Anda di halaman 1dari 22

PRESENTASI KASUS I. IDENTITAS PASIEN a. Nama b. Umur c. Tempat, Tanggal Lahir d. Pendidikan e. Pekerjaan f. Nama suami g. Umur h.

Pendidikan i. Pekerjaan j. Agama k. Alamat l. Tanggal masuk II. : Ny. Surati : 36 tahun : Magelang, 17 Juni 1976 : SD : Ibu Rumah Tangga : Tn. Daryatno : 38 tahun : SD : Swasta : Islam : Kemiri, Glagahombo, Tegal : 26 September 2012

ANAMNESIS tanggal 26 September 2012 pukul 11.00 1. Keluhan Utama Keluar cairan di jalan lahir. 2. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang dengan air ketuban merembes sejak jam 05.00 pagi. Air ketuban yang merembes jernih, 150 cc, berbau khas, riwayat trauma (-), riwayat post-coital (-). Pasien merasa hamil 37 minggu, kenceng-kenceng (+) jarang, gerak janin (+). 3. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat penyakit infeksi kelamin, asma, hipertensi, diabetes mellitus, TBC, hepatitis disangkal. 4. Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat hamil kembar, asma, hipertensi, DM, TBC, gangguan jiwa disangkal

5. Riwayat menstruasi Menarche Siklus Lama Sakit waktu menstruasi HPHT 6. Riwayat Perkawinan Menikah 1 kali selama 10 tahun. 7. Riwayat Obstetri No Kehamilan,persalinan,ke guguran dan nifas 1. H aterm, Umur sekarang Keadaan anak Sehat Tempat perawatan Bidan : 13 tahun : 30 hari : 7 hari : tidak ada : 8 Januari 2012

/tanggal persalinan 9 tahun keras, nifas Th.2008 Th 2010

spontan, BB 2800 gr, menangis baik 2. 3. 4. H 8 minggu, KET H 8 minggu, Abortus Hamil ini Operasi Kuretase BR BR

8. Riwayat operasi dan penyakit yang pernah dijalani. Disangkal. 9. Riwayat kehamilan Sekarang ANC (+) di bidan 1 kali pada trisemester I, 2 kali dalam trisemester II, dan 4 kali dalam trisemester akhir. HPL : 13 Oktober 2012 10. Riwayat Keluarga Berencana. KB pil lamanya 3 tahun, suntik selama 1 tahun (2011)

III.

PEMERIKSAAN FISIK 1. Pemeriksaan Umum Keadaan Umum Kesadaran Tekanan darah HR Suhu BB Kepala Mata Hidung Leher Thorax Abdomen Ekstremitas (+/+), : Baik : Compos Mentis : 110/70 mmHg : 84x/menit : 370 C : 44 kg : Mesochepal : Conjunctiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-) : Tidak ada deformitas, tidak ada sekret : Lnn ttb, JVP : Simetris, Cor/pulmo dbn : supel, H/L ttb : Oedema tungkai (-/-), varises (-/-), refleks patella RR TB :24x/menit :152 cm

tidak terdapat penurunan turgor kulit

2. Pemeriksaan Obsetri a. Inspeksi : tampak perut membuncit membujur, striae gravidarum (+), bekas operasi (+) regio iliaca dextra. b. Palpasi : L1 : 2 jari dibawah proc. xypoideus Teraba 1 bagian besar, bulat, keras L2 : Kanan : teraba bagian memanjang, seperti papan Kiri : terasa bagian kecil-kecil L3 : terasa 1 bagian besar, bulat, lunak Masih dapat digerakkan L4 : Konvergen c. HIS d. DJJ e. TFU f. VT :(+) jarang : 12-12-11 : 31 cm TBJ : (TFU-12)x155 = 2945 gram. : Portio posterior konsistensi keras, : 1 jari 3

sempit, KK (-), Efficement 25%, bagian bawah bokong masih tinggi, sacrum tak teraba, AK (+) merembes IV. DIAGNOSIS G4P1A2, 36 tahun, hamil 37 minggu 2 hari Janin I hidup intrauterine Presbo, puka Belum inpartu KPD Riwayat Obstetri Jelek V. SIKAP Inform consent Cek laboratorium darah rutin Usaha darah Injeksi Ampicillin 1 gram (skin test pukul 15.30) Observasi Pro SC elektif, sewaktu-waktu inpartu cito SC

Tanggal/Jam 26-09-2012 Jam 11.00

KU/Tensi/Nadi/ Suhu/Nafas KU;Compos Mentis TD: 110/70 N: 84x/menit. S : 37C

HIS -

DJJ (+) 12-12-11 Reguler, punctum maximum di kanan bawah pusat.

Keadaan Umum dll. VT : Portio posterior konsistensi keras, : 1 jari sempit, KK (-), Efficement 25%, bagian bawah bokong masih tinggi, sacrum tak teraba, AK (+) merembes Diagnosa : G4P1A2, 36 tahun, hamil 37 minggu 2 hari Janin I hidup intrauterine Presbo, puka Belum inpartu KPD Riwayat Obstetri Jelek Sikap : - Inform consent - Cek laboratorium darah rutin - Usaha darah - Injeksi Ampicillin 1 gram (skin test pukul 15.30) - Observasi - Pro SC elektif - Sewaktu-waktu inpartu cito SC

Jam 12.00

KU;Compos Mentis TD: 120/80 N: 84x/menit. S : 365C KU;Compos Mentis TD: 120/80 N: 88x/menit. S : 365C

(+) 12-12 -11

Jam 13.00

(+) 12-12-11 Advis : Lapor dr Sapar, ACC IC (+) TT (+) Persiapan SC (+) Konsul Anestesi (+) Bayi Lahir, BB 2650 gr/47cm, AS. 5.7.8 D/ G4P2A2, 36 tahun 5 Riwayat Post SCTP a/i KPD Sungsang, Obstetri Jelek

Jam 13.50

KU;Compos Mentis TD: 110/80 N: 84x/menit. S : 365C

Tindakan Sectio Caesarea Indikasi Macam operasi Waktu operasi : Hamil 37 minggu, KPD Sungsang : SCTP : 26 September 2012 jam 13.40-15.10

Laporan persalinan SC Tanggal 26 september 2012 jam 22.00 1. Pasien tidur terlentang di atas meja operasi dalam anastesi spinal. 2. Asepsis dan antisepsis daerah tindakan dengan povidon iodine. 3. Pasang duk steril kecuali pada daerah tindakan. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Insisi pada dinding abdomen secara mediana antara simpisis dan pusat + 10 cm. Perdalam insisi lapis demi lapis sampai cavum abdomen terbuka. Tampak uterus sebesar hamil aterm. Identifikasi plica vesicouterina. Dilakukan insisi pada segmen bawah rahim secara semiluner diperlebar ke lateral secara tumpul. Pecah kulit ketuban, keluar air ketuban jernih, jumlah cukup, bau khas. Dengan meluksir kepala, lahir bayi laki-laki, hidup, berat badan 2650 gram, Apgar score 5-7-8. Injeksi oksitosin 10 IU intravena. Plasenta dikeluarkan, kotiledon lengkap, infark (-), hematom (-). Eksplorasi uterus : a. Kontraksi uterus kuat b. Kedua adnexa tenang c. Perdarahan (-) 14. Jahit segmen bawah rahim secara jelujur, double layer. 15. Eksplorasi cavum abdomen, bersihkan jendalan darah. 16. Hitung alat lengkap. 17. Jahit dinding abdomen lapis demi lapis sampai kulit, kemudian beri plester. 18. Eksplorasi vagina : 6

a. Perdarahan (-) 19. Tindakan selesai VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG Darah Rutin 1. WBC : 11,83 2. RBC 4. HCT : 4,01 : 34,5 3. HGB : 11,5 5. MCV : 86,0 6. MCH : 28,7 7. MCHC: 33,3 8. PLT : 338 Imunoserologi HBs Ag : - / NEG N: F 4,8-10.8 N: F 4,2-5,4 N:F 12-16 N:F 37-47 N: 79-99 N: 27-31 N: 33-37 N:150-450

TINJAUAN PUSTAKA A. Ketuban Pecah Dini 1. Definisi Ketuban pecah dini (KPD) dapat diartikan sebagai pecahnya ketuban pada saat fase laten sebelum adanya his. KPD juga dapat diartikan sebagai pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan yang sebenarnya dimulai.2 KPD merupakan faktor resiko yang berpengaruh pada morbiditas dan mortalitas janin dan ibu. Meningkatnya resiko tersebut ada hubungannya dengan lamanya periode laten dan lamanya ketuban pecah sampai jalan lahir. Pada persalinan yang normal, ketuban pecah pada fase aktif. Pada KPD kantung ketuban pecah sebelum fase aktif. KPD terjadi pada 10 % kehamilan, dimana sebagian besar terjadi pada usia kehamilan lebih dari 37 minggu dan juga terjadi spontan tanpa sebab yang jelas.

Gambar 1. Ketuban Pecah Dini

2.

Etiologi Dan Patogenesis KPD diduga terjadi karena adanya pengurangan kekuatan selaput ketuban, peningkatan tekanan intrauterine maupun keduanya. Sebagian besar penelitian menyebutkan bahwa KPD terjadi karena berkurangnya kekuatan selaput ketuban. Selaput ketuban dapat kehilangan elastisitasnya karena bakteri maupun his. Pada beberapa penelitian diketahui bahwa bakteri penyebab infeksi adalah bakteri yang merupakan flora normal vagina maupun serviks. Mekanisme infeksi ini belum diketahui pasti. Namun diduga hal ini terjadi karena aktivitas uteri yang tidak diketahui yang menyebabkan perubahan serviks yang dapat memfasilitasi terjadinya penyebaran infeksi. Faktor lainnya yang membantu penyebaran infeksi adalah inkompetensi serviks, vaginal toucher (VT) yang berulang-ulang dan koitus. Banyak teori yang menyebabkan KPD, mulai dari defek kromosom, kelainan kolagen sampai infeksi. Namun sebagian besar kasus disebabkan oleh infeksi. Kolagen terdapat pada lapisan kompakta amnion, fibroblast, jaringan retikuler korion dan trofoblas. Sintesis maupun degradasi jaringan kolagen dikontrol oleh sistem aktifitas dan inhibisi interleukin-1 (IL-1) dan prostaglandin. Jika ada infeksi dan inflamasi, terjadi peningkatan aktifitas IL-1 dan prostaglandin, menghasilkan kolagenase jaringan sehingga terjadi depolimerisasi kolagen pada selaput korion/amnion yang menyebabkan selaput ketuban tipis, lemah dan mudah pecah spontan.

3.

Diagnosis Menegakkan diagnosa KPD secara tepat sangat penting. Karena diagnosa yang positif palsu berarti melakukan intervensi seperti melahirkan bayi terlalu awal atau melakukan seksio yang sebetulnya tidak ada indikasinya. Sebaliknya diagnosa yang negatif palsu berarti akan membiarkan ibu dan janin mempunyai resiko infeksi yang akan mengancam kehidupan janin, ibu atau keduanya. Oleh karena itu diperlukan diagnosa yang cepat dan tepat. Diagnosa KPD ditegakkan dengan cara : 9

1. Anamnesa Penderita merasa basah pada vagina, atau mengeluarkan cairan yang banyak secara tiba-tiba dari jalan lahir atau ngepyok. Cairan berbau khas, dan perlu juga diperhatikan warna, keluarnya cairan tersebut tersebut, his belum teratur atau belum ada, dan belum ada pengeluaran lendir darah. 2. Inspeksi Pengamatan dengan mata biasa akan tampak keluarnya cairan dari vagina, bila ketuban baru pecah dan jumlah air ketuban masih banyak, pemeriksaan ini akan lebih jelas. 3. Pemeriksaan dengan spekulum. Pemeriksaan dengan spekulum pada KPD akan tampak keluar cairan dari orifisium uteri eksternum (OUE), kalau belum juga tampak keluar, fundus uteri ditekan, penderita diminta batuk, mengejan atau megadakan manuvover valsava, atau bagian terendah digoyangkan, akan tampak keluar cairan dari ostium uteri dan terkumpul pada fornik anterior. 4. Pemeriksaan dalam Didapat cairan di dalam vagina dan selaput ketuban sudah tidak ada lagi. Mengenai pemeriksaan dalam vagina dengan toucher perlu dipertimbangkan, pada kehamilan yang kurang bulan yang belum dalam persalinan tidak perlu diadakan pemeriksaan dalam. Karena pada waktu pemeriksaan dalam, jari pemeriksa akan mengakumulasi segmen bawah rahim dengan flora vagina yang normal. Mikroorganisme tersebut bisa dengan cepat menjadi patogen. Pemeriksaan dalam vagina hanya dilakukan kalau KPD yang sudah dalam persalinan atau yang dilakukan induksi persalinan dan dibatasi sedikit mungkin. 5. Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan laboratorium Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa : warna, konsentrasi, bau dan pH nya. Cairan yang keluar dari vagina ini kecuali air ketuban mungkin juga urine atau sekret vagina. Sekret vagina ibu hamil pH : 4-5, dengan kertas 10

nitrazin tidak berubah warna, tetap kuning. Tes Lakmus (tes Nitrazin), jika kertas lakmus merah berubah

menjadi biru menunjukkan adanya air ketuban (alkalis). pH air ketuban 7 7,5, darah dan infeksi vagina dapat menghasilkan tes yang positif palsu. Mikroskopik (tes pakis), dengan meneteskan air ketuban pada gelas objek dan dibiarkan kering. Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan gambaran daun pakis. b. Pemeriksaan ultrasonografi (USG) Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam kavum uteri. Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit. Namun sering terjadi kesalahan pada penderita oligohidromnion. Walaupun pendekatan diagnosis KPD cukup banyak macam dan caranya, namun pada umumnya KPD sudah bisa terdiagnosis dengan anamnesa dan pemeriksaan sederhana. 4. Komplikasi KPD dapat menyebabkan beberapa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin, diantaranya2 : a. Infeksi Infeksi korioamniotik sering terjadi pada pasien dengan KPD. Diagnosis korioamnionitis dapat dilihat dari gejala klinisnya antara lain demam (37,80C), dan sedikitnya dua gejala berikut yaitu takikardi baik pada ibu maupun pada janin, uterus yang melembek, air ketuban yang berbau busuk, maupun leukositosis. b. Hyaline membrane disease Beberapa penelitian menyebutkan bahwa hyaline membrane disease sebagian besar disebabkan oleh ketuban pecah dini (KPD). Terdapat hubungan antara umur kehamilan dengan hyaline membrane disease dan chorioamnionitis yang terjadi pada pasien dengan KPD. Pada usia kehamilan kurang dari 32 minggu, angka risiko hyaline mebran disease lebih banyak dibandingkan risiko infeksi. 11

c. Hipoplasi pulmoner Hal ini terjadi bila ketuban pecah sebelum usia kehamilan 26 minggu dan fase laten terjadi lebih dari 5 minggu yang diketahui dari adanya distress respirasi yang berat yang terjadi segera setelah lahir dan membutuhkan bantuan ventilator. d. Abruptio placenta Hal ini tergantung dari progresifitas penurunan fungsi plasenta yang mengakibatkan pelepasan plasenta. Gejala klinik yang terjadi adalah perdarahan pervaginam. e. Fetal distress Hal ini dapat diketahui dari adanya deselerasi yang menggambarkan kompresi tali pusat yang disebabkan oleh oligohidramnion. Sehingga untuk mengatasinya maka dilakukan sectio cesaria, yang mengakibatkan tingginya angka section cesaria pada pasien dengan KPD. f. Cacat pada janin g. Kelainan kongenital 5. Terapi Manajemen pada pasien dengan ketuban pecah dini tergantung dari keadaan pasien. Pada persoalan penanganan KPD terdapat dua hal yang penting yakni penanganan secara aktif dan penanganan secara konservatif. Penanganan aktif adalah segera diterminasi kehamilannya, sedangkan penanganan konservatif adalah diterminasi kehamilannya jika terjadi infeksi, namun hal tersebut masih kontroversi. Beberapa ahli berpendapat bahwa resiko infeksi dapat terjadi setiap saat setelah ketuban pecah dan infeksi janin mungkin sudah terjadi walaupun belum ada tanda-tanda infesi pada ibu, sehingga atas dasar alasan tersebut, para ahli memilih penanganan aktif, yaitu melakukan induksi setela diagnosis KPD ditegakkan. Selanjutnya, penanganan KPD dapat dibagi dalam keadaan berikut: a. Pasien yang sedang dalam persalinan 12

Tidak ada usaha yang dapat dilakukan untuk menghentikan proses persalinan dan memperlama kehamilan jika sudah ada his yang teratur dan pada pemeriksaan dalam didapatkan pendataran servix 100 % dan dilatasi servix lebih dari 4 cm. Penggunaan tokolitik tidak efektif dan akan mengakibatkan oedem pulmo. b. Pasien dengan paru-paru janin yang matur Maturitas paru janin dapat diketahui dari rasio lesitin-spingomielin, phosphatidylglycerol dan rasio albumin-surfaktan. Maturitas paru janin diperlukan untuk amniosintesis pada evaluasi awal pasien dengan ketuban pecah dini. c. Pasien dengan cacat janin Terapi konservatif dengan risiko infeksi pada ibu tidak perlu dilakukan bila janin mempunyai kelainan yang membahayakan. Namun pada janin dengan kelainan yang tidak membahayakan harus diperlakukan sebagai janin normal, namun input yang tepat merupakan terapi yang sangat penting. d. Pasien dengan fetal distress Kompresi tali pusat dan prolaps tali pusat merupakan komplikasi tersering ketuban pecah dini, terutama pada presentasi bokong yang tidak maju (engaged), letak lintang dan oligohidramnion berat. Jika DJJ menunjukkan pola deselerasi sedang atau berat maka pasien harus cepat diterminasi. Jika janin dalam presentasi belakang kepala, maka dapat dilakukan amnioinfusion, induksi dan dapat dilakukan persalinan pervaginam. Namun bila janin tidak dalam presentasi kepala maka terapi yang dapat dilakukan adalh section caesaria. e. Pasien dengan infeksi Pasien dengan chorioamnionitis harus dilakukan induksi bila tidak ada kontraindikasi untuk dilakukan persalinan pervaginam dan bila belum dalam persalinan. Bila ada kontraindikasi untuk persalinan pervaginam, maka dilakukan section cesaria setelah pemberian antibiotic yang dimaksudkan untuk menurunkan komplikasi pada ibu dan janin. Beberapa 13

penelitian menyebutkan section cesaria sebaiknya dilakukan bila persalinan pervaginam tidak dapat terjadi setelah 12 jam diagnosis chorioamnionitis ditegakkan. Terapi ketuban pecah dini adalah2 : a. Terapi konservatif Rawat di Rumah sakit. Antibiotika jika ketuban pecah lebih dari 6 jam. Pada umur kehamilan kurang dari 32 minggu, dirawat selama air ketuban masih keluar atau sampai air ketuban tidak keluar lagi Bila umur kehamilan sudah 32-34 minggu masih keluar, maka pada usia kehamilan 35 minggu dipertimbangkan untuk terminasi kehamilan. Nilai tanda-tanda infeksi. Pada umur kehamilan 32-34 minggu berikan steroid selama 7 hari untuk memacu kematangan paru janin dan bila memungkinkan perikasa kadar lesitin dan spingomyelin tiap minggu. b. Terapi Aktif Kehamilan lebih dari 36 minggu, bila 6 jam belum terjadi persalinan maka induksi dengan oksitosin, bila gagal lakukan section cesaria. Pada keadaan DKP, letak lintang terminasi kehamilan dengan section cesaria. Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotika dosis tinggi dan terminasi persalinan. a. Bila bishop score kurang dari 5, akhiri persalinan dengan section cesaria. b. Bila bishop score lebih dari 5, induksi persalinan dan partus pervaginam. c. Bila ada infeksi berat maka lakukan section cesaria.

14

B. Letak Sungsang 1. Definisi Letak sungsang adalah letak memanjang dengan bokong sebagai bagian yang terendah dari janin. Letak sungsang merupakan letak janin yang memanjang dengan kepala di fundus uteri dan bokong di bagian bawah kavum uteri2. 2. Etiologi Letak janin dalam uterus bergantung pada proses adaptasi janin terhadap ruangan di dalam uterus. Beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya kejadian letak sungsang pada janin adalah : a. b. c. d. e. Prematuritas karena bentuk rahim relatif kurang lonjong, air ketuban masih banyak dan kepala anak relatif besar. Hydramnion karena anak mudah bergerak. Placenta Previa karena menghalangi turunnya kepada ke dalam pintu atas panggul. Bentuk rahim yang abnormal seperti uterus bicomis. Panggul sempit, dimana tidak ada fiksasi kepala anak oleh pintu atas panggul, jadi perbandingan antara besarnya kepala anak dan luasnya p.a.p tidak seperti biasa. f. g. h. i. 3. Kelainan bentuk kepala : hydrocephalus, anencephalus, karena kepala kurang sesuai dengan bentuk pintu atas panggul. Kelainan uterus, seperti uterus arkuatus, bikornis, mioma uteri. Pergerakan anak kurang atau tidak ada sama sekali, umpana pada anak mati. Gemelli (kehamilan ganda). Letak sungsang / presentasi bokong dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain : a. Letak bokong (Frank Breech) Letak bokong dengan kedua tungkai terangkat ke atas. b. Letak sungsang sempurna (Complete Breech) Letak bokong di mana kedua kaki dan di samping bokong (letak bokong kaki sempurna (lipat kejang). 15

Jenis-jenis letak sungsang

c. Letak sungsang tidak sempurna (Incomplete Breech) Ada letak sungsang dimana selain bokong bagian yang terendah juga kaki atau lutut terdiri dari : Letak kaki : - Kedua kaki terletak dibawah = letak kaki sempurna - Hanya satu kaki terletak dibawah = letak kaki tak sempurna Letak lutut : - Kedua lutut terletak paling rendah (letak lutut sempurna) - Hanya satu lutut terletak paling rendah (letak lutut tak sempurna)

4.

Diagnosis Diagnosis letak s u n g s a n g pada umumnya tidak sulit. Diagnosis ditegakkan berdasarkan keluhan subyektif dan pemeriksaan fisik atau penunjang yang telah dilakukan. Dari anamnesis didapatkan kalau ibu hamil akan merasakan perut terasa penuh dibagian atas dan gerakan anak lebih banyak dibagian bawah rahim. Dari riwayat kehamilan mungkin diketahui pernah melahirkan sungsang. Sedangkan dari pemeriksaan fisik Leopold akan ditemukan dari Leopold I difundus akan teraba bagian bulat dan keras yakni kepala, Leopold II teraba punggung dan bagian kecil pada sisi samping perut ibu, Leopold III-IV teraba bokong di segmen bawah rahim. Dari pemeriksaan dalam akan teraba bokong atau dengan kaki disampingnya. Disini akan teraba os sakrum, kedua tuberosis iskii dan anus. Pemeriksaan 16

penunjang 5. Manajemen

juga

dapat

digunakan

untuk

menegakkan

diagnosis seperti ultrasonografik atau rontgen . Dalam kehamilan : Bila dijumpai letak sungsang pada pemeriksaan antenatal, maka : o o Dilakukan versi luar pada umur kehamilan 32 36 minggu. Syarat versi luar terpenuhi, yaitu : diagnosis pasti letak janin denyut jantung janin harus dalam keadaan baik dilakukan tanpa paksaan ( dengan tenaga yang ringan ) air ketuban tidak terlalu sedikit kontraindikasi : panggul sempit, perdarahan antepartum, hipertensi,

gemelli dan plasenta previa. Dalam persalinan : o Menentukan apakah ada atau tidak kelainan yang merupakan indikasi seksio sesarea, seperti panggul sempit, plasenta previa dan tumor dalam rongga panggul. o Jika tidak terdapat kelainan dan diperkirakan dapat lahir pervaginam, dilakukan pengawasan kemajuan persalinan terutama kemajuan pembukaan serviks dan penurunan bagian terendah janin. o o o o Pembukaan < 4 cm dan ketuban (+) : coba versi luar, jika berhasil pervaginam, jika tidak dilakukan seksio sesarea. Pembukaan > 4 cm dan ketuban (+/-) : taksiran berat janin > 3500 gram Pada multigravida dengan janin besar, fetal distress, ketuban (-) > 12 jam Jika ada kelainan his, dipacu : jika gagal seksio sesarea, dan jika berhasil dilakukan seksio sesarea. dilakukan sekseio sesarea. partus pervaginam dengan perasat Bracht dengan atau tanpa manual aid, cara klasik yaitu Mueller atau Loevset untuk mengeluarkan lengan dan bahu setelah bokong dan kaki lahir. o Untuk mengeluarkan kepala dapat dengan cara Mauriceau atau 17

menggunakan cunam Piper. Pilihan pertama : persalinan pervaginam a. Persalinan spontan. Janin dilahirkan dengan kekuatan dan tenaga ibu sendiri. Cara ini lazim disebut cara Bracht. b. Manual aid atau ekstraksi bokong parsial. Setelah bokong lahir spontan sebatas umbilikus, lengan dan kepala dimanipulasi untuk melahirkan bayi. Penggunaan cunam untuk melahirkan kepala termasuk kriteria ini. Indikasi : 1. bila pertolongan secara Bracht gagal. 2. elektif, karena sejak semula direncanakan pertolongan dengan manual aid. Tahapan : Tahap pertama : lahirnya bokong sampai umbilikus, spontan. Tahap kedua : lahirnya bahu dan lengan memakai tenaga penolong

secara klasik (Deventer), Mueller atau Lovset. Tahap ketiga : lahirnya kepala, dengan cara Mauriceau-Veit-

Smellie, Najouk, Wigand Martin-Winckel, Prague terbalik, atau dengan cunam Piper c. Ekstraksi bokong. Janin dilahirkan seutuhnya dengan memakai tenaga penolong. Risiko : kepala terjebak (head entrapment) pada aftercoming head akibat tidak terjadinya moulage kepala, atau pembukaan serviks yang tidak lengkap. Peristiwa ini terjadi pada 88/1000 persalinan. Risiko ini dapat dikurangi dengan mempertahankan fleksi dengan menekan suprapubik eksternal dan tidak melakukan ekstraksi. Syarat partus pervaginam pada letak sungsang - janin tidak terlalu besar - tidak ada suspek CPD - tidak ada kelainan jalan lahir 18

Jika berat janin 3500 g atau lebih, terutama pada primigravida atau multipara dengan riwayat melahirkan kurang dari 3500 g, sectio cesarea lebih dianjurkan. Pilihan kedua : sectio cesarea Persalinan dengan sectio cesarea tidak sama amannya dengan partus pervaginam presentasi kepala. Terjadinya hiperekstensi kepala dan kesulitan melahirkan kepala pada sayatan uterus yang kecil sering terjadi dan menimbulkan morbiditas bayi yang meningkat. Sectio caesarea Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus untuk melahirkan janin dari dalam rahim. Tindakan sectio caesarea dilakukan jika kelahiran pervaginam mungkin akan menimbulkan bahaya yang serius bagi ibu, janin atau keduanya karena proses persalinan normal lama atau kegagalan proses persalinan normal. Sectio caesarea tidak boleh dilakukan pada janin mati, keadaan ibu shock atau anemia kecuali keadaan tersebut telah diatasi. Indikasi untuk dilakukan sectio caesarea adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Fetal distress His lemah atau melemah Kelemahan umum, partus tidak maju atau partus lama Induksi tak respon/gagal Janin dalam posisi sungsang atau melintang Bayi besar (BBL > 4200gr) Kehamilan serotinous (hamil > 41 minggu) Plasenta previa Dispropoesi Cevalo-Pelvik (ketidakseimbangan antara ukuran kepala dan Ancaman rupture uteri Hydrocephalus Mengurangi resiko pada ibu dengan gangguan jantung 19

panggul)

13. 14. 15.

Terdapat tumor yang menghalangi jalan lahir Ibu dengan pre-eklampsia dan hipertensi Keadaan dimana usaha untuk melahirkan janin pervaginam gagal

Prosedur Persalinan Sungsang Perabdominam Persalinan letak sungsang dengan seksio sesaria sudah tentu merupakan yang terbaik ditinjau dari janin. Banyak ahli melaporkan bahwa persalinan letak sungsang pervaginam memberi trauma yang sangat berarti bagi janin. Namun hal ini tidak berarti bahwa semua letak sungsang harus dilahirkan perabdominam. Persalinan diakhiri dengan seksio sesaria bila: 1. Persalinan pervaginam diperkirakan sukar dan berbahaya Skor Zachtuchni Andros Parameter Paritas Pernah letak sungsang TBJ Usia kehamilan Station Pembukaan serviks Arti nilai: 3 : persalinan perabdominam 4 : evaluasi kembali secara cermat, khususnya berat badan janin, bila nilai 0 Primi Tidak > 3650 gr > 39 minggu < -3 2 cm Nilai 1 Multi 1 kali 3650-3175 gr 38 minggu -2 3 cm 2 2 kali < 3175 gr < 37 minggu -1 atau > 4 cm

tetap dapat dilahirkan pervaginam. >5 : dilahirkan pervaginam.

2. Tali pusat menumbung pada primi/multigravida. 3. Didapatkan distosia 4. Umur kehamilan: Prematur (EFBW=2000 gram) Postdate / serotinus (umur kehamilan 41 minggu)

5. Nilai anak (hanya sebagai pertimbangan) Riwayat persalinan yang lalu: riwayat persalinan buruk, nilai social janin tinggi. 6. Komplikasi kehamilan dan persalinan: 20

Hipertensi dalam persalinan

DAFTAR PUSTAKA

21

1. 2. 3. 4.

Cunningham, F.G; Mac Donal P.C.2005. William Obsetric Edisi 22. Appletion & Lange. Sarwono Prawirohardjo dan Wiknjosastro. 2008. Ilmu Kebidanan. FK UI. Jakarta. Dr. H. M. A. Ashari SpOG (K). Sectio Caesarea. 2011. Fernando Arias. Practicial Guide to Hight Risk Pregnancy and Delivery, 2 nd Edition. St. Louis Missiori. USA. 1993. Hal 213-223. Jenis , Andrew D ; Breech Delivery. Updated: Apr 4, 2012. Available from URL: http://emedicine.medscape.com/article/797690-overview

5.

22

Anda mungkin juga menyukai