mempertimbangkan beberapa hal seperti : Kondisi hidraulik Tingkat keakuratan yang dibutuhkan Kualitas SDM yang dimiliki Head yang tersedia Biaya operasional dan instalasi

4.3 VELOCITY AREA METHOD Metode ini didasarkan pada konsep Q = v . A dimana debit dapat diketahui dengan mengetahui luasan tampang melintang suatu saluran yaitu dengan melakukan pengukuran terhadap lebar saluran dan kedalaman tampang tersebut pada beberapa pias vertikal. Kecepatan rata-rata diperoleh dengan melakukan pengukuran kecepatan pada sejumlah titik vertikal.

Gambar 4.1 Tampang Melintang Saluran

4.3.1 Distribusi Kecepatan pada Tampang Melintang Saluran Akibat adanya permukaan bebas dan gesekan di sepanjang dinding saluran, kecepatan tidak terbagi merata dalam tampang saluran. Kecepatan minimum akan terjadi di dekat dinding saluran kemudian semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jarak menjauhi dinding. Distribusi kecepatan tersebut dapat digambarkan dengan garis kontur kecepatan yang menghubungkan titik-titik yang memiliki kecepatan yang sama seperti ditunjukkan pada Gambar 4.2. Terlihat bahwa kecepatan maksimum terletak sedikit di bawah permukaan akibat adanya pengaruh tegangan permukaan dan gesekan udara. Faktor lain seperti kekasaran dasar, bentuk tampang, kecepatan, dan kemiringan dasar saluran juga dapat berpengaruh terhadap bentuk distribusi kecepatan.

Gambar 4.2 Garis Kontur Kecepatan Selanjutnya, untuk dapat menentukan kecepatan rata-rata vertikal maupun kecepatan rata-rata tampang saluran tersebut, perlu dilakukan pengukuran kecepatan pada beberapa titik. Pada umumnya, pengukuran kecepatan titik dilakukan dengan menggunakan current meter dengan durasi waktu pengukuran minimum yang disarankan adalah 30 60 detik. Semakin banyak lokasi titik pengukuran akan semakin menunjang tingkat keakuratan data sehingga diharapkan data yang diperoleh dapat mendekati sifat aslinya. Gambar 4.3(a) dan 4.3(b) memperlihatkan hubungan tingkat keakuratan terhadap pertambahan jumlah titik pengukuran. Yang menjadi persoalan adalah berapa jumlah titik pengukuran yang dibutuhkan ? Hal tersebut tentunya tergantung pada kebutuhan akurasi, pertimbangan biaya, ruang lingkup survei (misal steady atau unsteady flow)

Gambar 4.3 (a) Jumlah titik pengukuran n dalam satu pias vertikal; (b) Jumlah vertikal m dalam satu tampang lintang Tabel 4.1 Jumlah pias vertikal untuk lebar tertentu

4.3.2 Penentuan Lokasi Pengukuran 1. Sebaiknya dipilih reach yang lurus dengan profil seragam dimana diharapkan alirannya searah longitudinal saluran.

Gambar 4.4 Jarak pengukuran yang disarankan dari belokan sungai

2. Memiliki

kedalaman

yang

cukup

untuk

mendukung

pencelupan

currentmeter yang efektif, penggunaan pelampung, atau alat ukur yang lain. 3. Arah reach sedimikian sehingga arah aliran sebisa mungkin mendekati arah tegak lurus terhadap arah angin dominan (mendukung efektivitas penggunaan pelampung) 4. Daerah dimana terjadi aliran vortex, backwater, ataupun deadline sebaiknya dihindari (sebaiknya menggunakan daerah hulu sebagai batasan kontrol) 5. Seluruh debit sebaiknya mengisi saluran dengan tampungan yang stabil dan dimensi geometri yang telah diketahui dengan baik. 6. Potongan melintang ditandai dengan rambu 7. Staff gauge atau water level recorder dipasang pada potongan melintang 8. Lokasi sebaiknya mudah diakses oleh surveyor 9. Berada pada kondisi sungai yang stabil 10. Dihindari lokasi yang berdekatan dengan pertemuan dua sungai untuk mencegah efek backwater

Gambar 4.5 Penempatan Stasiun Pengamat

4.3.3 Alat Ukur Kecepatan Aliran 1. Propeller Current meter Cara kerja alat ini menggunakan prinsip perputaran horizontal axis balingbaling oleh partikel air yang lewat. Satu putaran propeller sama dengan jarah tempuh partikel air yang sama dengan baling-baling propeller. Jumlah putaran tersebut kemudian dikonversikan ke dalam variabel kecepatan. Kecepatan minimum yang masih dapat diukur Propeller Current meter sekitar 0.03 0.06 m/s tergantung dari diameter dan baling-baling propeller. Besar error penggunaan alat ini dapat dikurangi dengan durasi pengukuran yang lebih lama, t > 60 s

Gambar 4.6 Propeller Current-meter

2. Cup-type current meter Terdiri dari sebuah baling-baling yang disusun dari sejumlah kerucut dengan sudut yang telah disesuaikan. 3. Electromagnetic flow velocity sensors (EMS) Menggunakan prinsip hukum Faraday, Sebuah konduktor yang bergerak di sekitar daerah magnet akan menghasilkan listrik. Air sebagai konduktor yang bergerak pada daerah magnet menimbulkan arus listrik (analog voltage) yang dianggap sebagai kecepatan aliran air. Probe terdiri dari sebatang logam yang ujungnya terdapat sensor elegtromagnetic untuk mengukur kecepatan dalam arah longitudinal dan

transversal. Sebelum dipakai harus dikalibrasi terlebih dahulu untuk memperoleh formula yang dapat mengkonversikan dari analog voltage yang dikeluarkan oleh sensor menjadi nilai kecepatan yang sebenarnya.

Gambar 4.7 Electromagnetic flowmeter type VM 201H (body unit) dan vector calculate equipment typeDV101

Gambar 4.8 Electromagnetic flowmeter type VMT2-200-08P (sensor)

4. Pelampung Pelampung adalah peralatan paling sederhana yang dapat digunakan untuk mengetahui kecepatan aliran. Dengan mengukur waktu tempuh pelampung melalui dua titik cross section yang telah diketahui jaraknya maka akan dapat diperoleh besar kecepatan aliran.

5. Pendulum-type meters Alat ini digunakan pada sungai yang dangkal atau pada saluran kanal. Sejenis benda logam atau plastik digantung dengan tali kawat yang dihubungkan dengan alat pengukur. Dari alat ukur, dapat diketahui besar sudut penyimpangan tali terhadap garis vertikal akibat aliran air yang kemudian dikonversikan ke dalam variabel kecepatan. Dalam penggunaan alat ini, perlu dilakukan koreksi terhadap lengkungan kawat.

Gambar 4.9 Tipe pendulum-type meter 6. Pitot Tube Pitot Tube merupakan sebuah tabung (pipa) dengan dimensi kecil yang dimasukkan dalam aliran permanen dari suatu fluida. Pitot Tube sering digunakan pada laboratorium hidraulika. Penentuan kecepatan

menggunakan prinsip persamaan Bernoulli dengan mengukur tinggi energi pada piezometer di lokasi-lokasi tertentu. V= 7. Doppler ultrasonic velocity sensors Alat ini mengukur kecepatan dengan mentransmisikan gelombang suara secara kontinyu ke dalam aliran air. Gelombang suara tersebut selanjutnya akan dipantulkan oleh partikel yang bergerak dan dibaca oleh receiver sensor.

4.3.4 Pengukuran Kecepatan 1. Merawas Pengukur langsung masuk ke dalam badan air dan melakukan pengukuran dengan alat ukur di tempat. Dalam pelaksanaannya perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: dilakukan pada lokasi sebatas pengukur mampu merawas posisi berdiri pengukur harus berada di hilir alat ukur arus dan tidak boleh menyebabkan berubahnya garis aliran pada jalur vertikal yang diukur hindari berdiri dalam air apabila akan mengakibatkan penyempitan penampang melintang apabila posisi arah aliran tidak tegak lurus terhadap penampang melintang sungai, maka besarnya sudut penyimpangan perlu dicatat untuk menghitung koreksi kecepatan di vertikalnya.

Gambar 4.10 Merawas

2. Pengukuran dari sisi jembatan Pengukuran dilakukan dari sisi jembatan bagian hilir aliran. Sebaiknya jembatan yang digunakan tidak terdapat pilar. Pengukuran dari sisi jembatan dilakukan apabila pada lokasi pos terdapat fasilitas jembatan, dengan kondisi kedalaman air lebih dari 2 m dan kecepatan airnya cukup deras sehingga tidak memungkinkan dilakukan pengukuran dengan menggunakan perahu. Keuntungan : Mudah menentukan posisi pengukuran

Kesulitan

: Keberadaan pilar dan abutmen dapat berpengaruh terhadap pola aliran. Perlu dipastikan pula bahwa pilar dan abutmen harus bersih dari debris yang terapung.

Gambar 4.11 Pengukuran dari sisi jembatan

3. Pengukuran dengan perahu melalui kabel melintang sungai Keuntungan : Pemosisian cepat dan akurat, tidak memerlukan angkur (jangkar) Kerugian : Menutup jalur perairan, hanya dapat diterapkan pada saluran yang tidak terlalu lebar

Gambar 4.12 Pengukuran dengan perahu melalui kabel melintang sungai

4. Perahu berjangkar (Anchored vessel) Keuntungan : Dapat menggunakan kapal yang lebih besar, tidak dibatasi oleh lebar sungai Kerugian : Perlu fasilitas jangkar (angkur), butuh kedalaman sungai yang cukup terhadap draft kapal, hambatan

angin, dibutuhkan waktu yang lebih untuk menentukan posisi atau titik pengukuran yang tepat 5. Cable ways Metode ini menggunakan alat bantu pengukuran berupa kereta gantung yang digantungkan pada kabel utama yang juga berfungsi sebagai alat ukur lebar sungai, dilengkapi dengan tempat duduk petugas pengukur dan dudukan sounding reel.

Gambarr 4.13 Metode Pengukuran dengan bantuan Cable ways

4.3.5 Penentuan Kecepatan Rata-rata dalam Satu Pias Vertikal Dengan berbagai kondisi di lapangan, pengambilan data kecepatan menjadi hal yang tidak mudah. Jumlah titik pengukuran yang tidak sedikit akan membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya. Agar pengukuran kecepatan efektif, sampel pengukuran kecepatan diambil pada titik-titik tertentu yang dirasa telah dapat

merepresentrasikan nilai kecepatan rata-rata. Berikut ini adalah tabel jumlah titik pengukuran yang disarankan pada kedalaman tertentu : Tabel 4.1 Jumlah titik pengukuran vertikal terhadap fungsi kedalaman air

Metode

Kecepatan Rata-rata

Keterangan

1 Titik

U 1titik

= U0.4D

Dimana 0.4D = 0.4 kali kedalaman dihitung dari dasar saluran

2 Titik

U 2titik

U 0,2 D U 0,8D 2

3 Titik

U 3titik

0.25U 0,2 D 0.5U 0,4 D 0.25U 0,8D 4

Selain metode di atas, juga terdapat beberapa metode lain, salah satunya metode integrasi dimana kecepatan rata-rata dihitung berdasarkan data pengukuran kecepatan pada beberapa titik arah vertikal. Kecepatan rata-rata kedalaman diperoleh dengan membagi luas area kurva dengan kedalaman total aliran dimana luas area kurva dapat didekati dengan menggunakan konsep metode integrasi numeris trapesium banyak pias.
Uy 1 Udy D y
y D

dengan
U y = Kecepatan rata-rata kedalaman (cm/s)

D y

= Kedalaman aliran (cm) = Posisi pengukuran dari titik referensi (cm)

4.3.6 Penentuan Total Debit dalam Satu Tampang Saluran 1. Metode Grafis Debit per unit lebar (q) diperoleh dari kecepatan rata-rata tiap pias vertikal dikali dengan kedalaman, kemudain hasilnya diplotkan dan saling dihubungkan antar pias yang berdekatan. Luas area yang tergambar merupakan debit total tampang.

Gambar 4.14 Metode grafis

2. Metode Rata-rata Pias Debit per unit lebar dihitung mengalikan kecepatan rata-rata dengan kedalaman rata-rata antara dua pias yang berdekatan, lalu dikalikan dengan lebar masing-masing pias. Debit total merupakan jumlah dari keseluruhan debit per unit lebar.

Gambar 4.17 Metode rata-rata pias

3. Metode Tengah Pias Debit per unit lebar dapat dihitung dengan menggunakan persamaan di bawah ini

Gambar 4.18 Metode tengah pias

4.3.7 Pengukuran menggunakan Pelampung Metode pengukuran debit dengan menggunakan pelampung biasanya digunakan pada saat pelaksanaan pengukuran dengan current meter tidak memungkinkan untuk dilakukan,misalnya pada saat banjir atau ketika kecepatan aliran terlalu kecil. Dalam melakukan pengukuran menggunakan pelampung, sebaiknya dipilih reach dimana alirannya sebisa mungkin seragam (saluran lurus dengan tampang seragam). Prosedur pengukuran : 1. Membagi reach menjadi 3 section : hulu(1), tengah(2), hilir(3) 2. Tiap tampang dibagi ke dalam sejumlah pias vertikal utnuk dapat menentukan debit pada section 2 3. Pelampung dilepaskan dari section 1 dicatat waktu tempuhnya hingga menuju hilir (section 3). Dengan mengetahui jarak dan waktu tempuh pelampung, maka kecepatan dapat diketahui : Selanjutnya, kecepatan pelampung dikalikan dengan faktor koreksi (k) untuk dapat mengetahui kecepatan rata-rata aliran.

Gambar 4.19 Beberapa tipe pelampung yang banyak digunakan

4. Kedalaman air pada section 2 diukur untuk setiap pias vertikal 5. Satu per satu pelampung dilepas mengikuti jalur tiap-tiap pias vertikal sehingga dapat diketahui besar debitnya.

Gambar 4.20 Prosedur pengukuran dengan pelampung

4.3.8 Acoustic Doppler Current Profiler (ADCP) ADCP adalah alat pengukur arus dimana kecepatan arus air dapat terpantau dalam 3 dimensi pada suatu penampang melintang sungai dengan menggunakan efek dari doppler pada gelombang supersonic. Alat ini dipasang di perahu dan akan mengukur air di sungai secara cepat bila perahu melalui suatu penampang sungai.

Gambar 4.21 Metode ADCP Cara kerja : Dengan menghitung data sistem transmisi, distribusi kecepatan arus 3 dimensi pada tampang aliran dapat diketahui. Air sungai yang mengandung larutan sedimen, tanaman, kayu, dll merupakan media untuk memantulkan

gelombang supersonic di dalam air secara tegak lurus dalam 2 arah yang dikirim oleh peralatan ADCP. Keuntungan dan kerugian menggunakan peralaran ADCP ini :

Pengukuran kecepatan dapat dilakukan secara cepat Distribusi kecepatan arus secara 3 dimensi dapat teramati Kondisi kecepatan aliran, dan debit dapat langsung diketahui Pada kondisi dimana banyak kayu besar yang terbawa dapat menghantam alat ADCP

Pengukuran sulit untuk dilakukan pada malam hari dan sungai yang berkelokkelok

Komunikasi antara perahu radio kontrol dan kontrol transmisi radio maksimum berjarak 1000 meter

Gambar 4.22 Keunggulan metode ADCP dibandingkan dengan metode konvensional

4.4 SLOPE AREA METHOD Metode Kemiringan Luas digunakan untuk menentukan debit secara tidak langsung dari suatu ruas saluran, biasanya setelah banjir terjadi dengan menggunakan tanda bekas banjir dan karakteristik fisik penampang melintang ruas saluran tersebut. Pada metode ini, dilakukan survei lapangan untuk menentukan jarak antara dan elevasi tanda bekas banjir dan menetapkan penampang sungai. Data itu selanjutnya digunakan menghitung beda tinggi muka air diantara dua penampang melintang yang berdekatan dan untuk menetapkan sifat-sifat tertentu dari penampang tersebut. Informasi tersebut digunakan bersama dengan nilai n Manning atau pun koefisien Chezy untuk menghitung debit. Persamaan Manning Q
1 R 2 / 3S1 / 2 A n
RS

Persamaan Chezy Q CA

Prosedur Pengukuran : 1. Memilih saluran yang alirannya mendekati seragam 2. Mengukur profil tampang melintang saluran, menghitung luasan dan keliling tampang basah 3. Menentukan kemiringan permukaan air berdasarkan tinggi tanda air. S = (H1 H3)/L 4. Memperkirakan koefisien Manning atau Chezy dengan mengamati kekasaran di lokasi 5. Menghitung kecepatan aliran, dan debit

Gambar 4.23 Slope Area Method Berikut ini adalah tabel koefisien Manning berdasarkan ukuran material dasar dan profil tampang saluran

4.5 DILUTION METHOD Metode ini dapat diterapkan pada kondisi dimana bentuk tampang saluran sulit untuk ditentukan atau ketika kecepatan aliran yang terjadi terlalu besar untuk diukur dengan menggunakan current meter. Pengukuran dilakukan dengan cara memasukkan (menginjeksi) suatu zat (traceur) yang dapat bercampur dengan aliran air (biasanya digunakan larutan garam). Debit traceur diberikan sebagai QsC1, dimana Qs menggambarkan debit larutan yang dimasukkan, dan C1 adalah konsentrasi larutan. Pada suatu jarak L di hilir tempat injeksi larutan traceur, larutan akan tercampur secara sempurna dengan aliran; dan debit total aliran adalah (Q + Qs) dan konsentrasi aliran menjadi C2. Dengan konsep persamaan konservasi massa (kontinuitas), diperoleh

Qs C1 ( Q Qs ) C2
Karena Q >> Qs, persamaan di atas dapat disederhanakan sebagai :

Q Qs (C1 / C2 )

Dalam praktek, debit aliran dapat diperoleh cukup dengan mengukur konsentrasi C2 dengan metode titrasi (atau dengan peralatan digital untuk mengukur salinitas), karena debit injeksi Qs dan konsentrasi larutan C1 diketahui.

Gambar 4.24 Pengukuran Debit dengan Metode Dilution Metode ini hanya dapat digunakan apabila larutan traceur dapat tercampur secara sempurna dengan aliran air, seperti misalnya pada kasus aliran pada suatu sungai dengan kemiringan besar atau dengan kekasaran yang besar, atau pada aliran yang melalui suatu konstruksi yang memungkinkan terjadinya pencampuran secara sempurna Injeksi dapat dilakukan dengan menggunakan : 1. Botol Mariotte dengan Volume = 25 liter untuk debit Q < 0,5 m3/s 2. Tangki atau pompa volumetrik dengan debit Q > 0,5 m3/s

3. 4. Gambar 4.25 Pencampuran larutan traceur

Gambar 4.26 Pengoperasian Botol Mariottte 4.5.1 Larutan Traceur Larutan Traceur dapat menggunakan larutan garam (NaCl) yang konsentrasinya dapat dihitung dengan titrasi atau berdasarkan tingkat konduktivitas dan temperatur. Selain itu, juga dapat digunakan larutan berwarna yang

konsentrasinya diukur dengan fluorometer. Syarat umum bahan material traceur yang digunakan adalah: 1. Mudah larut 2. Tidak terabsorbsi oleh material sedimen atau vegetasi yang ada di saluran 3. Bukan bersifat polutan (mudah terdegradasi dan tidak mencemari lingkungan) 4. Murah 4.6 STAGE DISCHARGE METHOD Debit yang kontinyu dapat diperoleh dari suatu stasiun pengukur dimana tersimpan data elevasi muka air. Kurva yang menunjukkan hubungan antara debit dan elevasi muka air disebut rating curve. Untuk diperoleh rating curve yang stabil, dimana Q=f(hw) diperlukan controlling yaitu dengan cara :

1. Section control : ditinjau dari suatu tampang saluran yang menimbulkan adanya zona percepatan dimana gangguan di hilir sebisa mungkin tidak mempengaruhi kontrol di hulu 2. Channel control : apabila tidak terjadi aliran dipercepat atau percepatan yang terjadi tidak cukup menghalangi gangguan di hilir terhadap hullu, rating curve dikontrol dengan memperhatikan kondisi kekasaran dan geometri sungai di bagian hilir 3. Structure control : dengan menggunakan kontrol dari bangunan strukur seperti bendung 4.6.1 Menghitung Hubungan Debit-Elevasi Diasumsikan bahwa aliran bersifat steady flow , persamaan yang digunakan adalah :

Q a(hw hb )b
Atau

Q a(hw h0 ) 2 c(hw h0 ) d
Dimana Q = debit (m3/s) hw = elevasi muka air terukur (m) h0 = elevasi muka air saat Q = 0 a,b,c,d = parameter stasiun

Contoh :

Tentukan h0 dengan menggunakan rumus :

h1h3 h2 2 h0 h1 h3 h2
Kemudian diubah ke dalam bentuk logaritmik

log Q log a b log( hw h0 )


Y log Q a0 log a X log( hw h0 )
Sehingga persamaannya menjadi

Y a0 bX
Parameter a0 , dan b dapat dicari dengan menggunakan least square method

4.6.1 Non-Unique Rating Curve Non-unique Curve dapat disebabkan oleh : 1. Flood wave Berdasarkan persamaan Chezy

Terlihat bahwa adanya perubahan gradien elevasi muka air akan menyebabkan perubahan pada debit. Gradien makin curam ketika debit mengalami peningkatan, hal yang sebaliknya terjadi ketika debit turun. Jadi, ketika terjadi banjir, muka air naik dan turun. Hal tersebit dapat dijelaskan pada gambar di bawah ini

Gambar 4.27 Flood wave travelling

2. Perubahan morfologi sungai Adanya sedimentasi atau erosi dapat mengakibatkan naik turunnya elevasi muka air secara sementara. 3. Perubahan vegetasi Perubahan vegetasi akan menyebabkan perubahan luasan area dan kekasaran tampang sungai 4. Efek Backwater Terjadi akibat pengaruh pasang surut dan pengaruh distribusi aliran pada pertemuan dua sungai

Gambar 4.28 Perubahan Unique Rating Curve akibat gerusan dan backwater

DAFTAR PUSTAKA

Buchanan, T.J. dan Somers, W.P. 1969. Techniques of Water-Resources Investigations of The United States Geological Survey. United StatesGovernment Printing Office. Washington. 1-37. Boiten W. 2003. Hydrometry. IHE-Delft Lecture Note Series. A.A Balkema Publishers. Lisse. Yulistiyanto, B. 2012. Hidrometri. Diktat Kuliah S1-Teknik Sungai. Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan UGM. Yogyakarta Kironoto, B.A. 2006. Instrumentasi Alat Ukur Debit. Diktat Kuliah S2 KeairanMetode Eksperimen. Pasca Sarjana UGM.