Anda di halaman 1dari 22

KONGRES XX IKATAN NOTARIS INDONESIA

KEBATATAN DAN DEGRADASI KEKUATAN BUKTI


AKTA NOTARIS SERTA MODEL AKTANYA

OLEH:
PIETER LATUMETEN, SH.MH

SURABAYA, 28 JANUARI 2OO9


KEBATALAN DAN DEGRADASI KEKUATAN BUKTI
AKTA NOTARIS SERTA MODEL AKTANYA
A. PENDAHUTUAN

PENTINGNYA MEMAHAMI SEBAB.SEBAB DEGRADASI


KEKUATAN BUKT] AKTA
NOTARIS DAN KEBATATAN AKTA NOTARIS SERTA
MODET AKTANYA.

Akta Notaris sebagai "AKTA orENTlK" yang memiliki


kekuatan bukti lengkap dan telah mencukupi
batas minimal alat bukti yang sah tanpa lagi
diperlukan alat bukti lain dalam suatu sengketa hukum
perdata' dapat mengalami DEGRADASI
KEKUATAN BUKTT dari kekuatan bukti lengkap
permulaan pembuktian dan dapat memiliki menjadi
cacat yuridis yang menyebabkan KEBATALAN atau
KETIDAKABSAHANNYA'I Notaris ole-h--uo-itiberi
wqwenang untuk menuangkan semua pERBUATAN,
PERJANJIAN dan PENETAPAN yang dikehendaki
otetr pirraR-atau pihak-pihak yang sengaja datang
kehadapan notaris untuk meminta mengkonstatir
keterangan itu dalam suatu akta otentik dan agar
akta yang yang dibuatnya itu memiliki KEKUATAN
BUKTT IENGKAp dan MEMIUKI KEABSAHANNyA. z
Notaris wajib memenuhi semua ketentuan
dalam UU Jabatan Notaris dan peraturan perundang-
undangan lainnya' Notaris bukan menjadi
JURU TULIs semata-mata namun notaris perlu
apakah yang diinginkan oleh penghadap mengkaji
untuk dinyatakan daram akta otentik, tidak bertentangan
dengan UUJN dan aturan hukum yang berlaku.
Mengetahui dan memahami syarat-syarat otentisitas,
keabsahan dan sebab-sebab kebatalan
suatu akta notaris, sangat penting untuk menghindari
preventif adanya cacat yuridis akta notaris secara
yang dapat mengakibatkan hilangnya otentisitas
dan
batalnya akta notaris itu' Peran Notaris hanyalah
media (alat) untuk lahirnya suatu akta otentik dan
Notaris bukan pihak dalam akta yang dibuatnya,
sehingga hak dan kewajiban hukum yang dilahirkan
dari perbuatan hukum yang disebut dalam
akta notaris, hanya mengikat pihak-phak dalam akta
Jika teriadi sengketa mengenai isi perjanjian, itu, dan
maka notaris tidak terlibat dalam pelaksanaan
dan dalam menuntut suatu hak, karena kewajiban
notaris berada diluar perbuatan hukum pihak-pihak
Bagaimana iika akta notaris mengalami tersebut,
degradasi kekuatan bukti dan mengandung
cacat yuridis yang
mengakibatkan kebatalannya, apakah
selalu dapat disebabkan karena kesalahan notaris
menjalankan iabatannya atau bisa disebabkan dalam
bukan karena kesalahan notaris? Hubungan Hukum
Notaris dengan penghadap dapat dikualifikasikan
sebagai PERBuATAN MELAWAN HUKUM darinotrais

1
Mengenai kebatalan ini, Habib Adjie, yang
dikutip dari sumber data dari Tabel Akta Notaris,
kedalam 5 (lima) bagian yaitu (a) oapat membagi
oibatalkan; (bi Batal Demi Hukum; (c) Dibatatkan
sendiri; (d) Berdasarkan azas Praduga oteh para pihak
sah dan {e) Mempunyai Kekuatan pembuktian
tangan' Tulban ini hanya membatasi sebagai akta dibawah
membahas tentang sebab-sebab Degiadasi
Batal D€rni Hukum, Dapat Dibatarkan kekuatan bukti akta otentik,
- dan Non Existent,
uhat pasal 15 ayat 1, 2 dn 3 uUJN yang
mengatur kewenangan notaris membuat akta
drnars'd dalam pasal 15 ayat 1 uuJN, kewenangan otentik yang
notaris lainnya yang ditentukan dalam uuJN
&ndsd dalam pasat 15 ayat 2 uUJN dan kewenangan y"ng ji"tu, sebagaimana
btttqta sebagaimana dimaksud dalam pasal daram peraturan perundang-undangan
15 ayat 3 uuJN. riekuatan bukti lengkap
H*iatr (luar)' kekuatan bukti formai dan kekuatan meliputi kekuatan bukti
Menurut Hukum.
bukti materiil, lihat suhardjono. sekilas Tiniauan Akta
Varia peradilan 123 (1995), hal. 133_135.
iika dapat dibuktikan pemenuhan semua unsur dalam pasal 1365 KUH.perdata,3 dan lika tidak dapat
dibuktikan adanya perbuatan melawan hukum dari notaris, maka terjadinya cacatnya akta notaris
tidak dapat dimintakan pertanggungiawaban hukum apapun kepada notaris. Memahami syarat-syarat
keabsahan suatu akta notaris, kekuatan bukti akta notaris dan sebab sebab kebatalan akta notaris dan
model-model kasus batalnya akta notaris baik menurut Yurisprudensi, Doktrin dan pengalaman-
penglaman empirik dari praktik notaris sehari hari, dapat memudahkan setiap notaris dalam membuat
akta-akta notaris sesuai dengan UUJN dan aturan-aturan hukum lainnya yang berlaku.

B. SEBAB DEGRADASI KEKUATAN BUKTI DAN BATALNYA AKTA NOTARIS

DASAR HUKUM: PASAL 1858 KUHPERD/\TA Jo pAsAt 1869 KUHPERDATA Jo


PASAT 84 UU JABATAN NOTARIS DAN BANDINGKAN DENGAN PASAL 60 PJN

LAMA

Pasal 1868 KUH.perdata mengatakan:

"Akta otentik adalah akta yang di dalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang dibuat
oleh atau dihadapan pejabat umum yang berwenang untuk itu ditempat dimana akta itu
dibuat."

Menurut pasal 1868 KUH.Perdata, agar suatu akta mempunyai stempel otentisitas harus dipenuhi
persyaratan yang ditentukan dalam pasal ini yaitu;

a. Akta itu harus dibuat oleh atau dihadapan seorang pejabat Umum;

b. Akta itu harus dibuat dalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang;

c' Peiabat umum oleh atau dihadapan siapa akta itu dibuat harus mempunyai wewenang untuk
membuat akta itu.

Pasal ini hanya merumuskan arti kata otentik dan tidak menyebutkan
siapa pejabat umum itu,
bagaimana bentuk aktanya dan kapan Pejabat Umum itu berwenang.
secara imptisit pasal lg69
KUH'Perdata menghendaki adanya suatu uU yang mengatur tentang pejabat
Umum dan Bentuk

' Habib Adjie, ,,


(Media
Notariat: November 2fi)9), hal 96, menguraikan bahwa pada dasarnya hubungan
notaris dan para penghadap
yang telah membuat akta dihadapan atau oleh notaris
tidak dapat dikonstruksikan ditentukan pada awal notaris
dan para penghadap berhubungan, karena pada saat itu belum terjadi permasalahan
hukurn--aBapun. Untuk
menentukan bentuk hubungan antara Notaris dengan para penghadap
harus dikaitkan dengan pasal 1gG9
KUH'Perdata bahwa akta otentik terdegradasi menjadi mempunyai
kekuatan pembuktian akta dibawh tangan
atau karena akta notaris dibaFlkan berdasarkan putusan pengadilan yang
telah mempunyai kekuatan hukum,
maka hal ini dapat diiadikan da\ar untuk menggugat notaris sebagai suatu perbuatan
melawan hukum atau
dergan kata lain hubungan notaris dan para penghadap tlapat dikualifikasikan
sebagai perbuatan melawan
hukum-
A*tanya. UU Nomor 30 tahun 20(X tentang Jabatan Notaris merupakan satu-satunya UU organik yang
mengatur Notaris sebagai pejabat Umum dan Bentuk akta Notaris.

Peniabaran kewenangan Notaris selaku Pejabat Umum dimuat dalam pasal 15 ayat 1 UU Jabatan
Notaris yang berbunyi:

"Notaris berwenang membuat akta otentik mengenai semua PERBUATAN, pERJANJIAN dan
KETETAPAN yang diharuskan oleh Peraturan perundang-undangan dan atau yang dikehendaki
oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta otentik, menjamin kepastian tanggat
pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan Grosse, Salinan dan Kutipan, semuanya itu
sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat
lain atau orang lain yang ditetapkan oleh Undang-undang.,,

Notaris mempunyai kewaiiban menciptakan otentisitas dari akta akta yang dibuat oleh atau
dihadapannya dan otentisitas aktanya hanya dapat tercipta jika syarat-syarat formal atau syarat syarat
bentuk (Gebruik in de vorm) yang ditentukan dalam UU jabatan Notaris terpenuhi dan otentisitas ini
tidak ditentukan oleh peraturan perundang-undangan lainnya.

Degradasi kekuatan bukti akta notaris dari otentik menjadi kekuatan bukti dibawah tangan, dan cacat
yuridis akta notaris yang mengakibatkan akta notaris DAPAT DIBATATKAN atau BATAL
DEM| HUKUM
atau NoN ExlsTENT, teriadi jika ada pelanggaran terhadap ketentuan perundang-undangan yaitu:

1. Pasal 1859 KUH.perdata, yang berbunyi:

Suatu akta yang karena tidak berkuasa atau tidak cakapnya pegawai termaksud
diatas atau karena
suatu cacat dalam bentuknya, tidaklah dapat diberlakukan sebagai akta otentik,
namun demikian
mempunyai kekuatan sebagai akta dibawah tangan jika ditandatangani oleh para pihak.,,a

Pasalini memuat ketentuan, bahwa suatu akta tidak memiliki kekuatan bukti otentik dan hanya
memiliki kekuatan buktidibawah tangan dalam hal:

a. Pejabat Umum tidak berwenang untuk membuat akta itu;

b- Pejabat umum tidak mampu (tidak cakap) untuk membuat akta itu;

c. Cacat dalam bentuknya.

2. Pasal 84 UU Jabatan Notaris yang berbunyi:

o GHS L Tobing dalani bukunya Peraturan Jabatan Notaris


{Jakarta: Erlangga, 1gg0), hal 42 dan 43
mengemukakan empat kewenangan notaris untuk membuat akta
otentik yaitu (l) Notaris harus berwenang
sepaniang YanB menyangkut akta yang dibuatnya; (2) Notaris harus
berwenang sepanjang mengenai orang
untuk kepentingan siapa akta itu dibuatnya; (3) Notaris harus berwenang
sepanjang mengenai tempat dimana
akta itu dibuatnya dan (4) Notaris harus berwenang sepanjang mengenai
waktu pembuatan akta itu.
'Tindakan pelanggaran yang dilakukan oleh notaris terhadap
ketentuan sebagaimana dimaksud
dalamn Pasal 16 ayat (1) huruif i, Pasal 15 ayat (1) huruf
k, pasal 41, pasat 44, pasal 4g, pasal 49,
Pasal 50, Pasal 51, atau Pasal 52, yang mengakibatkan
suatu akta hanya mempunyai kekuatan
pembuktian sebagai akta dibawah tangan atau
suatu akta menjadi batal demi hukum dapat
menjadi alasan bagi pihak yang menderita kerugian untuk
menuntut penggantian biaya, ganti rugi
dan bunga kepada notaris.,,,

Pasal ini memuat sanksi perdata terhadap pelanggaran


pasal-pasal tertentu yang disebutnya yaitu
AKTA HANYA MEMPUNYAI KEKUATAN BUKTI DIBAWAH
TANGAN atau AKTA MENJADI BATAL
DEMI HUKUM' Kedua sanksiini mempunyai pengertian
dan akibat hukum terhadap aktanya yang
berbeda dan bersifat alternatif, dimana untuk membedakan
mana pasal-pasal yang terkena sanksi
AKTA HANYA MEMPUNYAI KEKUATAN BUKTI DIBAWAH
TANGAN, dan sanksi AKTA MENJADT
BATAT DEMI HUKUM, ada batasan atau kriterianya
yaitu:

a' sanksi AKTA MEMPUNYAI KEKUATAN BUKTI DIBAWAH


TANGAN, dicantumkan secara tegas
dalam pasal-pasal tersebut dan pelanggaran terhadap
bentuk atau syarat formal akta notaris;
b' Sanksi AKTA MENJADT BATAL DEMI HuKuM,
dikenakan terhadap pelanggaran yang tidak
berkaitan dengan bentuk atau syarat formal akta
notaris dan dalam pasal pasal tersebut tidak
dicantumkan secara tegas sanksi atas pelanggarannya.

Pasal 1320 KUH'Perdata,


YanB mengemukakan untuk sahnya suatu perjanjian harus dipenuhi
4
syarat yaitu (a) sepakat mereka yang mengikatkan
diri; (b) kecakapan membuat suatu perjanijan;
(c) suatu hal tertentu dan (d) kausa yang
halal. syarat a dan b merupakan syarat subyektif karena
mengenai orang-orang atau subyek yang mengadakan
perianiian dan jika syarat subyektif dilanggar
maka aktanya DAPAT DIBATAIKAN, sedangan
syarat c dan d merupakan syarat obyektif karena
mengenai isi perjanjian dan
iika syarat obyektif dilanggar maka aktanya BATAI DEM' H,KUM.

d' Menurut HERIIEN BUDloNo sebab-sebab


kebatalan mencakup KETIDAK6AKApAN,
KETIDAKWENANGAN, BENTUK PERJANJIAN
YANG DITANGGAR, ISI PERJANJIAN BERTENTANGAN
DENGAN UU, PELAKSANMN PERJANJIAN
BERTENTANGAN DENGAN UU, MOTIVASI
MEMBUAT
PERJANJIAN BERTENTANGAN DENGAN
UU, PERJANJIAN BERTENTANGAN DENGAN KETERTIBAN
UMUM DAN KESUSITAAN BAIK, CACAT KEHENDAK
DAN PENYALAHGUNMN KEADAAN.

otentisitas atau batalnya suatu akta notaris


dapat menimbulkan akibat yang bervariasi kepada
yang ada pihak
didalamnya yaitu:s

Peradlan ilomor 111 (1994): har. 148.


Dan rihat Mudofir Hadi.
,qr rJ qstrxdtt rullfsan
I3EID Y-ia Peradilan 72 (september 1991); Hal 142, yangmenlatakan
bahwa bisa terjadi otentisitas akta
nohb tidak batal tetapi isi atau perbuatan hukummya yang
batal. Hal itu terjadi apabita akta tersebut tidak
metfgmdung cacat yuridis dan yang
membatalkannya hanya perbuatan hukum/peristiwa
hukum yang
1. Hilangnya otentisitas akta (akta notaris ikut batal), dan tindakan hukum yang tertuang didalamnya
ikut batal, hal ini terjadi pada perbuatan hukum yang oleh undang-undang diharuskan dituangkan
dalam suatu akta otentik, misalnya akta pendirian perseroan Terbatas;

2. Hilangnya otentisitas akta (akta notaris tidak batal), atau perbuatan hukum yang tertuang
didalamnya tidak ikut batal. Hal ini terjadi pada perbuatan hukum yang tidak diwajibkan oleh
undang-undang untuk dituangkan didalam suatu akta otentik, tetapi pihak-pihak menghendaki
perbuatan hukum mereka dapat dibuktikan dengan suatu akta otentik, supaya dapat diperoleh
suatu pembuktian yang kuat.

3. Akta tetap memiliki otentisitas (akta notarisnya batat) atau tindakan hukum yang tertuang
didalamnya batal. Hal ini teriadijika syarat-syarat perjanjian tidak dipenuhi atau teriadinya cacat
dasar hak yang menjadi obyek perjanjian. Misalnya jual beli dilakukan atas dasar buktiyang palsu.

Dalam hal suatu perbuatan hukum oleh undang-undang tidak diharuskan dituangkan dalam
suatu akta
otentik dan jika akta tersebut kehitangan otentisitas karena tidak dipenuhinya syarat formal yang
dimaksud dalam pasal 1869 KUH.Perdata jo UU Jabatan Notaris, maka akta tersebut tetap berfungsi
sebagai akta yang dibuat dibawah tangan bila akta tersebut ditandatangani oleh para pihak. Sepanjang
berubahnya atau terjadinya Degradasi dari akta otentik menjadi akta dibawah tangan tidak
menimbulkan kerugian, notaris yangbersangkutan tidak dapat dimintakan pertanggungjawaban
hukumnya melalui pasal 1365 KUH.perdata.

PASAL-PASAL TERTENTU YANG DISEBUTKAN DALAM PASAL 84 UUJN,


YANG
TERKENA SANKSIAKTA MEMPUNYAI KEKUATAN BUKTI DIBAWAH TANGAN
ATAU AKTA MENJADI BATAL DEMI HUKUM

-sanksi perdata yang mengakibatkan aktanya hanya mempunyai


kekuatan bukti dibawah tangan,
disebabkan karena adanya pelanggaran pasal 1869 KUH.Perdata, dan pelanggaran
dalam uuJN yang
pasaFpasalnya disebut dalam pasal 84 UUJN yaitu Pelanggaran
terhadap pasal 16 ayat t huruf ! pasal
15 ayat 7 io ayat 8, Pasal 41 yang memuat sanksi atas pelanggaran
Pasal 3g dan 40 serta pasal 52 uuJN.

Mulai berlakunya degradasi kekuatan bukti akta notaris meniadi akta


dibawah tangan sejak adanya
putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum
tetap. Akta yang mempunyai kekuatan
bukti dibawah tangan ini tetap sah dan mengikat, kecuali ada putusan pengadilan yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap yang menyatakan batalnya
akta tersebut atau tidak mengikatnya
akta tersebut.

disebutkan dalam akta tersebut. Akta otentik memiliki 2 fungsi yaitu


FUNGsl FoRMAt (Formalitas causa) artinya
suatu perbuatan hukum baru sah iika dibuat dengan alcta otentik dan
tidak dapat dibuktikan dengan bukti
lainnya dan FUNGSI SEBAGAI AIAT BUKTI artinya akta otentik dibuat
untuk dipergunakan sebagai alat bukti
dikemudian hari tentang perbuatan hukum yang disebut dalam akta.
1. Pasal4l UUJN, yang menegaskan bahwa jika ketentuan Pasal3g dan Pasal40 UUJN tidak dipenuhi,
aktanya hanya mempunyai kekuatan bukti dibawah tangan.
Pasal 39 UUJN mengatur:

a. Penghadap paling sedikit berumur 18 tahun atau telah menikah dan cakap melakukan
perbuatan hukum.

b. Penghadap harus dikenal oleh Notaris atau diperkenalkan kepadanya oleh 2 orang saksi
pengenalyang berumur paling sedikit 18 tahun atau telah menikah dan cakap melakukan
perbuatan hukum atau diperkenalkan oleh 2 penghadap lainnya.s

c. Pengenalan tersebut harus dinyatakan secara tegas dalam akta.

Pasal 40 UUJN mengatur:

a. setiap akta dibacakan oleh notaris dengan dihadiri oleh 2 orang saksi

b. Saksi harus berumur paling sedikit berumur 18 tahun atau telah menikah, cakap
melakukan perbuatan hukum, mengerti bahasa yang dipergunakan dalam akta, dapat
membubuhkan tandatangan dan paraf dan tidak mempunyai hubungan perkawinan atau
hubungan darah dalam garis lurus keatas atau kebawah tanpa pembatasan derajat dan
garis kesamping sampai dengan derajat ketiga dengan notaris atau para pihak.

c. saksi harus dikenal atau diperkenalkan kepada notaris atau diterangkan identitas dan
kewenangannya kepada notaris oleh penghadap serta pengenatan ini harus dinyatakan
secara tegas dalam akta.

Petanggaran terhadap pasal ini sanksinya adalah aktanva hanva mempunvai


kekuatan bukti
dibawah tanean. Diketahui bahwa pasal 1320 KUH.Perdata mengatur bahwa jika kecakapan
bertindak dimuka hukum tidak dipenuhi atau tidak dipenuhinya syarat subyketif maka akibat
hukumnya aktanya dapat dibatalkan berdasarkan putusan pengadilan atas permintaan pihak-
pihak yang mempunyai kepentingan langsung. Ketidakcakapan atau ketidakwenangan
dapat
dibedakan dalam 2 (dua) halyaitu:7

u GHS' L' Tobing, op.cit. hal. 145 mengatakan dengan cara apa notaris
memperoleh keterangan-
keterangan tentang pengenalan itu adalah urusan notaris itu
sendiri. Notaris dapat memperoleh keterangan itu
dari orang-orang yang dikenal dan yang dipercayanya. Notaris dapat
melihat pasport, surat-surat lain dari
oranS{trang yangbersangkutan, meminta informasi dan masih banyak
cara lain bagi notaris untuk meyakinkan
dirinya' Praktik peradilan member arti "MENGENAI" diidentikkan dengan
indentitas diri penghadap, lihat
putusan Pengadilan Tinggi Surabaya Nomor 27olPidltg85/PT.srb,
dalam akta kuasa palsu dimana notaris
(terdakwa) dinyatakan tidak bersalah karena Hakim berpendapat
notaris mengenal penghadap berdasarkan
clnr pengenalannya yaitu identitas asli penghadap diperlihatkan kepada notaris dan penghadap
dibawah
kekantor notaris oleh seorang yang kenal sama notaris.

t Achmad lchsan. Hukum Perdata lA. (Jakarta: pembimbing Masa, l9G9),


hal 127-129.
a. Ketidakcakapan absolut maksudnya ketidakcakapan karena keadaan atau kenyataan.
Contohnya orang yang sakit ingatan (gila| atau Direksi yang melakukan tindakan ultra
vires.

b. Ketidakcakapan relatif makdsudnya ketidakcakapan menurut hukum (secara yuridis).


contohnya anak dibawah umur {belum dewasa} atau perbuatan Direksi yang memerlukan
persetujuan menurut anggaran dasar tetapi dilakukan tanpa persetujuan.

lmpikasi terhadap ketidakcakapan absolut mengakibatkan akta yang dibuatnya sejak semula
meniadi tidak sah atau batal demi hukum, sedangkan terhadap ketidakcakapan relatif
mengakibatkan akta yang dibuatnya dapat dimintakan pembatalan atau diratifikasi (disahkan)
oleh wakilnya yang sah. Jadi pelanggaran terhadap ketentuan pasal 39 UUJN, yang termasuk
ketidakcakapan yuridis dan sepanjang tidak dimintakan pembatalannya tetap berlaku sebagai
akta yang dibuat dibawah tangan.

2. Pasal 16 ayat t huruf L dan pasal 16 ayat 7 dan 8 UUJN yang berkaitan dengan pasal ztg UUIN,
dimana dimungkinkan pembacaan akta tidak wajib dilakukan dalam hal penghadap telah membaca
sendiri, mengetahui dan memahami isinya dengan ketentuan hal tersebut harus dinyatakan dalam
akta dan setiap halaman minuta akta diparaf oleh penghadap, saksFsaki dan notaris. Kewajiban
pembacaan akta oleh notaris tetap berlaku bagi pembuatan wasiat umum, walaupun penghadap
membaca sendiri aktanya (pasal 16 ayat 9 UUJNI.

3. Pasal 52 UUJN mengatur:


a. Larangan bagi notaris untuk membuat akta untuk diri sendiri, istri/suami atau orang lain yang
mempunyai hubungan kekeluargaan dengan notaris baik karena perkawinan maupun
hubungan darah dalam garis keturunan lurus kebawah dan atau keatas tanpa pembatasan
derajat serta dalam garis ke samping sampai dengan derajat ketiga serta meniadi pihak untuk
diri sendiri maupun dalam suatu kedudukan ataupun perantaraan kuasa.
b' Pelanggaran terhadap ketentuan ini berakibat aktanya hanya mempunyai kekuatan
sebagai
akta dibawah tangan jika ditandatangani oleh penghadap, tanpa mengurangi kewajiban
notaris membayar biaya, ganti rugi dan bunga kepada yangbersangkutan.
-Pasal ini secara tegas mencantumkan sanksi terhadap aktanya berupa hanya mempunyai
kekuatan bukti dibawah tangan jika ditandatangani oleh penghadap.

Pasal 84 UUJN selaras dengan asas hukum yang diatur dalam pasal
60 pJN (stbl lg50:3), dimana datam
pasal6o ayat 2 PJN (lamalditegaskan bahwa: "... jihaakta yang dibuat
dihadapan mereka, karena tidak
memenuhi syarat mengenai bentuk, dibatalkan dimuka pengadilan
atau hanya dianggap berlaku
sebagai alrta yang dibuat dibawah tangan..." sanksi degradasi
kekuatan bukti akta notaris dalam pJN
lama sudah dicantumkan secara tegas dalam pasal-pasal tertentu,
sehingga jika tidak dicanturnkan
sanksi degradasi dalam pasal tersebut maka terhadap pelanggarannya pasal
yang tidak mencantumkan
sanksi secara tetas mengakibatkan akta tersebut dapat dibatalkan
dimuka pengadilan

Sanksi perdata yang mengakibatkan aktanya BATAT DEMI HUKuM, disebabkan


karena adanya
pelanggaran pasal-pasal tertentu yang disebut dalam Pasal
84 UUJN yaitu pasal 1G ayat I huruf i, pasat
16 ayat t huruf k, Pasal 44, Pasal 48, Pasal 49, Pasal 50 dan Pasal 51. Mulai berlakunya akta yang BATAL
DtMl HUXUM, seiak akta ditandatangani atau akta tersebut sejak semula dianggap tidak pernah ada.

7
Batal demi hukum jika dipermasalahkan maka harus dinyatakan melatui putusan hakim yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap dan berlaku berdaya surut sejak tanggal akta tersebut.

1. Pasal 16 ayat t huruf i UUJN, berbunyi:

"Dalam menialankan jabatannya notaris berkewajiban mengirimkan daftar akta


sebagaimana dimaksud dalam huruf h atau daftar nihil yang berkenaan dengan wasiat ke
Daftar Pusat Wasiat Departemen yang tugas dan tanggung jawabnya dibidang kenotariatan
dalam waktu 5 (lima) haripada minggu pertama setiap bulan berikutnya."

-Wasiat tediri dari Wasiat Olografis (pasal 932 KUH.Perdata), Wasiat Rahasia (pasal 940
KUH.Perdata) dan Wasiat Umum (pasal 938 jo 939 KUH.Perdata). pelanggaran berupa tidak
membuat DAFTAR WASIAT dan TIDAK MENGIRIMKAN LAPORAN dalam jangka waktu yang disebut
dalam Pasal 16 ayat I huruf i, tidak mengakibatkan wasiat kehilangan otentisitas oleh karena tidak
menyangkut bentuk akta wasiat, namun pelanggaran yang bersifat eksternal
{diluar akta} terhadap
kewajiban dalam menialankan jabatannya, sehingga sanksi atas pelanggarannya mengakibatkan
akta wasiat BATAT DEMI HUKUM, sejak pewaris meninggal dunia. Wasiat terikat secara ketat
dengan syarat-syarat dan bentuk yang ditetapkan dalam UU oleh karena wasiat baru berlaku
setelah pembuat wasiat meninggal dunia, sehingga perlu adanya jaminan agar tidak adanya
pemalsuan atau penipuan dalam wasiat. Dengan wasiat, pewaris dapat memindahtangankan
harta
kekayaannya kepada siapapun dan karena itu untuk memberikan kepastian hukum kepada
pewaris, ahliwaris dan pihak ketiga, diperlukan adanya kewajiban membuat
DAFTAR WASIAT dan
PELAPoRAN kepada Departemen Hukum dan HAM Rl. Pelanggaran pasal lG ayat
t huruf i bukan
pelanggaran terhadap bentuk akta wasiat, sehingga sanksi atas pelanggarannya
adalah BATAL
DEMI HUKUM vans berlaku seiak pewaris meninssal dunia dan notaris belum
membuat DAFTAR
wAslAT dan MELAPORKANNYA kepada DEPARTEMEN HUKUM dan HAM Rt.

Z. Pasal 16 ayat (1) huruf k UUJN berbunyi:

"Dalam menjalankan jabatannya, notaris berkewajiban mempunyai cap/stempel yang


memuat lambang Negara Republik lndonesia dan pada ruang yang melingkarinya
ditutiskan
nama, jabatan dan tempat kedudukan yang bersangkutan.,,

Pelanggaran terhadap pasal ini tidak ada kaitannya dengan


bentuk akta notaris atau tidak ada
kaitan dengan perbuatan hukum yang tertuang dalam akta dan hanya merupakan petanggaran
dalam menialankan kewaiiban jabatannya selaku notaris yang bersifat eksternal,
dan akibat
hukumnya akta menjadi bataldemi hukum.8

' lihat Pasal 7 uuJN, Notaris waiib dalam jangka waktu 30 hari terhitung sejak tanggal pengambilan
sumpahfanji iabatan notaris yang bersangkutan wajib menyampaikan teraan/cap jabatan
notaris berwarna
rnrah kepada Menteri dan Pejabat lain yang bertanggung jawab dibidang agraria/pertanahan, organisasi
3. Pasal44 UUJN mengatur:

a, Penandatanganan akta dilakukan oleh setiap penghadap, saksFsaski dan notaris, kecuali ada
penghadap yang tidak dapat membubuhkan tandatangannya dengan menyebutkan alasannya,
yang dinyatakan secara tegas dalam akta.

b. Jika akta dibuat dalam bahasa lndonesia yang tidak dimengerti oleh penghadap, notaris wajib
menterjemahkan atau menjelaskan kedalam bahasa yang dimengerti oleh penghadap dan
harus dinyatakan secara tegas pada akhir akta atau jika notaris tidak menteriemahkan dan
akta diterjemahkan dan dijetaskan oleh penterjemah, maka akta ditandatangani oleh
penghadap, saksi-saksi, notaris dan penterjemah serta harus dinyatakan secara tegas dalam
akhir akta.

c. Jika akta dibuat dalam bahasa lain selain bahasa lndonesia atas kehendak yang
berkepentingan dan notaris serta saksi-saksi mengerti dan memahmi bahasa lain itu, maka
notaris wajib menterjemahkan dalam bahasa lndonesa dan dinyatakan secara tegas dalam
akhir akta. Akta dibuat dalam bahasa lain dari bahasa lndonesia sepanjang tidak dilarang oleh
Undang- Undang.

Pelanggaran terhadap ketentuan pasal zl4 UUJN meneakibatkan aktanva batal demi hukum, oleh
karena pasal 44 UUJN mengatur tentang penandatanganan dan bahasa dalam akta. Logis jika akta
tidak ditandatangani atau alasan tidak menandatangani dan penyebutan dalam akhir akta tidak
dilakukan dianggap tidak ada tandatangan dan tidak mengikat. Bahasa dalam akta harus dipahami
oleh penghadap, saksi-saksi dan notaris, khusus penghadap bisa dipahami secara langsung atau
bisa pula diterjemahkan oleh penterjemah atau notaris. Jika penghadap tidak memahami dan juga
tidak diteriemahkan aktanya kepada penghadap, maka penghadap tidak mengetahui isi aktanya
dan hal ini bertentangan dengan ketentuan pasal 1335 KUH.Perdata jo pasal 1337 KUH.perdata.

4. Pasal 48 UUJN mengatur:


-larangan perubahan isi akta dengan cara penulisan tindih, penyisipan, pencoretan atau
pengapusan dengan penggantian, kecuali perubahan berupa penambahan, pencoretan
dan penggantian yang diparaf atau diberi tanda pengesahan lain oleh penghadap, saksi-
saksi dan notaris.

-Paraf berlaku sebagai tanda tangan sehingga perubahan isi akta tanpa paraf
atau tanda
pengesahan lain, mengakibatkan perubahan tersebut tidak mengikat penghadap
atau perubahan
dianggap tidak ada atau batal demi hukum.

Nolaris' xetua Pengadilan Negeri, Maielis Pengawas Daerah serta Bupati atau walikota ditempat
notaris
diar€r€t.
Pasal 49 UUJN mengatur:
-tempat perubahan isi akta dibuat disisi kiri akta atau pada akhir akta sebelum penutup
akta atau dengan menyisipkan lembar tambahan, dan semuanya harus dilakukan dengan
menunjuk bagian yang diubah.
-Pelanggaran pasal 49 dalam bentuk perubahan yang dilakukan tanpa menunjuk bagian yang
dirubah, mengakibatkan perubahan tersebut batal atau batal demi hukum.

5. Pasal5l UUJN mengatur:

a. Pencoretan kata, huruf dan angka dilakukan dengan tetap dapat terbaca sesuai dengan yang
tercantum semula dan dinyatakan pada sisi akta serta diparaf atau diberi tanda pengesahan
oleh penghadap, saksi dan notaris.
b. Perubahan lain atas perubahan semula, dicantumkan disisi akta.
c. Pada penutup setiap akta dinyatakanjumlah perubahan, pencoretan dan penambahan.
Pelanggaran pasal 51 UUJN, mengakibatkan perubahan yang dilakukannya menjadi batal demi
hukum.

SEBAB-SEBAB KEBATALAN AKTA NOTARIS DAN AKIBAT DARI KEBATATANNYA

Cacatnya akta notaris dapat menimbulkan kebatalan bagi suatu akta notaris dan ditinjau dari sanksi
atau akibat hukum darikebatalan dapat dibedakan menjadi:

1. BATAT DEMI HUKUM

2. DAPAT DIBATATKAN

3. NON EXISTENT

Akibat hukum dari suatu kebatalan pada prinsipnya sama antara BATAT DEMI HuxuM, DAPAT
DIBATALKAN atau NoN EXISTENT yaitu ketiganya mengakibatkan perbuatan hukum tersebut rrgg3di
tidak berlaku atau perbuatan hukum tersebut tidak mempunyai akibat hukumnya. Irtik perbedaannya
pada waktu berlakunya kebatalan tersebut yaitu:e

a' BATAL DEMI HUKUM, akibatnya perbuatan hukum yang dilakukan tidak mempunyai
akibat tnrhrm
seiak terjadinya perbuatan hukum tersebut atau berdaya surut (ex tunc), dalam prakik BATAT
DEMI HUKUM didasarkan pada Putusan Pengadilan yang telah mempunyai kekuatan
hukum tetap;

b' DAPAT DIBATAIKAN, akibatnya perbuatan hukum yang dilakukan tidak mempunyai
akibat hukum
sejak terjadinya pembatalan dan dimana pembatalan atau pengesahan perbuatan hukum
tersehn
tergantung pada pihak tertentu, yang menyebabkan perbuatan hukum tersebut dapat dibatalkan.
Akta yang sanksinya DAPAT DIBATALKAN, tetap berlaku dan mengikat selama belum ada putusan
pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap yang membatalkan akta
tersebut;

t Herlien Budiono, Kumpulan Tulisan Hukum Perdata di Bidang Kenotariatan. (Bandung: pT. Citra Aditya
Bakti, 2007), hal. 363-389.

10
c. NON EXISTENT, akibatnya perbuatan hukum yang dilakukan tidak ada atau NON ExISTENT, yang
disebabkan karena tidak dipenuhinya essensialia dari suatu perjanjian atau tidak memenuhi salah
satu unsur atau semua unsur dalam suatu perbuatan hukum tertentu. Sanksi Non Existent secara
dogamtis tidak diperlukan putusan pengadilan, namun dalam praktik tetap diperlukan putusan
pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap dan implikasinya sama dengan BATAL DEMI
HUKUM.

Kebatalan diatur secara tidak lengkap dalam Pasal 1446 sld 1456 KUH.perdata dan diilengkapi dengan
Yurisprudensi dan Dokrin sebagai sumber hukum lainnya, dimana kebatalan dapat disebabkan oleh:r0

1. KETIDAKCAKAPAN BERTINDAK:

UU Jabatan Notaris sebagai produk hukum nasional yant mengacu pada pancasila sebagai
Rechtsidee (cita-cita hukum nasional) dan UUD 1945 sebagai landasan konstitusional, telah
mengatur batas usia kedewasaan atau kriteria kecakapan bertindak dalam akta, yang dituangkan
dalam pasal 39 ayat I UUIN yaitu paling sedikit berumur 18 tahun atau telah menikah dan cakap
melakukan perbuatan hukum (tidak dibawah pengampuan). UUJN mengatur kriteria kecakapan
untuk semua PERBUATAN, PERJANJIAN dan KETETAPAN yang dimuat dalam suatu akta otentik.
Ketidakcakapan bertindak dalam akta yang disebabkan karena belum dewasa termasuk
ketidakcakapan relatif dan sanksinya yaitu perbuatan hukum yang dilakukan dapat dibatalkan oleh
wakilnya yang sah atau anak dibawah umur tersebut setelah dewasa nanti atau sebaliknya dapat
diratifikasi (disahkan). Kecakapan bertindak bukan menjadi tanggung jawab notaris sepanjang
keterangan mengenai kedudukan bertindak penghadap dan data formal yang disampaikan kepada
notaris sebagai dasar bertindak penghadap mengandung kebohongan atau kepalsuan dan tidak
diketahui oleh notaris seiak semula, dan tidak menghilangkan otentisitas dari aktanya.

2. KETIDAKWENANGAN BERTINDAK:

Kewenangan bertindak maksudnya orang yang berwenang untuk melakukan perbuatan hukum
tertentu. Misalnya atas harta gono gini, yang berwenang untuk melakukan tindakan pemilikan
adalah suami dan istri secara bersama-sama. orang yang cakap bertindak belum tentu berwenang
melakukan perbuatan hukum tertentu, tapi orang yang berwenang melakukan perbuatan hukum
tertentu sudah pasti harus memenuhi kriteria kecakapan bertinkdak. Ketidakwenangan bertindak
dalam suatu akta, mengakibatkan aktanya batal demi hukum.

lbitl, hal. 368 - 380.

11
Beberapa contoh ketidakwenangan yang diatur dalam KUH.perdata yaitu:

a. Pasal 907 KUH.Perdata, yang menegaskan notaris yang membuat akta wasiat dan para saksi
yang ikut menyaksikan pembuatan wasiat tidak boleh menikmati hibah wasiat dari pemberi
wasiat. Jadi Notaris dan para saksi tidak berwenang untuk menerima hibah wasiat dimana
mereka ikut dalam lahirnya wasiat itu.

b. Pasal 1467 KUH.perdata, menegaskan bahwa antara suami istri tidak boleh melakukan jual beli,
kecualiada perjanjian kawin pisah harta.

c. Pasal 1470 KUH.perdata, mengatur larangan jual beli antara penerima kuasa, selaku pembeli
dan pemberi kuasa selaku penjual atas barang-barang yang dikuasakan.

d. Pasal 1471 KUH.Perdata, mengatur larangan jual beli barang orang lain.

Mahkamah Agung melalui putusannya Nomor g148KlPDT/1988, telah membatalkan akta jual beli
saham yang didasarkan pada surat kuasa yang tidak memberikan kewenangan kepada penerima
kuasa untuk menjual saham milik pemberi kuasa.

Dalam surat kuasa tercantum kata-kata:

".,.khusus untuk mewakili segala hak dan kepentingan pemberi kuasa sehubungan dengan maksud
perseroan mengadakan perubahan susunan para pemegang saham, perubahan susunan pengurus
dan pengeluaran saham dalam simpanan.,,

Kuasa demikian tidak memberikan kewenangan untuk menjual sehingga kuasa jual yang
dibuat
berdasarkan kuasa tersebut dinyatakan batal demi hukum, Karena bertentangan dengan pasal
1335
jo 1337 dan pasal 1471 KuH.Perdata. Kewenangan ini juga bukan merupakan tanggung jawab
notaris sepanjang keterangan kedudukan bertindak penghadap dan data formal yang disampaikan
penghadap sebagai dasar bertindak mengandung kebohongan atau
kepalsuan, dan notaris tidak
mengetahui adanya kebohongan tersebut. u

3. CACATKEHENDAK

secara limitatif cacat kehendak disebabkan karena Kekhilafan, penipuan


dan paksaan serta
Penyalahgunaan keadaan (misbruik van omstandigheden) yang
bersumber dari yurisprudensi.
Perjaniian-perjanjian yang mengandung cacat kehendak tetap sah dan mengikat dan hanya
memberikan hak untuk menuntut pembatalan melalui pengadilan. penyalahgunaan
keadaan
bersumber dari yurisprudensi, dimana ciri penyalahgunaan keadaan yaitu
adanya pihak yang
mempunyai kelebihan dari yang lain antara tain keadaan ekonomis; salah
satu pihak dalam keadaan
yang teriepit; hubungan atasan dan bawahan; adanya hubungan yang
timpang dalam kewajiban
11 Pasal 265 KUH-Pidana dapat diterapkan dalam hal notaris tidak mengetahui
bahwa keterangan yang
diberikan kepadanya adalah tidak benar atau palsu dan sebaliknya pasal 263
dan 204 KuH,pidana dapat
diterapkan jika notaris mengetahui keterangan yang diberikaan penghadap tidak
benar atau palsu, tetapi
notarb tetaP mencantumkan keterangan tidak benar atau palsu tersebut dalam akta.

12
timbal balik antara para pihak dan kerugian yang sangat besar bagi salah satu pihak. Cacat
kehendak ini bukan merupakan tanggung jawab notaris melainkan para pihak sendiri dan hal
inipun harus dibuktikan melalui putusan pengadilan.

4. BENTUK PERJANJIAN

Bentuk Perjanjian maksudnya adalah bentuk yang ditentukan oleh Undang-undang atau unsur-
unsur yang mutlak ada dalam suatu perbuatan hukum tertentu. t'Beberapa contoh bentuk yang
ditentukan oleh UU yaitu Perseroan Terbatas harus didirikan oleh 2 orang atau lebih dengan akta
notaris dalam Bahasa lndonesia (Pasal 7 ayat 1 UUPT), Yayasan didirikan dengan akta notaris dalam
bahasa lndonesia (Pasal 9 ayat 2 UU Yayasan), dan Surat Kuasa Membebankan Hak tanggungan
harus dibuat dengan Akta Niotaris atau Akta PPAT. Kata "Akta Notaris" dan "Bahasa tndonesia,,
merupakan bentuk dari perjanjian pendirian PT dan jika akta pendirian tidak dibuat dalam bentuk
Akta Notaris dan dalam Bahasa lndonesia, mengakibatkan aktanya menjadi NON EXISTENT
{tidak
ada). Unsur-unsur dalam suatu perbuatan hukum tertentu atau disebut juga dengan Essensialia
suatu perjanjian mutlak ada, seperti dalam Jual Beli yang menjadi essensi dari perjanjian tersebut
adalah pembayaran harga dan penyerahan barang dan jika dalam jual beli tidak ada pembayaran
maka tidak terjadi jual beli atau mengakibatkan jual beli tersebut menjadi NoN ExtsTENT. Banyak
contoh dimana secara dogmatis perjanjian-perjanjian yang tidak memenuhi syarat bentuk
dinyatakan Non Existent diantaranya Perjanjian Hutang piutang sebagai perjanjian riil, dimana
penyerahan uang merupakan salah satu unsur mutlak dalam perianjian riil dan Wasiat Terbuka
(wasiat Umum) yang harus dibuat dengan akta notaris) yang pembuatannya tidak memenuhi
tata
cara sesuai dengan ketentuan uu, menjadikan wasiat tersebut Non Existent.

5. BERTENTANGAN DENGAN UU

Kausa yang halal merupakan satah satu syarat yang harus dipenuhi untuk sahnya
suatu perjanjian,
artinya perianiian tidak boleh bertentangan dengan UU, Ketertiban Umum dan Kesusilaan Baik.l3
Perjanjian terlarang dapat ditinjau dari 3 aspek yaitu:

a. Substansi perjanjian yang dilarang;

-Contoh yaitu Pembuatan Kuasa Mutlak yang obyeknya adalah hak atas
tanah, mengandung
kausa yang dilarang yaitu melanggar lnstruksi Menteri Dalam Negeri
Nomor 14 atahun lggz

12 Pada Perianiian dikenal bagian-bagian yang terdiri dari (1) BAGIAN EssENTlALlA,
bagian perjanjian
yang merupakan unsur yang harus ada pada suatu perjanjian
tertentu yaitu pihak-pihaknya, kata sepakat,
obyeknya yang tertentu/dapat ditentukan, kausanya, harga jual beli pada
suatu jual beli atau harga sewa pada
suatu sewa menyewa. oleh karena itu dari bagian essentialia seperti obyek
dan hal lain yang essential seperti
harga jual beli atau harga sewa tidak masuk di bagian pasal-pasal namun
di bagian pokok sebelum pasal-pasal,
karena harga/uang sewa bukan syarat untuk
iual beli/sewa menyewa tetapi unsur dari perjanjian-perjanjian
tersebut, lihat Beberapa catatan Mengenai Pembuatan Akta Di Dalam praktek Notaris,
i: disusun oleh pp lNl.
Pasal 1320 KuH'Perdata memuat syarat-syarat sahnya suatu perjanjian yaitu
sepakat mereka yang
meqgikatkan diri; kecakapan membuat suatu perjanjian; suatu hal tertentu dan
causa yang halal.

13
tentang larangan Penggunaan Kuasa Mutlak sebagai Pemindahan Hak atas Tanah. pengalihan
Barang laminan kepada Kreditur dalam hal Debitur wanprestasi/latai, dilarang oleh UU (pasal
1154 KUH.Perdata, UU Nomor 4 tahun 1996 dan UU nomor 42 tahun 1999).

b. Pelaksanaan Perjanjian yang dilarang:

-Contoh yaitu Jual Beli pisau tidak dilarang namun jika digunakan untuk membunuh, maka
perianiian ini menjadi terlarang jika sejak semula kedua belah pihak telah mengetahui adanya
kausa yang terlarang (penggunaan pisau untuk membunuh) dalam pembuatan perjanjian jual
beli pisau. Jual beli Kayu bulat tidak dilarang namun jika diekspor keluar negeri menjaditerlarang
karena adanya larangan ekspor kayu gelondongan (pelaksanaan perjaniian menjadi terlarang).
Perianjian ini menjadi batal demi hukum, jika kausa yang terlarang (pengiriman kayu keluar
negeri| diketahui sejak semula oleh para pihak.

Motivasi atau maksud dan tuiuan perjanjian yang dilarang:

-Maksud dan Tuiuan membuat perjaniian yang dilarang adalah perjanjian yang sengaja dibuat
untuk menyelundupi UU atau menghindari ketentuan Undang-undang. Motivasi membuat
perianiian yang dilarang dikenal dengan PERJANJIAN S|MULASI. to Ada 2 macam perjanjian
simulasi yaitu :

1. Perianjian Simulasi Absolut yaitu suatu perjanjian dimana para pihak membuat perjanjian
yang terhadap pihak luar menimbulkan kesan yang berbeda dengan perjanjian yang oleh para
pihak secara diam-diam mengingkarinya. Contohnya Jual Beli hak atas tanah antara A dan B,
dan kemudian B dan C {Warga Negara Asing) membuat perjanjian yang isinya memuat
pengakuan B bahwa uang untuk membeli bidang tanah dari A adalah milik
C dan karena itu
bidang tanah tersebut merupakan milik C. Perjanjian antara B dan C merupakan perjanjian
simulasi absolut yang memuat kausa yang tidak halal, untuk menghindari larangan pemilikan
tanah dengan hak milik oleh orang asing berdasarkan pasal 26 ayat 2 UUPA (UU pokok
Agraria), dengan akibat BATAL DEMI HUKUM.

2' Perjanjian Simutasi Relatif yaitu perjanjian dimana para pihak menginginkan akibat hukumnya
tapi memakai bentuk hukum yang lain. contoh Juat beli bidang tanah berangsur angsur
dalam kurun waktu tertentu agar penjualan tersebut berada dibawah nilai harga yang
tidak
kena paiak. Perjanjian simulasi relatif semacam ini tetap sah karena obyek hukumnya
tidak
mensyaratkan subyek hukum tertentu.

5. BERTENTANGAN DENGAN KETERTIBAN UMUM DAN KESUSILAAN


BAIK

Bertentangan dengan ketertiban umum maksudnya perbuatan yang


melanggar atau bertentangan
dengan asas-asas pokok (fundamental) dari tatanan masyarakat sedangkan
bertentangan dengan
kesusilaan baik maksudnya perbuatan yang melanggar atau bertentangan
dengan norma kesusilaan
suatu masyarakat dan kesusilaan baik ini dapat berubah sesuai dengan
tempat dan waktu. Kriteria

Herlien Budiono, op.cit. hal 377

14
pelanggaran ketertiban umum dan kesusilaan baik ini bersifat abstrak sehingga sulit untuk
merumuskan bentuk-bentuk kasus mana yang termasuk dalarn kategori pelanggaran ini. Herlien
Budiono, telah memberikan contoh pelanggaran terhadap kesusilaan baik yaitu perjanjian agar
suami istri mau bercerai dengan pembayaran sejumlah uan& termasuk dalam pelanggaran
kesusilaan baik. Perianiian mengenai warisan yang belum terbuka walaupun atas sepakatnya orang
yang akan meninggalkan warisan dilarang berdasarkan kesusilaan baik. Contoh bentuk pelanggaran
ketertiban umum yaitu kuasa menjual yang dibuat untuk menjamin perjanjian hutang piutang, tidak
dapat dianggap sebagai suatu pemberian kuasa secara sukarela dari pemberi jaminan atau debitur,
dan kuasa meniual ini meniadi tidak sah dan melanggar ketertiban umum, karena merupakan
penyelundupan hukum terhadap larangan belsifat memaksa dimana jaminan harus dilakukan
melalui pelelangan umumr.

C. MODET AKIA

AKTA NOTARIS YANG DIMAKSUD DALAM UUPT YANG TELAH


DALUWARSA DAN TERKENA SANKSI KEBATALAN

Tugas dan kewenangan Notaris sesuai dengan uU Jabatan Notaris


dalam penerapan UU pT, hanya
membuat akta otentik yang mencakup Aka Pendirian Perseroan Terbatas
berikut perubahan-
perubahannya (jika ada), Akta Risalah Rapat umum Pemegang
saham, dan Akta pernyataan Keputusan
Rapat yang didasarkan pada RUPS yang dibuat dibawah tangan (disebut,,akta
notaris,). selain tugas
pokok dalam membuat Akta Notaris, UUPT
iuga tetah memberikan kepercayaan dan peran yang
dominan kepada notaris, dimana permohonan pengesahan akta pendirian
berikut perubahannya (jika
ada), permohonan persetuiuan perubahan anggaran dasar, pemberitahuan
perubahan anggaran dasar
dan pemberitahuan perubahan data perseroan (disebut"Permohonan"),
hanya dapat diajukan melalui
notaris selaku kuasa pendiri atau Direksi kepada Menteri Hukum
dan HAM Rl. permohonan tersebut
dapat diaiukan oleh notaris secara elektronik melalui jaringan situs
website Sistim Administrasi Badan
Hukum (sisminbakum) dengan mengisi format-format isian
{rnru), yang terdiri dari3 macam, yaitu:
I' FORMAT lslAN AKTA NorARls (FIAN l), untuk permohonan pengesahan
status Badan Hukum
Perseroan;
2' FoRMAT lslAN AKTA NorARls (FIAN lll, untuk permohonan Persetujuan perubahan
Anggaran
Dasar Perseroan dan penyesuaian uu Nomor40 tahun
2007 tentang pr;
3' FoRMAT lslAN AKTA NoTARls (FIAN lll), untuk penyampaian
Pemberitahuan perubahan Anggaran
Dasar dan Perubahan Data perseroan serta pembubaran perseroan.
Ditiniau dari sudut jenis permohonan, uUPT mengenal
ketentuan datuwarsa dan sanksi kebatalan dan
untuk mengetahui apakah akta akta notaris yang dimaksud
dalam uUpr yang terkena daluwarsa dan
sanksi kebatalan mengandung cacat yuridis terhadap aktanya,
akan diuraikan sesuai dengan jenis
permohonannya yaitu:

t)
1. PERMOHONAN PENGESAHAN PT SEBAGAI BADAN HUKUM

Permohonan untuk memperoleh Keputusan Menteri mengenai pengesahan Badan Hukum pT, wajib
diajukan oleh Notaris selaku kuasa para pendiri secara elektronik melalui website SISMINBAKUM,
dalam jangka waktu 60 hari sejak tanggal akta pendiriannya ditandatangani. Dalam hal lewatnya
jangka waktu 60 hari, tanpa ada pengesahan PT tersebut sebagai Badan Hukum, maka akta
pendirian PT berikut perubahannya jika ada menjadi batat dan pT menjadi bubar demi hukum
dengan lewatnya waktu dan pemberesannya dilakukan oleh pendiri.l5 Sanksi yang dikenakan oleh
UUPT terhadap akta pendirian dan perubahannya, iika telah melampaui jangka waktu permohonan
adalah BATAL dan PT menjadi BUBAR DEMI HUKUM, sehingga dengan demikian akibat hukumnya
dengan lewatnya waktu PT sudah tidak ada lagi dan karena itu segala sesuatu yang tidak ada, tidak
dapat ditegaskan kembali tapi HARUS DIBUAT utANG DENGAN AKTA pENDtRtAN BARU. Batalnya
akta pendirian PT bukan disebabkan karena adanya cacat yuridis terhadap aktanya melainkan
karena adanya pelanggaran terhadap jangka waktu permohonan pengesahan pT yang diatur
dalam
UUPT tanpa adanya pengesahan PT sebagai Badan Hukum. Kebatalan akta pendirian pT
dengan
lewatnya jangka waktu permohonan merupakan LEX SPESIAuS dari sebab-sebab kebatalan yang
diatur dalam KUH.perdata.

2. PERMOHONAN PERSETUJUAN ATAU PEMBERITAHUAN PERUBAHAN ANGGARAN


DASAR

Permohonan persetujuan atau pemberitahuan perubahan anggaran dasar


harus diajukan kepada
Menteri dalam jangka waktu 30 hari sejak tanggal akta notaris yang memuat perubahan
anttaran
dasar, sehingga dengan demikian iika tewat waktu 30 hari sejak tanggal
akta notaris memuat
anggaran dasar dan belum diajukan permohonan persetujuan atau pemberitahuan
perubahan
anggaran dasar atau belum sampai kepada FIAN sEtEsAl, maka permohonan persetuiuan
atau

MENTERI' Aka Notaris yang memuat perubahan anggaran dasar yang


tidak dapat digunakan dalam
pengajuan permohonannya kepada menteri disebabkan
karena lewat waktu bukan disebabkan
adanya sebab kebatalan {adanya cacat yuridis} yang dapat menyebabkan
akta notaris BATAT DEMI
HUKUM atau DAPAT DIBATATKAN atau NoN ExlsTENT. Akta
tersebut tetap berfungsi sebagai alat
bukti (probationis causa) bagi para pihaknya dan terhadap aktanya
dapat dilakukan pENEGASAN
KEMBAII iika akta notaris yang memuat perubalran anggaran
dasar telah sesuai dengan uupr atau
dilakukan PERBAIKAN (PENYESUAIAN) jika akta notaris yang
memuat perubahan anggaran dasarnya
belum sesuai dengan UUpT.

': uuPT, Pasal 9 ayat 1 berbunyi: "untuk memperoleh Keputusan


Menteri mengenai pengesahan badan
hukum p€rseroan, .'.pendiri bersama sama mengaiukan permohonan,
melalui jasa teknologi informasi sistem
dministrasi badan hukum secara elektronik kepada Menteri..." dan
selanjutnya pasal 10 ayat 1 uupr
rnenegaskan Permohonan untuk memperoleh Keputusan Menteri
mengenai pengesahan Badan Hukum harus
d-njukan kepada Menteri paling lambat 50 hari terhitung
sejak tanggal akta pendirian ditandatangani.

16
3. PERMOHONAN PERUBAHAN DATA PERSEROAN MENGENAI PENGANGKATAN, PEMBERHENT]AN
DAN PENGGANTIAN ANGGOTA DIREKSI DAN DEWAN KOMISARIS

Perubahan data perseroan mengenai perubahan susunan anggota Direksi dan Dewan Komisaris,
mulai berlaku seiak tanggal yang ditetapkan dalam RUPS atau jika tidak ditetapkan maka mulai
berlaku sejak ditutupnya RUPS. Permohonan Perubahan data perseroan harus diajukan kepada
Menteri dalam jangka waktu 30 hari terhitung sejak tanggal keputusan RUpS dan bilamana dengan
lewatnya jangka waktu tersebut tidak diajukan permohonan atau belum sampai kepada FIAN
SELESAI, maka SANKSINYA Menteri MENOLAK setiap permohonan persetuiuan atau pemberitahuan
Derubahan angqaran dasar atau pemberitahuan oerubahan data perseroan vang diaiukan oleh
angeota Direksi vans belum tercatat dalam Daftar Perseroan., kecuali Direksi baru atas
perngangkatan dirinya sendiri. Penolakan Menteri bukan terhadap akta notaris yang memuat
perubahan susunan anggota Direksi dan Dewan komisaris tersebut dan bilamana akta notaris yang
memuat perubahan data perseroan dinyatakan daluwarsa atau lewat waktu, maka akta notaris
tersebut tidak mengandung cacat yuridis apapury dan tidak berakibat BATAL DEMI HUKUM atau
DAPAT DIBATALKAN atau NON EXISTENT dan Perubahan susunan Anggota Direksi dan Dewan
Komisaris tetap berlaku yaitu sejak tanggal yang ditetapkan dalam RUpS atau jika tidak ditetapkan
dalam RUPS, mulai berlakunya seiak RUPS ditutup. Terhadap akta notaris yang telah daluwarsa
tetap berfungsi sebagai alat bukti, dan untuk keperluan permohonan pemberitahuan perubahan
data perseroan, maka dapat dilakukan PENEGASAN KEMBAU dan TTDAK DAPAT DTLAKUKAN
MEIAIUI KONSTRUKSI HUKUM PEMBATALAN.

PERMOHONAN PERUBAHAN DATA PERSEROAN MENGENAI PEMINDAHAN HAK ATAS SAHAM

Perubahan Data Perseroan mengenai Pemindahan Hak Atas Saham. oleh Direksi wajib dicatat
pemindahan hak atas sahamnya dalam daftar pemegang saham serta memberitahukan perubahan
susunan pemegang saham kepada Menteri untuk dicatat dalam Daftar Perseroan paling lambat
30
hari terhitunS sejak tanggal pencatatan pemindahan hak atas saham. Jika lewatnva waktu 30 hari

dilakukan. maka Menteri menolak permohonan persetuiuan aiau pemberitahuan perubahan


ansearan dasar atau pemberitahuan perubahan data perseroan vane dilakukan berdasarkan
susunan pemeeans saham vanq belum dibettahukan. Dengan lewatnya waktu tanpa
diajukan
permohonan pemberitahuan perubahan data perseroan tersebut, akta
notaris yang memuat
perubahan data perseroan dan akta pemindahan hak atas saham
tetap berfungsi sebagai alat bukti
dan tidak mengandung cacat yuridis yang tidak berakibat BATAT DEMI HUKUM
atau DAPAT DAPAT
DIBATATKAN atau NoN EXISTENT, dan Untuk keperluan permohonan pemberitahuan
perubahan
data perseroan tersebut terhadap aktanya dapat dilakukan pENEGASAN KEMBALI
dan tidak dapat
dilakukan melalui konstruksi hukum Pembatalan. karena p"ruu"t rn susunan p"r"g*g
saham
sudah berlaku dengan telah ditandatanganinya akta pemindahan hak
atas saham.

AKTA RISATAH RAPAT DIBAWAH TANGAN;

Akta Risalah RUPS yang dibuat dibawah tangan, wajib dituangkan dalam
akta notaris dalam jangka
waktu 30 hari terhitung seiak tanggat RUPS dibawah tangan, d"ng"n sanksi jika
lewatnya waktu 30
hari tersebut, maka Akta Risalah Rapat yang dibuat dibawah tangan
tidak boleh dituangkan dalam
a|(ta notaris. Bentuk sanksinya hanya TIDAK BoLEH DTTUANGKAN DATAM AKTA NOTAR|g
dan
aktanya tidak mengandung cacat yuridis dan tidak berakibat BATAT DEMI HUKUM, DAPAT
DIBATALKAN atau NoN ExtsrENT dan akta risalah rapatnya tetap berfungsi
sebagai alat bukti yang
sah, sehingga terhadap akta risalah rapat dibawah tangan tersebut dapat dilakukan pENEGASAN
XEMBALI atau PERBAIKAN (jika ada perbaikan atau perubahan), atau dengan pembatalan
khusus
untuk perubahan anggaran dasar yang berlakunya sejak tanggal persetujuan atau penerimaan

17
pemberitahuan Menteri dan tidak dapat dilakukan pembatalan terhadap perubahan
data perseroan
mengenai penggantian, pengangkatan dan pemberhentian anggota Direksi dan Dewan Komisaris
serta perubahan susunan pemegang saham Karena adanya pemindahan hak atas saham.

AKTA.AKTA KUASA YANG MENGANDUNG CACAT YURIDIS

1. KUAsA MENJUAT sEBAGAI,AMINAN PENGAKuAN HUTANG

Dalam praktik perbankan akta PENGAKUAN HUTANG dan KUASA MENTUAI dibuat
secara notariil
dan terpisah, dan KUASA MENJUAL dibuat sebagaijaminan, bilamana jika debitur tidak
memenuhi
kewaiibannya kepada Kreditur, maka kreditur atas dasar kuasa menjual tersebut
dapat langsung
meniual bidang tanah kepada pihak lain dan hasil penjualannya untuk melunasi hutang
DEBITSR
kepada KREDITUR. Berdasarkan Yurisprudensi MA Nomo r t9}4KlStq/1982 tanggal
30 Juli 1985,
KUASA MENJUAL yang dibuat secara terpisah dengan maksud sebagai jaminan
untuk melunasi
hutang Debitur kepada Kreditur yang timbul dari suatu PENGAKUAN HUTANG merupakan
PERJANJIAN SEMU dan diklasifikasikan sebagai kehendak satu pihak,
karena debitur dipihak yang
lemah dan terpaksa menandatangani akta kuasa menjual tersebut. penyimpangan ini
dalam
yurisprudensi disebut dengan ATARAN PENYATAHGUNAAN KEADAAN (MtSBRUtK
VAN
oMSTANDIGHEDEN)." Menurut Herlien Budiono, Kuasa menjual sebagai jaminan pengakuan
Hutang bukanlah pemberian kuasa secara sukarela dan hal ini merupakan penyelundupan
hukum,
sebagai bentuk pelanggaran larangan yang bersifat imperatif yaitu penjualan
benda jaminan
melalui lelang, sehingga kuasa meniual dikategorikan sebagai kuasa yang
mengandung kausa yang
terlarang dan bertentangan dengan ketertiban umum. suatu akta dapat
mengandung iebab-sebab
kebatalan lebih dari satu sebab seperti kuasa menjual ini.

2. KUASA MUT]AK

Kuasa mutlak bukanlah istitah hukum namun istilah yang


digunakan dalam lnstruksi Menteri Dalam
Negeri Nomor 14 tahun 1982 tanggal 6 Maret 1982 tentang
larangan penggunaan kuasa muttak
sebagai pemindahan hak atas tanah. Menurut lnstruksi
tersebut kuasa mutlak memiliki 3 unsur
yaitu:
a. Obyek dari kuasa tersebut adalah hak atas tanah;
b. Xuasa yang mengandung unsur tidak dapat
ditarik kembali;
c Kuasa tersebut merupakan pemindahan hak atas
tanah, karena isinya memberikan
ktr€nangan kepada Penerima Kuasa untuk menguasai dan
menggunakan tanah serta
melalqikan segala perbuatan yang menurut hukum hanya
dapat dilakukan oleh pemegang
haknF.
d' Mebrarq @mat atau kepala desa atau pejabat yang setingkat untuk
membuat atau
mer4uadon kuasa mutlak
e' lielarary peiabat agraria melayani penyelesaian pemindahan hak atas tanah melalui
kuasa
mutblL
xrasa Mutlak dilarang, karena kuasa mutlak tujuannya merupakan
perbuatan hukum pemindahan
hak secara terselubung, diluar prosedur yang ditentukan dalam pp
24 tahun 1gg7, sehingga
kausanya meniadi terlarang (Pasal 39 huruf d PP 24 tahun
1997), dan karena itu menjadi batal
demi hukum' Kuasa Mutlak mengandung kausa yang terlarang yaitu
substansi kuasa tersebut yang
terlarang sebagaimana dimaksud daram pasar 1335 jo 1337 KUH.perdata.

lc
3. KUASA TISAN

-Kuasa Lisan untuk penjualan bidang tanah harta bersama, yang dilakukan suami tanpa persetujuan
istrinya termasuk dalam KETIDAKWENANGAN dan mengakibatkan aktanya BATAL DEM| HUKUM
(lihat Putusan MA Rl Nomor 269tlPKIPWl1996 tanggal 18 September 1998). Kasus ini juga dapat
diterapkan dalam bentuk KUASA LIsAN yang berdiri sendiri, PERJANJTAN PENGTKATAN JuAL BEu
{lunas) yang dibuat berdasarkan kuasa lisan, dan Kuasa menjual yang tercantum dalam akta
Pengikatan Jual Beli tersebut dapat dikategorikan sebagai Kuasa Lisan tanpa persetujuan pEMBERI
KUASA LISAN, mengakibatkan KUASA tersebut BATAL DEMI HUKUM karena mengandung CACAT
KETIDAKWENANGAN.

FOTO COPY SURAT KUASA

Putusan MA Nomor TotlKlslPltgT4 memuat kaedah hukum bahwa foto copy merupakan bukti
yang tidak sah tanpa dinyatakan sesuai dengan aslinya, dan hal ini sejalan dengan ketentuan pasat
1888 KUH.perdata yang mengatakan Kekuatan pembuktian suatu bukti tulisan ada pada aslinya.
Dalam Praktik notaris sering dijumpai adanya akta pelepasan hak dimana pemilik tanah diwakili
,
oleh kuasanya dan dalam komparisinya hanya disebutkan kata-kata:
"Menurut keterangannya dalam hal ini bertindak berdasarkan surat kuasa yang dibuat dibawah
tangan tanggal (x), yang satu copynya dilekatkan pada minuta akta ini.,,
Dalam kasus demikian jika tidak dapat dibuktikan adanya asli surat kuasa tersebut maka akta
pelepasan hak yang dibuat berdasarkan copy surat kuasa dapat menjadi BATAI DEMI HUKUM,
karena adanya cacat yuridis mengenai KTIDAKWENANGAN.

5. PERWAKILAN DEMI HUKUM TIDAK DAPAT DIKUASAKAN KEPADA PIHAK IAIN

Dalam praktik Notaris dijumpai adanya KUASA MENJUAL yang berdiri sendiri atau dalam
Akta
Pengikatan Jual Beli, dimana seorang Ayah yang menjalankan kekuasaan orang
tua demi hukum
mewakili anaknya yang masih dibawah umur selaku pemilik atas sebidang tanah, memberikan
kauasa kepada PENERIMA KUASA, untuk mengalihkan atau menjual obyek
bidang tanah kepada
pembeli. Dalam hukum Privat dikenal ada 3 macam lembaga perwakilan yaitu perwakilan
konraktual (pemberian kuasa yang tunduk pada pasal 1792 sld 1819 KUH.perdata); perwakilan
demi hukum dan Perwakilan organik (perwakilan badan-badan hukum). Kekuasaan
orang tua
sebagai petrrakilan demi hukum (ditentukan oleh UUf tidak dapat dikuasakan
kepada pihak lain
d€ngan p€rtimbargan hukum:

ilr r€hrEat q-engtrril nrenrpakan bentuk perwakilan demi


hukum yang ditentukan oleh uU,
nq€*et{rrb'n peda trri oreng tuanya yang bersifat pribadi;
L :rrh.:rr rilg tua demi hukum mewakiri anak yang masih dibawah umur;
c PsldsAr
c Ein penren bntraktual PENERIMA KUASA mewakili orang dewasa (cakap bertindak)
scAger h.bn nsakiti anak dibwah umur.
:trc ws*tc yarg berdiri sendiri atau kuasa menjual yang tercantum dalam akta pengikatan jual
bcf ur-but' mergandung pelanggaran terhadap kesusilaan baik dan kuasa
tersebut batal demi
]rfr.lm.

19
D. PENUTUP

Sebab-sebab Degradasi Kekuatan Bukti Akta notaris, batalnya akta notaris dan modeFmodel akta yang
mengandung cacat yuridis, penting diketahui oleh setiap notaris, agar kedepan dalam menjalankan
iabatannya notaris dapat menghindari akta-akta yang dibuat oleh atau dihadapannya mengandung
cacat yuridis. Suatu akta notaris dapat mengandung lebih dari 1 (satu) sebab-sebab kebatalan atau
cacat yuridis suatu akta notaris dapat bersifat kumulatif. Tulisan ini mencoba untuk memberikan
gambaran tentang ketentuan Daluwarsa dan sanksi kebatalan dalam UUPT serta model-model akta
yang mengandung cacat yuridis dan mengakibatkan aktanya BATAT DEMI HUKUM atau DAPAT
DIBATATKAN atau NON EX|STENT.

Surabaya, 28 Januari 2009.-

PIETER LATUMETEN, SH.,MH

20

Anda mungkin juga menyukai